Anda di halaman 1dari 5

Metode

Sampel
Populasi penelitian diambil dari peserta the Tremin Research Program on Womens Health
(Tremin), suatu kelompok dengan pendidikan cukup yang didominasi perempuan kulit putih;
99,3% adalah kelompok kulit putih, 92,5% adalah lulusan perguruan tinggi dan 81% sudah
menikah (Mansfield & Voda, 1994). Pada tahun 1990, sebuah subkelompok (n=505) dari wanita
ini, berusia 35-55 dan masih menstruasi, diundang untuk berpartisipasi dalam suatu survei
khusus yang berfokus pada wanita paruh baya dan menopause (Mansfield & Voda, 1994).
Populasi sampel yang pertama terdiri dari 206 peserta yang merupakan responded pada survey
tahun 1992, yang masih premenopause pada waktu itu, dan tidak mengambil pengobatan hormon
eksogen apapun. Usia rata-rata untuk sampel adalah 48,2 tahun (Wanita premenopause yang
mendapatkan hormon eksogen dikeluarkan dari penelitian karena karakteristik siklus menstruasi
mereka dianggap mencerminkan aktivitas hormon-hormon eksogen daripada hormon endogen.)
Data dari sampel ini digunakan untuk studi analisis cross-sectional.
Sebagian dari wanita-wanita ini (n = 159) yang masih premenopause dan tidak mengambil
medikasi hormone eksogen pada tahun berikutnya juga mengikuti survei pada tahun 1993 ; hasil
t-test menunjukkan bahwa usia rata-rata mereka, 47,8 tahun, tidak berbeda secara signifikan dari
populasi sampel pertama. Mereka adalah sumber data untuk analisis hubungan antara perubahan
stres dihitung dari 1992-1993 dan perubahan karakteristik siklus menstruasi selama waktu yang
sama.
Measures
Wanita dalam penelitian ini secara prospektif menyelesaikan kartu kalender menstruasi harian
mereka selama partisipasinya di studi ini dan juga menyelesaikan formulir laporan kesehatan
tahunan pada setiap akhir tahun. Kartu kalender, yang dirancang pada tahun 1934 oleh Alan
Treloar pada awal Tremin Program, memungkinkan wanita untuk melingkari hari pertama dan
terakhir mereka pada masing-masing siklus menstruasi dan menarik suatu garis diantara periode
menstrual.
Data siklus menstruasi yang digunakan antara lain: Interval siklus (jumlah hari antara hari
pertama satu siklus menstruasi dengan hari pertama siklus berikutnya), durasi perdarahan

(jumlah hari saat perdarahan menstruasi berlangsung), dan variabilitas, dalam hal ini adalah
standar deviasi, dari masing-masing penghitungan ini; perhitungan ini umum digunakan dalam
penelitian mengenai siklus menstruasi (Treloar et al, 1967;.. Whelan et al, 1994). Meskipun
mayoritas peserta telah memiliki banyak catatan kalender menstruasi, analisis ini tetap dibatasi
pada kalender menstruasi tahun1992 dan 1993, karena banyak perempuan mulai menggunakan
hormon eksogen selama tahun-tahun berikutnya.
Tingkat stress diukur dengan menggunakan versi modifikasi the Holmes and Rahe Social
Readjusment Rating Scale (Holmes & Rahe, 1967), yang merupakan bagian dari laporan
kesehatan tahunan. Survei kami menggunakan skala 4-point Likert-type untuk memungkinkan
responden menetapkan tingkat stress yang mereka rasakan dalam keadaan apapun di checklist,
dengan "Tidak stress sama sekali" menjadi titik terendah, dan bernilai 0, serta "Sangat stress"
menjadi skala tertinggi, dan bernilai 3. Poin yang dipakai adalah masalah kesehatan, kematian
pasangan, pindah rumah, masalah keluarga, perceraian, dan masalah keuangan (lihat Tabel 1).
Semua item yang positif menunjukkan stress dijumlahkan, sehingga didapatkan total skor stress
untuk setiap wanita; rentang nilai adalah 0 sampai 36. Untuk studi cross-sectional (n = 206),
perempuan dengan skor minimal 13 dikategorikan sebagai "high stress" (n = 38; Usia rata-rata
48,4), dan wanita dengan skor 2 atau kurang dari itu dikategorikan sebagai "low stress" (n=38;
Usia rata-rata 48,8). Definisi ini mencerminkan nilai dengan satu standar deviasi diatas atau di
bawah rata-rata skor stress. Tidak ada perbedaan usia yang signifikan antara kedua kelompok
(n=130; usia rata-rata 48,0). Berdasarkan penelitian sebelumnya mengenai hubungan stres
dengan karakteristik siklus menstruasi, kami memprediksikan bahwa dari 206 wanita
perimenopause, mereka dengan skor stres yang tinggi akan menunjukkan satu atau lebih
karakteristik berikut : rata-rata interval siklus yang panjang (34 hari); rata-rata interval siklus
yang pendek (24 hari); perdarahan berlangsung 8 hari atau lebih; interval siklus yang secara
signifikan berbeda dari wanita dengan tingkat stres rendah; berdarah durasi yang berbeda secara
signifikan dari wanita dengan skor stres rendah; variabilitas yang lebih besar dalam hal panjang
interval siklus dan/atau durasi perdarahan (dalam kalender tahun) dibandingkan perempuan
dengan skor stres rendah. Kami juga memprediksi bahwa skor stres akan berkorelasi dengan
panjang interval siklus, durasi perdarahan menstruasi, atau variabilitas (berdasarkan standar
deviasi) dari salah satu faktor tersebut. Penggunaan 34 dan 24 hari sebagai titik acuan untuk

interval siklus panjang dan pendek didasarkan pada penelitian sebelumnya yaitu suatu studi
kohort dengan sampel yang lebih besar (Whelan et al., 1994).
Tabel 1. Persentasi dari laporan responden dalam setiap kategori kejadian stress dalam
kehidupan, hanya sampel tahun 1992 (n=206)

Selain mempelajari hubungan antara tingkat stres dengan siklus menstruasi, kami juga ingin
mengeksplorasi kemungkinan pentingnya perubahan tingkat stres dengan analisis data
menggunakan data 2 tahun tersebut. Data dari tahun 1992 dan 1993 digunakan untuk
menentukan apakah perubahan tingkat stres berhubungan dengan karakteristik siklus menstruasi.
Untuk masing-masing 159 wanita sampel dalam penelitian ini (usia rata-rata = 47,8), perubahan
dalam total skor stres, rata-rata panjang interval, dan

rata-rata durasi perdarahan dihitung.

Wanita dengan skor stress yang meningkat sebesar 4 poin atau lebih (n = 30; usia rata-rata =
47,5) dikategorikan sebagai "marked stess increase", dan wanita yang mengalami penurunan 6
poin atau lebih (n = 26; usia rata-rata = 48,3) dikategorikan sebagai "marked stress decrease".
Para wanita yang tersisa (n= 103; Usia rata-rata = 47,8) dikategorikan sebagai no marked
change in stress. Kategori ini mencerminkan skor yang lebih satu standar deviasi dari rata-rata
skor stress. Tidak ada perbedaan usia rata-rata yang signifikan di antara kedua kelompok. Kami
memprediksikan perubahan dalam skor stress akan berhubungan dengan perubahan dalam
panjang interval siklus atau durasi perdarahan.
Hasil
Prediksi kami mengenai efek stress dengan karakteristik siklus menstruasi sebagian ditentukan
oleh analisis data. Meskipun tingkat stres per se tidak terbukti berhubungan dengan karakteristik

siklus menstruasi, perubahan tingkat stres selama 1 tahun ke depan tampaknya berhubungan
dengan karakteristik tersebut.
Tabel 2. Karakteristik siklus menstruasi untuk sampel populasi tahun 1992 (n = 206)

Analisis cross-sectional 1 tahun


Tabel 2 menampilkan karakteristik siklus menstruasi dari 206 sampel yang menyelesaikan survei
pada tahun 1992. Usia rata-rata sampel adalah 48,2 tahun; dengan usia rata-rata menopause
sekitar 51 tahun, sampel penelitian ini, secara rata-rata, sedang menuju transisi ke menopause.
Dalam analisis satu tahun (n = 159), tidak ada hubungan yang signifikan antara tingkat stres
(yang diukur dengan total skor stress) dengan karakteristik siklus menstruasi. Interval siklus
wanita yang tergolong stres tinggi didapatkan lebih lama dibandingkan wanita dengan level stres
yang rendah (30,4 vs 28,8 hari), tetapi perbedaan ini tidak signifikan secara statistik. Durasi
perdarahan menstruasi pada kedua kelompok sama, dengan rata-rata 5,8 hari per
menstruasi. Rata-rata lama interval siklus dalam kelompok stress tinggi ternyata lebih panjang
atau pendek, berbeda dengan durasi perdarahan menstrusi yang sangat panjang. Standar deviasi
dari panjang interval kelompok dengan tingkat stres yang tinggi, secara rata-rata, lebih besar dari
kelompok dengan tingkat stress rendah (9,2 vs 7,3 hari), tetapi perbedaan ini tidak
signifikan. Standar deviasi durasi perdarahan tersebut juga lebih tinggi untuk kelompok dengan
tingkat stres yang tinggi, tetapi tidak (1,8 vs 1,4 hari). Tidak ada korelasi kuat antara skor stres
dengan panjang interval siklus (r = 0,09), variabilitas interval (r = 0,09) durasi perdarahan (r =
0,02), dan variabilitas durasi perdarahan (r = 0,11).
Analisis dua-tahun

Dari tahun 1992 sampai tahun 1993, skor stres rata-rata dari 159 sampel menurun dari 7,3
menjadi 6,1, suatu penurunan yang signifikan berdasarkan uji t berpasangan (p < .01). Pada saat
yang sama, uji t-tes berpasangan menunjukkan bahwa interval siklus meningkat secara
signifikan, dari 28,7 hari menjadi 30,8 hari (p < .01), dan durasi perdarahan hanya meningkat
sedikit, tetapi signifikan, dari 5,8 hari menjadi 6,0 hari (p < .05). Tidak ada korelasi yang
bermakna antara perubahan dalam skor stres dengan panjang interval siklus (r = -0,10) atau
dengan durasi perdarahan (r = 0,05).
Ketika wanita dengan peningkatan skor stress (n = 30) dibandingkan ( menggunakan t-tes)
dengan wanita yang tidak memiliki perubahan skor stress (n = 103), terbukti bahwa mereka
berbeda secara signifikan antara satu sama lain: untuk wanita dengan peningkatan skor stres,
rata-rata panjang interval siklus menstruasi menurun 0,2 hari, sementara pada perempuan yang
tidak memiliki perubahan skor stress, rata-rata panjang interval tersebut meningkat sebesar 2,9
hari, perbedaan yang signifikan (p > .05) (lihat Gambar 1); durasi perdarahan menurun 0,1 hari
pada wanita dengan peningkatan skor stress, sementara itu meningkat sebesar 0,3 hari pada
wanita yang tidak mengalami perubahan skor stress, juga merupakan perbedaan yang signifikan
(p > .05) (lihat Gambar 2). Tidak ada perbedaan yang signifikan antara kelompok dalam hal
variabilitas baik panjang interval atau durasi perdarahan.
Tidak ada perbedaan yang signifikan antara karakteristik siklus menstruasi yang ditemukan
antara wanita dengan penurunan skor stress dengan salah satu dari kelompok lain.
Diskusi
Hasil penelitian ini membuktikan hubungan antara stress dengan siklus menstruasi.
Perbandingan