Anda di halaman 1dari 22

TUGAS BESAR

PENGELOLAAN KUALITAS LINGKUNGAN

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Umum
Air merupakan salah satu sumber kekayaan yang merupakan
kebutuhan primer bagi kelangsungan hidup setiap makhluk hidup.
Secara alami air merupakan kekayaan alam yang dapat diperbarui
dan mempunyai daya regenerasi yang mengikuti suatu daur ulang
yang disebut hidrologi. Air pada umumnya digunakan untuk
kebutuhan domestik maupun industri, rekreasi, pertanian, dan
pembangkit listrik. Oleh karena kegunaannya yang sangat penting
maka diperlukan adanya pengetahuan mengenai kualitas air
maupun segala sesuatu yang ada kaitannya dengan air. Karena hal
tersebut berhubungan langsung dengan manusia.
1.2 Latar Belakang
Sebagai negara berkembang, Indonesia dalam tahap yang
gencar

dalam

melakukan

pembangunan

dan

meningkatkan

pertumbuhan ekonomi, salah satunya dengan mendirikan pabrik.


Dengan berdirinya pabrik-pabrik ini, dapat kita lihat bahwa keadaan
lingkungan yang semakin memprihatinkan. Gubernur DKI Jakarta
Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menyebutkan bahwa 13 sungai kini
telah tercemar oleh bahan pencemar terutama

limbah yang

berasal dari pabrik. Padahal limbah tersebut merupakan limbah B3


(Bahan Berbahaya dan Beracun), seperti yang disebutkan pada
UUPPLH No.32 Tahun 2009 pasal 1 angka 21 disebutkan bahwa
Bahan berbahaya dan beracun yang selanjutnya disingkat menjadi
B3 adalah zat, energy, dan/atau komponen lain yang karena sifat,
konsentrasi, dan/atau jumlahnya, baik secara langsung maupun
tidak langsung, dapat mencemarkan dan/atau merusak lingkungan

TEKNIK LINGKUNGAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2015

KELOMPOK 5 A

TUGAS BESAR
PENGELOLAAN KUALITAS LINGKUNGAN
hidup, dan/atau membahayakan lingkungan hidup, kesehatan, serta
kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lain.
Melihat fenomena tersebut maka, mahasiswa Teknik Lingkungan
disarankan untuk meneliti secara langsung kondisi air sungai yang
berada di dekat pabrik yaitu Pabrik Jamu Jago. Hal ini dimaksudkan
untuk mengetahui kualitas air sungai yaitu tercemar atau tidaknya
sungai tersebut oleh air limbah pabrik Jamu Jago.

1.3 Tujuan
1.3.1 Pengukuran pH
a. Melakukan pengamatan dan pengukuran pH air sampel pada sungai
depan Jamu Jago
b. Membaca hasil pengukuran yang tercantum pada pH meter pada 15 menit

1.3.2

pertama dan 15 menit selanjutnya


c. Membandingkan hasil pengukuran pH dengan pH pada baku mutu air
d. Melakukan evaluasi dan pembahasan atas hasil-hasil analisa
Pengukuran DHL
a. Melakukan pengamatan dan pengukuran DHL air sampel pada sungai
depan Jamu Jago
b. Membaca hasil pengukuran yang tercantum pada konduktivitimeter pada
15 menit pertama dan 15 menit selanjutnya
c. Membandingkan hasil pengukuran DHL dengan baku mutu air untuk

1.3.3

parameter DHL
d. Melakukan evaluasi dan pembahasan atas hasil-hasil analisa
Pengukuran TDS
a. Melakukan pengamatan dan pengukuran TDS air sampel pada sungai
depan Jamu Jago
b. Membaca hasil pengukuran yang tercantum pada TDS meter pada 15
menit pertama dan 15 menit selanjutnya
c. Membandingkan hasil pengukuran TDS sampel dengan baku mutu air

1.3.4

untuk parameter DHL


d. Melakukan evaluasi dan pembahasan atas hasil-hasil analisa
Pengukuran Suhu
a. Menghitung suhu air sampel yang akan diuji

1.4 Manfaat
1.4.1 Pengukuran pH

TEKNIK LINGKUNGAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2015

KELOMPOK 5 A

TUGAS BESAR
PENGELOLAAN KUALITAS LINGKUNGAN
a. Mengerti cara pengukuraan pH dan kondisi sungai dilihat dari parameter pH
yang dibandingkan dengan baku mutu air
Pengukuran DHL
a. Mengerti cara pengukuraan DHL dan baku mutu air untuk paramerter DHL
1.4.3 Pengukuran TDS
a. Mengerti cara pengukuraan TDS dengan TDS meter dan kondisi sungai
1.4.2

setelah dibandingkan dengan baku mutu air


Pengukuran Suhu
a. Mengetahui suhu dari air sampel yang berada di dekat pabrik Jamu Jago
1.5 Lokasi Praktikum
a. Praktikum mekanika fluida dilakukan di Laboratorium Pengaliran Fakultas
Teknik, Jurusan Teknik Sipil, Universitas Diponegoro.

1.4.4

6
3

2
7

1
5
Gambar 1.6 Denah Tempat Pengambilan Sampel di sungai depan Jamu Jago
Keterangan:
1
2
3
4
5

Pabrik Jamu Jago


ADA Supermarket
Jalan Perintis Kemerdekaan
Jalan masuk ke UNDIP
KODIM

TEKNIK LINGKUNGAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2015

KELOMPOK 5 A

TUGAS BESAR
PENGELOLAAN KUALITAS LINGKUNGAN
6
7

Vancy Bakery
Sungai Pengambilan Sampel

TEKNIK LINGKUNGAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2015

KELOMPOK 5 A

TUGAS BESAR
PENGELOLAAN KUALITAS LINGKUNGAN

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1Pencemaran Air
Pencemaran atau polusi adalah suatu kondisi yang telah berubah dari
bentuk asal pada keadaan yang lebih buruk. Pergeseran bentuk tatanan dari
kondisi asal pada kondisi yang buruk ini dapat terjadi sebagai akibat masukan
dari bahan-bahan pencemar atau polutan. Bahan polutan tersebut pada
umumnya mempunyai sifat racun (toksik) yang berbahaya bagi organisme
hidup. Toksisitas atau daya racun dari polutan itulah yang kemudian menjadi
pemicu terjadinya pencemaran (Palar, 2008).
Pencemaran air adalah penyimpangan sifat-sifat air dari keadaan
normal, bukan dari kemurniannya. Keadaan normal air masih tergantung pada
faktor penentu, yaitu kegunaan air itu sendiri dan asal sumber air. Air
dikatakan tercemar jika terdapat benda-benda asing yang mengakibatkan air
tersebut tidak dapat digunakan sesuai dengan peruntukannya secara normal.
Pencemaran air pada umumnya diakibatkan kegiatan manusia. Besar kecilnya
pencemaran akan tergantung dari kualitas dan kuantitas limbah yang dibuang
ke sungai, baik limbah padat maupun limbah cair (Kristanto, 2002).
Pencemaran air terjadi bila beberapa bahan atau kondisi yang dapat
menyebabkan penurunan kualitas badan air sehingga tidak memenuhi baku mutu
atau tidak dapat digunakan untuk keperluan tertentu (sesuai peruntukannya,
misalnya sebagai bahan baku air minum, keperluan perikanan, industri, dan lainlain) (Sunu, 2001).

2.2Indikator Pencemaran Air


Pencemaran air dapat menyebabkan pengaruh berbahaya bagi organisme,
populasi komunitas dan ekosistem. Indikator utama kualitas air dalam ekosistem
air permukaan adalah oksigen terlarut atau dissolved oxygen (DO), biological
oxygen demand (BOD). Agar dapat hidup organisme memerlukan oksigen untuk
proses respirasi. Kadar oksigen terlarut (DO) adalah jumlah oksigen yang terlarut
TEKNIK LINGKUNGAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2015

KELOMPOK 5 A

TUGAS BESAR
PENGELOLAAN KUALITAS LINGKUNGAN
dalam volume air tertentu pada suatu suhu dan tekanan tertentu. Pada tekanan
atmosfer normal (1atm) dan suhu 20 0 C, kadar oksigen maksimum terlarut dalam
air adalah 9 mg/L.
Pada dasarnya polutan dapat dibedakan menjadi dua yaitu limbah
degradable dan non degradable. Limbah degradable yaitu limbah yang dapat
terdekomposisi atau dapat dihilangkan dengan proses biologis alamiah.,
sedangkan limbah non biodegradable adalah limbah yang tak dapat dihilangkan
dari perairan dengan proses biologis alamiah.
Indikator pencemaran air dapat diketahui dan diamati baik secara visual
maupun pengujian, seperti :
a. Perubahan pH atau konsentrasi ion hydrogen,
b. Oksigen terlarut,
c. Adanya endapan, koloid, bahan terlarut
d. Perubahan warna, bau dan rasa.

2.2.1 Perubahan pH atau Konsentrasi Ion Hidrogen.


Air dapat bersifat asam atau basa, tergantung pada besarnya konsentrasi
ion hidrogen didalam air. Air normal yang memenuhi syarat untuk suatu
kehidupan mempunyai antara 6,5 7,5. Air limbah industri belum terolah yang
dibuang langsung ke sungai akan mengubah pH air yang dapat mengganggu
kehidupan organisme didalam sungai. Kondisi ini akan semakin parah jika daya
dukung lingkungan rendah seperti debit sungai yang kecil (Sunu, 2001).
Proses penanganan bilogik konvensional tidak dapat bekerja dengan baik
di laur daerah pH 6,5 8,5 dan sifat asam atau alkali harus dimodifikasi dengan
cara tertentu seperti dengan pengenceran, netralisasi, dan pengendalian proses
reaksi biologik. Air limbah yang mengandung konsentrasi asam organik yang
cukup banyak sering mempunyai pH yang rendah, dan dapat diatasi secara efektif
dengan menyesuaikan laju penghilangan denga laju input massa dari asam
(Laksmi, 1993).

2.2.2 Oksigen Terlarut (DO)


Oksigen terlarut adalah suatu faktor yang terpenting dalam setiap sistem
perairan. Sumber utama oksigen terlarut berasal dari atmosfer dan proses

TEKNIK LINGKUNGAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2015

KELOMPOK 5 A

TUGAS BESAR
PENGELOLAAN KUALITAS LINGKUNGAN
fotosintesis tumbuhan hijau. Oksigen dari udara diserap dengan difusi langsung.
Oksigen hilang dari air oleh adanya pernafasan biota, penguraian bahan organik,
aliran masuk air bawah tanah yang miskin oksigen, adanya besi, dan kenaikan
suhu.

2.2.3 Kebutuhan Oksigen Biologi (BOD)


Biological Oxygen Deman (BOD) atau Kebutuhan Oksigen Biologi
adalah suatu analisis empiris yang mencoba mendekati secara global prosesproses mikrobiologis yang benar-benar didalam air. Angka BOD adalah jumlah
oksigen yang dibutuhkan oleh bakteri untuk menguraikan (mengoksidasi) hampir
semua zat organis yang terlarut dan sebagian zat-zat organis yang tersuspensi
dalam air.
Kalau suatu badan air tercemar oleh zat-zat organic, bakteri tersebut
dapat menghabiskan oksigen terlarut dalam air selama proses oksidasi tersebut
yang bias mengakibatkan kematian ikan-ikan dalam air dan keadaan menjadi
anaerobik dan dapat menimbulkan bau busuk pada air tersebut. Pemeriksaan
BOD didasarkan reaksi oksidasi zat organik dengan oksigen didalam air, dan
proses tersebut berlangsung karena adanya bakteri aerobik sebagai hasil oksidasi
akan terbentuk karbon dioksida, air, dan amoniak. Atas dasar reaksi tersebut,
yang memerlukan kira-kira 2 hari dimana 50% reaksi telah tercapai, 5 hari
supaya 75% dan 20 hari supaya 100% tercapai, maka pemeriksaan BOD dapat
digunakan untuk menafsirkan beban pencemaran zat organis (Alaerts, 1987).

2.2.4 Kebutuhan Oksigen Kimia (COD)


COD (Chemichal Oxygen Demand) atau Kebutuhan Oksigen Kimia
adalah jumlah oksigen (mg) yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat-zat organis
yang ada dalam satu liter air, dimana K 2Cr2O7 digunakan sebagai sumber oksigen
(Oxidating Agent). Angka COD merupakan ukuran bagi pencemaran air oleh zatzat organis yang secara alamiah dapat dioksidasi melalui proses mikrobiologis,
dan mengakibatkan berkurangnya oksigen dalam air (Alaerts, 1987).
Analisis BOD dan COD dari suatui limbah akan menghasilkan nilai-nilai
yang berbeda karena kedua uji mengukur bahan yang berbeda. Nilai COD selalu
lebih tinggi dari nilai BOD. Perbedaan diantara kedua nilai disebabkan oleh
TEKNIK LINGKUNGAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2015

KELOMPOK 5 A

TUGAS BESAR
PENGELOLAAN KUALITAS LINGKUNGAN
banyak factor seperti bahan kimia yang tahan terhadap oksidasi biokimia tetapi
tidak tahan terhadap oksidasi kimia, seperti lignin, bahan kimia yang dapat
dioksidasi secara kimia dan peka terhadap oksidasi biokimia tetapi dalam uji
BOD 5 hari seperti selulosa, lemak berantai panjang, atau sel-sel mikroba, dan
adanya bahan toksik dalam limbah yang mengganggu uji BOD tetapi tidak
dengan COD (Laksmi, 1993).

2.2.5 TSS (Total Suspended Solid)


Total suspended solid atau padatan tersuspensi adalah padatan yang
menyebabkan kekeruhan air, tidak terlarut dan tidak dapat mengendap langsung.
Padatan tersuspensi terdiri dari partikel-partikel yang ukuran maupun beratnya
lebih kecil dari sedimen seperti bahan-bahan organik tertentu, tanah liat dan lainlain.Misalnya air permukaan mengandung tanah liat dalam bentuk tersuspensi.
Air buangan selain mengandung padatan tersuspensi dalam jumlah yang
bervariasi, juga sering mengandung bahan-bahan yang bersifat koloid, seperti
protein. Air buangan industri makanan mengandung padatan tarsuspensi yang
relatif tinggi. Padatan terendap dan padatan tersuspensi akan mengurangi
penetrasi sinar matahari ke dalam air, sehingga dapat mempengaruhi regenerasi
oksigen secara fotosintesa.
Pengukuran langsung padatan tersuspensi (TSS) sering memakan waktu
cukup lama. TSS adalah jumlah bobot bahan yang tersuspensi dalam volume air
tertentu, yang biasanya dinyatakan dalam mg/L atau ppm.
Partikel tersuspensi akan menyebarkan cahaya yang datang, sehingga
menurunkan intensitas cahaya yang disebarkan. Padatan tersuspensi dalam air
umumnya terdiri dari fitoplankton, zooplankton, sisa tanaman dan limbah industri
(Sunu, 2001).

2.2.6 TDS (Total Dissolved Solids)


Total dissolved solid atau total padatan terlarut merupakan bahan dalam
air yang dapat melewati filter dengan 2.0 mikrometer atau lebih kecil ukuran
rata-rata nominal pori. Suhu yang digunakan untuk mengeringkan residu sangat
penting dan mempengaruhi hasil karena bobot yang hilang akibat bahan organik
volatil, air , air kristalisasi, gas yang keluar akibat dekomposisi kimia sebagai
TEKNIK LINGKUNGAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2015

KELOMPOK 5 A

TUGAS BESAR
PENGELOLAAN KUALITAS LINGKUNGAN
bobot akibat oksidasi tergantung suhu dan waktu pemanasan. Suhu pemanasan
TDS adalah 1802 derajat celcius.
Total padatan terlarut merupakan konsentrasi jumlah ion kation
(bermuatan positif) dan anion (bermuatan negatif) di dalam air. Oleh karena itu,
analisa total padatan terlarut menyediakan pengukuran kualitatif dari jumlah ion
terlarut, tetapi tidak menjelaskan pada sifat atau hubungan ion. Selain itu,
pengujian tidak memberikan wawasan dalam masalah kualitas air yang spesifik.
Oleh karena itu, analisa total padatan terlarut digunakan sebagai uji indikator
untuk menentukan kualitas umum dari air. (Oram, 2010).

2.3

Klasifikasi Air
Menurut Peraturan Pemerintah No. 20 tahun 1990 mengelompokkan
kualitas air menjadi beberapa golongan menurut peruntukannya. Adapun
penggolongan air menurut peruntukannya adalah sebagai berikut :
1. Golongan A, yaitu air yang dapat digunakan sebagai air minum secara
langsung, tanpa pengolahan terlebih dahulu. Contohnya mata air pegunungan.
2. Golongan B, yaitu air yang dapat digunakan sebagai air baku air minum.
Contohnya air sungai.
3. Golongan C, yaitu air yang dapat digunakan untuk keperluan perikanan dan
peternakan. Contohnya air laut.
4. Golongan D, yaitu air yang dapat digunakan untuk keperluan pertanian, usaha
di perkotaan, industri, dan pembangkit listrik tenaga air. Contohnya air tanah
dangkal dan air tanah dalam (Effendi, 2003).

2.4

Persyaratan Air Minum

2.4.1 Persyaratan Fisik


Air minum memiliki persyaratan fisik meliputi: air tidak boleh berwarna,
air tidak boleh berasa, air tidak boleh berbau, suhu air hendaknya di bawah sela
udara (sejuk 250 C), dan air harus jernih (Sutrisno, 2002).
1. Warna
Meskipun murni, air dikatakan selalu berwarna, yaitu biru-hijau muda
apabila volume cukup banyak. Sangat penting membedakan antara warna asli
yang disebabkan oleh material-material terlarut dan warna semu yang
diakibatkan zat-zat tersuspensi warna kuning alami pada air berasal dari
pegunungan, yang berasal dari asam-asam organik yang tidak berbahaya bagi
kesehatan dan warna ini dapat diasamkan dengan warna asam tanik yang
terdapat pada air teh.
2. Bau dan rasa
TEKNIK LINGKUNGAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2015

KELOMPOK 5 A

TUGAS BESAR
PENGELOLAAN KUALITAS LINGKUNGAN
Jika air ditemukan berbau, maka penyebab timbulnya harus diperiksa.
Untuk menjamin kualitas air tersebut dapat digunakan sebagai sumber air,
harus dilakukan uji bakteriologis di laboratorium. Jika ditemukan berasa
payau atau asin maka cek hasil laboratorium kandungan klorida (Joko, 2010).
3. Suhu
Aktivitas mikroorganisme memerlukan suhu optimum yang berbedabeda. Akan tetapi, proses dekomposisi biasanya terjadi pada kondisi udara
yang hangat. Kecepatan dekomposisi meningkat pada kisaran suhu 5 0C
350C. Pada kisaran suhu ini, setiap peningkatan suhu sebesar 10 0C akan
meningkatkan proses dekomposisi dan konsumsi oksigen menjadi dua kali
lipat (Effendi, 2003).
4. Kekeruhan
Kekeruhan air dapat ditimbulkan oleh adanya bahan-bahan organik
dan anorganik, seperti lumpur dan buangan dari pemukiman tertentu yang
menyebabkan air sungai menjadi keruh (Suriawiria, 2005).

2.5

Standar Kualitas Air Minum


Air minum adalah air yang sudah terpenuhi syarat fisik, kimia,
bakteriologi serta level kontaminasi maksimum (LKM) (Maximum Contaminant
Level). Level kontaminasi maksimum meliputi sejumlah zat kimia, kekeruhan
dan bakteri Coliform yang diperkenankan dalam batas-batas aman (Gabriel,
2001).
Air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari sebaiknya adalah air
yang memenuhi kriteria sebagai air bersih. Air bersih merupakan air yang dapat
digunakan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat-syarat
kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak (Waluyo, 2007).
Air minum aman bagi kesehatan apabila memenuhi persyaratan fisika,
mikrobiologis, kimiawi, dan radioaktif yang dimuat dalam paremeter wajib dan
parameter tambahan. Telah ditetapkan bahwa untuk menjaga kualitas air minum
yang dikonsumsi masyarakat dilakukan pengawasan kualitas air minum secara
eksternal dan secara internal. Pengawasan kualitas air minum secara internal pula
merupakan pengawasan yang dilaksanakan oleh penyelenggara air minum untuk
menjamin kualitas air minum yang diproduksi memenuhi syarat sebagaimana
diatur dalam peraturan tersebut.
Tabel 2.1 Parameter Wajib pada Persyaratan Kualitas Air Minum

TEKNIK LINGKUNGAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2015

KELOMPOK 5 A

TUGAS BESAR
PENGELOLAAN KUALITAS LINGKUNGAN

TEKNIK LINGKUNGAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2015

KELOMPOK 5 A

TUGAS BESAR
PENGELOLAAN KUALITAS LINGKUNGAN

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1.

PENGUKURAN PH

3.1.1. PENGUKURAN PH
3.1.1.1. Peralatan
1. PH meter

3.1.1.2.Bahan
1. Air Sungai (untuk dianalisa dari sungai yang menggenang)
3.1.1.3.Cara Kerja
Mulai
Mencelupkan PH meter kedalam air yang akan diukur (kira-kira
kedalaman 5cm)

Menekan tombol on dan mengatur angka,amati sampai bunyi tit

Mencatatnya

Selesai
Gambar 3.3. Cara Kerja PH Meter
Sumber: Analisa Penulis,2015

3.2.

PENGUKURAN DHL

3.2.1. PENGUKURAN DHL


TEKNIK LINGKUNGAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2015

KELOMPOK 5 A

TUGAS BESAR
PENGELOLAAN KUALITAS LINGKUNGAN
3.2.1.1. Peralatan
1. Conductivity meter

3.2.1.2.Bahan
1. Air Sungai (untuk dianalisa dari sungai yang menggenang)
3.2.1.3.Cara Kerja
Mulai
Mencelupkan conductivity meter kedalam air yang akan diukur (kira-kira
kedalaman 5cm)

Menekan tombol on,dan mengamati sampai alat berbunyi tit

Mencatatnya

Selesai
Gambar 3.4. Cara Kerja Conductivity meter
Sumber: Analisa Penulis,2015

3.3.

PENGUKURAN TDS

3.3.1. PENGUKURAN TDS


3.3.1.1. Peralatan
1. TDS Meter

3.3.1.2.Bahan
1. Air Sungai (untuk dianalisa dari sungai yang menggenang)
3.3.1.3.Cara Kerja
Mulai
Mencelupkan kedalam air yang akan diukur (kira-kira kedalaman 5cm)

TEKNIK LINGKUNGAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2015

KELOMPOK 5 A

TUGAS BESAR
PENGELOLAAN KUALITAS LINGKUNGAN
Menekan tombon ON

Dan secara otomatis alat bekerja mengukur.

Selesai
Gambar 3.1. Cara Kerja TDS Meter
Sumber: Analisa Penulis,2015

3.4.

PENGUKURAN SUHU

3.4.1. PENGUKURAN SUHU


3.4.1.1. Peralatan
1. Termometer

3.4.1.2.Bahan
1. Air Sungai (untuk dianalisa dari sungai yang menggenang)

3.4.1.3.Cara Kerja
Mulai
Mencelupkan Termometer kedalam air yang akan diukur (kira-kira
kedalaman 5cm)

Mengamati sampai mana suhu berhenti

Mencatatnya
TEKNIK LINGKUNGAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2015

KELOMPOK 5 A

TUGAS BESAR
PENGELOLAAN KUALITAS LINGKUNGAN

Selesai
Gambar 3.2. Cara Kerja Termometer
Sumber: Analisa Penulis,2015

BAB IV
ANALISA DAN PEMBAHASAN
4.1

PENGUKURAN PH

4.1.1. Pengukuran PH Tanggal 8 Oktober 2015


Hasil pengukuran PH pada 15 menit pertama didapat 7,82 dan pada 15 menit
kedua didapat sebesar 7,94 .
4.1.2. Pengukuran PH Tanggal 15 Oktober 2015
Hasil pengukuran PH pada 15 menit pertama didapat 8,03 dan pada 15 menit
kedua didapat sebesar 7,98 .
4.1.3. Pengukuran PH Tanggal 22 Oktober 2015
TEKNIK LINGKUNGAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2015

KELOMPOK 5 A

TUGAS BESAR
PENGELOLAAN KUALITAS LINGKUNGAN
Hasil pengukuran PH pada 15 menit pertama didapat 7,65 dan pada 15 menit
kedua didapat sebesar 8,00 .
4.1.4. Pengukuran PH Tanggal 29 Oktober 2015
Hasil pengukuran PH pada 15 menit pertama didapat 7,96 dan pada 15 menit
kedua didapat sebesar 7,98 .
4.1.5. Pengukuran PH Tanggal 19 Desember 2015
Hasil pengukuran PH pada 15 menit pertama didapat 5,37 dan pada 15 menit
kedua didapat sebesar 5,46 .
4.2

PENGUKURAN DHL

4.2.1. Pengukuran DHL Tanggal 8 Oktober 2015


Hasil pengukuran DHL pada 15 menit pertama didapat 525 S dan pada 15
menit kedua didapat sebesar 436 S.
4.2.2. Pengukuran DHL Tanggal 15 Oktober 2015
Hasil pengukuran DHL pada 15 menit pertama didapat 430 S dan pada 15
menit kedua didapat sebesar 426 S.
4.2.3. Pengukuran DHL Tanggal 22 Oktober 2015
Hasil pengukuran DHL pada 15 menit pertama didapat 358 S dan pada 15
menit kedua didapat sebesar 400 S .

4.2.4. Pengukuran DHL Tanggal 29 Oktober 2015


Hasil pengukuran DHL pada 15 menit pertama didapat 426 S dan pada 15
menit kedua didapat sebesar 426 S.
4.2.5. Pengukuran DHL Tanggal 19 Desember 2015
Hasil pengukuran DHL pada 15 menit pertama didapat 349 S dan pada 15
menit kedua didapat sebesar 346 S.
4.3

PENGUKURAN TDS

4.3.1. Pengukuran TDS Tanggal 8 Oktober 2015


Hasil pengukuran TDS pada 15 menit pertama didapat 288 dan pada 15 menit
kedua didapat sebesar 244 .

TEKNIK LINGKUNGAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2015

KELOMPOK 5 A

TUGAS BESAR
PENGELOLAAN KUALITAS LINGKUNGAN
4.3.2. Pengukuran TDS Tanggal 15 Oktober 2015
Hasil pengukuran TDS pada 15 menit pertama didapat 234 dan pada 15
menit kedua didapat sebesar 234 .
4.3.3. Pengukuran TDS Tanggal 22 Oktober 2015
Hasil pengukuran TDS pada 15 menit pertama didapat 85 dan pada 15 menit
kedua didapat sebesar 126 .
4.3.4. Pengukuran TDS Tanggal 29 Oktober 2015
Hasil pengukuran TDS pada 15 menit pertama didapat 236 dan pada 15 menit
kedua didapat sebesar 234 .
4.3.5. Pengukuran TDS Tanggal 19 Desember 2015
Hasil pengukuran TDS pada 15 menit pertama didapat 79,6 dan pada 15
menit kedua didapat sebesar 79, .
4.4

PENGUKURAN SUHU

4.4.1. Pengukuran Suhu Tanggal 8 Oktober 2015


Hasil pengukuran Suhu pada 15 menit pertama didapat 28,5C dan pada 15
menit kedua didapat sebesar 28C .
4.4.2. Pengukuran Suhu Tanggal 15 Oktober 2015
Hasil pengukuran Suhu pada 15 menit pertama didapat 30C dan pada 15
menit kedua didapat sebesar 29C .

4.4.3. Pengukuran Suhu Tanggal 22 Oktober 2015


Hasil pengukuran Suhu pada 15 menit pertama didapat 28C dan pada 15
menit kedua didapat sebesar 30C .
4.4.4. Pengukuran Suhu Tanggal 29 Oktober 2015
Hasil pengukuran Suhu pada 15 menit pertama didapat 30C dan pada 15
menit kedua didapat sebesar 29C .
4.4.5. Pengukuran Suhu Tanggal 19 Desember 2015
Hasil pengukuran Suhu pada 15 menit pertama didapat 29C dan pada 15
menit kedua didapat sebesar 29C .

TEKNIK LINGKUNGAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2015

KELOMPOK 5 A

TUGAS BESAR
PENGELOLAAN KUALITAS LINGKUNGAN
4.5

DATA KESELURUHAN DAN BAKU MUTU

4.5.1. Sampling Tanggal 8 Oktober 2015


4.5.1.1. 15 Menit Pertama
No.

Jenis
Pengukuran

Air Sungai Jamu


Jago

Baku Mutu

1.

Ph

7.82

6.5-9.0

2.

Temperatur

28.5

Suhu udara 3
o
C

3.

TDS

288

1500 mg/l

4.

DHL

525

20-1500s

4.5.1.2. 15 Menit Kedua


No.

Jenis
Pengukuran

Air Sungai Jamu


Jago

Baku Mutu

1.

Ph

7.94

6.5-9.0

2.

Temperatur

28

Suhu udara 3
o
C

3.

TDS

244

1500 mg/l

4.

DHL

436

20-1500s

4.5.2. Sampling Tanggal 15 Oktober 2015


4.5.2.1. 15 Menit Pertama
No.

Jenis
Pengukuran

Air Sungai Jamu


Jago

Baku Mutu

1.

Ph

8,03

6.5-9.0

2.

Temperatur

30

Suhu udara 3
o
C

TEKNIK LINGKUNGAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2015

KELOMPOK 5 A

TUGAS BESAR
PENGELOLAAN KUALITAS LINGKUNGAN
3.

TDS

234

1500 mg/l

4.

DHL

430

20-1500s

4.5.2.2. 15 Menit Kedua


No.

Jenis
Pengukuran

Air Sungai Jamu


Jago

Baku Mutu

1.

Ph

7.98

6.5-9.0

2.

Temperatur

29

Suhu udara 3
o
C

3.

TDS

234

1500 mg/l

4.

DHL

426

20-1500s

4.5.3. Sampling Tanggal 22 Oktober 2015


4.5.3.1. 15 Menit Pertama
No.

Jenis
Pengukuran

Air Sungai Jamu


Jago

Baku Mutu

1.

Ph

7,65

6.5-9.0

2.

Temperatur

28

Suhu udara 3

TEKNIK LINGKUNGAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2015

KELOMPOK 5 A

TUGAS BESAR
PENGELOLAAN KUALITAS LINGKUNGAN
o

3.

TDS

85

1500 mg/l

4.

DHL

358

20-1500s

4.5.3.2. 15 Menit Kedua


No.

Jenis
Pengukuran

Air Sungai Jamu


Jago

Baku Mutu

1.

Ph

8,00

6.5-9.0

2.

Temperatur

30

Suhu udara 3
o
C

3.

TDS

126

1500 mg/l

4.

DHL

400

20-1500s

4.5.4. Sampling Tanggal 29 Oktober 2015


4.5.4.1. 15 Menit Pertama
No.

1.

Jenis
Pengukuran
Ph

TEKNIK LINGKUNGAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2015

Air Sungai Jamu


Jago
7,96

Baku Mutu

6.5-9.0

KELOMPOK 5 A

TUGAS BESAR
PENGELOLAAN KUALITAS LINGKUNGAN
2.

Temperatur

30

Suhu udara 3
o
C

3.

TDS

236

1500 mg/l

4.

DHL

426

20-1500s

4.5.4.2. 15 Menit Kedua


No.

Jenis
Pengukuran

Air Sungai Jamu


Jago

Baku Mutu

1.

Ph

7.98

6.5-9.0

2.

Temperatur

29

Suhu udara 3
o
C

3.

TDS

234

1500 mg/l

4.

DHL

426

20-1500s

4.5.5. Sampling Tanggal 19 Desember 2015


4.5.5.1. 15 Menit Pertama
No.

Jenis
Pengukuran

TEKNIK LINGKUNGAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2015

Air Sungai Jamu


Jago

Baku Mutu

KELOMPOK 5 A

TUGAS BESAR
PENGELOLAAN KUALITAS LINGKUNGAN
1.

Ph

5,37

6.5-9.0

2.

Temperatur

29

Suhu udara 3
o
C

3.

TDS

79,6

1500 mg/l

4.

DHL

349

20-1500s

4.5.5.2. 15 Menit Kedua


No.

Jenis
Pengukuran

Air Sungai Jamu


Jago

Baku Mutu

1.

Ph

5,46

6.5-9.0

2.

Temperatur

29

Suhu udara 3
o
C

3.

TDS

79,3

1500 mg/l

4.

DHL

346

20-1500s

TEKNIK LINGKUNGAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2015

KELOMPOK 5 A