Anda di halaman 1dari 2

Diskusi

Dalam studi ini, kami menemukan bahwa faktor risiko utama antara
insiden kasus kontak itu dekat dengan indeks kasus. Diantara karakteristik dari
kasus indeks, Jumlah basiler adalah satu-satunya faktor risiko yang terkait
dengan perkembangan kusta. Sebuah bekas luka BCG dan penerapan vaksin
setelah kasus indeks diagnosis secara independen berkontribusi sebagai faktor
protektif. Namun pada beberapa kasus variabel yang paling terkait adalah
hubungan rumah tangga dengan kasus indeks. Selain itu, BCG bekas luka
berkontribusi secara independen sebagai faktor protektif. Faktor yang
berhubungan dengan kasus indeks termasuk 4 sampai 10 tahun usia sekolah dan
jumlah basiler, keduanya terkait dengan kusta antara kontak mereka pada saat
pertama pemeriksaan.
Meskipun laki-laki menderita sebagian besar kasus kusta di Brasil,
Penelitian tidak menemukan perbedaan gender dalam hal risiko tertularnya
penyakit pada setiap kontak, hal ini menunjukkan bahwa perbedaan gender pada
penemuan kasus secara umum disebabkan oleh perbedaan paparan mereka.
Penemuan ini sesuai dengan beberapa hasil penelitian lainnya bahwa tidak ada
perbedaan jenis kelamin terhadap kemungkinan tertularnya kusta.
Dalam penelitian ini, usia kontak tidak dikaitkan dengan kusta antara
kasus baik co-prevalen atau insidensi kejadian. Penelitian lain telah
menunjukkan bahwa di antara risiko kontak kusta secara signifikan lebih tinggi
bagi mereka yang umurnya lebih muda dari 14, terutama untuk kontak dari
kasus indeks multibacillary. Moet et al juga melaporkan menurut usia, faktor
resiko meningkat antara 5 sampai 25 tahun, dan mencapai puncaknya pada usia
15-20 tahun, menurun pada usia 20-29 tahun dan bbertahap meningkat pada
usia di atas 30 tahunan. Kusta secara tradisional dikaitkan dengan status sosial
ekonomi rendah. Studi berbasis populasi juga telah menjelaskan adanya
peningkatan risiko kusta terkait dengan kurangnya tingkat pendidikan,
perumahan yang kumuh dan berpenghasilan rendah. Pada penelitian ini
menunjukkan adanya hubungan antara level pendidikan dengan kejadian kusta.
Namun pada penelitian ini kurangnya pendidikan rendah berhubungan dengan
durasi penyakit. Pendidikan rendah terkait dengan rendahnya sosisal ekonomi
dan berhubungan dengan terlambatnya diagnosis dan memperlama terjadinya
kontak. Penemuan ini sesuai dengan ketiadaan dan tidak dapat diaksesnya
fasilitas kesehatan.

Singkatnya, faktor sosial-ekonomi tampak lebih kuat terkait dengan kusta


di antara kontak yang ditemukan pada pemeriksaan pertama. Pada penemuan ini
antara kasus co-prevalent bahwa pasien dengan tingkat pendidikan rendah susah
menemukan fasilitas perawatan kesehatan yang memadai dan informasi.
Kemampuan untuk secara akurat mengidentifikasi kontak penderita kusta
yang berisiko tinggi penyakit adalah sangat penting untuk kontrol kusta.
Pengawasan dan pendidikan kesehatan yang sesuai kontak rumah tangga harus
sangat diperkuat dan diperluas untuk semua kontak dekat pasien kasus indeks,
termasuk mereka kerabat kerabat. Dalam penelitian ini, bagaimanapun, kita
harus mengidentifikasi kelompok kontak yang sesuai langkah-langkah
intervensi, diperoleh kusta. Oleh karena itu, rumah tangga kontak MB kasuspasien Indeks, khususnya mereka yang jumalh basilnya tinggi pada saat
diagnosis,
harus
dipertimbangkan
untuk
kemoprofilaksis
selain
imunoprofilaksis dengan vaksinasi BCG, sekali lagi khasiat kemoprofilaksis
terbukti.