Anda di halaman 1dari 6

DASAR HUKUM LEMBAGA PERKREDITAN DESA (LPD)

DI PROVINSI BALI

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah telah meletakkan


dasar hukum yang kuat bagi eksistensi dan pengaturan desa adat. Namun, Undang-Undang ini
tidak menindaklanjuti ketentuan dasar itu dengan ketentuan teknis. Ketentuan teknis yang
terdapat dalam Bab XI Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004, yang berjudul DESA, bahkan
hanya mengatur Desa dalam pengertian Desa Dinas di Bali.
Untuk mencegah kekosongan hukum sebagai akibat belum diterbitkannya Ketentuan
ketentuan teknis tentang Desa Pakraman, Pemerintah Provinsi Bali berdasarkan ketentuanketentuan tersebut di atas telah menerbitkan Peraturan Daerah Propinsi Bali Nomor 3 Tahun
2001 tentang Desa Pakraman sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Daerah Propinsi Bali
Nomor 3 Tahun 2003 tentang Desa Pakraman.
Dalam rangka mengukuhkan, menjamin dan melindungi hak-hak karakteristik dari Desa
Pakraman, termasuk antara lain dalam kaitan dengan hak otonom Desa Pakraman untuk
mengelola potensi keuangannya, Pemerintah Provinsi Bali telah pula menerbitkan Peraturan
Daerah Propinsi Bali Nomor 8 Tahun 2002 tentang Lembaga Perkreditan Desa, sebagaimana
telah diubah dengan Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 3 Tahun 2007 tentang Perubahan
Atas Peraturan Daerah Propinsi Bali Nomor 8 Tahun 2002 tentang Lembaga Perkreditan Desa
yang pada prinsipnya dimaksudkan untuk mengisi kekosongan hukum berkenaan dengan fungsifungsi pengelolaan keuangan Desa.
LPD merupakan salah satu unsur kelembagaan Desa Pakraman yang menjalankan fungsi
keuangan Desa Pakraman untuk mengelola potensi keuangan Desa Pakraman. Lembaga ini
sangat berpotensi dan telah terbukti dalam memajukan kesejahteraan masyarakat desa dan
memenuhi kepentingan Desa itu sendiri. Lembaga Perkreditan Desa telah berkembang dengan
pesat dan telah memberi manfaat yang sangat luas bagi LPD dan anggota-anggotanya, dan
seiring dengan itu telah timbul berbagai kebutuhan baru berkenaan dengan eksistensi
kelembagaan, unsur-unsur manajemen, kegiatan dan operasionalnya, sehingga diperlukan
pengaturan yang lebih akurat untuk menjamin kepastian dan perlindungan hukum bagi
keberadaan dan kegiatan LPD dan keberadaan Krama Desa yang menjadi anggotanya. Kekurang
hati-hatian dalam mengelola LPD dapat berakibat buruk terhadap kepercayaan masyarakat
terhadap LPD. Karena itu perlu dilakukan penyesuaian-penyesuaian terhadap kebutuhan
kebutuhan baru yang berkembang dari praktek kegiatan LPD.
Beberapa ketentuan dalam Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 3 Tahun 2007 tentang
Perubahan Atas Peraturan Daerah Propinsi Bali Nomor 8 Tahun 2002 tentang Lembaga
Perkreditan Desa sudah tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan hukum yang berkembang atau
tidak sesuai lagi dengan perkembangan situasi dan kondisi saat ini sehingga diadakan perubahan
dengan membentuk Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2012 tentang Perubahan Kedua Atas

Peraturan Daerah Propinsi Bali Nomor 8 Tahun 2002 tentang Lembaga Perkreditan Desa, berikut
merupakan ulasan Peraturan Daerah Nomor 08 Tahun 2002.
Perda No. 08 Tahun 2002 menyatakan nama LPD hanya dapat digunakan oleh badan
usaha keuangan sesuai dengan kriteria yang dijelaskan yaitu LPD merupakan badan usaha
keuangan milik desa yang melaksanakan kegiatan usaha di lingkungan desa dan untuk krama
desa. (Bab II pasal 1;2)
LPD dapat didirikan pada desa dalam kabupaten/kota, dimana dalam tiap-tiap desa hanya
dapat didirikan satu LPD. Desa yang wilayahnya kecil dan letaknya berdekatan dapat secara
bersama-sama membentuk LPD atas dasar kesepakatan. Syarat-syarat untuk mendirikan LPD
antara lain : telah memiliki awig-awig tertulis; ditinjau dan segi sosial ekonomi, desa tersebut
cukup potensial untuk berkembang. Ijin pendirian LPD ditetapkan dengan keputusan Gubernur
setelah mendapat rekomendasi Bupati/ Walikota dan MUDP( Majelis Utama Desa dipilih dan
dibentuk utusan Desa Pekraman se-Bali dalam paruman agung di tingkat ibukota provinsi) (Bab
III pasal 3-6)
Lapangan Usaha LPD, yang mencakup :
a) Menerima/menghimpun dana dari krama desa dalam bentuk tabungan dan deposito;
b) Memberikan pinjaman hanya kepada krama desa;
c) Menerima pinjaman dari lembaga-lembaga keuangan maksimum sebesar 100% dari
jumlah modal, termasuk cadangan dan laba ditahan, kecuali batasan lain dalam jumlah
pinjaman atau dukungan/bantuan dana
d) Menyimpan kelebihan likuiditasnya pada BPD dengan imbalan bunga bersaing dan
pelayanan memadai
Untuk melasanakan kegiatan tersebut LPD wajib mentaati Keputusan Gubernur tentang
prinsip kehati-hatian yang dijelaskan dalam Pergub No. 12 Tahun 2013 tentang Prinsip Kehatihatiian Pengelolaan LPD. (Bab IV pasal 7)
LPD dapat didirikan dengan modal sekurang-kurangnya Rp 20.000.000,00. Modal LPD terdiri
dari :
a) Setoran desa pekraman;
b) Bantuan pemerintah atau sumber lain yang tidak mengikat ; dan
c) Laba ditahan. (Bab V pasal 9)
Organisasi LPD terdiri dari pengurus dan pengawas. Pengurus teridiri dari Kepala, Tata
Usaha dan Kasir. Pengurus dipilih oleh krama desa. Pengurus bertugas untuk jangka waktu 4
tahun dan dapat dipilih kembali. Pengurus dapat mengangkat dan memberhentikan karyawan
untuk melaksanakan kegiatan dan pengelolaan LPD atas persetujuan Prajuru Desa berdasarkan
hasil Paruman Desa.
Pengawas terdiri dari Ketua dan sekurang-kurangnya dua orang anggota. Ketua dijabat oleh
Bendesa karena jabatannya. Anggota pengawas dipilih oleh krama desa. Ketua dan anggota
pengawas tidak dapat merangkap sebagai pengurus. (Bab VI pasal 11;12)

Setiap tahun pengurus membuat Rencana Kerja (RK) dan Rencana Anggaran Pendapatan dan
Belanja (RAPB) untuk tahun berikutnya, yang disampaikan paling lama 3 (tiga) bulan sebelum
tahun buku berkahir kepada prajuru desa untuk mendapatkan persetujuan dan disampaikn kepada
pengawas internal untuk mendapat pengesahan, apabila sampai akhir tahun tidak mendapatkan
persejutuan diberlakukan RK dan RAPB tahun lalu. Setiap perubahan RK dan RAPB dalam
tahun berjalan harus mendapat persetujuan Prajuru Desa dan disampaikan kepada Pengawas
internal untuk mendapat pengesahan paling lama 1 bulan sejak usulan perubahan diajukan,
apabila tidak mendapat persetujuan dan pengesahan diberlakukan RK dan RAPB tahun berjalan.
Pengurus menyampaikan laporan tentang kegiatan, perkembangan keuangan dan kinerja LPD
kepada bendesa dan LPLPD secara tertaur setiap bulan, tiga bulan dan tahun.
Pembagian keuntungan bersih LPD pada akhir tahun pembukuan ditetapkan sebgai berikut:
a)
b)
c)
d)
e)

Cadangan modal 60 %;
Dana pembangunan desa 20%;
Jasa produksi 10%
Dana pemberdayaan 5%
Dana sosial 5%

Pembubaran LPD dapat terjadi karena:


a) Usul desa;
b) Pencabutan izin pendirian
Pengurus harta kekayaan setelah pembubaran dilakukan oleh suatu pengurusan harta kekayaan.
Pengurus atau karyawan LPD yang bertindak menyimpang dari ketentuan yang berlaku
atau lalai dalam melaksanakan tugas-tugas kewajibannya, baik secara langsung mauun tidak
langsung menimbukan kerugian bagi LPD wajib mengganti kerugian tersebut menurut ketentuan
peraturan perundang-undangan yang berlaku: Diancam dengan pidana kurungan paling lama 3
bulan dan denda paling banyak Rp 50.000.000,00
PERGUB NO. 11 TAHUN 2013
LPD harus memenuhi kecukupan modal minimum 12% (dua belas persen). LPD yang belum
memenuhi ketentuan harus menambah permodalannya oleh Desa Pakraman yang bersangkutan.
Kecukupan modal ditentukan berdasarkan perbandingan antara modal LPD dengan ATMR
( Aktiva Tertimbang Menurut Risiko). ATMR terdiri dari aktiva neraca LPD yang diberikan
bobot sesuai dengan kadar risiko yang melekat pada setiap pos aktiva. Kadar risiko setiap pos
aktiva ditetapkan sebagai berikut:
a. Kas 0%;
b. Antar Aktiva LPD 20%;
c. Antar Aktiva LPD pada kondisi Macet 100%;
d. Pinjaman yang diberikan 100%;

e. Aktiva tetap dan inventaris 100%; dan


f. Aktiva lain/rupa-rupa aktiva 100%.

Modal LPD terdiri dari:


a. Modal inti; dan
b. Modal pelengkap.
Modal inti terdiri dari:
a. Modal disetor;
b. Modal donasi;
c. Modal cadangan;
d. Laba tahun lalu; dan
e. Laba tahun berjalan, diperhitungkan 50% (lima puluh persen).
Modal inti diperhitungkan sebagai faktor pengurang berupa pos:
a. Rugi tahun-tahun lalu; dan
b. Rugi tahun berjalan.
Modal pelengkap terdiri dari:
a. Akumulasi penyusutan aktiva tetap dan inventaris; dan
b. CPRR (Cadangan pinjaman ragu-ragu yang selanjutnya disebut CPRR adalah cadangan
yang wajib dibentuk LPD berdasarkan kualitas pinjaman yang diberikan), diperhitungkan
setinggi-tingginya sebesar 1,25% (satu dua puluh lima per seratus persen) dari aktiva
tertimbang menurut risiko.
Batas maksimum pengadaan aktiva tetap dan inventaris adalah 50% (lima puluh persen) dari
modal.
BATAS MAKSIMUM PEMBERIAN KREDIT
BMPK adalah angka yang menunjukkan besarnya persentase perbandingan antara batas
maksimum pinjaman yang diberikan yang diperkenankan terhadap modal LPD. BMPK kepada
satu peminjam dimaksudkan untuk mencegah agar risiko pinjaman yang diberikan tidak
terkonsentasi pada satu peminjam. Batas maksimum pemberian kredit kepada satu
peminjam adalah 20% (dua puluh persen) dari jumlah modal LPD.
Pelampauan BMPK dihitung berdasarkan jumlah kumulatif pelanggaran BMPK kepada
satu peminjam terhadap LPD. Pelampauan BMPK merupakan pelanggaran terhadap ketentuan

BMPK dikenakan sanksi berupa penurunan nilai kesehatan dalam penilaian tingkat kesehatan
LPD.
PINJAMAN YANG DIBERIKAN
LPD melaksanakan klasifikasi pinjaman yang diberikan. Klasifikasi pinjaman yang
diberikan digunakan sebagai dasar untuk melakukan tindakan manajemen perkreditan.
Kualitas pinjaman yang diberikan diklasifikasikan dalam 4 (empat) kategori, yaitu:
a.
b.
c.
d.

Lancar;
Kurang Lancar;
Diragukan, dan
Macet.

Kualitas pinjaman yang diberikan dikategorikan lancar, apabila:


a. Tidak terdapat tunggakan angsuran pokok dan/atau bunga; atau
b. Terdapat tunggakan angsuran pokok dan/atau bunga tetapi tidak lebih dari 3 (tiga) kali
angsuran dan pinjaman yang diberikan belum jatuh tempo.
Kualitas pinjaman yang diberikan dikategorikan kurang lancar, apabila terdapat tunggakan
angsuran pokok dan/atau bunga lebih dari 3(tiga) kali angsuran tetapi tidak lebih dari
6(enam) kali angsuran; dan pinjaman yang diberikan belum jatuh tempo.
Kualitas pinjaman yang diberikan dikategorikan diragukan , apabila:
a. Terdapat tunggakan angsuran pokok dan/atau bunga lebih dari 6 (enam) kali angsuran
tetapi tidak lebih dari 12 (dua belas) kali angsuran dan atau;
b. Pinjaman yang diberikan telah jatuh tempo tetapi tidak lebih dari 3 (tiga) bulan.
Kualitas pinjaman yang diberikan dikategorikan macet, apabila:
a. Terdapat tunggakan angsuran pokok dan atau bunga lebih dari 12 (dua belas) kali
angsuran dan/atau;
b. Pinjaman yang diberikan telah jatuh tempo lebih dari 3 (tiga) bulan.
LPD dapat melakukan restrukturisasi pinjaman dalam hal:
a. debitur mengalami kesulitan pembayaran pokok dan/atau bunga; dan
b. debitur memiliki prospek usaha dan potensi membayar kewajibannya setelah pinjaman
direstrukturisasi.
Restrukturisasi pinjaman yang diberikan adalah upaya yang dilakukan LPD dalam kegiatan
perkreditan, melalui:
a. penjadwalan kembali, yaitu perubahan jadwal pembayaran kewajiban debitur atau jangka
waktu;
b. persyaratan kembali, yaitu perubahan sebagian atau seluruh persyaratan pinjaman yang
diberikan yang tidak terbatas pada perubahan jadwal pembayaran, jangka waktu, dan atau

persyaratan lainnya sepanjang tidak menyangkut perubahan maksimum pinjaman yang


diberikan dan atau ;
c. penataan kembali, yaitu perubahan persyaratan pinjaman yang diberikan yang
menyangkut penambahan fasilitas pinjaman yang diberikan dan konversi seluruh atau
sebagian tunggakan angsuran bunga menjadi pokok pinjaman yang diberikan baru yang
dapat disertai dengan penjadwalan kembali dan atau persyaratan kembali.
Kualitas pinjaman yang diberikan setelah direstrukturisasi adalah:
a. setinggi-tingginya kurang lancar untuk pinjaman yang diberikan yang sebelum
direstrukturisasi memiliki kualitas diragukan atau macet; dan
b. tidak berubah, untuk pinjaman yang diberikan yang sebelum direstrukturisasi memiliki
kualitas lancar dan kurang lancar.

LPD harus membentuk CPRR; CPRR digunakan untuk menanggulangi pinjaman yang diberikan
bermasalah.
Pembentukan CPRR sebagaimana didasarkan kepada kualitas pinjaman yang diberikan yang
besarnya ditetapkan sebagai berikut:
a.
b.
c.
d.

0,5% (setengah persen) dari pinjaman yang diberikan yang memiliki kualitas lancar;
10% (sepuluh persen) dari pinjaman yang diberikan dengan kualitas kurang lancar;
50% (lima puluh persen) dari pinjaman yang diberikan dengan kualitas diragukan; dan
100% (seratus persen) dari pinjaman yang diberikan dengan kualitas macet.