Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PRAKTIKUM

FISIKA TERAPAN

ACARA IV
PERPINDAHAN PANAS

Penanggung Jawab:
Hisyam Ibrahim Raiz

(A1F015075)

Fitrie Widya

(A1F015065)

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PERTANIAN
PURWOKERTO
2016

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penggunaan pindah panas dalam sebuah industri sangat penting. Dalam
sebuah industri pindah panas dapat berupa pemanasan pada saat pengolahan
bahan baku dan saat pengeringan. Pengaturan untuk melakuakn pindah panas
maupun pindah dingin dalam industri diperlukan untuk menjaga mutu dari
bahan itu sendiri.
Oleh karena itu diperlukan untuk mengetahui lebih banyak mengenai
pindah panas dan pindah dingin. Sehingga dapat diketahui bagaimana cara
kerja pindah panas dan pindah dingin itu sendiri terhadap bahan yang akan
diolah. Pindah panas didalam pengolahan hasil pertanian sangat berperanan,
antara lain bahwa hampir seluruh hasil pertanian mengalami proses
pemanasan atau pengeringan sedangkan untuk hasil ternak mengalami proses
pendinginan. Untuk pengolahan hasil pertanian, beberapa prinsip dasar
haruslah selalu diingat, yaitu Panas bergerak dari obyek panas ke obyek yang
dingin, Bertambah besar perbedaan kedua obyek, bertambah besar panas yang
dipindahkan, Makin tipis dinding pengantara/penyekat kedua obyek, makin
baik proses pemindahan panas , Obyek yang gelap menyerap panas yang
dipancarkan lebih cepat dari pada obyek yang terang dan Pemanasan
sebaiknya dilakukan di bagian bawah/dasar ruangan, sedangkan pendinginan
dilakukan di bagian atas ruangan sehingga memungkinkan pindah panas
secara konveksi.
B. Tujuan
Praktikum ini bertujuan untuk mempelajari perpindahan panas konduksi
pada alat pemasak dan bahan padat

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Panas dalam bahasa Indonesia bisa mengandung dua arti, satu berarti kata
sifat dan yang lain berarti kata benda, sedangkan Kalor sudah pasti kata benda.
Definisi sederhana menyatakan Perpindahan Kalor adalah ilmu yang mempelajari
perpindahan kalor dari satu system ke system lain dengan berbagai aspek yang
menjadi implikasinya (Koestoer, 2008).
Suhu adalah ukuran rata - rata energi kinetik partikel dalam suatu benda. Kalor
yang diberikan dalam sebuah benda dapat digunakan untuk 2 cara, yaitu untuk
merubah wujud benda dan untuk menaikkan suhu benda itu. Besar kalor yang
diberikan pada sebuah benda yang digunakan untuk menaikkan suhu tergantung
pada (Rudiwarman, 2011):
1. kalor jenis benda
2. perbedaan suhu kedua benda
3. massa benda
Secara umum untuk mendeteksi adanya kalor yang dimiliki oleh suatu benda
yaitu dengan mengukur suhu benda tersebut. Jika suhunya tinggi maka kalor yang
dikandung oleh benda sangat besar, begitu juga sebaliknya jika suhunya rendah
maka kalor yang dikandung sedikit (Purnomo, 2008). Kalorimeter adalah alat
yang digunakan untuk mengukur kalor atau energi panas. Kalor adalah suatu
energi panas suatu zat yang dapat diukur dengan alat termometer dengan perantara
air yang telah didihkan. Kalor jenis suatu benda memiliki masa yang berbedabeda tergantung pada energi panas yang dimiliki oleh benda tersebut.
Samapi pada abad pertengahan abad 18, orang masih menyamakan pengertian
suhu dan kalor. Baru pada tahun 1760, Joseph Black membedakan pengertian
kalor dan suhu. Suhu adalah sesuatu yang diukur melalui termometer, sedangkan
kalor adalah sesuatu yang mengalir (fluida) dari benda yang panas ke benda yang
dingin dalam rangka mencapai kesetimbangan termal. Thompson kemudian
menyimpulkan bahwa kalor bukan fluida, tetapi kalor dihasilkan oleh usaha yang
dilakukan oleh kerja mekanis (misalnya gesekan). Satu kalori (satuan kalor waktu
itu) adalah banyaknya kalor yang diperlukan untuk menaikkan suhu sebesar 10 C
(Foster, 2000). Kalor jenis suatu benda didefinisikan sebagai jumlah kalor yang
diperlukan untuk menaikkan suhu 1 kg suatu zat sebesar 1k. Kalor jenis ini

merupakan sifat khas suatu benda yang menunjukkan kemampuanya untuk


menyerap kalor (Supriyanto, 2006).
Prinsip kerja kalorimeter adalah hukum kekekalan energi yaitu kalor yang
hilang sama dengan kalor yang diterima. Teknik yang digunakan dikenal sebagai
metode campuran, suatu sampel zat dipanaskan sampai temperatur tinggi yang
diukur secara akurat, dan dengan cepat ditempatkan pada air dingin kalorimeter.
Kalor yang hilang pada sampel tersebut akan diterima oleh air dan kalorimeter.
Dan dengan mengukur temperatur akhir campuran tersebut, kalor jenis dapat
ditimbang. Jadi, kekekalan energi memiliki peranan penting untuk kita.
Kehilangan kalor sebanyak satu bagian sistem sama dengan kalor yang didapat
oleh bagian lain (Tripler, 2009)
Kalor lebur adalah jumlah kalor yang diperlukan untuk melebur zat persatuan
massa pada suhu tetap. Kalor ini sama dengan kalor yang dilepas satu satuan
massa lelehan sewaktu membeku pada suhu tetap tadi. Kalor uap cairan adalah
jumlah kalor yang diperlukan untuk menguapkan satu satuan massa cairan pada
suhu tetap. Sedangkan kalor sublimasi adalah jumlah kalor yang diperlukan untuk
mengubah satu satuan massa padatan menjadi uap pada suhu tetap (Bueche,
2012).
Perpindahan panas adalah salah satu dari displin ilmu teknik termal yang
mempelajari cara menghasilkan panas, menggunakan panas, mengubah panas, dan
menukarkan panas di antara sistem fisik. Perpindahan panas diklasifikasikan
menjadi konduktivitas termal, konveksi termal, radiasi termal, dan perpindahan
panas melalui perubahan fasa (Adimsyah, 2010).
Konveksi adalah proses perpindahan kalor dari satu bagianfluida ke bagian
lain fluida oleh pergerakan fluida itu sendiri.Konveksi dibedakan menjadi dua
jenis, yaitu konveksi alamiah dan konveksi paksa. Konveksi alamiah merupakan
pergerakan fluidayang terjadi akibat perbedaan massa jenis. Bagian fluida
yangmenerima kalor/dipanasi memuai dan massa jenisnya menjadi lebihkecil,
sehingga bergerak ke atas. Kemudian tempatnya akandigantikan oleh bagian
fluida dingin yang jatuh ke bawah karenamassanya jenisnya lebih besar.

Sedangkan pada konveksi paksa, fluida yang telah dipanasi akan langsung
diarahkan tujuannya olehsebuah blower atau pompa (Masyithah, 2009).
Konduksi ialah pemindahan panas yang dihasilkan dari kontak langsung
antara permukaan-permukaan benda. Konduksi terjadi hanya dengan menyentuh
atau menghubungkan permukaan-permukaan yang mengandung panas. Setiap
benda mempunyai konduktivitas termal (kemampuan mengalirkan panas) tertentu
yang akan mempengaruhi panas yang dihantarkan dari sisi yang panas ke sisi
yang lebih dingin. Semakin tinggi nilai konduktivitas termal suatu benda, semakin
cepat ia mengalirkan panas yang diterima dari satu sisi ke sisi yang lain (Darwish,
2010).
Radiasi

ialah

pemindahan

panas

atas

dasar

gelombang-gelombang

elektromagnetik. Misalnya tubuh manusia akan mendapat panas pancaran dari


setiap permukaan dari suhu yang lebih tinggi dan ia akan kehilangan panas atau
memancarkan panas kepada setiap obyek atau permukaan yang lebih sejuk dari
tubuh manusia itu. Panas pancaran yang diperoleh atau hilang, tidak dipengaruhi
oleh gerakan udara, juga tidak oleh suhu udara antara permukaan-permukaan atau
obyek-obyek yang memancar, sehingga radiasi dapat terjadi di ruang hampa.
Jumlah keseluruhan panas pindahan yang dihasilkan oleh masing-masing cara
hampir seluruhnya ditentukan oleh kondisi-kondisi lingkungan. Umpamanya,
udara yang jenuh tak dapat menerima kelembaban tubuh, sehingga pemindahan
panas tak dapat terjadi melalui penguapan. Pengondisian suatu ruang seharusnya
meningkatkan laju kehilangan panas bila para penghuni terlalu panas dan
mengurangi laju kehilangan panas bila mereka terlalu dingin. Tujuan ini tercapai
dengan mengolah dan menyampaikan udara yang nyaman dari segi suhu, uap air
(kelembaban), dan velositas (gerak udara dan pola-pola distribusi). Kebersihan
udara dan hilangnya bau (melalui ventilasi) merupakan kondisi-kondisi
kenyamanan tambahan yang harus dikendalikan oleh sistem penghawaan buatan
(Agusalim, 2010).
Bila panas diberikan pada suatu zat pada tekanan kostan, maka biasanya,
hasilnya adalah kenaikan temperatur zat. Namun, kadang-kadang zat dapat
menyerap panas dalam jumlah besar tanpa mengalami perubahan apapun dalam

temperaturnya. Ini terjadi selama perubahan fasa, artinya ketika kondisi fisis zat
itu berubah dari satu bentuk ke bentuk lain. Jenis perubahan fasa adalah
pembekuan (perubahan cairan menjadi padatan), penguapan (perubahan cairan
menjadi uap atau gas), sublimasi (perubahan padatan menjadi gas). Ada juga
perubahan fasa lain, seperti bila padatan berubah dari satu bentuk kristalin ke
bentuk lain (Foster, 2000)
Perubahan fasa dapat dimengerti dengan teori molekuler. Kenaikan temperatur
zat menggambarkan kenaikan energi kinetik gerakan molekul-molekul. Bila suatu
zat berubah dari cairan menjadi bentuk gas, molekul-molekulnya yang dekat
dalam bentuk cairan digerakkan saling menjauh. Ini perlu usaha untuk melawan
gaya-gaya tarik yang mempertahankan molekul berdekatan, artinya diperlukan
energi untuk memisahkan mereka. Energi ini beralih menjadi energi potensial
molekul. Karena itu, temperatur zat yang merupakan ukuran energi kinetik ratarata molekulnya tidak berubah (Tipler, 2009).

III.

METODE

A. Alat dan Bahan


Alat:
-

Wajan aluminium
Wajan teflon
Wajan tanah
kompor

Bahan :
-

Tahu putih

B. Prosedur Kerja
1. Transfer panas pada wajan
kompor dinyalakan dengan api sedang, diukur suhu di pusat wajan pada detik
ke-0, 10, 20, 30, 40, 50, dan 60.

dicatat suhunya dan dibuat grafik perubahan suhu terhadap waktu

2. Transfer panas pada bahan pangan


kompor dinyalakan sampai suhu wajan stabil.

diletakkan tahu dengan tebal dan luas tertentu di atas kompor sampai sisi bahan
yang lain terasa hangat

suhu diukur pada masing-masing permukaan

dihitung jumlah panas yang ditransfer dengan menggunakan hukum Fourier


( catatan konduktivitas bahan dihitung dengan pendekatan rumus konduktivitas
untuk buah dan sayur dengan kadar air >60% k= 0,148 + 0,00493 W, W adalah
kadar air bahan ).
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
Transfer Panas pada Wajan
1. Wajan Alumunium
Waktu
0s
10 s
20 s
30 s
40 s
50 s
60 s

Suhu
32C
42C
62C
78C
88C
98C
108C

Suhu Wajan Alumunium


120
100
80
Suhu (C)

60
40
20
0
0

10

20

30

40

Waktu (s)
Suhu Wajan

2. Wajan Teflon
Waktu
0s
10 s
20 s
30 s
40 s
50 s
60 s

Suhu
28C
29C
41C
58C
78C
93C
113C

Linear (Suhu Wajan)

50

60

Suhu Wajan Teflon


120
100
80
Suhu (C)

60
40
20
0
0

10

20

30

40

Waktu (s)
Suhu Wajan

3. Wajan Tanah
Waktu
0s
10 s
20 s
30 s
40 s
50 s
60 s

Suhu
28C
28C
29C
32C
42C
53C
68C

Linear (Suhu Wajan)

50

60

Suhu Wajan Tanah


80
70
60
50
Suhu (C)

40
30
20
10
0
0

10

20

30

40

Waktu (s)
Suhu Wajan

Transfer Panas pada Bahan Pangan


1. Tahu dengan Wajan Alumunium
Waktu
0s
10 s
12 s
14 s
18 s
20 s

Suhu
29C
42C
43C
45C
47C
49C

Linear (Suhu Wajan)

50

60

Suhu Tahu pada Wajan Alumunium


60
50

f(x) = 3.91x + 29.47

40
Suhu (C)

30
20
10
0
0

10

12

14

18

20

Waktu (s)
Suhu Tahu

Linear (Suhu Tahu)

2. Tahu dengan Wajan Teflon


Waktu
0s
10 s
12 s
14 s
18 s
20 s

Suhu
28C
50C
53C
54C
54C
51C

Suhu Tahu pada Wajan Teflon


60
f(x) = 3.66x + 35.53

50
40
Suhu (C)

30
20
10
0
0

10

12

14

18

Waktu (s)
Suhu Tahu

Linear (Suhu Tahu)

20

3. Tahu dengan Wajan Tanah


Waktu
0s
10 s
12 s
14 s
18 s
20 s

Suhu
30C
54C
55C
56C
58C
55C

Suhu Tahu pada Wajan Tanah


70
60

f(x) = 3.94x + 37.53

50
40
Suhu (C)

30
20
10
0
0

10

12

14

18

Waktu (s)
Suhu Tahu

Perhitungan Transfer Panas pada Bahan Pangan


1. Tahu dengan Wajan Alumunium
Dik : Panjang : 5 cm
Lebar : 3 cm
Tinggi : 3 cm
T1 : 29 C
T2 : 42 C
W : 80 %
k : 0,148 + 0,00493 W
Dit : Q
Jawab : k : 0,148 + (0,00493 x 80)
: 0,148 + 0,3944
: 0,5424
A : 2 (p.l + p.t + l.t)
: 2 (5.3 +5.3 + 3.3)

Linear (Suhu Tahu)

20

: 78 cm2
T : 42-29
x
3
: 4,3 C/m
Q : -k. A. T
x
: - (0,5424 . 78 . 4,3)
: 181,92 W
2. Tahu dengan Wajan Teflon
Dik : Panjang : 5 cm
Lebar : 4 cm
Tinggi : 3 cm
T1 : 28 C
T2 : 50 C
W : 80 %
k : 0,148 + 0,00493 W
Dit : Q
Jawab : k : 0,148 + (0,00493 x 80)
: 0,148 + 0,3944
: 0,5424
A : 2 (p.l + p.t + l.t)
: 2 (5.4 +5.3 + 4.3)
: 94 cm2
T : 50-28
x
4
: 5,5 C/m
Q : -k. A. T
x
: - (0,5424 . 94 . 5,5)
: 280,42 W
3. Tahu dengan Wajan Tanah
Dik : Panjang : 4 cm
Lebar : 3 cm
Tinggi : 5 cm
T1 : 30 C
T2 : 54 C
W : 80 %
k : 0,148 + 0,00493 W
Dit : Q
Jawab : k : 0,148 + (0,00493 x 80)
: 0,148 + 0,3944
: 0,5424
A : 2 (p.l + p.t + l.t)

: 2 (4.3 + 4.5 + 3.5)


: 94 cm2
T : 54-30
x
3
: 8 C/m
Q : -k. A. T
x
: - (0,5424 . 94 . 8)
: 407,8848 W

B. Pembahasan
Perpindahan kalor adalah perpindahan energi yang terjadi pada benda atau
material yang bersuhu tinggi ke benda atau material yang bersuhu rendah, hingga
tercapainya kesetimbangan panas. Terdapat tiga macam proses perpindahan energi
kalor, yaitu secara konduksi, konveksi dan radiasi. Pada praktikum ini dilakukan
percobaan yang bertujuan untuk mempelajari perpindahan panas secara konduksi
pada alat pemasak dan bahan pangan padat. Konduksi adalah proses perpindahan
kalor dari suatu bagian benda padat atau material ke bagian lainnya. Pada
perpindahan kalor secara konduksi tidak ada bahan dari logam yang berpindah.
Yang terjadi adalah molekul-molekul logam yang diletakkan di atas nyala api
membentur molekul-molekul yang berada di dekatnya dan memberikan sebagian
panasnya. Molekul-molekul terdekat kembali membentur molekul molekul
terdekat lainnya dan memberikan sebagian panasnya, dan begitu seterusnya di
sepanjang bahan sehingga suhu logam naik. Jika padatan adalah logam, maka
perpindahan energi kalor dibantu oleh elektron-elektron bebas, yang bergerak
diseluruh logam, sambil menerima dan memberi energi kalor ketika bertumbukan
dengan atom-atom logam. Banyak faktor yang mempengaruhi peristiwa konduksi.
Diantaranya pengaruh luas penampang yang berbeda, pengaruh luas penampang
yang berbeda, pengaruh geometri, pengaruh permukaan kontak, pengaruh adanya
insulasi dan lain-lainnya. Dalam proses perpindahan kalor secara konduksi
terdapat laju hantaran kalor. Laju hantaran kalor menyatakan seberapa cepat kalor
dihantarkan melalui medium itu (Buchori, 2011).
Dalam praktikum ini dilakukan uji transfer panas pada wajan dan bahan
pangan yaitu tahu putih. Wajan yang digunakan antara lain wajan alumunium,
wajan teflon, dan wajan tanah. Percobaan transfer panas pada wajan diawali
dengan mempersiapkan alat dan bahan kemudian dilanjutkan dengan penuangan
minyak goreng secukupnya ke dalam wajan. Lalu, nyalakan kompor dengan api
sedang, ukur shu di pusat wajan pada detik ke 0, 10, 20, 30, 40, 50, dan 60.
Terakhir catat suhunya. Dari pengukuran yang dilakukan didapatkan hasil yang
berbeda-beda diantara ketiga wajan yang digunakan. Suhu tertinggi yang
diperoleh pada transfer panas pada wajan adalah sebesar 113C dengan percobaan

menggunakan wajan teflon. Suhu tertinggi yang terukur pada wajan alumunium
adalah sebesar 108C dan pada wajan tanah hanya mencapai suhu 68C. Selain
itu, kenaikan suhu yang terjadi setiap penambahan waktu pada wajan alumunium
dan teflon relatif hampir sama dan cukup tinggi, namun hal tersebut tidak terjadi
pada wajan tanah. Kenaikan suhu pada wajan tanah relatif rendah dan suhu yang
terukur pun tidak setinggi wajan alumunium dan teflon. Hal ini disebabkan oleh
perbedaan bahan penyusun masing-masing wajan. Perbedaan hasil ini sesuai
dengan teori yang disampaikan oleh Buchori (2004) bahwa banyak faktor yang
mempengaruhi peristiwa konduksi, diantaranya pengaruh luas penampang yang
berbeda, pengaruh luas penampang yang berbeda, pengaruh geometri, pengaruh
permukaan kontak, pengaruh adanya insulasi dan lain-lainnya.
Alumunium merupakan salah satu logam non ferrous dan termasuk dalam
logam sejati. Dalam sektor perindustrian, alumunium dikembangkan dengan
begitu pesat dan dapat diolah menjadi berbagai macam produk dengan lebih
ekonomis. Alumunium merupakan logam ringan dengan berat jenis 2.643 g/cm3
dan titik cairnya 660 C. Dalam kondisi standar aluminium adalah logam yang
cukup lembut, kuat, dan ringan. Warnanya abu keperakan dan menunjukkan kilap
yang khas. Aluminium murni adalah unsur yang sangat reaktif dan jarang
ditemukan di bumi dalam bentuk bebas. Aluminium bertindak sebagai konduktor
yang sangat baik listrik dan panas, tetapi non-magnetik. Ketika aluminium terkena
udara, lapisan tipis aluminium oksida terbentuk pada permukaan logam. Hal ini
untuk mencegah korosi dan berkarat. Karakteristik penting lainnya dari
aluminium termasuk kepadatan rendah (yang hanya sekitar tiga kali lipat dari air),
daktilitas (yang memungkinkan untuk ditarik ke dalam kawat), dan kelenturan
(yang berarti dapat dengan mudah dibentuk menjadi lembaran tipis) (Purba dan
Sunardi, 2012).
Teflon merupakan sebuah fluoropolimer thermoplastik. Teflon adalah
nama dagang terdaftar dari bahan plastik yang sangat berguna yaitu Poly Tetra
Fluoro Ethylene (PTFE). PTFE adalah salah satu kelas dari plastik yang dikenal
sebagai fluoropolymers.Teflon adalah bahan sintetik yang sangat kuat, umumnya
berwama putih. Teflon mempunyai performa yang baik pada temperatur ekstrim,
tahan pada temperatur -240C dan tahan terhadap panas sampai kira-kira 250C.
Di atas 250C teflon mulai melunak, di dalam api akan meleleh dan sulit menjadi
arang. Teflon juga anti radiasi Ultra Violet dan tahan segala cuaca, dan anti
lengket.
Sementara, jenis tanah yang digunakan sebagai bahan pembuatan wajan
tanah adalah tanah liat. Tanah liat disebut juga sebagai tanah lempung. Dinamakan
tanah liat mungkin dilihat dari teksturnya yang liat, sehingga mudah sekali
dibentuk- bentuk. Tanah liat atau lempung ini pada dasarnya merupakan sebuah
partikel mineral yag mempunyai kerangka dasar silikat yang mempunyai ukuran
sangat kecil, yakni berdiameter kurang dari 4 mikrometer. Meskipun bentuknya
yang mudah diubah-ubah, tanah liat bukan merupakan bahan yang termasuk
dalam golongan penghantar panas yang baik. Tanah atau tanah liat dapat

menghantarkan panas, tetapi membutuhkan waktu yang lama sehingga dapat


dikategorikan sebagai isolator, sedangkan alumunium dan teflon merupakan
bahan yang tergolong konduktor yang baik.
Hasil uji transfer panas pada bahan pangan (tahu) pun menunjukkan
perbedaan yang cukup signifikan antara penggunaan wajan alumunium dan wajan
teflon dengan wajan tanah. Laju perpindahan panas pada tahu yang paling besar
terjadi pada wajan tanah yaitu mencapai 407,8848 W sementara laju perpindahan
panas pada wajan alumunium diperoleh sebesar 181,92 W dan pada wajan Teflon
sebesar 280,42 W. Hal ini dikarenakan terdapat besaran-besaran yang
mempengaruhi dalam laju perpindahan kalor yaitu luas permukaan benda, panjang
atau tebal benda, perbedaan suhu antar ujung benda dan juga dipengaruhi oleh
suatu besaran k yang disebut konduktivitas termal. Dalam hal ini bahan penyusun
wajan juga akan mempengaruhi konduktivitas termal itu sendiri. Konduktivitas
termal menyatakan kemampuan bahan menghantarkan kalor. Nilai konduktivitas
termal penting untuk menentukan jenis dari penghantar yaitu konduksi panas yang
baik (good conductor) untuk nilai koefisien konduktivitas termal yang besar dan
penghantar panas yang tidak baik (good insulator) untuk nilai koefisien panas
yang kecil. Pada benda logam perpindahan panas melalui getaran kisi dan melalui
elektron bebas sedangkan pada benda non logam perpindahan panas hanya
melalui getaran kisi saja, oleh karena itu perpindahan panas pada logam lebih
cepat daripada perpindahan panas pada benda non logam (Rokhimi dan
Pujayanto, 2015).

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Dari percobaan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa perpindahan
panas dapat terjadi dengan berbagai cara, salah satunya yaitu secara konduksi.
Pada uji coba transfer panas pada wajan, suhu tertinggi yang diperoleh terjadi
pada wajan teflon dengan suhu akhir 113C, sedangkan wajan tanah memperoleh
suhu akhir yang paling rendah yaitu hanya mencapai 68C. Sementara, hasil yang
diperoleh pada uji coba transfer panas pada bahan pangan menunjukkan laju
perpindahan panas terbesar terjadi pada tahu dengan wajan tanah kemudian diikuti
dengan tahu dengan wajan teflon dan terakhir tahu dengan wajan alumunium yang

memperoleh laju perpindahan panas terendah. Hal ini dikarenakan terdapat


besaran-besaran yang mempengaruhi dalam laju perpindahan kalor yaitu luas
permukaan benda, panjang atau tebal benda, perbedaan suhu antar ujung benda
serta dipengaruhi oleh suatu besaran k yang disebut konduktivitas termal.

B. Saran
Sebelum dilaksanakannya praktikum diharapkan praktikan telah membaca
petunjuk praktikum dengan baik dan dapat memahami urutan-urutan di dalamnya
sehingga praktikum dapat dilaksanakan dengan cepat dan tepat serta teliti untuk
mengurangi resiko gagalnya percobaan.

DAFTAR PUSTAKA
Adimsyah. S . 2010 .Perpindahan Panas. Gramedia. Jakarta.
Bouche. 2012. Teknik Perpindahan Panas. ITB press. Bogor.
Buchori, Lukman. 2011. Perpindahan Panas (Heat Transfer). Jurusan Teknik
Kimia Fakultas Teknik UNDIP Semarang. Semarang.
Foster, B. 2002. Fisika Terpadu 2a. Erlangga. Jakarta.
Masyithah, Z dan Haryanto, B. 2009. Perpindahan Panas. USU. Medan

Purba, M dan Sunardi. 2012. Kimia 3 untuk SMA/MA Kelas XII. Erlangga.
Jakarta.
Rokhimi, I. N dan Pujayanto. 2015. Alat Peraga Pembelajaran Laju Hantaran
Kalor Konduksi. Prosiding Seminar Nasional Fisika dan Pendidikan Fisika
(SNFPF) Ke-6. Vol. 6. No. 1.
Tripler. 2009. Fisaka Jilid II. Erlangga. Jakarta

LAMPIRAN

1. Transfer Panas pada Wajan


a. Wajan Aluminium

b. Wajan Teflon

c. Wajan Tanah

2. Transfer Panas pada Bahan Pangan

ACC