Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Belajar merupakan aktivitas anak (manusia) yang sangat vital. Dibandingkan
dengan mahluk lain, di dunia ini tidak ada mahluk hidup yang sewaktu baru
dilahirkan sedemikian tidak berdayanya seperti bayi manusia Sebahlknya tidak ada
mahkuk lain di dunia ini yang setelah dewasa mampu menciptakan apa yang telah
diciptakan manusia dewasa.
Belajar sepanjang hayat adalah suatu konsep, ide, gagasan pokok yang
berlangsung dalam diri individu, dalam konsep ini belajar tidak hanya berlangsung di
lembaga-lembaga pendidikan formal. Pembelajaran sepanjang hayat meliputi pola
formal dan informal. Ditekankan pula bahwa belajar dalam arti sebenarnya adalah
sesuatu yang berlangsung sepanjang kehidupan seseorang. Berdasarkan ide tersebut
konsep belajar sepanjang hayat sering pula dikatakan sebagai belajar
berkesinambungan (continuing learning). Dengan terus menerus belajar, seseorang
tidak akan ketinggalan zaman dan dapat memperbaharui pengetahuannya, terutama
bagi mereka yang sudah lanjut usia. Dengan pengetahuan yang selalu diperbaharui
ini, mereka tidak akan merasa disaingi oleh generasi muda, mereka tidak akan
menjadi snile atau pikun secara dini, dan dapat memberikan sumbangan keahlian
yang mereka miliki bagi kehidupan di lingkungannya.
Belajar erat kaitannya dengan psikologi. Dalam hal ini, Made Pidarta
mengemukakan : psikologi atau jiwa adalah ilmu yang mempelajari jiwa manusia.
Jiwa itu sendiri adalah roh dalam mengendalikan jasmani. Karena itu jiwa atau psikis
dapat dikatakan inti dan kendali kehidupan manusia yang berada dan melekat dalam
diri manusia itu sendiri.
1

Jiwa manusia berkembang sejajar dengan pertumbuhan jasmani, sejak dari


masa bayi, kanak-kanak dan seterusnya sampai dewasa dan masa tu. Makin besar
anak itu makin berkembang pula jiwanya. Dengan melalui tahap-tahap tertentu dan
akhimya anak itu mencapai kedewasaan baik dari segi kejiwaan maupun dari segi
jasmani.
Dalam perkembangan jiwa dan jasmani tersebut, manusia perlu belajar. Masa
belajar itu bertingkat-tingkat, sejalan dengan fase-fase perkembangannya, sejak masa
kanak-kanak sampai masa tua. Dan sini dapat dipahami bahwa belajar merupakan
kebutuhan sebagai bekal untuk menempuh kehidupan disepanjang hayatnya.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa itu pembelajaran sepanjang hayat?

2. Apa konsep dari pembelajaran sepanjang hayat?


4. Apa tujuan dari pembelajaran sepanjang hayat?
5. Apa makna dari pembelajaran sepanjang hayat?
6. Bagaimana karakteristik pembelajaran sepanjang hayat?
7. Apa teori dari pembelajaran sepanjang hayat?
8. Apa saja program dari pembelajaran sepanjang hayat?
9. Bagaimana proses pembelajaran sepanjang hayat?
10. Apa yang dimaksud motivasi berprestasi?
11. Apa jenis- jenis motivasi?
12. Bagaimana karakteristik individu dengan motivasi berprestasi tinggi?
13. Bagaimana aspek aspek motivasi berprestasi?
14. Faktor factor apa saja yang mempengaruhi motivasi berprestasi?

15. Bagaimana cara menumbuhkan motivasi berprestasi?

1.3 Tujuan
1. Memahami apa itu pembelajaran sepanjang hayat
2. Memahami dasar pembelajaran sepanjang hayat
3. Memahami konsep dari pembelajaran sepanjang hayat
4. Memahami tujuan pembelajaran sepanjang hayat
5. Memahami makna dari pembelajaran sepanjang hayat
6. Memahami karakteristik dari pembelajaran sepanjang hayat
7. Memahami teori dari pembelajaran sepanjang hayat
8. Memahami program dari pembelajaran sepanjang hayat
9. Memahami proses pembelajaran sepanjang hayat
10. Memahami apa yang dimaksud motivasi berprestasi
11. Memahami jenis- jenis motivasi
12. Memahami karakteristik individu dengan motivasi berprestasi tinggi
13. Memahami aspek aspek motivasi berprestasi
14. Memahami faktor factor yang mempengaruhi motivasi berprestasi

15. Memahami cara menumbuhkan motivasi berprestasi

1.4 Manfaat
Adapun manfaat dari penulisan makalah ini yaitu agar pembaca dapat mengetahui
tentang belajar sepanjang hayat dan motivasi berprestasi.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi Pembelajaran Sepanjang Hayat


Menurut Linda Merricks dalam buku The Age of Learning Education and
Knowledge Society, 2001 : belajar merupakan kunci untuk memperoleh kemakmuran,
baik kemakmuran individu, masyarakat atau suatu bangsa secara keseluruhan,
investasi dalam bentuk human capital akan menjadi keberhasilan dalam ekonomi
global yang berpengetahuan pada abad 21.
Candy and Crebert, pembelajaran sepanjang hayat berhubungan dengan proses
pembelajaran dan penyesuaian dari setiap kehidupan sehari-hari.

2.3 Konsep Belajar Sepanjang Hayat


Secara umum konsep belajar sepanjang hayat adalah sebagai berikut:
1. Pengembangan potensi manusia (the development of human potential)
Belajar sepanjang hayat mengakui bahwa setiap individu memiliki potensi belajar
sekaligus menerima beberapa keterbatasan yang terkandung dalam potensi individu.
Keterbatasan potensi yang dimaksud tidak didasarkan pada kapasitas biologis dan
fisik semata, tetapi lebih pada kurangnya kepuasan terhadap apa yang kita bebankan
atas diri kita. Kita harus berpandangan optimistis mengenai kapasitas manusia,
didasarkan pada kepercayaan bahwa semua dari kita, terlepas dari latar belakang,
faktor genetik, pengembangan lingkungan, kepercayaan, warna kulit atau
kebangsaan, dapat membuat lompatan kuantum dalam mencapai potensi
kemanusiaan.

2.

Terus menerus (continously)

Persediaan kesempatan belajar tersedia secara tetap dan sesuai dengan tuntutan yang
diinginkan. Dalam dunia belajar sepanjang hayat permintaan akan tinggi dan
berkelanjutan, tanpa melihat usia dan jenis kelamin.
3. Proses (process)
Proses memperkuat ide bahwa belajar merupakan aktivitas personal yang berpusat di
dalam (internal) atau tanpa dukungan lingkungan kelompok (eksternal), yang
merupakan hasil holistik dan tidak terikat struktur yang ada di luar organisasinya.
4. Menstimulasi (stimulates)
Stimulasi merupakan proses perangsangan yang lebih dari sekedar menyediakan
layanan informasi yang dibutuhkan, akan tetapi secara aktif dan positif
mempromosikan belajar sebagai pengalaman yang menyenangkan dan bermanfaat,
sekaligus memberikan pesan bahwa setiap orang dapat mengikuti proses belajar
kapanpun, dimanapun, sesuai dengan kebutuhannya. Proses stimulasi ini harus
melekat dalam sistem, dimana organisasi menginisiasi pembelajaran.
5. Memberdayakan(empowers)
Memberdayakan adalah menempatkan kekuatan di tangan individu untuk
mengembangkan potensi dirinya melalui belajar. Melaui belajar, individu diperkaya
dan diperkuat pemahamannya mengenai konsep knowledge is poower. Pembelajar
sepanjang hayat harus diberdayakan kapasitas dan kapabilitasnya dalam membuat
keputusan, memecahkan masalah, berpikir melalui tindakan, dan menguasai
kehidupannya.
6. Individu-individu (individuals)
Belajar sepanjang hayat mengakui individu sebagai pihak yang mampu membuat
keputusan, melakukan usaha-usaha, dan akan memperoleh manfaat dari proses
belajar.
5

7. Pengetahuan (knowledge)
Pengetahuan merupakan penafsiran atau interpretasi informasi yang dapat
memberikan makna lebih besar dengan menempatkannya dalam sebuah kontinum
belajar yang mengarah pada kebijaksanaan.
8. Nilai (values)
Merupakan atribut paling penting dapat kita pelajari dari proses pendidikan. Belajar,
dalam konteks sistem nilai personal dapat menciptakan sikap yang menjamin
pendekatan positif bagi pengembangan potensi individu secara berkelanjutanm dan
mendorong setiap orang untuk mengakui potensi yang dimilikinya. Disamping itu,
organisasi, bangsa dan komunitas juga memiliki sistem nilai yang saling berkaitan.
9. Kecakapan (skills)
Memungkinkan belajar untuk bisa diubah menjadi tindakan. Kecakapan dapat secara
bersama-sama diterapkan dalam beragam tempat kerja atau kegiatan sosial.
Pengembangan kecakapan baru juga bisa menambah kebanggaan personal dan
mampu menyenangkan setiap orang dalam belajar, sekaligus membangun rasa
percaya diri yang tinggi serta pandangan positif.

10. Pemahaman (understanding)


Tingkat pemahaman seseorang sering diperoleh dari hasil belajar pengetahuan
kecakapan aplikatif. Kondisi ini tidak dapat diperoleh tanpa adanya kebiasaaan
belajar yang melekat pada diri seseorang.
Sebagaimana disinggung diatas, bahwa belajar sepanjang hayat merupakan
suatu gagasan atau konsep, bahkan direkomendasikan sebagai suatu konsep induk
dalam upaya inovasi pendidikan. Dengan kata lain pendidikan sepanjang hayat

bukanlah merupakan suatu jalur ataupun satuan dan atau program, melainkan sebagai
suatu ide yang menjadi landasan pengembangan jalur ataupun satuan pendidikan.
Hal ini perlu ditegaskan bahwa UUSPN NO. 20 tahun 2003 memberi arahan
bahwa pendidikan nasional dilaksanakan melalui tiga jalur yaitu pendidikan formal,
nonformal dan informal. Dapat diungkapkan bahwa gagasan belajar sepanjang hayat
menjadi suatu motivasi atau dorongan bagi setiap individu dalam masyarakat untuk
belajar secara berkesinambungan melalui pendidikan formal, nonformal dan informal.
Dikemukakan Sudjana, bahwa belajar sepanjang hayat menitikberatkan pada
motivasi bagi seseorang atau kelompok untuk memperoleh pengalaman belajar secara
berkelanjutan, dimana pengalaman belajar tersebut ditempuh secara sadar,
terprogram, dan sistematis melalui proses kegiatan belajar membelajarkan dlam
rangka mencapai tujuan belajar.
Seperti ditekankan Dave, bahwa pertumbuhan kejiwaan perkembangan
kepribadian, pertumbuhan sosial, ekonomi dan kebudayaan, seluruhnya berlangsung
terus menerus seumur hidup. Pendidikan sepanjang hayat bertumpu pada kepercayaan
bahwa belajar juga terjadi sepanjang masa, walaupun dengan cara yang berbeda dan
melaui proses yang tidak sama. Menurut Chen-Yeng Wang belajar sepanjang hayat
adalah to learn as long as to life (belajar sepanjang hidup), dan learning has no
boundaris (belajar tanpa mengenal batas). Wang menyimpulkan bahwa belajar
sepanjang hayat merupakan unsur revolusi tenang yang berimplikasi pada
perubahan dalam berbagai aspek kehidupan seperti kehidupan politik, ekonomi,
sosial, dan pendidikan. Budaya belajar sepanjang hayat amat fleksibel, kreatif dan
responsif sehingga akan mampu memuaskan individu dan masyarakat dalam
kehidupannya.
Menurut Geoffrey Elliot, belajar sepanjang hayat adalah semua kegiatan
belajar dan pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan,
keterampilan, sikap dan kompetensi yang bermanfaat untuk diri sendiri maupun untuk
masyarakat termasuk lingkungan kerja. Dalam konteks kegiatan masyarakat sebagai
bagian dari totalitas pendidikan sepanjang hayat, Claslee menyatakan bahwa
7

seandainya semua kegiatan kehidupan dalam masyarakat menjadi wahana belajar


bagi setiap warganya, maka akan dapat terwujud dengan segera suatu perubahan
kehidupan yang cepat ke arah yang lebih baik.
Dilihat dari cakupannya, belajar sepanjang hayat menurut Gestrelius meliputi
interaksi belajar-membelajarkan, penentuan bahan belajar, metode belajar, lembaga
penyelenggara pendidikan, organisasi penyelenggara, fasilitas, administrasi, dan
kondisi lingkungan pendukung kegiatan yang berkelanjutan. Oleh karena itu,
pendidikan sesungguhnya dapat berjalan dalam berbagai lingkungan kehidupan.
Salah satu program pendidikan non formal yang meliputi kegiatan belajar sebaya
(peer group), upaya peningkatan taraf hidup keluarga, belajar di perpustakaan, belajar
dalam lingkungan kerja, lapangan usaha, lembaga-lembaga penyelenggara program
pendidikan maupun dalam semua kegiatan yang ada dan berkembang di dalam
masyarakat.

2.4 Tujuan Belajar Sepanjang Hayat


Inti belajar sepanjang hayat adalah bahwa seluruh individu harus berkembang
sesuai dengan potensinya secara optimal. Oleh karena itu, pendidikan sepanjang
hayat harus dipandang secara holistik mulai dalam buaian, sampai dengan akhir
kehidupan. Dalam kerangka ini pendidikan dipandang sebagai pelayanan untuk
membantu pengembangan personal sepanjang hayat, dalam istilah yang lebih luas
yaitu development.
Belajar sepanjang hayat memiliki tujuan menciptakan belajar untuk hidup
(learning to be) dan membentuk masyarakat belajar (learning society). Ditegaskan
Trisnamansyah, tujuan pendidikan sepanjang hayat adalah tidak sekedar untuk adanya
perubahan melainkan pula untuk tercapainya kepuasan diri dari pihak yang
melakukan belajarnya itu sendiri.
Dalam perspektif yang lain disebutkan bahwa sedikitnya ada dua tujuan dari
belajar sepanjang hayat termasuk didalamnya tujuan belajar mandiri atau self8

learning yaitu untuk menyesuaikan diri dengan perubahan positif yang terus menerus
berubah dan berkembang dalam sepanjang kehidupan manusia dan masyarakat, dan
untuk menyiapkan diri guna mencapai kehidupan yang lebih baik dimasa yang akan
datang.
Belajar sepanjang hayat merupakan landasan yang kuat bagi programprogram pendidikan non formal yang mengarah pada upaya untuk menumbuhkan
masyarakat gemar belajar. Masyarakat gemar belajar dapat terwujud apabila setiap
warga masyarakat selalu mencari dan menemukan sesuatu yang baru dan bermakna,
meningkatkan belajar. Kegiatan belajar yang dilakkukan oleh setiap warga
masyarakat tidak terbatas hanya untuk mengetahui atau belajar sesuatu (learning
how to learn), tidak pula belajar hanya untuk memecahkan masalah yang timbul
dalam kehidupan (learning how to solve problems). Kegiatan belajar yang mereka
lakukan terarah untuk kepentingan dan kemajuan kehidupannya (learning how to
be), belajar untuk melakukan sesuatu (learning how to do), dan belajar untuk hidup
bersama (learning how to live together).
Masyarakat gemar belajar (learning society) atau masyarakat berencana (planning
society) atay disebut juga sebagai masyarakat inovatif (innovative society) adalah
suatu masyarakat yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
a.

Sebagian besar atau bahkan seluruh warga masyarakat aktif dan mencari

informasi yang berhubungan dengan kepentingan dan kebutuhan hidupnya.


b. Menemukan informasi baru melalui kegiatan membaca berbagai sumber
informasi seperti buku, jurnal, surat kabar, majalah dan lain sebagainya.
c.

Mampu dan bisa menulis dan menyebarluaskan informasi.

d. Melakukan kegiatan belajar secara sadar dan berkelanjutan.


e.

Sadar dan percaya bahwa belajar adalah kebutuhan dan bagian yang tidak

terpisahkan dalam memelihara dan mengembangkan kehidupan ke arah yang lebih


baik.

2.5 MAKNA BELAJAR SEPANJANG HAYAT


o Menurut Ehsanur Rahman, secara historis konsep belajar sepanjang hayat tidak
lepas dari proses pembangunan peradaban manusia. Perspektif belajar dari buaian
sampai liang lahat (the cradle-to-grave) dikenal luas dan dipromosikan di banyak
Negara.
o Belajar sepanjang hayat dilihat sebagai proses yang mencakup tujuan (purposive)
dan belajar langsung (directed learning).
o Belajar sepanjang hayat selanjutnya mempromosikan kemandirian belajar diantara
sesama anggota masyarakat sebagai parameter pembangunan sosial berkelanjutan.
(Ibid, h.44)

2.6 Karakteristik Belajar Sepanjang Hayat


Berkaitan dengan karakteristik belajar sepanjang hayat, UNESCO menguraikan dan
mengulasnya secara jelas tulisan Dave sebagai berikut:
1. Pendidikan berakhir pada saat berakhirnya pendidikan sekolah atau formal, akan
tetapi dia merupakan suatu proses sepanjang hayat. Pendidikan sepanjang hayat
mencakup keseluruhan kurun waktu hidup seseorang.
2. Pendidikan sepanjang hayat tidaklah hanya terbatas pada pendidikan orang
dewasa, akan tetapi dia mencakup dan membentuk satu kesatuan dari seluruh tahap
pendidikan, pra sekolah, pendidikan dasar, pendidikan menengah dan seterusnya,
dengan demikian pendidikan sepanjang hayat memandang pendidikan sebagai
totalitas.
3. Pendidikan sepanjang hayat meliputi pola-pola pendidikan formal dan nonformal
kedua-duanya baik belajar yang berencana maupun yang berinsidental. Berdasarkan
karakteristik konsep ini, pendidikan nonformal merupakan satu bagian integral dari
pendidika keseluruhannya. Pada esensinya konsep ini meliputi keseluruhan
kontinum situasi belajar yang merentang mulai dari belajar yang terlembagakan

10

dan terencanakan dengan baik sampai dengan belajar yang tidak terlembagakan
bersifat insidental.
4. Rumah tangga atau keluarga memainkan peranan pertama yang penting namun
tersulit dan paling kritis di dalam pemrakarsaan proses belajar sepanjang hayat.
Peranan ini akan berkesinambungan sepanjang keseluruhan kurun waktu kehidupan
individu melalui suatu proses belajar dalam keluarga.
5. Masyarakat juga memainkan peranan yang penting dalam pendidikan sepanjang
hayat, mualai dar saat anak mulai berinteraksi dengan masyarakat itu dan terus
berlangsung sementara dia melakukan fungsi-fungsi pendidikannya sepanjang hayat,
yang menyangkut lapangan profesional dan lapangan-lapangan kehidupan lainnya.
6. Lembaga-lembaga pendidikan seperti sekolah, universitas dan pusat-pusat latihan
adalah penting, akan tetapi hanya sebagai salah satu saja dadri sekian banyak agenagen pendidikan sepanajang hayat. Konsep tersebut menegaskan bahwa sekolah
sebagai lembaga pendidikan formal merupakan satu bagian saja dari keseluruhan
lembaga pendidikan dan harus diintegrasikan dengan lembaga dan kegiatan
pendidikan lainnya.
7. Pendidikan sepanjang hayat berusaha mencari kesinambungan dan kaitan dalam
dimensi vertikal dan longitudinal dari pendidikan.
8. Pendidikan sepanjang hayat berusaha menciptakan integrasi setiap dimensi
horizontal pada setiap tahap kehidupan.
9. Pendidikan sepanjang hayat memiliki sifat yang fleksibel dan bermacam ragam
isi, alat dan teknik belajar dan juga dalam waktu belajar.
10. Pendidikan sepanjang hayat diisi oleh pola-pola dan bentuk-bentuk alternatif
pendidikan.
11. Ada tiga persyaratan pokok untuk pendidikan sepanjang hayat yaitu kesempatan,
motivasi dan educability .

11

2.7 Teori Belajar Sepanjang Hayat


Belajar sepanjang hayat, masyarakat belajar dan masyarakat berpengetahuan
memiliki makna dan spektrum yang luas. Terminologi teori belajar sepanjang hayat
dideskripsikan oleh Jarvis dalam trilogi tulisannya tentang globalisasi, belajar
sepanjang hayat dan masyarakat belajar. Menurut Jarvis belajar sepanjang hayat
merupakan kombinasi proses dalam keseluruhan hidup seseorang baik jasmani
(genetik, fisik, dan biologis) dan pikiran (pengetahuan, kecakapan, sikap, nilai, emosi,
keyakinan dan perasaan), situasi pengalaman sosial, ide/gagasan yang kemudian
ditransformasikan secara kognitif, afektif dan praktek atau melalui beberapa
kombinasi transformasi, dan diintegrasikan ke dalam biografi kehidupan seseorang
yang menghasilkan perubahan atau pengalaman secara berkelanjutan.
Teori belajar sepanjang hayat distimulasi oleh pikiran-pikiran dari teori belajar
manusia yang mengakui adanya the lifelong nature dalam suatu aktivitas belajar
seseorang. Belajar merupakan proses interaksi dan relasi yang berlangsung sepanjang
hidup seseorang dalam suatu konteks sosial tertentu, hingga berakhir dengan
kematian. Artinya bahwa belajar merupakan suatu proses transformasi pengalaman
yang dimiliki seseorang dan akan selalu terjadi ketika individu berinteraksi dengan
lingkungan sosial yang lebih luas.
Seseorang dapat lebih menyadari tentang hal ini ketika individu belajar pada
saat masih kecil, dan semua sensasi itu terasa baru karena belum mempelajari
maknanya. Tetapi ketika memasuki usia dewasa individu telah belajar tentang suara,
rasa dan sebagainya sehingga dapat menggunakan maknanya sebagai dasar belajar di
masa yang akan datang.
Secara signifikan individu kebanyakan menjalani hidup dalam situasi-situasi yang
sudah dipelajari. Asumsinya adalah bahwa dunia yang kita tahu tidak banyak berubah
dari satu pengalaman ke pengalaman lain yang mirip (Schutz and Luckmann),
walaupun argumen trsebut masih sedikit bersifar pro dan kontra di dunia yang cepat

12

berubah ini meskipun tidak bisa dibantah bahwa tidak semua pengetahuan berubah
secara cepat.
Oleh karena itu, dalam konteks kajian teori belajar sepanjang hayat
merupakan suatu fenomena alamiah dalam kehidupan individu, kelompok dan
masyarakat. Belajar sepanjang hayat termasuk di dalamnya self learning merupakan
sesuatu kegiatan yang penting dan menentukan dalam setiap kehidupan manusia.

2.8 Program Pembelajaran Sepanjang Hayat


o Hatton J W
1) Competency Based Education
Pendidikan berbasis kompetensi diberikannya kebutuhan untuk integrasi, konsisten,
fokus penerapan, bersifat memindahkan, penemuan kepercayaan, akses daerah,
contoh yang diberikan banyak dan perbedaan konteks budaya untuk suatu pelatihan.
2) Industry Coorperation
Program ini merupakan program beberapa perusahaan atau industri untuk
meningakatkan keterampilan para pekerja dalam rangka menaikkan produksi
perusahaan/industri atau untuk memperluas wilayah kerja baru dengan membuka
cabang perusahaan/industri.
3) Technology Program
Praktek nyata dari program pelatihan adalah penggunaan media modern dalam
lembaga lembaga tersebut seperti penggunaan komputer, satelit komunikasi,
internet, laptop dan media lainnya. Penggunaan media tersebut untuk meningkatkan
kinerja pelaksananya pendidikan atau pelatihan sebagai kinerja pelaksana menjadi
efektif dan efisien.

2.9 Proses Pembelajaran Sepanjang Hayat


1. Keinginan/desire
Adalah kecenderungan dari dalam.
13

Knowles berpendapat, andragogi untuk pembelajaran orang dewasa, meliputi :


1) Motivasi
2) Orientasi
3) Kesiapan
4) Pengalaman
2. Kecakapan/ability
Adalah pembelajaran berpikir kritis, kreatif dan bebas, mereka belajar untuk belajar,
mereka belajar secara kontinyu, jika mereka mereaksi hal hal dari luar dalam
meningkatkan pengetahuan dalam mengubah dunia.
3. Peralatan, terdapat perangkat keras dan perangkat lunak.
4. Kebutuhan/needs
Percepatan pertumbuhan dan kemutlakan informasi, mempunyai kecakapan yang
berguna untuk keberlanjutan pembelajaran.

2.10 Definisi Motivasi Berprestasi


Motivasi adalah daya penggerak di dalam diri seseorang untuk berbuat sendiri.
Motivasi merupakan kondisi internal individu yang mendorongnya untuk berbuat
sesuatu. Peran motivasi (Gleitman & Reber) adalah sebagai pemasok daya untuk
bertingkah laku secara terarah.
McClelland (dalam Djiwandono, 2002) mengemukakan bahwa manusia
dalam berinteraksi dengan lingkungannya sering sekali dipengaruhi oleh berbagai
motif. Motif tersebut berkaitan dengan keberadaan dirinya sebagai mahluk
biologis dan mahluk sosial yang selalu berhubungan dengan lingkungannya. Motif
yang dikemukakan oleh McClelland salah satunya yaitu motivasi untuk
berprestasi. Motif untuk berprestasi (achievement motive) adalah motif yang
mendorong seseorang untuk mencapai keberhasilan dalam bersaing dengan suatu
14

ukuran keunggulan (standard of excellence), baik berasal dari standar prestasinya


sendiri (autonomous standards) diwaktu lalu ataupun prestasi orang lain (social
comparison standard).

2.11 Jenis Jenis Motivasi


Motivasi dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu:
1. Motivasi Instrinsik, yaitu dorongan yang bersumber dari dalam diri seseorang.
Contoh: dorongan ingin makan, minum, ingin bisa, ingin tahu, dll.
2. Motivasi ekstrinsik, yaitu dorongan untuk berbuat sesuatu yang berasal dari luar
diri seseorang. Contoh: seseorang bertingkah laku tertentu karena adanya
penghargaan, pengakuan, pujian, hadiah, dll.
Dalam prakteknya, kedua motivasi tersebut harus dikombinasikan. Namun
yang paling efektif dan tahan lama adalah motivasi instrinsik yang tumbuh dari
dalam diri.Motivasi berprestasi adalah dorongan untuk selalu berjuang, bekerja
habis-habisan untuk mencapai sukses, atau suatu motivasi untuk berprestasi lebih
baik, lebih efisien, lebih cepat, lebih berkualitas dari hari ke hari.Orang yang
motivasinya tinggi bukan berarti tidak pernah gagal, tetapi bila gagal ia akan
bangkit dan bahkan berusaha lagi sampai akhirnya sukses (Weiner, 1980).

2.12 Karakteristik Individu dengan Motivasi Berprestasi Tinggi


Menurut McClelland (dalam Sukadji, 2001) Ciri-ciri individu dengan motif
berprestasi yang tinggi antara lain adalah:
1. Selalu berusaha, tidak mudah menyerah dalam mencapai suatu kesuksesan
maupun dalam berkompetisi, dengan menentukan sendiri standard bagi
prestasinya dan yang memiliki arti.
15

2. Secara umum tidak menampilkan hasil yang lebih baik pada tugas-tugas rutin,
tetapi biasanya menampilkan hasil yang lebih baik pada tugas-tugas khusus yang
memiliki arti bagi mereka.
3. Cenderung mengambil resiko yang wajar (bertaraf sedang) dan diperhitungkan.
Tidak akan melakukan hal-hal yang dianggapnya terlalu mudah ataupun terlalu
sulit.
4. Dalam melakukan suatu tindakan tidak didorong atau dipengaruhi oleh
rewards (hadiah atau uang).
5. Mencoba memperoleh umpan balik dari perbuatanya
6. Mencermati lingkungan dan mencari kesempatan/peluang.
7. Bergaul lebih baik memperoleh pengalaman.
8. Menyenangi situasi menantang, dimana mereka dapat memanfaatkan
kemampuannya.
9. Cenderung mencari cara-cara yang unik dalam menyelesaikan suatu masalah.
10. Kreatif.
11. Dalam bekerja atau belajar seakan-akan dikejar waktu.

2.13 Aspek-Aspek Motivasi Berprestasi


Menurut Atkinson (dalam Sukadji 2001), motivasi berprestasi dapat tinggi
atau rendah, didasari pada dua aspek yang terkandung didalamnya yaitu harapan
untuk sukses atau berhasil ( motif of success) dan juga ketakutan akan kegagalan
16

(motive to avoid failure). Seseorang dengan harapan untuk berhasil lebih besar
daripada ketakutan akan kegagalan dikelompokkan kedalam mereka yang
memiliki motivasi berprestasi tinggi, sedangkan seseorang yang memiliki
ketakutan akan kegagalan yang lebih besar daripada harapan untuk berhasil
dikelompokkan kedalam mereka yang memiliki motivasi berprestasi yang rendah.

2.14 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Motivasi Berprestasi


McClelland (dalam Sukadji, 2001) menjelaskan mengenai faktor-faktor
yang berpengaruh terhadap motif berprestasi, yaitu:
1. Harapan orangtua terhadap anaknya. Orangtua yang mengharapkan anaknya
bekerja keras dan berjuang untuk mencapai sukses akan mendorong anak tersebut
untuk bertingkahlaku yang mengarah kepada pencapaian prestasi. Dari penilaian
diperoleh bahwa orangtua dari anak yang berprestasi melakukan beberapa usaha
khusus terhadap anaknya.
2. Pengalaman pada tahun-tahun pertama kehidupan. Adanya perbedaan
pengalaman masa lalu pada setiap orang sering menyebabkan terjadinya variasi
terhadap tinggi rendahnya kecenderungan untuk berprestasi pada diri seseorang.
Biasanya hal itu dipelajari pada masa kanak-kanak awal, terutama melalui
interaksi dengan orangtua dan significant others
3. Latar belakang budaya tempat seseorang dibesarkan apabila dibesarkan dalam
budaya yang menekankan pada pentingnya keuletan, kerja keras, sikap inisiatif
dan kompetitif, serta suasana yang selalu mendorong individu untuk memecahkan
masalah secara mandiri tanpa dihantui perasaan takut gagal, maka dalam diri
seseorang akan berkembang hasrat untuk berprestasi tinggi.

17

4. Peniruan tingkah laku melalui observational learning anak mengambil atau


meniru banyak karateristik dari model, termasuk dalam kebutuhan untuk
berprestasi , jika model tersebut memiliki motif tersebut dalam derajat tertentu.
5. Lingkungan tempat proses pembelajaran berlangsung iklim belajar yang
menyenangkan, tidak mengancam, member semangat dan sikap optimisme bagi
siswa dalam belajar, cenderung akan mendorong seseorang untuk tertarik belajar,
memiliki toleransi terhadap suasana kompetisi dan tidak khwatir akan kegagalan.

2.15 Menumbuhkan Motivasi Berprestasi


Motivasi berprestasi tidak dibawa sejak lahir, tetapi siatu proses yang
dipelajari, dilatih, ditingkatkan dan dikembangkan. Berikut Kiat-kiat Menumbuhkan
Motivasi Berprestasi:
1. Tetapkan tujuan, yakin dan bersugestilah bahwa kita dapat berubah bahkan kita
memang harus berubah untuk mencapai titik maksimum.
2. Susunlah target yang masuk akal. Saya harus meraih peningkatan dalam setiap
kurun waktu.
3. Belajar menggunakan bahasa prestasi. Gunakanlah kata-kata optimistic, misalnya
masih ada peluang lagi. Jadikan konsep ini sebagai budaya berpikir, berbicara,
berdialog dan bertindak.
4. Belajar sendiri (otodidak) dan cermat menganalisis diri. Masih adakah cara
berpikir, perilaku dan kebiasaan saya yang kurang menguntungkan.
5. Perkaya motivasi
Dengan kekayaan motivasi membuat kita tidak kehabisan pemasok daya
penggerak.
Fokuskan pada motivasi instrinsik, sentuhan perasaan dan pikiran rasional
serta motivasi dari orang-orang terdekat juga dimanfaatkan

18

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Pembelajaran sepanjang hayat merupakan suatu konsep, ide, gagasan proses
belajar yang berlangsung secara terus menerus dalam diri individu, kapanpun,
dimanapun dan dengan siapapun. Budaya belajar sepanjang hayat amat fleksibel,
kreatif, dan responsif sehingga akan mampu memuaskan individu dan masyarakat
dalam kehidupannya. Dengan demikian, belajar sepanjang hayat dalam
implementasinya membentuk suatu kesatuan pentahapan pendidikan, sebagai suatu
totalitas dari berbagai kegiatan pendidikan dan belajar yang berlangsung
dilingkungan keluarga, pendidikan disekolah dan semua kegiatan yang berlangsung
di tengah kehidupan masyarakat.
Konsep belajar sepanjang hayat berusaha untuk memberikan motivasi kepada
mereka yang telah selesai mengikuti pendidikan sekolah, agar tetap belajar dalam
rangka meningkatkan kualitas kehidupannya dengan memanfaatkan teori kebutuhan
dan psikologi belajar.
Belajar sepanjang hayat akan berrnanfaat apabila mendapatkan respon positif
dari individu atau warga masyarakat yang memiliki kemauan dan kegemaran untuk
belajar secara terus menerus, sesuai dengan kebutuhan kebutuhan masing-masing
individu warga belajamya. Dengan demikian konsep belajar sepanjang hayat
memiliki signifikasi di dalam masyarakat.
Motivasi adalah daya penggerak di dalam diri seseorang untuk berbuat sendiri.
Motivasi merupakan kondisi internal individu yang mendorongnya untuk berbuat
sesuatu. Peran motivasi (Gleitman & Reber) adalah sebagai pemasok daya untuk
bertingkah laku secara terarah.

19

3.2 Saran
1. Sebaiknya masyarakat memperoleh pendidikan sepanjang hidupnya, tanpa
mempermasalahkan keadaan ekonomi, usia, dan status sosial.
2. Jangan beranggapan bahwa pendidikan diluar pendidikan formal tidak penting
ataupun tidak bermanfaat bagi keberlangsungan hidup.
3. Milikilah motivasi yang tinggi agar hidup anda lebih terarah.

Daftar pustaka
20

http://dedyfahroni.blogspot.co.id/2013/01/motivasi-berprestasi.html.
Diakses 25 Oktober 2016
http://eprints.uny.ac.id/bab2/motivasi/berprestasi/pdf. Diakses 25 Oktober 2016
https://makalahkumakalahmu.wordpress.com/2008/10/01/konsep-belajar-sepanjanghayat/. Diakses 25 Oktober 2016
http://suciayufarida.blogspot.co.id/2015/04/pembelajaran-sepanjang-hayat.html.
Diakses 25 Oktober 2016

21