Anda di halaman 1dari 16

PT.

TELKOM: TERJEPIT DI ANTARA AKUNTAN

Kelompok 3 :
Adiewijaya suwito 1151041

FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA
2016

BAB I
PENDAHULUAN

A.LATAR BELAKANG

Audit keuangan perusahaan go public sangatlah diperlukan guna


memperlancar proses transaksi dan salah satu transparansi yang dapat
dipertanggungjawabkan suatu perseroan. Langkah audit perseroan yang
bonafit jelas akan menyewa auditor-auditor yang sudah handal dan terkenal.
Auditor yang mempunyai reputasi baik akan selalu digunakan jasanya guna
memperbaiki citra perseroan sendiri.
Adalah Perseroan Terbatas Telekomunikasi Indonesia. Tbk yang lebih sering
kita dengar PT. TELKOM. Memiliki reputasi baik di Bursa Efek Jakarta (BEJ)
dan New York Stock Exchange. Dengan demikian TELKOM mempunyai PR
tiap akhir tahun untuk memberikan laporan keuangannya melalui United
States Sekurities And Exchange Commission (SEC).
Dengan berjalannya waktu, terjadi masalah pada tahun 2002. Dimana PT
TELKOM membuat mekanisme tender untuk mengaudit keuangannya. Pada
saat itu yang memenangkan tender adalah Kantor Akuntan Publik (KAP)
Haryanto Sahari dan Rekan akan tetapi karena ada sesuatu hal KAP tersebut
mundur dan digantikan oleh Kantor Akuntan Publik (KAP) Drs. Eddy Pianto

Simon. Dalam perjalan pengauditan oleh KAP ini juga tak semulus
perjalanannya karena ada berbagai masalah. Sehingga BAPPEPAM LK
menjatuhkan sanksi terhadapnya.

B.RUMUSAN MASALAH
1.Bagaimana Kantor Akuntan Publik (KAP) Haryanto Sahari Dan Rekan
Merugikan
PT. Telekomunikasi Indonesia. Tbk (PT. TELKOM) dan Kantor Akuntan
Publik (KAP) Eddy Pianto Dalam Pandangan Undang-undang Pasar
Modal?
2.Bagaimana Kedudukan Kantor Akuntan Publik (KAP) Eddy Pianto
Dalam Kasus
Penolakan Hasil Audit PT. Telekomunikasi Indonesia. Tbk?
3.Bagaimana Putusan Terhadap Kantor Akuntan Publik (AKB) Haryanto
Sahari Dan
Rekan?

C.DASAR HUKUM
*Undang-undang nomor 8 tahun 1995 tentang Pasar Modal
*Undang-undang nomor 5 tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli
dan Persaingan Usaha Tidak Sehat
*Regulation S-X 205 United States Sekurities And Exchange Commission
(SEC)

*Standar Audit SAS 8


*AU 543 paragraph 7 ketentuan CFF 102 United States Sekurities And
Exchange Commission (SEC)

BAB II
PEMBAHASAN

A.

Audit PT. Telekomunikasi Indonesia

Untuk melakukan audit atas Laporan Konsolidasi Keuangan dalam rangka


pelaksanaan Audit atas Laporan Keuangan Konsolidasi Tahun Buku 2002,
Perusahaan Perseroan (Persero) PT. Telekomunikasi Indonesia, Tbk. menunjuk
Kantor Akuntan Publik (KAP) Drs. Eddy Pianto. Pada audit ini disusun oleh PT
TELKOM selaku induk perusahaan yang didalamnya berisi laporan keuangan
masing-masing anak perusahaannya. Audit keuangan masing-masing anak
perusahaan oleh auditor independen, Salah satu anak perusahaan yang
laporan keuangannya tahun 2002-nya dimasukan adalah PT. Telekomunikasi
Seluler (TELKOMSEL). Bahwa audit TELKOMSEL dilakukan oleh KAP Haryanto
Sahari dan Rekan, bahwa kaitannya KAP Haryanto Sahari melanggar undangundang nomor 5 tahun 1999. Dimana dengan sengaja memberi interpretasi

yang salah terhadap PT Telkom, PT Telkomsel dan United States Securities


and Exchange Commission mengenai ketentuan standar audit Amerika.
Dengan demikian menghalangi KAP Eddy Pianto untuk melakukan audit dan
meminta kejelasan sebagai first layer dalam pengauditan sebelumnya,
sehingga auditor kedua tesebut mengalami kesulitan. Karena banyak hal-hal
yang harus dikaji ulang, dimana KAP Eddy Pianto dapat meneruskan hasil
audit yang sebelumnya telah dilakukan oleh KAP Haryanto Sahari. Hal
tersebut menyebabkan KAP Eddy Pianto terhalangi untuk bersaing di lantai
bursa.
Karena audit Telkomsel mengacu pada standar audit Amerika [1] maka harus
mengikuti aturan SEC. PT Telkomsel membuka bursa di New York Stock
Exchange, dengan demikian aturan luar negeri tempat NYSE harus diikuti.
Yakni salah satunya yang harus dijalani adalah filling 20-F yaitu form laporan
keuangan dan laporan manajemen dengan KAP yang terpercaya.
Sebagai perusahaan yang sahamnya tercatat di bursa, PT Telkom
mempunyai kewajiban untuk menyampaikan laporan keuangannya yang
telah diaudit oleh auditor independent secara berkala tiap tahunnya.
Sedangkan syarat-syarat auditor untuk mengaudit Telkomsel haruslah KAP
yang mempunyai kriteria sebagai berikut :
1.

Kualitas audit yang optimal

2.

Ketepatan waktu penyelesaian audit

3.

Harga jasa yang wajar

4.

Merupakan akuntan publik Indonesia yang mempunyai afiliasi dengan

Kantor Akuntan
Publik Internasional yang termasuk 5 (lima) besar dunia

5.

Mempunyai rencana untuk peningkatan internal control dari perseroan

guna mendukung
kualitas laporan keuangan perseroan tanpa mengurangi kualitas dan
independensi audit.

B. Penolakan KAP Eddy Pianto Oleh Thornton International Sebagai Member


Firm Agreement

Kantor Akuntan Publik (KAP) Eddy Pianto adalah suatu kantor akuntan publik
yang telah mendapatkan izin usaha berdasarkan Keputusan Menteri
Keuangan Republik Indonesia Nomor : KEP-718/KM.17/1998[2]. Bahwa
berdasarkan Keputusan Dewan Komisaris no. 013/KEP/DK/2002 tanggal 29
November 2002 tentang Penggantian Auditor PT Telkom Tahun Buku 2002
menyetujui dan mengesahkan KAP Eddy Pianto, sebagai auditor utama PT
Telkom tahun buku 2002. Dan KAP EP-pun Terdaftar di Bapepam berdasarkan
Surat Tanda Terdaftar Profesi Penunjang Pasar Modal No. 282/PM/STTDAp/2000.
Berdasarkan appointment letter tertanggal 6 Juni 2001, ditunjuk oleh PT.
Grant Thornton Indonesia sebagai Member Firm dan berdasarkan Adendum
Grant Thornton International Member Firm Agreement, yang berlaku efektif
samapai 10 Mei 2001 dan Kantor Audit Publik Eddy Pianto berkedudukan
sebagai regional firm dari Grent Thornton International.
Berdasarkan pasal 2.2[3] KAP Eddy Pianto sebagai regional firm, memiliki
hak dan kewajiban yang sama dengan Grant Thornton Indonesia sebagai
member Thornton Internasional. berdasarkan surat dari David McDonnell,
Chief Executive Grant Thornton International, kepada Dirjen Lembaga

Keuangan Republik Indonesia, ref. DMCD/RAL tanggal 8 Oktober 2001,


menyatakan :
Grant Thornton Indonesia adalah full member dari Grant Thornton
International
KAP Eddy Pianto berasosiasi dengan Grant Thornton Indonesia dan berhak
mengaudit atas nama Grant Thornton

Berdasarkan surat tanggal 4 Desember 2002 kepada Grant Thornton


Indonesia, Grant Thornton International menyatakan KAP Eddy Pianto dapat
melakukan pekerjaan audit atas Laporan Keuangan PT. Telkom tahun Buku
2002 dalam rangka filing Form 20-F ke SEC, tanpa ada kewajiban bagi Grant
Thornton International untuk terasosiasi dengan pekerjaan audit tersebut.
Dengan demikian independensi KAP EP tidak disusupi kepentingan dari
afiliasinya[4] secara langsung dan sepenuhnya menjadi tanggung jawabnya.
Pada kuartal pertama tahun 2003 KAP Eddy Pianto tercatat di pasar modal
berwenang mengaudit laporan keuangan terhadap 332 (tiga ratus tiga puluh
dua) perusahaan[5] di Bursa Efek Jakarta.
Menurut Withdrawal Agreement tertanggal 13 Februari 2003, Member Firm
Agreement antara Grant Thornton International dengan Grant Thornton
Indonesia/ KAP Eddy Pianto berakhir pada tanggal 31 Maret 2003, namun
KAP Eddy Pianto tetap berhak melakukan pekerjaan audit atas nama Grant
Thornton berdasarkan engagement letter yang telah ditandatangani sebelum
tanggal withdrawal agreement tersebut. untuk memahami US GAAS dan
GAAP dalam rangka filing Form 20-F, KAP Eddy Pianto meminta bantuan dari
Mark Iwan, Certified Public Accountant independen yang bukan merupakan
partner dari Grant Thornton, LL.P, untuk memberi pelatihan dan konsultasi.

Pada tanggal 17 Februari 2003 Grant Thornton International menerbitkan


iklan di harian Jakarta Post yang pada pokoknya menyatakan hubungan
afiliasi/membership antara Grant Thornton International dengan PT. Grant
Thornton Indonesia dan KAP Eddy Pianto berakhir pada tanggal 31 Maret
2003. Dengan adanya pemberitaan tersebut PT Telkom meminta jaminan
kepada KAP Eddy Pianto akan keabsahan Iwan Mark tersebut yang bukan
partner dari Thornton International. KAP EP berdalih bahwa akan tetap
menjadi Member Firm Thornton sampai akhir Maret 2003, dengan demikian
auditnya mendompleng nama Thornton. KAP Eddy Pianto memberikan
keyakinan dan jaminan bahwa SEC reviewer yang terlibat memiliki kualifikasi
dan kompetensi profesional serta memenuhi persyaratan SEC. Disamping itu
sebagai KAP non Amerika Serikat, KAP Eddy Pianto dengan dukungan SEC
reviewer yang mereka kontrak akan memenuhi ketentuan yang berlaku di
SEC khususnya regulasi S-X[6] yang mengatur kualifikasi auditor asing (nonUS). Karena waktunya sangat terbatas KAP EP meminta hasil audit yang
dahulu pernah dilakukan oleh KAP Haryanto Sahari, akan tetapi KAP HS
meminta izin untuk melihat 20-F seluruhnya terlebih dahulu. Permintaan
tersebut ditolak oleh PT Telkom karena waktunya yang sangat krusial serta
tidak ada hubungannya antara PT Telkom dengan KAP HS, juga untuk segera
dilaporkan ke SEC. Oleh karena itu, KAP HS-pun menolak untuk memberi
tahu akan hasil audit yang pernah dilakukannya, serta KAP HS tidak memberi
izin kepada KAP Eddy Pianto untuk mengacu pada hasil audit sebelumnya. PT
Telkom berpendapat tidak memerlukan izin dari KAP HS untuk melampirkan
opininya.
Pada tanggal 25 Maret 2003 PwC Amerika Serikat[7] Meminta Thornton
International Amerika Serikat[8] untuk menginformasikan kepada SEC bahwa
Thornton AS tidak berafiliasi dengan Grant Thornton Indonesia /KAP Eddy
Pianto. berdasarkan surat SEC kepada PT. Telkom tertanggal 29 April 2003,
SEC menyatakan tidak dapat menerima Form 20-F yang disampaikan oleh PT.
Telkom dengan alasan-alasan sebagai berikut :

Laporan Keuangan Konsolidasi PT. Telkom Tahun Buku 2002 belum


mendapatkan quality
control dari Grant Thornton LL,P., selaku US Affiliate KAP Eddy Pianto
Terlapor tidak memberikan ijin untuk dimasukkannya Laporan Audit Terlapor
atas Laporan
Keuangan PT. Telkomsel Tahun Buku 2002 dalam Form 20-F PT. Telkom
Laporan Keuangan Konsolidasi PT. Telkom Tahun Buku 2002 yang
dimasukkan
dalam Form 20-F PT. Telkom tidak disertai dengan Laporan Audit atas
Laporan Keuangan
anak perusahaan PT. Telkom lainnya yang juga diacu oleh KAP Eddy Pianto

Dengan adanya penolakan tersebut Kantor Audit Publik Eddy Pianto izin
usahanya dibekukan oleh BAPPEPAM LK dan tidak boleh berada dibursa
selama waktu tertentu. Karena menjadikan saham PT Telkom anjlok.

C. Sanksi Terhadap KAP Eddy Pianto

Bahwa berdasarkan Surat Bapepam kepada KAP Eddy Pianto Nomor : S1381/PM/2003 tanggal 16 Juni 2003 perihal Kewajiban untuk Tidak
Melakukan Kegiatan Usaha di Bidang Pasar Modal, Bapepam mewajibkan
Eddy Pianto Simon, partner KAP Eddy Pianto, untuk tidak melakukan kegiatan
usaha di pasar modal terhitung sejak tanggal surat ini sampai diputuskan
lebih lanjut oleh Bapepam. Keputusan tersebut didasarkan pada penolakan
Laporan Keuangan Konsolidasi PT. Telkom tahun Buku 2002 oleh SEC yang
menyebabkan perdagangan saham PT. Telkom yang tercatat di New York
Stock Exchange dalam bentuk IDR dihentikan sementara dan diduga
menyebabkan harga saham PT. Telkom di Bursa Efek Jakarta turun secara
signifikan dari harga penutupan sehari sebelumnya, serta memberikan
pengaruh yang cukup signifikan terhadap penurunan Indeks Harga Saham
Gabungan. Maka KAP Jimmy Budhi menjadi pengganti KAP Eddy Pianto.
Karena first layer tidak digunakan maka jasa audit ini merosot dan berimbas
pada persaingan jasa audit. Para pemegang saham menjadi enggan untuk
menggunakan jasa Kantor Audit Publik yang independen dan merosotnya
kepercayaan pada aouditor lokal. KAP Haryanto Sahari dan rekan
menimbulkan ketidakpastian usaha bagi auditor karena kewenangan mereka
untuk melakukan kegiatan jasa audit dapat dipermasalahkan oleh sesama
auditor yang seharusnya saling bekerjasama dan menghormati satu sama
lain.

D. Pelanggaran Pasal 107 Undang-undang nomor 8 Tahun 1995 Oleh KAP


Haryanto Sahari Dan Rekan

Dalam Pasal 107,[9]

Setiap Pihak yang dengan sengaja bertujuan menipu atau merugikan Pihak
lain atau menyesatkan Bapepam, menghilangkan, memusnahkan,
menghapuskan, mengubah, mengaburkan, menyembunyikan, atau
memalsukan catatan dari Pihak yang memperoleh izin, persetujuan, atau
pendaftaran termasuk Emiten dan Perusahaan Publik diancam dengan
pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak
Rp5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).
Dalam pasal tersebut dapat dikaji apabila ada pihak yang bertujuan untuk
merugikan atau menyesatkan. Dalam kasus diatas dapat dilihat KAP
Haryanto Sahari dan rekan mencoba untuk menyesatkan dan merugikan.
Merugikan para pemegang saham dari perseroan induk maupun anak
perusahaannya yakni TELKOM dan TELKOMSEL. Karena hasil auditnya tidak
dibeikan izin maka KAP Eddy Pianto dan rekan mengalami kesulitan dalam
mengacu auditnya.
Yang tidak relevan adalah permintaan KAP HS untuk melihat keseluruhan
form 20-F yang tidak ada hubungannya dengan mereka sama sekali. Bahkan,
jika itu merupakan alasan mereka untuk tidak memberikan izin merupakan
alasan yan tidak berdasar hukum sama sekali. Sebagai first layer, KAP HS
seharusnya memberikan kemudahan bagi KAP selanjutnya yang akan
menggatikannya. Dalam peraturan pasar modal yang dikeluarkan oleh
Bapepam tidak memperbolhkan persaingan yang tidak sehat. Sebagai
sesama auditor seharusnya saling menghormati dan tidak saling
menjatuhkan reputasi.
Mengaburkan dan menyembunyikan[10] dalam pasal tersebut juga dapat
diterapkan pada kepada tindakan yang dilakukan oleh KAP HS. Mengaburkan
karena tidak mengizinkan acuan sehingga KAP EP harus memulainya lagi
dari bawah tanpa tahu dokumen-dokumen apa saja yang pernah di audit.
Dan menyembunyikan hasil audit beserta opininya sehingga PT telkom

melakukan inpermission atas hasil kerja KAP HS yang saat itu waktunya
sangat terbatas.
Dengan demikian pasal 107 ini dapat diterapkan pada kasus yang menimpa
Kantor Audit Publik (KAP) Haryanto Sahari dan rekan yang telah merugikan
PT Telekomunikasi Indonesia. Tbk (Telkom), PT. Telekomunikasi Seluler
(Telkomsel), Kantor Audit Publik (KAP) Eddy Pianto dan rekan, Bapepam, dan
SEC[11]. Karena kecerobohannya tersebut indeks harga saham gabungan
Telkom anjlok dan mengalami kerugian karena adanya isu tidak transparansi
keuangannya.

BAB III
PENUTUP

A.KESIMPULAN

1.Kantor Akuntan Publik (KAP) Haryanto Sahari dan Rekan melakukan


penolakan atas izin audit sebagai first layer. Yaitu auditor pertama yang
menjadi acuan dalam melakukan audit lanjutan oleh second layer-nya yaitu
Kantor Akuntan Publik (KAP) Eddy Pianto dan rekan. Penolakan izin tersebut
juga membuat KAP EP kesulitan dalam mendapatkan opini hasil keuangan
sebelumnya baik hasil audit keuangan holding perseroan yaitu PT
Telekomunikasi Indonesia Tbk maupun hasil audit anak perusahaannya yaitu
PT Telekomunikasi Selular. Selain itu, kerugian yang dilakukan oleh KAP HS
juga merugikan KAP EP yaitu berlarut-larutnya audit padahal waktu untuk
penyerahan laporan keuangan sudah ditunggu oleh Bapepam dan SEC.
Dengan terjadinya pengunduran hasil laporan, KAP EP mendapat sanksi dari
Bapepam yaitu pembekuan izin usaha di lantai bursa. Selain merugikan
langsung kepada beberapa pihak, perbuatan KAP HS membuat indeks harga

saham gabungan merosot dan merugikan negara. Penolakan izin tehadap


hasil audit sebelumnya KAP HA yang merupakan member PwC International
dan karena tidak diperbolehkan untuk melihat 20-F milik Telkom. Padahal
PwC Amerika tidak berasosiasi dengan KAP HS karena KAP HS merupakan
badan usaha yang didirikan di Indonesia dan memakai hukum Indonesia,
dengan demikin tidak relevan apabila KAP HS memeriksa seluruh 20-F
tanapa dasar hukum yang jelas. Karena kejadian dan peristiwa ada di
Indonesia maka KAP HS harus mengikuti aturan yang berlaku umum di
Indonesia[12] khususnya ketentuan-ketentuan di pasar modal.

2.Kedudukan Kantor Akuntan Publik (KAP) Eddy Pianto dan Rekan


merupakan korban yang dilakukan oleh Kantor Akuntan Publik (KAP)
Haryanto Shari dan Rekan. KAP EP mendapatkan sanksi dari Bapepam dan
tidak boleh beroperasi dulu di lantai bursa untuk melakukan audit terhadap
laporan keuangan perseroan. Padahal pada kuartal pertama di tahun 2002
KAP EP telah diprcaya oeh 332 (tiga ratus tiga puluh dua) perseroan untuk
diaudit hasil keuangannya. Dan sekitar 59 perusahan atau 29% peruahaan
telah berhasil diaudit oleh KAP tersebut. Walaupun tidak melakukan audit
dengan sempurna terhadap laporan hasil keuangan PT Telekomunikasi
Indonesia Tbk, akan tetapi itu bukan pure kesalahannnya. Dengan demikian,
KAP EP menjadi korban atas pelanggaran pasal 107 Undang-undang nomor 8
tahun 1995 tentang Pasar Modal.

3.Kantor Akuntan Publik (KAP) Haryanto Sahari dan Rekan, member firm dari
kantor akuntan publik asing Pricewaterhouse Coopers (PwC) terbukti
bersalah. Dengan demikian KAP Haryanto Sahari dan Rekan harus membayar
denda sebesar Rp 20.000.000.000,00 (dua puluh milyar rupiah) dan di
setorkan ke kas negara sebagai setoran penerimaan negara bukan pajak
Departemen Keuangan Direktorat Jenderal Anggaran Kantor Perbendaharaan

dan Kas Negara Jakarta I beralamat di jalan Ir. H. Juanda nomor 19 melalui
bank pemerintah dengan kode penerimaan 1212 dan harus dibayar lunas
paling lambat dalam waktu 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak diterimanya
pemberitahuan putusan ini, dengan denda keterlambatan Rp. 10.000.00,00
(sepulu juta rupiah) per hari untuk setiap hari keterlambatan tidak
melaksanakan putusan ini. Putusan ini dibuat hari senin tanggal 21 Juni
2004.

B.

SARAN

Profesionalitas seorang auditor dalam menjalankan tugasnya merupakan


aset penting yang harus dimiliki. Saling menghargai sesama profesi dan
menjalankan tugas sebaik-baiknya adalah tujuan dari setiap pekerjaan.
Minimal tidak membuat orang susah, dengan bagusnya sikap dan sifat
Kantor Akuntan Publik yang ada di Indonesia akan membuat reputasi saham
di pasar akan membaik. Dan banyak investor yang akan menanamkan
modalnya di Indonesia. Dengan adanya reputasi baik tersebut,
perekonomian Indonesia di mata dunia akan mendapatkan tempat yang baik
bula. Sehingga semakin banyak perseroan-peseroan dari Indonesia
mendapatkan perilaku yang baik juga di bursa asing.
Simbiosis mutualisme antara perseroan dan auditor adalah hal yang tidak
dapat dipisahkan. Karena kedua organ tersebut saling membutuhkan.
Perbaikan-perbaikan akan konsep dan fair game dalam usaha harus benar-

benar dilaksanakan. Sehingga tidak terjadi gesekan atas kepentingankepentingan yang dilakukan oleh oknum yang ada di pasar modal.