Anda di halaman 1dari 40

WORKPLAN KEPERAWATAN MATERNITAS BLOK 4.5

WORKPLAN KEPERAWATAN MATERNITAS BLOK 4.5 Pembimbing : Wiwin Lismidiyati, S.Kep., Ns.,M.Kep., Sp.Mat KELOMPOK: 4 Putri Mazayani

Pembimbing : Wiwin Lismidiyati, S.Kep., Ns.,M.Kep., Sp.Mat KELOMPOK: 4

Putri Mazayani

(13861)

Kurniati Rachmat

(13865)

Okki Dhona Laksmita

(13867)

Ulfa Nurul Fatimah

(13872)

Mutik Sri Pitajeng

(13876)

Fitri Dwi Purwanti

(13882)

Ardani Latifah Hanum

(13887)

Louise Henriette Marsha Amanda

(13891)

Asri Herlindawati

(13894)

Hanif Alisa Ardhya G. S

(13896)

Albila Husna Prajani

(13899)

Diah Sari Ambarwati

(13902)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA

2014

  • I. TINJAUAN PUSTAKA

KEHAMILAN NORMAL

Kehamilan yang dinyatakan sebagai kehamilan normal yaitu kehamilan yang berasal dari ibu yang sehat, tidak terdapat riwayat obstretik yang buruk, ukuran uterus yang sama/sesuai dengan usia kehamilan, dan hasil pemeriksaan fisik dan laboratorium yang normal. Kehamilan dinilai termasuk dalam kondisi kegawatdaruratan dan membutuhkan rujukan segera ketika terjadi adanya perdarahan, eklampsia, ketuban pecah dini, atau kondisi-kondisi

kegawatdaruratan lain pada ibu dan bayi. Setiap wanita hamil menghadapi resiko komplikasi yang bisa mengancam jiwanya. Oleh karena itu, setiap wanita hamil memerlukan sedikitnya empat kali kunjungan selama periode antenatal. Pada setiap kali kunjungan antenatal tersebut, perlu didapatkan informasi yang sangat penting.

Kunjungan

Waktu

Informasi Penting

Trimester

Sebelum minggu ke

Membangun hubungan saling percaya antara

pertama

  • 14 petugas kesehatan dan ibu hamil. Mendeteksi masalah dan menanganinya. Melakukan tindakan pencegahan seperti tetanuss neonatorum, anemia kekurangan zat besi, penggunaan praktik tradisional yang merugikan. Memulai persiapan kelahiran bayi dan kesiapan untuk menghadapi komplikasi. Mendorong perilaku yang sehat (gizi, latihan dan kebersihan, istirahat, dan sebagainya)

Trimester

Sebelum minggu ke

Sama seperti di atas, ditambah kewaspadaan

kedua

  • 28 khusus mengenal preeklampsia (tanya ibu tentang gejala-gejala preeklampsia, pantau tekanan darah, evaluasi edema, periksa untuk mengetahui proteinuria.

Trimester

Antara minggu 28-36

Sama seperti di atas, ditambah palpasi abdominal

ketiga

untuk mengetahui apakah ada kehamilan ganda.

Trimester

Setelah 36 minggu

Sama seperti di atas, ditambah deteksi letak bayi

ketiga

yang tidak normal, atau kondisi lain yang memerlukan kelahiran di rumah sakit.

Ibu hamil tersebut harus lebih sering dikunjungi jika terdapat masalah, dan ia hendaknya disarankan untuk menemui petugas kesehatan bilamana ia merasakan tanda-tanda bahaya atau jika ia merasa khawatir.

PEMERIKSAAN ANTENATAL

Perawatan antenatal adalah perawatan yang dilakukan/diberikan kepada seorang ibu hamil sampai saat persalinan. Perawatan antenatal bertujun agar ibu dapat melalui masa

kehamilan, persalinan, dan nifas dengan baik, serta melahirkan anak yang sehat.

  • a. Kunjungan Pertama Kehamilan bukan suatu penyakit, melainkan sebuah proses fisiologis yang membutuhkan peningkatan proses metabolism dan nutrisi untuk pertumbuhan janin. Kunjungan pertama harus seawal mungkin, dengan tujuan untuk memperoleh data klinik.

    • 1. Anamnesis Tanyakan data rutin: umur, hamil ke berapa, kapan menstruasi berhenti, bagaimana riwayat menstruasi yang dulu, dan data lainnya. Riwayat persalinan yang lalu (bila pernah): jalan persalinannya, anak hidup/mati, berapa berat badannya, siapa yang menolong, adakah penyakit selama kehamilan, lahirnya cukup bulan/tidak, dan sebagainya. Riwayat penyakit dulu, terutama diabetes, hipertensi, penyakit jantung, penyakit ginjal, riwayat operasi (abdominal, panggul) dan sebagainya. Masalah yang timbul dalam kehamilan ini, seperti rasa sakit, perdarahan, mual/muntah yang berlebihan, dan sebagainya.

    • 2. Pemeriksaan Fisik

Tinggi badan berat badan, tekanan darah

Suara jantung

Payudara Pemeriksaan bimanual. Selain dimaksud untuk membantu diagnosis kehamilan, pemeriksaan bimanual juga dimaksud untuk melihat adanya kelainan-kelainan di serviks dan vagina seperti trikomoniasis, kandidiasis, proses maligna di serviks, atau yang lainnya.

  • 3. Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan darah: hemoglobin, hematokrit, golongan darah, faktor rhesus.

Pemeriksaan urin untuk melihat adanya gula, protein dan kelainan pada sedimen.

Serologic test for syphilis

Bila perlu, tes antibody toksoplasmosis, rubella atau yang lainnya. Nasihat selanjutnya adalah bila terdapat hal-hal seperti di bawah ini, ibu hamil harus segera kembali ke petugas kesehatan.

Perdarahan pervaginal

Bengkak di tangan/muka Sakit kepala yang hebat dan terus menerus Penglihatan kabur Sakit perut Muntah yang berlebihan Demam yang menggigil Sakit pada waktu kencing Keluar cairan dari vagina

  • b. Kunjungan Ulang Pada umumnya kunjungan ulang dijadwalkan tiap 4 minggu sampai umur kehamilan 28 minggu. Selanjutnya, tiap 2 minggu sampai umur kehamilan 36 minggu dan seterusnya tiap minggu sampai bersalin.Jadwal ini tidaklah kaku. Di Indonesia menunjukkan bahwa pemeriksaan antenatal sebanyak 4 kali selama kehamilan dengan distribusi yang merata memberikan pregnancy outcome yang baik. Hal-hal yang harus diperhatikan selama kunjungan ulang adalah:

    • 1. Kondisi Ibu

      • a) Tekanan darah

      • b) Berat badan

      • c) Gejala/tanda-tanda seperti sakit kepala, perubahan visus, sakit abdomen, nausea, muntah, perdarahan, disuria, air ketuban yang merembes, dan lain-lain.

      • d) Tinggi fundus

      • e) Keadaan serviks (posisi, konsistensi, pendataran, pembukaan terutama pada kehamilan lanjut).

      • f) Ukuran pelvis (pada primigravida)

2.

Kondisi Janin

  • a) Denyut jantung janin

  • b) Ukuran janin (taksiran berat janin)

  • c) Letak dan presentasi, engangement (masuknya kepala)

  • d) Aktivitas

  • e) Kembar atau tunggal

  • 3. Laboratorium

    • a) Hemaglobin, hematokrit

    • b) STS pada trimester III diulang

    • c) Kultur untuk gonokokus

    • d) Protein dalam urin, bila diperlukan

Pemeriksaan dalam pada minggu ke-36 pada primigravida perlu dilakukan untuk menilai masuknya kepala ke dalam panggul. Alasan dilakukannya pemeriksaan pada umur kehamilan ini karena pada usia 36 minggu relaksasi ligamentum dalam pelvis telah optimal sehingga kurang memberi rasa sakit. Ukuran pelvis, keseimbangan kepala-panggul harus dinilai betul pada saat pemeriksaan ini, demikian juga penilaian tentang serviks.

KENAIKAN BERAT BADAN IBU SELAMA MASA KEHAMILAN

Pada umumnya kenaikan berat badan selama kehamilan sekurang-kurangnya 9 kg,

dengan perincian pertambahan berat badan dari:

Janin

3,5 kg

Plasenta

0,5 kg

Amnion

1 kg

Uterus

1 kg

Darah

2 kg

Mamma

1 kg

Kenaikan berat badan sampai 14 kg masih dalam batas-batas normal dan ideal untuk pertumbuhan janin, sedangkan jika lebih dari 14 kg biasanya disertai dengan morbiditas ibu yang meningkat. Kenaikan berat tersebut hanya sebagai patokan karena ada variasi di antara ibu.Kenaikan berat badan pada ibu dengan BMI tinggi biasanya lebih rendahdibanding ibu

dengan BMI rendah.

Minggu

Kg

  • 6 0,2

  • 8 0,5

10

0,8

12

1,1

14

1,7

16

2,4

18

3,1

20

3,9

22

4,7

24

5,5

26

6,2

28

7

30

7,7

32

8,4

34

9,1

36

9,8

38

10,4

40

10,9

MENENTUKAN UMUR KEHAMILAN

Lama kehamilan rata-rata dihitung dari hari pertama menstruasi terakhir adalah 280 hari atau 40 minggu. Atas dasar ini, terciptalah rumus Naegele, yang meramalkan hari perkiraan lahir (HPL) yaitu tanggal hari pertama mentsruasi terakhir (HPM) ditambah 7 dan bulan dikurangi 3. Rumus ini berlaku untuk wanita dengn siklus 28 hari sehingga ovulasi terjadi pada hari ke-14. Rumus Neagele HPL = hari + 7, bulan 3 dari HPM. (hari = tanggal) Contoh 1 Mbak Sri, istri Mas Bambang HPM-nya adalah 15-2-2007, maka

HPL

= (15 + 7) - (14 3) - 2007

Contoh 2 Seorang wanita hamil mempunyai HPM 14-8-2004 dan diperiksa pada tanggal 11-2-2005. Umur kehamilannya yaitu:

 

Minggu

Hari

14-8-2004

2

3

 

9

4

2

10

4

3

11

4

2

12

4

3

1

4

3

11-2-2005

1

4

 

23

20

= 25 minggu 6 hari

Jadi umur kehamilannya 25 minggu 6 hari, atau 25 minggu (completed week). HPLnya yaitu pada tanggal 21-5-2005.

MENENTUKAN TAKSIRAN BERAT JANIN

Tinggu fundus uteri dapat dipakai untuk memperkirakan berat janin. Taksiran ini hanya

berlaku untuk janin presentasi kepala. Rumusnya adalah sebagai berikut:

(Tinggi fundus dalam cm n) x 155 = Berat (gram) Bila kepala di atas atau pada spina iskiadika maka n = 12 Bila kepala di bawah spina iskiadika maka n = 11

PEMERIKSAAN OBSTRETIK

Pemeriksaan obstretik terdiri atas:

  • 1. Anamnesis, meliputi:

Gravida, Para, Abortus

Umur kehamilan

Umur ibu

Paritas: bila gravid kebih dari 5 dan umur ibu diatas 35 tahun maka disebut grande

multigravida yang memerlukan perhatian khusus. Riwayat persalinan terdahulu

Penyakit yang pernah dialami

Kehamilan sekarang

Tanda-tanda persalinan

  • 2. Inspeksi, yang diperiksa adalah tanda-tanda persalinan, keadaan umum ibu dan keadaan janin.

  • 3. Palpasi, meliputi: tinggi fundus, letak janin (memanjang, melintang, oblik), presentasi janin, dimana bagian punggung dan bagian kecil, apa yang ada di fundus, letak tonjolan kepala, engangement, taksiran berat janin (janin tunggal atau ganda), kualitas his, tanda- tanda patologis. Palpasi dilakukan secara sistematik berdasarkan perasat Leopold.

  • 4. Auskultasi pada denyut jantung janin dikerjakan setiap 15 menit pada kala I dan tiap 3-5 menit pada kala II.

  • 5. Periksa dalam (PD) terdapat dua pendekatan, yaitu PD lewat rectum dan PD lewat vagina. PD lewat vagina lebih mudah, kurang memberikan rasa sakit dan lebih akurat. Terdapat 4 hal yang harus dinilai, meliputi: Keadaan serviks: mencucu, mendatar, melebar, tipis, kaku, lunak, tertutup, terbuka; berapa cm lebar pembukaannya; adakah jaringan parut; keadaan selaput ketuban (tebal, tipis, mengantong atau tidak, sudah pecah) Keadaan janin: presentasi kepala; letak ubun-ubun kecil (UUK), sutura sagitalis, ubun-ubun besar (UUB); posisi UUK dan UUB, kepala fleksi atau defleksi)

 Kehamilan sekarang  Tanda-tanda persalinan 2. Inspeksi, yang diperiksa adalah tanda-tanda persalinan, keadaan umum ibu

Keadaan pelvis: promontorium teraba atau tidak; linea terminalis teraba atau tidak; spina iskiadika menonjol atau tidak Hubungan janin-panggul

PERJALANAN PERSALINAN NORMAL

Berikut ini adalah beberapa pengertian yang perlu diketahui:

  • 1. Labor adalah rangkaian peristiwa mulai dari kencang-kencang yang teratur sampai dikeluarkannya produk konsepsi (janin, plasenta, ketuban dan cairan ketuban) dari uterus ke dunia luar.

  • 2. Paritas adalah jumlah janin dengan berat badan lebih dari/sama dengan 500 gram yang pernah dilahirkan, hidup maupun mati. Bila berat badan tidak diketahu maka dipakai umur kehamilan, yaitu 24 minggu.

  • 3. Delivery adalah peristiwa keluarnya janin, termasuk plasenta.

  • 4. Gravida adalah jumlah kehamilan termasuk abortus, mola dan kehamilan ektopik.

Dalam Bahasa Indonesia antara labor dan delivery sukar dibedakan, dan hanya dikenal satu istilah, yaitu persalinan. Sebelum persalinan yang sebenarnya dimulai, terdapat beberapa fenomena yang menunjukkan bahwa tidak lama lagi labor akan terjadi. Fenomena tersebut adalah:

  • 1. Lightening, yaitu perasaan subyektif dari ibu yang terjadi karena bagian bawah janin lebih mapan dalam SBR dan pelvis. Ibu akan merasa janin turun, sesak napas berkurang, tetapi disertai sakit pinggang dan sering kencing serta dirasakan lebih sulit berjalan. Hal ini terjadi 2-3 minggu sebelum aterm.

  • 2. Engangement, yaitu peristiwa masuknya kepala ke dalam panggul. Pada primigravida, terjadi 2-3 minggu menjelang aterm. Lightening tidak sama dengan engangement meskipun keduanya dapat terjadi bersamaan.

  • 3. Sekresi vagina meningkat.

  • 4. Berat badan menurun.

  • 5. Bloody show yaitu keluarnya cairan kemerahan atau darah yang disertia dengan lendir dari vagina.

  • 6. Serviks menjadi lunak dan datar.

  • 7. Sakit pinggang yang terus-menerus.

  • 8. Ada gejala fase labor.

Persalinan dapat dibagi dalam 4 kala (stages), yaitu:

  • 1. Kala I Kala I adalah kala pembukaan sehingga kemajuan kala I dinilai dari majunya pembukaan, meskipun pada kalaI terjadi proses penurunan kepala dan putar paski dalam. Pada primigravida, kala I bervariasi antara 12-14 jam, sedangkan pada multipara antara 6-8

jam.Ibu sudah dalam kala I jika pembukaan serviks kurang dari 4 cm dan kontraksi terjadi teratur minimal 2 kali dalam 10 menit selama 40 detik. Kala I dibagi ke dalam:

  • a. Fase laten: pembuaan 0-3 cm, berlangsung ± 8 jam.

  • b. Fase aktif: akselerasi, maximal of slope dan deselerasi. Fase ini berlangsung selama 4- 6 jam. Serviks berdilatasi 4-10 cm dengan kecepatan pembukaan 1 cm atau lebih perjam dan penurunan kepala dimulai.

Pemantauan kala I persalinan bida dengan memanfaatkan partograf.Partograf adalah alat bantuk yang digunakan selama fase aktif persalinan. Tujuan utama penggunaan patograf adalah:

  • a. Mencatat hasil observasi dan kemajuan persalinan dengan menilai pembukaan serviks melalui pemeriksaan dalam. Pemeriksaan dalam sebaiknya dilakukan setiap 4 jam selama kala I pada persalinan dan setelah selaput ketuban pecah. Hal-hal yang perlu dicatat pada setiap pemeriksaan dalam yaitu:

Warna cairan amnion

Dilatasi serviks

Penurunan kepala

  • b. Mendeteksi apakah proses persalinan berjalan secara normal. Dengan demikian, juga dapat dilakukan deteksi secara dini setiap kemungkinan terjadinya partus lama.

  • 2. Kala II Beberapa tanda bahwa paien masuk kala II adalah:

    • a. Bloody show (lendir semu darah) makin hebat

    • b. Perasaan ingin muntah, disertai dengan ingin mengejan

    • c. Perasaan ingin defekasi

    • d. Anus terbuka

    • e. Ketuban pecah spontan

Bila terdapat tanda-tanda diatas, periksa dalam bisa dilakukan untuk mengetahui apakah

pembukaan sudah lengkap. Mekanisme kala II presentasi kepala meliputi:

  • a. Engangement: pada primigravida terjadi 2 minggu menjelang aterm, sementara pada multipara akan terjadi pada awal persalinan.

  • b. Flexion: fleksi harus terjadi agar kepala mampu melewat panggul dengan diameter yang terkecil. Di samping itu, fleksi juga menjamin terjadinya engangement.

  • c. Descent: penurunan kepala lebih lanjut. Penurunan terjadi karena adanya his dan penipisan SBR, serta kontraksi perut otot. Faktor lain yang mempengaruhi adalah bentuk dan ukuran panggul, serta besar dan posisi kepala.

  • d. Internal rotation: terjadi bersama-sama dengan descent. Putar paksi dalam merupakan usaha penyesuaian kepala terhadap bidang-bidang panggul. Oksiput akan memutar ke depan atau ke belakang (sebagian kecil) sehingga sutura sagitalis dalam posisi anteroposterior. Putar paksi dalam selesai apabila bagian terendah telah mencapai spina iskiadika, yang artinya kepala telah enganged.

  • e. Extension: terjadi setelah kepala menyembul dari introitus, dengan oksiput di bawah simfisis.

  • f. External rotation: terjadi setelah kepala lahir, yang merupakan kebalikan putar paksi dalam. Dengan melihat rangkaian peristiwa tersebut maka penilaian kala II yang terpenting adalah:

Penurunan kepala

Putar paksi dalam

c. Descent: penurunan kepala lebih lanjut. Penurunan terjadi karena adanya his dan penipisan SBR, serta kontraksi

Batasan normal untuk lama kala II adalah:

Dua jam untuk primigravida, dan satu jam untuk multigravida.

Bila dalam satu jam (primi) atau ½ jam (multi) kepala tidak turun atau putar paksi tidak terjadi maka disebut kala II tidak maju.

Penalataksanaan Kala II

  • a. Kekuatan pada kala II adalah his dan hejan perut. Ibu disuruh mengejan hanya pada saat ada his supaya efisien dan tidak menimbulkan kelelahan.

  • b. Bla kepala sudah membuka pintu, pengeluaran jangan terlalu cepat. Bila oksiput telah keluar di bawah simfisis, ekstensi kepala diatur dengan perasa Ritgen agar tidak terlalu cepat yang dapat menyebabkan robekan perineum. Tangan kanan operator memegang perineum (dengan bantalan kain steril) dengan jari-jari di belakang anus ibu. Ekstensi kepala diatur dengan menekan muka bayi kea rah simfisis, sedangkan tangan yang lain mengontrol kecepatan lahirnya kepala.

  • c. Episiotomy dilakukan pada primigravida atau penderita dengan perineum yang kaku. Dilakukan bila kepala tampak dengan diameter 3-4 cm pada introitus (kepala membuka pintu).

  • d. Setelah kepala lahir, ia ditahan sambil mengadakan putar paksi luar.

  • e. Muka diusap dengan kain steril, lendir di hidung, mulut dan tenggorokan diidsap dengan halus.

  • f. Bila terdapat lilitan tali pusat, kendorkan atau klem dan potong.

  • g. Bahu dilahirkan dengan cara kepala dipegang pada kedua os parietale, atau satu tangan dimuka, tangan yang lain di oksiput. Kepala ditekan ke bawah untuk melahirkan bahu depan, lalu diangkat untuk melahirkan bahu belakang. Perlu ditekankan bahwa operator hanya menekan dan mengangkat kepala untuk memindahkan lahirnya bahu. Ia tidak boleh melakukan tarikan ke atas karena dapat merusak pleksus brakialis. Kekuatan yang mendorong keluar adalah tenaga mengejan atau dorongan ringan fundus oleh asisten.

  • h. Bila bahu telah lahir dengan mengait pada ketiak, badan dan keuda tungkai dengan mudah dapat dilahirkan.

  • i. Usaha resusitasi dilanjutkan, sementarai operator memotong tali pusat. Caranya klem di kedua tempat, kira-kira 10 cm dari pusat, kemudian potong di antara kedua klem tersebut.

3.

Kala III

Dalam kala III ini ada dua rangkaian peristiwa, yaitu lepasnya plasenta dan

pengeluarannya dari uterus ke dunia luar. Tanda-tanda plasenta lepas adalah:

  • a. Keluar darah syor dari vagina

  • b. Tali pusat memanjang

  • c. Uterus menjadi gobuler dan teraba lebih keras

  • d. Pada saat plasenta masuk dalam vagina, fundus uteri meninggi

Manajemen aktif kala III terdiri dari 3 langkah utama, yaitu:

  • a. Pemberian suntikan oksitosisn

  • b. Penegangan tali pusat terkendali

  • c. Rangsangan taktil (pemijatan fundus) uteri

Perdarahan Kala III Jumlah darah yang keluar setelah janin lahir rata-rata berkisar dari 200-400 ml. Bila lebih dari 500 ml, dapat dianggap patologis dan dikenal dengan perdarahan post partum. Penyebab terbanyak perdarah post partum adalah atonia uteri, robekan jalan lahir, dan sisa-sisa plasenta. Kelainan pembekuan darah dapat pula terjadi meskipun jarang. Penderita dengan kemungkinan atonia uteri disebut potential bleeders, yang meliputi:

Partus lama

Grande multipara

Hidramnion

Kehamilan ganda

Anemia

Hamil dengan mioma uteri

Persalinan dengan pacuan

Persalinan traumatic

Persalinan dengan analgesia

Pada keadaan di atas perlu diberikan uterotonika profilaksis, yaitu 2,5 unit oksitosin pada saat kepala membuka pintu da 0,2 mg metal ergonovin segera setelah plasenta lahir. Sebaiknya penderita sudah dalam lindungan infus yang berjalan lancar dan mempunyai persediaan darah.

4.

Kala IV

Dua jam pertama setelah persalinan merupakan waktu yang kritis bagi ibu dan bayi. Keduanya baru saja mengalami perubahan fisik yang luar biasa. Ibu melahirkan bayi dai perutnya dan bayi sedang menyesuaikan diri dari dalam perut ibu ke dunia luar. Petugas harus tinggal bersama ibu dan bayi untuk memastikan bahwa keduanya dalam kondisi yang stabil dan mengambil tindakan yang tepat untuk melakukan stabilisasi.

RUPTURA PERINEI

Ruptura perinea adalah robeknya perineum pada saat janin lahir.Berbeda dengan episiotomi, robekan ini sifatnya traumatik karena perineum tidak kuat menahan regangan

pada saat janin lewat. Penyebab:

  • 1. Maternal Partus presipitatus Partus yang tidak ditunggu Mengejan terlalu kuat Dorongan fundur terlalu kuat sehingga janin keluar terlalu cepat Perineum yang rapuh dan edema Varises vulva Arkus pubis yang sempit sehingga kepala terdorong ke belakang Episiotomy yang terlalu sempit sehingga robekan berlanjut

  • 2. Fetal Janin besar Posisi abnormal: oksipitosterior, presentasi muka, dan lain-lain Presentasi bokong Ekstraksi forceps yang sukar Distosia bahu Anomali konginetal seperti hidrosefalus

Robekan perineum dapat dibagi atas 3 tingkat:

  • 1. Tingkat I

: Robekan hanya terjadi pada selaput lendir vagina dengan atau tanpa mengenai kulit perineum.

  • 3. Tingkat III

tidak mengenai sfingter ani.

: Roberkan yang terjadi mengenai seluruh perineum sampai otot-otot sfingter ani.

3. Tingkat III tidak mengenai sfingter ani. : Roberkan yang terjadi mengenai seluruh perineum sampai otot-otot

Dalam penjahitan robekan perineum dianjurkan untuk menggunakan benang polyglicolic acid karena terbukti mengurangi sensasi nyeri pada ibu. Teknik menjahit robekan perineum adalah berikut:

  • 1. Tinkat I. Penjahitan robekan perineum tingkat I dapat dilakukan hanya dengan jahitan jelujur (continous suture) atau dengan cara angka delapan (figure of eight).

  • 2. Tingkat II. Sebelum dilakukan penjahitan pada robekan perineum tingkat II maupun tingkat III, jika dijumpai pinggir robekan yang tidak rata atau bergerigi, maka pinggir yang bergerigi tersebut harus diratakan terlebih dahulu, kemudian digunting. Setelah pinggiran robekan rata, baru dilakukan penjahitan luka robekan. Mula-mula otot-otot dijahit, kemudian selaput lendir vagina dijahit secara terputus-putus atau jelujur. Penjahitan selaput lendir vagina dimulai dari puncak robekan. Terakhir, kulit perineum dijahit secara terputus-putus atau intrakutan.

  • 3. Tingkat III. Mula-mula dinding depan rectum yang robek dijahit. Kemudian, fasia perirektal dan fasia septum rektovaginal dijahit sehingga bertemu kembali. Ujung-ujung otot sfringter ani yang terpisah karena robekan diklem dengan klem Pean lurus, kemudian dijahit 2-3 jahitan sehingga bertemu kembali. Selanjutnya, robekan dijahit lapis demi lapis seperti menjahit robekan perineum tingkat II.

VAGINOSIS BAKTERIAL

Definisi:

Vaginosis

bakterial

adalah peradangan

vagina

yang disebabkan

oleh bakteri

Gardnerella,

yang

normalnya

ditemukan

dalam

vagina

dan

menyebabkan

gejala

bila

pertumbuhan bakteri ini berlebihan.Penyakit ini biasa menyerang wanita yang sedang dalam masa produktif. Tanda dan gejala :

  • 1. pasien mungkin asimtomatik

  • 2. gejala utama yang tampak berupa rabas vagina berwarna kuning atau abu abu dan berbau amis

  • 3. mukosa vagina dapat terlihat normal

  • 4. Vaginosis bakterial biasanya tidak disertai nyeri terbakar atau gatal

  • 5. bila terdapat vaginosis bakterial, kaji adanya infeksi penyerta.

Peemeriksaan laboratorium

  • 1. penemuan bakterial vaginosis positif

    • a. Uji bau ( penciuman) positif bila rabas vagina dicampur kalium hidroksida

    • b. Temuan mikroskopis pada sedian basah sel penanda ( sel epitel yang tampak “berpasir” karena sel ini diselubungi oleh bakteri gardnerella

    • c. Kultur tidak reliabel, karenabakteri gardnerella ditemukan pada 60% kultur vagina yang normal

    • d. Pap smear 90% akurat dalam mendiagnosis vaonosis bakterial.

Penatalaksanaan Metronidazole (Flagyl, Metrogel-Vaginal) per oral atau per vagina adalah obat pilihan. Bila pasien tidak bisa menggunakan flagyl, berikan krim vagina cleocin vaginal ovules selama 3 hari Terapi untuk pasangan pria adalaah dengan menggunakan kondom sampai satu mingguan setelah terapi selesai.

Tinidazole (Tindamax), diminum sekali sehari selama 2-5 hari

Clindamycin (Cleocin, Clindesse), krim yang dioleskan pada vagina selama 7 hari.

KETUBAN PECAH DINI

Definisi: Ketuban pecah dini adalah keadaan pecahnya selaput ketuban sebelum persalinan. Bila ketuban pecah dini terjadi sebelum usia kehamilan 37 minggu maka disebut ketuban pecah dini pada kehamilan premature Ketuban atau cairan amnion adalah cairan yang memenuhi rahim yang diproduksi sel sel trofoblas. Cairan ini merupakan sumber makanan janin dalam kandungan. Sejak berusia 12 minggu, janin mulai minum air ketuban dan mengeluarkannya melalui air seni. Cairan itu

berada dalam kantung, yang disebut kantung ketuban, yang terdiri dari jaringan tipis kurang dari 1 milimeter. Dinding kantung ketuban tidak berisi pembuluh darah sehingga tidak ada perdarahan ketika pecah. Ketika usia kehamilan semakin tua, dinding ketuban semakin tipis namun masih cukup kuat menahan tekanan yang semakin besar dari janin, sampai saat waktu persalinan. Bahkan ada dinding ketuban yang harus dipecahkan dokter bila saat persalinan ketuban belum pecah. Disebut ketuban pecah dini atau premature rupture of membrane, jika ketuban pecah sebelum benar benar masuk dalam tahap persalinan. Ada juga yang disebut preterm premature rupture of membrane, yakni ketuban pecah saat usia kehamilan belum masa aterm atau kehamilan di bawah 38 42 minggu.

  • A. Tanda dan Gejala Tanda dan gejala yang selalu ada ketika terjadi ketuban pecah dini adalah keluarnya cairan ketuban merembes melalui vagina, cairan vagina berbau amis dan tidak seperti bau amoniak, mungkin cairan tersebut masih merembes atau menetes, disertai dengan demam atau menggigil, bercak vagina yang banyak, denyut jantung janin bertambah cepat, juga nyeri pada perut, keadaan seperti ini dicurigai mengalami infeksi. Cairan ini tidak akan berhenti atau kering karena terus diproduksi sampai kelahiran. Tetapi bila ibu duduk atau berdiri, kepala janin yang sudah terletak di bawah biasanya “mengganjal” atau “menyumbat” kebocoran untuk sementara. Ada pula tanda dan gejala yang tidak selalu timbul pada ketuban pecah dini seperti ketuban pecah secara tiba-tiba, kemudian cairan tampak diintroitus dan tidak adanya his dalam satu jam. Keadaan lain seperti nyeri uterus, denyut jantung janin yang semakin cepat serta perdarahan pervaginam sedikit tidak selalu dialami ibu dengan kasus ketuban pecah dini. Namun, harus tetap diwaspadai untuk mengurangi terjadinya komplikasi pada ibu maupun janin.

  • B. Faktor-faktor predisposisi ketuban pecah dini

    • a. Infeksi (amnionitis atau korioamnionitis). Korioamnionitis adalah keadaan pada perempuan hamil dimana korion, amnion dan cairan ketuban terkena infeksi bakteri.Korioamnionitis merupakan komplikasi paling serius bagi ibu dan janin, bahkan dapat berlanjut menjadi sepsis.Membrana khorioamnionitik terdiri dari jaringan viskoelastik. Apabila jaringan ini dipacu oleh persalinan atau infeksi maka jaringan akan menipis dan sangat rentan untuk pecah disebabkan adanya aktivitas enzim kolagenolitik. Grup B streptococcus

mikroorganisme yang sering menyebabkan amnionitis.Selain itu Bacteroides fragilis, Lactobacilli dan Staphylococcus epidermidisadalah bakteri-bakteri yang sering ditemukan pada cairan ketuban pada kehamilan preterm.Bakteri-bakteri tersebut dapat melepaskan mediator inflamasi yang menyebabkan kontraksi uterus.Hal ini menyebabkan adanya perubahan dan pembukaan serviks, dan pecahnya selaput ketuban.

  • b. Riwayat ketuban pecah dini Riwayat ketuban pecah dini sebelumnya beresiko 2-4 kali mengalami ketuban pecah dini kembali.Patogenesis terjadinya ketuban pecah dini secara singkat ialah akibat adanya penurunan kandungan kolagen dalam membranesehingga memicu terjadinya ketuban pecah dini dan ketuban pecah dini preterm terutama pada pasien risiko tinggi. Wanita yang mengalami ketuban pecah dini pada kehamilan atau menjelang persalinan maka pada kehamilan berikutnya wanita yang telah mengalami ketuban pecah dini akan lebih beresiko mengalaminya kembali antara 3-4 kali dari pada wanita yang tidak mengalami ketuban pecah dini sebelumnya, karena komposisi membran yang menjadi mudah rapuh dan kandungan kolagen yang semakin menurun pada kehamilan berikut.

  • c. Tekanan intra uterin Tekanan intra uterin yang meningkat secara berlebihan (overdistensi uterus) misalnya hidramnion dan gemeli. Pada kelahiran kembar sebelum 37 minggu sering terjadi pelahiran preterm, sedangkan bila lebih dari 37 minggu lebih sering mengalami ketuban pecah dini. Perubahan pada volume cairan amnion diketahui berhubungan erat dengan hasil akhir kehamilan yang kurang bagus.Baik karakteristik janin maupun ibu dikaitkan dengan perubahan pada volume cairan amnion.Polihidramnion dapat terjadi akibat kelainan kongenital, diabetes mellitus, janin besar (makrosomia), kehamilan kembar, kelainan pada plasenta dan tali pusat dan penggunaan obat-obatan (misalnya propiltiourasil). Kelainan kongenital yang sering menimbulkan polihidramnion adalah defek tabung neural, obstruksi traktus gastrointestinal bagian atas, dan kelainan kromosom (trisomi 21, 18, 8, 13) komplikasi yang sering terjadi pada polihidramnion adalah malpresentasi janin, ketuban pecah dini, prolaps tali pusat, persalinan pretem dan gangguan pernafasan pada ibu.

  • d. Serviks yang tidak lagi mengalami kontraksi (inkompetensia) Serviks yang tidak lagi mengalami kontraksi (inkompetensia), didasarkan pada adanya ketidakmampuan serviks uteri untuk mempertahankan kehamilan.Inkompetensi serviks sering menyebabkan kehilangan kehamilan pada trimester kedua. Kelainan ini dapat berhubungan dengan kelainan uterus yang lain seperti septum uterus dan bikornis. Sebagian besar kasus merupakan akibat dari trauma bedah pada serviks pada konisasi, produksi eksisi loop elektrosurgical, dilatasi berlebihan serviks pada terminasi kehamilan atau laserasi obstetrik. Faktor resiko inkompetensi serviks meliputi riwayat keguguran pada usia kehamilan 14 minggu atau lebih, adanya riwayat laserasi serviks menyusul pelahiran pervaginam atau melalui operasi sesar, adanya pembukaan serviks berlebihan disertai kala dua yang memanjang pada kehamilan sebelumnya, ibu berulang kali mengalami abortus elektif pada trimester pertama atau kedua, atau sebelumnya ibu mengalami eksisi sejumlah besar jaringan serviks.

  • e. Kehamilan dengan janin kembar Pada kehamilan kembar, evaluasi plasenta bukan hanya mencakup posisinya tetapi juga korionisitas kedua janin.Pada banyak kasus adalah mungkin saja menentukan apakah janin merupakan kembar monozigot atau dizigot.Selain itu, dapat juga ditentukan apakah janin terdiri dari satu atau dua amnion.Upaya membedakan ini diperlukan untuk memperbaiki resiko kehamilan.Pengawasan pada wanita hamil kembar perlu ditingkatkan untuk mengevaluasi resiko persalinan preterm.Gejala persalinan preterm harus ditinjau kembali dengan cermat setiap kali melakukan kunjungan (Nugroho, 2010). Wanita dengan kehamilan kembar beresiko tinggi mengalami ketuban pecah dini juga preeklamsi. Hal ini biasanya disebabkan oleh peningkatan massa plasenta dan produksi hormon. Oleh karena itu, akan sangat membantu jika ibu dan keluarga dilibatkan dalam mengamati gejala yang berhubungan dengan preeklamsi dan tanda- tanda ketuban pecah.

  • f. Usia ibu yang ≤ 20 tahun Usia ibu yang ≤ 20 tahun, termasuk usia yang terlalu muda dengan keadaan uterus yang kurang matur untuk melahirkan sehingga rentan mengalami ketuban pecah dini. Sedangkan ibu dengan usia ≥ 35 tahun tergolong usia yang terlalu tua untuk melahirkan khususnya pada ibu primi (tua) dan beresiko tinggi mengalami ketuban pecah dini.

Usia dan fisik wanita sangat berpengaruh terhadap proses kehamilan pertama, pada kesehatan janin dan proses persalinan. World Health Organisation (WHO) memberikan rekomendasi sebagaimana disampaikan seorang ahli kebidanan dan kandungan dari RSUPN Cipto Mangunkusumo, Sampai sekarang, rekomendasi WHO untuk usia yang dianggap paling aman menjalani kehamilan dan persalinan adalah 20 hingga 30 tahun. Kehamilan di usia kurang dari 20 tahun dapat menimbulkan masalah karena kondisi fisik belum 100% siap. Beberapa resiko yang bisa terjadi pada kehamilan di usia kurang dari 20 tahun adalah kecenderungan naiknya tekanan darah dan pertumbuhan janin terhambat. Bisa jadi secara mental pun wanita belum siap.Ini menyebabkan kesadaran untuk memeriksakan diri dan kandungannya menjadi rendah. Di luar urusan kehamilan dan persalinan, risiko kanker leher rahim pun meningkat akibat hubungan seks dan melahirkan sebelum usia 20 tahun ini. Berbeda dengan wanita usia 20-30 tahun yang dianggap ideal untuk menjalani kehamilan dan persalinan. Di rentang usia ini kondisi fisik wanita dalam keadaan prima. Rahim sudah mampu memberi perlindungan atau kondisi yang maksimal untuk kehamilan.Umumnya secara mental pun siap, yang berdampak pada perilaku merawat dan menjaga kehamilannya secara hati-hati.Usia 30-35 tahun sebenarnya merupakan masa transisi “Kehamilan pada usia ini masih bisa diterima asal kondisi tubuh dan kesehatan wanita yang bersangkutan termasuk gizinya, dalam keadaan baik”. Mau tidak mau, suka atau tidak suka, proses kehamilan dan persalinan berkaitan dengan kondisi dan fungsi organ-organ wanita. Artinya, sejalan dengan bertambahnya usia, tidak sedikit fungsi organ yang menurun. Semakin bertambah usia, semakin sulit hamil karena sel telur yang siap dibuahi semakin sedikit. Selain itu, kualitas sel telur juga semakin menurun. Itu sebabnya, pada kehamilan pertama di usia lanjut, resiko perkembangan janin tidak normal dan timbulnya penyakit kelainan bawaan juga tinggi, begitu juga kondisi-kondisi lain yang mungkin mengganggu proses kehamilan dan persalinan seperti kelahiran preterm ataupun ketuban pecah dini .

C. Komplikasi

Komplikasi yang timbul akibat ketuban pecah dini bergantung pada usia kehamilan.

Komplikasi yang sering terjadi diantaranya:

  • a. Persalinan premature Setelah ketuban pecah biasanya segera disusul oleh persalinan. Periode laten tergantung umur kehamilan. Pada kehamilan aterm 90% terjadi dalam 24 jam setelah

ketuban pecah. Pada kehamilan antara 28 34 minggu 50% persalinan dalam 24 jam.Pada kehamilan kurang dari 26 minggu persalinan terjadi dalam 1 minggu.

  • b. Infeksi Resiko infeksi pada ibu dan anak meningkat pada ketuban pecah dini.Pada ibu terjadi konrioamnionitis.Pada bayi dapat terjadi septicemia, pneumonia.Umumnya terjadi korioamnianitis sebelum janin terinfeksi.Pada ketuban pecah dini prematur, infeksi lebih sering dari pada aterm. Secara umum insiden infeksi sekunder pada ketuban pecah dini meningkat sebanding dengan lamanya periode laten.

  • c. Hipoksia dan Asfiksia Dengan pecahnya ketuban terjadi oligohidroamnion yang menekan tali pusathingga terdaji asfiksia atau hipoksia. Terdapat hubungan antara terjadinya gawat janin dan derajat oligohidroamnion, semakin sedikit air ketuban , janin semakin gawat.

  • d. Sindrom Deformitas Janin Ketuban pecah dini yang terjadi terlalu dini menyebabkan pertumbuhan janin terhambat, kelainan disebabkan kompresi muka dan anggota badan janin . Komplikasi paling sering terjadi pada KPD sebelum usia kehamilan 37 minggu adalah sindrom distress pernapasan, yang terjadi pada 10-40% bayi baru lahir. Risiko infeksi meningkat pada kejadian KPD.Semua ibu hamil dengan KPD prematur sebaiknya dievaluasi untuk kemungkinan terjadinya korioamnionitis (radang pada korion dan amnion).Selain itu kejadian prolaps atau keluarnya tali pusar dapat terjadi pada KPD.Risiko kecacatan dan kematian janin meningkat pada KPD preterm.Hipoplasia paru merupakan komplikasi fatal yang terjadi pada KPD preterm. Kejadiannya mencapai hampir 100% apabila KPDpreterm ini terjadi pada usia kehamilan kurang dari 23 minggu.

Jangan Melakukan Pemeriksaan Dalam dengan Jari, karena tidak membantu diagnosis dan dapat menimbulkan infeksi

PEMERIKASAAN DALAM UNTUK KETUBAN PECAH DINI

Palpasi abdomen untuk menentukan volume cairan amnion. Apabila pecah ketuban telah pasti, terdapat kemungkinan mendeteksi kekurangan cairan karena terdapat peningkatan molase uterus dan dinding abdomen disekitar janin dan penurunan kemampuan ballotemen

dibandingkan temuan pada pemeriksaan sebelum pecah ketuban.Ketuban yang pecah tidak menyebabkan perubahan yang seperti ini dalam temuan abdomen. Pemeriksaan speculum steril:

  • a. Inspeksi keberadaan tanda-tanda cairan digenital eksternal

  • b. Lihat servik untuk mengetahui aliran cairan dari orifisium

  • c. Lihat adanya genangan cairan amnion di forniks vagina

  • d. Jika tidak terlihat cairan, mintalah pasien untuk mengejan (perasat valsalva). Secara bergantian beri tekanan pada fundus perlahan-lahan atau naikkan dengan perlahan- lahan bagian presentasi pada abdomen untuk memungkinkan cairan melewati bagian presentasi pada kasus kebocoran berat sehingga dapat mengamati kebocoran cairan.

  • e. Observasi cairan yang keluar untuk melihat lanugo atau vernik kaseosa jika UK > 32 minggu.

  • f. Visualisasi serviks untuk menentukan dilatasi jika pemeriksaan dalam tidak akan dilakukan.

  • g. Visualisasi serviks untuk mendeteksi prolaps tali pusat atau ektstremitas janin

PEMERIKSAAN PENUNJANG UNTUK KETUBAN PECAH DINI

  • 1. Pemeriksaan Laboratorium Cairan yang keluar dari vagina perlu diperiksa: warna, konsentrasi, baudan pHnya. Cairan yang keluar dari vagina ini kecuali air ketuban mungkin juga urine atau secret vagina. Secret vagina ibu hamil pH : 4-5, dengan kertas nitrazin tidak berubah warna, tetap kuning.

  • 2. Tes Lakmus (tes Nitrazin), jika kertas lakmus merah berubah menjadi biru menunjukkan adanya air ketuban (alkalis). pH air ketuban 7-7,5, darah dan infeksi vagina dapat menghasilkan tes yang positif palsu.

  • 3. Mikroskopik (tes pakis) dengan meneteskan air ketuban pada gelas objek dan dibiarkan kering.pemeriksaan mikroskopik menunjukkan gambaran daun pakis.

  • 4. Pemeriksaan USG pemeriksaan ini dimaksudkan untuk melihat jumlah cairan ketuban dalam kavum uteri.

  • 5. Specimen untuk kultur streptokokus Grup B

PENATALAKSANAAN KETUBAN PECAH DINI

Penatalaksanaan ketuban pecah dini menurut Hanifa Wiknjosastro (2007 :220).

KETUBAN PECAH DINI

   

<37 MINGGU

   

≥37 MINGGU

 

Infeksi

Tidak ada infeksi

 

Infeksi

Tidak

ada

infeksi

Berikan

penisilin,

Amoksisilin +

 

Berikan

Lahirkan

gentamisin

dan

eritromisin untuk 7

penisilin,

bayi

metronidazol

hari

gentamisin

dan

Lahirkan bayi

Steroid untuk

metronidazol.

Berikan

pematangan paru

Lahirkan bayi

penisilin

atau

ampisilin.

ANTIBIOTIKA SETELAH PERSALINAN

 

Profilaksis

Infeksi

   

Tidak ada infeksi

 

Stop antibiotic

Lanjutkan

untuk

 

Tidak ada antibiotic

 

24-48

jam

setelah

 

bebas panas

Penanganan

ketuban

pecah

dini

memerlukan

pertimbangan

usia

gestasi

dan

adanya infeksi pada komplikasi ibu

II.

KASUS

KEHAMILAN DAN PERSALINAN PADA USIA TUA DENGAN TAFSIRAN JANIN BESAR DAN KETUBAN PECAH DINI

Kondisi Ny. Kris di UGD

Ny. Kris (37 tahun) G2P1A0, usia kehamilan 40 pekan. Tiba-tiba Ny. Kris merasakan ada cairan yang keluar dari jalan lahirnya dalam jumlah banyak di rumah.Ny. Kris segera dibawa

ke UGD oleh keluarganya.Di UGD sudah dilakukan pemeriksaan dalam, didapatkan selaput ketuban sudah pecah, tetapi serviks belum ada pembukaan, ibu belum merasakan kontraksi uterus. Kondisi janin baik, DJJ: 144 kali/menit, pergerakan (+), tafsiran berat janin 3800 gram. Sebagai profilaksis ibu mendapatkan antibiotik Amoxicillin 500 mg.

Kondisi Ny. Kris di Maternal Intensive Care Unit

Keluhan utama:

Pasien mengeluh tadi siang saat sedang bekerja, ada cairan yang keluar dari jalan lahir dalam

jumlah banyak.Cairan tidak berwarna tetapi teraba licin.Pasien belum merasakan adanya kenceng-kenceng, dan lendir darah belum keluar.

Riwayat Penyakit

Selama hamil Ny. Kris pernah mengalami ISK beberapa kali.Teridentifikasi adanya bakteri vaginosis.Kehamilan ini sangat diharapkan karena sudah 10 tahun keluarga ini menunggu kehadiran anak kedua.Ny. Kris sadar bahwa di usianya yang tidak muda lagi banyak sekali

resiko yang mengancam proses kelahiran anaknya ini, oleh karena itu dia sangat khawatir terhadap proses persalinannya. Riwayat Kehamilan Sekarang:

  • 1. Trimester 1: Keluhan hanya mual ringan, tetap mau makan dan minum.

  • 2. Trimester 2: Pernah beberapa sakit saat berkemih dan sudah dilakukan pengobatan oleh dokter.

  • 3. Trimester 3: Mulai sakit pinggang apabila banyak beraktivitas, tidur tidak nyenyak dan sering merasakan kelelahan setelah seharian beraktivitas.

Riwayat Kehamilan dan Persalinan Yang Lalu

Hamil ini merupakan kehamilan yang kedua, anak pertama laki-laki sepuluh tahun yang lalu secara normal ditolong oleh dokter di rumah sakit ini.Pada saat kehamilan pertama tidak pernah mengalami masalah seperti ini, hanya mual-mual ringan pada awal kehamilan.Keadaan anak saat ini sehat dan sudah sangat siap untuk mempunyai adik baru.

Kondisi Saat Ini

Ny. Kris keadaan umum baik, hasil pemeriksaan tanda-tanda vital TD: 120/80 mm Hg, N: 88

kali/menit, saat ini Ny. Kris dianjurkan untuk mengurangi aktivitas. Setelah dilakukan observasi selama 4 jam ibu mulai merasakan kontraksi uterus yang terus. Pembukaan serviks 3cm. perawat kembali melakukan monitoring kemajuan persalinan dan terusmemotivasi Ny.Kris untuk tetap percaya diri bahwa ia mampu menjali proses persalinannya dengan baik. 2 jam kemudian ibu mengatakan sudah ingin mengejan, pembukaan sudah lengkap, anus membuka. Lahir bayi perempuan dengan berat badan lahir 3900 gram, A/S 7/9 tidak terdapat kelainan bawaan pada bayi. Ibu mengalami rupture grade III pada jalan lahir.

 

III.

PENGKAJIAN

Kartu Status Klien:

PEDOMAN PENGKAJIAN ASUHAN KEPERAWATAN MATERNITAS PADA PERIODE INTRANATAL

DATA UMUM :

Inisial Klien Umur Pekerjaan

: Ny. K : 37 tahun :

Pendidikan Terakhir

:

DATA UMUM KESEHATAN

  • 1. Tinggi/Berat Badan ………. cm/ ……………….kg

  • 2. Berat Badan Sebelum Hamil …………………

..

kg

DATA UMUM MATERNITAS

Kehamilan sekarang direncanakan (ya/tidak): Ya

Status Obstretikus:

Tinggi fundus:

DJJ: 144 kali/menit HIS: (-)

Usia Kehamilan: 40 minggu

     

Tempat

 

Komplikasi

   

Jenis

Cara

Persalinan

BB

selama

Keadaan

No

Kelamin

Lahir

dan

Lahir

proses

Saat Ini

Umur

Penolong

persalinan

1

Laki-laki

 

Rumah

   

Sehat dan

10

Sakit oleh

sudah siap

tahun

dokter.

untuk

mempunyai

adik baru

2
2
  • 3. Mengikuti kelas prenatal (ya/tidak):

  • 4. Jumlah kunjungan selama kehamilan ini:

  • 5. Masalah Kehamilan yang lain …….

    • a. Trimester 1: Keluhan mual ringan tetapi masih mau makan dan minum

    • b. Trimester 2: Pernah beberapa sakit saat berkemih dan sudah dilakukan pengobatan oleh dokter

    • c. Trimester 3: Mulai sakit pinggang apabila banyak beraktivitas, tidur tidak nyenyak, dan sering merasakan kelelahan setelah seharian beraktivitas

RIWAYAT PERSALINAN SEKARANG

  • 1. Mulai Persalinan (kontraksi/pengeluaran pervaginam): Pengeluaran pervaginam (+), cairan tidak berwarna, teraba licin Kontraksi (-)

  • 2. Keadaan Kontraksi (frekuensi dalam 10 menit, lamanya, kekuatan):

  • 3. Frekuensi dan kekuatan denyut jantung janin:144 x/menit

  • 4. Pemeriksaan Fisik: Kenaikan Berat Badan selama kehamilan ……….kg Tanda Vital: TD = 120 mmHg; N = 88 x/menit; suhu =

Kontraksi

  • a. : ………….

  • b. Ekstremitas (……………) Refleks Patella

  • c. : …………….

  • 5. Pemeriksaan Dalam

o C; P =

kali/menit

 

Hasil

Kelunakan Serviks

:

Pembukaan Serviks

:

Pendataran Serviks

:

Selaput Amnion

:

Amnion

:

Lendir Darah

:

Posisi Janin Terdepan Ubun-ubun Kecil

:

:

LAPORAN PERSALINAN

Tanggal

Kala

Jam

 

Hasil Observasi

       
  • 1. Fase Laten

 

Kontraksi mulai teratur setelah observasi 4 jam

Pembukaan serviks: 3 cm

 
  • 2. Fase Aktif

I

 

Keinginan mengejan 2 jam kemudian

Pembukaan lengkap

 

II

   

Anus membuka

 

III

   
 

IV

 

Ruptur grade III jalan lahir

IV.

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

Periode Antenatal

 

Data

Masalah Keperawatan

Trimester 1

Data Subyektif:

Nausea b.d. kehamilan

Keluhan mual ringan Data Obyektif:

-

Trimester 2

Data Subyektif:

Gangguan eliminasi urin b.d. infeksi

Sakit saat berkemih Data Obyektif:

saluran kemih

Ada kultur bakterial vaginosis ISK

Trimester 3

Data Subyektif:

Kelelahan b.d. kehamilan

Sakit pinggang apabila banyak beraktivitas Merasa kelelahan setelah seharian beraktivitas Tidur tidak nyenyak Data Obyektif:

-

Periode Intranatal

Data

Masalah Keperawatan

Data Subyektif:

Resiko infeksi b.d. persalinan

-

Data Obyektif:

Pecah kantung ketuban Rupture jalan lahir grade III

Data Subyektif:

Resiko perdarahan b.d. persalinan di usia tua

-

Data Obyektif:

Kehamilan di usia > 35 tahun/grande

multipara

 

Rupture jalan lahir grade III (komplikasi persalinan)

Periode Postnatal

Data

Masalah Keperawatan

Data Subyektif:

Kerusakan integritas jaringan b.d. robekan jalan

-

lahir

Data Obyektif:

Jahitan di perineum akibat rupture jalan lahir grade III

Data Subyektif:

Resiko infeksi b.d. gangguan pertahanan primer

-

tubuh selama periode post partum.

Data Obyektif:

Jahitan di perineum akibat rupture jalan lahir grade III

Format Rencana Asuhan Keperawatan Maternitas:

Periode Antenatal

No.

Diagnosa Keperawatan

Tujuan dan Kriteria Hasil

 

Intervensi

   
  • 1. Status Maternal: Antepartum Definisi: Peningkatan kesejahteraan maternal berada pada batasan normal dari

Peningkatan kemampuan koping

1.

Manajemen Mual Definisi: Pencegahan dan pengurangan mual. Aktivitas:

konsepsi hingga persalinan. Kriteria hasil:

terhadap ketidaknyamanan yang dialami saat kehamilan.

Mendorong pasien untuk memonitor mual yang dialami. Mendorong pasien untuk menggunakan strategi dalam mengatasi mual yang dialami. Melakukan pengkajian lengkap terkait mual, seperti

1.

Nausea b.d. kehamilan

  • 2. Tingkat Keparahan Mual dan Muntah Definisi: Tingkat keparahan tanda dan gejala mual dan muntah. Kriteria hasil:

frekuensi, durasi, tingkat keparahan, dan faktor presipitasi. Mengkaji riwayat pra penanganan secara lengkap. Mengevaluasi dampak mual terhadap kualitas hidup

Penurunan intensitas mual. Penurunan frekuens mual.

(nafsu makan, aktivitas, performa kerja). Mengidentifikasi strategi yang dapat mengurangi

  • 3. Nafsu Makan Definisi: Keinginan untuk makan. Kriteria hasil:

mual. Mengajarkan pasien teknik-teknik nonfarmakologi untuk mengontrol mual (mis.biofeedback, hypnosis,

Klien tetap mempertahankan keinginan

relaksasi, terapi musik).

   

untuk makan. Klien tetap menikmati makan dengan baik. Pemasukan makanan tetap dipertahankan

Memonitor pemasukan nutrisi dan kalori. Menimbang berat badan secara teratur. Memberikan infomasi terkait mual, seperti penyebab dan berapa lama mual akan dirasakan.

klien. Pemasukan cairan tetap dipertahankan klien.

  • 2. Memonitor Nutrisi Definisi: Mengumpulkan dan menganalisis data klien terkait pemasukan nutrisi Aktivitas:

Memontior pertumbuhan dan perkembangan. Mengkaji peningkatan berat badan normal selama periode antepartum.

  • 3. Memonitor Cairan Definisi: Mengumpulkan dan menganalisis data klien terkait keseimbangan cairan. Aktivitas:

Memonitor input dan output cairan

  • 4. Manajemen nutrisi Definisi: Menyediakan dan mempromosikan pemasukan nutrisi yang seimbang. Aktivitas:

Mengkaji status nutrisi dan kemampuan klien untuk

     

memenuhi nutrisi tersebut. Mengkaji makanan kesukaan klien. Mengidentifikasi makanan yang menyebabkan alergi bagi klien. Mendampingi pasien dalam menentukan kebutuhan nutrisi yang tepat dalam memenuhi kebutuhan nutrisi. Menentukan jumlah kalori dan nutrisi yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi. Menginstruksikan pasien untuk memenuhi kebutuhan nutrisi khusus yang sesuai dengan tahap perkembangan (kehamilan trimester 1).

   

1. Tingkat Keparahan Gejala Definisi: Tingkat keparahan fisik,

1. Manajemen Eliminasi Urin

2.

Gangguan eliminasi urin b.d. infeksi saluran kemih

emesional, dan sosial yang merugikan. Kriteria hasil:

Pengurangan intensitas gejala nyeri saat berkemih. Penurunan frekuensi gejala nyeri. Penurunan rasa ketidaknyamanan yang berhubungan dengan gejala nyeri saat berkemih.

Definisi: Mempertahankan eliminasi yang optimal. Aktivitas:

Memonitor eliminasi urin, seperti frekuensi, konsistensi, bau, volume, dan warna. Mengajarkan klien tanda dan gejala infeksi saluran kemih. Menginstruksikan klien untuk memonitor tanda dan gejala infeksi saluran kemih. Mengajarkan klien untuk mengambil specimen urin

   
  • 2. Tingkat Keparahan Infeksi Definisi: Tingkat keparahan tanda dan gejala infeksi yang berat. Kriteria hasil:

saat muncul tanda dan gejala infeksi kambuhan. 2. Perawatan Perineal Definisi:Mempertahankan integritas kulit perineal dan pengurangan ketidaknyamanan pada perineal.

Penurunan kolonisasi kultur urin.

Aktivitas:

  • 3. Eliminasi Urin Definisi:Pola pengumpulan dan pengeluaran urin. Kriteria hasil:

 

Menentukan penggunaan obat-obatan (antibakteri atau antikuman). Membantu klien dalam kebersihan diri. Mempertahankan perinium tetap kering.

Peningkatan pola eliminasi urin. Pengurangan bau tidak sedap urin. Frekuensi pengeluaran urin normal.

Menyediakan obat penurun nyeri. Mempertahankan klien dalam posisi yang nyaman. Menginstruksikan klien atau orang terdekat terkait infeksi patologi pada perineum (contohnya infeksi dan pengeluaran yang abnormal).

   
  • 1. Tingkat Kelelahan Definisi: Tingkat keparahan kelelahan secara umum yang terobservasi atau yang

1.

Manajemen Energi Definisi: Meregulasi penggunaan energy untuk menangani atau mencegah kelelahan dan meningkatkan

3.

Kelelahan b.d. kehamilan

dilaporkan. Kriteria hasil:

fungsi. Aktivitas:

Penurunan kelelahan. Peningkatan aktivitas sehari-hari.

Mengkaji status fisiologis klien untuk defisit yang berdampak pada kelelahan dalam konteks umur dan

   

Peningkatan kualitas istirahat. Peningkatan kualitas tidur.

 

tahap perkembangan. Menggunakan pengukuran yang valid untuk mengukur kelelahan. Memilih intervensi untuk pengurangan kelelahan menggunakan kombinasi farmakologi dan nonfarmakologi. Memonitor klien terkait adanya kelelahan fisik dan emosional. Mendampingi klien untuk memahami tentang penyimpanan energi. Mengajarkan klien metode pengaturan dan manajemen waktu yang mencega kelelahan. Menganjurkan bed rest/pembatasan aktivitas. Mendampingi klien dalam menyusun jadwal istirahat. Memonitor pola tidur klien dan lama waktu tidur

2.

Peningkatan Tidur Definisi: Memfasilitasi siklus tidur/bangun yang teratur. Aktivitas:

Mengkaji pola tidur klien. Mengatur lingkungan yang meningkatkan tidur (mis. lampu, bunyi bising, tempat tidur).

     

Mengimplementasikan tindakan-tindakan yang mebuat nyaman seperti masase, pengaturan posisi dan sentuhan afektif. Mendiskusikan dengan klien dan keluarganya terkait teknik yang menguatkan tidur. Menyediakan informasi terkait teknik penguatan tidur.

Perode Intranatal

No.

Diagnosa Keperawatan

Tujuan dan Kriteria Hasil

Intervensi

   
  • 1. Tingkat Keparahan Infeksi Definisi: Tingkat keparahan tanda dan gejala infeksi yang berat. Kriteria hasil:

  • 1. Proteksi terhadap Infeksi Definisi: Pencegahan dan deteksi dini infeksi pada pasien berisiko. Aktivitas:

Demam

Memonitor tanda dan gejala infeksi sistemik maupun

1.

Resiko infeksi b.d. persalinan

Nyeri Ketidakstabilan suhu tubuh Hipotermia Pengeluaran yang berbau aneh Kolonisasi kultur pada perlukaan

lokal. Memonitor kerentanan terhadap infeksi. Mempertahankan prinsip asepsis. Mengambil sampel kultur apabila dibutuhkan. Melaporkan kultur positif kepada petugas pengawas.

  • 2. Perawatan Diri: Hygiene

  • 2. Perawatan Postpartal

   

Definisi: Tindakan personal yang mempertahankan kebersihan diri dan pemeliharaan penampilan dengan maupun

Petugas mencuci tangan.

 

Definisi: Menyediakan perawatan bagi ibu selama durasi 6 minggu yang dimulai segera setelah persalinan. Aktivitas:

tanpa alat bantu/bantuan. Kriteria hasil:

Petugas mempertahankan kebersihan area perineal. Petugas mempertahankan kebersihan diri klien.

Memonitor tanda-tanda vital. Memonitor perineum dan jaringan disekitarnya. Memonitor nyeri klien. Memasukkan obat anelgesik. Melakukan perawatan perineal.

   

1. Tingkat Keparahan Darah yang Hilang Definisi: Tingkat keparahan tanda dan gejala perdarahan internal maupun

1.

Tindakan Pencegahan Perdarahan Definisi: Mengurai stimulus yang menyebabkan

2.

Resiko perdarahan b.d. persalinan di usia tua

eksternal. Kriteria hasil:

Kehilangan darah yang terlihat Darah mengucur dari anus Perdarahan vaginal Penurunan tekanan darah sistolik Penurunan tekanan darah diastolic Kehilangan suhu tubuh

perdarahan atau resiko hemorrhage pada pasien. Aktivitas:

Memonitor tanda dan gejala perdarahan yang persisten. Mempertahankan bed rest selama perdarahan aktif. Masukkan produk darah, apabila diperlukan. Menghindari pengambilan suhu melalui rectal.

   

Kepucatan pada kulit dan mukus

 
  • 2. Status Sirkulasi Definisi: Aliran darah yang tidak terhambat dan berada pada tekanan yang tepat melewati pembuluh besar pada sirkuit pulmonari. Kriteria hasil:

Saturasi oksigen Pengisian kapiler

Periode Postnatal

No.

Diagnosa Keperawatan

 

Tujuan dan Kriteria Hasil

 

Intervensi

   
  • 1. Integritas Jaringan: Kulit dan Membran

1.

Perawatan Perineal

Mukosa Definisi: Keutuhan struktur dan fungsi fisiologikal kulit dan membrane mukosa.

Definisi : Mempertahankan integritas kulit perineal dan pengurangan ketidaknyamanan pada perineal. Aktivittas :

1.

Kerusakan integritas jaringan b.d. robekan jalan lahir

Kriteria hasil:

Memonitor Tanda tanda vital

Suhu kulit

Memonitor perinium atau insisi pembedahan dan

Sensasi

 

penggantian jaringan ex: kemerahan, udem,dan

Elastisitas

pengeluaran.

 

Tekstur

 

Memonitor nyeri pasien

   

Hidrasi

 

Instruksikan pasien untuk perawatan perineal agar

Perfusi jaringan Pertumbuhan rambit pada kulit

mencegah infeksi dan mengurangi ketidaknyamanan. Memonitor status emosi klien

Integritas kulit

Mendiskusiskan aktivitas dan kebutuhan istirahat.

Pigmentasi abnormal Lesi kulit

2.

Skin surveillance

• • Lesi membrane mukosa Necrosis 2. Penyembuhan Luka: Intensi Sekunder Definisi: Peningkatan regenerasi sel dan jaringan dari luka terbuka. Kriteria hasil:

Granulasi Formasi luka Pengecilan ukuran luka Drainase purulen Drainase serous Inflamasi luka Bau luka yang tidak sedap

Definisi: memilih dan menganalisi data pasien untuk mempertahankan kulit dan jaringan membran mukosa Aktivitas:

Inspeksi kulit dan membran mukosa terhadap adanya kemerahan, udem atau drainase Memonitor warna kulit dan suhu Memonitor kulit untuk kekeringan dan kelembaban yang berlebihan Memonitor infeksi khususnya area udem Mendokumentasikan membran mukosa atau kulit Instruksikan anggota keluarga tanda kerusakan kulit.

   

1. Kontrol Infeksi: Proses Infeksius

1.

Kontrol infeksi

Definisi: Tindakan personal yang memahami, mencegah, mengeliminasi atau mengurangi ancaman infeksi.

Definisi: meminimalkan pajanan dan transmisi dari agen infeksi. Aktivitas:

Kriteria hasil:

Memastikan tehnik perawatan luka dengan benar

Klien mencari informasi tentang kontrol

Menggunakan sabun anti mikroba yang tepat untuk

Resiko infeksi b.d. gangguan

infeksi

 

membersihkan tangan.

Klien mengidentifikasi faktor resiko dari

 

Disinfeksi kulit pasien

2.

pertahanan primer tubuh selama periode post partum.

infeksi

Dukung asupan cairan

Klien mengetahui faktor resiko diri

Dukung pasien untuk beristirahat

terhadap infeksi Klien memonitor lingkungan yang berhubungan dengan resiko infeksi Klien mempraktikkan sanitasi tangan Klien mempraktikkan strategi pengontol infeksi

Ajarkan klien dan anggota keluarga bagaimana mencegah infeksi