Anda di halaman 1dari 54

WORKPLAN KEPERAWATAN JIWA

BLOK 4.5

KELOMPOK: 4
Putri Mazayani

(13861)

Kurniati Rachmat

(13865)

Okki Dhona Laksmita

(13867)

Ulfa Nurul Fatimah

(13872)

Mutik Sri Pitajeng

(13876)

Fitri Dwi Purwanti

(13882)

Ardani Latifah Hanum

(13887)

Louise Henriette Marsha Amanda

(13891)

Asri Herlindawati

(13894)

Hanif Alisa Ardhya G. S

(13896)

Albila Husna Prajani

(13899)

Diah Sari Ambarwati

(13902)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014

KASUS A
Tn. Hpt 40 tahun, dibawa ke ruang Teratai (bangsal jiwa). Klien sudah terlihat tenang saat
dibawa ke ruangan. Saat di dalam ruangan rawat inap klien menunjukkan perilaku
menyeringai sendiri, lambat dalam menjawab pertanyaanperawat, dan gerakan bola mata
yang cepat, kadang ketawa sendiri dan sulit untuk memfokuskan pembicaraan. Dari rekam
medis didapatkan bahwa dokter mendiagnosa pasien tersebut dengan diagnosa Schizophrenia
tak terinci.
TEORI
Schizoprenia
Shizopria merupakan salah satu penyakit kronis, parah dan penonaktifan gangguan otak yang
berakibat pada kehidupan seseorang. Seseorang dengan gangguan ini ditandai dengan
mendengar suara tetapi orang lain tidak mendengarnya. Penderita beranggapan bahwa orang
lain dapat membaca pikirannya, mengontrol pikirannya atau menempatkannya pada suatu
kondisi yang gawat. Salah satu tanda dari penderita schizoprenia adalah mereka tidak ada
rasa ketika berbicara, mereka bisa duduk sampai berjam-jam tanpa berbicara dan bergerak,
dan terkadang mereka terlihat baik-baik saja sampai mereka menyampaikan apa yang mereka
pikirkan.
Gejala dari schizoprenia dapat dikategorikan menjadi 3 yaitu:
a. Gejala positif
Gejala positif merupakan perilaku psikotik dan tidak terlihat pada orang yang sehat.
Seseorang yang memiliki gejala positif seringkali lose touch dengan realita yang ada.
Gejala ini dapat datang dan pergi. Terkadang gejala ini parah tetapi terkadang juga tidak
terdekteksi, tergantung pada penerimaan pasien terhadap treatment. Hal ini meliputi :
- Halusinasi merupakan gejala dimana seseorang dapat melihat, mendengar, membau
atau merasakan yang orang lain tidaka dapat lakukan. Suara merupakan salah satu
halusinasi yang sering terjadi pada penderita schizoprenia.
- Delusi merupayang bukan merupakan bagikan keyakinan y6ang salah terhadap sesuatu
yang bukan merupakan bagian kebudayaan orang tersebut. Orang dengan schizoprenia
dapat meimiliki delusi yang tampak aneh, seperti mereka percaya bahwa tetangga
mereka dapat mengontrol perilaku mereka dengan gelombang magnetik. Mereka juga
percaya bahwa orang-orang ditelevisi mengararhkan pesan khusus terhadap mereka.
Geljala lain dari delusi adalah mereka percaya bahwa mereka adalah orang lain, atau
tokoh sejarah yang terkenal. Delusi paranoid adalh keadaan dimana mereka percaya
bahwa ada orang lain yang akan menyakiti atau menipu mereka.

- Gangguan berfikir adalah cara berfikir yang tidak biassa atau adanya disfungsi berfikir.
Salah satu bentuk gangguan ini adalah disprganized thingking. Hal ini menyebabkan
mereka sulit untuk mengatur pikiran mereka. Tanda yang muncul adalah penderita
tiba-tiba berhenti berbicara dan mereka tidak tahu apa sebabnya.
- Ganggguan pergerakan adalah gangguan dimana seseorang mengulang gerakan tertentu
secara berulang-ulang. Pada suatu keadaan yang lebih buruk disebut juga katatonia
dimana seseorang tidak dapat bergerak dan tidak merespon terhadap orang lain.
b. Gejala negatif
Gejala negatif berhubungan dengan gangguan emosi dan perilaku. Gejala ini sulit untuk
dibedakan dengan gejala depresi dan kondisi lainnya. Affect datar adalah seseorang
berbicara dengan wajah yang tidak berubah ketika dia sedang berbicara dengan saura yang
monoton. Pada penderita ini mereka kurang senang dengan kehidupannya, kurang mampu
untuk memulai dan mempertahankan kegiatan yang direncanakan, sedikit berbicara.
c. Gejala kognitif
Gejala kognitif bersifat halus. Seperti halnya gejala negatif, gejala kognitif sulit untuk
dikenali sebagai gangguan. Gejala kognitif meliputi:
- Kurang memilki fungsi eksekutif (kemampuan untuk mengetahui informasi dan
menggunakannya untuk mengambil keputusan)
- Sulit untuk fokus dan memperhatikan
- Bermaslah dengan memori kerja (kemampuan untuk menggunakan informasi segera
setelah belajar)
Penanganan pada Schizoprenia
a. Pengobatan antipsikotik
Obat yang digunakan adalah Chlorpomazine, Haloperidol, Perphenazine, dan
Fluphenazine. Pada tahun 1990-an terdapat obat generasi kedua yang digunakan
daitaranya adalah clozapine yang efektif dapat mengobati gejala psikotik, halusinasi.
Akan tetapi obat ini menyebabkan agranulositosis yang menyebabkan kehilangan sel
darah putih dan menyebabkan seseorang mudah terkena infeksi.
b. Penanganan psikososial
Penanganan psikososial dapat dilakukan pada penderita schizoprenia yang stabil.
Trerapi psikososial

membantu penderita untuk berkomunikasi, perawatan diri,

pekerjaan dan membentuk dan menjaga hubungan. Penanganan ini meliputi CBT,
pendidikan keluarga self-help group, dan lain-lain.
Diagnostik Kriteria Schizoprenia

ICD 10
DSM-IV
Minimal terdapat satu gejala yang nampak a. Karakteristik gejala: terdapat dua atau lebih
dari gejala (a) sampai (d) atau setidaknya

dari gejala berikut, yang nampak dalam

2 dari 9e) samapi (i) yang nampak dalam

periode satu bulan atau kurang jika berhasil

waktu satu bulan atau lebih.

diobati:

a. Thought echo, pemikiran penyisipan

disorganisasi

atau penarikan dan penyiaran pikiran


b. Kontrol delusi, berpengaruh atau

disorganisasi perilaku atau katatonik 5)

tubuh atau ekstremitas atau pemikiran

yang signifikansejak awal gangguan, salah

yang spesifik, tindakan atau sensasi,

satu yang terganggu seperti pekerjaan,

1)

delusi

2)

dalam

halusinasi
berbicara

3)
4)

gejala negatif
positif yang disebabkan karena gerakan b. Disfungsi sosial/ pekerjaan. Untuk porsi

persepsi delusi
c. Halusianasi
suara

hubungan interpersonal atau perawatan diri


mempengaruhi

yang nyata yang dicapai sebelum onset.


perilaku pasien atau adanya diskusi c. Durasi. Gangguan terjadi secara terus
diantara mereka, atau halusinasi suara

menerus selama minimal 6 bulan. Periode 6

dapat datang dari bagian dari tubuh

bulan ini mencakup minimal 1 bulan gejala

mereka sendiri
d. Delusi persisten dari jenis l;ainnya

yang memenuhi kriteria A seperti gejala fase

seperti agama, politik atau pahlawan


e. Persisten halusianasi dalam modalitas
ketika pasien delusi tanpa afektif yang
jelas atau ketika terjadi beberapa
minggu atau bulan.
f. Istirahat atau interpolasi

gejala sisa. Selama gejala prodromal atau


periode

residual,

tanda-tanda

mungkin

dimanifestasikan oleh gejala negatif atau dua


atau lebih gejala yang tercantum dalam

dalam

berpikir, sehingga terjadi inkoherensi


dan pidato yang tidak relevan
g. Perilaku
katatonik,

aktif, dan termasuk periode prodromal atau

kriteria A.
d. Schizoafektif dan eksklusi gangguan mood.
Schizoafektif

dan

gangguan

mooddapat

seperti

dikesampingkan karena (1) tidak ada depresi

kegembiraan, sikap atau, negtativisme,

mayor, manik atau episode atau gejala

bersifat bisu, atau pingsan


h. Gejala negatif ditandai dengan apatis,

campuran yang terjadi bersama dengan

kurang berbicara, inkongruen pada


respon emosi, berakibat pada penarikan

gejala fase aktif (2) jika episode mood terjadi


selama gejala fase aktif, total durasinya
relatif berkurang dari periode aktif dan

sosial dan penurunan kinerja sosial

residual
yang bukan disebabkan karena depresi e. Eksklusi kondisi zat atau medis umum.
atau neuroleptik obat
i. Perubahan secara signifikan

Gangguan ini tidak berhubungan langsung


dan

dengan efek psikologi dari obat atau kondisi

ICD 10
konsisten dalam kualitas seluruh aspek
kehidupan

personal

pasien

seperti

perilaku, manifestasi hilangnya minat,


tanpa

tujuan,

penarikan sosial

malas,

egois

dan

DSM-IV
pengobatan secara umum.
f. Hubungan dengan gangguan perkembangan
pervasive. Jika terdapat riwayat gangguan
autistik

atau

gangguan

perkembangan

pervasif lainnya. Diagnosis schizoprenia


tambahan dibuat jika delusi atau halusinasi
juga nampak paling tidak satu bulan satu
bulan.

1. Format Analisa Data


Tanggal

Data

Masalah Keperawatan

DS: DO:
Tenang saat dibawa ke ruangan
Perilaku menyeringai sendiri saat di dalam

Impaired verbal communication

ruangan
Lambat dalam menjawab pertanyaan
Gerakan bola mata yang cepat
Kadang-kadang ketawa sendiri
Sulit fokus dalam pembicaraan
Dari rekam medis didapat diagnosa

related to altered perceptions

Schizophrenia tak terinci


*Diagnosa ini diangkat karena klien sulit fokus dalam pembicaraan dan kurangnya eye
conmtact dalam diskusi
1. Format Rencana Asuhan Keperawatan Jiwa
No

Diagnosa

Tujuan dan

Intervensi

Keperawatan (PES)
Impaired verbal

Kriteria Hasil
NOC:

NIC:

communication related

Communication

Communication: complex relationship

to altered perceptions

building
Def:

Def: Mengalami

Penerimaan,

Def: Membangun hubungan terapeutik

penurunan, penundaan,

interpretasi, dan

dengan pasien untuk mempromosikan

atau ketidakmampuan

ekspresi dari pesan

pemahaman dan perubahan perilaku

untuk menerima,

lisan, tertulis, dan

memproses,

non verbal

mentransmisikan, dan /

mengidentifikasi sikap pasien terhadap

atau menggunakan

Indikator:

sistem simbol

penggunaan bahasa

Defining

lisan
mengakui pesan

characteristics:
kesulitan dalam

Aktivitas:

yang diterima
interpretasi akurat
dari pesan yang

diri pasien dan terhadap lingkungan,


ulangi sesuai kebutuhan
deal dengan perasaan pribadi yang
ditimbulkan oleh pasien yang dapat
mengganggu efektivitas interaksi
terapeutik
memberikan kenyamanan fisik

No

Diagnosa

Tujuan dan

Keperawatan (PES)
memahami pola

Kriteria Hasil
diterima

komunikasi yang
biasanya
kesulitan dalam
mempertahankan pola
komunikasi yang
biasanya
verbalisasi yang tidak
sesuai
Related factors:
Perubahan persepsi

Intervensi
sebelum interaksi
ciptakan iklim kehangatan dan
penerimaan
pertahankan postur tubuh/ sikap
terbuka
awasi pesan non verbal pasien
mencari klarifikasi terhadap pesan non
verbal
merespon pesan non verbal pasien
kembalikan percakapan ke topik
utama, sesuai kebutuhan
kembangkan cara-cara khusus dalam
komunikasi (imajinasi, kata-kata lain)
membangun kesepakatan yang dapat
diterima bersama pada waktu dan
lamanya pertemuan yang sesuai
menetapkan waktu interaksi
berikutnya sebelum mengakhiri setiap
kali pertemuan
meringkas percakapan pada akhir
diskusi
mengidentifikasi kesiapan pasien
untuk mengeksplorasi masalah yang
diidentifikasi dan mengembangkan
strategi untuk perubahan
membantu pasien untuk mengenali
perasaan yang menghambat
kemampuan untuk berinteraksi dengan
orang lain (kemarahan, kecemasan,
permusuhan atau kesedihan)

2. Rencana Interaksi
No.
1

Kriteria
Tahap Pre Interaksi
Mengumpulkan data tentang

Praktek
Saya sudah eksplorasi perasaan, fantasi dan ketakutan

klien
Mengeksplorasi perasaan,

bernama Tn. Hpt usia 40 thn dgn diagnosa Shizophrenia

diri. Dan saya sudah membaca data-data klien. Klien

No.

Kriteria
fantasi dan ketakutan diri
Membuat rencana
pertemuan dengan klien

Praktek
tak terinci. Saya sudah membuat rencana pertemuan dgn
klien ini pada hari,jam dan tanggal (sebutkan) di ruang
perawatan. Saya sudah bersedia bertemu dengan dgn
klien. Dan saya siap untuk memulai interaksi dengan

Tahap Orientasi
Mengucapkan salam &

klien.
Assalamualaikum, Perkenalkan, saya perawat Maya
Sutari dari PSIK UGM 2010, Bapak bisa memanggil

bersalaman pada klien


Memperkenalkan nama

saya perawat Maya


Bapak hari ini saya ingin berkenalan dgn Bapak. Bapak

perawat
Menanyakan/memanggil

namanya siapa, saya bisa memanggil Bapak dengan

nama panggilan kesukaan


klien
Melakukan validasi
perasaan, kognitif, afektif/
psikomotor
Menjelaskan tanggung
jawab & peran perawat serta
klien
Menjelaskan kegiatan yg
akan dilakukan
Menjelaskan tujuan
wawancara
Menjelaskan kerahasiaan

panggilan apa?
Baik Bp. Hpt, bagaimana perasaan/kabar Bapak pagi
ini? Bagaimana dengan tidurnya semalam? Sudah lebih
baikkah kondisi Bapak saat ini?
Bp. Hpt, saya di sini bertanggung jawab merawat
Bapak dan Bapak sebagai pasien jg bertanggung jawab
atas kesehatan Bapak sendiri. Saya akan melakukan
asuhan keperawatan Bapak dan sbg pasien, peran Bapak
memberikan informasi dan bekerjasama dlm diskusi hari
ini. Untuk itu, saya meminta waktu Bapak sekitar 5
menit untuk melakukan kegiatan ini.
Bapak, kegiatan yg akan kita lakukan pagi ini adalah
mengobrol mengenai perasaan dan apa yang bapak biasa
lakukan sehari-hari
Tujuan dari bincang-bincang yg akan kita lakukan
adalah

mengumpulkan

data bapak untuk asuhan

keperawatan
Saya akan menjaga kerahasiaan informasi baik dari
data maupun hasil dari obrolan kita pagi ini untuk
kepentingan medis dan hukum. Sekiranya bapak merasa
ada yang mau diungkapkan, bapak bisa bilang kepada
3

Tahap Kerja
Memberikan kesempatan
pada klien untuk bertanya
Memulai kegiatan dgn cara

saya, saya harap bapak mau terbuka dalam obrolan ini


Baiklah sudah jelas dgn apa yg kita bicarakan, sebelum
kita mulai obrolan kita, apa ada hal yg ingin Bapak
tanyakan?

No.

Kriteria
yg baik
Menanyakan keluhan utama
(kapan, deskripsi keluhan,
dsb)
Mengkaji riwayat penyakit
pasien (penyakit terdahulu)
Mengkaji pengobatan yg

Praktek
Baik bapak jika tdk ada, bagaimana kalau kita mulai
saja bincang-bincangnya sekarang?
Yang saya liat bapak terlihat ketawa sendiri, yang bapak
rasakan saat ini, apa? Adakah yang bapak lihat atau
dengar sehingga bapak tertawa?
(lanjutkan halusinasi masih tingkat I dilihat dari
gejala pasien)

sedang/sebelumnya
digunakan klien (respon stlh
4

pengobatan)
Tahap Terminasi
Menyimpulkan hasil
wawancara (evaluasi proses
dan hasil)
Memberikan reinforcement

10:00. Bagaimana perasaan Bapak setelah sharing?


Bapak baik sekali sudah mau terbuka
Besok kita mengobrol lagi, mau ya bapak? tempatnya
bisa di ruang perawatan jam 8 atau Silahkan waktu dan

positif
Merencanakan tindak lanjut

tempat bapak yang mengaturnya


Kalau begitu, besok di ruang perawatan jam 8 pagi

dgn klien
Melakukan kontrak lanjutan

bapak bertemu dengan perawat Maya untuk melanjutkan

dgn klien (waktu, tempat,


topic)
Mengakhiri wawancara dgn
5

Baiklah bapak, obrolan kita pagi ini sampai pukul

cara yg baik
Dimensi Respon
Berhadapan
Mempertahankan kontak
mata
Tersenyum pada saat yg
tepat
Membungkuk ke arah klien
pd saat yg tepat
Mempertahankan sikap
terbuka

Situasi 1

obrolan seputar halusinasi yang bapak Hpt rasakan.

Saat interaksi perawat melihat pasien menunjukkan keadaan berkeringat, tremor, tidak
mampu mengikuti instruksi atau pembicaraan perawat atau orang lain. Klien hanya bisa
ditarik perhatiannya jika disentuh.
1. Kemungkinan tingkat halusinasi yang dialami pasien saat ini
Tingkat halusinasi: tahap III Controlling dengan tingkah laku yang diamati antara lain
gejala fisik, cemas berat seperti berkeringat, tremor, ketidakmampuan mengikuti perintah
2. Hal apa saja yang perlu dilakukan oleh perawat pada fase tersebut, dan gunakan Form
rencana interaksi

Kriteria
Tahap Pre Interaksi
Mengumpulkan data tentang klien
Mengeksplorasi perasaan, fantasi dan

ketakutan diri
Membuat rencana pertemuan dengan
klien

Praktek
Saya sudah eksplorasi perasaan, fantasi dan
ketakutan diri. Dan saya sudah membaca datadata klien. Klien bernama Tn. Hpt usia 40 thn
dgn diagnosa Shizophrenia tak terinci. Saya
sudah membuat rencana pertemuan dgn klien ini
pada hari,jam dan tanggal (sebutkan) di ruang
perawatan. Saya sudah bersedia bertemu dengan
dgn klien. Dan saya siap untuk memulai interaksi

Tahap Orientasi
Mengucapkan salam & bersalaman

dengan klien
Assalamualaikum,

Bapak

Hpt,

bertemu

kembali dengan saya, perawat Maya


Bp. Hpt, bagaimana perasaan/ kabar Bapak pagi

pada klien
Memperkenalkan nama perawat
Menanyakan/ memanggil nama

panggilan kesukaan klien


Melakukan validasi perasaan, kognitif,

afektif/ psikomotor
Menjelaskan tanggung jawab & peran

perasaan yang bapak alami


Tujuan dari bincang-bincang yg akan kita

perawat serta klien


Menjelaskan kegiatan yg akan

lakukan adalah mengumpulkan data bapak untuk

dilakukan
Menjelaskan tujuan wawancara
Menjelaskan kerahasiaan

Tahap Kerja
Memberikan kesempatan pada klien

untuk bertanya
Memulai kegiatan dgn cara yg baik
Menanyakan keluhan utama (kapan,

deskripsi keluhan, dsb)


Mengkaji riwayat penyakit pasien

(penyakit terdahulu)
Mengkaji pengobatan yg sedang/

ini? Bagaimana dengan tidurnya semalam?


Sudah lebih baikkah kondisi Bapak saat ini?
Bapak, kegiatan yg akan kita lakukan pagi ini
adalah melanjutkan obrolan kita mengenai

asuhan keperawatan
Saya akan menjaga kerahasiaan informasi baik
dari data maupun hasil dari obrolan kita pagi ini
untuk kepentingan medis dan hukum
Baiklah sudah jelas dgn apa yg kita bicarakan,
sebelum kita mulai obrolan kita, apa ada hal yg
ingin Bapak tanyakan?
Baik bapak jika tdk ada, bagaimana kalau kita
mulai saja bincang-bincangnya sekarang?
Kemarin bapak mengatakan bapak mendengar
sesuatu, seperti apa yang bapak dengar?
(lanjutkan halusinasi
tahap III dengan
manajemen halusinasi)

sebelumnya digunakan klien (respon


stlh pengobatan)
Tahap Terminasi
Menyimpulkan hasil wawancara
(evaluasi proses dan hasil)

Baiklah bapak, selesai obrolan kita pagi ini.


Bagaimana perasaan bapak setelah sharing?
Bapak baik sekali sudah mau terbuka

Kriteria
Memberikan reinforcement positif
Merencanakan tindak lanjut dgn klien
Melakukan kontrak lanjutan dgn klien

(waktu, tempat, topik)


Mengakhiri wawancara dgn cara yg
baik

Praktek
Bapak besok ketemu dengan saya lagi di ruang
perawatan jam 9:00, besok kita akan bertemu
dengan keluarga bapak dan keluarga pasien yang
lain
Kalau begitu, besok di ruang perawatan jam
9:00 pagi bapak bertemu dengan perawat Maya
ya pak

Dimensi Respon
Berhadapan
Mempertahankan kontak mata
Tersenyum pada saat yg tepat
Membungkuk ke arah klien pd saat yg

tepat
Mempertahankan sikap terbuka

Tindakan Keperawatan Pasien Halusinasi


2. Tindakan Keperawatan untuk Pasien
a. Tujuan tindakan untuk pasien meliputi:
1) Pasien mengenali halusinasi yang dialaminya
2) Pasien dapat mengontrol halusinasinya
3) Pasien mengikuti program pengobatan secara optimal
b. Tindakan Keperawatan
1) Membantu pasien mengenali halusinasi.
Untuk membantu pasien mengenali halusinasi Saudara dapat melakukannya dengan
cara berdiskusi dengan pasien tentang isi halusinasi (apa yang didengar/dilihat),
waktu terjadi halusinasi, frekuensi terjadinya halusinasi, situasi yang menyebabkan
halusinasi muncul dan respon pasien saat halusinasi muncul
2) Melatih pasien mengontrol halusinasi. Untuk membantu pasien agar mampu
mengontrol halusinasi Saudara dapat melatih pasien empat cara yang sudah terbukti
dapat mengendalikan halusinasi. Keempat cara tersebut meliputi:
a) Menghardik halusinasi
Menghardik halusinasi adalah upaya mengendalikan diri terhadap halusinasi
dengan cara menolak halusinasi yang muncul. Pasien dilatih untuk mengatakan
tidak terhadap halusinasi yang muncul atau tidak mempedulikan halusinasinya.
Kalau ini dapat dilakukan, pasien akan mampu mengendalikan diri dan tidak
mengikuti halusinasi yang muncul. Mungkin halusinasi tetap ada namun dengan
kemampuan ini pasien tidak akan larut untuk menuruti apa yang ada dalam
halusinasinya.

Tahapan tindakan meliputi:

Menjelaskan cara menghardik halusinasi

Memperagakan cara menghardik

Meminta pasien memperagakan ulang

Memantau penerapan cara ini, menguatkan perilaku pasien

b) Bercakap-cakap dengan orang lain


Untuk mengontrol halusinasi dapat juga dengan bercakap-cakap dengan orang
lain. Ketika pasien bercakap-cakap dengan orang lain maka terjadi distraksi;
fokus perhatian pasien akan beralih dari halusinasi ke percakapan yang
dilakukan dengan orang lain tersebut. Sehingga salah satu cara yang efektif
untuk mengontrol halusinasi adalah dengan bercakap-cakap dengan orang lain.
c) Melakukan aktivitas yang terjadwal
Untuk mengurangi risiko halusinasi muncul lagi adalah dengan menyibukkan
diri dengan aktivitas yang teratur. Dengan beraktivitas secara terjadwal, pasien
tidak akan mengalami banyak waktu luang sendiri yang seringkali mencetuskan
halusinasi. Untuk itu pasien yang mengalami halusinasi bisa dibantu untuk
mengatasi halusinasinya dengan cara beraktivitas secara teratur dari bangun
pagi sampai tidur malam, tujuh hari dalam seminggu.
Tahapan intervensinya sebagai berikut:

Menjelaskan pentingnya aktivitas yang teratur untuk mengatasi halusinasi.

Mendiskusikan aktivitas yang biasa dilakukan oleh pasien

Melatih pasien melakukan aktivitas

Menyusun jadwal aktivitas sehari-hari sesuai dengan aktivitas yang telah


dilatih.

Upayakan pasien mempunyai aktivitas dari bangun pagi sampai tidur


malam, 7 hari dalam seminggu.

Memantau pelaksanaan jadwal kegiatan; memberikan penguatan terhadap


perilaku pasien yang positif.

d) Menggunakan obat secara teratur


Untuk mampu mengontrol halusinasi pasien juga harus dilatih untuk
menggunakan obat secara teratur sesuai dengan program. Pasien gangguan jiwa
yang dirawat di rumah seringkali mengalami putus obat sehingga akibatnya
pasien mengalami kekambuhan. Bila kekambuhan terjadi maka untuk mencapai
kondisi seperti semula akan lebih sulit. Untuk itu pasien perlu dilatih
menggunakan obat sesuai program dan berkelanjutan.
Berikut ini tindakan keperawatan agar pasien patuh menggunakan obat:

Jelaskan guna obat

Jelaskan akibat bila putus obat

Jelaskan cara mendapatkan obat/berobat

Jelaskan cara menggunakan obat dengan prinsip 5 benar (benar obat, benar
pasien, benar cara, benar waktu, benar dosis)

SP 1 Pasien: Membantu pasien mengenal halusinasi, menjelaskan cara-cara mengontrol


halusinasi, mengajarkan pasien mengontrol halusinasi dengan cara pertama:
menghardik halusinasi
Orientasi:
Assalamualaikum D. Saya perawat yang akan merawat D. Nama Saya SS, senang dipanggil
S. Nama D siapa? Senang dipanggil apa
Bagaimana perasaan D hari ini? Apa keluhan D saat ini
Baiklah, bagaimana kalau kita bercakap-cakap tentang suara yang selama ini D dengar
tetapi tak tampak wujudnya? Di mana kita duduk? Di ruang tamu? Berapa lama?
Bagaimana kalau 30 menit
Kerja:
Apakah D mendengar suara tanpa ada ujudnya?Apa yang dikatakan suara itu?
Apakah terus-menerus terdengar atau sewaktu-waktu? Kapan yang paling sering D dengar
suara? Berapa kali sehari D alami? Pada keadaan apa suara itu terdengar? Apakah pada
waktu sendiri?
Apa yang D rasakan pada saat mendengar suara itu?
Apa yang D lakukan saat mendengar suara itu? Apakah dengan cara itu suara-suara itu
hilang? Bagaimana kalau kita belajar cara-cara untuk mencegah suara-suara itu muncul?
D, ada empat cara untuk mencegah suara-suara itu muncul. Pertama, dengan menghardik
suara tersebut. Kedua, dengan cara bercakap-cakap dengan orang lain. Ketiga, melakukan
kegiatan yang sudah terjadwal, dan yang ke empat minum obat dengan teratur.
Bagaimana kalau kita belajar satu cara dulu, yaitu dengan menghardik.
Caranya sebagai berikut: saat suara-suara itu muncul, langsung D bilang, pergi saya tidak
mau dengar, Saya tidak mau dengar. Kamu suara palsu. Begitu diulang-ulang sampai
suara itu tak terdengar lagi. Coba D peragakan! Nah begitu, bagus! Coba lagi! Ya bagus
D sudah bisa
Terminasi:

Bagaimana perasaan D setelah peragaan latihan tadi? Kalau suara-suara itu muncul
lagi, silakan coba cara tersebut ! Bagaimana kalu kita buat jadwal latihannya. Mau jam
berapa saja latihannya? (Saudara masukkan kegiatan latihan menghardik halusinasi dalam
jadwal kegiatan harian pasien). Bagaimana kalau kita bertemu lagi untuk belajar dan
latihan mengendalikan suara-suara dengan cara yang kedua? Jam berapa D? Bagaimana
kalau dua jam lagi? Berapa lama kita akan berlatih?Dimana tempatnya
Baiklah, sampai jumpa. Assalamualaikum
SP 2 Pasien: Melatih pasien mengontrol halusinasi dengan cara kedua:
bercakap-cakap dengan orang lain
Orientasi:
Assalammualaikum D. Bagaimana perasaan D hari ini? Apakah suara-suaranya masih
muncul? Apakah sudah dipakai cara yang telah kita latih? Berkurangkan suara-suaranya
Bagus ! Sesuai janji kita tadi saya akan latih cara kedua untuk mengontrol halusinasi dengan
bercakap-cakap dengan orang lain. Kita akan latihan selama 20 menit. Mau dimana? Disini
saja?
Kerja:
Cara kedua untuk mencegah/mengontrol halusinasi yang lain adalah dengan bercakapcakap dengan orang lain. Jadi kalau D mulai mendengar suara-suara, langsung saja cari
teman untuk diajak ngobrol. Minta teman untuk ngobrol dengan D. Contohnya begini;
tolong, saya mulai dengar suara-suara. Ayo ngobrol dengan saya! Atau kalau ada orang
dirumah misalnya Kakak D katakan: Kak, ayo ngobrol dengan D. D sedang dengar suarasuara. Begitu D. Coba D lakukan seperti saya tadi lakukan. Ya, begitu. Bagus! Coba sekali
lagi! Bagus! Nah, latih terus ya D!
Terminasi:
Bagaimana perasaan D setelah latihan ini? Jadi sudah ada berapa cara yang D pelajari
untuk mencegah suara-suara itu? Bagus, cobalah kedua cara ini kalau D mengalami
halusinasi lagi. Bagaimana kalau kita masukkan dalam jadwal kegiatan harian D. Mau jam
berapa latihan bercakap-cakap? Nah nanti lakukan secara teratur serta sewaktu-waktu
suara itu muncul! Besok pagi saya akan ke mari lagi. Bagaimana kalau kita latih cara yang
ketiga yaitu melakukan aktivitas terjadwal? Mau jam berapa? Bagaimana kalau jam 10.00?
Mau di mana/ Di sini lagi? Sampai besok ya. Assalamualaikum
SP 3 Pasien : Melatih pasien mengontrol halusinasi dengan cara ketiga:

melaksanakan aktivitas terjadwal


Orientasi: Assalamualaikum D. Bagaimana perasaan D hari ini? Apakah suara-suaranya
masih muncul ? Apakah sudah dipakai dua cara yang telah kita latih ? Bagaimana
hasilnya? Bagus! Sesuai janji kita, hari ini kita akan belajar cara yang ketiga untuk
mencegah halusinasi yaitu melakukan kegiatan terjadwal. Mau di mana kita bicara? Baik
kita duduk di ruang tamu. Berapa lama kita bicara? Bagaimana kalau 30 menit? Baiklah.
Kerja: Apa saja yang biasa D lakukan? Pagi-pagi apa kegiatannya, terus jam berikutnya
(terus ajak sampai didapatkan kegiatannya sampai malam). Wah banyak sekali kegiatannya.
Mari kita latih dua kegiatan hari ini (latih kegiatan tersebut). Bagus sekali D bisa lakukan.
Kegiatan ini dapat D lakukan untuk mencegah suara tersebut muncul. Kegiatan yang lain
akan kita latih lagi agar dari pagi sampai malam ada kegiatan.
Terminasi: Bagaimana perasaan D setelah kita bercakap-cakap cara yang ketiga untuk
mencegah suara-suara? Bagus sekali! Coba sebutkan 3 cara yang telah kita latih untuk
mencegah suara-suara. Bagus sekali. Mari kita masukkan dalam jadwal kegiatan harian D.
Coba lakukan sesuai jadwal ya! (Saudara dapat melatih aktivitas yang lain pada pertemuan
berikut sampai terpenuhi seluruh aktivitas dari pagi sampai malam) Bagaimana kalau
menjelang makan siang nanti, kita membahas cara minum obat yang baik serta guna obat.
Mau jam berapa? Bagaimana kalau jam 12.00 pagi? Di ruang makan ya! Sampai jumpa.
Wassalammualaikum.
SP 4 Pasien: Melatih pasien menggunakan obat secara teratur
Orientasi:
Assalammualaikum D. Bagaimana perasaan D hari ini? Apakah suara-suaranya masih
muncul? Apakah sudah dipakai tiga cara yang telah kita latih? Apakah jadwal kegiatannya
sudah dilaksanakan? Apakah pagi ini sudah minum obat? Baik. Hari ini kita akan
mendiskusikan tentang obat-obatan yang D minum. Kita akan diskusi selama 20 menit
sambil menunggu makan siang. Disini saja ya D?
Kerja:
D

adakah

bedanya

setelah

minum

obat

secara

teratur. Apakah

suara-suara

berkurang/hilang ? Minum obat sangat penting supaya suara-suara yang D dengar dan
mengganggu selama ini tidak muncul lagi. Berapa macam obat yang D minum? (Perawat
menyiapkan obat pasien) Ini yang warna orange (CPZ) 3 kali sehari jam 7 pagi, jam 1 siang
dan jam 7 malam gunanya untuk menghilangkan suara-suara. Ini yang putih (THP) 3 kali
sehari jam nya sama gunanya untuk rileks dan tidak kaku. Sedangkan yang merah jambu

(HP) 3 kali sehari jam nya sama gunanya untuk pikiran biar tenang. Kalau suara-suara
sudah hilang obatnya tidak boleh diberhentikan. Nanti konsultasikan dengan dokter, sebab
kalau putus obat, D akan kambuh dan sulit untuk mengembalikan ke keadaan semula. Kalau
obat habis D bisa minta ke dokter untuk mendapatkan obat lagi. D juga harus teliti saat
menggunakan obat-obatan ini. Pastikan obatnya benar, artinya D harus memastikan bahwa
itu obat yang benar-benar punya D. Jangan keliru dengan obat milik orang lain. Baca nama
kemasannya. Pastikan obat diminum pada waktunya, dengan cara yang benar. Yaitu
diminum sesudah makan dan tepat jamnya. D juga harus perhatikan berapa jumlah obat
sekali minum, dan harus cukup minum 10 gelas per hari
Terminasi:
Bagaimana perasaan D setelah kita bercakap-cakap tentang obat? Sudah berapa cara yang
kita latih untuk mencegah suara-suara? Coba sebutkan! Bagus! (jika jawaban benar). Mari
kita masukkan jadwal minum obatnya pada jadwal kegiatan D. Jangan lupa pada waktunya
minta obat pada perawat atau pada keluarga kalau di rumah. Nah makanan sudah datang.
Besok kita ketemu lagi untuk melihat manfaat 4 cara mencegah suara yang telah kita
bicarakan.

Mau

jam

berapa?

Bagaimana

kalau

jam

10.00.

Sampai

jumpa.

Wassalammualaikum.
3. Demonstrasikan
Situasi 2
Beberapa hari setelah perawatan, pasien menunjukkan perilaku halusinasi yang menurun dan
ada rekomendasi klien untuk pulangdalam waktu dekat. Pada saat perawat menemui pasien,
perawat mendapatkan data bahwa pasien belum tahu apayang harus dilakukan di rumah
terkait dengan penyakitnya.
1. Form Analisa data
Tanggal
(kasus A)

Data
DS: Klien belum tahu apa yang harus

Masalah Keperawatan
Deficient knowledge related to

dilakukan di rumah terkait dengan

unfamiliarity with information

penyakitnya.

resources

DO: perilaku halusinasi yang menurun


2. Rencana Asuhan Keperawatan Jiwa

No

Diagnosa Keperawatan

Tujuan dan Kriteria

(PES)
Deficient knowledge

Hasil
Knowledge: disease

related to unfamiliarity

process

with information
resources

Intervensi
Teaching: disease process
Def:

Def

Membantu pasien untuk

Tingkat pemahaman

memahami informasi yang

Def:

tersampaikan tentang

berhubungan dengan proses

Tidak adanya atau

proses penyakit tertentu

penyakit tertentu

kekurangan informasi

dan pencegahan

kognitif yang berkaitan

komplikasi

dengan topik tertentu


Defining characteristics:
Melaporkan
masalah

menilai tingkat
Outcomes:

pengetahuan pasien

Proses penyakit

berhubungan dengan proses

spesifik
Faktor penyebab dan
faktor yang

Tidak familiar dengan

berkontribusi
Faktor risiko
Tanda dan gejala dari

sumber daya informasi

penyakit yang ada

Related factors:

Aktivitas:

penyakit tertentu saat ini


menininjau pengetahuan
pasien tentang kondisinya
mengakui pengetahuan
pasien tentang kondisinya
menjelaskan tanda dan
gejala umum suatu
penyakit tertentu
mengeksplorasi dengan
pasien apa yang telah
dilakukan pasien untuk
mengatasi gejala penyakit
menyediakan informasi
kepada pasien tentang
kondisi
mendiskusikan pilihan
terapi/ perawatan
mengeksplorasi sumber
daya/ dukungan yang
memungkinkan, sesuai
kebutuhan
anjurkan pasien ke

No

Diagnosa Keperawatan

Tujuan dan Kriteria

(PES)

Hasil

Intervensi
komunitas lokal/ kelompok
dukungan
mendiskripsikan
komplikasi kronis yang
mungkin terjadi pada suatu
penyakit

3. Form Rencana Interaksi


No.
1

Kriteria
Tahap Pre Interaksi
Mengumpulkan data tentang klien
Mengeksplorasi perasaan, fantasi
dan ketakutan diri
Membuat rencana pertemuan
dengan klien

Praktek
Saya sudah eksplorasi perasaan,
fantasi dan ketakutan diri. Dan saya
sudah membaca data-data klien. Klien
bernama Tn. Hpt usia 40 thn dgn
diagnosa Shizophrenia tak terinci.
Saya sudah membuat rencana
pertemuan dgn klien ini pada hari,jam
dan tanggal (sebutkan) di ruang
perawatan. Saya sudah bersedia
bertemu dengan dgn klien. Dan saya
siap untuk memulai interaksi dengan

Tahap Orientasi
Mengucapkan salam &
bersalaman pada klien
Memperkenalkan nama perawat
Menanyakan/memanggil nama
panggilan kesukaan klien
Melakukan validasi perasaan,
kognitif, afektif/psikomotor
Menjelaskan tanggung jawab &
peran perawat serta klien
Menjelaskan kegiatan yg akan

dilakukan
Menjelaskan tujuan wawancara
Menjelaskan kerahasiaan
Tahap Kerja
Memberikan kesempatan pada
klien untuk bertanya
Memulai kegiatan dgn cara yg
baik
Menanyakan keluhan utama
(kapan, deskripsi keluhan, dsb)
Mengkaji riwayat penyakit pasien

klien.
Assalamualaikum,
keluarga
Bagaimana

Bp. Hpt dan

perasaan/kabar

Bapak

pagi ini?
Bapak, kegiatan yg akan kita lakukan
pagi

ini

dengan

keluarga

adalah

pendidikan sebelum pulang


Pendidikan tersebut bertujuan untuk
memberikan
perawatan

informasi
yang

bapak

seputar
maupun

keluarga dapat lakukan selama di


rumah.
Baiklah sudah jelas dgn apa yg kita
bicarakan, apa ada hal yg ingin Bapak
tanyakan?
Jika tidak ada, segera saya mulai.
(lanjutkan pendidikan pasien dan
keluarga)

No.

Kriteria
(penyakit terdahulu)
Mengkaji pengobatan yg

Praktek

sedang/sebelumnya digunakan
4

klien (respon stlh pengobatan)


Tahap Terminasi
Menyimpulkan hasil wawancara
(evaluasi proses dan hasil)
Memberikan reinforcement positif
Merencanakan tindak lanjut dgn
klien
Melakukan kontrak lanjutan dgn

Baiklah bapak dan keluarga, Apa saja


hal yang saya sampaikan pagi ini?
Bapak dan keluarga baik sekali dalam
menerima informasi
Jika ada hal yang ingin ditanyakan
seputar gejala dan perawatan, silakan
menghubungi saya

klien (waktu, tempat, topik)


Mengakhiri wawancara dgn cara
5

yg baik
Dimensi Respon
Berhadapan
Mempertahankan kontak mata
Tersenyum pada saat yg tepat
Membungkuk ke arah klien pd
saat yg tepat
Mempertahankan sikap terbuka

Tindakan Keperawatan Kepada Keluarga


Tujuan:
1. Keluarga dapat terlibat dalam perawatan pasien baik di di rumah sakit maupun di rumah
2. Keluarga dapat menjadi sistem pendukung yang efektif untuk pasien.
Tindakan Keperawatan:
Keluarga merupakan faktor penting yang menentukan keberhasilan asuhan keperawatan pada
pasien dengan halusinasi. Dukungan keluarga selama pasien di rawat di rumah sakit sangat
dibutuhkan sehingga pasien termotivasi untuk sembuh. Demikian juga saat pasien tidak lagi
dirawat di rumah sakit (dirawat di rumah). Keluarga yang mendukung pasien secara
konsisten akan membuat pasien mampu mempertahankan program pengobatan secara
optimal. Namun demikian jika keluarga tidak mampu merawat pasien, pasien akan kambuh
bahkan untuk memulihkannya lagi akan sangat sulit. Untuk itu perawat harus memberikan
pendidikan kesehatan kepada keluarga agar keluarga mampu menjadi pendukung yang
efektif bagi pasien dengan halusinasi baik saat di rumah sakit maupun di rumah.
Tindakan keperawatan yang dapat diberikan untuk keluarga pasien halusinasi adalah:

1. Diskusikan masalah yang dihadapi keluarga dalam merawat pasien


2. Berikan pendidikan kesehatan tentang pengertian halusinasi, jenis halusinasi yang
dialami pasien, tanda dan gejala halusinasi, proses terjadinya halusinasi, dan cara
merawat pasien halusinasi
3. Berikan kesempatan kepada keluarga untuk memperagakan cara merawat pasien dengan
halusinasi langsung di hadapan pasien
4. Buat perencanaan pulang dengan keluarga
SP 1 Keluarga : Pendidikan Kesehatan tentang pengertian halusinasi, jenis halusinasi
yang dialami pasien, tanda dan gejala halusinasi dan cara-cara merawat pasien
halusinasi.
Peragakan percakapan berikut ini dengan pasangan saudara.
Orientasi:
Assalammualaikum Bapak/ Ibu!Saya SS, perawat yang merawat anak Bapak/ Ibu.
Bagaimana perasaan Bapak/ Ibu hari ini? Apa pendapat Bapak/ Ibu tentang anak Bapak/
Ibu?
Hari ini kita akan berdiskusi tentang apa masalah yang anak Bapak/ Ibu alami dan
bantuan apa yang Bapak/ Ibu bisa berikan.
Kita mau diskusi di mana? Bagaimana kalau di ruang wawancara? Berapa lama waktu
Bk/Ibu? Bagaimana kalau 30 menit
Kerja:
Apa yang Bapak/ Ibu rasakan menjadi masalah dalam merawat D. Apa yang Bapak/Ibu
lakukan?
Ya, gejala yang dialami oleh anak Bapak/ Ibu itu dinamakan halusinasi, yaitu mendengar
atau melihat sesuatu yang sebetulnya tidak ada bendanya.
Tanda-tandanya bicara dan tertawa sendiri,atau marah-marah tanpa sebab
Jadi kalau anak Bapak/ Ibu mengatakan mendengar suara-suara, sebenarnya suara itu
tidak ada.
Kalau anak Bapak/ Ibu mengatakan melihat bayangan-bayangan, sebenarnya bayangan itu
tidak ada.
Untuk itu kita diharapkan dapat membantunya dengan beberapa cara. Ada beberapa cara
untuk membantu anak Bapak/ Ibu agar bisa mengendalikan halusinasi. Cara-cara tersebut
antara lain: Pertama, dihadapan anak Bapak/ Ibu, jangan membantah halusinasi atau

menyokongnya. Katakan saja Bapak/ Ibu percaya bahwa anak tersebut memang mendengar
suara atau melihat bayangan, tetapi Bapak/ Ibu sendiri tidak mendengar atau melihatnya.
Kedua, jangan biarkan anak Bapak/ Ibu melamun dan sendiri, karena kalau melamun
halusinasi akan muncul lagi. Upayakan ada orang mau bercakap-cakap dengannya. Buat
kegiatan keluarga seperti makan bersama, sholat bersama-sama. Tentang kegiatan, saya
telah melatih anak Bapak/ Ibu untuk membuat jadwal kegiatan sehari-hari. Tolong Bapak/
Ibu pantau pelaksanaannya, ya dan berikan pujian jika dia lakukan!
Ketiga, bantu anak Bapak/ Ibu minum obat secara teratur. Jangan menghentikan obat
tanpa konsultasi. Terkait dengan obat ini, saya juga sudah melatih anak Bapak/ Ibu untuk
minum obat secara teratur. Jadi Bapak/ Ibu dapat mengingatkan kembali. Obatnya ada 3
macam, ini yang orange namanya CPZ gunanya untuk menghilangkan suara-suara atau
bayangan. Diminum 3 X sehari pada jam 7 pagi, jam 1 siang dan jam 7 malam. Yang putih
namanya THP gunanya membuat rileks, jam minumnya sama dengan CPZ tadi. Yang biru
namanya HP gunanya menenangkan cara berpikir, jam minumnya sama dengan CPZ. Obat
perlu selalu diminum untuk mencegah kekambuhan
Terakhir, bila ada tanda-tanda halusinasi mulai muncul, putus halusinasi anak Bapak/ Ibu
dengan cara menepuk punggung anak Bapak/ Ibu. Kemudian suruhlah anak Bapak/ Ibu
menghardik suara tersebut. Anak Bapak/ Ibu sudah saya ajarkan cara menghardik
halusinasi.
Sekarang, mari kita latihan memutus halusinasi anak Bapak/ Ibu. Sambil menepuk
punggung anak Bapak/ Ibu, katakan: D, sedang apa kamu?Kamu ingat kan apa yang
diajarkan perawat bila suara-suara itu datang? Ya..Usir suara itu, D. Tutup telinga kamu
dan katakan pada suara itu saya tidak mau dengar. Ucapkan berulang-ulang, D
Sekarang coba Bapak/ Ibu praktekkan cara yang barusan saya ajarkan
Bagus Pak/Bu
Terminasi:
Bagaimana perasaan Bapak/ Ibu setelah kita berdiskusi dan latihan memutuskan halusinasi
anak Bapak/ Ibu?
Sekarang coba Bapak/ Ibu sebutkan kembali tiga cara merawat anak Bapak/ Ibu
Bagus sekali Pak/Bu. Bagaimana kalau dua hari lagi kita bertemu untuk mempraktekkan
cara memutus halusinasi langsung dihadapan anak Bapak/ Ibu
Jam berapa kita bertemu?
Baik, sampai Jumpa. Assalamualaikum

SP 2 Keluarga: Melatih keluarga praktek merawat pasien langsung dihadapan pasien


Berikan kesempatan kepada keluarga untuk memperagakan cara merawat pasien dengan
halusinasi langsung dihadapan pasien.
Orientasi:
Assalammualaikum
Bagaimana perasaan Bapak/ Ibu pagi ini?
Apakah Bapak/ Ibu masih ingat bagaimana cara memutus halusinasi anak Bapak/ Ibu yang
sedang mengalami halusinasi? Bagus!
Sesuai dengan perjanjian kita, selama 20 menit ini kita akan mempraktekkan cara memutus
halusinasi langsung dihadapan anak Bapak/ Ibu.
Mari kita datangi Anak Bapak/ Ibu
Kerja:Assalamualaikum D D, Bapak/ Ibu D sangat ingin membantu D mengendalikan
suara-suara yang sering D dengar. Untuk itu pagi ini Bapak/ Ibu D datang untuk
mempraktekkan cara memutus suara-suara yang D dengar. D nanti kalau sedang dengar
suara-suara bicara atau tersenyum-senyum sendiri, maka Bapak/ Ibu akan mengingatkan
seperti ini Sekarang, coba Bapak/ Ibu peragakan cara memutus halusinasi yang sedang D
alami seperti yang sudah kita pelajari sebelumnya. Tepuk punggung D lalu suruh D
mengusir suara dengan menutup telinga dan menghardik suara tersebut (saudara
mengobservasi apa yang dilakukan keluarga terhadap pasien)Bagus sekali!Bagaimana D?
Senang dibantu Bapak/ Ibu? Nah Bapak/ Ibu ingin melihat jadwal harian D. (Pasien
memperlihatkan dan dorong orang tua memberikan pujian) Baiklah, sekarang saya dan
orang tua D ke ruang perawat dulu (Saudara dan keluarga meninggalkan pasien untuk
melakukan terminasi dengan keluarga
Terminasi:
Bagaimana perasaan Bapak/ Ibu setelah mempraktekkan cara memutus halusinasi
langsung dihadapan anak Bapak/ Ibu
Dingat-ingat pelajaran kita hari ini ya Pak/ Bu. Bapak/ Ibu dapat melakukan cara itu bila
anak Bapak/ Ibu mengalami halusinas.
bagaimana kalau kita bertemu dua hari lagi untuk membicarakan tentang jadwal kegiatan
harian anak Bapak/ Ibu untuk persiapan di rumah. Jam berapa Bapak/ Ibu bisa datang?
Tempatnya di sini ya. Sampai jumpa.
SP 3 Keluarga : Membuat perencanaan pulang bersama keluarga
Peragakan kepada pasangan anda komunikasi dibawah ini

Orientasi
Assalamualaikum Pak/Bu, karena besok D sudah boleh pulang, maka sesuai janji kita
sekarang ketemu untuk membicarakan jadual D selama dirumah
Bagaimana Pak/ Bu selama Bapak/ Ibu membesuk apakah sudah terus dilatih cara
merawat D?
Nah sekarang kita bicarakan jadwal D di rumah? Mari kita duduk di ruang perawat!
Berapa lama Bapak/ Ibu ada waktu? Bagaimana kalau 30 menit?
Kerja
Ini jadwal kegiatan D di rumah sakit. Jadwal ini dapat dilanjutkan di rumah. Coba Bapak/
Ibu lihat mungkinkah dilakukan di rumah. Siapa yang kira-kira akan memotivasi dan
mengingatkan?Pak/Bu jadwal yang telah dibuat selama D di rumah sakit tolong
dilanjutkan dirumah, baik jadwal aktivitas maupun jadwal minum obatnya
Hal-hal yang perlu diperhatikan lebih lanjut adalah perilaku yang ditampilkan oleh anak
ibu dan bapak selama di rumah.Misalnya kalau B terus menerus mendengar suara-suara
yang mengganggu dan tidak memperlihatkan
perbaikan, menolak minum obat atau memperlihatkan perilaku membahayakan orang lain.
Jika hal ini terjadi segera hubungi Suster B di Puskesmas terdekat dari rumahBapak/ Ibu,
ini nomor telepon puskesmasnya: (0651) 554xxx
Selanjutnya suster B yang akan membantu memantau perkembangan D selama di rumah
Terminasi
Bagaimana Bapak/ Ibu? Ada yang ingin ditanyakan? Coba Ibu sebutkan cara-cara merawat
D di rumah! Bagus (jika ada yang lupa segera diingatkan oleh perawat. Ini jadwalnya untuk
dibawa pulang. Selanjutnya silakan ibu menyelesaikan administrasi yang dibutuhkan. Kami
akan siapkan D untuk pulang
4. Demonstrasikan rencana kegian dengan teman-teman
5. Dokumentasikan kegiatan tersebut
Situasi 3
Pada saat persiapan pasien pulang, perawat rumah sakit perlu melakukan manajemen
halusinasi pada klien dan keluarga
Lakukan rujukan klien tersebut ke puskesmas dimana pasien berdomisili dengan setting
komunitas
TEORI
Jenis-jenis Halusinasi

Jenis jenis halusinasi menurut Rasmun (2001), digolongkan menjadi :


1.

Halusinasi penglihatan (visual, optik): tak berbentuk (sinar, kilatan cahaya,) atau yang
berbentuk (orang, binatang, barang yang dikenal) baik berwarna maupun tidak berwarna.
Dalam halusinasi penglihatan, klien melihat gambaran yang jelas atau samar-samar tanpa

2.

stimulus yang nyata dan orang lain tidak melihatnya.


Halusinasi pendengaran (autif, akustik): suara manusia, hewan, mesin, barang, music,
kejadian alamiah. Klien mendengar suara atau bunyi yang tidak berhubungan dengan

3.

stimulus nyata dan orang lain tidak mendengarnya.


Halusinasi penciuman (olfaktorius): klien mencium bau yang muncul dari sumber

4.

tertentu tanpa stimulus yang nyata dan orang lain tidak menciumnya.
Halusinasi pengecap (gustatorik): klien merasa makan sesuatu yang tidak nyata.

5.

Biasanya merasakan rasa makanan yang tidak enak.


Halusinasi perabaan (taktil): merasa diraba, disentuh, ditiup, disinari atau merasa ada ulat

6.

bergerak di bawah kulitnya.


Halusinasi kinestetik: merasa badannya bergerak dalam sebuah ruangan, atau anggota

7.
8.

badannya bergerak (misalnya anggota badan bayangan atau phantom limb).


Halusinasi visceral: perasaan tertentu timbul dari dalam tubuhnya.
Halusinasi hipnagogik: adakalanya terdapat pada seseorang yang normal, terjadi ketika

9.

sebelum tertidur persepsi sensorik bekerja salah.


Halusinasi hipnopompik: seperti pada halusinasi hipnagogik, tetapi terjaddi tepat ketika
terbangun dari tidurnya. Disamping itu ada pulapengalaman halusinatorik pada impian

yang normal.
10. Halusinasi histerik: timbul pada nerosa histerik karena konflik emosional.
Tahapan Intensitas Halusinasi
Menurut Stuart and Sundeen (1995), tahapan intensitas halusinasi meliputi:
Level
TAHAP I Menyenangkan
(Comforting)

kesepian, rasa bersalah

Tingkat ansietas sedang

Karakteristik
Perilaku klien
Mengalami
ansietas Tersenyum/tertawa
Menggerakkan bibir

dan ketakutan.

Secara umum halusinasi Mencoba

berfokus

pada

pikiran

kesenangan dan memberi

dapat

menghilangkan

rasa nyaman.

ansietas

Penderita

tidak

merasa Pikiran

terganggu dengan adanya


halusinasi itu dan biasanya
muncul saat sedang sendiri/

pengalaman

tanpa suara.

yang Penggerakan mata yang

suatu

merupakan

sendiri

cepat
Respon verbal yang

dan

lambat

sensori Diam, berkonsentrasi,


masih
ada
dalam
dan dipenuhi oleh
kontrol kesadaran (jika
sesuatu yang

Level
melamun/ menyendiri
TAHAP II Menyalahkan
(Condemning)
Penderita

mulai

menakutkan
merasa Mulai

terganggu dan kehilangan


kendali

Karakteristik
Perilaku klien
kecemasan dikontrol)
mengasyikkan.
Pengalaman
sensori Peningkatan SSO, tandatanda
merasa

ansietas

peningkatan

denyut

jantung, pernafasan, dan

kehilangan kontrol

serta

mungkin Merasa dilecehkan oleh


tekanan darah.
berusaha
menghilangkan
pengalaman
sensori Rentang perhatian mehalusinasinya itu.
nyempit
tersebut.
Tingkat kecemasan berat
dengan
Menarik diri dari orang Konsentrasi
secara umum halusinasi
pengalaman sensori
lain.
menyebabkan rasa antipati
Kehilangan kemampuan
Secara umum halusinasi NON PSIKOTIK
membedakan halusinasi
menjijikkan
dari realita.
TAHAP III Mengendalikan Klien menyerah dan Perintah
halusinasi
(Controlling)
Tingkat

kecemasan

menerima pengalaman
berat

pengalaman sensori tidak


dapat ditolak lagi.
Pengalaman sensori menjadi
penguasa.
Penderita

meyakini,

mengikuti dan melakukan isi

Sulit

sensorinya.
Isi halusinasi menjadi

(Consquering)

Kesepian bila penga-

secara umum diatur dan


dipengaruhi oleh waham.
Halusinasi menjadi lebih

PSIKOTIK.

Pengalaman

terkait

Halusinasi
berlangsung

takut

jika

fisika

ansietas

berat berkeringat, tremor,


perintah.
sensori Perilaku panik.

tidak

Potensial
dapat

selama

tinggi

untuk

bunuh diri atau membunuh.

beberapa jam atau hari Tindakan kekerasan agi(jika tidak diintervensi

terapeutik)
dengan delusi.
PSIKOTIK
Penderita jadi panik, cemas
berat,

beberapa detik / menit.

laman sensori berakhir. Gejala

menjadi ancaman.

Tingkat kecemasan panik

saling

dengan orang lain.

tidak mampu mengikuti

TAHAP IV Menguasai

dan

berhubungan

Rentang perhatian hanya

atraktif

dari halusinasinya

rumit

ditaati.

tasi, menarik diri atau


katatun.
Tidak mampu berespon
terhadap perintah yang
kompleks

Level
mengikuti halusinasinya

Karakteristik

Perilaku klien
Tidak mampu berespon
terhadap lebih dari satu
orang.

Manejemen Halusinasi pada Klien dan Keluarga.


1. Manejemen halusinasi pada klien:
a. Bantu pasien mengenali halusinasinya dengan cara berdiskusi dengan pasien
tentang isi halusinasi (apa yang didengar/ dilihat) waktu terjadinya halusinasi,
frekuensi terjadinya halusinasi, situasi yang menyebabkan halusinasi muncul dan
respon pasien saat halusinasi muncul
b. Diskusikan cara untuk mengendalikan halusinasi seperti:
Dengan mengusir halusinasi paya mengendalikan diri terhadap halusinasi dengan
cara menolak halusinasi yang muncul. Pasien dilatih untuk mengatakan tidak
terhadap halusinasi yang muncul atau tidak mempedulikan halusinasinya. Kalau
ini dapat dilakukan, pasien akan mampu mengendalikan diri dan tidak mengikuti
halusinasi yang muncul. Mungkin halusinasi tetap ada namun dengan kemampuan
ini pasien tidak akan larut untuk menuruti apa yang ada dalam halusinasinya.
Tahapan tindakan meliputi:
- Menjelaskan cara menghardik halusinasi
- Memperagakan cara menghardik
- Meminta pasien memperagakan ulang
- Memantau penerapan cara ini, menguatkan perilaku pasien
c. Berbicara dengan orang lain. Untuk mengontrol halusinasi dapat juga dengan
bercakap-cakap dengan orang lain. Ketika pasien bercakap-cakap dengan orang
lain maka terjadi distraksi; fokus perhatian pasien akan beralih dari halusinasi ke
percakapan yang dilakukan dengan orang lain tersebut. Sehingga salah satu cara
yang efektif untuk mengontrol halusinasi adalah dengan bercakap-cakap dengan
orang lain.
d. Menyusun jadwal kegiatan harian Untuk mengurangi risiko halusinasi muncul lagi
adalah dengan menyibukkan diri dengan aktivitas yang teratur. Dengan
beraktivitas secara terjadwal, pasien tidak akan mengalami banyak waktu luang
sendiri yang seringkali mencetuskan halusinasi. Untuk itu pasien yang mengalami
halusinasi bisa dibantu untuk mengatasi halusinasinya dengan cara beraktivitas
secara teratur dari bangun pagi sampai tidur malam, tujuh hari dalam seminggu.
Tahapan intervensinya sebagai berikut:

Menjelaskan pentingnya aktivitas yang teratur untuk mengatasi halusinasi.


Mendiskusikan aktivitas yang biasa dilakukan oleh pasien
Melatih pasien melakukan aktivitas
Menyusun jadwal aktivitas sehari-hari sesuai dengan aktivitas yang telah
dilatih. Upayakan pasien mempunyai aktivitas dari bangun pagi sampai tidur

malam, 7 hari dalam seminggu.


e. Menggunakan obat secara teratur Untuk mampu mengontrol halusinasi pasien
juga harus dilatih untuk menggunakan obat secara teratur sesuai dengan program.
Pasien gangguan jiwa yang dirawat di rumah seringkali mengalami putus obat
sehingga akibatnya pasien mengalami kekambuhan. Bila kekambuhan terjadi
maka untuk mencapai kondisi seperti semula akan lebih sulit. Untuk itu pasien
perlu dilatih menggunakan obat sesuai program dan berkelanjutan.
Berikut ini tindakan keperawatan agar pasien patuh menggunakan obat:
- Jelaskan guna obat
- Jelaskan akibat bila putus obat
- Jelaskan cara mendapatkan obat/ berobat
- Jelaskan cara menggunakan obat dengan prinsip 5 benar (benar obat, benar
pasien, benar cara, benar waktu, benar dosis)
f. Bantu klien memilih dan melatih cara memutuskan/ mengendalikan halusinasi
secara bertahap
g. Beri klien kesempatan melakukan cara mengendalikan atau memutuskan
halusinasi yang telah dipilih dan dilatih
h. Evaluasi bersama klien cara baru ygn telah dipilih dengan cara yang bisa
dilakukan
i. Berikan reinforcement pada klien terhadap cara yang telah dipilih dan diterapkan
j. Libatkan klien dalam terapi aktifitas kelompok
Manejemen Halusinasi untuk Keluarga Pasien
Keluarga merupakan faktor penting yang menentukan keberhasilan asuhan keperawatan pada
pasien dengan halusinasi. Dukungan keluarga selama pasien di rawat di rumah sakit sangat
dibutuhkan sehingga pasien termotivasi untuk sembuh. Demikian juga saat pasien tidak lagi
dirawat di rumah sakit (dirawat di rumah). Keluarga yang mendukung pasien secara konsisten
akan membuat pasien mampu mempertahankan program pengobatan secara optimal. Namun
demikian jika keluarga tidak mampu merawat pasien, pasien akan kambuh bahkan untuk
memulihkannya lagi akan sangat sulit. Untuk itu perawat harus memberikan pendidikan
kesehatan kepada keluarga agar keluarga mampu menjadi pendukung yang efektif bagi
pasien dengan halusinasi baik saat di rumah sakit maupun di rumah.
a. Berikan pendidikan kesehatan tentang pengertian halusinasi, jenis halusinasi yang
dialami pasien, tanda dan gejala halusinasi, proses terjadinya halusinasi, dan cara
merawat pasien halusinasi.

b.
c.

Bina hubungan saling percaya


Diskusikan dengan keluarga:
- Gejala halusinasi yang dialami klien
- Cara yang dapat dilakukan klien dan keluarga untuk mengontrol halusinasi
- Cara merawat anggita kluarga yang mengalami halusinasi di rumah (ex.: beri

d.

kegiatan, jangan biarkan sendiri, bepergian bersama)


Anjurkan kelurga untuk mencari bantuan apabila tanda dan gejala halusinasi tidak

e.
f.

terkendali
Berikan informasi tentang kondisi klien kepada keluarga dengan cara yang tepat
Berikan kepada keluarga kesempatan untuk memperagakan cara merawat klien dengan

g.

halusinasi langsung dihadapan klien


Buat perencanaan pulang dengan keluarga
Penatalaksanaan Medis

a. Psikofarmakologis
Berikut beberapa obat dengan kelas kimia dan nama generik (dagang) beseerta dosis
hariannya:
-

Fenotiazin Asetofenazin (Tindal) 30-800 mg

Klorpromazin (Thorazine) 1-40 mg

Flufenazine (Prolixine, Permitil) 30-400 mg

Mesoridazin (Serentil) 12-64 mg

Perfenazin (Trilafon) 15-150 mg

Proklorperazin (Compazine) 40-1200 mg

Promazin (Sparine) 150-800 mg

Tioridazin (Mellaril) 2-40 mg

Trifluoperazin (Stelazine) 60-120 mg

Trifluopromazin (Vesprin) 60-150 mg

Tioksanten Klorprotiksen (Taractan)

Tiotiksen (Navane) 75-600 mg

Butirofenon Haloperidol (Haldol) 1-100 mg

Dibenzodiazepin Klozapin (Clorazil) 300-900 mg

Dibenzokasazepin Loksapin (Loxitane) 20-150 mg

Dihidroindolon Molindone (Moban) 15-225 mg

Pada pemberiannya, obat dimulai dengan dosis awal sesuai dengan dosis anjuran,
dinaikkan dosis tiap 2 minggu dan bisa pula dinaikkan sampai mencapai dosis
(stabilisasi), kemudian diturunkan setiap 2 minggu sampai mencapai dosis pemeliharaan.

Dipertahankan 6 bulan 2 tahun ( diselingi masa bebas obat 1 2 hari/ minggu ).


Kemudian tapering off, dosis diturunkan tiap 2 4 minggu dan dihentikan.
b. Terapi kejang listrik/Electro Compulsive Therapy (ECT)
c. Terapi aktivitas kelompok (TAK)

Rujukan Pasien dari Rumah Sakit ke Puskesmas


1. Setelah pasien menjalani perawatan di RS dan kondisinya membaik, maka pasien
akan dirujuk ke puskesmas untuk rehabilitasi
2. Tenaga kesehatan akan menjelaskan kepada pasien dan keluarga tentang alasan
mengapa pasien dirujuk
3. Tenaga kesehatan melaksanakan konfirmasi dan memastikan kesiapan Fasilitas
Pelayanan Kesehatan yaitu puskesmas sebelum dirujuk
4. Membuat surat rujukan dengan melampirkan hasil diagnosis pasien dan resume
catatan medis
5. Sebelum dirujuk, keadaan umum pasien sudah distabilkan terlebih dahulu
6. Pasien didampingi oleh keluarga/ tenaga kesehatan yang mengetahui keadaan umum
pasien saat berkunjung ke puskesmas, kemudian menyerahkan surat rujukan kepada
pihak yang berwenang di puskesmas tempat rujukan sebelum melakukan perawatan
dan pengobatan
7. Kemudian puskesmas menerima surat rujukan dan membuat tanda terima pasien
8. Puskesmas akan membuat diagnosis, layanan dasar, perawatan serta pengobatan
secara kontiunitas dan melakukan catatan medic sesuai dengan ketentuan

KASUS B
Situasi 1
Tn. Prt usia 35 tahun datang kerumah sakit dibawa oleh anggota keluarganya karena
mengamuk di puskesmas. Pada saat tiba dirumah sakit, klien berteriak-teriak, mengepal
tangan, mondar-mandir, muka terlihat merah, dan berusaha menyerang perawat. Mata klien
merah dan melotot. Klien tidak bisa mengikuti instruksi perawat untuk tenang bahkan
menantang.
TEORI
Konsep Marah
1. Pengertian
Kemarahan (anger) adalah suatu emosi yang terentang mulai dari iritabilitas sampai
agresivitas yang dialami oleh semua orang. Biasanya, kemarahan adalah reaksi terhadap
stimulus yang tidak menyenangkan dan mengancam (Widyajaya Kusuma, 1992).
Kemarahan menurut Stuart dan Sunden (1987) adalah perasaan jengkel yang timbul
sebagai respon terhadap kecemasan yang dirasakan sebagai ancaman (Budi Ana Keliat,
1996).
2. Rentang respon kemarahan
Skema 1. Rentang Respon Kemarahan
Respon adaptif
Pernyataan

Respon maladaptif
Frustasi
Pasif

Agresif

Ngamuk

(assertion)
a. Assertion adalah kemarahan atau rasa tidak setuju yang dinyatakan atau diungkapkan
tanpa menyakiti orang lain akan memberi kelegaan pada individu dan tidak akan
menimbulkan masalah.
b. Frustasi adalah respons yang terjadi akibat gagal mencapai tujuan karena tidak realistis
atau hambatan dalam proses pencapaian tujuan. Dalam keadaan ini tidak ditemukan
alternatif lain. Selanjutnya individu merasa tidak mampu mengungkapkan perasaan dan
terlihat pasif.
c. Pasif adalah individu tidak mampu mengungkapkan perasaannya, klien tampak pemalu,
pendiam, sulit diajak bicara karena rendah diri dan merasa kurang mampu.
d. Agresif adalah perilaku yang menyertai marah dan merupakan dorongan untuk
bertindak dalam bentuk destruktif dan masih terkontrol. Perilaku yang tampak dapat
berupa: muka masam, bicara kasar, menuntut, kasar disertai kekerasan.
e. Ngamuk adalah perasaan marah dan bermusuhan kuat disertai kehilangan kontrol diri.
Individu dapat meruska diri sendiri, orang lain, dan lingkungan.
3. Proses kemarahan
Respon terhadap marah dapat diungkapkan melalui 3 cara yaitu:

a. Mengungkapkan secara verbal


b. Menekan
c. Menantang
Secara skematis perawat penting sekali memahami proses kemarahan yang digambarkan
dalam skema 2.

Skema 2.

STRESS
OR INT
& EKS

DISRUPTIO
N & LOSS

PERSONA
L
MEANING

COMPENSA
T-ORY ACT.

HELPLESSNE
SS

RESOLUTIO
N

GUIL
T

ANGER &
AGRESSION

EXPRESSE
D INWARD

EXPRESSE
D
OUTWARD

PAINFULL
SYMPTOM

CONSTRUCTI
VE ACTION

DESTRUCTI
VE

RESOLUTIO
N

Kemarahan berdasarkan cara pengekspresiannya dibagi menjadi 2, yaitu kemarahan yang


dipendam (expressed inward) dan kemarahan yang diekspresikan keluar (expressed outward).
Tipe expressed outward diklasifikasikan menjadi 2, yaitu expressed outward dengan kegiatan
konstruktif yang dapat menyelesaikan masalah dan expressed outward dengan kegiatan
destruktif yang dapat menimbulkan perasaan bersalah dan menyesal.

1. Form Analisa Data


Tanggal
24/04/2014

Data
Data Subyektif: Data Obyektif:
Klien mengamuk
Klien mengepalkan tangan.
Klien berusaha menyerang perawat.
Mata merah dan melotot.
Klien mondar-mandir.
Data Subyektif: -

Masalah Keperawatan
Resiko Perilaku Kekerasan
Terhadap Orang Lain

Ketidakefektifan Koping
berhubungan dengan

Data Obyektif:

ketidakadekuatan tingkat persepsi

Klien tidak bisa mengikuti instruksi

terhadap kontrol diri.

perawat.
Klien berteriak-teriak.
Klien menantang
Klien berusaha menyerang perawat.
2. Rencana Asuhan Keperawatan Jiwa
No
1

Diagnosa Keperawatan
(PES)
Resiko perilaku

Tujuan dan Kriteria


Hasil
NOC : abuse protection

kekerasan kepada orang


lain

Intervensi
NIC :
Angger control assistance

Def:
Melindungi diri sendiri

Def:

Definisi:

dan atau orang lain dari

Memfasilitasi ekspresi marah

Beresiko melakukan

kekerasan

dengan adaptif, dengan perilaku

perilaku, yakni individu

yang tidak melukai

menunjukkan bahwa ia

Indikator :

dapat membahayakan

1. Penggunaan restrain
2. Keamanan orang lain

orang lain, secara fisik,


emosional, dan atau
seksual
Faktor resiko
a. Bahasa tubuh

terjaga
3. Keamanan lingkungan
terjaga

Aktifitas :
1. Membina hubungan saling
percaya dengan klien
2. Menggunakan pendekatan
yang calm dan
menentramkan hati
3. Mencegah kekerasan fisik

No

Diagnosa Keperawatan
(PES)
(mengepalkan

Tujuan dan Kriteria


Hasil

Intervensi
terhadap diri dan orang lain

tangan),berusaha

(mis: penggunaan restrain

menyerang perawat

dan memindahkan alat-alat


yang berpotensi untuk
kekerasan)
4. Mengalihakan dengan
aktifitas untuk mengurangi
kekerasan (mis : memukul
bantal, melompat-lompat)
5. Memberikan feedback
terhadap perilaku pasien
untuk mengidentifikasi
marahnya
6. Mengidentifikasi
konsekuensi ekspresi marah
yang tidak sesuai

3. Tindakan apa yang pertama kali harus dilakukan oleh perawat?


Perawat melakukan anger control assistance, terutama: membina hubungan saling
percaya dengan klien dan segera mungkin mencegah kekerasan fisik terhadap diri dan
orang lain (mis: penggunaan restrain dan memindahkan alat-alat yang berpotensi
untuk kekerasan).
4. Form pengkajian resiko dan form rencana interaksi

Kriteria
Tahap Pre Interaksi
Mengeksplorasi perasaan, fantasi dan

Praktek
Perawat mengeksplorasi perasaan, fantasi dan

ketakutan diri
Mempersiapkan format pengkajian dan

klien dari keluarganya, menyiapkan format

alat restrain.
Tahap Orientasi
Mengucapkan salam dan bersalaman

pengkajian. Perawat siap untuk memulai


interaksi dengan klien dan keluarga.
Selamat pagi Tn. Prt. Perkenalkan, saya
perawat Maya Sutari dari PSIK UGM 2010,

pada klien
Memperkenalkan nama perawat
Melakukan validasi perasaan, kognitif,

Bapak bisa memanggil saya perawat Maya.

afektif/psikomotor
Menjelaskan kegiatan yang akan

menjadi lebih tenang dan tidak melukai diri

dilakukan
Menjelaskan tujuan pengkajian
Menjelaskan kerahasiaan
Tahap Kerja
Mencegah kekerasan fisik terhadap diri

Bapak.

sendiri dan orang lain.


Memindahkan alat-alat yang berpotensi
3

ketakutan diri, mendapatkan informasi tentang

melukai.
Mengalihkan dengan aktivitas yang
dapat mengurangi kekerasan, misalnya
memukul bantal, jika memungkinkan.
Restrain.
Melakukan pengkajian menggunakan
format pengkajian resiko kekerasan dan
risk of absconding.

Disini saya akan membantu Bapak supaya Bapak


sendiri dan orang lain dengan cara mengikat

Perawat memegang lengan klien dengan


posis yang aman.
Perawat yang lain memindahkan alat-alat
yang berpotensi melukai klien seperti jarum
suntik, benda yang dapat dilempar dan tajam.
Perawat memberikan bantal kepada klien
sambil menanyakan, Pak, Bapak bias pukul
bantal ini sepuasnya, tapi jangan pukul orang
lain.
Jika klien tidak mau, perawat melakukan
restrain di tempat tidur dengan mengatakan,
Bapak, kami akan mengikat Bapak dan akan
melepaskan ikatan kalau Bapak sudah
tenang.
Perawat melakukan pengkajian secara

Tahap Terminasi
Menyimpulkan hasil pengkajian
4

(evaluasi proses dan hasil)


Memberikan reinforcement positif
Merencanakan tindak lanjut dengan

berkesinambungan.
Perawat melakukan

pemastian

kembali

kepada klien bahwa ikatan akan dilepas


setelah tenang. Perawat mengatakan, Untuk
sementara Bapak di sini dan kami akan tetap
memantau Bapak. Kami akan melepas ikatan

Kriteria
klien
Melakukan kontrak lanjutan dengan

klien (waktu, tempat, topik)


Mengakhiri kegitan dengan baik
Dimensi Respon
Berhadapan
Mempertahankan kontak mata
Tersenyum pada saat yang tepat
Membungkuk ke arah klien pada saat
yang tepat
Mempertahankan sikap terbuka
Menjaga jarak aman

Praktek
jika Bapak sudah tenang.
Perawat menulis dokumentasi.

PENGKAJIAN RESIKO KEKERASAN


(NURJANNAH, 2007-dari berbagai informasi)
Faktor-faktor

Ya

Tidak

(Skor 1)

(Skol 0)

Tidak
Diketahui
(Skor 1)

Faktor Statis
Laki-laki
Usia dibawah 35 tahun
Riwayat penyahgunaan alkoho dan obat-obatan
Riwayat kriminal-serangan
Penanganan penyakit jiwa yang tidak berhasil
Riwayat dianiaya/salah penanganan pada masa kanak-kanak
Pernah menggunakan senjata
Riwayat agresi sebelumnya
Peran yang tidak stabil (mis: kerja, hubungan, akomodasi)
Faktor Dinamis
Mengekspresikan keinginan untuk meyakiti orang lain
Bisa mengakses alat yang tersedia
Persecutory delusion atau ide tentang yang lain
Perintah kekerasan dari halusinasi
Marah, frustasi, atau agitasi
Ketakutan atau afek curiga
Peningkatan mood, grandiosity, fantasi kekerasan
Perilaku seksual yang tidak tepat
Kontrol impuls buruk, penurunan kemampuan untuk

v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v
v

mengontrol perilaku
Berada dalam keadaan sedang dipengaruhi zat-zat tertentu
Asyik dengan ide kekerasan
Skor = 19 resiko kekerasan tinggi

v
v

Penilaian
Skor 0-3 = Resiko Kekerasan Rendah
Skor 4-9 = Resiko Kekerasan Sedang
Skor > 9 = Resiko Kekerasan Tinggi
PENGKAJIAN RISK OF ABSCONDING/ RISK OF ABSENCE WITHOUT
PERMISSION
Faktor-Faktor

Ya

Tidak

Tidak

(Skor 1)

(Skor 0)

Diketahui
(Skor 1)

Faktor Statis
Riwayat melarikan diri - catat berapa kali
Faktor Dinamik
Menolak dirawat dirumah sakit

v
v

Suara yang memerintahkan/halusinasi untuk melarikan


diri/pulang
Pasien berada pada kondisi krisis/akut
Pasien dan keluarga mempunyai insight yang buruk
Merasa tidak sakit
Jumlah skor 6 = resiko tinggi
Penilaian
Skor 5-6 = Resiko Tinggi
Skor 3-4 = Resiko Sedang
Skor 0-2 = Resiko Rendah

v
v
v
v

SKOR KEAMANAN SEKSUAL (Nurjannah, 2007)


Faktor-Faktor

Ya

Tidak

Tidak

(Skor 1)

(Skor 0)

Diketahui
(Skor 1)

Faktor Statis
Riwayat korban penganiayaan/serangan seksual
Riwayat penganiayaan seksual pada masa kanakkanak (korban)
Riwayat serangan seksual (pelaku)
Gangguan intelektual /gangguan kognitif
Faktor Dinamis
Meningkatnya libido/peningkatan aktifitas seksual
Minimal insight terhadap konsekuensi
Perilaku tidak terorganisir terkait dengan keinginan
berhubungan seksual
Pikiran terfokus pada keinginan berhubungan seksual
Tidak mau mengikuti kontrak untuk tidak melakukan
aktifitas seksual pada saat dirawat di rumah sakit
Penilaian
0-3

= Resiko Rendah

4-7

= Resiko Sedang

8-11

= Resiko Tinggi

5. Demonstrasikan

Situasi 2
Setelah 1 x 24 jam dilakukan pengikatan, Tn.Prt tampak menunjukkan perilaku marah yang
menurun dan sudah mau mendengarkan instruksi perawat.
1. Form Analisa Data
Tanggal

Data

Masalah Keperawatan
Ketidakefektifan Koping

DS: -

berhubungan dengan perbedaan


DO:

gender dalam strategi koping dan

Klien tidak bisa mengikuti instruksi

inadekuat tingkat persepsi

perawat.
Klien berteriak-teriak.
Klien menantang
Klien berusaha menyerang perawat.
Klien menunjukkan perilaku marah

terhadap kontrol diri.

yang menurun
Klien sudah mau mendengarkan
instruksi perawat
2. Rencana Asuhan Keperawatan Jiwa
No.
1.

Diagnosa
Keperawatan
Ketidakefektifan
Koping berhubungan
dengan perbedaan
gender dalam strategi
koping dan inadekuat
tingkat persepsi
terhadap kontrol diri.

Tujuan dan Kriteria Hasil


1. Koping
Definisi: Kemampuan

Intervensi
1. Bantuan Kontrol

seseorang untuk

Kemarahan
Definisi: Memfasilitasi

memanajemen stres

ekspresi marah yang

dengan menggunakan

adaptif dan perilaku

sumber dari dalam diri.


Kriteria Hasil:
Klien mampu

yang tidak melukai.


Aktivitas:
Bantu klien

mengidentifikasi pola
koping yang efektif.
Klien mampu

mengidentifikasi
sumber kemarahan
Identifikasi fungsi

menunjukkan perilaku

yang meningkatkan

yang menurunkan stres.


Klien mampu

rasa marah, frustasi

menunjukkan strategi
koping yang efektif.

pada klien
Identifikasi
konsekuensi dari

No.

Diagnosa

Tujuan dan Kriteria Hasil

Intervensi

Keperawatan
Klien melaporkan
penurunan perasaan
yang tidak
nyaman/negatif.
2. Kontrol Diri terhadap
Dorongan
Definisi: Mengontrol diri
dari perilaku kompulsif
dan impulsif.
Kriteria Hasil:
Klien mampu
mengidentifikasi
perilaku impulsif yang
berbahaya.
Klien mampu
mengidentifikasi
perasaan yang
menyebabkan
tindakan impulsif.
Klien mengenali
bahaya di lingkungan.
Klien mampu
mengontrol
keinginan/dorongan.
Klien mampu
mempertahankan
kontrol diri tanpa
supervisi.
Klien mampu

ekspresi kemarahan
yang tidak tepat
Bantu klien dalam
strategi perencanaan
untuk mencegah
ekspresi kemarahan
yang tidak tepat
Bersama-sama
dengan klien,
identifikasi
keuntungan dari
ekspresi kemarahan
menggunakan
perilaku yang
adaptif dan tidak
melukai
Bangun ekspektasi
klien akan mampu
mengontrol
perilakunya
Instruksikan
penggunaan
tindakan-tindakan
yang menenangkan
(misalnya napas
dalam)
Bantu klien dalam
membangun metode

mengidentifikasi

yang baik untuk

perilaku yang

megekspresikan

menyebabkan aksi

kemarahan kepada

yang impulsif.

orang lain (misalnya


sikap asertif)
Tunjuk seseorang

No.

Diagnosa

Tujuan dan Kriteria Hasil

Intervensi

Keperawatan
yang dapat menjadi
contoh bagi klien
dalam
mengekspresikan
kemarahan dengan
baik
Dukung klien dalam
mengimplementasik
an strategi untuk
mengontrol marah
dan ekspresi
kemarahan yang
tepat
Berikan respon
positif untuk
penguatan ekspresi
kemarahan yang
tepat bagi klien
2. Perbaikan Koping
Definisi: Membantu
pasien beradaptasi
terhadap stresor,
perubahan, dan ancaman
yang mengganggu peran
dan hidup klien.
Tindakan:
Dorong klien untuk
mengungkapkan
perasaan, persepsi,
dan rasa takutnya.
Dukung penggunaan
mekanisme
pertahanan yang
sesuai.

No.

Diagnosa

Tujuan dan Kriteria Hasil

Intervensi

Keperawatan
Dorong klien untuk
mengidentifikasi
kekuatan dan
kemampuannya.
Dukung keterlibatan
keluarga jika
diperlukan.
Bantu klien untuk
menyelesaikan
masalahnya dengan
perilaku yang
konstruktif.
Dukung klien
mengevaluasi
perilakunya
3. Rancang pertemuan dengan klien untuk melengkapi pengkajian fokus klien dengan
menggunakan form rencana interaksi

Kriteria
Tahap Pre Interaksi
Mengumpulkan data tentang klien
Mengeksplorasi perasaan, fantasi dan
ketakutan diri
Membuat rencana pertemuan dengan
klien
Tahap Orientasi
Mengucapkan salam dan bersalaman
pada klien
Memperkenalkan nama perawat
Menanyakan/memanggil nama

panggilan kesukaan klien


Melakukan validasi perasaan, kognitif,
afektif/psikomotor
Menjelaskan tanggung jawab dan peran
perawat serta klien
Menjelaskan kegiatan yg akan
dilakukan
Menjelaskan tujuan wawancara
Menjelaskan kerahasiaan
Tahap Kerja
Bantu klien mengidentifikasi sumber
kemarahan
Identifikasi fungsi yang meningkatkan

rasa marah, frustasi pada klien


Identifikasi konsekuensi dari ekspresi
kemarahan yang tidak tepat

Praktek
Perawat mengeksplorasi perasaan, fantasi dan
ketakutan diri, mendapatkan data dan informasi
tentang klien dari keluarganya. Perawat siap
untuk memulai interaksi dengan klien dan
keluarga.
Selamat pagi Tn. Prt dan keluarga
Bagaimana Bapak perasaannya?
Bapak, kegiatan yang akan kita lakukan
sekarang kita mau ngobrol tentang permasalahan
yang dihadapi Bapak. Tujuannya untuk kita
sama-sama mencari solusinya. Waktunya kurang
lebih 20 menit. Bapak jangan kuatir, hal ini
menjadi rahasia dan petugas kesehatan yang
menangani Bapak.

Bapak Prt, apa yang ingin Bapak ceritakan dari


situasi kemarin?
Bapak, hal apa yang menyebabkan Bapak
marah kemarin? Sebelum marah apa yang
sedang Bapak lakukan?
Bapak kemarin pas marah lakuin apa aja?
Bapak melakukan sesuatu ke orang lain atau
mungkin Bapak melakukan ke benda lain juga?
Apa yang Bapak ingat setelah Bapak marah
kemarin?
Selama ini apa yang menyebabkan Bapak

Tahap Terminasi
Menyimpulkan hasil wawancara
4

(evaluasi proses dan hasil)


Memberikan reinforcement positif
Merencanakan tindak lanjut dgn klien
Melakukan kontrak lanjutan dgn klien
(waktu, tempat, topik)

menjadi marah?
Baiklah Bapak dan keluarga. Jadi dapat saya
simpulkan

(hasil

wawancara).
Bapak sudah baik dalam memberikan cerita dari
sudut pandang Bapak tadi.
Jika Bapak tetap tenang dan kooperatif kami

Kriteria
Mengakhiri wawancara dgn cara yg

Selamat

beristirahat Pak.

baik

akan

Praktek
melepaskan ikatan Bapak.

Dimensi Respon
Berhadapan
Mempertahankan kontak mata
Tersenyum pada saat yg tepat
Membungkuk ke arah klien pd saat yg
tepat
Mempertahankan sikap terbuka
4. Demonstrasikan

Situasi 3
Setelah ikatan pasien dilepas, perawat berbincang-bincang dengan pasien. Dari hasil
perbincangan tersebut didapatkan dapat bahwa klien tidak tahu cara marah dan macammacam cara marah.
TEORI
1. Form Analisa Data
Tanggal

Data
DS : klien tidak tau cara marah dan

Masalah Keperawatan
Kesiapan peningkatan koping

macam-macam cara marah


DO: -

2. Rencana Asuhan Keperawatan Jiwa


No

Diagnosa Keperawatan

Tujuan dan

Intervensi

(PES)
Kesiapan peningkatan

Kriteria Hasil
NOC :

NIC :

koping

Impuls self control

Impulse Control Training

Upaya kognitif dan

Def :

Def :

perilaku untuk mengatasi

Pembatasan diri

Membantu pasien untuk menengahi sifat

tuntutan atau permintaan

terhadap perilaku

impulsif melalui strategi aplikasi

yang adekuat untuk

kompulsif atau

penyelesaian masalah ke situasi sosial

kesejahteraan dan dapat

impulsif

dan interpersonal

Def :

No

Diagnosa Keperawatan

Tujuan dan

(PES)
diperkuat dan ditingkatkan

Kriteria Hasil

Batasan karakteristik :

Intervensi

Indikator :

Aktivitas :

1. Pasien bisa

1. Memilih strategi pemecahan masalah

Pasien menyadari bahwa

mengidentifikas

yang sesuai dengan tingkat

pasien tidak tau cara marah

i perilaku

perkembangan dan fungsi kognitif

dan cmacam-macam marah

impulsif yang
melukai
2. Mengidentifikas
i perasaan yang
memicu
perilaku
impulsif
3. Mengidentifikas
i perilaku yang
memicu aksi
impulsif
4. Mengidentifikas
i konsekuensi
perilaku
impulsif
5. Kontrol impuls
6. Menggunakan
dukungan sosial

pasien
2. Menggunakan rencana modifikasi
perilaku untuk mendukung strategi
penyelesaian masalah yang sedang
dipikirkan
3. Membantu pasien untuk
mengidentifikasi masalah atau situasi
yang membutuhkan pemikiran
4. Mengajari pasien untuk mengenali
dirinya untuk berhenti dan berfikir
sebelum marah-marah/ tindakan
impulsif
5. Membantu pasien untuk
mengidentifikasi tindakan yang
memungkinkan dan keuntungannya
6. Memberikan reinforcement positif
jika pasien berhasil melaksanakan
tindakan yang diajarkan oleh perawat
7. Mendorong pasien untuk
mempraktekkan penyelesaian
masalah pada situasi sosial dan
interpersonal, diikuti oleh evaluasi
8. Memberikan kesempatan pada pasien
untuk mempraktekkan penyelesaian
masalah (role play) didalam
lingkungan terapeutik
9. Membantu pasien untuk
mengevaluasi hasil dari tindakan
yang telah dipilih

No

Diagnosa Keperawatan

Tujuan dan

(PES)

Kriteria Hasil

Intervensi

Support System Enhancement


Def :
Memfasilitasi dukungan pada pasien
oleh keluarga, tema, dan komunitas
Aktifitas
1.

Kaji respon psikologi terhadap


situasi dan keberadaan sistem

2.

dukungan
Menentukan kekuatan hubungan

3.

sosial yang ada


Identifiksi tingkat dukungan

4.

keluarga
Menentukan dukungan sosial yang

5.

sudah digunakan
Tentukan hambatan dalam

6.

penggunaaan sistem dukungan


Mendorong pasien untuk
berpartisipasi dalam aktifitas sosial

7.

dan komunitas
Menganjurkan pasien untuk
bergabung self-group jika

8.

memungkinkan
Menganjurkan pasien untuk
bergabung ke komunitas bedasarkan
program
promosi/pencegahan/perawatan/reha

9.

bilitasi, jika memungkinkan


Memberikan pelayanan dalam tata

cara yang mendukung dan caring


10. Melibatkan keluarga / orangorangterdekat/ sahabat dalam
perencanaan dan perawatan

3. Rencana Interaksi

Kriteria
Tahap Pre Interaksi
Mengumpulkan data tentang klien
Mengeksplorasi perasaan, fantasi dan
ketakutan diri
Membuat rencana pertemuan dengan

ketakutan diri, mendapatkan data dan informasi


tentang klien dari keluarganya. Perawat siap
untuk memulai interaksi dengan klien dan

klien
Tahap Orientasi
Mengucapkan salam dan bersalaman

keluarga.

pada klien
Memperkenalkan nama perawat
Menanyakan/memanggil nama

marah?
Bapak, kegiatan yang akan kita lakukan

panggilan kesukaan klien


Melakukan validasi perasaan, kognitif,

Bapak sudah tenang. Dan kita mau ngobrol

Selamat pagi Tn. Prt dan keluarga.


Bagaimana Bapak perasaannya? Apakah Masih

sekarang saya mau melepas ikatan Bapak karena


tentang permasalahan yang dihadapi Bapak.

afektif/psikomotor
Menjelaskan tanggung jawab dan peran

Tujuannya untuk kita sama-sama mencari

perawat serta klien


Menjelaskan kegiatan yg akan

Bapak jangan kuatir, hal ini menjadi rahasia kita

dilakukan
Menjelaskan tujuan wawancara
Menjelaskan kerahasiaan
Tahap Kerja
Melepas ikatan restrain.
Bantu klien dalam strategi perencanaan
untuk mencegah ekspresi kemarahan
3

Praktek
Perawat mengeksplorasi perasaan, fantasi dan

yang tidak tepat


Bersama-sama dengan klien,
identifikasi keuntungan dari ekspresi
kemarahan menggunakan perilaku yang
adaptif dan tidak melukai
Bangun ekspektasi klien untuk mampu
mengontrol perilakunya
Instruksikan penggunaan tindakan-

solusinya. Waktunya kurang lebih 20 menit.


dan petugas kesehatan yang menangani Bapak.

Bapak karena Bapak sudah tenang, saya akan


melepaskan ikatan Bapak. (Perawat melepaskan
ikatan)
Bapak kemarin kan kita sudah membicarakan
kalau marah Bapak tidak memberikan efek yang
baik dan Bapak sudah mengatakan dan
menyadari hal itu. Maka hari ini kita akan
merencanakan pola marah yang baik untuk
selanjutnya.
Menurut Bapak, cara marah yang baik seperti
apa?
(Jika jawaban Bapak Prt sudah benar, perawat

tindakan yang menenangkan (misalnya

memberikan inforcement positif. Jika belum,

napas dalam)
Bantu klien dalam membangun metode

perawat mengarahkan pada pola marah yang

yang baik untuk megekspresikan

baik)
Contohnya gini Pak, tadi Bapak bilang kalau

kemarahan kepada orang lain (misalnya

Bapak marah, Bapak pukul orang. Itu kan cara

sikap asertif)

Kriteria
Tunjuk seseorang yang dapat menjadi

Praktek
marah yang tidak baik, karena selain melukai

contoh bagi klien dalam

orang lain, Bapak bisa masuk penjara. Kalau

mengekspresikan kemarahan yang baik

sudah kayak gitu Bapak ga bisa lagi kumpul

1. Mengajari pasien untuk mengenali

sama keluarga. Bapak jadinya ga bisa lakukan

dirinya untuk berhenti dan berfikir

yang Bapak suka. Jadi besok diganti aja Pak,

sebelum marah-marah/ tindakan

kalo Bapak lagi marah, Bapak cari bantal atau

impulsif
2. Mendorong pasien untuk

kasur. Bapak boleh pukul itu sepuasnya sampai


ga marah. Kalau masih marah, Bapak cerita ke

mempraktekkan penyelesaian masalah

keluarga agar dibantu untuk mengatasi marah

pada situasi sosial dan interpersonal,

Bapak. Atau Bapak juga bisa ngomong langsung

diikuti oleh evaluasi


3. Memberikan kesempatan pada pasien

ke orangnya kalau Bapak lagi marah sama dia.


Bapak sebelumnya pernah ga marah sama orang

untuk mempraktekkan penyelesaian

tapi Bapak ga pukul dia, pukul orang lain,

masalah (role play) didalam lingkungan

ataupun ngerusak barang orang lain?


Bapak pernah memaafkan orang belum?
(Jika Bapak Prt menjawab iya, perawat

terapeutik
4. Membantu pasien untuk mengevaluasi
hasil dari tindakan yang telah dipilih

memberikan reinforcement positif bahwa pasien


bisa mengontrol marah)
Biasanya kalau Bapak sedang marah, Bapak
lakukan apa?
Saya mau ajarkan beberapa teknik untuk
mengontrol marah. (Perawat mengajarkan
relaksasi, tarikan napas dalam, dan sebagainya)
(Perawat mengidentifikasi orang terdekat pasien
yang dapat dijadikan role model untuk kontrol
kemarahan)
Bapak pernah liat Mr. X dijahati atau diejek
sama orang lain tidak? Kalau iya, apakah Bapak
memperhatikan cara menyikapi hal tersebut oleh
Mr. X? (Jika pasien belum tahu, perawat
menjelaskan respon Mr X yang baik dan bisa
dicontoh oleh pasien).
Apakah Bapak bisa mengenali gejala awal
sebelum Bapak marah? (Jika pasien menjawab
iya, maka perawat mendorong pasien untuk

Kriteria

Praktek
melakukan manajemen kontrol marah sejak saat
itu)
Tadi kan Bapak sudah tahu cara manajemen
marah yang baik. Silahkan Bapak praktikkan
kemudian dievaluasi, caranya Bapak bisa
menuliskan kegiatan sehari-hari Bapak dalam
bentuk diari setiap malam. Nanti sebulan sekali
bisa disharekan ke keluarga atau dibawa ketika
kontrol.
Nah sekarang coba kita praktikkan ya Pak yang
tadi udah saya ajarkan dimulai dari napas dalam,
kemudian pengungkapan marah yang baik, cara
tulis diari dan pilihan terakhir kumpul bantal.
Tadi kita udah coba praktikkan bagaimana
perasaan Bapak? Sudah lebih nyaman? Bapak
bisa melihat cara marah yang baik itu efeknya
bisa lebih baik dan tidak merugikan Bapak

Tahap Terminasi
Menyimpulkan hasil wawancara
4

(evaluasi proses dan hasil)


Memberikan reinforcement positif
Merencanakan tindak lanjut dgn klien
Melakukan kontrak lanjutan dgn klien
(waktu, tempat, topik)
Mengakhiri wawancara dgn cara yg
baik

Dimensi Respon
Berhadapan
Mempertahankan kontak mata
Tersenyum pada saat yg tepat
Membungkuk ke arah klien pd saat yg
tepat
Mempertahankan sikap terbuka
4. Demonstrasikan

maupun orang lain.


Baiklah Bapak dan keluarga. Jadi dapat saya
simpulkan

(hasil

wawancara).
Bapak sudah baik dalam memberikan cerita dari
sudut pandang Bapak tadi.
Jika Bapak tetap tenang dan kooperatif kami
akan

melepaskan

beristirahat Pak.

ikatan

Bapak.

Selamat

DAFTAR PUSTAKA
British Columbia Schizophrenia Society. 2005. Stages of Hallucination. Diakses tanggal 20
April

2014

dari

www.bcss.org/resources/topics-by-type/downloads/2005/06/stages-of-

hallucinations/
http://attakalya.wordpress.com/2010/05/02/akep-pasien-dengan-halusinasi/
Rasmun.2001. Keperawatan Kesehatan Mental Psikiatri Terintegrasi dengan Keluarga, untuk
Perawat dan Mahasiswa keperawatan. Jakarta:PT. Fajar Interpratama
Rumah Sakit Jiwa Ghrasia Yogyakarta. 2013. Halusinasi. Diakses tanggal 20 April 2014 dari
grhasia.jogjaprov.go.id/index.php/artikel/44-halusinasi.
Yosep, I., 2010. Keperawatan Jiwa. Bandung: Refika Aditama.