Anda di halaman 1dari 18

WORKPLAN DISKUSI KELOMPOK DAN

SIMULASI KASUS KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH

Disusun oleh Kelompok 7:


1. Rahmat Hidayat

13977

2. Gabi Ceria

13979

3. Mochammad Rizqi Abdillah

13983

4. Ipang Fitria Wanti

13986

5. Hana Pertiwi

13987

6. Trilis Widianingrum

13989

7. Suratun Almaidah

13994

8. Adistya Ayu Kusumaningtyas

13997

9. Mariana Ulfa

14002

10. Sonia Mahrudin

14009

11. Luluk Azizah

14010

12. Nur Aina Miatiwi

14011

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2014
1

KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH


KASUS B
Ibu Sisri, 59 tahun, dirawat di ruang penyakit dalam dengan keluhan muntah darah dan BAB
hitam, merasakan nyeri pada ulu hati.
Riwayat penyakit sekarang:
6 jam sebelum masuk rumah sakit, pasien mengeluh muntah darah 2 gelas belimbing
berwarna coklat, lemas (+), kembung (+), sebah (+).
Riwayat penyakit dahulu:
Riwayat sakit maag (+), hipertensi (+)
Diagnosa medik: Gastritis Erosive
Tindakan yang dilakukan di IGD:
Rekam EKG, pemeriksaan darah rutin
Hasil Lab:
Hb 8 mg/dl
AL 21,25
At 166
SGOT 20
SGPT 21
Alb 3,5
Hasil pengkajian:
Mengeluh nyeri, BAB hitam, muntah darah, lemas, TD 100/80 mmHg, N 98 x/menit lemah,
Suhu 37oC, RR 24 x/menit
Rencana tindakan selanjutnya:
Transfusi PRC 1 kolf
Spooling lambung

GASTRITIS
A. Gastritis Akut
Gastritis (inflamasi mukosa lambung) sering diakibatkan oleh diet yang sembrono.
Individu ini makan terlalu banyak atau terlalu cepat atau makan makanan yang terlalu
berbumbu atau mengandung mikroorganisme penyebab penyakit. Penyebab lain
menyakup alkohol, aspirin, refluk empedu, atau terapi radiasi.
Bentuk terberat dari gastritis akut disebabkan oleh mencerna asam atau alkali kuat,
yang dapat menyebabkan mukosa menjadi gangren atau perforasi. Pembentukan jaringan
parut dapat terjadi, yang mengakibatkan obstruksi pilorus. Gastritis juga merupakan
tanda pertama dari infeksi sistemik akut.
Patofisiologi dan manifestasi klinis
Membran mukosa lambung menjadi edema dan hiperemik (kongesti dengan
jaringan, cairan, dan darah) dan mengalami erosi superfisial, bagian ini mensekresi
sejumlah getah lambung, yang mengandung sangat sedikit asam tetapi banyak mukus.
Ulserasi superfisial dapat terjadi dan dapat menimbulkan hemoragi. Pasien dapat
mengalami ketidaknyamanan, sakit kepala, malas, mual, dan anoreksia. Sering disertai
dengan muntah dan cegukan. Beberapa pasien, asimptomatik.
Mukosa lambung mampu memperbaiki diri sendiri setelah mengalami gastritis.
Kadang-kadang, hemoragi memerlukan intervensi bedah. Bila makanan pengiritasi tidak
dimuntahkan tetapi mencapai usus, dapat mengakibatkan kolik dan diare. Biasanya
pasien sembuh kira-kira sehari, meskipun napsu makan mungkin menurun selama 2 atau
3 hari.
B. Gastritis Kronis
Inflamasi lambung yang lama dapat disebabkan oleh ulkus benigna atau meligna
dari lambung, atau oleh bakteri Helicobacter pylory (H. Pylory).
Patofisiolongi
Gastritis kronis dapat diklasifikasikan sebagai tipe A atau tipe B. Tipe A (sering
disebut gastritis autoimun) diakibatkan dari perubahan sel parietal, yang menimbulkan
atrofi dan infiltrasi seluler. Hal ini dihubungkan dengan penyakit otoimun seperti anemia
pernisiosa dan terjadi pada fundus atau cosus dari lambung. Tipe B (kadang disebut
sebagai gastritis H.pylory) mempengaruhi antrum dan pilorus (ujung bawah lambung
dekat duodenum). Ini dihubungkan dengan bakteri H.pylory; faktor diet seperti minum
panas atau pedas, penggunaan obat-obatan dan alkohol; merokok; atau refluks isi usus
kedalam lambung.
3

Manifestasi klinis
Pasien dengan gastritis tipe A secara khusus asimptomatik kecuali untuk gejala
defisiensi vitain B12. Ppada gastritis tipe B, pasien mengeluh anoreksia (napsu makan
buruk), nyeri ulu hati setelah makan, kembung, rasa asam di mulut, atau mual dan
muntah.
Evaluasi Diagnostik
Gastritis tipe Adihubungkan dengan aklorhidria atau hipoklorhidria (kadar asam
hidroklorida tidak ada atau rendah), sedangkan gastritis tipe B dihubungkan dengan
hiperklorihidria (kadar tinggi dari asam hidroklorida). Diagnosa dapat ditemukan dengan
endoskopi, serangkaian pemeriksaan sinar-x gastrointestinal (GI) atas, dan pemeriksaan
histologi. Tindakan diagnostik untuk mendeteksi H.pylory mencakup tes serologis untuk
antibodi terhadap antigen H.pylory dan tes pernapasan.
C. Penatalaksanaan
Gastritis akut ditangani dengan menginstruksikan pasien untuk menghindari alkohol
dan makanan sampai gejala berkurang. Bila pasien mampu makan melalui mulut, diet
mengandung gizi dianjurkan. Bila gejala menetap, cairan perlu diberikan secara
parenteral. Bila perdarahan terjadi, maka penatalaksanaan adalah serupa dengan prosedur
yang dilakukan untuk hemoragi saluran gastrointestinal atas. Bila gastritis diakibatkan
pleh mencerna makanan yang sangat asam atau alkali, pengobatan terdiri dari
pengenceran dan penetralisasian agen penyebab.
Untuk menetralisir asam, digunakan antasida umum (misal, aluminium hidroksida);
untuk menetralisisr alkali, digunakan jus lemon encer atau cuka encer. Bila korosi luas
atau berat, emetik dan lavase dihindari karena bahaya perforasi.
Terapi pendukung berupa intubasi, analgesik dan sedatif, antasida, serta cairan
intravena. Endoskopi fiberoptik mungkin diperlukan. Pembedahan darurat mungkin
diperlukan untuk mengangkat gangren atau jaringan perforasi. Gastrojejunostomi atau
reseksi lambung mungkin diperlukan untuk mengatasi obstruksi pilorus.
Gastritis kronis ditangani dengan memodifikasi diet pasien, meningkatkan istirahat,
mengurangi stress dan memulai farmakoterapi. H.pylory dapat diatasi dengan antibiotik
(seperti tetrasiklin atau amoksilin) dan garam bismut (pepto-bismol). Pasien dengan
gastritis tipe A biasanya mengalami malabsorbsi vitamin B12 yang disebabkan oleh
adanya antibodi terhadap faktor intrisik.

Keterangan: gambar sistematik struktur cross-sectional dinding lambung. (A) struktur


normal, (B) erosi superfisial, (C) erosi dalam (D) gastritis akut, (E) gastritis kronis.
D. Muntah darah dan Feses hitam
Muntah darah biasanya terjadi bila ada perdarahan di daerah proksimal jejunum dan
feses hitam dapat terjadi sendiri maupun bersama-sama muntah darah. Paling sedikit
terjadi perdarahan sebanyak 50-100 ml, baru dijumpai keadaan feses hitam. Banyaknya
darah yang keluar saat muntah darah atau feses hitam sulit dipakai sebagai patokan untuk
menduga besar kecilnya perdarahan saluran makan bagian atas.
Pada feses hitam perjalanannya melalui usus, darah menjadi bewarna merah gelap
bahkan hitam. Perubahan warna disebabkan oleh HCl lambung, pepsin dan warna hitam
ini diduga karena adanya pigmen porfirin. Diperkirakan darah yang muncul akan
tertahan pada saluran cerna sekitar 6-8 jam untuk merubah warna feses menjadi hitam.
Feses tetap bewarna hitam seperti ter selama 48-72 jam setelah perdarahan berhenti.

A. ASUHAN KEPERAWATAN
B.
C. Pengkajian
D. Identitas diri klien
-

Nama
Umur
Jenis kelamin
Alamat
Agama
Suku

: Ibu Sisri
: 59 tahun
: Perempuan
:::-

Pendidikan
:Pekerjaan
:Lama bekerja
:TMRS
:TP
:Sumber Informasi: -

Riwayat penyakit
-

Keluhan utama saat masuk RS

Muntah darah, dan BAB hitam, merasakan nyeri pada ulu hati

1. Riwayat penyakit sekarang

: 6 jam sebelum masuk rumah sakit pasien mengeluh

muntah darah 2 gelas belimbing bewarna coklat, ;emas (+), kembung (+), sebah (+).
2. Riwayat penyakit dahulu
: sakit maag (+), hipertensi (+)
3. Diagnose medis pada saat MRS, pemeriksaan penunjang dan tindakan yang telah
dilakukan, mulai dari pasien MRS (UGD/Poli), sampai diambil kasus kelolaan.
Masalah / Diagnose medis pada saat MRS : Gastritis erosive.
-

Pemeriksaan penunjang : Pemeriksaan lab dengan hasil lab

Hasil Lab :

Data

min

Lab
Hb
mg/dl
AL
At
SGOT SGPT Albu
-

Hasil
8
21,25
166
20
21
3,5

Tindakan yang telah dilakukan di poliklinik / UGD :

rekam

EKG,

pemeriksaan darah rutin.


-

Catatan penanganan kasus (dimulai saat pasien dirawat di ruang rawat sampai

pengambilan kasus kelolaan) : -

Pengkajian Keperawatan

1. Persepsi dan pemeliharaan kesehatan


Pengetahuan tentang penyakit / perawatan
2. Pola nutrisi / metabolic
Program diit RS
:Intake makanan
:Intake cairan
:3. Pola eliminasi
a. Buang air besar : b. Buang air kecil : 4. Pola aktivitas dan latihan

:-

Ke

ma

um
Ma

ndi
Toil

mp
uan
pera
wat
an
-

diri
Ma
kan
/
min

etin
-

g
Ber
pak

aian
Mo
bilit
as
di
tem
pat
tidu

r
Ber
pin

dah
Am
bula
si /
RO

M
0=mandiri, 1=alat bantu, 2=dibantu orang lain, 3=dibantu orang lain dan alat,

4=tergantung total
Oksigenasi
:5. Pola tidur dan istirahat
(lama tidur, gangguan tidur, perasaan saat bangun tidur)
:6. Pola perceptual (penglihatan, pendengaran, pengecap, sensasi) : Pola persepsi diri (pandangan klien tentang sakitnya, kecemasan, konsep diri)
:7. Pola seksualitas dan reproduksi (fertilitas, libido, menstruasi, kontrasepsi, dll)
8. Pola peran hubungan (komunikasi, hubungan dengan orang lain, kemampuan

:-

keuangan)
Pola manajemen koping stress (perubahan terbesar dalam hidup pada akhir
akhir ini, dll) : 9. System nilai dan keyakinan (pandangan klien tentang agama, kegiatan keagamaan,
dll) : -

Pemeriksaan Fisik

(Cephalocaudal)

Keluhan yang dirasakan saat ini : mengeluh nyeri, BAB hitam, muntah darah,
lemas.
-

TD : 100/80 mmHg, P : 24 x/menit, N : 98x/menit, S : 370C

BB/TB

:-

Kepala

:-

Leher

:-

Thoraks

:-

Abdomen

:-

Inguinal

:-

Ekstremitas ( termasuk keadaan kulit, kekuatan)

:-

Penanganan Kasus : transfusi PRC 1 kolf, spooling lambung.

E. Diagnosa Keperawatan
-

Diagnosa

Tujuan dan Kriteria

Keperawatan

Intervensi

Hasil

o
-

Nyeri Akut

1.

Definisi

1. Pain level
: -

Definisi: keparahan

pengalaman

dari nyeri yang dilaporkan

tidak

atau dilihat

menyenangka

Indikator :

n baik sensori

a. Melaporkan nyeri

maupun

b. Lama episode nyeri

emosional

c. Laju pernapsan

yang dapat diterima oleh


pasien
- Kegiatan:
a. Lakukan
pengkajian
komprehensif
b. Observasi

dari

2. Discomfort Level

kerusakan

Definisi: keparahan

jaringan baik dari ketidaknyamanan fisik

Reaksi

nonverbal

dan

ketidaknyamanan
c. Gunakan
Komunikasi

aktual

atau mental yang dilaporkan

terapeutik

maupun

dan dilihat

mengetahui pengalaman

potensial,
yang
secara
tiba

terjadi
tibamaupun -

lambat untuk
intensitas dari

Indikator :

a. Nyeri
b. Muntah

nyeri
d. Kaji

untuk

Kultur

yang

mempengaruhi
nyeri
e. Evaluasi

respon

pengalaman

nyeri masa lampau


f. Bantu
Pasien

dan

ringan sampai

keluarga untuk mencari

berat dengan

dan

akhir

yang

terantisipasi
atau

dapat

diprediksi dan

pengurangan atau penurunan


nyeri pada level kenyamanan

yang berasal

1. Pain Management
Definisi:

menemukan

dukungan
g. Kontrol lingkungan
h. Kurangi faktor pencetus
nyeri
i. Pilih

dan

durasi kurang

penanganan

dari 6 bulan

(Farmakologik,
Nonfarmakologi

lakukan
nyeri
dan

Batasan
karakteristik :

interpersonal)
j. Kaji sumber dan tipe

a. Pasien melaporkan nyeri


b. Peningkatan

laju

pernapasan
c. Perilaku eskpresif (e.g.
mengeluh)

nyeri untuk menentukan


intervensi
k. Ajarkan tentang teknik
nonfarmakologi
l. Berikan analgetik untuk
meredakan nyeri
m. Tingkatkan istirahat
n. Kolaborasi dengan dokter
jika ada keluhan dan
tindakan

nyeri

berhasil
o. Monitor

tidak

penerimaan

pasien

tentang

managemen nyeri
2. Analgetik
-

administration
Definisi: penggunaan

agen

farmakologi

untuk

mengurangi

atau

menghilangkan nyeri
Kegiatan:
a. Tentukan
lokasi,
karakteristik, kualitas dan
derajat

nyeri

sebelum

pemberian obat
b. Cek instruksi

dokter

tentang jenis, dosis dan


frekuensi obat
c. Cek riwayat alergi
d. Pilih analgetik
diperlukan
e. Pilih rute

pemberian

secara IM, IV
f. Monitor
vital
sebelum
pemberian

dan

yang

sign
sesudah

analgetik

pertama
g. Berikan analgetik tepat
waktu
h. Evaluasi

aktivitas

analgetik

tanda

dan

gejala (efek samping)


3. Manajemen muntah
-

Definisi: pencegahan

dan pengurangan muntah


-

Kegiatan:

a. Kaji

emesis:

warna,

konsistensi, darah, waktu


b. Hitung atau perkirakan
volume emesis
c. Posisikan

untuk

mencegah muntah
d. Berikan kenyamanan saat
muntah
e. Monitor

kerusakan

esofagus
bagian

dan

faring

posterior

muntah

dan

jika

retching

berkelanjutan
f. Ajarkan

pasien

teknik

nonfarmakologi
(relaksasi,

hipnosis)

untuk memanaj muntah


2.

Resiko

1. Fungsi

Perfusi

Gastroiintestinal

Gastrointesti
nal
efektif

1. Penurunan perdarahan

tidak

Definisi:

gastrointestinal
-

Definisi:

sejauh mana

pembatasan

makanan

jumlah

darah

Definisi

(ditelan atau

yang

hilang

Resiko

melalui

dari

traktus

penurunan

selang)

gastrointestina

sirkulasi

berpindah

l bagian atas

gastrointestin

dari

dan bawah

al

sampai

yang

membahayak

Indikator:

b. Distensi abdominal

resiko :

c. Darah dalam tinja

(e.g. gastric ulcer)


c. Gastrointestinal
hemorrhage akut

d. Hasil

aspirasi

lambung : warna
e. Hasil
lambung

adanya perdarahan
b. Pertahankan

Faktor

b. Penyakit gastrointestinal

Kegiatan:

a. Monitor tanda dan gejala

a. Warna tinja

a. Jenis kelamin wanita

ekskresi

an kesehatan
-

oral

kepatenan

jalan nafas
c. Monitor

faktor

berhubungan
transfer

yang
dengan

oksigen

ke

aspirasi

jaringan (PaO2, SaO2 dan

jumlah

hemoglobin)

residu

d. Berikan

cairan

melalui

intravena

2. Perfusi jaringan: organ e. Hematest semua sekresi


abdominal
-

dan observasi darah di


Definisi:

emesis,

feses,

kecukupan

drainase

NG

aliran darah f. Pasang NGT


melalui

g. Lakukan lavase NGT

pembuluh

2. Manajemen elektrolit

darah

kecil

Definisi:

visera

meningkatkan

abdomen

keseimbangan

untuk

elektrolit

mempertahan

mencegah

kan

komplikasi

fungsi

dan

organ

yang

Indikator:

dihasilkan dari

a. Keseimbangan asam
basa dan elektrolit

level

serum

elektrolit yang

b. Perubahan

abnormal atau

keseimbangan cairan

tidak
diinginkan
-

Kegiatan:

a. Monitor pada level serum


elektrolit

yang

tidak

normal
b. Pelihara laporan intake
dan output secara akurat
c. Berikan

suplemen

elektrolit (oral atau NG)


3. Fluid Management
-

Definisi :

a. Mengontrol tanda-tanda
vital
b. Berikan terapi IV
c. Berikan produk darah
d. Monitor cairan
e. Monitor

intake

dan

output cairan
-

3.
-

Resiko

1. Infection severity

Infeksi

Definisi

Resiko

Definisi: keparahan -

dengan gejala

Broken

Indikator

a. Gejala gastrointestinal

patogenik

b. Letargi

Faktor

primer

Skin

(Pemasangan NGT, IV,

a. Menggunakan

sarung

sesuai

aturan

universal precaution

2. Risk control
-

Kegiatan:
tangan

a. Ketidakdekuatan
pertahanan

transmisi agen infeksi

organisme

resiko :

Definisi:

infeksi yang berhubungan meminimalisasi akuisisi dan

terinvasi oleh

1. Kontrol Infeksi

Definisi:

kegiatan

b. Pertahankan

sistem

tertutup

selama

seseorang untuk mencegah,

melakukan

menghilangkan

infasif

menurunkan

dan
ancaman

hemodinamik

prosedur
monitoring

pengambilan darah)

kesehatan

b. Prosedur invasif
c. Ketidak

c. Perawatan aseptik pada


-

adekuatan

Indikator

a. Mengetahui

pertahanan sekunder :

faktor

resiko

Penurunan nilai Hb (Hb :

b. Menjalankan

8 mg/dl)

c. Gunakan
-

2. Perlindungan Infeksi

strategi -

mengontrol resiko

semua jalur Intravena

dan deteksi dini pada pasien

pelayanan yang terinfeksi

kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan


-

Definisi: pencegahan

Kegiatan:

a. Pertahankan asepsis pada


pasien yang beresiko
b. Monitor
adanya

tanda
infeksi

gejala
baik

sistemik maupun lokal


c. Monitor
infeksi
-

kerentanan

TINDAKAN YANG DILAKUKAN

1. Infus
a. Definisi
-

Perawatan infus adalah tindakan yang diberikan perawat kepada pasien

yang telah dilakukan pemasangan infus sesuai prosedur guna menghindari hal-hal
yang tidak diinginkan. Menurut SOP keperawatan perawatan infus adalah
perawatan pada tempat pemasangan infus.
b. Tujuan Perawatan Infus
- Tujuan perawatan infus adalah untuk mencegah terjadinya infeksi.
c. Indikasi
1) Pada pasien yang terpasang infus
2) Pasien dengan kesulitan bergerak/bed rest
3) Pasien dengan pemasangan infuse yang relatif lama
d. Prinsip Umum Perawatan Infus
-

Dilakukan dengan prinsip aseptik (steril) seperti mencuci tangan

sebelum dan sesudah melakukan tindakan, memakai handscoon tujuannya agar


pasien terhindar dari infeksi nosokomial.
1) Mengatur posisi pasien (tempat tusukan infus terlihat jelas)
2) Memakai sarung tangan
3) Membasahi plester dengan alcohol/wash bensin dan buka balutan dengan
menggunakan pinset.
4) Membersihkan bekas plester
5) Membersihkan daerah tusukan dan sekitarnya dengan NaCl
6) Mengolesi tempat tusukan dengan iodin cair/salf
7) Menutup dengan kassa steril dengan rapi
8) Memasang plester penutup
9) Mengatur dan memonitor tetesan infus sesuai program
b. Prosedur Perawatan Infus
1) Ganti kassa steril penutup luka setiap 24-48 jam
2) Evaluasi dan kaji adanya tanda-tanda infeksi
3) Observasi tanda/reaksi alergi terhadap infus atau komplikasi lain
4) Kencangkan klem infus sehingga tidak mengalir saat melakukan perawatan
infus
5) Bersihkan lokasi penusukan dengan antiseptic

6) Mendokumentasikan waktu pemasangan infus dan reaksi klien terhadap


tempat/lokasi vena perifer yang sering digunakan pada pemasangan infus
2. NGT
-

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam perawatan NGT

a. Sebaiknya selang NGT tetap dipasang untuk mencegah terjadinya iritasi dan bahaya
dan mengurangi perasaan tidak nyaman dalam pemasangan dan pencabutan.
b.

NGT yang dipasang terus menerus harus diganti pada umumnya tujuh hari sekali
kecuali ada intruksi baru.

c. Untuk mencegah udara masuk lambung (yang menyebabkan kembung):

Waktu memasukan dan mencabut selang makanan, pangkal selang harus diklem

Corong jangan di biarkan kosong bila akan menuangkan cairan

Memasukan makanan jangan terlalu deras

Suhu makanan sesuai dengan suhu ruang ( suhu badan ) dan usahakan makanan
dalam keadaan segar

Pastikan slang tidak salah masuk atau merubah posisi ke saluran pernafasan

Diameter NGT yang dimasukkan melalui hidung lebih kecil jika dibandingkan
dengan diameter NGT yang dimasukan melalui mulut

d.

Aliran 3 ml air hangat diberikan tiap 4 jam sekali untuk melicinkan pemasukan
formula makanan kedalam pencernaan.

e. Obat-obat yang diberikan harus dihaluskan terlebih dahulu kemudian dicampur dengan
air, lalu diberikan melalui NGT.
f. Perhatikan airway dengan cara melakukan suction yang teratur jika sekresi pada oral
tetap ada
g. Pertahankan agar slang NGT tidak buntu dengan dilakukan irigasi dan reposisi.
h. Pasien atau perawat harus secara teratur membuat protokol tentang frekuensi, jumlah
dan konsistensi dari tinja.
i. Pasien atau perawat harus setiap kalo mengontrol apakah letak tanda NGT masih
berada pada permukaan lubang hidung dan tidak bergeser. NGT harus tetap melekat
sempurna di sayap hidung dengan plester yang baik, tanpa menimbulkan rasa sakit
j. Mesin pompa dan sistem pipa plastik harus dikontrol baik-baik kebersihannya dan tidak
boleh bocor.
k. Nutrisi enteral NGT tidak perlu dihentikan bila

Diare ringan

Perut terasa penuh

Dislokasi NGT yang tidak terlalu berat


-

Dalam hal ini, perawat dapat menanggulanginya dengan cara :

Kecepatan nutrisi enteral harus diturunkan 40 ml/jam

Apakah ada kemingkinan kontaminasi pada waktu mempersiapkan zat nutrisi, bila iya
sistem saluran dan zat nutrisi harus diganti dengan yang baru dan bersih.

Jika terjadi dislokasi letak NGT maka periksa letak NGT dengan menggunakan
stetoskop untuk mengauskultasi lambung.
-