Anda di halaman 1dari 33

WORK PLAN STASE KEPERAWATAN JIWA

BLOK 4.5
COMPREHENSIVE CLINICAL NURSING SKILLS

Oleh :
Rachmat Hidayat

(13977)

Gabi Ceria

(13979)

Mochammad Rizqi

(13983)

Ipang Fitri Wanti

(13986)

Hana Pertiwi

(13987)

Trilis Widianingrum (13989)


Suratun Almaidah

(13994)

Adistya Kusuma

(13997)

Mariana Ulfa

(14002)

Sonia Mahrudin

(14009)

Luluk Azizah

(14010)

Nur Aina Miatiwi

(14011)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS GADJAH MADA
2014

Work Plan Keperawatan Jiwa


KASUS A
Tn Hpt. 40 tahun, dibawa ke ruang Teratai (bangsal Jiwa). Klien sudah terlihat tenang pada saat dibawa
keruangan. Saat di dalam ruangan rawat inap klien menunjukan perilaku menyeringai sendiri, lambat
dalam menjawab pertanyaan perawat, dan gerakan bola mata yang cepat, kadang-kadang ketawa sendiri
dan sulit untuk memfokuskan pembicaraan. Dari rekam medis didapatkan bahwa dokter mendiagnosa
pasien tersebut dengan diagnosa schizofrenia tak terinci.
1. Analisis Data
Tanggal
Hari pertama
masuk ruang
Teratai
(Bangsal
Jiwa)

Data
DS :
DO :
-

Sulit memfokuskan
pembicaraan
Lambat dalam menjawab
pertanyaan
Sudah terlihat tenang
Menyeringai sendiri
Tertawa sendiri

Masalah Keperawatan
Gangguan persepsi sensori spesifik : audio
visual berhubungan dengan stres psikologis

Usia 40 tahun
Diagnosa medis schizofrenia tak
terinci
Gerakan bola mata cepat

2. Rencana Asuhan Keperawatan Jiwa


No.
1.

Diagnosa

Tujuan dan Kriteria Hasil

Intervensi

Gangguan persepsi
sensori spesifik :
audio visual
berhubungan dengan
stres psikologi
Definisi: Perubahan
dalam jumlah atau
pola terhadap
stimulus yang datang
disertai dengan
penurunan,
berlebihan, distorsi
atau gangguan
merespon terhadap
stimulus tertentu.
Batasan

1. Konsentrasi
Definisi:
kemampuan untuk
fokus terhadap
stimulus yang
spesifik.
Indikator:
- Pasien dapat
mempertahankan
perhatiannya.
- Pasien dapat
fokus
2. Fungsi Sensori :
Pendengaran
Definisi:
meningkatkan dalam
mendengar sumber

1. Manajemen Halusinansi:
Meningkatkan keamanan, kenyamanan
dan orientasi realitas kepada pasien yang
mengalami halusinasi.
Aktivitas:
- Memonitor dan meregulasi terhadap
tingkat aktivitas dan stimulasi
terhaadap lingkungan
- Menyediakan pengawas untuk
memonitor pasien
- Catat peilaku pasien yang
mengindikasikan halusinasi
- Berikan kesempatan kepada pasien
untuk mendiskusikan halusinasi
- Mendorong pasien memvalidasi
halusinasi kepada seseorang yang
dipercaya

karakteristik:
- Perubahan
pola perilaku
- Halusinasi
- Konsentrasi
menurun

3. Rencana Interaksi
No. Tahap
1.
Pre interaksi

2.

Orientasi

suara yang benar.


Indikator:
- Pasien menujukan
kesenangan
terhadap stimulus
auditory/
pendengaran
- Pasien dapat
menyadari
sumber suara
- Pasien dapat
beralih dari suara
3. Fungsi Sensori:
penglihatan
Definisi:
dapatmengidentifika
si stimulus visual
yang benar.
Indikator :
- Pasien dapat
berstimulus
terhadap stimulus
visual

Tindakan
- Mengumpulkan data
tentang pasien
- Mengeksplorasi
perasaan, fantasi dan
ketakutan diri
- Membuat rencana
pertemuan dengan
klien
-

Mengucapkan salam
dan bersalaman
drngan klien
Memperkenalkan
nama perawat
Menanyakan nama
dan panggilan
kesukaan klien
Melakukan validasi
Menjelaskan

Hindari berargumentasi dengan


pasien tentang validasi terhdapa
halusinasi
- Memfokuskan pada perasaan pasien
dibandingkan dengan konten
halusinasinya
- Mengajarkan klien tentang obatobatan yang digunakan
- Memonitor efek samping dan efek
terapeutik dari obat
- Mengedukasikan kepada keluarga
bagaimana mengatasi pasien yang
mengalami halusinasi
2. Orientasi realita: meningkatkan
kesadaran pasien terhadap waktu dan
lingkungan
Aktivitas:
- Menyebutkan dan menanyakan nama
pasien saat interaksi
- Mendekati pasien secara perlahan
dan dari depan
- Menggunakan pendekatan secara
pelan dan kalem saat berinteraksi ke
pasien
- Menyediakan caregiver yang familiar
dengan pasien

Operasional
Saya telah membaca rekam medis pasien
bahwa pasien memerlukan pengkajian untuk
melengkapi data guna pertimbangan dalam
pemberia tindakan.
Saya telah mengeksplorasi perasaan,
ketakutan diri dan fantasi.
Saya telah melakukan pengkajian saat pasien
masuk di ruang teratai
N : Selamat pagi, Pak. Perkenalkan saya
perawat Dewi, saya yang akan merawat
Bapak. Bapak lebih suka dipanggil siapa?
P : tidak respon, senyum- senyum saja.
N : Bapak tidak usah takut dengan saya, saya
akan menjaga rahasia Bapak, jadi Bapak
bisa bercerita apa saja pada saya. Saya
lihat bapak senyum- senyum, apa yang
membuat Bapak senyum- senyum/

3.

Kerja

4.

Terminasi

tanggungjawab
perawat dan klien
Menjelaskan
tindakan yang akan
dilakukan
Menjelaskan tujuan
Kerahasiaan
Memberikan
kesempatan klien
untuk bertanya
Memulai kegiatan
dengan cara yang
baik
Menanyakan
keluhan utama klien
Mengkaji riwyat
penyakit pasien
Mengkaji riwayat
pengobatan

Menyimpulkan hasil
wawancara
Memberikan
reinforcement positif
Merencanakan tindak
lanjut
Melakukan kontrak
selanjutnya
Mengakhiri
wawancara dengan
baik

P : tidak respon, tampak sedih, kemudian


senyum- senyum lagi.

N : Apa yang sedang Bapak alami? Apakah


Bapak merasakan sesuatu? Apa yang
Bapak lihat? Apa yang Bapak dengar?
P : tetap tidak respon.
N : Kapan Bapak mengalami peristiwa itu?
dan seberapa sering peristiwa itu muncul?
P : senyum- senyum lagi.
N : Baiklah, kalau Bapak belum mau bicara,
akan saya tunggu dulu selama lima menit.
P : ketawa- ketawa,lalu tampak sedih, dan
senyum- senyum lagi.
(Perawat Dewi menunggu sampai lima
menit sambil tetus memperhatikan
perilaku pasien.)
(Lima menit kemudian, perawat Dewi
kembali menanyakan hal- hal yang sudah
ditanyakan diinteraksi pertama tadi.
Tetapi pasien tetap tidak merespon setiap
pertanyaan yang diajukan oleh perawat
Dewi. Pasien hanya tersenyum- senyum
sendiri dan terkadang tampak murung
lagi. Akhirnya perawat Dewi melakukan
terminasi dan kontrak sepihak.)
N : Baiklah, kalau Bapak masih belum mau
bercerita, pertemuan kali ini kita
cukupkan sampai disini dulu. Saya yakin,
Bapak mendengar apa yang telah kita
bicarakan tadi. Sekarang Bapak bisa
istirahat, nanti 2 jam lagi saya akan
datang lagi disini untuk berbicara lagi.
Selamat pagi, Pak.

SITUASI 1
Saat interaksi perawat melihat pasien menunjukan keadaan berkeringat, tremor, tidak mampu mengikuti
instruksi atau pembicaraan perawat atau orang lain. Klien hanya bisa ditarik perhatiannya jika disentuh.

Berdasarkan kasus ada situasi 1, pasien mengalami halusinasi tingkat III dengan ciri-ciri berkeringat,
tremor dan tidak mampu mengikuti instruksi perawat
No.
1

Tahap
Preinteraksi

Tindakan
- Mengumpulkan data
tentang pasien
- Mengeksplorasi
perasaan, fantasi dan
ketakutan diri
- Membuat rencana
pertemuan dengan
klien

2.

Orientasi

3.

Kerja

Memberikan salam
dan tersenyum dengan
pasien
Melakukan validasi
Menyebutkan nama
perawat
Menjelaskan kegiatan
yang akan dilakukan
Menjelaskan tujuan
dan waktu kegiatan
Menjaga kerahasiaan
Memberikan klien
untuk kesempatan
bertanya
Menanyakan keluhan
utama
Mendiskusikan
mengenai halusinasi
(jenis, tingkat, isi,
frekuensi, respon)
Bantu klien
menentukan siapa
yang dapat
menyelesaikan
masalah
Memberikan rasa
aman
Menanyakan pada
klien keinginan untuk
menghilangkan
halusinasi
Menyanyakan klien
tentang pengetahuan

Operasional
Saya telah membaca rekam medis pasien
bahwa pasien memerlukan manajemen
halusinasi utnuk mengontrol halusinasinya.
Saya elah mengeksplorasi perasaan,
ketakutan diri dan fantasi.
Saya telah membuat janji dengan klien untuk
bertem pada hari A jam B di C. Saya siap
bertemu dengan klien
Perawat Dewi
: selamat pagi
bapak X, saya perawat dewi pak
hari ini saya akan melanjutkan
perbincangan kita yang kemarin
pak, bagaimana pak apakah bapak
bersedia?
Bapak X
: berapa lama ya mb?
Tempatnya disini saja ya mb
Perawat Dewi
: ya nanti sekitar
7 menit pak X. Iya tempatnya disini
saja pak.
Perawat Dewi : Dari kemarin saya
perhatikan bapak senyum senyum
sendiri, kira-kira ada hal menarik
apa ya pak? Bapak dapat
menceritakan semuanya kepada
saya dan saya akan menjaga
kerahasian bapak
Bapak X
: ini lho mb saya itu
sering dapat kabar kalo saya itu
menang tender besar mb, jadi saya
senang. Tapi kadang saya juga
sedih karena saya sering dapat
kabar juga kalau saya kalah tender
mb
Perawat Dewi
: ohh begitu ya
pak, bapak mendapat kabar itu dari
siapa pak kalau boleh saya tau?
Bapak X
: kalau dari suaranya
seperti suara anak saya mb, tp saya
tidak melihat ada yang mendatangi
saya

4.

Terminasi

cara menghilangkan
Menjelaskan cara
mengontrol halusinasi
(menghardik,
mengabaikan,
distraksi/ajak
oranglain bicara,
melakukan aktivitas
yang disukai/hobi,
pemberian obat, TAK/
Terapi Aktivitas
Kelompok)

Perawat Dewi
: biasanya suara
itu munculnya kapan pak?
Bapak X
: kabar itu biasanya
datang kalau saya sedang sendiri
mb, sedang tidak ada kerjaan
Perawat Dewi
: berapa kali pak
biasanya dalam sehari, waktunya
pagi siang atau malam?
Bapak X
: biasanya malam mb
kalau saya tidak ada kerjaan
Perawat Dewi
: baik bapak,
saya percaya dengan apa yang
bapak dengar selama ini, namun
suara yang selama ini bapak dengar
saya dan orang lain yang ada disini
tidak bisa mendengar pak, nah hal
seperti ini lah yang disebut
halusinasi pak. Dan yang saat ini
bapak alami adalah halusinasi
dengar pak. Nah besok akan saya
ajarkan kepada bapak cara untuk
mengontrol halusinasi bapak agar
bapak tidak terganggu, bagaimana
pak?
Bapak X
: baik mb

Menyimpulkan hasil
kegiatan (tingkat
halusinasi, isi,
frekuensi, respon,
keinginan mengontrol)
Menyuruh klien
mempraktekan 6 cara
mengontrol halusinasi
Reinforcement positif
Kontrak waktu dan
tindak lanjut klien

Perawat Dewi
: baik bapak
terimakasih atas waktunya dan
bapak telah bekerjasama dengan
baik, besok pagi kita bertemu lagi
ya pak disini untuk mengajarkan
nanti bagaimana cara mengontrol
halusinasi bapak. Karena saya
masih ada pasien yang akan sya
temui lagi, silahkan bapak b
eristirahat kembali. Terimakasih
Bapak X
: baik mb

SITUASI 2
Beberapa hari setelah perawatan, pasien menunjukan perilaku halusinasi yang menurun dan ada
rekomendasi klien untuk pulang dalam waktu dekat. Pada saat perawat menemui pasien, perawat
mendapatkan data bahwa pasien belum tahu apa yang harus dilakukan di rumah terkait dengan
penyakitnya.

1. Analisis Data
Tanggal
Hari ke tujuh
setelah masuk
ruang Teratai
(Bangsal Jiwa)

Data
DS :
-

DO :
-

Pasien mengatakan
menyatakan belum tahu
tindakan yang dilakukan di
rumah terkait dengan
penyakitnya

Masalah Keperawatan
Kurang Pengetahuan berhubungan dengan
tidak mendapatkan informasi yang cukup

Perilaku halusinasi menurun


akan pulang dalam waktu
dekat

2. Rencana Asuhan Keperawatan Jiwa


Diagnosa
No.
Tujuan dan Kriteria Hasil
Keperawatan
1.
Kurang
Knowledge: health resource
pengetahuan
Meningkatkan penyampaian
Definisi: kurang
pengetahuan tentang sumber
informasi kognitif pelayanan kesehatan
tentang topik
Indikator:
yang spesifik
- Kapan memperoleh
berhubungan
bantuan dari tenkes
dengan tidak
profesional
- Emergency measure
mendapatkan
- Sember layanan darurat
informasi yang
- Pentingnya di follow up
cukup
perawatan
Batasan
- Rencana perwatan follow
karakteistik:
up
Verbalisasi
- Ketersediaan sumber
masalah
daya komunitas

Intervensi
1. Health Education
Meningkatkan dan menyediakan instruksi
dan pengalaman pembelajaran untuk
memfasilitasi adaptasi sukarela dari perilaku
yang kondusif bagi kondisi individu,
keluarga, kelompok dan masyarakat
Aktivitas:
- Mengidentifikasi faktor internal dan
eksternal yang dapat
meningkatkan/mengurangi motivasi
untuk perilaku kesehatan
- Menentukan pengetahuan kesehatan saat
ini dan perilaku gaya hidup individu,
keluarga
- Mendampingi individu, keluarga untuk
mengklarifiksi kepercayaan tentang
kesehatan
- Mengidentifikasi sumber (orang,
peralatan, keuangan) kebutuhan untuk
program
- Melibatkan individu, keluarga dan
kelompok dalam merencanakan dan
mengimplementasikan rencana untuk
gaya hidup atau pengobatan perilaku
kesehatan
2. Health System Guidance
Memfasilitasi lokasi pasien dan
menggunakan pelayanan kesehatan yang
tepat

Aktivitas:
- Menjelaskan sistem pelayanan kesehatan
- Membantu pasien/keluarga untuk
berkoordinasi dan berkomunikasi dengan
pelayanan kesehatn
- Menginstruksi pasien pada tipe elayanan
kesehatan (terapis, psikolog, spesialis
keperawatan)
- Menginformasikan pasien tentang
perbedaan dari tipe fasilitas pelayanan
kesehatan (RS umu, RS spesialis, klinik)
- Menginformasikan pasien mengenai
sumber kelompok yang tepat dan contact
person
- Menasehati menggunakan pendapat lain
- Menginformasikan pasien bagaimana
mengakses pelayanan emergensi dengan
telepon dan kendaraan
- Mengidentifikasi dan memfasilitasi
komunikasi diantara pelayanan kesehatan
dan individu/keluarga
- Menginformasikan pasien/keluarga
bagaimana menanyakan keputusan yang
dibuat oleh tenaga pelayanan kesehatan
- Mendorong konsultasi pada tenaga
kesehatan profesional lain yang sesuai
- Meninjau dan memperkuat informasi
yang diberikan oleh tenaga kesehatan
lain
- Mengkoordinasikan/menjadwalkan
waktu yang dibutuhkan setiap
layanan untuk memberikan
perawatan
- Menginformasikan pasien mengenai
biaya, waktu, alternatif pada setiap
prosedur
- Memberikan instruksi yang tertulis
mengenai tujuan dan lokasi dari
aktivitas yang dilakukan pasien
setelah keluar dari RS
- Mendiskusikan hasil dari kunjungan
dengan tenaga kesehatan yang lain
- Mengidentifikasi dan memfasilitasi
transportasi yang dibutuhkan untuk
mendapatkan pelayanan tenaga
kesehatan
- Memberikan kontak tindak lanjut

3. Rencana Interaksi
No. Tahap
Tindakan
1
Preinteraksi
- Mengumpulkan data
tentang pasien
- Mengeksplorasi perasaan,
fantasi dan ketakutan diri
- Membuat rencana
pertemuan dengan klien

2.

Orientasi

3.

Kerja

Memberikan salam dan


tersenyum dengan pasien
Melakukan validasi
Menyebutkan nama
perawat
Menjelaskan kegiatan
yang akan dilakukan
Menjelaskan tujuan dan
waktu kegiatan
Menjaga kerahasiaan

Memberikan klien untuk


kesempatan bertanya
Menanyakan keluhan
utama
Memberikan edukasi

dengan pasien
Memonitor keadekuatan dari tindak
lanjut pelayanan kesehatan saat ini
Memberikan laporan kepada
pengasuh setelah keluar dari RS
Mendorong pasien/keluarga untuk
bertanya mengenai pelayanan dan
biaya yang diperlukan

Operasional
Saya telah membaca rekam medis pasien
bahwa pasien halusinasinya sudah menurun,
akan pulang dalam waktu dekat dan
memerlukan edukasi tindakaan di rumah
terkait penyakitnya .
Saya telah mengeksplorasi perasaan,
ketakutan diri dan fantasi.
Saya telah membuat janji dengan klien untuk
bertem pada hari A jam B di C. Saya siap
bertemu dengan klien
P : Selamat siang Pak Naryo
N : Ya, siang..
P : Bagaimana kabarnya pak?
N : Ya sudah lebih baik mbak.
P : oh ya, syukurlah, Alhamdulillah.. Masih
ingat dengan saya, Pak Naryo?
N : Masih lah mbak, yang kemarin itu kan?
P : Iya pak, benar sekali, yang kemarin
menemui bapak. Sesuai janji kita kemarin ya
Pak, siang ini kita akan belajar bagaimana
mengatasi halusinasi bapak. Apakah bapak
sudah siap?
N : Iya mbak, saya sudah siap, sudah saya
tunggu kok tadi mbaknya. Berapa menit ya
mbak?
P : Baiklah Pak, Insyaa Allah akan
membutuhkan waktu 15 menit saja pak nanti.
Bagaimana Pak?
N : ya Mbak, tidak apa-apa.
P : Baik Pak, saya mulai ya. Sebelumnya
kemarin saya dapatkan informasi bahwa
Bapak sering mendengar suara-suara yang
mengatakan bahwa bapak menang tender ya
Pak? Sehingga sering membuat Bapak

Keterangan pasien
akan segera pulang
Pengobatan di rumah
Jadwal kontrol
Tanda dan gejala
kekambuhan
Pihak yang daoat
dihubungi dalam
keadaan gawat
darurat

tertawa bahagia?
N : Iya mbak, saya itu mendengar, sering
dibisikin kalau saya menang tender. Seneng
lah saya. Tapi malah dianggap orang gila.
Padahal memang saya mendengarnya.
P : Baiklah Pak, seperti yang saya katakan
kemarin, bahwa saya percaya jika Bapak
memang mendengar suara-suara bisikan itu.
Akan tetapi ternyata orang-orang sekitar
Bapak ternyata tidak mendengarnya. Seperti
yang kemarin bapak ketahui bahwa itu
dikatakan sebagai halusinasi. Halusinasi ini
dapat di atasi dengan beberapa cara. Cara
mengatasinya yang kali ini nanti akan saya
jelaskan. Apakah Pak Naryo sudah siap untuk
saya ajarkan?
N : Ya mbak, saya siap.
P : Baik Bapak. Untuk mengatasi halusinasi
ini ada 5 cara. Yang pertama, jika Bapak
mendengarkan suara-suara bisikan yang
mengatakan bahwa Bapak menang tender,
silakan Bapak menutup telinga dengan kedua
tangan seperti ini (mempraktekkan dengan
menutup kedua telinga dengan kedua
tangan). Kemudian Bapak katakana, Pergi
kamu, kamu palsu ! Pergi kamu, kamu
palsu! Seperti itu Bapak, bagaimana?
Apakah bisa dimengerti?
N : Ya mbak, bisa.
P : Baik, coba dipraktekkan bapak.
N : (Pasien mempraktekkan sesuai dengan
perawat contohkan sebelumnya)
P : Ya, benar sekali Bapak. Pak Naryo sudah
dapat melakukan dengan baik cara pertama.
Untuk cara mengatasi yang kedua, jika suara
bisikan itu datang lagi, tidak usah dihiraukan
Bapak, acuhkan saja. Apakah dimengerti
Pak?
N : Ya mbak, di tidak usah dipikir, diacuhkan
saja.
P : Benar pak. Kemudian cara yang ketiga,
jika suara itu datang lagi, coba Bapak
tanyakan pada orang di sekitar Bapak,
apakah memang benar ada bisikan seperti apa
yang Bapak dengar saat itu. Jika orang-orang

di sekitar Bapak mengatakan tidak


mendengar, itu artinya yang Bapak
dengarkan adalah halusinasi.
N : (Pasien mengangguk)
P : Nah, untuk cara yang keempat, saat suara
itu datang, Bapak dapat mengatasinya dengan
mengalihkan pada aktivitas-aktivitas yang
Bapak senangi. Bapak lebih suka aktivitas
apa biasanya?
N : Olah raga mbak, saya suka dengan semua
jenis olah raga.
P : Oh, bagus sekali Bapak. Bapak dapat
mengalihkan dengan aktivitas olah raga yang
Bapak senangi saat suara itu datang lagi.
N : Oh gitu, ya mbak.
P : Iya Bapak. Kemudian yang kelima. Bapak
dapat atasi dengan minum obat yang teratur.
Begitu bapak, apakah sudah dapat dimengerti
kelima caranya?
N : Mengerti mbak.
P : Baik Pak, kalau boleh coba kita ulang ya
dengan bapak menyebutkan kelima cara
tersebut.
N : Ya mbak. Yang pertama, tutup telinga,
sambil bilang, Pergi kamu, kamu palsu !.
Yang kedua tidak usah dihiraukan, cuekin
aja. Yang ketiga, tanyakan pada orang sekitar.
Yang keempat, alihkan dengan aktivitas yang
disenangi. Terus terakhir minum obat yang
teratur.
P : Baik sekali Bapak. Pak Naryo sudah dapat
menyebutkan dengan baik cara-caranya.
Kira-kira Bapak lebih senang untuk memilih
cara yang mana Pak?
N : Ya minum obat, nanti saya coba tidak
hiraukan sama olah raga mbak.
P : Oh, baik pak. Silakan nanti dicoba ya pak
caranya. Dan jangan lupa untuk dipraktekkan
juga di rumah. Supaya halusinasinya dapat
dengan segera di atasi.
N : Iya mbak, Insyaa Allah.
4.

Terminasi

Menyimpulkan hasil
kegiatan
Reinforcement positif

P : Pak Naryo, untuk pertemuan kali ini saya


rasa sudah cukup. Bapak sudah dapat
mengerti cara mengatasi halusinasi dan

Kontrak waktu dan tindak


lanjut klien

mempraktekkan dengan baik. Saya kira, kita


akhiri dulu ya pak untuk pertemuan kali ini.
Saya akan ke pasien yang lain terlebih
dahulu. Bapak silakan istirahat ya, sambil
nanti menunggu di jemput oleh keluarga.
Kalau keluarga sudah datang, nanti saya akan
kembali lagi ke sini Insyaa Allah.
N : Iya mbak.
P : Selamat siang Pak Naryo.
N : Siang mbak

SITUASI 3
Pada saat persiapan pasien pulang, perawat rumah sakit perlu melakukan manajemen halusinasi pada
klien dan keluarga. Lakukan rujukan klien tersebut ke puskesmas dimana pasien berdomisili dengan
setting komunitas
1. Keluarga : Pendidikan Kesehatan tentang pengertian halusinasi, jenis halusinasi yang
dialami pasien, tanda dan gejala halusinasi dan cara-cara merawat pasien halusinasi.
-

ORIENTASI:
Selamat pagi Bapak/Ibu!Saya yudi perawat yang merawat Bapak
Bagaimana perasaan Ibu hari ini? Apa pendapat Ibu tentang Bapak?
Hari ini kita akan berdiskusi tentang apa masalah yang Bapak alami dan bantuan apa yang Ibu
bisa berikan.
Kita mau diskusi di mana? Bagaimana kalau di ruang tamu? Berapa lama waktu Ibu?
Bagaimana kalau 30 menit

KERJA:
Apa yang Ibu rasakan menjadi masalah dalam merawat bapak Apa yang Ibu lakukan?
Ya, gejala yang dialami oleh Bapak itu dinamakan halusinasi, yaitu mendengar atau melihat
sesuatu yang sebetulnya tidak ada bendanya.
Tanda-tandanya bicara dan tertawa sendiri,atau marah-marah tanpa sebab
Jadi kalau anak Bapak/Ibu mengatakan mendengar suara-suara, sebenarnya suara itu tidak
ada.
Kalau Bapak mengatakan melihat bayangan-bayangan, sebenarnya bayangan itu tidak ada.
Untuk itu kita diharapkan dapat membantunya dengan beberapa cara. Ada beberapa cara
untuk membantu ibu agar bisa mengendalikan halusinasi. Cara-cara tersebut antara lain:
Pertama, dihadapan Bapak, jangan membantah halusinasi atau menyokongnya. Katakan saja
Ibu percaya bahwa anak tersebut memang mendengar suara atau melihat bayangan, tetapi Ibu
sendiri tidak mendengar atau melihatnya.
Kedua, jangan biarkan Bapak melamun dan sendiri, karena kalau melamun halusinasi akan
muncul lagi. Upayakan ada orang mau bercakap-cakap dengannya. Buat kegiatan keluarga
seperti makan bersama, sholat bersama-sama. Tentang kegiatan, saya telah melatih Bapak untuk
membuat jadwal kegiatan sehari-hari. Tolong Ibu pantau pelaksanaannya, ya dan berikan pujian
jika dia lakukan!
Ketiga, bantu Bapak minum obat secara teratur. Jangan menghentikan obat tanpa konsultasi.
Terkait dengan obat ini, saya juga sudah melatih Bapak untuk minum obat secara teratur. Jadi

Ibu dapat mengingatkan kembali. Obatnya ada 3 macam, ini yang orange namanya CPZ
gunanya untuk menghilangkan suara-suara atau bayangan. Diminum 3 X sehari pada jam 7
pagi, jam 1 siang dan jam 7 malam. Yang putih namanya THP gunanya membuat rileks, jam
minumnya sama dengan CPZ tadi. Yang biru namanya HP gunanya menenangkan cara berpikir,
jam minumnya sama dengan CPZ. Obat perlu selalu diminum untuk mencegah kekambuhan
Terakhir, bila ada tanda-tanda halusinasi mulai muncul, putus halusinasi Bapak dengan cara
menepuk punggung Bapak. Kemudian suruhlah Bapak menghardik suara tersebut. Bapak sudah
saya ajarkan cara menghardik halusinasi.
Sekarang, mari kita latihan memutus halusinasi Bapak. Sambil menepuk punggung Bapak,
katakan: bapak, sedang apa kamu?Kamu ingat kan apa yang diajarkan perawat bila suara-suara
itu datang? Ya..Usir suara itu, bapak Tutup telinga kamu dan katakan pada suara itu saya
tidak mau dengar. Ucapkan berulang-ulang, pak
Sekarang coba Ibu praktekkan cara yang barusan saya ajarkan
Bagus Bu
-

TERMINASI:
Bagaimana perasaan Ibu setelah kita berdiskusi dan latihan memutuskan halusinasi Bapak?
Sekarang coba Ibu sebutkan kembali tiga cara merawat bapak?
Bagus sekali Bu. Bagaimana kalau dua hari lagi kita bertemu untuk mempraktekkan cara
memutus halusinasi langsung dihadapan Bapak?
Jam berapa kita bertemu?
Baik, sampai Jumpa. Selamat pagi

2. Keluarga: Melatih keluarga praktek merawat pasien langsung dihadapan pasien


Berikan kesempatan kepada keluarga untuk memperagakan cara merawat pasien dengan
halusinasi langsung dihadapan pasien.
ORIENTASI:
Selamat pagi
Bagaimana perasaan Ibu pagi ini?
Apakah Ibu masih ingat bagaimana cara memutus halusinasi Bapak yang sedang mengalami
halusinasi?Bagus!
Sesuai dengan perjanjian kita, selama 20 menit ini kita akan mempraktekkan cara memutus
halusinasi langsung dihadapan Bapak.
mari kita datangi bapak
-

KERJA:
Selamat pagi pak pak, istri bapak sangat ingin membantu bapak mengendalikan suara-suara
yang sering bapak dengar. Untuk itu pagi ini istri bapak datang untuk mempraktekkan cara
memutus suara-suara yang bapak dengar. pak nanti kalau sedang dengar suara-suara bicara
atau tersenyum-senyum sendiri, maka Ibu akan mengingatkan seperti ini Sekarang, coba ibu
peragakan cara memutus halusinasi yang sedang bapak alami seperti yang sudah kita pelajari
sebelumnya. Tepuk punggung bapak lalu suruh bapak mengusir suara dengan menutup telinga
dan menghardik suara tersebut (saudara mengobservasi apa yang dilakukan keluarga terhadap
pasien)Bagus sekali!Bagaimana pak? Senang dibantu Ibu? Nah Bapak/Ibu ingin melihat jadwal
harian bapak. (Pasien memperlihatkan dan dorong istri/keluarga memberikan pujian) Baiklah,

sekarang saya dan istri bapak ke ruang perawat dulu (Saudara dan keluarga meninggalkan
pasien untuk melakukan terminasi dengan keluarga
-

TERMINASI:
Bagaimana perasaan Ibu setelah mempraktekkan cara memutus halusinasi langsung
dihadapan Bapak?
Dingat-ingat pelajaran kita hari ini ya Bu. ibu dapat melakukan cara itu bila Bapak
mengalami halusinas.
bagaimana kalau kita bertemu dua hari lagi untuk membicarakan tentang jadwal kegiatan
harian Bapak. Jam berapa Ibu bisa datang?Tempatnya di sini ya. Sampai jumpa.

3. Keluarga : Menjelaskan perawatan lanjutan


-

ORIENTASI
Selamat pagi Bu, sesuai dengan janji kita kemarin dan sekarang ketemu untuk membicarakan
jadual bapak selama dirumah
Nah sekarang kita bicarakan jadwal bapak di rumah? Mari kita duduk di ruang tamu!
Berapa lama Ibu ada waktu? Bagaimana kalau 30 menit?

KERJA
Ini jadwal kegiatan bapak yang telah disusun. Jadwal ini dapat dilanjutkan. Coba Ibu lihat
mungkinkah dilakukan. Siapa yang kira-kira akan memotivasi dan mengingatkan? Bu jadwal
yang telah dibuat tolong dilanjutkan, baik jadwal aktivitas maupun jadwal minum obatnya
Hal-hal yang perlu diperhatikan lebih lanjut adalah perilaku yang ditampilkan oleh bapak
selama di rumah.Misalnya kalau bapak terus menerus mendengar suara-suara yang
mengganggu dan tidak memperlihatkan
perbaikan, menolak minum obat atau memperlihatkan perilaku membahayakan orang lain. Jika
hal ini terjadi segera bawa kerumah sakit untuk dilakukan pemeriksaan ulang dan di berikan
tindakan

TERMINASI
Bagaimana Ibu? Ada yang ingin ditanyakan? Coba Ibu sebutkan cara-cara merawat bapak
Bagus(jika ada yang lupa segera diingatkan oleh perawat. Ini jadwalnya. Sampai jumpa

KASUS B
SITUASI 1
Tn Prt. usia 35 tahun datang ke rumah sakit dibawa oleh anggota keluarganya karena mengamuk di
puskesmas. Pada saat tiba di rumah sakit, klien berteriak-teriak, mengepalkan tangan, mondar-mandir,

muka terlihat merah dan berusaha menyerang perawat. Mata klien merah dan melotot. Klien tidak bisa
mengikuti instruksi perawat untuk tenang bahkan menantang.
1. Analisa data
Tanggal
Data
26 April
DO:
-Pasien berteriak-teriak
2014
-Mengepalkan tangan
-Mondar-mandir
-Muka terlihat merah
-Berusaha menyerang perawat
-Mata pasien merah dan melotot
-Pasien tidak bisa mengikuti instruksi
perawat bahkan menantang

Masalah Keperawatan
Risiko perilaku kekerasan

DS: encana asuhan keperawatan jiwa


No
Diagnosa Keperawatan
NOC
1
Risiko perilaku
Pengendalian diri
kekerasan pada orang
terhadap perilaku
lain
kekerasan
Definisi : risiko dari
Definisi :
perilaku yang
pengendalian diri dari
ditunjukkan oleh
perilaku kekerasan
individu yang dapat
dan pengabaian
membahayakan fisik,
terhadap orang lain
emosi dan atau seksual
Indikator :
dari orang lain.
- Mendapatkan
Faktor risiko :
intervensi yang
- Bahasa tubuh pasien
dibutuhkan
seperti mengepalkan
- Melihatkan perilaku
tangan, hiperaktifitas
yang positif
(mondar-mandir), muka - Memperlihatkan
merah, mata merah dan
kedamaian
melotot
- Memperlihatkan
- Gangguan kognitif
ketenangan
seperti penurunan fungsi
intelektual (tidak
Kontrol diri terhadap
mengikuti instruksi
agresi
perawat).
Definisi :
- Impulsif
pengendalian diri
terhadap perilaku
kekerasan, keonaran
dan mengganggu
orang lain

NIC
Intervensi krisis
Definisi : penggunaan konseling jangka
pendek untuk membantu koping pasien
dalam situasi krisis yang dibandingkan
dengan situasi pre-krisis
Aktivitas keperawatan :
- Memberikan situasi yang aman bagi
pasien maupun bagi orang disekitar
pasien
- Memberikan pengamanan pada pasien
untuk mencegah perilaku yang dapat
mencederai orang lain atau dirinya
sendiri
- Mendukung ekspresi perasaan pasien
terhadap perilaku yang tidak
membahayakan bagi orang lain

Restraint fisik
Definisi : memberikan, monitoring dan
melepas penggunaan restaint mekanik
atau restraint manual untuk membatasi
mobilitas fisik pasien
Aktivitas keperawatan :
- Memberikan intervensi restraint fisik
- Memberikan privasi kepada pasien
yang menggunakan restraint dengan

2.
R

Indikator :
- Menunjukkan
perilaku yang tidak
merusak

memberikan lingkungan dan dukungan


yang adekuat
- Menjelaskan prosedur, tujuan, dan
jangka waktu pemberian restrain baik
kepada pasien maupun orang yang dekat
dengan pasien
- Monitor respon pasien terhadap
pemberian intervensi restraint
- Menaikan side rails tempat tidur pasien
yang di restraint
- Menjauhkan ikatan restraint dari
jangkauan pasien
- Menyediakan kenyamanan psikologis
bagi pasien
- Memberikan medikasi PRN untuk
mengatasi agitasi pasien
- Memonitor kondisi kulit pasien yang
terkena ikatan restarint
- Memonitor warna, suhu dan sensasi
pada ekstrimitas pasien yang di restraint
- Memberikan posisi yang nyaman bagi
pasien
- Reposisi
- Menyediakan alat untuk memanggil
perawat jika pasien memerlukan bantuan
- Memenuhi kebutuhan nutrisi,
eliminasi, hidrasi dan kebersihan diri
pasien

3. Tindakan pertama yang dilakukan perawat


Melakukan Manajemen krisis
Manajemen krisis adalah penanganan yang dilakukan pada saat terjadi perilaku amuk oleh pasien.
Tujuannya untuk menenangkan pasien dan mencegah pasien bertindak membahayakan diri, orang lain
dan lingkungan karena perilakunya yang tidak terkontrol. Sedangkan manajemen perilaku
kekerasan adalah penanganan yang dilakukan setelah situasi krisis terlampaui, di mana pasien
telah dapat mengendalikan luapan emosinya meski masih ada potensi untuk untuk meledak lagi bila
ada pencetusnya.
Dimana tindakan yang dilakukan adalah sebagai berikut :
1) Bila pasien tidak bisa mengendalikan perilakunya maka perawat memberikan tindakan
pembatasan gerak (isolasi) dengan menempatkan pasien di kamar isolasi harus dilakukan.
Pasien dibatasi pergerakannya karena dapat mencederai orang lain atau dicederai orang lain,
membutuhkan pembatasan interaksi dengan orang lain dan memerlukan pengurangan stimulus
dari lingkungan. Pada saat akan dilakukan tindakan isolasi ini pasien diberi penjelasan

mengenai tujuan dan prosedur yang akan dilakukan sehingga pasien tidak merasa terancam
dan mungkin ia akan bersikap lebih kooperatif. Selama dalam kamar isolasi, supervisi
dilakukan secara periodik untuk memantau kondisi pasien dan memberikan tindakan
keperawatan yang dibutuhkan termasuk memenuhi kebutuhan dasarnya seperti nutrisi,
eliminasi, kebersihan diri, dsb.
2) Bila tindakan isolasi tidak bermanfaat dan perilaku pasien tetap berbahaya, berpotensi melukai
diri sendiri atau orang lain maka alternatif lain adalah dengan melakukan
pengekangan/pengikatan fisik. Tindakan ini masih umum digunakan petugas di RS yang
disertai dengan penggunaan obat psikotropika (kolaborasi dengan dokter). Untuk menghindari
ego pasien terluka karena pengikatan, perlu dijelaskan kepada pasien bahwa tindakan
pengikatan dilakukan bukan sebagai hukuman melainkan pencegahan resiko yang dapat
ditimbulkan oleh perilaku pasien yang tidak terkendali. Selain itu juga perlu disampaikan pula
indikasi penghentian tindakan pengekangan sehingga pasien dapat berpartisipasi dalam
memperbaiki keadaan. Selama pengikatan, pasien disupervisi secara periodik untuk
mengetahui perkembangan kondisi pasien dan memberikan tindakan keperawatan yang
diperlukan. Selanjutnya pengekangan dikurangi secara bertahap sesuai kemampuan pasien
dalam mengendalikan emosi dan perilakunya, ikatan dibuka satu demi satu, dilanjutkan
dengan pembatasan gerak (isolasi), dan akhirnya kembali ke lingkungan semula.

4. Format pengkajian risiko keperawatan jiwa (Nurjannah, 2007)


PENGKAJIAN RESIKO KEKERASAN
(NURJANNAH, 2007 dari berbagai sumber)

Faktor statis

Laki-laki
Usia dibawah 35 tahun
Riwayat penyalahgunaan alkohol atau obat-obatan
Riwayat kriminal serangan
Penanganan penyakit jiwa yang tidak berhasil

Ya (Skor 1)

Tidak (Skor
0)

Tidak
diketahui
(Skor 1)

Riwayat dianiaya/salah penanganan pada masa kanakkanak


Pernah menggunakan senjata
Riwayat agresi sebelumnya
Peran yang tidak stabil (misalnya kerja, hubungan,
akomodasi)
Faktor dinamis
Mengekspresikan keinginan untuk menyakiti orang
lain
Bisa mengakses alat yang tersedia
Persecutory delusion atau ide tentang yang lain
Perintah kekerasan dari halusinasi
Marah, frustasi atau agitasi
Ketakutan atau afek curiga
Peningkata mood, grandiosity, fantasi kekerasan
Perilaku seksual yang tidak tepat
KontroI impuls buruk, penurunan kemampuan untuk
mengontrol perilaku
Berada dalam keadaan sedang dipengaruhi zat-zat
tertentu
Asyik dengan ide kekerasan
Jumlah skor
Penilaian
Skor 0 3
Skor 4 - 9
Skor > 9

19 (risiko kekerasan tinggi)

= Resiko kekerasan rendah


= Resiko kekerasan sedang
= Resiko kekerasan tinggi

5. Rencana interaksi
Tanggal
Tahap
26 April
Pre
2014 pukul
Interaksi
08.00 WIB

Orientasi

Tindakan
- Mengumpulkan data
pasien
- Mengeksplorasi
perasaan

Tindakan
Hari sabtu tanggal 26 april 2014 di
bangsal jiwa RS mawar merah
mendapatkan pasien rujukan dari
Puskesmas melati karena pasien
mengamuk di Puskesmas. Pada saat tiba
di RS klien berteriak-teriak, mengepalkan
tangan, mondar-mandir, muka terlihat
merah dan mata klien merah dan melotot.
Saya perawat dewi telah mengeksplorasi
perasaan dan fantasi serta siap bertemu
dengan klien.

- Bertemu dengan pasien


- Memberikan salam
- Mengenalkan diri

P : Selamat pagi pak, perkenalkan saya


perawat dewi, saya yang akan
merawat bapak. Bapak lebih suka

Kerja

- Menanyakan nama
kesukaan
- Menjaga kerahasiaan

saya panggil siapa? (menyamperin


px)
Px : mas p saja! (dengan tangan mengepal
dan mau menyerang perawat)
P : oooh baik mas p, mas tidak usah takut
dengan saya, saya akan menjaga
rahasia dari mas P, mas bisa bercerita
dengan saya mengenai apa saja yang
mas rasakan.
Px : (px menantang perawat dan mau
menyerang perawat)

- Memulai dengan cara


yang baik
- Melakukan isolasi
kepada pasien

P : mas P bisa duduk di sini? Relax dan


santai saja mas
Px : (tidak mau duduk dan menyerang
perawat)
P : (mengamankan pasien dengan cara
membawa pasien ke ruang isolasi,
dimana sebelumnya pasien telah di
pegangi oleh perawat dan perawat
lainnya)
Px : (selama di perjalanan pasien
berontak)
P : mas P saya akan membawa mas P ke
kamar karena mas P tidak bis
tenang, ini hanya untuk sementara
waktu, jika nanti mas bisa lebih
tenang, mas akan diperbolehkan
untuk keluar kamar. Mas P jangan
khawatir nanti saya dan teman saya
akan membentu mas untuk
memenuhi kebutuhan mas, nanti
makanan dan minuman akan saya
bawa ke kamar dan jika mas butuh
bantuan, mas bisa memencet bel
yang ada di dalam kamar, nanti akan
ada perawat yang membantu mas P
(sambil membawa pasien ke ruang
isolasi)
Px : (meronta-ronta dan berontak, tidak
mendengarkan perawat)
Pasien dimasukan di ruang isolasi

Terminasi

Mengakhiri dengan
cara yang baik

P : mas P bisa istirahat dulu di sini, nanti


jika mas sudah tenang mas akan di

Dokumenta
si

Memberikan salam

Mendokumentasika
n tindakan yang
telah dilakukan

26 April
2014 pukul
09.00 WIB

perbolehkan untuk keluar kamar lagi.


Selamat pagi
Saya parawat dewi pada jam 08.00 WIB
tanggal 26 April 2014 telah
melakukan isolasi pasien P di kamar
isolasi nomor 2 karena pasien tidak
bisa tenang dan berisiko melukai
orang disekitarnya.
Ttd
Dewi
Namun ketika di ruangan pasien tetap
teriak-teriak dan merusak barangbarang yang ada di ruang isolasi,
melemparkan barang-barang
tersebut ke arah luar kamar.
Px : keluarkan saya dari sini, saya mau di
pulang, saya mau membalas
perilaku tetangga saya yang telah
mencela anak saya (sambil
membuang-buang barang yang ada
di ruang isolasi)
P : (memeberitahukan perilaku pasien
kepada dr dan psikiater)
Dari hasil kolaborasi dengan berbagai
tenaga kesehatan yang ada, pasien akan
dilakukan restraint dan akan di berikan
obat psikotropika (penenang).

26 April
2010 pukul
10.00 WIB

Pre
interaksi

- Mengumpulkan data
pasien
- Mengeksplorasi
perasaan
- Menyiapkan alat
- Siap bertemu dengan
pasien

P : saya telah membaca rekam medis


bahwa pasien perlu dilakukan tindakan
restraint karena perilakunya yang dapat
melukai orang lain maupun dirinya, saya
telah menyiapkan alat restraint, saya telah
mengeksplorasi perasaan dan ketakutan
diri saya serta saya telah siap bertemu
dengan pasien

Orientasi

P : selamat siang mas P, masih ingat


dengan saya? (di depan kamar)
Px : keluarkan saya dari sini!!!
P : (masuk kamar isolasi) mas P, saya
perawat dewi, karena mas belum bisa
tenag maka disini saya akan melakukan
restraint pada mas, ini tujuannya agar mas
bisa lebih tenag lagi, restarint ini akan

Bertemu dengan pasien


Memberikan salam
Mengenalkan diri
Menjelaskan tujuan
Menjelaskan waktu
Menjaga kerahasiaan

dilepas jika mas bisa lebih tenag lagi


(sambil merobohkan pasien)
Px : keluarkan saya!!!
Kerja

- Memulai dengan cara


yang baik
- Melakukan restraint
kepada pasien

P : (melakukan teknik restarint ke empat


ekstrimitas diikat, tali jangan diikat di side
rile namun di lubang2 kasur)
P : bagaimana mas perasaannya setelah di
ikat?
P : ( cek TTV, daerah sekitar ikatan,
WPK)
P : (memberikan obat psikotropika /
penenag, melihat respon pasien setelah
diikat)
Px : masih sedikit mengamuk

Terminasi - Menjelaskan kapan


ikatan dilepas
- Kontrak waktu
selanjutnya
- Mengakhiri dengan cara
yang baik
- Memberikan salam

P : mas P nanti ikatannya akan saya lepas


jika mas sudah tenang, jika mas butuh
sesuatu mas bisa panggil perawat. Nanti 2
jam lagi saya akan ke kamar mas lagi
untuk memberikan makanan kepada mas.
Selamat siang.

Dokumenta
si

Saya perawat dewi pada tanggal 26 April


2014 pukul 10.00 WIB telah melakukan
restraint pada pasien, WPK daerah ikatan
normal, TTV normal dan ikatan tidak
berisiko melukai pasien. Saya telah
memberikan obat penenang dan pasien
masih terlihat sedikit mengamuk setelah
dilakukan restraint.

Mendokumentasikan
tindakan yang telah
dilakukan

SITUASI 2
Setelah 1x24 jam dilakukan pengikatan, Tn Prt. tampak menunjukkan perilaku marah yang menurun dan
sudah mau mendengarkan instruksi perawat.
1. Analisa Data
Tanggal
Data
Hari
DS:
kedua
masuk RS

Masalah keperawatan
Risiko perilaku kekerasan
Perilaku marah menurun
Pasien sudah bersedia
mendengarkan instruksi perawat

DO:
-

Tn Prt 35 tahun
Diagnosa keperawatan : Risiko
perilaku kekerasan terhadap orang
lain

2. Rencana Asuhan Keperawatan Jiwa


Diagnosa
No.
Tujuan dan kriteria hasil
Keperawatan (PES)
1.
Risiko perilaku
Pengendalian diri
kekerasan pada
terhadap perilaku
orang lain
kekerasan
Definisi : berisiko
Definisi : pengendalian
melakukan perilaku,
diri dari perilaku
yakni individu
kekerasan dan pengabaian
menunjukkan bahwa
terhadap orang lain
ia dapat
Indikator :
membahayakan orang - Mendapatkan intervensi
lain secara fisik,
yang dibutuhkan
emosional dan/atau
- Melihatkan perilaku
seksual.
yang positif
Faktor risiko :
- Memperlihatkan
- riwayat ancaman
kedamaian dan
kekerasan.
ketenangan
Kontrol diri terhadap
agresi
Definisi : pengendalian
diri terhadap perilaku
kekerasan, keonaran dan
mengganggu orang lain
Indikator :
- Menunjukkan perilaku
yang tidak merusak
- Dapat mengidentifikasi
situasi yang dapat
menyebabkan ia marah
- Dapat mengendalikan
diri untuk tidak
menciderai orang lain
Kontrol diri terhadap
perilaku impulsif

Intervensi
Restraint fisik :
Definisi : memberikan, monitoring dan
melepas penggunaan restaint mekanik
atau restraint manual untuk membatasi
mobilitas fisik pasien.
Aktivitas keperawatan:
- Melepas restrain pasien jika kontrol
dirinya sudah meningkat
- Memonitor respon pasien terhadap
pelepasan restrain
Manajemen perilaku :
Definisi : membantu pasien mengatur
perilaku negatif
Aktivitas keperawatan :
- Gunakan kata-kata yang halus dan
lembut
- Hindari menyudutkan pasien
- Hindari berdebat dengan pasien
- Kecilkan perilaku agresif pasien
- Fasilitasi medikasi jika diperlukan
Pendampingan mengontrol amarah :
Definisi : Memfasilitasi ekspresi marah
secara adaptif dan tidak menggunakan
cara kekerasan.
Aktivitas keperawatan :
- Bina hubungan saling percaya
- Gunakan bahasa dan pendekatan yang
kalem
- Dampingi pasien untuk
mengidentifikasi sumber kemarahan
- Monitor potensial perilaku agresif
- Mencegah kekerasan fisik jika

Definisi : pengendalian
diri terhadap perilaku
impulsif
Indikator :
-Dapat mengidentifikasi
perilaku impulsif yang
dapat menciderai orang
lain
- Dapat mengidentifikasi
perasaan yang dapat
membuatnya impulsif
- Dapat menidentifikasi
konsekuensi dari perilaku
impulsif yang
dilakukannya

3. Rencana Interaksi
No
Tahap
Tindakan
1.
Pre
- Mengumpulkan data
Interaksi
tentang klien
- Membuat rencana
pertemuan dengan klien
- Mengeksplorasi
perasaan, fantasi dan
ketakutan diri

kemarahan pasien diarahkan pada orang


lain
Pelatihan mengontrol implus :
Definisi : pendampingan pasien untuk
memediasi perilaku impulsif melalui
strategi penyelesaian masalah (baik
situasi sosial ataupun interpersonal)
Aktivitas keperawatan :
- Dampingi pasien untuk
mengidentifikasi keuntungan dan
kerugian perilakunya
- Dampingi pasien untuk memilih
perilaku yang paling kecil risikonya
- Dampingi pasien mengevaluasi
outcome dari perilaku yang dipilih
- Sediakan reinforcement positif

Operasional
Hari ini, 27 April 2014, saya perawat Dewi telah
membaca rekam medis klien, bahwa klien Bp Prt
memiliki riwayat perilaku kekerasan, telah dirawat
1 hari di RS dan telah menunjukkan penurunan
perilaku kekerasan. Pada hari ini, saya membuat
janji bertemu dengan klien untuk memberikan terapi
kognitif. Saya telah mengeksplorasi perasaan,
fantasi dan ketakutan diri dan saya siap bertemu
dengan klien.

2.

Orientasi

- Memberikan salam dan


tersenyum pada klien
- Melakukan validasi
- Menyebutkan nama
perawat
- Menjelaskan kegiatan
yang akan dilakukan
- Menjelaskan tujuan dan
waktu kegiatan
- Menjaga privasi

- Selamat pagi Mas P..


(Iya..pagi mbak..)
- Mas P masih ingat kan dengan saya? Saya perawat
Dewi yang kemarin datang.
(Iya inget kok mbak..)
- Nah bagaimana perasaan Mas P hari ini? Sudah
membaik..?
(Ya lumayan mbak.)
- Syukurlah, bagaimana kalau sekarang kita
berbincang-bincang sebentar mas?
(Bincang-bincang apa mbak..?)
- Ini tentang kejadian marah kemarin, Mas P bisa
curhat kepada saya. Atau kalau Mas P ada masalah,
nanti kita diskusikan bareng-bareng..
(Oh gitu...)
- Iya, bagaimana mas kalau bincang-bincang 15
menit?
(Ya ga papa 15 menit aja mbak, jangan lama-lama..)
- Baik, kita bincang-bincang disini saja ya, nanti
Mas P silakan bercerita, jangan khawatir saya akan
menjaga kerahasiaannya.

3.

Kerja

- Memberi kesempatan
klien untuk bertanya
- Menanyakan keluhan
utama
- Mendiskusikan
mengenai perilaku
kekerasan yang
dilakukan
- Mendiskusikan
keuntungan dan
kerugian dari perilaku
kekerasan
- Mendiskusikan
alternatif-alternatif
perilaku substitusi
- Mendiskusikan perilaku
yang paling kecil
risikonya
- Mengevaluasi outcome
dari perilaku yang
dipilih
- Memberikan
reinforcement positif

- Sebelum kita mulai bincang-bincang, apakah ada


yang ingin Mas P tanyakan?
(Ngga ada mbak, lanjut saja..)
- Baiklah mas, ini saya bawa kertas buat tempat
nulis ya.. jadi nanti saya tanya-tanya ke Mas P dan
Mas P menulis jawabannya di kertas ini. Gimana
mas, paham?
(Ya mbak..)
- Ngomong-ngomong, apa yang mas P rasakan atau
keluhkan sekarang?
(Ya..apa ya mbak.. jengkel-jengkel bingung..)
- Selain itu mas?
(Ngga ada..)
- Baiklah, kalau boleh tahu, apa yang menyebabkan
Mas P bisa ada disini?
(Apa ya mbak.. kayanya kemarin saya ngamuk..)
- Kalau boleh tahu, kemarin Mas P ngamuk karena
apa?
(Karena jengkel sama tetangga saya mbak..)
- Jengkel kenapa mas?
(Ya pokoknya jengkel.. mbaknya nggak perlu tahu..)
- Oh begitu, baiklah tulis disini mas. Trus apa yang
mas lakukan kemarin?

(Saya ga inget mbak..)


- Oh kalau kata keluarga yang mengantar kemarin,
masnya ngamuk mecahin kaca ya?
(Iya mbak.. mangkel saya kemarin..)
- Kira-kira kalau lagi mangkel itu apa yang Mas P
lakukan?
(Biasanya saya samparin barang-barang disekitar
saya, trus saya tendang apa atau banting apa
gitu..Kalau yang kemarin saya pecahin kaca rumah
tetangga saya itu..)
- Oh..iya tulis dulu mas, trus gimana mas
kejadiannya kemarin?
(Ya jadi rame mbak..tapi biarin..)
- Oh, setelah itu apakah masalahnya terselesaikan
mas?
(Ya ngga.. tapi kan rasanya puas mbak..)
- Iya mas, tapi menurut Mas P, apakah cara tersebut
menguntungkan?
(Ya ngga juga.. tapi mangkelnya ilang gitu lho
mbak..)
- Oh gitu.. lha kalau tetangga sekitar responnya
gimana mas?
(Ya tetangga-tetangga yang lain pada ketakutan,
mereka pikir saya akan merusak benda-benda milik
mereka.. )
- Nah betul mas, tetangga yang lain kan jadi takut
kepada Mas P.. Trus misal kalau barang-barang
mereka rusak, kan harus mengeluarkan uang untuk
membeli barang baru lagi. Itu kan merugikan
tetangga ya mas..?
(Iya sih mbak.. tapi kalau lagi emosi suka khilaf..)
- Baiklah, tadi Mas P bilang kalau marah, biasanya
mas P menyampar barang-barang disekitar Mas P,
lalu menendang atau membanting benda-benda.
Menurut mas P, manakah peilaku yang paling
ringan risikonya?
(Ehm,,mungkin nendang barang itu mbak.. soalnya
yang saya tendang kan ya cuma sandal, pintu atau
apa benda-benda plastik gitu.. haha..)
- Kalau nyamparin barang-barang itu apakah tidak
membuat kakinya sakit mas?
(Ngga lah mbak..)
- Trus ada orang lain yang terluka tidak mas?
(Gak ada mbak..)
- Selain itu apakah Mas P pernah menyalurkan

kemarahan ke hal lain?


(Nggak ada mbak..)
- Berarti menurut mas P, menendang benda-benda
itu risikonya paling kecil ya?
(Iya kayanya mbak.. lha kalau nyamparin barangbarang atau bantingin barang, istri saya suka marahmarah.. saya tambah pusing, tambah mangkel..)
- Kalau yang mecahin kaca gimana mas?
(Ya itu kan pas khilaf banget mbak.. gak enak juga
sama tetangga, malu bikin rame..)
- Berarti itu risikonya besar ya mas..
(Iya..)
4.

Terminasi

- Mengevaluasi proses
(perasaan klien) dan
hasil kegiatan
- Menyimpulkan hasil
kegiatan
- Reinforcement positif
- Kontrak waktu dan
tindak lanjut

- Baiklah mas, sampai disini dulu nulisnya. Mari


kita baca pelan-pelan hasil tulisannya mas.. Berarti
kalau Mas P marah dan mengamuk, itu kebanyakan
untungnya atau ruginya mas?
(Ya ruginya mbak..)
- Trus kalau mas P melakukan ini..ini..ini.. Mana
pelampiasan yang risikonya paling kecil?
(Ini mbak.. nendang barang)
- Iya benar sekali Mas P.. tadi kita sudah
mendiskusikan keuntungan dan kerugian
mengamuk, ternyata banyak ruginya. Trus kalau
marah lebih baik milih tindakan apa yang risikonya
paling kecil. Mas P sudah bagus sekali mau
kooperatif..
(Iya mbak makasih..)
- Nah saya rasa, cukup sekian dulu mas karena
sudah 15 menit. Besok kita akan ketemu lagi.. Kita
akan membicarakan kelanjutan pertemuan ini. Tadi
Mas P kan masih belum mau cerita banyak. Besok
akan kita lanjutkan ceritanya..
(Besok mbaknya kesini lagi..?)
- Iya mas, besok kita akan bincang-bincang tentang
cara mengendalikan marah. Biar kalau marah bisa
mengontrol diri.. gitu ya Mas P.
(Ya mbak..)
- Sekarang Mas P selamat istirahat, sampai jumpa
besok di ruangan ini.

SITUASI 3
Setelah ikatan klien dilepas, perawat berbincang-bincang dengan pasien. Dari hasil perbincangan tersebut
didapatkan bahwa klien tidak tahu cara marah dan macam-macam cara marah.

1. Analisa Data
Tanggal
Data
Hari
DS:
ketiga
masuk RS
DO:
-

Ikatan (restrain) klien sudah dilepas


Klien sudah kooperatif (mau
berbincang-bincang)
Tn Prt 35 tahun
Klien menyatakan tidak tahu cara
marah dan macam-macam cara
marah

2. Rencana Asuhan Keperawatan Jiwa


No
Diagnosa
Tujuan dan kriteria hasil
.
Keperawatan (PES)
1.
Kurang pengetahuan Penerimaan komunikasi
Definisi : kurangnya
Definisi : penerimaan dan
informasi kognitif
interpretasi pesan verbal
yang berkaitan
ataupun non verbal.
dengan topik tertentu kesehatan
Batasan
Indikator :
karakteristik :
- Memahami pesan yang
pengungkapan
diterima
masalah
Faktor yang
berhubungan : tidak
familier dengan
sumber informasi

2.

Masalah keperawatan
Kurang pengetahuan
Risiko perilaku kekerasan

Risiko perilaku
kekerasan pada
orang lain
Definisi : berisiko
melakukan perilaku,
yakni individu
menunjukkan bahwa
ia dapat
membahayakan orang
lain secara fisik,

Pengendalian diri
terhadap perilaku
kekerasan
Definisi : pengendalian
diri dari perilaku
kekerasan dan pengabaian
terhadap orang lain
Indikator :
- Lebih tabah
- Mengikuti paduan

Intervensi
Pengajaran : Individu
Definisi : merencanakan, menerapkan
dan mengevaluasi program belajar.
Aktivitas keperawatan :
- membangun hubungan saling percaya
- menyediakan tempat yang kondusif
- menentukan apa kebutuhan
pembelajaran bagi pasien
- mengidentifikasi tujuan pembelajaran
- menilai kemampuan pasien dalam
mempelajari suatu informasi
- menilai tingkat pengetahuan pasien
sebelumnya
- menilai kemampuan kognitif,
psikomotor dan afektif pasien
- menginstruksikan pasien mencoba, jika
memungkinkan
- reinforcement perilaku positif
Manajemen perilaku :
Definisi : membantu pasien mengatur
perilaku negative
Aktivitas keperawatan :
- Gunakan kata-kata yang halus dan
lembut
- Hindari menyudutkan pasien
- Hindari berdebat dengan pasien
- Kecilkan perilaku agresif pasien

emosional dan/atau
seksual.
Faktor risiko :
- riwayat ancaman
kekerasan.

informasi tentang
kesehatan
Kontrol diri terhadap
agresi
Definisi : pengendalian
diri terhadap perilaku
kekerasan, keonaran dan
mengganggu orang lain
Indikator :
- Dapat mengidentifikasi
situasi yang dapat
menyebabkan ia marah
- Dapat mengidentifikasi
perasaan agresinya
- Dapat mengidentifikasi
alternatif untuk menahan
agresinya
- Dapat menggunakan
teknik untuk
mengendalikan marah
- Dapat mempertahankan
kontrol diri tanpa
pengawasan
- Menunjukkan perilaku
yang tidak merusak
- Dapat mengendalikan
perasaan negatif yang
dapat membuatnya
melakukan perilaku
merusak
- Dapat mengendalikan
diri untuk tidak
menciderai orang lain
- Dapat mengontrol
impuls
Kontrol diri terhadap
perilaku impulsif
Definisi : pengendalian
diri terhadap perilaku
impulsif
Indikator :
-Dapat mengidentifikasi
strategi penyelesaian

Pendampingan mengontrol amarah :


Definisi : memfasilitasi ekspresi marah
secara adaptif dan tidak menggunakan
cara kekerasan.
Aktivitas keperawatan :
- Bina hubungan saling percaya
- Gunakan bahasa dan pendekatan yang
kalem
- Dampingi pasien untuk
mengidentifikasi sumber kemarahan
- Identifikasi fungsi marah bagi pasien
- Identifikasi konsekuensi dari perilaku
marah
- Dampingi pasien merencanakan strategi
untuk mengendalikan ekspresi marah
- Dampingin cara mengembangkan
metode yang baik ketika
mengekspresikan kemarahan pada orang
lain
- Instruksikan pasien untuk
menggunakan cara-cara yang lembut
- Dukung pasien menerapkan strategi
pengendalian marah dan dukung pasien
menerapkan ekspresi marah yang adaptif
- Berikan reinforcement positif
Pelatihan mengontrol implus :
Definisi : pendampingan pasien untuk
memediasi perilaku impulsif melalui
strategi penyelesaian masalah (baik
situasi sosial ataupun interpersonal)
Aktivitas keperawatan :
- Pilih strategi problem solving yang
cocok dengan level dan perkembangan
kognitif pasien
- Gunakan rencana modifikasi tindakan
yang sesuai
- Sediakan kesempatan bagi pasien untuk
mempraktekkan cara penyelesaian
masalah (sesuai konteks situasi yang
dialami pasien).
- Dorong pasien mempraktekkan cara
penyelesaian masalah dalam situasisituasi sosial maupu interpersonal
- Berikan reinforcement positif

masalah yang asertif

3. Rencana Interaksi
No
Tahap
Tindakan
1.
Pre
- Mengumpulkan data
Interaksi
tentang klien
- Membuat rencana
pertemuan dengan klien
- Mengeksplorasi
perasaan, fantasi dan
ketakutan diri

2.

Orientasi

- Memberikan salam dan


tersenyum pada klien
- Melakukan validasi
- Menyebutkan nama
perawat
- Menjelaskan kegiatan
yang akan dilakukan
- Menjelaskan tujuan dan
waktu kegiatan
- Menjaga privasi

Operasional
Hari ini, 28 April 2014, saya perawat Dewi telah
membaca rekam medis klien, bahwa klien telah
beberapa hari dirawat dan telah menunjukkan
penurunan perilaku kekerasan. Pada hari ini, saya
membuat janji bertemu dengan klien untuk
memberikan edukasi tentang cara-cara
mengendalikan marah. Saya telah mengeksplorasi
perasaan, fantasi dan ketakutan diri dan saya siap
bertemu dengan klien.
- Selamat pagi Mas P..
(Iya..pagi mbak..)
- Mas P masih ingat kan dengan saya? Saya perawat
Dewi yang kemarin itu.
(Iya inget kok mbak..)
- Nah bagaimana perasaan Mas P hari ini? Apakah
masih ada perasaan kesal atau marah?
(Nggak mbak..)
- Wah bagus sekali, baiklah sekarang kita akan
berbincang-bincang tentang perasaan marah dan
cara mengendalikannya. Gimana mas? Tertarik
kan..?
(Ya ya..boleh juga..)
- Berapa lama Mas P mau kita berbincang-bincang?
Bagaimana kalau 15 menit?
(Iya 15 menit aja..)
- Baik, Mas P maunya kita bincang-bincang disini
atau dimana? Tempat yang menurut Mas P
nyaman?
(Disini aja lah mbak..)
- Nanti Mas P silakan bercerita saja, jangan
khawatir kerahasiaannya akan saya jaga.

3.

Kerja

- Memberi kesempatan
klien untuk bertanya
- Menanyakan keluhan
utama
- Mendiskusikan
mengenai macammacam cara
mengendalikan marah
- Menanyakan kepada
klien keinginan untuk
mengendalikan marah
- Menjelaskan dan
memperagakan caracara mengendalikan
marah
- Memberi kesempatan
klien untuk
memperagakannya

- Sebelum kita mulai ngobrol-ngobrolnya, apakah


ada yang ingin Mas P tanyakan?
(Ngga ada mbak, lanjut saja..)
- Ngomong-ngomong, apa yang menyebabkan Mas
P kemarin marah?
(Oh itu.. karena ada orang yang suka menghina
anak saya..)
- Maksudnya menghina bagaimana Mas?
(Ya itu.. anak tetangga suka menghina anak saya.
Menghina anak saya anak orang miskin, anak orang
gila, gitu-gitu lah mbak.. Itu udah sering
kejadiannya.. Yang saya sebelin, orangtuanya itu
ngga negur malah ikut senyum-senyum.. Lamalama saya ngga tahan..akhirnya saya ngamuk)
- Oh..apakah sebelumnya mas P pernah marah?
(Ya pernah mbak, sama tetangga pernah..sama istri
pernah..biasa lah mbak..)
- Apakah penyebabnya sama dengan sekarang?
(Kalau sama tetangga.. ya penyebabnya itu-itu aja..
mangkel mbak rasanya..)
- Oh... Jadi Mas P marah karena tetangga suka
menghina?
(Ya selain itu kata-kata mereka kadang kan nyakitin
mbak.. Ngata-ngatain anak saya itu anak orang
gila..)
- Ketika saat Mas P marah, apa yang Mas rasakan?
Apakah saat Mas P merasa kesal, rasanya jantung
berdebar-debar, otot-otot jadi tegang, suara
meninggi dan tangan mengepal?
(Ya gitu lah mbak, namanya juga lagi

marah..kesel..emosi..)
- Lalu apa yang Mas P lakukan?
(Biasanya saya samparin barang-barang disekitar
saya, trus saya tendang apa atau banting apa
gitu..Kalau yang kemarin saya pecahin kaca rumah
tetangga saya..haha)
- Oh..iya, jadi Mas P memecahkan kaca rumah
tetangga mas..? Trus gimana mas?
(Ya jadi rame mbak..tapi biarin..)
- Ehm, apakah dengan cara tersebut tetangga mas
menjadi berubah sikap kepada Mas P?
(Ya ngga juga sih.. tapi kan rasanya puas mbak..)
- Iya mas, tapi menurut Mas P, apakah cara tersebut
menguntungkan Mas P?
(Ya ngga juga.. tapi mangkelnya ilang gitu lho
mbak..)
- Oh gitu.. lha kalau tetangga sekitar responnya
gimana mas?
(Ya tetangga-tetangga yang lain pada ketakutan,
mereka pikir saya akan merusak benda-benda milik
mereka.. )
- Nah betul mas, tetangga yang lain kan jadi takut
kepada Mas P.. Trus misal kalau barang-barang
mereka rusak, kan harus mengeluarkan uang untuk
membeli barang baru lagi. Itu kan merugikan
tetangga ya mas..?
(Hehe iya sih mbak.. tapi kalau lagi emosi suka
khilaf..)
- Baiklah, kalau menurut Mas P ada cara lain yang
lebih baik ngga mas?
(Maksudnya mbak?)
- Ini mas, cara lain untuk menyalurkan kemarahan
supaya tidak berdampak buruk..?
(Ngga tahu e mbak..)
- Jadi Mas P belum tahu ya cara-cara menyalurkan
kemarahan yang baik itu bagaimana?
(Ya belum lah mbak.. soalnya ga ada yang kasih
tahu saya..)
- Nah sekarang, maukah Mas P belajar cara-cara
menyalurkan kemarahan yang baik?
(Oh, ada to mbak..? Boleh itu.. Gimana caranya..?)
- Ada beberapa cara untuk mengontrol kemarahan
mas. Hari ini kita belajar 2 cara dulu. Cara yang
pertama namanya latihan nafas dalam mas.. Jadi
kalau tanda-tanda marah tadi sudah Mas P rasakan,

4.

Terminasi

- Mengevaluasi proses
(perasaan klien) dan
hasil kegiatan
- Menyimpulkan hasil
kegiatan
- Reinforcement positif
- Kontrak waktu dan
tindak lanjut

maka Mas P duduk dulu.. Lalu tarik napas dari


hidung, tahan sebentar, lalu keluarkan/tiup perlahanlahan melalui mulut.. itu cara pertama mas. Gimana
Mas P paham?
(Oh narik napas gitu.. ya paham mbak..)
- Ayo sekarang silakan dicoba mas.. Tarik dari
hidung, bagus.., tahan, dan tiup melalui mulut. Nah,
lakukan 5 kali. Bagus sekali. Ayo diulangi.. Nah
Mas P sudah bisa melakukannya. Bagaimana
perasaannya?
(Ya lumayan enakan..)
- Sebaiknya latihan ini lakukan secara rutin mas,
sehingga bila sewaktu-waktu rasa marah itu muncul
Mas P sudah terbiasa melakukannya
(Ya nanti saya latihan mbak..)
- Selanjutnya cara keduanya adalah mukul bantal
atau kasur. Kalau misal tanda-tanda marah tadi Mas
P rasakan, dilampiasin saja ke bantal atau kasur..
(Oh gitu mbak..)
- Iya, coba dipraktekin mas., Nah bener gitu,
dipukul aja mas bantalnya. Gampang kan mas..
(Iya kok mbak..)
- Untuk saat ini kita belajar 2 cara dulu, kita
belajarnya pelan-pelan dan besok dilanjutkan lagi.
Masih ada 3 cara lagi yang akan saya ajarkan..
(Ya mbak..)
- Nah, bagaimana perasaan Mas P sekarang? setelah
ngobrol-ngobrol ini?
(Lumayan mbak.. lebih tenang.. trus jadi lebih
tahu..)
- Alhamdulillah.. ngomong-ngomong tadi kita
ngobrolin apa aja mas?
(Ngobrolin tanda-tanda marah tu gimana, cara-cara
nyalurin marah tu gimana, trus apa lagi ya mbak..)
- Iya udah bener mas, tanda-tanda marah itu apa
saja mas?
(Ya misale jantung jadi deg-degan, otot jadi
kenceng semua, muka jadi merah, tangan
mengepal..gitu kan mbak?)
- Iya mas bener sekali.. Kalau cara-cara
menyalurkan kemarahan tadi apa aja mas?
(Ini mbak.. pakai tarik napas, hembusin.. tarik napas
hembusin gitu..)
-Trus selanjutnya apa mas..?
(Mukul bantal atau kasur mbak.)

- Wah bener banget mas. Bagus sekali Mas P bisa


mengingat isi pembicaraan kita tadi.. Nah coba
setelah saya pergi nanti, Mas P latihan napas dalam
lagi ya?
(Ya mbak..)
- Sekarang kita buat jadwal latihan nafas dalam
dulu, kira-kira dalam sehari mas P mau latihan
napas dalam berapa kali?
(Tiga kali aja cukup kayanya mbak..)
- Baik, jam berapa saja mas?
(Jam 9 pagi, jam 12 dan jam 3 sore deh mbak..)
- Baik mas, bagus sekali.. Nanti, jam 12 saya akan
datang lagi untuk mengantarkan makan siang.
Sekaligus kita latihan nafas dalam tadi.. Tempatnya
disini lagi ya mas..?
(Ya mbak..)
- Baiklah, saya permisi dulu ya mas P.. selamat pagi
selamat istirahat.