Anda di halaman 1dari 37

TUTOR GUIDE

KHUSUS TUTOR

PETUNJUK TUTOR
BLOK 8
SISTEM INDERA

Penyusun
dr. Andra Novitasari
dr. Arum Kartikadewi
dr. Nugraheni Kusumaningtyas
dr. Kanti Ratnaningrum M.Sc

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG
2016-2017

VISI
PROGRAM STUDI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIMUS
Menjadi

fakultas

yang

unggul

dalam

pendidikan

kedokteran

dengan

pendekatan kedokteran keluarga dan kedokteran okupasi yang islami


berbasis teknologi dan berwawasan internasional pada tahun 2034.

MISI
PROGRAM STUDI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIMUS
1. Menyelenggarakan pendidikan kedokteran yang unggul berbasis Standar
Kompetensi

Dokter

Indonesia

(SKDI)

dan

Standar

Karakter

dan

Kompetensi Dokter Muhammadiyah (SKKDM).


2. Menyelenggarakan penelitian di bidang kedokteran dasar, kedokteran
klinik, kedokteran komunitas, kedokteran okupasi dan kedokteran Islam
guna mendukung pengembangan pendidikan kedokteran dan kesehatan
masyarakat.
3. Menyelenggarakan pengabdian pada masyarakat di bidang kedokteran
dan kesehatan masyarakat.
4. Mengembangkan dan memperkuat manajemen fakultas untuk mencapai
kemandirian
5. Mengembangkan dan menjalin kerjasama dengan pemangku kepentingan
baik nasional maupun internasional.

TEKNIS PELAKSANAAN TUTORIAL


Langkah-langkah diskusi mengikuti the seven jumps / tujuh langkah tutorial,
yaitu :
1. Clarify unfamiliar terms
2. Define the problem(s)
3. Brainstorm possible hypotheses or explanation
4. Make a systematic inventory of the various explanations found in step
3
5. Define learning objectives
6. Information gathering and private study
7. Share the results of information gathering and private study
(David et al., 1999)
METODE THE SEVEN JUMP (TUJUH LANGKAH)
LANGKAH 1.
Klarifikasi istilah/terminologi asing (yang tidak dimengerti) (Clarify
unfamiliar terms)
Proses
Mahasiswa mengidentifikasi kata-kata yang maknanya belum jelas dan
anggota kelompok yang lain mungkin dapat memberikan definisinya.
Semua mahasiswa harus dibuat merasa aman, agar mereka dapat
menyampaikan dengan jujur apa yang mereka tidak mengerti.
Alasan
Istilah

asing

dapat

menghambat

pemahaman.

Klarifikasi

istilah

walaupun hanya sebagian bisa mengawali proses belajar.


Output tertulis
Kata-kata

atau

istilah

yang

tidak

disepakati

pengertiannya

kelompok dijadikan tujuan pembelajaran (learning objectives)

oleh

LANGKAH 2.
Menetapkan masalah (Define the problem; problem definition)
Proses
Ini merupakan sesi terbuka dimana semua mahasiswa didorong untuk
berkontribusi

pendapat

tentang

masalah.

Tutor

mungkin

perlu

mendorong semua mahasiswa untuk berkontribusi dengan cepat tetapi


dengan analisis yang luas.
Alasan
Sangat

mungkin

setiap

anggota

kelompok

tutorial

mempunyai

perspektif yang berbeda terhadap suatu masalah. Membandingkan dan


menyatukan pandangan ini akan memperluas cakrawala intelektual
mereka dan menentukan tugas berikutnya.
Output tertulis
Daftar masalah yang akan dijelaskan
LANGKAH 3.
Curah pendapat kemungkinan hipotesis atau penjelasan (Generate
explanation : brain storming)
Proses
Lanjutan sesi terbuka, tetapi sekarang semua mahasiswa mencoba
memformulasikan,

menguji

dan

membandingkan

manfaat

relatif

hipotesis mereka sebagai penjelasan masalah atau kasus. Tutor


mungkin perlu menjaga agar diskusi berada pada tingkat hipotetis dan
mencegah masuk terlalu cepat ke penjelasan yang sangat detail. Dalam
konteks ini:
a. Hipotesis berarti dugaan yang dibuat sebagai dasar penalaran tanpa
asumsi kebenarannya, ataupun sebagai titik awal investigasi
b. Penjelasan

berarti

membuat

pengenalan

secara

pemahaman, dengan tujuan untuk saling pengertian


Alasan

detail

dan

Ini merupakan langkah penting, yang mendorong penggunaan prior


knowledge dan memori serta memungkinkan mahasiswa untuk menguji
atau menggambarkan pemahaman lain; link dapat dibentuk antar item
jika ada pengetahuan tidak lengkap dalam kelompok. Jika ditangani
dengan baik oleh tutor dan kelompok, langkah ini akan membuat
mahasiswa belajar pada tingkat pemahaman yang lebih dalam.
Output tertulis
Daftar hipotesis atau penjelasan
LANGKAH 4.
Menyusun

penjelasan

menjadi

solusi

sementara

(Analizing the

problem)
Proses
Mahasiswa akan memiliki banyak penjelasan yang berbeda. Masalah
dijelaskan secara rinci dan dibandingkan dengan hipotesis atau
penjelasan yang diajukan, untuk melihat kecocokannya dan jika
diperlukan

eksplorasi

lebih

lanjut.

Langkah

ini

memulai

proses

penentuan tujuan pembelajaran (learning objectives), namun tidak


disarankan untuk menuliskannya terlalu cepat.
Alasan
Tahap ini merupakan pemrosesan dan restrukturisasi pengetahuan yang
ada secara aktif serta mengidentifikasi kesenjangan pemahaman.
Menuliskan tujuan pembelajaran terlalu cepat akan menghalangi proses
berpikir dan proses intelektual cepat, sehingga tujuan pembelajaran
menjadi terlalu melebar dan dangkal.
Output tertulis
Pengorganisasian

penjelasan

masalah

secara

skematis

yaitu

menghubungkan ide-ide baru satu sama lain, dengan pengetahuan yang


ada dan dengan konteks yang berbeda. Proses ini memberikan output
visual

hubungan

antar

potongan

informasi

yang

berbeda

dan

memfasilitasi penyimpanan informasi dalam memori jangka panjang.


(Perhatian: Dalam memori, unsur-unsur pengetahuan disusun secara
skematis dalam frameworks atau networks, bukan secara semantis
seperti kamus).
LANGKAH 5.
Menetapkan Tujuan Pembelajaran (Formulating learning objectives)
Proses
Anggota kelompok menyetujui seperangkat inti tujuan pembelajaran
(learning objectives) yang akan mereka pelajari. Tutor mendorong
mahasiswa untuk fokus, tidakterlalu lebar atau dangkal serta dapat
dicapai dalam waktu yang tersedia. Beberapa mahasiswa bisa saja
punya

tujuan

pembelajaran

yang

bukan

merupakan

tujuan

pembelajaran kelompok, karena kebutuhan atau kepentingan pribadi.


Alasan
Proses konsensus menggunakan kemampuan seluruh anggota kelompok
(dan tutor) untuk mensintesis diskusi sebelumnya menjadi tujuan
pembelajaran yang tepat dan dapat dicapai. Proses ini tidak hanya
menetapkan tujuan pembelajaran, akan tetapi juga mengajak semua
anggota kelompok bersama-sama menyimpulkan diskusi.
Output tertulis
Tujuan pembelajaran adalah output utama dari tutorial pertama. Tujuan
pembelajaran seharusya berupa isu yang ditujukan pada pertanyaan
atau hipotesis spesifik. Misalnya, "penggunaan grafik cantle untuk
menilai pertumbuhan anak" lebih baik dan lebih tepat daripada topik
global pertumbuhan
LANGKAH 6.
Mengumpulkan informasi dan belajar mandiri (Self study)
Proses

Proses ini mencakup pencarian materi di buku teks, di literatur yang


terkomputerisasi, menggunakan internet, melihat spesimen patologis,
konsultasi pakar, atau apa saja yang dapat membantu mahasiswa
memperoleh informasi yang dicari. Kegiatan PBL yang terorganisir
dengan baik meliputi buku program atau buku blok yang memuat saran
cara memperoleh atau mengontak sumber pembelajaran spesifik yang
mungkin sulit ditemukan atau diakses.

Alasan
Jelas bagian penting dari proses belajar adalah mengumpulkan dan
memperoleh informasi baru yang dilakukan sendiri oleh mahasiswa
Output tertulis
Catatan individual mahasiswa.
LANGKAH 7.
Berbagi

hasil

mengumpulkan

informasi

dan

belajar

mandiri

(Reporting)
Proses
Berlangsung beberapa hari setelah tutorial pertama (langkah 1-5).
Mahasiswa memulai dengan kembali ke daftar tujuan pembelajaran
mereka. Pertama, mereka mengidentifikasi sumber informasi individual,
mengumpulkan informasi dari belajar mandiri serta saling membantu
memahami dan mengidentifikasikan area yang sulit untuk dipelajari
lebih lanjut (atau bantuan pakar). Setelah itu, mereka berusaha untuk
melakukan dan menghasilkan analisis lengkap dari masalah.
Alasan
Langkah ini mensintesis kerja kelompok, mengkonsolidasi pembelajaran
dan mengidentifikasikan area yang masih meragukan, mungkin untuk
studi lebih lanjut. Pembelajaran pasti tidak lengkap (incomplete) dan
terbuka (open-ended), tapi ini agak hati-hati karena mahasiswa harus
kembali ke topik ketika pemicu yang tepat terjadi di masa datang.
Output tertulis
Catatan individual mahasiswa.

Setiap skenario kasus didiskusikan dalam dua kali pertemuan tutorial,


dimana setiap pertemuan dilaksanakan 2 x 50 menit (2 jam tatap muka).
Pada pertemuan I mahasiswa melaksanakan langkah 1 s/d 5. Langkah 6
berupa

self-study atau independent study; dilaksanakan pada hari-hari

berikutnya antara pertemuan I dan II. Pada pertemuan ke II, yang


dilaksanakan beberapa hari sesudah pertemuan I, mahasiswa melaksanakan
langkah 7.
1. Pertemuan pertama :
a) Diskusi diawali surat hafalan dan terjemahan sesuai yang sudah
ditentukan tiap blok : 1/8 x 2 jam tatap muka = 12,5 menit
b) Diskusi membahas masalah dalam skenario (langkah 1-5) : x 2 jam
tatap muka = 75 menit
c) Mengevaluasi jalannya hasil diskusi : 1/8 x 2 jam tatap muka = 12,5
menit
2. Pertemuan kedua :
a) Diawali dengan surat hafalan dan terjemahan sesuai yang sudah
ditentukan tiap blok, dilanjutkan dengan Ujian mini quiz : 1/8 x 2 jam
tatap muka = 12,5 menit
b) Diskusi membahas sasaran belajar (langkah 7) : x 2 jam tatap muka
= 75 menit
c) Mengevaluasi jalannya hasil diskusi : 1/8 x 2 jam tatap muka = 12,5
menit

TATA TERTIB PELAKSANAAN TUTORIAL


BAGI MAHASISWA
1. Anggota kelompok harus sudah lengkap 5 menit sebelum diskusi tutorial
dimulai.
2. Minimal kehadiran diskusi tutorial 75% dari seluruh kegiatan diskusi
tutorial.
3. Setiap mahasiswa wajib mengikuti diskusi tutorial bahasa Inggris.
4. Membawa buku penilaian mahasiswa/student report (setiap mahasiswa
satu buku penilaian)
5. Mempersiapkan kegiatan tutorial :
a.
Mempersiapkan name tag mahasiswa
b.
Mempersiapkan/mengecek peralatan : lembar balik, spidol/alat
tulis, LCD dan komputer
6. Apabila ada yang tidak hadir, harus memperoleh ijin dari tutor yang
mengampu. Apabila sakit harus menyertakan surat keterangan sakit dari
dokter (untuk dilampirkan pada daftar presensi mahasiswa).
7. Apabila terlambat lebih dari 30 menit tidak diperbolehkan mengikuti
diskusi.
8. Pemilihan moderator, presentator dan sekretaris, yang dipilih dari dan
untuk mahasiswa:
a.
Moderator
Memimpin diskusi
Memfasilitasi jalannya diskusi
Mengajak peserta diskusi untuk aktif berdiskusi dan
melakukan curah pendapat
Menyimpulkan hasil diskusi
b.
Presentator
Mempresentasikan skenario tutorial
Membacakan resume sasaran belajar
Diperbolehkan menggunakan laptop untuk membuat
konsep laporan diskusi kelompok.
c.
Sekretaris
Menuliskan diskusi pada lembar balik (flip chart)
Menulis resume sasaran belajar
9. Mengerjakan tugas sesuai dengan job description masing-masing
10. Memahami dan melaksanakan setiap langkah pada 7 langkah diskusi
tutorial (the seven jumps)
11. Mencari informasi, pengetahuan dari berbagai sumber (internet,
perpustakaan dll) mengenai kasus yang didiskusikan.

12. Menyusun laporan individu dalam buku tutorial individu masingmasing (dengan tulis tangan tinta warna biru) ( buku disampul coklat)
13. Pada pertemuan pertama (step 1-6) :
a.
Mahasiswa sudah membuat /mempersiapkan dari rumah bahan
diskusi dengan menulis step 1 5 di buku tutorial individu, sebagai
bahan diskusi.
b.
Mencatat hasil diskusi di buku tutorial individu.
c.
Hasil dari belajar mandiri (step6) ditulis di buku tutorial individu.
14. Pada pertemuan kedua (step7):
a. Sebelum diskusi dimulai, akan diadakan minikuis mengenai kasus
yang sedang didiskusikan.
b. Dalam mempresentasikan hasil belajar, mahasiswa dilarang
membaca buku tutorial individu, kecuali dalam bentuk ringkasan
singkat/hanya berfungsi
membantu mempresentasikan hasil
belajar .
15. Menyusun laporan kelompok setelah selesai tutorial pertemuan kedua,
berupa step 1 sampai dengan step 7, diketik (font 12, Times New
Roman, spasi 1,5) dan dijilid rapi dengan sampul hijau. Cover depan
dicantumkan :
- Judul skenario
- Blok dan skenario keberapa
- logo UNIMUS
- kelompok penyusun, mencantumkan moderator.
- nama tutor.
- Daftar pustaka ditulis secara Van Couver.
16. Laporan hasil diskusi tutorial, mencakup semua step diskusi tutorial
yang telah dilalui (step 1- 7).
17. Laporan diskusi harus tetap mengacu pada skenario kasus.
18. Hasil laporan harus diketahui dan dipertanggungjawabkan oleh seluruh
anggota kelompok.
19. Laporan kelompok tersebut dikumpulkan kepada tutor pengampu paling
lambat 3 hari sesudah pertemuan kedua tersebut.

TATA TERTIB PELAKSANAAN TUTORIAL


BAGI TUTOR
1. Tutor datang 30 menit sebelum pelaksanaan tutorial untuk mengadakan
koordinasi
2. Tutor harus memahami skenario kasus dan sasaran belajar kasus yang
akan didiskusikan.
3. Tutor harus berpedoman pada buku tutorguide tiap blok, dan dianjurkan
untuk mencari referensi lain untuk memperluas pengetahuannya tanpa
mengabaikan sasaran belajar mahasiswa.
4. Tutor wajib menandatangani presensi kegiatan diskusi tutorial
5. Apabila ada mahasiswa yang tidak hadir, harus memperoleh ijin dari
tutor yang mengampu. Ditulis di daftar presensi, apabila sakit harus
menyertakan surat keterangan sakit dari dokter (untuk dilampirkan pada
daftar presensi mahasiswa).
6. Apabila ada mahasiswa yang datang terlambat lebih dari 30 menit tidak
boleh mengikuti diskusi tutorial.
7. Sebelum diskusi dimulai diawali dengan bacaan surat hafalan yang
sudah ditentukan sesuai blok.
8. Diskusi tutorial tidak boleh menggangu jam waktu sholat.
9. Tutor
dapat
menstimulasi
mahasiswa
agar
mengaplikasi
pengetahuannya,
misal dengan bagan, gambar
atau video dan
sebagainya.
10. Tidak dibenarkan tutor memberikan kuliah/ ceramah.
11. Tutor harus dapat memberikan intervensi supaya diskusi tetap di jalur
sasaran belajar, tidak melenceng terlalu jauh.
12. Tutor harus dapat memberikan intervensi saat diskusi mengalami
kemacetan, ataupun hanya berkutat pada satu pembahasan, tanpa
memberikan kuliah
13. Tutor harus memperlihatkan komitmen, ada kepedulian dan rasa
tanggungjawab terhadap jalannya diskusi.
14. Tutor dapat memberikan feedback positif maupun negatif.
15. Tutor mengingatkan mahasiswa untuk tidak membagi tugas dalam
membuat laporan kelompok maupun dalam penguasaan materi, sebab
setiap mahasiswa harus mengusai semua sasaran belajar yang sudah
ditentukan tiap skenario.
16. Dalam memberikan intervensi tutor harus mampu menginterupsi pada
saat yang tepat, tidak menjatuhkan mahasiswa

17. Setiap selesai diskusi, tutor harus mengecek buku tutorial individu
masing-masing (buku coklat), dan memastikan semua sasaran belajar
tercapai semua.
18. Pada pertemuan kedua, sebelum diskusi dimulai, diadakan minikuis
mengenai kasus yang sedang didiskusikan, dan tutor bertanggung jawab
terhadap berlangsungnya minikuis tersebut.
19. Tutor menilai hasil minikuis tersebut dan ditulis di buku nilai kegiatan
tutorial
20. Tutor wajib menerima laporan hasil diskusi tutorial kelompok (yang sudah
dijilid dengan sampul hijau) untuk kemudian dinilai, dan selanjutnya
diserahkan kepada koordinator bidang tutorial.
21. Tutor wajib menyerahkan nilai pada check list Penilaian Tutorial dan nilai
minikuis kepada koordinator tutorial pada hari itu juga.
22. Nilai laporan hasil diskusi kelompok (yang sudah dijilid sampul hijau)
kepada koordinator bidang tutorial , maksimal 3 hari setelah diskusi
pertemuan kedua.
23. Apabila tutor berhalangan hadir harus menghubungi koordinator bidang
tutorial minimal 3 hari sebelum acara diskusi. Atau diperbolehkan
mencari ganti tutor dengan persetujuan koordinator bidang tutorial. Tutor
pengganti harus tetap berpedoman pada buku tutorguide dan
memahami
segala sesuatu
yang perlu diketahui pada diskusi
sebelumnya.
24. Tutor wajib memberikan penilaian pada lembar check list penilaian
tutorial dan menyerahkan copy check list kepada kelompok diskusi
tutorial setiap selesai diskusi tutorial
25. Tutor wajib mengiput nilai tutorial pada sibfk.unimus.ac.id

HAFALAN SURAT BLOK 8


QS Al Kautsar

Skenario 1. Jarwo Lodokan


Saat bang Jarwo mengendarai sepeda motor di senja hari dengan helm terbuka, dalam perjalanan dia
merasa terkena kelilipan benda asing pada mata kirinya, karena terasa mengganjal, dia menggosok
matanya. Sesampai di rumah matanya terlihat merah. Ia menetesi matanya dengan obat mata yang
dibeli di toko, namun tidak ada perbaikan. Sehari kemudian, mata semakin merah dan disertai keluar
lodok, sehingga ia berobat ke puskesmas. Dokter puskemas melakukan pemeriksaan dan memutuskan
untuk memberikan antibiotika tetes mata.
Sasaran Belajar :
1.
2.
3.

Mahasiswa mampu menjelaskan anatomi dan fisiologi segmen anterior mata


Mahasiswa mampu menjelaskan patofisiologi kelainan diatas
Mahasiswa mampu menjelaskan gejala dan tanda kelainan mata tersebut (konjungtivitis

4.
5.
6.

bakterialis)
Mahasiswa mampu menjelaskan diagnosis dan diagnosis banding kasus
Mahasiswa mampu menjelaskan pengelolaan kelainan mata akibat konjungtivitis bakterialis
Mahasiswa mampu menjelaskan komplikasi kelainan mata akibat konjungtivitis bakterialis

Petunjuk Tutor :
Step 1. Clarify unfamiliar terms
Mahasiswa mengidentifasi kata-kata yang artinya kurang jelas/ sulit, sehingga ada persamaan persepsi
pengertian dalam mengartikan kata yang sulit tersebut. Misalnya :
Lodok

: kotoran mata, bisa merupakan proses fisiologis atau patologis. Secara fisiologis mata
mengeluarkan kotoran ketika sedang melakukan pembersihan. Normalnya, proses tersebut
terjadi saat Anda tertidur di malam hari. Makanya, kotoran terlihat keluar dari mata di pagi
hari. Namun ketika kotoran mata yang keluar lebih sering dari biasanya, lengket dan
berwarna kuning atau hijau disertai keluhan mata yang lain, maka harus dicurigai sebagai
proses patologis.

Step 2. Define the problems


Problem (masalah) bisa berupa istilah, fakta, fenomena, yang oleh group masih perlu dijelaskan. Tutor
dapat mendorong seluruh anggota kelompok untuk memberi kontribusi dalam diskusi. Sangat mungkin

ada perbedaan perspektif dalam menilai masalah, sehingga dalam step ini mahasiswa dapat
membandingkan dan mengelompokkan pendapat sehingga akan memperluaskan horison intelektual.
Mengapa saat diobati dengan obat yang dibeli di toko, keluhan tidak mengalami perbaikan?
1.
2.
3.
4.

Obat apakah yang kemungkinan dibeli oleh bang jarwo?


Apakah diagnosis kasus di atas?
Apakah dasar penegakan diagnosis untuk kasus di atas?
Mengapa dokter merasa perlu memberikan tetes mata antibiotika?

Step 3. Brainstorms possible hypothesis or explanation


Mahasiswa mencoba membuat formulasi, berdiskusi tentang berbagai kemungkinan yang sesuai
dengan masalah. Mahasiswa membuat hipotesis sebagai dasar pemikiran tanpa asumsi benar/ salah,
atau sebagai langkah awal untuk mencari informasi lebih lanjut.
Diskusi tetap dalam tingkat hipotesis, belum masuk ke dalam hal-hal rinci yang teoritis
Mencatat seluruh hipotesis yang ada.
Tinjauan kasus :
Seorang laki-laki, mengalami keluhan mata kiri mengganjal karena terkena benda asing, selanjutnya
mata dikucek dan merah. Sudah diberi obat bebas (merek tidak diketahui), tetapi keluhan tidak
membaik. Sehari kemudian keluhan cenderung semakin bertambah berat, yaitu mata merah dan
keluar sekret, dibawa ke puskesmas dan oleh dokter diberi tetes mata antibiotik. Adanya benda asing
pada mata menyebabkan sensasi mengganjal sehingga menyebabkan pasien mengucek mata.
Pemberian terapi medikamentosa yang tidak tepat obat, indikasi, cara pemakaian dapat
mengakibatkan keluhan tidak membaik, bahkan memburuk. Terapi medikamentosa yang mungkin
diberikan pada kasus ini adalah obat tetes mata steroid atau artificial tear.
Keluhan memburuk dengan mata merah disertai keluar sekret mengindikasikan adanya suatu infeksi.
Warna sekret, konsistensi sekret dan keluhan lain dapat membantu menegakkan diagnosis serta
penyebab infeksi. Pengobatan infeksi bakteri adalah tetes mata antibiotika.

Step 4, Make a systematic inventory of the various explanations found in step 3.


Merupakan pengorganisasian penjelasan terhadap masalah/ pengetahuan, yang ditulis secara
skematik. Bukan berupa skema dari skenario.

Skema.
Step 5, Define learning objectives (sasaran belajar)
Kelompok menyusun inti tujuan belajar/ sasaran belajar.
Pada skenario ini sasaran belajarnya :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Namun

Mahasiswa mampu menjelaskan anatomi dan fisiologi segmen anterior mata


Mahasiswa mampu menjelaskan patofisiologi kelainan diatas
Mahasiswa mampu menjelaskan gejala dan tanda kelainan mata tersebut (konjungtivitis
bakterialis)
Mahasiswa mampu menjelaskan diagnosis dan diagnosis banding kasus
Mahasiswa mampu menjelaskan pengelolaan kelainan mata akibat konjungtivitis bakterialis
Mahasiswa mampu menjelaskan komplikasi kelainan mata akibat konjungtivitis bakterialis
dalam diskusi tutorial bisa dimungkinkan untuk menambah sasaran belajar.

Step 6, Information gathering and private study


Mahasiswa mencari informasi sesuai sasaran belajar yang sudah ditetapkan di step 5, baik mencari di
buku, web internet, dari pakar / perkuliahan dsb.
Hasil kegiatan tersebut dicatat oleh masing-masing anggota kelompok (students individual notes),
termasuk sumber belajarnya. Usahakan sumber pustaka masing-masing mahasiswa berbeda. Catatan
ini ditulis di buku tutorial individu yang diberi sampul coklat.
Step 7. Share the results of information gathering and private study
Dilaksanakan pada pertemuan kedua. Mahasiswa
mendiskusikan kembali .

mensintesis apa yg telah dipelajari, kemudian

Tinjauan belajar
1.

Anatomi dan fisiologi segmen anterior mata

2.

Mahasiswa mampu menjelaskan patofisiologi kelainan diatas


Konjungtivitis adalah radang konjungtiva yang dapat disebabkan oleh mikroorganisme
(virus, bakteri), iritasi atau reaksi alergi. Konjungtivitis ditularkan melalui kontak langsung
dengan sumber infeksi. Penyakit ini dapat menyerang semua umur.
Konjungtivitis bakteri adalah inflamasi konjungtiva yang disebabkan oleh bakteri. Pada
konjungtivitis ini biasanya pasien datang dengan keluhan mata merah, sekret pada mata dan
iritasi mata.
Konjungtivitis bakteri dapat dibagi menjadi empat bentuk, yaitu hiperakut, akut, subakut
dan kronik. Konjungtivitis bakteri hiperakut biasanya disebabkan oleh N gonnorhoeae, Neisseria
kochii dan N meningitidis. Bentuk yang akut biasanya disebabkan oleh Streptococcus pneumonia
dan Haemophilus aegyptyus. Penyebab yang paling sering pada bentuk konjungtivitis bakteri
subakut adalah H influenza dan Escherichia coli, sedangkan bentuk kronik paling sering terjadi
pada konjungtivitis sekunder atau pada pasien dengan obstruksi duktus nasolakrimalis (Jatla,
2009). Konjungtivitis bakterial biasanya mulai pada satu mata kemudian mengenai mata yang
sebelah melalui tangan dan dapat menyebar ke orang lain. Penyakit ini biasanya terjadi pada

orang yang terlalu sering kontak dengan penderita, sinusitis dan keadaan imunodefisiensi
(Marlin, 2009).
Jaringan pada permukaan mata dikolonisasi oleh flora normal seperti streptococci,
staphylococci dan jenis Corynebacterium. Perubahan pada mekanisme pertahanan tubuh
ataupun pada jumlah koloni flora normal tersebut dapat menyebabkan infeksi klinis. Perubahan
pada flora normal dapat terjadi karena adanya kontaminasi eksternal, penyebaran dari organ
sekitar ataupun melalui aliran darah (Rapuano, 2008). Penggunaan antibiotik topikal jangka
panjang merupakan salah satu penyebab perubahan flora normal pada jaringan mata, serta
resistensi terhadap antibiotik (Visscher, 2009). Mekanisme pertahanan primer terhadap infeksi
adalah lapisan epitel yang meliputi konjungtiva sedangkan mekanisme pertahanan sekundernya
adalah sistem imun yang berasal dari perdarahan konjungtiva, lisozim dan imunoglobulin yang
terdapat pada lapisan air mata, mekanisme pembersihan oleh lakrimasi dan berkedip. Adanya
gangguan atau kerusakan pada mekanisme pertahanan ini dapat menyebabkan infeksi pada
konjungtiva (Amadi, 2009).
3.

Mahasiswa mampu menjelaskan gejala dan tanda kelainan mata tersebut (konjungtivitis
bakterialis)
Gejala-gejala yang timbul pada konjungtivitis bakteri biasanya dijumpai injeksi konjungtiva
baik segmental ataupun menyeluruh. Selain itu sekret pada kongjungtivitis bakteri biasanya
lebih purulen daripada konjungtivitis jenis lain, dan pada kasus yang ringan sering dijumpai
edema pada kelopak mata (AOA, 2010). Ketajaman penglihatan tidak mengalami gangguan pada
konjungtivitis bakteri. Gejala yang paling khas adalah kelopak mata yang saling melekat pada
pagi hari sewaktu bangun tidur.
Faktor Risiko :
a.
b.
c.
d.

Daya tahan tubuh yang menurun


Adanya riwayat atopi
Penggunaan kontak lens dengan perawatan yang tidak baik
Higiene personal yang buruk

Pemeriksaan Fisik Oftalmologi :


a.
b.
c.
d.
e.

Tajam penglihatan normal


Injeksi konjungtiva
Dapat disertai edema kelopak, kemosis
Eksudasi; eksudat dapat serous, mukopurulen atau purulen tergantung penyebab.
Pada konjungtiva tarsal dapat ditemukan folikel, papil atau papil raksasa, flikten,
membran dan pseudomembran.

Pemeriksaan Penunjang (bila diperlukan) :


a.
b.
4.

Sediaan langsung swab konjungtiva dengan perwarnaan Gram atau Giemsa


Pemeriksaan sekret dengan perwarnaan metilen blue pada kasus konjungtivitis gonore

Mahasiswa mampu menjelaskan diagnosis dan diagnosis banding kasus


Pada saat anamnesis yang perlu ditanyakan meliputi usia, karena mungkin saja penyakit
berhubungan dengan mekanisme pertahanan tubuh pada pasien yang lebih tua. Pada pasien
yang aktif secara seksual, perlu dipertimbangkan penyakit menular seksual dan riwayat penyakit
pada pasangan seksual. Perlu juga ditanyakan durasi lamanya penyakit, riwayat penyakit yang
sama sebelumnya, riwayat penyakit sistemik, obat-obatan, penggunaan obat-obat kemoterapi,
riwayat pekerjaan yang mungkin ada hubungannya dengan penyakit, riwayat alergi dan alergi
terhadap obat-obatan, dan riwayat penggunaan lensa-kontak.
Secara umum, konjungtivitis dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
a.

Konjungtivitis bakterial
Konjungtiva hiperemis, secret purulent atau mukopurulen dapat disertai membrane
atau pseudomembran di konjungtiva tarsal.

5.

b.

Konjungtivitis viral
Konjungtiva hiperemis, secret umumnya mukoserous, dan pembesaran kelenjar
preaurikular

c.

Konjungtivitis alergi
Konjungtiva hiperemis, riwayat atopi atau alergi, dan keluhan gatal.

Mahasiswa mampu menjelaskan pengelolaan kelainan mata akibat konjungtivitis bakterialis


Terapi spesifik konjungtivitis bakteri tergantung pada temuan agen mikrobiologiknya. Terapi
dapat dimulai dengan antimikroba topikal spektrum luas. Pada setiap konjungtivitis purulen yang
dicurigai disebabkan oleh diplokokus gram-negatif harus segera dimulai terapi topical dan
sistemik . Pada konjungtivitis purulen dan mukopurulen, sakus konjungtivalis harus dibilas
dengan larutan saline untuk menghilangkan sekret konjungtiva.
Penatalaksanaan konjungtivitis berdasarkan etiologinya :
a.
b.
c.

6.

Mahasiswa mampu menjelaskan komplikasi kelainan mata akibat konjungtivitis bakterialis


Blefaritis marginal kronik sering menyertai konjungtivitis bateri, kecuali pada pasien yang
sangat muda yang bukan sasaran blefaritis. Parut di konjungtiva paling sering terjadi dan dapat
merusak kelenjar lakrimal aksesorius dan menghilangkan duktulus kelenjar lakrimal. Hal ini
dapat mengurangi komponen akueosa dalam film air mata prakornea secara drastis dan juga
komponen mukosa karena kehilangan sebagian sel goblet. Luka parut juga dapat mengubah
bentuk palpebra superior dan menyebabkan trikiasis dan entropion sehingga bulu mata dapat
menggesek kornea dan menyebabkan ulserasi, infeksi dan parut pada kornea.

Referensi
..

Usahakan untuk tidak menyentuh mata yang sehat sesudah menangani mata yang
sakit
Sekret mata dibersihkan.
Pemberian obat mata topikal
1. Pada infeksi bakteri: Kloramfenikol tetes sebanyak 1 tetes 6 kali sehari atau salep
mata 3 kali sehari selama 3 hari.
2. Pada alergi diberikan flumetolon tetes mata dua kali sehari selama 2 minggu.
3. Pada konjungtivitis gonore diberikan kloramfenikol tetes mata 0,5- 1%sebanyak 1
tetes tiap jam dan suntikan pada bayi diberikan 50.000 U/kgBB tiap hari sampai
tidak ditemukan kuman GO pada sediaan apus selama 3 hari berturut-turut.
4. Konjungtivitis viral diberikan salep Acyclovir 3% lima kali sehari selama 10 hari.

Skenario 2. Sering bersin-bersin di pagi hari


Roni, usia 15 tahun sering bersin-bersin dan pilek dengan ingus putih jernih 3 hari ini. Frekuensi bersin
lebih dari 4 kali setiap kali bersin. Keluhan muncul mendadak terutama pada pagi hari saat cuaca
dingin dan apabila terpapar debu. Roni sering mengalami keluhan yang sama sejak 3 tahunan yang
lalu. Ibu Roni menderita asma.
Sasaran belajar :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Mahasiswa
Mahasiswa
Mahasiswa
Mahasiswa
Mahasiswa
Mahasiswa
Mahasiswa
Mahasiswa

mampu
mampu
mampu
mampu
mampu
mampu
mampu
mampu

menjelaskan anatomi dan fisiologi hidung


menjelaskan patofisiologi kasus tersebut
menjelaskan penyebab dan faktor risiko kasus tersebut.
menjelaskan gejala klinis atopi yang lain (asma, urtikaria).
menegakkan diagnosis dan diagnosis banding kasus tersebut
menjelaskan pengelolaan kasus tersebut
menjelaskan komplikasi kasus tersebut
menjelaskan edukasi dan pencegahan pada kasus tersebut

PETUNJUK TUTOR
Step 1 , Clarify unfamiliar terms

Mahasiswa mengidentifasi kata-kata yang artinya kurang jelas/ sulit, sehingga ada persamaan persepsi
pengertian dalam mengartikan kata yang sulit tersebut. Misalnya :
Asma : Asma adalah gangguan inflamasi kronik saluran napas yang melibatkan banyak sel dan
elemennya. Inflamasi kronik menyebabkan peningkatan hiperesponsif jalan napas yang menimbulkan
gejala episodik berulang berupa mengi, sesak napas, dada terasa berat dan batuk-batuk terutama
malam dan atau dini hari.Episodik tersebut berhubungan dengan obstruksi jalan napas yang luas,
bervariasi dan seringkali bersifat reversibel dengan atau tanpa pengobatan.

Step 2, Define the problem(s)


Problem (masalah) bisa berupa istilah, fakta, fenomena, yang oleh group masih perlu dijelaskan. Tutor
dapat mendorong seluruh anggota kelompok untuk memberi kontribusi dalam diskusi. Sangat mungkin
ada perbedaan perspektif dalam menilai masalah, sehingga dalam step ini mahasiswa dapat
membandingkan dan mengelompokkan pendapat sehingga akan memperluaskan horison intelektual.
1.
2.
3.

Kenapa sering bersin-bersin dan pilek dengan ingus putih jernih, dan keluhan muncul
mendadak terutama pada pagi hari saat cuaca dingin dan apabila terpapar debu?
Apa hubungan penyakit Roni dengan penyakit Asma pada ibu Roni?
Apa DD dari penyakit yang diderita Roni?

Step 3, Brainstorm possible hypotheses or explanation


Mahasiswa mencoba membuat formulasi, berdiskusi tentang berbagai kemungkinan yang sesuai
dengan masalah. Mahasiswa membuat hipotesis sebagai dasar pemikiran tanpa asumsi benar/ salah,
atau sebagai langkah awal untuk mencari informasi lebih lanjut.
Diskusi tetap dalam tingkat hipotesis, belum masuk ke dalam hal-hal rinci yang teoritis
Mencatat seluruh hipotesis yang ada.
1.

Ini merupakan gejala rinitis alergi yang khas dimana terdapatnya serangan bersin berulang.
Sebetulnya bersin merupakan gejala yang normal, terutama pada pagi hari atau bila terdapat
kontak dengan sejumlah besar debu. Hal ini merupakan mekanisme fisiologik, yaitu proses
membersihkan sendiri (self cleaning process). Bersin dianggap patologik, bila terjadinya lebih
dari 5 kali setiap serangan, sebagai akibat dilepaskannya histamin.
Karena histamine akan merangsang reseptor H1 pada ujung saraf vidianus sehingga
menimbulkan rasa gatal pada hidung dan bersin-bersin. Histamine juga akan menyebabkan
kelenjar mukosa dan sel goblet mengalami hipersekresi dan permeabilitaskapiler meningkat
sehingga terjadi rinore. Gejala lain adalah hidung tersumbat akibat vasodilatasi sinusoid .selain
histamine merangsang ujung saraf vidianus, juga menyebabkan rangsangan pada mukosa
hidung sehingga terjadi pengeluaran Inter Cellular Adhesion Molecule 1(ICAM 1)

2.

Suatu penelitian tentang hubungan atara orang tua alergi dan perkembangan alergi pada
anak-anak adalah 30 % bila salah satu orang tua terkena atopi, dan 50 % bila kedua orang tua
terkena atopi

3.

DD :
-

Rinitis alergi
Rinosinusitis akibat infeksi.
Benda asing pada hidung
Kelainan anatomi seperti atresia koana, deviasi septum nasi, polip nasal,
Hipertropi adenoid

Step 4, Make a systematic inventory of the various explanations found in step 3.


Merupakan pengorganisasian penjelasan terhadap masalah/ pengetahuan, yang ditulis secara
skematik. Bukan berupa skema dari skenario.
Bersinbersin

Diagnosis

Pagi hari cuaca


dingin
debu
berulang (3 tahun)
Riwayat ibu asma

penatalaksanaa
n
Step 5, Define learning objectives (sasaran belajar)
Kelompok menyusun inti tujuan belajar/ sasaran belajar.
Pada skenario ini sasaran belajarnya :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
Namun

Mahasiswa mampu menjelaskan anatomi dan fisiologi hidung


Mahasiswa mampu menjelaskan patofisiologi kasus tersebut
Mahasiswa mampu menjelaskan penyebab dan faktor risiko kasus tersebut.
Mahasiswa mampu menjelaskan gejala klinis atopi yang lain (asma, urtikaria).
Mahasiswa mampu menegakkan diagnosis dan diagnosis banding kasus tersebut
Mahasiswa mampu menjelaskan pengelolaan kasus tersebut
Mahasiswa mampu menjelaskan komplikasi kasus tersebut
Mahasiswa mampu menjelaskan edukasi dan pencegahan pada kasus tersebut
dalam diskusi tutorial bisa dimungkinkan untuk menambah sasaran belajar.

Step 6, Information gathering and private study


Mahasiswa mencari informasi sesuai sasaran belajar yang sudah ditetapkan di step 5, baik mencari di
buku, web internet, dari pakar / perkuliahan dsb.
Hasil kegiatan tersebut dicatat oleh masing-masing anggota kelompok (students individual notes),
termasuk sumber belajarnya. Usahakan sumber pustaka masing-masing mahasiswa berbeda. Catatan
ini ditulis di buku tutorial individu yang diberi sampul coklat.
Step 7. Share the results of information gathering and private study
Dilaksanakan pada pertemuan kedua. Mahasiswa
mendiskusikan kembali .

mensintesis apa yg telah dipelajari, kemudian

TINJAUAN SASARAN BELAJAR


1. anatomi dan fisiologi hidung
Hidung terdiri dari hidung bagian luar atau piramid hidung dan rongga hidung
dengan pendarahan serta persarafannya. Hidung luar berbentuk piramid dengan bagianbagiannyadari atas ke bawah:
1) pangkal hidung,
2) dorsum nasi,
3) puncak hidung,

4) ala nasi,
5) kolumela dan
6) lubang hidung (nares anterior)
hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi kulit, jaringan ikat
dan beberapa otot kecil yang berfungsi untuk melebarkan atau menyempitkan lubang hidung.
Kerangka tulang terdiri dari :
1) tulang hidung (os nasalis),
2 ) p r o s e s u s frontalis os maksila dan
3) prosesus nasalis os frontal.
Sedangkan kerangka tulang rawan terdiri dari:
1)
2)
3)
4)

sepasang kartilago nasalis lateralis superior,


sepasang kartilago nasalis lateralis inferior (kartilago ala mayor),
beberapa pasang kartilago ala minor, dan
tepiinferior kartilago septum.

Rongga hidung atau cavum nasi berbentuk terowongan dari depan ke belakang,
dipisahkan oleh septum nasi di bagian tengahnya menjadi kavum nasi kanan dan kiri.
Pintuatau lubang masuk kavum nasi di bagian depan disebut nares anterior dan lubang
belakangdisebut nares posterior (koana) yang menghubungkan kavum nasi dengan nasofaring.
Septum bagian luar dilapisi oleh mukosa hidung.Bagian depan dinding hidung licin, yang
disebut agar nasi dan dibelakangnya terdapat konka-konka yang mengisi sebagian besar
dinding lateral hidung.Pada dinding lateral terdapat 4 konka, dari yang terbesar sampai yang
terkecil adalah konka inferior, konka media, konka superior, konka suprema. Konka suprema
biasanya rudimenter.
Di antara konka-konka dan dinding lateral hidung terdapat rongga sepit yang
disebutmeatus. Terdapat 3 meatus, yaitu meatus inferior, meatus media, dan meatus
superior.Padameatus inferior terdapat muara (ostium) duktus nasolakrimaris, pada meatus
media terdapat muara sinus frontalis, sinus maksilaris, dan sinus etmoid anterior.Sedangkan
pada meatussuperior bermuara sinus etmoid posterior dan sinus sfenoid.
Pendarahan hidung berasal dari a. maksilaris interna (bagian bawah hidung), a. fasialis
(bagian depan hidung), bagian depan anastomosis dari cabang a. sfenopalatina, a. etmoid
anterior, a. labialis posterior, dan a. palatina mayor yang disebut pleksus kieselbach.
Vena-vena membentuk pleksus yang luas di dalam submukosa.Pleksus inidialirkan oleh
vena-vena yang menyertai arteri. Persarafan hidung pada bagian depan dan atas, saraf
sensoris n. etmoid anterior, (cabang n. nasolakrimalis, cabang N. oftalmikus). Rongga hidung
lainnya saraf sensoris n.maksila. Saraf vasomotor (autonom) melalui ganglion sfenopalatinum
Mukosa hidung berdasar histologik dan fungsional dibagi atas mukosa pernafasan dan
mukosa penghidu (olfaktorius).Mukosa pernafasan terdapat pada sebagian rongga hidung
berupa epitel torak berlapis semu yang mempunyai silia dan diantaranya terdapat sel
goblet.Pada bagian yang lebih sering terkena aliran udara mukosanya lebih tebal
dan kadang-kadang berubah menjadi epitel skuamosa.
Dalam keadaan normal mukosa berwarna merah muda dan selalu basah karena diliputi
oleh selaput lendir pada permukaannya yang dihasilkan oleh kelenjar mukosa dan sel- sel
goblet.Silia yang terdapat pada permukaan epitel mempunyai arti penting dalam mobilisasi
palut lendir di dalam kavum nasi yang didorong ke arah nasofaring.Mukosa penghidu
terdapat pada atap rongga hidung, konka superior dan sepertiga bagian atas
septum.Mukosa dilapisi oleh epitel torak berlapis semu yang tidak bersilia.

Mukosa sinus paranasal berhubungan langsung dengan rongga hidung didaerah ostium.
Mukosa sinus menyerupai mukosa hidung hanya lebih tipis dan sedikit mengandung pembuluh
darah

2. patofisiologi Rinitis Alergi


Rinitis alergi merupakan suatu penyakit inflamasi yang diawali dengan tahap
sensitisasi dan diikuti dengan reaksi alergi. Reaksi alergi terdiri dari 2 fase yaitu immediate
phase allergic reaction atau reaksi alergi fase cepat (RAFC) yang berlangsung sejak kontak
dengan alergen sampai 1 jam setelahnya dan late phase allergic reaction atau reaksi alergi
fase lambat (RAFL) yang berlangsung 2-4 jam dengan puncak 6-8 jam (fase hiperreaktivitas)
setelah pemaparan dan dapat berlangsung 24-48 jam.
Pada kontak pertama dengan alergen atau tahap sensitisasi, makrofag atau monosit
yang berperan sebagai sel penyaji (Antigen Presenting Cell/APC) akan menangkap alergen
yang menempel di permukaan mukosa hidung. Setelah diproses, antigen akan membentuk
fragmen pendek peptide dan bergabung dengan molekul HLA kelas II membentuk komplek
peptide MHC kelas II (Major Histocompatibility Complex) yang kemudian dipresentasikan pada
sel T helper (Th0). Kemudian sel penyaji akan melepas sitokin seperti interleukin 1 (IL-1) yang
akan mengaktifkan Th0 untuk berproliferasi menjadi Th1 dan Th2. Th2 akan menghasilkan
berbagai sitokin seperti IL-3, IL-4, IL-5, dan IL-13.
IL-4 dan IL-13 dapat diikat oleh reseptornya di permukaan sel limfosit B, sehingga sel
limfosit B menjadi aktif dan akan memproduksi imunoglobulin E (IgE). IgE di sirkulasi darah
akan masuk ke jaringan dan diikat oleh reseptor IgE di permukaan sel mastosit atau basofil (sel
mediator) sehingga kedua sel ini menjadi aktif. Proses ini disebut sensitisasi yang
menghasilkan sel mediator yang tersensitisasi. Bila mukosa yang sudah tersensitisasi terpapar
alergen yang sama, maka kedua rantai IgE akan mengikat alergen spesifik dan terjadi
degranulasi (pecahnya dinding sel) mastosit dan basofil dengan akibat terlepasnya mediator
kimia yang sudah terbentuk (Performed Mediators) terutama histamin. Selain histamin juga
dikeluarkan Newly Formed Mediators antara lain prostaglandin D2 (PGD2), Leukotrien D4 (LT
D4), Leukotrien C4 (LT C4), bradikinin, Platelet Activating Factor (PAF), berbagai sitokin (IL-3, IL4, IL-5, IL-6, GM-CSF (Granulocyte Macrophage Colony Stimulating Factor) dan lain-lain.Inilah
yang disebut sebagai Reaksi Alergi Fase Cepat (RAFC).
Histamin akan merangsang reseptor H1 pada ujung saraf vidianus sehingga
menimbulkan rasa gatal pada hidung dan bersin-bersin. Histamin juga akan menyebabkan
kelenjar mukosa dan sel goblet mengalami hipersekresi dan permeabilitas kapiler meningkat
sehingga terjadi rinore. Gejala lain adalah hidung tersumbat akibat vasodilatasi sinusoid.
Selain histamin merangsang ujung saraf Vidianus, juga menyebabkan rangsangan pada
mukosa hidung sehingga terjadi pengeluaran Inter Cellular Adhesion Molecule 1 (ICAM1).
Pada RAFC, sel mastosit juga akan melepaskan molekul kemotaktik yang menyebabkan
akumulasi sel eosinofil dan netrofil di jaringan target. Respons ini tidak berhenti sampai disini
saja, tetapi gejala akan berlanjut dan mencapai puncak 6-8 jam setelah pemaparan. Pada RAFL
ini ditandai dengan penambahan jenis dan jumlah sel inflamasi seperti eosinofil, limfosit,
netrofil, basofil dan mastosit di mukosa hidung serta peningkatan sitokin seperti IL-3, IL-4, IL-5
dan Granulocyte Macrophag Colony Stimulating Factor (GM-CSF) dan ICAM1 pada sekret
hidung. Timbulnya gejala hiperaktif atau hiperresponsif hidung adalah akibat peranan eosinofil
dengan mediator inflamasi dari granulnya seperti Eosinophilic Cationic Protein (ECP),
Eosiniphilic Derived Protein (EDP), Major Basic Protein (MBP), dan Eosinophilic Peroxidase
(EPO). Pada fase ini, selain faktor spesifik (alergen), iritasi oleh faktor non spesifik dapat
memperberat gejala seperti asap rokok, bau yang merangsang, perubahan cuaca dan
kelembaban udara yang tinggi (Irawati, Kasakayan, Rusmono, 2008).
Secara mikroskopik tampak adanya dilatasi pembuluh (vascular bad) dengan
pembesaran sel goblet dan sel pembentuk mukus.Terdapat juga pembesaran ruang
interseluler dan penebalan membran basal, serta ditemukan infiltrasi sel-sel eosinofil pada
jaringan mukosa dan submukosa hidung.Gambaran yang ditemukan terdapat pada saat

serangan.Diluar keadaan serangan, mukosa kembali normal.Akan tetapi serangan dapat terjadi
terus-menerus (persisten) sepanjang tahun, sehingga lama kelamaan terjadi perubahan yang
ireversibel, yaitu terjadi proliferasi jaringan ikat dan hiperplasia mukosa, sehingga tampak
mukosa hidung menebal. Dengan masuknya antigen asing ke dalam tubuh terjadi reaksi yang
secara garis besar terdiri dari:
1.

2.

3.

Respon primer
Terjadi proses eliminasi dan fagositosis antigen (Ag). Reaksi ini bersifat non spesifik
dan dapat berakhir sampai disini. Bila Ag tidak berhasil seluruhnya dihilangkan, reaksi
berlanjut menjadi respon sekunder
Respon sekunder
Reaksi yang terjadi bersifat spesifik, yang mempunyai tiga kemungkinan ialah sistem
imunitas seluler atau humoral atau keduanya dibangkitkan.Bila Ag berhasil dieliminasi
pada tahap ini, reaksi selesai.Bila Ag masih ada, atau memang sudah ada defek dari
sistem imunologik, maka reaksi berlanjut menjadi respon tersier.
Respon tersier
Reaksi imunologik yang terjadi tidak menguntungkan tubuh.Reaksi ini dapat bersifat
sementara atau menetap, tergantung dari daya eliminasi Ag oleh tubuh.

Gell dan Coombs mengklasifikasikan reaksi ini atas 4 tipe, yaitu tipe 1, atau reaksi
anafilaksis (immediate hypersensitivity), tipe 2 atau reaksi sitotoksik, tipe 3 atau reaksi
kompleks imun dan tipe 4 atau reaksi tuberculin (delayed hypersensitivity). Manifestasi klinis
kerusakan jaringan yang banyak dijumpai di bidang THT adalah tipe 1, yaitu rinitis alergi
(Irawati, Kasakayan, Rusmono, 2008).

Referensi
.. (jika mensitasi spt kalimat diatas, monggo referensi ybs harus dituliskan)

Gambar 2.1 Patofisiologi alergi (rinitis, eczema, asma) paparan


alergen pertama dan selanjutnya (Benjamini, Coico, Sunshine, 2000).

Antigen
enters via
mucosl
surface

3. penyebab dan faktor risiko Rinitis Alergika


Rinitis alergi melibatkan interaksi antara lingkungan dengan predisposisi genetik dalam
perkembangan penyakitnya.Faktor genetik dan herediter sangat berperan pada ekspresi rinitis
alergi (Adams, Boies, Higler, 1997).Penyebab rinitis alergi tersering adalah alergen inhalan
pada dewasa dan ingestan pada anak-anak. Pada anak-anak sering disertai gejala alergi lain,
seperti urtikaria dan gangguan pencernaan. Penyebab rinitis alergi dapat berbeda tergantung
dari

klasifikasi.Beberapa

pasien

sensitif

terhadap

beberapa

alergen.Alergen

yang

menyebabkan rinitis alergi musiman biasanya berupa serbuk sari atau jamur.Rinitis alergi
perenial (sepanjang tahun) diantaranya debu tungau, terdapat dua spesies utama tungau yaitu
Dermatophagoides farinae dan Dermatophagoides pteronyssinus, jamur, binatang peliharaan
seperti kecoa dan binatang pengerat.Faktor resiko untuk terpaparnya debu tungau biasanya
karpet serta sprai tempat tidur, suhu yang tinggi, dan faktor kelembaban udara.Kelembaban
yang tinggi merupakan faktor resiko untuk untuk tumbuhnya jamur. Berbagai pemicu yang
bisa berperan dan memperberat adalah beberapa faktor nonspesifik diantaranya asap rokok,
polusi udara, bau aroma yang kuat atau merangsang dan perubahan cuaca
Berdasarkan cara masuknya allergen dibagi atas:
1. Alergen Inhalan, yang masuk bersama dengan udara pernafasan, misalnya debu rumah,
tungau, serpihan epitel dari bulu binatang serta jamur.
2.

Alergen Ingestan, yang masuk ke saluran cerna, berupa makanan, misalnya susu, telur,
coklat, ikan dan udang.

3.

Alergen Injektan, yang masuk melalui suntikan atau tusukan, misalnya penisilin atau
sengatan lebah.

4.

Alergen Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit atau jaringan mukosa,
misalnya bahan kosmetik atau perhiasan

4. Macam gejala klinis atopi yang lain :


dermatitis atopik,
rhinitis alergika
asma dan
urtikaria

5. diagnosis dan diagnosis banding :


Rinitis alergi
Rinosinusitis akibat infeksi.
Benda asing pada hidung
Kelainan anatomi seperti atresia koana, deviasi septum nasi, polip nasal,
Hipertropi adenoid
6. Pengelolaan RA
1. Terapi yang paling ideal adalah dengan alergen penyebabnya (avoidance) dan eliminasi.
2. Simptomatis
a. Medikamentosa-Antihistamin yang dipakai adalah antagonis H-1, yang bekerja secara
inhibitor komppetitif pada reseptor H-1 sel target, dan merupakan preparat
farmakologik yang paling sering dipakai sebagai inti pertama pengobatan rinitis alergi.
Pemberian dapat dalam kombinasi atau tanpa kombinasi dengan dekongestan secara
peroral. Antihistamin dibagi dalam 2 golongan yaitu golongan antihistamin generasi-1
(klasik) dan generasi -2 (non sedatif). Antihistamin generasi-1 bersifat lipofilik,
sehingga dapat menembus sawar darah otak (mempunyai efek pada SSP) dan
plasenta serta mempunyai efek kolinergik. Preparat simpatomimetik golongan agonis
adrenergik alfa dipakai dekongestan hidung oral dengan atau tanpa kombinasi dengan
antihistamin atau tropikal. Namun pemakaian secara tropikal hanya boleh untuk
beberapa hari saja untuk menghindari terjadinya rinitis medikamentosa. Preparat
kortikosteroid dipilih bila gejala trauma sumbatan hidung akibat respons fase lambat
berhasil diatasi dengan obat lain. Yang sering dipakai adalah kortikosteroid tropikal
(beklometosa, budesonid, flusolid, flutikason, mometasonfuroat dan triamsinolon).
Preparat antikolinergik topikal adalah ipratropium bromida, bermanfaat untuk
mengatasi rinore, karena aktifitas inhibisi reseptor kolinergik permukaan sel efektor
(Mulyarjo, 2006).
b. Operatif - Tindakan konkotomi (pemotongan konka inferior) perlu dipikirkan bila konka
inferior hipertrofi berat dan tidak berhasil dikecilkan dengan cara kauterisasi memakai
AgNO3 25 % atau troklor asetat (Roland, McCluggage, Sciinneider, 2001).
c. Imunoterapi - Jenisnya desensitasi, hiposensitasi & netralisasi. Desensitasi dan
hiposensitasi membentuk blocking antibody. Keduanya untuk alergi inhalan yang
gejalanya berat, berlangsung lama dan hasil pengobatan lain belum memuaskan

7. Komplikasi RA
a. Polip hidung yang memiliki tanda patognomonis: inspisited mucous glands, akumulasi
sel-sel inflamasi yang luar biasa banyaknya (lebih eosinofil dan limfosit T CD4+),
hiperplasia epitel, hiperplasia goblet, dan metaplasia skuamosa.
b. Otitis media yang sering residif, terutama pada anak-anak.
c. Sinusitis paranasal merupakan inflamasi mukosa satu atau lebih sinus para nasal. Terjadi
akibat edema ostia sinus oleh proses alergis dalam mukosa yang menyebabkan
sumbatan ostia sehingga terjadi penurunan oksigenasi dan tekanan udara rongga sinus.
Hal tersebut akan menyuburkan pertumbuhan bakteri terutama bakteri anaerob dan

akan menyebabkan rusaknya fungsi barier epitel antara lain akibat dekstruksi mukosa
oleh mediator protein basa yang dilepas sel eosinofil (MBP) dengan akibat sinusitis akan
semakin parah
8. Edukasi dan pencegahan RA
Minum obat secara teratur
Hindari factor pencetus

DAFTAR PUSTAKA
Hermani, Bambang. Buku Ajar Telinga Hidung dan Tenggorokan.Jakarta : Fakultas Kedokteran
Indonesia; 2001
Daftar pustaka disesuaikan dengan apa yang ditulis ! apakah benar referensi itu yag digunkan

Skenario 3. Bintil air bikin nyeri telinga hebat


Bang Sopo, usia 40 tahun mengeluh nyeri telinga hebat sejak 3 hari yang lalu. Penampakan luar
telinga seperti terdapat bintil air (gambar dibawah). Pada telinga bagian luar dan di dalam saluran
telinga terbentuk lepuhan-lepuhan kecil berisi cairan (vesikel). Vesikel juga bisa terbentuk di kulit
wajah atau leher. Bang Sopo juga mengalami vertigo, serta pendengaran yang menurun. Saat ditanya,
Bang Sopo pernah mengalami cacar air pada waktu remaja.

Sasaran Belajar :
1.

Mahasiswa mampu menjelaskan faktor penyebab dan faktor risiko kondisi di atas (Herpes

2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Zooster n.VIII)
Mahasiswa mampu
Mahasiswa mampu
Mahasiswa mampu
Mahasiswa mampu
Mahasiswa mampu
Mahasiswa mampu
Mahasiswa mampu

menjelaskan patofisiologi kasus tersebut


menjelaskan gejala dan tanda akibat gangguan tersebut
menjelaskan pemeriksaan yang diperlukan untuk menegakkan diagnosis
menegakkan diagnosis dan diagnosis banding kasus tersebut
menjelaskan pengelolaan kasus tersebut (dirujuk)
menjelaskan komplikasi kasus tersebut
menjelaskan edukasi dan pencegahan pada kasus tersebut

PETUNJUK TUTOR
Step 1 , Clarify unfamiliar terms
Mahasiswa mengidentifasi kata-kata yang artinya kurang jelas/ sulit, sehingga ada persamaan
persepsi pengertian dalam mengartikan kata yang sulit tersebut. Misalnya :
Vesikel : tonjolan kecil berisi air diameter < 0,5cm
Vertigo : nyeri kepala sebelah ( satu sisi)
Cacar air : suatu penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus varicella zoster
Step 2, Define the problem(s)
Problem (masalah), bisa berupa istilah, fakta, fenomena, yang oleh group masih perlu dijelaskan . Tutor
dapat mendorong seluruh anggota kelompok untuk memberi kontribusi dalam diskusi .Sangat mungkin
ada perbedaan perspektif dalam menilai masalah, sehingga dalam step ini mahasiswa dapat
membandingkan dan mengelompokkan pendapat sehingga akan memperluaskan horison intelektual.

Contohnya dituliskan

Step 3, Brainstorm possible hypotheses or explanation


Mahasiswa mencoba membuat formulasi, berdiskusi tentang berbagai kemungkinan yang sesuai
dengan masalah.
Membuat hipotesis sebagai dasar pemikiran tanpa asumsi benar/ salah, atau sebagai langkah awal
untuk mencari informasi lebih lanjut.
Diskusi tetap dalam tingkat hipotesis, belum masuk ke dalam hal-hal rinci yang teoritis
Mencatat seluruh hipotesis yang ada.
Tinjauan kasus :
Pada kasus ini mengarah kepada herpes zoster oticus atau ramsay hunt syndrome. Herpes zoster
ditandai dengan adanya vesikel bergerombol dengan dasar eritema bisaanya unilateral. Pada kasus
vesikel tampak di dalam dan di luar telinga. Didapatkan nyeri hebat telinga, penurunan pendengaran
dan vertigo. Menandakan herpes zoster mengenai N VIII. Herpes zoster adalah manifestasi dari
reaktivasi virus varicella yang menetap di dalam saraf. Infeksi virus varicella yang pertama kali
menginfeksi, bermanifestasi sebagai cacar air/ chickenpox. Pada kasus,didapatkan bang sopo memiliki
riwayat pernah mengalami cacar air waktu remaja.

Step 4, Make a systematic inventory of the various explanations found in step 3.


Merupakan pengorganisasian penjelasan terhadap masalah/ pengetahuan, yang ditulis secara
skematik. Bukan berupa skema dari skenario.

Skema.
Step 5, Define learning objectives (sasaran belajar)
Kelompok menyusun inti tujuan belajar/ sasaran belajar.
Pada skenario ini sasaran belajarnya :
1.

Mahasiswa mampu menjelaskan faktor penyebab dan faktor risiko kondisi di atas (Herpes

2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Zooster n.VIII)
Mahasiswa mampu
Mahasiswa mampu
Mahasiswa mampu
Mahasiswa mampu
Mahasiswa mampu
Mahasiswa mampu
Mahasiswa mampu

menjelaskan patofisiologi kasus tersebut


menjelaskan gejala dan tanda akibat gangguan tersebut
menjelaskan pemeriksaan yang diperlukan untuk menegakkan diagnosis
menegakkan diagnosis dan diagnosis banding kasus tersebut
menjelaskan pengelolaan kasus tersebut (dirujuk)
menjelaskan komplikasi kasus tersebut
menjelaskan edukasi dan pencegahan pada kasus tersebut

Step 6, Information gathering and private study.


Mahasiswa mencari informasi sesuai sasaran belajar yang sudah ditetapkan di step 5, baik mencari di
buku, web internet, dari pakar / perkuliahan dsb.

Hasil kegiatan tersebut dicatat oleh masing-masing anggota kelompok (students individual notes),
termasuk sumber belajarnya. Usahakan sumber pustaka masing-masing mahasiswa berbeda. Catatan
ini ditulis di buku tutorial individu yang diberi sampul coklat.

Step 7. Share the results of information gathering and private study


Dilaksanakan pada pertemuan kedua. Mahasiswa
mendiskusikan kembali .

mensintesis apa yg telah dipelajari, kemudian

TINJAUAN SASARAN BELAJAR


1. Mahasiswa mampu menjelaskan faktor penyebab dan faktor risiko kondisi di atas
(Herpes Zooster n.VIII)
Ramsay hunt syndrome adalah neuropati akut fascial perifer ditandai dengan vesikel dengan
dasar eritema pada kulit liang telinga, aurikula (juga disebut dengan herpes zoster otikus) dan
atau membrane mukosa orofaring.
Sindrom ini juga dikenal dengan neuralgia geniculatum atau neuralgia nervus intermedius.
Sindrom ramsay hunt juga dapat terjadi tanpa adanya ruam kulit, suatu kondisi yang disebut

sebagai zoster sine herpete


Kondisi berikut yang perlu diperhatikan:
Virus varicella zoster aurikularis
Virus varicella zoster pada zona zzoster di kepala dan leher (herpes aurikularis, herpes fascial,

dan herpes oksipital) dengan kelumpuhan fascial


Virus varicella zoster dengan kelumpuhan fascial dan gejala auditorik ( tinnitus, penurunan
pendengaran, vertigo, nistagmus, ataksia)
Factor risiko adalah riwayat terkena cacar air/chickenpox atau virus varicella sebelumnya, daya
tahan tubuh menurun, immunodefisiensi.

2. Mahasiswa mampu menjelaskan patofisiologi kasus tersebut


Sindrom ramsay hunt adalah infeksi virus varicella zoster pada kepala dan leher yang
melibatkan nervus fascial (N.VII). Nervus cranial yang lain juga dapat terlibat, termasuk N. VIII,
IX, V dan VI. Infeksi ini menyebabkan timbulnya vesikel dan ulserasi pada telinga luar dan dua
pertiga anterior lidah dan palatum molle ipsilateral sama halnya neuropati fascial ipsilateral,
radikuloneuropati, atau ganglionopati genikulatum.
Infeksi virus varicella zoster menyebabkan 2 perbedaan sindrom klinik. Infeksi primer,
yang dikelnal juga dengan varicella atau chicken pox, adalah penyakit umum eritematosa pada
anak yang ditandai dengan ruam vesikel generalisata yang sangat menular. Insiden tahunan
Infeksi varicella mengalami penurunan yang signifikan setelah adanya program vaksinasi
massal di banyak Negara dunia.
Setelah infeksi primer varicella, virus varicella-zooster berdiam pada neuron nervus
cranialis dan ganglion radix dorsalis. Reaktivasi berikutnya pada virus varicella zoster
mengakibatkan lesi vesikel lokalisata, yang dikenal dengan herpes zoster. Infeksi virus varicella
zoster atau reaktivasi yang melibatkan ganglion genikulatum N. VII yang berada di dalam
tulang temporal adalah patofisiologi utama terjadinya sindrom ramsay hunt.
3. Mahasiswa mampu menjelaskan gejala dan tanda akibat gangguan tersebut
Pasien bisaanya merasakan nyeri hebat mendadak di dalam telinga. Nyeri bisaanya menjalar
keluar sampai pinna telinga dan dapat juga berhubungan dengan nyeri yang lebih konstan,

difuse, dan tumpul. Nyeri bisaanya timbul mendahului timbulnya ruam dalam beberapa jam

dan bahkan beberapa hari.


Sindrom ramsay hunt klasik dapat berhubungan dengan manifestasi berikut:
Lesi vesikuler pada telinga dan mulut (80% kasus)
Lesi ruam dapat mendahului dari timbulnya paresis fascial/kelumpuhan (melibatkan N.VII)
Paresis atau kelumpuhan fascila tipe LMN ipsilateral
Vertigo dan penurunan pendengaran ipsilateral
Tinnitus (berdenging)
Otalgia (nyeri telinga)
Sakit kepala
Disartria (pelo)
Gait ataksia
Demam
Adenopati cervical
Kelemahan fascial bisaanya mencapai puncaknya dalam 1 minggu setelah onset gejala
Neuropati nervus cranial lainnya dapat terjadi dan dapat melibatkan N. VIII, IX, V dan VI
Penurunan pendengaran ipsilateral telah dilaporkan pada 50% kasus
Vesikel pada kulit liang telinga, aurikula dan keduanya dapat mengakibatkan infeksi sekunder,
menyebabkan selulitis
Faktor Prognosis yang buruk untuk penyembuhan fungsional yang baik adalah:
Umur lebih dari 50 tahun
Kelumpuhan fascial komplit
Kurangnya eksesibilitas N.VII

4. Mahasiswa mampu menjelaskan pemeriksaan yang diperlukan untuk menegakkan


diagnosis
Pemeriksaan fisik:

Terdapat lesi vesikel berkelompok dengan dasar eritem, lokasi lesi tergantung saraf yang
terkena. Bila mengenai nerrvus intermedius: 2/3 anterior lidah, palatum molle, kanalis

auditori eksternal, dan pinna.


Pemeriksaan lesi pada telinga dengan otoskop/corong, mulut.
Pemeriksaan neurologis:
1. Paresis N.VII ipsilateral tidak dapat mengernyitkan dahi, tidak dapat menutup mata,
tidak dapat seyum, tidak dapat mencucu, lipatan nasolabial menurun, hilangnya
2.

pengecapan lidah 2/3 anterior


Paresis N.VII gangguan keseimbangan, penurunan pendengaran tipe neural, dengan
test garpu tala
Rinne + sisi yang sakit, weber lateralisasi ke sisi sehat, swabach pada sisi sakit

memendek
Pemeriksaan penunjang audiometric, tzank test. Hitung jenis leukosit dan serum elektrolit
dapat membantu membedakan anatar infeksi dan peradangan. Bila saraf pusat terlibat, perlu
pemeriksaan LCS
5. Mahasiswa mampu menegakkan diagnosis dan diagnosis banding kasus tersebut
Diagnosis ditegakkan dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik
Diagnosis banding:
Bells palsy, nyeri fascial persisten idiopatik, neuralgia postherpetik, gangguan
temporomandibular, neuralgia trigeminal.
6. Mahasiswa mampu menjelaskan pengelolaan kasus tersebut (dirujuk)
SKDI kasus herpes zoster pada telinga adalah 3A, sehingga dokter umum dapat merujuk
kedokter spesialis THT, terutama bila terdapat lesi structural.
Obat kortikosteroid (1-2 mingggu kemudian tapering off) dan asiklovir oral (efektif bila
digunakan dalam 48 jam setelah lesi gejala muncul).

Antihistamin untuk meredakan vertigo.


Bila dengan bells palsy, maka perlu pencegahan terjadinya iritasi atau perlukaan pada kornea,
akibat kelopak mata yang tidak bias menutup.
Karbamazepin dapat membantu, terutama pada kasus neuralgia geniculatum idiopatik
Nyeri telinga dapat dihilangkan sementara dengan local anestesi atau cocain pada trigger
point.
7. Mahasiswa mampu menjelaskan komplikasi kasus tersebut

Neuralgia pascaherpetik dapat timbul pada usia di atas 40 tahun

Pada penderita tanpa defisiensi imun biasanya tanpa komplikasi. Namun sebaliknya
pada pasien imunodefisiensi dapat terjadi komplikasi yaitu vesikel sering menjadi ulkus

dan jaringan nekrotik


Pada herpes ophtalmika dapat terjadi berbagai komplikas yaitu ptosis paralitik,

keratitis, skleritis, uveitis, korioretinitis, dan neuritis optic


Paralisi motorik terjadi akibat penjalaran virus secra perkontinuitatum dari ganglion
sensorik ke system saraf yang berdekatan. Paralisis biasanya timbul 2 minggu setelah

awitan gejala
Infeksi juga dapat menjalar ke alat dalam missal paru, hepar dan otak

8. Mahasiswa mampu menjelaskan edukasi dan pencegahan pada kasus tersebut


Setelah terapi awal, pasien difollow up pada minggu ke 2, minggu ke-6 dan 3 bulan. Edukasi
tentang penyakit, seringnya self limiting disease, edukasi untuk fisioterapi bila terjadi paralisis
wajah, edukasi mencegah iritasi kornea dengan menutup mata memakai kasa.
Referensi :
Miravelle, AA. Ramsay Hunt Syndrome. http://emedicine.medscape.com/article/1166804.
Djuanda A, Hamzah, M, Aisah S, ed. Ilmu penyakit kulit dan kelamin edisi 5. Jakarta: fakultas
kedokteran universitas Indonesia. 2007
Jika ada tambahan referensi, atau perubahan isi, harap referensi disesuaikan dengan isi.
terimakasih

Skenario 4. Jamu Pegal Linu Pembawa Luka


Pak Bei, seorang kuli bangunan berusia 35 tahun datang ke praktek dokter umum dengan keluhan luka
pada sekitar mulut, bibir, dan di alat kelamin. Luka tersebut berbentuk numular, bercak
hiperpigmentasi dengan kemerahan di tepinya, disertai terasa panas dan gatal. Keluhan timbul 1 jam
setelah mengkonsumsi jamu pegal linu yang dia beli di depot jamu. Dua bulan yang lalu pasien juga
pernah mengalami hal yang sama dan di lokasi yang sama yakni sekitar mulut, bibir, dan di alat
kelamin setelah minum obat nyeri kepala yang dia beli di warung. Ibu pasien memiliki riwayat alergi
makanan berupa udang.

Sasaran belajar:
1.
2.
3.

Mahasiswa mampu menjelaskan tentang penyebab dan faktor risiko Fixed Drug Eruption
Mahasiswa mampu menjelaskan tentang gejala dan tanda akibat Fixed Drug Eruption
Mahasiswa mampu menjelaskan tentang pemeriksaan fisik dan penunjang akibat Fixed Drug

4.
5.
6.

Eruption
Mahasiswa mampu menjelaskan tentang Diagnosis dan diagnosis banding Fixed Drug Eruption
Mahasiswa mampu menjelaskan tentang penatalaksanaan Fixed Drug Eruption
Mahasiswa mampu menjelaskan tentang komplikasi Fixed Drug Eruption

PETUNJUK TUTOR
Step 1 , Clarify unfamiliar terms
Mahasiswa mengidentifasi kata-kata yang artinya kurang jelas/ sulit, sehingga ada persamaan
persepsi pengertian dalam mengartikan kata yang sulit tersebut.
Gatal: sensasi nyeri paling ringan yang dirasakan tubuh
Jamu: produk minuman yang berasal dari rempah-rempah atau tanaman yang dikeringkan kemudian
disajikan dengan diseduh air panas
Step 2, Define the problem(s)
Problem (masalah) bisa berupa istilah, fakta, fenomena, yang oleh group masih perlu dijelaskan. Tutor
dapat mendorong seluruh anggota kelompok untuk memberi kontribusi dalam diskusi. Sangat mungkin
ada perbedaan perspektif dalam menilai masalah, sehingga dalam step ini mahasiswa dapat
membandingkan dan mengelompokkan pendapat sehingga akan memperluaskan horison intelektual.
Contoh disampaikan

Step 3, Brainstorm possible hypotheses or explanation


Mahasiswa mencoba membuat formulasi, berdiskusi tentang berbagai kemungkinan yang sesuai
dengan masalah. Mahasiswa membuat hipotesis sebagai dasar pemikiran tanpa asumsi benar/ salah,
atau sebagai langkah awal untuk mencari informasi lebih lanjut.
Diskusi tetap dalam tingkat hipotesis, belum masuk ke dalam hal-hal rinci yang teoritis
Mencatat seluruh hipotesis yang ada.
Tinjauan kasus (pandangan terhadap kasus disampaikan)

Step 4, Make a systematic inventory of the various explanations found in step 3.


Merupakan pengorganisasian penjelasan terhadap masalah/ pengetahuan, yang ditulis secara
skematik. Bukan berupa skema dari skenario.

Skema..
Step 5, Define learning objectives (sasaran belajar)

Kelompok menyusun inti tujuan belajar/ sasaran belajar.


Pada skenario ini sasaran belajarnya :
1.
2.
3.

Mahasiswa mampu menjelaskan tentang penyebab dan faktor risiko Fixed Drug Eruption
Mahasiswa mampu menjelaskan tentang gejala dan tanda akibat Fixed Drug Eruption
Mahasiswa mampu menjelaskan tentang pemeriksaan fisik dan penunjang akibat Fixed Drug

Eruption
4. Mahasiswa mampu menjelaskan tentang Diagnosis dan diagnosis banding Fixed Drug Eruption
5. Mahasiswa mampu menjelaskan tentang penatalaksanaan Fixed Drug Eruption
6. Mahasiswa mampu menjelaskan tentang komplikasi Fixed Drug Eruption
Namun dalam diskusi tutorial bisa dimungkinkan untuk menambah sasaran belajar.
Step 6, Information gathering and private study
Mahasiswa mencari informasi sesuai sasaran belajar yang sudah ditetapkan di step 5, baik mencari di
buku, web internet, dari pakar / perkuliahan dsb.
Hasil kegiatan tersebut dicatat oleh masing-masing anggota kelompok (students individual notes),
termasuk sumber belajarnya. Usahakan sumber pustaka masing-masing mahasiswa berbeda. Catatan
ini ditulis di buku tutorial individu yang diberi sampul coklat.

Step 7. Share the results of information gathering and private study


Dilaksanakan pada pertemuan kedua. Mahasiswa
mendiskusikan kembali .

mensintesis apa yg telah dipelajari, kemudian

TINJAUAN SASARAN BELAJAR

1.

Mahasiswa mampu menjelaskan tentang penyebab dan faktor risiko Fixed Drug
Eruption
Fixed Drug Eruption (FDE) adalah salah satu jenis erupsi obat yang sering dijumpai. Dari
namanya dapat disimpulkan bahwa kelainan akan terjadi berkali-kali pada tempat yang sama.
Mempunyai tempat predileksi dan lesi yang khas berbeda dengan Exanthematous Drug
Eruption. FDE merupakan reaksi alergi tipe 2 (sitotoksik).
Faktor Risiko
a.

Riwayat konsumsi obat (jumlah, jenis, dosis, cara pemberian, pengaruh pajanan sinar
matahari, atau kontak obat pada kulit terbuka)

2.

b.

Riwayat atopi diri dan keluarga

c.

Alergi terhadap alergen lain

d.

Riwayat alergi obat sebelumnya

Mahasiswa mampu menjelaskan tentang gejala dan tanda akibat Fixed Drug
Eruption
Pasien datang dengan keluhan kemerahan atau luka pada sekitar mulut, bibir, atau di alat
kelamin, yang terasa panas. Keluhan timbul setelah mengkonsumsi obat-obat yang sering
menjadi penyebab seperti Sulfonamid, Barbiturat, Trimetoprim, dan analgetik.

Anamnesis yang dilakukan harus mencakup riwayat penggunaan obat-obatan atau jamu.
Kelainan timbul secara akut atau dapat juga beberapa hari setelah mengkonsumsi obat.
Keluhan lain adalah rasa gatal yang dapat disertai dengan demam yang subfebril.

3.

Mahasiswa mampu menjelaskan tentang pemeriksaan fisik dan penunjang akibat


Fixed Drug Eruption
Pemeriksaan Fisik
Tanda patognomonis
Lesi khas:
a. Vesikel, bercak
b. Eritema
c. Lesi target berbentuk bulat lonjong atau numular
d. Kadang-kadang disertai erosi
e. Bercak hiperpigmentasi dengan kemerahan di tepinya, terutama pada lesi berulang
Tempat predileksi:
a. Sekitar mulut
b. Daerah bibir
c. Daerah penis atau vulva

Gambar Fixed Drug Eruption (FDE)


Sumber: http://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMicm1013871
Pemeriksaan penunjang : Biasanya tidak diperlukan

4.

Mahasiswa mampu menjelaskan tentang Diagnosis dan diagnosis banding Fixed


Drug Eruption
Diagnosis Klinis : Diagnosis berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan
Diagnosis Banding
a. Pemfigoid bulosa,
b. Selulitis,
c. Herpes simpleks,
d. SJS (Steven Johnson Syndrome)

5.

Mahasiswa mampu menjelaskan tentang penatalaksanaan Fixed Drug Eruption


Prinsip tatalaksana adalah menghentikan obat terduga. Pada dasarnya erupsi obat akan
menyembuh bila obat penyebabnya dapat diketahui dan segera disingkirkan.
Untuk mengatasi keluhan, farmakoterapi yang dapat diberikan, yaitu:
a. Kortikosteroid sistemik, misalnya prednison tablet 30 mg/hari dibagi dalam 3 kali
pemberian per hari

b.
c.

Antihistamin sistemik untuk mengurangi rasa gatal; misalnya hidroksisin tablet 10


mg/hari 2 kali sehari selama 7 hari atau loratadin tablet 1x10 mg/hari selama 7 hari
Pengobatan topikal
1) Pemberian topikal tergantung dari keadaan lesi, bila terjadi erosi atau
madidans dapat dilakukan kompres NaCl 0,9% atau Larutan Permanganas
kalikus 1/10.000 dengan 3 lapis kasa selama 10-15 menit. Kompres dilakukan 3
kali sehari sampai lesi kering.
2) Terapi dilanjutkan dengan pemakaian topikal kortikosteroid potensi ringansedang, misalnya hidrokortison krim 2.5% atau mometason furoat krim 0.1%

Konseling dan Edukasi


a. Prinsipnya adalah eliminasi obat terduga
b. Pasien dan keluarga diberitahu untuk membuat catatan kecil di dompetnya tentang
alergi obat yang dideritanya.
c. Memberitahukan bahwa kemungkinan pasien bisa sembuh dengan adanya
hiperpigmentasi pada lokasi lesi. Dan bila alergi berulang terjadi kelainan yang sama,
pada lokasi yang sama.
Kriteria rujukan
a. Lesi luas, hampir di seluruh tubuh, termasuk mukosa dan dikhawatirkan akan
berkembang menjadi Sindroma Steven Johnson.
b. Bila diperlukan untuk membuktikan jenis obat yang diduga sebagai penyebab:
1. Uji tempel tertutup, bila negatif lanjutkan dengan
2. Uji tusuk, bila negatif lanjutkan dengan
3. Uji provokasi.
c. Bila tidak ada perbaikan setelah mendapatkan pengobatan standar selama 7 hari dan
menghindari obat.
d. Lesi meluas.

6.

Mahasiswa mampu menjelaskan tentang komplikasi Fixed Drug Eruption


Komplikasi : Infeksi sekunder

Prognosis
Prognosis umumnya bonam, jika pasien tidak mengalami komplikasi atau tidak memenuhi
kriteria rujukan.

Referensi
..