Anda di halaman 1dari 15

Makalah

Akuntansi Keperilakuan

Perspektif Historis Metode Riset Dalam Akuntansi


Keprilakuan

Kelompok 4 :
1 Dita roffal arisi (2130820055)
2 Fitri yulita sari (2130820065)
3 Apriliandhika putri (2130820066)
4 M. alfan syahroni (2130820141)

1. Pergeseran Arah Riset


Alasan yang mendasari usaha pemahaman akuntansi secara empiris dan
mendalam yaitu harapan akan munculnya desain sistem akuntansi yang lebih berarti yang
didapat dari pemahaman atas praktik langsung, alasan kedua yaitu adanya gerakan dari
masyarakat peneliti akuntansi yang menitikberatkan pada pendekatan ekonomi dan
perilaku. Riset akuntansi dengan menggunakan pendekatan utama (mainstream) dengan
ciri khas penggunaan model matematis dan pengujian hipotesis masih mendominasi riset
manajemen dan akuntansi hingga saat ini, tetapi sejak tahun 1980-an telah muncul usahausaha untuk menggunakan pendekatan-pendekatan baru yang meminjam metodologi dari
ilmu-ilmu sosial seperti filsafat, sosiologi, dan antropologi untuk memahami akuntansi.
2. Filosofi Paradigma Metodologi Riset
Suatu pengetahuan dibangun berdasarkan asumsi-asumsi filosofi tertentu.
Asumsi-asumsi tersebut dalah ontologi, epistimologi, hakikat manusia, dan metodologi.
Ontologi berhubungan dengan hakikat atau sifat dari realitas atau objek yang akan

diinvestigasi. Epistimologi berhubungan dengan sifat dari ilmu pengetahuan, bentuk dari
ilmu pengetahuan tersebut dan bagaimana mendapatkan serta menyebarkannya.
Berdasarkan asumsi-asumsi tersebut, Burrel dan Morgan

(1979)

mengelompokkan pengetahuan dalam tiga paradigma yaitu :


a. Paradigma Fungsionalis
Sering disebut juga dengan fungsionalis struktural atau kontijensi rasional.
Paradigma ini merupakan paradigma yang umum dan bahkan sangat dominan
digunakan dalam riset akuntansi dibandingkan dengan paradigma yang lain, sehingga
disebut juga dengan paradigma utama. Secara ontologi, paradigma utama ini sangat
dipengaruhi oleh realitas fisik yang menganggap bahwa realitas objektif berada secara
bebas dan terpisah di luar diri manusia. Realitas diukur, dianalisis, dan digambarkan
secara objektif.
Pemahaman tentang realitas akan mempengaruhi bagaimana cara memperoleh
ilmu pengetahuan yang benar. Secara epistemologi, akuntansi utama melihat realitas
sebagai realitas materi yang mempunyai suatu keyakinan bahwa ilmu pengetahuan
akuntansi dapat dibangun dengan rasio dan dunia empiris. Berdasarkan pada
keyakinan tersebut, peneliti akuntansi utama sangat yakin bahwa satu-satunya metode
yang dapat digunakan untuk membangun ilmu pengetahuan akuntansi adalah metode
ilmiah. Suatu penjelasan dikatakan ilmiah apabila memenuhi tiga komponen, yaitu :
1) Memasukkan satu atau lebih prinsip-prinsip atau hukum umum
2) Mengandung prakondisi yang biasanya diwujudkan dalam bentuk pernyataanpernyataan hasil observasi.
3) Memiliki satu pernyataan yang menggambarkan sesuatu yang dijelaskan.
b. Paradigma Interpretif
Terdapat dua perbedaan antara paradigma fungsionalis dengan interpretif.
Perbedaan pertama adalah bahwa paradigma interpretif memusatkan perhatian tidak
hanya pada bagaimana membuat perusahaan berjalan dengan baik, tetapi juga
bagaimana menghasilkan pemahaman yang luas dan mendalam mengenai bagaimana

manajer dan karyawan dalam organisasi memahamii akuntansi, berpikir tentang


akuntansi serta berinteraksi dan menggunakan akuntansi. Perbedaan kedua adalah
bahwa para interaksionis tidak percaya pada keberadaan realitas organisasi yang
tunggal dan konkret, melainkan pada situasi yang ditafsirkan organisasi dengan
caranya masing-masing. Yang lebih penting lagi adalah bahwa pemahaman mereka
menjadi nyata karena mereka bertindak untuk suatu peristiwa dan situasi atas dasar
makna pribadinya.
c. Paradigma Strukturalisme Radikal
Aliran alternatif lainnya adalah strukturalis radikal yang mempunyai kesamaan
dengan fungsionalis, yang mengasumsikan bahwa sistem sosial mempunyai
keberadaan ontologis yang konkret dan nyata. Pendekatan ini memfokuskan pada
konflik mendasar sebagai dasar dari produk hubungan kelas dan struktur
pengendalian, serta memperlakukan dunia sosial sebagai objek eksternal dan
memiliki hubungan terpisah dari manusia tertentu.
d. Paradigma Humanis Radikal
Riset-riset akan diklasifikasikan dalam paradigma humanis radikal jika didasarkan
pada teori kritis dari Frankfur Schools dan Habermas. Pendekatan kritis ini melihat
objek studi sebagai suatu interaksi sosial yang disebut dengan dunia kehidupan, yang
diartikan sebagai interaksi berdasarkan pada kepentingan kebutuhan yang melekat
dalam diri manusia dan membantu untuk pencapaian saling memahami. Interaksi
sosial dalam dunia kehidupan dapat dibagi menjadi dua kelompok, yaitu :
1) Interaksi yang mengikuti kebutuhan sosial alami, misalnya kebutuhan akan sistem
informasi manajemen.
2) Interaksi yang dipengaruhi oleh mekanisme sistem, misalnya pemilihan sistem
yang akan dipakai atau konsultan mana yang diminta untuk merancang sistem

bukan merupakan interaksi sosial yang alami karena sudah mempertimbangkan


berbagai kepentingan.
3. Peluang Riset Akuntansi Keperilakuan Pada Lingkungan Akuntansi
Dengan secara khusus menelaah riset akuntansi keperilakuan sebelumnya dapat
diperoleh suatu kerangka analisis dan diskusi yang dibatasi pada peluang, terutama pada
hasil potensi subbidang dan implikasinya untuk subbidang akuntansi yang lain.Beberapa
subbidang akuntansi di antaranya :
a. Audit
Suatu tinjauan audit atas artikel akuntansi keperilakuan selama tahun 1990-1991
menunjukkan penekanan pada kekuatan dalam pembuatan keputusan yang merupakan
karakteristik dari sebagian besar riset akuntansi keperilakuan. Libby dan Frederick (1990)
seara persuasif menjelaskan pentingnya pemahaman mengenai bagaimana variabelvariabel psikologi seperti pembelajaran, pengetahuan faktual, dan prosedural, serta
pengaruh memori dalam pembuatan keputusan.
Riset audit menyarankan suatu hubungan yang kompleks antara pengalaman dan
kinerja yang belum dipahami dengan baik. Sementara riset yang dikembangkan dalam
audit, sebagai contoh, hubungan kemampuan dan peran latar belakang, merupakan aspek
dari hubungan antara pengalaman dan kinerja yang hanya memperoleh sedikit perhatian
dan penerimaan dalam literatur audit. Sementara, riset akuntansi keperilakuan dalam
bidang manajerial telah dipelajari dengan lebih rinci.
b. Akuntansi Keuangan
Beberapa publikasi menunjukkan bahwa riset akuntansi keperilakuan dalam bidang
akuntansi keuangan jumlahnya terbatas sehingga sulit untuk didefinisikan. Beberapa
bukti menunjukkan bahwa terbatasnya pemrosesan informasi yang tidak mendorong lebih
banyak dilakukannya riset akuntansi keperilakuan merupakan pertanyaan yang menarik.
Secara jelas, pentingnya riset akuntansi keuangan yang berbasis pasar modal
dibandingkan dengan audit menunjukkan kurang kuatnya permintaan eksternal terhadap

riset akuntansi keperilakuan dalam bidang keuangan, yang oleh sebagian besar kantor
akuntan publik dijadikan alasan untuk tidak melakukan diskusi yang lebih lanjut.
c. Akuntansi Manajemen
Analisis ini pada awalnya menunjukkan bahwa riset akuntansi keperilakuan dalam
bidang akuntansi manajemen merupakan pertimbangan yang lebih luas dibandingkan
dengan riset yang sama dalam akuntansi keuangan, dan memungkinkan pencerminan
tradisi lama yang berbeda dari riset akuntansi keperilakuan dalam bidang audit. Variabel
organisasional dan lingkungan mempunyai pengaruh yang penting terhadap perilaku
organisasional dan perilaku individu dalam organisasi.
Riset akuntansi keperilakuan dalam bidang akuntansi manajemen cenderung fokus
pada variabel lingkungan dan organisasional yang mengandalkan teori agensi, seperti
insentif dan variabel asimetri informasi. Sementara, riset akuntansi keperilakuan dalam
bidang audit lebih fokus pada variabel psikologi, khususnya kesadaran.
d. Sistem Informasi Akuntansi
Keterbatasan riset akuntansi keperilakuan dalam bidang sistem informasi akuntansi
adalah kesulitan untuk membuat generalisasi, meskipun berdasarkan pada studi sistem
akuntansi yang lebih awal sekalipun. Adalah jelas bahwa desain sistem mempengaruhi
penggunaan informasi. Informasi akan mendorong penggunaan keunggulan teknologi
saat ini, seperti pencitraan data, jaringan, dan akses data dinamis melalui sistem
pengoperasian menyarankan pertimbangan atas peluang riset akuntan keperilakuan dalam
bidang sistem akuntansi.
4. Perkembangan Terakhir Riset Akuntansi Keperilakuan
Wawasan dalam riset akuntansi keperilakuan saat ini bisa diperoleh dengan dua cara,
yaitu :
1) Survei publikasi utama dari riset akuntansi keperilakuan.
2) Klasifikasi topik artikel yang dipublikasikan dan pemetaan publikasi terhadap model
perilaku individu.

Jurnal-jurnal umumnya dipilih karena merupakan jurnal yang paling banyak


meneribitkan bagian riset ini dengan metodologi yang terbuka untuk seluruh objek
akuntansi. Accounting, Organzation, and Society merupakan jurnal yang cenderung
memfokuskan isinya pada riset akuntansi keperilakuan, meskipun jurnal tersebut juga
menerbitkan jenis riset lainnya. Dalam periode sekarang audit merupakan riset
keperilakuan yang paling banyak diterbitkan dalam Behaviorial Research in Accounting.
Selanjutnya, urutan berikutnya diduduki oleh bidang akuntansi manajemen yang hampir
mencapai seperempat dari total penerbitan, sementara sisanya merupakan subbidang
lainnya.
5. Teori Keperilakuan Tentang Perusahaan
Teori organisasi modern mempunyai kaitan dengan perilaku perusahaan sebagai
suatu kesatuan terhadap pemahaman kegiatan perusahaan dan alasan anggotanya. Bila
dipastikan bahwa bisnis, tanpa mempedulikan besar kecilnya, biasanya dipandang
sebagai milik dari pemegang saham yang perhatiannya lebih terfokus pada dimensidimensi keuangan, yang berputar di sekitar harga saham dan berada di luar lingkup
keputusan.
Untuk menguraikan bagaimana perusahaan mengadopsi seperangkat tujuan dan
bagaimana perusahaa mengawali penyesuaian dan pencapaian memerlukan suatu
pemahaman yang mendasar atas keputusan dan proses penyelesaian masalah dengan
pasti. Agar lebih spesifik, teori modern perusahaan terkait dengan arah tujuan perilaku
yang dipastikan berkaitan dengan tujuan, motivasi, dan karakteristik menyelesaikan
masalah anggota-anggotanya.
Akhirnya pengambilan keputusan perusahaan, proses menyelesaikan masalah
struktur organisasi, pembagian kerja, penggunaan prosedur standar operasional, dan
seterusnya diruaikan sebagai fungsi peserta yang menyelesaikan masalah perilaku yang

ditandai oleh pembatasan kapasitas mereka secara rasional. Hal utama yang perlu
diperhatikan adalah bahwa perusahan dapat dipandang sebagai suatu keseimbangan
dalam mencari sistem pengambilan keputusan. Komposisi tujuan dapat berubah dari
waktu ke waktu, tetapi proses tingkat penyesuaian harus mengikuti beberapa aturan.
Jalannya operasional perusahaan dibatasi oleh tingkat sampai sejauh mana kapasitas
penyelesaian masalah dalam pengembalian informasi.
6. Riset dan Tujuan Riset
a. Pengertian Riset
Riset adalah pengamatan terhadap fakta, identifikasi atas masalah, dan usaha
untuk menjawab masalah dengan menggunakan pengetahuan merupakan esensi dari
kegiatan riset. Oleh karena itu, riset dapat disebut sebagai suatu usaha yang sistematis
untuk mengatur dan menyelediki masalah-masalah,serta menjawab pertanyaan yang
muncul, yang terkait dengan fakta, fenomena, atau gejala dari masalah tersebut.
Riset dimulai dengan suatu pertanyaan karena menghendaki suatu deskripsi yang
jelas terhadap permasalahan yang akan dipecahkan. Hal ini sering disebut sebagai suatu
rencana untuk menjawab pertanyaan.
b. Tujuan Riset
Terdapat lima tujuan spesifik dari suatu riset:
1)
2)
3)
4)
5)

Menggambarkan fenomena,
Menemukan hubungan,
Menjelaskan fenomena,
Memprediksi kejadian-kejadian di masa yang akan datang, dan
Melihat pengaruh satu atau lebih faktor terhadap satu atau lebih kejadian.
Kejadian-kejadian dapat dijelaskan dengan cara mengumpulkan

dan

mengklasifikasikan informasi. Hal ini biasanya merupakan langkah pertama dalam


suatu penyelidikan khusus. Kadang kala, suatu perencanaan terhadap riset akan dilihat
hanya berdasarkan pada penjelasan informasi.
7. Pengembangan Desain

Langkah pertama dan paling penting dalam riset perilaku adalah masalah definisi.
Berdasarkan informasi yang dikumpulkan dan metode yang dipilih, data serta jenis
gambaran sampel pada dasarnya tergantung pada bagaimana sebenarnya masalah
dipersepsikan, kerangka pertanyaan riset, dan desain informasi studi yang dikumpulkan.
a. Menentukan Lingkup Pengembangan
Lingkup pengembangan biasanya terbatas terhadap satu atau dua pertanyaan. Hal ini
dilakukan karena berbagai alasan. Alasan biasanya adalah karena untuk menyelediki
setiap aspek dari suatu masalah bukanlah apa yang diinginkan, tidak praktis, atau tidak
mungkin. Keterbatasan utama dari ruang lingkup perencanaan adalah pada aspek dana
yang tersedia.
Desain pengembanganlain juga harus sejalan dengan penentuan lingkungan riset.
Aspek lain dari suatu desain adalah menemukan populasi, menspesifikasikan informasi
yang dibutuhkan, memilih dan mengumpulkan data serta metode, serta anggaran.
Langkah selanjutnya dalam proses riset adalah mengidentifikasikan jenis informasi yang
harus dikumpulkan. Arah riset seharusnya mempertimbangkan manfaat dan kerugian dari
sumber data primer maupun sekunder.
b. Data Primer dan Data Sekunder
Sumber data riset merupakan faktor penting yang menjadi pertimbangan dalam
penentuan metode pengumpulan data. Sumber data riset terdiri atas sumber data primer
dan sumber data primer.
Data primer merupakan sumber data riset yang diperoleh secara langsung dari
sumber asli atau pihak pertama. Data primer secara khusus dikumpulkan oleh peneliti
untuk menjawab pertanyaan riset. Data primer dapat berupa pendapat subjek riset (orang)
baik secara individu maupun kelompok, hasil observasi terhadap suatu benda (fisik),
kejadian, atau kegiatan, dan hasil pengujian. Manfaat utama dari data primer adalah
bahwa unsur-unsur kebohongan tertutup terhadap sumber fenomena. Oleh karena itu,

data primer lebih mencerminkan kebenaran yang dilihat. Bagaimana pun, untuk
memperoleh data primer akan menghabiskan dana yang relatif lebih banyak dan menyita
waktu yang relatif lebih lama.
Data sekunder merupakan sumber data riset yang diperoleh peneliti secara tidak
langsung melalui media perantara. Data sekunder pada umumnya berupa bukti, catatan,
atau laporan historis yang telah tersusun dalam arsip baik yang dipublikasikan dan yang
tidak dipublikasikan. Manfaat dari data sekunder adalah lebih meminimalkan biaya dan
waktu, mengklasifikasikan permasalahan-permasalahan, menciptakan tolak ukur untuk
mengevaluasi data primer, dan memenuhi kesenjangan-kesenjangan informasi.
8. Validitas dan Keandalan
Terdapat dua hal penting yang berhubungan dengan perencanaan riset perilaku, yang
pertama adalah yang diukur berkaitan dengan hal-hal yang salah (validitas) dan yang
kedua adalah yang diukur berkaitan dengan hal-hal tidak representatif (keandalan). Dua
hal tersebut dinilai dengan menggunakan validitas dan keandalan.
a. Validitas
Ada beberapa jenis validitas yaitu :
1) Validitas isi (content validity) mengacu pada bagaimana sebaiknya peneliti
menggambarkan dimensi-dimensi dan konsep atau masalah-masalah yang ingin
diukur, khususnya yang berkaitan dengan tingkat ukuran yang diberikan untuk
menutupi rentang terhadap arti maupun terhadap suatu konsep. Validitas isi
merupakan pokok pertimbangan untuk setiap pertanyaan yang diajukan dan diukur
dalam istilah-istilah yang berhubungan dengan relevansi terhadap konsep yang
diukur.
2) Validitas prediktif adalah validitas yang berkaitan dengan apakah suatu pengujian
atau pengukuran dapat secara akurat memprediksi perilaku. Validitas prediktif
mengharuskan adanya suatu kriteria atau indikator eksternal terhadap apa yang harus
diprediksi.

3) Validitas konkuren adalah validitas yang berkaitan dengan hubungan antara alat
ukur dan kriteria sekarang atau masa lalu. Oleh karena itu, berbeda dengan validitas
prediktif yang merupakan ukuran untuk memprediksi perilaku yang dihasilkan pada
waktu yang sama sebagai ukuran eksternal terhadap perilaku, pengujian validitas
konkuren membantu seorang peneliti untuk membedakan individu-individu
berdasarkan beberapa kriteria.
4) Validitas konstruksi (construct validity) adalah validitas yang berdasarkan pada
suatu pertimbangan apakah hasil dari pengukuran tersebut sesuai dengan teori.
Validitas konstruksi sangat bermanfaat untuk mengukur fenomena yang tidak
memiliki kriteria eksternal.
b. Reliabilitas
Suatu instrumen alat ukur yang andal akan menghasilkan alat ukur yang stabil di
setiap waktu. Aspek lain dari keandalan adalah akurasi dari instrumen pengukuran.
9. Metode Pengumpulan Data
Ada dua metode yang melatarbelakangi hal ini: 1) para peneliti tidak memahami apa
yang dikerjakan oleh orang-orang tersebut dan mengapa mereka kelihatannya melibatkan
perilaku,

dan

2)

karena

ukuran

sampel

kecil,

sehingga

sangat

berisiko

menggeneralisasikan hasil terhadap populasi.


a. Survei
Dalam survei tidak ada interaksi langsung antara seorang peneliti dengan responden.
Data dikumpulkan dengan cara mengirimkan surat elektronik (e-mail), menelepon, atau
memberikan serangkaian pertanyaan. Ada manfaat dan kerugian yang berhubungan
dengan setiap teknik ini. Survei melalui surat setidaknya lebih mahal. Ada kalanya
pengumpulan data riset pada kondisi tertentu mungkin tidak memerlukan kehadiran
peneliti. Pertanyaan peneliti dan jawaban responden dapat dikemukakan secara tertulis
melalui kuesioner. Teknik ini memberikan tanggung jawab kepada responden untuk
membaca dan menjawab pertanyaan. Kuesioner dapat didistribusikan dengan berbagai

cara, antara lain: disampaikan langsung oleh peneliti, dikirim bersama-sama dengan
pengiriman paket atau majalah, diletakkan di tempat yang ramai dikunjungi orang,
dikirim melalui faks, atau menggunakan teknologi komputer.
b. Observasi
Observasi merupakan proses pencatatan pola perilaku manusia, sesuatu hal, atau
kejadian yang sistematis tanpa adanya pertanyaan maupun komunikasi dengan individuindividu yang diteliti. Kelebihan metode observasi dibandingkan dengan metode survei
adalah bahwa data yang dikumpulkan umumnya tidak terdistorsi, lebih akurat, dan lebih
bebas dari bias pihak responden. Metode observasi dapat menghasilkan data lebih rinci
mengenai fenomena yang diteliti (perilaku, subjek, atau kejadian) dibandingkan dengan
metode survei. Mmetode observasi, meskipun demikian, tidaklah bebas dari kesalahan.
Pengamat kemungkinan memberikan catatan tambahan yang bersifat subjektif (observer
bias), seperti halnya bias yang terjadi karena peran pewawancara dalam metode survei.
10. Memilih Responden
Langkah pertama dalam memilih responden adalah dengan cara menentukan
populasi. Setelah populasi ditentukan, peneliti menentukan sensus atau suatu sampel.
Sensus adalah kegiatan untuk mencari seluruh informasi yang dikumpulkan dari setiap
elemen dalam populasi. Sampel merupakan kumpulan informasi dan merupakan bagian
dari populasi. Suatu sensus akan tepat ketika: 1) populasinya kecil dan biaya
pengumpulan data tidak melebihi biaya pengambilan sampel secara signifikan, 2) penting
untuk mengetahui setiap unsur dalam populasi, dan 3) risiko dalam perbaikan secara
keseluruhan sangat besar.
Sampling Probabilitas dan Nonprobabilitas
Ada dua jenis desain sampling, yaitu sampling probabilitas (probability sampling)
dan sampling nonprobabilitas (nonprobability sampling). Sampling probabilitas

menggunakan beberapa bentuk dari sampling acak; sementara sampling nonprobabilitas


tidak menggunakan sampling acak. Dalam sampling probabilitas, setiap elemen dalam
populasi probabilitasnya yang dipilih telah diketahui. Ada beberapa jenis sampling
probabilitas: acak, sistematis, terstratifikasi, kelompok, dan sebagainya. Sampling
nonprobabilitas adalah ketika probabilitas yang dipilih tidak diketahui. Dengan sampling
probabilitas, sampling error dapat ditaksir secara matematis karena probabilitas yang
dipilih diketahui. Hal ini memberikan kepada para peneliti suatu pengukuran yang
objektif terhadap sampel yang representatif. Mengetahui probabilitas yang dipilih juga
membuat para peneliti mampu menghitung ukuran sampel yang tepat. Sampling
probabilitas digunakan ketika sampel yang representatif adalah penting.
11. Instrument Riset
Pengembangan kuesioner atau pencarian instrumen merupakan langkah lain yang
penting dalam proses riset. Kuesioner harus sesuai dengan responden dan didesain secara
menarik sehingga responden merasa tertarik untuk menjawab kuesioner tersebut, yang
pada hakikatnya bertujuan untuk meningkatkan tingkat respons, validitas, dan keandalan
data.
a. Menjamin Kerja Sama Responden
Desain kuesioner yang baik sangat bermanfaat jika responden tidak bersikap
kooperatif terhadap para peneliti yang menghendaki informasi. Rendahnya tingkat kerja
sama atau tingkat respons menciptakan kesulitan bagi para peneliti untuk mrelakukan
generalisasi sampel terhadap populasi. Jika hal ini terjadi, maka pertanyaan selanjutnya
mengacu pada apakah responden mempunyai sikap yang berbeda jika desain
kuesionernya berbeda.

Ada beberapa teknik yang dapat menghasilkan tingkat respons yang tinggi. Pertama,
sebelum wawancara dengan seorang responden, peneliti seharusnya mengirimkan surat
yang menjelaskan tujuan umum dari wawancara tersebut dan responden dapat
menghubungi mereka melalui telepon untuk membuat suatu janji wawancara. Pada hari
wawancara, para peneliti seharusnya datang tepat pada waktunya dan mengucapkan
terima kasih atas kerja sama responden.
Pada saat yang sama, sebelum melakukan wawancara melalui telepon, adalah sangat
bermanfaat untuk mengirimkan kepada responden sebuah surat yang memperkenalkan
tim riset, menjelaskan dasar dari riset tersebut, dan meminta kerja sama saat menelepon.
Akan lebih membantu jika peneliti menawarkan insentif dalam bentuk uang tunai atau
bentuk-bentuk lainnya.
Untuk seluruh metode di atas yang melibatkan kuesioner, surat, telepon, atau
wawancara pribadi, adalah penting untuk melakukan pengujian sebelumnya (pilot test).
Tujuannya adalah agar peneliti dapat memperbaiki kalimat pertanyaan yang disusun
dengan buruk atau pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan.
b. Menjamin Validitas dan Keandalan Jawaban
Hanya informasi-informasi yang esensial yang seharusnya diharapkan dari
responden. Para peneliti seharusnya menentukan dasar dari keinginan informasi dan
memilih suatu format pertanyaan yang akan menyediakan informasi dengan sedikit
pembatasan terhadap responden. Pertanyaan-pertanyaan dapat bersifat terbuka (openended) atau sudah ditentukan kemungkinan-kemungkinan jawabannya (closed-ended).