Anda di halaman 1dari 89

PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA AL QURAN

SECARA TARTIL MELALUI PENGGUNAAN METODE QIROATI


(Penelitian Tindakan Kelas pada Siswa Kelas V SDN Pandanretno
Kec. Kajoran Kab. Magelang Tahun 2010)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memperoleh Gelar


Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)

Oleh
ZAIRUDDIN
NIM 11408206

JURUSAN TARBIYAH
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
SALATIGA
2010

Prof. Dr. H. Mansur


Dosen STAIN Salatiga
Jl. Stadion No. 03 Salatiga (0298) 323706, 323444 Kode Pos 50712
NOTA PEMBIMBING
Lamp : 2 eksemplar
H a l : Naskah Skripsi
Sdr. Zairuddin
K e p a da
Yth. K e t u a
STAIN
di
tempat
Assalamu`alaikum Wr. Wb.
Setelah diadakan pengarahan, bimbingan, koreksi dan perbaikan
seperlunya, maka skripsi saudara :
Nama

: Zairuddin

NIM

: 11408206

Jurusan/Program

: Tarbiyah / Pendidikan Agama Islam

Judul

PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA ALQURAN


SECARA
TARTIL
MELALUI
PENGGUNAAN METODE QIROATI. (Penelitian
Tindakan Kelas Pada Siswa Kelas V SDN
Pandanretno Kec. Kajoran Kab. Magelang Tahun
2010)
Sudah dapat diajukan pada sidang munaqosyah.
Demikian surat ini dibuat, harap menjadikan perhatian dan digunakan

sebagaimana mestinya.
Wassalamu alaikum Wr. Wb.
Salatiga, Juli 2010
Pembimbing

Prof Dr H Mansur
NIP. 19680613 1994403 1 004

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahi robbil 'alaamin, kami ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan taufiq dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini
dengan baik dan lancar tanpa halanagan suatu apapun. Shalawat serta salam semoga
selelu tercurahkan kepada junjungan Nabi besar kita Nabi Muhammad SAW yang
telah membawa Nur Illahi yang menyinari segenap alam dan yang semoga kita
tergolong ummatnya yang akan mendapatkan syafaatnya besuk di hari qiyamah. Amin
Allahumma Amin.
Dalam penyelesaian skripsi ini

penulis banyak mendapatkan bantuan,

bimbingan dan pengerahan dari berbagai pihak. Sehubungan dengan hal tersebut
penulis hanya bisa mengucapkan banyak terima kasih, dan dengan iringan doa
semoga amal baik yang telah diberikan, mendapat pahala disisi Allah SWT.
Untuk itu penulis ucapkan banyak terima kasih kepada Yth:
1. Ketua STAIN Salatiga.
2. Bapak Prof. Dr. H. Mansur, M.Ag. selaku pembimbing yang telah meluangkan
waktu, tenaga dan pikirannya dengan penuh kesabaran dan kebijaksanaannya
dalam

memberikan

bimbingan,

pengarahan,

sehingga

penulis

dapat

menyelesaikan skripsi ini.


3. Kepala SDN Pandanretno Kec. Kajoran Kab. Magelang Tahun 2010 yang
memberikan waktu kepada penulis, untuk melakukan penelitian tindakan kelas
guna menyelesaikan skripsi ini.
4. Bapak Ibu guru SDN Pandanretno Kec. Kajoran Kab. Magelang Tahun 2010
yang telah memberikan semangat dan kerjasamanya.
5. Istri dan segenap keluarga yang telah memberikan doa restunya kepada
penulis untuk menyelesaikan skripsi ini.

6. Rekan-rekan yang telah membantu penulis hingga terselesaikannya skripsi ini.


Penulis menyadari karena keterbatasan yang ada, skripsi ini masih jauh dari
kekurangan. Untuk itu sumbang saran dan kritik untuk terciptanya tulisan yang lebih
sempurna sangat penulis harapkan.
Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca
pada umumnya dan menjadi amal jariyah bagi penulis. Amiiin..

Salatiga, Juli 2010

Zairuddin
Penulis

ABSTRAK
Zairuddin, 2010, PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA AL-QURAN
SECARA TARTIL MELALUI PENGGUNAAN METODE QIROATI.
(Penelitian Tindakan Kelas Pada Siswa Kelas V SDN Pandanretno Kec.
Kajoran Kab. Magelang Tahun 2010) Pembimbing : Prof. Dr. H. Mansur,
M.Ag
Kata kunci: Membaca Al Quran secara tartil dan metode Qiroati
Penelitian ini merupakan upaya untuk mengembangkan metode pembelajaran
bagi pengajaran pelajaran PAI/BTQ di Sekolah dasar. Pertanyaan utama yang ingin
dijawab dalam penelitian ini adalah dapatkah penggunaan metode qiroati mampu
meningkatkan kemampuan membaca Al-Quran secara tartil pada siswa kelas V SDN
Pandanretno Kec. Kajoran Kab. Magelang Tahun 2010?
Penelitian tindak kelas ini menggunakan teknik pengumpulan data yaitu : tes,
observasi dan catatan selama penelitian berlangsung, tujuan penelitian ini adalah untuk
meningkatkan kualitas pembelajaran membaca Al Quran di SDN Pandanretno
Kecamatan Kajoran melalui penggunaan metode qiroati.
Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan metode qiroati mampu
meningkatkan kemampuan membaca Al-Quran secara tartil pada siswa kelas V SDN
Pandanretno Kec. Kajoran Kab. Magelang Tahun 2010. hal ini terbukti bahwa tingkat
ketuntasan kelas pada siklus I sebesar 75%, siklus II 87,5% dan siklus III 87,5% dengan
nilai rata-rata 70.

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Al-Quran adalah kitab Allah yang diturunkan ke dunia yang harus diyakini
oleh setiap orang mukmin. Beriman kepada kitab Allah adalah salah satu rukun iman
yang ke tiga. Beriman kepada Al-Quran harus dibuktikan dengan mempelajarinya
dan mengajarkannya kepada orang lain. Mempelajari Al-Quran berarti belajar
membunyikan huruf-hurufnya. Dalam hal mempelajari bacaan Al-Quran maka
penekanan utamanya adalah kefasihan pembacaan secara tartil, sebagaimana firman
Allah SWT dalam surat al Muzammil ayat 4-5:

Artinya: Dan bacalah Al-Quran itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami


akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat
Tentunya tingkatan ini adalah tingkatan yang paling awal dan sangat
menentukan keberhasilan pembelajaran Al-Quran pada tingkatan selanjutnya. Pada
tingkatan lanjutan mungkin seseorang bisa mempelajari Ulumul Quran dan tafsir AlQuran.
Di antara tugas yang memerlukan keseriusan dan kepedulian yang ekstra dari
setiap pendidik adalah tugas mencari metode terbaik untuk mengajarkan Al-Quran
kepada anak-anak, sebab mengajarkan Al-Quran (kepada mereka) merupakan salah
1

satu pokok dalam ajaran Islam. Tujuannya adalah agar mereka tumbuh sesuai dengan
fitrahnya dan hati mereka pun bisa dikuasai cahaya hikmah, sebelum dikuasai hawa
nafsu dengan berbagai nodanya yang terbentuk melalui kemaksiatan dan kesesatan.
Dalam perjalanannya teryata pembelajaran baca tulis Al-Quran menghadapi
problem yang tidak sedikit dan sederhana. Diantara problem yang dihadapi adalah
input siswa beragam, jumlah jam pelajaran, guru, sarana, dan metode pembelajaran
baca tulis Al-Quran yang terbatas. Mengenai input siswa yang beragam tersebut,
bahwasannya ada diantara siswa yang baru yang sudah lancar dalam membaca AlQuran, ada yang belum lancar, dan ada yang buta terhadap huruf Al-Quran.
Heterogenitas siswa ini menjadi problem ketika mereka berkumpul dalam satu kelas.
Problem yang dihadapi guru dalam pengajaran bacaan Al-Quran tak lain adalah
dalam menentukan metode dan pendekatan yang tepat sehingga para siswa mampu
meraih target yang dicanangkan pihak kurikulum.
Sarana prasarana yang menunjang pembelajaran baca tulis Al-Quran pun
belum terpenuhi, diantaranya buku prestasi, buku pedoman pembelajaran, alat-alat
peraga dan lain-lain, sehingga pembelajaran sangatlah sederhana dan tradisional yang
pada akhirnya proses belajar mengajar berjalan sangat lambat. Walaupun belum
menemukan metode dan pendekatan yang sesuai, sarana prasarana yang sederhana
guru mata pelajaran baca tulis Al-Quran tetap melaksanakan kegiatan mengajarnya
dengan metode dan pendekatan yang pernah mengantarkannya bisa membaca dan
menulis Al-Quran.
Setelah pembelajaran yang dilakukan selama satu tahun didapatkan hasil belajar
yang kurang memuaskan. Diantara hal yang kurang memuaskan adalah masih banyak
ditemui kesalahan siswa dalam membaca Al-Quran, misalnya ada beberapa siswa
yang masih terbata-bata, belum mampu mempraktekkan bacaan mad dengan benar

yaitu terkadang bacaan mad tidak dibaca panjang dan yang seharusnya pendek malah
dibaca panjang. Siswa juga masih banyak melakukan kesalahan dalam membaca
hukum bacaan yang dibaca dengung dan yang tidak dibaca dengung.
Sebagai gambaran bahwa pada kelas V SDN Pandanretno Kec. Kajoran Kab.
Magelang di mana penulis mengajar pada akhir tahun ajaran 2009/2010 ini para
siswa masih mengalami kesulitan dalam hal membaca Al-Quran secara tartil dan
lancar. Untuk itu penulis tertarik untuk menerapkan metode pembelajaran membaca
Al-Quran dengan cara yang baru yaitu penggunaan metode qiroati yaitu metode yang
dapat mempermudah dan mempercepat anak agar mampu membaca Al-Quran
dengan baik dan benar. Dalam metode ini diawali dengan memperkenalkan hurufhuruf bersyakal tanpa dieja, namun langsung diberikan contoh membaca oleh guru
dengan benar dan tartil (Dahlan Salim Zarkasi; 2006).
Untuk itu penulis berkeinginan meningkatkan kemampuan membaca Al-Quran
bagi anak didik dengan memilih metode baru. Sehingga penulis tertarik untuk
melakukan penelitian tindakan kelas di SDN Pandanretno Kec. Kajoran Kab.
Magelang tempat penulis selama ini bertugas sebagai guru PAI. Adapun judul skripsi
ini adalah:
PENINGKATAN

KEMAMPUAN

MEMBACA

AL-QURAN

SECARA

TARTIL MELALUI PENGGUNAAN METODE QIROATI. (Penelitian Tindakan


Kelas Pada Siswa Kelas V SDN Pandanretno Kec. Kajoran Kab. Magelang Tahun
2010)
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana penerapan metode qiroati pada siswa kelas V SDN Pandanretno Kec.
Kajoran Kab. Magelang Tahun 2010?

2. Apakah penggunaan metode qiroati mampu meningkatkan kemampuan membaca


Al-Quran secara tartil pada siswa kelas V SDN Pandanretno Kec. Kajoran Kab.
Magelang Tahun 2010?
Dari rumusan masalah di atas maka penulis menggunakan alternatif
penggunaan metode qiroati untuk meningkatkan kemampuan membaca Al-Quran
secara tartil pada siswa kelas V SDN Pandanretno Kec. Kajoran Kab. Magelang
Tahun 2010. Hal ini mengingat akar masalah yang menjadi kendala dari rendahnya
kemampuan membaca al Quran secara tartil pada siswa kelas V SDN Pandanretno
Kec. Kajoran Kab. Magelang Tahun 2010 adalah karena kesalahan metode yang
diterapkan selama ini yang kurang memberikan contoh langsung kepada siswa.
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui penerapan metode qiroati pada siswa kelas V SDN
Pandanretno Kec. Kajoran Kab. Magelang Tahun 2010
2. Untuk mengetahui apakah penggunaan metode qiroati mampu meningkatkan
kemampuan membaca Al-Quran secara tartil pada siswa kelas V SDN
Pandanretno Kec. Kajoran Kab. Magelang Tahun 2010.
D. Hipotesis
Hipotesis

adalah

suatu

jawaban

yang

bersifat

sementara

terhadap

permasalahan penelitian sampai terbukti melalui data yang terkumpul (Suharsimi


Arikunto; 1996).

Adapun hipotesis dalam penelitian tindakan ini adalah bahwa

"Penerapan penggunaan metode qiroati mampu meningkatkan kemampuan membaca


Al-Quran secara tartil pada siswa kelas V SDN Pandanretno Kec. Kajoran Kab.
Magelang Tahun 2010"

E. Kegunaan Penelitian
1. Hasil dan temuan penelitian ini dapat memberikan informasi tentang penggunaan
metode qiroati.
2. Sebagai salah satu strategi atau upaya meningkatkan kemampuan menbaca AlQuran bagi siswa.
3. Sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan metode pembelajaran Al-Quran
yang dapat memberikan manfaat bagi siswa.
4. Menambah wawasan dan pengetahuan penulis.
5. Sumbangan pemikiran mengembangkan sistem kegiatan belajar mengajar di
sekolah.
F. Batasan Operasional
Agar tidak menyimpang dari pokok masalah yang menjadi inti dari judul
tersebut peneliti memberi batasan sebagai berikut:
1. Peningkatan Kemampuan Membaca Al-Quran Secara Tartil
Kata "peningkatan" berasal dari kata "tingkat" yang berarti keadaan atau
kwalitas yang lebih tinggi. Sedangkan kata "peningkatan" berarti usaha atau
proses meningkatkan. Sedangkan kemampuan berasal dari kata mampu yang
berti sanggup melakukan sesuatu.
Kata membaca berasal dari kata baca yaitu melihat serta memahami isi
dari apa yang tertulis. Sedangkan Al-Quran adalah kitab suci agama islam.
Adapun tartil berasal dari bahasa arab

yang berarti perlahan-lahan. Sehingga

yang penulis maksud di sini adalah usaha secara sungguh sungguh untuk
menjadikan siswa lebih berkwalitas. Selain itu kemapuan tersebut dapat

dipraktekkan secara langsung dengan membaca Al-Quran secara perlahan dan


jelas.
2. Penggunaan Metode Qiroati
Kata penggunaan berasal dari kata guna yang berarti perbuatan, atau cara
untuk mengambil manfaat atau mendatangkan kebaikan. Sedangkan kata metode
berarti cara kerja bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna
mencapai

tujuan

yang

ditentukan

(Departemen

Pendidikan

dan

Kebudayaan:1994). Adapun qiroati adalah nama dari sebuah metode belajar


membaca Al-Quran yang ditemukan oleh KH Dachlan Salim Zarkasi. Secara
umum ciri dari metode qiroati adalah Guru menjelaskan dengan memberi contoh
materi pokok bahasan, selanjutnya siswa membaca sendiri (CBSA) Siswa
membaca tanpa mengeja. Sejak awal belajar, siswa ditekankan untuk membaca
dengan tepat dan cepat.
G. Metode Penelitian
1. Rancangan Penelitian
Sebelum penulis memberikan laporan penelitian maka perlu kiranya penulis
memberikan landasan teori tentang jalannya penelitian kali ini. Hal ini
dimaksudkan agar penelitian ini berjalan sesuai dengan prosedur penelitian ilmiah
yang benar. Ada beberapa jenis penelitian pendidikan yang berbeda. Perbedaan
tersebut terkait dengan jenis tindakan, setting, intrumen dan metode penelitian (RC
Mishra: 2005). Adapun penilitan yang dilakukan penulis ini adalah sebuah
penelitian tindakan kelas yaitu penelitian yang mengkombinasikan prosedur
penelitian dengan tindakan substantif, suatu tindakan yang dilakukan dalam
disiplin inkuri atau suatu usaha seseorang untuk memahami apa yang terjadi sambil
terlibat dalam sebuah proses perbaikan (Rachiyati Wiraatmaja: 2004).

Penulis melakukan semacam ini karena penelitian yang akan penulis


lakukan memenuhi kreteria sebagai berikut:
1. Problem yang dipecahkan merupakan praktis yang dihadapi penulis.
2. Peneliti memberikan perlakuan/treatment yang berupa tindakan terencana
3. Langkah- langkah yang peneliti lakukan berbentuk siklus.
4. Adanya langkah berfikir reflektif (Sukardi: 2008).
Selain itu penelitian ini juga bersifat eksperimental, karena bertujuan
mendeskripsikan apa yang akan terjadi bila variabel- variabel tertentu dikontrol
secara tertentu (Faisal: 1982). Dalam hal ini veriabel yang dikontrol dan
dimanipulatisi adalah metode pengajarannya.
Penelitian ini sangat tepat digunakan untuk meningkatkan praktik mengajar
supaya lebih efektif, meningkatkan pemahaman tentang praktik mengajar, dan
dapat digunakan untuk meningkatkan situasi belajar mengajar yang lebih baik
(Bell: TT).
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (classroom action
research), karena penelitian dilakukan untuk memecahkan masalah pembelajaran
di kelas. Penelitian ini juga termasuk penelitian deskriptif, sebab menggambarkan
bagaimana suatu bentuk teknik pembelajaran diterapkan dan bagaimana hasil
yang diinginkan dapat tercapai.
Menurut Suharsimi Arikunto berdasarkan tujuannya, penelitian tindakan
dibagi menjadi 4 yaitu
a. Penelitian tindakan partisapatisi (participatory action research) yang
menekankan keterlibatan masyarakat agar merasa memiliki program tersebut.
b. Penelitian tindakan kritis (critical action research) yang menekankan adanya
niat yang tinggi untuk memecahkan bertindak memecahkan masalah kritis.

c. Penelitian tindakan institusi (institutional action research) yaitu yang


dilakukan pihak pengelola sekolah.
d. Penelitian tindakan kelas (classroom action research) yaitu penelitian yang
dilakukan oleh guru baik sendiri maupun bekerjasama dengan peneliti lain
(Arikunto, dkk: 2008).
Dalam penelitian ini menggunakan bentuk guru sebagai peneliti, dimana
guru sangat berpengaruh sekali dalam proses penelitian tindakan kelas. Dalam
bentuk ini tujuan utama penelitian kelas ini ialah untuk meningkatkan praktikpraktik pembelajaran di kelas. Dalam kegiatan ini, guru terlibat langsung secara
penuh dalam proses perencanaan tindakan dan refleksi. Kehadiran pihak lain
dalam penelitian ini peranannya tidak dominan. Hal ini bertujuan agar guru dapat:
a. Mengkaji/ meneliti sendiri praktek mengajarnya.
b. Melakukan PTK tanpa mengganggu tugasnya.
c. Mengkaji pemasalahan yang dialami.
d. Mengembangkan profesionalismenya (Arikunto, dkk: 2008).
Penelitian

ini

mengacu

pada

perbaikan

pembelajaran

yang

berkesinambungan. Kemmis dan Taggart menyatakan bahwa model penelitian


tindakan adalah berbentuk spiral. Tahapan penelitian tindakan pada suatu siklus
meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Siklus ini berlanjut
dan akan dihentikan jika sesuai dengan kebutuhan dan dirasa sudah cukup
Menurut pengertiannya penelitian tindakan adalah penelitian tentang halhal yang terjadi di masyarakat atau sekelompok sasaran dan hasilnya langsung
dapat dikenakan pada masyarakat yang bersangkutan (Suharsimi Arikunto, dkk:
2008). Ciri atau karakteristik utama dalam penelitian tindakan adalah adanya
partisipasi dan kolaborasi dengan anggota kelompok sasaran. Penelitian tindakan

adalah satu strategi pemecahan masalah yang memanfaatkan tindakan nyata


dalam bentuk proses pengembangan inovatif yang dicoba sambil jalan dalam
mendeteksi dan memecahkan masalah. Dalam prosesnya pihak-pihak yang
terlibat dalam kegiatan tersebut dapat saling mendukung satu sama lain.
Sedangkan tujuan penelitian tindakan harus memenuhi beberapa prinsip
sebagai sebagai berikut:
a. Permasalahan atau topik yang dipilih harus memenuhi kriteria, yaitu benarbenar nyata dan penting, menarik perhatian dan mampu ditangani serta dalam
jangkauan peneliti untuk melakukan perubahan.
b. Kegiatan penelitian, baik intervensi maupun pengamatan yang dilakukan tidak
boleh sampai mengganggu atau menghambat kegiatan utama.
c. Jenis intervensi yang dicobakan harus efektif dan efisien artinya terpilih
dengan tepat sasaran dan tidak memboroskan waktu, dana dan tenaga.
d. Metodologi yang digunakan harus jelas, rinci dan terbuka, setiap langkah dan
tindakan dirumuskan dengan tegas sehingga orang yang berminat terhadap
penelitian tersebut dapat mengecek setiap hipotesis dan pembuktiannya.
e. Kegiatan penelitian diharapkan dapat merupakan proses kegiatan yang
berkelanjutan (on-going) mengingat bahwa pengembangan dan perbaikan
terhadap kualitas tindakan memang tidak dapat berhenti tetapi menjadi
tantangan sepanjang waktu (Arikunto, dkk: 2008).
Sesuai dengan jenis penelitian yang dipilih yaitu penelitian tindakan maka
penelitian ini menggunakan model penelitian tindakan dari Kemmis dan Taggart,
yaitu berbentuk spiral dan siklus yang satu ke siklus yang berikutnya. Setiap
siklus meliputi planning (rencana), action (tindakan), observation (pengamatan)
dan reflektion (refleksi). Langkah pada siklus berikutnya adalah perencanaan yang

10

sudah direvisi, tindakan, pengamatan dan refleksi. Sebelum masuk pada sikius I
dilakukan tindakan pendahuluan yang berupa identifikasi permasalahan. Siklus
spiral dan tahap-tahap penelitian tindakan kelas dapat dilihat pada gambar 1.1
berikut:
Gambar 1.1
Denah Pelaksanaan Tindakan

Penjelalasan alur di atas adalah:


a. Rancangan/rencana awal, sebelum mengadakan penelitian menyusun rumusan
masalah, tujuan dan membuat rencana tindakan termasuk di dalamnya instrumen
penelitian dan perangkat pembelajaran.
b. Kegiatan dan pengamatan meliputi timdakan yang dilakukan oleh peneliti sebagai
upaya membangun pemahaman konsepsi siswa serta mengamati hasil atau
dampak dan diterapkannya media pembelajaran media elektronik.
c. Refleksi, peneliti mengkaji, melihat dan mempertimbangkan hasil atau dampak
dan tindakan yang dilakukan berdasarkan lembar pengamatan yang diisi oleh
pengamat.

11

d. Rancangan/rencana yang direvisi berdasarkan hasil refleksi dari pangamat


membuat rancangan yang direvisi untuk dilaksanakan pada siklus berikutnya
(Arikunto; 2008)..
Observasi dibagi dalam tiga putaran, yaitu putaran 1, 2, dan 3 dimana masingmasing putaran dikenai perlakuan yang sama (alur kegiatan yang sama) dan
membahas satu bab pokok bahasan yang diakhiri dengan tes formatif di akhir masingmasing putaran. Siklus ini berkelanjutan dan akan dihentikan jika sesuai dengan
kebutuhan dan dirasa sudah cukup.
PTK berfungsi sebagai alat untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan
pembelajaran kelas. Di ruangan kelas, PTK dapat berfungsi sebagai:
a. Alat untuk mengatasi masalah-masalah yang didiagnosis dalam situasi
pembelajaran di kelas.
b. Alat pelatihan dalam jabatan, membekali guru dengan keterampilan dan metode
baru dan mendorong timbulnya kesadaran diri, khususnya melalui pengajaran
sejawat.
c. Alat untuk memasukkan ke dalam sistem yang ada (secara alami) pendekatan
tambahan atau inovatif.
d. Alat untuk meningkatkan komunikasi yang biasanya buruk antara guru dan
peneliti.
e. Alat untuk menyediakan alternatif bagi pendekatan yang subjektif, impresionistik
terhadap pemecahan masalah kelas (Madya; 2008).
Ada dua butir penting yang perlu disebut di sini. Pertama, hasil penelitian
tindakan dipakai sendiri oleh penelitinya, dan tentu saja oleh orang lain yang
menginginkannya. Kedua, penelitiannya terjadi di dalam situasi nyata yang
pemecahan

masalahnya

segera

diperlukan,

dan

hasil-hasilnya

langsung

12

diterapkan/dipraktikkan dalam situasi terkait. Ketiga, peneliti tindakan melakukan


sendiri pengelolaan, penelitian, dan sekaligus pengembangan (Madya:2008).
Sehingga semua aspek yang menjadi ketentuan dalam penelitian tindakan kelas
terpenuhi dalam penelitian yang akan penulis lakukan nantinya.
2. Subyek Penelitian
a. Waktu Penelitian
Penelitian ini penulis lakukan pada pertengahan Mei sampai awal Juni.
Penelitian ini dilakukan pada akhir semester genap tahun ajaran 2009/2010.
Penelitian dilakukan selama kurang lebih 3 minggu dengan 3 siklus dengan
masing- masing siklus selama 2 minggu atau 2 kali pertemuan.
Siklus I

hari Sabtu, 30 Mei 2010.

Siklus II hari Sabtu, 6 Juni 2010.


Siklus III hari Sabtu, 13 Juni 2009.
b. Tempat Penelitian
Penilitian ini penulis lakukan di ruang yang biasa untuk melakukan proses
belajar-mengajar siswa kelas V SDN Pandanretno Kec. Kajoran Kab. Magelang
Tahun 2010.
c. Subyek Penelitian
Subyek penelitian kali ini adalah seluruh siswa kelas V SDN
Pandanretno Kec. Kajoran Kab. Magelang Tahun 2010 yang berjumlah 16 anak
yang terdiri dari 12 murid laki- laki dan 4 murid perempuan.
3. Langkah- Langkah
a. Perencanaan
1) Menyusun tujuan instruksional.
2) Membuat skenario pembelajaran atau RPP.

13

3) Menyusun pre tes dan post tes.


4) Memilih materi pembelajaran.
5) Mendesain pedoman observasi sistematis bagi kerja guru selama
pelaksanaan tindakan.
b. Tindakan
1) Melaksanakan absesnsi siswa.
2) Melaksanakan pre test kepada siswa.
3) Analisis pre tes terhadap siswa untuk mengukur sejauh mana materi telah
dikuasai sebelumnya..
4) Memberikan pengarahan kepada siswa tentang operasional pembelajaran
dan tentang metode yang akan digunakan.
5) Guru memberikan contoh membaca.
6) Guru mendengarkan siswa menirukan bacaan guru.
7) Guru mengadakan post tes.
c. Refleksi
Hasil yang diperoleh pada tahap observasi dikumpulkan, didiskusikan,
dianalisis, dan dievaluasi oleh peneliti, kemudian guru dapat merefleksi diri
tentang berhasil tidaknya tindakan yang telah dilakukan, Faktor-faktor
pendukung, penghambat, dari aspek internal dan eksternal guru dan siswa.
Kemudian untuk siklus berikutnya diadakan perbaikan-perbaikan bilamana
perlu secara kualitas dan kuantitas berdasarkan hasil evaluasi dan refleksi
(Madya:2008).
4. Instrumen Penelitian
Adapun instrument/alat penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran)

14

Rencana pembelajaran ini merupakan suatu rancangan pembelajaran yang


akan dilaksanakan guru dalam proses belajar mengajar.
b. Materi yang berupa ayat-ayat Al-Quran yang dipilih guru sesuai dengan
materi pembelajaran.
c. Buku Penunjang Lembar observasi pembelajaran.
Lembar

pembelajaran

kemampuan

membaca

ini

digunakan

Al-Quran

untuk

secara

mengetahui

tartil

bagi

peningkatan

siswa

setelah

menggunakan metode qiroati.


d. Instrumen Manusia
1) Peneliti
Dalam penelitian tidakan kelas sebenarnya peneliti juga masuk
sebagai intrumen penelitian. Sebagai instrumen penelitian seorang peneliti
haruslah memiliki karakter sebagai berikut:
a) Responsif.
b) Adaptif.
c) Menekankan aspek holistik.
d) Pengembangan berbasis pengetahuan.
e) Memproses dengan segera.
f) Mampu memberikan klarifikasi dan kesimpulan.
g) Kesempatan eksplorasi (Wiriaatmadja:2004).
2. Mitra
Dalam penelitian tindakan kelas diperlukan peran mitra sejawat untuk
melakukan observasi terhadap guru sebagai peneliti. Hal ini diperlukan
untuk menilai efektifitas jalannya kegiatan belajar-mengajar. Namun
demikian keberadaan mitra tidak untuk membantu penulis melaksanakan

15

proses tindakan yang berupa kegiatan belajar-mengajar. Dalam penelitian


ini penulis menjadikan guru wali kelas V SDN Pandanretno Kec. Kajoran
Kab. Magelang sebagai mitra penulis.
5. Pengumpulan Data
a. Sumber Data
1) Dokumentasi.
2) Hasil tes membaca al Quran siswa sebelum menggunakan metode qiroati.
3) Hasil tes membaca Al Quran siswa setelah menggunakan metode qiroati..
4) Hasil pengamatan teman sejawat yang membantu sebagai mitra.
b. Cara Pengambilan Data
1) Metode dokumentasi
2) Lembar kerja siswa pada siklus I, II dan III.
3) Tes formatif I.
4) Lembar pengamatan dari teman sejawat sebagai kolaborasai dalam
penelitian
6. Analisis data
Dalam rangka menyusun dan mengelola data yang terkumpul sehingga
dapat menghasilkan suatu kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan maka
digunakan analisis data kuantitatif. Pada metode observasi digunakan data
kualitatif cara perhitungan untuk mengetahui ketuntasan belajar siswa dalam
proses belajar mengajar sebagai berikut :
a. Merekapitulasi hasil tes .
Dalam penelitian tindakan kelas, peningkatan prestasi belajar siswa
sebagai hasil tindakan merupakan aspek paling diharapkan berkaitan erat
dengan analisis tentang prestasi belajar siswa seperti: analisis daya serap,

16

ketuntasan belajar, dan nilai rata-rata. Adapun rumus yang digunakan sebagai
berikut :

Ketuntasan belajar secara individu.


Peserta dikatakan tuntas belajar secara individu bila
memperoleh persentase daya serap individu 60%
% daya serap secara klasikal = S kor total seluruh peserta x 100%
Skor idealseluruh soal

Ketuntasan belajar secara klasikal.


% ketuntasan belajar = Jumlah siswa yang tuntas x 100%
Jumlah seluruh siswa
Peserta dikatakan tuntas belajar secara klasikal bila memperoleh
persentase daya secara klasikal = 85 %

Rata-rata hasil belajar


Nilai rata rata = Jumlah nilai yang diperoleh
seluruh siswa
b. Menghitung jumlah skor yang tercapai dan prosentasenya untuk masing-masing
siswa dengan menggunakan rumus ketuntasan belajar seperti yang terdapat dalam
buku petunjuk teknis penilaian yaitu siswa dikatakan tuntas secara individual jika
mendapatkan nilai minimal 60, sedangkan secara klasikal mencapai 75 % yang
telah mencapai daya serap lebih dan sama dengan 60 %.
c. Menganalisis hasil observasi yang dilakukan oleh mitra sejawat pada kegiatan
pengelolaan pembelajaran dan lembar pengamatan perhatian siswa

H. Sistematika Penulisan
Penulisan skripsi ini terdiri atas lima bab yang tersusun dengan sistematika
sebagai berikut :

17

1. Bagian Awal
Cakupan bagian awal, meliputi:
a. Sampul
b. Lembar Berlogo
c. Judul
d. Persetujuan Pembimbing.
e. Pengesahan Kelulusan
f. Pernyataan Keaslian Tulisan
g. Moto dan Persembahan
h. Kata Pengantar
i.

Abstrak

j.

Daftar Isi

k. Daftar Tabel
l.

Daftar Gambar

m. Daftar Lampiran
2. Bagian Inti
Bab I : Pendahuluan, yang meliputi
A. Latar Belakang Masalah,
B. Rumusan Masalah,
C. Tujuan Penelitian,
D. Hipotesis Tindakan dan Indikator Keberhasilan,
E. Kegunaan Penelitian,
F. Definisi Operasional,
G. Metode Penelitian, dan
H. Sistematika penulisan skripsi.

18

Bab II: Merupakan kajian pustaka yang meliputi


A. Kemampuan Membaca Al Quran secara Tartil, serta
B. Metode Qiroati
Bab III: Merupakan laporan penelitian yang meliputi
A. Deskripsi Pelaksanaan Siklus I,
B. Deskripsi Pelaksanaan Siklus II dan
C. Deskripsi Pelaksanaan Siklus III
Bab IV: Merupakan hasil penelitian meliputi
A. Deskripsi per siklus,
B. Pembahasan dan Pengambilan Kesimpulan
.Bab V : Merupakan bagian penutup yang meliputi
A. Kesimpulan,
B. Saran- Saran.
3. Bagian Akhir
Pada bagian akhir termuat: Daftar Pustaka, Lampiran-Lampiran dan Daftar
Riwayat Hidup.

19

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kemampuan Membaca Al Quran secara Tartil
1. Keutamaan Membaca Al Quran
Fenomena yang terjadi di masyarakat kita, terutama di rumah-rumah
keluarga muslim semakin sepi dari bacaan ayat-ayat suci Al Qur'an. Hal ini
disebabkan karena terdesak dengan munculnya berbagai produk sain dan tehnologi
serta derasnya arus budaya asing yang semakin menggeser minat untuk belajar
membaca Al Qur'an sehingga banyak anggota keluarga tidak bisa membaca Al
Qur'an. Akhirnya kebiasaan membaca Al Qur'an ini sudah mulai langka. Yang ada
adalah suara-suara radio, TV, Tape recorder, karaoke, dan lain-lain.
Keadaan seperti ini adalah keadaan yang sangat memprihatinkan. Belum
lagi masalah akhlak, akidah dan pelaksanaan ibadahnya, yang semakin hari semakin
jauh dari tuntunan Rasululloh _ . Maka sangat diperlukan kerjasama dari semua fihak
untuk mengatasinya. Yaitu mengembalikan kebiasaan membaca Al Qur'an di rumahrumah kaum muslimin dan membekali kaum muslimin dengan nilai-nilai Islam,
sehingga bisa hidup secara Islami demi kebahagiaan dunia dan akhirat.
Membaca Al Quran merupakan perintah Allah SWT sebagaimana tersurat
dalam Surat Al-Alaq ayat 1-5

Artinya : Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah

menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah

20

Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan


kalam. Dia mengajarkan lepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Dalam ayat lain Allah SWT berfiman sebagai mana termaktub dalam Surat AlAnkabut ayat: 45

Artinya: Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur'an)

dan dirikanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatanperbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (salat)
adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah
mengetahui apa yang kamu kerjakan
Al-Quran merupakan wahyu, kalam atau firman Allah yang mengandung
ajaran untuk dijadikan pedoman dan tuntunan dalam tata nilai kehidupan umat
manusia dan seluruh alam, karena pada dasarnya al-Quran diturunkan sebagai
rahmat bagi alam semesta. Ajarannya berlaku sepanjang masa, sejak diturunkan
hingga hari kiamat. Kebenaran yang terkandung di dalamnya tidak dapat diragukan
lagi, karena Allah sendiri yang akan menjaganya. Allah berfirman di dalam al-Quran
surat al-Hijr ayat 9:

Artinya: Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan adz-Dzikr (al-Quran) dan


sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.

21

Ayat ini memberikan jaminan tentang kesucian dan kemurnian Al- Quran
selama-lamanya. Walaupun demikian umat Islam harus tetap berkewajiban untuk
menjaga kemurnian Al-Quran. Di antara upaya untuk menjaga kemurnian Al-Quran
adalah dengan cara membaca dan menghafalnya, sebagaimana yang pernah ditempuh
oleh para sahabat Nabi. Urusan yang mulia tersebut dilakukan oleh pesantren dan
juga lembaga pendidikan Islam, baik yang formal ataupun non-formal. Ini semakin
penting, apalagi di masa sekarang di mana kondisi masyarakat yang semakin jarang
mengamalkan nilai-nilai Al-Quran. Sehingga pesantren dan lembaga pendidikan
Islam memegang peranan penting dalam menanamkan nilai-nilai keislaman kepada
pemeluknya.
Sebagai sumber utama dalam Islam, Al-Qur`an memiliki posisi istimewa
bagi kaum muslimin baik dalam struktur keimanan (teologis) maupun dalam rumusan
kehidupan (sosial) mereka. Secara teologis, ini berkaitan dengan hakikat Al-Qur`an
itu sendiri yang merupakan kalam Allah (wahyu) yang disampaikan kepada manusia
melalui Nabi-Nya, Muhammad SAW, sebagai pedoman dan petunjuk (hudan) dalam
mengarungi kehidupan ini. Implikasinya, secara sosiologis, Al-Qur`an menjadi
sumber nilai, norma, hukum, paradigma dan inspirasi bagi seorang Muslim dalam
mengkonstruk bangunan hidup dan kehidupannya, kapanpun dan di manapun sebagai
wujud dari sifat al-Qur`an yang rahmatan li al-alamin.
Allah menurunkan Al-Qur'an kepada Nabi Muhammad SAW untuk
disampaikan kepada umat manusia. Al-Qur'an merupakan petunjuk kehidupan yang
bersifat universal, yang dapat membedakan antara benar dan salah, baik dan buruk,
halal dan haram serta sebagai landasan dan pegangan hidup bagi manusia baik secara
pribadi, keluarga, masyarakat ataupun bangsa di dunia bahkan di akhirat.

22

Al-Qur'an adalah kitab Allah yang terakhir, sumber esensi bagi Islam yang
pertama dan utama serta kitab kumpulan dari firman-firman Allah SWT. Al-Qur'an
merupakan petunjuk jalan yang lurus, yang mengikat, sebagai pedoman hidup yang
telah diridhoi Allah untuk para hamba-Nya. Hal ini sesuai dengan Firman Allah
dalam surat Al-Israa ayat 9

Artinya: Sesungguhnya al-Qur'an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang


lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mumin yang
mengerjakan amal sholeh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.
Al-Quran adalah kitab petunjuk, demikian hasil yang kita peroleh dari
mempelajari sejarah turunnya. Ini sesuai pula dengan penegasan Al-Quran: Petunjuk
bagi manusia, keterangan mengenai petunjuk serta pemisah antara yang hak dan batil.
(QS 2:185)

Artinya: (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di
dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia
dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang
hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di
negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada

23

bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka),
maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu,
pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak
menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan
bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya
yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur
Pengajaran Al-Quran pada anak merupakan dasar pendidikan Islam pertama
yang harus diajarkan. Ketika anak masih berjalan pada fitrohnya, yaitu jalan yang
terbuka untuk mendapatkan cahaya hikmah yang terpendam didalam Al-Quran, itu
akan lebih mudah dalam menerima dan memahami isi Al-Quran. Karena pada usia
ini anak masih dalam masa pertumbuhan baik fisik maupun kecerdasannya.
2. Bacaan Tartil
Kata ' Tartil ' menurut bahasa berarti jelas, racak dan teratur,sedang menurut
istilah ahli qiro`at ialah membaca Al Qur`an dengan pelan-pelan dan tenang, beserta
dengan memikirkan arti-arti Al Qur`an yang sedang dibaca, semua hukum tajwid dan
waqof terjaga dengan baik dan benar / terpelihara dengan sempurna.Menurut Jumhur
(mayoritas Ulama`) ialah Fardhu `ain. Hal ini berdasarkan kepada Firman Allah
SWT. Allah Swt. menyandarkan kata 'Tartil' kepada dzat-Nya sendiri sebagaimana
didalam firman-Nya; Dan kami tartilkan Al Qur`an dengan sunggu-sungguh tartil.

Artinya:

Dan

kami

tartilkan

Al

Qur`an

dengan

sunggu-sungguh

tartil

( QS Al Furqon: 32 )
Selain itu juga perintah Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW untuk
membaca Al Qur`an dengan 'Tartil' . Bahkan Allah SWT tidak hanya sekedar

24

menyuruh untuk bertaltil didalam membaca Al Qur`an tetapi dengan mempertegas


firman-Nya dengan kata " tartiila " yang berarti; dengan sungguh-sungguh tartil
sebagaimana tersurat di dalam surat Al Muzammil ayat 4

Artinya: Dan tartil-kanlah ( bacalah dengan tartil ) Al Qur`an itu dengan sungguhsungguh tartil.
Selain itu juga dalam firman Allah SWT yang lain, Allah SWT melarang
membaca Al Qur`an dengan cepat dan tergesa-gesa (tidak artil), sebagaimana didalam
firman-Nya

Artinya: Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu
tergesa-gesa membaca Al qur'an sebelum disempurnakan mewahyukannya
kepadamu, dan katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu
pengetahuan". ( QS Thoha: 114 ).
Dalam ayat lain Allah SWT berfirman

Artinya: Jangan engkau gerakkan lisanmu ( Muhammad ) untuk membaca Al Qur`an,


hanya

karena

cepat-cepat/

tergesa-gesa.

Sesungguhnya

menjadi

tanggungan Kami ( Allah ) penghimpunan Al Qur`an didalam dada (hati)


dan membacanya dari lisan. Maka jika Kami bacakan melalui Jibril, maka
ikutilah bacaannya. ( QS. Al Qiyamah: 16-18 ).

25

Menurut qoul sahabat Ali Karomallahu wahjhah dalam Matan Jazariyah


memberikan definisi tartil sebagai bacaan yang sesuai dengan kaidah tajwid dan
waqofnya. Tartil di dalam membaca Al Qur`an terbagi menjadi tiga macam yaitu:
a. Tahqiq, ialah membaca Al Qur`an dengan pelan-pelan,tenang, perlahan-lahan dan
memikirkan arti-artinya serta semua hukum tajwid terpelihara dengan baik, atau
hak ( makhroj dan sifat ) semua huruf terbaca dengan terang dan jelas, bacaan
semacam ini adalah bacaan madzhab dari Imam-imam yang membaca mad far`I
dan isyba` ( 3 alif ), seperti Imam Khamzah dan Waresy.
b. Hader, ialah Al Qur`an dengan cepat tapi semua hukum tajwid terpelihara dengan
baik, seperti Qoshor, ikhtilas, badal, idghom kabir dll, dapat terpelihara dengan
benar dan tepat, maksudnya sesuai dengan riwayat yang mutawatir (kondang),
bacaan semacam ini, ialah madzhab dari Imam Ibnu Katsir, Abu Amer dan semua
Imam / Rowi yang membaca mad munfashil dengan (1 alif).
c. Tadwir, ialah membaca Al Qur`an dengan cara antara tahqiq dan hader, atau
antara pelan dan cepat, tapi mujawwid ( semua hukum tajwid terjaga dengan baik
dan benar ). Madzhab ini adalah madzhab Imam-imam yang membaca mad
munfashil dengan panjang 2 alif atau 2 alif, seperti imam Ibnu Amir, Ali Al
Kisa`I, Ashim dan lain-lain (Jazari; tt: 15).
Berdasarkan paparan diatas maka keberhasilan suatu pembelajarana Al
Quran secara tartil dapat dilihat dari makhorijul khuruf, sifatul khurus, idhar, ikhfa
iqlab, mad, qolqolahsaktah, waqof dan lain-lainya sesuai kaidah tajwid. Sehingga
dalam ketartilan suatu bacaan harus berdasarkan kepada kaidah tajwid tersebut.

3. Mempelajari Al Quran

26

Al-Quran adalah kitab Allah yang diturunkan ke dunia yang harus diyakini
oleh setiap orang mukmin. Beriman kepada kitab Allah adalah salah satu rukun iman
yang ke tiga. Beriman kepada Al-Quran harus dibuktikan dengan mempelajarinya dan
mengajarkannya kepada orang lain. Mempelajari Al-Quran adalah kunci sukses hidup
dunia dan akhirat. Dengan mempelajari Al-Quran maka seseorang akan mempunyai
banyak pengetahuan yang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain.
Dalam ayat lain Allah SWT Berfiman sebagaimana termaktub dalam al
Muzammil ayat 20

Artinya : Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang)


kurang dari dua pertiga malam, atau seperdau malam atau sepertiganya dan
(demikian pula) segolongan dari orangorang yang bersama kamu. Dan Allah
menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekalikali tidak dapat menentukan batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi
keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al
Qur'an. Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang
sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia
Allah; dan orang-orang yang lain lagi yang berperang di jalan Allah, maka

27

bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Qur'an dan dirikanlah sembahyang,
tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik.
Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu
memperoleh (balasan) nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan
yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah;
sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Dari ayat-ayat tersebut diatas, dapat difahami bahwa ajaran Al-Quran memberi
kelonggaran pada umat manusia untuk belajar sesuai dengan individu. Sehingga bagi
tingkat kecerdasan rendah, selayaknya diberikan metode yang mudah untuk dicerna oleh
mereka. Begitu sebaliknya bagi yang mempunyai kecerdasan yang tinggi, harus diberikan
teknis atau metode yang sama, tetapi dalam porsi yang berbeda, karena teknis atau
metode yang sama, tetapi dalam porsi yang berbeda, karena mereka cenderung cepat
menguasai materi yang diberikan oleh guru..
Mempelajari al-Quran berarti belajar membunyikan huruf-hurufnya dan
menulisnya. Tentunya tingkatan ini adalah tingkatan yang paling awal dan sangat
menentukan keberhasilan pembelajaran al-Quran pada tingkatan selanjutnya. Pada
tingkatan lanjutan mungkin seseorang bisa mempelajari Ulumul Quran dan tafsir alQuran. Namun untuk menuju kepada tingkatan ini seseorang harus menempuh tingkatan
awal yaitu membaca dan menulis al-Quran.
Dalam perjalanannya teryata pembelajaran baca tulis Al-Quran menghadapi
problem yang tidak sedikit dan sederhana. Diantara problem yang dihadapi adalah input
siswa beragam, jumlah jam pelajaran, guru, sarana, dan metode pembelajaran baca tulis
Al-Quran yang terbatas. Mengenai input siswa yang beragam tersebut, bahwasannya ada
diantara siswa yang baru yang sudah lancar dalam membaca Al-Quran, ada yang belum
lancar, dan ada yang buta terhadap huruf Al-Quran. Heteogenitas siswa ini menjadi
problem ketika mereka berkumpul dalam satu kelas. Problem yang dihadapi guru baca

28

tulis Al-Quran tak lain adalah dalam menentukan metode dan pendekatan sehingga para
siswa mampu meraih target yang dicanangkan pihak kurikulum. Sarana prasarana yang
menunjang pembelajaran baca tulis Al-Quran pun belum terpenuhi, diantaranya buku
prestasi, buku pedoman pembelajaran, alat-alat peraga dan lain- lain sehingga
pembelajaran sangatlah sederhana dan tradisional yang pada akhirnya proses belajar
mengajar berjalan sangat lambat. walaupun belum menemukan metode dan pendekatan
tany sesuai, sarana prasarana yang sederhana guru mata pelajaran baca tulis Al-Quran
tetap melaksanakan kegiatan mengajarnya dengan metode dan pendekatan yang pernah
mengantarkannya bisa membaca dan menulis Al-Quran. Setelah pembelajaran yang
dilakukan selama satu tahun didapatkan hasil belajar yang kurang memuaskan. Diantara
hal yang kurang memuaskan adalah masih banyak ditemui kesalahan siswa dalam
membaca Al-Quran, misalnya ada beberapa siswa yang masih terbata-bata, belum
mampu mempraktekkan bacaan mad dengan benar yaitu terkadang bacaan mad tidak
dibaca panjang dan yang seharusnya pendek malah dibaca panjang. Siswa juga masih
banyak melakukan kesalahan dalam membaca hukum bacaan yang dibaca dengung dan
yang tidak dibaca dengung. Dalam hal menulis hurufhuruf Al-Quran, siswa masih terlalu
lambat dan salah dalam menentukan huruf yang harus ditulis ketika didekte oleh guru. Ini
disebabkan mereka belum hafal terhadap cara menulis huruf-huruf arab terutama
menentukan huruf yang bisa disambung dari depan dan belakang dan huruf yang hanya
bisa disambung dari depan saja.

Setelah mengetahui pentingnya mempelajari Al-Quran maka dalam


menentukan model dan metode pembelajaran harus tepat karena dengan model dan
metode pembelajaran yang baik, siswa akan lebih mudah dalam memahami materi
dan dapat meningkatkan prestasi belajar siswa, serta karakteristik siswa yang senang
terhadap pembelajaran yang menarik, menyenangkan, mengajaknya untuk aktif
bergerak baik mental maupun fisik, sehingga pembelajaran tidak membosankan.

29

Kemampuan profesional seorang guru teruji oleh kemampuan menguasai berbagai


macam model dan metode pembelajaran. Dalam model pembelajaran klasikal guru
dapat menggunakan berbagai macam metode pembelajaran. Dengan berbagai macam
metode yang digunakan akan mempermudah siswa untuk memahami materi yang
disampaikan oleh guru dalam proses pembelajaran
B. Metode Qiroati
1. Metode Pembelajaran
Kajian tentang metode pembelajaran secara akademis telah dikembangkan
sejak 2500 tahunan yang lalu. Seorang filosof bernama Plato yang hidup sekitar 427347 sebelum Nabi Isa lahir dengan metode pembelajarannya dialougue atau
sekarang dikenal dengan metode diskusi. Perkataan metode pembelajaran atau
intructional method berasal dari bahasa Yunani yaitu metha dan hodos. Metha berarti
dibalik atau di belakang hodos berarti melalui atau jalan (Rasyad; 2003:100) Plato
sendiri memberikan definisi pembelajaran adalah mengasuh jasmani dan rohani
supaya sampai kepada keindahan dan kesempurnaan yang telah dicapai (Yunus;
1999: 5).
Di masa lalu pengajaran dipandang sebagai proses mengisi otak dengan
pengetahuan. Sejalan dengan pandangan tersebut, metode yang digunakan guru hanya
berpusat pada metode ceramah. Lahirnya teori-teori baru yang menjelaskan
karakteristik belajar membawa perubahan pada watak pengajaran dan memunculkan
berbagai metode mangajar (Suparta, 1998: 159).
Mengajar bukan semata persoalan menceritakan dan belajar bukan merupakan
konsekuensi otomatis dari penuangan informasi ke dalam benak siswa. Belajar
memerlukan keterlibatan mental dan kerja siswa sendiri, penjelasan dan pemeragaan
semata tidak akan membuahkan hasil belajar yang optimal, karenanya diperlukan

30

suatu strategi yang dapat mendukung atau meningkatkan keberhasilan dalam proses
pembelajaran.
Metode adalah cara yang telah teratur dan terpikir baik-baik untuk mencapai
sesuatu maksud, cara menyelidiki (Poerwadarminta; 1986: 649). Sedangkan metode
pendidikan adalah semua cara yang digunakan dalam upaya mendidik. Kata metode
di sini diartikan secara luas. Karena mengajar adalah salah satu bentuk upaya
mendidik, maka metode yang dimaksud di sini mencakup juga metode mengajar. Ada
banyak metode mengajar dalam literatur pendidikan baik secara umum maupun
khusus pendidikan Islam. Disebut metode umum karena metode tersebut digunakan
untuk mengajar pada umumnya. Metode-metode pangajaran umum tersebut bisa saja
digunakan untuk mengajarkan ilmu pendidikan Islam untuk memperkaya metode
pendidikan Islam (Tafsir, 1998: 131).
Kemudian dari dalam Ensiklopedi Pendidikan, metode diartikan sebagai jalan,
cara yang tepat untuk melakukan sesuatu. Jadi dari bebrapa pengertian tersebut, dapat
di simpulkan bahwa metode adalah cara yang tepat dan terencana untuk melakukan
segala aktifitas guna mencapai suatu tujuan dengan hasil yang efektif dan efisien.
Seorang guru dalam proses pembelajaran tentu tidak dapat lepas dari
penggunaan metode-metode pembelajaran. Metode pembelajaran adalah suatu
pengetahuan tentang cara-cara yang digunakan guru untuk menyajikan bahan
pelajaran kepada siswa di dalam kelas, baik secara individual atau secara kelompok
agar pelajaran yang disampaikan dapat terserap, dipahami dan dimanfaatkan oleh
siswa dengan. Jadi seorang guru harus pandai memilih metode pembelajaran yang
tepat agar tujuan pembelajaran dapat tercapai.

31

Penggunaan metode pembelajaran yang kurang tepat dapat menghambat


pencapaian tujuan dalam proses pembelajaran. Sedangkan apabila metode yang
digunakan guru tepat, maka tujuan pembelajaran dapat tercapai secara efektif.
Pada kenyataannya, cara atau metode mengajar yang digunakan guru untuk
menyampaikan informasi kepada siswa berbeda dengan cara yang ditempuh untuk
memantapkan siswa dalam menguasai pengetahuan, keterampilan serta sikap. Begitu
juga dengan metode yang digunakan, untuk memotivasi siswa agar mampu
menggunakan pengetahuannya untuk memecahkan suatu masalah yang dihadapi atau
untuk menjawab suatu pertanyaan tertentu, akan berbeda dengan metode yang
digunakan untuk tujuan agar siswa mampu berpikir dan mengemukakan pendapatnya
sendiri dalam menghadapi berbagai persoalan.
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memilih metode pembelajaran.
Hal-hal tersebut adalah (1) metode mengajar harus dapat membangkitkan motivasi,
minat, atau gairah belajar siswa, (2) mampu memberikan kesempatan bagi siswa
untuk mewujudkan hasil karya, (3) dapat merangsang keinginan siswa untuk belajar
lebih lanjut, melakukan eksplorasi dan inovasi (pembaharuan), (4) harus dapat
mendidik murid dalam teknik belajar sendiri dan cara memperoleh pengetahuan
melalui usaha pribadi, (5) mampu menyajikan materi yang bersifat pengalaman atau
situasi nyata dan bertujuan, (6) dapat menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai
dan sikap-sikap utama yang diharapkan dalam kebiasaan cara bekerja yang baik
dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan memperhatikan hal-hal tersebut, guru dapat menggunakan metode
yang tepat untuk membelajarkan suatu materi kepada siswanya dan dengan metode
tersebut tujuan pembelajaran dapat tercapai. Ketika sebuah pembelajaran mengalami
hambatan untuk mencapai tujuannya dengan efektif maka sebuah metode memegang

32

peranan yang penting. Sebuah metode pembelajaran mempunyai fungsi-fungsi


sebagai berikut :
a. Sebagai alat motivasi ekstrinsik
Metode berfungsi sebagai alat ekstrinsik karena dapat mendorong
terjadinya proses pembelajaran yang lebih hidup di dalam kelas. Motifasi ini
terlepas dari unsur utama pembelajaran yaitu guru, peserta didik dan bahan ajar
b. Sebagai strategi pembelajaran
Ini terlepas dari unsur utama pembelajaran yaitu guru, peserta didik
dan bahan ajar
c. Sebagai alat mencapai tujuan
Pembelajaran selalu mempunyai tujuan yang berbeda. Berdasarkan tujuan
tersebut maka guru harus menyesuaikan metode pembelajaran yang akan
diterapkan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan metode adalah :
anak didik, tujuan sera fasilitas. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan
metode
Seorang guru dalam konteks proses interaksi belajar mengajar yang
ditujukan untuk mengatasi kebosanan murid, sehingga dalam situasi belajar mengajar
siswa senantiasa menunjukkan ketekunan, antusiasme serta penuh partisipasi, maka
diperlukan adanya variasi metode yang dipakai. Perlu diketahui bahwa tidak ada satu
metode pun yang dianggap paling baik diantara metode-metode yang lain. Tiap
metode mempunyai karakteristik tertentu dengan segala kelebihan dan kelemahan
masing masing. Suatu metode mungkin baik untuk suatu tujuan tertentu, pokok
bahasan maupun situasi dan kondisi tertentu, tetapi mungkin tidak tepat untuk situasi
yang lain. Demikian pula suatu metode yang dianggap baik untuk suatu pokok

33

bahasan yang disampaikan oleh guru tertentu, kadang-kadang belum tentu berhasil
dibawakan oleh guru lain.
Adakalanya seorang guru perlu menggunakan beberapa metode dalam
menyampaikan suatu pokok babasan tertentu. Dengan variasi beberapa metode,
penyajian pengajaran menjadi lebih hidup. Misalnya pada awal pengajaran, guru
memberikan suatu uraian dengan metode ceramah, kemudian menggunakan contohcontoh melalui peragaan dan diakhiri dengan diskusi atau tanya-jawab. Di sini bukan
hanya guru yang aktif berbicara, melainkan siswa pun terdorong untuk berpartisipasi.
Seorang guru yang pandai berpidato dengan segala humor dan variasinya, mungkin
tidak mengalami kesulitan dalam berbicara, ia dapat memukau siswa dan awal sampai
akhir pengajaran. Akan tetapi bagi seorang guru bicara, uraiannya akan terasa kering,
untuk itu ia dapat mengatasi dengan uraian sedikit saja, diselingi tanya jawab,
pemberian tugas, kerja kelompok atau diskusi sehingga kelemahan dalam berbicara
dapat ditutup dengan metoda lain. Ketrampilan mengadakan variasi ini bertujuan
untuk:
a. Menimbulkan dan membangkitkan perhatian siswa kepada aspek belajar
mengajar yang relevan.
b. Membarikan kesempatan bagi perkembangan bakat ingin mengetahui dan
menyelidiki pada siswa.
c. Memupuk tingkah laku yang positif terhadap guru dan sekolah dengan berbagai
cara mengajar yang lebih hidup dan lingkungan belajar yang lebih baik.
d. Memberi kesempatan kepada siswa untuk memperoleh cara menerima pelajaran
yang disenanginya (Usman; 2003: 84).
Selanjutnya pengertian tentang pembelajaran dalam Kamus Besar Bahasa
Indonesia telah dijelaskan bahwa kata pembelajaran itu sendiribermakna proses, cara

34

menjadikan orang atau makhluk hidup belajar. Jadi dari kedua pengertian tersebut
dapat ditarik kesimpulan bahwa arti dari metode pembelajaran adalah suatu taktik
atau trik yang harus dikuasai dan diterapkan pendidik dalam berlangsungnya proses
belajar mengajar. Agar tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan dapat dicapai
secara efektif dan efisien.
Pada dasarnya proses belajar mengajar mempunyai suatu paradigma.
Paradigma lama mengatakan bahwa proses belajar mengajar cenderung di istilahkan
sebagai suatu pengajaran, yang mana term ini lebih dikonsentrasikan pada kegiatan
pendidik dan tidak pada peserta didik, proses belajar mengajar dapat dikatakan
tercapai maksud dan tujuannya bila pendidik telah mnyampaikan ilmu pengetahuan
kepada peserta didik. Jadi term ini sama sekali tidak dikaitkan dengan proses belajar.
Berbeda dengan paradigma baru yang mengatakan bahwa proses belajar cenderung di
istilahkan sebagai suatu pembelajaran tidak lagi sebagai pengajaran. Artinya term
pembelajaran ini sudah mulai dikaitkan dengan proses belajar peserta didik, sehingga
proses belajar mengajar lebih dikhususkan oleh aktifitas siswa, dengan tidak melepas
peranan pendidik.
Seorang guru dituntut untuk memiliki keterampilan dalam menentukan atau
memilih kegiatan yang tepat dan efektif. Untuk mencapai tujuan dari pengajaran yang
telah ditentukan sebelumnya. Dengan kata lain guru dituntut untuk dapat menentukan
metode pembeljaran yang tepat dan efektif. Namun tidak ada strategi pembelajaran
yang baik untuk semua situasi dan kondisi. Setiap situasi dan kondisi tertentu
memiliki metode mengajar yang tepat dan sesuai dengan situasi dan kondisi tersebut.
Oleh karena itu guru harus mengetahui dasar-dasar pemilihan metode pengajaran agar
tujuan yang telah ditentukan dapat tercapai.

35

Proses pembelajaran menuntut guru dalam merancang berbagai macam


metode pembelajaran yang memungkinkan terjadinya proses pembelajaran dari diri
siswa. Rancangan ini merupakan acuan dan panduan, baik bagi guru sendiri maupun
pagi siswa. Keaktifan dalam pembelajaran tercermin dari kegiatan baik yang
dilakukan guru maupun siswa dengan menggunakan ciri-ciri sebagai berikut:
a. Adanya keterlibatan siswa dalam menyusun perencanaan, proses pembelajaran
dan evaluasi.
b. Adanya

keterlibatan

intelectual-emosional

siswa

baik

melalui

kegiatan

mengalami, menganalisis, berbuat dan pembentukan sikap.


c. Adanya keikutsertaan siswa secara kreatif dalam menciptakan situasi yang cocok
untuk berlangsungnya proses pembelajaran
d. Guru bertindak sebagai fasilitator (pemberi kemudahan) dan koordinator kegiatan
relajar siswa bukan sebagai pengajar (instruktur) yang mendominasi kegiatan di
kelas.
e. Biasakan menggunakan berbagai metode, media dan alat secara bervariasi
(Asrori, 2008: 91).
Langkah selanjutnya dalam proses pemilihan strategi pembelajaran adalah
penentuan lingkungan belajar. Dalam hal ini ada tiga setting belajar dan studi
independen atau kerja praktek. Masing- masing dari ketiga tersebut mempunyai
strategi pembelajaran sendiri- sendiri. Untuk ketiga kelas besar lebih cocok di
gunakan metode ceramah atau diskusi kelompok, untuk kegiatan laboratorium lebih
tepat di gunakan alat- alat, dan kegiatan studi praktek karena dengan praktek akan
memungkinkan siswa mendapat pengalaman langsung mengenai tanggungjawab yang
akan diembannya kelak.

36

Dalam memilih suatu strategi, hendaknya dapat mengajak peserta didik untuk
belajar secara aktif. Ketika peserta didik pasif atau hanya menerima pelajaran dari
guru, ada kecenderungan untuk cepat melupakan pelajaran yang telah diberikan.
Dalam proses belajar mengajar (PBM) akan terjadi interaksi antara peserta didik dan
pendidik. Peserta didik adalah seseorang atau sekelompok orang sebagai pencari,
penerima pelajaran yang dibutuhkannya, sedang pendidik adalah seseorang atau
sekelompok orang yang berprofesi sebagai pengolah kegiatan belajar mengajar dan
seperangkat peranan lainnya yang memungkinkan berlangsungnya kegiatan belajar
mengajar yang efektif.
Jika ditelusuri lebih jauh tentang kompetensi profesional, kemudian
dibandingkan dengan apa yang harus dilakukan dalam metode pembelajaran, dapat
diperoleh kesan bahwa:
a.

Dalam metode pembelajaran diperlukan landasan, baik filosofis, psikologis


maupun teori-teri dalam belajar.

b.

Dalam pengembangan isi atau materi diperlukan kemampuan mengorganisasi


materi dalam pembelajaran dan urutan yang rasional.

c.

Dalam melaksanakan prses pembelajaran sebagai implementasi metode


pembelajaran diperlukan kemampuan mengangani pelajaran, menggunakan alat,
metode dan fasilitas belajar.

d.

Untuk menilai hasil pencapaian pembelajaran diperlukan kemampuan


mengevaluasi.

e.

Pada tingkat yang lebih tinggi metode pembelajaran diarahkan untuk


menumbuhkan kepribadian siswa sesuai dengan tujuan akhir pendidikan yang
hendak dicapai (Asrori; 2008: 97).

37

Metodologi mengajar dalam dunia pendidikan perlu dimiliki oleh pendidik,


karena keberhasilan Proses Belajar Mengajar (PBM) bergantung pada cara mengajar
gurunya. Jika cara mengajar gurunya enak menurut siswa, maka siswa akan tekun,
rajin, antusias menerima pelajaran yang diberikan, sehingga diharapkan akan terjadi
perubahan dan tingkah laku pada siswa baik tutur katanya, sopan santunnya, motorik
dan gaya hidupnya.
2. Metode Pembelajaran Membaca Al-Quran
Metodologi Pembelajaran Al-Quran dikalangan umat Islam belakangan ini
semakin berkembang dan membudaya di masyarakat. Hal ini terjadi karena tidak sedikit
jumlah anak-anak dan orang dewasa yang Belum mampu membaca Al-Quran dengan
baik, sehingga prosentasenya dari tahun ke tahun semakin bertambah. Fenemona ini
bukan hanya berkembang di kalangan keluarga yang penghayatannya ke-Islamannya
mendalam, khususnya para pemuka agama Islam itu sendiri, tetapi juga berpengaruh pada
masyarakat awam yang sebagian besar dari mereka belum memahami makna ajaran
agama Islam belum sempurna. Sementara di satu sisi mereka sadar bahwa agama bukan
sekedar penerapan tetapi memerlukan ajaran-ajaran secara benar

Metode-metode pembelajaran baca tulis Al-Qur'an telah banyak berkembang


di Indonesia sudah sejak lama. Tiap-tiap metode membaca Al-Quraan dikembangkan
berdasarkan

karakteristiknya.

Beberapa

contoh

metode

pembelajaran

yang

berkembang di Indonesia antara lain adalah sebagai berikut (Komari, 2008):


a. Metode Baghdadiyah.
Metode ini disebut juga dengan metode Eja , berasal dari Baghdad
masa pemerintahan khalifah Bani Abbasiyah. Tidak tahu dengan pasti siapa
penyusunnya. Dan telah seabad lebih berkembang secara merata di tanah air.
Secara dikdatik, materi-materinya diurutkan dari yang kongkrit ke abstrak, dari

38

yang mudah ke yang sukar, dan dari yang umum sifatnya kepada materi yang
terinci ( khusus ).
Secara garis besar, koidah baghdadiyah memerlukan 17 langkah. 30 huruf
hijaiyyah selalu ditampilkan secara utuh dalam tiap langkah. Seolah-olah
sejumlah tersebut menjadi tema central dengan berbagai variasi. Variasi dari tiap
langkah menimbulkan rasa estetika bagi siswa (enak didengar) karena bunyinya
bersajak berirama. Indah dilihat karena penulisan huruf yang sama. Metode ini
diajarkan

secara

klasikal

maupun

privat.

Beberapa

kelebihan

Qoidah

Baghdadiyah antara lain :


1) Bahan/materi pelajaran disusun secara sekuensif.
2) 30 huruf abjad hampir selalu ditampilkan pada setiap langkah secara utuh
sebagai tema sentral.
3) Pola bunyi dan susunan huruf (wazan) disusun secara rapi.
4) Ketrampilan mengeja yang dikembangkan merupakan daya tarik tersendiri.
5) Materi

tajwid

secara

mendasar

terintegrasi

dalam

setiap

langkah.

Beberapa kekurangan Qoidah baghdadiyah antara lain :


a) Kaidah Baghdadiyah yang asli sulit diketahui, karena sudah mengalami
beberapa modifikasi kecil.
b) Penyajian materi terkesan menjemukan.
c) Penampilan beberapa huruf yang mirip dapat menyulitkan pengalaman
siswa.
d) Memerlukan waktu lama untuk mampu membaca Al-Qur'an
b. Metode Iqro.
Metode Iqro disusun oleh Bapak As'ad Humam dari Kotagede
Yogyakarta dan dikembangkan oleh AMM (Angkatan Muda Masjid dan

39

Musholla) Yogyakarta dengan membuka TK Al-Qur'an dan TP Al-Qur'an.


Metode Iqro semakin berkembang dan menyebar merata di Indonesia setelah
munas DPP BKPMI di Surabaya yang menjadikan TK Al-Qur'an dan metode
Iqro sebagai sebagai program utama perjuangannya. Metode Iqro terdiri dari 6
jilid dengan variasi warna cover yang memikat perhatian anak TK Al-Qur'an. 10
sifat buku Iqro adalah :
1) Bacaan langsung.
2) CBSA
3) Privat
4) Modul
5) Asistensi
Bentuk-bentuk pengajaran dengan metode Iqro antara lain :
1) TK Al-Qur'an
2) TP Al-Qur'an
3) Digunakan pada pengajian anak-anak di masjid/musholla
4) Menjadi materi dalam kursus baca tulis Al-Qur'an
5) Menjadi program ekstra kurikuler sekolah
6) Digunakan di majelis-majelis taklim
b. Metode Al Barqy
Metode al-Barqy dapat dinilai sebagai metode cepat membaca al-Qur'an
yang paling awal. Metode ini ditemukan dosen Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel
Surabaya, Muhadjir Sulthon pada 1965. Awalnya, al-Barqy diperuntukkan bagi siswa
SD Islam at-Tarbiyah, Surabaya. Siswa yang belajar metode ini lebih cepat mampu
membaca al-Qur'an. Muhadjir lantas membukukan metodenya pada 1978, dengan
judul Cara Cepat Mempelajari Bacaan al-Qur'an al-Barqy. MUHADJIR SULTHON

40

MANAJEMEN (MSM) merupakan lembaga yang didirikan untuk membantu


program pemerintah dalam hal pemberantasan buta baca tulis Al Quran dan praktis.
Disusun secara lengkap dan sempurna, variatif, komunikatif, fleksibel dan dilengkapi
cara membaca dengan huruf latin. Berpusat di Surabaya, dan telah mempunyai
cabang di beberapa kota besar di Indonesia, Singapura & Malaysia. Metode ini
disebut anti lupa karena mempunyai struktur yang apabila pada saat siswa lupa
dengan huruf-huruf/ suku kata yang telah dipelajari, maka ia akan dengan mudah
dapat mengingat kembali tanpa bantuan guru. Penyebutan anti lupa itu sendiri adalah
dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Departemen Agama RI. Metode ini
diperuntukkan bagi siapa saja mulai anak-anak hingga orang dewasa. Metode ini
mempunyai keunggulan anak tidak akan lupa sehingga secara langsung dapat
mempermuda dan mempercepat anak / siswa belajar membaca. Waktu untuk belajar
membaca Al Quran menjadi semakin singkat.
Keuntungan yang di dapat dengan menggunakan metode ini adalah :
1) Guru mempunyai keahlian tambahan sehingga dapat mengajar dengan lebih baik,
bisa menambah penghasilan di waktu luang dengan keahlian yang dipelajari),
2) Murid merasa cepat belajar sehingga tidak merasa bosan dan menambah
kepercayaan dirinya karena sudah bisa belajar dan mengusainya dalam waktu
singkat, hanya satu level sehingga biayanya lebih murah),
3) Sekolah

menjadi

lebih

terkenal

karena

murid-muridnya

mempunyai

kemampuan untuk menguasai pelajaran lebih cepat dibandingkan dengan sekolah


lain).
d. Metode Tilawati.
Metode Tilawati disusun pada tahun 2002 oleh Tim terdiri dari Drs.H. Hasan
Sadzili, Drs H. Ali Muaffa dkk. Kemudian dikembangkan oleh Pesantren Virtual Nurul

41

Falah Surabaya. Metode Tilawati dikembangkan untuk menjawab permasalahan yang


berkembang di TK-TPA, antara lain: Mutu Pendidikan Kualitas santri lulusan TK/TP Al
Quran belum sesuai dengan target. Metode Pembelajaran Metode pembelajaran masih
belum menciptakan suasana belajar yang kondusif. Sehingga proses belajar tidak efektif.
Pendanaan Tidak adanya keseimbangan keuangan antara pemasukan dan pengeluaran.
Waktu pendidikan Waktu pendidikan masih terlalu lama sehingga banyak santri drop out
sebelum khatam Al-Qur'an. Kelas TQA Pasca TPA TQA belum bisa terlaksana. Metode
Tilawati memberikan jaminan kualitas bagi santri-santrinya, antara lain :
2) Santri mampu membaca Al-Qur'an dengan tartil.
3) Santri mampu membenarkan bacaan Al-Qur'an yang salah.
4) Ketuntasan belajar santri secara individu 70 % dan secara kelompok 80%.
Prinsip-prinsip pembelajaran Tilawati :
a) Disampaikan dengan praktis.
b) Menggunakan lagu Rost.
e. Dirosa ( Dirasah Orang Dewasa )
Dirosa merupakan sistem pembinaan islam berkelanjutan yang diawali dengan
belajar baca Al-Quran. Panduan Baca Al-Quran pada Dirosa disusun tahun 2006 yang
dikembangkan Wahdah Islamiyah Gowa. Panduan ini khusus orang dewasa dengan
sistem klasikal 20 kali pertemuan. Buku panduan ini lahir dari sebuah proses yang
panjang, dari sebuah perjalanan pengajaran Al Qur'an di kalangan ibu-ibu yang dialami
sendiri oleh Pencetus dan Penulis buku ini. Telah terjadi proses pencarian format yang
terbaik pada pengajaran Al Qur'an di kalangan ibu-ibu selama kurang lebih 15 tahun
dengan berganti ganti metode. Dan akhirnya ditemukanlah satu format yang sementara
dianggap paling ideal, paling baik dan efektif yaitu memadukan pembelajaran baca AlQur'an dengan pengenalan dasar-dasar keislaman. Buku panduan belajar baca Al-

42

Qur'annya disusun tahun 2006. Sedangkan buku-buku penunjangnya juga yang dipakai
pada santri TK-TP Al-Qur'an.
Panduan Dirosa sudah mulai berkembang di daerah-daerah, baik Sulawesi,
Kalimantan maupun beberapa daerah kepulauan Maluku; yang dibawa oleh para da,i .
Secara garis besar metode pengajarannya adalah Baca-Tunjuk-Simak-Ulang, yaitu
pembina membacakan, peserta menunjuk tulisan, mendengarkan dengan seksama
kemudian mengulangi bacaan tadi. Tehnik ini dilakukan bukan hanya bagi bacaan
pembina, tetapi juga bacaan dari sesama peserta. Semakin banyak mendengar dan
mengulang, semakin besar kemungkinan untuk bisa baca Al-Qur'an lebih cepat.
Seorang pengajar baca tulis Al-Qur'an , tidak serta merta mengadopsi metode
yang baru dikenalnya, apalagi jika hanya mendapatkan informasi saja tentang metode
tersebut. Para Pembina harus melakukan kajian yang mendalam, sebelum menetapkan
metode apa yang akan dipakai dalam mengajarkan baca tulis Al-Qur'an kepada santri.
Beberapa pertimbangan dalam pemilihan metode pengajaran antara lain :
a. Mudah dan murahnya mendapatkan pelatihan-pelatihan bagi para pembina.
b. Mudah dikuasai oleh mayoritas Ustadz/ah
c. Mudah dan murah mendapatkan buku panduan
d. Mudah dan sederhana pengelolaan pengajarannya.
e. Jika beberapa metode lolos pertimbangan di atas, maka ditentukan pemilihan
berdasarkan skala prioritas.
Metode apapun yang berkembang, masing-masing mempunyai kelebihan dan
kekurangan. Efektifitas, efisiensi, cepat mudahnya sebuah metode pengajaran berbedabeda di tiap daerah. Banyak faktor yang mempengaruhinya. Penggabungan beberapa
metode

pengajaran

belum

tentu

membuahkan

hasil

yang

baik.

Perlu konsistensi bagi pembina dalam menerapkan sebuah metode apabila telah dipilih,

43

sebab ganti-ganti metode akan menyebabkan kebingungan bagi pembina, terlebih lagi
bagi santri.
3. Metode Qiroati
a. Sejarah Metode Qiroati
Berawal dari ketidakpuasan dan prihatin melihat proses belajar mengajar Al
Quran di madrasah, mushala, masjid dan lembaga masyarakat muslim yang pada
umumnya belum dapat membaca AI Ouran dengan baik dan benar, Almarhun KH.
Dachlan Salim Zarkasyi, tergugah untuk metakukan pengamatan dan mengkaji secara
seksama lembaga-lembaga di atas dimana ternyata metode yang dipergunakan oleh
para guru dan pembimbing Al Quran dinilai lamban, ditambah sebagian guru ngaji
(ustadz) yang masih asal-asalan mengajarkan Al Quran sehingga yang diperoleh
kurang sesuai dengan kaidah ilmu tajwid.
Hal itulah yang mendorong Almarhum K.H. Dachlan Salim Zarkasyi pada
tahun 1963 memulai menyusun metode baca tulis Al Quran yang sangat praktis.
Berkat Inayah Allah beliau telah menyusun 10 jilid yang dikemas sangat sederhana.
Almarhum KH. Dachlan Salim Zarkasyi dalam perjalanan menyusun metode baca
tulis Al Quran sering melakukan studi banding keberbagai pesantren dan madrasah Al
Quran hingga beliau sampai ke Pesantren Sedayu Gresik Jawa Timur (tepatnya pada
bulan Mei 1986) yang pada saat itu dipimpin oleh Almukarram K.H. Muhammad.
Almarhum K.H. Dachlan Salim Zarkasyi tertarik untuk melakukan studi banding
sekaligus bersilaturahmi ke Pesantren Sedayu Gresik, karena TK Al Quran balitanya
(4-6 tahun), yang dirintis oleh K.H. Muhammad sejak tahun 1965 dengan jumlah
muridnya 1300 siswa yang datang dari berbagai kepulauan yang ada di Indonesia.
Maka dapat disimpulkan TK Al Quran Sedayu adalah TK Al Quran pertama di
Indonesia bahkan di dunia.

44

Sebulan setelah silaturahmi ke Pesantren Sedayu Gresik tepatnya pada tanggal 1


Juli 1986 , KH. Dachlan Salim Zarkasyi mencoba membuka TK Al Quran yang
sekaligus mempraktekan dan mengujikan metode yang disusunnya sendiri dengan
target rancana 4 tahun seluruh muridnya akan khatam Al Quran. Berkat Inayah Allah
SWT., diluar dugaan dalam perjalanan 7 bulan ada beberapa siswa yang telah mampu
membaca beberapa ayat Al Quran, serta dalam jangka waktu 2 tahun telah
menghatamkan Al Quran dan mampu membaca dengan baik dan benar (bertajwid).
TK Al Quran yang dipimpinnya makin dikenal keberbagai pelosok karena
keberhasilan mendidik siswa-siswinya. Dari keberhasilan inilah banyak yang
melakukan studi banding dan meminta petunjuk cara mengajarkan metode yang
diciptakannya. K.H. Dachlan Salim Zarkasyi secara terus-menerus melakukan
evaluasi dan meminta penilaian dah para Kyai Al Quran atas motode yang
diciptakannya.. Atas usul dari Ustadz A. Djoned dan Ustadz Syukri Taufiq, metode
ini diberi istilah dengan nama "QIRAATI" dibaca "QIROATI" yang artinya
BACAANKU (pada saat itu ada 10 jilid).
Memperhatikan perjalanan sejarah penyusunan metode Qiroati, tampaknya K.H.
Dachlan Salim Zarkasyi sangat didukung oleh para Kyai umul Quran, walaupun
menurut penuturannya beliau ini bukanlah santri namun kehidupannya selalu dekat
dengan para Kyai sehingga tampak tawadu', mukhtish dan berwibawa. Atas restu para
Kyai metode Qiroati selanjutnya menyebar luas dan digunakan sebagai materi dasar
dalam pengajaran baca tulis Al Quran di masjid, madrasah, TKA, TPA, TPQ,
Pesantren dan Sekolah Umum. Qiroati diminati oteh mayoritas para pendidik Al
Quran dikarenakan memiliki beberapa perbedaan dengan metode lain diantaranya :
1) Berkesinambungan antara halaman ke halaman berikutnya.
2) Berkesinambungan antara jilid satu dan seterusnya

45

3) Disesuaikan dengan usia para pelajar Al Quran


4) Kata dan kalimatnya tidak keluar kaidah ayat-ayat Al Quran tidak kedaerahan
5) Setiap Pokok Bahasan sudah diterapkan ilmu Tajwid
6) Dilengkapi Petunjuk mengajar setiap Pokok Bahasan
7) Dilengkapi Buku Gharib, Musykilat dan Tajwid Praktis
8) Sangat mudah untuk diucapkan
Dari tahun ketahun perkembangan Qiraati makin meluas keseluruh pelosok
negeri bahkan di beberapa negara asing tercatat sampai tahun 2000 telah masuk
kenegara Australia, Malaysia, Brunei Darusalam, Singapura. Dari perkembangan
tersebut Almarhum K,H. Dachian Salim Zarkasyi tidak terlalu gembira bahkan
merasa khawatir karyanya ini disalah gunakan yang berbau bisnis belaka, untuk itu
pada tahun 1990 beliau mengundang seluruh kepala TKA/TPA dan Lembaga yang
mempergunakan Qiroati pada suatu acara Silatnas Nasional untuk mentashhih ulang
para kepala TKA/TPA dan pengelola Qiroati sekaligus menunjuk Koordinator tingkat
Propinsi dan Kota Besar yang ada di Indonesia, Dari hasil Silatnas Qiroati tersebut
ada beberapa hal yang perlu digaris bawahi, yang merupakan amanat untuk seluruh
pengguna Qiroati, diantaranya :
1) Saya tidak ingin menyebarkan luaskan Qiroati tetapi ingin menyebarkan ilmu
Qiroati yang saya ijazahkan.
2) Qiroati tidak untuk diperjualbelikan secara bebas.
3) Siapa saja boleh belajar dan mengaiarkan Qiroati dengan syarat mau ditashhih
(Yayasan Pendidikan Al Quran Raudlotul Mujawwidin, 2007).
b. Ciri Khas Qiroati
Metode qiroati dalam pengembangannya dan penyebarannya tidak seperti
metode lain, sebab netode ini melalui buku tau modul qiroati tidak boleh dijual bebas

46

oleh sembarang orang, akan tetapi harus melalui koordinator yang bersedia berpegang
teguh pada misi dan amanah tersebut.
Misi qiroati adalah membudayakan membaca Al Quran yang benar dan
membrantas bacaan Al Quran yang salah kaprah. Sedangkan amanah qiroati adalah
jangan mewariskan kepada anak-anak bacaan Al Quran yang salah, jangan asal jual
buku, berikan kepada guru yang lulus taskhih saja, guru yang belum lulus taskhih
hendaknya dibina sampai lulus dan guru yang sudah lulus hendaknya diberikan
petunjuk mengajar/ datatar (Bunyamin Dachlan; 2004:29)
Qiraati adalah suatu metoda dalam mengajarkan membaca al qur-an yang
berorientasi kepada hasil bacaan murid secara mujawwad murattal dengan
mempertahankan mutu pengajaran dan mutu pengajar melalui mekanisme sertifikasi/
syahadahHanya pengajar yang telah mendapatkan sertifikasi/ syahadah yang diijinkan
untuk mengajarkan Qiraati. Hanya lembaga yang memiliki sertifikasi/ syahadah yang
diijinkan untuk mengembangkan Qiraati.
c. Teknik Pembelajaran Qiroati
Yang dimaksud teknik pembelajaran disini adalah cara mengajarkan Al Quran
dengan menggunakan metode qiroati. Adapaun cara-cara yang dipakai dalam
membaca Al Quran dengan metode

qiroati dalam pelaksanaan menggunakan

beberapa langkah yaitu:


1) Sejak awal langsung membaca huruf-huruf hijaiyah yang berharakat tanpa
mengeja.
2) Langsung praktek secara mudah dan praktis bacaan yang bertajwid, siswa tidak
harus belajar ilmu tajwid untuk dapat membaca dengan baik dan benar.
3) Materi pelajaran diberikan secara bertahap dari ayng mudah menuju yang sulit,
dari yang umum menuju yang khusus sesuai dengan kaidah.

47

4) Materi pelajaran diberikan sesuai dengan sistim modul, tidak diperbolehkan


belajar modul diatasnya kalau belum enguasai modul yang dibawahnya.
5) Pelajaran yang diberikan selalu diulang-ulang dengan memperbanyak latihan
(drill) menjadikan siswa selalu ingat dan menguasai pelajaran yang diberikan
dengan pola sederhana.
6) Belajar sesuai dengan kemampuan dan kecerdasan siswa.
7) Evalausi dilakukan setiap kali pertemuan.
8) Pemakai metode qiroati harus melalu taskhih bacaan Al Quran oleh ahli Al
Quran (Yayasan Pendidikan Al Quran Raudlotul Mujawwidin, 2007)
Adapun hal-hal penting yang mejadi komponen penting dari metode qiroati
ini adalah:
1) Ditinjau dari materi
a) Materi qiroati disusun berdasarkan tingkat usia mental dan kematangan peserta
didik. Oleh karena itu buku qiroati disusun dalam berbagai tingkatan yaitu untuk
usia TK, SD/MI, SMP, SMA, Mahasiswa dan dewasa.
b) Materi qiroati disusun berdasarkan tingkat kesulitan dari yang rendah menuju
kepada yang tinggi. Sedangkan ruang lingkup materi pengajaran meliputi;
-

Jilid 1 untuk makhorijul khuruf, sifatul khuruf dan harokat.

Jilid 2 untuk ketrampilan mad dan kharokat lengkap

Jilid 3 untuk ketrampilan Mad Tobii, Tanda Sukun, Lam Qomariyah

Jilid 4, 5 untuk ketrampilan Qolqolah, Idzhar Halqi, Idghom, Iqlab, Waqof.

Jilid 6 untuk ketrampilan idzhar Halqi, Wasol,Lat. Al Quran Juz I.

2) Ditinjau dari metode


a) Proses pengajarannya menekankan pada mengulang-ulang bacaan sampai
benar (drill)

48

b) Sistem yang dipakai adalah sistem modul yang artinya siswa tidak boleh
pokok bahasan yang baru sebelum paham betul pokok bahasan yang lama.
3) Ditinjau dari pengajarnya
a) guru qiroati sebelum mengajar metode ini diharuskan tashih dahulu kepada
guru ahli yang disebut koordinator metode qiroati. Biasanya seorang
koordinator membawahi satu wilayah kabupaten.
b) Guru dianjurkan mengukuti penataran atau pembinaan memahami metode
qiroati ini meskipun telah lulus tashih.
d. Contoh Materi Pembelajaran Qiroati
-

Jilid 1 untuk makhorijul khuruf, sifatul khuruf dan harokat. Contoh :

d $\ d@
h<
-

lL

Jilid 2 untuk ketrampilan mad dan kharokat lengkap, contoh :

q;a

Z6}

8 Re

P &i

_BY L=i kJY

Jilid 3 untuk ketrampilan ikhfa, contoh :

xE gb
m Q 8 =Ne
-

8rD

$ 8 p 9Ri

h d P$

=} 9] x E
r qfbY BZm

Jilid 4 untuk ketrampilan idghom, contoh :

d ?m

} = j2e

49

je ] 9Ji I m fi Q gjR}ojY uni , =1


kbe =~- g^} e p z~E
-

Jilid 6 untuk ketrampilan idzhar, contoh :

R5 < : GQ oi
#jRm #m obA

~i 1 < m

50

C. Hubungan Metode Qiroati dengan Kemampuan Membaca Al-Quran secara Tarlil


Hasil belajar merupakan suatu bidang yang sangat menarik untuk dikaji namun
cukup rumit sehingga menimbulkan berbagai perbedaan pandangan. Hasil belajar adalah
suatu hasil yang telah dicapai setelah mengalami proses belajar mengajar atau setelah
mengalami interaksi dengan lingkungannya guna memperoleh ilmu pengetahuan dan
akan menimbulkan perubahan tingkah laku yang relatif menetap dan tahan lama.
Berdasarkan penjelasan di atas maka dapat dikemukakan bahwa peningkatan
penguasaan materi pelajaran pada anak, adalah sangat penting. Namun usaha ke arah itu
haruslah lewat jalan atau suatu model pembelajaran agar dapat merangsang kemampuan
anak dan dapat membuat kombinasi baru, sebagai kemampuan untuk respons anak agar
belajar, serta merangsang agar anak memiliki ketrampilan.
Mengingat pentingnya peningkatan penguasan materi pelajaran siswa tersebut,
maka di sekolah perlu disusun suatu metode pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil
belajar. Metode tersebut diantaranya meliputi pemilihan pendekatan, metode atau model
pembelajaran. Dalam metode pengajaran ada dua aspek yang paling menonjol yaitu
strategi pembelajaran dan media pembelajaran sebagai alat bantu mengajar. Dari hal
tersebut dapat diketahui bahwa kedudukan media pendidikan, strategi pembelajaran
sebagai alat bantu mengajar ada dalam satu lingkungan yang diatur oleh guru. Dengan
istilah mediator, media atau model pembelajaran yang mempunyai fungsi dan peran
untuk mengatur hubungan yang efektif antara dua belah pihak dalam proses belajar
mengajar yaitu siswa dan isi pelajaran.
Dengan kata lain guru sebagai mediator untuk memberikan isi pelajaran kepada
siswa, sama halnya dengan metode qiroati yaitu matode yang digunakan untuk materi
yang membutuhkan waktu banyak yang tidak mungkin dijelaskan semua dalam kelas dan

51

untuk mengefektifkan waktu, maka siswa diberi contoh membaca teks yang telah
ditentukan oleh guru dan siswa harus menirukan dengan benar..
Oleh karena itu, guru tidak hanya dituntut untuk membekali dirinya dengan ilmu
pengetahuan dan keterampilan, baik dalam menyampaikan materi maupun metode dan
alat bantunya, tetapi juga dituntut untuk memiliki sejumlah pengetahuan tentang dasar
pengetahuan, cara mengajar, metode kreatif dan variatif dalam penyampaian pelajaran
serta pengetahuan dan pengalaman yang luas.
Jika meninjau tujuan program atau sasaran belajar siswa, hasil belajar siswa
biasanya disebut sebagai prioritas. Hal ini dapat difahami jika kita melihat pertumbuhan
(rasional) metode-metode pembelajaran yang dikembangkan untuk meningkatkan hasil
belajar peserta didik. Hal ini tidak berarti bahwa penguasaan materi pelajaran harus
dilihat terpisah dari mata pelajaran (materi) yang lainnya, hasil belajar hendaknya
meresap dalam seluruh kurikulum dan iklim kelas melalui faktor-faktor seperti; sikap
menerima keunikan individu, pertanyaan yang berakhir terbuka, penjajakan (eksplorasi)
dan kemungkinan membuat pilihan. Perhatian perlu diberikan bagaimana prestasi belajar
dapat dikaitkan dengan semua kegiatan di dalam kelas dan setiap saat siswa perlu belajar
bagaimana menggunakan sumber-sumber yang ada dengan optimal menemukan jawaban
inovatif atas suatu masalah. Termasuk di dalamnya masalah yang dihadapi dalam
penyampaian materi membaca Al Quran.
Mengingat membaca Al Quran adalah suatu ketrampilan yang akan dipakai
secara rutin, maka metode qiroati yang menekankan kepada pengulangan (drill) ini akan
sangat tepat digunakan dalam penyampaian materi. Selain itu pengulangan akan
menimbulkan suatu pembiasaan, dan pembiasaan membaca Al Quran merupakan salah
satu tujuan utama pembelajaran membaca Al Quran. Sehingga metode qiroati akan
mampu meningkatkan kemampuan membaca Al Quran anak didik.

52

BAB III
PELAKSANAAN PENELITIAN

Penelitian ini penulis lakukan pada pertengahan Mei sampai awal Juni.
Penelitian ini dilakukan pada akhir semester genap tahun ajaran 2009/2010.
Penelitian dilakukan selama kurang lebih 3 minggu dengan 3 siklus dengan
masing- masing siklus selama 1 minggu atau 1 kali pertemuan.
Siklus I

hari Sabtu, 30 Mei 2010.

Siklus II hari Sabtu, 6 Juni 2010.


Siklus III hari Sabtu, 13 Juni 2010.
Penilitian ini penulis lakukan di ruang yang biasa untuk melakukan proses
belajar-mengajar siswa kelas V SDN Pandanretno Kec. Kajoran Kab. Magelang
Tahun 2010.
Subjek penelitian kali ini adalah seluruh siswa kelas V SDN
Pandanretno Kec. Kajoran Kab. Magelang Tahun 2010 yang berjumlah 16 anak
yang terdiri dari 12 murid laki- laki dan 4 murid perempuan.. Adapun secara rinci
daftar siswa kelas V SDN Pandanretno Kec. Kajoran Kab. Magelang Tahun 2010
adalah sebagai berikut:
Tabel 3.1
Data Siswa Kelas V Pandanretno Kec. Kajoran Kab. Magelang
Tahun 2010
No

Nama

Jenis Kelamin

Muchid

Yunus

Sukariyah

Nur Khadik

Fajar Listiyo

Septi Riyanti

Ahmad Laksono

53

Bangkit Raharjo

Dimas Vitco GR

10

Essa Singgih

11

Ervita Sri Rejeki

12

Hendriawan

13

Rahmad Rubiyanto

14

Rowiyati

15

Rimbo Cahyono

16

Toni Utomo

A. Deskripsi Pelaksanaan Siklus I


Pelaksanaan tindakan siklus pertama adalah sebagai berikut.
Hari, tanggal : Hari Sabtu, 30 Mei 2010
Waktu

: Jam ke IV dan V (09:00 WIB- 10:30WIB)

Tempat

: Ruang kelas V SDN Pandanretno Kec. Kajoran Kab.


Magelang

Adapun materi yang diajarkan adalah sebagai berikut:


Mata Pelajaran

: PAI

Kelas/ Semester

: V/2

Standar Kompetensi : 1 Memahami bacaan Al-Quran


Kompetensi Dasar

:1.2. membaca bacaan ikhfa

Indikator

Siswa mampu membaca bacaan ikhfa dengan benar


Siswa mampu mempraktekkan bacaan ikhfa.
Tujuan Pembelajaran
1. Menjelaskan pengertian bacaan ikhfa
2. Melafalkan bacaan ikhfa

54

Materi Pembelajaran
1. Bacaan al quran
2. Bacaan ikhfa
Metode Pembelajaran
1. Ceramah
2. Model Qiroati
Adapun langkah-langkah yang dilakukan pada pelaksanaan tindakan kelas adalah
sebagai berikut:
1. Perencanaan
a. Guru menentukan sub pokok bahasan yang akan diajarkan yaitu bacaan ikhfa
b. Merancang rencana pembelajaran sebagai pedoman dalam kegiatan belajar
mengajar.
c. Merancang pembelajaran dengan mempersiapkan materi bacaan ikhfa.
d. Merancang atau menyiapkan lembar observasi untuk guru guna mengetahui
perubahan dan perkembangan.
e. Merancang atau menyiapkan lembar observasi untuk siswa guna mengetahui
perubahan dan perkembangan.
2. Tindakan
a. Kegiatan Awal
1) Guru memimpin doa
2) Guru mengabsensi siswa
3) Guru mengadakan pree test.
b. Kegiatan Inti
1) Guru memberikan contoh bacaan ikhfa
2) Siswa menirukan bacaan ikhfa.

55

3) Guru memperhatikan siswa


4) Siswa mengulang bacaan ikhfa dengan panduan dari guru sebanyak 3
kali.
5) Guru memberikan bimbingan selama siswa mengucapkan contoh bacaan
ikhfal.
c. Kegiatan Akhir
1)

Guru

memberikan tugas

membaca

secara klasikal dan siswa

melaksanakan
2) Guru memberikan tugas kepada siswa untuk membaca satu persatu dan
siswa melaksakan tugas membaca satu persatu
3) Guru menutup pertemuan dengan berdoa
Adapun dalam pelaksanaan ini mitra peneliti melakukan pengamatan.
Adapun hal- hal yang diamati adalah sebagai berikut:
b. Siswa
Pada pengamatan terhadap siswa ini, aspek yang diamati meliputi
1) Kehadiran siswa
2) Perhatian siswa terhadap guru
3) Ketekunan siswa dalam membaca.
c. Guru
Pada pengamatan terhadap guru ini, aspek yang diamati adalah sebagai
berikut:
1) Kehadiran Guru.
2) Penampilan guru di depan kelas.
3) Penyampaian materi pelajaran.
4) Pengelolaan kelas.

56

5) Pendangan dan suara guru.


6) Bimbingan guru kepada siswa.
7) Ketepatan waktu.
3. Refleksi
Pada pelaksanaan siklus I ini dari 16 siswa ternyata banyak siswa yang
kurang aktif dalam mengikuti metode pembelajaran qiroati ini ini. Hal ini
disebabkan selain model pembelajaran yang baru dikenal, juga karena persiapan
yang kurang matang dari guru khususnya dalam mempersiapkan materi
pembelajaran. Hal yang menonjol adalah siswa belum mampu mengikuti bacaan
yang dicontohkan oleh guru karena banyak yang kuran jelas. Pada Siklus I siswa
masih menganggap melafalkan secara bersama-sama itu merupkan mainan saja
yang tidak mengandung unsur pendidikannya, maka bimbingan guru dan motivasi
sangat diperlukan agar siswa mengerti betul maksud dan tujuan kegiatan
pembelajaran ini. Dalam mengikuti proses belajar mengajar pada siswa harus
diberi motivasi agar semangat dalam proses belajar mengajar dapat tumbuh
dengan baik, disamping itu juga diberi latihan-latihan soal yang berhubungan
dengan materi yang disampaikan. Apabila siswa dapat menyelesaikan dengan
benar guru memberi penguatan atau penghargaan agar siswa merasa senang.
Dengan melihat hasil belajar dari 16 siswa terdapat 25 % yang dapat
dikategorikan tidak tuntas belajar klasikal yaitu mendapat nilai kurang dari 65,
sedang siswa yang tuntas belajar ada 75% yang dapat dikategorikan tuntas belajar
klasikal dengan rata- rata nilai kelas 65.
Untuk mempermudah gambaran jalannya siklus II perhatikan gambar 4.1

57

Gambar 4.1
Denah Siklus I
Perencanaan
- Mempersiapkan
bahan ajar berupa
buku qiroati
- Mempersiapkan
materi
pembelajaan yaitu
bacaan ikhfa.
- Menyusun RPP
- Mempersiapkan
tes formatif
berupatugas
membaca bacaan
ikhfa
- Mempersiapkan
lembar observasi

Tindakan
- Salam dan absensi
- Pree Test
- Guru memberikan
contoh bacaan
ikhfa
- Siswa menirukan
secara berulangulang
- Pengamatan Mitra
- Mengerjakan
tugas membaca
bacaan ikhfa

Refleksi
- Perhatian anak masih
kurang
- Nilai ketuntasan juga
masih kurang
- Terjadi peningkatan
dari tes membaca
sebelumnya
- Masih terkendala suara
yang kurang jelas
- Masih terkendala
bahan ajar buku qiroati
yang kurang memadai

B. Deskripsi Pelaksanaan Siklus II


Pelaksanaan tindakan siklus kedua adalah sebagai berikut.
Hari, tanggal : Hari Sabtu, 6 Juni 2010
Waktu

: Jam ke IV dan V (09.00 WIB-10:30 WIB)

Tempat

: Ruang kelas V SDN Pandanretno Kec. Kajoran Kab.


Magelang

Adapun materi yang diajarkan adalah sebagai berikut:


Mata Pelajaran

: PAI

Kelas/ Semester

: II/2

Standar Kompetensi : 1 Memahami bacaan Al Quran


Kompetensi Dasar

:1.2. membaca bacaan idhar

Indikator

1.2.1 Siswa mampu membaca bacaan idhar dengan benar


1.2.2 Siswa mampu mempraktekkan bacaan idhar.

58

Tujuan Pembelajaran
1. Menjelaskan pengertian bacaan idhar.
2. Menglafalkan bacaan idhar
Materi Pembelajaran
1. Bacaan Al-Quran
2. Bacaan bacaan idhar
Metode Pembelajaran
1. Ceramah
2. Model Qiroati
Adapun langkah-langkah yang dilakukan pada pelaksanaan tindakan kelas adalah
sebagai berikut:
1. Perencanaan
a. Guru menentukan sub pokok bahasan yang akan diajarkan yaitu bacaan idhar
b. Merancang rencana pembelajaran sebagai pedoman dalam kegiatan belajar
mengajar.
c. Merancang pembelajaran dengan mempersiapkan materi bacaan idhar dengan
menggunakan buku qiroati dengan jumlah yang memadai.
d. Merancang atau menyiapkan lembar observasi untuk guru guna mengetahui
perubahan dan perkembangan.
e. Merancang atau menyiapkan lembar observasi untuk siswa guna mengetahui
perubahan dan perkembangan.
2. Tindakan
a. Kegiatan Awal
1) Guru memimpin doa

59

2) Guru mengabsensi siswa


3) Guru mengadakan pre test.
4) Guru memberi penjelasaan tentang jalannya pembelajaran
b. Kegiatan Inti
1) Guru memberikan contoh bacaan idhar
2) Siswa memperhatikan dengan menyimak pada buku qiroati.
3) Siswa menirukan bacaan guru.
4) Siswa mengulang contoh bacaan idhar secara berulang-ulang .
5) Guru memberikan bimbingan selama siswa berlatih membaca.
c. Kegiatan Akhir
1) Guru memberikan tugas membaca secara klasikal.
2) Guru memberikan tugas membaca contoh bacaan idhar secara individu
siswa melaksanakan satu per satu.
3) Guru meneutup pertemuan dengan berdoa.
Adapun dalam pelaksanaan ini mitra peneliti melakukan pengamatan.
Adapun hal- hal yang diamati adalah sebagai berikut:
a. Siswa
Pada pengamatan terhadap siswa ini, aspek yang diamati meliputi
1) Kehadiran siswa
2) Perhatian siswa terhadap guru
3) Ketekunan siswa dalam membaca.
b. Guru
Pada pengamatan terhadap guru ini, aspek yang diamati adalah sebagai
berikut:
1) Kehadiran Guru.

60

2) Penampilan guru di depan kelas.


3) Penyampaian materi pelajaran.
4) Pengelolaan kelas.
5) Pendangan dan suara guru.
6) Bimbingan guru kepada siswa.
7) Ketepatan waktu.
3. Refleksi
Pada Siklus II ini siswa yang kurang perhatian sudah berkurang, jika
dibandingkan dengan Siklus I. hal ini karena setiap anak telah memegang satu
buku qiroati. Sehingga anak sudah mulai memperhatikan dengan baik. Selain itu
bimbingan guru terhadap siswa serta motivasi yang diberikan cukup membuat
anak mengerti pentingnya bacaan tersebut dengan materi pembelajaran.
Dari hasil belajar siswa juga terjadi peningkatan kemampuan siswa dalam
menyelesaikan soal, terbukti dari siswa yang tidak tuntas belajar klasikal dari 16
siswa menjadi 12,5%. Sedangkan siswa yang tuntas belajar klasikal ada 87,5%
dengan nilai rata-rata pada Siklus II 70. berarti ada peningkatan kemapuan siswa
dalam hasil belajar siswa.
Untuk mempermudah gambaran jalannya siklus II perhatikan gambar 4.2
Gambar 4.2
Denah Siklus II

Perencanaan
- Mempersiapkan
buku qiroati yang
lebih memadai
- Menyusun RPP
- Mempersiapkan
tes formatif
berupa tugas
membaca bacaan
pada meteri
sebulumnya
- Mempersiapkan
lembar observasi

Tindakan
- Pree Test
- Guru memberikan
contoh bacaan
siswa menirukan
secara berulang.
- Penjelasan Guru
- Guru memberikan
bimbingan
- Pengamatan Mitra
- Mengerjakan
tugas membaca

Refleksi
- Perhatian anak
baik.
- Suara guru dalam
memberi contoh
bacaan sudah
lebih terdengar
- Nilai ketuntasan
juga baik
- Terjadi
peningkatan dari
siklus sebelumnya

61

C. Deskripsi Pelaksanaan Siklus III


Pelaksanaan tindakan siklus ketiga adalah sebagai berikut.
Hari, tanggal : Hari Sabtu, 13 Juni 2009
Waktu

: Jam ke IV dan V (09.00- 10:30)

Tempat

: Ruang Kelas kelas V SDN Pandanretno Kec. Kajoran Kab.


Magelang

Adapun materi yang diajarkan adalah sebagai berikut:


Mata Pelajaran

: PAI/BTQ

Kelas/ Semester

: II/2

Standar Kompetensi : 1 Memahami bacaan Al-Quran


Kompetensi Dasar

:1.3. membaca bacaan idghom bighunnah

Indikator

1.2.1 Siswa mampu membaca bacaan idghom bighunnah dengan benar


1.2.2 Siswa mampu mempraktekkan bacaan idghom bighunnah
Tujuan Pembelajaran
1. Menjelaskan pengertian bacaan idghom bughunnah.
2. Melafalkan bacaan idghom bighunnah.
Materi Pembelajaran
1. Bacaan shalat Al-Quran
2. Bacaan bacaan bacaan idghom bighunnah.
Metode Pembelajaran
1. Ceramah
2. Model Qiroati

62

Adapun langkah-langkah yang dilakukan pada pelaksanaan tindakan kelas adalah


sebagai berikut:
1. Perencanaan
a. Guru menentukan sub pokok bahasan yang akan diajarkan yaitu bacaan
idghom bighunnah.
b. Merancang rencana pembelajaran sebagai pedoman dalam kegiatan belajar
mengajar.
c. Merancang pembelajaran dengan mempersiapkan materi bacaan idghom
bighunnah. dengan menggunakan buku qiroati.
d. Merancang atau menyiapkan lembar observasi untuk guru guna mengetahui
perubahan dan perkembangan.
e. Merancang atau menyiapkan lembar observasi untuk siswa guna mengetahui
perubahan dan perkembangan.
2. Tindakan
a. Kegiatan Awal
a. Guru memimpin doa
b. Guru mengabsensi siswa
c. Guru mengadakan pre test.
d. Guru memberi penjelasaan tentang jalannya pembelajaran
b. Kegiatan Inti
1) Guru mmemberikan contoh bacaan idghom bighunnah.
2) Siswa menirukan bacaan idghom bighunnah..
3) Guru memperhatikan siswa
4) Siswa mengulang bacaan idghom bighunnah. sebanyak 3 kali.
5) Guru memberikan bimbingan selama siswa berlatih membaca.

63

c. Kegiatan Akhir
1) Guru memberikan tugas membaca secara klasikal
2) Guru memberikan tugas membaca secara individu dan siswa
melaksanakan satu per satu
3) Guru meneutup pertemuan dengan berdoa
Adapun dalam pelaksanaan ini mitra peneliti melakukan pengamatan.
Adapun hal- hal yang diamati adalah sebagai berikut:
a. Siswa
Pada pengamatan terhadap siswa ini, aspek yang diamati meliputi
1) Kehadiran siswa
2) Perhatian siswa terhadap guru
3) Ketekunan siswa dalam berlatih membaca.
b. Guru
Pada pengamatan terhadap guru ini, aspek yang diamati adalah sebagai
berikut:
a. Kehadiran Guru.
b. Penampilan guru di depan kelas.
c. Penyampaian materi pelajaran.
d. Pengelolaan kelas.
e. Pendangan dan suara guru.
f. Bimbingan guru kepada siswa.
g.

Ketepatan waktu.

3. Refleksi
Siswa

yang

memperhatikan

14

anak

(87,5%),

siswa

kurangan

memperhatikan 2 anak (12,5%) sedangkan siswa tidak memperhatikan tidak ada

64

(0%). Adapun hasil ketuntasan belajar siswa yang tuntas belajar ada 14 Siswa
(87,5%) .dan yang tidak tuntas sebanyak 2 siswa ( 12,5 % ).
Untuk mempermudah gambaran jalannya siklus III perhatikan gambar 4.3
Gambar 4.3
Denah Siklus III
Perencanaan
- Menyusun RPP
- Mempersiapkan
materi
- Mempersiapkan
baha ajar
- Mempersiapkan
lembar
observasi

Tindakan
- Pree Test
- Guru memberi
contoh bacaan idgho
bighunnah.
- Siswa menirukan
secara berulangulang
- Penjelasan Guru
- Pengamatan Mitra
- Mengerjakan tugas
membaca

Refleksi
- Perhatian anak
sudah cukup baik.
- Nilai ketuntasan
juga sudah baik
- Terjadi
peningkatan dari
siklus sebelumnya
- Siklus penulis
rasa cukup

65

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Per Siklus
1. Siklus I
Dari pengamatan yang dilakukan terhadap perhatian siswa kelas V SDN
Pandanretno Kec. Kajoran Kab. Magelang selama pelaksanaan penelitian
tindakan kelas pada siklus I, maka diperoleh data sebagaimana tersaji pada tabel
4.1
Tabel 4.1
Hasil Pengamatan Terhadap perhatian Siswa pada Siklus I
No

Nama siswa

Baik

Muchid

Yunus

Sukariyah

Nur Khadik

Fajar Listiyo

Septi Riyanti

Ahmad Laksono

Bangkit Raharjo

Dimas Vitco GR

10

Essa Singgih

11

Ervita Sri Rejeki

12

Hendriawan

13

Rahmad Rubiyanto

14

Rowiyati

15

Rimbo Cahyono

16

Toni Utomo

Cukup

Kurang
1

1
1

1
1
1
1

Keterangan
Siswa yang memperhatikan

: 12 anak (75%)

Siswa Kurang memperhatikan

: 2 anak (12,5%)

Siswa Tidak memperhatikan

: 2 anak (12,5%)

66

Adapun dari hasil test membaca pada siklus I ini

didapatkan hasil

sebagaimana tersaji pada tabel 4.2


Tabel 4.2
Hasil Tugas Membaca Siklus I
No

Nama siswa

Nilai

Ketuntasan

Muchid

50

TT

Yunus

80

Sukariyah

65

Nur Khadik

50

TT

Fajar Listiyo

65

Septi Riyanti

70

Ahmad Laksono

50

TT

Bangkit Raharjo

80

Dimas Vitco GR

65

10

Essa Singgih

65

11

Ervita Sri Rejeki

65

12

Hendriawan

70

13

Rahmad Rubiyanto

75

14

Rowiyati

70

15

Rimbo Cahyono

50

TT

16

Toni Utomo

70

Rata- Rata

65

Keterangan
Tuntas (T)

: 12 siswa ( 75 %)

Tidak Tuntas (TT)

: 4 siswa (25%)

Adapun hasil pengamatan mitra terhadap guru selama siklus I diperoleh data
sebagaimana terjadi pada tabel 4.3
Tabel 4.3
Hasil Pengamatan terhadap Guru pada Siklus I
Item yang diamati

Siklus I

Pendahuluan
a.

ketepatan kehadiran

4,0

67

b.

penampilan

4,0

c.

apersepsi

2,5

Penerapan
a.

penyampaian materi

3,5

b.

bantuan terhadap siswa

3,0

c.

keaktifan berkeliling

3,0

a.

ketepatan waktu

3,4

b.

pembagian tugas

3,3

c.

menutup kelas

3,2

Penutup

Rata- rata

3,3

Keterangan:
A nilai

:3,1 - 4,0

B nilai

:2,1 - 3,0

C nilai

:1,1 - 2,0

D nilai

:0,1 - 1,0
Didasarkan atas hasil pengamatan dan refleksi pada siklus I ini dari 16

siswa

ternyata

banyak

siswa

yang

kurang

memperhatikan

atau

tidak

memperhatikan. Hal ini disebabkan selain metode pembelajaran yang baru


dikenal, juga karena persiapan yang kurang matang dari guru khususnya dalam
mempersiapkan materi dan buku qiroati. Hal yang menonjol adalah kurangnya
buku ajar yang mencukupi untuk 16 orang siswa. Pada Siklus I siswa masih
menganggap pelajaran membaca ini kurang penting, maka bimbingan guru dan
motivasi sangat diperlukan agar siswa mengerti betul maksud dan tujuan kegiatan
pembelajaran ini. Dalam mengikuti proses belajar mengajar pada siswa harus
diberi motivasi agar semangat dalam proses belajar mengajar dapat tumbuh
dengan baik, disamping itu juga diberi latihan-latihan soal yang berhubungan

68

dengan materi yang disampaikan. Apabila siswa dapat menyelesaikan dengan


benar

guru

memberi penguatan atau penghargaan agar

siswa

merasa

senang.Dengan melihat hasil belajar dari 16 siswa terdapat 25 % yang dapat


dikategorikan tidak tuntas belajar klasikal yaitu mendapat nilai kurang dari 65,
sedang siswa yang tuntas belajar ada 75% yang dapat dikategorikan tuntas belajar
klasikal dengan rata- rata nilai kelas yitu nilai 65.
Dari data dan uraian diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pada
siklus I ini diperoleh hasil sebagai berikut:
a. Adanya beberapa siswa yang masih bingung terhadap model pembelajaran,
karena kurang sosialisasi dari guru, oleh karena itu agar kegiatan belajar
mengajar berjalan efektif guru selain menjelaskan materi pelajaran guru juga
harus menjelaskan bahwa bacaan tersebut mempunyai keterkaitan yang kuat
dengan materi.
b. Adanya beberapa siswa yang kurang dapat mengikuti proses pembelajaran
karena kurang dapat mengikuti contoh yang diberikan oleh guru mengingat
jumlah anak dalam satu kelas sebanyak 16 anak namun buku qiroati yang
disiapkan sangat sedikit.
c. Masih adanya beberapa siswa yang belum dapat membaca dengan benar
meskipun sudah membaca namun terdapat kesalahan. Hal ini dikarenakan apa
bila siswa mengalami kesulitan membaca cenderung untuk mengucapkan
secara asal-asalan yang penting membaca. Oleh karena itu guru dalam
menjelaskan materi pelajaran jangan hanya memperhatikan yang pandai saja
sehingga siswa yang kurang pandai tertinggal, di samping itu juga dalam
memberikan contoh jangan terlalu cepat agar bisa diterima oleh siswa yang
kurang pandai.

69

d. Secara garis besar siklus I berlangsung cukup baik dan kondusif, walaupun
hasil belajar siswa baru mencapai rata-rata 65 namun masih lebih baik
dibandingkan 3 kali tes bacaan yang dilaksanakan sebelum penggunaan
metode qiroati
2. Siklus II
Dari pengamatan yang dilakukan terhadap perhatian siswa kelas V SDN
Pandanretno Kec. Kajoran Kab. Magelang selama pelaksanaan penelitian
tindakan kelas pada siklus II, maka deperoleh data sebagaimana tersaji pada tabel
4.4
Tabel 4.4
Hasil Pengamatan Terhadap Perhatian Siswa pada Siklus II
No

Nama siswa

Baik

Muchid

Yunus

Sukariyah

Nur Khadik

Fajar Listiyo

Septi Riyanti

Ahmad Laksono

Bangkit Raharjo

Dimas Vitco GR

10

Essa Singgih

11

Ervita Sri Rejeki

12

Hendriawan

13

Rahmad Rubiyanto

14

Rowiyati

15

Rimbo Cahyono

16

Toni Utomo

Cukup
1

Keterangan
Siswa yang memperhatikan

: 14 anak (87,5%)

Siswa Kurang memperhatikan

: 2 anak (12,5%)

Kurang

70

Siswa Tidak memperhatikan

: - anak (0%)

Adapun hasil test membaca pada siklus II ini, didapatkan hasil sebagai tersaji pada
tabel 4.5.
Tabel 4.5
Hasil Tes Membaca Siklus II
No

Nama siswa

Nilai

Ketuntasan

Muchid

50

TT

Yunus

80

Sukariyah

70

Nur Khadik

55

TT

Fajar Listiyo

70

Septi Riyanti

75

Ahmad Laksono

65

Bangkit Raharjo

80

Dimas Vitco GR

70

10

Essa Singgih

70

11

Ervita Sri Rejeki

70

12

Hendriawan

75

13

Rahmad Rubiyanto

85

14

Rowiyati

70

15

Rimbo Cahyono

60

16

Toni Utomo

75

Rata- Rata

70

Keterangan
Tuntas (T)

: 14 Siswa ( 87,5 %)

Tidak Tuntas (TT)

: 2 siswa (12,5%)

Adapun hasil pengamatan mitra terhadap guru selama siklus II diperoleh data
sebagaimana tersaji pada tabel 4.6
Tabel 4.6
Hasil Pengamatan terhadap Guru pada Siklus II
Item yang diamati
Pendahuluan

Siklus II

71

a. ketepatan kehadiran

4,0

b. penampilan

4,0

c. apersepsi

3,0

Penerapan
a. penyampaian materi

3,8

b. bantuan terhadap siswa

3,7

c. keaktifan berkeliling

3,6

Penutup
a. ketepatan waktu

3,8

b. pembagian tugas

3,6

c. menutup kelas

3,4

Rata- rata

3,6

Keterangan:
A nilai :3,1 - 4,0
B nilai :2,1 - 3,0
C nilai :1,1 - 2,0
D nilai :0,1 - 1,0
Pada Siklus II ini siswa yang kurang perhatian sudah berkurang, jika
dibandingkan dengan Siklus I, hal ini dikarenakan suara guru sudah cukup keras dan
buku qiroati cukup untuk 16 anak. Sehingga anak sudah mulai memperhatikan contoh
dengan baik. Selain itu bimbingan guru terhadap siswa serta motivasi yang diberikan
cukup membuat anak mengerti hubungan pembelajaran tersebut dengan materi
pendidikan.
Dari hasil belajar siswa juga terjadi peningkatan kemampuan siswa dalam
menyelesaikan soal, terbukti dari siswa yang tidak tuntas belajar klasikal dari 16
siswa menjadi 12,5%. Sedangkan siswa yang tuntas belajar klasikal ada 87,5%
dengan nilai rata-rata pada Siklus II 70. berarti ada peningkatan kemapuan siswa
dalam hasil belajar siswa

72

Setelah melaksanakan tindakan pengamatan dalam pembelajaran di dalam kelas


selanjutnya diadakan refleksi dari tindakan yang dilakukan. Dalam kegiatan pada
Siklus II didapatkan :
a. Tidak lagi siswa yang merasa bingung dalam pembelajaran dengan
menggunakan metode ini.
b. Suasana kelas dalam pembelajaran sudah mulai efektif, sebagian besar siswa
sudah memperhatikan dengan baik karena mereka sudah mendengar contoh
yang diberikan guru dengan baik.
c. Sebagian besar siswa sudah benar dalam menghafalkan materi, walaupun
sebagian kecil masih salah dikarenakan keterlambatan berfikir sehingga
keterangan guru kurang dipahami. Oleh karena itu guru lebih memperhatikan
siswa yang lambat sehingga hasil belajaar meningkat secara merata
d. Secara garis besar, pelaksanaan Siklus II berlangsung dengan baik dan
kondusif serta meningkat walaupun hasil belajar siswa baru mencapai ratarata 70. Ini berati ada peningkatan dibandingkan siklus 1 yang hanya
mencapai 65. tingkat ketuntasan juga meningkat menjadi 87,5% meningkat
dari siklus I yang hanya mencapai 75%.
3. Siklus III
Dari pengamatan yang dilakukan terhadap perhatian siswa kelas V SDN
Pandanretno Kec. Kajoran Kab. Magelang

selama pelaksanaan penelitian

tindakan kelas pada siklus III, maka deperoleh data sebagaimana tersaji pada
tabel 4.7.

73

Tabel 4.7
Hasil Pengamatan Terhadap perhatian Siswa pada Siklus III
No

Nama siswa

Baik

Muchid

Yunus

Sukariyah

Nur Khadik

Fajar Listiyo

Septi Riyanti

Ahmad Laksono

Bangkit Raharjo

10

Dimas Vitco GR

11

Essa Singgih

12

Ervita Sri Rejeki

12

Hendriawan

13

Rahmad Rubiyanto

14

Rowiyati

15

Rimbo Cahyono

16

Toni Utomo

Cukup

Kurang

Keterangan:
Siswa yang memperhatikan

: 14 anak (87,2%)

Siswa Kurang memperhatikan

: 2 anak (12,5%)

Siswa Tidak memperhatikan

: - anak (0%)

Adapun hasil test membaca pada siklus III ini, didapatkan hasil sebagaimana
tersaji pada tabel 4.8 berikut:
Tabel 4.8
Hasil Tes Membaca Siklus III
No

Nama siswa

Nilai

Ketuntasan

Muchid

50

TT

Yunus

80

Sukariyah

70

Nur Khadik

55

TT

74

Fajar Listiyo

75

Septi Riyanti

75

Ahmad Laksono

65

Bangkit Raharjo

80

Dimas Vitco GR

70

10

Essa Singgih

70

11

Ervita Sri Rejeki

70

12

Hendriawan

80

13

Rahmad Rubiyanto

85

14

Rowiyati

75

15

Rimbo Cahyono

65

16

Toni Utomo

75

Rata- Rata

71

Keterangan:
Tuntas (T)

: 14 Siswa ( 87,5%)

Tidak Tuntas (TT)

: 2 siswa (12,5 %)

Adapun hasil pengamatan mitra terhadap guru selama siklus II


diperoleh data sebagaimana tersaji pada tabel 4.9 berikut:
Tabel 4.9
Hasil Pengamatan terhadap Guru pada Siklus III
Item yang diamati

Siklus III

Pendahuluan
a. ketepatan kehadiran

4,0

b. penampilan

4,0

c. apersepsi

3,7

Penerapan
a. penyampaian materi

4,0

b. bantuan terhadap siswa

4,0

c. keaktifan berkeliling

4,0

Penutup
a. ketepatan waktu

3,8

b. pembagian tugas

3,7

c. menutup kelas

3,9

Rata- rata

3,8

75

Keterangan:
A nilai

:3,1 - 4,0

B nilai

:2,1 - 3,0

C nilai

:1,1 - 2,0

D nilai

:0,1 - 1,0

Setelah melaksanakan tindakan pengamatan dalam pembelajaran di dalam kelas


selanjutnya diadakan refleksi dari tindakan yang dilakukan. Dalam kegiatan pada
Siklus III didapatkan:
a. Proses belajar mengajar dengan menggunakan metode qiroati ini berjalan
lancar semua siswa telah memahami dan berjalan sendiri tanpa harus diperintah
atau diberikan motivasi sebelumnya.
b. Suasana kelas dalam pembelajaran sudah aktif, sebagian besar siswa kelihatan
memperhatikan, suasana kelas sudah nampak menjadi tenang sebagaimana
proses belajar mengajar pada umumnya.
c. Sebagian besar siswa dalam kelas sudah menyadari betul pentingnya
memperhatikan jalannya pembelajaran dan keterkaitannya dengan materi
pelajaran. Hal ini tentu sangat membantu bagi peningkatan hasil belajar
nantinya.
d. Sebagian besar siswa sudah benar dalam mengucapkan bacaan-bacaan,
walaupun masih ada siswa yang salah, tetapi sangat kecil. Hal ini tidak bisa
dihilangkan karena siswa yang terlambat dalam berfikir, guru sudah
memperhatikan dan membimbing siswa yang terlambat berfikir, tetapi karena
keterbatasan waktu, sehingga perlu waktu khusus untuk memberi bimbingan
kepada siswa tersebut sehingga dapat mengikuti pelajaran selanjutnya.

76

e. Pelaksanaan Siklus III berlangsung dengan baik dan kondusif serta aktifitas
belajar siswa meningkat. Hasil belajar siswa telah

mencapai rata-rata 71.

Tingkat ketuntasanpun juga meningkat menjadi 87,5% dari 16 siswa sehingga


masih 12,5% yang belum tuntas .ini sulit dihindari karena faktor keterlambatan
berfikir, namun dapat dikatakan pelaksanaan Siklus III ini berhasil, karena ada
peningkatan kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal harian maupun soal
tes formatif. Hal ini terbukti dari daya serap yang dicapai berturut-turut
sehingga peneliti dapat mengatakan Siklus III telah berhasil dengan baik
B. Pembahasan
Hasil tugas membaca Siswa kelas V SDN Pandanretno Kec. Kajoran Kab.
Magelang selama penggunaan metode qiroati adalah sebagaimana tersaji dalam tabel
4.10
Tabel 4.10
Rekap Hasil Membaca Al Quran Siswa kelas V SDN Pandanretno Kec. Kajoran Kab.
Magelang Setelah Penggunaan Metode Qiroati
No

Nama siswa

Bacaan ke 1

bacaan ke 2

Bacaan ke 3

Muchid

50

50

50

Yunus

80

80

80

Sukariyah

65

70

70

Nur Khadik

50

55

55

Fajar Listiyo

65

70

75

Septi Riyanti

70

75

75

Ahmad Laksono

50

65

65

Bangkit Raharjo

80

80

80

Dimas Vitco GR

65

70

70

10

Essa Singgih

65

70

70

11

Ervita Sri Rejeki

65

70

70

12

Hendriawan

70

75

80

13

Rahmad Rubiyanto

75

85

85

14

Rowiyati

70

70

75

77

15

Rimbo Cahyono

50

60

65

16

Toni Utomo

70

75

75

Rata- Rata

65

70

71

Sedangkan dari data yang tersaji dalam penjalasan tiap siklus di atas maka
data tersebut dapat penulis rangkum dalam tabel berikut ini.
Data tentang perhatian proses pembelajaran sebagaimana tersaji dalam tabel 4.11
Tabel 4.11
Rekap Hasil Pengamatan terhadap Perhatian Siswa
Perhatian Siswa

Siklus I

Siklus II

Siklus III

Tidak memperhatikan

2 anak (12,5%)

0 (0%)

0 anak (0%)

Kurang memperhatikan

2 anak (12,5%)

2 anak (12,5%)

2 anak (12,5%)

Memperhatikan

12 anak (75%)

14 anak (87,5%)

14 anak (87,5%)

Adapun data tentang ketuntasan belajar adalah sebagaimana tersaji dalam tabel
4.12 berikut:
Tabel 4.12
Rekap Data Ketuntasan Belajar Siswa
Hasil Belajar

Siklus I

Siklus II

Siklus III

Kurang dari 65

4 siswa (25%)

2 siswa (12,5%)

2 siswa (12,5 %)

12 siswa (75%)

14 Siswa ( 87,5 %)

14 Siswa (87,5 %)

( Tidak Tuntas)
Lebih dari 65
(Tuntas)

Sedangkan data tentang hasil pengamatan mitra terhadap guru adalah sebagaimana
tersaji dalam tabel 4.13 berikut:

78

Tabel 4.13
Rekap Hasil Pengamatan Mitra terhadap Guru
Item yang diamati
Pendahuluan

Siklus I
3,5

Siklus II
3,6

Siklus III
3,9

Penerapan

3,2

3,7

4,0

Penutup

3,3

3,6

3,8

Rata- rata

3,3

3,6

3,8

Hasil penelitian tersebut maka diperoleh suatu hasil sebagai berikut:


a.

Penerapan metode qiroati pada siswa kelas V SDN Pandanretno Kec. Kajoran
Kab. Magelang Tahun 2010 berjalan dengan baik.

b.

Penggunaan metode qiroati mampu meningkatkan kemampuan membaca AlQuran secara tartil pada siswa kelas V SDN Pandanretno Kec. Kajoran Kab.
Magelang Tahun 2010.
Sehingga hipotesis yang dirumuskan sebelumnya yaitu:
"Penerapan

penggunaan

metode

qiroati

mampu

meningkatkan

kemampuan membaca Al-Quran secara tartil pada siswa kelas V SDN


Pandanretno Kec. Kajoran Kab. Magelang Tahun 2010 terbukti secara
meyakinkan

79

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang penulis lakukan maka dapat diambil beberapa
kesimpulan yaitu:
1. Sebelum diterapkannya metode qiroati kemampuan membaca Al-quran
siswa kelas V SDN Pandanretno Kec. Kajoran Kab. Magelang masih rendah.
2. Setelah diterapkannyametode qiroati kemampuan membaca Al-quran seca
tertib siswa kelas V SDN Pandanretno Kec. Kajoran Kab. Magelang
meningkat.
Hal ini dapat dilihat pada :
a. Rekap hasil membaca pada siklus I, II dan III dari rata rata 65 menjadi
71.
b. Rekap hasil pengamatan terhadap perhatian siswa pada siklus I, II dan III
meningkat dari 12 siswa menjadi 14 siswa.
c. Rekap data ketuntasan belajar siswa pada siklus I, II dan III meningkat
dari 14 siswa ( 75 % ) menjadi 14 siswa ( 87,5 % ).
d. Rekap hasil pengamatan mitra terhadap guru pada siklus I, II dan III
meningkat dari rata rata 3,3 menjadi 3,8.
3. Penggunaan metode qiroati mampu meningkatkan kemampuan membaca AlQuran secara tartil pada siswa kelas V SDN Pandanretno Kec. Kajoran Kab.
Magelang Tahun 2010.

80

B. Saran-Saran
1. Kepada para guru sebaiknya lebih variatif dalam menggunakan metode
pembelajaran termasuk dengan mencoba teknik baru seperti metode qiroati
2. Kepada para guru sebaiknya tidak takut-takut dalam mencoba metode baru
dalam pembelajaran untuk meningkatkan motivasi belajar anak serta
meningkatkan hasil pembelajaran.
3. Kepada para guru sebelum melaksanakan metode pembalajaran jenis ini
sebaiknya melakukan persiapan sebaik-baiknya dengan mempertimbangkan
materi yang sesuai.
4. Kepada pihak sekolah diharapkan memberikan dorongan serta himbauan
kepada para guru untuk lebih kreatif dalam menyampaikan materi pelajaran di
kelas

81

C. Penutup
Dengan mengucapkan puji syukur kepada Allah SWT, atas petunjuk dan
bimbinganNya, penelitan dan skripsi ini akhirnya dapat penulis selesaikan. Tak lupa
penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang
telah membantu penulis dalam melakukan penelitian serta penyusunan skripsi ini.
Semoga Allah SWT membalas budi baik yang telah diberikan dengan yang lebih
baik.
Meskipun demikian penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kata
sempurna. Untuk itu saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan skripsi
ini masih sangat penulis harapkan. Atas kritik dan saran yang diberikan penulis juga
ucapkan banyak terima kasih.
Tidak lupa penulis mohon maaf yang sebasar-besarnya apabila selama penulis
melakukan penelitian dan menyusun skripsi ini mengganggu pihak- pihak lain.
Penulis berharap penelitian dan skripsi ini apat bermanfaat baik bagi penulis sendiri
maupun seluruh pembaca guna meningkatkan pemampuan dalam menerapkan
metode pembelajaran. Amin

DAFTAR PUSTAKA

Al Quran
Arief, Armai. 2002. Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam. Jakarta: Wacana
Prima.
Arikunto, Suharsimi. 1996. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan praktek. Jakarta:
Reinika Cipta.
_______________. 2008.Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara
Asrori, Muhammad. 2008. Metode Pembelajaran. Bandung: Wacana Prima
________________. 2008. Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Wacana Prima.
Bell, Judith. tt. Doing Your Project. Jakarta: Indeks.
Black, James A. 2001. Metode dan Masalah Penelitian Sosial. Jakarta: Refika.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1994.

Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Jakarta: Balai Pustaka.


Faisal, Sanipah. 1982. Metodologi Penelitian Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional.
Jazari, Abi Khoiri Syamsudin bin Muhammad. 1987. Matan Jazariyah.
Komari. 23 April 2009. Metode Pengajaran Baca Tulis Al-Quran. Disampaikan pada
Pelatihan Nasional Guru dan Pengelola TK-TPA. Gedung LAN Makassar 2426 Oktober 2008; LP3Q DPP Wahdah Islamiyah. Nasrulloh Pengembangan
diri menuju eksistensi. (Online). (http://muslimdaily.net diakses 20 Juni 2010)
Madya,

Suwarsih.
2008.
Penelitian
Tindakan
Kelas.
www.hirteen.org/edonline/consept2class/coopcolab/index.html

http:

Mishra, R,C. 2005. Management of Educational Research. New Delhi: Publishing


Coorporation.
Poerwodarminto W,J,S. 1983. Kamus Besar Bahasa. Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka

Rosyad, Aminuddin. 2003. Teori Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: UHAMKA Press.
Sanjaya, Wina. 2008. Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis
Kompetensi. Jakarta: Kencana
Surakhmad, Winarno. 1980. Pengantar Interaksi Belajar Mengajar. Bandung: Tarsito
Suparta, Aly. Harry Noer. 1998. Metodologi Pengajaran Agama Islam. Jakarta. Amissco.
Tafsir. Ahmad. 1998. Ilmu Pendidikan Dalam Perspektif Islam. Bandung: Remaja
Rosdakarya
Usman, Uzer. 1993. Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar. Bandung: Remaja
Rosdakarya
_____________. 2002. Menjadi guru professional. Bandung. Rosdakarya
Wiraatmaja, Rachiyati. 2004. Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Remaja
Rosdakarya
Yamin, Martinis. 2005. Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi. Jakarta: GP Press.
Yayasan Pendidikan Al Quran Raudlotul Wuwakhidin. 2006. Empat Langkah Pendirian
TKQ/TPQ Metode Qiroati. Semarang: Yayasan Pendidikan Al Quran
Raudlotul Wuwakhidin
Yunus, Muhammad. 2008. Pendidikan dan Pengajaran. Jakarta: Hidakarya Agung
http://www.concern.net: Eradicate extreme poverty & hunger Support Concern
Worldwide