Anda di halaman 1dari 21

REFERAT

DIAGNOSIS DAN PENATALAKSANAAN


TUMOR MEDULA SPINALIS

Dosen Pembimbing
dr. F. Sukma W. SpS. Mkes
Disusun Oleh
Allysa Desita Parinussa
112014253

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT SARAF


RUMAH SAKIT ANGKATAN UDARA DR. ESNAWAN ANTARIKSA
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRIDA WACANA
2016

BAB I
Pendahuluan
1.1 Latar Belakang
Tumor medula spinalis memang merupakan salah satu penyakit yang jarang terjadi
dan karena itulah banyak masyarakat yang belum mengetahui gejala-gejala serta bahaya dari
penyakit ini. Pada umumnya, penderita yang datang berobat ke dokter atau ke rumah sakit
sudah dalam keadaan parah (stadium lanjut) sehingga cara penanggulangannya hanya bersifat
life-saving.1 Penegakan diagnosis dan penatalaksanaan yang tepat dapat menurunkan angka
kesakitan dari penderita tumor medula spinalis.
Tumor medula spinalis terbagi menjadi dua, yaitu tumor primer dan tumor sekunder.
Tumor primer merupakan tumor yang berasal dari medula spinalis itu sendiri sedangkan
tumor sekunder merupakan anak sebar (mestastase) dari tumor di bagian tubuh lainnya.
Tumor medula spinalis umumnya bersifat jinak dan dua pertiga pasien dioperasi antara 1-2
tahun setelah onset gejala. Gejala pertama dari tumor medula spinocerebellar penting
diketahui karena dengan tindakan operasi sedini mungkin, dapat mencegah kecacatan.1-3
Tumor medula spinalis adalah tumor di daerah spinal dimulai dari daerah servikal
pertama hingga sakral. Dibedakan menjadi tumor primer dan sekunder. Tumor primer
bersifat; 1) jinak berasal dari tulang berupa osteoma dan kondroma, serabut saraf berupa
schwannoma, selaput otak berupa meningioma, dan jaringan otak berupa glioma,
ependimoma. 2) ganas berasal dari jaringan saraf berupa astrocytoma, neuroblastoma dan sel
muda berupa kordoma. Tumor sekunder merupakan anak sebar atau metastase dari tumor
ganas di daerah rongga dada, perut, pelvis dan tumor payudara. Jumlah penderita tumor
medulla spinalis di Indonesia belum diketahui secara pasti. Jumah kasus tumor medula
spinalis di Amerika Serikat mencapai 15% dari total jumlah tumor yang terjadi pada susunan
saraf pusat dengan perkiraan insidensi sekitar 0,5- 2,5 kasus per 100.000 penduduk per tahun.
Jumlah penderita pria hampir sama dengan wanita dengan sebaran usia antara 30 hingga 50
tahun. Penyebaran 25% tumor terletak di segmen servikal, 55% di segmen thorakal dan 20%
terletak di segmen lumbosakral.

BAB II
Tinjauan Pustaka
2.1. Anatomi
Medula spinalis merupakan struktur yang paling penting antara tubuh dan otak.
Medula spinalis memanjang dari foramen magnum hingga vertebra lumbalis pertama
atau kedua. Ini penghubung penting antara otak dan tubuh, dan dari tubuh ke otak.
Panjang medula spinlais adalah 40 sampai 50 cm dan diameternya 1 cm sampai 1,5 cm.
Dua baris berturut-turut akar saraf muncul di masing-masing sisinya. Akar-akar saraf
bergabung distal untuk membentuk 31 pasang saraf tulang belakang. Medula spinalis
dibagi menjadi empat wilayah: servical (C), toraks (T), lumbal (L) dan sakral (S), yang
masing-masing terdiri dari beberapa segmen. Saraf tulang belakang mengandung serabut
saraf sensorik motorik dan ke dan dari seluruh bagian tubuh. Setiap segmen sumsum
tulang belakang mempersarafi suatu dermatom.
Jalur ini terorganisir. Ada 31 segmen, yang didefinisikan oleh 31 pasang saraf
keluar jalurnya. Saraf ini dibagi menjadi 8 servical, 12 toraks, 5 lumbal, 5 sacral, dan 1
saraf coccygeal (Gambar 1). Akar dorsal dan ventral masuk dan meninggalkan vertebra
masing-masing melalui foramen intervertebralis di segmen tulang belakang yang sesuai
dengan segmen tulang belakang.

Gambar 1. Struktur Anatomi Medula Spinalis


2

Vertebra terdiri dari tulang individu (vertebrae) ditumpuk satu di atas yang lain
dalam kolom. Setiap vertebra memiliki tubuh yang silindris, yang berpartisipasi dalam
bantalan berat dan lengkungan tulang (lamina dan proses spinosus) yang melindungi
medula spinalis dan penutupnya. Lengkungan tulang terhubung ke tubuh dengan dua
kolom kecil tulang (pedikel). Kanal melingkar antara tubuh, lengkungan, dan pedikel
medulla spinalis dan disebut kanalis medulla spinalis. Medula spinalis terkandung dalam
kanal dan ditutupi oleh lapisan jaringan ikat, duramater. Tumor yang terletak di luar dura
disebut extradural. Ini biasanya tumor metastasis dan paling sering timbul pada tulang
belakang itu sendiri. Tumor yang timbul di dalam dura, tetapi di luar substansi sebenarnya
dari medulla spinalis yang disebut intradural-extramedullary. Ini biasanya tumor selubung
saraf atau meningioma. Tumor yang timbul dalam substansi dari sumsum tulang belakang
itu sendiri disebut tumor intramedulla. Ini biasanya astrocytomas atau ependymomas.
Berbagai jenis tumor sering berperilaku berbeda dan memerlukan perawatan yang berbeda.

Gambar 2. Penampang Superior dan Lateral dari Medula Spinalis

2.2 Jaras Somatomotorik


Kontrol gerak oleh Sistem Saraf Pusat terbagi menjadi Sistem Saraf Somatis (SSS)
dan Sistem Saraf Otonom (SSO). Sistem saraf somatis mengontrol kontraksi otot skelet
secara sadar (volunter). Sedangkan Sistem saraf otonom mengontrol gerak organ visceral
secara tidak sadar (involunter).

Gambar 3. Jaras neuron motorik (tingkat 1, 2 dan 3)


Berdasarkan letak anatomis, motoneuron pada sistem saraf somatis terbagi menjadi
dua, yakni Upper Motorneuron (UMN) dan Lower Motorneuron (LMN). Upper
motorneuron adalah semua neuron yang menyalurkan impuls motorik ke lower
motorneuron dan terbagi menjadi susunan piramidalis dan extrapiramidalis. Upper
motorneuron berjalan dari korteks serebri sampai dengan medulla spinalis sehingga kerja
dari upper motorneuron akan mempengaruhi aktifitas dari lower motorneuron.
Lower motorneuron adalah neuron-neuron yang menyalurkan impuls motorik pada
bagian perjalanan terakhir ke sel otot skeletal, hal ini, yang membedakan dengan upper
motorneuron. Lower motorneuron mempersarafi serabut otot dengan berjalan melalui
radix anterior, nervus spinalis dan saraf tepi. Lower motorneuron memiliki dua jenis yaitu
alfa-motorneuron memiliki akson yang besar, tebal dan menuju ke serabut otot ekstrafusal
(aliran impuls saraf yang berasal dari otak/medulla spinalis menuju ke efektor), sedangkan
gamma-motorneuron memiliki akson yang ukuran kecil, halus dan menuju ke serabut otot
intrafusal (aliran impuls saraf dari reseptor menuju ke otak/medulla spinalis). Begitu
halnya dengan nervi cranialis merupakan dari LMN karena nervus-nervus cranialis ini
sudah keluar sebelum medulla spinalis yaitu di pons dan medulla oblongata.

Jaras piramidal dan ektrapiramidal

Gambar 4. Jaras pyramidal dan ekstrapiramidal


Sistem saraf somatis secara umum melibatkan tiga tingkat neuron yang disebut
neuron descendens. Neuron tingkat satu sistem saraf somatis berada di sistem saraf pusat
tempat impuls tersebut berasal. Neuron tingkat pertama memiliki badan sel di dalam
cortex cerebri atau berada di tempat asal impuls. Neuron tingkat kedua adalah sebuah
neuron internuncial (interneuron) yang terletak di medulla spinalis. Akson neuron tingkat
kedua pendek dan bersinaps dengan neuron tingkat ketiga di columna grisea anterior.
Secara fungsi klinis tractus descendens dibagi menjadi tractus pyramidals dan
extrapyramidals. Tractur pyramidals terdiri dari tractus corticospinal dan tractus
corticobulbar. Tractus extrapyramidals dibagi menjadi lateral pathway dan medial
pathway.
Tractus Corticospinal
5

Serabut tractus corticospinal berasal dari sel pyramidal di cortex cerebri. Dua pertiga
serabut ini berasal dari gyrus precentralis dan sepertiga dari gyrus postcentralis. Serabut
desendens tersebut lalu mengumpul di corona radiata, kemudian berjalan melalui crus
posterius capsula interna. Pada medulla oblongata tractus corticospinal nampak pada
permukaan ventral yang disebut pyramids.
Pada bagian caudal medulla oblongata tersebut 85% tractus corticospinal menyilang
ke sisi kontralateral pada decussatio pyramidalis sedangkan sisanya tetap pada sisi
ipsilateral walaupun akhirnya akan tetap bersinaps pada neuron tingkat tiga pada sisi
kontralateral pada medulla spinalis. Tractus corticospinalis yang menyilang pada
ducassatio akan membentuk tractus corticospinal lateral dan yang tidak menyilang akan
membentuk tractus corticospinal anterior.
Traktus kortikospinal lateralis nantinya akan terus menurun untuk masuk kedalam
subtantia grisea kornu anterior segmen vertebral yang bersangkutan dan berakhir di sel-sel
kornu anterior (primary motoneuron) dan selanjutnya akan mempersarafi otot-otot rangka
melalui medulla spinalis.
Traktus kortikospinalis ventralis akan terus menurun dan baru menyilang melalui
komisura ventralis di masing-masing segmen yang bersangkutan untuk berakhir di kornu
anterior untuk kemudian mempersarafi otot-otot rangka.
Tractus Corticobulbar
Serabut tractus corticobulbar mengalami perjalanan yang hampir sama dengan
tractus corticospinal, namun tractus corticobulbar bersinaps pada motor neuron nervus
cranialis III, IV, V, VI, VII, IX, X, XI, XII. Traktus kortikobulbar berpengaruh terhadap
LMN saraf-saraf cranial otak. Serabut traktus kortikobulbar berjalan dari kapsula interna
menuju otak tengah (mesensefalone).
Tractus coricobulbar menjalankan fungsi kontrol volunter otot skelet yang terdapat
pada mata, dagu, muka dan beberapa otot pada faring dan leher. Seperti halnya dengan
tractus

corticospinal,

tractus

corticobulbar

pun

mengalami

persilangan

namun

persilangannya terdapat pada tempat keluarnya motor neuron tersebut.


System ekstrapiramidal tersusun dari semua jaras motorik yang tidak melalui
piramis

medulla oblongata dan berkepentingan untuk mengatur sirkuit umpan balik

motorik pada medulla spinalis, batang otak, serebelum, dan kortek serebri. Selain itu,
system ini juga mencakup serabut-serabut yang menghubungkan kortek serebri dengan
6

masa kelabu ( seperti striata, nucleus ruber, dan subtantia nigra), dengan formation
rerikuaris dan dengan nucleus tegmental batang otak lainnya.
Susunan ekstrapiramidal terdiri atas korpus striatum, globus palidus, inti-inti
talamik, nukleus subtalamikus, subtansia nigra, formatio retikularis batang otak,serebelum
berikut dengan korteks motorik tambahan, yaitu area 4, area 6 dan area 8. komponenkomponen tersebut dihubungkan satu dengan yang lain oleh akson masing-masing
komponen itu. Dengan demikian terdapat lintasan yang melingkar yang dikenal sebagai
sirkuit. Oleh karena korpus striatum merupakan penerima tunggal dari serabut-serabut
segenap neokorteks, maka lintasan sirkuit tersebut dinamakan sirkuit striatal yang terdiri
dari sirkuit striatal utama (principal) dan 3 sirkuit striatal penunjang (aksesori).1,3 Sirkuit
striatal prinsipal tersusun dari tiga mata rantai, yaitu (a) hubungan segenap neokorteks
dengan korpus striatum serta globus palidus, (b) hubungan korpus striatum/globus palidus
dengan thalamus dan (c) hubungan thalamus dengan korteks area 4 dan 6. Data yang tiba
diseluruh

neokorteks

seolah-olah

diserahkan

kepada

korpus

striatum/globus

paidus/thalamus untuk diproses dan hasil pengolahan itu merupakan bahan feedback bagi
korteks motorik dan korteks motorik tambahan. Oleh karena komponen-komponen
susunan ekstrapiramidal lainnya menyusun sirkuit yang pada hakekatnya mengumpani
sirkuit striata utama, maka sirkuit-sirkuit itu disebut sirkuit striatal asesorik.1,3 Sirkuit
striatal asesorik ke-1 merupakan sirkuit yang menghubungkan stratum-globus palidustalamus-striatum. Sirkuit-striatal asesorik ke-2 adalah lintasan yang melingkari globus
palidus-korpus subtalamikum-globus palidus. Dan akhirnya sirkuit asesorik ke-3, yang
dibentuk oleh hubungan yang melingkari striatum-subtansia nigra-striatum.1,3,6.
Lateral pathway terdiri dari tractus rubrospinal dan medial pathway terdiri dari
tractus vestibulospinal, tractus tectospinal dan tractus retikulospinal. Medial pathway
mengontrol tonus otot dan pergerakan kasar daerah leher, dada dan ekstremitas bagian
proksimal.
Pada dasarnya untuk jaras somatosensorik memiliki alur yang sama dengan jaras
somatomotorik tetapi perbedaannya adalah pada traktus dan jaras somatosesorik akan
keluar pada cornu posterior. Traktus pada somatosensorik terdiri atas, lemniskus medialis
kolumna dorsalis, traktus spinothalamikus.

2.3. Definisi Tumor Medula Spinalis


7

Tumor medula spinalis adalah tumor di daerah spinal yang dapat terjadi mulai dari
daerah cervical pertama hingga sacral, yang dapat dibedakan atas; A.Tumor primer: 1)
jinak yang berasal dari a) tulang; osteoma dan kondroma, b) serabut saraf disebut
neurinoma (Schwannoma), c) berasal dari selaput otak disebut Meningioma; d) jaringan
otak; Glioma, Ependimoma. 2) ganas yang berasal dari a) jaringan saraf seperti;
Astrocytoma, Neuroblastoma, b) sel muda seperti Kordoma. B. Tumor sekunder:
merupakan anak sebar (metastase) dari tumor ganas di daerah rongga dada, perut, pelvis
dan tumor payudara.1
2.3. Epidemiologi Tumor Medula Spinalis
Di Indonesia jumlah penderita tumor medula spinalis belum diketahui secara pasti.
Jumah kasus tumor medula spinalis di Amerika Serikat mencapai 15% dari total jumlah
tumor yang terjadi pada susunan saraf pusat dengan perkiraan insidensi sekitar 0,5-2,5
kasus per 100.000 penduduk per tahun. Jumlah penderita pria hampir sama dengan wanita
dengan sebaran usia antara 30 hingga 50 tahun. Diperkirakan 25% tumor terletak di
segmen servikal, 55% di segmen thorakal dan 20% terletak di segmen lumbosakral. Tumor
intradural

intramedular

yang

tersering

adalah

ependymoma,

astrositoma

dan

hemangioblastoma. Ependimoma lebih sering didapatkan pada orang dewasa pada usia
pertengahan (30-39 tahun) dan jarang terjadi pada usia anak-anak. Insidensi ependidoma
kira-kira sama dengan astrositoma. Dua per tiga dari ependydoma muncul pada daerah
lumbosakral.6
Diperkirakan 3% dari frekuensi astrositoma pada susunan saraf pusat tumbuh pada
medula spinalis. Tumor ini dapat muncul pada semua umur, tetapi yang tersering pada tiga
dekade pertama. Astrositoma juga merupakan tumor spinal intramedular yang tersering
pada usia anak-anak, tercatat sekitar 90% dari tumor intramedular pada anak-anak
dibawah umur 10 tahun, dan sekitar 60% pada remaja. Diperkirakan 60% dari astrositoma
spinalis berlokasi di segmen servikal dan servikotorakal. Tumor ini jarang ditemukan pada
segmen torakal, lumbosakral atau pada conus medularis. Hemangioblastoma merupakan
tumor vaskular yang tumbuh lambat dengan prevalensi 3% sampai 13% dari semua tumor
intramedular medula spinalis. Rata-rata terdapat pada usia 36 tahun, namun pada pasien
dengan von Hippel-Lindau syndrome (VHLS) biasanya muncul pada dekade awal dan
mempunyai tumor yang multipel. Rasio laki-laki dengan perempuan 1,8 : 1.4,5
Tumor intradural ekstramedular yang tersering adalah schwanoma, dan
meningioma. Schwanoma merupakan jenis yang tersering (53,7%) dengan insidensi laki8

laki lebih sering dari pada perempuan, pada usia 40-60 tahun dan tersering pada daerah
lumbal. Meningioma merupakan tumor kedua tersering pada kelompok intraduralekstramedullar tumor. Meningioma menempati kira-kira 25% dari semua tumor spinal.
Sekitar 80% dari spinal meningioma terlokasi pada segmen thorakal, 25% pada daerah
servikal, 3% pada daerah lumbal, dan 2% pada foramen magnum.4,5
2.4. Klasifikasi
Berdasarkan asal dan sifat selnya, tumor pada medula spinalis dapat dibagi menjadi
tumor primer dan tumor sekunder. Tumor primer dapat bersifat jinak maupun ganas,
sementara tumor sekunder selalu bersifat ganas karena merupakan metastasis dari proses
keganasan di tempat lain seperti kanker paru-paru, payudara, kelenjar prostat, ginjal,
kelenjar tiroid atau limfoma. Tumor primer yang bersifat ganas contohnya adalah
astrositoma, neuroblastoma, dan kordoma, sedangkan yang bersifat jinak contohnya
neurinoma, glioma, dan ependimoma.1
Berdasarkan lokasinya, tumor medula spinalis dapat dibagi menjadi dua kelompok,
yaitu tumor intradural dan ekstradural, di mana tumor intradural itu sendiri dibagi lagi
menjadi tumor intramedular dan ekstramedular. Macam-macam tumor medula spinalis
berdasarkan lokasinya dapat dilihat pada Tabel 1.

Gambar 5. (A) Tumor intradural-intramedular, (B) Tumor intradural-ekstramedular, dan (C)


Tumor Ekstradural

TABEL 1. Insiden Tumor Medula Spinalis Institutes of Neurological Sciences 5

Orang Dewasa

Anak-anak
9

TABEL 1. Insiden Tumor Medula Spinalis Institutes of Neurological Sciences 5

EKSTRADURAL (78%)

EKSTRADURAL (18%)

Metastasis

Metastasis

Myeloma

Limfoma

Neurofibroma
Lymphoma
Lain-lain

INTRADURAL (18%)

INTRADURAL (64%)

Meningioma

Dermoid/epidermoid

Schwannoma

Lain-lain

Lain-lain
INTRAMEDULAR (4%)

INTRAMEDULAR (18%)

Astrositoma

Astrositoma

Lain-lain

2.5. Etiologi dan Patogenesis


Penyebab tumor medula spinalis primer sampai saat ini belum diketahui secara
pasti. Beberapa penyebab yang mungkin dan hingga saat ini masih dalam tahap penelitian
adalah virus, kelainan genetik, dan bahan-bahan kimia yang bersifat karsinogenik. Adapun
tumor sekunder (metastasis) disebabkan oleh sel-sel kanker yang menyebar dari bagian
tubuh lain melalui aliran darah yang kemudian menembus dinding pembuluh darah,
melekat pada jaringan medula spinalis yang normal dan membentuk jaringan tumor baru
di daerah tersebut.7
Patogenesis dari neoplasma medula spinalis belum diketahui, tetapi kebanyakan
muncul dari pertumbuhan sel normal pada lokasi tersebut. Riwayat genetik kemungkinan
besar sangat berperan dalam peningkatan insiden pada anggota keluarga (syndromic
group) misal pada neurofibromatosis. Astrositoma dan neuroependimoma merupakan jenis
yang tersering pada pasien dengan neurofibromatosis tipe 2 (NF2), di mana pasien dengan
NF2 memiliki kelainan pada kromosom 22. Spinal hemangioblastoma dapat terjadi pada
30% pasien dengan Von Hippel-Lindou Syndrome sebelumnya, yang merupakan
abnormalitas dari kromosom 3.7
10

2.6. Manifestasi Klinis


Menurut Cassiere, perjalanan penyakit tumor medula spinalis terbagi dalam tiga
tahapan3, yaitu:
1. Ditemukannya sindrom radikuler unilateral dalam jangka waktu yang lama
2. Sindroma Brown Sequard
3. Kompresi total medula spinalis atau paralisis bilateral
Keluhan pertama dari tumor medula spinalis dapat berupa nyeri radikuler, nyeri
vertebrae, atau nyeri funikuler. Secara statistik adanya nyeri radikuler merupakan indikasi
pertama adanya space occupying lesion

pada kanalis spinalis dan disebut pseudo

neuralgia pre phase. Dilaporkan 68% kasus tumor spinal sifat nyerinya radikuler, laporan
lain menyebutkan 60% berupa nyeri radikuler, 24% nyeri funikuler dan 16% nyerinya
tidak jelas3. Nyeri radikuler dicurigai disebabkan oleh tumor medula spinalis bila:
1. Nyeri radikuler hebat dan berkepanjangan, disertai gejala traktus piramidalis
2. Lokasi nyeri radikuler diluar daerah predileksi HNP
seperti C5-7, L3-4, L5 dan S1
Tumor medula spinalis yang sering menyebabkan nyeri radikuler adalah tumor
yang terletak intradural-ekstramedular, sedang tumor intramedular jarang menyebabkan
nyeri radikuler. Pada tumor ekstradural sifat nyeri radikulernya biasanya hebat dan
mengenai beberapa radiks.3
Tumor-tumor intrameduler dan intradural-ekstrameduler dapat juga diawali dengan
gejala TIK seperti: hidrosefalus, nyeri kepala, mual dan muntah, papiledema, gangguan
penglihatan, dan gangguan gaya berjalan. Tumor-tumor neurinoma dan ependimoma
mensekresi sejumlah besar protein ke dalam likuor, yang dapat menghambat aliran likuor
di dalam kompartemen subarakhnoid spinal, dan kejadian ini dikemukakan sebagai suatu
hipotesa yang menerangkan kejadian hidrosefalus sebagai gejala klinis dari neoplasma
intraspinal primer.5 Gejala umum akibat adanya kompresi, antara lain:
1. Nyeri
Kompresi dari suatu tumor dapat merangsang jaras-jaras saraf yang terdapat
dalam medula spinalis dan menimbulkan nyeri yang seakan-akan berasal dari
berbagai bagian tubuh (nyeri difus). Nyeri ini biasanya menetap, kadang
bertambah berat dan terasa seperti terbakar.
2. Perubahan sensori
Kebanyakan pasien dengan tumor medula spinalis mengalami kehilangan sensasi.
Biasanya mati rasa dan hilangnya sensitivitas kulit terhadap suhu.
3. Problem Motorik
11

Gejala awalnya dapat berupa kelemahan otot, spastisitas, dan ketidakmampuan


untuk menahan kencing atau buang air besar. Jika tidak diterapi gejala dapat
memburuk termasuk diantaranya atrofi otot dan kelumpuhan. Bahkan, pada
beberapa orang dapat berkembang menjadi ataksia.
Bagian tubuh yang menimbulkan gejala bervariasi tergantung letak tumor di
sepanjang medula spinalis. Pada umumnya, gejala tampak pada bagian tubuh yang
selevel dengan lokasi tumor atau di bawah lokasi tumor. Contohnya, pada tumor di
tengah medula spinalis (pada segmen thorakal) dapat menyebabkan nyeri yang
menyebar ke dada depan (girdleshape pattern) dan bertambah nyeri saat batuk, bersin,
atau membungkuk. Tumor yang tumbuh pada segmen cervical dapat menyebabkan
nyeri yang dapat dirasakan hingga ke lengan, sedangkan tumor yang tumbuh pada
segmen lumbosacral dapat memicu terjadinya nyeri punggung atau nyeri pada
tungkai.7
1. Tumor Ekstradural
Sebagian besar merupakan tumor metastase, yang menyebabkan kompresi pada medula
spinalis dan terletak di segmen thorakalis. Nyeri radikuler dapat merupakan gejala awal pada
30% penderita tetapi kemudian setelah beberapa hari, minggu/bulan diikuti dengan gejala
mielopati. Nyeri biasanya lebih dari 1 radiks, yang mulanya hilang dengan istirahat, tetapi
semakin lama semakin menetap/persisten, sehingga dapat merupakan gejala utama, walaupun
terdapat gejala yang berhubungan dengan tumor primer. Nyeri pada tumor metastase ini dapat
terjadi spontan, dan sering bertambah dengan perkusi ringan pada vertebrae, nyeri demikian
lebih dikenal dengan nyeri vertebrae.
Tumor Metastasis Keganasan Ekstradural5
Memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Sebagian besar tumor spinal (>80 %) merupakan metastasis keganasan
terutama dari paru-paru, payudara, ginjal, prostat, kolon, tiroid, melanoma,
limfoma, atau sarkoma.
2. Yang pertama dilibatkan adalah korpus vertebra. Predileksi lokasi metastasis
tumor paru, payudara dan kolon adalah daerah toraks, sedangkan tumor prostat,
testis dan ovarium biasanya ke daerah lumbosakral.
3. Gejala kompresi medula spinalis kebanyakan terjadi pada level torakal, karena
diameter kanalisnya yang kecil (kira-kira hanya 1 cm).
4. Gejala akibat metastasis spinal diawali dengan nyeri lokal yang tajam dan
kadang menjalar (radikuler) serta menghebat pada penekanan atau palpasi.
12

2. Tumor Intradural-Ekstramedular3
Tumor ini tumbuh di radiks dan menyebabkan nyeri radikuler kronik progresif.
Kejadiannya 70% dari tumor intradural, dan jenis yang terbanyak adalah neurinoma pada
laki-laki dan meningioma pada wanita.
a. Neurinoma (Schwannoma)
Memiliki karakteristik sebagai berikut:
1. Berasal dari radiks dorsalis
2. Kejadiannya 30% dari tumor ekstramedular
3. 2/3 kasus keluhan pertamanya berupa nyeri radikuler, biasanya pada satu sisi dan
dialami dalam beberapa bulan sampai tahun, sedangkan gejala lanjut terdapat
4.

tanda traktus piramidalis


39% lokasinya disegmen thorakal

b. Meningioma
Memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. 80% terletak di regio thorakalis dan 60% pada wanita usia pertengahan
2. Pertumbuhan lambat
3. Pada 25% kasus terdapat nyeri radikuler, tetapi lebih sering dengan gejala traktus
piramidalis dibawah lesi, dan sifat nyeri radikuler biasanya bilateral dengan jarak
waktu timbul gejala lain lebih pendek

3. Tumor Intradural-Intramedular3,6
Lebih sering menyebabkan nyeri funikuler yang bersifat difus seperti rasa terbakar
dan menusuk, kadang-kadang bertambah dengan rangsangan ringan seperti electric shock like
pain (Lhermitte sign).
a. Ependimoma
Memiliki karakteristik sebagai berikut:
1. Rata-rata penderita berumur di atas 40 tahun
2.

Wanita lebih dominan

3.

Nyeri terlokalisir di tulang belakang

4.

Nyeri meningkat saat malam hari atau saat bangun

5.

Nyeri disestetik (nyeri terbakar)

6.

Menunjukkan gejala kronis


13

7.

Jenis miksopapilari rata-rata pada usia 21 tahun, pria lebih dominan

b. Astrositoma

Memiliki ciri-ciri sebagai berikut:


1. Prevalensi pria sama dengan wanita

c.

2.

Nyeri terlokalisir pada tulang belakang

3.

Nyeri bertambah saat malam hari

4.

Parestesia (sensasi abnormal)

Hemangioblastoma
Memiliki karakter sebagai berikut:
1. Gejala muncul pertama kali saat memasuki usia 40 tahun
2.

Penyakit herediter (misal, Von Hippel-Lindau Syndrome) tampak pada 1/3 dari
jumlah pasien keseluruhan.

3.

Penurunan sensasi kolumna posterior

4.

Nyeri punggung terlokalisir di sekitar lesi

2.7. Diagnosis Tumor Medula Spinalis7


Selain dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik, diagnosis tumor medula spinalis dapat
ditegakkan dengan bantuan pemeriksaan penunjang seperti di bawah ini.
a. Laboratorium
Cairan spinal (CSF) dapat menunjukkan peningkatan protein dan xantokhrom, dan
kadang-kadang ditemukan sel keganasan. Dalam mengambil dan memperoleh cairan
spinal dari pasien dengan tumor medula spinalis harus berhati-hati karena blok
sebagian dapat berubah menjadi blok komplit cairan spinal dan menyebabkan
paralisis yang komplit.
b. Foto Polos Vertebrae
Foto polos seluruh tulang belakang 67-85% abnormal. Kemungkinan ditemukan erosi
pedikel (defek menyerupai mata burung hantu pada tulang belakang lumbosakral
AP) atau pelebaran, fraktur kompresi patologis, scalloping badan vertebra, sklerosis,
perubahan osteoblastik (mungkin terajdi mieloma, Ca prostat, hodgkin, dan biasanya
Ca payudara).

14

c. CT-scan
CT-scan dapat memberikan informasi mengenai lokasi tumor, bahkan terkadang dapat
memberikan informasi mengenai tipe tumor. Pemeriksaan ini juga dapat membantu
dokter mendeteksi adanya edema, perdarahan dan keadaan lain yang berhubungan.
CT-scan juga dapat membantu dokter mengevaluasi hasil terapi dan melihat
progresifitas tumor.

d. MRI
Pemeriksaan ini dapat membedakan jaringan sehat dan jaringan yang mengalami
kelainan secara akurat. MRI juga dapat memperlihatkan gambar tumor yang letaknya
berada di dekat tulang lebih jelas dibandingkan dengan CT-scan.

15

2.8. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan untuk sebagian besar tumor baik intramedular maupun
ekstramedular adalah dengan pembedahan. Tujuannya adalah untuk menghilangkan tumor
secara total dengan menyelamatkan fungsi neurologis secara maksimal. Kebanyakan
tumor intradural-ekstramedular dapat direseksi secara total dengan gangguan neurologis
yang minimal atau bahkan tidak ada post operatif. Tumor-tumor yang mempunyai pola
pertumbuhan yang cepat dan agresif secara histologis dan tidak secara total dihilangkan
melalui operasi dapat diterapi dengan terapi radiasi post operasi.1
Terapi yang diberikan biasanya dilakukan bertujuan untuk mencegah kelumpuhan
yang baru, dan pemulihan fungsi motorik terjadi pada satu pertiga pasien yang diterapi.
Defisit motorik (paraplegia atau quadriplegia) yang sudah terjadi lebih dari 12 jam tidak
membaik, dan prognosis pemulihan kemampuan motorik dalam 48 jam buruk.8
Tindakan terapi pembedahan, baik dekompresi dengan laminektomi atau reseksi
korpus vertebra, biasanya diindikasikan ketika gejala kompresi medula spinalis semakin
memburuk meskipun sudah diberikan radioterapi, ketika dosis maksimum radioterapi yang
dapat ditoleransi sudah diberikan sebelumnya pada lokasi tumor, atau ketika kompresi
medula spinalis diperberat dengan adanya kompresi fraktur tulang vertebra.8
Berkebalikan dengan tumor ekstradural, kebanyakan tumor intradural berkembang
lambat dan jinak. Meningioma dan neurofibroma merupakan jenis tumor yang terbanyak
pada intradural. Meningioma biasanya berlokasi pada posterior dari medula spinalis
segmen posterior atau dekat dengan foramen magnum, meskipun sebenarnya tumor ini
dapat tumbuh di meniges bagian manapun sepanjang kanalis spinalis. Neurofibroma
merupakan tumor jinak selubung saraf yang biasanya muncul dekat dengan akar saraf
dorsal; ketika tumor ini multipel, etiologi yang paling mungkin adalah neurofibromatosis.
Gejala biasanya mulai dengan nyeri radikular yang kemudian diikuti oleh sindrom medula
spinalis asimetris progresif. Terapi adalah dengan reseksi bedah.8
Tumor primer intramedular jarang terjadi. Gejala yang muncul biasanya berupa
sindrom medula spinalis sentral atau sindrom hemicord, dan paling sering terjadi pada
daerah servikal. Tumor penyebab dapat berupa ependimoma, hemangioblastoma, atau
astrositoma. Reseksi total tumor ependim intramedular sering masih dapat dilakukan
dengan terapi mircosurgery.8

16

Penatalaksanaan darurat (pembedahan/ radiasi) berdasarkan derajat blok dan


kecepatan deteriorasi

bila > 80 % blok komplit atau perburukan yang cepat: penatalaksanaan


sesegera mungkin (bila merawat dengan radiasi, teruskan deksamethason
keesokan harinya dengan 24 mg IV setiap 6 jam selama 2 hari, lalu
diturunkan (tappering) selama radiasi, selama 2 minggu.

bila < 80 % blok: perawatan rutin (untuk radiasi, lanjutkan deksamethason 4


mg selama 6 jam, diturunkan (tappering) selama perawatan sesuai toleransi.

Pembedahan
Tumor biasanya diangkat dengan sedikit jaringan sekelilingnya dengan teknik myelotomy.
Aspirasi ultrasonik, laser, dan mikroskop digunakan pada pembedahan tumor medula
spinalis.
Indikasi pembedahan:
Tumor dan jaringan tidak dapat didiagnosis (pertimbangkan biopsi bila lesi
dapat dijangkau). Catatan: lesi seperti abses epidural dapat terjadi pada pasien
dengan riwayat tumor dan dapat disalahartikan sebagai metastase.
Medula spinalis yang tidak stabil (unstable spinal).
Kegagalan radiasi (percobaan radiasi biasanya selama 48 jam, kecuali
signifikan atau terdapat deteriorasi yang cepat); biasanya terjadi dengan tumor
yang radioresisten seperti karsinoma sel ginjal atau melanoma.
Rekurensi (kekambuhan kembali) setelah radiasi maksimal.
Komplikasi yang muncul akibat pembedahan adalah:
Deformitas pada tulang belakang post operasi lebih sering terjadi pada anakanak dibanding orang dewasa. Deformitas pada tulang belakang tersebut dapat
menyebabkan kompresi medula spinalis.
Setelah pembedahan tumor medula spinalis pada servikal, dapat terjadi
obstruksi foramen Luschka sehingga menyebabkan hidrosefalus.
2.9.Prognosis
17

Tumor dengan gambaran histopatologi dan klinik yang agresif mempunyai prognosis
yang buruk terhadap terapi. Pembedahan radikal mungkin dilakukan pada kasus-kasus ini.
Pengangkatan total dapat menyembuhkan atau setidaknya pasien dapat terkontrol dalam
waktu yang lama. Fungsi neurologis setelah pembedahan sangat bergantung pada status pre
operatif pasien. Prognosis semakin buruk seiring meningkatnya umur (>60 tahun).9

18

BAB III
KESIMPULAN
Tumor medula spinalis adalah tumor di daerah spinal yang dapat terjadi pada daerah
cervical pertama hingga sacral. Tumor medula spinalis dapat dibagi menjadi tiga kelompok,
berdasarkan letak anatomi dari massa tumor. Pertama, kelompok ini dibagi dari hubungannya
dengan selaput menings spinal, diklasifikasikan menjadi tumor intradural dan tumor
ekstradural. Selanjutnya, tumor intradural sendiri dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu
tumor yang tumbuh pada substansi dari medula spinalis itu sendiri (tumor intramedular) serta
tumor yang tumbuh pada ruang subarachnoid (ekstramedular).
Cairan spinal, Computed Tomographic (CT) myelography, dan MRI spinalis
merupakan tes yang paling sering digunakan dalam mengevaluasi pasien dengan lesi pada
medula spinalis. MRI merupakan modalitas pencitraan primer untuk penyebaran ke medula,
reduksi ruang CSF disekitar tumor.
Penatalaksanaan untuk sebagian besar tumor baik intramedular maupun ekstramedular
adalah dengan pembedahan. Tujuannya adalah untuk menghilangkan tumor secara total
dengan menyelamatkan fungsi neurologis secara maksimal.
Tumor dengan gambaran histopatologi dan klinik yang agresif mempunyai prognosis
yang buruk terhadap terapi. Pembedahan radikal mungkin dilakukan pada kasus-kasus ini.
Pengangkatan total dapat menyembuhkan atau setidaknya pasien dapat terkontrol dalam
waktu yang lama. Fungsi neurologis setelah pembedahan sangat bergantung pada status pre
operatif pasien. Prognosis semakin buruk seiring meningkatnya umur (>60 tahun).

19

DAFTAR PUSTAKA
1.

Hakim, A.A. 2006. Permasalahan serta Penanggulangan Tumor Otak dan Sumsum

Tulang Belakang. Medan: Universitas Sumatera Utara


2. Huff,
J.S.
2010.
Spinal
Cord
Neoplasma.

[serial

online].

http://emedicine.medscape.com/article/779872-print.
3. Japardi,
Iskandar.
2002.
Radikulopati
Thorakalis.

[serial

online].

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1994/1/bedah-iskandar
%20japardi43.pdf. [September 2016].
4. American Cancer Society. 2009. Brain and Spinal Cord Tumor in Adults. [serial
online]. http://www.cancer.org/acs/groups/cid/documents/
webcontent/003088-pdf.
5. Mumenthaler, M. and Mattle, H. 2006. Fundamental of Neurology. New York:
Thieme. Page 146-147.
6. Harrop, D.S. and Sharan, A.D. 2009. Spinal Cord Tumors - Management of Intradural
Intramedullary

Neoplasms.

[serial

online].

http://emedicine.medscape.com/article/249306-print.
7. National Institute of Neurological Disorders and Stroke. 2005. Brain and Spinal Cord
Tumors - Hope Through Research. [serial online].
http://www.ninds.nih.gov/disorders/brainandspinaltumors/detail_brainandspinaltumors
.htm. [September 2016].
8. Hauser SL. Harrisons neurology in clinical medicine. 3rd ed. USA: The McGraw-Hill
Companies; 2013. p. 71-5; 403-5.
9. Neil R Malhotra, Deb Bhowmik, Douglas Hardesty, Peter Whitfield. 2010.
Neurosurgery Article, Intramedullary Spinal Cord Tumors : Diagnosis, Treatments,
and Outcomes. [September 2016]

20