Anda di halaman 1dari 26

REFERAT

HOARSENESS

DISUSUN OLEH
Allysa Desita Parinussa
112014253

PEMBIMBING
dr. M. Roikhan Harowi, Sp.THT-KL, M.Kes

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT THT-KL


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS KRISTEN KRIDA WACANA
PERIODE 10 OKTOBER 12 NOVEMBER 2016
RUMAH SAKIT ANGKATAN UDARA DR. ESNAWAN ANTARIKSA

BAB I
PENDAHULUAN
Hoarseness atau suara serak menggambarkan kelainan memproduksi suara ketika
mencoba berbicara, atau ada perubahan nada atau kualitas suara. Suaranya terdengar lemah,
terengah- engah, kasar dan serak. Hoarseness biasanya disebabkan oleh adanya masalah pada
bagian pita suara. Produksi suara sendiri merupakan suatu hasil dari koordinasi diantara
sistem pernapasan, fonasi (suara) dan artikulasi, dimana masing-masing dipengaruhi oleh
teknik bersuara dan status emosianal setiap individu.
Dalam dunia medis, dikenal istilah Disfonia yaitu merupakan istilah umum untuk setiap
gangguan suara untuk yang disebabkan kelainan pada organ-organ fonasi, terutama laring,
baik yang bersifat organik maupun fungsional. Disfonia bukan penyakit melainkan
merupakan gejala penyakit atau kelainan pada laring.
Gangguan suara atau disfonia ini dapat berupa suara parau atau serak yaitu suara
terdengar kasar (roughness) dengan nada lebih rendah dari biasanya, suara lemah (hipofonia),
hilang suara (afonia), suara tegang dan susah keluar (spastik), suara terdiri dari beberapa nada
(diplofonia), nyeri saat bersuara (odinofonia) atau ketidakmampuan mencapai nada atau
intensitas tertentu. Setiap keadaan yang menimbulkan gangguan dalam getaran, gangguan
dalam ketegangan serta gangguan dalam pendekatan (aduksi) kedua pita suara kiri dan kanan
akan menimbulkan disfonia.
Suara merupakan produk akhir akustik dari suatu sistem yang lancar, seimbang, dinamis
dan saling terkait, melibatkan respirasi, fonasi, dan resonansi. Tekanan udara subglotis dari
paru, yang diperkuat oleh otot-otot perut dan dada, dihadapkan pada plika vokalis. Suara
dihasilkan oleh pembukaan dan penutupan yang cepat dari pita suara, yang dibuat bergetar
oleh gabungan kerja antara tegangan otot dan perubahan tekanan udara yang cepat. Tinggi
nada terutama ditentukan oleh frekuensi getaran pita suara1. Bunyi yang dihasilkan glotis
diperbesar dan dilengkapi dengan kualitas yang khas (resonansi) saat melalui jalur
supraglotis, khususnya faring. Gangguan pada sistem ini dapat menimbulkan gangguan suara.
Secara keseluruhan insiden gangguan pada produksi suara ini tidak diketaui, meskipun
demikian sekitar 1,2% sampai 23,4% dari populasi di Amerika Serikat mengalami gangguan
suara atau disfonia.1
Pada referat ini penulis akan membahas anatomi dan fisiologi dari terbentuknya suara
serta etiologi apa saja yang dapat menyebabkan terjadinya gangguan suara berserta dengan
penatalaksanaannya.
1

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anatomi
Terdapat 3 sistem organ pembentuk suara yang saling berintegrasi untuk menghasilkan
kualitas suara yang baik, yaitu: sistem pernapasan, laring, dan traktus vokalis supraglotis.
Sistem respirasi berfungsi sebagai pompa yang menghasilkan aliran udara spontan dan
terus-menerus melalui glotis. Hal ini didukung oleh otot-otot dada, perut, diafragma yang
berperan dalam pernapasan. Selama bersuara, udara yang terpompa menghasilkan perbedaan
takanan melalui celah glottis yang sempit yang menandai suatu efek Bernaulli. Mengikuti
inhalasi, otot dinding perut berkontrasi untuk memudahkan aliran udara yang tetap melalui
glottis. Sistem pernapasan menghasilkan sebuah aliran udara tetap yang mendukung sebuah
nada suara biasa dan ketika meningkat akan mengahasilkan volume suara yang lebih keras.
Lemahnya otot dinding perut, penyakit pada paru atau sebab umum lain dapat mempengaruhi
pengaturan kapasitas sistem pernapasan yang nantinya akan mempengaruhi kualitas dari
suara yang dihasilkan.1,2

Gambar 1. Anatomi dari laring secara keseluruhan


Laring merupakan organ pembentuk suara yang kompleks yang terdiri dari beberapa
tulang rawan serta jaringan otot yang dapat menggerakan pita suara. Laring merupakan
2

bagian terbawah dari saluran napas bagian atas. Bentuknya menyerupai limas segitiga
terpancung, dengan bagian atas lebih besar daripada bagian bawah. Batas atas laring adalah
aditus laring, batas bawah adalah kaudal kartilago krikoid. Bangunan kerangka laring
tersusun dari satu tulang, yaitu tulang hioid, dan beberapa buah tulang rawan. Tulang hioid
berbentuk seperti huruf U, permukaan atas dihubungkan dengan lidah, mandibula, dan
tengkorak oleh otot dan tendo. Sewaktu menelan, kontraksi otot-otot ini menarik laring
keatas, sedangkan jika diam, maka otot ini bekerja membuka mulut dan membantu
menggerakan lidah.2,3
Tulang rawan yang menyusun laring adalah kartilago epiglotis, kartilago krikoid,
kartilago aritaenoid, kartilago kornikulata, dan kartilago tyroid. Kartilago krikoid
dihubungkan dengan kartilago tiroid dengan ligamentum krikotiroid. Bentuk kartilago krikoid
berupa lingkaran membentuk sendi dengan kartilago tiroid membentuk artikulasi krikotiroid.
Terdapat 2 buah (sepasang) kartilago aritenoid yang terletak dekat permukaan belakang
laring, dan membentuk sendi dengan kartilado krikoid, disebut artikulasi krikoaritenoid.
Sepasang kartilago kornikulata (kiri dan kanan) melekat pada kartilago aritenoid di daerah
apeks, sedangkan sepasang kartilago kuneiformis terdapat di dalam lipatan ariepiglotik, dan
kartilago triticea terletak di dalam ligamentum hiotiroid lateral. 2,3

Gambar 2. Anatomi laring


Ligamentum yang membentuk susunan laring adalah ligamentum seratokrikoid (anterior,
lateral, dan posterior), ligamentum krikotiroid medial, ligamentum krikotiroid posterior,
ligamentum kornikulofaringeal, ligamentum hiotiroid lateral, ligamentum hiotiroid medial,
3

ligamentum

hioepiglotika,

ligamentum

ventrikularis,

ligamentum

vokale

yang

menghubungkan kartilago aritenoid dengan kartilago tiroid, dan ligamentum tiroepiglotika.


Gerakan laring dilaksanakan oleh kelompok otot ekstrinsik dan intrinsik. Otot-otot
ekstrinsik terutama bekerja pada laring secara keseluruhan, sedangkan otot-otot intrinsik
menyebabkan gerak bagian-bagian laring sendiri. Otot-otot ekstrinsik laring ada yang terletak
di atas tulang hioid (suprahioid) dan ada yang terletak di bawah tulang hioid (infrahioid).
Otot-otot ekstrinsik yang suprahioid adalah m.digastrikus, m.geniohioid, m.stilohioid,
m.milohioid. Otot-otot yang infrahioid adalah m. sternohioid, m.omohioid, m.tirohioid. Otototot ekstrinsik laring yang suprahioid berfungsi menarik laring ke bawah, sedangkan yang
infrahioid berfungsi menarik laring keatas. Otot-otot intrinsik laring adalah m.krikoaritenoid
lateral, m.tiroepiglotika, m.vokalis, m.tiroaritenoid, m.ariepiglotika, dan m.krikotiroid. otototot ini terletak pada bagian lateral laring. Otot-otot intrinsik laring yang terletak di posterior,
adalah m.aritenoid transversum, m.aritenoid oblik, m.krikoaritenoid posterior. 2,3

Gambar 3. Anatomi Rongga Laring


Rongga laring. Batas atas rongga laring (cavum laringeus) adalah aditus laringeus, batas
bawahnya adalah bidang yang melalui pinggir bawah kartilago krikoid. Batas depannya
adalah permukaan belakang epiglotis, tuberkulum epiglotik, ligamentum tiroepiglotik, sudut
antara kedua belah lamina kartilago tiroid dan arkus kartilago krikoid. Batas lateralnya adalah
membrana kuadrangularis, kartilago aritenoid, konus elastikus, dan arkus kartilago krikoid,
sedangkan batas belakangnya adalah M.Aritenoid transversus dan lamina kartilago krikoid.
4

Dengan adanya lipatan mukosa pada ligamentum vokale dan ligamentum ventrikulare, maka
terbentuklah plika vokalis (pita suara asli) dan plika ventrikularis (pita suara palsu). 2,3
Dalam menilai tingkat pembukaan rima glotis dibedakan dalam 5 posisi pita suara, yaitu
posisi median, posisi paramedian, intermedian, abduksi ringan dan abduksi penuh. Pada
posisi median kedua pita suara terdapat di garis tengah, pada posisi paramedian pembukaan
pita suara berkisar 3-5 mm dan pada posisi intermedian 7 mm. Pada posisi abduksi ringan
pembukaan pita suara kira-kira 14 mm dan pada abduksi penuh kira-kira 18-19 mm. 2,3
Bidang antara plika vokalis kiri dan kanan, disebut rima glotidis, sedangkan antara plika
ventrikularis, disebut rima vestibuli. Plika vokalis dan plika ventrikularis membagi rongga
laring dalam 3 bagian, yaitu vestibulum laring, glotik dan subglotik. Vestibulum laring adalah
rongga laring yang terdapat di atas plika ventrikularis. Daerah ini disebut daerah supraglotik.
Antara plika vokalis dan plika ventrikularis, pada tiap sisinya disebut ventrikulus laring
morgagni. Rima glottis terdiri dari 2 bagian, yaitu bagian intermembran dan bagian
interkartilago. Bagian intermembran adalah ruang antara kedua plika vokalis, dan terletak di
bagian anterior, sedangkan bagian interkartilago terletak antara kedua puncak kartilago
aritenoid, dan terletak di bagian posterior. Daerah subglotik adalah rongga laring yang
terletak di bawah pita suara (plika vokalis).2 Pada orang dewasa dua pertiga bagian pita suara
adalah membran sedangkan pada anak-anak bagian membran ini hanya setengahnya.
Membran pada pita suara terlibat dalam pembentukan suara dan bagian kartilago terlibat
dalam proses penapasan. Jadi kelainan pada pita suara akan berefek pada proses bersuara dan
atau pernapasan, tergantung lokasi kelainannya. 12
Traktus vokalis supraglotis merupakan organ pelengkap yang sangat penting karena suara
yang dibentuk pada tingkat pita suara akan diteruskan melewati traktus vokalis supraglotis.
Di daerah ini suara dimodifikasi oleh beberapa struktur oral faringeal (seperti lidah, bibir,
palatum dan dinding faring), hidung dan sinus. Organ tersebut berfungsi sebagai articulator
dan resonator.2 Perubahan pada posisi, bentuk, atau kekakuan pada dinding faring, lidah,
palatum, bibir dan laring akan merubah dari produksi kualitas suara.12
Persarafan laring. Laring dipersarafi oleh cabang-cabang nervus vagus, yaitu n.
laringis superior dan n. laringis inferior. Kedua saraf ini merupakan campuran saraf motorik
dan sensorik. Nervus laringis superior mempersarafi m. krikotiroid, memberikan sensasi pada
mukosa laring di bawah pita suara.2
Saraf ini mula-mula terletak di atas m. konstriktor faring medial, di sebelah medial a.
karotis interna dan eksterna, kemudian menuju ke kornu mayor tulang hioid, dan setelah
menerima hubungan dengan ganglion servikal superior, membagi diri menjadi 2 cabang,
5

yaitu ramus eksternus dan ramus internus. Ramus eksternus berjalan pada permukaan luar m.
konstriktor faring inferior dan menuju ke m. krikotiroid, sedangkan ramus internus tertutup
oleh m. tirohioid terletak di sebelah medial a. tiroid superior, menembus membrane hiotiroid
dan bersama-sama a. laringis superior menuju ke mukosa laring.2
Nervus laringis inferior merupakan lanjutan dari n. rekuren setelah saraf itu
memberikan cabangnya menjadi ramus kardia inferior. Nervus rekuren merupakan cabang
dari n. vagus. Nervus rekuren kanan akan menyilang a. subklavia kanan di bawahnya,
sedangkan n. rekuren kiri akan menyilang arkus aorta. Nervus laringis inferior berjalan di
antara cabang-cabang a. tiroid inferior, dan melalui permukaan mediodorsal kelenjar tiroid
akan sampai pada permukaan medial m. krikofaring. Di sebelah posterior dari sendi
krikoaritenoid, saraf ini bercabang 2 menjadi ramus anterior dan ramus posterior. Ramus
anterior akan mempersarafi otot-otot intrinsik laring bagian lateral, sedangkan ramus
posterior mempersarafi otot-otot intrinsik laring bagian superior dan mengadakan anastomose
dengan n. laringis superior ramus internus.2
Pendarahan untuk laring terdiri dari 2 cabang, yaitu a.laringis superior dan a. laringis
inferior. Arteri laringis superior merupakan cabang dari a. tiroid superior. Arteri laringis
superior berjalan agak mendatar melewati bagian belakang membrana tirohioid bersamasama dengan cabang internus dari n.laringis superior kemudian menembus membrana ini
untuk berjalan ke bawah di submukosa dari dinding lateral dan lantai dari sinus pirifomis,
untuk mempendarahi mukosa dan otot-otot laring. Arteri laringis inferior merupakan cabang
dari a.tiroid inferior dan bersama-sama dengan n. laringis inferior berjalan ke belakang sendi
krikotiroid, masuk laring melalui daerah pinggir bawah dari m.konstriktor faring inferior. 2,3
Di dalam laring arteri itu bercabang-cabang, mempendarahi mukosa dan otot serta
beranastomosis dengan a.laringis superior. Pada daerah setinggi membran krikotiroid a.tiroid
superior juga memberikan cabang yang berjalan mendatari sepanjang membrane itu sebagai
sapai mendekati tiroid. Kadang-kadang arteri ini mengirimkan cabang yang kecil melalui
membrane krikotiroid untuk mengadakan anastomosis dengan a.laringis superior. Vena
laringis superior dan vena laringis inferior letaknya sejajar dengan a.laringis superior dan
inferior dan kemudian bergabung dengan vena tiroid superior dan inferior. 2,3
Pembuluh limfe untuk laring banyak, kecuali di daerah lipatan vocal. Di sini mukosanya
tipis dan melekat erat dengan ligamentum vokale. Di daerah lipatan vocal pembuluh limfa
dibagi dalam golongan superior dan inferior. Pembuluh eferen dari golongan superior
berjalan lewat lantai sinus piriformis dan a.laringis superior, kemudian ke atas, dan
bergabung dengan kelenjar dari bagian superior rantai servikal dalam. Pembuluh eferen dari
6

golongan inferior berjalan ke bawah dengan a.laringis inferior dan bergabung dengan kelenjar
servikal dalam, dan beberapa di antaranya menjalar sampai sejauh kelenjar supraklavikular.2-4
2.2 Fisiologi
Laring berfungsi untuk proteksi, batuk, respirasi, sirkulasi, menelan, emosi serta fonasi,
dapat digambarkan sebagai berikut : 3-5
1.

Fungsi Proteksi

Adalah untuk mencegah makanan dan benda asing masuk kedalam trakea, dengan jalan
menutup aditus laring dan rima glottis secara bersamaan. Terjadinya penutupan aditus laring
ialah karena pengangkatan laring keatas akibat kontraksi otot-otot ekstrinsik laring. Dalam
hal ini kartilago aritenoid bergerak kedepan akibat kontraksi m. tiroaritenoid dan m. aritenoid.
Selanjutnya, m. ariepiglotika berfungsi sebagai sfingter. Penutupan rima glottis terjadi karena
adduksi plika vokalis. Kartilago aritenoid kiri dan kanan mendekan karena adduksi otot-otot
ekstrinsik. Selain itu dengan reflek batuk, benda asing yang telah masuk kedalam trakea
dapat dibatukkan keluar. Demikian juga dengan bantuan batuk, sekret yang berasal dari paru
dapat dikeluarkan.
2.

Fungsi Respirasi
Adalah dengan mengatur besar kecilnya rima glottis. Bila m.krikoaritenoid posterior
berkontraksi akan menyebabkan prosesus vokalis kartilago aritenoid bergerak ke lateral,
sehingga rima glotis terbuka.

3.

Fungsi Sirkulasi
Dengan terjadinya perubahan tekanan udara didalam traktus trakebronkial akan dapat
mempengaruhi sirkulasi darah dari alveolus, sehingga mempengaruhi sirkulasi darah tubuh.
Dengan demikian laring berfungsi juga sebagai alat pengatur sirkulasi darah.

4.

Fungsi laring dalam membantu proses menelan


Dengan 3 mekanisme, yaitu gerakan laring bagian bawah keatas, menutup aditus laringis
dan mendorong bolus makanan turun ke hipofaring dan tidak mungkin masuk ke dalam
laring.

5.

Fungsi untuk mengekspresikan emosi


Seperti berteriak, mengeluh, menangis, dan lain-lain. Untuk fonasi, membuat suara serta
menentukan tinggi rendahnya nada. Tinggi rendahnya nada diatur oleh peregangan plika
vokalis. Bila plika vokalis dalam aduksi, maka m. krikotiroid akan merotasikan kartilago
tiroid ke bawah dan depan, menjauhi kartilago aritenoid. Pada saat yang bersamaan m.
krikoaritenoid posterior akan menahan atau menarik kartilago aritenoid ke belakang. Plika
7

vokalis kini dalam keadaan yang efektif untuk berkontraksi. Sebaliknya kontraksi m.
krikoaritenoid akan mendorong kartilago aritenoid ke depan, sehingga plika vokalis akan
mengendor. Kontraksi serta mengendornya plika vokalis akan menentukan tinggi rendahnya
nada
2.3 Proses Pembentukan Suara
Sistem produksi suara, pusat kontrol suara dan penghubung keduanya mempengaruhi
kualitas suara yang dihasilkan.7,8
1. Sistem produksi suara
Larynx (voice box) terdiri atas kartilago dan otot-otot serta memiliki sepasang pita suara
yang akan saling menjauh saat inspirasi dan mendekat saat ekspirasi. Pita suara dapat saling
mendekat dan menjauh sehingga dapat mengatur jumlah udara yang melewatinya. Frekuensi
getaran yang melalui pita suara dapat berubah secara cepat oleh karena otot di sekitar pita
suara dan tekanan udara saat bernafas, sehingga timbul nada pada suara yang diproduksi.
Pharynx dan cavum oris keduanya bertindak sebagai resonator.
Suara yang dihasilkan merupakan hasil koordinasi dari lidah, rahang bawah, palatum
mole. Proses ini dinamakan artikulasi.
2. Pusat kontrol suara
Kontrol suara berada pada otak yang menerima dan mengirimkan kembali rangsang dari
berbagai tempat yang berbeda seperti diafragma, otot-otot dinding dada, abdomen, larynx,
pharynx, cavum oris, palatum mole dan rahang bawah serta mengkoordinasi seluruh bagian
tersebut
3. Neuron penghubung
Syaraf yang berperan penting dalam membawa sinyal dari otak menuju otot-otot
penghasil suara adalah n. laryngeus, yang merupakan cabang langsung dari N. Vagus.7

Gambar 4. Pita suara saat menarik nafas dalam, posisi respirasi


8

Gambar 5. Pita suara tertutup, posisi fonasi

Gambar 6. Pita suara terbuka, terdapat celah sempit antara bagian interkartiloago,
posisi berbisik
2.4 Definisi Hoarseness
Suatu keadaan dimana terdapat kesulitan dalam memproduksi suara ketika mencoba
berbicara, atau perubahan suara pada nada dan kualitasnya. Suara tersebut mungkin terdengar
lemah, berat, kasar atau parau. atau terjadi perubahan volume atau pitch (tinggi rendah suara).
Suara serak bukan merupakan suatu penyakit, tetapi merupakan gejala dari suatu penyakit.
Istilah hoarseness atau suara serak sendiri dapat merefleksikan kelainan (abnormalitas)
yang letaknya bisa di berbagai tempat di sepanjang saluran vokalis, mulai dari rongga mulut
hingga paru. Meski idealnya istilah hoarseness lebih baik ditujukan untuk disfungsi laring
akibat vibrasi pita suara yang abnormal.
2.5 Etiologi
Ada banyak faktor penyebab suara serak (Tabel 1). Onset yang mendadak kehilangan
suara lengkap, disebut dengan aphonia, lebih mungkin disebabkan oleh kelainan neurologis
atau psikogenik daripada lesi organik. Lesi pada plika vokal lebih sering menghasilkan gejala
9

vokal dengan onset yang bertahap, awalnya hilang timbul dan kemudian menjadi konstan dan
semakin lama semakin memburuk.9
Pasien mungkin mengalami kesulitan memproyeksikan suara mereka karena adanya lesi
pada plika vokal atau kelumpuhan yang mengganggu penutupan glotis. Pada pasien dengan
pemeriksaan laring yang normal, kesulitan meningkatkan intensitas vokal mungkin juga
mencerminkan pernapasan tidak memadai karena penyakit utama dari paru-paru, gangguan
neurologis, atau teknik yang tidak tepat. Produksi suara yang jelas memerlukan koordinasi
baik antara respirasi, fonasi, dan artikulasi. Teknik yang tidak tepat dapat mengakibatkan
disfonia.9
Gejala seperti kelelahan, penurunan artikulasi, atau hipernasal mungkin menunjukkan
gangguan neurologis. Secara umum, adanya hipernasal kemungkinan besar disebabkan oleh
etiologi neurologis. Hipernasal iatrogenic dapat terjadi setelah prosedur bedah yang
menyebabkan lubang antara rongga mulut dan hidung atau adanya gangguan persarafan
neurologis.9
Ketidakseimbangan hormon mempengaruhi produksi vokal karena adanya akumulasi
cairan di lapisan superficial dari lamina propria, yang mengubah kemampuan getaran, hal ini
juga terjadi pada beberapa pasien wanita yang sedang menstruasi, begitu juga dengan
perubahan hormone yang terjadi selama menopause juga dapat menurunkan nada. Pasien
dengan hipotiroidisme ada dengan nada suara yang rendah. Masa yang semakin membesar
akan menyebabkan plika vokalis menjadi sulit untuk bergetar sehingga menghasilkan nada
atau suara yang rendah. Peningkatan dari penggunanan obat antiinflamasi nonsteroid saat
menstruasi juga dapat menjadi predisposisi pasien dengan perdarahan plika vokalis. 9
Kondisi medis yang kronis juga dapat mempengaruhi suara. Pasien yang memiliki sakit
jantung atau penyakit utama lainnya yang mungkin tidak memiliki cukup dukungan paru
untuk mempertahankan dan memproduksi suara. Tergantung pada etiologi yang mendasari,
gejala mungkin dapat diperbaiki dengan latihan. Selain itu, arthritis mungkin mempengaruhi
sendi cricoarytenoid, mengakibatkan rasa sakit ketika berbicara, suara serak, dan variasi nada
terbatas. 9
Tabel 1. Untuk membatu mengingat etiologi dari suara serak: VINDICATE9

10

Berikut ini beberapa penyebab suara serak:


1.

Laringitis

Radang akut laring pada umumnya merupakan kelajutan dari infeksi saluran nafas seperti
influenza atau common cold. Penyebab radang ini ialah bakteri, yang menyebabkan radang
lokal atau virus yang menyebabkan peradangan sistemik. Pada larinigtis akut terdapat gejala
radang umum, seperti demam,dedar (malaise), serta gejala lokal, seperti suara parau sampai
tidak bersuara sama sekali (afoni), nyeri ketika menelan atau berbicara serta gejala sumbatan
laring. Selain itu terdapat batuk kering dan lama kelamaan disertai dengan dahak kental.
Ketidaksempurnaan produksi suara pada pasien dengan laringitis akut dapat diakibatkan
oleh penggunaan kekuatan aduksi yang besar atau tekanan untuk mengimbangi penutupan
yang tidak sempurna dari glottis selama episode laringitis akut. Tekanan ini selanjutnya
menegangkan lipatan-lipatan (plika) vocal dan mengurangi produsi suara. Pada akhirnya
menunda kembalinya fonasi normal.
Pada laringitis kronis beberapa hal bisa mendasari kondisi ini yang biasanya akibat
paparan dari iritan (zat yang bisa mengiritasi) seperti tekanan yang terus menerus pada pita
suara, sinusitis kronis, infeksi ragi (akibat sistem kekebalan tubuh yang lemah) serta terpapar
asap atau gas yang mengandung zat kimia. Dalam keadaan laryngitis, pita suara mengalami
peradangan sehingga tekanan yang diperlukan untuk memproduksi suara meningkat. Hal ini
menyebabkan kesulitan dalam memproduksi tekanan yang adekuat. Udara yang melewati pita
suara yang mengalami peradangan ini justru menyebabkan suara yang dihasilkan menjadi
parau. Bahkan pada beberapa kasus suara dapat menjadi lemah atau bahkan tak terdengar.
Semakin tebal dan semakin kecil ukuran pita suara, getaran yang dihasilkan semakin cepat.
Semakin cepat getaran suara yang dihasilkan semakin tinggi. Pembengkakan pada pita suara
dapat mengakibatkan tidak menyatunya kedua pita suara sehingga dapat terjadi perubahan
pada suara.
11

Terapi berupa mengistirahatkan pita suara, antibiotik, menambah kelembapan dan


menekan batuk. Obat-obatan dengan efek samping yang menyebabkan pengeringan harus
dihindari pada terapi laring. Penyanyi dan para professional yang mengandalan suara perlu
dinasehati agar membiarkan proses radang mereda sebelum melanjutkan karir mereka. Usaha
menyanyi selama infeksi masih berlangsung dapat mengakibatkan perdarahan laring dan
berkembang menjadi nodul korda vokalis.10
2.

Tumor jinak dan ganas laring


Nodulus vocal

Terdapat berbagai sinomin klinis untuk polip nodular vokalis, termasuk screamers node,
singers node atau teachers node. Nodulus jinak dapat unilateral dan timbul akibat
penggunaan korda vokalis yang tidak tepat atau berlangsung lama. Seringkali bila disertai
dengan peradangan, maka korda vokalis akan saling melekat kuat, sehingga terbentuk suatu
polip atau nodul. Nodul dapat bervariasi secara histologist dari suatu tumor edematosa yang
longgar dan lunak, hingga masa fibrosa yang padat atau suatu lesi vascular dengan banyak
pembuluh darah yang kecil sebagai gambaran utamanya. Beberapa pasien memberikan
respons yang baik dengan pembatasan dan re-edukasi vocal, namun banyak juga yang
memerlukan pembedahan endoskopik.10
Pada awalnya pasien mengeluhkan suara pecah pada nada tinggi dan gagal dalam
mempertahankan nada. Selanjutnya pasien menderita serak yang digambarkan sebagai suara
parau, yang timbul pada nada tinggi, terkadang disertai dengan batuk. Nada rendah terkena
belakangan karena nodul tidak berada pada posisi yang sesuai ketika nada dihasilkan.
Kelelahan suara biasanya cepat terjadi sebelum suara serak menjadi jelas dan menetap. Jika
nodul cukup besar, gangguan bernafas adalah gambaran yang paling umum.
Gambar 7. Vocal Nodulus

12

Polip korda vokalis difus

Degenerasi polip disepanjang korda vokalis biasanya berkaitan dengan penggunaan vocal
yang lama, merokok dan radang yang menetap. Pengangkatan bedah harus dilakukan pada
satu sisi berturut-turut, untuk mencegah pembentukan sinekia pada komisura anterior.
Pembedahaan harus diikuti menghentikan merokok dan re-edukasi vocal. Jika tidak
demikian, mungkin akan terjadi kekambuhan jaringan polip yang tebal sepanjang korda
vokalis.10

Gambar 8. Polip Laring

Kista

Kista pita suara umumnya terrmasuk kista resistensi kelenjar liur minor laring, terbentuk
akibat tersumbatnya kelenjar tersebut, faktor iritasi kronik, refluks gastroesofageal dan
13

infeksi diduga berperan sebagai faktor predisposisi. Kista terletak di dalam lamina propria
superfisialis, menempel pada membran basal epitel atau ligamentum vokalis. Ukurannya
biasanya tidak besar sehingga jarang menyebabkan sumbatan jalan nafas atas. Gejala
utamanya adalah parau.

Gambar 9. Kista Laring

Papiloma Juvenilis

Gejala awal penyakit ini adalah suara serak dan karena sering terjadi pada anak, biasanya
disertai dengan tangis yang lemah. Papiloma dapat membesar kadang-kadang dapat
menyebabkan sumbatan jalan nafas yang memngakibatkan sesak dan stridor sehingga
memerlukan trakeostomi.
Terapi yang paling efektif adalah pengangkatan bedah dengan tepat, seringkali
menggunakan mikroskop atau dengan aser CO2. Eksisi bedah berulang dapat menyebabkan
jaringan parut atau lipatan laring. Kasus papiloma ini tidak sering ditemukan.10

Keganasan atau karsinoma laring

Gejala utama karsinoma laring adalah suara serak yang merupakan gejala paling dini
tumor pita suara. Hal ini disebabkan karena ganguan fungsi fonasi laring. Kualitas nada
sangat dipengaruhi oleh besar kecilnya celah glotik, besar pita suara, ketajaman tepi pita
suara, kecepatan getaran, dan ketegangan pita suara.
Pada tumor ganas laring, pita suara gagal berfungsi secara baik disebabkan
ketidakteraturan pita suara, oklusi atau penyempitan celah glotik, terserangnya otot-otot
14

vokalis, sendi dan ligamen krikoaritenoid, dan kadang-kadang menyerang saraf. Serak
menyebabkan kualitas suara menjadi kasar, menganggu, sumbang, dan nadanya lebih rendah
dari biasanya. Kadang bisa afoni karena nyeri, sumbatan jalan nafas, atau paralisis komplit.
Gambar 10. Karsinoma Laring

3. Intoksikasi (merokok dan alkohol)


Merokok dan mengkonsumsi alkohol dapat mengiritasi laring, dapat menyebabkan
peradangan dan penebalan pita suara.
4. Kongenital

Laringomalasia

Kondisi ini lebih merupakan keadaan laring neonates yang terlalu lunak dan kendur
dibandingkan normalnya. Saat bayi menaring napas, maka laring yang lunak akan saling
menempel, mempersimpit aditus dan timbul stridor.

Gambar 11. Laringomalasia

15

Proses menelan tidak terganggu, proses menangis normal. Tidak ditemukan gangguan
patologi dasar ataupun gangguan yang bersifat progresif pada laringomalasia. Stridor
merupakan gejala utama, dapat berlangsung konstan atau hanya terjadi saat bayi tereksitasi.
Dapat timbul retraksi sterum dan dada; laringomalasia menjadi salah satu penyebab dari
pektus ekskavatum.10

Laringeal webs

Merupakan suatu selaput jaringan pada laring yang sebagian menutup jalan udara. 75 %
selaput ini terletak diantara pita suara, tetapi selaput ini juga dapat terletak diatas atau
dibawah pita suara. Laryngeal webs ini harus didiagnosis melalui visualisasi endoskopis.
Selanjutnya dapat dilakukan eksisi bedah atau laser, atau trakeotomi. Prognosis jangka
panjang baik.10

Gambar 12. Laringeal Webs


5. Alergi
Reaksi alergi dimana jaringan areola longgar di sekitar glottis merupakan organ syok,
dapat menyebabkan obstruksi cepat jalan napas. Edema obstruktif dapat timbul hanya dalam
beberapa menit setelah berkontak dengan suatu antigen eksitasi.bila terjadi, perlu dilakukan
trakeostomi dan pemberian steroid.10

16

6. Trauma
Kontusio laring
Kontusio laring yang ringan bermanifestasi sebagai hematoma internal dan terkadang
sebagai dislokasi kartilago ariteoidea. Trauma biasanya disebabkan oleh benda tumpul yang
menghantam leher dalam keadaan ekstensi. Kunci pada terapi cedera laring adalah dengan
diagnosis segera. Kontusio laring dapat diobservasi sementara persiapan untuk trakeostomi
tetap dilakukan, keadaan ini perlu dibedakan dengan fraktur kartilago yang lebih berat serta
avulse laringtrakea dengan pemeriksaan memakai cermin atau serat optic dan radiogram
lateral. Hetoma biasanya dapat terlihat dan laringoskopi direk biasanya dapat mereduksi
dislokasi kartilago aritenoidea.10

Fraktur laring

Tanda-tanda fraktur laring adalah suara serak, stridor, hemoptisis, emfisema subkutan.
Terlepasnya kartilago tiroidea dari kartilago krikoidea dan trakea juga dapat terjadi. Obstruksi
jalan napas dapat terjadi tiba-tiba, jika terjadi pemisahan laringotrakea, trakea akan tertarik ke
dalam leher bawah, maka perlu dilakukan trakeostomi darurat. Jika pasien tidak sadar, maka
hampir tidak mungkin untuk melakukan pemeriksaan memakai cermin oleh karna nyeri dan
hematoma yang sangat hebat. 10
Fraktur laring seringkali disertai dengan cedera servikal. Pemeriksaan foto rontgen
servikal dan pemeriksaan neurologis perlu dilakukan pada setiap orang dengan fraktur laring.
Cedera saraf laringeus rekurens seringkali terjadi akibat terlepas. Pembedahan segera
cenderung mencegah perkembangan stenosis fibrotic yang kaku. Karena kartilago yang patah
tanpa suplai darah cukup rentan terhadap absopsi, maka reposisi perlu dilakukan
secepatnya.10
Stenosis laring dan subglotis
Jaringan parut yang mempersempit jalan napas merupakan sekuele dari suatu penyakit
atau cedera, dan penatalaksanaannya seringkali sangat sulit. Trauma tumpul atau tembus,
penelanan zat kaustik, luka tembak dan iritasi balon tuba endrotrakea merupakan penyebab
stenosis laring yang lazim ditemui. Penatalaksanaan stenosis laring kronik sangat rumit dan
perlu disesuaikan secara peroragan. Dapat dilakukan dilatasi, eksisi, reanastomosis langsung,
dan laringektomi parsial atau lokal. 10
Gambar 13. Stenosis Laring

17

Granuloma intubasi

Pasien biasanya tidak terlalu serak, namun pasien menyadari adanya perubahan suara.
Granuloma seringkali bilateral dan dapat terjadi selama penggunaan tuba endotrakea.
Tindakan terdiri dari pengangkatan bedah secara endoskopis, seringkali menggunakan laser
CO2.10
Gambar 14. Granuloma Laring

7. Paralisis pita suara


18

Paralisis otot laring dapat disebabkan gangguan persarafan, baik sentral maupun perifer,
dan biasanya paralisis motorik bersama dengan paralisis sensorik. Kejadiannya dapat
unilateral maupun bilateral.
Selain suara parau, dapat juga di jumpai gejala klinis yang lainnya, seperti gangguan
respirasi dan stridor, anestesi yang menyebabkan inhalasi makanan dan sekresi faring yang
merangsang batuk dan tersedak, suara menjadi lemah.
Kelumpuhan pita suara bisa mempengaruhi proses berbicara, bernafas dan menelan.
Kelumpuhan menyebabkan makanan dan cairan terhidup ke dalam trakea dan paru-paru.
Jika hanya 1 pita suara yang lumpuh (kelumpuhan 1 sisi), maka suara menjadi serak.
Biasanya saluran udara tidak tersumbat karena pita suara yang normal bisa membuka
sebagaimana mestinya. Jika kedua pita suara mengalami kelumpuhan (kelumpuhan 2 sisi),
maka kekuatan suara akan berkurang. Penderita juga mengalami gangguan pernafasan karena
terjadi penyumbatan saluran udara ke trakea.

Gambar 15. Paralisis Pita Suara


2.6 Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
penunjang. 2,4,8
Anamnesis

1.

Setiap pasien dengan suara parau yang menetap lebih dari 2 minggu tanpa adanya
infeksi saluran napas atas memerlukan pemeriksaan. Sangat penting untuk
mengetahui durasi dan karakter perubahan suara.

Riwayat merokok dan minum alkohol, dimana dapat mengiritasi mukosa mulut
dan laring dan beresiko kanker kepala leher

Riwayat pekerjaan, pola/ tipe pemakaian suara seperti menyanyi berteriak


19

Riwayat penyalahgunaan suara (voice abuse)

Keluhan yang berhubungan meliputi nyeri, disfagia, batuk, susah bernapas

Keluhan refluks gastroesofageal seperti merasakan asam di mulut pada pagi hari

Penyakit sinonasal (rhinitis alergi atau sinusitis kronik)

Kelainan neurologis

Riwayat trauma atau pembedahan

Riwayat pemakaian obat-obatan seperti ACE inhibitor

2.

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan kepala dan leher secara keseluruhan, meliputi penilaian pendengaran,


mukosa saluran napas atas, mobilitas lidah dan fungsi saraf kranial. Pemeriksaan kelenjar
getah bening juga diperlukan hal ini menandakan apakah adanya infeksi atau mungkin
metastasis dari karsinoma.
3.

Pemeriksaan Penunjang
Laringoskopi fibreoptik

Untuk mengidentifikasi setiap lesi dari pita suara seperti kanker, singers node, polip dan
lain-lain. Selain itu dapat menilai adanya paralisis pita suara, yang berhubungan dengan
kanker paru, aneurisma aorta dan lain-lain.

Gambar 16. Pemeriksaan Menggunakan Fibreoptik

Stroboskopi (videolaryngostroboscopy)

Pemeriksaan ini dapat memperlihatkan gambaran dari pergerakan laring.

20

Pemeriksaan darah

Meliputi hitung jenis dan LED, fungsi tiroid, nilai C1 esterase inhibitor untuk
pembengkakan pita suara dan diduga angioedema, serta pemeriksaan reseptor asetilkolin
untuk suara parau yang diduga disebabkan miastenia gravis.

Pemeriksaan radiologi

Ct scan dan MRI jika ditemukan kelainan pada pemeriksaan neurologis. USG tiroid untuk
mendeteksi kanker tiroid yang menyebabkan paralisis pita suara.
2.7 Penatalaksanaan
Pengobatan suara serak sesuai dengan kelainan atau penyakit yang menjadi etiologinya.
Karena akibat yang timbul akibat kelelahan bersuara, maka perlu beberapa langkah
pencegahan maupun terapi. Bila belum timbul keluhan, pencegahan merupakan hal yang
terpenting. Beberapa peneliti menyarankan untuk minum air setiap beberapa saat setelah
berbicara. Laki-laki yang minum air akan dapat membaca dengan kualitas suara yang baik
dalam waktu yang lebih lama dibandingkan dengan yang tidak diberi minum air. Hal yang
sama didapatkan pada penyanyi karaoke amatir. Istirahat bersuara merupakan salah satu
tehnik untuk mengistirahatkan organ-organ pembentuk suara.
Faktor-faktor lain yang menjadi faktor risiko terjadinya kelelahan bersuara juga harus
diperhatikan. Penggunaan alkohol, merokok, dan obat-obatan tertentu sebaiknya dihindari
karena dapat mempengaruhi kondisi permukaan plikavokalis. Salah satu penyebab iritasi
laring adalah refkuks dari esofagus. Hal ini dapat mempercepat kelelahan bersuara karena
akan mengakibatkan hilangnya lapisan mukus permukaan pita suara serta terkelupasnya
epitel. Beberapa hal yang dianjurkan untuk mencegah refluks antara lain, pertama
menghindari konsumsi kafein dan coklat karena akan mengakibatkan relaksasi spinkter
esofagus. Kedua, hindari makan dan minum pada jam tidur dan sebaiknya tunggu 2-3 jam
setelah makan baru kemudian tidur atau posisi ditinggikan. Bila sudah ada gejala refluks
mungkin diperlukan obat-obatan untuk menetralisir asam lambung atau mengurangi
produksinya.
Ada beberapa pendekatan penatalaksanaan. Pertama, terapi suara dengan komponen
utama berupa edukasi dasar anatomi dan fisiologi produksi suara. Pasien harus mengerti
hubungan antara gangguan suara dan penyebabnya sehingga lebih menyadari apa yang boleh
dilakukan dan apa yang dihindari. Kedua, konservasi suara yang prinsipnya lebih praktis dan
realistis dibandingkan terpai suara. Caranya adalah dengan mengurangi penggunaan suara
21

atau istirahat bersuara (vocal rest) pada pasien dengan laringitis akut, disamping pemberian
obat-obatan, yang bertujuan mengurangi oedem jaringan. Perlu juga mengurangi sumber
penyalahgunaan suara dan menggunakan alat pengeras suara.
Terapi tingkah laku suara ditujukan untuk meningkatkan aspek teknik penggunaan suara
termasuk pernapasan perut, latihan penggunaan tinggi nada dan istirahat yang benar,
meningkatkan phrasing dan tehnik-tehnik spesifik lainnya.
Terapi medikamentosa terutama ditujukan untuk mengurangi oedem jaringan dengan
pemberian obat-obat anti inflamasi steroid atau nonsteroid. Indikasi penggunaan antibiotik
atau dekongestan antihistamin pada pasien dengan suara parau jarang walaupun pada pasien
juga terdapat rhinosinusitis atau bakterial laringotrakeitis, yang mungkin menyebabkan
terjadi komplikasi pada pasien dengan suara parau.
Indikasi tindakan bedah dilakukan tergantung penyebab dari suara parau. Misalnya
adanya suatu nodul atau polip yang terdapat pada pita suara maka tindakan bedah mungkin
diperlukan selain juga harus menghilangkan faktor pencetus terbentuknya nodul atau polip
akibat penyalahgunaan suara. Pada beberapa kondisi tertentu suara parau memerlukan terapi
yang spesifik. Pembedahan dianjurkan untuk diagnosis (contoh:biopsi) dan terapi (contoh:
mengambil massa tumor dan laser surgery). Operasi dapat dilakukan dengan fibre optic
endoscope dengan anestesi umum. Pembedahan pada penyebab suara parau non-cancer hanya
diindikasikan jika penatalaksanaan dengan cara lain gagal.

22

BAB III
KESIMPULAN
Suara serak merupakan suatu gejala tetapi jika prosesnya berlangsung lama maka
merupakan tanda awal dari penyakit yang serius di daerah tenggorok. Berbagai dampak yang
mungkin timbul akibat suara parau, yaitu dampak terhadap kualitas hidup dan kelainan
permanent pada laring. Dampak kualitas hidup terutama terjadi akibat ketidakmampuan
untuk berbicara terus menerus dalam waktu lama, sehingga dapat mengganggu pekerjan,
sosialisasi dengan masyarakat sekitar dan juga secara ekonomis baik secara langsung maupun
tidak langsung. Hal ini dapat disebabkan oleh kelainan kongenital, infeksi, inflamasi, tumor,
trauma, maupun penyakit sistemik. Penatalaksanaannya terdiri dari terapi konservatif, terapi
suara, terapi medika mentosa dan terapi operatif.

23

DAFTAR PUSTAKA

1. Schwartz

SR,

Cohen

SM,

Dailey

SH.

Clinical

Practice

Guidelines

Hoarseness(dysphonia). In : Otolaryngology Head And Neck Surgery. Vol 141. 2009.


2. Sulica L. Hoarseness. In : Archives Of Otolaryngology Head and Neck Surgery Vol. 137
No. 6, June 2011.
3. Rubin JS, Scheren SC. Basics Of Voice Production. Otolaryngology Basic Sciences
AndClinical Review. Thieme. New York 2005. p:525-526
4. Sulica L. Voice : Anatomy, Physiology And Clinical Evaluation. Head And Neck Surgery
-Otolaryngology, 4th ed. Lippincott Wiliam Wilkins. 2006. Chap. V.
5. Lalwani AK. Voice Production in : Larynx And Hypopharynx. Current Diagnosis
AndTreatment Otolaryngology Head And Neck Surgery. New York. Chap. VIII .
6. Hermani B, Kartosoediro S, Hutauruk SM. Disfonia. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga
Hidung

Tenggorok

Kepala

Dan

Leher.

Edisi

6.

Balai

Penerbit

Fakultas

KedokteranUniversitas Indonesia. Jakarta, 2007. p : 231-236


7. Cummings CW, Flint PW, Haughey BH, et al, eds. Otolaryngology: Head and Neck
Surgery. 5th ed. St Louis, Mo; Mosby; 2010.
8. Feierabend RH, Malik SN. Hoarseness in adults. Am Fam Physician. 2009;80(4)363-370.
9. Lundy SD, Casiano R. Diagnosis and management of hoarseness. Hospital Physician.
2000.p: 59-61.
10.

Banovetz JD. Gangguan laring jinak. Dalam: Adams GL, Boies LR, Higler PA, editor.
Boies Buku Ajar Penyakit THT edisi keenam. Jakarta: EGC.1997.Hal 379-91.

24