Anda di halaman 1dari 30

MAKALAH KIMIA ANALITIK

Pemicu II
Topik: Spektrofotometri

Kelompok 1
Clarissa Merry

(1506737905)

Fadel Alfarouq

(1506717986)

Ghina Alika Pramita

(1506717840)

Mega Larasati

(1606951203)

Mohamad Sofwan Rizky

(1506728081)

Muhammad Mifrah Rafi

(1506717872)

Departemen Teknik Kimia


Fakultas Teknik
Universitas Indonesia
Depok 2016

DAFTAR ISI
1

Daftar Isi ii
Daftar Gambar... ii
Daftar Tabel... ii
Bab I Pendahuluan. 1
1.1 Latar Belakang..1
1.2 Tujuan Penulisan..2
1.3 Rumusan Masalah.2
Bab II Pembahasan..3
2.1 Topik 1: Kasus Pencemaran Merkuri (Studi Pengujian dengan AAS).3
2.2 Topik 2: Kasus Penambahan Aditif Formalin pada Bakso (Studi Pengujian dengan
Spektrofotometri UV-Vis).8
2.3 Topik 3:Analisis Hasil Penelitian Biodiesel (Studi Penggunaan dengan
Spektrofotometri IR).14
Bab III Penutup...27
3.1 Kesimpulan27
Daftar Pustaka.28
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Rangkaian Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS)..5
Gambar 2. Skema kerja Spektro UV-Vis.10
Gambar 3. Grafik larutan KMnO4 dengan 5 macam konsentrasi.......12
Gambar 4. Grafik Absorbansi terhadap Konsentrasi.......13
Gambar 5. Spektrofotometer Infrared..21
Gambar 6. Mekanisme Kerja Spektroskopi IR23

DAFTAR TABEL
Tabel 1. Data Absorbtivitas Larutan KMnO4..11
Tabel 2. Perbandingan Biodiesel dan Petrodiesel19
Tabel 3. Korelasi Inframerah dengan Bilangan Gelombang.......24
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
2

Kosmetik merupakan salah satu komoditas utama penjualan bagi para penjual
yang ingin mencari keuntungan. Hal ini dapat dilihat dari jumlah kaum wanita dan
pria yang ingin mempercantik diri dengan berbagai keuntungan yang diberikan oleh
berbagai macam kosmetik tersebut. Sangat disayangkan bahwa seringkali kosmetik
yang diperjualbelikan di pasaran tidak memenuhi kriteria kesehatan yang telah
ditentukan. Banyak kosmetik yang menggunakan bahan berbahaya sehingga
dampaknya bukanlah untuk mempercantik diri, namun menjadi sumber penyakit. Di
Indonesia, memiliki kulit putih merupakan sesuatu yang dicari-cari orang, khususnya
kaum wanita, tentunya ini menjadi sasaran utama penjualan di mana banyak barang
kosmetik yang dapat memutihkan kulit, Permasalahannya terdapat pada bahan-bahan
yang terkandung di dalam barang kosmetik tersebut, salah satunya adalah merkuri
(Hg). Dengan melihat kondisi tersebut maka harus dilakukan analisis terlebih dahulu
apakah terdapat bahan berbahaya di dalam barang kosmetik yang dijual atau tidak.
Saat ini, dapat kita temukan begitu banyak metode-metode analisis dalam menentukan
kandungan suatu sampel. Hal ini perlu ditindak lajuti dengan mengetahui kandungan
kosmetik yang akan digunakan, salah satu usahanya ialah dengan menganalisis
dengan Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS).
Selain kosmetik, perkembangan pengolahan makanan juga berkembang di
kalangan produen makanan. Hal ini bertujuan untuk membuat makanan tersebut
memiliki cita rasa yang baik, tampilan yang menarik, dan angka penjualan yang
tinggi. Namun, sebagian produsen menambahkan beberapa bahan berbahaya ke dalam
makanan, contohnya ialah formalin dan boraks. Formalin pada umumnya digunakan
sebagai pengawet mayat bukanlah sebagai bahan aditif makanan, begitupun dengan
boraks. Mereka ditambahkan ke dalam bakso untuk menambah daya tariknya. Bahanbahan tambahan ini memiliki efek yang berbahaya sehingga perlu dikaji apakah
dalam bakso yang dimakan oleh konsumen terkandung formalin dan boraks di
dalamnya. Salah satu cara mengetahuinya ialah menggunakan metode analisis
Spektrofotometri UV-Vis.
Perkembangan ilmu pegetahuan dimanfaatkan pada produksi bahan bakar
yang berasal dari minyak kelapa sawit yakni biodiesel. Bahan bakar ini merupakan
alternatif yang dapat digunakan sebagai pengganti petrodiesel yang berasal dari fosil.
Penggunaan biodiesel sebagai sumber energi semakin menuntut untuk direalisasikan
sebab selain merupakan solusi kelangkaan energi fosil pada masa mendatang,
biodiesel juga dapat diperbaharui, dapat terurai, memiliki sifat pelumasan, dan
3

mampu mengurangi emisi karbon dioksida dan efek rumah kaca. Untuk menghasilkan
biodiesel kualitas yang baik, maka perlu dianalisis parameter-parameter tertentu, salah
satunya ialah rumus bangun biodiesel. Salah satu cara mengoptimalkan rumus bangun
biodiesel adalah menggunakan metode analisis Spektrofotometer Inframerah.
1.2 Tujuan Pembelajaran
Adapun tujuan pembelajaran dari pemicu spektrofotometri antara lain:
1. Mempelajari peranan merkuri dalam kosmetik serta dampak yang ditimbulkan
dari pemakaiannya.
2. Mengusulkan metode serta instrumen Atomic Absorption Spectrometry (AAS)
dan mengaplikasikannya pada analisis kandungan merkuri pada produk
kosmetik di Indonesia.
3. Mempelajari dampak dari penggunaan bahan aditif dalam makanan
4. Mengusulkan metode dan instrumen Spektrofotometri UV-Vis dalam
menganalisis kandungan formalin pada makanan bakso.
5. Mempelajari metode Spektrofotometri Inframerah untuk mengetahui rumus
bangun ester pada biodiesel sebagai pengganti bahan bakar petrodiesel.
1.3 Rumusan Masalah
1. Bagaimana cara menganalisis kandungan merkuri pada produk kosmetik
menggunakan metode Atomic Absorption Spectrometry?
2. Bagaimana cara mengetahui kandungan zat aditif pada makanan bakso
dengan menggunakan metode Spektrofotometri UV-Vis?
3. Bagaimana cara mengetahui rumus bangun pada biodiesel dengan Spektro
Inframerah?

BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Topik 1: Kasus Pencemaran Merkuri (Studi Pengujian dengan AAS)
1. Mengapa merkuri banyak digunakan dalam kosmetik? Bagaimana peranan
merkuri tersebut dalam kosmetik?
Seiring dengan perkembangan zaman, merkuri banyak digunakan pada
kosmetik karena dapat dipakai untuk memutihkan kulit secara instan. Hal ini
bermula pada kebiasaan manusia pada zaman Mesir Kuno dan Cina yang
4

menyatakan bahwa merkuri tebukti dapat digunakan dalam dunia kedokteran


khususnya untuk memutihkan kulit. Dibanding produk-produk pemutih yang pada
dasarnya tidak secara langsung memutihkan kulit, merkuri memang bekerja lebih
instan sehingga akhirnya banyak digunakan sebagai sabun atau krim pemutih kulit
manusia.
Di samping itu, zat ini juga ditemukan pada kosmetik yang lain, seperti
pembersih riasan dan maskara. Adanya garam merkuri dalam kosmetik mencegah
terbentuknya melanin pada kulit yang pada akhirnya membuat warna kulit
menjadi lebih cerah (Engler, 2005). Selain itu, merkuri memiliki khasiat untuk
memucatkan noda hitam (cokelat) pada kulit. Tujuan penggunaannya adalah agar
dapat menghilangkan atau mengurangi hiperpigmentasi pada kulit, di mana efek
merkuri dapat mempengaruhi enzim trikinase dalam menghambat tirosin sehingga
pembentukan melanin tidak terjadi dan kulit menjadi lebih putih.
2. Mengapa hal ini mengkhawatirkan para aktivis di BPOM dan juga
masyarakat pada umumnya?
Merkuri (air raksa, Hg) adalah salah satu jenis logam yang banyak
ditemukan di alam dan tersebar dalam batu - batuan, biji tambang, tanah, air dan
udara sebagai senyawa anorganik dan organik. Di antara berbagai macam logam
berat yang ada, merkuri dan turunannya disebut sebagai bahan pencemar paling
berbahaya. Semua senyawa Hg bersifat toksik untuk makhluk hidup dalam jumlah
yang cukup dan dalam waktu yang lama.
Sepanjang tahun 2014, BPOM telah menarik sekitar 68 produk kosmetik
dengan bahan berbahaya dari peredaran, termasuk produk-produk yang
mengandung merkuri. Hal ini dikarenakan semua komponen merkuri dalam
bentuk apapun yang masuk ke dalam tubuh manusia secara terus menerus akan
menyebabkan berbagai kerusakan permanen pada otak, hati, dan ginjal. Jangka
waktu, intensitas dan jalur paparan serta bentuk merkuri sangat berpengaruh
terhadap sistem yang dipengaruhi. Keracunan akut oleh elemen merkuri yang
terhisap mempunyai efek terhadap sistem pernafasan sedang garam merkuri yang
tertelan akan berpengaruh terhadap sistem saluran pencernaan. Sementara itu,
kegagalan ginjal akibat proteinuria juga dapat terjadi sebagai efek sekunder
(paparan) melalui uap merkuri pada saluran pernafasan yang berdampak pada
sistem kardiovaskuler. Apabila terjadi akumulasi pada ginjal yang diakibatkan
oleh masuknya garam anorganik merkuri, hal ini menyebabkan turunnya
5

kemampuan fungsi ginjal atau disfungsi ginjal. Sedangkan merkuri yang terpapar
melalui kulit dapat merusak pigmen-pigmen kulit sebagai akibat langsung dari
pemakaian produk kosmetik yang mengandung merkuri. Sehingga, hilangnya
kecantikan secara fisik dapat terjadi karena sering kali kosmetik yang
mengandung merkuri memunculkan efek rebound, yakni memunculkan efek
berkebalikan di mana kulit menjadi gelap dan kusam.
Selain itu, limbah merkuri dari produk kosmetik yang memasuki
lingkungan dan rantai makanan akan menjadi zat yang sangat beracun yakin
metilmerkuri. Merkuri akan meracuni air yang dimasukinya sehingga akan
membunuh makhluk hidup yang ada di dalamnya. Selain itu, wanita hamil yang
mengkonsumsi ikan yang mengandung metilmerkuri ini akan mentransfer merkuri
tersebut ke dalam bayinya dan menyebabkan gangguan pertumbuhan saraf pada
bayinya .
3. Bila Anda termasuk dalam tim independen yang meneliti kasus ini, dan Anda
menggunakan AAS (Atomic Absorption Spectrometry) untuk menganalisis
kandungan merkuri, rancangan penelitian apa yang Anda lakukan?
Langkah pertama adalah mengkaji terlebih dahulu metode AAS sebagai
salah satu cara dalam menganalisis kandungan merkuri dalam kosmetik. Atomic
Absorption Spectrometry (AAS) adalah suatu alat yang digunakan pada metode
analisis untuk penentuan unsur-unsur logam dan metaloid yang berdasarkan pada
penyerapan cahaya oleh atom. Metode ASS ini mempunyai keunggulan dalam hal
selektivitas dan sensitivitas yang cukup baik untuk analisis merkuri total dalam
sampel (Elmer, 1982).

Gambar 1. Rangkaian Atomic Absorption Spectrophotometer (AAS)


Sumber: http://lab-training.com/

Selanjutnya, mempersiapkan instrumen AAS seperti yang terlihat pada


gambar di atas, di mana AAS terdiri dari beberapa komponen utama: hollow
cathode lamp, sebuah sumber cahaya yang memancarkan cahaya stabil dan intens
dengan panjang gelombang tertentu yang akan diserap oleh sampel (253.7nm
untuk lampu merkuri); unit pembakaran; monokromator dan fotodetektor. Setiap
elemen dapat dengan mudah menyerap panjang gelombang tertentu. Oleh karena
itu penurunan intensitas sumber cahaya dapat dilakukan untuk menentukan
konsentrasi elemen hadir dalam sampel. Grafik absorbansi terhadap konsentrasi
(grafik standar) dapat diatur dengan menggunakan larutan standar, sehingga
pembacaan mesin dapat dikonversi ke hasilnya.
Langkah metode AAS dalam menganalisis kandungan merkuri dalam
kosmetik dapat dijabarkan sebagai berikut:
a. Pengukuran intensitas sumber cahaya tanpa sampel.
b. Perlakuan awal di mana sampel yang mengandung merkuri diabsorb ke
dalam mesin.
Preparasi sampel dengan menguapkan sampel larutan merkuri.
Pembuatan larutan baku merkuri. Larutan induk merkuri dilarutkan
dengan larutan asam, lalu dicukupkan volumenya dengan

penambahan aquades.
Pembuatan kurva kalibrasi dengan berbagai konsentrasi, di mana
pada akhirnya didapatkan persamaan regresi linear yang akan

menentukan koefisien korelasinya (r).


c. Sampel yang telah diuapkan dialirkan ke atomizer atau unit
pembakaran yang akan mengubah sampel menjadi atom-atomnya.
Campuran dengan gas yang mudah terbakar (asetilen) dan udara
teroksidasi (oksigen) di ruang pencampuran.
d. Cahaya ditembakkan ke sampel yang berada dalam atomizer, yang
memunculkan sebagian cahaya diabsorb oleh merkuri dan sebagian
lainnya beralih menuju fotodetektor.
e. Detektor menentukan tingkat absorbansi dari sampel.
f. Data yang didapat dilakukan perhitungan menggunakan hukum
Lambert Beer atau dibandingkan dengan grafik standar untuk
mendapatkan konsentrasi merkuri.
4. Teknik pengambilan data analisis apa yang akan Anda lakukan dengan
metode AAS ini?
7

Ada tiga teknik yang biasa dipakai dalam analisis secara spektrometri.
Ketiga teknik tersebut adalah adisi standar, adisi sampel dan metode kalibrasi.
Selanjutnya

rancangan

penelitian

yang

penulis

ajukan

adalah

dengan

menggunakan metode adisi standar, hal ini dikarenakan alasan berikut yang akan
dijelaskan secara lebih mendalam.
Metode adisi standar ini dipakai secara luas karena mampu meminimalkan
kesalahan yang disebabkan oleh perbedaan kondisi lingkungan (matriks) sampel
dan standar. Dalam metode ini dua atau lebih sejumlah volume tertentu dari
sampel dipindahkan ke dalam labu takar. Satu larutan diencerkan sampai volume
tertentu kemudiaan larutan yang lain sebelum diukur absorbansinya ditambah
terlebih dahulu dengan sejumlah larutan standar tertentu dan diencerkan seperti
pada larutan yang pertama. Menurut hukum Beer akan berlaku hal-hal berikut:
Ax=k .Ck
AT =k ( Cs+Cx )
di mana :
Cx = konsentrasi zat sampel
Cs = konsentrasi zat standar yang ditambahkan ke larutan sampel
Ax = absorbansi zat sampel (tanpa penambahan zat standar)
AT = absorbansi zat sampel + zat standar
Jika kedua rumus di atas digabung maka akan diperoleh Cx = Cs + {Ax/
(AT-Ax)}. Konsentrasi zat dalam sampel (Cx) dapat dihitung dengan mengukur
Ax dan AT dengan spektrometri. Jika dibuat suatu seri penambahan zat standar
dapat pula dibuat grafik antara AT terhadap Cs garis lurus yang diperoleh dari
ekstrapolasi ke AT = 0, sehingga diperoleh:
Cx=Cs x {
Cx=Cs x (

Ax
}
(0 Ax)

Ax
)
Ax

Cx=Cs x (1)
Cx=Cs

Dengan mengaplikasikan prinsip dan metode adisi standar di atas,


pembuatan larutan standar dapat dilakukan dengan cara pengenceran larutan induk
8

dengan menggunakan labu takar pada volume tertentu. Sehingga, terdapat deretan
larutan standar dengan jumlah tiga hingga lima varian. Metode AAS dapat
digunakan untuk menganalisis kandungan merkuri pada sampel kosmetik yang
ingin diuji dengan analisis satu spektrum garis atau panjang gelombang yang
tercatat pada alat pencatat panjang gelombang. Setelah disesuaikan dengan larutan
baku, merkuri yang terkandung dalam kosmetik dapat ditentukan konsentrasinya.
5. Bila pihak lain meragukan kecanggihan AAS yang Anda gunakan,
bagaimana meyakinkan pihak tersebut? Jelaskan lebih rinci karena orang
yang Anda hadapi tidak tahu sama sekali mengenai metode AAS ini.
Langkah pertama adalah menjelaskan prinsip dari metode AAS kepada
pihak tersebut. Metode AAS atau Atomic Absorption Spectrometry adalah salah
satu metode analisis yang menggunakan prinsip absorpsi cahaya oleh atom.
Metode AAS merupakan teknik analisis kuantitafif dari unsur-unsur yang
pemakaiannya sangat luas di berbagai bidang karena prosedurnya selektif,
spesifik, biaya analisisnya relatif murah, sensitivitasnya tinggi (ppm-ppb),
praktis dalam pembuatan matriks yang sesuai dengan standar, waktu analisis
sangat cepat, dan mudah dilakukan.
Lebih detailnya, metode AAS memiliki range ukur optimum pada
panjang gelombang 200-300 nm. Sementara dalam menganalisis merkuri pada
kosmetik, panjang gelombang yang digunakan kurang lebih 250 nm sehingga
sangat sensitif dan baik dalam menentukan kandungan unsur-unsur logam.
Analisis kandungan merkuri dengan metode AAS ini sangat valid dalam
menganalisis kandungan unsur logam dikarenakan merkuri merupakan salah satu
unsur logam.
Di samping itu, metode AAS memiliki kelebihan dibandingkan dengan
spektrometer yang lain seperti:

Bersifat spesifik

Batas (limit) deteksi rendah

Dari satu larutan yang sama, beberapa unsur berlainan dapat diukur

Pengukuran dapat langsung dilakukan terhadap larutan contoh

Dapat diaplikasikan kepada banyak jenis unsur dalam banyak jenis


contoh.
9

Batas kadar-kadar penentuan luas (dari ppm hingga %)

2.2 Topik 2: Kasus Penambahan Aditif Formalin pada Bakso (Studi Pengujian dengan
Spektrofotometri UV-Vis)
1. Mengapa banyak pedagang bakso yang menggunakan bahan-bahan aditif
tersebut untuk produk makanan mereka? Dapatkah Anda menjelaskan efek
berbahaya dari penggunaan formalin dan fosfat dalam makanan bakso bagi
kesehatan?
Alasan pedagang bakso menambahkan bahan-bahan aditif berbahaya
seperti formalin dan boraks pada bakso yang dijual agar produk olahannya
menjadi lebih menarik, lebih tahan lama, dan lebih ekonomis sehingga diharapkan
dapat menghasilkan keuntungan yang lebih besar. Boraks merupakan bahan kimia
yang banyak dipergunakan untuk industri kertas, pengawet kayu, pengontrol
kecoa dan industri keramik. Salah satu penyebab boraks ditambahkan ke dalam
bakso adalah efek pengenyalnya. Bakso yang mengandung boraks lebih kenyal
daripada bakso tanpa boraks. Ia juga tahan lama dan awet hingga beberapa hari,
serta warnanya juga lebih putih. Berbeda dengan bakso tanpa boraks yang
berwarna abu-abu dan merata di semua bagian.
Formalin merupakan cairan yang tidak berwarna, berbau menyengat, serta
mudah larut dalam air dan alkohol. Masyarakat saat ini menggunakan formalin
sebagai bahan pengawet untuk bakso dengan tujuan agar bakso terlihat segar. Di
dalam formalin terkandung sekitar 37% formaldehid dalam air, di mana bila
digunakan sebagai bahan pengawet biasanya ditambahkan metanol hingga 15%.
Senyawa fosfat (STPP) juga berperan dalam hal nutrisi melalui
pembentukan kompleks yang stabil dengan kalsium, besi dan magnesium yang
memungkinkan nutrient tersebut terserap dinding usus dapat digunakan oleh
tubuh. STPP dapat pula bereaksi dengan pati, di mana ikatan antara pati dengan
fosfat diester atau ikatan silang antar gugus hidroksil (OH) akan menyebabkan
ikatan pati menjadi kuat, tahan terhadap pemanasan dan asam sehingga dapat
menurunkan derajat pembengkakan granula serta meningkatkan stabilitas adonan.
STPP mampu menambah cita rasa, memperbaiki tekstur, mencegah terjadinya
rancidity (ketengikan), dan meningkatkan kualitas produk akhir dengan mengikat
zat nutrisi yang terlarut dalam larutan garam seperti protein, vitamin dan mineral.
STPP juga dapat menyerap, mengikat dan menahan air, meningkatkan water
holding capacity (WHC), dan keempukan.
10

Apabila dalam dosis yang berlebihan, dampak negatif dari pemakaian zat
aditif berbahaya di atas antara lain:
a. Mulut, tenggorokan, dan perut terasa terbakar. Sakit saat menelan,
mual, muntah, diare, perdarahan, sakit perut yang hebat, sakit kepala,
hipotensi, kejang, dan koma.
b. Kerusakan pada hati, jantung, otak, limpa, pankreas, SSP dan ginjal.
c. Iritasi saluran pencernaan, penurunan suhu tubuh, dan rasa gatal di
dada.
2. Bila Anda termasuk dalam anggota tim yang meneliti tentang kadar formalin
dalam daging bakso dan Anda menggunakan spektrofotometri UV-Vis,
rancangan penelitian apa yang akan Anda lakukan?
Rancangan yang akan dibuat adalah penelitian kadar formalin
menggunakan spektrofotometri UV-Vis dengan metode kuantitatif. Langkah
pertama yang dilakukan adalah pembuatan kurva standar formalin. Nilai
absorbansi yang didapatkan dimasukkan dalam persamaan matematis kurva
standar yang telah dibuat yang menggambarkan hubungan konsentrasi
formaldehida dengan absorbansi spektrofotometer. Prosedur dasar dalam analisis
kuantitatif secara spektroskopi

adalah

dengan

membandingkan

absorbsi

energi radiasi pada suatu panjang gelombang tertentu oleh suatu larutan contoh
terhadap suatu larutan standar. Panjang gelombang yang dipakai dalam suatu
analisis dipilih sedemikian sehingga zat yang dianalisis akan mengabsorbsi
radiasi panjang gelombang tersebut, dan sedapat mungkin tidak dipengaruhi oleh
kemungkinan adanya zat pengganggu ataupun adanya variasi dalam prosedurnya.
Bila zat yang dianalisis berwarna, maka warna komplementernya merupakan
petunjuk panjang gelombang yang digunakan.

11

Gambar 2. Skema kerja Spektro UV-Vis


Sumber: https://www.thermofisher.com
Dalam menentukan kadar formalin pada bakso digunakan metode
spektofotometri yang menggunakan alat spektofotometer. Langkah langkah
analisis yang dapat dilakukan melalui spektrofotometer UV-Vis adalah sebagai
berikut:
a. Menyiapkan sampel dengan mengambil sedikit daging bakso kurang
lebih satu gram kemudian dihaluskan dan dicampurkan dengan
akuades.
b. Memasukkan larutan daging bakso ke dalam kuvet.
c. Menempatkan

sampel

spektofotometer

tersebut

dan larutan

di

referensi

ruang
yang

sampel
berupa

dalam
aquades

ditempatkan di ruang referensi.


d. Mengukur absorbansi dari sampel dengan memberi gelombang dari
325-625 nm.
e. Menghitung konsentrasi formalin dengan kurva kalibrasi yang didapat.
f. Membandingkan hasil yang di dapat dengan kurva kalibrasi.
3. Bagaimana Anda melakukan analisis kuantitatif suatu senyawa dengan
menggunakan

metode

spektrometri

UV-Vis?

Berikan

suatu

contoh

pengolahan data spektroskopi UV-Vis untuk menentukan konsentrasi suatu


senyawa dalam cuplikan?
Dalam melakukan analisis kuantitatif suatu senyawa dengan metode
spektrometri UV-Vis, berikut adalah salah satu contoh aplikasi metode
spektrometri UV-Vis dalam menentukan konsentrasi kalium permanganat
(KMnO4).
Tabel 1. Data Absorbtivitas Larutan KMnO4
Absorbtivitas Larutan KMnO4
(nm)
800
798
796
794
792
790
788

0.05 x 10-5
0.0054
0.0056
2
0.0057
5
0.0059
2
0.0059
9
0.0059
1
0.0061
9
6

0.1 x 10-5
0.00567
0.00582
0.00599
0.00644
0.00647
0.00673
0.00689

0.25 x 10-5
0.0124
0.0128
7
0.0130
6
0.0136
3
0.0139
3
0.0143
4
0.0146
4
9

0.5 x 10-5
0.01238
0.0128
0.01329
0.01387
0.01426
0.01492
0.0155

1 x 10-5
0.02652
0.02734
0.02803
0.02927
0.03025
0.03124
0.03272

xxx M
0.01857
0.01865
0.01902
0.01918
0.01954
0.01986
0.02017
12

786

404
402
400

0.0063
0.00722
0.0151
0.01605
0.03376

..
.
..
.
9
9
..
..
.
..
...
0.1610
0.63621
0.7658
0.63046
1.04955
0.1681
0.65818
0.8185
0.72517
1.23856
7
1
0.1762
0.68275
0.8794
0.836759
1.46202
1
9
Permanganat KMnO4
7 Sumber: Penentuan Konsentrasi
3

0.0206
..
..
0.66038
0.72018
0.78952

Percobaan analisis spektroskopi UV-Vis Penentuan Konsentrasi


Permanganat (KMnO4) ini dilakukan menggunakan alat spektrofotometer
UV-Vis serta larutan KMnO4 berbagai konsentrasi. Pembuatan larutan
KMnO4 dengan bermacam-macam konsentrasi dapat dilakukan dengan
pengenceran menggunakan aquades dengan persamaan:
V1. M1 = V2.M2
-5
Dari larutan KMnO4 dengan konsentrasi 2 x 10 M akan dibuat
-5

menjadi larutan KMnO4 dengan konsentrasi 1.10


5

0.25.10

M, 0.1.10

-5

M, 0.05.10

-5

M,

0.5.10

-5

M,

M.

Selanjutnya yaitu menganalisis spektroskopi dari larutan KMnO4


menggunakan spektrofotometer yang berujung pada untuk setiap sampel
didapatkan grafik hubungan antara absorban (A) dan panjang gelombang ()
dari komputer.
Prinsip dari analisis spektroskopi sendiri yaitu cahaya dari
spektrometer yang terdifraksi menggunakan difraktometer (cermin / prisma),
sehingga cahaya terbagi menjadi dua dengan itensitas yang sama. Sebagian
cahaya melalui pelarut dengan intensitas sebesar Io, dan sebagian lagi melalui
sampel dengan intesnsitas I. Kemudian hubungan antara Io dengan I. Atau
dapat dikatakan bagian cahaya yang diteruskan disebut transmisi (T) dan
Grafik
vs diserap
(nm)oleh
darisampel
larutan
KmnO4
berbagai
konsentrasi
bagian A
yang
disebut
(A). Hubungan
antara
A dan T dapat
7
dirumuskan:

(panjang

6
A = - log T
5
4 Sehingga diperoleh grafik hubungan
3
gelombang)
sebagai berikut:
2
1
0

300

400

500

600
(nm)

antara A (absorbansi) dengan

13
700

800

900

Gambar 3. Grafik larutan KMnO4 dengan 5 macam konsentrasi


Sumber: Penentuan Konsentrasi Permanganat KMnO4

Dari grafik diatas dapat dilihat panjang gelombang maksimum yaitu


sebesar 600 nm. Selanjutnya dapat ditentukan nilai absorban (A) untuk tiap
konsetrasi dari panjang gelombang maksimum (600 nm).
Konsentrasi
0.0000005
(c)
0.000001
0.0000025
0.000005
0.00001

A
0.312
0.711
48
1.726
44
3.116
4
196

Dari data tersebuat dibuat grafik hubungan antara absorban (A) vs


konsentrasi (c), sehingga diperoleh persamaan garis lurus y = mx + c ,
dengan y = A (absorbansi), m=a.b (absorbtivitas dikali tebal kuvet 10 mm )
dan x = c (konsentrasi).

14

Grafik A vs C
8
6
A 4

f(x) = 591625.21x + 0.12


R = 1

2
0
0

Gambar 4. Grafik Absorbansi terhadap Konsentrasi


Sumber: Penentuan Konsentrasi Permanganat KMnO4
Persamaan garis lurus yang diperoleh yaitu y = 591.573x + 0.125, maka
diperoleh nilai m=591.573 dan A= 59157300. Sehingga, berdasarkan
perhitungan

C=

Amax
m

maka didapatkan nilai konsentrasi sebesar c = 7.93. 10-5

15

4. Bagaimana Anda meyakinkan teman-teman dalam tim bahwa penggunaan


spektrofotometer UV-Vis dalam menentukan kadar formalin ini sudah tepat?
Jelaskan lebih rinci mengenai metode ini.
Pertama-tama, mencoba memaparkan

ulang

prinsip

kerja

dari

spektrofotometer UV-Vis. Spektrometri UV-Vis adalah salah satu metoda analisis


yang berdasarkan pada penurunan intensitas cahaya yang diserap oleh suatu
media. Berdasarkan penurunan intensitas cahaya yang diserap oleh suatu media
tergantung pada tebal tipisnya media dan konsentrasi warna spesies yang ada pada
media tersebut. Spektrometri visible umumnya disebut kalori, oleh karena itu
pembentukan warna pada metoda ini sangat menentukan ketelitian hasil yang
diperoleh. Pembentukan warna dilakukan dengan cara penambahan pengompleks
yang selektif terhadap unsur yang ditentukan (Fatimah, 2005).
Pihak tersebut dapat diyakinkan dengan menjelaskan kelebihan-kelebihan
dan kekurangan yang dihadapi apabila menganalisis dengan spektrofotometri UVVis. Kelebihan- kelebihan yang dimiliki oleh spektrofotometri UV-Vis antara lain
sebagai berikut:

Spektrofotometri UV-Vis dapat mengidentifikasi dan menentukan


konsentrasi substrat tak dikenal.

Memiliki kemampuan dalam menganalisis banyak senyawa kimia.

Praktis dalam hal preparasi sampel dibanding metode lain.

Penggunaannya luas, dapat digunakan untuk senyawa anorganik, organik dan


biokimia yang diabsorpsi di daerah ultra lembayung atau daerah tampak.

Sensitivitasnya tinggi, batas deteksi untuk mengabsorpsi pada jarak 10 -4


sampai 10-5 Molar. Jarak ini dapat diperpanjang menjadi 10-6 sampai 10-7
M dengan prosedur modifikasi yang pasti.

2.3 Analisis Hasil Penelitian Biodiesel (Studi Penggunaan dengan Spektrofotometri IR)
1. Enam Isu Penting Biodiesel
a. Pengertian biodiesel
Biodiesel adalah bahan bakar mesin diesel yang terbuat dari
sumberdaya hayati yang berupa minyak lemak nabati atau lemak hewani.
Senyawa utamanya adalah ester. Biodiesel juga dapat disebut bahan bakar
yang berasal dari hewan atau minyak tumbuhan yang pembakarannya tidak
terdapat banyak emisi jelaga, oksida karbon, dan partikel sejenis (Oliveira &
16

Da Silva, 2013). Biodiesel terdiri dari campuran mono-alkyl ester dari rantai
panjang asam lemak yang diproduksi dari transesterifikasi minyak sayur dan
lemak hewan.
b. Reaksi-reaksi yang terjadi dalam pembuatan biodiesel
Biodiesel memiliki senyawa utama berupa ester. Ester dapat dibuat dari
minyak lemak nabati dengan reaksi esterifikasi atau transesterifikasi atau
gabungan keduanya.
Reaksi Esterifikasi
Reaksi esterifikasi merupakan reaksi antara asam lemak bebas dengan
alkohol

membentuk ester dan air. Reaksi yang terjadi merupakan

reaksi endoterm, sehingga memerlukan pasokan kalor dari luar.


Temperatur untuk pemanasan tidak terlalu tinggi yaitu 55-60 oC.
Secara umum reaksi esterifikasi adalah sebagai berikut :

Asam lemak bebas

alkohol

ester alkil

air

Reaksi Transesterifikasi
Reaksi Transesterifikasi sering disebut reaksi alkoholisis, yaitu
reaksi antara trigliserida dengan alkohol menghasilkan ester dan
gliserin. Alkohol yang sering digunakan adalah metanol, etanol,
dan

isopropanol.

Berikut

ini

adalah

tahap-tahap

reaksi

digliserida

ester

transesterifikasi:

trigliserida
digliserida

alkohol
alkohol

monogliserida

ester
17

monogliserida

alkohol

gliserin ester

Reaksi transesterifikasi memiliki hasil akhir sebagai berikut:

Trigliserida

3 (alkohol)

gliserin 3 (ester)

c. Proses Pembuatan Biodiesel


Pembuatan biodiesel dengan bahan baku minyak berasam lemak bebas tinggi
akan menimbulkan banyak rute karena diperlukan satu reaksi atau lebih dan
pemisahannya. berikut ini gambaran singkat mengenai rute-rute pembuatan
biodiesel.

Rute I (transesterifikasi esterifikasi )


Pada rute ini, pembuatan ester alkil dari minyak nabati dilakukan
dengan dua reaksi, transesterifikasi dan esterifikasi. Asam lemak bebas
dalam minyak lemak nabati direaksikan dengan basa membentuk
sabun. Semua asam lemak bebas dikonversi menjadi sabun, sehingga
minyak nabati yang masuk reaktor transesterifikasi bebas asam lemak
bebas. Reaksi transesterifikasi dapat dilakukan satu tahap atau dua
tahap, pada reaksi dua tahap dilakukan pemisahan gliserin di tengahtengah reaksi, hal ini dilakukan agar kesetimbangan reaksi bergeser ke
kanan, sehingga konversi yang diperoleh lebih tinggi.
Hasil yang diperoleh dari keluaran reaktor transesterifikasi adalah
ester, gliserin, sabun, dan pengotor. Ester dipisahkan dari produk dan
sabun diubah kembali menjadi asam lemak bebas dengan pengasaman.
18

Asam lemak dapat diubah menjadi ester alkil dengan reaksi


esterifikasi. Asam lemak bebas bereaksi dengan alkohol menjadi ester
dan air. Pada reaksi ini digunakan katalis asam, dapat berupa katalis
homogen (cair) atau heterogen (padat).

Rute II (esterifikasi transesterifikasi)


Seperti pada rute I, Rute ini juga menggunakan dua reaksi, yaitu
esterifikasi dan transesterifikasi. Namun pada rute ini reaksi
esterifikasi dilakukan sebelum reaksi tranesterifikasi. Hal ini dilakukan
untuk menghilangkan asam lemak bebas sekaligus menambah
perolehan biodiesel. Reaksi esterifikasi dapat dilakukan dengan katalis
homogen maupun heterogen. Esterifikasi dengan katalis homogen
menghasilkan produk yang bersifat asam sehingga sebelum reaksi
transesterifikasi, kelebihan asam ini harus dinetralkan terlebih dahulu.
Penetralan

dapat

dilakukan

dengan

penambahan

basa

atau

menggunakan resin penukar anion. Penetralan menggunakan basa


menghasilkan garam yang dapat menjadi pengotor. Hal ini tidak terjadi
karena pada penetralan, digunakan penukar ion.
Reaksi esterifikasi menghasilkan produk samping berupa air. Air harus
dipisahkan sebelum reaksi transesterifikasi. Pemisahan ini dapat
dilakukan dengan penguapan atau menggunakan absorber. Umpan
masuk reaktor transesterifikasi berupa trigliserida, ester, dan pengotor.
Trigliserida direaksikan dengan metanol menghasilkan ester dan
gliserin. Reaksi transesterifikasi dapat dilakukan dua tahap untuk
mendapatkan konversi tinggi. Pada reaksi dua tahap, pemisahan
gliserin dilakukan di antaranya kedua reaksi. Pemisahan gliserin ini
berguna untuk menggeser kesetimbangan ke kanan sehingga
konversinnya menjadi lebih tinggi.

Rute III (esterifikasi dengan metanol superkritik)


Metanol superkritik adalah metanol yang berada pada kondisi diatas
temperatur dan tekanan kritiknya, yaitu 350oC dan 30 MPa.
Esterifikasi

dengan

metanol

superkritik

mempunyai

beberapa

keunggulan yaitu waktu yang diperlukan untuk mencapai konversi


yang diinginkan jauh lebih kecil daripada dengan cara konvensional
19

dan proses

pemisahan produknya lebih mudah karena tidak

menggunakan katalis sehingga tidak ada pengotor berupa katalis sisa.


Namun, esterifikasi ini juga mempunyai kelemahan yaitu kondisi
operasi harus pada temperatur dan tekanan tinggi.
d.

Pemisahan Pengotor yang Terkandung dalam Biodiesel


Pengotor yang ada dalam biodiesel di antaranya gliserin, air, dan
alkohol sisa. Pemisahan pengotor dilakukan untuk mendapatkan biodiesel
sesuai kriteria untuk bahan bakar.
Gliserin
Gliserin dan ester membentuk dua fasa yang tidak saling larut. Gliserin
yang berada di lapisan bawah karena densitasnya lebih besar dari ester.
Pemisahan gliserin dari ester dapat dilakukan dengan cara dekantasi.
Gliserin merupakan produk samping proses pembuatan biodiesel yang
bernilai ekonomis tinggi yang dapat dijual dalam keadaan mentah
(crude glycerin) atau gliserin yang telah dimurnikan. Pemurnian
gliserin akan lebih sulit jika terbentuk sabun hasil reaksi asam lemak

bebas dengan basa.


Air
Salah satu produk samping reaksi esterifikasi adalah air. Air harus
dihilangkan sebelum reaksi transesterifikasi. Pemisahan air ini dapat
dilakukan dengan penguapan atau menggunakan absorber. Pemisahan
air dengan penguapan lebih banyak dilakukan dalam industri biodiesel
karena lebih murah. Air menjadi sulit dipisahkan jika terdapat sabun
hasil reaksi asam lemak bebas dengan basa. Air akan berikatan dengan
sabun dan gliserin sehingga pemisahannya menjadi sulit.

e. Kelebihan Biodiesel Dibandingkan dengan Petrodiesel


Tabel 2.Perbandingan Biodiesel dan Petrodiesel
Karakteristik
Bilangan setana
Kemampuan
pelumas
Biodegradasi
Toksisitas
Kadar oksigen
Aromatik

Bio Diesel
51 - 62
Lebih besar dibandingkan
diesel yang lain
Mudah
Tidak beracun
11% oksigen bebas
Tidak terdapat senyawa
aromatik

Petrodiesel
44 49
Memiliki kemampuan
pelumas yang rendah
Sukar
Sangat beracun
Sangat rendah
18-22%

20

Sulfur
Titik nyala
Bahaya limbah
Kompabilitas
bahan
Shipping

Tidak ada
300-400F
Tidak ada
Degradasi secara alami

0.05%
125 F
Tinggi
Tidak alami

Material tidak berbahaya dan


tidak mudah terbakar
Bahan bakar terbarukan

Material berbahaya

Pasokan
Bahan bakar tidak
terbarukan
terbarukan
Bahan bakar
Ya
Tidak
alternatif
Proses produksi
Reaksi kimia
Reaksi dan fraksionasi
Sumber: National Biodiesel Board, USA
Berdasarkan tabel perbandingan di atas, biodiesel memiliki kelebihan
dibandingkan dengan petrodiesel antara lain:
a) Termasuk bahan bakar yang dapat diperbaharui
b) Tidak memerlukan modifikasi mesin diesel yang telah ada
c) Tidak memperparah efek rumah kaca karena siklus karbon yang terlibat
pendek.
d) Kandungan energi yang hampir sama dengan kandungan enrgi petroleum
diesel (sekitar 80 % dari petrodiesel)
e) Penggunaan biodisel dapat memperpanjang usia mesin diesel karena
memberikan lubrikasi lebih daripada bahan bakar petroleum.
f) Aman digunakan karena lebih terurai daripada gula, kandungan racunnya
10 kali lebih rendah daripada garam,memiliki plash point yang tinggi
yaitu sekitar 2000C, sedangkan bahan bakar diesel petroleum flash
pointnya hanya sekitar 700C.
g) Bilangan setana yang lebih tinggi daripada petroleum diesel.
h) Hasil pembakaran dari biodisel ini, 90% mengurangi total hydrocarbon
yang tidak terbakar, 75 -90% mengurangi senyawa hidrokarbon aromatic,
secara signifikan mengurangi karbon monoksida dan 90% mengurangi
resiko kanker.
f. Kendala Pengembangan Biodiesel di Indonesia
Menurut Fadhil Hasan, Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa
Sawit Indonesia (GAPKI), terdapat empat kendala utama yang membayangi upaya
peningkatan porsi biodiesel hingga 10 persen dalam penggunaan energi di dalam
negeri:

21

Konsistensi dan koordinasi lintas pemerintah dalam mendorong pemanfaatan


biodiesel lemah. Hal ini dikarenakan adanya perbedaan kebijakan yang
diambil oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dan
Kementerian Perindustrian. Di satu sisi, Kementerian ESDM mendorong
penggunaan biodiesel. Sementara di sisi lain, Kemenperin mendorong
produksi mobil murah dan ramah lingkungan (low cost green car/LCGC).

Harga biodiesel. Sebelumnya, biodiesel disubsidi oleh pemerintah karena


harga yang lebih tinggi dibanding solar. Akan tetapi, saat ini subsidi tidak
lagi diberikan. Selain itu, PT Pertamina (Persero) saat melakukan tender
biodiesel, selalu menggunakan patokan Mean Of Plats Singapore (MOPS)
dalam menentukan harga biodiesel.

Minimnya creating demand, di mana pemerintah belum membuat kebijakan


seperti misalnya mewajibkan industri otomotif mengembangkan teknologi
FFV (flexi fuel vehicle). Teknologi tersebut memungkinkan penggunaan dua
jenis bahan bakar sekaligus yaitu biodiesel dan nonbiodiesel.

Masalah infrastruktur, di mana SPBU yang menyediakan biodiesel hingga


10 persen baru dapat ditemukan di beberapa tempat.

2. Enam Isu Penting Spektrofotometri IR


a. Pengertian Spektroskopi Infrared (IR)
Spektroskopi Infrared (IR) adalah metode analisis instrumentasi pada
senyawa kimia yang menggunakan radiasi sinar inframerah. Spektroskopi IR
merupakan salah satu jenis spektrofotometri molekular yang sangat efektif
untuk menentukan struktur senyawa organik dan anorganik karena hampir
semua spesi molekular (kecuali beberapa molekul homogen seperti
N 2 ,O2 , danCl 2

) dapat mengabsorbsi radiasi inframerah. Spektroskopi ini

umumnya diaplikasikan untuk mendeteksi gugus fungsional, mengidentifikasi


senyawaan dan menganalisis campuran. Spektrum IR ini mengukur derajat
vibrasi dan rotasi molekular serta ikatan dalam suatu molekul. Rentang
panjang gelombang inframerah yang digunakan untuk tujuan analisis adalah
6
2,5x 10

6
sampai dengan 16x 10

m. Satuan yang digunakan adalah

22

mikrometer dan bilangan gelombang. Nilai 2,5 16 sama dengan 4000 625
cm1 .

Gambar 5. Spektrofotometer Infrared


Sumber: http://wocono.chemistry.com/
b. Jenis Jenis Vibrasi Molekul
Molekul kimia terutama molekul organik mempunyai ikatan antar
atom dan tidak hanya diam melainkan bervibrasi (bergetar). Molekul yang
dapat menerima radiasi inframerah disebut molekul aktif inframerah. Jenis
jenisnya adalah :
Vibrasi Ulur (Stretching Vibration), merupakan suatu vibrasi yang
mengakibatkan perubahan panjang ikatan suatu molekul, memanjang
atau memendek (tarik ulur) dalam suatu bidang datar. Dibagi menjadi
dua yaitu :
Simetri yaitu ikatan antar atom bergerak bersamaan dalam satu
bidang datar
Asimetri yaitu ikatan antar atom bergerak tidak bersamaan dalam

satu bidang datar


Vibrasi Bengkok (Bending Vibration), merupakan suatu vibrasi yang
dapat bergerak mengayun secara beraturan. Hal ini mengakibatkan
adanya perubahan sudut ikatan sehingga ikatan menjadi bengkok.
Dibagi menjadi empat yaitu :
Goyangan (Rocking) yaitu ikatan antar atom mengayun searah
dalam satu bidang datar.
Guntingan (Scissoring) yaitu ikatan antar atom mengayun
berlawanan arah dalam satu bidang datar
Kibasan (Wagging) yaitu ikatan antar atom mengayun searah dan
tidak dalam satu bidang datar
Pelintiran (Twisting) yaitu ikatan antar atom mengayun berlawanan
arah dan tidak dalam satu bidang datar

c. Instrumen Spektroskopi Infrared (IR)


23

Spektroskopi FTIR adalah teknik pengukuran untuk mengumpulkan spectrum


inframerah. Energy yang diserap sampel pada berbagai frekuensi sinar
inframerah direkam, kemudian diteruskan ke interferometer. Sinar pengukuran
sampel diubah menjadi interferogram. FTIR terdiri dari lima bagian utama,
yaitu :
Sumber sinar, yang terbuat ari flamen Nerst atau globar yang

dipanaskan menggunakan listrik hingga temperatur 1000-1800 0C


Beam Splitter, merupakan bagian utama dari FTIR yang berfungsi
untuk membentuk interferogrma, yang akan diteruskan menuju

detector.
Interferometer, merupakan bagian utama dari FTIR yang berfungsi
untuk membentuk interferogram yang akan diteruskan menuju

detektor.
daerah cuplikan, dimana berkas acuan dan cuplikan masuk ke dalam
daerah cuplikan dan masing-masing menembus sel acuan dan cuplikan

secara bersesuaian.
Detektor, merupakan piranti yang mengukur energy pancaran yang
lewat akibat panas yang dihasilkan. Detektor yang sering digunakan
adalah termokopel dan balometer (Khopkar 1990).

Gambar 6. Mekanisme Kerja Spektroskopi IR.


Sumber: http://www.chemguide.co.uk/
d. Prinsip Kerja Spektroskopi Infrared (IR)
Cahaya dari sumber di atas dipecah oleh sistem cermin (tidak
digambarkan) menjadi dua berka cahaya, satu berkas untuk rujukan dan
24

lainnya untuk contoh. Setelah masing-masing melewati rujukan dan contoh


maka kedua berkas ini digabung kembali dalam alat pemenggal (chopper,
berupa cermin) dan selanjutnya diarahkan secara bergantian masuk dan
didifraksi oleh suatu kisi sehingga berkas tersebut terpecah menurut panjang
gelombang. Kemudian oleh alat detektor, beda intensitas antara kedua berkas
tadi diukur pada masing-masing panjang gelombangnya, dan terakhir
informasi ini diteruskan ke alat perekam yang menghasilkan spektrum
berwujud gambar atau grafik (Sari, 2010).
Syarat suatu gugus fungsi dalam suatu senyawa dapat terukur pada
spektra IR adalah adanya perbedaan momen dipol pada gugus tersebut. Vibrasi
ikatan akan menimbulkan fluktuasi momen dipol yang menghasilkan
gelombang listrik (Harjono, 1992).
Atom-atom dalam molekul selalu mengalami vibrasi (getaran atom
dalam molekul). Getaran atom dalam molekul dapat digambarkan dalam
tingkat energi vibrasi. Jika suatu molekul menyerap radiasi inframerah, maka
molekul tersebut akan tereksitasi ke tingkatan yang lebih tinggi. Frekuensi
radiasi yang diserap haruslah sama dengan frekuensi getaran. Molekul atom
bergetar dengan frekuensi yang bersesuaian radiasi inframerah.Vibrasi yang
spesifik inilah yang menjadi dasar pengukuran spektroskopi inframerah.
Pada IR, satuan bilangan gelombang merupakan satuan yang umum
digunakan. Nilai bilanga gelombang berbanding terbalik terhadap frekuensi
atau energinya. Terdapat kisaran nilai bilangan gelombang untuk menentukan
tipe ikatan.
Tabel 3. Korelasi Inframerah dengan Bilangan Gelombang

25

Sumber: http://www2.chemistry.msu.edu/f
e. Daerah Serapan Absorbsi
Untuk tujuan determinasi gugus fungsi, daerah serapan absorbsi berupa :

1
Daerah antara 4000 2000 cm menunjukkan daerah absorbsi yang

disebabkan oleh vibrasi regangan dan berguna untuk mengidentifikasi


gugus fungsional

Daerah antara 2000 400

cm1

seringkali sangat rumit karena

vibrasi regangan maupun bengkokan menyebabkan absorbansi pada


daerah tersebut dimana tiap senyawa organik memiliki senyawa yang
unik sehingga daerah tersebut disebut sebagai daerah sidik jari. Vibrasi
yang digunakan untuk identifikasi adalah vibrasi tekuk, khususnya
vibrasi rocking.
f. Penanganan Sampel
26

Cara Penanganan Sampel Bentuk Padat


Sampel dalam bentuk padat dapat dikerjakan dengan beberapa cara,
yaitu :
Metode Mull atau Pasta
Sampel dihaluskan lebih dahulu, lalu dicampurkan dengan 1 tetes
nujol (paraffin cair). Letakkan diatas jendela NaCl atau NaCl
window atau KBr dari sel yang tersedia. Dengan memakai spacer
lalu ditekan kedua jendela NaCl hingga tidak ada gelembung udara.
Cara ini mudah dan cepat pengerjaanya serta dapat digunakan
untuk sampel bentuk

cairan. Tetapi tidak bisa untuk analisis

kuantitatif karena peak nya kadang-kadang tertutup oleh spectrum


nujol terutama untuk senyawa yang mempunyai gugus CH 3 dan
CH.
Metode Disk atau Tablet KBr
Sampel digerus halus, dicampur dengan serbuka KBr yang kering
dan halus dengan perbandingan kira-kira 1 : 200 mg, lalu dikempa
menjadi tablet dengan alat khusus pada tekanan 5-7 ton, hampa
udara selama 5-10 menit. Cara ini agak sulit dalam membuat
tabletnya, serta lama. Tetapi keuntungannya adalah KBr tidak
mempunyai pita serapan daerah 4000-400 cm-1. Hanya kadangkadang terlihat ada serapan pada 3448cm-1 dan 1638 cm01 oleh
karena pengaruh air pada KBr.
Metode Larutan
Sampel dilarutkan dengan pelarut non polar yang cocok, lalu
diteteskan ke jendela NaCl atau KBr, spektrumnya lebih baik dari
Mull atau tablet KBr. Cara ini dapat digunakan untuk pengukuran
kuantitatif. Kelemahannya kebanyakan pelarut mempunyai pta
serapan maksimum pada beberapa panjang gelombang. Pelarut non
polar yang biasa digunakan CCl3, CHCl3,CS2,Aseton, diokasan dan
tetra hidrofuran.
Metode Film Tipis
Sampel padat diletakkan diatas lempeng NaCl, teteskan pelarut
yang cocok hingga larut, ratakan dengan menggunakan lempeng
27

NaCl lainnya. Biarkan menguap, maka diperoleh lapisan tipis pada


lempeng tersebut. Sampel boleh dilarutkan terlebih dahulu baru
diteteskan diatas lempeng NaCl. Penguapan sampel boleh
dilakukan dengan pemanasan diatas pemanas listrik atau hot plate.
Tetapi untuk sampel yang tidak mengalami degradasi. Cara ini baik
digunakan untuk analisis kuantitatif.

Cara Penanganan Sampel Bentuk Cair


Untuk sampel berupa larutan, ada dua macam cara :
Cairan diletakkan diatas sel NaCl yang dapat diatur, lalu ditekan
dengan NaCl lainnya sehingga diperoleh lapisan tipis.
Cairan dimasukkan kedalam sel yang tetap dengan ketebalan 0,1-1
mm dengan memakai syringe 0,1-1 mL.

Cara Penanganan Sampel Bentuk Gas


Sampel berupa gas atau cairan dengan titik didih rendah dimasukkan
ke dalam tempat yang khusus yang dapat mengatur masuk dam
keluarnya sampel gas melalui dua buah katup. Dalam ruang sampel gas
ini akan dapat diatur terjadinya pengamatan bentuk gas atau cair
melalui proses penguapan dan penyubliman.

28

BAB 3
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
1. Merkuri (air raksa, Hg) adalah salah satu jenis logam yang banyak ditemukan di
alam dan tersebar dalam batu-batuan, biji tambang, tanah, air dan udara sebagai
senyawa anorganik dan organik. Dewasa ini, merkuri banyak ditemukan dalam
berbagai produk kecantikan wanita, yang pada dasarnya sangat membahayakan
jika digunakan dalam jangka panjang. Merkuri berperan sebagai pemutih instan
dalam produk- produk kecantikan.
2. Metode AAS berprinsip pada absorbsi cahaya oleh atom. Atom-atom menyerap
cahaya pada panjang gelombang tertentu, sesuai sifat unsurnya. Metode AAS ini
sangat bagus dalam menentukan kandungan unsur-unsur logam. Oleh karena itu,
metode AAS melalui teknik adisi standar dapat dipakai dalam menganalisis
kandungan merkuri pada kosmetik pemutih kulit. Melalui teknik adisi standar
dapat meminimalisasi kesalahan yang disebabkan oleh perbedaan kondisi
lingkungan sampel dan standar.
3. Zat aditif seperti boraks, formalin, dan fosfat ditambahkan ke dalam makanan
bakso agar produk olahannya menjadi lebih menarik, lebih tahan lama, dan lebih
ekonomis sehingga diharapkan dapat menghasilkan keuntungan yang lebih besar.
4. Metode spektofotometri UV-Vis yaitu metode untuk menentukan konsentrasi
suatu sampel dengan menggunakan radiasi cahaya dengan panjang gelombang
berada pada panjang gelombang sinar ultraviolet dan cahaya tampak. Metode ini
sangat cocok dipakai untuk menganalisis formalin dalam makanan bakso.
5. Biodiesel merupakan bahan bakar mesin diesel yang mengandung senyawa
nabati. Di dalam biodiesel, terdapat senyawa ester yang merupakan gugus fungsi
khusus (-COO-). Biodiesel dibuat dengan proses kimia untuk memperoleh
monoalkil ester dari minyak tumbuhan atau miyak hewan dengan alkohol.
6. Spekroskopi inframerah adalah sebuah metode analisis instrumentasi pada
senyawa

kimia

yang

menggunakan

radiasi

sinar

infra

merah

untuk

mengidentifikasi gugus fungsi. Oleh sebab itu, dengan spekroskopi inframerah,


kita dapat mengetahui gugus ester yang terkandung dalam biodiesel dan
mengoptimalkan rumus bangunnya.
29

DAFTAR PUSTAKA

Bilal Ramadhan. 2012. Empat Kendala Pengembangan Biodiesel di Indonesia, [Online],


available at: http://www.republika.co.id /ekonomi/bisnis/n0n9no-pemeritahindustri-sepakatdorong-penggunaan-biodiesel\. Accessed: November 8th 2016.
Elmer, P. .1982. Analytical Methods for Atomic Absorption Spectrophotometry. USA:
Connecticute.
Engler DE .2005. Letter to the editor: Mercury bleaching creams. Journal of the American
Academy of Dermatology.
Fatimah, S., Yanlinastuti dan Yoskasih, 2005. Kualifikasi Alat Spektrometer Uv-Vis Untuk
Penentuan Uranium Dan Besi Dalam -U30s. Hasil Penelitian EBN.
Harjono, S. 1992. Spektroskopi Inframerah. Yogyakarta (ID) : Liberty
Khopkar,SM. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta (ID) : UI-Press
Mukti W, Kusnnato. 2012. Penentuan Konsentrasi Permanganat KMnO4. Surakarta:
Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Oliveira L. E., Da Silva M. L. C. P. 2013. Comparative study of calorific value of rapeseed,
soybean, jatropha curcas and crambe biodiesel. Renewable Energy and Power Quality
Journal.
Petrodiesel vs Biodiesel. 2010. Petrodiesel vs Biodiesel, [Online], available at:
http://www.sol.net.in/press/pdvsbd.html. [Accessed: November 8th 2016]
Sari, Ni Ketut. 2010. Analisa Instrumentasi. Klaten (ID) : Yayasan Humaniora
Sastrohamidjojo,H,Dr.,Spektroskopi, Liberty,Yogyakarta,1985
Skoog, Douglas A, Donald M.West dan F. James Holler. 1978. Fundamental of Analytical
Chemistry. London: Saunders College Publishing

30