Anda di halaman 1dari 7

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A. Konsep Medis
1. Pengertian
Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) atau demam berdarah dengue
adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue dan
ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti. Penyakit ini juga sering
menimbulkan kejadian luar biasa atau wabah (Nursalam, dkk., 2005 )
2. Etiologi
Demam Berdarah Dengue atau Dengue Haemorrhagic Fever (DHF)
ditularkan nyamuk Aedes Aegypti yang telah terjangkit virus Demam
Berdarah Dengue. Demam Berdarah Dengue disebabkan oleh salah satu
dari empat serotype virus yang berbeda antigen. Virus ini adalah
kelompok flavirus dan serotype adalah DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4.
Infeksi oleh salah satu jenis serotype ini akan memberikan kekebalan
terhadap Haemorrhagic Fever dapat mengalami infeksi 4 kali seumur
hidupya (Nursalam, dkk,. 2005)
3. Patofisiologi
Patofisiologi primer Demam Berdarah Dengue adalah peningkatan
akut-ermeabilitas vaskuler yang mengarah ke kebocoran plasma ke dalam
ruang ekstravaskuler, sehingga menimbulkan hemokonsentrasi dan
penurunan tekanan darah. Volume plasma menurun lebih dari 20 % pada
kasus-kasus berat. Hal ini didukung penemuan post-mortem meliputi efusi
serosa, efusi pleura, hemakonsentrasi dan hipoproteinemi.
Tidak terjadinya lesi destruktif nyata pada vaskuler, menunjukkan
bahwa perubahan sementara fungsi vaskuler diakibatkan suatu mediator
kerja singkat. Jika penderitaan sudah stabil dan mulai sembuh, cairan
ekstra vasasi diabsorpsi dengan cepat, menimbulkan

penurunan

hematokrit.
Perubahan hemostatis pada Demam Berdarah Dengue melibatkan 3
faktor yaitu perubahan vaskuler, trombositopeni, dan kelainan koagulasi.
Hampir

semua

penderita

Demam

Berdarah

Dengue

mengalami

dan banyak diantaranya penderita menunjukkan koagologram yang abnormal.peningkatan fraguilita vaskuler dan trobositopeni. Kematian jarang dengan infeksi chikungunya dan Nile barat. perdarahan atau kejang demam ( Nelson 2000 ) . kematian yang dicatat telah dianggap berasal dari ensefalitis virus. Materi patologis insufisien telah diambil dari kasus demam dengue yang telah dikonfirmasi secara virologis untuk kemungkinan gambaran yang luas.

Derajat III : Demam perdarahan spontan disertai atau tidak disertai hepatomegali dan ditemukan gejal-gejal kegagalan sirkulasi meliputi nadi yang cepat dan lemah. dengan dua atau lebih gejala seperti: nyeri kepala. menurut WHO (Soegijatno S. ekimosis atau purpura. disertai atau tidak disertai hepatomegali dan ditemukan gejala renjatan hebat (nadi tidak teraba dan tekanan darah yang tidak dapat diukur). Tes Torniquet yang positif Adanya perdarahan dalam bentuk petekiae. 2003 ) yaitu : a. Derajat II : Demam dan perdarahan spontan.. .1000 mm3). nyeri persendian. Hematamesis atau Melena Dan trombositopenia (< 100. pada umunya di kulit dan perdarahan lain. Criteria uantuk Demam Berdarah Dengue (DBD) dan Sindrom Shock Dengue (SSD). 2. nyeri otot. selama 2 hingga 7 hari. Derajat IV : Demam. b. d.5. Pemeriksaan Penunjang Laboratorium Terjadi trombositopenia (100. alat cerna gastrointestinal. Perdarahan selaput lender mukosa. tekanan nadi menurun (< 20 mmHg) atau hipotensi disertai eksternitas dingin dan anak gelisah. tempat suntikan atau di tempat lainnya.000/ml atau kurang) dan hemokonsentrasi yang dapat dilihat dan meningginya nilai hematokrit sebanyak 20 % atau lebih dibandingkan nilai hematokrit pada masa konvalesen. Gambaran Klinik Demam yang akut. bintik-bintik merah di bawah kulit sebagai manifestasi perdarahan dan leokopenia. perdarahan spontan. 1. c. Demam Berdarah Dengue adalah kasus tersangka ataupun kasus yang pasti dari dengue dengan kecenderungan perdarahan disertai adanya satu atau lebih hal-hal berikut: a. Klasifikasi Dengue Haemorhagic Fever Dengan Haemorhagic Fever diklasifikasikan derjat beratnya penyakit. Derajat I : Demam dan uji torniket positif b.

DPT 3. Riwayat gizi g. DPT 2. Riwayat imunisasi : BCG. Polio 3 : 4 bulan Hepatitis 3. Juga dijumpai leukopenia yang akan terlihat pada hari ke-2 atau ke-3 dan titik terendah pada saat peningkatan suhu kedua kalinya leukopenia timbul karena berkurangnya limfosit pada saat peningkatan suhu pertama kali. Identitas pasien b. anak bias mengalami serangan ulangan Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) dengan tipe virus yang lain. Polio 4 : 9 bulan f. Polio 2 : 3 bulan Hepatitis 2. e. Polio 1 : 2 bulan Hepatitis 1. c. DPT. Riwayat penyakit sekarang d. Riwayat penyakit yang pernah diderita Penyakit apa saja yang pernah diderita. Konsep Dasar Keperawatan 1. B. Campak.Pada pasien dengan 2 atau 3 patokan klinis disertai adanya trombositopenia dan hemokonsentrasi tersebut sudah cukup untuk klinis membuat diagnosis Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) dengan tepat. Kondisi lingkungan . Keluhan utama Alasan / keluhan yang menonjol pada pasien Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) untuk datang ke Rumah sakit adalah panas tinggi dan anak lemah. Pada Dengue Haemorrhagic Fever (DHF). Konsep pengkajian Adapun data yang meliputi : a.

Tidur dan istirahat. Eliminasi urine (buang air kecil) perlu dikaji apakah sering kencing. serta nadi lemah. Pada Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) grade IV sering terjadi hematuria. nafsu makan berkurang. Pemeriksaan fisik. keadaan umum lemah. keadaan fisik anak adalah sebagai berikut: 1. meliputi inspeksi. kecil. 3. Anak sering mengalami kurang tidur karena mengalami sakit / nyeri otot dan persendian sehingga kuantitas dan kualitas tidur maupun istirahatnya kurang. perdarahan gusi dan telinga. dan tidak teratur. dan tidak teratur. tandatanda vital dan nadi lemah. serta tensi menurun. Sementara Dengue Haemorrhagic Fever (DHF) pada grade III-IV bias terjadi melena. pantangan. somnolen. keadaan umum lemah. keadaan umum lemah. sakit / tidak. . dan nafsu makan menurun. Nutrisi dan metabolism: frekuensi. Grade I: kesadaran kompos mentis.Sering terjadi di daerah yang padat penduduknya dan lingkungan yang kurang bersih (seperti air yang menggenang dan gantungan baju di kamar). Pola kebiasaan 1. sedikit / banyak. Berdasarkan tingkatan (grade) Dengue Haemorrhagic Fever (DHF). 2. palpasi. jenis. Grade III: kesadaran apatis. Kadang-kadang anak mengalami diare / konstipasi. ada perdarahan spontan petekia. Eliminasi alvi (buang air besar). nadi lemah. i. auskultasi. h. Grade II: kesadaran kompos mentis. 3. kecil. 2. dan perkusi dari ujung rambut sampai ujung kaki. 4.

serta tulang. turgor kulit menurun. Perubahan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan perdarahan. j. Pada mulut didapatkan bahwa mukosa mulut kering. dan nyeri telan. 4. serta terjadi nyeri otot. Ekstremitas. Kepala terasa nyeri. dan asites. Abdomen. 2. Pada foto thorax terdapat adanya cairan yang tertimbun pada paru sebelah kanan (efusi pleura). 2. Mengalami nyeri tekan. berkeringat. Dada Bentuk simetris dan kadang-kadang terasa sesak. hidung kadang megalami perdarahan (epistaksis) pada grade II. mata anemis. sendi. ronchi +. muntah. dan muncul keringat dingin. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan peningkatan permeabilitas kapiler. III. Kepala dan leher. Diagnosa keperawatan 1. 5. Grade IV: kesadaran koma.4. tanda-tanda vital: nadi tidak teraba. III. dan kulit tampak biru. Sistem integument 1. pembesaran hati (hepatomegali). ekstremitas dingin. 2. 6. dan lembab. Akral dingin. Adanya petekia pada kulit. perdarahan. . terjadi perdarahan gusi. IV). Kuku sianosis / tidak. pernapasan tidak teratur. yang biasanya terdapat pada grade III dan IV. rales +. tensi tidak terukur. IV. 3. Sementara tenggorokan mengalami hyperemia pharing dan terjadi perdarahan telinga (pada grade II. dan demam. muka tampak kemerahan karena demam (flusy).

5. merupakan tahap keempat dari proses keperawatan Pada tahap ini Anda siap untuk melaksanakan intervensi dan aktivitasaktivitas yang telah dicatat dalam rencana perawatan pasien. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi virus. 6. 4. 4. Perencanaan Keperawatan Rencana keperawatan adalah bagaimana perawat merencanakan suatu tindakan keperawatan agar dalam melakukan perawatan terhadap pasien efektif dan efisien. Ansietas keluarga berhubungan dengan perubahan kondisi anak pola koping tidak efektif. Rencana asuhan keperawatan adalah petunjuk tertulis yang menggambarkan secara tepat mengenai rencana tindakan yang dilakukan terhadap klien sesuai dengan kebutuhannya berdasarkan diagnosis keperawatan. Gangguan pola tidur berhubungan dengan kebutuhan untuk beristirahat kurang. Evaluasi Keperawatan Evaluasi mencakup semua tahapan dalam proses keperawatan guna mengetahui sejauh mana pencapaian tujuan dalam asuhan keperawatan guna mengetahui sejauh mana pencapaian asuhan keperawatan yang telah dilakukan pada klien. . tidak ada nafsu makan. Implementasi Keperawatan Implementasi adalah melaksanakan intervensi/aktivitas yang telah ditentukan. 3. 5.3. muntah. Perubahab nutrizi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan mual.