Anda di halaman 1dari 21

PRESENTASI KASUS

FISTULA PERIANAL

Disusun Oleh :
Mulki Alifah Hasna 1102012183

Pembimbing :
dr. H. Hadiyana Suryadi, Sp.B

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN BEDAH
RSUD DR. SLAMET GARUT
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI
2016

I.

IDENTITAS PASIEN

Nama

: Tn. H

Umur

: 40 tahun

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Status

: Sudah menikah

Agama

: Islam

Suku Bangsa

: Sunda

Pekerjaan

: Buruh

Alamat

: Pangatukan

No. Catatan Medis

: 863973

Tanggal Masuk

: 15 Agustus 2016

II.

ANAMNESIS

Keluhan Utama
Keluar cairan putih dari dekat anus kiri sejak 1 bulan SMRS
Riwayat Penyakit Sekarang
Os datang ke poli RSU dr. Slamet dengan keluhan keluar cairan putih dari dekat anus kiri.
Os mengaku pada awalnya terdapat benjolan dekat anusnya sebesar telur puyuh sejak 3
bulan SMRS. Benjolan tersebut pecah kurang lebih 1 bulan SMRS mengeluarkan cairan
putih hingga saat ini. Keluhan disertai demam naik turun sejak adanya benjolan tersebut.
Demam lebih sering terjadi sejak 2 minggu SMRS. Os juga mengeluh adanya batuk-batuk
sejak 1 bulan SMRS. Pasien mengatakan tidak ada gangguan saat makan dan minum serta
mual-muntah. Os mengaku saat BAB (buang air besar) tidak ada gangguan (normal), BAB
1x/hari setiap pagi, sulit atau keras saat BAB dan sering mengedan saat BAB disangkal.
BAB bercampur darah dan lendir disangkal pasien. Pasien juga mengatakan tidak ada
gangguan saat BAK (buang air kecil), pancaran BAK normal, sering terbangun malam hari
untuk BAK disangkal pasien, BAK terputus-putus (-), tidak puas atau tidak lampias saat
BAK (-), mengedan atau sulit saat BAK (-), nyeri saat BAK (-) BAK bercampur darah (-).
Riwayat demam (+), mencret (-), luka atau infeksi pada alat kelamin (-).
Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien tidak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya.
Riwayat Penyakit Keluarga
Keluarga pasien tidak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya.
Riwayat Alergi
Pasien mengaku tidak mempunyai riwayat alergi pada makanan dan obat-obatan tertentu.

1

III. Faring hiperemis (-)  Leher : JVP tidak meningkat.Riwayat Pengobatan Pasien mengaku tidak mengkonsumsi obat-obatan jangka panjang. KGB tidak teraba membesar. trakea terletak ditengah. murmur (-). Wheezing (-/-) simetris Abdomen Inspeksi : Datar Palpasi : NT/NL -/-. 2 . Rhonki (+/-). PEMERIKSAAN FISIK Tanda-tanda Vital  Keadaan umum : Tampak sakit ringan  Kesadaran : Compos Mentis  Tanda Vital o TD : 130/60 mmHg o Nadi : 100 x/menit o Respirasi : 27 x/menit o Suhu : 37.9 °C Status Generalis  Kepala : Normocephal  Mata : CA (-/-). hepar dan lien tidak teraba membesar. Gallop (-) Pulmo Inspeksi : Simetris dalam keadaan statis dan dinamis Palpasi : Fremitus vokal pada hemithoraks kanan dan kiri Perkusi : Sonor pada hemithoraks kanan dan kiri Auskultasi : VBS (-/+).  Thorak  Cor   : Bentuk dan Gerak simetris Inspeksi : Iktus kordis tidak terlihat Palpasi : Iktus kordis teraba Perkusi : Batas-batas jantung dalam batas normal Auskultasi : BJ I – II murni reguler. SI (-/-)  Mulut : Tonsil TI – TI tenang.

mukosa licin. massa (-). Sianosis (-/-).600 Hematologi 3 . ampula rekti tidak kolaps. prostat tidak teraba membesar. abses (+). massa (-). ampula recti tidak kolaps. massa (-). akral hangat Bawah : Edema (-/-). teraba internal opening didepan sphincter ani eksterna dan eksternal opening 3 mm dari tepi anus.800 – 10.900 /mm3 3. nyeri ketok CVA -/-  Perkusi : Timpani diseluruh lapang abdomen Auskultasi : BU (+) normal Ekstremitas Atas : Edema (-/-). teraba internal opening didepan sphincter ani eksterna dan eksternal opening 3 mm dari tepi anus.9 g/dL 13. Status lokalis Inspeksi : Tampak outlet pada regio perianal sinistra arah jam 3. nyeri tidak ada.Ballotement -/-. darah (-). tanda-tanda radang (-). nyeri (-). mukosa licin. terdapat nanah dan sedikit feses pada handscoon.0 Hematokrit 36 % 40 – 52 Lekosit 11. PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. akral hangat Pemeriksaan Colok Dubur Tonus sfingter ani kuat.0 – 18. Palpasi : RT : Tonus sphincter ani adequat. Pemeriksaan Laboratorium Tanggal 15 Agustus 2016 Nama Test Hasil Unit Nilai Normal Masa Perdarahan 2’ Menit 1–3 Masa Pembekuan 7’30” Menit 5 – 11 Hemoglobin 11. Sianosis (-/-). IV.

32 mg/dL 4.37 g/dL 6.8 mg/dL 0.000 /mm3 150.Trombosit 471.5 – 6.3 147 mg/dL <140 Natrium (Na) 143 mEq/dL 135 – 145 Kalium (K) 4.2 Kimia Klinik Glukosa Darah Sewaktu Elektrolit Kalsium (Ca bebas) 2.6 – 5.3 mEq/dL 3.6 – 8.000 Eritrosit 4.57 Juta/mm3 3.5 Protein Total 5. Rontgen Thorax Kesan : TB paru aktif 4 .000 – 440.5 Klorida (Cl) 105 mEq/dL 98 – 108 2.7 – 1.7 – 5.7 AST (SGOT) 12 U/L s/d 37 ALT (SGPT) 9 U/L s/d 40 Ureum 23 mg/dL 15 – 30 Kreatinin 0.

S kes CM T 130/60 mmHg N 100x/menit R 27x/menit S 37. ku S. Keluhan disertai demam dan batuk.IVFD RL 20 tpm .Inj Metronidazol 3x500 mg 17/8/2016 18/8/2016 Os mengeluh cairan putih masih keluar dari dekat anusnya.Inj Cefoperazon non sulbaktam 2x1 .Inj Metronidazol 3x500 mg Rencana Fistulektomi besok . Sebelumnya terdapat benjolan seperti bisul di tempat tersebut sejak 3 bulan SMRS. ku S. Sebelumnya terdapat benjolan seperti bisul di tempat tersebut sejak 3 bulan SMRS.IVFD RL 20 tpm .9°C Fistula Perianal Rencana Fistulektomi .7°C Fistula Perianal Rencana Fistulektomi . ku S.S kes CM T 110/70 mmHg N 88x/menit R 28x/menit S 36.Inj Cefoperazon non sulbaktam 2x1 .S kes CM T 110/70 mmHg N 90x/menit R 26x/menit S 36. batuk +. Os mengeluh cairan putih masih keluar. BAB normal tidak terdapat darah. DIAGNOSIS BANDING Hidradenitis Supurativa Fistel Proktitis VII. Keluhan disertai demam dan batuk.Inj Cefoperazon non sulbaktam 2x1 .9°C Fistula Perianal 16/8/2016 Os mengeluh adanya cairan putih yang keluar dari dekat anus sebelah kiri sejak 1 bulan SMRS. BAK normal. PENATALAKSANAAN Fistulektomi Follow Up Dokter Tanggal S O A P 15/8/2016 Os mengeluh adanya cairan putih yang keluar dari dekat anus sebelah kiri sejak 1 bulan SMRS.Inj Metronidazol 3x500 mg Rencana Fistulektomi .S kes CM T 130/60 mmHg N 100x/menit R 27x/menit S 37.5°C Fistula Perianal ku S.V. Batuk +. DIAGNOSIS KERJA Fistula Perianal VI.Inj Cefoperazon non sulbaktam 2x1 .IVFD RL 20 tpm . demam tadi malam.Inj Metronidazol 3x500 mg 5 . Terdapat demam pada sore hari.IVFD RL 20 tpm .

os merasa kembung.Inj Ketorolak 3x30 mg . 22/8/2016 Os mengeluh nyeri jika BAB.Cabut tampon pukul 18.00 .Inj PCT jika perlu .Diet serat .Seat bath 6x/hari .Inj Ranitidin 2x1 .Inj Cefoperazon non sulbaktam 2x1 .Inj Ketorolak 3x30 mg .5°C BU + ku S. demam -. batuk +.IVFD Futrolit 1500 cc/24 jam . ku S.Inj Ketorolak 2x1 19/8/2016 Os mengeluh cairan putih keluar lebih banyak dari biasanya. tenggorokan kering.9°C 20/8/2016 Os mengeluh nyeri di luka op terlebih jika batuk. ku S.Inj Cefoperazon non sulbaktam 2x1 . BAB -.Inj Ranitidin 2x1 .5°C ku S.Inj Ranitidin 2x50 mg . Flatus +.Inj Ranitidin 2x1 .Diet serat BLPL Seat bath dengan cairan PK di rumah 3x/hari dan diet serat 6 .Inj Ranitidin 2x1 .Inj Ketorolak 3x30 mg . Demam +.Seat bath 6x/hari mulai besok .Seat bath 6x/hari .8°C POD III fistulektomi a/i fistula perianal A Fistula Perianal POD I fistulektomi a/i fistula perianal POD II fistulektomi a/i fistula perianal P Rencana Fistulektomi hari ini.IVFD Futrolit 1500 cc/24 jam .Inj Ketorolak 2x1 .Inj Ketorolak 2x1 .S kes CM T 120/70 mmHg N 78x/menit R 26x/menit S 36.Inj Ranitidin 2x50 mg . Tidak demam.S kes CM T 120/70 mmHg N 80x/menit R 24x/menit S 36.Inj Ketorolak 2x1 . Instruksi post op : .Tanggal S O .Inj Cefoperazon non sulbaktam 2x1 . flatus -.Inj Ranitidin 2x50 mg .IVFD Futrolit 1500 cc/24 jam .S kes CM T 120/70 mmHg N 78x/menit R 26x/menit S 36. batuk +. 21/8/2016 Os mengeluh nyeri di luka op terlebih jika batuk dan jika BAB.S kes CM T 120/70 mmHg N 83x/menit R 26x/menit S 37.

LAPORAN OPERASI Operator : Dr. Yan Aditya : : Fistula Perianal : Post Fistulektomi + Necrotomy Debridement a/i Fistula Perianal Indikasi Operasi : Source Control Jenis Operasi : Fistulektomi + Necrotomy Debridement Kategori Operasi : Sedang Desinfeksi Kulit dengan : Povidon Iodine DO : Ditemukan eksternal opening dan internal opening terhubung. Dilakukan fistulektomi 4. Internal opening tepat di depan spinchter ani. Rizal I.Puasa sampai dengan BU (+) .B Asisten 1 Perawat Instrumen Diagnosa Pra Bedah Diagnosa Pasca Bedah : dr. Dilakukan tindakan aseptik dan antiseptik 2. M. TO : 1. Respirasi.Seat bath dengan larutan PK 6x sehari .Ranitidin 2 x 1 amp VIII. Perdarahan dirawat 5.Analgetik : Ketorolac 3 x 1 amp . Nadi. Tekanan darah.Infus Futrolit 1500cc/24 jam .00 WIB .Observasi KU. Operasi selesai Instruksi pasca Bedah : . Dilakukan sondase dari fistel 3. Sp.Cabut tampon pukul 18. Suhu .Antibiotik : Cefoperazone non-sulbaktam 2 x 1gram . PROGNOSIS Quo ad vitam : ad bonam Quo ad functionam : ad bonam Quo ad sanationam : ad bonam 7 .

Iliaka. sedangkan limfe yang berasal dari kanalis analis mengalir ke arah kelenjar inguinal. Sisi posterior dan lateral cincin ini terbentuk dari fusi sfingter interna. garis mukokutan. Pada daerah ini terdapat kripta anus dan muara kelenjar anus antara kolumna rektum. Cincin sfingter anus melingkari kanalis analis dan terdiri dari sfingter interna dan sfingter eksterna. bagian tengah dari otot levator (puborektalis) dan komponen m.TINJAUAN PUSTAKA FISTULA PERIANAL Anatomi Daerah batas rektum dan kanalis analis ditandai dengan perubahan jenis epitel. linea pektinata atau linea dentata. Darah vena di atas garis anorektum mengalir melalui sistem porta. Lekukan antar-sfingter sirkuler dapat diraba di dalam kanalis analis sewaktu melakukan colok dubur dan menunjukkan batas antara sfingter ekterna dan sfingter interna (garis Hilton). Batas atas kanalis anus disebut garis anorektum. sedangkan yang berasal dari anus dialirkan ke sistem kava melalui V. Pada saat defekasi. Kanalis analis berukuran panjang kurang lebih 3 sentimeter. Infeksi yang terjadi di sini dapat menimbulkan abses anorektum yang dapat membentuk fistel. M. sedangkan M. Sistem limfe dari rektum mengalirkan isinya melalui pembuluh limfe sepanjang pembuluh hemoroidalis superior ke arah kelenjar limfe paraaorta melalui kelenjar limfe Iliaka Interna. 8 . sedangkan mukosa rektum mempunyai persyarafan autonom dan tidak peka terhadap nyeri. Sfingter internus terdiri dari serabut otot polos. sfingter eksternus. Rektum dilapisi oleh mukosa glanduler usus sedangkan kanalis analis oleh anoderm yang merupakan lanjutan epitel berlapis gepeng kulit luar. Kanalis analis dan kulit luar di sekitarnya kaya akan persyarafan sensoris somatik dan peka terhadap rangsangan nyeri. Sumbunya mengarah ke ventrokranial yaitu mengarah ke umbilikus dan membentuk sudut yang nyata ke dorsal dengan rektum dalam keadaan istirahat. otot longitudinal. sudut ini menjadi lebih besar. Sfingter eksternus terdiri atas serabut olot lurik.

Ini hampir selalu 9 . dan otot dalam. Aturan ini menyatakan bahwa fistula dengan lubang anterior eksternal akan melintang melalui pusat anus dan mengikuti radial langsung ke garis dentate. aturan Goodsall dapat membantu mengantisipasi anatomi fistula-in-ano. Fistula dengan lubang posterior baris ini akan mengikuti lengkungan ke garis tengah posterior. superfisial. yang teraba pada pemeriksaan digital. Pengecualian pada aturan ini adalah lubang eksternal lebih dari 3 cm dari ambang anal.Gambar 1. Dalam kasus sederhana. Anatomi Anal Kanal dan Ruang Perianal Otot sfingter eksternal adalah otot lurik di bawah kontrol volunter oleh tiga komponen: submukosa. Segmen dalam kontinu dengan puborectalis dan membentuk cincin anorectal. Otot sfingter internal merupakan otot polos dibawah kontrol otonom dan merupakan perpanjangan dari otot melingkar rektum.

Fistula ani adalah bentuk kronik dari absess anorektal yang tidak sembuh sehingga membentuk traktus akibat inflamasi.berasal sebagai saluran primer atau sekunder dari garis tengah posterior. yang konsisten dari abses tapal kuda sebelumnya. ada delapan sampai sepuluh kelenjar crypt anal pada tingkat garis dentate di lubang anus. atau sering juga disebut fistula perianal merupakan sebuah saluran berongga yang abnormal antara epitel dari kanalis anal dan epidermis dari kulit perianal atau rongga yang dilapisi dengan jaringan granulasi dan menghubungkan lubang utama dalam anal kanal ke lubang sekunder di kulit perianal. yang biasanya disebut fistel perianal atau fistel para-anal. fistula in ano. lubang sekunder dapat beberapa jumlahnya dan dapat merupakan perpanjangan dari lubang primer. Kelenjar ini menembus sphincter internal dan berakhir di intersphincteric. Hampir semua fistel anus. Hal itu memungkinkan jalur dimana organisme menginfeksi hingga mencapai ruang intramuskular. Biasanya. Fistula-in-ano Aturan Goodsall Definisi Fistula ani. sehingga kebanyakan fistel 10 . Gambar 2. Hipotesis cryptoglandular menyatakan bahwa infeksi dimulai dalam kelenjar anal kanal dan berkembang dinding otot sfingter anal menyebabkan abses anorektal. diatur melingkar. disebabkan oleh perforasi atau penyaliran abses anorektum. fistula-in-ano disebabkan oleh abses anorektal sebelumnya. Etiologi Pada sebagian besar kasus.

atau menembus sfingter. Fistel dengan lubang kripta di sebelah anterior umumnya berbentuk lurus. penyakit Crohn. maka fistula dibagi dalam dua kelompok yaitu : 1. submukosa. kadang ditemukan yang kompleks.000 populasi. TB. 11 . lateral. Fistel dengan lubang yang berasal dari kripta di sebelah dorsal ummunya tidak lurus tetapi bengkok ke depan karena radang dan pus terdorong ke anterior di sekitar otot puborektalis dan dapat membentuk satu lubang perforasi atau lebih di sebelah anterior. Fistula letak rendah dimana internal opening fistel ke anus terdapat di bawah cincin anorektal. Sebagian besar fistula terbentuk dari sebuah abses (tapi tidak semua abses menjadi fistula). Rasio antara pria dan wanita adalah 1. Fistula letak tinggi dimana internal opening fistel ke anus terdapat di atas cincin anorektal. actinomycoses.000 populasi. Prevalensi pada pria adalah 12. Fistel dapat terletak di subkutis. amubiasis dan limfogranuloma vebereum sekunder terhadap infeksi klamidia. Epidemiologi Fistula perianal sering terjadi pada laki laki berumur 20 – 40 tahun. Fistula lain yang terjadi sekunder terhadap trauma (misalnya.6 kasus per 100. Bentuknya mungkin lurus. Pada fistula letak tinggi dilakukan koreksi bertahap dengan prosedur operasi yang lebih sulit.000 orang. sfingter bersifat tunggal. berkisar 5. atau posterior. dapat pula terletak anterior.mempunyai satu muara di kripta di perbatasan anus dan rektum dan lubang lain di perineum di kulit perianal. Klasifikasi Berdasarkan lokasi internal opening. kolitis yang disertai proktitis. atau mirip sepatu kuda. Umur rata-rata penderita fistel ani adalah 38 tahun. berkisar 1-3 kasus tiap 10. Angka prevalensi penyakit ini adalah 8.6 kasus tiap 100. bengkok.3 dari 100. antar sfingter. benda asing pada rektum). 2. yang menggambarkan lebih seringnya penyakit ini pada pria. fissura anal. karsinoma. Pada wanita. Umumnya. Fistula letak rendah dapat dibuka tanpa takut adanya resiko inkontinensia permanen akibat kerusakan bundle anorektal. Sekitar 40% pasien dengan abses akan terbentuk fistula. terapi radiasi.000 populasi. sesuai hukum Goodsall.8:1.

Fistula jenis ini terjadi 1% dari semua jenis fistula ani. Terjadi pada 25% kasus. Intersphincteric Hasil dari abses perianal. ke atas melalui otot-otot levator ani pada dinding rectum tanpa melewati mekanisme sfingter. Extrasphincteric Fistula ini mungkin timbul dari penetrasi benda asing dari rektum dengan drainase melalui levator. Terjadi pada 5% kasus fistula-in-ano. Lebih sering terjadi sekitar 70% kasus. Suprasphincteric Fistula ini muncul dari abses supralevator. Umumnya melalui lubang internal garis dentate ke ruang intersfingteric superior di atas otot puborectalis dan kemudian kurva kebawah lateral sfingter anal eksternal ke dalam fossa ischiorectalis dan akhirnya ke kulit perianal atau perineum. Umumnya berawal dari lubang internal di garis dentate melalui sfingter anal internal dan eksternal ke dalam fossa iskiorektalis dan kemudian berakhir di kulit perianal atau perineum. dan akhirnya berakhir di kulit perianal atau perineum. sebagai berikut : 1. Sistem ini mendefinisikan empat jenis fistula-in-ano yang dihasilkan dari infeksi cryptoglandular. dari penetrasi cedera pada perineum.Sistem klasifikasi yang dikembangkan oleh Parks. dan Hardcastle (umumnya dikenal sebagai klasifikasi Parks) adalah yang paling umum digunakan untuk fistula-in-ano. dari penyakit Crohn atau karsinoma atau pengobatannya. 4. 2. kemudian melalui sfingter internal ke ruang intersphincteric antara sfingter anal internal dan eksternal. Transsphincteric Fistula ini hasil dari fossa abses iskiorektalis. 12 . 3. atau dari penyakit radang panggul. Gordon. Umumnya dimulai di garis dentate. Hal ini berjalan dari kulit perianal melalui fossa iskiorektalis.

Gambar 3. Klasifikasi Fistula-in-Ano menurut Parks Gambar 4. Klasifikasi Fistula-in-Ano menurut Parks 13 .

Bersamaan dengan penyumbatan itu. Kelenjar dapat terinfeksi dan menyebabkan penyumbatan. fistel dapat disonde sampai sonde keluar di kripta asalnya. Kondisi ini bisa berlangsung berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. umumnya fistel dapat diraba antara telunjuk di anus (bukan di rektum) dan ibu jari di kulit perineum sebagai tali setebal kira-kira 3 mm (colok dubur bidigital). Saluran ini memiliki klep satu arah agar produksi bisa keluar tapi feses tidak bisa masuk. 14 . biasanya dijumpai riwayat kambuhan abses perianal dengan selang waktu di antaranya. Abses lama-kelamaan akan menghasilkan jalan keluar dengan meninggalkan fistula. Pada colok dubur. Kanalis anal mempunyai 6-14 kelenjar kecil yang terproyeksi melalui sfingter internal dan mengalir menuju kripta pada linea dentate. Akibatnya. atau proses inflamasi. Abses akan mencari jalan keluar dan membentuk semacam pipa yang menembus kulit. Terhalangnya jalan keluar produksi dari kelenjar ini akibat stasis menyebabkan kuman dan cairan feses masuk ke dalam kelenjar. Penyumbatan ini juga dapat terjadi setelah trauma. terperangkap juga feces dan bakteri dalam kelenjar. Kelenjar ini mengeluarkan semacam lendir. Pecahan ini tidak bisa menutup karena nanah selalu keluar dan tidak bisa kering karena berhubungan dengan feses. Fistel kronik yang lama sekali dapat mengalami degenerasi maligna menjadi karsinoma planoseluler kulit. kulit jadi tampak seperti bisul lalu pecah. Jika agak lurus. yang dijelaskan bahwa fistula in ano merupakan absess anorektal tahap akhir yang telah terdrainase dan membentuk traktus. disertai pengeluaran nanah sedikit-sedikit. Fistel perineum jarang menyebabkan gangguan sistemik. Feses yang banyak kumannya berkembang biak ke dalam kelenjar.Patofisiologi Normalnya. berguna sebagai pelicin/ lubrikasi. membentuk peradangan yang jadi abses. maka akan terbentuk abses di dalam rongga intersfingteric. pengeluaran feces yang keras. Hipotesis yang paling jelas adalah kriptoglandular. kelenjar rektum yang terdapat di kripta antar kolumna rektum berfungsi sebagai barrier terhadap lewatnya mikroorganisme penyebab infeksi yang berasal dari lumen usus ke daerah perirektal. Manifestasi Klinis Pada anamnesis. Apabila kripta tidak kembali membuka ke kanalis anal.

Diagnosis Anamnesis Pasien biasanya memberikan riwayat penyakit sebelumnya. Proctoscopy juga diindikasikan dengan adanya penyakit pada rectum (misalnya. mencari celah eksternal yang menunjukkan sebagai sinus terbuka atau elevasi jaringan granulasi. drainase bedah spontan atau direncanakan dari abses anorektal. Tanda dan gejala fistula-in-ano diantaranya : - Discharge perianal - Rasa sakit - Pembengkakan - Berdarah - Ekskoriasi kulit - Lubang eksternal Poin penting pada riwayat pasien yang memungkinkan terjadinya fistula kompleks meliputi : - Inflammatory bowel disease - Divertikulitis - Terapi radiasi untuk prostat atau Ca. Anoscopy biasanya diperlukan untuk mengidentifikasi lubang internal. Discharge spontan yang merupakan nanah atau darah melalui lubang eksternal dapat terlihat atau dinyatakan pada pemeriksaan colok dubur. penyakit Crohn atau kondisi terkait lainnya). Rektum - Tuberkulosis - Terapi steroid - Infeksi HIV Pemeriksaan Fisik Tidak ada penelitian laboratorium khusus yang diperlukan dalam mendiagnosis fistulain-ano. bengkak. Indurasi lateral atau posterior menunjukkan postanal dalam atau ekstensi iskiorektalis. Pemeriksa harus mengamati seluruh lapang perineum. Pemeriksaan fisik tetap menjadi andalan untuk mendiagnosis fistula-in-ano. Pemeriksaan colok dubur (DRE) dapat mengungkapkan saluran tersebut berserat atau membentuk saluran dibawah kulit. Kekuatan sfingter dan tekanan volunter harus dinilai sebelum dilakukan intervensi bedah untuk menentukan apakah manometry pra operasi diindikasikan. Pemeriksa harus menentukan hubungan antara cincin anorektal dan posisi saluran sebelum pasien dipengaruhi anestesi. 15 . Hal ini juga membantu untuk menggambarkan setiap peradangan akut lanjut yang belum didrainase.

dilakukan dengan kontras intravena dan rektal merupakan metode noninvasive untuk melihat ruang perirectal. amuba. Tatalaksana Indikasi Intervensi terapeutik diindikasikan untuk pasien simtomatik. Fistel proktitis dapat terjadi pada morbus Crohn. seperti karsinoma atau proktitis TB. Diagnosis Banding Hidradenitis supurativa merupakan radang kelenjar keringat apokrin yang biasanya membentuk fistel multiple subkutan yang kadang ditemukan di perineum dan perianal. lateral dan gambaran Xray oblik untuk melihat jalur fistula. Fistulografi dapat dilakukan dengan memberikan injeksi kontras melalui pembukaan internal. Penyakit ini biasanya ditemukan di ketiak dan umunya tidak meluas ke struktur yang lebih dalam. Penyakit Crohn pada perineum dan multiple fistula serta fistula kompleks membutuhkan perawatan bedah yang baik.Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan harus dilengkapi dengan rektoskopi untuk menentukan adanya penyakit di rektum. diikuti dengan anteroposterior. Pemeriksaan lain yang juga dapat dilakukan adalah CT-Scan. Abses perianal akut memerlukan insisi dan 16 . Sinus pilonidalis terdapat hanya di lipatan sakrokoksigeal dan berasal dari sarang rambut dorsal dari tulang koksigeus atau ujung tulang sakrum. Abses berkembang dengan mudah jika lubang eksternal pada perianal tertutup dengan kulit perianal sendirinya. TBC. amubiasis. Fistulografi kadang berguna pada keadaan kompleks. dan divertikulitis. USG endoanal dilakukan untuk menentukan hubungan antara traktus primer dengan sfingter anal. infeksi jamur. Gejala biasanya melibatkan anorectal sepsis berulang. tapi jarang digunakan sebagai evaluasi preoperative fistula ani. Hal ini membuat MRI menjadi pilihan utama dalam mengidentifikasi fistula yang kompleks. dan untuk menentukan lokasi bukaan primer. Kadang fistel koloperineal disebabkan oleh benda asing atau trauma. Pemeriksaan ini sangat berguna untuk mengidentifikasi abses-abses anorektal dengan letak dalam. MRI mempunyai resolusi jaringan yang bagus dan kapabilitas multiplanar sehingga sangat akurat dalam mengidentifikasi bukaan internal dan traktus fistula. atau morbus Crohn. untuk menentukan apakah simple fistula atau kompleks dengan perpanjangan.

terapi rutin dibenarkan. Terkadang dibutuhkan operasi dua tahap untuk menghindari terpotongnya sfingter anus. Terdapat dua macam Seton. terapi tidak diperlukan. Pada fase akut. 17 . Jika penyakit terkontrol. insisi sederhana dan drainase abses adalah cukup. - Fistulektomi : Jaringan granulasi harus di eksisi keseluruhannya untuk menyembuhkan fistula. cutting Seton. sembuh per sekundam intentionem. Terapi pembedahan: - Fistulotomi : Fistel di insisi dari lubang asalnya sampai ke lubang kulit. Terapi Konservatif Medikamentosa dengan pemberian analgetik. dimana benang Seton ditarik secara gradual untuk memotong otot sphincter secara bertahap.drainase. Dianjurkan sedapat mungkin dilakukan fistulotomi. - Seton : Benang atau karet diikatkan malalui saluran fistula. artinya fistel dibuka dari lubang asalnya sampai ke lubang kulit. dimana benang Seton ditinggalkan supaya terbentuk granulasi dan benang akan ditolak oleh tubuh dan terlepas sendiri setelah beberapa bulan. Operasi untuk fistula-in-ano tidak boleh dilakukan untuk perbaikan definitif dari fistula pada abses anorektal (kecuali fistula yang dangkal dan salurannya jelas). Terapi terbaik pada fistula ani adalah membiarkannya terbuka. Hanya 7-40% pasien yang akan berkembang menjadi fistula. Perbaikan definitif fistula pada pasien ini mensyaratkan bahwa penyakit intraabdomen harus dibawah kontrol terapi medis. Sepsis anal rekuren dan pembentukan fistula merupakan dua tingkat lebih tinggi setelah abses pada pasien yang lebih muda dari 40 tahun dan hampir tiga kali lipat lebih tinggi pada nondiabetes. dan loose Seton. Kontraindikasi Jika pasien tanpa gejala dan fistula ditemukan selama pemeriksaan rutin. Luka biasanya akan sembuh dalam waktu singkat. dibiarkan terbuka. Luka dibiarkan terbuka sehingga menyembuh mulai dari dasar per sekundam intentionem. dapat dilakukan fistulotomi atau fistulektomi. antipiretik serta profilaksis antibiotik jangka panjang untuk mencegah fistula rekuren. Penyakit fistula rekuren pada rektum dan perineum dengan sepsis anorektal merupakan indikasi untuk panproctocolectomy. Dianjurkan sedapat mungkin dilakukan fistulotomi. Pada fistel.

- Fibrin Glue: Menyuntikkan perekat khusus (Anal Fistula Plug/AFP) ke dalam saluran fistula yang merangsang jaringan alamiah dan diserap oleh tubuh. Obat obatan yang diberikan untuk rawat jalan antara lain antibiotika. Pasca Operasi Pada operasi fistula simple. Komplikasi Komplikasi dini pasca operasi. kekambuhan. dan tidak disarankan untuk duduk diam berlama-lama. terutama sewaktu buang air besar. sebagai berikut : - Kekambuhan - Inkontinensia (feces) - Stenosis Anal: Proses penyembuhan menyebabkan fibrosis dari lubang anus. pasien dapat pulang pada hari yang sama setelah operasi.- Advancement Flap : Menutup lubang dengan dinding usus. Bulking agen untuk membantu feces berguna mencegah penyempitan. 18 . analgetik dan laksatif. Aktivitas sehari hari umumnya tidak terganggu dan pasien dapat kembali bekerja setelah beberapa hari. sebagai berikut : . Pasien tidak dianjurkan berenang sebelum luka sembuh. Setelah operasi mungkin akan terdapat sedikit darah ataupun cairan dari luka operasi untuk beberapa hari. tidak sakit. hanya 16%. - Penyembuhan luka tertunda: penyembuhan lengkap terjadi setelah 12 minggu kecuali jika terdapat penyakit yang mendasarinya (yaitu.Impaksi tinja . Penggunaan fibrin glue memang tampak menarik karena sederhana. Perawatan luka pasca operasi meliputi sitz bath (merendam daerah pantat dengan cairan antiseptik).Retensi urin . dan penggantian balutan secara rutin. Namun pada fistula kompleks mungkin membutuhkan rawat inap beberapa hari. Pasien dapat kembali menyetir bila nyeri sudah berkurang.Thrombosed hemoroid Komplikasi tertunda pascaoperasi.Pendarahan . namun keberhasilan jangka panjangnya tidak tinggi. penyakit Crohn). dan aman. tetapi keberhasilannya tidak terlalu besar.

19 . tingkat kekambuhan dilaporkan adalah 0-18% dan tingkat dari setiap inkontinensia tinja adalah 3-7%. cabang fistel tidak turut dibuka. melaporkan tingkat kekambuhan adalah 0-17% dan tingkat dari setiap inkontinensia feses adalah 0-17%. tingkat kekambuhan dilaporkan adalah 1-17% dan tingkat dari setiap inkontinensia feses adalah 6-8%. Setelah flap mukosa kemajuan. Setelah fistulotomy standar. atau kulit sudah menutup luka sebelum jaringan granulasi mencapai permukaan. Setelah menggunakan Seton.Prognosis Fistel dapat kambuh bila lubang dalam tidak turut dibuka atau dikeluarkan.

2006. 20 . Edisi 6. Poggio. 2000. Diakses tanggal 25 September 2016 dari http://emedicine. Spencer. Rectum-Perianal Fistulas.medscape. Edisi ke-3. Munich: Elsevier. Sjamsuhidajat R. Pabst R. Susanne and Robin Smithuis. Edisi ketiga. 2006. 2010. Hal 793-94. Putz R.com/article/190234-overview#showall. 2009. Jakarta : Erlangga. At a Glance Ilmu Bedah. Jakarta :EGC. Borley N. Fistula In Ano. Hal 21014. Tonino.com/fistula_in_ano_anal_fistula. De Jong Wim. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Juan. Buku Ajar Ilmu Bedah.php. 2015. Shires.proctocure. Diakses tanggal 25 September 2016 dari http://www.DAFTAR PUSTAKA Grace P. Intisari Prinsip-Prinsip Ilmu Bedah. Schwartz. Sobotta Atlas of Human Anatomy volume 2.