Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN KASUS

PNEUMONIA
RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO
STASE KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH

Disusun oleh:
TRIA PERMATA RATI
PUTRI WULAN PERMASARI
IRA DESTIA
LUKMAN HAKIM Z

PROGRAM PROFESI NERS
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
JURUSAN KEPERAWATAN
PURWOKERTO
2016
BAB 1

000 penduduk. virus. di mana pneumonia tinggi terjadi pada kelompok umur1-4 tahun. jamur. 2006). kemudian mulai meningkat pada umur 45-54 tahun dan terus meninggi pada kelompok umur berikutnya. Pneumonia dapat disebabkan oleh bakteri. baik di negara yang sedang berkembang maupun yang sudah maju. menjelaskan bahwa penyebab kematian tertinggi dari penyakit infeksi di dunia adalah infeksi saluran napas akut termasuk pneumonia dan influenza. Hal ini tidak menyingkirkan bahwa pneumonia pun terjadi pada usia remaja dan dewasa. serta kurangnya gizi dan nutrisi (Depkes. 2007).PENDAHULUAN A. Secara umum infeksi saluran nafas terbagi menjadi infeksi saluran nafas atas dan infeksi saluran nafas bawah. Pneumonia merupakan salah satu penyakit paru yang ditandai dengan adanya peradangan akut pada parenkim paru (Price & Wilson.2% atau 2200 penderita pada 100. efusi pleural adalah terjadi . Laporan profil kesehatan Indonesia tahun 2011 menyebutkan pneumonia termasuk sepuluh besar penyakit rawat inap di rumah sakit dengan angka case fatality rate tertinggi yakni 7. dan benda-benda asing melalui jalur masuknya infeksi tersering ke saluran napas bawah adalah melalui aspirasi sekret orofaring (Somantri. Menurut hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Rikesdas) Indonesia pada tahun 2007 menyebutkan prevalensi pneumonia menurut diagnosa dan gejala adalah 2. faktor lingkungan. perilaku masyarakat yang kurang baik terhadap kesehatan dirimaupun publik. prevalensi pneumonia berdasarkan kelompok umur penduduk. Pneumonia merupakan salah satu contoh infeksi saluran nafas bawah (WHO. Komplikasi pneumonia abses paru adalah pengumpulan pus dalam jaringan paru yang meradang. 2007). Data South East Asian Medical Information Center (SEAMIC) Health Statistic tahun 2001.8. 2007). menempatkan pneumonia dan influenza sebagai penyebab kematian ketiga di Indonesia dengan angka mortalitas 7.6%. Sedangkan laporan WHO tahun 2000. Latar belakang Infeksi pada Saluran Nafas Akut (ISPA) merupakan masalah utama dalam bidang kesehatan. Sementara pada hasil Riskesdas 2013. Penyebab terjadinya infeksi pada saluran nafas adalah mikroorganisme.

4. Mahasiswa mampu menjelaskan patofisiologi dari pneumonia. 2. Mahasiswa mampu mengetahui manifestasi klinik dari pneumonia. Mahasiswa mampu mengetahui definisi dari pneumonia. 7. 10. 3. BAB II TINJAUAN TEORI A. Mahasiswa mampu menetapkan fokus intervensi pasien dengan pneumonia. 9. 2002). Tujuan 1. Mahasiswa mampu mengetahui jenis-jenis dari pneumonia. Mahasiswa mampu menjelaskan komplikasi dari pneumonia. gagal nafas. 5. 12. Mahasiswa mampu menjelaskan pemeriksaan penunjang dari pneumonia. 6. Mahasiswa mampu mengetahui etiologi dari pneumonia. atelektasis adalah (pengembangan paru yang tidak sempurna) terjadi karena obstruksi bronkus oleh penumukan sekresi rusaknya jalan nafas hingga kematian (Betz &Sowden. empiema adalah efusi pleura yang berisi nanah. 11. Mahasiswa mampu merumuskan diagnosa keperawatan pasien dengan pneumonia. Definisi Pneumonia . Mahasiswa mampu menjelaskan pengkajian yang dilakukan pada pasien dengan pneumonia.pengumpulan cairan di rongga pleura. Mahasiswa mampu menjelaskan penatalaksanaan dari pneumonia. B. 8. Mahasiswa mampu menjelaskan pathway dari pneumonia.

Bronkopneumonia digunakan untuk menggambarkan pneumonia yang mempunyai pola penyebaran berbercak. B. 2005): 1. 2009). dan benda-benda asing. Pertukaran gas tidak dapat berlangsung pada daerah yang mengalami konsolidasi dan darah yang dialirkan kesekitar alveoli tersebut tidak berfungsi.Pneumonia adalah inflamasi yang mengenai parenkim paru distal dari jalan napas besar dan mengenai bronkiolus respiratorik dan alveolus serta menimbulkan konsolidasi jaringan paru dan gangguan pertukaran gas setempat (Leveno. Menurut Depkes RI (2002) klasifikasi pneumonia menurut program P2 ISPA antara lain : . jamur. Pneumococcus dan Klebsiella merupakan organism penyebab tersering. Granuloma dapat mengalami nekrosis kaseosa dan membentuk kavitas. yaitu (Price & Wilson. virus. Hipoksemia dapat terjadi tergantung banyaknya jaringan paru-paru yang sakit (Somantri. 2007). eksudat terutama terdapat intra alveolar. Staphylococcus dan Streptococcus adalah penyebab infeksi tersering. 2. Klasifikasi Pneumonia Berdasarkan tempat letak anatomisnya.2001). Pneumonia adalah proses peradangan parenkim paru yang terdapat konsolidasi dan terjadi pengisian rongga alveoli oleh eksudat yang dapat disebabkan oleh bakteri. pneumonia dapat diklasifikasikan menjadi empat. Pneumona interstitial Adanya peradangan interstitial yang disertai penimbunan infiltrate dalam dinding alveolus. Pneumonia nekrotisasi Disebabkan oleh jamur dan infeksi tuberkel. Pneumonia lobular/bronkopneumonia Adanya penyebaran daerah infeksi yang bebercak dengan diameter sekitar 3 sampai 4 cm yang mengelilingi. 3. teratur dalam satu atau lebih area terlokalisasi didalam bronki dan meluas ke parenkim paru yang berdekatan di sekitarnya. Pneumonia lobaris Seluruh lobus mengalami konsolidasi. walaupun rongga alveolar bebas dari eksudat dan tidak ada konsolidasi disebabkan oleh virus atau mikoplasma. Pada bronko pneumonia terjadi konsolidasi area berbercak. 4. (Smeltzer.

Haemophilus influenza (ampicillin sensitive and resistant strains) dan Moraxella catarrhalis (all strains penicillin resistant). tidak perlu dirawat. Klasifikasi pneumonia berdasarkan letak terjadinya Djojodibroto (2009) : 1. Pneumonia sedang Ditandai dengan tidak ada penarikan dinding dada dan pernafasan cepat. di rawat rumah sakit dan diberi antibiotik. 2. 4. Pneumonia sangat berat Ditandai dengan sianosis sentral dan tidak dapat minum. Pada pemeriksaan fisik sputum yang purulen merupakan karakteristik penyebab dari tipikal bakteri. Pneumonia. jarang terjadi mengenai lobus atau segmen paru. Komplikasi berupa efusi pleura yang dapat terjadi akibat infeksi H. 2. Pneumonia berat Ditandai dengan penarikan dinding dada. cukup diberi antibiotik oral. Streptococcus grup A. Tetapi apabila terjadi konsolidasi akan terjadi peningkatan taktil fremitus. harus dirawat di rumah sakit. Influenza. multilobar involvement. anemia dan hipoksia. demam. tidak perlu antibiotik. Bukan pneumonia Hanya batuk tanpa tanda dan gejala seperti di atas. emphyema terjadi akibat infeksi Klebsiella. 3. tanpa sianosis dan dapat minum. CAP biasanya menular karena masuk melalui inhalasi atau aspirasi organisme patogen ke segmen paru atau lobus paru-paru. hipotensi.1. Community-Acquired Pneumonia Pneumonia komunitas merupakan salah satu penyakit infeksius ini sering di sebabkan oleh bakteri yaitu Streptococcus pneumonia (Penicillin sensitive and resistant strains). Angka kesakitan dan kematian infeksi CAP tertinggi pada lanjut usia dan pasien dengan imunokompromis. pneumonia nosokomial (lebih dikenal sebagai Hospital-acquired pneumonia atau Health care-associated pneumonia) didefinisikan sebagai pneumonia yang muncul setelah lebih dari . Ketiga bakteri tersebut dijumpai hampir 85% kasus CAP. tidak perlu dirawat. nafas bronkial. S. Hospital-Acquired Pneumonia Berdasarkan America Thoracic Society (ATS) . Resiko kematian akan meningkat pada CAP apabila ditemukan faktor komorbid berupa peningkatan respiratory rate.

diagnosis pneumonia nosokomial dapat diketahui secara klinis.48 jam di rawat di rumah sakit tanpa pemberian intubasi endotrakeal . meliputi : 1. Typical organism Penyebab pneumonia berasal dari gram positif berupa : 1) Streptococcus pneumonia: merupakan bakteri anaerob facultatif. Infeksi dapat muncul jika bakteri masuk melalui lubang intubasi dan masuk ke paru-paru. Aureus. hal ini dipengaruhi pada multidrug-resistant organism sehingga mempengaruhi peningkatan mortalitas. Aeruginosa .pneumonia. atau melalu lubang di depan leher. S. serta dibantu dengan kultur bakteri. 2001) etiologi pneumonia. 2) Staphylococcus aureus: bakteri anaerob fakultatif. Bakteri Pneumonia bakterial dibagi menjadi dua bakteri penyebabnya yaitu : a. 3. Ventilator-Acquired pneumonia Pneumonia berhubungan dengan ventilator merupakan pneumonia yang terjadi setelah 48-72 jam atau lebih setelah intubasi trakea. Terjadinya pneumonia nosokomial akibat tidak seimbangnya pertahanan inang dan kemampuan kolonisasi bakteri sehingga menginvasi traktus respiratorius bagian bawah. termasuk kultur semikuantitatif dari sample bronchoalveolar lavange (BAL). Pada pasien yang diberikan obat secara intravena (intravena drug abusers) memungkan infeksi kuman ini menyebar secara hematogen dari kontaminasi injeksi . Etiologi Pneumonia Menurut (Smeltzer & Bare. Bakteria yang berperan dalam pneumonia nosokomial adalah P. Ventilator adalah alat yang dimasukan melalui mulut atau hidung. Penyakit ini secara signifikan akan mempengaruhi biaya rawat di rumah sakit dan lama rawat di rumah sakit. Pada early onset pneumonia nosokomial memili prognosis baik dibandingkan late onset pneumonia nosokomial. C. ATS membagi pneumonia nosokomial menjadi early onset (biasanya muncul selama 4 hari perawatan di rumah sakit) dan late onset (biasanya muncul setelah lebih dari 5 hari perawatan di rumah sakit). Klebsiella sp. Bakteri patogen ini di temukan pneumonia komunitas rawat inap di luar ICU sebanyak 20-60%. Pada banyak kasus. sedangkan pada pneumonia komunitas rawat inap di ICU sebanyak 33%. S.

Aureus (MRSA) memiliki dampak yang besar dalam pemilihan antibiotik dimana kuman ini resisten terhadap beberapa antibiotik. Penyebab pneumonia berasal dari gram negatif sering menyerang pada pasien defisiensi imun (immunocompromised) atau pasien yang di rawat di rumah sakit. 2) Klebsiella pneumonia: bakteri anaerob fakultatif.Aspergillus fumigates menyebakan pneumonia fungi . Virus . Jenis kuman ini yang memiliki virulensi tinggu yaitu encapsulated type B (HiB). bentuk batang dan memiliki bau yang sangat khas.Cipittaci menyebabkan pneumonia klamidia (pneumonia TWAR) . Methicillin-resistant S. Jenis lain : . Atipikal organism Penyebab paling sering: Mycoplasma penumoniae menyebabkan pneumonia mikoplasma. b. B. Kuman ini memiliki daya taman paling kuat. yaitu peradangan. 3) Haemophilus influenza: bakteri bentuk batang anaerob dengan berkapsul atau tidak berkapsul. apabila suatu organ telah terinfeksi kuman ini akan timbul tanda khas.Mycobacterium tuberculosis menyebabkan tuberculosis c.Mycoplasma penumoniae menyebabkan pneumonia mikoplasma .Penumocyctis carini menyebakan pneumonia pnemosistis carinii (PCP) .awal menuju ke paru-paru. nekrosis dan pembentukan abses. Contoh bakteri gram negatif dibawah adalah: 1) Pseudomonas aeruginosa: bakteri anaerob. Pada pasien alkoholisme kronik. faecalis. diabetes atau PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronik) dapat meningkatkan resiko terserang kuman ini.Legionella pneumophila menyebakan penyakit legionnaires . E faecium): organisme streptococcus grup D yang merupakan flora normal usus. C menyebakan pneumonia virus . 3) Enterococcus (E. di rawat di rumah sakit dalam waktu yang lama dan dilakukan pemasangan endotracheal tube.Virus influenza tipe A. bentuk batang tidak berkapsul.

biasanya menyerang pada pasien dengan imunodefisiensi. nyeri otot dan nyeri sendi (Misnadiarly. Manifesttasi Klinik Pneumonia Manifestasi klinis pneumonia yang sering muncul adalah demam dengan takikardia. dimana spora jamur masuk kedalah tubuh saat menghirup udara. henti jantung atau pada keadaan selang nasogastrik tidak berfungsi yang menyebabkan kandungan lambung mengalir di sekitar selang yang menyebabkan aspirasi tersembunyi. Pada kondisi ringan mungkin pasien masih bisa berbicara dengan kalimat lengkap. Pada palpasi. 2008)..Disebabkan oleh virus influenza yang menyebar melalui droplet. purulent. Gejala lain yang mungkin muncul adalah lemas. sakit kepala. sedangkan sekret yang keluar dapat berupa mukus. herpes simplex virus. stroke. Jika terdapat penyebaran sampai pleura. Adapun dari pemeriksaan fisik yang kemungkinan akan didapatkan adalah peningkatan frekuensi pernapasan dan penggunaan otot bantu napas tambahan. Cryptococcus neoformans. alkohol. Lebih dari 20% pasien memiliki gejala gastrointestinal seperti mual. Karena aspirasi/inhalasi (kandungan lambung) terjadi ketika refleks jalan nafas protektif hilang seperti yang terjadi pada pasien yang tidak sadar akibat obat-obatan.Aspergillus sp. e. namun pada kondisi berat. dan diare. pasien akan kesulitan dalam bernapas. Gejala utama lain yang muncul adalah sesak napas. D. atau darah yang bercampur dengan sputum. memiliki riwayat demam menggigil dan berkeringat. Organisme yang menyerang adalah Candida sp. pasien akan merasakan sakit dada pleuritik. Fungi Infeksi pneumonia akibat jamur biasanya disebabkan oleh jamur oprtunistik. Bahan kimia biasanya karena mencerna kerosin atau inhalasi gas menyebabkan pneumonitis kimiawi. Diduga virus penyebabnya adalah cytomegalovirus. . varicella zoster virus.. Pneumonia juga disebabkan oleh terapi radiasi (terapi radisasi untuk kanker payudara/paru) biasanya 6 minggu atau lebih setelah pengobatan selesai ini menyebabkan pneumonia radiasi. Adapun gejala batuk dapat non-produktif dan produktif. mungkin akan ditemukan peningkatan dan penurunan fremitus. d. muntah.

penggunaan aksesorius. Tanda pneumonia berupa retraksi (penarikan dinding dada bagian bawah ke dalam saat bernapas bersama dengan peningkatan frekuensi napas). dan mengandung darah. sakit kepala. serta hidung kemerahan. sputum pneumonia dengan hijau. anoreksia. iritabel. fremitus melemah. takipneu. Pada orang tua. akan didapatkan perubahan dari tumpul menjadi rata. sesak napas. Sindrom Atipikal  Haemophilus influenza  Staphylococcus aureus  Usia  COPD  Flu otot dan bisa tmbul sianosis. perkusi pekak. gelisah.sedangkan pada perkusi. dan gejala pneumonia Jenis Pneumonia Sindrom tipikal  Etiologi Streptococcus pneumonia pneumonia  penyulit Streptococcus Faktor Risiko Tanda dan Gejala  Sickle cell disease  Onset mendadak dingin. nyeri kepala. Gejala umum saluran pernapasan bawah berupa batuk. Adapun pada auskultasi. Manifestasi nonspesifik infeksi dan toksisitas berupa demam. dan . kemungkinan terdengar suara ronkhi dan suara gesekan atau friksi pada pleura. dan demam ia tanpa (39-400C)  Multiple myeloma  Nyeri dada pleuritis  Batuk produktif. suara napas melemah. 3. malaise. nyeri tenggorokan. jenis  Hipogammaglobulinem menggigil. Tabel 1. tanda.  retraksi interkostal. Anak yang lebih besar lebih suka berbaring pada sisi yang sakit dengan lutut tertekuk karena nyeri dada. dan ronkhi. etiologi. keluhan gastrointestinal. cuping hidung. gejala-gejala tersebut tidak terlalu nampak (Muttaqin. penyulit mungkin bercak purulen. pada daerah yang mengalami konsolidasi dan efusi pleura. merintih. 2008) Manifestasi klinik pneumonia menurut Mansjoer (2000): 1. ekspektorasi sputum. 2. dan sianosis.  Onset bertahap dalam 3-5 hari  Malaise.

dan basil tergantung bagian yang gram positif: terkena di paru-parunya  Infeksi gram negatif atau Staphylacoccus  Aspirasi asam positif  Disstres lambung respirasi mendadak. maka nasofaring dan orofaring berkontribusi sebagai pertahanan lini pertama untuk mencegah infeksi. sianosis.  Gangguan kesadaran Enterobacter.  E. yang  Gejala pulmonal timbul terinfeksi minimal dibanding Endokarditis gejala septicemia Drug abuse  Batuk nonproduktif dan Abses intra abdomen nyeri pleuritik sasma Pyelonefritis Empiema kandung dengan yang terjadi kemih pada emboli paru-paru anaerob enternik (Sumber: Somantri. batuk. Mikroorganisme dapat mencapai saluran pernapasan bawah melalui berbagai cara. bersin. Patofisiologi Pneumonia Pneumonia merupakan hasil dari reaksi antara imun host terhadap bakteri yang berpoliferasi di alveolar paru. dan batuk infeksi nosokomial)  Produksi Klebsiela.  Nyeri dada karena batuk. masuk ke bronkhiolus . atau juga inhalasi air aerosol yang terkontaminasi dari peralatan terapi respirasi. namun umumnya mikroorganisme ini masuk dengan cara aspirasi orofaring via droplet. Bakteri yang masuk ke paru melalui saluran pernapasan. Jalur infeksi lain adalah melalui inhalasi udara yang sudah tercemar dengan mikroorganisme ketika penderita lain batuk.dispnea berat. dan IV tanda infeksi sekunder. pneumonia  Virus Patogen  Aspirasi basil gram  Kondisi lemah karena  Anaerobik negatif: campuran: konsumsi alkohol mulainya onset perlahan  Perawatan (misalnya  Demam rendah. Pseudomonas. sputum/baubusuk  Foto dada: jaringan Escheirchia intersititial yang terkena proteus. dan diikuti Hematogen  Terjadi bila kuman  Kateter pathogen menyebar ke   paru-paru melalui  aliran darah:  Staphylococcus. coli. hipoksemia. Mycoplasma Aspirasi  Anak-anak  Dewasa muda batuk kering. Jalur tersering masuknya infeksi ke saluran napas bawah adalah melalui aspirasi sekret orofaring. 2007) E. atau berbicara.

beberapa mikroorganisme dapat melepaskan toksin dari dinding selnya yang menyebabkan kerusakan paru lebih lanjut.dan alveolui lalu menimbulkan reaksi peradangan hebat dan menghasilkan cairan edema yang kaya akan protein dalam alveoli dan jaringan intersititial. eksudat yang kaya protein keluar masuk ke dalam alveolar melalui pembuluh darah yang berdilatasi dan bocor. eksudat mengalami lisis dan direabsorbsi oleh makrofag dan pencernaan kotoran inflamasi. dengan mempertahankan arsitektur dinding alveolus di bawahnya. Kongesti (24 jam pertama) : Merupakan stadium pertama. Setelah mencapai alveoli. 2005) : 1. Hepatisasi kelabu (3-8 hari): paru-paru tampak berwarna abu-abu karena leukosit dan fibrin mengalami konsolidasi di dalam alveolus yang terserang. Sebagai tambahan. yang menyebabkan asinus dan bronkiolus terminal terisi dengan debris infeksius dan eksudat. 3. Resolusi (8-11 hari) : Pada stadium keempat ini. 4. fibrin. Hepatisasi merah (48 jam berikutnya): Paru-paru tampak merah dan tampak berglanula karena eritrosit. 2007). 2. dan leukosit polimorphonucleus (PMN) mengisi alveoli. F. Akumulasi eksudat di asinus dapat menyebabkan sesak napas dan hipoksemia (Somantri. Pathway Pneumonia . Pelepasan mediator inflamasi dan kompleks imun dapat merusak membrane mukus bronkus dan membrane alveolokapiler. maka pneumokokus menimbulkan respon yang khas terdiri dari empat tahap yang berurutan (Price & Wilson. sehingga jaringan kembali pada strukturnya semula.

fiberoptic bronchoscopy. dapat juga menunjukkan multiple abses/infiltrate. aspirasi transtrakheal. penyebaran atau lokasi infiltrasi (bacterial). 2.Gambar 1. Lebih dari satu tipe . Chest X-ray: teridentifikasi adanya penyebaran (missal: lobus dan bronkhial). Patofisiologi Pneumonia G. Pewarnaan Gram/Culture Sputum dan Darah: didapatkan dengan neddle biopsy. Pemeriksaan Diagnostik Pneumonia Pemeriksaan diagnostik pada Pneumonia menurut Somantri (2007): 1. empiema (Staphylococcus). atau penyebaran/extensive nodul infiltrate (sering kali viral) pada pneumonia mycoplasma chest x-ray mungkin bersih. Analisis gas darah (Analysis Blood Gasses-ABGs) dan Pulse Oximetry: abnormalitas mungkin terjadi tergantung dari luasnya kerusakan paru-paru. 3. atau biopsy paru-paru terbuka untuk mengeluarkan organism penyebab.

seperti Diplococcus pneumonia. dan Hemophilus influenza. Penatalaksaan Pneumonia Menurut Misnadiarly (2008) penatalaksanaan untuk pneumonia bergantung pada penyebab. kenaikkan suhu. Elektrolit: sodium dan klorida mungkin rendah. Ampisilin 100 mg/kg BB/hari dalam 4 kali pemberian 9.organism yang dapat ditemukan. A. Bilirubin mungkin meningkat. hipoksemia. 4. Koreksi gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit 7. hemolytic streptococcus. 5. dan status hidrasi Jika sesak tidak terlalu berat dapat dimulai makanan enteral bertahap melalui selang nasogastrik dengan feeding drip 5. LED: meningkat. 8. Staphylacoccus aureus. Antibiotik sesuai hasil biakan atau diberikan untuk kasus pneumonia community base: 8.9% = 3:1. Pemeriksaan Darah Lengkap (Complete Blood Count-CBC): leukositosis biasanya timbul. Pemeriksaan Fungsi Paru-Paru: volume mungkin menurun (kongesti dan kolaps alveolar): tekanan saluran udara meningkat dan kapasitas pemenuhan udara menurun. meskipun nilai pemeriksaan darah putih (white blood countWBC) rendah pada infeksi virus. Jika sekresi lender berlebihan dapat diberikan inhalasi dengan salin normal dan beta agonis untuk memperbaiki transport mukosilier 6. efusi pleural adalah terjadi pengumpulan cairan di rongga pleura. 4. H. kloramfenikol 75 mg/kg BB/hari dalam 4 kali pemberian I. 3. + KCl 10 mEq/500 ml cairan Jumlah cairan sesuai berat badan. 7. Tes Serologi: membantu dalam membedakan diagnosis pada organisme secara spesifik. 6. Oksigen 1 – 2 L/menit IVFD dekstrose 10% : NaCl 0. . sesuai yang ditentukan oleh pemeriksaan sputum mencakup: 1. 2. 9. Komplikasi Pneumonia Menurut Betz dan Sowden (2002) komplikasi yang sering terjadi menyertai pneumonia adalah: abses paru adalah pengumpulan pus dalam jaringan paru yang meradang.

2. 4. TB dan riwayat merokok. yang meliputi: nama. debu. muntah. Riwayat Kesehatan Keluarga (RKK) Riwayat adanya penyakit pneumonia pada anggota keluarga yang lain seperti : TB. Sirkulasi Gejala : riwayat adanya /GJK kronis Tanda : takikardia. suku bangsa. tanggal lahir. Pengkajian Pasien Pneumonia Beberapa pengkajian keperawatan yang perlu dilakukan pada pasien dengan Pneumonia. Keluhan Utama Sering menjadi alasaan klein untuk meminta pertolongan kesehatan adalah Sesak napas. alamat. agama. Asthma. 6. kemungkinan pasien pernah menderita penyakit sebelumnya seperti : asthma. penampilan kemerahan. b. Riwayat Kesehatan Sekarang (RKS) Penderita pneumonia menampakkan gejala nyeri. penampilan kakeksia (malnutrisi). Aktivitas/istirahat Gejala: kelemahan. ujung jari terasa dingin. tanggal pengkajian. riwayat diabetes mellitus Tanda : sistensi abdomen. J. demam. Identitas Klien Lakukan pengkajian pada identitas pasien dan isi identitasnya. kulit kering dengan turgor buruk. Data Dasar pengkajian pasien a. ISPA dan lain-lain. Riwayat Kesehatan Terdahulu (RKD) Penyakit yang pernah dialami oleh pasien sebelum masuk rumah sakit. batuk berdahak. atelektasis adalah (pengembangan paru yang tidak sempurna) terjadi karena obstruksi bronkus oleh penumukan sekresi rusaknya jalan nafas. alergi terhadap makanan. 5. ny dan kelemahan 3.empiema adalah efusi pleura yang berisi nanah. atau pucat c. 1. insomnia Tanda : letargi. mual. meningitis yaitu infeksi yang menyerang selaput otak. yaitu. jenis kelamin. hiperaktif bunyi usus. badan lemah. kelelahan. Makanan/cairan Gejala : kehilangan nafsu makan. . sakit kepala. batuk dengan dahak yang kental dan sulit dikeluarkan. gagal nafas. sesak napas. endokarditis yaitu peradangan pada setiap katup endokardial. penurunan toleransi terhadap aktivitas. pneumonia interstitial menahun.

o Perkusi: pekak datar area yang konsolidasi. atau varisela. nyeri dada substernal (influenza). K. pelebaran nasal. menggigil berulang. nyeri dada (meningkat oleh batuk). L. o Premikus: taksil dan vocal bertahap meningkat dengan konsolidasi o Gesekan friksi pleural. f. berkarat atau purulen. o Bunyi nafas menurun tidak ada lagi area yang terlibat. gemetar. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen. penggunaan otot aksesori. Tanda : berkeringat. artralgia. dispnenia progresif. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis (inflamasi parenkim paru). 2. Diagnosa Keperawatan Pasien dengan Pneumonia Diagnosa keperawatan pada pasien dengan Pneumonia adalah: 1. Neurosensori Gejala : sakit kepala daerah frontal (influenza) Tanda : perubahan mental (bingung. o Warna: pucat/sianosis bibir dan kuku. Tanda : melindungi area yang sakit (tidur pada sisi yang sakit untuk membatasi gerakan). Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan obstruksi jalan napas : mukus dalam jumlah berlebih dan sekresi dalam bronki. imralgia. atau napas bronkial. Nyeri/kenyamanan Gejala : sakit kepala. Takipnue.d. 3. Pernafasan Gejala : adanya riwayat ISK kronis. demam. Tanda : o Sputum: merah muda. Keamanan Gejala : riwayat gangguan sistem imun. kemerahan mungkin ada pada kasus rubeola. Fokus Intervensi Pasien dengan Pneumonia Intervensi keperawatan yang diberikan pada pasien dengan Pneumonia harus disesuaikan dengan diagnosa keperawatan yang muncul yaitu: . takipnea (sesak nafas). somnolen) e. dispnea. g. pernapasan dangkal. ketidak mampuan umum.

Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi. Instruksikan bagaimana agar bisa melakukan batuk efektif d. durasi. dan batuk c. sebagaimana mestinya g. sebagaimana mestinya 2. Ajarkan klien bagaimana menggunakan teknik mengontrol pernapasan ketika beraktivitas e. Berikan tindakan untuk kenyamanan. Kolaborasi pemberian analgetik untuk mengurangi nyeri g. Menentukan penyebab toleransi aktivitas (fisik. Pastikan perubahan posisi klien secara perlahan dan monitor gejala dari intoleransi aktivitas c. Ketidakefektifan bersihan jalan napas berhubungan dengan obstruksi jalan napas : mukus dalam jumlah berlebih dan sekresi dalam bronki. Monitor dan catat untuk mentoleransi aktivitas d. frekuensi. Evaluasi keefektifan control nyeri h. Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien e. Kaji adanya faktor yang menyebabkan kelelahan f. Buang sekret dengan memotivasi pasien untuk melakukan bernapas pelan. Nyeri akut berhubungan dengan agen cedera biologis (inflamasi parenkim paru). berputar. missal perubahan posisi c. Observasi reaksi non vernal dari ketidaknyamanan d. Rencana intervensi keperawatan : a.1. Monitor status pernapasan dan oksigenasi. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi b. Kelola nebulizer ultrasonik. Monitor klien akan adanya kelelahan fisik dan emosi secara berlebihan 3. catat area yang ventilasinya menurun atau tidak ada dan adanya suara napas tambahan e. Auskultasi suara napas. DAFTAR PUSTAKA . Tingkatkan istirahat. kualitas dan factor presipitasi b. psikologi atau motivasional) b. dalam. Ajarkan teknik manajemen nyeri non farmakologi (misalnya teknik relaksasi napas dalam) f. Rencana intervensi keperawatan: a. karakteristik. Kolaborasi pemberian obat bronkodilator dan mukolitik melalui inhalasi (nebulizer) f. Rencana intervensi keperawatan: Manajemen Nutrisi a.

Rencana asuhan keperawatan: pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. Djojodibroto. M. 2011. Arief dkk. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI. Buku saku keperawatan pediatri. A. Jakarta: Salemba Medika. Pusat Data dan Informasi. G.Fourth Edition. Marry F. L.Dochterman. Respirologi (respiratory medicine). Heather. Pusat Data dan Informasi. Fourth Edition.. (2009). Jakarta: EGC. Nursing Outcomes Classification (NOC). Profil Kesehatan Indonesia 2013. 2008. Moorhead. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. . Louis Missouri : Mosby Elsevier.Betz. RGC. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Depkes RI 2002. Herdman. (2000). L. St. Zul. C. Jakarta : EGC Mansjoer. Jakarta: Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Mandalice. Depkes RI. Jakarta Doenges.E. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Jakarta: Pustaka Obor Populer. Jakarta: EGC. Profil Kesehatan Indonesia 2011. (2012). Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI. Pneumonia Atipik & Pneumonia Atypik Mycobacterium. Nursing Interventions Classification (NIC). Diagnosa keperawatan : Definisi dan Klasifikasi 2012-2014 oleh NANDA International. Usia Lanjut. St. Buku ajar asuhan keperawatan dengan gangguan sistem pernapasan. Penyakit Infeksi Saluran Napas Pneumonia pada Anak. Pedoman penanggulangan P2 ISPA. & Sowden. C. 2007. Media Aesculapius FKUI Jakarta Misnadiarly. 2011. Orang Dewasa. A 2002. (2000). Jakarta Bulechek .al. Sue. Muttaqin. Pneumonia komuniti: pedoman diagnosis dan penatalaksanaan di Indonesia. et. 2003. Kapita Selekta Kedokteran. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam jilid 2 edisi 4. D. T. Louis Missouri : Mosby Elsevier. Dahlan. (2008).

Jakarta: EGC.Smeltzer. World Healt Statistic. Somantri. . International Medical Foundation of Japan. 2014. Jakarta: Salemba Medika. South East Medical Informatic Center. Irman. World Health Organization. (2002). SEAMIC health statistic 2000. S & Bare. Jepang 2003. Keperawatan Medikal Bedah Asuhan pada Pasien dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Buku ajar keperawatan medical bedah Brunner & Suddarth. (2007).