Anda di halaman 1dari 16

BAB I PENDAHULUAN

Latar belakang
Hadits Nabi adalah sumber ajaran Islam kedua. Dilihat dari periwayatannya, hadits berbeda
dengan al-Qur’an. Untuk al-Qur’an, semua periwayatannya berlangsung secara mutawatir,
sedangkan hadits, sebagian periwatannya berlangsung secara mutawatir dan sebagian lagi
berlangsung secara ahad. Hadits mengenal istilah shohih, hasan, bahkan ada mardud dan dhoif
dan lainya. Namun, dalam al-Qur’an tidak mengenal hal semacam itu karena periwayatan alQur’an adalah mutawatir yang tidak mungkin diragukan isinya.
Tetapi dalam hadits kita harus cermat, siapa yang meriwayatkan, bagaimana isinya dan
bagaimana kualitasnya, karena kualitas hadits akan berpengaruh pada hukum Islam.
Penelitian ini bukan bermaksud untuk meragukan keseluruhan hadits Nabi tetapi lebih kepada
kehati-hatian (al-ihtiyath) dalam pengambilan dasar hukum. Inilah bukti bahwa kita benar-benar
ingin mengikuti Nabi Muhammad dan menjalankan Islam sepenuhnya. Hal semacam itulah yang
menyebabkan pengkajian hadits tidak hanya menyangkut kandungan dan aplikasinya saja, tetapi
juga segi sanad, matan dan periwayatannya. Di sinilah Ulama’ hadits sangat berhati-hati dalam
melakukan periwayatan. Sehingga segala sesuatu yang berkenaan dengan materi hadits menjadi
sangat besar manfaatnya bagi penelitian kualitas hadits.

1

‫ عن أبى قلبععة‬. selain ditulis matan hadits dimaksud. matan dan rawi bisa dilihat pada contoh hadits berikut: ‫ عععن أنعس عععن‬. kita temukan bahwa hadits tersebut telah diriwayatkan oleh beberapa orang rawi.BAB II PEMBAHASAN 1. 2 . Perbuatan menyampaikan hadits tersebut dinamakan me-rawi (riwayat) kan hadits. perlu pula diketahui istilah Rawi. Sebagai contoh dari sanad.‫ال‬ Dari hadits di atas. 3.‫ حدثنا ايوب‬:‫ حدثنا عبد الوهاب الثقفى قال‬:‫ حدثنا محمد بن المثنى قال‬:‫رلوى المام البخارى قال‬ ‫ لوان يحب المرء ليحبععه ال‬. juga ditulis nama rawi terakhir (pentakhrij) dan rawi pertamanya (sanad terakhir). Pengertian Sanad dan Matan Kata sanad menurut bahasa berarti sandaran. Sedangkan menurut istilah adalah: ‫هو الفاظ الحديث التى تتقوم بها معانيه‬ “Matan adalah ungkapan-ungkapan hadits yang menunjukkan maksud hadits tersebut” Selain istilah sanad dan matan seperti yang telah diuraikan di atas.” Adapun pengertian dari Matan menurut bahasa adalah punggung jalan. yaitu rangkaian para periwayat yang mengutip ma tan dari sumber pertamanya.‫م‬. seyogyanya. Anas sebagai rawi pertama Abi Qalabah sebagai rawi kedua Ayyub sebagai rawi ketiga Abdul wahhab Al-Tsaqafi sebagai rawi keempat Muhammad ibn Al-Mutsanna sebagai rawi kelima Imam Bukhari sebagai rawi terakhir (pentakhrij) Adapun deretan kata-kata mulai dari :‫ حدثنا محمد بن المثنى‬sampai dengan kalimat ‫ قال‬.‫ ان يكون ال لورسوله أحب اليه مما سواهما‬:‫ ثل ث من كن فيه لوجد حللوة اليمان‬:‫ قال‬. kaki bukit atau kaki gunung. 2. atau tanah yang keras dan tinggi. matan haditsnya adalah rangkaian kalimat mulai dari ‫ثل ث من كن فيه‬ sampai ‫ان يقععذف فععى النععار‬.‫عن النبى ص‬ itulah yang dinamakan sanad Untuk contoh hadits di atas. Dalam penulisan ilmiah. yakni: 1.‫النبى ص‬ ‫ لوان يكون ان يعود فى الكفر كما يكره ان يقذف فى النار‬.‫هو طريق المتن‬ “Sanad adalah jalan yang menyampaikan pada Matan. 6. Yang dimaksud Rawi adalah “ orang yang menyampaikan atau menuliskan dalam suatu kitab apa yang pernah didengar atau diterima dari seseorang (gurunya). 5. 4.‫م‬. yang dapat dipegangi atau dipercayai. Sedangkan menurut istilah adalah: ‫ اى سلسلة الرلواة الذين نقلوا المتن عن مصدره اللول‬.

boleh jadi dalam sanad hadits tersebut terdapat masalah sanad. akan tetapi metode tersebut masih tampak samar-samar. Menambahkan hal itu. 2. dhakarani Untuk meneliti sanad diperlukan pengetahuan tentang kehidupan. ‘an dan annă.. kealpaan dan bahkan penyimpangan. qala lana. mereka akhirnya menyusun kriteria-kriteria tertentu. 3. yaitu perawi harus berkualitas siqah (‘adil dan dhabit). Sebab. upaya tersebut dilakukan hanya untuk menyakinkan bahwa hal itu benar-benar dari Nabi. Selain itu juga merupakan kehati-hatian kaum muslimin dalam menjaga hadits Nabi di samping berkeinginan untuk mengikuti sunnah Nabi dengan sebenar-benarnya. Latar belakang penelitian Sanad dan Matan Sebenarnya metode yang mirip dengan sanad sudah tampak sebelum Islam lahir.Sehubungan dengan hal itu. Penelitian ini bukan berarti tidak mempercayai semua hadits Nabi. kemudian ditulis kalimat: ‫رلواه البخارى عن أنس‬. akhbarani. mengumpulkan dan meneliti kualitas hadits. hal ini memungkinkan terjadi kesalahan. akan tetapi hal seperti ini hanya tertuju pada hadits ahad bukan hadits mutawatir. menurut Bustamin. pekerjaan dan karakter pelbagai pribadi yang membentuk rangkaian yang bervariasi dalam mata rantai isnad yang berbeda-beda. dan masing-masing perawi menggunakan kata penghubung adanya pertemuan. diantaranya. Berangkat dari peristiwa ini ada sebagian kaum muslimin yang bersedia mencari. hadatsani. misalnya. hadatsana. sepeti sanadnya tidak bersambung atau salah satu periwayatanya tidak siqat (‘adil dan dhabit). sanad harus mempunyai ketersambungan. sami’tu. Matan hadits yang sudah shahih belum tentu sanadnya shahih. Pengertian Penelitian Sanad dan Matan Penelitian sanad dan matan lebih dikenal dengan istilah kritik sanad dan matan. Sebagaimana dalam penukilan syair-syair jahiliyah. sebagai langkah mereka mengadakan penelitian pada sanad. akhbarāni. Fakta sejarah telah menyatakan bahwa hadits Nabi hanya diriwayatkan dengan mengandalkan bahasa lisan/hafalan dari para perawarinya selama kurun waktu yang panjang. Bagian-bagian penting dari sanad yang diteliti adalah nama perawi dan lambang-lambang periwayatan hadits. setelah menulis matannya. 3 . sami’tu.Umpamanya untuk penulisan hadits di atas.

sampai abad keempat belas hijriyah. yaitu setelah Imam Syafi’i memberikan argumen-argumennya. Hanya ada sekelompok kecil pada masa klasik yang menolaknya. apabila mereka menghadapi suatu hadits. dalam praktek. dan kali ini dengan bentuk yang berbeda dari Inkar al-Sunnah klasik dan lebih berbahaya. Namun. baru pada abad keempat belas Hijriyah. Pada dasarnya ada empat faktor yang mendorong ulama’ hadits mengadakan penelitian hadits yaitu dari segi sanad dan matan.Ulama’ sangat besar perhatiannya terhadap sanad dan matan hadits. pemikiran seperti itu muncul kembali. kiranya Allah berkehendak lain. Yaitu: a) Hadits sebagai salah satu sumber ajaran Islam Dalam sejarah. Sehingga hadits dapat dilestarikan sampai sekarang b) Hadits tidak seluruhnya tertulis pada zaman Nabi 4 . Musthafa alSiba’i. A’zami dan lain-lain telah membikin argumentasi Inkar al-Sunnah modern hancur berkeping-keping. Mesir itu disebabkan adanya pengaruh pemikiran kolonialisme yang ingin melumpuhkan dunia Islam. Hal itu dikarenakan mereka kurang paham tentang pelbagai hal mengenai ilmu hadits. dan meskipun kepada mereka telah diterangkan urgensi Sunnah dalam Islam. Ketiga. tokoh-tokohnya mengaku sebagai mujtahid dan pembaharu. hampir seluruh ulama dan umat Islam menyepakati hadits sebagai sumber ajaran Islam. banyaknya karya tulis ulama’ yang berkenaan dengan sanad hadits. Dr. Hal ini terbukti dengan adanya tiga alasan.metode sanad sudah digunakan. Dr. Namun formulasi metode sanad ini baru tampak jelas dalam sistem periwayatan hadits saja. Mereka yang hadir dalam majelis pengajian Nabi memberitahukan sahabat lain yang tidak hadir tentang hal yang mereka dengar. tidak ada cacatan sejarah yang menunjukkan bahwa di kalangan umat Islam terdapat pemikiran penolakan Sunnah. M. maka munculnya para pakar Hadits kontemporer seperti Prof. Karenanya. Semenjak abad ketiga.Pertama. Pemakaian sanad dalam literatur hadits telah digunakan oleh sahabat sejak Nabi masih hidup. maka sanad hadits merupakan salah satu bagian yang mendapat perhatian khusus. pada masanya juga Imam Syafi’i memberikan bantahan lewat argumen-argumennya dalam kitab al-Umm. pernyataan-pernyataan ulama’ yang menyatakan bahwa sanad merupakan bagian tak terpisahkan dari agama dan pengetahuan hadits. Apabila Imam Syafi’i berhasil melumpuhkan Inkar alSunnah klasik. Kedua. Prof. Namun. Namun. Imam Syafi’i kemudian diberi julukan sebagai Nashir al-Sunnah (pembela Sunnah). inilah yang disebut Inkar al-sunnah. Inkar al-Sunnah Modern yang muncul di Cairo. mereka tetap bertahan pada pendiriannya.M.

tertera di lembaran-lembaran.Tidak ada perselisihan bahwa Al-Qur’an telah mendapat perhatian khusus dari Rasul sehingga membuatnya terpelihara dalam dada. Syiria.” Meski begitu. dll. Menurut bukti yang ada. c) Munculnya pemalsuan Hadits Pada zaman Nabi. Dengan begitu. Musthafa al-Siba’i. maka barang siapa menulis sesuatu hendaklah ia menghapusnya. Sementara orang-orang Islam tertentu membuat hadits palsu karena didorong beberapa tujuan. pelepah korma. Tetapi Sunnah tidaklah demikian. walau begitu tidak menutup kemungkinan pemalsuan hadits sudah berlangsung pada masa sebelumnya. belum terdapat bukti yang kuat tentang telah terjadinya pemalsuan hadits. kita mengetahui rahasia dilarangnya menulis Sunnah yang terdapat dalam hadits Muslim “Janganlah kamu menulis dariku selain Al-Qur’an.Berdasarkan sejarah. sehingga penulisan hadits adalah sulit dilakukan dari segi masalah lokasi. Mungkin penyebabnya adalah bahwa Rasul hidup bersama sahabat selama dua puluh tiga tahun. berpendapat bahwa larangan yang dimaksud adalah penulisan secara resmi sebagaimana dicatatnya al-Qur’an. atau kelonggaran bagi sahabat yang menulis untuk dirinya sendiri. meski hanya dikenal dengan istilah shahifah dan nuskhah. Sunnah tidak mendapat perhatian khusus dalam masalah kodifikasi. Namun. Orang-orang non-Islam membuat hadits palsu karena ingin menghancurkan Islam dari dalam.Para Ulama’ berselisih pendapat bagaimana menggabungkan hadits nabi yang melarang penulisan hadits. Sedangkan Prof. Ada pula yang berpendapat bahwa larangan menulis hanya untuk mereka yang tidak aman dari membuat kesalahan dan mencampuradukkan antara sunnah dan al-Qur’an. pemalsuan hadits mulai ada pada masa Khalifah Ali ibn Abi Thalib. sedangkan menurut sejarah tidak sedikit sahabat yang menulis dan menyimpannya. Dr. pemalsuan hadits tidak hanya dilakukan oleh orang Islam saja tetapi juga oleh orang-orang non-Islam. Seperti Kaum Syiah yang membuat hadits palsu 5 . sudah dipastikan bahwa sebagian sahabat memiliki lembaran-lembaran tertulis yang di dalamnya mencatat sebagian apa yang mereka dengar dari Nabi. Selain itu juga dikhawatirkan silapnya sebagian sabda Nabi yang singkat dan padat dengan Al-Qur’an karena alpa dan tanpa sengaja. Ada yang berpendapat bahwa larangan itu terhapus (mansukh). Sedangkan izin penulisan adalah kelonggaran mencatat sunnah dalam keadaan dan keperluan khusus. ada sementara sahabat yang sudah memberikan nama tertentu bagi karyanya. seorang tokoh hadits yang energik dari Damaskus. meskipun merupakan salah satu sumber ajaran Islam. Beliau memberikan nama al-Shadiqah. seperti Abdullah Amr ibn al-Ash (7 SH-65 H).

melainkan untuk mengetahui apakah benar hadits tersebut berstatus mutawatir. Sekitar pertengahan abad kedua Hijriyah. mereka membuat hadits palsu untuk memuliakan pemimpinnya. sayang sekali sebelum selesai penghimpunan. Setelah itu. Bahkan Nabi sendiri mengancam neraka bagi pemalsu sabda atas nama Nabi d) Proses penghimpunan hadits Pada zaman sahabat Nabi dan Tabi’in. Akan tetapi hanya untuk kepentingan sendiri karena masih berlangsung perbedaan pendapat tentang boleh tidaknya penulisan hadits. 4. telah muncul pelbagai kitab himpunan hadits yang tidak hanya memuat matan saja tetapi juga sanad. Kaum pendukung Muawiyah pun tidak mau kalah. menggabungkan dan sebagainya. kegiatan penulisan hadits telah dilakukan banyak orang. tidak sedikit juga ulama’ sesudah abad III H yang menyusun hadits yang kebanyakan berupa ringkasan. Ada yang berkualitas shahih dan juga ada yang berkualitas tidak shahih. khususnya sebelum Khalifah Umar Ibn Abdul Aziz memerintahkan untuk menghimpun hadits. Penelitian hadits mutawatir tetap saja dilakukan. Hadits yang kualitasnya tidak memenuhi syarat tidak dapat digunakan sebagai hujjah.Penelitian ulang terhadap hadits yang telah pernah dinilai oleh Ulama’ tetap memiliki manfaat mengingat ulama’ dahulu pun manusia yang kadang salah dan benar. kegiatan tersebut masih berjalan terus. Ulama’ berikutnya kemudian menyusun kitab hadits yang khusus menghimpun hadits-hadits shahih. penghimpunan hadits hanya untuk melengkapi. Meski demikian.Pernyataan ulama’ tentang tidak perlunya penelitian lebih lanjut pada hadits mutawatir tidaklah berarti bahwa terhadap mutawatir tidak dilakukan penelitian. Penelitian merupakan salah satu upaya untuk selain mengetahui seberapa jauh tingkat akurasi 6 . hanya saja tujuan penelitian bukanlah untuk mengetahui kualitas sanad dan matan. Tujuan Penelitian Hadits Tujuan pokok penelitian hadits baik dari segi sanad maupun matan adalah untuk mengetahui kualitas hadits yang diteliti.tentang kemuliaan sahabat Ali. Dalam hal ini harus dinyatakan bahwa apapun latar belakang dan tujuan pemalsuan hadits. Dengan demikian puncak penghimpunan hadits terjadi pada abad III H.Keinginan Khalifah Umar ibn Abdul Aziz (memerintah 99-101H) untuk menghimpun tersebut diwujudkan dalam bentuk surat perintah yang dikirim ke seluruh pejabat dan Ulama’ di pelbagai daerah pada Akhir tahun 100 H. hal seperti itu tetaplah perbuatan tercela dan menyesatkan.Masih banyak kitab hadits yang disusun oleh ulama’ pada abad ke III H. Khalifah telah meninggal dunia.

Syahid adalah periwayat yang berstatus pendukung yang berkedudukan sebagai dan untuk sahabat Nabi. sehingga mudah diketahui status dan kualitasnya.J. Tanpa dilakukan kegiatan takhrijul hadits terlebih dahulu maka akan sulit diketahui asal-usul riwayat hadits yang akan diteliti. Sedangkan Mutabi’ adalah periwayat yang berstatus pendukung pada periwayat yang bukan sahabat Nabi. Kitab kamus yang agak lengkap untuk kepentingan ini adalah adalah kitab susunan Dr. Yaitu: -Untuk mengetahui asal-usul riwayat hadits.A. -Untuk mengetahui seluruh riwayat bagi hadits. yaitu:  Metode Takhrijul Hadits bil Lafz Metode ini adalah penelusuran hadits melalui lafadz. sehingga dapat ditentukan sanad yang berkualitas dlaif dan yang berkualitas shahih. Kaidah-kaidah penelitian Hadits Dalam kegiatan penelitian hadits ada beberapa langkah yang harus dilakukan oleh seorang peneliti hadits. Wensinck dkk. juga untuk menghindar dari penggunaan dalil hadits yang tidak memenuhi syarat dari segi kehujjahan.penelitian dahulu. Banyak sekali istilah yang dipakai ulama’ hadits tentang pengertian Takhrijul hadits. pengertian yang dimaksud dalam kegiatan penelitian hadits lebih lanjut ialah “penelusuran atau penelitian hadits pada pelbagai kitab sebagai sumber asli dari hadits yang bersangkutan. yang di dalam sumber itu dikemukakan secara lengkap matan dan sanad yang bersangkutan”. -Untuk mengetahui ada atau tidak adanya Syahid dan Mutabi’ pada sanad hadits. Namun.Dalam buku Cara Praktis Mencari Hadits dikemukakan bahwa metode takhrijul hadits ada dua macam. yaitu sebagai berikut: a) Takhrijul Hadits Langkah awal yang dilakukan para ahli Hadits dalam kegiatan penelitian hadits adalah Takhrijul hadits. Pada dasarnya ada tiga hal yang menyebabkan pentingnya kegiatan Takhrijul hadits. Hal inilah yang menjadikannya sangat penting bagi seorang peneliti hadits. Yang diterjemahkan ke bahasa arab dengan judul ‫المعجم المفهرس للفاظ الحديث النبوي‬  Metode Takhrijul Hadits bil maudlu’ 7 . 5.

‫ الصلة قبل الخطبة‬:‫فقال‬ (‫ )أخرجععه مسععلم‬. Dia disebut namanya karena adanya kasus yang dia lakukan yaitu mendahulukan khutbah dalam shalat hari raya dengan alasan tahun sebelumnya bila shalat jamaah selesai dan diikuti khutbah.‫قيس بن مسلم عن طارق بن شهاب لوهذا حديث أبى بكر‬ ‫ من‬:‫ يقول‬.Untuk mempermudah proses al-i’tibar. Karenanya.‫ فقام اليه رجل‬. diperlukan pembuatan skema seluruh sanad hadits yang diteliti. Dengan demikian.‫حدثنا أبو بكر بن أبى شيبة‬ .‫ حععدثنا شعععبة‬. Tujuan diadakannya Al-I’tibar adalah untuk mengetahui keadaan sanad hadits seluruhnya dilihat dari ada atau tidaknya periwayatan yang berstatus mutabi’ (periwayatan yang berstatus pendukung yang bukan sahabat Nabi).‫ لو حدثنا محمد المثنى‬. dan syahid (periwayatan yang berstatus sebagai dan untuk Nabi). Garis-garis sanad harus jelas. ia menyampaikan hadits Nabi di atas yang berisi perintah untuk mengatasi kemungkaran.‫ لوذالععك أضعععف اليمععان‬. Kitab kamus untuk kepentingan ini adalah ‫ مفتاح كنوز السنة‬yang juga susunan dari Dr.‫ قد ترك ما هنالك‬:‫ فقال‬. Sebagai contoh hadits yang berbunyi ‫مععن رأى منكععم منكععرا‬. dan dengan menyertakan sanad-sanad yang lain tersebut akan dapat diketahui apakah ada periwayat yang lain ataukah tidak ada untuk bagian dari sanad hadits di maksud.‫م‬. kasus Marwan bukanlah sabab al-wurud dari sabda Nabi tersebut karena kasus itu tidak termasuk matan 8 . b) Penelitian Sanad Hadits Setelah melakukan takhrijul hadits. Wensinck dkk.‫ فععان لععم يسععتطع فبقلبععه‬. maka seluruh sanad hadits dicatat dan dihimpun untuk dilakukan penelitian dengan urutan sebagai berikut: 1.‫ أما هذا فقد قضى ما عليه‬:‫ فقال أبو سعيد‬.‫رأى منكععم منكععرا فليغيععر بيععده فععان لععم يسععتطع فبلسععانه‬ Marwan bin Hakam dalam riwayat di atas bukanlah periwayat hadits. Berikut ini dikemukakan riwayat hadits tersebut yang mukharrijnya Muslim: ‫ كلهمععا عععن‬.J. Di tempat itu hadir pula Abu Said al-Khudri yang membenarkan sikap orang yang menegur.‫ح‬. Tindakan Marwan ditegur oleh salah seorang yang hadir.Metode ini adalah penelusuran hadits melalui topik masalah.‫ ألول من بدأ بالخطبة يوم العيد قبل الصلة مرلوان‬:‫ قال‬.‫ حدثنا محمد بععن جعفععر‬.A. Abu Said menilai tindakan Marwan itu merupakan perbuatan munkar. Al-i’tibar Al-I’tibar yaitu menyertakan sanad-sanad yang lain untuk suatu hadits tertentu. yang hadits itu pada bagian sanadnya tampak hanya terdapat seorang periwayat saja.‫ حدثنا لوكيع عن سفيان‬. ternyata banyak anggota jamaah yang meninggalkan tempat shalat. seperti halnya nama periwayat agar tidak mengalami kesulitan dalam penelitian.‫ سمعت رسول ال ص‬.

‫ سمعت‬d. (2) mukallaf. dhabith (kapasitas intelektual) Penerimaan hadits pada masa Nabi ialah melalui cara al-sama’.Pada kriteria keempat. Sedangkan orang yang menyampaikan hadits harus hafal terlebih dahulu dan mampu menyampaikannya kepada orang lain di samping harus memahami isi hadits tersebut. (3) melaksanakan ketentuan agama. Dengan demikian. sanad terakhir adalah Abu Said al-Khudri. kapasitas intelektual seorang periwayat sangat ditekankan dalam periwayatan hadits. 2. Allah memerintahkan dalam Surat al-Hujurat: 6 agar berita yang berasal dari orang fasiq diteliti kebenarannya. Meneliti pribadi periwayat dan metode periwayatannya Dalam meneliti pribadi periwayat. adil (kualitas pribadi periwayat) Dalam memberikan pengertian istilah adil. Dengan demikian. a. ‫قال لن‬ 9 . harus ditolak. artinya: perpindahan dari sanad yang satu ke sanad yang lain. Pada kriteria melaksanakan ketentuan agama. Karena orang yang tidak melaksanakan ketentuan agama tidak merasa berat membuat berita bohong.Dalam mengemukakan riwayat. yakni Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Muhammad bin al-Mutsanna. dalam hal ini hadits Nabi. b. ada beragam cara yang dipakai. Dari perbedaan itu dapat dihimpun empat butir kriteria untuk seorang yang adil. Huruf ‫ ح‬yang terletak antara nama Sufyan dan kata wa haddasana adalah singkatan dari kata attahwil min isnad ila isnad. ulama’ berbeda pendapat. Ulama’ hadits sepakat bahwa ada dua hal yang harus diteliti untuk dapat diketahui riwayat hadits bisa dijadikan hujjah atau tidak. Keduanya beliau sandari sebagai sanad pertama. Jika kedua sifat itu telah dimiliki maka periwayat dinyatakan bersifat Siqah. Dengan demikian sanad Muslim dalam riwayat hadits di atas ada dua macam. berarti orang yang mengabaikan muru’ah akan mengakibatkan dia tidak dihargai oleh masyarakat. Yaitu keadilan dan kedhabitannya. Imam Muslim menyandarkan riwayatnya kepada dua periwayat. ‫ حدثنا‬e. Yaitu: (1) beragama Islam. Sehingga cenderung melakukan perbuatan kompensasi untuk mencari perhatian masyarakat salah satunya adalah menyampaikan berita bohong. ‫أخبرنا‬ b. diantaranya: a. (4) memelihara muru’ah. Ibnu Qudamah mengartikan muru’ah dengan rasa malu yang merupakan salah satu tata nilai yang berlaku di masyarakat. Dalam metode periwayatan. Maka berita dari orang yang fasiq yang berkenaan dengan sumber ajaran Islam.

apakah sanad hadits tersebut mengandung illah ataukah tidak. Adapun kata ‫ حدثنى‬lebih tinggi daripada kata ‫ حدثنا‬dan ‫أخبرنا‬. bila hadits yang bersangkutan memang memiliki mutabi’ataupun syahid. hanya saja penelitian matan mempunyai arti apabila sanad hadits sudah jelas memenuhi syarat. kemudian sanad dibandingkan dengan sanad lain. suatu sanad sangat memungkinkan mengandung syudzudz bila sanad yang diteliti lebih dari satu buah.Kegiatan penelitian hadits masih belum dinyatakan selesai bila penelitian tentang kemungkinan adanya syudzudz dan illah belum dilaksanakan dengan cermat. Karena ‫ حدثنى‬mengandung unsur kesengajaan guru menyampaikan hadits kepada penerima riwayat. kata yang tertinggi adalah ‫ سععمعت‬kemudian ‫ حععدثنا‬dan ‫ حععدثنى‬. Alasannya kata ‫سععمعت‬ menunjukkan kepastian periwayat mendengar langsung hadits. Ini tidak berarti bahwa sanad lebih penting daripada matan. Sedang dua kata lainnya tidak demikian. (2) seluruh periwayat dalam pelbagai sanad diteliti berdasarkan kritik yang berlaku. tidak dikenal adanya syudzudz. Bagi ulama’ hadits keduanya sama-sama penting. ‫ذكرنا‬ Bobot kualitas kata-kata ini tidak disepakati oleh ulama’. ada kemungkinan periwayat tidak mendengar langsung. ‫ حدثنى‬f. Meneliti illah Illah yang disebutkan dalam salah satu unsur kaedah kesahihan sanad hadits ialah illah yang yang untuk mengetahuinya diperlukan penelitian yang lebih cermat sebab hadits yang bersangkutan tampak sanadnya berkualitas shahih. Meneliti matan dengan melihat kualitas sanadnya Sebelum meneliti matan terlebih dahulu harus meneliti sanad. Sedangkan ‫ حدثنا‬dan ‫ حدثنى‬masih bersifat umum. Cara menelitinya antara lain dengan membanding-bandingkan semua sanad yang ada untuk matan yang semakna. 10 .c. Sesudah itu. 463 H). Hadits yang memiliki satu sanad saja. Menurut al-Khatib al-Baghdadiy (w. Maka akan ditemukan. maka suatu matan tidak dapat dinyatakan sebagai sabda Nabi. Al-Khatib al-Baghdadiy memberikan langkah-langkah yang perlu ditempuh ialah: (1) seluruh sanad yang semakna dihimpun dan diteliti. 1. 2. karena tanpa sanad. Kemudian untuk meneliti matan hadits juga harus melalui beberapa kegiatan diantaranya: a. Salah satu langkahnya adalah membandingkan (Muqaranah) semua sanad yang ada untuk matan yang topik pembahasannya sama atau memiliki segi kesamaan. Di samping itu setiap matan harus memiliki sanad. Meneliti syudzudz Menurut Imam Syafi’i.

dilihat dari kemungkinan masalah yang diselesaikan. suatu hadits barulah dinyatakan berkualitas sahih apabila sanad dan matan hadits sama-sama shahih.Apabila kandungan matan ternyata bertentangan dengan matan yang kuat. Namun. Misalnya. hadits tentang niat yang berbeda-beda redaksi matannya. tidak dinyatakan sebagai hadits shahih.Apabila kandungan matan yang diperbandingan ternyata sama. maka natijah disebutkan bahwa hadits tersebut adalah dhaif Sedangkan kalau seandainya matan dan sanadnya berbeda kualitasnya. maka natijah disebutkan bahwa hadits tersebut adalah shahih. hadits yang sanadnya sahih dan matannya tidak shahih atau sebaliknya. 6. dan (4) at-tauqif (menunggu sampai ada petunjuk atau dalil lain yang dapat menyelesaikannya atau menjernihkannya).Menurut ulama’ hadits. maka langkah terakhir adalah menyimpulkan hasil penelitian matan. Ulama’ berbeda pendapat dalam penyelesaiannya. Menurut ulama’ hadits. maka kegiatan muqaranah kandungan matan dilakukan. 4. (2) an-nasikh wal-mansukh. (3) at-tarjih. maka perbedaan itu harus dijelaskan. Dengan demikian.Jika memenuhi syarat. Ilmu-Ilmu bantu penelitian Hadits Dalam penelitian sebuah hadits tidak hanya didasarkan pada argumen saja. Menyimpulkan hasil penelitian matan Setelah semua langkah telah dilakukan. b. asalkan sanadnya sama-sama shahih. Meneliti kandungan matan Kandungan dalam beberapa matan terkadang sejalan dan juga ada yang bertentangan. empat tahap yang diusung Ibnu Hajar al-Asqalani dan lain-lain tampaknya dipandang lebih akomodatif. perbedaan lafadz yang tidak mengakibatkan perbedaan makna. maka hal itu tetap dapat ditoleransi. maka dapatlah dikatakan bahwa kegiatan penelitian matan berakhir. maka penelitian harus dilanjutkan. maka matan itu perlu diteliti sanad-nya. tetapi ada beberapa ilmu yang dapat membantu dalam mencapai kesuksesan hadits. Apabila matan dan sanadnya berkualitas dhaif. Meneliti lafadz matan yang semakna Salah satu sebab terjadinya perbedaan lafadz pada matan hadits yang semakna ialah karena dalam periwayat hadits telah terjadi periwayatan secara makna (ar-riwayah bil-ma’na). Yaitu. 3. Pada matan yang sejalan. Ilmu yang berkenaan dengan sanad adalah sebagai berikut: a. (1) at-taufiq (al-jam’u atau al-talfiq).Apabila dalam penelitian matan ternyata shahih dan sanadnya juga shahih. Ilmu Rijalul Hadits 11 .

Terdorong alasan tersebut di atas. Jika dua hadits itu dapat ditalfiqkan maknanya. sedang yang lain ditinggalkan. Ada yang menyebutnya ilmu tarikh. Ilmu Mukhtalif al-Hadits Yang disebut ilmu Mukhtalif al-Hadits adalah “ilmu yang membahas hadits-hadits yang menurut lahirnya saling bertentangan. melainkan untuk dijadikan pertimbangan dalam hubungannya dengan dapat diterima atau tidak hadits yang mereka sampaikan. negeri asal. Akan tetapi lebih merupakan keindahan seni sastra. Ilmu Gharibul Hadits Dalam memahami makna matan hadits. terkadang kita menjumpai susunan kalimat yang sulit dipaham. b. Ibnu Shalah menta’rif ilmu gharibul Hadits sebagi berikut: “Ilmu pengetahuan untuk mengetahui lafadz-lafadz dalam matan hadits yang sulit lagi sukar dipaham. Pembahasan yang terpenting adalah sejarah kehidupan para tokoh tersebut meliputi masa kelahiran dan wafat mereka. semenjak dari Nabi sampai dengan periwayat terakhir (penulis hadits). negeri mana saja yang mereka singgahi dalam jangka waktu lama. Usaha untuk mengumpulkan dua hadits yang berlawanan maknanya itu disebut talfiq al-Hadits. Hal semacam ini bukan untuk menjelekkan mereka. b. maka tidak dibenarkan hanya diamalkan salah satu. para ulama’ hadits menyusun suatu ilmu tersendiri yang disebut dengan ilmu gharibul hadits. sebagaimana membahas hadits yang sukar dipahami atau diambil isinya. Ilmu al-Jarh wa at-Ta’dil Yaitu ilmu yang membahas keadaan para rawi dari diterima atau ditolaknya periwayatan mereka.Ada beberapa istilah dalam penyebutan ilmu ini. dengan lafadz Sabqu diartikan al-laziq (dekat). kepada siapa saja mereka menerima hadits. untuk mengahilangkan kesukarannya dan menjelaskan hakikatnya”. Seperti lafadz ‫ الجار أحق بسبقه‬yang diartikan “Tetangga itu lebih berhak untuk didekati”. Kritik yang dikemukakan oleh ulama’ hadits bukan hanya hal-hal yang terpuji saja. Cara mentalfiqkan ada kalanya dengan mentakhshishkan hadits 12 . ada yang menyebut tarikh ar-ruwat dan ada pula yang menyebut ilmu tarikh ar-ruwat. Hal ini bukan disebabkan tidak teraturnya kalimat dan tidak fasihnya. dan kepada siapa menyampaikannya.Yaitu ilmu yang secara mengelupas tentang tokoh/orang yang membawa hadits. karena jarang sekali digunakan”. tetapi juga berkenaan dengan hal-hal yang tercela.Sedang ilmu yang berkenaan dengan matan adalah sebagai berikut: a. untuk menghilangkan perlawanannya itu atau mengkompromikan keduanya.

menyisipkan suatu hadits pada hadits yang lain. seorang peneliti akan menemukan hadits-hadits yang bertentangan. berita yang disampaikan oleh sahabat itu benar-benar dari Nabi. Seperti memutthasilkan (menganggap bersambung) sanad atau hadits yang sebenarnya sanad itu munqathi’ (terputus). (3) mengetahui hikmah-hikmah ketetapan syariat.yang umum. Solusi yang dilakukan untuk mengatasinya adalah dengan membahasnya melalui ilmu Nasikh Hadits wa al-Mansukh. (2) mengambil kandungan isi dari nash yang dilukiskan secara umum. mentaqyidkan hadits yang mutlaq dan adakalanya memilih sanadnya yang lebih kuat. Demikian menurut Muhadditsun. Pengertian dari ilmu ini adalah “ilmu yang membahas hadits-hadits yang saling berlawanan maknanya yang tidak mungkin dapat dikompromikan dari segi hukum yang terdapat pada sebagiannya. merafa’kan (mengangkat sampai pada Nabi) berita yang mauquf (yang berakhir pada shahabat). dapat diketahui betapa sulitnya meneliti apakah sanad suatu hadits itu muttashil. Karena hal ini dapat memahami makna hadits secara sempurna.”Dengan demikian. (3) dengan mengetahui tarikh keluarnya hadits. Jalan untuk mengetahui nasakh adalah. Apabila dalam suatu hadits ditemukan 13 . Antara lain: (1) memahami dan menafsirkan hadits.Yang dimaksud ilmu asbab al-wurud ialah “ilmu pengetahuan yang menerangkan sebab lahirnya hadits. (4) mentakhsis hukum. karena ia sebagai nasikh terhadap hukum yang lain. meruwetkan sanad dengan matannya atau lain sebagainya. d. Ilmu Ilal al-Hadits Dalam studi hadits istilah illat dapat diartikan sebagai suatu sebab yang tersembunyi yang dapat membuat cacat suatu hadits yang nampaknya tiada bercacat. Ilmu Nasikh Hadits wa al-Mansukh Dalam penelitian matan. e. Ilmu Asbab al-Wurud Mengetahui sebab-sebab lahirnya hadits adalah bagian sangat penting dalam mempelajari hadits. jika saja seseorang tidak mempunyai pengetahuan yang banyak tentang biografi para perawi. c. maka dapatlah ditetapkan ta’rif ilmu illal al-Hadits sebagai berikut: “Ilmu yang membahas tentang sebab-sebab yang samar-samar lagi tersembunyi dari segi membuat kecacatan suatu hadits. (1) penjelasan dari nash syar’i.Dengan mengetahui arti illat. (2) penjelasan dari shahabat. karena ia sebagai mansukh. Karenanya.” Dalam mempelajari ilmu ini kita dapat mengambil beberapa faedah. hadits yang terakhir adalah sebagai nasikh”.

memberikan penilaian dan membuktikan keautentikan (keshahihan) 14 . Hal demikian menyebabkan tidak dapat menjadi hujjah dalam menetapkan hukum. menjadilah hadits tersebut hadits dlaif.illat. Kesimpulan Kritik hadits (Naqd al-Hadits) atau dengan sebutan penelitian hadits adalah upaya untuk menseleksi kehadiran hadits. BAB III PENUTUP A.

kita akan lebih yakin akan kebenaran hadits karena adanya proses penelitian yang ketat dari para sahabat dan para ulama’ hadits dan metode pemahaman yang benar. 15 . Muhammad Ajjaj. Ilmu Ilal al-Hadits. sebagai bukti kehati-hatian kita. Jadi. Ilmu Asbab al-Wurud. Dengan adanya ilmu-ilmu tersebut kegiatan penelitian akan lebih mudah dan terbantu. Sehingga pada akhirnya kita akan mendapat hasil yang memuaskan yaitu hadits yang berkualitas shahih DAFTAR PUSTAKA Al-Khatib. sedang untuk meneliti matan dibutuhkan Ilmu Gharibul Hadits. Ushul al-Hadits ‘Ulumuhu wa Mushthalahuhu. Beirut: Daar alFikr. 1989. Ilmu yang berkenaan dengan sanad antara lain Ilmu Rijalul Hadits dan Ilmu al-Jarh wa at-Ta’dil. Ilmu Nasikh Hadits wa al-Mansukh.Upaya ini mempunyai metode tersendiri dan juga ilmu-ilmu yang dapat membantu dalam proses penelitiannya.sebuah hadits. Ilmu Mukhtalif al-Hadits. Upaya ini juga berarti mendudukan hadits sebagai hal yang sangat penting dalam sumber hukum Islam kedua setelah Al-Quran. upaya ini juga dilakukan untuk memahami hadits agar dapat mengaplikasikan isi dari hadits tesebut dengan tepat. Selain yang telah tersebut di atas.

Bustamin. Metodologi Kritik Hadits. I. Nurcholish Majid dari “al-Sunnah wa Makanatuha fi al-Tasyri’ al-Islami” Jakarta: Pustaka Firdaus.. Muh. Jakarta: PT Karya Unipress. Hadis Nabi Telaah Historis dan Metodologis. Fatchur. 2004. Jakarta: PT Karya Unipress. Kaidah Kesahihan Sanad Hadits. Zuhri. 2004. Cet: VIII. Sunnah dan Peranannya dalam Penetapan Hukum Islam. 2001. Pengantar Ilmu Hadits. Ahmad. Yaqub. Jakarta: Raja Grafindo. Cet. 1995. Yogyakarta: Pilar Media. Yogyakarta: PT Tiara Wacana Yogya. 1995. M. 16 . Syuhudi. Rahman. Ismail. Kritik Hadits. Ikhtishar Musthalah Hadits. Perempuan di Lembaran Suci: Kritik atas Hadits-Hadits Sahih. Bandung: PT Al-Ma’arif.Al-Siba’i. Jakarta: Pustaka Firdaus. 1991. 1992. Musthafa. Terj. 2003. Metodologi Penelitian Hadits Nabi. Ali Mustafa. Bandung: Angkasa. Fudhaili. 1992.