Anda di halaman 1dari 29

BAB I

1.1 Pendahuluan
Teh merupakan salah satu minuman yang sangat populer di dunia. Teh
dibuat dari pucuk daun muda tanaman teh (Camelia sinensis L. [O]
Kuntze). Berdasarkan proses pengolahannya, secara tradisional produk teh
dibagi menjadi 3 jenis, yaitu teh hijau, teh oolong dan teh hitam. Teh hijau
banyak dikonsumsi oleh masyarakat Asia terutama Cina dan Jepang,
sedangkan teh hitam lebih populer di negara-negara Barat. Sementara, teh
oolong hanya diproduksi di negara China. Teh sebagai minuman kesehatan
tradisional dipercaya memiliki berbagai khasiat, diantaranya sebagai obat
anti hipertensi, anti diare, obat penghilang rasa sakit, bahkan air seduhan
biji tanaman kering teh dapat digunakan sebagai obat anti jamur (Ross,
2005).
Tanaman teh yang tumbuh di Indonesia sebagian besar merupakan
varietas Assamica yang berasal dari India, berbeda dengan tanaman teh
yang tumbuh di Jepang dan Cina yang merupakan teh varietas Sinensis.
Teh varietas Assamica memiliki kelebihan dalam hal kandungan
katekinnya (zat bioaktif utama dalam teh) yang lebih besar (Rustanti,
2009). Kandungan katekin dalam daun teh Indonesia yaitu sebanyak 7,02 –
11,60% sedangkan di negara lain berkisar antara 5,06 – 7,47% atau 1,34
kali lebih tinggi (Indriani, 2009)
Berdasarkan penelitian, kebiasaan minum teh ternyata dapat
mencegah nafas bau dan gigi kropos. Kandungan bahan kimia dalam teh
dapat membunuh bakteri dan virus yang dapat menyebabkan infeksi
tenggorokan, gigi kropos dan gangguan gigi serta rongga mulut lainnya.
Hasil isolasi senyawa kimia dari daun teh yang dikenal sebagai keluarga

polifenol terutama katekin dan teaflavin dapat membunuh bakteri
penyebab gangguan mulut .
Komponen utama dari teh hijau adalah polisakarida, flavonoid,
Vitamin B, C dan E serta komponen katekin. Komponen katekin banyak
berperan sebagai anti kanker. Komponen katekin utama yang ditemukan
dalam teh hijau adalah : epigallocatechin (EGC), epikatekin (EC),
epigallocatechingallate (EGCG) dan epicatechin gallate ( ECG).

Suhu optimum pertumbuhan teh dengan kualitas baik membutuhkan suhu berkisar 15-30ºC. Dan semakin meningkatnya pemintaan teh di dunia. Pada tahun 2737 SM teh sudah dikenal di Cina.5 serta tanaman teh akan mempuyai produktifitas yang baik jika berada pada daerah yang curah hujannya mencapai 2500-3000 mm/tahun (Adisewojo.BAB II 2. dan beberapa jenis laterit. Teh sangat cocok dengan tanah yang memiliki derajat keasaman kurang dari 5. Sedangkan jenis tanah yang baik untuk tanaman teh adalah andosol. Teh merupakan produk alami yang dapat langsung dikonsumsi manusia. diperlukan adanya upaya peningkatan produksi teh secara ekonomis. . 1. Semakin tinggi daerah penanaman teh maka semakin baik mutu hasilnya (Ghani. 1982 dalam Fajar 2006). 2002). 2002). 2002). Aspek keteknikan inilah yang kemudian akan memberikan efek produktifitas dan efisiensi dalam pengolahan teh (PPTK Bandung. 2009). Teh diperkenalkan pertama kali oleh pedagang belanda sebagai komoditas perdagangan di eropa pada tahun 1610 M (Ghani. Tanaman ini dapat tumbuh didaerah tropis dan subtropis dengan syarat cukup sinar matahari dan hujan sepanjang tahun. dalam Hendro. Dalam proses budidayanya. penerapan teknologi baik dalam tingkatan budidaya maupun produksi harus ditingkatkan. Permasalahan yang selama ini terjadi adalah aspek pemeliharaan yang sangat tergantung pada nilai ekonomi pucuk teh (Syamsul bahri. Artinya. teh memerlukan perhatian yang intensif untuk hasil produksi yang ingin dicapai. TEORI Tanaman teh (Camellia sinesis L. latosol. Meskipun dapat tumbuh di dataran rendah namun mutu hasilnya kurang baik.) berasal dari asia tenggara.

Tahap selanjutnya adalah sortasi dan pengepakan.Pengelolaan pembibitan merupakan fokus utama yang dapat menentukan proses selanjutnya dalam ketercapaian produktifitas tanaman teh yang dihasilkan. teh dipisahkan menurut jenis dan mutu. ada beberapa tahapan yang harus dilakukan dalam proses pengolahan teh. 2006). 2. 1994).1. 1991 dalam Fajar. 1996 dalam Fajar. 1994). Perkembangan Teh di Indonesia . Sebelum dapat dikonsumsi.5-3. Penyimpanan teh yang telah disortasi ini biasanya menggunakan peti-peti miring stainless steel. Lama penggilingan berkisar antara 25-40 menit untuk pabrik di dataran rendah. tujuan dari proses penggilingan menggulung dan mengecilkan ukuran pucuk. Pembibitan dengan stek merupakan cara yang paling cepat untuk memenuhi kebutuhan bibit dalam jumlah banyak. 2002). mengeluarkan cairan sel dan untuk memperoleh bobok basah sebanyak mungkin. Pembibitan pada budidaya teh dapat dilaksanakan pada dari biji dan stek. Tahapan ke tiga adalah fermentasi. tahapan ini bersifat opsional tegantung jenis teh yang diinginkan. 2006). Daun teh hasil fermentasi selanjutnnya dikeringkan sampai kadar air mencapai 2. Selanjutnya adalah proses penggilingan. Fermentasi teh merupakan oksidasi senyawa polifenol dengan bantuan enzim oksidase. Jika berhasil dalam pembibitan (penentuan jenis klon) maka produktifitas hasil yang diperoleh akan baik (Ghani. Proses pertama adalah pelayuan pucuk teh untuk mengurangi kadar air pucuk. Pengepakan teh yang memadai adalah pengepakan yang memperhatikan kadar air agar tidak lebih tinggi dari 5% (Setiawati dan Nasikun.5% dengan tujuan agar masa simpan lebih lama dan enzim-enzim yang menyebabkan fermentasi polifenol tidak aktif (PPTK Gambung.1. dan 40-70 menit untuk pabrik yang berlokasi di dataran tinggi (PPTK Gambung. Pelayuan dilakukan dengan menghembuskan udara baik udara dengan suhu ruang ataupun udara panas ke hamparah daun teh (Baruah dan Bhattacharrya.

Garut. Permukaan daun bagian atas mengkilat. Usaha perkebunan teh pertama dipelopori oleh Jacobus Isidorus Loudewijk Levian Jacobson. Valentijn melaporkan melihat perdu teh muda berasal dari Cina tumbuh di Taman Istana Gubernur Jendral Champhuys di Jakarta. kaku. dan ditanam sebagai tanaman hias di Jakarta.1. Selain itu daun teh mempunyai ciri–ciri ( morfologi ) sebagai berikut: 1.bohea. panjangnya tidak lebih dari 5cm. seorang pendeta bernama F. Jawa Barat. Pada tahun 1694. dan pada tahun 1827 di Kebun Percobaan Cisurupan. Lalu Linnaeus mengakui dua jenis yang sebelumnya digambarkan oleh John Hill. berupa biji teh dari Jepang yang dibawa oleh orang Belanda bernama Andreas Cleyer. berbentuk sudip melebar sampai sudip memanjang. Sinensis (keluarga Theaceae). Sistematika Penamaan Tumbuhan Teh Walaupun tumbuhan teh aslinya ditulis oleh Linnaeus di dalam sistem binominalnya pada tahun 1753 sebagai Thea sinensis. viridis dan T. Secara keliru dianggap bahwa T. setelah pada tahun 1824 Dr. seorang ahli teh pada tahun 1828.bertangkai pendek. rasanya agak sepet.2. teh menjadi salah satu tanaman yang harus ditanam 2. berkelenjar yang khas dan terbenam (Kartasapoetra. pada daun muda permukaan bawahnya berambut jika telah tua menjadi licin. yaitu T.Tumbuhan teh pertama kali masuk ke Indonesia tahun 1686. 1992) 2. Pada tahun 1826 tanaman teh berhasil ditanam melengkapi Kebun Raya Bogor. sekarang teh dimasukkan di Camellia sebagai C. Tepi daun bergerigi.Van Siebold seorang ahli bedah tentara Hindia Belanda yang pernah melakukan penelitian alam di Jepang mempromosikan usaha pembudidayaan dengan bibit teh dari Jepang. bohea . sehingga pada masa pemerintahan Gubernur Van Den Bosh. 2.3. yang kemudian digunakan sebagai dasar bagi usaha perkebunan teh di Jawa dan sejak itu menjadi komoditas yang menguntungkan pemerintah Hindia Belanda. Helai–helai daun yang cukup tebal. 3. Morfologi Tumbuhan Teh Daun teh berbau khas aromatik.1. agak tergulung ke bawah.

T. viridis menghasilkan teh hijau. Daunnya berwarna hijau gelap berbentuk oval dengan pinggiran bergerigi .1. Polifenol yang biasanya ditemukan pada tanaman banyak diketahui sebagai flavanols atau katekin. Gambar 1. Komponen katekin utama yang ditemukan dalam teh hijau adalah : epigallocatechin . produksi dari teh hijau tidak membutuhkan oksidasi dari daun teh yang muda.adalah sumber teh hitam. theifera dan lain – lain. Ada banyak nama yang mirip termasuk Thea bohea. Namun. Teh Hijau diproduksi dari perebusan daun teh segar pada temperatur tinggi. 2. sehingga menyebabkan enzim pengoksidasinya tidak aktif sehingga kandungan polifenol nya akan tetap ada.4 Teh Hijau ( Camellia sinensis L. assamica. Ciri dari tanaman ini adalah semak atau pohon berwarna hijau dan tanaman ini memiliki tinggi sampai 30 kaki namun biasanya dipangkas 2-5 kaki untuk pengolahan. Dan Teh hitam . pada tahun 1843 Robert Fortune menemukan bahwa teh hitam dan teh hijau dihasilkan dari daun tanaman yang sama dengan proses produksi yang berbeda. serta teh hijau dihasilkan dari daunnya. C. khasiat untuk kesehatannya pun sudah banyak ditemukan. cantonensis. Camellia sinensis merupakan famili dari theaceae. Tanaman teh.) Teh merupakan minuman yang banyak dikonsumsi kedua di dunia setelah air. T. Struktur senyawa polifenol dari daun teh Tidak seperti pada teh hitam. T. bunganya berwarna putih beraroma . viridis. sedangkan T. Camellia thea.

adenine. induksi apoptosis serta menghambat kecepatan replikasi sel yang berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan neoplasma.5 %. thermogenik. probiotik serta antimikroba pada beberapa hewan dan studi in vitro. Tanin mengandung epichatechin. . Daun berbau aromatic dan sedikit pahit. berkhasiat sebagai adstringen pada saluran pencernaan. Studi juga menunjukkan efek antibakteri dari teh hijau terhadap berbagai macam bakteri gram positif dan negatif. karbohidrat 4 %. Studi pada manusia dan binatang menunjukkan kemampuan EGCG untuk memblok respon inflamasi terhadap radiasi UV A dan B serta kemampuan untuk menghambat migrasi neutrofil yang umumnya terjadi pada proses inflamasi Meskipun mekansime yang pasti tidak diketahui. kafein 2. Polifenol dari teh hijau menghambat produksi dari metabolit asam arakidonat seperti prostaglandin dan leukotrien. protein 20 %. penyegar badan.(EGC). Potensial antioksidan teh hijau secara langsung berhubungan dengan kombinasi cincin aromatis dan grup hidroksil yang membentuk strukturnya yang menyebabkan pengikatan dan netralisasi terhadap radikal bebas oleh grup hidroksilnya. epicatechin (EC). kuersetin. antikarsinogenik. tannin. serat 27 % dan pectin 6 %. sehingga akan menurunkan respon inflamasi.5 – 4. Berkhasiat sebagai peluruh kencing (diuretic). dan natural fluoride. theofilin. polifenol 25 %. Biji mengandung saponin yang beracun dan mengandung minyak. katekin dari teh hijau menunjukkan peningkatan Lactobacilli dan Bifidobacteria pada saat menurunkan aktivitas dari beberapa patogen secara signifikan. xanthin. stimulansia jantung (cardiotonik). epigallocatechingallate (EGCG) dan epicatechin gallate ( ECG). antiinflamasi. theobromin. EGCG dapat menghambat inisiasi dan promosi tumor. Polifenol dari teh hijau menunjukkan efek antioksidan. minyak atsiri. naringenin. Daun teh mengandung kafein ( 2-3 % ). Efek antikarsinogenik dari polifenol teh hijau utamanya dari EGCG. menstimulir susunan saraf pusat. Setiap 100 gram daun teh mempunyai kalori 17 kj dan mengandung 75-80 % air.

warna.Kafein mempercepat pernafasan. Uraian Senyawa Epicatechin dari daun Teh ( Camelia Sinensis )  Katekin (Polifenol) Polifenol teh atau sering disebut dengan katekin merupakan zat yang unik karena berbeda dengan katekin yang terdapat pada tanaman lain. Dalam pengolahannya. yaitu rasa. senyawa tidak berwarna ini. flavonoid yang merupakan antioksidan polifenol pada teh mampu memperkuat dinding sel darah merah dan mengatur permeabilitasnya. memperkuat pembuluh darah. Katekin teh bersifat antimikroba (Bakteri dan Virus). antioksidan. terutama kelompok katekin flavonoid. menstimulir kerja jantung dan melebarkan pembuluh darah koroner. melancarkan sekresi air seni dan menghambat pertumbuhan sel kanker. Katekin merupakan kelompok utama dari substansi teh hijau yang paling berpengaruh terhadap seluruh komponen teh. baik langsung maupun tidak langsung selalu dihubungkan dengan semua sifat produk teh. dan menghambat oksidasi LDL sehingga mengurangi terjadinya proses atherosclerosis di pembuluh darah yang selanjutnya akan mengurangi resiko kematian akibat penyakit jantung koroner. Dari hasil penelitian. Katekin tersitesis dalam daun teh melalui jalur melanic dan asam sikimat. mengurangi kecenderungan thrombosis. Sedangkan asam galik diturunkan dari . dan aroma Katekin merupakan kelompok terbesar dari komponen daun teh. antiradiasi. Theobromin terutama mempengaruhi otot. Katekin dalam teh tidak bersifat menyamak dan tidak berpengaruh buruk terhadap pencernaan makanan. Theofilin mempunyai efek diuretik kuat. perangsang kuat pada susunan saraf pusat dan aktifitas jantung.

Bandingkan dengan usia rata-rata pria Indonesia yang hanya 65 tahun dan wanita 70 tahun. Pucuk dan daun pertama paling kaya katekin galat. Gambar 3. Senyawa flavonoid katekin pada teh Tradisi itu diwariskan hingga kini. Katekin – senyawa dominan dari polifenol teh hijau – terdiri dari epikatekin. katekin. Khasiat utama teh ada pada polifenol dalam daun muda dan utuh. Warga Jepang meyakini.suatu produk antara yang diproduksi dalam jalur metabolik asam sikimat. Senyawa polifenol berperan sebagai penangkap radikal bebas hidroksil sehingga tidak mengoksidasi lemak. Jalur biosintesis katekin dari daun teh Katekin tanaman teh dibagi menjadi 2 kelompok utama. epigallokatekin. epigallokatekin gallat.35 tahun dan wanita 82. minum teh salah satu cara agar panjang umur.dan DNA dalam sel. Pantas jika usia rata-rata pria Jepang mencapai 76. Konsentrasi katekin sangat tergantung pada umur daun. epikatekin gallat. protein. dan gallokatekin. Kadar katekin bervariasi tergantung pada varietas tanaman tehnya. galokatekin. dan epigalokatein galat. . epigalokatekin.84 tahun. Kemampuan polifenol menangkap radikal bebas 100 kali lebih efektif dibanding vitamin C dan 25 kali lebih efektif dari vitamin E. galokatekin galat. epikatekin. epikatekin galat. Katekin teh hijau tersusun sebagian besar atau senyawa – senyawa katekin. yaitu proanthocyanidin dan poliester.

kolesterol jahat. Pada proses pengolahan lainnya. pembentukan kerak di dinding pembuluh darah penyebab arteriosklerosis bisa ditangkal. Selain itu.kandungan epigallokatekin dan epigallokatekin gallat pada teh hijau menghambat aktivitas enzim yang mengatur tekanan darah. Sebetulnya. Teh hijau Indonesia diolah dari pucuk teh Camellia sinensis jenis assamica sehingga lebih baik dibanding teh hijau Cina atau Jepang yang berbahan baku Camellia sinensis jenis sinensis. sebutan fermentasi itu kurang tepat untuk menggambarkan proses pengolahahan teh. tehaflavin. Kadar katekin menurun sebesar 20%jika dipanaskan pada suhu 98oC selama 20 .Katekin mencegah oksidasi low density lipoprotein (LDL). teh semifermentasi seperti teh oloong dan teh pouchong. 2 – 4 gelas setiap hari. ada 3 jenis teh: teh fermentasi atau the hitam. Perubahan ini mengurangi kadar antioksidan pada teh. katekin dipertahankan jumlahnya dengan cara menonaktifkan enzim polifenol oksidase melalui proses pelayuan dan pemanasan. Senyawa itu lebih banyak terkandung pada teh Camellia sinensis jenis assamica dibanding jenis sinensis.Konsumsi teh secara teratur. Katekin teh mengalami banyak perubahan kimia seperti oksidasi dan epimerisasi saat proses pengolahan dan penyeduhan. Alhasil. dan teharubigin yang khasiatnya tidak sehebat katekin. kadar katekin teh hijaulah paling tinggi. katekin dioksidasi menjadi senyawa orthoquinon. dan the tanpa fermentasi alias teh hijau. Di antara ketiga jenis teh. dapat menurunkan tekanan darah penderita tekanan darah tinggi sehingga kembali normal Kadar katekin mencapai 20% dari bobot kering daun teh hijau. bisflavanol. Berdasarkan cara pengolahannya. Contohnya dari epigallokatekin menjadi gallokatekin. Istilah tepatnya adalah oksidasi enzimatis. selama pengolahan. Sebab. Begitu juga dengan teh hitam. Katekin teh stabil dalam air pada suhu kamar. Epimerisasi adalah perubahan struktur epi pada rantai kimia katekin.

Metode lainnya teknologi membran filtrasi untuk memisahkan komponen cair dengan tekanan. Oleh sebab itu. metode itu tidak ekonomis. kedokteran. katekin dalam bentuk serbuk atau bubuk mudah diperoleh terutama untuk kepentingan farmasi. kosmetik. Sebagai salah satu negara penghasil teh terbesar. Pemisahan katekin dengan membran merupakan proses penyaringan dan difusi elektrokimia berdasarkan bobot molekul (BM) dan struktur senyawanya. atau bubuk. serbuk. ada pemisahan ini larutan yang mengalir tidak menembus media. Dengan manfaat teh yang multikhasiat.menit. Konsumsi teh hijau Indonesia hanya 350 g/kapita/tahun. mendorong para peneliti untuk memperoleh katekin dalam bentuk konsentrat. Prinsip pemisahannya berbeda dengan filtrasi biasa. kurang dari 1 g per hari. harga pelarut-pelarut organik mahal dan perlu diteliti keamanannya akibat kemungkinan residu tertinggal. Dengan teknologi itu.kosumsi teh di Indonesia masih rendah. Sayang.EGCG menjadi (-)-GCG dan kadar katekin menurun hingga 24%. dan pangan.Saat dipanaskan dalam autoclave pada suhu 120oC. yang diperoleh dari 5 g teh hijau. Larutan katekin yang sudah terpisah dari senyawa lain ?terutama senyawa dengan BM besar seperti protein dan polisakarida ? dikeringkan untuk memperoleh serbuk atau bubuk katekin dengan kemurnian tinggi. Sejumlah metode pemisahan dikembangkan dengan pelarut organik seperti methanol dan kloroform. Sebab. Meningkatnya perhatian masyarakat terhadap manfaat polifenol teh. alangkah . terjadi epimerisasi dari (-). pantas jika Jepang menghormatinya dengan melakukan ritual khusus saat minum teh. Katekin bisa anjlok hingga 50%jika dipanaskan selama 2 jam. melainkan dipecah dan menyebar ke seluruh bagian.Idealnya setiap orang mengkonsumsi minimal 125 mg katekin per hari.

susunan ini dalpat menghasilkan tiga jenis struktur senyawa Flavonoid yaitu: 1. Dan sebagai zat warna kuning yang ditemukan dalam tumbuh-tumbuhan. Senyawa-senyawa ini merupakan zat warna merah.baiknya selalu minum teh untuk mencicipi manfaatnya. ungu.3-diarilpropana . dan biru. Flavonoida atau 1. dimana dua cincin benzen (C 6) terikat pada suatu rantai propana (C3) sehingga bentuk susunan C6-C3-C6.(Dadan Rohdiana) struktur katekin Klasifikasi Senyawa Flavonoida Senyawa flavonoida adalah suatu kelompok senyawa fenol yang terbesar yang ditemukan di alam. Flavonoid mempunyai kerangka dasar karbon yang terdiri dari 15 atom karbon.

Flavonoida atau 1. Senyawa-senyawa flavon ini mempunyai .1-diarilpropana Neoflavonoida atau 1.diarilpropana Isoflavonoid atau 1.2.diarilpropana 3. Neoflavonoida atau 1.2. yaitu nama dari salah satu flavonoid yang terbesar jumlahnya dalam tumbuhan.1-diarilpropana Istilah flavonoida diberikan untuk senyawa-senyawa fenol yang berasal dari kata flavon.3-diarilpropana 2. Isoflavonoid atau 1.

Senyawa-senyawa isoflavonoid dan neoflavonoida hanya ditemukan dalam beberapa jenis tumbuhan. dimana posisi orto dari cincin A dan atom karbon yang terikat pada cincin B dari 1.4. Banyaknya senyawa flavonoida ini disebabkan oleh berbagai tingkat alkoksilasi atau glikosilasi dari struktur tersebut.3-diarilpropana dihubungkan oleh jembatan oksigen sehingga membentuk cincin heterosiklik yang baru (cincin C). dan karena . Cincin A selalu mempunyai gugus hidroksil yang letaknya sedemikian rupa sehingga memberikan kemungkinan untuk terbentuk cincin heterosikllis dalam senyawa trisiklis.3-diarilpropana. Beberapa senyawa flavonoida adalah sebagai berikut : Cincin A – COCH2CH2 – Cincin B —————————– Hidrokalkon Cincin A – COCH2CHOH – Cincin B ————————– Flavanon. terutama suku Leguminosae.Auron Sifat Flavonoid Sifat Fisika dan Kimia Senyawa Flavonoid Flavonoid merupakan senyawa polifenol sehingga bersifat kimia senyawa fenol yaitu agak asam dan dapat larut dalam basa. kalkon Cincin A – COCH2CO – Cincin B —————————— Flavon Cincin A – CH2COCO – Cincin B —————————— Antosianin Cincin A – COCOCH2 – Cincin B ——————————. Flavonoida mempunyai pola oksigenasi yang berselangseling yaitu posisi 2. cincin B flavonoid mempunyai satu gugu fungsi oksigen pada posisi para atau dua pada posisi para dan meta atau tiga pada posisi satu di para dan dua di meta. flavonol dan antosianidin adalah jenis yang banyak ditemukan dialam sering sekali disebut sebagai flavonoida utama.kerangka 2-fenilkroman.6. Senyawa-senyawa flavonoid terdiri dari beberapa jenis tergantung pada tingkat oksidasi dari rantai propana dari sistem 1. Masing-masing jenis senyawa flavonoida mempunyai struktur dasar tertentu. Flavon.

etanol. dan alkoksil (Huguet. Sifat antiradikal flavonoid terutama terhadap radikal hidroksil. air. et al. 1992). radikal peroksil. 1990. Morel. Flavonoid terutama berupa senyawa yang larut dalam air. aseton. Karena mempunyai sejumlah gugus hidroksil yang tak tersulih. atau suatu gula. Sebaliknya. aseton. Aglikon flavonoid adalah polifenol dan karena itu mempunyai sifat kimia senyawa fenol.1993).et al. dimetil formamida. Flavonoid juga memiliki beberapa sifat seperti hepatoprotektif.. metanol (MeOH). butanol. dan lain-lain.et al.. dimetilformamida (DMF). yaitu bersifat agak asam sehingga dapat larut dalam basa. Perkembangan pengetahuan menunjukkan bahwa flavonoid termasuk salah satu kelompok senyawa aromatik yang termasuk polifenol dan mengandung antioksidan. antitrombotik.merupakan senyawa polihidroksi (gugus hidroksil) maka juga bersifat polar sehingga dapat larut dalan pelarut polar seperti metanol. butanol (BuOH). Senyawa flavonoid ini memiliki afinitas yang sangat kuat terhadap ion Fe (Fe diketahui dapat mengkatalisis beberapa proses yang menyebabkan terbentuknya radikal bebas).et al. Disamping itu dengan adanya gugus glikosida yang terikat pada gugus flavonoid sehingga cenderung menyebabkan flavonoid mudah larut dalam air. Senyawa-senyawa ini merupakan zat warna merah. aglikon yang kurang polar seperti isoflavon. dimetilsulfoksida (DMSO). anionsuperoksida. antiinflamasi. dan antivirus (Stavric dan Matula. ungu. dan flavon serta flavonol yang termetoksilasi cenderung lebih mudah larut dalam pelarut seperti eter dan kloroform (Markham. 1989 . flavanon. 1988). Aktivitas antiperoksidatif flavonoid ditunjukkan melalui potensinya sebagai pengkelat Fe (Afanas‟av. biru.1991). flavonoid merupakan senyawa polar dan seperti kata pepatah lama suatu golongan akan melarutkan golongannya sendiri. maka umumnya flavonoid larut cukupan dalam 11 pelarut polar seperti etanol (EtOH).. dimetil sulfoksida.. dan sebagai zat berwarna kuning yang ditemukan dalam tumbuh-tumbuhan. air. Mereka dapat diekstraksi dengan etanol 70 % dan tetap ada dalam lapisan air . Sichel.

Sejumlah flavonoida mempunyai rasa pahit sehingga dapat bersifat menolak sejenis ulat tertentu. Sifat-sifat kimia dari senyawa fenol adalah sama. Senyawa fenol yang berasal dari jalur asetat-malonat. Flavonoid berupa senyawa fenol. 1987 : 70). Karena mempunyai sejumlah gugus hidroksil yang tak tersulih. danflavon serta flavonol yang termetoksilasi cenderung lebih mudah larut dalam pelarut . jadi mereka mudah dideteksipada kromatogram atau dalam larutan (Harborne. flavonoid merupakan senyawa polar. 1988 : 15). Sifat Kelarutan Flavonoid Aglikon flavonoid adalah polifenol dan karena itu mempunyai sifat kimia senyawa fenol. maka umumnya flavonoidcukup larut dalam pelarut polar seperti etanol. antodianin memberikan warna merah. flavanon. Flavin memberikan warna kuning atau jingga. Secara biologis flavonoida memainkan peranan penting dalam kaitan penyerbukan tanaman oleh serangga. tetapi bila dibiarkan dalam larutan basa dan di samping itu terdapat oksigen. metanol. air. Sebaliknya. karena ituwarnanya berubah bila ditambah basa atau amonia. aglikon yang kurang polar seperti isoflavon.setelah ekstrak inidikocok dengan eter minyak bumi.atau suatu gula.Adanya gula yang terikat pada flavonoid (bentuk umum yang ditemukan) cenderung menyebabkan flavonoid lebih mudah larut dalam air dan dengan demikian campuran pelarut di atas dengan air merupakan pelarut yang baik untuk glikosida. butanol. Ada juga senyawa-senyawa fenol yang berasal dari kombinasi antara kedua jalur biosintesa ini yaitu senyawa-senyawa flanonoida. akan tetapi dari segi biogenetic senyawa senyawa ini dapat dibedakan atas dua jenis utama. Tidak ada benda yang begitu menyolok seperti flavonoida yang memberikan kontribusi keindahan dan kesemarakan pada bunga dan buah-buahan di alam. dimetilformamida. 2. aseton. dan lain-lain (Markham. dimetil-sulfoksida. banyak yang akan terurai. yaitu: 1. ungu atau biru. yaitu bersifat agak asam sehingga dapat larut dalam basa. Senyawa fenol yang berasal dari asam shikimat atau jalur shikimat. yaitu semua warna yang terdapat pada pelangi kecuali warna hijau.

etil asetat. dan merupakan pigmen yang diproduksi oleh sejumlah tanaman sebagai warna pada bunga yang dihasilkan. larut dalam eter. Pada tumbuhan tinggi.seperti eter dan kloroform (Markham. antodianin memberikan warna merah.Beberapa kemungkinan fungsi flavonoid untuk tumbuhan yang mengandungnya adalah pengaturan tumbuh. kloroform. serta sangat larut dalam air. ungu atau biru. Tidak ada benda yang begitu menyolok seperti flavonoida yang memberikan kontribusi keindahan dan kesemarakan pada bunga dan buahbuahan di alam. Glikosida flavonoid tidak larut dalam heksan. PE.dan kerja terhadap serangga (Robinson. senyawa ini terdiri dari lebih dari 15 atom karbon yang sebagian besar bisa ditemukan dalam kandungan tumbuhan. flavonoid terdapat baik dalam bagian vegetatif maupun dalam bunga. pengaturan fotosintesis. tetapi flavonoid yang menyerap sinar UV barangkali penting juga dalam mengarahkan serangga. dan etanol. Contoh: rutin. dan sedikit larut dalam air. etil asetat dan etanol. Contoh: kuersetin (semipolar).Bagian tanaman yang bertugas untuk memproduksi flavonoid adalah bagian akar yang dibantu oleh rhizobia. PE dan kloroform. Aglikon flavonoid polihidroksi tidak larut dalam heksan. Flavonoid polimetil atau polimetoksi larut dalam heksan. Flavin memberikan warna kuning atau jingga. Sebagai pigmen bunga flavonoid berperan jelas dalam menarik burung dan serangga penyerbuk bunga. 1995). Contoh: sinersetin (nonpolar).Flavonoid juga dikenal sebagai vitamin P dan citrin. yaitu semua warna yang terdapat pada pelangi kecuali warna hijau. Beberapa flavonoid tak berwarna. eter. kerja antimikroba dan antivirus. Kelarutan flavonoid antara lain : 1. bakteri tanah yang bertugas untuk menjaga dan memperbaiki kandungan nitrogen dalam tanah. 1988 : 15). Manfaat dan Kegunaan Flavonoid Flavonoid merupakan sejenis senyawa fenol terbesar yang ada. eter. Secara biologis flavonoida . sedikit larut dalam etil asetat dan etanol. 2. petroleum eter (PE). 3. kloroform.

Senyawa ini berperan penting dalam menentukan warna. Senyawa flavonoid untuk obat mula-mula diperkenalkan oleh seorang Amerika bernama Gyorgy (1936).Clure (1986) menemukan pula oleh bahwa senyawa flavonoid yang diekstrak dari Capsicum anunuum serta Citrus limon juga dapat menyembuhkan pendarahan kapiler subkutan. Mekanisme aktivitas senyawa tersebut dapat dipandang sebagai fungsi „alat komunikasi‟ (molecular messenger} dalam proses interaksi antar sel. Keberadaan flavonoid pada tingkat spesies. bau. kacang. Secara tidak sengaja Gyorgy memberikan ekstrak vitamin C (asam askorbat) kepada seorang dokter untuk mengobati penderita pendarahan kapiler subkutaneus dan ternyata dapat disembuhkan. baik bersifat negatif (menghambat) maupun bersifat positif (menstimulasi). serta kualitas nutrisi makanan. Senyawa flavonoid adalah suatu kelompok fenol yang terbesar yang ditemukan di alam. rempah-rempah. biji. serta molekul sinyal pada polinasi dan fertilitas jantan. kompetisi. dan obat herbal. sayuran. dormansi biji. rasa. herba. herbivori. serta produk pangan dan obat dari tumbuhan seperti minyak zaitun. Mc. penyakit. cokelat. batang. molekul sinyal pada berbagai jalur transduksi. kuning jeruk. Flavonoid merupakan pigmen tumbuhan dengan warna kuning. yang selanjutnya dapat berpengaruh terhadap proses metabolisme sel atau mahluk hidup yang bersangkutan.memainkan peranan penting dalam kaitan penyerbukan tanaman oleh serangga. senyawa flavonoid berperan dalam pertahanan diri terhadap hama. Tumbuhan umumnya hanya menghasilkan senyawa flavonoid tertentu. dan merah dapat ditemukan pada buah. pelindung terhadap radiasi sinar UV. Sejumlah flavonoida mempunyai rasa pahit sehingga dapat bersifat menolak sejenis ulat tertentu. bunga. . genus atau familia menunjukkan proses evolusi yang terjadi sepanjang sejarah hidupnya. Bagi tumbuhan. teh. interaksi dengan mikrobia. ungu dan biru dan sebagai zat warna kuning yang ditemukan dalam tumbuh-tumbuhan. Senyawa-senyawa ini merupakan zat warna merah. anggur merah.

ikatan glikosida terbentuk apabila gugus hidroksil dari alkohol beradisi kepada gugus karbonil dari gula sama seperti adisi alkohol kepada aldehida yang dikatalisa oleh asam menghasilkan suatu asetal. Pada hidrolisa oleh asam. yaitu : pada tahap tahap pertama biosintesa flavonoida suatu unit C 6-C3 berkombinasi dengan tiga unit C2 menghasilkan unit C6-C3-(C2+C2+C2). ramnosa. gugus karbonil. Identifikasi Flavonoida Sebagai besar senyawa flavonoida alam ditemukan dalam bentuk glikosida. ramnosida. di. dua atau tiga gugus hidroksil dalam molekul flavonoid terikat .Biosintesa Flavonoida Pola biosintesis pertama kali disarankan oleh Birch. Glikosida adalah kombinasi antara suatu gula dan suatu alkohol yang saling berikatanmelalui ikatan glikosida. Cincin A dari struktur flavonoida berasal dari jalur poliketida. yaitu kondensasidari tiga unit asetat atau malonat. Pada prinsipnya. Sebagai akibat dari berbagai perubahan yang disebabkan oleh enzim. dan sebagainya. suatu glikosida terurai kembali atas komponen-komponennya menghasilkan gula dan alkohol yang sebanding dan alkohol yang dihasilkan ini disebut aglokin. Sehingga kerangka dasar karbon dari flavonoida dihasilkan dari kombinasi antara dua jenis biosintes utamadari cincin aromatik yaitu jalur shikimat dan jalur asetat-malonat.atau triglikosida dimana satu. Flavonoida dapat ditemukan sebagai mono-. sedangkan cincin B dan tiga atom karbon dari rantai propana berasal dari jalur fenilpropanoida (jalur shikimat). galaktosida dan gentiobiosida. galaktosa dan gentiobiosa sehingga glikosida tersebut masing-masing disebut glukosida. ketiga atom karbon dari rantai propana dapat menghasilkan berbagai gugus fungsi seperti pada ikatan rangkap. gugus hidroksi. dimana unit flavonoid terikat pada sutatu gula. Residu gula dari glikosida flavonoida alam adalah glukosa.kerangka C15 yang dihasilkan dari kombinasi ini telah mengandung gugus-gugus fungsi oksigen pada posisi-posisi yang diperlukan.

Secara umum sintesis flavonoid terdiri dari dua jalur yaitu jalur poliketida. Jenis flavonoid yang terbentuk dipengaruhi dari bahan fenilpropanoid 2. Setelah itu malonatCoA akanbereaksi dengan asetilCoA menjadi asetoasetilCoA. dan jalur fenil propanoid. Jalur poliketida Reaksi yang terjadi pada jalur ini diawali dengan adanya reaksi antara asetilCoA dengan CO yang akan menghasilan malonatCoA. benzen. Fenilalanin akan melepas NH3 d an membentuk asam sinamat sedangkan tirosin akan membentuk senyawa turunan asam sinamat karena adanya subtitusi pada gugus benzennya . AsetoaseilCoA yang terbentuk akan bereaksi dengan malonatCoA dan reaksi ini akan berlanjut sehingga membentuk poliasetil. Pada awalnya para peniliti mengkaitkan C6-C3-C6 dari flavonoid merupakan hasil dari fenil propanoid. Tetapi selama bertahun-tahun diperoleh teori sintesis flavonoid dan telah dibuktikan di laboratorim. 1. Sedangkan jalur fenilpropanoid atau biasa disebut jalur shikimat.oleh gula. Poliasetil yang terbentuk akan berkondensasi dan berekasi dengan hasil dari jalur fenilpropanoid akan membentuk suatu flavonoid. Jalur Fenilpropanoid. kloroform dan aseton. Jalur poliketida ini merupakan serangkaian reaksi kondensasi dari tiga unit asetat atau malonat. Reaksi ini melibatkan eritrosa dan fosfo enol piruvat. Biosintesis Flavonoid Biosintesis flavonoid sudah mulai diteliti sejak tahun 1936. Jalur ini merupakan bagian dari glikolisis tetapi tidak memperoleh suatu asam piruvat melainkan memperoleh asam shikimat.Poliglikosida larut dalam air dan sedikit larut dalam pelarut organik seperti eter. Asam shikimat yang terbentuk akan ditransformasikan menjadi suatu asam amino yaitu fenilalanin dan tirosin.

Sokletasi adalah suatu metode / proses pemisahan suatu komponen yang terdapat dalam zat padat dengan cara penyaringan berulang ulang dengan menggunakan pelarut tertentu. tapi tidak melarutkan zat padat yang tidak diinginkan . Bila penyaringan ini telah selesai. sehingga semua komponen yang diinginkan akan terisolasi. Adapun prinsip sokletasi ini yaitu : Penyaringan yang berulang ulang sehingga hasil yang didapat sempurna dan pelarut yang digunakan relatif sedikit. maka teknik isolasi yang digunakan tidak dapat secara maserasi. melainkan dengan teknik lain dimana pelarut yang digunakan harus selalu dalam keadaan panas sehingga diharapkan dapat mengisolasi senyawa organik itu lebih efesien. Metode sokletasi menggunakan suatu pelarut yang mudah menguap dan dapat melarutkan senyawa organik yang terdapat pada bahan tersebut. Pengambilan suatu senyawa organik dari suatu bahan alam padat disebut ekstraksi. Isolasi semacam itu disebut sokletasi. maka pelarutnya diuapkan kembali dan sisanya adalah zat yang tersari. Jika senyawa organik yang terdapat dalam bahan padat tersebut dalam jumlah kecil.

Syarat syarat pelarut yang digunakan dalam proses sokletasi : 1. menghasilkan pemisahan yang sempurna dari senyawa – senyawa yang diekstraksi. Pelarut terbaik untuk bahan yang akan diekstraksi. Pelarut tersebut akan terpisah dengan cepat setelah pengocokan. tidak dapat digunakan dengan baik karena persentase senyawa yang akan digunakan atau yang akan diisolasi cukup kecil atau tidak didapatkan pelarut yang diinginkan untuk maserasi ataupun perkolasi ini. Pelarut yang telah membawa senyawa kimia pada labu distilasi yang diuapkan dengan rotary evaporator sehingga pelarut tersebut dapat diangkat lagi bila suatu campuran organik berbentuk cair atau padat ditemui pada suatu zat padat. Ekstraksi dilakukan dengan menggunakan secara berurutan pelarut – pelarut organik dengan kepolaran yang semakin menigkat. Sifat sesuai dengan senyawa yang akan diisolasi. Dengan cara pemanasan. petroleum eter. eter.Metoda sokletasi seakan merupakan penggabungan antara metoda maserasi dan perkolasi. polar atau nonpolar. petroleum eter. klorida dan alkohoL Titik didih pelarut rendah. Walaupun demikian. eter. Dimulai dengan pelarut heksana. 6. Pelarut yang mudah menguap Ex : heksan. 5. maka dapat diekstrak dengan menggunakan pelarut yang diinginkan. cara ini seringkali tidak. sehingga uap yang timbul setelah dingin secara kontunyu akan membasahi sampel. maka cara yang terbaik yang didapatkan untuk pemisahan ini adalah sokletasi Sokletasi digunakan pada pelarut organik tertentu. 3. Jika pada metoda pemisahan minyak astiri ( distilasi uap ). . 4. secara teratur pelarut tersebut dimasukkan kembali kedalam labu dengan membawa senyawa kimia yang akan diisolasi tersebut. Pelarut tidak melarutkan senyawa yang diinginkan. metil 2. kemudian dilanjutkan dengan alkohol dan etil asetat untuk memisahkan senyawa – senyawa yang lebih polar. atau kloroform untuk memisahkan senyawa – senyawa trepenoid dan lipid – lipid.

Sokletasi dihentikan apabila : 1. hingga dikatakan sampel tidak alami lagi. Jumlah pelarut yang digunakan sedikit. Hal ini akan menimbulkan senyawa baru yang disebut senyawa artefak. Kelemahan sokletasi : 1. maka metoda sokletasi ini lebih efisien. sehingga mudah menguap. Tidak baik dipakai untuk mengekstraksi bahan bahan tumbuhan yang 1.Cara menghentikan sokletasi adalah dengan menghentikan pemanasan yang sedang berlangsung. 5. Keunggulan sokletasi : Sampel diekstraksi dengan sempurna karena dilakukan berulang ulang. Pelarut organik dapat menarik senyawa organik dalam bahan alam secara berulang kali. Pelarut organik dapat mengambil senyawa organik berulang kali. Dibanding dengan cara terdahulu ( destilasi ). senyawa dalam sampel akan berfotosintesis hingga terjadi penguraian atau dekomposisi. Pelarut yang digunakan tidak berwarna lagi. 2. 3. 3. wagner. Na. 3. Juga tidak boleh terlalu tinggi dari pipa kapiler karena sampel tidak terendam seluruhnya. Proses sokletasi berlangsung cepat. Pelarut lebih sedikit dibandingkan dengan metoda maserasi atau perkolasi. 2. Jika sampai terkena sinar matahari. Alat sokletasi tidak boleh lebih rendah dari pipa kapiler. dan reagen reagen lainnya. 3. 2. 2. Waktu yang digunakan lebih efisien. Hasil sokletasi di uji dengan pelarut tidak mengalami perubahan yang spesifik. sampel yang digunakan dalam sokletasi harus dihindarkan dari sinar matahari langsung. . mudah rusak atau senyawa senyawa yang tidak tahan panas karena akan terjadi penguraian. Sebagai catatan. karena ada kemungkinan saluran pipa dasar akan tersumbat. Pelarut yang digunakan mempunyai titik didih rendah. Sampel yang diletakkan diatas kaca arloji tidak menimbulkan bercak lagi. 4. Harus dilakukan identifikasi setelah penyarian. karena: 1. Jumlah sampel yang diperlukan sedikit. dengan menggunakan pereaksi meyer.

1.1 Alat  Satu set alat sokletasi  Kertas saring  Corong  Standart  Clamp penjepit  Botol vial  Lampu bunsen/Penangas .BAB III 3.1 Alat dan Bahan 3.

1. masukan cawan krus tersebut kedalam tanur hingga terbentuk abu. lalu diamkan selama 18jam.2. Setelah itu haluskan simplisia daun sirih.2 yang terbentuk. Kemudian.2  Selang air  Benang dan kapas  Spektrofotometri uv-vis  Corong pisah  Rotary evaporator Bahan  Daun teh  Air/aqua dest  Pelarut (Metanol)  Batu didih  Katekin Standar  Silica gel  FeCl3  Aseton  Kloroform  Etil asetat  Etanol  Asam asetat glasial 3. Timbang simplisia yang telah dihaluskan tersebut sebanyak 5gram. kemudian masukan kedalam botol dan tambahkan 100ml etanol. lalu masukan kedalam cawan krus dan panaskan diatas api langsung dalam keadaan terbuka hingga tidak menghasilkan asap lagi.2 Prosedur 3. Timbang simplisia yang telah dihaluskan sebanyak 2gram. Kadar Sari Larut Etanol Pertama-tama haluskan simplisia. lalu diayak hingga diperoleh derajat kehalusan 6/8 dari simplisisa tersebut. lalu diayak hingga diperoleh derajat kehalusan 6/8 dari simplisisa tersebut.2.1 Kadar Abu Pertama-tama timbang cawan krus yang akan digunakan.3. saring . lalu oven selama 15 menit dan dinginkan dalam desikator. Lakukan pengocokan pada botol tersebut selama 6jam. Setelah itu. lalu dinginkan dalam desikator dan timbang bobot abu 3. kemudian timbang kembali cawan krus tersebut dan lakukan hal tersebut hingga diperoleh bobot konstan dari cawan krus tersebut.

filtrate ditempatkan dalam tabung reaksi kemudian ditambahkan HCL 2N. Setelah itu haluskan simplisia daun sirih. lalu dibiarkan hingga terjadi pemisahan. adanya alkaloid ditunjukan dengan terbentuknya endapan atau kekeruhan berwarna hingga coklat.larutan sari tersebut dan ambil sebanyak 20ml lalu masukan kedalam cawan porselen. lalu dinginkan dalam desikator dan timbang bobot sarinya (hal tersebut dilakukan 3. saring larutan sari tersebut dan ambil sebanyak 20ml lalu masukan kedalam cawan porselen. lalu diayak hingga diperoleh derajat kehalusan 6/8 dari simplisisa tersebut. kemudian masukan kedalam botol dan tambahkan 100ml aquadest yang telah dijenuhkan dengan kloroform.2. adanya alkaloid ditunjukan terbentuknya endapan atau kekeruhan berwarna putih. Setelah itu. lalu diamkan selama 18jam.3 dilakukan hingga diperoleh bobot yang konstan). uapkan larutan sari tersebut diatas penangas air hingga kering. Oven sari yang telah dikeringkan tadi pada suhu 105˚C. lalu dinginkan dalam desikator dan timbang bobot sarinya (hal tersebut 3. Kemudian cairan kloroform disaring. Timbang simplisia yang telah dihaluskan itu sebanyak 5gram. kemudian campuran dikocok. kemudian ditambahkan kloroform dan digerus kuat.4 hingga diperoleh bobot yang konstan).2. Fenolat dengan . Lakukan pengocokan pada botol tersebut selama 6jam. uapkan larutan sari tersebut diatas penangas air hingga kering. dalam tabung reaksi terpisah :  Filtrat 1 : sebanyak 1 tetes larutan pereaksi dragendroff diteteskan kedalam filtrate. Oven sari yang telah dikeringkan tadi pada suhu 105˚C. Skrining Alkaloid Masukan serbuk simplisia dalam mortar kemudian dibasakan dengan ammonia sebanyak 1 ml . Kadar sari larut air Pertama-tama jenuhkan 120ml aquadest dengan 5ml kloroform.  Filtrat 2 : sebanyak 1 tetes larutan pereaksi mayer diteteskan kedalam filtrate.

dididihkan selama 5 menit kemudian disaring dengan kapas. pindahkan dalam tabung reaksi. kepada filtrate ditambahkan amil alcohol. Terbentuknya warna – warni menunjukan adanya senyawa monoterpen dan sesquiterpen. Saponin Serbuk simplisia ditambahkan dengan air. Pada filtrate ditambahkan larutan KOH 1 N. pada residu ditetesi pereaksi liberman – buchard. kemudian fase eter diuapkan dalam cawan penguap hingga kering. tambahkan sedikit logam magnesium dan 5 tetes HCL 2N. Steroid dan Triterpenoid Serbuk simplisia digerus dengan eter. Kuinon Serbuk simplisia ditambahkan dengan air.Sebanyak 1 gram serbuk simplisia ditambahkan 100 ml air panas. setelah disaring panas –panas filtrate dibiarkan dingin. reaks postif ditandai dengan terbentuknya warna merah pada lapisan amil alkohol. filtrate sebanyak 5 ml dimasukan kedalam tabung reaksi. seluruh campuran dipanaskan selama 5 – 10 menit. dididihkan selama 5 menit kemudian dikocok. Tannin Sejumlah kecil serbuk simplisia dalam tabung reaksi dipanaskan diatas tangas air. pada residu ditetesi pereaksi larutan vanillin sulfat. terjadinya warna kuning menunjukan bahwa dalam bahan uji mengandung senyawa golongan kuinon. kemudian fase eter diuapkan dalam cawan penguap hingga kering. kemudian didihakan selama 5 menit kemudian disaring. Terbentuknya busa yang konsisten selama 5 – 10 . Terbentuknya warna ungu menunjukan kandungan triterpenoid sedangkan bila terbentuk warna hijau biru menunjukan adanya steroid. timbul warna hijau biru kehitaman. Flavonoid Sejumlah serbuk simplisia digerus dalam mortir dengan sedikit air. ditambahkan pereaksi besi (III) klorida. Pada filtrate ditambahkan gelatin 1% akan timbul endapan puth bila ada tannin. kemudian disaring. lalu dikocok kuat – kuat. Monoterpen dan Sesquiterpen Serbuk simplisia digerus dengan eter.

ikat dengan benang. Keluarkan sampel. Kemudian siapkan chamber untuk dijenuhkan. panaskan untuk memisahkan pelarut dari senyawa hasil ekstraksi.2. ditotolkan ekstrak yang telah diencerkan pada plat KLT.6 didapatkannya adalah 18. Ambil sampel sebanyak 350 g. Cara Kerja Diencerkan ekstrak dengan etanol (jangan terlalu encer ataupun terlalu kental) kemudian ambil pipet kapiler. Fraksinasi Ekstrak kental yang didapat difraksinasi dengan metode ekstraksi caircair. Soklet Pasang alat soklet. Pada proses ekstraksi cair-cair digunakan air dan kloroform 1:1. untuk melihat chamber telah jenuh dengan melihat pada kertas saring yang dimasukkan kedalam chamber.8 amati pada sinar UV 245 nm dan 365 nm.2. Bungkus sampel dengan kertas saring ( selongsong ). diperoleh fraksi air dan fraksi kloroform.5 x volume ekstraktor soklet. Setelah jenuh masukkan plat KLT yang telah ditotolkan ekstrak ke dalam chamber. Lalu 3. sekitar 0. masukkan ke dalam alat soklet. Analisis senyawa Analisis kualitatif dilakukan dengan metode kromatografi lapis tipis (KLT) menggunakan fase diam silika gel GF254 dan fase gerak etanol : . fraksi etilasetat yang diperoleh 3. biarkan kering. KLT Cara Penyiapan Kromatografi Lapis Tipis Tandai pelat menggunakan pensil dan penggaris untuk posisi tempat sampel ditotolkan. diambil pelat biarkan kering.2.5 cm dari bagian bawah dan dari bagian atas pelat.menit + 3. biarkan sampei jenuh bila sudah mendekati batas atas garis.7 dipekatkan dengan menggunakan rotary evaporator.25%.5 1 cm. Haluskan dan keringkan sampel. Fraksi air dipekatkan dengan rotary evaporator. hal tersebut menunjukan bahwa dalam bahan uji mengandung saponin. Lakukan sokletasi sampai pelarut tidak berwarna. Fraksi air yang telah diuapkan difraksinasi kembali menggunakan pelarut etilasetat. Jenuhkan chamber dengan menggunakan eluen CH2Cl2 : MeOH dengan perbandingan 97:3.875 gr dan rendemen yang 3.2. Setelah ekstraksi selesai didapatkan bobot akhir 63. Masukkan pelarut sebanyak 1.

Hasil KLT diperiksa dibawah sinar UV 254 nm dan 366 nm serta menggunakan penampak bercak FeCl3. sehingga diperoleh titik-titik yang membentuk garis lurus dengan masingmasinng titik berada pada rentang absorbansi 0. Konsentrasi tiap sampel yang diukur dapat diketahui dengan memasukkan nilai absorbansi pada persamaan garis yang diperoleh dari kurva baku. Spektrum senyawa flavonoid . Dari titik-titik tersebut diperoleh suatu persamaan garis.aquadest : etilasetat (2:1:1% v/v). Diawali dengan pembuatan kurva baku. Analisis kuantitatif dilakukan dengan menggunakan spektrofotmeter UV. Absorbansi sampel diukur dengan terlebih dahulu sampel diencerkan menggunakan pelarut metanol pro analisis dan diperoleh absorbansi sampel yang beada pada rentang kurva baku yang telah dibuat. Analisis kualitatif dilakukan menggunakan spektrofotometer UV/Vis dengan membandingkan hasil pengukuran λmax yang diperoleh dari standar katekin.8. sesuai dengan hukum Lambert-Beer.2-0. Kurva baku dibuat menggunakan katekin standar dengan dilakukanya serangkaian pengenceran menggunakan pelarut metanol pro analisis.