Anda di halaman 1dari 11

KEBISINGAN TERHADAP KELUHAN KESEHATAN PEKERJA

BENGKEL PIPA DAN LISTRIK KAPAL PT IKI
KOTA MAKASSAR
Noise on Health Complaints Workers in Pipe and Electrical Ship
Workshop PT IKI Makassar
Mahdin, M. Furqaan Naiem, A. Wahyuni
Departemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja FKM Universitas Hasanuddin
(mahdin23@ymail.com,mfurqaan@yahoo.com.au,andiwahyuni105@yahoo.co.id,
085246222131)
ABSTRAK
Kebisingan merupakan salah satu faktor bahaya fisik yang bersumber dari peralatan produksi
atau peralatan kerja yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan. Kebisingan berdampak pada
gangguan fisiologis, gangguan psikologis, gangguan komunikasi dan gangguan pendengaran.
Kebisingan berpengaruh terhadap kinerja pekerja dan dapat menurunkan produktifitas perusahaan.
Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan keluhan kesehatan
seperti umur, masa kerja, lama kerja, intensitas kebisingan dan pemakaian Alat Pelindung Diri (APD).
Jenis penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan cross sectional study. Populasi
adalah seluruh pekerja bengkel pipa dan listrik kapal. Sampel sebanyak 36 orang diperoleh dengan
metode exhaustive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada korelasi yang signifikan antara
masa kerja (p=0,010 dan r=0,426) dan intensitas kebisingan (p=0,000 dan r=0,682) dengan keluhan
kesehatan. Sedangkan umur (p=0,234) tidak ada korelasi dengan keluhan kesehatan. Lama kerja dan
pemakaian APD tidak dapat dianalisis karena data bersifat homogen. Kesimpulan dari penelitian
bahwa ada korelasi yang signifikan antara masa kerja dan intensitas kebisingan dengan keluhan
kesehatan pekerja di bengkel pipa dan bengkel listrik kapal PT. Industri Kapal Indonesia Kota
Makassar tahun 2014.
Kata Kunci : Kebisingan, keluhan kesehatan, bengkel
ABSTRACT
Noise is one of the physical dangers that come from production equipment or work equipment
which can cause health problems. Noise impact on physiological disorders, psychological disorders,
communication disorders and hearing loss. Noise effect on worker performance and can reduce the
productivity of the company. Research purpose to identify factors associated with health complaints
such as age, working period, length of work, intensity of the noise and the use of Personal Protective
Equipment (PPE). This study is an observational analytic cross-sectional study. The population is all
workers in pipe and electrical ship workshop. A sample of 36 people obtained by exhaustive sampling
method. The results showed that there was a significant correlation between working period (p =
0.010 and r = 0.426) and intensity noise (p = 0.000 and r = 0.682) with health complaints. While age
(p = 0.234) there is no correlation with health complaints. Length of work and use of PPE can not be
analyzed because the data is homogeneous. The conclusion that there is a significant correlation
between working period and intensity of noise with health complaints workers in pipe and electrical
ship workshop PT. Industri Kapal Indonesia city of Makassar in 2014.
Keywords : Noiese, health complaints, workshop

1

gangguan komunikasi. dan gangguan pendengaran. efek pada pekerjaan dan reaksi masyarakat. tetapi prevalensi 4.2 Kebisingan merupakan salah satu faktor bahaya fisik yang sering dijumpai di tempat kerja. Myanmar sebesar 8. Hasil penelitian Feidihal mengenai tingkat kebisingan dan pengaruhnya terhadap mahasiswa di bengkel Teknik Mesin Politeknik Negeri Padang. sehingga dapat menimbulkan masalah sosial di tengah masyarakat. fisik. sedangkan tiga negara lainnya yakni Sri Lanka sebesar 8. Sementara itu organisasi kesehatan dunia memperkirakan pada tahun 2000 terdapat 250 juta penduduk dunia menderita gangguan pendengaran dan 75 juta-140 juta diantaranya terdapat di Asia Tenggara. Dengan demikian gangguan non auditory mempunyai hubungan yang signifikan 2 .3 Faktor kimia.6% tergolong cukup tinggi. maka ancaman terjadinya risiko gangguan akibat kebisingan akan semakin bertambah.8%.1 Kebisingan merupakan suara yang tidak diinginkan. ditemukan bahwa mahasiswa merasakan keluhan kesehatan berupa gangguan fisiologis. biologi. kemudian terdapat juga hubungan yang signifikan antara gangguan emosi dan gangguan fisiologis. Diperkirakan sebanyak 20 juta orang Amerika terpapar bising lebih dari 85 dB sehingga lebih berisiko terkena penyakit akibat kerja seperti gangguan pada pendengaran. gangguan psikologis. Akan tetapi di sisi lainnya memiliki kemungkinan untuk meningkatkan resiko keselamatan dan kesehatan pekerja yang timbul akibat hubungan kerja. fisiologi dan mental psikologi di tempat kerja dapat mempengaruhi kesehatan tenaga kerja. Meskipun prevalensi ketulian di Indonesia bukan yang tertinggi.6 Hasil peneitian yang dilakukan oleh Afrianto menyatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara gangguan komunikasi dengan intensitas kebisingan.5 Intensitas kebisingan memiliki hubungan dengan keluhan kesehatan.PENDAHULUAN Lingkungan kerja yang tidak memenuhi syarat misalnya bising yang melebihi ambang batas merupakan salah satu faktor yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan.4% dan India sebesar 6.6%.3%. Kebisingan selain dapat menimbulkan ketulian sementara dan ketulian permanen juga akan berdampak negatif lain seperti gangguan komunikasi. Menurut World Health Organization (WHO) hampir 14% total tenaga kerja dari negaranegara industri terpapar bising melebihi 90 dB di tempat kerjanya. Kebisingan merupakan salah satu jenis faktor fisik.4 Data survei Multi Center Study di Asia Tenggara. Indonesia termasuk empat negara dengan prevalensi ketulian yang cukup tinggi yaitu 4. Penggunaan peralatan yang modern di satu sisi akan memberi kemudahan terhadap proses produksi dan produktivitas pekerja. Seiring dengan proses industrialisasi yang disertai dengan kemajuan tekonologi dan pertumbuhan ekonomi yang setiap tahun berkembang.

sedangkan yang berada di bengkel pipa sebanyak 15 responden (41. terdapat 25 responden (69.7%) (Tabel 1). Penyajian data dalam bentuk tabel dan disertai narasi. 3 . sehingga informasi yang diperoleh mengenai hal tersebut masih kurang. Nilai ambang batas yang telah ditetapkan oleh pemerintah untuk area kerja (industri) adalah sebesar 85 dBA. responden terbanyak berada di bengkel listrik kapal sebanyak 21 responden (58. Penelitian ini dilaksanakan di PT.8%). Analisis data yang dilkukan adalah analisis univariat dan bivariat dengan uji Rank Spearman. Industri Kapal Indonesia kota Makassar pada bulan Desember 2014.3%).4%) yang bekerja dengan intensitas kebisingan > 85 dB.9%) yang termasuk responden berumur tua (≥ 35 tahun). terdapat 33 responden (91.599 dBA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 36 responden terdapat 32 responden (88. Jumlah sampel sebanyak 36 orang yang diperoleh dengan menggunkan metode exhaustive sampling. BAHAN DAN METODE Jenis penelitian yang digunakan adalah observasional analitik dengan pendekatan cross sectional study. Distribusi responden menurut jenis kelamin memperlihatkan bahwa keseluruhan responden berjenis kelamin laki-laki.dengan intensitas kebisingan. Industri Kapal Indonesia kota Makassar. Distribusi responden menurut umur responden jumlah terbanyak berada pada kelompok umur 40-44 tahun yaitu sebanyak 19 responden (52. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara menggunakan kuesioner dan pengukuran intensitas kebisingan dengan alat Sound Level Meter (SLM). Kebisingan yang berasal dari peralatan produksi atau peralatan kerja dapat berakibat serius terhadap kesehatan pekerja dan hal ini tidak menutup kemungkinan terjadi pada pekerja di industri galangan kapal. jenis kelamin dan unit kerja. HASIL Karakteristik responden yaitu umur. yaitu sebesar 98. 8 Penelitian tentang keluhan kesehatan akibat paparan bising belum banyak dilakukan di industri galangan kapal khususnya di bengkel pipa dan bengkel listrik kapal. Distribusi responden menurut unit kerja. Populasi penelitian ini adalah seluruh pekerja di bengkel pipa dan bengkel listrik kapal. terdapat 36 responden (100%) dengan lama kerja ≤ 8 jam/hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kebisingan dengan keluhan kesehatan pekerja di bengkel pipa dan bengkel listrik kapal PT.7%) dengan masa kerja lama (≥ 5 tahun).7 Penelitian lain yang dilakukan oleh Kholik dan Krishna menemukan bahwa tingkat kebisingan peralatan produksi yang ada di area kerja Power Plant II menunjukan bahwa ada perbedaan yang signifikan dengan NAB yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

9 Hasil penelitian lainya juga menunjukkan hasil yang sama.000 dan r=682). ada responden yang bekerja tidak dari usia muda. Hasil uji statistik dengan menggunakan uji korelasi spearman menunjukkan bahwa keluhan kesehatan memiliki korelasi yang signifikan dengan masa kerja (p=0. Pekerja yang telah memasuki usia tua dapat dengan mudah mengalami kelelahan kerja dan merasakan keluhan kesehatan. masih ada beberapa yang menimbulkan trauma akustik. PEMBAHASAN Umur mempengaruhi penuaan sel-sel di dalam tubuh. Tidak ada korelasi antara umur (p=0. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Sriwahyudi pada pekerja instalasi laundry rumah sakit yang menyatakan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara umur dengan keluhan kesehatan non pendengaran. Proses kerja yang ada di bengkel dilakukan pekerja sesuai dengan kemampuan dan keahlian masing-masing tanpa ada penyesuaian dengan umur pekerja. Hasil ini menunjukkan bahwa terjadinya keluhan kesehatan baik non pendengaran maupun pendengaran pada pekerja bukan disebabkan oleh umur. penelitian oleh Aprilia yang dilakukan pada 4 .010 dan r=0. Sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin bertambah umur pekerja maka potensi yang akan dia terima terhadap bahaya maupun risiko dari paparan kebisingan akan semakin besar. Disamping faktor-faktor tersebut. lama paparan bising dan tidak mematuhi aturan mengenai pemakaian APD pada saat bekerja. Tetapi pada dasarnya dipengaruhi oleh tingkat kebisingan yang ada di lingkungan kerja. Hasil uji statistik diperoleh tidak ada korelasi antara umur dengan keluhan kesehatan pekerja di bengkel pipa dan bengkel listrik kapal. karena data bersifat homogen sehingga tidak dapat dilakukan uji statistik.125) dengan keluhan kesehatan (Tabel 3). Ada responden yang berumur tua yang masa kerjanya baru dan ada juga responden yang berumur muda dengan masa kerja lama. Orang yang berumur lebih dari 40 tahun akan lebih mudah tuli akibat bising.3 Proses kerja yang ada di bengkel pipa dan bengkel listrik kapal yaitu diantaranya proses pengelasan.terdapat 36 responden (100%) tidak memakai Alat Pelindung Diri (APD) dan terdapat 24 responden (66.7%) mengalami keluhan kesehatan (Tabel 2). penggerindaan dan pembersihan karat dari pipa dengan menggunakan palu-palu keseluruhannya membutuhkan energi yang cukup. Variabel lama kerja dan pemakain APD tidak dapat dianalisis bivariat. semakin menua umur seseorang maka penuaan yang terjadi pada sel-sel tubuh juga semakin besar. Hal ini karena umur setiap responden mulai bekerja tidaklah sama.426) dan intensitas kebisingan (p=0.

12 Masa kerja seseorang menentukan efisiensi dan produktivitasnya dan dapat menghindarkan dari kelelahan dan kebosanan. Makassar Fajar Grafika yaitu tidak ada hubungan antara umur dengan gangguan pendengaran. Namun. Hal tersebut bergantung pada lamanya pajanan pada tiap tahapan tugas per hari kerja dan umur pada masing-masinga aktifitas kerja. Gangguan pada umumnya terjadi setelah pajanan lebih dari 5 tahun. Dari keseluruhan keluhan yang dirasakan tenaga kerja dengan masa kerja kurang dari 1 tahun paling banyak mengalami keluhan. semakin lama durasi pekerja terpapar oleh bising maka semakin besar kemungkingnan pekerja mengalami gangguan kesehatan.pekerja bagian percetakan PT. Karena masa kerja berkaitan dengan durasi terhadap paparan bising di tempat kerja. Semen Bosowa Maros memperlihatkan hasil bahwa tidak ada responden yang mengalami gangguan pendengaran dengan masa kerja kurang dari 5 tahun dan 20 responden mengalami gangguan pendengaran dengan masa kerja diatas 5 tahun. perlu diperhatikan bahwa umur merupakan faktor yang tidak dapat dikendalikan karena umur seseorang akan terus bertambah. semakin tinggi masa kerja maka tenaga kerja lebih berisiko mengalami penurunan ambang dengar atau gangguan pendengaran. Penelitian ini memperjelas bahwa antara masa kerja dan gangguan pendengaran menunjukkan adanya hubungan antara keduanya. Penyakit akibat kerja dipengaruhi oleh masa kerja.3 Pekerja yang sudah lama bekerja di bengkel pipa dan bengkel listrik kapal tanpa adanya sistem rotasi sangat berpotensi mengalami gangguan kesehatan. Hasil penelitian menyatakan bahwa dari 34 responden hanya terdapat 1 responden yang mengalami gangguan pendengaran yang berada pada kelompok umur 40-49. Hasil uji statistik diperoleh ada korelasi antara masa kerja dengan keluhan kesehatan pekerja di bengkel pipa dan bengkel listrik kapal. Semakin lama seseorang bekerja disuatu tempat semakin besar kemungkinan mereka terpapar oleh faktor-faktor lingkungan kerja baik fisik maupun kimia yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan atau penyakit akibat kerja sehingga akan berakibat menurunnya efisiensi dan produktivitas kerja seorang tenaga kerja.11 Hal ini sejalan dengan penelitian Pramita di bagian produksi PT.10 Terjadinya keluhan kesehatan pekerja berdasarkan beberapa penelitian tersebut bukan disebabkan oleh umur. progresifitas berkurang bila pajanan bias dihentikan. 5 . maka sangat penting diberikan batasan umur bagi pekerja yang sesuia dengan ketentuan yang berlaku. dan menjadi permanen bila terpajan terus-menerus selama lebih dari 10 tahun. Kemudian keluhan tersebut berkurang pada tenaga kerja setelah bekerja selama 1-5 tahun.

Penelitian pada pekerja di bengkel pipa dan bengkel listrik kapal PT. penyakit. keseluruhan responden bekerja selama ≤ 8 jam/hari.40 dB. Hal ini menunjukkan bahwa lama kerja pekerja bengkel pipa dan bengkel listrik kapal masih memenuhi syarat. Hasil uji statistik diperoleh ada korelasi antara intensitas kebisingan dengan keluhan kesehatan pekerja di bengkel pipa dan bengkel listrik kapal. Sumber kebisingan yang ada di dalam bengkel berasal dari peralatan-peralatan produksi dan peralatan-peralatan kerja yaitu dari mesin las. Nilai rata-rata intensitas kebisingan di bengkel pipa dan bengkel listrik kapal yaitu 92. Intensitas kebisingan tertinggi berada di bengkel pipa yaitu 102.13 Lama kerja sering dikaitkan dengan lama paparan bising yang diterima oleh pekerja. Intensitas bising yang melebihi Nilai Ambang Batas (NAB) mengakibatkan pengaruh yang bersifat non auditoir atau pengaruh yang bukan terhadap pendengaran dan pengaruh auditoir atau pengaruh terhadap pendengaran yang dapat berlangsung atau menetap. yang diukur dengan menggunakan Sound Level Meter dengan satuan kebisingan desibel (dB). mesin bubut dan peralatan kerja yaitu palu-palu. Tingkat kebisingan rata-rata yang dihasilkan oleh sumber bising yang terdapat di bengkel pipa dan listrik kapal. bahkan biasanya terlihat penurunan kualitas dan hasil kerja serta bekerja dengan waktu yang berkepanjangan timbul kecenderungan untuk terjadinya kelelahan. kecelakaan dan ketidakpuasan. Dengan kata lain semakin lama waktu kerja seseorang. Hal ini menunjukkan bahwa pekerja yang 6 . efektivitas dan produktivitas yang optimal. Hal ini dikarenakan lama kerja terkait dengan durasi seorang pekerja berada di dalam ruangan yang memiliki potensi kebisingan.0 dB. maka durasi pekerja tersebut terpajan oleh kebisingan juga akan semakin lama.14 Semakin tinggi intensitas kebisingan di tempat kerja maka semakin besar pula potensi bahaya yang dapat ditimbulkan bagi pekerja. keluhan akan meningkat pada tenaga kerja setelah bekerja pada masa kerja lebih dari 5 tahun. penggunaan peralatan dan mesin ini mempunyai dampak yang tidak baik bagi pekerja yaitu tingkat kebisingan yang cukup tinggi. mesin gerinda. Apabila seseorang melakukan pekerjaan fisik namun tidak melakukan variasi dalam bekerja dan dalam waktu yang melebihi batas yang telah ditentukan untuk seorang pekerja dalam sehari maka akan menyebabkan kontraksi otot-otot penguat penyangga perut secara terusmenerus dalam jangka waktu yang lama.Namun. Memperpanjang waktu kerja lebih dari kemampuan lama kerja tidak disertai efisiensi. Industri Kapal Indonesia. Kondisi lingkungan kerja yang ada di dalam bengkel pipa dan bengkel listrik kapal tidak lepas dari peralatan dan mesin. gangguan kesehatan.

Pemakaian alat pelindung diri untuk mengurangi kebisingan meliputi ear plugs dan ear muffs.15 Dari hasil penelitian yang didapat bahwa semua pekerja di bengkel pipa dan bengkel listrik kapal tidak ada satupun yang memakai APD. Sehingga dengan kata lain sebagian besar gangguan non auditory mempunyai hubungan yang signifikan dengan intensitas kebisingan. Gangguan pelaksanaan tugas menjadi satu-satunya gangguan non auditory yang tidak memiliki hubungan yang signifikan. Hal ini juga diperparah dengan kebiasaan pekerja yang tidak memakai APD yaitu Alat Pelindung Telinga (APT) berupa ear muff dan ear plug pada saat bekerja di lingkungan yang bising.234) tidak ada korelasi dengan keluhan kesehatan pekerja di bengkel pipa dan bengkel listrik kapal. Lama kerja dan pemakaian APD tidak dapat dianalisis karena data bersifat homogen.010 dan r=0. Alat pelindung telinga adalah alat pelindung yang berfungsi untuk melindungi alat pendengaran terhadap kebisingan atau tekanan. sehingga dapat mengurangi potensi gangguan kesehatan atau penyakit 7 . mesin gerinda dan peralatan kerja yaitu palu-palu. Saran kepada pihak perushaan untuk mengadakan sistem rotasi pekerja yang berlaku tiap lima tahunnya.000 dan r=0.mengalami keluhan kesehatan didominasi oleh responden yang bekerja dengan intensitas kebisingan diatas 85 dB. Hal ini sejalan dengan penelitian Afrianto pada pekerja tekstil menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara gangguan komunikasi dengan intensitas kebisingan. Pengendalian ini tergantung terhadap pemilihan peralatan yang tepat untuk tingkat kebisingan tertentu.426) dan intensitas kebisingan (p=0. kemudian terdapat juga hubungan yang signifikan antara gangguan emosi dan gangguan fisiologis. KESIMPULAN DAN SARAN Penelitian ini menyimpulkan bahwa ada korelasi yang signifikan antara masa kerja (p=0. Sifat APT hanya mengurangi intensitas bising yang diterima oleh pekerja sehingga perlu dihindari ketergantungan hanya menggandalkan alat pelindung diri dalam menyelesaikan setiap pekerjaan.7 Banyaknya pekerja yang mengalami keluhan kesehatan ini disebabkan sering terpapar bising yang cukup tinggi yang dihasilkan dari mesin dan peralatan-peralatan kerja. Alat pelindung diri mampu mengurangi efek kebisingan yang diterima oleh indera pendengaran penggunanya.682) dengan keluhan kesehatan pekerja di bengkel pipa dan bengkel listrik kapal dan umur (p=0. Sumber kebisingan tersebut berasal dari mesin las. kelayakan dan cara merawat peralatan. sehingga para pekerja yang menggunakan APD akan memiliki risiko atau potensi terkena bahaya akibat kebisingan yang lebih kecil dibandingkan para pekerja yang tidak menggunakan APD sama sekali.

2013. 7. Ivana A. 9. 5. Jurnal e-Biomedik. 1(1): 34-39. Higiene perusahaan. 2007. Surabaya: Universitas Airlangga. Jurnal e-Biomedik. Hubungan kebisingan dengan kemampuan pendengaran tenaga kerja pabrik kelapa sawit Adolina PTPN IV Kabupaten Serdang Bedagai [Skripsi]. Analisis tingkat kebisingan peralatan produksi terhadap kinerja karyawan. Indah Nur. Andriansyah Putra. 2. 3. 2003. Memperhatikan sistem penyediaan APD berupa ear muff dan ear plug bagi pekerja yang berada di lingkungan kerja dengan intensitas kebisingan yang melebihi standar. Wahyu A. 2010. Kholik. Sumatera Utara : Fakultas Kesehatan Masyarakat. Siregar. pengaruh kebisingan mesin las disel listrik terhadap fungsi pendengaran pada pekerja bengkel las di Kecamatan Mapanget Kota Manado. DAFTAR PUSTAKA 1. Feidihal. Afrianto. Dan bagi pekerja yang berada di lingkungan kerja yang intensitas kebisingannya cukup tinggu untuk kiranya sadar dan memahami betapa pentingnya pemakaian APD untuk mengurangi potensi pekerja dari paparan bising yang ada di lingkungan kerja. A. M. Makassar : FKM Unhas. 4. 8. Indomedia. Hadian A. Tjan. 4(1). Lotus Indah Tekstil Industri [Skripsi]. Hubungan antara keluhan subjektif non auditory dengan intensitas kebisingan pada pekerja di PT. 2014.akibat kerja yang diterima di lingkungan fisik (kebisingan). Jurnal teknik mesin Politeknik Negeri Padang. Makassar : Universitas Hasanuddin. Hubungan kebisingan dengan keluhan non pendengaran pada pekerja instalasi laundry rumah sakit kota Makassar [Skripsi]. Bising bisa timbulkan tuli. 13(2): 194-200. 2013. Tingkat kebisingan dan pengaruhnya terhadap mahasiswa di bengkel teknik mesin Politeknik Negeri Padang. Melakukan pengukuran intensitas kebisingan di unit kerja yang memiliki potensial hazard secara berkala sebagai dasar kebijakan untuk mengatur lama kerja dan masa kerja bagi pekerja. M & Krishna D. 1(1): 379-386. H. 6. Jurnal teknik industri UMM 2012. 2000. Hardini. Koagouw. Sriwahyudi. Efek bising mesin elektronika terhadap gangguan fungsi pendengaran pada pekerja di kecamatan Sario 1 kota Manado Sulawesi Utara. 2009. 8 .

11. Tarwaka. Jakarta : EGC.10. Higiene perusahaan dan kesehatan kerja. Semarang : Universitas Diponegoro. Pramita. Semen Bosowa Maros [Skripsi]. 2009. L. 2010. 9 . 2004. Jakarta : Sagung Seto. Bakri. 2007. Faktor yang berhubungan dengan timbulnya gangguan pendengaran pada tenaga kerja bagian produksi PT. Aprilia. Makassar : Universitas Hasanuddin. 13. Surakarta : Uniba Press. 2004. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap nilai ambang dengar tenaga kerja akibat bising di bagian percetakan PT. 14. Buku ajar kesehatan kerja. Semen Tonasa di Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan [Tesis]. Jannie. Dian. Hubungan antara intensitas kebisingan di lingkungan kerja dengan peningkatan tekanan darah (penelitian pada karyawan PT. kesehatan kerja dan produktivitas. Makassar : Universitas Hasanuddin. Ergonomi untuk keselamatan. Suma’mur. Makassar Fajar Grafika [Skripsi]. 15. Emma. Harrianto R. 2009. Babba. 12. S & Sudiadjeng.

1 40-44 19 52. Industri Kapal Indonesia Kota Makassar Variabel n % Umur 24-28 2 5.6 Pemakaian APD Tidak Memenuhi Syarat 36 100 Memenuhi Syarat 0 0 Keluhan Kesehatan Ada Keluhan 24 66.6 Jenis Kelamin Laki-Laki 36 100 Perempuan 0 0 Unit Kerja Bengkel pipa 15 41.LAMPIRAN Tabel 1.3 Total 36 100 Sumber: Data Primer. Distribusi Karekteristik Responden Pekerja di Bengkel Pipa dan Bengkel Listrik Kapal PT.3 Lama Kerja Tidak Memenuhi Syarat 0 0 Memenuhi syarat 36 100 Intensitas Kebisingan Tidak Memenuhi Syarat 25 69.3 Total 36 100 Sumber: Data Primer.4 50-54 2 5.9 Muda 4 11. 2014 Tabel 2. 2014 10 .1 Masa Kerja Lama 33 91.8 45-49 7 19.6 34-39 4 11. Distribusi Responden berdasarkan Variabel Independen dan Dependen Variabel n % Umur Tua 32 88.7 Baru 3 8.7 Tidak Ada Keluhan 12 33.4 Memenuhi Syarat 11 30.6 29-33 2 5.7 Bengkel Listrik Kapal 21 58.

0 2 50.8 11 100 Sumber: Data Primer.0 25 100 r = 0.0 3 100 Intensitas Kebisingan p = 0.2 32 100 p = 0.0 4 100 Masa Kerja p = 0.7 9 27. 2014 11 .000 Tidak Memenuhi Syarat 22 88.426 Baru 0 0.2 9 81.0 3 100.8 10 31.3 33 100 r = 0.Tabel 3.682 Memenuhi Syarat 2 18.0 3 12. Industri Kapal Indonesia Kota Makassar Keluhan Kesehatan Total Variabel Hasil Uji Tidak Ada Ada Keluhan Independen Statistik Keluhan n % n % n % Umur Tua 22 68.234 Muda 2 50.010 Lama 24 72. Hubungan Variabel Independen dengan Keluhan Kesehatan di Bengkel Pipa dan Bengkel Listrik Kapal PT.