Anda di halaman 1dari 10

MACAM-MACAM TEKNIK PEWARNAAN BAKTERI

Mikroorganisme yang ada di alam ini mempunyai morfologi, struktur dan sifat-sifat yang khas,
begitu pula dengan bakteri. Bakteri yang hidup hampir tidak berwarna dan kontras dengan air,
dimana sel-sel bakteri tersebut disuspensikan. Salah satu cara untuk mengamati bentuk sel
bakteri sehingga mudah untuk diidentifikasi ialah dengan metode pengecatan atau pewarnaan.
Hal tersebut juga berfungsi untuk mengetahui sifat fisiologisnya yaitu mengetahui reaksi dinding
sel bakteri melalui serangkaian pengecatan (Jimmo, 2008).
Berbagai macam tipe morfologi bakteri (kokus, basil, spirilum, dan sebagainya) dapat dibedakan
dengan menggunakan pewarna sederhana. Istilah ”pewarna sederhana” dapat diartikan dalam
mewarnai sel-sel bakteri hanya digunakan satu macam zat warna saja (Gupte, 1990).
Kebanyakan bakteri mudah bereaksi dengan pewarna-pewarna sederhana karena sitoplasmanya
bersifat basofilik (suka akan basa) sedangkan zat-zat warna yang digunakan untuk pewarnaan
sederhana umumnya bersifat alkalin (komponen kromoforiknya bermuatan positif). Faktor-faktor
yang mempengaruhi pewarnaan bakteri yaitu fiksasi, peluntur warna , substrat, intensifikasi
pewarnaan dan penggunaan zat warna penutup. Suatu preparat yang sudah meresap suatu zat
warna, kemudian dicuci dengan asam encer maka semua zat warna terhapus. sebaliknya terdapat
juga preparat yang tahan terhadap asam encer. Bakteri-bakteri seperti ini dinamakan bakteri
tahan asam, dan hal ini merupakan ciri yang khas bagi suatu spesies (Dwidjoseputro, 1994).
Teknik pewarnaan warna pada bakteri dapat dibedakan menjadi empat macam yaitu pengecatan
sederhana, pengecatan negatif, pengecatan diferensial dan pengecatan struktural. Pemberian
warna pada bakteri atau jasad- jasad renik lain dengan menggunakan larutan tunggal suatu
pewarna pada lapisan tipis, atau olesan, yang sudah difiksasi, dinamakan pewarnaan sederhana.
Prosedur pewarnaan yang menampilkan perbedaan di antara sel-sel microbe atau bagian-bagian
sel microbe disebut teknik pewarnaan diferensial. Sedangkan pengecatan struktural hanya
mewarnai satu bagian dari sel sehingga dapat membedakan bagian-bagian dari sel. Termasuk
dalam pengecatan ini adalah pengecatan endospora, flagella dan pengecatan kapsul.
(waluyo,2010)
Mikroba sulit dilihat dengan cahaya karena tidak mengadsorbsi atau membiaskan cahaya. Alasan
inilah yang menyebabkan zat warna digunakan untuk mewarnai mikroorganisme. Zat warna
mengadsorbsi dan membiaskan cahaya sehingga kontras mikroba dengan sekelilingnya dapat
ditingkatkan. Penggunaan zat warna memungkinkan pengamatan strukur seperti spora, flagela,
dan bahan inklusi yng mengandung zat pati dan granula fosfat (Entjang, 2003)
Melihat dan mengamati bakteri dalam keadaan hidup sangat sulit, kerena selain bakteri itu tidak
berwarna juga transparan dan sangat kecil. Untuk mengatasi hal tersebut maka dikembangkan
suatu teknik pewarnaan sel bekteri, sehingga sel dapat terlihat jelas dan mudah diamati. Olek
karena itu teknik pewarnaan sel bakteri ini merupakan salahsatu cara yang paling utama dalam
penelitian-penelitian mikrobiologi (Rizki, 2008).
2.1 Macam-macam pewarnaan

maupun fungi. dan pewarnaan “acid-fast”(tahan asam) untuk genus Mycobacterium. dan sebagainya) dapat dibedakan dengan menggunakan pewarna sederhana. 4. olesan bakteri tidak boleh terlalu tebal atau tipis 2.1. atau lebih dari 1 zat warna Teknik pewarnaan dikelompokkan menjadi beberapa tipe. berdasarkan respon sel bakteri terhadap zat pewarna dan sistem pewarnaan yang digunakan untuk pemisahan kelompok bakteri digunakan pewarnaan Gram. baik bakteri.1 Pewarnaan Tujuan pewarnaan terhadap mikroorganisme ialah untuk : 1. 2. pewarnaan kapsul. 3. formalin. basil. Pewarnaan Neisser atau Albert digunakan untuk melihat granula metakromatik (volutin bodies) pada Corynebacterium diphtheriae.1. spirilum. pewarnaan spora. Aplikasi zat warna : tunggal.2008). Melihat reaksi jasad terhadap pewarna yang diberikan sehingga sifat-sifat fisik dan kimia dapat diketahui. Untuk melihat struktur digunakan pewarnaan flagela. merupakan pewarna yang paling umum digunakan.2. Fiksasi.2 Macam-Macam Pewarnaan Secara garis besar teknik pewarnaan bakteri dapat dikategorikan sebagai berikut : 1. Memperjelas ukuran dan bentuk jasad 3. Pewarnaan sederhana. Melihat struktur luar dan kalau memungkinkan struktur dalam jasad. Mempermudah melihat bentuk jasad. yaitu mewarnai sel-sel bakteri hanya digunakan satu macam zat warna saja. Pembuatan olesan bakteri. Kebanyakan bakteri mudah bereaksi dengan pewarna-pewarna sederhana karena sitoplasmanya bersifat basofilik (suka akan basa) sedangkan zat-zat warna yang digunakan untuk pewarnaan sederhana umumnya bersifat alkalin (komponen kromoforiknya bermuatan positif). dapat dilakukan secara pemanasan atau dengan aplikasi bahan kimia seperti sabun. Pewarnaan sederhana Menggunakan satu macam zat warna (biru metilen/air fukhsin) tujuan hanya untuk melihat bentuk sel. dan pewarnaan nukleus. Untuk semua prosedur pewarnaan mikrobiologi dibutuhkan pembuatan apusan lebih dahulu sebelum melaksanakan beberapa teknik pewarnaan yang spesifik (Pelezar. ragi. fenol. Berbagai macam tipe morfologi bakteri (kokus. . 2. Langkah-langkah utama teknik pewarnaan 1.

Beberapa contoh zat warna yang banyak digunakan adalah biru metilen (30-60 detik). Pewarnaan Sederhana merupakan satu cara yang cepat untuk melihat morfologi bakteri secara umum. ungu kristal (10 detik) dan fukhsin-karbol (5 detik). .Zat warna yang dipakai hanya terdiri dari satu zat yang dilarutkan dalam bahan pelarut.

ilmuwan Denmark Hans Christian Gram (1853–1938) yang mengembangkan teknik ini pada tahun 1884 untuk membedakan antara pneumokokus dan bakteri Klebsiella pneumoniae. suatu pewarna penimbal (counterstain) ditambahkan setelah metil ungu. sementara bakteri gram-negatif tidak. Pada uji pewarnaan Gram. seperti pewarnaan sederhana atau Gram. yaitu dari genus Mycobacterium dan beberapa spesies tertentu dari genus Nocardia. Dengan metode pewarnaan Gram. bakteri dapat dikelompokkan menjadi dua. berdasarkan sifat kimia dan fisik dinding sel mereka.  Pencuci / peluntur zat warna (alcohol / aseton) yaitu solven organic yang digunakan uantuk melunturkan zat warna utama. Bakteri gram-positif akan mempertahankan zat warna metil ungu gelap setelah dicuci dengan alkohol. Reaksi atau sifat bakteri tersebut ditentukan oleh komposisi dinding selnya. Metode ini diberi nama berdasarkan penemunya. pengecatan Gram tidak bisa dilakukan pada mikroorganisme yang tidak mempunyai dinding sel seperti Mycoplasma sp Contoh bakteri yang tergolong bakteri tahan asam. Oleh karena itu. Pengujian ini berguna . Dalam pewarnaan gram diperlukan empat reagen yaitu :  Zat warna utama (violet kristal)  Mordan (larutan Iodin) yaitu senyawa yang digunakan untuk mengintensifkan warna utama. Bakteri Gram-negatif adalah bakteri yang tidak mempertahankan zat warna metil ungu pada metode pewarnaan Gram.gambar pewarnaan sederhana 2.  Zat warna kedua / cat penutup (safranin) digunakan untuk mewarnai kembali sel-sel yang telah kehilangan cat utama setelah perlakuan denga alcohol. Pewarnaan differensial dibagi pewarnaan gram dan pewarnaan tahan asam Pewarnaan differensial Pewarnaan bakteri yang menggunakan lebih dari satu zat warna seperti pewarnaan gram dan pewarnaan tahan asam. yaitu bakteri Gram positif dan Gram negatif berdasarkan reaksi atau sifat bakteri terhadap cat tersebut. yang membuat semua bakteri gram-negatif menjadi berwarna merah atau merah muda. yakni gram-positif dan gram-negatif. Bakteribakteri dari kedua genus ini diketahui memiliki sejumlah besar zat lipodial (berlemak) di dalam dinding selnya sehingga menyebabkan dinding sel tersebut relatif tidak permeabel terhadap zat-zat warna yang umum sehingga sel bakteri tersebut tidak terwarnai oleh metode pewarnaan biasa. Penjelasan sebagai berikut: Pewarnaan Gram Pewarnaan Gram atau metode Gram adalah suatu metode untuk membedakan spesies bakteri menjadi dua kelompok besar.

sedangkan penyingkiran zat lipida dari dinding sel organisme gram negatif dengan pencucian alcohol memungkinkan hilang dari sel. tidak mengandung asam tekoat.  Tidak resisten terhadap gangguan fisik. Kompleks zat iodin terperangkap antara dinding sel dan membran sitoplasma organisme gram positif. Pengecatan gram dilakukan dalam 4 tahap yaitu 1. 2. Beberapa perbedaan sifat yang dapat dijumpai antara bakteri Gram positif dan bakteri Gram negatif yaitu: Ciri-ciri bakteri gram negatif yaitu:  Struktur dinding selnya tipis. sebelah dalam dengan jumlah sedikit ± 10% dari berat kering. Pencucian (dekolarisasi) dengan larutan alkohol asam. Bakteri gram positif memiliki membran tunggal yang dilapisi peptidohlikan yang tebal (25-50nm) sedangkan bakteri negative lapisan peptidoglikogennya tipis (1-3 nm).untuk mengklasifikasikan kedua tipe bakteri ini berdasarkan perbedaan struktur dinding sel mereka.  Komposisi nutrisi yang dibutuhkan relatif sederhana.  Resistensi terhadap alkali (1% KOH) lebih pekat  Peka terhadap streptomisin . Pengintesifan cat utama dengan penambahan larutan mordan JKJ. peptidoglikan terdapat didalam  lapisan kaku. 4.  Dinding selnya mengandung lemak lebih banyak (11-22%). berlapis tiga atau multilayer.  Kurang rentan terhadap senyawa penisilin.  Pertumbuhannya tidak begitu dihambat oleh zat warna dasar misalnya kristal violet. 3. Sifat bakteri terhadap pewarnaan Gram merupakan sifat penting untuk membantu determinasi suatu bakteri. Pemberian cat warna utama (cairan kristal violet) berwarna ungu. sekitar 10 – 15 mm. Pemberian cat lawan yaitu cat warna safranin Perbedaan dasar antara bakteri gram positif dan negatif adalah pada komponen dinding selnya.

Mengandung asam tekoat.  Komposisi nutrisi yang dibutuhkan lebih rumit.  Resistensi terhadap alkali (1% KOH) larut  Tidak peka terhadap streptomisin  Toksin yang dibentuk Eksotoksin Endotoksin Contoh bakteri gram posittif contoh bakteri gram negatif Sumber: “http://id.  Bersifat lebih rentan terhadap penisilin.org/wiki/Pewarnaan_Gram Pewarnaan Tahan Asam .wikipedia. Toksin yang dibentuk Endotoksin Ciri-ciri bakteri gram positif yaitu:  Struktur dinding selnya tebal.  Pertumbuhan dihambat secara nyata oleh zat-zat warna seperti ungu kristal. sekitar 15-80 nm.  Lebih resisten terhadap gangguan fisik.  Dinding selnya mengandung lipid yang lebih normal (1-4%). Komponen utama merupakan lebih dari 50% berat ringan. berlapis tunggal atau monolayer. peptidoglikan ada yang sebagai lapisan tunggal.

Untuk pewarnaan endspores. Pewarnaan Spora Spora bakteri (endospora) tidak dapat diwarnai dengan pewarnaan biasa.Pewarnaan ini ditujukan terhadap bakteri yang mengandung lemak dalam konsentrasi tinggi sehingga sukar menyerap zat warna. seperti halnya pada pewarnaan Basil Tahan Asam dimana cat carbol fuschsin harus dipanaskan untuk bisa menembus lapisan lilin asam mycolic dari Mycobacterium . Teknik pewarnaan ini dapat digunakan untuk mendiagnosa keberadaan bakteri penyebab tuberkulosis yaitu Mycobacterium tuberculosis . maka akan menyerap zat warna dan akan tahan diikat tanpa mampu dilunturkan oleh peluntur yang kuat sekalipun seperti asam-alkohol. Pewarnaan Klein adalah pewarnaan spora yang paling banyak digunakan.2009) Bakteri Tahan Asam (pink) dan bakteri Tidak Tahan Asam (biru) Sumber: http://www. pewarnaan kapsul. Pewarnaan khusus untuk melihat struktur tertentu : pewarnaan flagel. pewarnaan spora.google. Ada beberapa cara pewarnaan tahan asam. Endospora sulit diwarnai dengan metode Gram. namun yang paling banyak adalah cara menurut Ziehl-Neelsen.com 3. namun jika bakteri diberi zat warna khusus misalnya karbolfukhsin melalui proses pemanasan. perlu dilakukan pemanasan supaya cat malachite hijau bisa masuk ke dalam spora . Skema prosedur pengecatan Spora Schaeffer Fulton . Karena itu bakteri ini disebut bakteri tahan asam (BTA). diperlukan teknik pewarnaan khusus.(anonymous.

Cara Kerja : • Dibuat suspensi kuman.com/400620_com_endosporestainprocpscanite.suite101.Sumber http://images. ditambah dengan carbol fuchsin sama banyak. dengan pencucian pori-pori kembali mengecil menyebabkan zat warna fuchsin tidak dapat dilepas walaupun dilunturkan dengan asam alkohol. sedangkan pada badan bakteri warna fuchsin dilepaskan dan mengambil warna biru dari methylen blue.jpg Protokol pewarnaan diferensial endospores dan sel vegetatif adalah sebagai berikut: Sumber: Prinsip kerja: Spora kuman mempunyai dinding yang tebal sehingga diperlukan pemanasan agar pori-pori membesar zat warna fuchsin dapat masuk. .

• Diperiksa dibawah mikroskop.  pewarnaan yodium (granula glikogen). 4. • Diwarnai dengan methylen blue selama 1 menit kemudian dicuci dan dikeringkan. Pewarnaan khusus untuk melihat komponen lain dan bakteri :  pewarnaan Neisser (granula volutin). seperti spirochaeta Cara pewarnaan negatif – Sediaan hapus → teteskan emersi → lihat dimikroskop Pewarnaan negatif. sehingga terbentuk presipitat tebal pada dinding sel dan flagel. Yang berwana biru gelap. • Dibuat sediaan dan dikeringkan. Garam tembaga juga memberi warna pada latar belakang.• Dipanaskan selama 6 menit pada api kecil atau pada penangas air 80oc selama 10 menit. Pewarnaan kapsul Pewarnaan ini menggunakan larutan Kristal violet panas. tapi mewarnai latar belakang. Pewarnaan flagel Pewarnaan flagel dengan memberi suspense koloid garam asam tanat yang tidak stabil. Pada pewarnaan ini mikroorganisme kelihatan transparan (tembus . 5. Bakteri tidak diwarnai. karena jika pembilasan dengan air dapat melarutkan kapsul. Ditujukan untuk bakteri yang sulit diwarnai. • Dimasukkan kedalam H2SO4 1% selama 2 detik • Dimasukkan kedalam alkohol sehingga tidak ada lagi warna merah mengalir. metode ini bukan untuk mewarnai bakteri tetapi mewarnai latar belakangnya menjadi hitam gelap. Pewarnaan negatif Tujuan Mempelajari penggunaan prosedur pewarnaan negatif untuk mengamati morfologi organisme yang sukar diwarnai oleh pewarna sederhana. lalu larutan tembaga sulfat sebagai pembilasan menghasilkan warna biru pucat pada kapsul. • Sediaan dicuci dengan air.

Makassar. Djambatan: Jakarta Pelezar. Buku Petunjuk Praktikum Mikrobiologi Umum. Malang Widjoseputro. Malang : Djambatan Jimmo. UI Press: Jakarta Waluyo. 2005. . 2008. Fauziah. Dasar-Dasar Mikrobiologi.. Teknik ini berguna untuk menentukan morfologi dan ukuran sel. 2008. UMM.tidak akan menembus atau berpenetrasi ke dalam sel karena negative charge pada permukaan bakteri. maka terjadinya penyusutan dan salah satu bentuk agar kurang sehingga penentuan sel dapat diperoleh dengan lebih tepat. D. Pada pewarnaan ini olesan tidak mengalami pemanasan atau perlakuan yang keras dengan bahan-bahan kimia. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Pewarnaan negatif memerlukan pewarna asam seperti eosin atau negrosin. http://www.. sel tidak berwarna mudah dilihat dengan latar belakang berwarna. 1989. Metode ini menggunakan cat nigrosin atau tinta cina.2x/6/Praktikum6.com/wp-content/uploads/HSC/1.. diakses pada tanggal 14 April 2009. http ://Pembuatan PReParAT dan PengeCaTAnnyA _ BLoG KiTa.pewarna asam memiliki negatif charge kromogen.. 2008.lud.mht.pandang). 2010.pdf. DAFTAR PUSTAKA Dwidjoseputro.chan. Makassar. oleh karena itu. diakses pada tangan 04 April 2009.fkugm2008.