Anda di halaman 1dari 25

1

BAB I
LAPORAN KASUS
I.

II.

IDENTITAS PASIEN
Nama

: Tn. Y

Umur

: 10 Agustus 1997 (19 Tahun)

Berat Badan

: 61 kg

Tinggi Badan

: 161 cm

No.Rekam Medik

: 19050001314

Alamat

: Jalan Air Medang Kolong 2 Toboali

Pekerjaan

: Siswa (SMA Kelas 2)

Agama

: Islam

Tanggal Masuk Poli

: 11 April 2016

Jam Masuk Poli

:09.30 WIB

IDENTITAS KELUARGA
 AYAH
-

Nama

: Tn. J

-

Umur

: 60 Tahun

-

Agama

: Islam

-

Pekerjaan

: Buruh Harian

-

Pendidikan

: SD

-

Suku

: Padang

-

Alamat

: Jalan Air Medang Kolong 2 Toboali

 IBU
-

Nama

: Ny. S

-

Umur

: 57 Tahun

-

Agama

: Islam

-

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

-

Pendidikan

: SD

-

Suku

: Bangka

2

III.

Alamat

: Jalan Air Medang Kolong 2 Toboali

ANAMNESIS
Tanggal : Senin 11 April 2016
Jam

: 09.30 WIB

1. Keluhan utama: Bersin-bersin, hidung tersumbat
2. Keluhan tambahan: sering keluar lendir pada hidung, batuk ,
kadang disertai pusing.
3. Riwayat Penyakit Sekarang:

5 Hari Sebelum Berobat:
Pasien mengeluh bersin – bersin dipagi hari > 7 kali sehari
,batuk-batuk berdahak dan pilek yang sering hilang dan timbul
walaupun sudah diberikan obat, namun pasien lupa nama obatnya.

3 Hari Sebelum Berobat:
Pasien mengeluh bersin-bersin dan pilek yang tidak kunjung
sembuh disertai hidung tersumbat.

1 Jam Sebelum Berobat
Pasien mengeluh Bersin-bersin yang tidak sembuh-sembuh
disertai batuk dan pilek sehingga mengganggu pasien buat
beraktifitas sehari-hari sehingga pasien langsung datang berobat
ke Puskesmas Toboali Bangka Selatan.
4. Riwayat Pengobatan:
Sebelumnya pasien sering

berobat ke Praktek Klinik Dokter

tetapi keluhan pasien datang kembali. Pasien sering mengkonsumsi obat
Toko yang dibelinya sendiri (Sanaflu diminum 2 kali sehari) tetapi
keluhan tidak pernah berkurang.

Sklera ikterik (-/-). Sekret (-/-). ayahnya juga sering bersin-bersin dirumah setiap pagi 7.3 0C B.3 5. reflek cahaya (+/+) - Hidung : Septum deviasi (-/-). 6. Status Present Keadaan Umum : Tampak Sakit Ringan Kesadaran : Compos mentis Vital Sign : Tekanan Darah : 110/ 110 mmHg Nadi : 86 x/ menit Pernafasan : 20 x/ menit Suhu : 36. Konjungtiva anemis (-/-). PEMERIKSAAN FISIK A. Riwayat Penyakit Keluarga: Didalam keluarga ada yang mengalami hal seperti ini yaitu ayah pasien. Riwayat Penyakit Terdahulu: Pasien sering mengalami hal yang sama sejak masih sekolah SMP. Status Generalis Kepala : Normochepali - Mata : pupil isokor (+/+). lendir (+/+) . Polip (-/-). mukosa edema (+/+). warna pucat (+/+). Riwayat Alergi : Menurut pasien ada alergi karena ketika makan udang dan kepiting badan sering timbul bintik-bintik. IV. dan juga kalau musim hujan bersinbersin tambah sering. oedem palpebra (-/-).

linea parasternalis dextra ICS IV  Batas jantung kiri (sonor ke redup). gallop (-) . Rhonki (-/-). linea parasternalis sinistra ICS V  Batas jantung atas (sonor ke redup). Sianosis bibir (-). Kaku kuduk (-) Thorax : Pergerakan thorax simetris D/S - PULMO : o Inspeksi : Pergerakan pernapasan simetris D/S o Palpasi : Vocal Fremitus D/S Normal o Perkusi : Sonor seluruh lapang paru o Auskultasi : Vesikuler D/S. Wheezing (-/-) - COR o Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat o Palpasi : Ictus cordis tidak teraba o Perkusi :  Batas jantung kanan (sonor ke redup). oedem (-) Leher : Pembesaran KGB (-). Bibir pucat (-). Nyeri tekan tragus (-/-) - Mulut : Karies (-).4 - Telinga : Kelainan kongenital (-/-). lidah kotor (-). murmur (-). linea parasternalis sinistra ICS III o Auskultasi : Bunyi jantung I dan II reguler. linea sternalis ICS II  Pinggang jantung (sonor ke redup). Secret (-/-).

DIAGNOSA KERJA  Rinitis alergi VII. Capillary refill time <2” Oedem (-/-) - Inferior : Akral dingin (-/-). Pembesaran hepar (-). Pembesaran lien (-). Capillary refill time <2”.5 Abdomen : - Inspeksi : Distensi (-) - Palpasi : Nyeri tekan epigastrium (-). DIAGNOSA BANDING KASUS  Rinitis Alergi  Rinitis Vasomotor  ISPA VI. Oedem (+/+) V. TERAPI  Parasetamol 500 mg tablet ( 3 kali sehari)  Cetirizin tablet (1 kali sehari)  GG Tablet (3 kali sehari)  Vit B COM ( 1 kali sehari) . Asites (-) - Perkusi : Thympani (+) - Auskultasi : Bising usus (+) normal 3 x/ menit Genitalia : Dalam Batas Normal Ekstremitas : - Superior : Akral dingin (-/-).

Cetirizin tablet (1 kali sehari). Vit B COM ( 1 kali sehari) . pasien juga mengeluh batuk disertai hidung tersumbat sejak satu minggu terakhir. warna konka pucat (+) pada pemeriksaan fisik lain tampak dalam batas normal. Dengan keluhan sering bersin-bersin setiap hari. Pada pemeriksaan fisik: keadaan umum tampak sakit Ringan. datang ke Poli Umum Puskesmas Toboali Bangka Selatan pada tanggal 11 April 2016 Pukul 09.Y usia 19 tahun. Sebelumnya pasien pernah berobat tetapi keluhan kambuh kembali dan akhir-akhir ini pasiem minum obst took (sanaflu minum 2 kali sehari) tetapi keluhan tidak pernah berkurang. GG Tablet (3 kali sehari).6 VIII. PROGNOSIS :  Quo ad vitam : ad bonam  Quo ad fungtionam : dubia ad bonam  Quo ad sanationam : dubia ad bonam RESUME  Pasien Tn. pada pemeriksaan hidung tampak lendir (+).  Mengingatkan kepasien bahwa Rhinitis Alergi tidak dapat sembuh jadi supaya menghindari faktor resiko yang bisa membuat pasien kambuh. kerang dll. Terapi yang diberikan pada pasien diantaranya Parasetamol 500 mg tablet ( 3 kali sehari). IX.30 WIB. Edukasi  Agar pasien menghindari faktor resiko diantaranya ketika kambuh disuhu dingin diusahakan menggunakan baju hangat.  Menghindari makan makanan yang bisa membuat badan pasien alergi diantaranya kepiting. udang.

2 B. Namun. Definisi1.1. rinore.3 Rhinitis alergi merupakan bentuk yang paling sering dari semua penyakit atopi. maupun penderita yang tidak terhitung pada survei resmi. dikarenakan banyaknya pasien yang mengobati diri sendiri tanpa berkonsultasi ke dokter. Patofisiologi Rinitis Alergi4 Karakteristik utama dari sistem kekebalan tubuh adalah pengenalan dari "non-self" yang berpasangan dengan ”memory”. Menurut WHO ARIA (Allergic Rhinitis and its Impact on Asthma) tahun 2001 rinitis alergi adalah kelainan pada hidung dengan gejala bersin-bersin.7 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2. Fungsi dari sistem kekebalan tubuh melibatkan limfosit T dan limfosit B serta zat terlarut yang disebut sitokin yang bertindak di dalam dan di luar sistem kekebalan tubuh untuk mempengaruhi .2 Rhinitis alergi adalah penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi pada pasien atopi yang sebelumnya sudah tersensitasi dengan alergen yang sama serta dilepaskannya suatu mediator kimia ketika terjadi paparan ulangan dengan alergen spesifik tersebut.2 Dimana dalam dekade terakhir ini peningkatan prevalensi rhinitis alergi di seluruh dunia sekitar 6%-8%.3.3 C. Rhinitis Alergi A. Disebutkan bahwa di Indonesia pravalensi rhinitis alergi pada anak berkisar antar 9%-27% dan dewasa 22%. rasa gatal dan tersumbat setelah mukosa hidung yang terpapar alergen yang diperantarai oleh IgE. diperkirakan mencapai prevalensi 5-22%. Epidemiologi2. prevalensi ini bisa menjadi lebih tinggi.

dan tertunda. rhinitis alergi melibatkan terutama jenis . 2 . sitotoksisitas dimediasi sel). Lainnya menyarankan penambahan dua jenis lagi (rangsangan antibodi dan antibodi-dependent. Karena berbagai terapi modalitas bekerja di berbagai titik dalam reaksi ini. sitotoksik. Reaksi alergi terdiri dari 2 fase yaitu immediate phase allergic reaction atau reaksi alergi fase cepat (RAFC) yang berlangsung sejak kontak dengan alergen sampai 1 jam setelahnya dan late phase allergic reaction atau reaksi alergi fase lambat (RAFL) yang berlangsung 2-4 jam dengan puncak 6-8 jam (fase hiperreaktivitas) setelah pemaparan dan dapat berlangsung 24-48 jam. reaksi hipersensitif tipe I. penting bagi dokter untuk memiliki pemahaman umum tentang hal tersebut.8 sistem tersebut dan juga beraneka ragam mediator. komplek imun. Gell dan Coombs menggambarkan empat jenis reaksi hipersensitivitas: langsung. Rinitis alergi merupakan suatu penyakit inflamasi yang diawali dengan tahap sensitisasi dan diikuti dengan reaksi alergi.Gell dan Coombs. Namun.

IL4. IL 4. dan IL 13. sehingga sel limfosit B menjadi aktif dan akan memproduksi imunoglobulin E (IgE). IgE di sirkulasi darah akan masuk ke jaringan dan diikat oleh reseptor IgE di permukaan sel mastosit atau basofil (sel mediator) sehingga kedua sel ini menjadi aktif. Th 2 akan menghasilkan berbagai sitokin seperti IL 3. Platelet Activating Factor (PAF) dan berbagai sitokin. Gejala lain adalah hidung tersumbat akibat vasodilatasi sinusoid. IL6.9 Gambar2. 2 Setelah diproses. makrofag atau monosit yang berperan sebagai sel penyaji (Antigen Presenting Cell/APC) akan menangkap alergen yang menempel di permukaan mukosa hidung. Bila mukosa yang sudah tersensitisasi terpapar alergen yang sama. IL 5. Proses ini disebut sensitisasi yang menghasilkan sel mediator yang tersensitisasi. 2. Leukotrien D4 (LT D4). Leukotrien C4 (LT C4). (IL3. bradikinin. 2. Selain histamin merangsang ujung saraf . Reaksi Alergi Pada kontak pertama dengan alergen atau tahap sensitisasi. Kemudian sel penyaji akan melepas sitokin seperti interleukin 1 (IL 1) yang akan mengaktifkan Th0 untuk berproliferasi menjadi Th1 dan Th 2. antigen akan membentuk fragmen pendek peptida dan bergabung dengan molekul HLA kelas II membentuk komplek peptida MHC kelas II (Major Histocompatibility Complex) yang kemudian dipresentasikan pada sel T helper (Th 0). IL5.4 Histamin akan merangsang reseptor H1 pada ujung saraf vidianus sehingga menimbulkan rasa gatal pada hidung dan bersin-bersin. Selain histamin juga dikeluarkan Newly Formed Mediators antara lain prostaglandin D2 (PGD2). Inilah yang disebut sebagai Reaksi Alergi Fase Cepat (RAFC).GM-CSF (Granulocyte Macrophage Colony Stimulating Factor) dan lain-lain. maka kedua rantai IgE akan mengikat alergen spesifik dan terjadi degranulasi (pecahnya dinding sel) mastosit dan basofil dengan akibat terlepasnya mediator kimia yang sudah terbentuk (Performed Mediators) terutama histamin. Histamin juga akan menyebabkan kelenjar mukosa dan sel goblet mengalami hipersekresi dan permeabilitas kapiler meningkat sehingga terjadi rinore.4 IL 4 dan IL 13 dapat diikat oleh reseptornya di permukaan sel limfosit B.5.

Respons ini tidak berhenti sampai disini saja. dan Eosinophilic Peroxidase (EPO). IL5 dan Granulocyte Macrophag Colony Stimulating Factor (GM-CSF) dan ICAM1 pada sekret hidung.4 Pada RAFC. Pada RAFL ini ditandai dengan penambahan jenis dan jumlah sel inflamasi seperti eosinofil. IL4. Diluar keadaan serangan. limfosit. perubahan cuaca dan kelembaban udara yang tinggi. bau yang merangsang. juga menyebabkan rangsangan pada mukosa hidung sehingga terjadi pengeluaran Inter Cellular Adhesion Molecule 1(ICAM 1). Timbulnya gejala hiperaktif atau hiperresponsif hidung adalah akibat peranan eosinofil dengan mediator inflamasi dari granulnya seperti Eosinophilic Cationic Protein (ECP). serta ditemukan infiltrasi sel-sel eosinofil pada jaringan mukosa dan submukosa hidung. basofil dan mastosit di mukosa hidung serta pengingkatan sitokin seperti IL3. Eosiniphilic Derived Protein(E DP ).4 Berdasarkan cara masuknya alergen dibagi atas: 2. Terdapat juga pembesaran ruang interseluler dan penebalan membran basal. 2. Major Basic Protein (MBP). 2. netrofil. Pada fase ini. tetapi gejala akan berlanjut dan mencapai puncak 6-8 jam setelah pemaparan. 2 Gambaran yang ditemukan terdapat pada saat serangan. sehingga tampak mukosa hidung menebal.4 . iritasi oleh faktor non spesifik dapat memperberat gejala seperti asap rokok. mukosa kembali normal. sel mastosit juga akan melepaskan molekul kemotaktik yang menyebabkan akumulasi sel eosinofil dan netrofil di jaringan target. sehingga lama kelamaan terjadi perubahan yang ireversibel.10 Vidianus. selain faktor spesifik (alergen). Akan tetapi serangan dapat terjadi terusmenerus (persisten) sepanjang tahun.4 Gambaran histopatologik Secara mikroskopik tampak adanya dilatasi pembuluh (vascular bad) dengan pembesaran sel goblet dan sel pembentuk mukus. yaitu terjadi proliferasi jaringan ikat dan hiperplasia mukosa. 2.

perhiasan. reaksi berlanjut menjadi respon sekunder.4 Dengan masuknya antigen asing ke dalam tubuh terjadi reaksi yang secara garis besar terdiri dari: 2. 2. yang masuk melalui kontak kulit atau jaringan mukosa Misalnya: bahan kosmetik. . misalnya tungau debu rumah yang member gejala asma bronchial dan rhinitis alergi. udang. yang mempunyai tiga kemungkinan ialah sistem imunitas seluler atau humoral atau keduanya dibangkitkan. sehingga memberi gejala campuran. telur. serpihan epitel kulit binatang. sapi. rerumputan serta jamur. ikan laut. yang masuk melalui suntikan atau tusukan Misalnya: penisilin dan sengatan lebah. Alergen injektan. Alergen kontaktan. Bila Ag berhasil dieliminasi pada tahap ini. berupa makanan Misalnya: susu.4 1. kecoa. Bila Ag tidak berhasil seluruhnya dihilangkan. Alergen inhalan. 3. yang masuk bersama dengan udara pernapasan Misalnya: tungau debu rumah. Respon sekunder Reaksi yang terjadi bersifat spesifik. 4. reaksi selesai. 2. 2. Respon primer Terjadi proses eliminasi dan fagositosis antigen (Ag).11 1. Reaksi ini bersifat non spesifik dan dapat berakhir sampai disini. Satu macam alergen dapat merangsang lebih dari satu organ sasaran. Alergen ingestan yang masuk ke saluran cerna. kepiting dan kacangkacangan. coklat.

polinosis).5 Dahulu rhinitis alergi dibedakan dalam 2 macam berdasarkan sifat berlangsungnya. Di Indonesia tidak dikenal rhinitis alergi musiman. yaitu tipe 1. Rhinitis alergi musiman (seasonal. tergantung dari daya eliminasi Ag oleh tubuh. atau memang sudah ada defek dari sistem imunologik. Manifestasi klinis kerusakan jaringan yang banyak dijumpai dibidang THT adalah tipe 1 yaitu rhinitis alergi. tanpa variasi musim. Rhinitis alergi sepanjang tahun (perennial). dan alergen ingestan. Alergen ingestan sering merupakan penyebab pada anak-anak dan biasanya . 3. D. Reaksi ini dapat bersifat sementara atau menetap. Respon tersier Reaksi imunologik yang terjadi tidak menguntungkan tubuh. terutama pada orang dewasa. hanya ada di Negara yang mempunyai 4 musim. yaitu tepung sari (pollen) dan spora jamur. jadi dapat ditemukan sepanjang tahun. Gejala pada penyakit ini timbul intermiten atau terus menerus. hay fever.4. Alergen penyebabnya spesifik.12 Bila Ag masih ada. Alergen inhalan utama adalah alergen alergen dalam rumah (indoor) dan alergen diluar rumah (outdoor). tipe 2 atau reaksi sitotoksik/sitolitik. Gell dan Commbs mengklasifikasikan reaksi ini atas 4 tipe. atau reaksi anafilaksis (immediate hypersensitivity). gatal disertai lakrimasi). Oleh karena itu nama yang tepat adalah polinosis atau rino konjungtivitis karena gejala klinik yang tampak ialah gejala pada hidung dan mata (mata merah. 2. tipe 3 atau reaksi kompleks imun dan tipe 4 atau reksi tuberkulin (delayed hypersensitivity). yaitu: 1. Klasifikasi2. Penyebab yang paling sering ialah alergen inhalan. maka reaksi berlanjut menjadi respon tersier.

kegiatan sehari-hari. serta jika ada gejala merepotkan. kegiatan sehari-hari. olahraga atau bersantai. Seorang pasien dengan diagnosis gejala rhinitis alergi sedang sampai berat adalah jika penyakitnya berdampak terhadap gejala tidur. Pasien dengan rhinitis alergi persisten menunjukkan gejala yang lebih dari empat hari per minggu atau selama lebih dari empat minggu. Sedang sampai berat.2. kerja. sekolah. yaitu berdasarkan sifat berlangsungnya dibagi menjadi : 1. Gangguan fisiologik pada golongan perennial lebih ringan dibandingkan dengan golongan musiman tetapi karena lebih persisten maka komplikasinya lebih sering ditemukan. olahraga atau bersantai. Seorang pasien dengan rhinitis alergi intermiten menunjukkan gejala kurang dari empat hari per minggu atau kurang dari empat minggu.5 . Seorang pasien dengan diagnosis gejala ringan yaitu jika gejalagejalanya tidak mempengaruhi tidur.4. pekerjaan. Berdasarkan keparahan dan kualitas hidup: 1. Persisten (menetap). 2. Saat ini digunakan klasifikasi rhinitis alergi berdasarkan rekomendasi dari WHO Intiative ARIA (Allergic Rhinitis and Its Impact on Astma) tahun 2001. seperti urtikaria. Ringan. Intermiten (kadang-kadang). 2. pasien dengan rhinitis alergi yang berlangsung selama enam minggu dengan gejala mengganggu aktivitas normal akan dapat didiagnosis dengan moderat sampai parah dan persisten.13 disertai dengan gejala alergi yang lain. sekolah. gangguan pencernaan.

terutama pada pagi hari atau bila terdapat kontak dengan sejumlah besar debu. Perlu ditanya gejala spesifik. yang kadang-kadang disertai dengan banyak air mata keluar (lakrimasi). yaitu proses membersihkan sendiri (self cleaning process). Gejala ini disebut allergic shiner. Sering kali gejala yang timbul tidak lengkap. conventional radiography (RX). Sebetulnya bersin merupakan gejala yang normal. Gejala lain ialah keluar ingus (rinore) yang encer dan banyak. basah. and CT scan). Anamnesis Dimulai dengan menanyakan riwayat penyakit alergi dalam keluarga. respon terhadap pengobatan. identifikasi faktor predisposisi. Bila gejala persisten. Hal ini merupakan mekanisme fisiologik. terutama pada anak. Gejala rhinitis alergi yang khas adalah terdapatnya serangan bersin berulang. hidung dan mata gatal. pemeriksaan fisik (nasal examination/anterior rhinoscopy). bila terjadinya lebih dari lima kali setiap serangan. kondisi lingkungan dan pekerjaan. riwayat klinis dari gejala tipikal). pola gejala (hilang timbul. fibreoptic rhinoscopy. nasal challenge with allergen andrhinomanometry. cytology of nasal secretions. Kadangkadang keluhan hidung tersumbat merupakan keluhan utama atau satu-satunya gejala yang diutarakan oleh pasien. Pemeriksaan Fisik Pada rinoskopi anterior tampak mukosa edema. 1. hidung tersumbat. Rhinitis alergi sering disertai oleh gejala konjungtivitis alergi. 2. berwarna pucat disertai adanya sekret encer yang banyak. Bersin dianggap patologik. dan pemeriksaan penunjang (skin prick test atau pengukuran antibody spesifik alergen IgE. Selain dari itu sering juga tampak anak . Diagnosis2.14 E. Pemeriksaan nasoendoskopi dapat dilakukan bila fasilitas tersedia. terutama merupakan gejala pada RAFC (Reaksi Alergi Fase Cepat) dan kadangkadang pada RAFL (Reaksi Alergi Fase Lambat) sebagai akibat dilepaskannya histamin. menetap) beserta onset dan keparahannya. mukosa inferior tampak hipertrofi.6 Diagnosis rhinitis alergi didasarkan pada anamnesa (riwayat individu dan riwayat keluarga yang didapatkan secara terperinci. Gejala spesifik lain pada anak adalah terdapatnya bayangan gelap di daerah bawah mata yang terjadi karena stasis vena sekunder akibat obstruksi hidung.

tetap berguna sebagai pemeriksaan pelengkap. sedangkan jika ditemukan sel PMN menunjukkan adanya infeksi bakteri. Demikian pula pemeriksaan IgE total (prist-paper radio imunosorbent test) sering kali menunjukkan nilai normal. Pemeriksaan Penunjang  In vitro Hitung eosinofil dalam darah tepi dapat normal atau meningkat.2. uji intrakutan atau intradermal yang tunggal atau berseri (Skin End-point Titration/SET). yang disebut sebagai allergic crease.15 menggosok-gosok hidung.2.6 3. Keadaan ini disebut sebagai allergic salute. karena gatal. Pemeriksaan ini berguna untuk prediksi kemungkinan alergi pada bayi atau anak kecil dari suatu keluarga dengan derajat alergi yang tinggi. Ditemukannya eosinofil dalam jumlah banyak menunjukkan kemungkinan alergi inhalan. walaupun tidak dapat memastikan diagnosis. Keadaan menggosok ini lama kelamaan akan mengakibatkan timbulnya garis melintang di dorsum nasi bagian sepertiga bawah. Mulut sering terbuka. Lidah tampak seperti gambaran peta (geographic tongue). 2.6 Pemeriksaan sitologi hidung. SET dilakukan untuk alergen inhalan . dengan punggung tangan. misalnya selain rinitis alergi juga menderita asma bronkial atau urtikaria. Lebih bermakna adalah dengan RAST (Radio Immuno Sorbent Test) atau ELISA (Enzyme Linked Immuno SorbentAssay Test). sehingga akan menyebabkan gangguan pertumbuhan gigi geligi (facies adenoid).6  In vivo Alergen penyebab dapat dicari dengan cara pemeriksaan tes cukit kulit. serta dinding lateral faring menebal. Jika basofil (5 sel/lap) mungkin disebabkan alergi makanan. kecuali bila tanda alergi pada pasien lebih dari satu macam penyakit. Dinding posterior faring tampak granuler dan edema (cobblestone appearance).

. jadi pemeriksaan igE total terbatas manfaatnya. Namun kadangkala adanya eosinofil dalam sekret hidung dapat dijumpai pada non-rhinitis alergi.6 Untuk alergi makanan. Diagnosis biasanya ditegakkan dengan diet eliminasi dan provokasi (Challenge Test´). uji kulit seperti tersebut diatas kurang dapat diandalkan.6 Alergen ingestan secara tuntas lenyap dari tubuh dalam waktu lima hari.6 a.7 b. ini dapat terjadi pada penderita alergi atau pada penderita dengan infestasi parasit dan 50% penderita rhinitis alergi musiman (RAS) kadar IgEnya normal. Eosinofil tidak dapat ditemukan pada penderita yang mengalami perbaikan. dan mendapat terapi kortikosteroid fokal atau sistemik. IgE Total IgE total dianggap meningkat bila lebih dari 100-159 kU/I. Tes Kulit Tes kulit terhadap suatu alergen diindikasikan untuk memberikan bukti adanya dasar alergi pada gejala penderita. Keuntungan SET. Tes kulit ini lebih disukai karena sederhana. selanjutnya diamati reaksinya. 2.16 dengan menyuntikkan alergen dalam berbagai konsentrasi yang bertingkat kepekatannya. Pada diet eliminasi. Karena itu pada Challenge Test. Pemeriksaan Sitologi Hidung Apabila pada pemeriksaan sitologi sekret hidung didapatkan lebih dari 10% eosinofil maka dapat diindikasikan rhinitis alergi. infeksi. 2. untuk mengkonfirmasi penyebab keluhan yang dicurigai atau untuk melihat derajat sensitifitas untuk alergi terrtentu. cepat. makanan yang dicurigai diberikan pada pasien setelah berpantang selama 5 hari. selain alergen penyebab juga derajat alergi serta dosis inisial untuk desensitisasi dapat diketahui.7 c. jenis makanan setiap kali dihilangkan dari menu makanan sampai suatu ketika gejala menghilang dengan meniadakan suatu jenis makanan.

adalah lebih sensitif tetapi kurang spesifik daripada tes percutaneous. harus dikerjakan dengan teknik yang benar untuk mendapatkan hasil yang akurat. sehingga tidak dilakukan untuk pemeriksaan rutin. atau melalui uji intracutaneous (intradermal) dimana sejumlah kecil larutan uji disuntikkan ke dalam kulit.7 d. Tidak jelas metode mana lebih unggul. Intepretasi hasil tes kulit yang tepat perlu pengetahuan. aman.17 mudah.7 Rhinitis alergi memiliki respon immediate atau respon delayed. relatif murah. Namun tujuan utama skin test adalah untuk mendeteksi langsung respon alergi yang ditimbulkan oleh pelepasan sel mast atau basofil mediator spesifik Ig E. Kadang-kadang test intradermal digunakan (kebanyakan oleh peneliti dan subspesialis alergi). Test Percutaneous adalah jenis yang paling umum yang di uji pada kulit dan lebih disukai dalam primer care karena nyaman. dapat diterima. dan kepekaan klinisnya lebih baik daripada uji intrakutaneus. Tes Provokasi Tes provokasi hidung dengan alergen sangat bermanfaat pada penelitian. namun potensi terjadinya serangan alergi. Dalam tes provokasi hidung mukosa . aeroallergen apa yang penting secara lokal dan klinis penting memungkinkan adanya reaksi silang. Tes kulit (Skin test) dapat ditimbulkan dari kedua respon tersebut. Pada saat pemeriksaan kulit. Menurut literature uji tusukan lebih disukai untuk pengujian awal. kurang nyaman. yang mana menyebabkan reaksi setelah 15 menit. lebih cepat. namun terdapat peningkatan kekhawatiran keamanan menggunakan tes kulit intradermal.7 Tes kulit melibatkan perkenalan yang dikendalikan alergen dan zat kontrol ke dalam kulit. dan luas. dan sensitifitas tinggi. Tes kulit (skin-test) alergi dilakukan dengan uji tusukan yaitu dengan menempatkan setetes larutan uji pada kulit dan menusuk melalui drop dengan alat yang tajam. karena lebih murah. Pada respon delayed terjadi empat sampai delapan jam setelah terpapar alergen tersensitiasasi dan kurang berguna dalam diagnos klinis.

Provokasi adalah alat yang berguna dalam pekerjaan penelitian dan dalam kasus untuk verifikasi diagnosis alergi dibutuhkan. Immunoassay Pemeriksaan rasioallergo test (RAST) dan enzyme link immune sorbent test (ELISA). Metode lain yang sederhana adalah dengan mengukur volume sekresi yang timbul. dengan disemprot atau dinebul ke dalam hidung (diuapkan) atau rongga hidung dicuci dengan larutan uji untuk aplikasi topikal dapat dilakukan dengan kertas disk. Ditimbang disaputangan. frekuensi penggunaan. Rinomanometri diterima secara luas sebagai metode objektif yang akurat sebagai respon dalam mengukur perubahan dalam saluran napas hidung resistensi (NAR). Sensasi sekresi hidung subjek. staf pelatihan) atau jika pasien menjalani . masalah dengan penyimpanan reagen. Selain itu digunakan untuk menilai reaktivitas non-spesifik pada hidung dan reaksi yang telah diinduksi dengan beberapa zat kimia dan juga dengan rangsangan fisik.7 e. discharge hidung dan pembengkakkan mukosa dengan rhinoscopy. keahlian. Perbedaan bobot mencerminkan jumlah sekresi dikumpulkan dalam jangka waktu yang tetap. dikumpulkan dengan membiarkan menetes ke dalam saluran dengan mengisap. Ada beberapa teknik provokasi hidung yaitu dengan agen larut yang ditetes kedalam hidung. Dalam pekerjaan klinis.18 hidung dipaparkan dengan alergen atau bahan iritan dan kemudian reaksi dipantau. mayoritas pengujian provokasi dilakukan dengan alergen. gatal-gatal dan kongesti pada semiquantitative skor atau skala analog visual. jika tes perkutaneus tidak praktis misalnya. Test alergen antibody spesifik IgE radioallergosorbent testing (RAST]) adalah bermanfaat pada primary care. Menghitung bersin merupakan cara yang sederhana untuk menilai respon iritasi. untuk memeriksa pelepasan mediator selama reaksi alergi dengan mengukur mediator/enzim yang dilepaskan dalam darah. Hasil dari provokasi dapat dinilai dengan pengamatan berupa bersin. sekresi ke disk kertas preweighed dan reweighed.

Deviasi septum 7. serbuk sari). Cerebrospinal rhinorrhea 5. antidepresan trisiklik. atau alergi obat. Rhinitis non-alergi  Infeksi dan rhinitis diinduksi obat  Rhinitis hormonal  Rhinitis dari penyebab lainnya  Gastro-oesophageal reflux  Rinitis vasomotor dan idiopatik 2. asma. rhinitis. Tumor benigna/maligna 6. Tes alergi pada anak-anak memiliki tantangan tersendiri.7 1. tetapi kurang berguna dalam mengidentifikasi makanan. racun. antihistamin. alergi makanan). Beberapa literatur merekomendasikan bahwa dasar keputusan melakukan test oleh sang dokter adalah berdasarkan riwayat klinis. Diagnosa banding6. rekomendasi usia dewasa.19 pengobatan yang terganggu dengan adanya test pada kulit (skin test) misalnya. Blocked nostril (choanal atresia) 9. Polyposis 3. Banyak literatur memberikan rekomendasi berdasarkan bukti untuk test alergi pada anak dengan berbagai penyakit alergi (misalnya. RAST sangat spesifik namun umumnya tidak sensitif seperti skin test. Foreign bodies 8. melakukan tes hanya bila diperlukan untuk mengubah terapi atau untuk memperjelas diagnosis. RAST berguna untuk mengidentifikasi alergen umum (misalnya.7 F. tungau debu. Penyakit granulomatous . Tes perkutaneus sesuai untuk anak-anak tiga tahun dan lebih tua dan RAST biasanya tepat pada usia berapa pun. bulu hewan peliharaan. Ciliary defects 4.

Non Farmakoterapi Menghindari faktor alergen merupakan terapi yang pertama kali perlu dilakukan. meningkatkan produksi mukus dan mencegah pruritus. Farmakoterapi Saat memilih terapi yang cocok bagi rhinitis alergi. Pada tes in vitro. mencegah kontraksi otot polos. Obat ini memblokir reseptor H1 menghalangi terjadinya reaksi histamin seperti mencegah peningkatan permeabilitas vaskuler. beberapa hal yang menjadi pertimbangan adalah keadaan penyakit penderita saat itu. penderita tidak dianjurkan untuk mengkonsumsinya beberapa hari sebelum dilakukan tes cukit kulit karena hasilnya dapat menjadi negatif. dan pruritus namun kurang berpengaruh pada reaksi alergi fase lambat (RAFL) contohnya sumbatan hidung (nasal congestion/blockers). mengkonsumsi antihistamin tidak akan berpengaruh pada hasil tes. 2. umur. Antihistamin sangat efektif pada reaksi alergi fase cepat (RAFC) sehingga dapat mencegah gejala bersin. hidroksizin. klorfeniramin dan bromfeniramin. gejala saluran pernafasan lain yang ada di penderita serta riwayat. gejala yang paling dominan. a. rinore.7 1. Antihistamin Antihistamin banyak dipilih sebagai terapi lini pertama dan banyak dari tipe antihistamin bisa dibeli tanpa resep dokter. Menghindari alergen kausal merupakan dasar pendekatan untuk mencegah munculnya gejala alergi.20 G. Penatalaksanaan6. Oleh karena obat ini menghilangkan gejala reaksi histamin di kulit. riwayat pengobatan yang sebelumnya. Antihistamin generasi pertama yang banyak bisa dibeli tanpa resep mempunyai efek sedasi sehingga berpengaruh terhadap penurunan prestasi dan tumpuan penderita Efek samping yang lain adalah efek antikolinergik yang dapat mengakibatkan mulut kering contohnnya difenhidramin. .

Efektifitasnya tergantung pemakaian yang sering dan keadaan hidung yang adekuat untuk inhalasi obat. Pemakaiannya cukup sekali sehari dan tidak menimbulkan efek penggunaan jangka panjang contohnya loratadin dan levosetirisin. Pemberiannya adalah melalui intramuskular atau per oral. Formulasi mutakhir seperti triamsinolon. kerja cepat dan menghilangkan gejala dalam waktu sejam. Namun pada penggunaan jangka . Obat ini bertindak terhadap inflamasi justru menurunkan gejala rhinitis alergi secara signifikan. Obat ini turut bekerja pada RAFL sehingga mencegah terjadinya peningkatan sel inflamasi yang mendadak.21 Generasi kedua sangat kecil sekali kemungkinan mengikat reseptor H1 sentral. penurunan dosis secara tapering off diberikan dalam tiga sampai tujuh hari. Kortikosteroid intranasal Kortikosteroid intranasal mungkin adalah terapi yang paling efektif bagi tiap tingkat gejala rhinitis alergi. budesonid dan flutikason mempunyai ciri absorpsi sistemik yang minimal dengan hampir tiada efek samping sistemik sehingga aman pada tiap golongan umur termasuk anak-anak. Efek samping lokal seperti hidung kering dan epistaksis dapat diregulasi dengan instruksi pemakaian yang benar. Jika lewat oral.7 c.7 b. Golongan ini diabsorpsi secara baik. Keberhasilan maksimal timbul pada minggu pertama sampai kedua dari hari pertama penggunaan.6. sehingga mengurangi efek sedasi serta tidak berefek antikolinergik. Kortikosteroid sistemik Preparat ini sesuai bagi gejala sangat berat yang menetap.

Dekongestan Dekongestan bekerja pada reseptor α-adrenergik di hidung.7 e. dan pruritus.6. Kongesti rongga hidung berkurang namun obat ini tidak mengatasi gejala lainnya seperti rinore.7 . d. Obat ini banyak ditemukan dalam preparat flu yang bisa dibeli tanpa resep namun pemakaian pada penderita dengan kelainan jantung dan hipertensi harus dengan berhati-hati. Contohnya adalah ipatrium bromida dan obat ini dapat digunakan dengan obat alergi lainnya terutama bagi penderita dengan rhinitis alergi tipe sepanjang tahun (perennial). Antikolinergik intranasal Obat ini berpengaruh dalam mengurangi gejala rinore namun tidak gejala lainnya.22 panjang dapat timbul efek samping yang serius seperti penekaan aksis HPA dan efek samping kortikosteroid sistemik lain yang lazim ditemukan. menimbulkan efek vasokonstriksi sehingga kongesti nasal dikurangi.6. Dekongestan intranasal seperti oksimetazolin dapat menimbulkan kekambuhan kongesti nasal serta menimbulkan ketergantungan pada pemakaian lebih dari tiga hari (rhinitis medikamentosa). bersin.

harus ditentukan alergen yang tepat pada penderita. g. Sebelum memulai imunoterapi. Kromolin intranasal Preparat ini harus digunakan sebelum munculnya gejala untuk menjadi efektif.2. Indikasi imunoterapi adalah penggunaan farmakoterapi jangka panjang.7 4. Inhibitor leukotrien Obat ini mengatasi kelebihan plasebo dalam menangani rhinitis alergi namun masih jauh ketinggalan efeknya berbanding antihistamin dan kortikosteroid intranasal. Teknik lain adalah pemberian secara sublingual yang terutama dianuti di Eropa.6. Mekanisme kerja terapi imun ini masih belum jelas dimengerti.23 f. Penggunaannya harus sepanjang paparan terhadap alergen dengan dosis sehingga empat kali sehari dan cukup aman bagi penderita. Teknik ini lebih aman dan mudah dilakukan sendiri oleh penderita di rumah. Imunoterapi Tujuan terapi ini adalah untuk meningkatkan ambang batas (threshold) sebelum munculnya gejala pada penderita yang terpapar pada alergen. 3. Operatif . terapi farmakologi yang tidak adekuat dan tidak dapat ditoleransi oleh penderita serta sensitifitas signifikan terhadap alergen. Di Amerika Serikat yang biasa dilakukan adalah penyuntikan alergen secara subkutan yang gradual sehingga timbul reaksi sistemik yang ringan atau reaksi lokal yang berat.

2. 3. bahwa alergi hidung merupakan salah satu faktor penyebab terbentuknya polip hidung dan kekambuhan polip hidung. Polip hidung Beberapa peneliti mendapatkan. Kedua komplikasi yang terakhir bukanlah sebagai akibat langsung dari rhinitis alergi. tetapi karena adanya sumbatan hidung. pasien dapat hidup normal.24 Tindakan konkotomi (pemotongan konka inferior) perlu dipikirkan bila konka inferior hipertrofi berat dan tidak berhasil dikecilkan dengan cara kauterisasi memakai AgNO3 25% atau triklor asetat. Setelah masa tersebut. H.8 .7 Komplikasi rhinitis alergi yang sering ialah: 1. Prognosis Sebagian besar pasien dengan rhinitis alergi tanpa komplikasi yang respon dengan pengobatan memiliki prognosis baik. Komplikasi6. I. Perjalanan penyakit rhinitis alergi dapat bertambah berat pada usia dewasa muda dan tetap bertahan hingga decade lima dan enam. terutama pada anak-anak. Prognosis yang terjadi dapat dipengaruhi banyak faktor termasuk status kekebalan tubuh maupun anomali anatomi. Rhinitis alergi mungkin dapat timbul kembali dalam 2-3 tahun setelah pemberhentian imunoterapi. sehingga menghambat drainase. Otitis media efusi yang sering residif. Hanya pasien yang mendapat imunoterapi untuk alergen spesifik yang dapat sembuh dari penyakitnya dan banyak juga pasien yang melakukan pengobatan simtomatik saja secara intermiten dengan baik. gejala klinik akan jarang ditemukan karena menurunnya system kekebalan tubuh. Sinusitis paranasal.

rinore. Pasien dengan rhinitis alergi tanpa komplikasi yang respon dengan pengobatan memiliki prognosis baik. 5. Rhinitis alergi adalah kelainan berupa inflamasi pada hidung dengan gejala bersin-bersin. .1 BAB III KESIMPULAN 1. dimana apabila tidak dapat disingkirkan dapat dibantu dengan terapi medika mentosa hingga pembedahan. 2. Pengobatan paling efektif dari rhinitis alergi adalah menyingkirkan faktor penyebab yang dicurigai (avoidance). Peran lingkungan pada kejadian rhinitis alergi adalah sangat penting. 4. Rinitis alergi dan atopi secara umum disebabkan oleh interaksi dari pasien yang secara genetik memiliki potensi alergi dengan lingkungan. rasa gatal. dan tersumbat setelah mukosa hidung terpapar alergen yang diperantarai oleeh IgE. 3. ditinjau dari faktor alergen yang mensensitisasi terjadinya penyakit ini.