Anda di halaman 1dari 7

BAB II

PEMBAHASAN
A. Manusia Sebagai Khalifatullah
Fungsi dan kedudukan manusia di dunia ini adalah sebagai khalifah di bumi. Tujuan
penciptaan manusia di atas dunia ini adalah untuk beribadah. Sedangkan tujuan hidup
manusia di dunia ini adalah untuk mendapatkan kesenangan dunia dan ketenangan akhirat.
Jadi, manusia di atas bumi ini adalah sebagai khalifah, yang diciptakan oleh Allah dalam
rangka untuk beribadah kepada-Nya, yang ibadah itu adalah untuk mencapai kesenangan di
dunia dan ketenangan di akhirat.
Apa yang harus dilakukan oleh khalifatullah itu di bumi? Dan bagaimanakah manusia
melaksanakan ibadah-ibadah tersebut? Serta bagaimanakah manusia bisa mencapai
kesenangan dunia dan ketenangan akhirat tersebut? Banyak sekali ayat yang menjelaskan
mengenai tiga pandangan ini kepada manusia. Antara lain seperti disebutkan pada Surah AlBaqarah ayat 30:
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku
hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau
hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan
menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan
mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak
kamu ketahui“. (Q.S. Al-Baqarah: 30)
Khalifah adalah seseorang yang diberi tugas sebagai pelaksana dari tugas-tugas yang
telah ditentukan. Jika manusia sebagai khalifatullah di bumi, maka ia memiliki tugas-tugas
tertentu sesuai dengan tugas-tugas yang telah digariskan oleh Allah selama manusia itu
berada di bumi sebagai khalifatullah. Jika kita menyadari diri kita sebagai khalifah Allah,
sebenarnya tidak ada satu manusia pun di atas dunia ini yang tidak mempunyai “kedudukan”
ataupun “jabatan”. Jabatan-jabatan lain yang bersifat keduniaan sebenarnya merupakan
penjabaran dari jabatan pokok sebagai khalifatullah. Jika seseorang menyadari bahwa jabatan
keduniawiannya itu merupakan penjabaran dari jabatannya sebagai khalifatullah, maka tidak
ada satu manusia pun yang akan menyelewengkan jabatannya. Sehingga tidak ada satu
manusia pun yang akan melakukan penyimpangan-penyimpangan selama dia menjabat.
Jabatan manusia sebagai khalifah adalah amanat Allah. Jabatan-jabatan duniawi, misalkan
yang diberikan oleh atasan kita, ataupun yang diberikan oleh sesama manusia, adalah
merupakan amanah Allah, karena merupakan penjabaran dari khalifatullah. Sebagai
khalifatullah, manusia harus bertindak sebagaimana Allah bertindak kepada semua
makhluknya.
Pada dasarnya, semua makhluk Allah di atas bumi ini beribadah menurut kondisinya.
Paling tidak, ibadah mereka itu adalah bertasbih kepada Allah. Disebutkan dalam Al-Qur’an
Surah Al-Baqarah:
Yushabbihu lillahi ma fissamawati wama fil ardh.
Bebatuan, pepohonan, gunung, dan sungai misalkan, semuanya beribadah kepada
Allah dengan cara bertasbih. Dalam hal ini, janin yang berada di dalam rahim ibu beribadah
sesuai dengan kondisinya, yaitu dengan cara bertasbih. Ketika Allah akan meniupkan roh ke
dalam janin, maka Allah bertanya dulu kepada janin tersebut. Allah mengatakan “Aku akan
meniupkan roh ke dalam dirimu. Tetapi jawab dahulu pertanyaan-Ku, baru Aku akan tiupkan
roh itu ke dalam dirimu. Apakah engkau mengakui Aku sebagai Tuhanmu?” Lalu dijawab
oleh janin tersebut, “Iya, aku mengakui Engkau sebagai Tuhanku.”
Dari sejak awal, ternyata manusia itu sebelum ada rohnya, atau pada saat rohnya akan
ditiupkan, maka Allah menanyakan dahulu apakah si janin mau mengakui-Nya sebagai
Tuhan. Jadi, janin tersebut beribadah menurut kondisinya, yaitu dengan bertasbih kepada

maka akan diberikan siksaan oleh Allah. zakat. Di sisi lain ada juga keberadaan yang tidak dapat diketahui dengan perasaan tapi dengan nalar. maka takkan ada manusia yang melakukan penyimpangan. empiris maupun meta empiris. artinya segala sesuatu yang ada atau yang muncul yang dapat diemukan atau dirasakan pada diri manusia baik secara fisis maupun metafisis. Mana lain dari istilah wujud (eksisensi) dan suatu keberadaan yang dirasakan. wujd. 2. Dalam bentuk wajd. Tidak ada makhluk Allah satupun yang tidak bertasbih kepada-Nya Manusia mulai melakukan penyimpangan dan pembangkangan terhadap Allah yaitu pada saat ia berusia akil baligh hingga akhir hayatnya. yakni wujud yang tidak tergantung pada yang lain. Sedangkan ibadah ghairu mahdhah adalah semua aktifitas kita yang bukan merupakan ibadah mahdhah tersebut. Manusia Dalam Prespektif Kekhalifahan 1. akal dan badan. wajd (nirwana) dan wujd. ditemukan dan ditentukan oleh panca indera. seperti ditegaskan oleh Allah di dalam firman-Nya: Wa ma khalaqtul jinna wal insa illa li ya’budu. Beberapa unsur yang dimaksud itu adalah ruh. Tetapi. Hal yang sama juga dikemukakan oleh M. Menurut Ibnu Qoyyim.Allah. Ibadah mahdhah antara lain: shalat. Sedangkan bagi yang melaksanakannya. dan mempunyai milik pada akhirnya mengantarkan pada wujud independen. Dalam pandangan Islam. dan haji. Eksistensi Manusia dalam Perspektif Kekhalifahan Manusia mempunyai keistimewaan dibanding dengan makhluk Tuhan yang lainnya dimuka bumi ini. Eksistensi berasala dari akar kata kerja wajada. ditemukan dalam bahasa arab. Qutb bahwa dalam perspektif islam eksistensi manusia yang merupakan paduan antara ketiga unsur tersebut merupakan satu kesatuan yang terpadu dan saling berkaitan. sedangkan ibadah ghairu mahdhah adalah ibadah tidak langsung. Makna sederhana dari khalifatullah adalah “pengganti Allah di bumi”. ibadah itu ada dua macam. hakikat diri manusia itu merupakan paduan antara beberpa unsur yang saling berkaitan dan tidak mungkin dipisahpisahkan antara satu dengan yang lainnya. yaitu: ibadah primer (ibadah mahdhah) dan ibadah sekunder (ibadah ghairu mahdhah). wijdan (sadar). antara lain: bekerja. masak. Karena itu dapat dikatakan bahwa ada sesuatu yang dapat dirasakan panca indera. manusia memiliki tugas dan kewajiban yang berbeda dengan makhluk yang lain. bentuk kata ini berarti “menemukan” dan turunnya adalah wujud (ada). Artinya manusia sebagai kenyataan faktual terdiri atas bagian-bagian yang membentuk suatu komposisi yang menunjukkan keberadaannya. “Tidak Aku ciptakan manusia dan jin kecuali untuk menyembah kepada-Ku.” Kalau begitu. maka akan langsung diberikan ganjaran oleh Allah. sepanjang hayat kita sebenarnya adalah untuk beribadah kepada Allah. jika kita ingat fungsi kita sebagai khalifatullah. Masing-masing dari ketiga unsur tersebu memiliki daya aau potensi yang saling mendukung dan melengkapi dalam perjalanan hidup manusia. dan menuntut ilmu. Karena keistimewaannya itu. puasa. Ada pengertian eksistensi manusia oleh Al-Ghazalli didefinisikan sebagai komposisi yang meperlihatkan keberadaan manusia dalam suatu totalitas. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa eksisensi manusia berarti keberadaan manusia. Setiap detik dari kehidupan kita ini harus diarahkan untuk beribadah kepada Allah. Eksistensi manusia Istilah eksistensi mempunyai makna yang terkaya dan terdalam. dan wijdan berarti “mempunyai milik”. B. Seseorang yang meninggalkan ibadah mahdhah. badan yang bersifat materi tidak bisa dipisahkan dengan akal dan ruh yang bersifat imateri. makan. Keistimewaan ini bisa dilihat dari sisi penciptaan fisik maupun personalitas karakternya. . Ibadah mahdhah adalah ibadah yang langsung.[14]hal ini dapat kita lihat dalam Surat Al-Baqarah ayat 30-33 yang memaparkan proses kejadian manusia dan pengangkatannya sebagai khalifah. Eksistensi manusia merupakan perpaduan antara beberapa unsur yang tidak bisa dipisah-pisahkan.

Sementara hal ini adalah mustahil bagi Allah. Memelihara Bumi Melihara bumi dalam arti luas termasuk juga memelihara akidah dan akhlak manusianya sebagai SDM (sumber daya manusia). 2. Kedua. dan janganlah kamu melupakan bahagianmu . misalnya saja kaum bani Israil.Proses kejadian inilah yang dapat memberikan pengertian kedudukan manusia sebagai khallifatullah dalam Alam Semesta. Tugas dan Peranan Manusia Dimuka Bumi Ketika memerankan fungsinya sebagai khalifah Allah di muka bumi. dengan tetap menjaga kekayaan agar tidak punah. Petunjuk yang dimaksud adalah agama (Islam). hal semacam itu perlu dihindari. memakmurkan bumi (al ‘imarah). Memelihara dari kebiasaan jahiliyah. Sebab jika demikian berarti Allah mengadakan musyawarah dengan hambanya dalam melakukan penciptaan. yakni dijadikan sebagai khalifah atau penguasa (pengatur) bumi. Seperti firmannya dalam surat Al Qashash ayat 77 yang berbunyi: Teks lihat “google Al-Qur’an onlines” Artinya: dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat. Allah menciptakan alam semesta ini tidak sia-sia. 1. Oleh karena itu. maka ayat diatas merupakan tamsil atau perumpamaan dari Allah agar mudah dipahami oleh manusia. karena sesungguhnya manusia lebih banyak yang membangkang dibanding yang benar-benar berbuat shaleh sehingga manusia akan cenderung untuk berbuat kerusakan. Manusia harus mengeksplorasi kekayaan bumi bagi kemanfaatan seluas-luasnya umat manusia. Musthafa Al-Maraghi Menurut Musthfa Al-Maraghi Q. Pertama. Menurutnya dalam kisah penciptaan Adam yang terdapat dalam ayat tersebut mengandung hikmah dan rahasia yang oleh Allah diungkap dalam bentuk dialok antara Allah dengan malaikat. Mengapa Allah memerintahkan umat nabi Muhammad SAW untuk memelihara bumi dari kerusakan?. Sebagaimana diungkapkan beberapa penafsir berikut: a. yaitu merusak dan menghancurkan alam demi kepentingan sesaat. seperti yang Allah sebutkan dalam firmannya dalam surat Al Isra ayat 4 yang berbunyi :Teks lihat “google Al-Qur’an onlines” Artinya : dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam kitab itu: “Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar“. Sehingga generasi selanjutnya dapat melanjutkan eksplorasi itu. memelihara bumi dari upaya-upaya perusakan yang datang dari pihak manapun (ar ri’ayah). Karena ayat ini kemudian diartikan dengan pemberitaan Allah pada para malaikat tentang penciptaan Khalifah di Bumi yang kemudian para Malaikat mengadakan sanggahan. Al-Baqarah ayat 30-33 menceritakan tentang kisah kejadian umat manusia. Maksudnya. Penciptaan manusia mempunyai tujuan yang jelas. Memakmurkan Bumi Manusia mempunyai kewajiban kolektif yang dibebankan Allah SWT. Berdasarkan tersebut. manusia diciptakan oleh Allah agar memakmurkan kehidupan di bumi sesuai dengan petunjukNya. Maka sepatutnyalah hasil eksplorasi itu dapat dinikmati secara adil dan merata. C. (QS Al Isra : 4) Sebagai seorang muslim dan hamba Allah yang taat tentu kita akan menjalankan fungsi sebagai khalifah dimuka bumi dengan tidak melakukan pengrusakan terhadap Alam yang diciptakan oleh Allah SWT karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. hal ini sudah terjadi pada masa nabi – nabi sebelum nabi Muhammad SAW dimana umat para nabi tersebut lebih senang berbuat kerusakan dari pada berbuat kebaikan.S. Ayat ini termasuk ayat Mutasyabihat yang tidak cukup dipahami dari segi dhahirnya ayat saja. Karena sumber daya manusia yang rusak akan sangata potensial merusak alam. ada dua peranan penting yang diamanahkan dan dilaksanakan manusia sampai hari kiamat. khususnya mengenai proses kejadian Adam dan keistimewaannya.

Keikhlasan merupakan salah satu kunci bagi diterimanya suatu amal oleh Allah SWT dan ini akan berdampak sangat positif bagi manusia yang melaksanakan suatu amal. tentu akan menjadi amal yang terasa sangat berat untuk mengamalkannya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. apakah dia bisa menjalankan tugas dan peran yang telah digariskan Allah atau tidak. Untuk menegakkannya. dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. paling tidak ada tiga kriteria yang harus kita penuhi. Ketiga. maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya. kepadamu. manusia harus menegakkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan serta menyiarkan kebaikan dan kemaslahatan. terutama kesulitan dari dalam diri para penegaknya. maka upaya menegakkan kebaikan dan kebenaran tidak akan menghadapi kesulitan. lakukan segala sesuatu dengan niat yang ikhlas karena Allah SWT. apalagi amal yang memang sudah ringan. bukan membenarkan segala cara. "Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Pertama. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh.6). Tanpa kebenaran dan keadilan serta kebaikan . salah satunya manusia diciptakan dengan sebaik-baik bentuk penciptaan. "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. apalagi manusia memiliki kelebihan-kelebihan yang tidak dimiliki oleh makhluk yang lain." (2: 30). Bila ini yang terjadi. tanpa keikhlasan. (QS AL Qashash : 7) Manusia dengan makhluk Allah lainnya sangat berbeda. maka ia akan dimasukkan ke dalam neraka dengan segala kesengsaraannya. sebagaimana yang telah digariskan oleh Allah SWT dan dicontohkan oleh Rasul-Nya. tetapi tergantung pada. Allah SWT berfirman yang artinya. Allah SWT berfirman yang artinya. Paling kurang ada tiga tugas dan peran yang harus dimainkan oleh manusia dan sebagai seorang muslim. yakni ridha-Nya." (51: 56). Kedua. seharusnya dijalani dalam kerangka ibadah kepada Allah SWT. tetapi menjalankannya dalam kehidupan ini agar kehidupan umat manusia bisa berjalan dengan baik dan menyenangkan.dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik. apalagi amal yang jelas-jelas berat untuk dilaksanakan. lakukan segala sesuatu dengan cara yang benar. sebagaimana firman-Nya yang artinya. Beribadah kepada Allah SWT merupakan tugas pokok. hal ini karena hambatan-hambatan itu seringkali terjadi karena manusia memiliki kepentingan-kepentingan lain yang justru bertentangan dengan ridha Allah SWT. adalah lakukan segala sesuatu dengan tujuan mengharap ridha Allah SWT dan ini akan membuat manusia hanya punya satu kepentingan. bahkan satu-satunya tugas dalam kehidupan manusia sehingga apa pun yang dilakukan oleh manusia dan sebagai apa pun dia. maka tidak ada penyimpangan-penyimpangan dalam kehidupan ini yang membuat perjalanan hidup manusia menjadi sesuatu yang menyenangkan. namun kemuliaan manusia bukan terletak pada penciptaannya yang baik." (95: 4 -. Nilai-nilai dan segala ketentuan yang berasal dari Allah SWT harus ditegakkan dalam kehidupan di dunia ini. Agar segala yang kita lakukan bisa dikategorikan ke dalam ibadah kepada Allah SWT. Manakala seorang muslim telah menjalankan segala sesuatu sesuai dengan ketentuan Allah SWT. kita bukan hanya harus mengetahuinya. ia tidak merasakannya sebagai sesuatu yang berat. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka). karena meskipun apa yang harus dilaksanakannya itu berat. manusia diperankan oleh Allah SWT sebagai khalifah (wakil) Allah di muka bumi ini untuk menegakkan syariat-syariat-Nya. "Dan Aku tidak menciptakan manusia kecuali supaya mereka menyembah-Ku. amal yang ringan sekalipun akan terasa menjadi berat. ini merupakan perkara yang sangat mendasar untuk bisa diterapkan. bila tidak. Sebaliknya. Untuk bisa menjalankan fungsi khalifah.

meskipun ia tekun ruku’. maka tugas kekhalifahan manusia akan gagal." (4: 58). Dalam kaitan ini menurut konsepsi Al-Qur’an manusia juga sering disebut sebagai khalifah dalam pengertian kuasa (mandataris. Dalam beberapa ayat juga disebutkan bahwa manusia memiliki kehidupan ideal dan dari kehidupan ideal itu manusia didorong kepada kehidupan riil agar ia dapat teruji sebagai makhluk fungsional (Q. karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. tidak mungkin tatanan kehidupan umat manusia bisa diwujudkan. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. Tanpa pengetahuan atau pemanfaatan potensi berpengetahuan. artinya manusia dapat menentukan masadepanya atas dasar pengeahuan tentang diri. hidup atau kehidupan riil adalah hidup di bumi sekaligus mati di bumi. maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu. suatu kebebasan yang menyebabkan manusia dapat memilih tingkah lakunya sendiri. karena kelebihan yang dianugerahkan Allah kepada manusia berupa ilmu pengetahuan. Peran ini dilakukan secara sadar dan melalui kehendak bebasnya. dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya menetapkannya dengan adil. yang semuanya merupakan amanah baginya. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. "Hai Daud. "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.dan kemaslahatan. sujud dan beribadah kepada Allah sebagaimana yang dilakukan oleh malaikat. Manusia selaku khalifah memiliki kebebasan berkehendak (free will). Kemuliaan manusia ini menunjukkan bahwa manusia dibanding dengan makhluk lain memiliki keistimewaan yang membawanya kepada kedudukan yang istimewa pula yaitu khalifah. karenanya hal ini merupakan sesuatu yang sangat ditekankan oleh Allah SWT kepada manusia sebagaimana terdapat dalam firman-Nya yang artinya. sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi. Makna Dan Peran Kekhalifahan Manusia Di Bumi Manusia dipilih sebagai khalifatullah. Allah SWT berfirman yang artinya. Manusia mampu berperan menenukan nasib mereka sendiri. Maksudnya. . salah satu yang menjadi penopang utamanya adalah penegakkan hukum secara adil sehingga siapa pun yang bersalah akan dikenai hukuman sesuai dengan tingkat kesalahannya. tapi tetapp dinilai sebagai makhluk yang tidak memliki kemampuan untuk menjadi khalifah.S. D." (Shad: 26). Manusia dibekali akal yang dengan akal itu manusia mampu membuat pilihan antara yang benar dan yang salah. Ayat-ayat diatas yang menyampaikan tentang pengajaran Allah kepada manusia memberikan pengertian bahwa untuk dapat menjalankan fungsi dan peran kekhalifahan diperlukan modal atau syarat yaitu ilmu. Hal ini senada dengan pendapat Quraish Shihab bahwa pengetahuan atau potensi yang berupa kemampuan menyebutkan nama-nama itu merupakan sayrat sekaligus modal bagi Adam (Mnusia) untuk mengelola bumi ini. Dalam status itulah manusia terkait dengan berbagai hak. kehidupan disekeliling mereka dan berdasarkan intelekualitas serta pemeliharaan diri secara baik. sebagaimana diuraikan diatas. Al-Mulk/67:2). serta tanggungjawab. Meski malaikat merupakan makhluk yang paling taat. yang tidak diberikan kepada makhluk Allah yang lain termasuk malaikat. Dalam kedudukan ini manusia diiberi peran untuk membangun dan mengembangkan dunia baik secara sendiri-sendiri (individualistik) maupun bersamasama(sosial). karenanya ini menjadi persyaratan utama bagi manusia untuk menjalankan fungsi khalifah pada dirinya. Untuk bisa memperoleh kehidupan yang baik di dunia ini. karena ia tidak memiliki ilmu atau pengetahuan tentang hal itu. bukan penguasa). kewajiban. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat karena mereka melupakan hari perhitungan.

Memelihara serta mengelola lingkungan hidup unuk kemanfaatan bersama. ada dua peranan penting yang diamanahkan dan dilaksanakan manusia sampai hari kiamat. Al-Baqarah: 30) M. yang ibadah itu adalah untuk mencapai kesenangan di dunia dan ketenangan di akhirat Ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”.S. Menerima ugas tersebut dan melaksakannya dalam kehidupan perorangan maupun kelompok. Kesimpulan Tujuan penciptaan manusia di atas dunia ini adalah untuk beribadah. Ketika memerankan fungsinya sebagai khalifah Allah di muka bumi. b. (Q. Sedangkan tujuan hidup manusia di dunia ini adalah untuk mendapatkan kesenangan dunia dan ketenangan akhirat. karena ia terambil dari kata yang mengandung arti depan. padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui“. c. Quraish Shihab ysng mengharuskan memiliki karakter sebagai manusia secara pribadi maupun kelompok.Berbeda dengan M. d. Hanya kata imam digunakan untuk keteladanan. Pertama. Jadi. Memenuhi tugas yang diberikan Allah. Kuraish shihab memetakan karakterisik khalifatullah dengan menganalisis tafsir milik Al-Tabrasi dikemukakan didalamnya bahwa kata imam mempunyai makna yang sama dengan khalifah. Sehinga khalifah harus memiliki empat sisi karakter yang saling terkait. yang berbeda dengan khalifah yang terambil dari kata “belakang”. Menjadikan tugas-tugas khalifah sebagai pedoman pelaksanaannya. mampu menjalankan fungsinya sebagai hamba Allah. M. guna membangun dunia sesuai konsep yang dieepkan Allah. Kuraish shihab memetakan karakterisik khalifatullah dengan menganalisis tafsir milik Al-Tabrasi dikemukakan didalamnya bahwa kata imam mempunyai makna yang sama dengan khalifah. karena ia terambil dari kata yang mengandung arti depan. Kedua. memakmurkan bumi (al ‘imarah). yang diciptakan oleh Allah dalam rangka untuk beribadah kepada-Nya. Keempat sisi tersebut adalah: a. yang berbeda dengan khalifah yang terambil dari kata “belakang”. BAB III PENUTUP A. Hanya kata imam digunakan untuk keteladanan. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah. manusia di atas bumi ini adalah sebagai khalifah. . memelihara bumi dari upaya-upaya perusakan yang datang dari pihak manapun.

2007) dan kehidupan .(Yogyakara. fungsi dan peran wahyu dalam masyarakat. M. Tafsir Al-Maraghi (Terj. Hasan. Manusia dan Pendidikan. Nurcholis. Pokok-Pokok Pikiran Tentang Islam Umatnya (Bandung: Pustaka. 1983) Shihab. Endang Anshari. Teologi Pendidikan (Jakarta: Raja Grafindo Persada. yaitu merusak dan menghancurkan alam demi kepentingan sesaat.: Pusaka Al Husna. Wawasan Islam. Madjid. Maka sepatutnyalah hasil eksplorasi itu dapat dinikmati secara adil dan merata. Memelihara dari kebiasaan jahiliyah. 1992) Munawwir. Harun. DAFTAR PUSTAKA LIHAT DISINI >>> DAFTAR PUSTAKA Al-Maraghi. 2004) Reaktualisasi Saifuddin. Islam Rasional (Bandung: Mizan. Musthafa. Tahun) Tampa Hasbullah. 1985) Dawamraharjo.) (Semarang: Thoha Putra. Karena sumber daya manusia yang rusak akan sangata potensial merusak alam.1) (Jakarta: Pustaka Panji Mas. dengan tetap menjaga kekayaan agar tidak punah Memelihara Bumi adalah Melihara bumi dalam arti luas termasuk juga memelihara akidah dan akhlak manusianya sebagai SDM (sumber daya manusia). 2000) Nasution. Islam. Kamus Arab-Indonesia. Al munawwir. 1996) Hamka. Membumikan Al-Qur’an. Paradigma Pendidikan Islam (Bandung: Pustaka Bani Quraisy. Muzaidi. 1995) Tedi Priatna. Tafsir Al-Azhar (Juz.Memakmurkan Bumi adalah Manusia harus mengeksplorasi kekayaan bumi bagi kemanfaatan seluas-luasnya umat manusia.1989). 1982) Langgulung. Jalaludin. Dokrin dan Peradaban (jakarta:Paramadina. M. Ahmad Warson. Ensiklopedia Al-Qur’an (Jakarta: Paramadina. Suatu Analisa Psikolgi dan Pendidikan (Jakarta. Qurais. Manhaj Tarbiyah Ibnu Qoyyim (Terj) (Jakarta: Pustaka Al2002) Kautsar. (Bnadung:Mizan.