Anda di halaman 1dari 38

DISPERSI KOLOIDAL DAN SIFAT-SIFATNYA

A. Tujuan
Tujuan dilakukannya percobaan ini adalah untuk memberikan gambaran
tentang koloid dan sifat-sifatnya.
B. Landasan Teori
Koloid adalah suatu keadaan antara larutan dan suspensi. Suatu kumpulan
dari beberapa ratus atau beberapa ribu partikel yang membentuk partikel lebih
besar dengan ukuran sekitar 10 Å sampai 2 000 Å dikatakan berada dalam
keadaan koloid. Dalam suatu sistem koloid, partikel-partikel koloid terdispersi
(tersebar) dalam medium pendispersinya. Zat terdispersi maupun medium
pendispersi koloid dapat berupa zat padat, cair, atau gas. Terdapat 8 tipe sistem
koloid, yaitu busa (gas dalam cair), busa padat (gas dalam padat), aerosol padat
(cair dalam gas), emulsi (cair dalam cair), emulsi padat (cair dalam padat), aerosol
padat (padat dalam gas), sol (padat dalam cair), dan sol padat (padat dalam padat)
(Kurniawati, 2012).
Ada dua cara terbentuknya partikel koloid. Pertama dari senyawa
bermolekul besar, yaitu satu molekul menjadi satu partikel koloid, contohnya
protein dan plastik. Kedua, satu partikel koloid terbentuk dari gabungan (agregat)
banyak partikel. Partikel yang bergabung ini mungkin dalam bentuk molekul, ion
atau atom (Syukri, 1999).

Dari segi bentuknya, partikel koloid dapat berupa lembaran (laminar),
serat (fabliar), dan butiran (korpuskular). Bentuk ini ditentukan oleh jenis dan cara
terbentuknya koloid. Untuk materi dalam bentuk butiran diameter menunjukkan
ukuran partikel. Untuk partikel laminar (lembaran) dan serat (febliar), panjang dan
lebar maupun tebalnya. Semuanya diperlukan untuk menyatakan ukuran partikel
(Keenan, 1984).
Sifat-sifat koloid dapat dibagi menjadi Efek Tyndall yaitu penghamburan
cahaya oleh partikel-partikel koloid, Gerak Brown yaitu gerak tak menentu
partikel-partikel koloid secara patah-patah (zig-zag), Elektroforesis yaitu
pergerakan partikel-partikel koloid dalam medan listrik ke masing-masing
electrode, Absorpsi yaitu peristiwa ketika permukaan suatu zat dapat menyerap zat
lain, Koagulasi yaitu proses penggumpalan partikel-partikel koloid, Dialisis yaitu
proses penghilangan ion-ion pengganggu dengan cara menyaring menggunakan
membran/selaput semipermeable, Koloid pelindung yaitu suatu koloid yang dapat
melindungi koloid tersebut agar tidak terkoagulasi, dan Koloid Liofil dan Koloid
Liofob (Respati, 1992).
Senyawa koloid dari logam hidroksi merupakan koloid yang memiliki sifat
pertengahan (bersifat hidrofil dan hidrofob), sehinggga mampu berinteraksi
dengan senyawa yang bersifat polar maupun nonpolar. Apabila suatu bahan
berpori direndam dalam suatu larutan koloid, maka partikel koloid tersebut akan
memenuhi pori-pori bahan berpori sehingga ukuran pori-porinya menjadi lebih
kecil, dengan demikian prosentase terhalanginya molekul zat warna menjadi
semakin besar (Rini, et al, 2007).

Tegangan permukaan merupakan sifat permukaan suatu zat cairan
yang berperilaku layaknya selapis kulit tipis yang kenyal atau lentur akibat
pengaruh tegangan. Pengaruh tegangan tersebut disebabkan oleh adanya
gaya tarik-menarik antar molekul dipermukaan zat cairan tersebut
(Indarniati dan Ermawati, 2008). Tegangan permukaan didefinisikan
sebagai kerja yang dilakukan dalam memperluas permukaan cairan dengan
satu satuan luas. Satuan untuk tegangan permukaan (γ) adalah (J m-1) atau
dyne cm-1 atau N m-1. Metode yang paling umum untuk mengukur
tegangan permukaan adalah kenaikan atau penurunan dalam pipa kapiler,
yaitu:
γ=

1
2

.r.h.

ρ

.g

Dimana d adalah kerapatan cairan, r adalah jari-jari kapiler, l adalah
panjang cairan yang ditekan atau yang akan naik, dan g adalah konstanta gravitasi
(Dogra, 1990).
Tegangan permukaan air terjadi karena gaya kohesif antar molekul yang
berada di permukaan. Molekul ini tidak memiliki molekul lain di atasnya sehingga
molekul tersebut saling melekat lebih kuat dengan molekul yang ada disekitarnya.
Semakin besar gaya kohesif antarmolekul di permukaan, maka akan semakin
besar tegangan permukaan. Karena gaya kohesif antar molekul hidrokarbon lebih
kecil daripada air, maka tegangan permukaan larutan juga lebih kecil daripada air
(Arbianti et al, 2008).

.

C. Alat dan Bahan  Alat D. A l a t y a n g d i g u n a k a n d a .

l a m p r a k t i k u m i n i a d a l a .

h :  Tabung silinder Timbangan analitik Piknometer Pipa kapiler - Pipet tetes Gelas kimia Batang Pengaduk Bahan  - Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah : Detergen 1 gr. 2 gr. 3 gr Minyak Akuades           .

Detergen .Ditimbang sebanyak 1 gr.Dikocok . I.Dimasukkan dalam piknometer . M.Diukur tingginya dalam pipa kapiler . 2 gr.Ditambahkan detergen 1% sebanyak 3 ml . . Minyak - Dimasukkan 50 ml dalam tabung sentrifuga Ditambahkan detergen 3% sebanyak 3 ml Dikocok Dimasukkan dalam piknometer .Ditimbang . Hasil K.Dilarutkan dengan akuades masing-masing G.Dihitung bobot jenisnya . Prosedur Kerja F.E.Dihitung tegangan permukaan J.Dimasukkan dalam pipa kapiler .Dimasukkan 50 ml dalam tabung sentrifuga Minyak . sebanyak 100 ml Dimasukkan dalam piknometer Ditimbang Dihitung bobot jenisnya Diukur tinggi dengan pipa kapiler Dihitung tegangan permukaanya Hasil H. 3 gr . Dimasukkan 50 ml dalam tabung sentrifuga Ditambahkan detergen 2% sebanyak 3 ml Dikocok Dimasukkan dalam piknometer Ditimbang Dihitung bobot jenisnya Dimasukkan dalam pipa kapiler Diukur tingginya dalam pipa kapiler Dihitung tegangan permukaan Hasil N. Minyakk L.

Diukur tingginya dalam pipa kapiler .O. .Ditimbang .Dimasukkan dalam pipa kapiler .Dihitung bobot jenisnya .Dihitung tegangan permukaan Hasil .

AH.06 x 10-5 AM. o Perhitungan  Pengukuran Bobot Jenis AT. 1.93 4 AI. 3% detergen 6 (gr/mL) W. Bobot Jenis = ( Berat piknometer +berat detergen)– ( piknometer kosong) volume piknometer - Detergen 1% AU. gram Berat piknometer + 1% detergen = 20. 0. 1. 7.03 x 10-5 AQ.69 AN. Minyak goreng + 2% 2 detergen AC. 0.949 x 10-6 2 AA. S.P. 0. 1 Y. 1. 2% detergen 5 AO. 6. Bob T.75 x 10-6 AF. 6. 1. AD. AL. N R. V.07 AR. Minyak goreng + 1% detergen Z.98 X. 1.886 x 10-6 3 AS.67 .67 AJ.495 x 10-6 AB. Hasil Pengamatan Q. Perlakuan Teganggan ot Jenis Permukaan (N/m) o U. Dik : Berat piknometer kosong = 10 gram AV. 5.98 4 AE. AP. 1% detergen 4 AK. Minyak goreng + 3% 3 detergen AG.

= BA. = 20.? AX.AW.67 g 10 ml AZ. Peny : = ( piknometer+detergen 1 ) – ( piknometer kosong) volume AY.067 g/ml . Dit : densitas =….67 g−10 g 10 ml 10.. = 1.

069 g/ml - Detergen 3% - Dik : Berat piknometer kosong = 10 gram Berat piknometer + 3% detergen = 20.? - Peny : = ( piknometer+detergen 3 )– ( piknometer kosong ) volume - = 20.73 g−10 g 10 ml ..69 g−10 g 10 ml 10.69 g 10 ml - = - = 1.73 gram - Dit : densitas =….69 gram - Dit : densitas =….? Penye : = ( piknometer+detergen 2 )– ( piknometer kosong) volume - = 20.- Detergen 2% - - Dik : Berat piknometer kosong = 10 gram Berat piknometer + 2% detergen = 20..

10.82 g 10 ml - = 0.78 g 10 ml - = - = 1.? - Peny : = ( piknometer+minyak + detergen 1 ) – ( piknometer kosong ) volume - - = 19..84 gram - Dit : densitas =…..073 g/ml - Minyak + detergen 1% - Dik : Berat piknometer kosong = 10 gram Berat piknometer + minyak + 1% detergen = 19.82 gram - Dit : densitas =….982 g/ml Minyak + detergen 2% - Dik : Berat piknometer kosong = 10 gram Berat piknometer + minyak + 2% detergen = 19.? - Peny : = ( piknometer+minyak + detergen 2 ) – ( piknometer kosong) volume .82 g−10 g 10 ml - = 9.

984 g/ml - Minyak + detergen 3% - Dik : Berat piknometer kosong = 10 gram Berat piknometer + minyak + 3% detergen = 19.84 g−10 g 10 ml - = 9.? - Peny : = ( piknometer+minyak + detergen 3 ) – ( piknometer kosong) volume - = 19..934 g/ml .84 g 10 ml - = 0.34 gram - Dit : densitas =….34 g−10 g 10 ml - = 9.- = 19.34 g 10 ml - = 0.

03 x 10-5 N/m Detergen 3%  -  = ½ r.h.5 x 10-2 m)(1.06 x 10-5 N/m Detergen 2%  -  = ½ (5.g  = ½ (5.495 x 10-6 N/m Minyak + detergen 2%    = ½ r.8 m/s2) Detergen 1%   = ½ r.8 m/s2)  = 6.6 x 10-2 m)(1.h.g  = ½ r.67 gr/ml)(9.d.8 m/s2)  = 1.d.10-5 m)(2.h.8 x 10-2 m)(0.886 x 10-6 N/m Minyak + detergen 1%  -  = ½ r.10-5 m)(2. Penentuan tegangan permukaan =½r.10-5 m)(2.982 gr/ml)(9.8 m/s2)  = 7.8 m/s2)  = 1.10-5 m)(2.g Keterangan :  γ = Tegangan permukaan (Nm- 1 - - )  r = 0.d.h.984 gr/ml)(9.69 gr/ml)(9.7 x 10-2 m)(0.d.073 gr/ml)(9.05 cm = 5 x 10-5 m  h = Tinggi pipa kapiler (m)  d = densitas (gr/ml)  g = Gravitasi (9.g = ½ (5.h.h.2 x 10-2 m)(1.d.g  = ½ (5.g  = ½ (5.10-5 m)(2.8 m/s2) .d.

934 gr/ml)(9.8 m/s2)  = 5. - = 67.d.h.949 x 10-6 N/m     = ½ r.5 x 10-6 N/m Minyak + detergen 3%   = ½ (5.6 x 10-3 m)(0.g .10-5 m)(2.

contohnya larutan gula dan hujan. Campuran homogen adalah campuran yang memiliki sifat sama pada setiap bagian campuran tersebut. Sedangkan cara dispersi . Kemudian dilakukan pengukuran larutan sabun yang dicampur dengan minyak. Detergen dibuat dalam berbagai konsentrasi karena dalam percobaan ini akan diteliti pengaruh konsentrasi larutan koloid terhadap tegangan permukaannya. Sampel koloid yang digunakan dalam percobaan ini adalah detergen dan minyak. dan 3%. Cara pembuatan koloid dapat dibadakan menjadi cara kondensasi dan cara dispersi. peptisasi. atau bisa juga disebut bentuk (fase) peralihan homogen menjadi heterogen. reaksi hidrolisis. pembuatan koloid dilakukan melalui reaksi kimia seperti reaksi redoks. koloid dibuar dengan cara partikel kasar dipecah menjadi partikel koloid. Maing- . BD. Dimana di antara campuran homogen dan heterogen terdapat sistem pencampuran yaitu koloid. Sedangkan campuran heterogen sendiri adalah campuran yang memiliki sifat tidak sama pada setiap bagian campuran. 2%. atu dengan loncatan bunga listrik (busur bredig). reaksi dekomposisi rangkap. Koloid adalah suatu campuran zat heterogen (dua fase) antara dua zat atau lebih di mana partikel-partikel zat yang berukuran koloid (fase terdispersi/yang dipecah) tersebar secara merata di dalam zat lain (medium pendispersi/ pemecah). Pertama-tama dilakukan pembuatan larutan detergen dengan konsentrasi 1%. Pasa cara kondensasi. dan reaksi pergantian pelarut. Pembahasan BC. contohnya air dan minyak. kemudian pasir dan semen. Masing-masing larutan tersebut ditimbang bobot jenisnya dalam piknometer dan diukur tinggi cairannya di dalam pipa kapiler. Cara dispersi dapat dilakukan secara mekanik.BB.

8 cm. dan 3% diambil 3 ml dan ditambahkan dengan minyak sebanyak 50 ml. Diperoleh data ketinggian cairan pada pipa kapiler masing-masing larutan yaitu detergen 1% dengan tinggi 2. Jika gaya gravitasi lebih besar dari tegangan permukaan maka cairan akan jatuh. Selain itu tegangan permukaan berhubungan dengan gaya gravitasi. detergen 3% dengan tinggi 3 cm. 2%. maka akan menaikan tegangan permukaan dan sebaliknya. jika gaya gravitasi sama besar dengan tegangan permukaan maka cairan akan tetap pada posisinya. BF.7 cm.6 cm. Jadi tegangan permukaan cairan dapat didefinisikan sebagai daya tahan lapisan tipis suatu permukaan cairan terhadap gaya untuk mengubah luas permukaan cairan. Jika konsentrasi zat terlarut pada permukaan lebih kecil dari konsentrasi zat yang ada di dalammya. detergen 2% dengan tinggi 2. Larutan detergen + minyak tersebut kemudian ditimbang bobot jenisnya masing-masing dalam piknometer dan diukur ketinggian cairannya dalam pipa kapiler. Gaya antar molekul masing-masing larutan . Dari data bobot jenis dan ketinggian cairan yang telah diperoleh. Besar kecilnya tegangan permukaan cairan tergantung pada zat terlarut dalam cairan tersebut.masing larutan detergen 1%.6 cm. Perbedaan ketinggian ini disebabkan oleh gaya antar molekul masing-masing larutan. Larutan detergen dicampurkan dengan minyak untuk melihat sifat koloid yang terjadi pada minyak dan detergen. Tegangan permukaan merupakan salah satu sifat akibat gaya langsung dari gaya antarmolekul yang terdapat dalam zat cair.5 cm. dan detergen 3% + minyak dengan tinggi 2. detergen 1% + minyak dengan tinggi 2. maka dapat dihitung tegangan permukaan masing-masing larutan tersebut. detergen 2% + minyak dengan tinggi 2. BE.

BG.saling mempengaruhi. Artinya. Semakin tinggi perbedaan tegangan yang terjadi pada bidang mengakibatkan antara kedua zat cair itu semakin susah untuk bercampur. Dan sebaliknya. semakin besar gaya yang bekerja maka semakin tinggi pula kenaikan larutan tersebut.03 x 10-5 N/m. Tegangan yang terjadi pada larutan detergen ataupun campuran detergen + minyak semakin mengecil karena daya kohesinya semakin mengecil seiring dengan bertambanya berat detergen yang digunakan. Larutan yang mengalami perubahan kenaikan ketinggian paling besar adalah detergen. tegangan muka detergen 1% adalah 1. Selain itu molekul juga memiliki daya tarik menarik antara molekul yang tidak sejenis yang disebut dengan daya adhesi.886 x 10-6 N/m. Setelah dilakukan perhitungan. semakin kecil gaya yang bekerja pada larutan tersebut maka semakin kecil pula larutan tersebut mengalami perubahan kenaikan. Tegangan permukaan zat cair yang diamati memiliki hasil yang berbeda-beda.495 x 10-6 N/m. sehingga larutan mengalami kenaikan yang berbanding lurus dengan gaya antara molekulnya yang tinggi. detergen 2% adalah 7. .949 x 10-6 N/m. Daya kohesi suatu zat selalu sama.06 x 10-5 N/m. dan detergen 3% + minyak adalah 5. diperoleh data bahwa tegangan permukaan masing-masing cairan adalah sebagai berikut. detergen 2% adalah 1. Hal tersebut disebabkan karena gaya antar molekul-molekul dalam detergen lebih besar dibandingkan dengan minyak ataupun campuran minyak+detergen. detergen 1% + minyak adalah 6.75 x 10-6 N/m. detergen 2% + minyak adalah 6. Hal ini terjadi karena molekul memiliki daya tarik menarik antarmolekul yang sejenis yang disebut dengan daya kohesi. sehingga pada permukaan suatu zat cair akan terjadi perbedaan tegangan karena tidak adanya keseimbangan daya kohesi.

dalam air boiler dan industri yang bergantung pada kualitas air seperti pembuatan bir .BH. Air suling yang tidak mengandung garam-garam terlarut dengan demikian bukan merupakan penghantar listrik yang baik. tidak memakan biaya dan dapat diandalkan. .industri sebagai cara mengukur kandungan ion pada suatu larutan. Cara ini dipakai karena cepat. Konduktivitas adalah ukuran kemampuan suatu benda untuk menghantarkan listrik. Hal ini berkaitan dengan kemampuan air di dalam menghantarkan arus listrik. Pengukuran konduktivitas sering dilakukan pada industri . pengukuran konduktivitas digunakan untuk memantau kualitas dalam persediaan air publik.. di rumah sakit. Konduktivitas dipengaruhi oleh jumlah garam-garam terlarut. Sebagai contoh. BI. Semakin banyak garam-garam yang terlarut semakin baik daya hantar listrik air tersebut.

Sol a d a l a h k o l o i d y a n g . dan Elektroforesis yang mempengaruhi tegangan permukaannya. Gerak Brown. Berdasarkan percobaan yang dilakukan dipeoleh kesimpulan bahwa koloid memiliki sifat-safat antara lain Efek Tyndall.BJ.Kesimpulan BK. BL.

t e r b e n t u k d a r i p a r t i k e .

l p a d a t y a n g t e r d i s p e r s .

i d a l a m z a t c a i r . J e n i s .

k o l o i d i n i d a p a t k i t a .

t e m u k a n p a d a k e h i d u p a n .

s e h a r i h a r i . E m u l u s i a d .

a l a h s i s t e m d a r i k o l o i d .

y a n g z a t c a i r y a n g t e r .

d i s p e r s i d e n g a n z a t c a i .

r y a n g l a i n . S y a r a t d a r .

i t e r j a d i n y a e m u l u s i a d .

a l a h k e d u a l a r u t a n t i d a .

k s a l i n g m e l a r u t k a n ( C h .

a n g . 2 0 0 5 ) . D A F T A R P U S T A .

2010. BY. Dogra. BW.K A BM.. BX. CD. Cara Pembuatan Koloid. CE... CC.Arbianti. Erlangga. BU. Utami. BP.. BR. Syukri. Res p a t i .1990. Keenan. “Pengaruh Kondisi Operasi Reaksi Hidrogensai Metil Laurat dengan Katalis Nikel untuk Pembuatan Surfaktan Oleokimia”. dkk. BZ. Keenan. Indarniati dan Ermawati. 1984. Jakarta BT. BV.. Jakarta. 2008. Kimia Untuk Universitas. Kimia Dasar 2. Rienika Cipta. Jurnal Teknologi. Jakarta.. TS. Vol. Bandung. Dwi. FU. Andani. 1999. SK. 1984. CG. Universitas Indonesia. Kurniawati. 1992. dkk.html.. S. 1 9 9 . Vol. 2007. “Perancangan Alat Ukur Tegangan Permukaan dengan Induksi Elektromagnetik”. Kimia Fisik dan Soal-soal. BO.. CB. BQ. CF.Erlangga. R. Hermansyah. Dasar-Dasar Ilmu Kimia. D. Jakarta. Kimia Untuk Universitas.Respati. diakses pada 2 November 2012. Jurnal skripsi UNDIP Semaran... Jurnal Fisika dan Aplikasinya.blogspot. 3 (1). Vol. 4 (1). BN.com/2012/03/cara-pembuatan-koloid.. Institut Teknologi Bandung. BS. “Pengaruh Komposisi Poly Ethylene Glycol (Peg) Dalam Sintesis Membran Padat Silika Dari Sekam Padi Dan Aplikasinya Untuk Dekolorisasi Limbah Cair Batik”. http://dwikurniawati20. CA. Rini. 2008. H. Puspita Aryanti et al.5 (2).

2 . J a k a . R i e n i k a C i p t a . D a s a r D a s a r I l m u K i m i a .

CK. CM. “Pengaruh Komposisi Poly Ethylene Glycol (Peg) Dalam Sintesis Membran Padat Silika Dari Sekam Padi Dan Aplikasinya Untuk Dekolorisasi Limbah Cair Batik”.. CN. CH.. Puspita Aryanti et al.r t a .Bandung. CI. . 2007. Jurnal skripsi UNDIP Semaran. Institut Teknologi Bandung. Rini. CL. S.. CJ.5 (2). 1999. Kimia Dasar 2. Vol. Syukri.