Anda di halaman 1dari 25

ANALISIS JUAL BELI

MAKALAH
DISUSUN UNTUK MEMENUHI TUGAS EKONOMI SYARIAH

OLEH:
1. LAILATUL
MAGFIROH
14080304002
2. EKA WIDYA
ANDRIYANI
14080304016
3. NUR RIZKIA RAHMAYANTI 14080304027
4. DYAH AYU WULANDARI

14080304037

5. M. BANGUN PRASETYO

14080304040

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
FAKULTAS EKONOMI
JURUSAN PENDIDIKAN EKONOMI
PRODI PENDIDIKAN AKUNTANSI
2016
BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Islam adalah agama yang universal sebagai pedoman yang mengatur segala
aspek kehidupan manusia, pada garis besarnya menyangkut dua bagian pokok, yaitu
ibadah dan muamalah. Ibadah adalah menghambakan diri kepada Allah SWT dan
menaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Sedangkan
muamalah ialah kegiatan-kegiatan yang menyangkut antar manusia yang meliputi
aspek ekonomi, politik dan sosial. Untuk kegiatan yang muamalah yang menyangkut
aspek ekonomi yaitu jual beli, simpan pinjam, hutang piutang, usaha bersama dan
lain sebagainya.
Islam melihat konsep jual beli itu sebagai suatu alat untuk menjadikan manusia
itu semakin dewasa dalam berpola pikir dan melakukan berbagai aktivitas, termasuk
aktivitas ekonomi. Pasar sebagai tempat aktivitas jual beli harus dijadikan sebagai
tempat pelatihan yang tepat bagi manusia sebagai khalifah di muka bumi. Maka
sebenarnya jual beli dalam islam merupakan wadah untuk memproduksi khalifahkhalifah yang tangguh di muka bumi. Tidak sedikit kaum muslimin yang
mengabaikan dalam mempelajari muamalat, melalaikan aspek ini sehingga tidak
mempedulikan lagi, apakah barang itu halal atau haram menurut syariat islam.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apa Pengertian Prinsip jual beli murabahah?
1.2.2 Apa saja landasan hukum jual beli murabahah?
1.2.3 Apa Saja rukun dan syarat sahnya jual beli murabahah?
1.2.4 Apa saja jenis-jenis Murabahah?
1.2.5 Apa Pengertian Ba’i Salam?
1.2.6 Apa saja landasan hukum jual beli ba’i salam?
1.2.7 Apa saja rukun dan syarat ba’i salam?

2 Untuk mengetahui landasan hukum jual beli murabahah 1. BAB II .3.9 Untuk mengetahui rukun dan syarat jual beli 1. 1.3.2.4 Untuk mengetahui jenis-jenis murabahah 1.3.10 Untuk mengetahui macam-macam jual beli 1.1.12 Apa saja hikmah yang dapat diambil dari kegiatan jual beli? 1.11 Untuk mengetahui hal-hal yang terlarang dalam jual beli 1.5 Untuk mengetahui pengertian ba’i salam 1.2.3.1 Untuk Mengetahui pengertian prinsip jual beli murabahah.10 Apa saja macam-macam jual beli? 1.3.3 Untuk mengetahui rukun dan syarat jual beli murabahah 1.8 Apa pengertian dan dasar hukum jual beli? 1.3.2.9 Apa saja rukun dan syarat jual beli? 1.3.3.12 Untuk mengetahui hikmah apa saja yang dapat diambil dari kegiatan jual beli.3.8 Untuk mengetahui pengertian dan dasar hukum jual beli 1.3.7 Untuk mengetahui rukun dan syarat ba’i salam 1.11 Apa saja hal-hal yang terlarang dalam jual beli? 1.3.2.2.3.6 Untuk mengetahui landasan hukum jual beli ba’i salam 1.3 Tujuan 1.

atau murabahah juga berarti AlIrbaah karena salah satu dari dua orang yang bertransaksi memberikan keuntungan kepada yang lainnya (Ibnu Al-Mandzur. Bai’ul murabahah adalah: ‫عببيعع ربرمثرل الثعمرن الوورل عمعع‬ ‫رزعيداعدرة رربمح عملعلحبومم‬ Yaitu jual beli dengan harga awal disertai dengan tambahan keuntungan (Azzuhaili..). . 443. walaupun ungkapan yang digunakan berbeda-beda. Menurut Wahbah az-Zuhaili adalah jual-beli dengan harga pertama (pokok) beserta tambahan keuntungan. Ibn Qudamah --ahli hukum Hambali-.198.1 Pengertian Jual Beli Murabahah Kata al-Murabahah diambil dari bahasa Arab dari kata ar-ribhu (‫ )الرربحح‬yang berarti kelebihan dan tambahan (keuntungan). hal. 1997. sedangkan secara istilah.. hal. Ibn Rusyd --filosof dan ahli hukum Maliki-.. hal.mendefinisikannya sebagai jual-beli di mana penjual menjelaskan kepada pembeli harga pokok barang yang dibelinya dan meminta suatu margin keuntungan kepada pembeli.mengatakan bahwa arti jual-beli murabahah adalah jual-beli dengan harga pokok ditambah margin keuntungan. (Asshawy. 1990.) Menurut Para ahli hukum Islam mendefinisikan bai’ al-murabahah sebagai berikut : ‘Abd ar-Rahman al-Jaziri mendefinisikan bai’ al-murabahah sebagai menjual barang dengan harga pokok beserta keuntungan dengan syarat-syarat tertentu. 3765).PEMBAHASAN 2. Definisi ini adalah definisi yang disepakati oleh para ahli fiqh.

2. Dan firman Allah: ‫ضة‬ ‫علبيعس عععلبيحكبم حجعُكنداعح عأن عتبعتحغوا عف ب‬ ‫ل رمن ورربحكبم‬ . jual-beli murabahah adalah suatu bentuk jual-beli di mana penjual memberi tahu kepada pembeli tentang harga pokok (modal) barang dan pembeli membelinya berdasarkan harga pokok tersebut kemudian memberikan margin keuntungan kepada penjual sesuai dengan kesepakatan. kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu” (QS. diantaranya adalah firman Allah: ‫عوأععحول الح ابلعببيعع عوعحورعم الررعبدا‬ Artinya: ". Al-Baqarah:275). penjual harus memberi tahu pembeli tentang harga pembelian barang dan menyatakan jumlah keuntungan yang ditambahkan pada biaya tersebut. janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil. Ayat ini menunjukkan bolehnya melakukan transaksi jual beli dan murabahah merupakan salah satu bentuk dari jual beli. ‫ض رمُكنحكبم‬ ‫ل أعبن عتحكوعن رتعجداعرة ععن عتعرا م‬ Artinya: “Hai orang-orang yang beriman.dan Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba" (QS. Tentang “keuntungan yang disepakati”. An-Nisaa:29).. Dan firman Allah: ‫لعتبأحكحلوا أعبمعوالعحكم عببيعُكنحكم ربدابلعبدارطرل إر و‬ ‫عيداأعيعهدا الورذيعن عءاعمحُكنوا ع‬.Dengan kata lain.2 Landasan Hukum Jual Beli Murabahah Landasan hukum akad murabahah ini adalah: a) Al-Quran Ayat-ayat Al-Quran yang secara umum membolehkan jual beli.

menyebutkan bahwa boleh melakukan jual beli dengan mengambil keuntungan satu dirham atau dua dirham untuk setiap sepuluh dirham harga pokok (Azzuhaili. b) Assunnah I.Artinya: “Tidak ada dosa bagimu mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Rabbmu” (QS..) adalah jual beli berdasarkan suka sama suka antara kedua belah pihak yang bertransaksi. "jual kepada saya salah satunya".‫لعث رفبيرهون العبعرعك‬ ‫أعون الوُكنرب ي ع‬ (‫ )عرعواحه ابحن عمداعجه‬. hal. hal 3766). membeli dua ekor keledai. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassallam bersabda. . "kalau tanpa ada harga saya tidak mau". Ketika Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassallam akan hijrah. muqaradhah (nama lain dari mudharabah).‫رلبلعببيرع‬ ”Tiga perkara yang didalamnya terdapat keberkahan: menjual dengan pembayaran secara tangguh.3766. II.‫ض‬ ‫ عوالحمـقعـداعر ع‬. Abu Bakar Radhiyallahu 'Anhu. Al-Baqarah:198) Berdasarkan ayat diatas. Murabahah menurut Azzuhaili (1997. maka murabahah merupakan upaya mencari rezki melalui jual beli. Hadits dari riwayat Ibnu Majah. Sebuah riwayat dari Ibnu Mas'ud Radhiyallahu 'Anhu. 1997. Abu Bakar Radhiyallahu 'Anhu menjawab. (HR. III. Ibnu Majah). lalu Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassallam berkata kepadanya. dari Syuaib: ‫ عث ع‬:‫صلوى الح ععلعبيره عولآرلره عوعسلوعم عقداعل‬ ‫ عو عخبلحط الحبرر ربدالوشرلعبيرر رلبلعببيرت عل‬. Sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wassallam: “Pendapatan yang paling afdhal (utama) adalah hasil karya tangan seseorang dan jual beli yang mabrur”. dan mencampur gandum dengan tepung untuk keperluan rumah dan tidak untuk dijual” (HR. "salah satunya jadi milik anda tanpa ada kompensasi apapun".‫ العببيحع رإلعى أععجمل‬:‫ة‬. Ahmad Al Bazzar Ath Thabrani). IV.‫ة‬.

V. Obyek yang diakadkan. yang menyatakan: ‫اع‬ ‫صحل رفى الحمعلعداعم ع‬ ‫ة ح رإل و أعبن عيحدول عدرلبيعل ععلعى عتبحرربيرمعهدا‬. transaksi dengan menggunakan akad jual beli murabahah ini sudah menjadi kebutuhan yang mendesak dalam kehidupan. yang mencakup: · Barang yang diperjualbelikan · Harga iii. d) Kaidah Fiqh. c) Al-Ijma Transaksi ini sudah dipraktekkan di berbagai kurun dan tempat tanpa ada yang mengingkarinya. semua bentuk muamalah boleh dilakukan kecuali ada dalil yang mengharamkannya. 200. baik bagi yang berprofesi sebagai pedagang maupun bukan. Selain itu. Akad/Sighat yang terdiri dari: · Ijab (serah) · Qabul (terima) . 1990.).‫لعبداعح‬ ‫لب‬ ‫لرت ا ر‬ “Pada dasarnya.3 Rukun dan Syarat Jual Beli Murabahah Rukun murabahah adalah: i. ini berarti para ulama menyetujuinya (Ash-Shawy. yaitu: · Penjual · Pembeli ii. Adanya pihak-pihak yang melakukan akad. Banyak manfaat yang dihasilkan. hal..” 2.

· Tidak mengandung klausul yang bersifat menggantungkan keabsahan transaksi pada kejadian yang akan datang. · Memberikan manfaat atau sesuatu yang bermanfaat. Pihak yang berakad. Selain itu ada beberapa syarat-syarat sahnya jual beli murabahah adalah sebagai berikut: a) Mengetahui Harga pokok . III. · Merupakan hak milik penuh pihak yang berakad. · Sesuai spesifikasinya antara yang diserahkan penjual dan yang diterima pembeli. Obyek yang diperjualbelikan harus: · Tidak termasuk yang diharamkan atau dilarang. · Sukarela (ridha). · Antara ijab dan qabul (serah terima) harus selaras baik dalam spesifikasi barang maupun harga yang disepakati. harus: · Cakap hukum. II. Akad/Sighat · Harus jelas dan disebutkan secara spesifik dengan siapa berakad. tidak dalam keadaan terpaksa atau berada dibawah tekanan atau ancaman.Selanjutnya masing-masing rukun diatas harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut: I. · Penyerahan obyek murabahah dari penjual kepada pembeli dapat dilakukan.

Bila akad pertama tidak sah maka jual beli murabahah tidak boleh dilaksanakan. yang penting bisa diukur dan di ketahui. Harga bisa menggunakan ukuran awal. ataupun dengan ukuran yang berbeda. baik menggunakan takaran. Karena murabahah adalah jual beli dengan harga pokok ditambah keuntungan. kalau jual beli pertama tidak sah maka jual beli murabahah selanjutnya juga tidak sah (Azzuhaily.4 Jenis-Jenis Murabahah . Bila harga pokok tidak diketahui oleh pembeli maka akad jual beli menjadi fasid (tidak sah) (Al-Kasany. dan mayoritas ahli fiqh menekankan pentingnya syarat ini. c) Harga pokok dapat dihitung dan diukur Harga pokok harus dapat diukur. b) Mengetahui Keuntungan Keuntungan seharusnya juga diketahui karena ia merupakan bagian dari harga. karena mengetahui harga merupakan salah satu syarat sahnya jual beli yang menggunakan prinsip murabahah. Bank dapat menunjukkan bukti pembelian obyek jual beli murabahah kepada nasabah. sehingga kedua belah pihak. hal. terutama nasabah dapat mengetahui keuntungan bank. Keuntungan atau dalam praktek perbankan syariah sering disebut dengan margin murabahah dapat dimusyawarahkan antara bank sebagai penjual dan nasabah sebagai pembeli. 3767-3770). d) Jual beli murabahah tidak bercampur dengan transaksi yang mengandung riba. Mengetahui harga merupakan syarat sahnya akad jual beli. sehingga dengan bukti pembelian tersebut nasabah mengetahui harga pokok Bank. timbangan ataupun hitungan. Pada praktek perbankan syariah. e) Akad jual beli pertama harus sah. Ini merupakan syarat murabahah.Harga beli awal (harga pokok) harus diketahui oleh pembeli kedua. 2. hal.3193).

seperti garmen. tanah dan bangunan tempat tinggal. c) Murabahah Konsumsi (MK). dimana ukuran barang itu sudah ditentukan . sedangkan pembayaran dilakukan di muka. b) Murabahah Investasi (MI).5 Pengertian Ba’i Salam Pengertian Ba’i Salam adalah pembelian barang yang diserahkan dikemudian hari. Salam biasanya diaplikasikan pada pembiayaan petani (agribisnis) dengan jangka waktu yang relatif pendek. Dalam prakteknya pembiayaan murabahah yang diterapkan Bank Bukopin Syariah terbagi kepada 3 jenis. mobil. Pembiayaan konsumsi biasanya digunakan untuk membiayai pembelian barang konsumsi dan barang tahan lama lainnya. salam adalah akad atas barang pesanan dengan spesifikasi tertentu yang di tangguhkan penyerahanya pada waktu tertentu dimana pembayaran dilakukan secara tunai di majlis akad. terutama bila obyek yang akan diperjualbelikan terdiri dari banyak jenis. Ulama Syafi’iyah menjelaskan. Penerapan murabahah untuk modal kerja membutuhkan kehati-hatian. 2. Jaminan yang digunakan biasanya berujud obyek yang dibiayai. adalah pembiayaan jangka menengah atau panjang yang tujuannya untuk pembelian barang modal yang diperlukan untuk rehabilitasi. yaitu: a) Murabahah Modal Kerja (MMK). termasuk pembiayaan pemilikan rumah.Murabahah pada prinsipnya adalah jual beli dengan keuntungan. Modal kerja adalah jenis pembiayaan yang diperlukan oleh perusahaan untuk operasi sehari-hari. hal ini bersifat dan berlaku umum pada jual beli barang-barang yang memenuhi syarat jual beli murabahah. yang diperuntukkan untuk pembelian barangbarang yang akan digunakan sebagai modal kerja. Salam juga dapat diaplikasikan pada pembiayaan barang manufaktur. adalah pembiayaan perorangan untuk tujuan nonbisnis. perluasan. sesuai dengan peruntukannya. atau pembuatan proyek baru. sehingga dikhawatirkan akan mengalami kesulitan terutama dalam menentukan harga pokok masing-masing barang. yaitu sekitar 2-6 bulan.

Beliau berkata : “Barang siapa yang melakukan salaf (salam).6 Landasan Hukum Jual Beli Ba’i Salam Bai’ salam merupakan akad jual beli yang diperbolehkan. apabila kamu bermu'amalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan. Al-Baqarah : 282 “Hai orang-orang yang beriman. untuk jangka waktu yang diketahui.spesifikasinya. Sighat (ucapan) .7 Rukun dan Syarat Ba’i Salam Rukun bai’ as-Salam a. Modal atau uang d. hendaklah kamu menuliskannya. Al-Hadis Ibnu abbas meriwayatkan bahwa rasullulah saw. Datang ke madinah di mana penduduknya melakukan salaf (Salam) dalam buah-buahan (untuk jangka waktu) satu. Dalil yang memperbolehkan praktik jual beli salam yaitu: a. Muslim (atau pembeli) b. b. hendaknya ia melakukan dengan takaran yang jelas dan timbangan yang jelas pula.” 2.. sedangkan petani/pemilik garmen adalah sebagai penjual. Muslam alaih (atau penjual) c. Muslam fiihi (atau barang) e. Dalam hal ini pihak bank bertindak sebagai pembeli. Al-Qur’an Qs. hal ini berlandaskan atas dalil-dalil yang terdapat dalam Al-Qur’an. Hadits maupun ijma ulama. 2.. dua dan tiga tahun.

Modal harus Diketahui b. dengan ganti dan dapat dibenarkan. Secara terminologi. Sebagian ulama lain memberi pengertian : a) Ulama Sayyid Sabiq Ia mendefinisikan bahwa jual beli ialah pertukaran harta dengan harta atas dasar saling merelakan atau memindahkan milik dengan ganti yang dapat dibenarkan.1 Pengertian Jual Beli Jual beli atau perdagangan dalam istilah fiqh disebut al-ba’I yang menurut etimologi berarti menjual atau mengganti. Dalam definisi tersebut harta dan. terdapat beberapa definisi jual beli yang masing definisi sama. sedangkan yang dimaksud dapat dibenarkan (ma’dzun fih) agar dapat dibedakan dengan jual beli yang terlarang. milik. maka dikecualikan yang bukan milik dan tidak bermanfaat.8 Pengertian dan Dasar Hukum Jual Beli 2. Dengan demikian. Wahbah al-Zuhaily mengartikan secara bahasa dengan menukar sesuatu dengan sesuatu yang lain.Syarat Bai’ as-Salam a.i dalam Arab terkadang digunakan untuk pengertian lawannya. kata al-ba’I berarti jual. yaitu kata al-Syira (beli). tetapi sekaligus juga berarti beli. Penerimaan pembayaran salam harus tunai 2.Yang dimaksud dengan ganti agar dapat dibedakan dengan hibah (pemberian). Kata al-Ba.Yang dimaksud harta harta dalam definisi diatas yaitu segala yang dimiliki dan bermanfaat.8. b) Ulama hanafiyah .

Yang dimaksud ulama hanafiyah dengan kata-kata tersebut adalah melalui ijab qabul. 2. Dalam definisi ini ditekankan kata milik dan pemilikan. c) Sesuatu yang tidak berupa barang/harta atau yang dihukumi sepertinya tidak sah untuk diperjualbelikan. karena ada juga tukar menukar harta yang sifatnya tidak haus dimiliki seperti sewa menyewa. Dari beberapa definisi di atas dapat dipahami bahwa jual beli ialah suatu perjanjian tukar menukar benda atau barang yang mempunyai nilai secara ridha di antara kedua belah pihak. c) Ulama Ibn Qudamah Menurutnya jual beli adalah saling menukar harta dengan harta dalam bentuk pemindahan milik dan pemilikan. d) Tukar menukar tersebut hukumnya tetap berlaku.8. yakni kemanfaatan dari kedua belah pihak. yang satu menerima benda-benda dan pihak lain menerimanya sesuai dengan perjanjian atau ketentuan yang telah dibenarkan syara’ dan disepakati. yakni kedua belah pihak memilikisesuatu yang diserahkan kepadanya dengan adanya ketetapan jual beli dengan kepemilikan abadi. b) Tukar menukar tersebut atas suatu barang atau sesuatu yang dihukumi seperti barang.2 Dasar Hukum Jual Beli . Inti dari beberapa pengertian tersebut mempunyai kesamaan dan mengandung hal-hal antara lain : a) Jual beli dilakukan oleh 2 orang (2 sisi) yang saling melakukan tukar menukar.Ia mendefinisikan bahwa jual beli adalah saling tukar harta dengan harta lain melalui cara yang khusus. atau juga boleh melalui saling memberikan barang dan harga dari penjual dan pembeli.

Rasulullah bersabda : “Pedagang yang jujur dan terpercaya sejajar (tempatnya disurga) dengan para nabi.Jual beli sebagai sarana tolong menolong antara sesama umat manusia mempunyai landasan yang kuat dalam al-quran dan sunah Rasulullah saw. Terdapat beberapa ayat al-quran dan sunah Rasulullah saw. sehingga jual beli itu dapat dikatakan sah oleh syara’. Artinya jual beli yang jujur. antara lain : a. menjawab usaha tangan manusia sendiri dan setiap jual beli yang diberkati (H. Dalam menentukan rukun jual beli terdapat . Allah berfirman Surah Al-Baqarah ayat 275 “Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” 2. Sunah Rasulullah saw 1. Al-Quran 1. 2. Hadist dari al-Baihaqi. ibn majah dan ibn hibban.9 Rukun dan Syarat Jual Beli Jual beli mempunyai rukun dan syarat yang harus dipenuhi. Rasulullah sawa. ditanya salah seorang sahabat mengenai pekerjaan apa yang paling baik. Allah berfirmanSurah An-Nisa ayat 29 “…kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu…” b. dan syuhada”.R Al-Bazzar dan Al-Hakim). Hadist yang diriwayatkan oleh Rifa’ah ibn Rafi’: “Rasulullah saw. Rasulullah menyatakan : “Jual beli itu didasarkan atas suka sama suka” 3. Allah berfirman Surah Al-Baqarah ayat 198 “Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Tuhanmu” 3.shadiqqin. yang berbicara tentang jual beli. Hadist yang diriwayatkan al-Tirmizi. tanpa diiringi kecurangan-kecurangan mendapat berkah dari Allah SWT. 2.

Menurut mereka. dan nilai tukar barang termasuk kedalam syarat-syarat jual beli. yaitu : 1) Berakal sehat. 3. Ada barang yang dibeli (ma’qud alaih) 4. hukumnya tidak sah. karena unsur kerelaan itu merupakan unsur hati yang sulit untuk diindra sehingga tidak kelihatan. yaitu ijab qabul. Akan tetapi jumhur ulama menyatakan bahwa rukun jual beli itu ada empat. atau melalui cara saling memberikan barang dan harga barang. yaitu : 1. Ada sighat (lafal ijab qabul). Jual beli yang dilakukan anak kecil yang belum berakal dan orang gila. Akan tetapi. Ada nilai tukar pengganti barang. . ijab adalah ungkapan membeli dari pembeli. Adapun syarat-syarat jual beli sesuai dengan rukun jual beli yang dikemukakan jumhur ulama diatas sebagai berikut : a) Syarat-syarat orang yang berakad Para ulama fiqh sepakat bahwa orang yang melakukan akad jual beli itu harus memenuhi syarat. orang yang berakad. bukan rukun jual beli. maka diperlukan indikasi yang menunjukkan kerelaan itu dari kedua belah pihak. Indikasi yang menunjukkan kerelaan kedua belah pihak yang melakukan transaksi jual beli menurut mereka boleh tergambar dalam ijab dan qabul. 2. oleh sebab itu seorang penjual dan pembeli harus memiliki akal yang sehat agar dapat meakukan transaksi jual beli dengan keadaan sadar. Ada orang yang berakad (penjual dan pembeli). Menurut ulama Hanafiyah. barang yang dibeli. yang menjadi rukun dalam jual beli itu hanyalah kerelaan (ridha) kedua belah pihak untuk melakukan transaksi jual beli. dan qabul adalah ungkapan menjual dari penjual.perbedaan pendapat ulama Hanafiyah dengan jumhur ulama. Rukun jual beli menurut ulama Hanafiyah hanya satu.

jika dikemudian hari barang ini bermanfaat akibat perkembangan tekhnologi atau yang lainnya. babi. 2) Qabul sesuai dengan ijab. jenisnya. anjing. 3) Ijab dan qabul dilakukan dalam satu majelis. maka barang-barang itu sah diperjualbelikan. 4) Barang yang diperjualbelikan jelas dan dapat dikuasai. c) Syarat-syarat barang yang diperjualbelikan Syarat-syarat yang terkait dengan barang yang diperjualbelikan sebagai berikut : 1) Suci. dalam islam tidak sah melakukan transaksi jual beli barang najis. 2) Barang yang diperjualbelikan merupakan milik sendiri atau diberi kuasa orang lain yang memilikinya. maksudnya seorang tidak dapat bertindak dalam waktu yang bersamaan sebagai penjual sekaligus sebagai pembeli. 5) Barang yang diperjualbelikan dapat diketahui kadarnya. 3) Barang yang diperjualbelikan ada manfaatnya. Akan tetapi. dan harganya. Apabila antara ijab dan qabul tidak sesuai maka jual beli tidak sah. b) Syarat yang terkait dalam ijab qabul 1) Orang yang mengucapkannya telah baligh dan berakal. Contoh barang yang tidak bermanfaat adalah lalat. yaitu kehendak sendiri dan tidak dipaksa pihak manapun. dan sebagainya. Maksudnya kedua belah pihak yang melakukan jual beli hadir dan membicarakan topic yang sama. 3) Yang melakukan akad itu adalah orang yang berbeda. Barang-barang seperti ini tidak sah diperjualbelikan. seperti bangkai. . nyamauk. dan sebagainya.2) Atas dasar suka sama suka. sifat.

dan khamar. . yaitu harga antar pedagang dan harga antar pedagang dan konsumen (harga dipasar). 3) Apabila jual beli itu dilakukan dengan saling mempertukarkan barang maka barang yang dijadikan nilai tukar bukan barang yang diharamkan oleh syara’. yaitu jual beli yang pada waktu akad. Dalam jual beli ini harus disebutkan sifat-sifat barang dan harga harus dipegang ditempat akad berlangsung. altsaman adalah harga pasar yang berlaku di tengah-tengah masyarakat secara actual. sekalipun secara hukumseperti pembayaran dengan cek dan kartu kredit. barangnya ada di hadapan penjual dan pembeli. Ditinjau dari segi bendanya dapat dibedakan menjadi: 1) Jual beli benda yang kelihatan. seperti babi. yaitu: a. 2) Jual beli salam. sedangkan al-si’r adalah modal barang yang seharusnya diterima para pedagang sebelum dijual ke konsumen (pemakai). d) Syarat-syarat nilai tukar (harga barang) Nilai tukar barang yang dijull (untuk zaman sekarang adalah uang) tukar ini para ulama fiqh membedakan al-tsaman dengan al-si’r. 2) Boleh diserahkan pada waktu akad.Dengan demikian. harga barang itu ada dua.6) Boleh diserahkan saat akad berlangsung . Apabila harga barang itu dibayar kemudian (berutang) maka pembayarannya harus jelas. atau bisa juga disebut dengan pesanan. Syarat-syarat nilai tukar (harga barang) yaitu : 1) Harga yang disepakati kedua belah pihak harus jelas jumlahnya.10 Macam-macam Jual Beli Jual beli dapat ditinjau dari berbragai segi. karena kedua jenis benda ini tidak bernilai menurut syara’. 2. Menurut mereka.

2) Dengan perantara. misalnya dengan tulisan atau surat menyurat. Misalnya: . namun sebagian syafiiyah lainnya seperti Imam Nawawi membolehkannya. dan ini tidak diperkenankan oleh syara’. Misalnya seseorang mengambil mie instan yang sudah bertuliskan label harganya. 2) Ghairu Shahih.3) Jual beli benda yang tidak ada. akad yang dilakukan dengan lisan atau perkataan. jumhur ulama membaginya menjadi dua. yaitu jual beli yang memenuhi syarat dan rukunnya 2) Bathil. Jual beli seperti ini tidak diperbolehkan dalam agama Islam. yaitu jual beli yang memenuhi syarat dan rukunnya. Jual beli ini dilakukan oleh penjual dan pembeli. Sedangkan fuqaha atau ulama Hanafiyah membedakan jual beli menjadi tiga. dan ini dibolehkan menurut syara’. tidak dalam satu majlis akad. Dinjau dari segi hukumnya Jual beli dinyatakan sah atau tidak sah bergantung pada pemenuhan syarat dan rukun jual beli yang telah dijelaskan di atas. yaitu mengambil dan memberikan barang tanpa ijab kabul. yaitu jual beli yang tidak memenuhi salah satu syarat dan rukunnya. adalah jual beli yang tidak memenuhi rukun dan syarat jual beli. yaitu: 1) Shahih. Bagi orang bisu dapat diganti dengan isyarat. Dari sudut pandang ini. c. 3) Jual beli dengan perbuatan. Ditinjau dari segi pelaku atau subjek jual beli: 1) Dengan lisan. b. yaitu: 1) Shahih. Menurut sebagian ulama syafiiyah hal ini dilarang karena ijab kabul adalah rukun dan syarat jual beli.

Segala bentuk jual beli yang mengakibatkan penganiayaan hukumnya haram. 3) Fasid yaitu jual beli yang secara prinsip tidak bertentangan dengan syara’ namun terdapat sifat-sifat tertentu yang menghalangi keabsahannya. d. c. e) Menawar barang yang sedang ditawar orang lain. yaitu menguasai barang sebelum sampai ke pasar agar dapat membelinya dengan harga murah c) Membeli barang dengan memborong untuk ditimbun. seperti jual beli patung. b. d) Jual beli barang rampasan atau curian. Misalnya : a) jual beli barang yang wujudnya ada.11 Hal-hal Yang Terlarang Dalam Jual Beli . seperti menjual anak binatang yang masih bergantung pada induknya. seperti babi. seperti jual beli janin di dalam perut ibu dan jual beli buah yang tidak tampak. 2.a. b) Jual beli dengan menghadang dagangan di luar kota atau pasar. Jual beli atas barang yang tidak ada ( bai’ al-ma’dum ). namun tidak dihadirkan ketika berlangsungnya akad. bangkai dan khamar. yaitu jual beli yang ijab kabulnya dikaitkan dengan syarat-syarat tertentu yang tidak ada kaitannya dengan jual beli. Jual beli bersyarat. Jual beli yang menimbulkan kemudharatan. kemudian akan dijual ketika harga naik karena kelangkaan barang tersebut. Jual beli barang yang zatnya haram dan najis. salib atau buku-buku bacaan porno. e.

tetapi dilarang oleh islam karena sebab-sebab lain. antara lain ditinjau dari segi sah atau tidak sah dan terlarang atau tidak terlarang. tidak membatalkan akad jual beli. Jual beli ini terlarang karena ia tidak dapat membedakan barang yang jelek dan barang yang baik. 2. Wahbah Al-Juhail meringkasnya sebagai berikut: a. . berakal.  Jual beli terpaksa.Jual beli dapat dilihat dari beberapa sudut pandang. Jual beli yang terlarang dan tidak sah (bathil) yaitu jual beli yang salah satu rukun atau syaratnya tidak terpenuhi atau jual beli itu pada dasar dan sifatnya tidak diisyaratkan (disesuaikan dengan ajaran islam). 3. Berkenan dengan jual beli yang dilarang dalam islam.  Jual beli fudhul adalah jual beli milik orang lain tanpa seizin pemiliknya. 1. dapat memilih. Jual beli yang sah dan tidak terlarang yaitu jual beli yang terpenuhi rukunrukun dan syaratnya. Jual beli ini hukumnya sah. Terlarang Sebab Ahliah (Ahli Akad) Ulama telah sepakat bahwa jual beli dikategorikan sah apabila dilakukan oleh orang yang baliqh. Terlarang dikarenakan tidak adanya unsur kerelaan antara penjual atau pembeli dalam akad. Terlarang dikarenakan anak kecil belum cukup dewasa untuk mengetahui perihal tentang jual beli  Jual beli yang dilakukan oleh orang buta. Mereka yang dipandang tidak sah jual belinya sebagai berikut:  Jual belinya dilakukan oleh orang gila  Jual beli yang dilakukan oleh anak kecil. Jual beli yang sah tapi terlarang.

berkenaan dengan barang maupun harganya. yaitu jual beli yang telah disepakati oleh pihak akad. akad tersebut dipandang tidak sah. terlarang karena tidak memenuhi syarat in’iqad (terjadinya akad).  Jual beli barang yang tidak ada ditempat akad. yakni untuk menghindar dari perbuatan zalim.  Jual beli dengan isyarat atau tulisan. Terlarang Sebab Shigat Jual beli yang antara ijab dan kabulnya tidak ada kesesuaian maka dipandang tidak sah. c.  Jual beli malja’ adalah jual beli orang yang sedang dalam bahaya. dikarenakan kabul yang melebihi tempat. yang biasa disebut mabi’ (barang jualan) dan harga. maka akad tidak sah. Tetapi ada .  Jual beli melalui surat atau melalui utusan. Terhalang disini artinya karena bangkrut. Apabila isyarat atau tulisan tidak dipahami dan tulisannya jelek (tidak dapat dibaca). seperti surat tidak sampai ke tangan orang yang dimaksud. Beberapa jual beli yang termasuk terlarang sebab shigat sebagai berikut:  Jual beli Mu’athah. b. Jual beli terhalang. Terlarang sebab Ma’qud Alaih (barang Jualan) Ma’qud Alaih adalah harta yang dijadikan alat pertukaran oleh orang yang akad.  Jual beli munjiz adalah yang dikaitkan dengan suatu syarat atau ditangguhkan pada waktu yang akan datang. ataupun sakit. kebodahan. tetapi tidak memakai ijab kabul.  Jual beli tidak bersesuaian antara ijab dan kabul.

dan ikan yang ada didalam air tidak berdasarkan ketetapan syara’  Jual beli gharar adalah jual beli barang yang mengandung unsur menipu (gharar)  Jual beli barang yang najis dan yang terkena najis contohnya: jual beli bangkai.  Jual beli sesuatu sebelum dipegangi. Contohnya jual beli khamar. Setelah ada buah. apabila belum terdapat buah. anjing dan bangkai. tetapi belum matang. babi. dll. anatara lain:  Jual beli benda yang tidak ada atau dikhawatirkan tidak adab.  Jual beli yang tidak dapat diserahkan.  Jual beli barang yang tidak ada di tempat akad (gaib). d. Contohnya jual beli burung yang ada diudara. tetapi diperselisihkan.  Jual beli barang yang tidak jelas (majhul) terlarang karena akan mendatangkan pertentangan diantarmanusia. Terlarang Sebab Syara’ Jenis jual beli yang dipermasalahkan sebab syara’ nya diantara nya adalah:  Jual beli ribab  Jual beli dengan uang dari barang yang diharamkan. Jual beli buah-buahan atau tumbuhan. akadnya fasid.beberapa masalah yang disepakati oleh sebagaian ulama. disepakati tidak ada akad. . tidak dapat dilihat.

dimana seorang memberikan apa yang ia miliki untuk kemudian ia memperoleh sesuatu yang berguna dari orang lain sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. . Terlarang dikarenakan bagi laki-laki yang melakukan transaksi jual beli dapat menganggu aktivitas kewajibannya sebagai muslim dalam mengerjakan shalat jum’at. karena semua manusia secara pribadi mempunyai kebutuhan berupa sandang. yakni mencegat pedagang dalam perjalanannya menuju tempat yang dituju sehingga orang yang mencegat barang itu mendapatkan keuntungan. Jual beli hewan ternak yang masih dikandung oleh induknya. tak ada satu hal pun yang lebih sempurna daripada saling tukar. 2. dan papan.  Jual beli waktu adzan Jum’at. Kebutuhan seperti ini tak pernah putus selama manusia masih hidup. Jual beli barang dari hasil pencegatan barang.  Jual beli barang yang sedang dibeli oleh orang lain. Tak seorang pun dapat memenuhi hajat hidupnya sendiri.  Jual beli Anggur untuk dijadikan khammar.12 Hikmah Jual Beli Allah swt mensyariatkan jual beli sebagai pemberian keluangan dan keleluasaan kepada hamba-hamba-Nya. Dalam hubungan ini. pangan. karena itu manusia di tuntut berhubungan satu sama lainnya.

yang satu menerima benda-benda dan pihak lain menerimanya sesuai dengan perjanjian atau ketentuan yang telah dibenarkan syara’ dan disepakati. juga menjadi tolak ukur untuk mensejahterakan kehidupan rakyat terutama dalam bidang perekeonomian. rukun dan syarat jual beli.1 Kesimpulan Jual beli ialah suatu perjanjian tukar menukar benda atau barang yang mempunyai nilai secara ridha di antara kedua belah pihak. macam-macam jual beli. Untuk itu. Banyak dari kita yang menyepelekan masalah jual beli ini sehingga hal ini dapat merusak nilai amalan yang kita lakukan. Maka dari itu. jadi diperlukan kegiatan jual beli ini juga seluk beluk mengenai jual beli islam ini sudah dapat dilihat dalam bab-bab makalah ini. karena manusia ini adalah makhluk sosial. .BAB III PENUTUP 3. penulis menyimpulkan bahwa jual beli islam adalah suatu kegiatan yang bersifat kepentingan umum. penulis menulis makalah ini yang mana didalamnya membahas pengertian dan dasar hukum jual beli. hal-hal yang terlarang dalam jual beli dan hikmah dari jual beli itu sendiri agar terciptanya lingkungan ekonomi perdagangan islam yang sehat dalam kehidupan bermasyarakat.

Diakses pada tanggal 10 April 2016. Pengantar Fiqh Muamalah. Djuwaini. http://ryanrahmadi99. Lathifahbahrun. 2013. Lathifah.co. 1994. Jakarta. 2012.html.html.blogspot.co. Murabahah. Rahmadi. Ryan. Bandung.com/2012/01/jual-beli.Yogyakarta: Pustaka Pelajar. http://gudangilmusyariah.id/2013/04/makalah-murabahah.id/2014/05/pengertian-baisalam. Ba’I Salam. Duta Pahala.blogspot. 2008. Prof. Fiqih Muamalah. diakses tanggal 17 April 2016 .DAFTAR PUSTAKA Rahmat. Syafe’i MA. Pustaka Setia. 2004.blogspot. Fiqih Islam.. Bahrun. 2014. Jual Beli. Drs. Dimyauddin.html. Dr. diakses pada tanggal 17 April 2016 Fadli. Nawawiah.