Anda di halaman 1dari 53

Artikel dan Makalah tentang Pertumbuhan Mikroba, Kinetika, Perhitungan, Populasi, Kultur

,
Rumus, Fase, Metode, Faktor - Pertumbuhan dapat didefinisikan sebagai pertambahan jumlah
atau volume serta ukuran sel. Pada organisme prokariot seperti bakteri, pertumbuhan merupakan
pertambahan volume dan ukuran sel dan juga sebagai pertambahan jumlah sel. Pada jasad
bersel banyak (multiseluler), pembelahan sel tidak menghasilkan pertambahan jumlah
individunya, tetapi hanya merupakan pembentukan jaringan atau bertambah besar jasadnya.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Pertumbuhan mikroba dapat dibedakan antara pertumbuhan masing-masing individu sel dan
pertumbuhan kelompok sel atau pertumbuhan populasi. Pertumbuhan tersebut dapat diukur
secara langsung maupun tidak langsung. Pengukuran langsung akan diperoleh jumlah
keseluruhan mikrobia, baik yang hidup maupun yang mati, sedangkan pengukuran tidak langsung
hanya menghitung mikrobia yang hidup. Pengukuran langsung dilakukan secara mikroskopis yaitu
dengan menghitung jumlah bakteri dalam satuan isi yang sangat kecil. Alat yang digunakan
adalah Petroff-Hauser Chamber atau Haemocytometer. Pengukuran tidak langsung dapat
dilakukan dengan metode plate count, MPN maupun dengan pengukuran turbiditas dengan
menggunakan spektrofotometer.

Kinetika pertumbuhan populasi mikroba dapat dilihat berdasarkan sistem biakannya yaitu pada
biakan sistem tertutup (batch culture) dan biakan sistem terbuka (continous culture). Pada biakan
sistem tertutup, pengamatan pertumbuhan populasi mikrobia dalam waktu yang cukup lama
memberikan

gambaran

melalui

kurva

pertumbuhan,

terdapat

fase-fase

pertumbuhan.

Pertumbuhan sel bakteri biasanya mengikuti suatu pola pertumbuhan tertentu berupa kurva
pertumbuhan sigmoid. Fase pertumbuhan dimulai pada fase log, fase eksponensial, fase
stasioner, dan fase kematian.

Sistem biakan terbuka digunakan untuk mempertahankan sel pada fase pertumbuhan
eksponensial. Sistem biakan terbuka mempunyai ciri berupa ukuran populasi dan kecepatan
pertumbuhan dapat diatur pada nilai konstan menggunakan khemostat. Khemostat digunakan
dengan mengatur kecepatan aliran medium dan kadar substrat (nutrien pembatas). Nutrien
pembatas dapat menggunakan sumber C (karbon), sumber N atau faktor tumbuh.

Pertumbuhan mikrobia tidak lepas dari pengaruh faktor-faktor lingkungan. Perubahan lingkungan
dapat mengakibatkan perubahan sifat morfologi dan fisiologi mikrobia. Beberapa kelompok
mikrobia sangat resisten terhadap perubahan faktor lingkungan. Mikrobia tersebut dapat dengan
cepat menyesuaikan diri dengan kondisi baru tersebut. Faktor lingkungan meliputi faktor-faktor
abiotik (fisika dan kimia), dan faktor biotik. Oleh karena itu bahasan mengenai kinetika
pertumbuhan serta faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pertumbuhan perlu dikaji lebih lanjut.

1.2. Tujuan

Penulisan yang membahas tentang tema kinetika pertumbuhan mikrobia bertujuan untuk:
1. Menjelaskan dan menggambarkan bentuk kinetika pertumbuhan populasi mikroba pada
batch culture dan continuous culture.
2. Menjelaskan cara penghitungan pertumbuhan populasi mikroba.
3. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kinetika pertumbuhan mikroba.
BAB II
ISI

2.1. Kinetika Pertumbuhan Mikroba

Page 2 of 53

Kinetika pertumbuhan mikroba digunakan untuk menggambarkan sifat-sifat pertumbuhan
mikroorganisme.

Sifat

pertumbuhan

mikrobia

dapat

digambarkan

dalam

bentuk

kurva

pertumbuhan populasi mikroba yang ditumbuhkan dalam batch culture atau continuous culture.

2.2. Kinetika Pertumbuhan Mikroba dalam Batch Culture

Penumbuhan

mikroba

dalam

sistem

batch

culture

merupakan

sistem

kultur

tertutup

(menggunakan tabung reaksi atau flask) tanpa adanya penambahan medium baru ke dalam
kultur. Mikrobia dalam sistem tertutup mengalami 4 fase pertumbuhan, secara berurutan meliputi
fase lag, fase eksponensial, fase stasioner dan fase kematian. Pertumbuhan mikrobia dalam
sistem tertutup menyebabkan fase eksponensial mikrobia sangat terbatas (Brock, 2012). Tipe
pertumbuhan mikrobia dalam batch culture dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Kurva Pertumbuhan Populasi Mikroba dalam
Batch Culture.
Pada Gambar 1 menggambarkan jumlah berat kering sel mikroba (dalam bentuk log) yang
ditumbuhkan dalam periode inkubasi (waktu) tertentu. Mikroba akan mengalami fase pertumbuhan

Page 3 of 53

populasi berdasarkan laju peningkatan jumlah individu mikroba selama waktu tertentu (Scragg,
1988).

a. Fase Lag

Fase lag merupakan waktu yang dibutuhkan mikrobia untuk tumbuh beradaptasi di dalam medium
baru. Adaptasi mikrobia dilakukan untuk mensintesis enzim-enzim yang dibutuhkan untuk
pertumbuhan lebih lanjut. Pada fase lag terjadi pertambahan massa dan volume sel mikrobia.
Panjang atau pendeknya interval fase lag tergantung pada jenis inokulum mikrobia, medium yang
sedikit nutrisi dan kondisi pertumbuhan mikrobia saat diinokulasikan.

Ada 3 alasan mikrobia kembali ke fase lag, yaitu:
1. Inokulum hidup yang digunakan berasal dari kultur medium lama (saat mikrobia dalam fase
stasioner) dipindahkan ke dalam komposisi medium baru yang sama. Keadaan mikrobia
kembali ke fase lag karena mikrobia sudah tidak memiliki metabolit penting untuk
menunjang kehidupannya. Oleh karena itu, mikrobia membutuhkan rentang waktu untuk
melakukan biosintesis kembali. Mikrobia yang diinokulasikan mengalami kerusakan sel
(tidak mati) akibat perubahan suhu, radiasi atau bahan kimia toxic. Fase lag dibutuhkan
mikrobia untuk memperbaiki kerusakan sel nya.
2. Populasi mikrobia yang diinokulasikan berasal dari medium kaya nutrisi dipindahkan ke
dalam medium yang sedikit nutrisinya. Mikrobia membutuhkan waktu untuk menghasilkan
enzim baru yang digunakan untuk mensintesis metabolit essensial.
3. Populasi mikrobia tidak akan mengalami fase lag jika inokulum yang digunakan berasal dari
populasi mikrobia yang mengalami pertumbuhan fase eksponensial dan ditumbuhakan
pada kondisi medium yang sama (Brock, 2012).
b. Fase Eksponensial

Page 4 of 53

Pada fase eksponensial, populasi mikrobia mengalami pembelahan paling tinggi dan konstan
dalam waktu generasi yang pendek. Waktu generasi mikrobia merupakan waktu yang dibutuhkan
sel mikrobia untuk membelah menjadi 2 sel. Setiap sel mikrobia akan membelah 2x lipat sehingga
peningkatan jumlah populasi selalu 2n, n adalah jumlah generasi. Pertambahan jumlah sel dalam
populasi disebut sebagai pertumbuhan mikrobia.

Pada

fase

eksponensial,

awalnya

sel

mikrobia

membelah

secara

pelan

penambahannya semakin meningkat cepat. Secara matematis memiliki rumus:

Nt = N02n

(1)

Nt : jumlah sel setelah tumbuh selama waktu t

t : waktu pertumbuhan selama fase eksponensial

N0: jumlah sel mula-mula selama fase eksponensial

2 : bilangan tetap (pembelahan biner)

n : jumlah generasi (pembelahan)

Berikut contoh pertambahan populasi mikrobia yang dapat di lihat pada Gambar 2.

Page 5 of 53

kemudian

garis merah dalam skala Aritmetik dan garis biru dalam skala Logaritmik. contoh penggandaan sel mikrobia yang membelah setiap 20 menit. Titik perpotongan antara skala logaritmik dengan skala aritmetik menunjukkan adanya pertumbuhan eksponensial dan populasi mengalami penggandaan dalam interval waktu konstan. grafik penggandaan sel mikrobia. A. 1999: 115) Skala logaritmik menunjukkan jumlah sel dan skala aritmetik menunjukkan waktu inkubasi. (Dikutip dari Prescott. Pertumbuhan Eksponensial Populasi Mikrobia.Gambar 2. B. Penghitungan waktu generasi dapat digunakan rumus berikut: Nt = N02n log Nt = log N0 + n log 2 log Nt – log N0 = n log 2 Page 6 of 53 .

n = log Nt – log N0 = log Nt – log N0 —————— log 2 (2) —————— 0. k = n/t k = log Nt – log N0 ——————0. Rerata pertumbuhan dalam batch culture dapat dinyatakan dalam bentuk konstanta kecepatan pertumbuhan rerata (k). Waktu generasi (g) pada pertumbuhan ekponensial diperoleh dari: g = t/n (3) di mana t adalah waktu pertumbuhan (dalam hari/jam/menit).301(t) Jika populasi mengganda maka t = g Page 7 of 53 .301 menggunakan rumus tersebut maka dapat di cari nilai n.

Rata-rata kecepatan pertumbuhan pada fase eksponensial sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan (seperti nutrisi. Kondisi tersebut mempercepat proses metabolisme yang akan mempengaruhi kecepatan pertumbuhan mikrobia. Hal ini karena sel yang berukuran kecil memiliki kapasitas penyerapan nutrisi dan pembuangan sisa metabolisme lebih besar daripada sel yang berukuran besar. 2012). prokariot lebih cepat tumbuh daripada eukariot dan eukariot yang berukuran kecil lebih cepat tumbuh daripada yang ukurannya lebih besar. Pertumbuhan yang lebih cepat pada prokariot (bakteri) menyebabkan waktu generasinya lebih pendek dibandingkan eukariot (Brock.= log (2N0) – log N0 ———————– 0. kondisi inkubasi).301 (g) = log 2 + log N0 – log N0 —————————0. seperti halnya karakteristik genetik suatu mikrobia. Page 8 of 53 .301 (g) k = 1/g (4) g = 1/k (5) (waktu generasi berbanding terbalik dengan kecepatan pertumbuhan rerata) (Prescott. Pada umumnya. 1999).

Biomassa sel mikrobia dapat dihitung melalui konstanta kecepatan pertumbuhan spesifik (µ). maka: Xt / t = µX0 µ (t) = Xt / X0 µ = (ln Xt – ln X0) / t Page 9 of 53 . berikut: dX / dt = µX (1) dX : perubahan biomassa selama waktu dt dt : perubahan waktu X : biomassa sel (jumlah sel/komponen sel spesifik (protein)) µ : konstanta kecepatan pertumbuhan dalam bentuk logaritma dengan bilangan dasar e.

693 = µg (t=g) (5) Page 10 of 53 .µ(t) = ln Xt – ln X0 ln Xt = µ(t) + ln X0 Xt = Xo (e µt) (2) (dalam bentuk antilogaritma) (3) Kerapatan populasi dalam t dapat diperkirakan dengan µ sebagai konstanta pertumbuhan. sehingga rumus menjadi : Xt = X0 (e µt) (dalam bentuk antilogaritma) Xt / X0 = e µt 2 ln 2 = e µt = ln e µt 0. Penggandaan populasi terjadi saat Xt/Xo = 2. Parameter untuk konstanta pertumbuhan populasi secara eksponensial adalah waktu generasi (waktu penggandaan).693 = µt 0.

sedang k adalah nilai rata-rata populasi pada periode waktu terbatas. sehingga jumlah sel relatif konstan (pertumbuhan 0). Perbedaannya μ merupakan konstanta kecepatan pertumbuhan yang digunakan untuk memperkirakan kecepatan pertumbuhan populasi dari masing-masing aktivitas sel individual dan dapat digunakan untuk mengetahui dinamika pertumbuhan secara teoritis. yang menggambarkan asumsi rata-rata pertumbuhan populasi. pembelahan sel yang terjadi sangat lambat. Jumlah pembelahan sel dengan sel yang mati seimbang. Page 11 of 53 . keduanya menggambarkan proses pertumbuhan yang sama dari peningkatan populasi secara eksponensial. Pertambahan jumlah sel yang sebanding dengan kematian sel disebut dengan fenomena pertumbuhan kriptik.0. Fase Stasioner Mikrobia mengalami pertumbuhan yang terbatas dan konstan selama fase stasioner. Pada fase stasioner.693 k Xt : jumlah sel setelah t X0 : jumlah sel awal t (6) : waktu pertumbuhan diamati μ dan k. c.693 = µ (1/k) µ = 0.

Pada kondisi steady state konsentrasi nutrisi. Banyaknya sisa metabolisme yang tertimbun dalam medium kultur sehingga pertumbuhan mikroba terhambat (Brock. Terbatasnya nutrisi essensial dalam kultur yang mulai berkurang. Grafik fase kematian seperti grafik fase eksponensial yaitu logaritmik (kematian sel tiap jam adalah konstan). konsentrasi sel. 1999). Sel mikrobia yang mati akan mengalami lisis (Prescott. 4. 2012 dan Prescott. 2. 3. ketersediaan O2 dalam medium mulai berkurang. 2. mikroba ditumbuhkan secara terus menerus pada fase paling optimum untuk fase pertumbuhan yaitu fase eksponensial dimana sel membelah diri dengan laju yang konstan. Hal ini dilakukan dengan memberi nutrisi secara terus menerus sehingga mikroba tidak pernah kekurangan nutrisi. Kinetika Pertumbuhan Mikroba dalam Continuous Culture Dalam kultivasi mikroba menggunakan teknik continuous culture. massa menjadi dua kali lipat mengikuti kurva logaritmik. Fase stasioner terjadi karena beberapa alasan yaitu: 1. Penambahan nutrisi/media segar ke dalam bioreaktor dilakukan secara kontinyu. seperti berkurangnya nutrisi essensial dalam medium dan meningkatnya akumulasi zat toksik dalam medium.3. laju pertumbuhan dan konsentrasi produk tidak berubah walaupun waktu Page 12 of 53 . sel mikroba tetap aktif melakukan metabolisme energi dan proses biosintesis lainnya. Fase Kematian Fase kematian terjadi jika terjadi perubahan lingkungan menjadi tidak menguntungkan. Bagi organisme aerobik. 1999). Kondisi tersebut menghasilkan keadaan yang stedy state dimana pembentukan sel-sel baru sama dengan sel-sel yang dikeluarkan dari fermentor. dimana dalam waktu yang sama larutan yang berisi sel dan hasil produk hasil metabolisme dikeluarkan dari media dengan volume yang sama dengan substrat yang diberikan. Metabolit sekunder banyak dihasilkan mikrobia pada fase ini.Pada fase ini.

continuous culture menghasilkan efisiensi produksi yang lebih tinggi dibandingkan dengan batch culture asalkan produk yang dihasilkan tidak berpengaruh negatif terhadap mikroba penghasilnya. Laju pertumbuhan spesifik dipengaruhi oleh perbandingan antara laju aliran medium dan volume kultur disebut dengan “Laju Dilusi (D)” dimana D = F/V Keterangan: F : Laju aliran V : Volume D : Laju dilusi Dengan menggunakan continuous culture. Page 13 of 53 . sel mikroba atau produk metabolitnya dapat dipanen secara kontinyu.fermentasi makin lama. Untuk industri bioteknologi berkapasitas besar. Continuous culture cocok untuk diterapkan pada sistem produksi metabolit sel mikroba yang tidak berpengaruh pada pertumbuhan selnya itu sendiri.

Page 14 of 53 . Continuous culture memiliki beberapa kelebihan sebagai berikut: 1. pemasokan oksigen dan pembuangan panas dapat diatur. resiko kontaminasi besar (operasi harus hati-hati & desain peralatan lebih baik). 2007). 4. memerlukan mikroba dengan kestabilan genetik tinggi. Produktivitas lebih tinggi. Dapat dijalankan pada waktu yang lama. 2. 5. karena akan digunakan pada waktu yang lama (Irianto.Gambar 3. laju pertumbuhan & konsentrasi sel dapat dikontrol. Pemantauan dan pengendalian proses lebih sederhana. peralatan untuk operasi dan pengendalian proses harus biasa tetap bekerja baik untuk waktu yang lama. Tidak ada akumulasi produk yang menghambat. Teknik continuous culture. 3. Kekurangannnya antara lain: aliran umpan yang lama. disebabkan lebih sedikit waktu persiapan bioreaktor persatuan produk yang dihasilkan. dengan demikian hanya butuh pabrik lebih kecil (pengurangan biaya modal untuk fasilitas baru). Cocok untuk proses yang kontaminasinya rendah dan produk yang berasosiasi dengan pertumbuhan.

sumber N atau faktor tumbuh. Sebagai nutrien pembatas dapat menggunakan sumber C (karbon). diatur kecepatan aliran medium dan kadar substrat (nutrien pembatas). Hal ini dapat dicapai dengan mengatur kecepatan aliran medium baru ke dalam fermentor disesuaikan dengan aliran medium keluar fermentor untuk di panen. yaitu: khemostat dan turbidostat. dengan nutrien pembatas. Continuous culture mempunyai ciri ukuran populasi dan kecepatan pertumbuhan dapat diatur pada nilai konstan menggunakan khemostat. a. 1. Kadar nutrien yang rendah menyebabkan kecepatan pertumbuhan berbanding lurus dengan kadar nutrien atau substrat tersebut. Hubungan laju dilusi dengan konsentrasi sel Page 15 of 53 .Pemberian nutrient secara kontinyu dan untuk mempertahankan keadaan steady state dalam teknik kultivasi ini dapat dilakukan dengan dua macam cara. 1988): Dengan sistem ini. ada aliran keluar untuk mempertahankan volume biakan dalam kemostat sehingga tetap konstan (Scragg. Untuk mengatur proses di dalam khemostat. sel seolah-olah dibuat dalam keadaan setengah kelaparan. Khemostat Teknik continuous culture dengan menggunakan kemostat dilakukan dengan menambahkan nutrien melalui sebuah tangki sedemikian rupa sehingga komposisi nutrient di dalam fermentor tempat kultivasi mikrobia selalu dalam keadaan tetap. Pada sistem ini . Di dalam sistem ini sel dapat dipertahankan terus menerus pada fase pertumbuhan eksponensial atau fase pertumbuhan logaritma.

1988).Sifat-sifat kemostat dan pertumbuhan steady-state dapat ditunjukkan dengan sejumlah rumus yang berhubungan dengan jumlah sel dan konsentrasi nutrien pembatas terhadap laju alir suplai medium sebagai faktor yang beroperasi secara independen.h-1).1-1). V = konstanta volume reaktor yang bekerja (1). X0 = konsentrasi sel dalam medium suplai (g. X = konsentrasi sel dalam reaktor µ = laju petumbuhan spesifik α = laju kematian spesifik Page 16 of 53 . Hal ini dilakukan dengan menjaga keseimbangan materi dan pembatasan substrat dalam bioreaktor (Scragg. Akumulasi sel = sel masuk – sel keluar + pertumbuhan – kematian Keterangan : F = laju alir suplai medium (1.

sehingga persamaannya dapat ditulis ulang sebagai berikut: Selama pertumbuhan steady state. Hubungan antara konsentrasi substrat dan laju pertumbuhan Page 17 of 53 . Kultur mikroba dalam Kemostat. Dengan kemostat single-stage. maka μ = D. D.Gambar 4. suplai medium biasanya bersifat steril (dengan asumsi tanpa penggunaan kembali sel sebelumnya) dan µ > α. 2. dX / dt = 0. yang merupakan jumlah volume kultur yang melewati reaktor setiap jam. sehingga persamaannya dapat disederhanakan menjadi: dimana F/V diistalahkan sebagai laju dilusi.

siklus pertumbuhan kembali berjalan.Monod adalah orang pertama yang mengkaji pengaruh konsentrasi substrat tehadap laju pertumbuhan. Hubungan antara laju pertumbuhan spesifik (μ) dan konsentrasi substrat (S) dapat digambarkan dengan kurva (Gambar 4) yang mirip demgam yang penggambaran kinetika enzim model Michaelis-Menten. yang mengandung glukosa sebagai sumber karbon sekaligus sebagai sumber energi dan dengan semua nutrien yang terkandung di dalamnya. Monod mengajukan suatu aturan yang dikenal sebagai rumus Monod. untuk menggambarkan kurva tersebut. diinokulasikan. Beliau menemukan bahwa ketika medium segar. μmax : kecepatan pertumbuhan pada keadaan nutrien berlebihan S : kadar residu substrat pembatas Ks : kadar substrat pada saat μ = ½ μmax = konstanta satursi Page 18 of 53 .

Page 19 of 53 . Persamaan monod dapat dibuat persamaan garis lurusnya dengan pembalikan sebagai berikut: Perpotongan antara 1/µ dengan 1/S menghasilkan garis lurus dengan slope Ks/µm. Hubungan antara kecepatan pertumbuhan dan kecepatan penghasilan produk dengan kecepatan penggunaan substrat Biomassa (Yx/s)dan hasil produk (Yp/s) merupakan parameter yang penting selama keduanya menunjukkan efesiensi penggunaan substrat dalam biomassa dan produk. menangkap titik absis dari -1/Ks dan ordinat µm (Gambar 5). Keduanya ditetapkan sebagai berat biomassa dan berat produk yang dibentuk per unit dari substrat yang digunakan. 3. Pengaruh konsentrasi substrat terhadap kecepatan pertumbuhan spesifik.Gambar 5.

dan dimana: Yx : berat biomassa sel Yp : berat produk dX/dt : kecepatan Pertumbuhan dP/dt : kecepatan penghasilan produk dS/dt : kecepatan Penggunaan substrat Jika μ = D → dX/dt = 0 (D< Dc) Dc: D critical Dc = (μmaks x So)/(Ks + S0) Page 20 of 53 .

tahap stationer dan tahap kematian. Pertumbuhan konsentrasi sel dipertahankan konstan dengan cara memonitor kekeruhan kultur. aliran medium diatur berdasarkan atas kerapatan optik kultur mikrobia. Perpotongan Double Reciprocal antara 1/μ dan [1/S]. Page 21 of 53 . Sistem ini didasarkan pada kerapatan bakteri tertentu atau kekeruhan tertentu yang dipertahankan konstan. b.Gambar 6. Turbidostat Teknik kultivasi dengan sistem turbidostat dilakukan dengan menambahkan nutrient secara kontinyu sehingga kerapatan sel selalu dalam keadaan tetap. Kalau pada biak sinambung merupakan sistem terbuka yang mengupayakan keseimbangan aliran untuk organisme selalu terdapat kondisi lingkungan yang sama. Dalam teknik turbidostat. Ada perbedaan mendasar antara biak statik klasik dengan biak sinambung dalam kemostat biak static arus dilihat sebagai sistem tertutup (boleh disamakan dengan organisme sial.

Dalam pertumbuhan sinkron akan terjadi sinkronisasi pembelahan sel. Sinkronisasi populasi sel dapat dicapai dengan berbagai tindakan buatan antara lain dengan merubah suhu rangsangan cahaya. Turbistat Penggunaan Kultur Kontinyu Pada Industri adalah sebagai berikut : Page 22 of 53 . Hal ini dimaksudkan agar proses metabolisme siklus pembelahan bakteri dapat dipelajari diperlukan suspensi sel yang mengalami pembelahan sel dalam waktu sama yaitu sinkron. Outlet for spent medium 4. Gambar 7. pembatasan nutrien atau menyaring untuk memperoleh sel-sel yang sama ukurannya. Kultur mikroba dalam Turbidostat. 2005). Foto sel 5. Reservoir of steril medium 2. Keterangan : 1. Valve controling flow of medium 3. Sinkronisasi pertumbuhan ini juga dimaksudkan untuk menyediakan stater dengan usia yang sama (Budiyanto. Sumber cahaya 6.

antara lain adalah dengan membuat preparat dari suatu bahan (preparat sederhana diwarnai atau tidak diwarnai) dan penggunaan ruang hitung (counting chamber).1.4. 4. substrat metanol). Digunakan untuk penelitian fisiologi dan biokimia mikroba. dalam teknik ini Page 23 of 53 . 2. Berdasarkan jumlah sel 1. dikarenakan kondisinya mantap. Berdasarkan aktivitas metabolisme Uraian : a. Untuk produksi bir. Berdasarkan jumlah sel b. 2. Teknik mengukur pertumbuhan populasi mikroba a. laju pertumbuhan dapat diatur oleh laju air dan laju pertumbuhan dibatasi oleh konsentrasi substrat pembatas. contoh ICI (Imperial Chemical Industries. 3. kapasitas bioreaktor 3000 m3. Untuk produksi biomassa. Metode langsung secara mikroskopis (Total count) Ada beberapa cara perhitungan secara langsung. Enumerasi mikroba dapat dilakukan secara langsung yaitu dengan menghitung jumlahnya tanpa ditumbuhkan terlebih dahulu dalam suatu medium. dapat digunakan untuk penelitian pengaruh substrat pembatas terhadap kinerja mikroba. Untuk isolasi dan seleksi mikroba penghasil enzim menggunakan media diperkaya. Berdasarkan biomasa sel c.

01 mL) pada microscope slide. Breed slide method Pada metode ini tidak dibedakan sel yang hidup dan sel mati. Page 24 of 53 . a). Penghitungan melalui Breed slide method. Sampel berupa cairan disebar (kira-kira 0. b).semua sel mikroba baik yang hidup maupun yang mati akan terhitung. Alat yang digunakan adalah Petroff-Hauser Chamber atau Haemocytometer. Untuk melakukan renumerasi mikroba dalam suatu bahan seringkali diperlukan pengenceran bertingkat. Dengan membuat preparat dari Suatu bahan (preparat sederhana diwarnai atau tidak diwarnai) dan penggunaan ruang hitung (counting chamber). Penghitungan dilakukan secara langsung pada setiap bidang pandang mikroskop. Gambar 8. Jumlah cairan yang terdapat antara coverglass dan alat ini mempunyai volume tertentu sehingga satuan isi yang terdapat dalam satu bujur sangkar juga tertentu. Setelah dilakukan pewarnaan kemudian dilakukan penghitungan pada setiap bidang pandang mikroskop. Petroff-Hauser chamber atau Haemositometer Penghitungan secara langsung dapat dilakukan secara mikroskopis yaitu dengan menghitung jumlah bakteri dalam satuan isi yang sangat kecil.

Metode tidak langsung (viable count) Perhitungan cara tidak langsung hanya untuk mengetahui jumlah mikroorganisme pada suatu bahan yang masih hidup saja (viable count). Sel nakteri yang tersuspensi akan memenuhi volume ruang hitung tersebut sehingga jumlah bakteri per satuan volume dapat diketahui. 2. Satu kotak besar di tengah.2 mm. Petroff-Hauser chamber dan Haemositometer. Dengan demikian satu kotak besar tersebut berisi 400 kotak kecil. Metode perhitungan secara tidak langsung yang didasarkan pada anggapan bahwa setiap sel yang dapat hidup akan berkembang menjadi satu koloni yang merupakan suatu indeks bagi jumlah organisme yang dapat hidup yang terdapat pada Page 25 of 53 . Tebal dari ruang hitung ini adalah 0. Satu kotak sedang dibagi lagi menjadi 16 kotak kecil. Gambar 9. dibagi menjadi 25 kotak sedang dengan panjang 0.Ruang hitung terdiri dari 9 kotak besar dengan luas 1 mm².1 mm.

Bakteri akan bereproduksi pada medium agar dan membentuk koloni setelah 18-24 jam inkubasi. namun hasilnya sama dengan metode pour plate.1 ml pada agar plate dan diratakan menggunakan alat yang disebut glass spreader. Untuk menghitung jumlah koloni dalam cawan petri dapat digunakan alat ’colony counter’ yang biasanya dilengkapi dengan pencatat elektronik.sampel. berdasarkan jumlah koloni yang tumbuh. Walaupun mikrobia tertanam dalam agar plate. volume kultur yang disebar tidak lebih dari 0. Dalam metode spread plate ini. Spread plate method Metode sebar (spread plate) merupakan metode penghitungan mikrobia pada medium padat. Pour plate method Page 26 of 53 . Keuntungan menggunakan metode spread plate daripada metode pour plate adalah kultur tidak pernah terpapar suhu 450 oC (suhu melelehnya agar). Cara ini adalah cara yang paling umum digunakan untuk menentukan jumlah mikroba yang masih hidup. dengan kelipatan 1 : 10. a). Teknik ini diawali dengan pengenceran sampel secara seri. b). Kemudian plate diinkubasi sampai terlihat koloni sehingga jumlah koloni mikrobia dapat dihitung. Gambar 10. Masing-masing suspensi pengenceran ditanam dengan metode tuang (pour plate) atau sebar (spread plate).

Gambar 11. c).0 ml. Sehingga metode pour plate ini cocok untuk menumbuhkan mikrobia anaerob. baik di permukaan atas maupun di bawah. kemudian medium agar yang telah dilelehkan (± 45 oC dituangkan ke dalam petri dish yang telah berisi kultur mikrobia.1-1. Selanjutnya dilakukan pemutaran petri dish agar kultur mikrobia dan medium agar bercampur dengan rata. Kultur mikrobia dimasukkan ke dalam petri dish menggunakan pipet steril. MPN method MPN adalah suatu metode enumerasi mikroorganisme yang menggunakan data dari hasil pertumbuhan mikroorganisme pada medium cair spesifik dalam seri tabung yang ditanam dari sampel padat atau cair yang ditanam berdasarkan jumlah sampel atau diencerkan menurut tingkat Page 27 of 53 .Metode pour plate adalah metode agar cair yang digunakan untuk inokulasi dalam petri dish. Koloni mikrobia akan tumbuh dan tertanam di dalam medium. Pour Plate Method. Volume kultur yang biasa digunakan 0.

Asumsi yang diterapkan dalam metode MPN adalah : 1. 3. Oleh karena itu homogenisasi sangat mempengaruhi metode ini. Jumlah sampel/pengenceran yang baik adalah yang menghasilkan tabung positif “kadang-kadang tetapi tidak selalu”. Sel bakteri terpisah-pisah secara individual. Jumlah yang didapatkan menggambarkan bakteri yang hidup (viable) saja. 5. MPN dinilai dari perkiraan unit tumbuh (Growth Unit / GU) seperti CFU (Colony Forming Unit). Semua tabung positif yang dihasilkan sangat tergantung dengan probabilitas sel yang terambil oleh pipet saat memasukkannya ke dalam media. bukan dari sel individu. Meskipun begitu baik nilai CFU atau MPN dapat menggambarkan seberapa banyak sel individu yang tersebar dalam sampel. tidak dalam bentuk rantai atau kumpulan (bakteri coliform termasuk E. Sel yang terluka dan tidak mampu menghasilkan tabung positif tidak akan terdeteksi.seri tabungnya sehingga dihasilkan kisaran jumlah mikroorganisme yang diuji dalam nilai MPN/satuan volume atau massa sampel. Media yang dipilih telah sesuai untuk pertumbuhan bakteri target dalam suhu dan waktu inkubasi tertentu sehingga minimal satu sel hidup mampu menghasilkan tabung positif selama masa inkubasi tersebut. Semakin kecil jumlah sampel yang dimasukkan (semakin tinggi pengenceran yang dilakukan) maka semakin “jarang” tabung positif yang muncul. Semakin besar jumlah sampel yang dimasukkan (semakin rendah pengenceran yang dilakukan) maka semakin “sering” tabung positif yang muncul. 4. Frekuensi positif (ya) atau negatif (tidak) ini menggambarkan konsentrasi mikroorganisme pada sampel sebelum diencerkan. Prinsip utama metode ini adalah mengencerkan sampel sampai tingkat tertentu sehingga didapatkan konsentrasi mikroorganisme yang pas/sesuai dan jika ditanam dalam tabung menghasilkaan frekuensi pertumbuhan tabung positif “kadang-kadang tetapi tidak selalu”. Bakteri terdistribusi sempurna dalam sampel 2. Metode MPN Page 28 of 53 . coli terpisah sempurna tiap selnya dan tidak membentuk rantai).

Beberapa golongan mikrobia sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan. Faktor-faktor tersebut dapat menjadi pembatas bagi kebutuhan hidup mikrobia. mesofil. Suhu maksimum adalah suhu tertinggi untuk kehidupan mikrobia. Jika jumlah kombinasi tabung positif tidak sesuai dengan tabel maka sampel harus diuji ulang. Oleh karena itu nilai MPN dari sampel yang memiliki populasi mikroorganisme yang tinggi umumnya tidak begitu menggambarkan jumlah mikroorganisme yang sebenarnya. Suhu 1. maka pertumbuhannya juga optimum. sedangkan yang lain resisten terhadap perubahan tersebut. E. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Mikroba Pertumbuhan dan aktivitas mikrobia dipengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan. Kisaran suhu pertumbuhan dibagi menjadi suhu minimum. mikrobia dapat dikelompokkan menjadi mikrobia psikrofil (kriofil). Suhu pertumbuhan mikroba Pertumbuhan mikrobia memerlukan kisaran suhu tertentu. Psikrofil adalah kelompok mikrobia yang dapat tumbuh pada suhu 0-30 oC dengan suhu optimum sekitar 15 oC Mesofil adalah kelompok mikrobia pada umumnya. Berdasarkan kisaran suhu pertumbuhannya. Suhu optimum adalah suhu paling baik untuk pertumbuhan mikrobia. mempunyai suhu minimum 15 0C suhu optimum 25-37 oC dan suhu maksimum 45Page 29 of 53 .dirancang dan lebih cocok untuk diterapkan pada sampel yang memiliki konsentrasi <100/g atau ml. suhu optimum. Suhu minimum adalah suhu terendah tetapi mikrobia masih dapat hidup. Semakin banyak seri tabung maka semakin tinggi akurasinya tetapi juga akan mempertinggi biaya analisa. Jika mikrobia berada di lingkungan yang sesuai. Faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas mikrobia antara lain sebagai berikut: a. dan suhu maksimum. dan termofil.

akan memberikan beberapa macam reaksi. sehingga molekul DNA tetap Kelompok ini mempunyai suhu minimum 40 oC stabil pada suhu tinggi. Di dalam DNA-nya mengandung guanin dan sitosin dalam jumlah yang relatif besar. Clostridium. Mikrobia ini mempunyai membran sel yang mengandung lipida jenuh. Suhu pertumbuhan berbagai jenis mikroba. Apabila mikroba dihadapkan pada suhu tinggi diatas suhu maksimum. tetapi ada juga yang dapat hidup diatas 50 oC (termotoleran). Page 30 of 53 . Contoh bakteri termofil adalah Bacillus. dan bakteri pereduksi sulfat/sulfur.55 oC Mikrobia yang tahan hidup pada suhu tinggi dikelompokkan dalam mikrobia termofil. Gambar 12. Contoh bakteri termotoleran adalah Methylococcus capsulatus. Selain itu dapat memproduksi protein termasuk enzim yang tidak terdenaturasi pada suhu tinggi. Sulfolobus. Bakteri yang hidup di dalam tanah dan air. sehingga titik didihnya tinggi. Untuk mikrobia termofil yang dapat tumbuh dibawah suhu 30 oC dimasukkan kelompok mikrobia termofil fakultatif. Bakteri yang hidup di laut (fototrof) dan bakteri besi (Gallionella) termasuk bakteri psikrofil. optimum pada suhu 55-60 oC dan suhu maksimum untuk pertumbuhannya 75 oC Untuk mikrobia yang tidak tumbuh dibawah suhu 30 oC dan mempunyai suhu pertumbuhan optimum pada 60 oC dikelompokkan kedalam mikrobia termofil obligat. umumnya bersifat mesofil.

terutama pada bakteri muda atau pada fase logaritmik. 3. Skibat-akibatnya adalah : 1.90-0. adalah suhu yang dapat memetikan spesies mikrobia dalam waktu 10 menit pada kondisi tertentu. Bakteri umumnya memerlukan aw atau kelembaban tinggi lebih dari 0.6. Mikrobia yang osmotoleran dapat hidup pada aw terendah (0. Cold shock. 2. adalah rusaknya sel dengan adanya kristal es di dalam air intraseluler. bakteri umumnya memerlukan aw 0.6) misalnya khamir Saccharomyces rouxii. Aspergillus glaucus dan jamur benang lain dapat tumbuh pada aw 0. Titik kematian thermal.998-0. Mikrobia umumnya dapat tumbuh pada aw 0.75. 2. tetapi bakteri halofil hanya memerlukan aw 0.8. Waktu kematian thermal. Faktor-faktor yang mempengaruhi titik kematian thermal ialah waktu. biasanya diukur dengan parameter aw (water activity) atau kelembaban relatif. suhu. b. adalah waktu yang diperlukan untuk membunuh suatu spesies mikrobia pada suatu suhu yang tetap. adalah proses pendinginan dibawah titik beku dalam keadaan vakum secara bertingkat. Pembekuan (freezing). pH dan komposisi medium. Page 31 of 53 . umur mikrobia. Kandungan air (pengeringan) Setiap mikrobia memerlukan kandungan air bebas tertentu untuk hidupnya.1. adalah penurunan suhu yang tiba-tiba menyebabkan kematian bakteri. Suhu rendah Apabila mikrobia dihadapkan pada suhu rendah dapat menyebabkan gangguan metabolisme. spora. Lyofilisasi. Mikrobia yang tahan kekeringan adalah yang dapat membentuk spora.98. 2. kelembaban. Proses ini dapat digunakan untuk mengawetkan mikrobia karena air protoplasma langsung diuapkan tanpa melalui fase cair (sublimasi). konidia atau dapat membentuk kista.999.

contoh beberapa jenis khamir. Ion-ion lain Page 32 of 53 . memerlukan pH yang konstan. e. terutama pada mikrobia yang dapat menghasilkan asam oleh karena itu buffer diperlukan untuk mempertahankan pH pada kisaran tertentu yang diperlukan untuk pertumbuhan mikroba. Untuk menumbuhkan mikrobia pada media. 2. yaitu pecahnya sel karena cairan masuk ke dalam sel. maka selnya akan mengalami plasmolisis. Mikrobia Osmofil : tumbuh pada kadar gula tinggi. yaitu terkelupasnya membran sitoplasma dari dinding sel akibat mengkerutnya sitoplasma. Berdasarkan tekanan osmosis yang diperlukan mikrobia dapat dikelompokkan menjadi: 1.c. contoh adalah buffer fosfat anorganik dapat mempertahankan pH diatas 7. contoh: bakteri yang termasuk Archaebacterium.94).2. Apabila diletakkan pada larutan hipotonis. misalnya Halobacterium. Cara kerja buffer adalah garam dibasik akan mengabsorbsi ion H+ dan garam monobasik akan bereaksi dengan ion OH-. Mikrobia Halodurik : tahan (tidak mati) tetapi tidak dapat tumbuh pada kadar garam tinggi (30 %). Buffer Buffer merupakan campuran garam monobasik dan dibasik. Tekanan Osmosis Tekanan osmosis sangat erat hubungannya dengan kandungan air. sel membengkak dan akhirnya pecah. d. Apabila mikrobia diletakkan pada larutan hipertonis. maka sel mikrobia akan mengalami plasmoptisa. Mikrobia Halofil : dapat tumbuh pada kadar garam yang tinggi. mampu tumbuh pada larutan gula dengan konsentrasi lebih dari 65 % wt/wt (aw = 0. 3.

sel mikroba dalam suspensi akan mengalami elektroforesis. Merusak mikrobia yang tidak mempunyai pigmen fotosintesis. f. Terjadinya elektrolisis pada medium pertumbuhan. Menyebabkan ionisasi molekul-molekul di dalam protoplasma.Logam berat seperti Hg. dan benzoat dapat mengurangi pertumbuhan mikrobia tertentu dan sering digunakan dalam pengawetan makanan. tartrat. 2. dan Pb pada kadar rendah dapat bersifat meracuni (toksis) karena mempunyai daya oligodinamik. Ion-ion lain seperti ion sulfat. 4.0 Å . yaitu daya bunuh logam berat pada kadar rendah. Page 33 of 53 . dan sinar radiasi lainnya dapat membunuh mikroba. Radiasi Bila mikrobia menerima paparan radiasi tertentu: 1. sinar ultra violet (4000-2950 Å . nitrat. Sinar X (0. Ag. 2. Menghasilkan panas yang dapat mempengaruhi pertumbuhan mikroba. g. Menyebabkan terjadinya shock karena tekanan hidrolik listrik. asam asetat. Listrik Bila aliran listrik diberikan pada medium tumbuh mikroba akan menyebabkan: 1. Adanya radikal ion dari ionisasi radiasi dan terbentuknya ion logam dari elektroda juga menyebabkan kematian mikroba.005-1. klorida. kematian mikroba akibat shock terutama disebabkan oleh oksidasi. Cu. senyawa lain misalnya asam benzoat. Cahaya mempunyai pengaruh germisida. dan asam sorbat. 3. Au. 4. 3.

5. maka dapat menyebabkan terjadinya mutasi pada mikroba. Umumnya tekanan 1 – 400 atm tidak mempengaruhi atau hanya sedikit mempengaruhi metabolisme dan pertumbuhan mikroba. Zat-zat seperti sabun. serta mengganggu fungsi transport membran sel maupun mengurangi aktivitas berbagai macam enzim. Getaran Getaran mekanik dapat merusak dinding sel dan membran sel mikroba.000 pound/inchi2 menyebabkan denaturasi protein. dan protein.000 kali/detik juga dapat digunakan untuk memecah sel mikroba. karena dapat menghambat sintesis RNA. tetapi ada mikrobia yang tahan hidup pada tekanan tinggi (mikrobia barotoleran). umumnya mikroba laut adalah barofilik atau barotoleran. DNA. contoh: bakteri Spirillum. tekanan hidrostatik yang lebih tinggi akan menghambat atau menghentikan pertumbuhan. 2. 3. Apabila tingkat iradiasi yang diterima sel mikrobia rendah. 4. dipakai untuk memperoleh ekstrak sel mikroba dengan cara menggerus sel-sel dengan menggunakan abrasif atau dengan cara pembekuan kemudian dicairkan berulang kali atau dengan getaran suara 10010. Tekanan Hidrostatik 1. j. dan yang tumbuh optimal pada tekanan tinggi sampai 16.000 pound/inchi2 (mikroba barofilik). deterjen. Page 34 of 53 . Tegangan Muka 1. Perubahan tegangan muka dinding sel akan mempengaruhi pula permukaan protoplasma. dan zat-zat pembasah (surfaktan) dapat mengurangi tegangan muka cairan/larutan. Tegangan muka mempengaruhi cairan sehingga permukaan cairan tersebut menyerupai membran yang elastis. Umumnya mikroba cocok pada tegangan muka yang relatif tinggi i. 2. akibatnya mempengaruhi pertumbuhan dan morfologi mikroba. Tekanan diatas 100. h.

1989.. D. Mikrobiologi. Lim. Budiyanto. M. Bandung: Yrama Widya.. 2nd Edition. M. S. C. Stuttard. University of Surrey.A. U. and Clark. Davey. Pelczar. M. MAK. A. and E. Food Microbiology. K. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang Press. Chan1986. J. 2000.. 1998. Brock Biology of Microorganisms Thirteenth Edition.G. D. Foodborne Microorganisms of Public Health Significance. Dasar-dasar Mikrobiologi. Bandung: IPB Press. A. Jakarta.K. 2013. Suriawiria. Mikrobiologi Umum. Mikrobiologi Dasar. New York Buckle. M.J. J.. Koes. Eyles. Jakarta. AIFST (NSW Branch).D.A. Mangunwidjaja. M. T.R. Stahl. 2007. dan E. 2005. Madigan. McGrow-hill book. Martinko.. 4ed. Guildford. New york.Australia.Daftar Pustaka : Adams. Irianto. UI Press. Djumali. Microbiology. Rekayasa Bioproses. J.D. Page 35 of 53 . 2006. P. 2005.J. Papas Sinar Sinanti. Newton. Hocking..

2006.id 1.ac. Bioindustri. mikrobiologi umum. nBIOINDUSTRI: BIOREAKTOR Nimas Mayang Sabrina S. Jur Teknologi Industri Pertanian Universitas Brawijaya Email : nimas. PENDAHULUAN 2.sunyoto@ub. Universitas Brawijaya. PEMILIHAN BIOREAKTOR 4. FUNGSI DASAR BIOREAKTOR - Pengantar - Tujuan - Definisi 3. MP Lab.Zubaidah. PENDAHULUAN Page 36 of 53 MODU Minggu 10 S E L FP R O P A G A TI N G E N T R E P R 1 . Elok. Malang. STP. TIPE BIOREAKTOR 1.

yang dirancang sebagai landasan dasar Bioindustri.1. 1.2 Tujuan Penguasaan materi dalam modul ini. Wahana untuk proses biologis dalam hal ini adalah bioreaktor. Bioreaktor merupakan peralatan atau wadah dimana di dalamnya terjadi transformasi biokimia dengan adanya aktivitas sel mikroba atau enzim. Pengendalian lingkungan yang optimal pada sistem bioindustri memerlukan suatu wahana pendukung. setidaknya terdapat dua komponen penting dalam bioindustri. Page 37 of 53 dan operasi . Agar dapat berlangsung secara optimal.1 Pengantar Bioindustri adalah industri yang melibatkan kerja mikroba dalam memproduksi barang dan jasa. akan dapat Mengetahui dan mengenal tentang tipe bioreaktor pada sistem bioindustri. yaitu biokatalis (enzim atau sel hayati) dan kondisi lingkungan. Dalam bab ini akan dipelajari mengenai tipe bioreaktor dan segala hal yang berkenaan dengan pengoperasiannya sehingga diharapkan dapat mengoptimalkan pemakaian biofilter.

dll) untuk pertumbuhan mikroba dalam menghasilkan produk yang diinginkan Optimasi petumbuhan biokatalis/pembentukan produk dapat dicapai dengan memasok: Page 38 of 53 . pH.3 Definisi Bioreaktor merupakan peralatan atau wadah dimana di dalamnya terjadi transformasi biokimia dengan adanya aktivitas sel mikroba atau enzim.1. FUNGSI DASAR BIOREAKTOR  FUNGSI DASAR: Memberikan lingkungan yang terkontrol (suhu. O2 terlarut. 2.

Nutrisi (hara) penting untuk memenuhi semua kebutuhan mikroba 3. PEMILIHAN BIOREAKTOR Beberapa hal yang harus dijadikan pertimbangan pada pemilihan bioreaktor antara lain:  Jenis mikroba yang digunakan  Galur stabil yang cocok untuk sinambung  Sifat mikroba (aerobik/anaerob)  Jenis dan ukuran sel (bulat lebih rentan dari yang berfilamen)  Sifat media  Contoh: udara dan metana yang eksplosif harus dipilih bioreaktor yang tanpa volume udara  Parameter proses  OTR (oxygen transfer rate)  Faktor produksi  Biaya dan persediaan bahan mentah Page 39 of 53 .1. Penghilangan komponen penghambat dari media 5. Inokulum 4. Sumber energi 2. Kondisi fisikokimiawi yang optimal 3.

 Fasilitas perdagangan  Pasar  Aturan kerja & keselamatan Persyaratan Konstruksi dan Rancang Bangun Reaktor  Bejana harus dapat dioperasikan secara aseptik  Aerasi dan agitasi memadai untuk pertumbuhan mikroba aerob  Konsumsi tenaga dan daya listrik sekecil mungkin  Mempunyai sistem pengontrol suhu dan pH  Mempunyai sarana untuk pengambilan contoh  Evaporasi tidak berlebihan  Peralatan harus praktis dan membutuhkan tenaga kerja sedikit  Permukaan bagian dalam bioreaktor licin  Geometri bioreaktor skala kecil. pilot plant dan skala besar sebaiknya sama untuk memudahkan penggandaan skala Bagian-bagian reaktor: Page 40 of 53 .

mikroba dan gelembung gas è volume yg tersisa = “head-space”. tergantung busa yang terbentuk  Bila banyak busa yg terbentuk. maka dibutuhkan headspace lebih besar dan volume kerja yang lebih kecil Page 41 of 53 . Suatu bioreaktor terbagi menjadi : volume kerja (working volume) dan volume head-space seperti yang terlihat pada gambar.  Volume kerja : fraksi volume total yang dipakai media.  Umumnya volume kerja : 70-80 % volume bioreaktor.

TIPE REAKTOR Tipe-tipe bioreaktor dapat dilihat pada bagan di bawah ini: Bahan Konstruksi Bioreaktor  Bioreaktor skala laboratorium dengan volume kurang dari 10 L terbuat dari gelas Pyrex  Bioreaktor yang lebih besar terbuat dari stainless stell Bioreaktor Berdasarkan Metode Aerasi Page 42 of 53 .4.

bioreaktor berpengaduk (STR). T-Flasks  Digunakan pada kultur sel hewan skala kecil  Inkubasi dilakukan secara horizontal untuk memperluas permukaan b. Fernback flasks  Contoh : teh Kombucha (teh yang diinokulasi dengan khamir dan bakteri asam laktat) c.Bioreaktor berdasarkan metode aerasinya dibagi menjadi empat. bioreaktor kolom gelembung/bubble column. Kultur Permukaan  Penggunaannya tidak terbatas di laboratorium  Contoh : pembuatan asam sitrat oleh Aspergillus niger Sistem kultur permukaan dapat dilihat pada gambar di bawah ini: Page 43 of 53 . labu kocok. yaitu kultur diam. Kultur Diam  Tidak ada tanaga yang digunakan untuk aerasi  aerasi tergantung pada transfer oksigen melalui permukaan kultur  Biasanya digunakan dalam skala kecil. a. dimana suplai oksigen tidak terlalu penting  Jenisnya : a.

Labu Kocok  Biasanya digunakan pada kultivasi sel skala kecil  OTR (oxygen transfer rate) lebih tinggi dibanding pada kultur diam  Keterbatasan transfer oksigen masih tidak dapat dihindari apabila menginginkan densitas sel yang tinggi è Baffle meningkatkan efisiensi transfer O2 (Orbital Shaker) Page 44 of 53 .dengan menggunakan tray (baki) c.

.  Mempunyai Standards konstruksi Organization memperhitungkan berukuran dan keefektifan (dimensi) British standar (e. Standards pencampuran dan  Da : Diameter impeller (agitator).  Keterangan : International yang struktur.  Dt : diameter tangki. Page 45 of 53 Institution) konsiderasi Penampang reaktor berpengaduk dapat dilihat pada Gambar. Geometri Standar Bioreaktor Tangki Teraduk  Bentuk geometri hampir silindris atau mempunyai bentuk dasar melengkung untuk membantu pencampuran (mixing) isi bioreaktor.g.d. Bioreaktor Berpengaduk (STR) Skema bioreaktor tangki teraduk (Stirred Tank Reactor = STR) yang digunakan untuk kultivasi mikrobial adalah sebagai berikut.

lubang (port) pengambilan sampel. sistem pengendalian ph. sistem pengendalian busa. sistem pembersihan dan sterilisasi dan saluran untuk mengumpulkan dan mengeluarkan isi bioreaktor.  W : Tinggi bilah Impeller  E : Jarak antara pertengahan bilah impeller Perlengkapan dasar tangki berpengaduk Perlengkapan dasar tangki berpengaduk antara lain sistem agitasi. sistem pemasokan oksigen.  Ht : Tinggi bioreaktor L : Lebar bilah Impeller. a. Page 46 of 53 . sistem pengendalian suhu. Db : Diameter baffle  HL : Tinggi cairan dalam bioreaktor. Sistem agitasi Fungsi sistem agitasi :  Agar pencampuran merata è meningkatkan laju perpindahan massa menembus film pembatas cairan dan gelembung udara  Memberikan kondisi "shear" yang dibutuhkan untuk memecah gelembung udara è luas permukaan pindah massa lebih besar  Sistem agitasi terdiri dari : agitator dan baffle.

b.Baffle digunakan untuk memecah aliran cairan dalam rangka meningkatkan turbulensi dan efisiensi pencampuran. Kebanyakan kultivasi mikroba menggunakan Rushton turbine impeller.6 bilah (blade). Sistem pemasokan oksigen Terdiri dari :  Kompressor yang menekan udara masuk ke dalam bioreaktor  Sistem sterilisasi udara masuk (inlet)  Sparger udara  Sistem sterilisasi udara keluar Page 47 of 53 . Jumlah impeller tergantung dari tinggi cairan dalam bioreaktor  Tiap impeller terdiri dari 2 .

diperlukan pengendali busa  Busa yangberlebihan akan menyebabkan penyumbatan pada filter udara keluar dan terbentuk tekanan di dalam bioreaktor è menyebabkan kehilangan media dankerusakan bioreaktor  Busa dikendalikan dengan penambahan senyawa anti busa (silikon atau minyak nabati)  Penambahan senyawa anti busa yang berlebihan dapat memperkecil laju perpindahan oksigen. Faktor yang Menyebabkan Terbentuknya Busa:  Media fermentasi kaya protein (e.g whey powder dan corn steep liquor)  Produk yang dihasilkan selama fermentasi (senyawa mirip deterjen : protein & lemak) Page 48 of 53 .c. Sistem Pengendalian Busa  Pada bioreaktor yang menggunakan sparger.

sehingga busa pecah d. Sistem Pengendalian Suhu Terdiri dari :  temperature probes  heat transfer system è jacket atau coil (efisiensi lebih baik tapi sulit dibersihan dan disterilisasi) e. Laju alir udara dan kecepatan agitasiè semakin besar kecepatan agitasi & laju aerasi meningkatkan pembentukan busa Antisipasi:  Penggunaan alat pemecah busa mekanis è dapat mengurangi kebutuhan senyawa antibusa  Volume “head space”è semakin besar volume head-space. semakin besar kecenderungan busa untuk pecah karena bobotnya sendiri  Suhu condenser è densitas busa meningkat saat berpindah dari volume headspace bersuhu hangat ke daerah condenser yang lebih dingin. sistem pemberian alkali dan sistem pemberian asam Page 49 of 53 . Sistem Pengendalian pH  Terdiri dari :  pH probe.

Lubang (port) pengambilan sampel Lubang ini didesain untuk memudahkan peneliti dalam pengambilan sampel sehingga tidak memberi pengaruh buruk terhadap kondisi di dalam reaktor. Basa/asam yang digunakan jangan yang korosif atau toksik terhadap sel mikroba.  Penggunaan asam sulfat jangan lebih besar dari konsentrasi 10 %.  KOH lebih baik. g. f.  HCl sebaiknya tidak digunakan karena sangat korosif. Sistem Pembersihan dan Sterilisasi - Sterilisasi udara masuk è mencegah kontaminasi mikroba dari udara yang - masuk ke dalam bioreaktor Sterilisasi pada udara keluar è mencegah kontaminasi udara terhadap mikroba dari dalam bioreaktor Page 50 of 53 . namun lebih mahal dibandingkan NaOH.  Pada bioreaktor skala kecil sering digunakan NaCO3.

tidak terjadi tekanan prositif dari udara. sehingga menurunkan tekanan yang dibutuhkan untuk melewatkan udara melalui filter Sistem Sterilisasi Udara Tekanan Positif Selama sterilisasi. digunakan konsep mempertahankan tekanan positif è selama sterilisasi. (a) (b) Pada gambar (a).Metode umum untuk sterilisasi adalah filtrasi :  Bioreaktor kecil (volume kurang dari 5 L) menggunakan membran Teflon berbentuk cakram (disk).  Bioreaktor laboratorium skala besar (sampai 1000 L). digunakan "pleated membrane filter" yang dilekatkan pada “polypropylene cartridges” è luas permukaan untuk filtrasi udara lebih besar. sehingga kontaminan dapat masuk ke dalam reaktor. kestrerilan reaktor Page 51 of 53 . Sebaliknya pada Gambar (b). pendinginan dan pengisian dan proses kultivasi udara harus dipompa (aerasi) ke dalam bioreaktor untuk mencegah kontaminan dari udara tidak akan tersedot ke dalam bioreaktor. Konsep tekanan positif ini dapat dilihat pada gambar. karena tekanan di luar reaktor lebih besar dari tekanan di dalam reaktor.

Latihan dan Diskusi (Propagasi vertical dan Horizontal) 1. Ign. sehingga mengurangi kemungkinan reaktor rusak pada pembersihan. Bioteknologi dalam Dunia Industri. h. http://www. reaktor perlu untuk dibersihkan.com/_fpclass/fp_bioreactors.html . jenis mana yang paling ideal Page 52 of 53 saat . Saluran untuk mengumpulkan dan mengeluarkan isi bioreaktor Pada akhir proses fermentasi. Dari keempat jenis reaktor menurut anda. sehingga terdapat saluran untuk mengumpulkan dan mengeluarkan isi reaktor dengan mudah. Andi offset. PROPAGASI A.terjaga karena ada tekanan udara yang masuk ke dalam reaktor (Pi) sehingga dapat menghalau udara berisi kontaminan yang berasal dari luar. Diakses pada tanggal 27 Juni 2012. REFERENSI Anonyomus. 2012. Bioreactor. Yogyakarta. Suharto.ars-fla. 1995.

Apa yang dimaksud dengan Stirred Tank Rector (STR)? 3. Pertanyaan (Evaluasi mandiri) 1.untuk digunakan? B. Apa yang dimaksud dengan agitator? 4. Apa yang dimaksud dengan bioreaktor? 2. Bagaimana mekanisme tekanan positif pada sistem sterilisasi udara pada bioreaktor? 5. Apakah yang menyebabkan busa pada operasi bioreaktor? Page 53 of 53 .