Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PELAYANAN KESEHATAN MASYARAKAT PRIMER (PKMPP

) /
USAHA KESEHATAN MASYARAKAT (UKM)

Topik : Gizi buruk
Diajukan sebagai bagian dari persyaratan dalam menyelesaikan
Program Internship Dokter Indonesia di Puskesmas Kediri
Kabupaten Lombok Barat
Nusa Tenggara Barat

Oleh :
dr.Dian Rosmala Dewi

Program Dokter Internship Indonesia
Kabupaten Lombok Barat
2016

. Status gizi secara klinis dan menurut antropometri BB/TB atau BB/PB Status gizi Klinis Antropometri Gizi buruk Tampak sangat <-3SD atau 70% kurus dan atau edema pada seluruh kaki dan seluruh tubuh Gizi kurang Tampak kurus >. a SD: skor standard deviasi/z-score. Berdasarkan SUSENAS 2002. Pada Riskedas 2007 angka tersebut turu menjadi 13% balita dan 5.9% gizi buruk. Anak usia di bawah lima tahun (balita) merupakan prevalensi tertinggi. Marasmus: kurang kalori dan protein. BB/TB-PB dimana: -2SD menunjukkan bahwa anak berada pada batas terendah dari kisaran normal. Meskipun telah mengalami penurunan akan tetapi nominal jumlah anak yang mengalami gizi buruk relatif besar. Menurut WHO gizi buruk adalah terdapatnya edema pada kedua kaki atau adanya severe wasting (BB/TB <70% atau <-3SD a atau ada gejala klinis gizi buruk (kwarsiorkor. sering disertai diare mapun TBC.Latar Belakang Malnutrisi energi dan protein merupakan salah satu masalah gizi di Indonesia. baggy pants. kulit keriput. wajah tua. adn <-3SD menunjukkan sangat kurus (severe wasting). atau marasmik-kwarsiorkor). 26% balita menderita gizi kurang dan gizi buruk. marasmus. perut cekung.-3SD sampa <2SD atau 80% Gizi baik Tampak sehat -2SD sampai +2SD Gizi lebih Tampak gemuk >+2SD Terdapat 3 tipe gizi buruk yaitu : 1. Sedangkan anak didiagnosis gizi kurang jika BB/TB atau BB/PB <-2SD atau 80% median. jaringan lemak tidak ada (terutama bagian kedua bahu lengan pantat dan paha). tulang berbungku kulit.4% gizi buruk kemudian mengalami perbaikan di tahun 2010 yakni 4. Anak didiagnosis gizi buruk apabila secar klinis tampak sangat kurus dan atau edema pada kedua punggung kaki sampai seluruh tubuh dan atau Nilai BB/TB atau BB/PB sebesar <-3SD atau dengan 70% median. Nilai BB/TB atau BB/PB sebesar -3SD hampir sama dengan 70% BB/TB atau BB/PB rata-rata (median) anak. iga gambang. serta 8% gizi buruk. sangat kurus.

rambut pirang kasar.Permasalahan 2. perut membesar/hepatomegali. Composmentis Tanda Vital: Nadi Respirasi Suhu BB PB : 114x/menit : 42x/menit : 38. tanda-tanda perdarahan (-). Riwayat Alergi: Alergi obat atau makanan disangkal PEMERIKSAAN FISIK: Keadaan Umum : Sedang.bab cair (-). Marasmik kwasiorkor: gabungan antara keduanya. nafsu makan menurun (+). L Usia : 20 Bulan Alamat : kediri Anamnesis: Keluhan Utama : Sesak nafas Riwayat Penyakit Sekarang : Os datang di bawa ibunya dengan keluhan sesak nafas (+) sejak tadi pagi. Keluhan tidak berkurang. Kwasiorkor: kurang protein. edem pada kaki/anasarka.4kg : 60 cm . disertai batuk berdahak (+) dahak sulit keluar (+). kaki dan wajah sembab. sering disertai ISPA. riwayat DHF (-) Riwayat Pengobatan: Suda pernah periksa ke bidan di beri obat batuk puyer dan paracetamol. otot mengecil. rewel/apatis. 3. dermatofitosis extremitas.riwayat tifoid (-). muntah (+) tiap kali batuk (+) isi cairan dan lendir (+). demam (+) sejak 5 hari yang lalu (+). tampak tua(+) Kesadaran : E4v5m6. perut tampak membesar (-). crazy pavement dermatosis.40 C : 4. pilek (+). Riwayat Penyakit Dahulu: Keluhan serupa (+). pembesaran organ. Kasus Identitas Pasien : Nama : An.

Z score : <-3SD Kepala/Leher: Anemis (+/+).dypsneu ec. nyeri perut sulit dinilai (+). massa (-).Nebulizer combivent ½ A+ Nacl 3cc/8 jam . sianosis (-). murmur (-). Bronkhiolitis Intervensi yang akan diberikan yaitu secara farmakologis.Vit A 200. Pasien mendapatkan terapi farmakologis berupa . Peneumonia Gizi buruk tipe marasmus Perencanaan dan Intervensi Pelaksanaan Monitoring dan evaluasi Diagnose banding: 1. BB. rhonki +/+. Pemantauan kondisi harian pasien. konseling gizi dan edukasi Pasien diindikasikan untuk dirawat inap. wheezing +/+ Cor: S1S2 tunggal.Paracetamol Syrup 3x ½ cth. regular. . timpani di seluruh lapang abdomen.Pemberian cairan infuse IVFD D516 tpm mikro.As folat 5mg 1x1 pada hari 1. vesikuler +/+. dispneu (+).Inj. edema (-) akral hangat +/+ crt <2” PEMERIKSAAN PENUNJANG: Cek darah lengkap+GDS Diagnosis: Obs. Komentar/umpan balik: . sonor (+).vitamin B6 2x1/4 . efek obat yang telah diberikan kepada pasien.2 dan ke 15 . . peristaltic (+) normal.F75 80kkal/hari . Ikterik (-). rambut hitam (+) Thorax: Pulmo: retraksi sub costal +/+. krepitasi (-).Gejala tambahan. gallop (-) Abdomen: Supel (+). TB paru 2. Ampisilin 110mg/6jam . hepar dan lien sulit dinilai (+) Genitalia: Baggy pants (-) Extremitas : Dermatofitosis (-).000 1x1 Menganjurkan pasien untuk mengurangi minum/makan untuk mencegah aspirasi dan kompres hangat Dilakukan pemeriksaan darah lengakp esok harinya.

Sabaruddin) .H.Mataram.Dian rosmala dewi) Pendamping (dr. 06 juni 2016 Peserta (dr.

Upaya Pengobatan Dasar Topik : Asthma Bronchiale Diajukan sebagai bagian dari persyaratan dalam menyelesaikan Program Internship Dokter Indonesia di Puskesmas Kediri Kabupaten Lombok Barat Nusa Tenggara Barat Oleh : dr.LAPORAN USAHA KESEHATAN PERORANGAN Laporan F6.Dian Rosmala Dewi Program Dokter Internship Indonesia Kabupaten Lombok Barat 2016 .

Prevalensi asthma di Indonesia berdasarkan penelitian 2002 pada anak usia 13-14 tahun adalah 6.Latar Belakang Menurut World Health Organization (WHO) Asthma bronchiale merupakan keadaan inflamasi kronis dengan penyempitan saluran nafas yang reversible. Tidak perlu di beri bronkodilator  Anak dengan distress nafas atau mengalami wheezing berulang beri salbutamol dengan nebulisasi atau MDI (metered dose inhaler). atau suntikan epineprin/adrenalin subkutan seperti yang diterangkan di bawah: .2mg/kgbb/kali tiap 6-8jam.050. Jika salbutamol tak tersedia beri suntikan epineprin/adrenalin subkutan.7%. udara masuk terdengar lebih baik saat auskultasi) harus terlihat dalam 20 menit. Periksa kembali anak setelah 20 menit untuk menentukan terapi selanjutnya: 1. Ekspirasi memanjang dengan suara wheezing yang dapat di dengar 5. Pada serangan berat anak mungkin memerlukan beberapa dosis inhalasi. Tanda karakteristik berupa wheesing berulang di sertai batuk yang menunjukkan respon terhadap obat bronkodilator dan anti inflamasi. Tatalaksana  Anak dengan episode wheezing tanpa distres nafas bisa dirawat di rumah hanya dengan terapi penunjang.2% (10% pada anak) dan bervariasi antar negara. Episode batuk dan atau wheezing berulang 2. Antibiotik hanya diberikan jika terdapat tanda pneumonia. Diagnosis 1. Hiperinflasi dada 3. Tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam 4. Jika distress nafas menetap pasien dirawat di rumah sakit dan diberi terapi oksigen. jika distres nafas sudah membaik dan tidak ada nafas cepat nasehati ibu untuk merawat di rumah dengan salbutamol hirup atau bila tak tersedia beri salbutamol syrup peroral atau tablet dengan dosis 0. beri satu dosis bronkodilator kerja cepat (adrenalin dan salutamol). Anak dengan asthma biasanya membaik dengan cepat terlihat penurunan frekuensi pernafasan dan tarikan dinding dada dan berkurangnya distres pernafasan. salbutamol dengan MDI dengan alat spacer. 2. Prevalensi total asthma di seluruh dunia di perkirakan 7. Respon baik terhadap bronkodilator Bila diagnosis tidak pasti. Jika tidak ada respon setelah 3 dosis bronkodilator kerja cepat beri aminofilin IV  Bronkodilator kerja cepat Beri anak bronkodilator kerja cepat dengan salah satu dari 3 cara berikut: nebulisasi. Bila tidak terjadi beri bronkodilator kerja cepat dengan interval 20 menit. Respon positif (respon pernafasan berkurang.

sakit kepala.01 ml/kg dalam larutan 1:1000 (dosis maks 0. Salbutamol MDI dengan alat spacer: pada anak dan bayi biasanya lebih baik jika memakai masker wajah yang menempel pada spacer dibaningkan memakai mouthpiece. Kemudian dikurangi tiap 6-8jam bila membaik. . Diikuti dosis rumatan 0. Jika tidak ada iv maka suppositoria bisa jadi pilihan. batuk (+) disertai dahak putih sejak 3 hari yang lalu (+) pilek (+) demam (-). Bila kasus berat dapat diberikan tiap jam untuk waktu yang singkat 2. Kasus Identitas Pasien : Nama : an. Serangan asthma dirasakan lebih dari satu kali dalam seminggu. Salbutamol nebulisasi: harus menghasilkan udara min 610 L/menit. hipotensi atau kejang.  Steroid Bila anak mengalami serangan wheezing yang beart berika kortikosteroid sistemik metiplrednisolon 0. Bisa di berikan setiap 4 jam.5mg/kali nebulisasi.5-1 mg/kgbb jam. Alat yg di rekomendasikan adalah jetnebulizer (kompresor udara) atau silinder oksigen.3mg/kgbb/kali iv/oral tiga kali pemberian selama 3-5 hari  Aminofilin Jika anak tidak membaik dengan 3 dosis bronkodilator kerja cepat beri IV aminofilin dosis awal bolus 6-8mg/kgbb dalam 20 menit.3 mg/kgbb/kali tiga kali sehari pemberian oral atau deksametason 0. ulangi dosis dua kali lagi dengan interval dan dosis yang sama. Jika tidak ada perbaikan setelah 20 menit.3 ml) menggunakan spuit 1 ml. Hentikan pemberian bila ank mulai muntah. Bila gagal dirawat sebagai serangan berat dan di berikan steroid dan aminofilin.M Usia : 8 Tahun Alamat : Montong are Anamnesis: Keluhan Utama : Sesak Riwayat Penyakit Sekarang : Os datang dibawa ayahnya dengan keluhan sesak nafas sejak tadi malam (+) terus menerus. denyut nadi >180x/menit. sulit tidur (+) keringat dingin (+).Permasalahan 1. Dosis salbutamol adalh 2.  Epineprin subkutan Jika kedua cara untuk pemberian salbutamol tidak tersedia beri suntikan epineprin subkutan dosis 0. Serangan meningkat saat malam hari/suhu dingin (+). Bila dalam 8 jam sebelumnya telah mendapat aminofilin beri dosis setengahnya. kelelahan (+).

60 C Bb: 21kg Kepala/Leher: Anemis (-/-). riwayat konsumsi obat salbutamol (+) Riwayat Pengobatan: Sejak 1 tahun terakhir mengalami keluhan serupa. rhonki+/+. batasi minum atau jika minum harus pelan-pelan (awasi terjadi aspirasi cairan) Prognosis : Dubia ad Bonam . sianosis (-). riwayat pneumonia (+). Posisi ½ duduk. vesikuler +/+. alergen. kumat beberapa kali dalam sebulan. sonor+/+. peristaltic (+) normal. simetris +/+. kontrol ke igd+poli anak PKM kediri diberi salbutamol+dexametason Pemeriksaan Fisik: Keadaan Umum : tampak sesak Kesadaran : Composmentis Tanda Vital: Nadi : 104x/menit Respirasi : 34x/menit Suhu : 37. dispneu (+) Thorax: Pulmo: retraksi dinding daada+/+.Belum diobati sebelumnya Riwayat Penyakit Dahulu: Riwayat asthma(+).9% menjadi 20cc 126mg Lalu drip aminofilin 3cc/kgbb dalam Nacl 0. riwayat alergi obat (-). aktivitas yang berlebih.5mg/kgbb/kali 10. Asthma Bronchiale peristen sedang Perencanaan dan Intervensi yang akan diberikan yaitu secara farmakologis dan edukasi Intervensi Penatalaksanaan Medikamentosa 02 nk 3lpm Nebulizer combivent ½ A+Nacl 3cc 3x pemberian dengan jarak 4jam Bolus aminofilin 6mg/kg bb dilarutkan dengan Nacl 0. wheezing +/+ Cor: S1S2 tunggal. nyeri ulu hati (-) Extremitas : akral dingin (+/+) crt >2” Pemeriksaan Penunjang:Diagnosis: Dypsneu ec. gallop (-) Abdomen: Distensi (-). soepel. Ikterik (-).9% 500 ml  63mg Inj dexametason 0. stressor. timpani di seluruh lapang abdomen. regular. murmur (-).5mg /24jam Non Medikamentosa Edukasi untuk mengindari pencetus ex: debu.

Monitoring dan Dilakukan pemantauan tiap 3jam. Komentar/umpan balik: Mataram.Sabaruddin) .Dian Rosmala d) Pendamping (dr. Catat tanda vital jika ada perburukan rujuk RS.H. 6 juni 2016 Peserta (dr. lalu diperiksa 6jam setelah ada evaluasi perbaikan.