Anda di halaman 1dari 11

Borang Portofolio

No. ID dan Nama Peserta :
dr. Rebeka Hana Aruan
No. ID dan Nama Wahana :
RSUD Bangka Selatan
Topik :
Demam Tifoid
Tanggal (kasus) :
21 juli 2016
Nama Pasien :
An. As
No. RM :
0. 80. 57
Tanggal Presentasi :
12 agustus 2016
Pendamping : dr. Sastera Budi
Tempat Presentasi :
RSUD Bangka Selatan
Objektif Presentasi :
□ Keilmuan
□ Keterampilan
□ Penyegaran
□ Tinjauan Pustaka
□ Diagnostik
□ Manajemen
□ Masalah
□ Istimewa
□ Neonatus
□ Bayi
□ Anak
□ Remaja
□ Dewasa
□ Lansia
□ Bumil
Laki-laki usia 42 tahun, demam tinggi bersifat naik turun, sakit kepala, mual
□ Deskripsi :
disertai nyeri ulu hati sejak 7 hari yang lalu SMRS.
□ Tujuan :
Menegakkan diagnosis dan penatalaksanaan demam tifoid
Bahan
□ Tinjauan Pustaka □ Riset
□ Kasus
□ Audit
Bahasan :
Cara
□ Diskusi
□ Presentasi dan Diskusi
□ E-mail
□ Pos
Membahas :
Data

An. As
Pasien :
Nama Klinik : RSUD Bangka Selatan
Data Utama untuk Bahan Diskusi :

No. Registrasi : 00. 80. 57
Telp :

Terdaftar sejak : 21 Juli 2016

1. Diagnosis / Gambaran Klinis :
Laki-laki 42 tahun dengan keluhan demam sejak 7 hari SMRS. Panas bersifat naik
turun dan panas mulai meninggi biasanya pada sore hari. Tidak terdapat
penurunan kesadaran. Pasien mengeluh sakit kepala dan nyeri perut disertai
mual namun tidak sampai muntah.
2. Riwayat Pengobatan : os berobat ke dukun
3. Riwayat Kesehatan / Penyakit : Pasien tidak pernah menderita penyakit seperti ini

sebelumnya.
4. Riwayat Keluarga/ Lingkungan : Keluarga tidak ada yang mengalami keluhan yang sama
seperti os.
5. Riwayat Pekerjaan : Buruh
6. Riwayat kebiasaan pasien senang membeli gorengan di luar rumah dan suka makan mie.
7. Lain-lain :
Pemeriksaan fisik
 KU
 Tekanan darah

: CM
: 110/80 mmHg

1

Arif. NEJM.000 /mm3 GDS : 107 mg/dl Cholesterol: 144 mg/dl Widal : Widal A Widal B Widal H Widal O 1/320 Daftar Pustaka :     Mansjoer. Jilid 1.    Nadi Nafas Suhu Berat badan : 76 kali/menit : 20 kali/menit : 37. diameter 2mm/2mm. retraksi sub kostae (-)  Paru : Suara nafas vesikuler. Wahyu. oedem (-) PemeriksaanLaboratorium : Darah : Hb : 12. Demam thyfoid : penyebab. plak (-) : KGB tidak membesar. hepar dan lien tidak teraba membesar : timpani : bising usus (+) normal Ekstremitas : Akral hangat. refleks cahaya +/+ normal :Kering :Coated tongue (+). Penerbit Media Aesculapius. availabel at 2 . gejala dan patofisiologi tifus. Setiowulan.Tonsil T1-T1. Jakarta : halaman 421-425 Mansjoer. ronkhi -/-. 2014) Servasius Epi. (2000). Suprohaita. Available at : https://infodemam. Wiwiek. nyeri tekan(+) regio epigastrium dan hipokondria kanan. Demam Tifoid. wheezing -/ Jantung : Bunyi jantung I-II regular. Wardhani. Wahyu. Setiowulan. Jakarta : halaman 432-433 Typhoid fever. eksudat (-). meningeal sign (-) Bibir Tenggorokan Leher Thorak :  Inspeksi : simetris (+). Edisi ketiga. Edisi ketiga. Dalam Kapita Selekta Kedokteran. Tifus Abdominalis. Dalam Kapita Selekta Kedokteran.700 /mm3 Trombosit : 234. Wiwiek.com (last login : Maret 20.8gr/dl Hematokrit: 40 % Leukosit : 11. Penerbit Media Aesculapius. tidak hiperemis. Jilid 2. Suprohaita. sklera tidak ikterik.60 C : 60 kg   Kepala Mata     : Simetris :Konjungtiva tidak anemis. pupil isokor. bising (-) Gallop (-)  Abdomen       Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi : distensi (-) : supel. (2000). Wardhani. Arif.

Komplikasi demam tifoid Rangkuman Hasil Pembelajaran Portofolio 1. refleks cahaya +/+ normal Bibir : Kering 3 . Os mengatakan sering membeli gorengan di luar rumah. kesuma. Diagnosis demam tifoid 3. Subjektif : Pasien laki-laki 42 tahun datang diantar keluarganya pukul 10. Tidak dikeluhkan mimisan ataupun gusi berdarah dan tidak ditemukan bintik merah pada badan. Gejala klinis demam tifoid 2.  :http://sikkahoder. 2015 Hasil Pembelajaran : 1.blogspot.60 C Berat badan : 60 kg Kepala : Simetris Mata :Konjungtiva tidak anemis.00 wib ke IGD dengan keluhan demam sejak 7 hari SMRS. BAB (+) pagi tadi pukul 06.com/2013/10/konsep-dasar-typoid. http://dokumen.tips/documents/presentasi-demam-tifoid-ppt. flu(-).html Larasati. pupil isokor. Batuk (-).html juni 29. Panas bersifat naik turun dan demam mulai meninggi biasanya pada sore hari. sklera tidak ikterik. mencret (-).com http://www. demam tidak disertai dengan kejang.00 wib.abcmedika. diameter 2mm/2mm. Tatalaksana demam tifoid 4. Pasien mengeluh sakit kepala dan nyeri ulu hati disertai mual namun tidak sampai muntah. 2. Objektif :          PemeriksaanFisik KU : CM Tekanandarah : 110/80 mmHg Nadi : 78 kali/menit Nafas : 20 kali/menit Suhu : 37. Saat panas pasien menggigil serta tidak mengalami penurunan kesadaran. Nafsu makan pasien menurun.

wheezing -/Jantung : Bunyi jantung I-II regular. Di negara berkembang.700 /mm3 Trombosit : 234. Tonsil T2-T1. Assessment : Epidemiologi Besarnya angka pasti kasus demam tifoid di dunia sangat sulit ditentukan karena penyakit ini dikenal mempunyai gejala dengan spektrum klinis yang sangat luas. oedem (-) Pemeriksaan Laboratorium : Darah : Widal : Hb : 12. plak (-) : KGB tidak teraba membesar. nyeri tekan (+) regio epigastrium. murmur (-) Gallop (-)    Inspeksi : distensi (-) Auskultasi : bising usus (+) normal Palpasi : supel. hepar dan lien tidak teraba membesar Perkusi : timpani Abdomen   : Coated tongue (+). Data World Health Organization (WHO) tahun 2003 memperkirakan terdapat sekitar 17 juta kasus demam tifoid di seluruh dunia dengan insidensi 600. kasus demam tifoid dilaporkan sebagai penyakit endemis dimana 95% merupakan kasus rawat jalan sehingga insidensi yang sebenarnya adalah 15-25 kali 4 . tidak hiperemis.000 kasus kematian tiap tahun. Tenggorokan   Leher Thorak :     Inspeksi : simetris (+) Paru : Suara nafas vesikuler.000 /mm3 GDS : 107 mg/dl Cholesterol: 144 mg/dl Widal A Widal B Widal H Widal O 1/320 3.8gr/dl Hematokrit : 40 % Leukosit : 11. meningeal sign (-) Ekstremitas : Akral hangat. ronkhi -/-. eksudat (-).

paratyphi dari genus Salmonella termasuk bakteri gram negatif. kebersihan tempat-tempat umum yang kurang. Telah ditemukan lebih dari 40 serotipe. Masa inkubasinya 10-14 hari. berbentuk batang. Penyakit ini sangat erat hubungannya dengan kualitas dari higien pribadi dan sanitasi lingkungan. yaitu Salmonella enteridis bioserotipe paratyphi A. Salmonella enteridis bioserotipe paratyphi B. dan 98%-nya diisolasi hanya pada manusia dengan grup A sampai E. pasteurisasi. Demam paratifoid disebabkan oleh organisme yang termasuk dalam spesies Salmonella Enteridis. 5 . tumbuh baik pada suhu optimal 370 C.000 penduduk/ tahun atau sekitar 600. Serotipe yang paling sering menyebabkan enteric fever adalah serotipe D. dan khlorinisasi.paratyphi kedalam tubuh manusia melalui makanan yang terkontaminasi kuman. Salmonella typhi juga memperoleh plasmid faktor-R yang berkaitan dengan resitensi terhadap multipel antibiotik.lebih besar dari laporan rawat inap di rumah sakit. bersifat fakultatif anaerob. Mempunyai makro molekuler lipopolisakarida kompleks yang membentuk lapis luar dari dinding sel yang dinamakan endotoksin . Kuman ini juga dapat bertahan hidup lama di lingkungan kering dan beku. Salmonella termasuk kelompok Enterobacteriaceae dan terbagi atas beberapa sero grup berdasarkan antigen somatik (O). berflagela. Antigen tersebut terdiri dari lipopolisakarida. Salmonella typhi dan S. tidak berspora.000 penduduk/tahun dan di daerah perkotaan 760/100. Ada juga yang membagi serotipe berdasarkan antigen flagelnya (H) yang terdiri dari protein dan terdapat 1800 strain. serta perilaku masyarakat akan perilaku hidup bersih dan sehat. Di Indonesia kasus ini tersebar secara merata di seluruh propinsi dengan insidensi di daerah pedesaan 358/100. dan hidup subur pada media yang mengandung empedu.Salmonella enteridis bioserotipe paratyphi C. yang membentuk lapisan luar dari basil gram negatif ini. dan telah dikenali adanya antigen tambahan pada sero grup ini yaitu antigen kapsul (Vi) yang terdiri dari polisakarida dan protein membran hialin. Kuman ini mati pada pemanasan suhu +60o C selama 15-20 menit. seperti lingkungan yang kumuh. pendidihan. Umur penderitan yang terkena di Indonesia dilaporkan antara 3-19 tahun pada 91% kasus Etiologi Merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh masuknya kuman Salmonella typhi dan S.000 dan 1.5 juta kasus per tahun.

Gangguan saluran pencernaan : Bau mulut karena demam lama. Ada beberapa faktor yang menentukan apakah kuman dapat melewati barrier asam lambung. yaitu jumlah kuman yang masuk dan kondisi asam lambung. Patogenesis dan Patologi Kuman Salmonella typhii masuk ke dalam tubuh manusia melalui mulut bersamaan dengan makanan dan minuman yang terkontaminasi. hati dan limfe.typhii mengalami multiplikasi di dalam sel fagosit mononuklear di dalam folikel limfe. Untuk menimbulkan infeksi. lidah 6 . kadang demam terus-menerus (kontinyu). Dari hari ke hari intensitas demam makin tinggi disertai gejala lain seperti nyeri kepala (terutama di area frontal). Keadaan asam lambung dapat menghambat multiplikasi Salmonella dan pH 2. insomnia. dan anoreksia. Bakteri yang mencapai folikel limfe usus halus mengikuti aliran ke kelenjar limfe mesenterika bahkan ada yang mengalami resirkulasi sampai ke jaringan RES di organ hati dan limpa. biasanya pagi lebih rendah dibanding sore dan malam yang lebih tinggi. muntah-muntah. Di usus halus bakteri melekat pada sel-sel mukosa. bibir kering. maka S. dan Salmonella hirschfeldii. Pada minggu ke dua intensitas demam semakin - tinggi.0 sebagian besar kuman akan terbunuh dengan cepat. dan kemudian menginvasi mukosa dan menembus dinding ileum dan jejunum. Setelah periode waktu tertentu (periode inkubasi) yang lamanya ditentukan oleh jumlah dan virulensi kuman serta respon imun pejamu. nyeri otot. akan tetapi tempat yang disukai adalah hati. diperlukan Salmonella typhii sebanyak 103-109 yang tertelan melalui makanan dan minuman. S. Dengan cara ini organisme dapat mencapai organ manapun. kelenjar limfe mesenterika. limpa. selanjutnya suhu tubuh seringkali turun-naik. typhii akan keluar dari habitatnya. kantung empedu. yaitu adanya suasana asam oleh asam lambung dan enzim yang dihasilkan. dan Peyer’spatch di ileum terminal. Setelah kuman sampai lambung maka mula-mula timbul usaha pertahanan non spesifik yang bersifat kimiawi. Pada penderita yang mengalami gastrektomi. Bakteri yang masih hidup akan mencapai usus halus.Kuman-kuman ini lebih sering dikenal sebagai Salmonella paratyphi A. sumsum tulang. dan melalui duktus torasikus masuk ke dalam sirkulasi sistemik. Gejala Klinis - Demam : Pada awal sakit demam kebanyakan samar-samar. Salmonella schottmuelleri. hipoklorhida atau aklorhidria maka akan mempengaruhi kondisi asam lambung. Pada keadaan tersebut Salmonella typhii lebih mudah melewati pertahanan tubuh. pegal-pegal.

Gangguan kesadaran : Umumnya terdapat gangguan kesadaran yang berupa penurunan kesadaran ringan. Pada awal sakit sering ditemukan meteorismus dan konstipasi. serta ujung dan tepi lidah kemerahan dan tremor (coated tongue). Etiologik adalah untuk mendeteksi basil Salmonella dari dalam darah atau sumsum tulang. Komplikasi 1. c. Pada umumnya pasien mengeluh nyeri ulu hati disertai mual dan muntah. serta didukung oleh gambaran laboratorium yang menunjukkan tifoid. Suspek demam tifoid (suspect case) dengan anamnesis didapatkan PF gejala demam.kelihatan kotor dan ditutupi selaput putih. Pada penderita toksik gejala - deliriumnya lebih menonjol. Diagnosis 1) Klinis :Diagnosis klinis tifoid diklasifikasikan atas dua : a. Bila ditemukan maka pasien sudah pasti menderita demam tifoid (confirmed case) a. 2) Etiologik : Dx. Bila hasil biakan tidak tumbuh maka dapat dibantu dengan hasil widal dengan kenaikan titer 4 kali lipat pada pemeriksaan widal kedua. b. Kelemahannya tes ini tidak bisa mendeteksi fase akut dan mahal sehingga tidak dianjurkan untuk pelayanan rutin. Pada keadaan berat sering ditemukan penderita somnolen hingga koma dengan gejala psikosis (Organic Brain Syndrome).typhii b. namun - pada minggu selanjutnya ditemukan diare. Pemeriksaan pelacak DNA S. Hepatosplenomegali Bradikardia relatif Rose spot : Ruam makulo papular berukuran+ 1-5 mm di regio abdomen atas namun jarang ditemukan. Demam tifoid klinis (probable case) dengan didapatkannya gejala klinis yang lengkap atau hampir lengkap. 5-7 hari kemudian. dan atau petanda gangguan kesadaran. Sering didapatkan kesadaran apatis dengan kesadaran seperti berkabut. Biakan S.typhii dengan PCR : dengan mengidentifikasi DNA basil dengan teknik hibridisasi asam nukleat atau amplifikasi DNA. gangguan saluran cerna. 7 . Tifoid toksik : Penderita dengan sindrom demam tinggi disertai kekacauan mental.

Nutrisi a. Hepatitis tifosa : Adalah diagnosis klinis dimana didapatkan kelainan yaitu ikterus. Dapat juga dibantu dengan USG atau CT scan. serta akral dingin. hepatomegali. meminimalisir komplikasi. nadi lemah dan cepat. Anti emetik c. dan kelainan fungsi liver. observasi penyakit. serta isolasi untuk mencegah pencemaran dan atau kontaminasi. Syok septik : Penderita dengan sindrom tifoid. 4. Cairan : Dosis cairan parenteral adalah sesuai kebutuhan harian (tetesan rumatan). Tirah baring 2. b. 3. diet bubur lunak. Komplikasi perforasi ini ditandai dengan gejala-gejala akut abdomen dan peritonitis. Diet : Mengandung kalori dan protein yang cukup. Bila ada komplikasi dosis cairan disesuaikan dengan kebutuhan. tim.penurunan kesadaran. 2. demam tinggi disertai gejala toksemia berat. Terapi simtomatik a. Roboransia Antimikroba ANTIBIOTIK DOSIS Kloramfenikol(1) Dewasa : 4 x 500 mg (max 2 gr) selama 14 hari KELEBIHAN  Sering digunakan dan telah lama 8 . sebaiknya rendah selulosa untuk mencegah perdarahan atau perforasi. Didapatkan gas bebas dalam rongga perut yang dibantu dengan pemeriksaan klinis bedah dan foto polos abdomen 3 posisi. Diet untuk penderita tifoid biasanya diklasifikasikan atas diet cair. 5. Didapatkan gangguan hemodinamik seperti penurunan tekanan darah. Pankreatitis tifosa : Diagnosis klinis dimana didapatkan petanda pankreatitis akut dengan peningkatan enzim lipase dan amilase. Perdarahan dan perforasi : Komplikasi perdarahan ditandai dengan hematoschezia tapi dapat diketahui dengan pemeriksaan laboratorium feses (occult blood test). mulai dari delirium hingga koma. Perawatan Umum dan Nutrisi 1. 3. Bila keadaan penderita baik dapat dimulai dengan diet padat atau tim. 4. Antipiretik b. dan nasi biasa. Plan : Diagnosis :Demam tifoid Tujuan perawatan adalah mengoptimalisasikan pengobatan dan mempercepat proses penyembuhan.

 Anak : TMP 6-10 mg/KgBB/hr atau SMX 30-50 mg/KgBB/hr selama 10 hari Quinolone a.Anak : 50-100 mg/KgBB/hari selama 10-14 hari dibagi dalam 4 dosis Ceftriaxon Dewasa : (2-4) gr/hari selama 3-5 hari Anak : 80 mg/KgBB/hari dosis tunggal selama 5 hari Ampisilin & Amoksisilin(1) Dewasa : (3-4) gr/hari selama 14 hari Anak : 100 mg/KgBB/hari selama 10 hari TMP-SMX(1) Dewasa : 2x(160-800) selama 2 minggu      dikenal efektif untuk tifoid Pemberian PO/IV Jangan diberikan bila leukosit <2000/mm3 Cepat menurunkan suhu Pemberian IV   Aman untuk ibu hamil Sering dikombinasi dengan kloramfenikol pada pasien kritis Murah Pemberian PO/IV   Murah Pemberian per oral   Aman untuk anak Pefloksasin dan Fleroksasin lebih cepat menurunkan suhu Anak tidak dianjurkan karena efek sampingnya pada pertumbuhan tulang. Ciprofloxacine 2 x 500 mg selama 1 minggu b. Pefloksasin 1 x 400 selama 1 minggu d. Fleroksasin 1 x 400 mg selama 1 minggu  Cefixime Anak : 15-20mg/KgBB/hari dibagi 2 dosis selama 10 hari    Aman untuk anak Efektif Pemberian PO Tiamfenikol Dewasa : 4 x 500 mg/KgBB/hari  Dapat untuk anak 9 . Ofloxacine 2 x (200-400) selama 1 minggu c.

Anak : 50 mg/KgBB/hr selama 57 hari bebas panas  dan dewasa Dilaporkan cukup sensitif pada beberapa daerah Medikamentosa :  IVFD Ringer Laktat 20 tpm  Inj.  Pemeriksaan widal kedua (5-7) hari kemudian. Ceftriaxone 1vial iv/12 jam (skin test)  Inj. Ranitidin 1 amp iv/ 12 jam  Inj. Rencana pemeriksaan selanjutnya :  Pantau TTV/ 6 jam  Pengawasan tanda – tanda komplikasi tifoid .typhii dalam air akan mati apabila dipanaskan setinggi 600c selama 15-20 menit atau dengan proses iodinasi atau klorinasi. 10 . untuk memperkecil kemungkinan tercemar S. S. Ondansetron 1 amp iv/12jam  Paracetamol 500 mg 3x1. Konsultasi : Indikasi rujuk antara lain demam tifoid dengan tanda-tanda kedaruratan dan demam tifoid dengan tanda-tanda komplikasi dengan fasilitas tidak mencukupi.typhii maka setiap individu harus memperhatikan kualitas makanan dan minuman yang mereka konsumsi. Penurunan endemisitas pada suatu daerah atau negara bergantung pada baik buruknya pengadaan sarana air dan pengaturan pembuangan sampah serta tingkat kesadaran individu dalam higienitas pribadi. Non-medikamentosa :    Tirah baring Pengaturan nutrisi (cairan dan diet) Edukasi Secara umum.

Toboali. Rebeka Hana Aruan dr. 12 Agustus 2016 DOKTER PENDAMPING. Sastera Budi 11 . dr.DOKTER INTERNSIP.