Anda di halaman 1dari 31
DAFTAR ISI Hal Skenario.................................................................................................2 Klarifikasi Istilah....................................................................................3 Identifikasi Masalah...............................................................................4 Analisis Masalah....................................................................................5 Kerangka Konsep...................................................................................9 Learning Objectives.............................................................................10 Berbagi Informasi.................................................................................11 Kesimpulan..........................................................................................27 Saran.....................................................................................................27 Daftar Pustaka......................................................................................29 1 Skenario III Akibat Ulah Tangan Jail Di Dapur Seorang anak laki-laki umur 4 tahun dibawa oleh ibunya ke IGD karena menjatuhkan sebuah botol berisi cairan pembersih lantai ketika sedang bermain di dapur dan beberapa cairan tersebut mengenai mata kirinya. Ia mengeluh mata kirinya terasa panas dan oleh ibunya dicuci dengan air bersih sebelum dibawa ke IGD. 2 BAB I KLARIFIKASI ISTILAH 1.1. IGD Menurut Kepmenkes RI No. 856 (2009) IGD (Instalasi Gawat Darurat) merupakan pelayanan gawat darurat di rumah sakit yang mempunyai kemampuan :  Memberikan pelayanan dengan respon cepat dan penanganan yang    tepat Melakukan pemeriksaan awal kasus-kasus gawat darurat Melakukan resusitasi dan stabilitasi (life saving) Melakukan pelayanan 24 jam dalam sehari dan 7 hari dalam  semimggu Organisasi di IGD didasarkan pada organisasi multidisiplin, multiprofesi dan terintegrasi 1.2. Cairan pembersih lantai Cairan pembersih lantai merupakan cairan yang berfungsi untuk membersihkan lantai dari mikroorganisme yang terdiri dari bermacam komposisi antara lain air, pewarna, pewangi dan zat disinfektan (Rasmika, Iravati & Sarto, 2008). 3 BAB II IDENTIFIKASI MASALAH 2.1 Mengapa mata pasien terasa panas 2.2 Apa pengaruh cairan pembersih terhadap mata 2.3 Apa penyebab trauma kimia pada mata 2.4 Apa saja diagnosis banding penyakit keluhan pasien 2.5 Bagaimana tatalaksana dari skenario diatas 4 BAB III ANALISA MASALAH 3.1. Penyebab Trauma Kimia Mata Penyebab trauma kimia yaitu asam dan basa. Jika asam merupakan zat kimia yang pH nya < 7 sedangkan basa > 7. Contoh zat yang mengandung asam dan basa yaitu : 1. Asam a. Asam Sulfat b. Asam Sulfit c. Asam Hidroklorida d. Zat Pemutih e. Asam Asetat f. Asam Kromat g. Asam Hidroflorida 2. Basa a. NaOH b. CaOH c. Amoniak d. Freon e. Sabun f. Shampoo g. Kapur Gamping h. Semen i. Lem j. Cairan Pembersih Rumah Tangga k. Soda Kuat (Ilyas, 2008) 3.2. Kemungkinan Penyakit yang dialami Menurut Vaughan, Asbury & Riordan-Eva (2000) beberapa penyakit yang menjadi diagnosis banding trauma kimia pada mata, antara lain adalah :  Konjungtivitis  Konjugtivitis hemoragik akut  Keratokunjugtivitis sicca  Ulkus kornea 3.3. Pengaruh Cairan Pembersih dengan Keluhan 5 Trauma mata dapat disebabkan oleh senyawa kimia alkali dan acid , maupun senyawa kimia bersfiat netral. Cairan pembersih termasuk senyawa kimia basa (alkali), berikut adalah pembagian dari penyebab trauma mata akibat senyawa kimia : a. Sulfuric acid (H₂SO₄) : Batere remot mobil/jam tangan b. Sulforous acid (H₂SO₃) : Cairan bleaching c. Hydrofloric acid (HF) : Mineral refining, pelapis kaca d. Acetit acid (CH₃COOH) : Cuka, glacial acetid acid e. Hydrocloric acid (Ca(OH)) : Air pada kolam renang yang diberi klor f. Ammonia (NH₃) : Cairan pembersih, pupuk g. Potassium Hydroxide (KOH) : Caustic potash h. Magnessium hydroxyde (Mg(OH)₂) : Kembang api (Parul,2013) 3.4. Tatalaksana Trauma Kimia Tindakan ibunya tersebut sudah betul. Seperti dinyatakan oleh James, Chew & Bron (2006) dan Ilyas et al. (2010) bahwa pada keadaan trauma kimia, tindakan terapi terpenting sebelum dibawa ke IGD adalah melakukan irigasi mata segera dengan air bersih dalam jumlah banyak, dimana irigasi mata dilakukan meliputi juga bagian bawah kelopak mata atas dan bawah. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi konsenterasi dan mengurangi materi penyebab sebersih mungkin. Selain itu untuk tatalaksananya dapat dilakukan : a. Irigasi Untuk menghilangkan subtansi berbahaya dan mengembalikan pH normal. Beberapa larutan untuk irigasi mata : a) Normal saline b) Normal saline bicarbonate c) Balanced saline solution b. Treatment standart a) Antibiotik topical b) Cycloplegic agen : air mata artifisial, untuk memberi rasa nyaman c) Steroid, untuk menghambat inflamasi agar kornea tidak terus menerus rusak c. Operasi mata Rekomedasi treatment (berdasarkan Roper – Hall grade of injury) : a. Grade I Kornea jernih dan tidak ada iskemik limbus. Dengan prognosis sangat baik. a) Antibiotik topikal 4X/hari 6 b) Prednisolon acetat 1% 4X/hari c) Jika dibutuhkan, beri air mata artificial d) Jika ada nyeri beri cycloplegic b. Grade II Kornea berkabut dengan gambaran iris masih terlihat dan terdapat kurang dari 1/3 iskemik limbus. Dengan prognosis baik. a) Antibiotik topikal 4X/hari b) Prednisolon acetat 1%/jam, 7 – 10 hari pertama c) Cycloplegic seperti atropine d) Oral vitamin C, 2 gram 4X/hari e) Doxycycline, 100 mg, 2x/hari (bukan untuk anak – anak) f) Sodium ascorbat (drop) 10%/jam saat bangun g) Artifisial tears c. Grade III Epitel kornea hilang total, stroma berkabut dengan gambaran iris tidak jelas dan sudah terdapat ½ iskemik limbus. Dengan prognosis kurang baik. a) Sama seperti grade II b) Pertimbangkan amniotic membrane transplant pada 1mg pertama d. Grade IV Kornea opak dan sudah terdapat iskemik lebih dari ½ limbus. Dengan prognosis sangat buruk. a) Sama seperti grade II dan III b) Pertimbangkan operasi yang dibutuhkan segera (Daniele Trief MD, 2015) 3.5. Mengapa Mata Anak Terasa Panas Cairan pembersih lantai mengandung zat disinfektan, dimana beberapa disinfektan yang biasa digunakan sebagai pembersih lantai adalah lysol (klorofenol dan kresol), karbol (fenol) dan kreolin (Rasmika, Iravati & Sarto, 2008). Akan tetapi menurut Valentina (2012) dan Rahma (2015) pembersih lantai yang saat ini banyak beredar dipasaran memanfaatkan zat aktif Benzalkonium chlorida 1,5% yang berfungsi sebagai disinfektan untuk menghilangkan bakteria dan micro-organisme yang tidak diinginkan (membunuh kuman). Benzalkonium chlorida merupakan zat kimia yang bersifat asam, yang apabila terkena mata mempunyai sifat iritatif dan menimbulkan rasa panas (The United States Pharmacopeial Convention, 2012). Jadi penyebab mata terasa panas 7 setelah terkena cairan pembersih lantai dikarenakan zat aktif Benzalkonium chloride tersebut, dimana zat tersebut dipisahkan dalam dua mekanisme, yaitu ion hidrogen dan anion dalam kornea. Molekul hidrogen merusak permukaan okular dengan mengubah pH, sementara anion merusak dengan cara denaturasi protein, presipitasi dan koagulasi yang membuat mata terasa panas. 8 BAB IV KERANGKA KONSEP BAB V LEARNING OBJECTIVES 1.1 Mahasiswa dapat menjelaskan mengenai trauma kimia pada mata. 1.2 Mahasiswa dapat menyebutkan dan menjelaskan indikasi pembedahan pada mata. 1.3 Mahasiswa dapat menyebutkan dan menjelaskan klasifikasi kegawatdaruratan pada mata. 9 10 BAB VI BERBAGI INFORMASI 1. Trauma Kimia Asam dan Basa a. Definisi Trauma kimia pada mata merupakan trauma yang mengenai bola mata akibat terpaparnya bahan kimia baik yang bersifat asam atau basa yang dapat merusak struktur bola mata (Kosoko & Lasaki, 2009; Eslani, Rafii, Movahedan & Djalilian, 2014).  Trauma asam merupakan salah satu jenis trauma kimia mata yang disebabkan zat kimia bersifat asam dengan pH < 7.  Trauma basa merupakan salah satu jenis trauma kimia mata yang disebabkan zat kimia bersifat basa dengan pH > 7. b. Etiologi Trauma pada mata yang disebabkan oleh bahan kimia disebabkan oleh 2 macam bahan yaitu bahan kimia yang bersifat asam dan bahan kimia yang bersifat basa. Bahan kimia dikatakan bersifat asam bila mempunyai pH < 7 dan dikatakan bersifat basa bila mempunyai pH > 7 (Kosoko & Lasaki, 2009; Ilyas et al., 2010; ACEP, 2011). Tabel 1. Bahan bersifat asam dan basa yang dapat menyebabkan trauma kimia pada mata Sumber : Kosovo & Lasaki (2009). 11 c. Klasifikasi Menurut Kosoko & Lasaki (2009) dan Eslani, Rafii, Movahedan & Djalilian (2014) trauma kimia pada mata dapat diklasifikasikan sebagai berikut : Grade Tabel 2. Klasifikasi Roper-Hall Gejala klinis I Kornea jernih, tidak terdapat iskemia limbus II Kornea agak keruh, tetapi detail iris masih tampak, dengan iskemia limbus < 1/3 III Detail iris tidak terlihat, iskemia limbus 1/3 sampai dengan ½ IV Kornea opak, dengan iskemia limbus > 1/2 Sumber : Eslani, Rafii, Movahedan & Djalil (2014) Derajat Tabel 3. Klasifikasi Hughes Gejala klinis I Iskemia limbus yang minimal atau tidak ada II Iskemia kurang dari 2 kuadran limbus III Iskemia lebih dari 3 kuadran limbus IV Iskemia pada seluruh limbus, seluruh permukaan epitel konjungtiva dan bilik mata depan Sumber : Kosoko & Lasaki (2009) Derajat Tabel 4. Klasifikasi trauma kimia basa menurut Thoft Gejala klinis I Hiperemi konjungtiva disertai dengan keratitis pungtata II Hiperemi konjungtiva disertai dengan hilangnya 12 epitel kornea III Hiperemi disertai dengan nekrosis konjungtiva dan lepasnya epitel kornea IV Konjungtiva perilimal nekrosis sebanyak 50% Sumber : Keiko, Yasmin, Sukma & Andreas (2013) d. Patogenesis Menurut Lang (2006) dan Kosoko & Lasaki (2009) patogenesis sebagai berikut : 1) Trauma Asam Asam dipisahkan dalam dua mekanisme, yaitu ion hidrogen dan anion dalam kornea. Molekul hidrogen merusak permukaan okular dengan mengubah pH, sementara anion merusak dengan cara denaturasi protein, presipitasi dan koagulasi. Koagulasi protein umumnya mencegah penetrasi yang lebih lanjut dari zat asam, dan menyebabkan tampilan ground glass dari stroma korneal yang mengikuti trauma akibat asam. Sehingga trauma pada mata yang disebabkan oleh zat kimia asam cenderung lebih ringan daripada trauma yang diakibatkan oleh zat kimia basa. Asam hidroflorida adalah satu pengecualian. Asam lemah ini secara cepat melewati membran sel, seperti alkali. Ion fluoride dilepaskan ke dalam sel, dan memungkinkan menghambat enzim glikolitik dan bergabung dengan kalsium dan magnesium membentukinsoluble complexes. Nyeri local yang ekstrim bisa terjadi sebagai hasil dari immobilisasi ion kalsium, yang berujung pada stimulasi saraf dengan pemindahan ion potassium. Fluorinosis akut bisa terjadi ketika ion fluoride memasuki sistem sirkulasi, dan memberikan gambaran gejala pada jantung, pernafasan, gastrointestinal, dan neurologik. Bahan kimia asam yang mengenai jaringan akan mengadakan denaturasi dan presipitasi dengan jaringan protein disekitarnya, karena adanya daya buffer dari jaringan terhadap bahan asam serta adanya presipitasi protein maka kerusakannya cenderung terlokalisir. Bahan asam yang mengenai kornea juga mengadakan presipitasi sehingga terjadi koagulasi, kadang–kadang 13 seluruh epitel kornea terlepas. Bahan asam tidak menyebabkan hilangnya bahan proteoglikan di kornea. Bila trauma diakibatkan asam keras maka reaksinya mirip dengan trauma basa. Bila bahan asam mengenai mata maka akan segera terjadi koagulasi protein epitel kornea yang mengakibatkan kekeruhan pada kornea, sehingga bila konsentrasi tidak tinggi maka tidak akan bersifat destruktif seperti trauma alkali. Biasanya kerusakan hanya pada bagian superfisial saja. Koagulasi protein ini terbatas pada daerah kontak bahan asam dengan jaringan. Koagulasi protein ini dapat mengenai jaringan yang lebih dalam. 2) Trauma Basa Trauma basa biasanya lebih berat daripada trauma asam, karena bahanbahan basa memiliki dua sifat yaitu hidrofilik dan lipolifik dimana dapat secara cepat untuk penetrasi sel membran dan masuk ke bilik mata depan, bahkan sampai retina. Trauma basa akan memberikan iritasi ringan pada mata apabila dilihat dari luar. Namun, apabila dilihat pada bagian dalam mata, trauma basa ini mengakibatkan suatu kegawatdaruratan. Basa akan menembus kornea, kamera okuli anterior sampai retina dengan cepat, sehingga berakhir dengan kebutaan. Pada trauma basa akan terjadi penghancuran jaringan kolagen kornea. Bahan kimia basa bersifat koagulasi sel dan terjadi proses safonifikasi, disertai dengan dehidrasi. Bahan alkali atau basa akan mengakibatkan pecah atau rusaknya sel jaringan. Pada pH yang tinggi alkali akan mengakibatkan safonifikasidisertai dengan disosiasi asam lemak membrane sel. Akibat safonifikasi membran sel akan mempermudah penetrasi lebih lanjut zat alkali. Mukopolisakarida jaringan oleh basa akan menghilang dan terjadi penggumpalan sel kornea atau keratosis. Serat kolagen kornea akan bengkak dan stroma kornea akan mati. Akibat edema kornea akan terdapat serbukan sel polimorfonuklear ke dalam stroma kornea. Serbukan sel ini cenderung disertai dengan pembentukan pembuluh darah baru atau neovaskularisasi. Akibat membran sel basal epitel kornea rusak akan memudahkan sel epitel diatasnya lepas. Sel epitel yang baru 14 terbentuk akan berhubungan langsung dengan stroma dibawahnya melalui plasminogen aktivator. Bersamaan dengan dilepaskan plasminogen aktivator dilepas juga kolagenase yang akan merusak kolagen kornea. Akibatnya akan terjadi gangguan penyembuhan epitel yang berkelanjutan dengan ulkus kornea dan dapat terjadi perforasi kornea. Kolagenase ini mulai dibentuk 9 jam sesudah trauma dan puncaknya terdapat pada hari ke 12-21. Biasanya ulkus pada kornea mulai terbentuk 2 minggu setelah trauma kimia. Pembentukan ulkus berhenti hanya bila terjadi epitelisasi lengkap atau vaskularisasi telah menutup dataran depan kornea. Bila alkali sudah masuk ke dalam bilik mata depan maka akan terjadi gangguan fungsi badan siliar. Cairan mata susunannya akan berubah, yaitu terdapat kadar glukosa dan askorbat yang berkurang. Kedua unsur ini memegang peranan penting dalam pembentukan jaringan kornea. e. Patofisiologi Menurut Lang (2006) dan Kosoko & Lasaki (2009) proses perjalanan penyakit pada trauma kimia ditandai oleh 2 fase, yaitu fase kerusakan yang timbul setelah terpapar bahan kimia serta fase penyembuhan :  Kerusakan yang terjadi pada trauma kimia yang berat dapat diikuti oleh halhal sebagai berikut:  Terjadi nekrosis pada epitel kornea dan konjungtiva disertai gangguan dan oklusi pembuluh darah pada limbus.  Hilangnya stem cell limbus dapat berdampak pada vaskularisasi dan konjungtivalisasi permukaan kornea atau menyebabkan kerusakan persisten pada epitel kornea dengan perforasi dan ulkus kornea bersih.  Penetrasi yang dalam dari suatu zat kimia dapat menyebabkan kerusakan dan presipitasi glikosaminoglikan dan opasifikasi kornea.  Penetrasi zat kimia sampai ke kamera okuli anterior dapat menyebabkan kerusakan iris dan lensa.  Kerusakan epitel siliar dapat mengganggu sekresi askorbat yang dibutuhkan untuk memproduksi kolagen dan memperbaiki kornea.  Hipotoni dan phthisis bulbi sangat mungkin terjadi. 15  Penyembuhan epitel kornea dan stroma diikuti oleh proses-proses berikut:  Terjadi penyembuhan jaringan epitelium berupa migrasi atau pergeseran dari sel-sel epitelial yang berasal dari stem cell limbus  Kerusakan kolagen stroma akan difagositosis oleh keratosit terjadi sintesis kolagen yang baru. e. Manifestasi Klinis Menurut Lang (2006) dan ACEP (2011) secara umum manifestasi klinis dan gejala khas adalah : 1) Trauma asam  Kornea keruh  Kerusakan hanya superficial saja  Nekrosis superficial kornea  Imflamasi  Epifora  Blefarospasme  Iskemia limbus 2) Trauma basa  Kornea keruh  Kerusakan sampai retina  Imflamasi  Epifora  Perforasi kornea  Tekanan intraocular (TIO) naik  Katarak  Irititis  Hipotoni  Iakemia limbus f. Komplikasi Menurut Kanski (2000) komplikasi yang terjadi dapat berupa :  Simblefaron, adalah. Dengan gejala gerak mata terganggu, diplopia, lagoftalmus, sehingga kornea dan penglihatan terganggu.  Kornea keruh, edema, neovaskuler  Sindroma mata kering  Katarak traumatik, trauma basa pada permukaan mata sering menyebabkan katarak. Komponen basa yang mengenai mata menyebabkan peningkatan pH 16 cairan akuos dan menurunkan kadar glukosa dan askorbat. Hal ini dapat terjadi akut ataupun perlahan-lahan. Trauma kimia asam sukar masuk ke bagian dalam mata maka jarang terjadi katarak traumatik.  Glaukoma sudut tertutup  Entropion dan phthisis bulbi g. Penegakkan Diagnosis Menurut Randleman, Bansal, Loft & Broocker (2009) dan ACEP (2011) penegakkan diagnosis dilakukan dengan : 1) Anamnesis, meliputi riwayat kesehatan pasien yaitu : Pada anamnesis sering sekali pasien menceritakan telah tersiram cairan atau tersemprot gas pada mata atau partikel-partikelnya masuk ke dalam mata. Perlu diketahui apa persisnya zat kimia dan bagaimana terjadinya trauma tersebut (misalnya tersiram sekali atau akibat ledakan dengan kecepatan tinggi) serta kapan terjadinya trauma tersebut. Perlu diketahui apakah terjadi penurunan visus setelah cedera atau saat cedera terjadi. Onset dari penurunan visus apakah terjadi secara progresif atau terjadi secara tiba tiba. Nyeri, lakrimasi, dan pandangan kabur merupakan gambaran umum trauma. Dan harus dicurigai adanya benda asing intraokular apabila terdapat riwayat salah satunya apabila trauma terjadi akibat ledakan. 2) Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik yang seksama sebaiknya ditunda sampai mata yang terkena zat kimia sudah terigasi dengan air dan pH permukaan bola mata sudah netral. Obat anestesi topikal atau lokal sangat membantu agar pasien tenang. Pemeriksaan fisik dilakukan dengan perhatian khusus untuk memeriksa kejernihan dan keutuhan kornea, derajat iskemik limbus, tekanan intra okular, konjungtivalisasi pada kornea, neovaskularisasi, peradangan kronik dan defek epitel yang menetap dan berulang. 3) Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan penunjangdalam kasus trauma kimia mata adalah pemeriksaan pH bola mata secara berkala dengan kertas lakmus. Irigasi pada mata harus dilakukan sampai tercapai pH normal. Pemeriksaan bagian anterior mata 17 dengan lup atau slit lamp bertujuan untuk mengetahui lokasi luka. Pemeriksaan oftalmoskopi direk dan indirek juga dapat dilakukan. Selain itu dapat pula dilakukan pemeriksaan tonometri untuk mengetahui tekanan intraocular. h. Penatalaksanaan Menurut Kanski (2000), Vaughan, Asbury & Riordan-Eva (2000), James, Chew & Bron .(2006) dan Kosoko & Lasaki (2009) penatalaksanaan pada trauma mata bergantung pada berat ringannya trauma ataupun jenis trauma itu sendiri. Namun demikian ada 4 tujuan utama dalam mengatasi kasus trauma okular adalah memperbaiki penglihatan, mencegah terjadinya infeksi, mempertahankan struktur dan anatomi mata dan mencegah sekuele jangka panjang. 1) Penatalaksanaan Emergency  Irigasi merupakan hal yang krusial untuk meminimalkan durasi kontak mata dengan bahan kimia dan untuk menormalisasi pH pada saccus konjungtiva yang harus dilakukan sesegera mungkin. Larutan normal saline (atau yang setara) harus digunakan untuk mengirigasi mata selama 15-30 menit samapi pH mata menjadi normal sekitar 7,3. Pada trauma basa hendaknya dilakukan irigasi lebih lama, paling sedikit 2000 ml dalam 30 menit. Makin lama makin baik. Jika perlu dapat diberikan anastesi topikal, larutan natrium bikarbonat 3%, dan antibiotik. Irigasi dalam waktu yang lama lebih baik menggunakan irigasi dengan kontak lensa (lensa yang terhubung dengan sebuah kanul untuk mengirigasi mata dengan aliran yang konstan.  Double eversi pada kelopak mata, dilakukan untuk memindahkan material yang terdapat pada bola mata. Selain itu tindakan ini dapat menghindarkan terjadinya perlengketan antara konjungtiva palpebra, konjungtiva bulbi, dan konjungtiva forniks.  Debridemen pada daerah epitel kornea yang mengalami nekrotik sehingga dapat terjadi re-epitelisasi pada kornea. 2) Medikamentosa Trauma kimia ringan (derajat 1 dan 2) dapat diterapi dengan pemberian obatobatan seperti steroid topikal, sikloplegik, dan antibiotik profilaksis selama 7 hari. Sedangkan pada trauma kimia berat, pemberian obat-obatan bertujuan 18 untuk mengurangi inflamasi, membantu regenerasi epitel dan mencegah terjadinya ulkus kornea.  Steroid, bertujuan untuk mengurangi inflamasi dan infiltrasi neutofil. Namun pemberian steroid dapat menghambat penyembuhan stroma dengan menurunkan sintesis kolagen dan menghambat migrasi fibroblas. Untuk itu steroid hanya diberikan secara inisial dan di tappering off setelah 7-10 hari. Dexametason 0,1% ED dan Prednisolon 0,1% ED diberikan setiap 2 jam. Bila diperlukan dapat diberikan Prednisolon IV 50-200 mg.  Sikloplegik, untuk mengistirahatkan iris, mencegah iritis dan sinekia posterior. Atropin 1% ED atau Scopolamin 0,25% diberikan 2 kali sehari.  Asam askorbat, mengembalikan keadaan jaringan scorbutik dan meningkatkan penyembuhan luka dengan membantu pembentukan kolagen matur oleh fibroblas kornea. Natrium askorbat 10% topikal diberikan setiap 2 jam. Untuk dosis sitemik dapat diberikan sampai dosis 2 gram.  EDTA, diberikan dengan tujuan untu menetralisir kolagenase yang terbentuk setelah satu minggu. Sehingga EDTA ini diberikan setelah satu minggu setelah trauma alkali atau trauma basa.  Beta bloker/karbonik anhidrase inhibitor, untuk menurunkan tekanan intra okular dan mengurangi resiko terjadinya glaukoma sekunder. Diberikan secara oral asetazolamid (diamox) 500 mg.  Antibiotik, profilaksis untuk mencegah infeksi oleh kuman oportunis. Tetrasiklin efektif untuk menghambat kolagenase, menghambat aktifitas netrofil dan mengurangi pembentukan ulkus. Dapat diberikan bersamaan antara topikal dan sistemik (doksisiklin 100 mg).  Asam hyaluronik untuk membantu proses re-epitelisasi kornea dan menstabilkan barier fisiologis. Asam Sitrat menghambat aktivitas netrofil dan mengurangi respon inflamasi. Natrium sitrat 10% topikal diberikan setiap 2 jam selama 10 hari. Tujuannya untuk mengeliminasi fagosit fase kedua yang terjadi 7 hari setelah trauma. 3) Pembedahan Pembedahan Segera, yang sifatnya segera dibutuhkan untuk revaskularisasi limbus, mengembalikan populasi sel limbus dan mengembalikan kedudukan forniks. Prosedur berikut dapat digunakan untuk pembedahan : 19  Pengembangan kapsul Tenon dan penjahitan limbus bertujuan untuk mengembalikan vaskularisasi limbus juga mencegah perkembangan ulkus kornea.  Transplantasi stem sel limbus dari mata pasien yang lain (autograft) atau dar donor (allograft) bertujuan untuk mengembalikan epitel kornea menjadi normal.  Graft membran amnion untuk membantu epitelisasi dan menekan fibrosis 4) Pembedahan Lanjut, Pembedahan lanjut pada tahap lanjut dapat menggunakan metode :  Pemisahan bagian-bagian yang menyatu pada kasus conjungtival bands dan simblefaron.  Pemasangan graft membran mukosa atau konjungtiva.  Koreksi apabila terdapat deformitas pada kelopak mata.  Keratoplasti dapat ditunda sampai 6 bulan. Makin lama makin baik, hal ini untuk memaksimalkan resolusi dari proses inflamasi.  Keratoprosthesis bisa dilakukan pada kerusakan mata yang sangat berat dikarenakan hasil dari graft konvensional sangat buruk. 20 Gambar 1. Bagan penatalaksanaan trauma kimia pada mata Sumber : Kosoko & Lasaki (2009) i. Prognosis 21 Menurut Kosoko & Lasaki (2009) dan Eslani, Rafii, Movahedan & Djalil (2014) dan prognosis trauma kima pada mata berdasarkan klasifikasi Roper-Hall maupun Hughes adalah sebagai berikut : Grade Tabel 5. Prognosis pada Klasifikasi Roper-Hall Gejala klinis Prognosis I Kornea jernih, tidak terdapat iskemia limbus Sangat baik II Kornea agak keruh, tetapi detail iris masih tampak, dengan iskemia limbus < 1/3 Baik III Detail iris tidak terlihat, iskemia limbus 1/3 sampai dengan ½ Harus berhati-hati IV Kornea opak, dengan iskemia limbus > 1/2 Sangat buruk Sumber : Eslani, Rafii, Movahedan & Djalil (2014) Derajat Tabel 6.Prognosis pada Klasifikasi Hughes Gejala klinis Prognosis I Iskemia limbus yang minimal atau tidak ada II Iskemia kurang dari 2 kuadran limbus III Iskemia lebih dari 3 kuadran limbus Sangat baik Baik Harus berhati-hati 22 IV Iskemia pada seluruh limbus, seluruh permukaan epitel konjungtiva dan bilik mata depan Sangat buruk Sumber : Kosoko & Lasaki (2009) 2. Indikasi Pembedahan Menurut Kosoko & Lasaki (2009) dan Eslani, Rafii, Movahedan & Djalilian (2014) indikasi untuk pembedahan dapat dilakukan jika gejala klinis sudah pada tahap grade III dan IV klasifikasi Roper-Hall ataupun derajat III dan IV klasifikasi Hughes. 3. Klasifikasi Kegawat Daruratan Kedaruratan mata adalah sikap keadaan yang mengancam tajam penglihatan seseorang berupa penurunan tajam penglihatan sampai terjadinya kebutaan. Menrut Roper-Hall (1965) berdasarkan konsep penanganan masalah gawat darurat maka kegawat daruratan mata dapat dikelompokkan menjadi beberapa keadaan : 1) Sight threatening condition. Dalam situasi ini mata akan mengalami kebutaan atau cacatyang menetap dengan penurunan penglihatan yang berat dalam waktu beberapa detik sampai beberapa menit saja bila tidak segera mendapatkan pertolongan yang tepat. Cedera mata akibat bahan kimia basa (alkali) termasuk dalam keadaan ini. Oklusi arteria sentralis retina merupakan keadaan bukan trauma yang termasuk dalam kelompok ini. 2) Mayor condition. Dalam situasi ini pertolongan harus diberikan tetapi dengan batasan waktu yang lebih longgar, dapat beberapa jam sampai beberapa hari. Bila pertolongan tidak diberikan maka penderita akan mengalami hal yang sama seperti disebutkan pada sight threatening condition. 3) Minor condition. Situasi ini tidak akan menimbulkan kebutaan meskipun mungkin menimbulkan suatu penderitaan subyektif pada pasien, bila terabaikan pasien mungkin dapat masuk kedalam keadaan mayor condition. 23 Disamping itu kegawatdaruratan di bidang oftalmologi (penyakit mata) diklasifikasikan menjadi tiga macam, yaitu : (1) Sangat gawat; (2) Gawat; dan (3) Semi gawat. 1) Sangat Gawat. Yang dimaksud dengan keadaan "sangat gawat" adalah keadaan atau kondisi pasien memerlukan tindakan yang harus sudah diberikan dalam waktu beberapa menit. Terlambat sebentar saja dapat mengakibatkan kebutaan. Adapun keadaan atau kondisi pasien yang termasuk di dalam kategori ini adalah: luka bakar kimia (luka bakar kerena alkali/basa dan luka bakar asam) 2) Gawat. Yang dimaksud dengan keadaan "gawat" adalah keadaan atau kondisi pasien memerlukan penegakan diagnosis dan pengobatan yang harus sudah diberikan dalam waktu satu atau beberapa jam. Adapun keadaan atau kondisi pasien yang termasuk di dalam kategori ini adalah :  Laserasi kelopak mata  Konjungtivitis gonorhoe  Erosi kornea  Laserasi kornea  Benda asing di kornea  Descemetokel  Tukak kornea, tukak atau ulkus kornea merupakan hilangnya sebagian  permukaan kornea akibat kematian jaringan kornea. Hifema atau timbunan darah di dalam bilik mata depan. Terjadi akibat  trauma tumpul yang merobek pembuluh darah iris atau badan siliar. Skleritis (peradangan pada sklera), sklera merupakan jaringan ikat yang kenyal dan memberikan bentuk pada mata. Sklera bersama dengan jaringan uvea dan retina berfungsi sebagai pembungkus dan   pelindung bola mata. Iridosiklitis akut Endoftalmitis merupakan infeksi intraokular yang umumnya melibatkan seluruh jaringan segmen anterior dan posterior mata. Umumnya didahului oleh trauma tembus pada bola mata, ulkus kornea perforasi, riwayat operasi intraokuler (misalnya: ekstraksi katarak, operasi filtrasi, vitrektomi). Gejala klinis endoftalmitis adalah penurunan tajam penglihatan (visus menurun), mata merah, bengkak,  nyeri. Glaukoma kongestif 24   Glaukoma sekunder Ablasi retina (retinal detachment) suatu keadaan terpisahnya (separasi) sel kerucut dan batang atau lapisan sensorik retina dengan    sel epitel pigmen (retinal pigment epithelium atau RPE). Selulitis orbita Trauma tembus mata Trauma radiasi 3) Semi Gawat. Yang dimaksud dengan keadaan "semi gawat" adalah keadaan atau kondisi pasien memerlukan pengobatan yang harus sudah diberikan dalam waktu beberapa hari atau minggu. Adapun keadaan atau kondisi pasien yang termasuk di dalam kategori ini adalah :  Defisiensi (kekurangan) vitamin A. Sinonim (nama lain) untuk kondisi ini adalah: vitaminosis A, hypovitaminosis A.  Trakoma yang disertai dengan entropion. Entropion adalah keadaan kelopak mata yang terbalik atau membalik ke dalam tepi jaringan, terutama tepi kelopakn bawah. Namun pada trakoma, entropion terdapat pada kelopak atas.  Oftalmia simpatika, yaitu peradangan granulomatosa yang khas pada jaringan uvea, bersifat bilateral, dan didahului oleh trauma tembus mata yang biasanya mengenai badan siliar, bagian uvea lainnya, atau akibat adanya benda asing dalam mata.  Katarak kongenital, kekeruhan lensa mata yang timbul sejak lahir, dan merupakan salah satu penyebab kebutaan pada anak yang cukup sering dijumpai. Gejalanya: leukokoria (bercak putih), fotofobia (silau, dapat disertai atau tanpa rasa sakit), strabismus (juling), nystagmus (pergerakan bola mata yang involunter. Involunter maksudnya: tanpa sengaja, diluar     kemauan; dapat teratur, bolak-balik, dan tidak terkendali). Glaukoma kongenital Glaukoma simpleks Perdarahan badan kaca Retinoblastoma (tumor ganas retina), yaitu jenis tumor ganas mata yang berasal dari neuroretina (sel kerucut dan batang).  Neuritis optika/papilitis  Eksoftalmus (bola mata menonjol keluar) atau lagoftalmus (kelopak mata tidak dapat menutup sempurna).  Tumor intraorbita 25  Perdarahan retrobulbar 26 BAB VII PENUTUP 7.1. Kesimpulan Seorang anak berusia 4 tahun datang setelah matanya terkena cairan pembersih lantai. Sebelum dibawa ke rumah sakit, dirumah ibunya telah membasuh mata anak tersebut dengan air bersih. Berdasarkan hasil anamnesis dan pemeriksaan, anak ini mengalami trauma pada mata akibat senyawa kimia. Dalam kasus ini, senyawa kimia adalah senyawa kimia alkali atau basa, karena berasal dari sabun. Cairan sabun atau cairan pembersih lebih cenderung bersifat basa karena komponen kimia penyusunnya sebagian besar adalah gugus OH. OH bersifat basa atau termasuk komponen alkali. Trauma kimia basa lebih berbahaya karena basa adalah adalah komponen lipofilik dan hidrofilik sehingga memudahkan bahan basa tersebut untuk penetrasi lebih dalam lagi. Pada trauma mata akibat bahan kimia khususnya basa, penurunan visus tidak terjadi seketika, namun perlahan dan seringkali menjadi komplikasi yang parah. Namun kerusakan organ akibat senyawa basa lebih kompleks daripada akibat senyawa asam. Penatalaksanaan yang diberikan ibu korban sudah benar. Untuk penatalaksanaan emergency memang sudah seharusnya dilakukan irigasi sampai ph mata kembali normal. Setelah itu, saat dibawa ke UGD akan dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, dan penatalaksanaan selanjutnya dapat diberikan antibiotik, analgesik, beta bloker, siklopegig, dan steroid jangka pendek. Apabila trauma masuk kedalam klasifikasi derajat berat, maka ada indikasi untuk dilakukan tindakan pembedahan. Karena jika tidak, dapat terjadi komplikasi seperti simblefaron, kornea keruh, edema, dan neovaskuler. Selain itu dapat terjadi sindroma mata kering, katarak traumatik, glaukoma sudut tertutup, entropion, dan phthisis bulbi. 7.2. Saran 27 Dalam tutorial diharapkan agar tutor bersedia dan sabar dalam membimbing mahasiswa agar mencapai semua learning object ataupun tujuan pembelajaran yang harus dicapai dalam suatu pokok bahasan. Diharapkan tutor sudah berkoordinasi apa saja yang harus dicapai sehingga pada tiap-tiap kelompok tutorial mencapai hasil yang sama atau mendapat materi yang sama minimal seperti apa yang harusnya dipelajari oleh mahasiswa, sehingga tidak ada perbedaan persepsi pada tiap-tiap kelompok tutorial, selain itu, penyamaan persepsi antar tutor dan tiap kelompok tutorial juga sangat berpengaruh dalam kegiatan ujian mahasiswa terutama ujian soca Pemenuhan fasilitas seperti proyektor dan kabel HDMI agar dioptimalkan karena peralatan tersebut mendukung proses PBL yang sedang berlangsung karena mahasiswa perlu menggunakan alat-alat tersebut DAFTAR PUSTAKA 28 ACEP. (2011). Management of Ocular Complaints. New York : American College of Emergency Phycisians. Daniele Trief MD, James Codash MD. Kathyn Colby MD. (2015). Chemical (Alkali and Acid ) Injury of the Conjunctiva and Corneal. American Academy of Ophthalmology) Eslani, M., Rafii, A.B., Movahedan, A. & Djalilian, A.R. (2014). The ocular surface chemical burn. Journal of Ophthalmology, 11(5), 51-60. Gunawan, Wasidi. (2008). Kegawatdaruratan dalam Ilmu Penyakit Mata. Dalam : Purnasidha,Hendry Ed. Clinical Update : Emergency Cases. Jogjakarta : Press Jogja. Ilyas, Sidarta. Penuntun Ilmu Penyakit Mata. Edisi ketiga. (2008). Jakarta : Balai Penerbit FKUI Ilyas, S., Mailangkay, H.H.B., Taim, H., Saman H.H., Simarmata, M. & Widodo, P.S. (2010). Ilmu Penyakit Mata. Jakarta : Penerbit Sagung Seto. Ilyas, Sidarta & Yulianti, Rahayu. (2015). Ilmu Penyaki Mata Edisi Kelima. Jakara : FK UI Kosoko, A. & Lasaki, O.K. (2009). Chemical ocular burn : A case review. American Journal of Clinical Medicine, S.9(1), 41-49. James, B., Chew, C. Bron, A. (2006). Lecture Notes : Ophthalmology. Bandung : Penerbit Erlangga. Kanski, J.J. (2000). Chemical Injuries : Clinical Ophthalmology. Philadelphia : Elsevier Limited. 29 Kepmenkes RI No. 856. (2009).Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 856/Menkes/SK/IX/2009 Tentang Standar IGD Rumah Sakit. Jakarta : Kementerian Kesehatan RI. Lang, G.K. (2006). Ophthalmology A Pocket Textbook. New York : Atlas Publisher. Parul Singh, Manoj Tiyagi, Yogesh kumar, K.K. Gypta, P.D. Shim. (2013). Occular Injuries and their Management. Oman J Ophthalmology Journal Rahma, E. (2012). Penentuan Koefisien Fenol Beberapa Pembersih Lantai. Jakarta : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Univ. Islam Negeri Jakarta. Randleman, J.B., Bansal, A.S., Loft, E.S. & Broocker, G. (2009). Burns chemical. eMedicine Journal. Rasmika, D.D., Iravati, S. & Sarto. (2008). Efektivitas beberapa desinfektan terhadap isolat bakteri lantai ruang bedah Instalasi Bedah Sentral (IBS) Rumah Sakit Sanglah Denpasar. Medicina, 39(2), 132-137. Roper-Hall, M.J. (1965). Thermal and chemical burns. Transactions of the Ophthalmological Societies of the United Kingdom, 85, 631-653. The United States Pharmacopeial Convention. (2012). Benzalkonium chloride. Interim Revision Announcement, 1, 1-10. Valentina, L. (2012). Koefisien Fenol Benzalkonium Khlorida 1,5% dan Pine Oil 2,5% dalam Larutan Pembersih Lantai terhadap Staphilacoccus aurens dan Escherichia coli. Bandung : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Univ. Keristen Maranatha. 30 Vaughan, D.G., Asbury, T. & Riordan-Eva, P. (2000). Oftalmologi Umum. Jakarta : Widya Medika 31