Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Henti nafas adalah suatu keadaan yang ditandai dengan tidak adanya gerakan
dada dan aliran udara pernafasan dari korban atau pasien. Henti nafas merupakan
kasus yang harus dilakukan tindakan Bantuan Hidup Dasar. Henti nafas terjadi dalam
keadaan seperti tenggelam atau lemas, stroke, obstruksi jalan napas, epiglotitis,
overdosis obat-obatan, tersengat listrik, infark miokard, tersambar petir, koma akibat
berbagai macam kasus (Suharsono, T., & Ningsih, D. K., 2008).
Tanda dan gejala henti napas berupa tidak sadar (pada beberapa kasus terjadi
kolaps yang tiba-tiba), pernapasan tidak tampak atau pasien bernapas dengan
terengah-engah secara intermitten, sianosis dari mukosa buccal dan liang telinga,
pucat secara umum, nadi karotis teraba (Muriel, 1995).
Sampai saat ini henti nafas pada anak masih merupakan salah satu penyebab
mordibitas dan mortalitas terbesar penderita yang dirawat di Ruang perawatan Intensif
Ana. Keterlambatan merujuk penderita diduga merupakan salah satu penyebab
tingginya angka kematian, disamping beratnya penyakit dasar, penyakit penyerta dan
penyulit selama perawatan.
Penatalaksanaan perawatan henti nafas memerlukan suatu ketrampilan dan
pengetahuan khusus serta penafsiran dan perencanaan maupun melakukan tindakan
harus dilakukan dengan cepat dan sistematis, oleh karena itu pengetahuan perawat
tentang apa dan bagaimana terjadinya henti nafas sangat diperlukan.

1.2

Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas dapat dirumuskan suatu permasalahan diantaranya :
1. Bagimana konsep dari henti nafas ?
2. Bagaiman patofisiologi dari henti nafas ?
3. Bagaimana penanganan gawat daruratan pada henti nafas ?

1.3

Tujuan
a. Tujuan Umum
Mengetahui konsep tentang henti nafas dan mengetahui Bagaiman penaganan
gawat darurat pada henti nafas
b. Tujuan Khusus
1. Mengetahui definisi dari henti nafas
2. Mengetahui etiologi dari henti nafas
3. Mengidentifikasi patofisiologi dari henti nafas
4. Mengidentifikasi manifestasi klinis dari henti nafas
5. Mengetahui bagaimana proses penanganan gawat darurat pada henti nafas

pernapasan tidak tampak atau pasien bernapas dengan terengah-engah secara intermitten. 2008). stroke. K. tenggelam. trauma dan lain-lain (Latief dkk. Henti nafas terjadi dalam keadaan seperti tenggelam atau lemas. Henti nafas merupakan kasus yang harus dilakukan tindakan Bantuan Hidup Dasar. inhalasi asap/uap/gas. T.2 Etiologi Etiologi terjadinya henti nafas adalah 1. Obstruksi jalan napas 4.1 Definisi Henti nafas adalah suatu keadaan yang ditandai dengan tidak adanya gerakan dada dan aliran udara pernafasan dari korban atau pasien.. misalnya serangan stroke.BAB II LANDASAN TEORI 2. jantung masih berdenyut. obstruksi jalan napas. radang epiglottis. serangan infark jantung. & Ningsih. D. nadi karotis teraba (Muriel. infark miokard. 2. tersengat listrik. 1995). 2009). tersambar petir. keracunan obat. sianosis dari mukosa buccal dan liang telinga. masih teraba nadi. koma akibat berbagai macam kasus (Suharsono. Tenggelam 2. Epiglotitis 5. tercekik (suffocation). Overdosis obat 6. Henti Napas primer (respiratory arrest) dapat disebabkan oleh banyak hal. obstruksi jalan napas oleh benda asing. overdosis obat-obatan. epiglotitis. Kalau henti napas mendapat pertolongan dengan segera maka pasien akan terselamatkan hidupnya dan sebaliknya kalau terlambat akan berakibat henti jantung yang mungkin menjadi fatal (Latief dkk. tersambar petir. tersengat listrik.. pemberian O2 ke otak dan organ vital lainnya masih cukup sampai beberapa menit. Tersengat listrik . Pada awal henti nafas. Tanda dan gejala henti napas berupa tidak sadar (pada beberapa kasus terjadi kolaps yang tiba-tiba). 2009). pucat secara umum. Stroke 3.

Adanya kesulitan inflasi paru dalam usaha memberikan ventilasi buatan 4. berkeringat atau sianosis (PO2 menurun). Frekuensi nafas pada saat seperti ini lebih cepat daripada keadaan bernafas biasa. takikardi . Gejala terjadinya henti nafas yaitu terjadinya hiperkapnia yaitu penurunan kesadaran dan hipoksemia yaitu takikardia. ada tidaknya penggunaan otot bantu pernafasan. Hipoksia dikenal dengan istilah sesak nafas. capillary refill. 2. Aliran udara di mulut dan hidung tidak dapat didengar atau dirasakan 2. Infark miokard 8.4 Manifestasi klinis 1. Gas CO2 yang tinggi ini akan mempengaruhi susunan saraf pusat dengan menekan pusat nafas yang ada disana yang keadaan seperti ini disebut dengan henti nafas. 2. gelisah. bila hipoksia ini berlangsung lama maka akan memberikan kelelahan pada otot-otot pernafasan. ada tidaknya pernapasan cuping hidung Circulation : kaji nadi.7. Pada gerakan nafas spontan terlihat retraksi supra klavikuladon sela iga serta tidak ada pengembangan dada pada saat inspirasi 3. letargi. Oleh karena itu. bunyi nafas. Koma akibat berbagai macam kasus 2.5 Pengkajian Primer Airways : kaji kepatenan jalan nafas pasien. gelisah. ada tidaknya sputum atau benda asing yang menghalangi jalan nafas Breathing : kaji frekuensi nafas.3 Patofisiologi Patofisiologi terjadinya henti nafas yaitu karena berkurangnya oksigen di dalam tubuh yang akan mengakibatkan hipoksia. Kelelahan otot-otot pernafasan akan mengakibatkan terjadinya penumpukan sisa-sisa pembakaran berupa gas CO2.

perilaku distraksi. parestesi Tanda : Disorientasi. stupor/koma (tahap lanjut). obat-obatan atau terapi lainyang mempengaruhi glikosa darah. alergi. Data Obyektif  Aktivitas / Istirahat Gejala : Sulit bergerak. tonus otot menurun.  Eliminasi Gejala : Perubahan pola berkemih yaitu penurunan haluaran urine  Nyeri/kenyamanan Gejala : melindungi bagian nyeri. tekanan darah dapat hipotensi ataupun hipertensi  Neurosensori Gejala : Kelemahan pada otot.6 Pengkajian Sekunder Pengkajian head to toe 1. daerah PMI bergeser ke daerah mediastinal. bahu dan abdomen. serangan tiba-tiba saat batuk. ekspresi meringis Tanda : nyeri pada satu sisi. koma  Sirkulasi Gejala : Takikardia.2. gangguan istrahat/tidur Tanda : Takikardia dan takipnea pada keadaan istrahat atau aktifitas Letargi/disorientasi. kram otot. irama ireguler. Data subyektif :  Riwayat penyakit dahulu  Riwayat penyakit sekarang  Status metabolik : intake makanan yang melebihi kebutuhan kalori. . nyeri tajam saat nafas dalam. Homman’s sign (bunyi udara beriringan dengan denyut jantung menandakan udara di mediastinum. 2. penghentian insulin atau obat antihiperglikemik oral.infeksi atau penyakit-penyakit akut lain. S3 dan S4 atau irama gallop. refleks tendon dalam menurun (koma). stress yang berhubungandengan faktor-faktor psikologis dan social. dapat menjalar ke leher. mengantuk.

krepitasi subkutan. pucat. penurunan fremitus vocal. peningkatan kerja pernafasan. . Pernapasan Tanda : Merasa kekurangan oksigen. pergerakan dada tidak seimbang. takipnea. Kulit sianosis. kanker. Gejala : riwayat trauma dada. penyakit paru kronis. hasil perkusi hipersonan di atas area berisi udara (pneumotorak). penggunaan otot asesori. dullness di area berisi cairan. riwayat radiasi atau kemoterapi  Penyuluhan/pembelajaran Gejala : Riwayat faktor risiko keluarga dengan tuberculosis. penurunan bunyi nafas. keganasan paru. reduksi ekskursi thorak. keganasan  Keamanan Gejala : riwayat fraktur. inflamasi paru.

.

.

untuk memberikan ventilasi. Tas ini dapat digunakan dengan dasar dan lanjutan saluran udara. Tindakan sederhana ini membuka jalan napas mungkin semua yang diperlukan untuk meningkatkan upaya pernapasan. menjaga jalan napas terbuka dan saturasi oksigen lebih besar dari 94%. Terutama ketika menggunakan tas ambu. Anggota tim harus memilih ukuran yang tepat untuk menghindari obstruksi jalan napas atau cedera. Jika dimasukkan ke dalam korban sadar.1 Basic Airway Management Manajemen Airway dasar Jika tim memiliki akses ke saluran udara dasar. memberikan satu napas lebih dari 1 detik setiap 5-6 detik (total 10-12 napas per menit). Jika korban memiliki nadi dan tidak ada upaya pernapasan. OPA dapat menyebabkan muntah dan kompromi jalan napas lebih lanjut. cobalah untuk menghindari ventilasi berlebihan dengan hanya menggunakan volume udara yang cukup untuk membuat dada naik. berusaha membuat saluran napas menggunakan salah satu keterampilan dasar: Posisi korban di punggungnya dan berusaha untuk membuka jalan napas menggunakan memiringkan kepala / chin lift (atau jaw thrust jika cedera leher dicurigai). 1. Gunakan mulut ke hidung pernapasan jika ada luka pada mulut atau gigi. pastikan untuk memilih masker yang menutupi kedua hidung dan mulut korban ke dagu. 2. jika tersedia. Jika tas ambu dan masker yang tersedia. Jika korban kehilangan denyut nadinya. Jika korban tidak memiliki upaya pernapasan. Pastikan bahwa oksigen mengalir ke kantong dan tas tidak bocor. segera memulai algoritma serangan jantung. 2. Airway orofaringeal Gunakan jalan napas orofaringeal (OPA) hanya jika korban adalah tidak sadar. Gunakan masker saku.7. Memantau efektivitas intervensi dengan melacak saturasi oksigen dan status neurologis umum korban. ada beberapa yang dapat digunakan dengan pelatihan yang minimal. 3. Airway nasofaring Jalan napas nasofaring (NPA) dapat digunakan .7 Penanganan Kegawatdaruratan Dalam kasus pernapasan. Mulut ke mulut ventilasi dapat digunakan jika tidak ada hambatan yang tersedia.2.

- Sebuah Laryngeal Mask Airway adalah alternatif yang masuk akal untuk sebuah tabung ET. tapi jangan mencoba untuk menggunakannya untuk hisap jalan napas. Namun.dalam korban sadar atau tidak sadar dan dapat digunakan dengan adanya cedera mulut 2. Mengelola satu nafas setiap 5-6 detik (10-12 napas setiap menit) untuk korban di pernapasan ketika saluran udara canggih di tempat. Jangan hisap lebih lama dari 10-15 detik dan pastikan untuk mengoksidasi . Terapkan hisap sebagai tabung ditarik perlahan melalui tabung. resistensi stopwhen dirasakan dan tarik kateter kembali sangat sedikit. Setiap anggota tim ACLS terlatih harus tahu bagaimana menggunakan dan memelihara jalan napas canggih.2 Advance Airway Management Jika anggota tim dilatih dalam penempatan saluran napas.7. Selalu menggunakan teknik steril jika mungkin. - Tabung eshophageal-trachea memberikan oksigenasi sebanding dengan tabung ET. - Sebuah laring Tube adalah napas canggih lain yang dapat digunakan jika tersedia. Beberapa saluran udara canggih umum termasuk: - The endotrakeal tube (ETT) adalah saluran napas yang baik untuk menyisipkan selama serangan jantung jika anggota tim telah dilatih untuk menyisipkan napas. Masukkan kateter lembut ke dalam saluran napas tanpa menerapkan hisap apapun. salah satu saluran udara ini adalah pilihan yang lebih baik untuk memberikan oksigenasi optimal. sangat penting untuk menjaga jalan nafas dengan menggunakan teknik penyedotan yang tepat. pastikan untuk memutar kateter karena ditarik keluar. nafas ini sederhana untuk memasukkan dan memberikan oksigenasi yang sebanding dengan oksigenasi dengan tabung ET. Gunakan kateter Yankauer untuk suction mulut korban. Suction untuk jalan nafas Setelah membuat sebuah saluran napas terbuka dengan saluran udara . Gunakan kateter lembut untuk hisap setiap nafas di luar mulut. berhati-hati ketika memilih tabung ini.

posisi. Pernapasan yang adekuat dinilai tiap kali tiupan oleh penolong. Indikasi tunjangan hidup dasar terjadi karena adanya henti nafas dan henti jantung yang terdiri dari: A Airway : menjaga jalan nafas tetap terbuka B Breathing : ventilasi paru dan oksigenisasi yang adekuat. Fase III: tunjangan hidup terus menerus G Gauge : pengukuran dan pemeriksaan untuk monitoring klien secara terus- menerus. dan perubahan pemikiran selama proses pengisapan. 2. oksigen. . volume nafas yang adekuat. sulfat atoprin. Yang diperhatikan yaitu adanya gerakan dada. dinilai. tanda vital dan kesadaran. isoproterenol. Pastikan untuk memantau korban untuk disritmia. morphin sulfat. henti nafas dan henti jantung. propanolol dan kortikosteroid. Berguna yaitu obat-obatan vasoaktif (laverterenol).setelah penyedotan.9 Pemantauan Pemantauan yang dilakukan adalah monitoring RR. 2. pemberian oksigen. Fase II: Tunjangan hidup lanjutan (Advanced Life Support) yaitu tunjangan hidup dasar ditambah dengan : D drugs : yaitu pemberian obat-obatan sekaligus cairan yang dibagi menjadi 2 yaitu penting: sodium bikarbonat. dicari penyebabnya dan kemudian mengobatinya.8 Algoritma Fase I: Tunjangan hidup dasar (Basic Life Support) yaitu prosedur pertolongan darurat mengatasi obstruksi jalan nafas. epinephrine. C Circulation : mengadakan sirkulasi buatan dengan kompresi jantung paru. lidokain. kalsium khlorida. sianosis. merasakan tahanan ketika memberikan bantuan nafas dan isi paru klien saat mengembang dengan suara dan rasakan adanya udara yang keluar saat ekspirasi.

kolaps alveoli Ventilasi dan perfusi tidak seimbang Hipoksemia. C.2. Hiperkapnia O2 dan CO2 (dispnea. B. Pernapasan Cairan surfaktan menurun Gangguan pengembangan paru.10 WOC Trauma Kelainan neurologis Gangguan syaraf pernapasan dan otot pernapasan Peningkatan permeabilitas membrane alveolar kapiler Gangguan epithelium alveolar Gangguan endpthelium kapiler Penumpukan cairan alveoli Cairan masuk ke interstitial Edema pulmo Peningkatan tahanan jalan nafas Penurunan complain paru Kehilangan fungsi silia sal. D dan E Ventilasi mekanik . sianosis) Tindakan Primer A.

(2013). dan hipertensi ibu merupakan faktor resiko signifikan pada kegawatan nafas neonatus. berat badan lahir.Kegawatan nafas neonatus berdasarkan data skor Downe dan faktor yang di teliti umur ibu. Faktor Risiko Kegawatan Nafas Pada Neonatus di RSD. Data dianalisis dengan uji Chi-square dilanjutkan regresi logistik.Haryato Kabupaten Lumjang Tahun 2013” Uraian Singkat: Tujuan penelitian di jurnal ini adalah untuk mengetahui faktor risiko kegawatan nafas yang dapat menyebabkan henti nafas. jenis kelamin. Volume 1. Pada model regresi logistik. Henti Napas dengan Asidosis Respiratorik Journal Article “Faktor Risiko Kegawatan Nafas Pada Neonatus di RSD.Dr. usia kehamilan. usia kehamilan. sindrom aspirasi meconium dan kadar gula darah acak.DR. Barlianto Wisnu. kehamilan ganda. Jumlah sampel 240 responden yang terbagi menjadi 120 kelompok kasus (gawat nafas) dan 120 kelompok kontrol (tidak gawat nafas) di ruang neonatur RSD.BAB III ANALISIS EVIDENCE BASE PRACTICE A. Susmarini Dian. jenis persalinan.Haryato Kabupaten Lumjang Tahun 2013. Penelitian dilakukan dengan desain penelitian case control dengan pendekatan retrospektif dari data rekam medis. Nopember 2013 . derajat asfiksia dan kehamilan ganda merupakan prediktor kuat terjadinya kegawatan nafas neonatus dan hipertensi pada ibu merupakan faktor proteksi yang menurunkan kegawatan nafas neonatus. partus lama. paritas. Hasil penelitian ini di dapatkan derajat asfiksia. buku register dan laporan harian ruang neonatus. paritas. kehamilan ganda. derajat asfiksia. hipertensi pada ibu. Number 2. Haryoto Kabupaten Lumajang. Penulisan Daftar Pustaka : Marfuah.DR.

. Hasil penelitian menunjukan bahwa faktor risiko terjadinya kegawatan nafas neonatus adlaha derajat asfiksia.Data bayi lahir Control .Ada jenis dokumentasi kelamin.Umur bayi sampai 24 jam .Tidak lahir. Kriteria Inklusi : .Table Extract : Penulis/Tahun/Negara Tujuan Sampel Desain Penelitian Variabel yang diteliti Marfuah. Dian mengetahui responden. paritas.Variabel Instrumen yg dipakai/ Detail Eksperimen asfiksia. Wisnu Untuk N = 240 Case Barlianto . partus lama. di ruang hipertensi bersalin. 2. paritas dan hipertensi pada ibu. harian ruang dapat kontrol) derajat neonatus menyebabkan henti nafas. pada ibu. Susmarini / 2013 / faktor risiko (kelompok pendekatan : umur ibu.05 yang artinya ada hubungan yang bermakna . Instrumen : Hasil Penelitian Kesimpulan dari hasil penelitian yaitu : 1. 120 dengan independent rekam medis. namun tidak menjadi risiko kegawatan nafas neonatus. skor downe berat badan . usia kehamilan. kehamilan ganda. . buku register Indonesia kegawatan kasus) dan 120 retrospektif kehamilan dan laporan nafas yang (kelompok ganda. usia kehamilan. Hipertensi pada ibu mempunyai nilai p<0. jenis persalinan.

paru. Akibat dari gangguan pada sistem pernafasan adalah terjadinya kekurangan oksigen (hipoksia) pada tubuh. Sedangkan dari arah hubungan berdasarkan nilai koefisien yang positif bahwa derajat asfiksia (sedang-berat). Apabila asfiksia semakin berat dan . maka lebih beresiko terjadinya kegawatan nafas neonatus.Variebel dependen : efek kegawatan nafas pada 3.Ibu bayi tidak menderita penyakit anemia. Bayi akan beradaptasi terhadap kekurangan oksigen dengan mengaktifkan metabolisme anaerob.mengalami kelainan kongenital . sindrom aspirasi meconium dan kadar gula darah acak . neonatus Pembahasan : Kegawatan pernafasan dapat terjadi pada bayi dengan gangguan pernafasan yang dapat menimbulkan dampak yang cukup berat bagi bayi berupa kerusakan otak atau bahkan kematian. sedangkan yang bayi dengan kehamilan ganda lebih beresiko terjadi kegawatan nafas neonatus daripada bayi lahir tunggal.

suku ras Caucasian. Surfakton membantu paru mengembang dan melindungi kantong udara dari kollap paru. riwayat keluarga dengan RDS. BBLR. terjadi gangguan pertukaran gas yang menyebabkan asidosis respiratorikdan kegawatan neonatus ( Hasan. dimana derajat asfiksia sedang-berat (AS 0-6) menjadi risiko kegawatan nafas. lahir cepat (rapid labar) . asfiksia perinatal. et al. bayi pada ibu dengan diabetik. 2007) B. Dengan memburuknya keadaan asidosis dan penuruann aliran darah ke otak maka akan terjadi kerusakan otak dan organ lain karena hipoksia dan iskemia dan hal ini dpat menyebabkan kematian neonatus (Ainsworth.korioamniionitis. Faktor risiko yang dapat meningkatkan kegawatan nafas neonatus adalah prematur. 2006) Penyebab utama dari kegawatan nafas bayi /neonatus Respiratory Distress adalah paru-paru bayi belum cukup untuk berkembang dengan penuh akibat defisiensi surfakton.lama metabolisme anaerob akan menghasilkan asam laktat. non-immune hydrops fetalis dan urutan kehamilan/paritas (UCSF children hospital. hal ini terjadi karena pada asfiksia sedang-berat.2004) Pada penelitian ini terdapat hubungan yang bermakna antara derajat asfiksia dengan kegawatan nafas pada neonatus. jenis kelamin laki-laki.. persalinan SC. Henti Nafas dengan Asidosis Metabolik Journal Article Uraian Singkat: .. kehamilan multipel (gamelli atau lebih).

Penulisan Daftar Pustaka .

.

Table Extract : Penulis/Tahun/Negara Tujuan Desain Penelitian Sampel Variabel yang diteliti - 19 Instrumen yg dipakai/ Detail Eksperimen - Hasil .

4. Henti nafas terjadi dalam keadaan seperti tenggelam atau lemas. salah satunya adalah tenggelam. tersengat listrik. infark miokard. overdosis obat-obatan. stroke. tentu dalam penulisan makalah ini masih banyak kekura. nadi karotis teraba. tersambar petir. serta teman-teman. epiglotitis. dengan tanda dan gejala henti napas berupa tidak sadar (pada beberapa kasus terjadi kolaps yang tiba-tiba). pucat secara umum. obstruksi jalan napas. Terjadinya henti nafas yaitu karena berkurangnya oksigen di dalam tubuh yang akan mengakibatkan hipoksia. pernapasan tidak tampak atau pasien bernapas dengan terengahengah secara intermitten. koma akibat berbagai macam kasus.1 Kesimpulan Henti nafas adalah suatu keadaan yang ditandai dengan tidak adanya gerakan dada dan aliran udara pernafasan dari korban atau pasien. sianosism dari mukosa buccal dan liang telinga. Henti nafas merupakan kasus yang harus dilakukan tindakan Bantuan Hidup Dasar. 20 . Henti nafas dapt diakibatkan karena beberapa hal.2 Saran Dalam keterbatasan pengetahuan yang kami miliki. stroke dan obstruksi jalan napas.BAB IV PENUTUP 4. maka untuk itu kami sangat mengharapkan motivasi dan koreksi dari ibu/bapak. sehingga dapat kami gunakan sebagai acuan dalam penulisan makalah berikutnya.

(2008). C. M. Ningsih. Penatalaksanaan Henti Jantung DI Luar RUmah Sakit Sesuai dengan Algoritma AHA 2005. T. 21 . Jakarta: EGC. A. Moorhouse. (2006).. 2001. Nursing Care Plan. K. Suzanne C. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Malang: UMM Press. Jakarta: EGC.DAFTAR PUSTAKA Doenges M. & Murr. 2004. A. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit...E. Sylvia. F. D. Smeltzer. Sumarsono. Price. Jakarta: EGC.