Anda di halaman 1dari 22

BAB I

1.1 Pendahuluan
Teh merupakan salah satu minuman yang sangat populer di dunia. Teh
dibuat dari pucuk daun muda tanaman teh (Camelia sinensis L. [O]
Kuntze). Berdasarkan proses pengolahannya, secara tradisional produk teh
dibagi menjadi 3 jenis, yaitu teh hijau, teh oolong dan teh hitam. Teh hijau
banyak dikonsumsi oleh masyarakat Asia terutama Cina dan Jepang,
sedangkan teh hitam lebih populer di negara-negara Barat. Sementara, teh
oolong hanya diproduksi di negara China. Teh sebagai minuman kesehatan
tradisional dipercaya memiliki berbagai khasiat, diantaranya sebagai obat
anti hipertensi, anti diare, obat penghilang rasa sakit, bahkan air seduhan
biji tanaman kering teh dapat digunakan sebagai obat anti jamur (Ross,
2005).
Tanaman teh yang tumbuh di Indonesia sebagian besar merupakan
varietas Assamica yang berasal dari India, berbeda dengan tanaman teh
yang tumbuh di Jepang dan Cina yang merupakan teh varietas Sinensis.
Teh varietas Assamica memiliki kelebihan dalam hal kandungan
katekinnya (zat bioaktif utama dalam teh) yang lebih besar (Rustanti,
2009). Kandungan katekin dalam daun teh Indonesia yaitu sebanyak 7,02 –
11,60% sedangkan di negara lain berkisar antara 5,06 – 7,47% atau 1,34
kali lebih tinggi (Indriani, 2009)
Berdasarkan penelitian, kebiasaan minum teh ternyata dapat
mencegah nafas bau dan gigi kropos. Kandungan bahan kimia dalam teh
dapat membunuh bakteri dan virus yang dapat menyebabkan infeksi
tenggorokan, gigi kropos dan gangguan gigi serta rongga mulut lainnya.
Hasil isolasi senyawa kimia dari daun teh yang dikenal sebagai keluarga

polifenol terutama katekin dan teaflavin dapat membunuh bakteri
penyebab gangguan mulut .
Komponen utama dari teh hijau adalah polisakarida, flavonoid,
Vitamin B, C dan E serta komponen katekin. Komponen katekin banyak
berperan sebagai anti kanker. Komponen katekin utama yang ditemukan
dalam teh hijau adalah : epigallocatechin (EGC), epikatekin (EC),
epigallocatechingallate (EGCG) dan epicatechin gallate ( ECG).
Katekin adalah kandungan utama pada polifenol yang dimiliki teh.
Katekin adalah segolongan metabolit sekunder yang secara alami
dihasilkan oleh tumbuhan dan termasuk dalam golongan flavonoid.
Senyawa ini memiliki aktivitas antioksidan berat karena gugus fenol yang
dimilikinya. Strukturnya memiliki dua gugus fenol (cincin-A dan -B) dan
satu gugus dihidropiran (cincin-C). Karena memiliki lebih dari satu gugus
fenol, senyawa katekin sering disebut senyawa polifenol.

Aspek keteknikan inilah yang kemudian akan memberikan efek produktifitas dan efisiensi dalam pengolahan teh (PPTK Bandung. Teh sangat cocok dengan tanah yang memiliki derajat keasaman kurang dari 5. 1. 1982 dalam Fajar 2006). TEORI Tanaman teh (Camellia sinesis L. 2002). Teh merupakan produk alami yang dapat langsung dikonsumsi manusia. Pada tahun 2737 SM teh sudah dikenal di Cina. Semakin tinggi daerah penanaman teh maka semakin baik mutu hasilnya (Ghani. Dan semakin meningkatnya pemintaan teh di dunia. teh memerlukan perhatian yang intensif untuk hasil produksi yang ingin dicapai. dan beberapa jenis laterit. penerapan teknologi baik dalam tingkatan budidaya maupun produksi harus ditingkatkan.5 serta tanaman teh akan mempuyai produktifitas yang baik jika berada pada daerah yang curah hujannya mencapai 2500-3000 mm/tahun (Adisewojo. Dalam proses budidayanya. latosol. Tanaman ini dapat tumbuh didaerah tropis dan subtropis dengan syarat cukup sinar matahari dan hujan sepanjang tahun. dalam Hendro.) berasal dari asia tenggara. Artinya. 2009). Sedangkan jenis tanah yang baik untuk tanaman teh adalah andosol. Permasalahan yang selama ini terjadi adalah aspek pemeliharaan yang sangat tergantung pada nilai ekonomi pucuk teh (Syamsul bahri. 2002). Meskipun dapat tumbuh di dataran rendah namun mutu hasilnya kurang baik. . diperlukan adanya upaya peningkatan produksi teh secara ekonomis. 2002).BAB II 2. Teh diperkenalkan pertama kali oleh pedagang belanda sebagai komoditas perdagangan di eropa pada tahun 1610 M (Ghani. Suhu optimum pertumbuhan teh dengan kualitas baik membutuhkan suhu berkisar 15-30ºC.

teh dipisahkan menurut jenis dan mutu. Sebelum dapat dikonsumsi. Perkembangan Teh di Indonesia . Daun teh hasil fermentasi selanjutnnya dikeringkan sampai kadar air mencapai 2. 1994).Pengelolaan pembibitan merupakan fokus utama yang dapat menentukan proses selanjutnya dalam ketercapaian produktifitas tanaman teh yang dihasilkan. Pembibitan dengan stek merupakan cara yang paling cepat untuk memenuhi kebutuhan bibit dalam jumlah banyak. 1996 dalam Fajar. Penyimpanan teh yang telah disortasi ini biasanya menggunakan peti-peti miring stainless steel.5% dengan tujuan agar masa simpan lebih lama dan enzim-enzim yang menyebabkan fermentasi polifenol tidak aktif (PPTK Gambung. mengeluarkan cairan sel dan untuk memperoleh bobok basah sebanyak mungkin. Pembibitan pada budidaya teh dapat dilaksanakan pada dari biji dan stek.1. Selanjutnya adalah proses penggilingan. 1991 dalam Fajar. 1994). Tahap selanjutnya adalah sortasi dan pengepakan. Fermentasi teh merupakan oksidasi senyawa polifenol dengan bantuan enzim oksidase. ada beberapa tahapan yang harus dilakukan dalam proses pengolahan teh. tujuan dari proses penggilingan menggulung dan mengecilkan ukuran pucuk. Lama penggilingan berkisar antara 25-40 menit untuk pabrik di dataran rendah. 2006). 2. Tahapan ke tiga adalah fermentasi. dan 40-70 menit untuk pabrik yang berlokasi di dataran tinggi (PPTK Gambung.5-3. Proses pertama adalah pelayuan pucuk teh untuk mengurangi kadar air pucuk. Pengepakan teh yang memadai adalah pengepakan yang memperhatikan kadar air agar tidak lebih tinggi dari 5% (Setiawati dan Nasikun. 2002). Jika berhasil dalam pembibitan (penentuan jenis klon) maka produktifitas hasil yang diperoleh akan baik (Ghani. Pelayuan dilakukan dengan menghembuskan udara baik udara dengan suhu ruang ataupun udara panas ke hamparah daun teh (Baruah dan Bhattacharrya. tahapan ini bersifat opsional tegantung jenis teh yang diinginkan.1. 2006).

Sistematika Penamaan Tumbuhan Teh Walaupun tumbuhan teh aslinya ditulis oleh Linnaeus di dalam sistem binominalnya pada tahun 1753 sebagai Thea sinensis. Morfologi Tumbuhan Teh Daun teh berbau khas aromatik. 1992) 2. setelah pada tahun 1824 Dr. yang kemudian digunakan sebagai dasar bagi usaha perkebunan teh di Jawa dan sejak itu menjadi komoditas yang menguntungkan pemerintah Hindia Belanda.2. Selain itu daun teh mempunyai ciri–ciri ( morfologi ) sebagai berikut: 1. 3. Pada tahun 1826 tanaman teh berhasil ditanam melengkapi Kebun Raya Bogor. seorang pendeta bernama F. Helai–helai daun yang cukup tebal.1.3. berkelenjar yang khas dan terbenam (Kartasapoetra.Tumbuhan teh pertama kali masuk ke Indonesia tahun 1686. Tepi daun bergerigi.bertangkai pendek. teh menjadi salah satu tanaman yang harus ditanam 2. bohea . berupa biji teh dari Jepang yang dibawa oleh orang Belanda bernama Andreas Cleyer. Pada tahun 1694. sekarang teh dimasukkan di Camellia sebagai C. panjangnya tidak lebih dari 5cm. rasanya agak sepet. Garut. kaku. 2. Secara keliru dianggap bahwa T. Permukaan daun bagian atas mengkilat. Sinensis (keluarga Theaceae). pada daun muda permukaan bawahnya berambut jika telah tua menjadi licin. berbentuk sudip melebar sampai sudip memanjang. Lalu Linnaeus mengakui dua jenis yang sebelumnya digambarkan oleh John Hill.1. Jawa Barat. dan pada tahun 1827 di Kebun Percobaan Cisurupan.bohea. agak tergulung ke bawah. Valentijn melaporkan melihat perdu teh muda berasal dari Cina tumbuh di Taman Istana Gubernur Jendral Champhuys di Jakarta. sehingga pada masa pemerintahan Gubernur Van Den Bosh. yaitu T. viridis dan T.Van Siebold seorang ahli bedah tentara Hindia Belanda yang pernah melakukan penelitian alam di Jepang mempromosikan usaha pembudidayaan dengan bibit teh dari Jepang. dan ditanam sebagai tanaman hias di Jakarta. seorang ahli teh pada tahun 1828. Usaha perkebunan teh pertama dipelopori oleh Jacobus Isidorus Loudewijk Levian Jacobson.

Ciri dari tanaman ini adalah semak atau pohon berwarna hijau dan tanaman ini memiliki tinggi sampai 30 kaki namun biasanya dipangkas 2-5 kaki untuk pengolahan.1. bunganya berwarna putih beraroma .adalah sumber teh hitam. sedangkan T. Tanaman teh. Camellia sinensis merupakan famili dari theaceae. Gambar 1.) Teh merupakan minuman yang banyak dikonsumsi kedua di dunia setelah air. Camellia thea. T. assamica. Struktur senyawa polifenol dari daun teh Tidak seperti pada teh hitam. C. sehingga menyebabkan enzim pengoksidasinya tidak aktif sehingga kandungan polifenol nya akan tetap ada. produksi dari teh hijau tidak membutuhkan oksidasi dari daun teh yang muda. viridis. T. Teh Hijau diproduksi dari perebusan daun teh segar pada temperatur tinggi. Namun. theifera dan lain – lain. T. pada tahun 1843 Robert Fortune menemukan bahwa teh hitam dan teh hijau dihasilkan dari daun tanaman yang sama dengan proses produksi yang berbeda. viridis menghasilkan teh hijau. Polifenol yang biasanya ditemukan pada tanaman banyak diketahui sebagai flavanols atau katekin. khasiat untuk kesehatannya pun sudah banyak ditemukan. Daunnya berwarna hijau gelap berbentuk oval dengan pinggiran bergerigi .4 Teh Hijau ( Camellia sinensis L. Dan Teh hitam . 2. Komponen katekin utama yang ditemukan dalam teh hijau adalah : epigallocatechin . serta teh hijau dihasilkan dari daunnya. cantonensis. Ada banyak nama yang mirip termasuk Thea bohea.

theobromin. katekin dari teh hijau menunjukkan peningkatan Lactobacilli dan Bifidobacteria pada saat menurunkan aktivitas dari beberapa patogen secara signifikan. Setiap 100 gram daun teh mempunyai kalori 17 kj dan mengandung 75-80 % air.5 – 4. Polifenol dari teh hijau menghambat produksi dari metabolit asam arakidonat seperti prostaglandin dan leukotrien. naringenin. .(EGC). stimulansia jantung (cardiotonik). EGCG dapat menghambat inisiasi dan promosi tumor. karbohidrat 4 %. Polifenol dari teh hijau menunjukkan efek antioksidan. berkhasiat sebagai adstringen pada saluran pencernaan. Daun teh mengandung kafein ( 2-3 % ). kafein 2. antiinflamasi. dan natural fluoride. xanthin. Biji mengandung saponin yang beracun dan mengandung minyak. polifenol 25 %. minyak atsiri. Tanin mengandung epichatechin. Studi juga menunjukkan efek antibakteri dari teh hijau terhadap berbagai macam bakteri gram positif dan negatif. epicatechin (EC). protein 20 %. Berkhasiat sebagai peluruh kencing (diuretic). kuersetin. Daun berbau aromatic dan sedikit pahit. Studi pada manusia dan binatang menunjukkan kemampuan EGCG untuk memblok respon inflamasi terhadap radiasi UV A dan B serta kemampuan untuk menghambat migrasi neutrofil yang umumnya terjadi pada proses inflamasi Meskipun mekansime yang pasti tidak diketahui. adenine. Potensial antioksidan teh hijau secara langsung berhubungan dengan kombinasi cincin aromatis dan grup hidroksil yang membentuk strukturnya yang menyebabkan pengikatan dan netralisasi terhadap radikal bebas oleh grup hidroksilnya. antikarsinogenik. tannin. probiotik serta antimikroba pada beberapa hewan dan studi in vitro. serat 27 % dan pectin 6 %. penyegar badan. theofilin. epigallocatechingallate (EGCG) dan epicatechin gallate ( ECG). menstimulir susunan saraf pusat. Efek antikarsinogenik dari polifenol teh hijau utamanya dari EGCG. thermogenik. induksi apoptosis serta menghambat kecepatan replikasi sel yang berpengaruh pada pertumbuhan dan perkembangan neoplasma.5 %. sehingga akan menurunkan respon inflamasi.

Kafein mempercepat pernafasan. baik langsung maupun tidak langsung selalu dihubungkan dengan semua sifat produk teh. dan aroma Katekin merupakan kelompok terbesar dari komponen daun teh. mengurangi kecenderungan thrombosis. flavonoid yang merupakan antioksidan polifenol pada teh mampu memperkuat dinding sel darah merah dan mengatur permeabilitasnya. terutama kelompok katekin flavonoid. senyawa tidak berwarna ini. Katekin merupakan kelompok utama dari substansi teh hijau yang paling berpengaruh terhadap seluruh komponen teh. Theobromin terutama mempengaruhi otot. warna. Katekin teh bersifat antimikroba (Bakteri dan Virus). antiradiasi. antioksidan. perangsang kuat pada susunan saraf pusat dan aktifitas jantung. Theofilin mempunyai efek diuretik kuat. Sedangkan asam galik diturunkan dari . Uraian Senyawa Epicatechin dari daun Teh ( Camelia Sinensis )  Katekin (Polifenol) Polifenol teh atau sering disebut dengan katekin merupakan zat yang unik karena berbeda dengan katekin yang terdapat pada tanaman lain. dan menghambat oksidasi LDL sehingga mengurangi terjadinya proses atherosclerosis di pembuluh darah yang selanjutnya akan mengurangi resiko kematian akibat penyakit jantung koroner. Dalam pengolahannya. memperkuat pembuluh darah. menstimulir kerja jantung dan melebarkan pembuluh darah koroner. Dari hasil penelitian. Katekin tersitesis dalam daun teh melalui jalur melanic dan asam sikimat. Katekin dalam teh tidak bersifat menyamak dan tidak berpengaruh buruk terhadap pencernaan makanan. melancarkan sekresi air seni dan menghambat pertumbuhan sel kanker. yaitu rasa.

Pucuk dan daun pertama paling kaya katekin galat. yaitu proanthocyanidin dan poliester. protein. Jalur biosintesis katekin dari daun teh Katekin tanaman teh dibagi menjadi 2 kelompok utama. galokatekin galat.84 tahun. Pantas jika usia rata-rata pria Jepang mencapai 76. Warga Jepang meyakini. Konsentrasi katekin sangat tergantung pada umur daun. Khasiat utama teh ada pada polifenol dalam daun muda dan utuh. Gambar 3.35 tahun dan wanita 82. Senyawa flavonoid katekin pada teh Tradisi itu diwariskan hingga kini. Kadar katekin bervariasi tergantung pada varietas tanaman tehnya. katekin. epikatekin gallat.dan DNA dalam sel. Senyawa polifenol berperan sebagai penangkap radikal bebas hidroksil sehingga tidak mengoksidasi lemak. Kemampuan polifenol menangkap radikal bebas 100 kali lebih efektif dibanding vitamin C dan 25 kali lebih efektif dari vitamin E. epigalokatekin. epigallokatekin gallat. Katekin – senyawa dominan dari polifenol teh hijau – terdiri dari epikatekin.suatu produk antara yang diproduksi dalam jalur metabolik asam sikimat. epigallokatekin. Katekin teh hijau tersusun sebagian besar atau senyawa – senyawa katekin. galokatekin. minum teh salah satu cara agar panjang umur. dan gallokatekin. epikatekin. epikatekin galat. dan epigalokatein galat. Bandingkan dengan usia rata-rata pria Indonesia yang hanya 65 tahun dan wanita 70 tahun. .

Istilah tepatnya adalah oksidasi enzimatis. tehaflavin. teh semifermentasi seperti teh oloong dan teh pouchong. ada 3 jenis teh: teh fermentasi atau the hitam. selama pengolahan. 2 – 4 gelas setiap hari. pembentukan kerak di dinding pembuluh darah penyebab arteriosklerosis bisa ditangkal. Sebab. dan the tanpa fermentasi alias teh hijau. katekin dipertahankan jumlahnya dengan cara menonaktifkan enzim polifenol oksidase melalui proses pelayuan dan pemanasan.kandungan epigallokatekin dan epigallokatekin gallat pada teh hijau menghambat aktivitas enzim yang mengatur tekanan darah. Katekin teh mengalami banyak perubahan kimia seperti oksidasi dan epimerisasi saat proses pengolahan dan penyeduhan. sebutan fermentasi itu kurang tepat untuk menggambarkan proses pengolahahan teh. Berdasarkan cara pengolahannya. bisflavanol. Selain itu. katekin dioksidasi menjadi senyawa orthoquinon.Konsumsi teh secara teratur. Katekin teh stabil dalam air pada suhu kamar. Pada proses pengolahan lainnya. Kadar katekin menurun sebesar 20%jika dipanaskan pada suhu 98oC selama 20 . kolesterol jahat.Katekin mencegah oksidasi low density lipoprotein (LDL). dan teharubigin yang khasiatnya tidak sehebat katekin. Di antara ketiga jenis teh. Sebetulnya. dapat menurunkan tekanan darah penderita tekanan darah tinggi sehingga kembali normal Kadar katekin mencapai 20% dari bobot kering daun teh hijau. Alhasil. Senyawa itu lebih banyak terkandung pada teh Camellia sinensis jenis assamica dibanding jenis sinensis. Epimerisasi adalah perubahan struktur epi pada rantai kimia katekin. Perubahan ini mengurangi kadar antioksidan pada teh. kadar katekin teh hijaulah paling tinggi. Contohnya dari epigallokatekin menjadi gallokatekin. Teh hijau Indonesia diolah dari pucuk teh Camellia sinensis jenis assamica sehingga lebih baik dibanding teh hijau Cina atau Jepang yang berbahan baku Camellia sinensis jenis sinensis. Begitu juga dengan teh hitam.

Prinsip pemisahannya berbeda dengan filtrasi biasa. kedokteran. Meningkatnya perhatian masyarakat terhadap manfaat polifenol teh. Pemisahan katekin dengan membran merupakan proses penyaringan dan difusi elektrokimia berdasarkan bobot molekul (BM) dan struktur senyawanya.Idealnya setiap orang mengkonsumsi minimal 125 mg katekin per hari. Metode lainnya teknologi membran filtrasi untuk memisahkan komponen cair dengan tekanan.kosumsi teh di Indonesia masih rendah. mendorong para peneliti untuk memperoleh katekin dalam bentuk konsentrat. Dengan manfaat teh yang multikhasiat. kosmetik. atau bubuk. metode itu tidak ekonomis. alangkah . harga pelarut-pelarut organik mahal dan perlu diteliti keamanannya akibat kemungkinan residu tertinggal. melainkan dipecah dan menyebar ke seluruh bagian. Sayang.Saat dipanaskan dalam autoclave pada suhu 120oC. Oleh sebab itu. ada pemisahan ini larutan yang mengalir tidak menembus media. pantas jika Jepang menghormatinya dengan melakukan ritual khusus saat minum teh. Sebab. Katekin bisa anjlok hingga 50%jika dipanaskan selama 2 jam. terjadi epimerisasi dari (-). Dengan teknologi itu. yang diperoleh dari 5 g teh hijau.menit. Larutan katekin yang sudah terpisah dari senyawa lain ?terutama senyawa dengan BM besar seperti protein dan polisakarida ? dikeringkan untuk memperoleh serbuk atau bubuk katekin dengan kemurnian tinggi. serbuk. dan pangan. Konsumsi teh hijau Indonesia hanya 350 g/kapita/tahun. Sebagai salah satu negara penghasil teh terbesar.EGCG menjadi (-)-GCG dan kadar katekin menurun hingga 24%. katekin dalam bentuk serbuk atau bubuk mudah diperoleh terutama untuk kepentingan farmasi. Sejumlah metode pemisahan dikembangkan dengan pelarut organik seperti methanol dan kloroform. kurang dari 1 g per hari.

Senyawa-senyawa ini merupakan zat warna merah.baiknya selalu minum teh untuk mencicipi manfaatnya. susunan ini dalpat menghasilkan tiga jenis struktur senyawa Flavonoid yaitu: 1. Flavonoida atau 1. Dan sebagai zat warna kuning yang ditemukan dalam tumbuh-tumbuhan.3-diarilpropana . ungu. Flavonoid mempunyai kerangka dasar karbon yang terdiri dari 15 atom karbon. dan biru. dimana dua cincin benzen (C 6) terikat pada suatu rantai propana (C3) sehingga bentuk susunan C6-C3-C6.(Dadan Rohdiana) struktur katekin Klasifikasi Senyawa Flavonoida Senyawa flavonoida adalah suatu kelompok senyawa fenol yang terbesar yang ditemukan di alam.

2.3-diarilpropana 2. Senyawa-senyawa flavon ini mempunyai . yaitu nama dari salah satu flavonoid yang terbesar jumlahnya dalam tumbuhan.diarilpropana Isoflavonoid atau 1.Flavonoida atau 1.1-diarilpropana Istilah flavonoida diberikan untuk senyawa-senyawa fenol yang berasal dari kata flavon.2.1-diarilpropana Neoflavonoida atau 1.diarilpropana 3. Isoflavonoid atau 1. Neoflavonoida atau 1.

cincin B flavonoid mempunyai satu gugu fungsi oksigen pada posisi para atau dua pada posisi para dan meta atau tiga pada posisi satu di para dan dua di meta. Flavon. kalkon Cincin A – COCH2CO – Cincin B —————————— Flavon Cincin A – CH2COCO – Cincin B —————————— Antosianin Cincin A – COCOCH2 – Cincin B ——————————. Senyawa-senyawa isoflavonoid dan neoflavonoida hanya ditemukan dalam beberapa jenis tumbuhan.6.Auron Biosintesa Flavonoida .3-diarilpropana. flavonol dan antosianidin adalah jenis yang banyak ditemukan dialam sering sekali disebut sebagai flavonoida utama. dimana posisi orto dari cincin A dan atom karbon yang terikat pada cincin B dari 1. Flavonoida mempunyai pola oksigenasi yang berselangseling yaitu posisi 2. Senyawa-senyawa flavonoid terdiri dari beberapa jenis tergantung pada tingkat oksidasi dari rantai propana dari sistem 1. Banyaknya senyawa flavonoida ini disebabkan oleh berbagai tingkat alkoksilasi atau glikosilasi dari struktur tersebut. terutama suku Leguminosae. Cincin A selalu mempunyai gugus hidroksil yang letaknya sedemikian rupa sehingga memberikan kemungkinan untuk terbentuk cincin heterosikllis dalam senyawa trisiklis. Beberapa senyawa flavonoida adalah sebagai berikut : Cincin A – COCH2CH2 – Cincin B —————————– Hidrokalkon Cincin A – COCH2CHOH – Cincin B ————————– Flavanon.kerangka 2-fenilkroman.3-diarilpropana dihubungkan oleh jembatan oksigen sehingga membentuk cincin heterosiklik yang baru (cincin C). Masing-masing jenis senyawa flavonoida mempunyai struktur dasar tertentu.4.

Residu gula dari glikosida flavonoida alam adalah glukosa. galaktosa dan gentiobiosa sehingga glikosida tersebut masing-masing disebut glukosida. Identifikasi Flavonoida Sebagai besar senyawa flavonoida alam ditemukan dalam bentuk glikosida. gugus hidroksi. di. galaktosida dan gentiobiosida. Flavonoida dapat ditemukan sebagai mono-. benzen. .atau triglikosida dimana satu. gugus karbonil. Glikosida adalah kombinasi antara suatu gula dan suatu alkohol yang saling berikatanmelalui ikatan glikosida. suatu glikosida terurai kembali atas komponen-komponennya menghasilkan gula dan alkohol yang sebanding dan alkohol yang dihasilkan ini disebut aglokin. yaitu : pada tahap tahap pertama biosintesa flavonoida suatu unit C 6-C3 berkombinasi dengan tiga unit C2 menghasilkan unit C6-C3-(C2+C2+C2). ikatan glikosida terbentuk apabila gugus hidroksil dari alkohol beradisi kepada gugus karbonil dari gula sama seperti adisi alkohol kepada aldehida yang dikatalisa oleh asam menghasilkan suatu asetal. kloroform dan aseton. Sebagai akibat dari berbagai perubahan yang disebabkan oleh enzim. ramnosida.Poliglikosida larut dalam air dan sedikit larut dalam pelarut organik seperti eter. sedangkan cincin B dan tiga atom karbon dari rantai propana berasal dari jalur fenilpropanoida (jalur shikimat). ramnosa.kerangka C15 yang dihasilkan dari kombinasi ini telah mengandung gugus-gugus fungsi oksigen pada posisi-posisi yang diperlukan. Pada prinsipnya. ketiga atom karbon dari rantai propana dapat menghasilkan berbagai gugus fungsi seperti pada ikatan rangkap. Cincin A dari struktur flavonoida berasal dari jalur poliketida. dimana unit flavonoid terikat pada sutatu gula.Pola biosintesis pertama kali disarankan oleh Birch. dan sebagainya. dua atau tiga gugus hidroksil dalam molekul flavonoid terikat oleh gula. Pada hidrolisa oleh asam. Sehingga kerangka dasar karbon dari flavonoida dihasilkan dari kombinasi antara dua jenis biosintes utamadari cincin aromatik yaitu jalur shikimat dan jalur asetat-malonat. yaitu kondensasidari tiga unit asetat atau malonat.

Sedangkan jalur fenilpropanoid atau biasa disebut jalur shikimat. AsetoaseilCoA yang terbentuk akan bereaksi dengan malonatCoA dan reaksi ini akan berlanjut sehingga membentuk poliasetil. Jalur Fenilpropanoid. Jalur ini merupakan bagian dari glikolisis tetapi tidak memperoleh suatu asam piruvat melainkan memperoleh asam shikimat.Biosintesis Flavonoid Biosintesis flavonoid sudah mulai diteliti sejak tahun 1936. Pada awalnya para peniliti mengkaitkan C6-C3-C6 dari flavonoid merupakan hasil dari fenil propanoid. Setelah itu malonatCoA akanbereaksi dengan asetilCoA menjadi asetoasetilCoA.Secara umum sintesis flavonoid terdiri dari dua jalur yaitu jalur poliketida. 1. Reaksi ini melibatkan eritrosa dan fosfo enol piruvat. Poliasetil yang terbentuk akan berkondensasi dan berekasi dengan hasil dari jalur fenilpropanoid akan membentuk suatu flavonoid. Jenis flavonoid yang terbentuk dipengaruhi dari bahan fenilpropanoid 2. Jalur poliketida Reaksi yang terjadi pada jalur ini diawali dengan adanya reaksi antara asetilCoA dengan CO yang akan menghasilan malonatCoA. Asam shikimat yang terbentuk akan ditransformasikan menjadi suatu asam amino yaitu fenilalanin dan tirosin. Jalur poliketida ini merupakan serangkaian reaksi kondensasi dari tiga unit asetat atau malonat. Fenilalanin akan melepas NH3 d an membentuk asam sinamat sedangkan tirosin akan membentuk senyawa turunan asam sinamat karena adanya subtitusi pada gugus benzennya . Tetapi selama bertahun-tahun diperoleh teori sintesis flavonoid dan telah dibuktikan di laboratorim. dan jalur fenil propanoid.

Pengambilan suatu senyawa organik dari suatu bahan alam padat disebut ekstraksi. Adapun prinsip sokletasi ini yaitu : Penyaringan yang berulang ulang sehingga hasil yang didapat sempurna dan pelarut yang digunakan relatif sedikit. melainkan dengan teknik lain dimana pelarut yang digunakan harus selalu dalam keadaan panas sehingga diharapkan dapat mengisolasi senyawa organik itu lebih efesien. maka pelarutnya diuapkan kembali dan sisanya adalah zat yang tersari. Jika senyawa organik yang terdapat dalam bahan padat tersebut dalam jumlah kecil. tapi tidak melarutkan zat padat yang tidak diinginkan . Metode sokletasi menggunakan suatu pelarut yang mudah menguap dan dapat melarutkan senyawa organik yang terdapat pada bahan tersebut. maka teknik isolasi yang digunakan tidak dapat secara maserasi.Sokletasi adalah suatu metode / proses pemisahan suatu komponen yang terdapat dalam zat padat dengan cara penyaringan berulang ulang dengan menggunakan pelarut tertentu. Isolasi semacam itu disebut sokletasi. sehingga semua komponen yang diinginkan akan terisolasi. Bila penyaringan ini telah selesai.

Dengan cara pemanasan. polar atau nonpolar. Dimulai dengan pelarut heksana. petroleum eter. Syarat syarat pelarut yang digunakan dalam proses sokletasi : 1. Pelarut yang mudah menguap Ex : heksan.Metoda sokletasi seakan merupakan penggabungan antara metoda maserasi dan perkolasi. metil 2. secara teratur pelarut tersebut dimasukkan kembali kedalam labu dengan membawa senyawa kimia yang akan diisolasi tersebut. Pelarut tersebut akan terpisah dengan cepat setelah pengocokan. . cara ini seringkali tidak. Sifat sesuai dengan senyawa yang akan diisolasi. Pelarut tidak melarutkan senyawa yang diinginkan. atau kloroform untuk memisahkan senyawa – senyawa trepenoid dan lipid – lipid. maka dapat diekstrak dengan menggunakan pelarut yang diinginkan. petroleum eter. maka cara yang terbaik yang didapatkan untuk pemisahan ini adalah sokletasi Sokletasi digunakan pada pelarut organik tertentu. Walaupun demikian. Jika pada metoda pemisahan minyak astiri ( distilasi uap ). 4. klorida dan alkohoL Titik didih pelarut rendah. eter. Ekstraksi dilakukan dengan menggunakan secara berurutan pelarut – pelarut organik dengan kepolaran yang semakin menigkat. sehingga uap yang timbul setelah dingin secara kontunyu akan membasahi sampel. Pelarut terbaik untuk bahan yang akan diekstraksi. 6. Pelarut yang telah membawa senyawa kimia pada labu distilasi yang diuapkan dengan rotary evaporator sehingga pelarut tersebut dapat diangkat lagi bila suatu campuran organik berbentuk cair atau padat ditemui pada suatu zat padat. tidak dapat digunakan dengan baik karena persentase senyawa yang akan digunakan atau yang akan diisolasi cukup kecil atau tidak didapatkan pelarut yang diinginkan untuk maserasi ataupun perkolasi ini. kemudian dilanjutkan dengan alkohol dan etil asetat untuk memisahkan senyawa – senyawa yang lebih polar. 5. menghasilkan pemisahan yang sempurna dari senyawa – senyawa yang diekstraksi. 3. eter.

hingga dikatakan sampel tidak alami lagi. karena: 1. Na. Kelemahan sokletasi : 1. Juga tidak boleh terlalu tinggi dari pipa kapiler karena sampel tidak terendam seluruhnya. Jumlah pelarut yang digunakan sedikit. 2. sampel yang digunakan dalam sokletasi harus dihindarkan dari sinar matahari langsung. Jumlah sampel yang diperlukan sedikit. .Cara menghentikan sokletasi adalah dengan menghentikan pemanasan yang sedang berlangsung. senyawa dalam sampel akan berfotosintesis hingga terjadi penguraian atau dekomposisi. mudah rusak atau senyawa senyawa yang tidak tahan panas karena akan terjadi penguraian. Jika sampai terkena sinar matahari. Pelarut organik dapat mengambil senyawa organik berulang kali. 4. 5. 2. Sokletasi dihentikan apabila : 1. Harus dilakukan identifikasi setelah penyarian. wagner. Sebagai catatan. Sampel yang diletakkan diatas kaca arloji tidak menimbulkan bercak lagi. Waktu yang digunakan lebih efisien. Pelarut yang digunakan mempunyai titik didih rendah. dengan menggunakan pereaksi meyer. dan reagen reagen lainnya. Hasil sokletasi di uji dengan pelarut tidak mengalami perubahan yang spesifik. 3. 3. Dibanding dengan cara terdahulu ( destilasi ). sehingga mudah menguap. Pelarut organik dapat menarik senyawa organik dalam bahan alam secara berulang kali. 3. Tidak baik dipakai untuk mengekstraksi bahan bahan tumbuhan yang 1. Keunggulan sokletasi : Sampel diekstraksi dengan sempurna karena dilakukan berulang ulang. Proses sokletasi berlangsung cepat. 2. Hal ini akan menimbulkan senyawa baru yang disebut senyawa artefak. karena ada kemungkinan saluran pipa dasar akan tersumbat. 2. Pelarut lebih sedikit dibandingkan dengan metoda maserasi atau perkolasi. Alat sokletasi tidak boleh lebih rendah dari pipa kapiler. maka metoda sokletasi ini lebih efisien. 3. Pelarut yang digunakan tidak berwarna lagi.

1. 1.8. Satu set alat sokletasi Kertas saring Corong Standart Clamp penjepit Botol vial Lampu bunsen/Penangas Selang air .6. 1. Alat 1. 1.BAB III 1. Alat dan Bahan 1.1.7.1.1.1.3. 1.4. 1.1. 1.1.1.1.2.1.5. 1.

4. kemudian diulang kembali dengan menggunakan aseton baru sebanyak satu kali. Benang dan kapas Daun teh Air/aqua dest Pelarut (Metanol) Batu didih 2.[O] Kuntze) kualitas 1 BOP. 1.2. Ekstraksi teh dilakukan selama 3x24 jam.5 x volume ekstraktor soklet 2. ikat dengan benang. Masukkan pelarut sebanyak 1. 1. Bahan kimia yang digunakan adalah FeCl 3 (Merck).L.2.5.3. etanol (Merck). Metode Ekstraksi teh Prinsip ekstraksi adalah melarutkan senyawa polar dalam pelarut non polar dan senyawa non polar dalam pelarut non polar (Agoes 2007). etilasetat (Merck). Pasang alat soklet 2. 1.1. kloroform (Merck).1. asam astetat glasial (Merck).2.1.6.2. silika gel 60 GF 254 dan katekin standar. Lakukan sokletasi sampai pelarut tidak berwarna 2.3.4. kualitas 8 (BP 2) dan kualitas 15 (BBL).2. Haluskan dan keringkan sampel 2. Fraksinasi .9. Ekstrak cair yang diperoleh dipekatkan sehingga didapat ekstrak kental. dan metanol (Merck).2. aseton (Merck).1. Bungkus sampel dengan kertas saring ( selongsong ). Bahan 1. panaskan untuk memisahkan pelarut dari senyawa hasil ekstraksi BAHAN DAN METODE Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah teh hitam (Camellia Sinensis.2.masukkan ke dalam alat soklet 2. 1. Prosedur 2. Keluarkan sampel.

fraksi etilasetat yang diperoleh dipekatkan dengan menggunakan rotary evaporator. Fraksi air dipekatkan dengan rotary evaporator.8. Diawali dengan pembuatan kurva baku. Dari titik-titik tersebut diperoleh suatu persamaan garis. sehingga diperoleh titik-titik yang membentuk garis lurus dengan masing-masinng titik berada pada rentang absorbansi 0. Pada proses ekstraksi cair-cair digunakan air dan kloroform 1:1. sesuai dengan hukum Lambert-Beer. Analisis kuantitatif dilakukan dengan menggunakan spektrofotmeter UV. Analisis kualitatif dilakukan menggunakan spektrofotometer UV/Vis dengan membandingkan hasil pengukuran λmax yang diperoleh dari standar katekin. . Fraksi air yang telah diuapkan difraksinasi kembali menggunakan pelarut etilasetat. Kurva baku dibuat menggunakan katekin standar dengan dilakukanya serangkaian pengenceran menggunakan pelarut metanol pro analisis. Hasil KLT diperiksa dibawah sinar UV 254 nm dan 366 nm serta menggunakan penampak bercak FeCl3. Absorbansi sampel diukur dengan terlebih dahulu sampel diencerkan menggunakan pelarut metanol pro analisis dan diperoleh absorbansi sampel yang beada pada rentang kurva baku yang telah dibuat.Ekstrak kental yang didapat difraksinasi dengan metode ekstraksi cair-cair. diperoleh fraksi air dan fraksi kloroform.20. Konsentrasi tiap sampel yang diukur dapat diketahui dengan memasukkan nilai absorbansi pada persamaan garis yang diperoleh dari kurva baku. Analisis senyawa Analisis kualitatif dilakukan dengan metode kromatografi lapis tipis (KLT) menggunakan fase diam silika gel GF254 dan fase gerak etanol : aquadest : etilasetat (2:1:1% v/v).