Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Rinitis berasal dari dua kata bahasa Greek “rhin/rhino” (hidung) dan “itis” (radang).
Demikian Rinitis berarti radang hidung atau tepatnya radang selaput lendir (membran
mukosa) hidung.
Rinitis tergolong infeksi saluran napas yang dapat muncul akut atau kronik. Rinitis
akut adalah radang akut pada mukosa hidung yang disebabkan oleh infeksi virus atau
bakteri. Selain itu, Rinitis akut dapat juga timbul sebagai reaksi sekunder akibat iritasi lokal
atau trauma. Penyakit ini seringkali ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Yang termasuk
ke dalam Rinitis akut diantaranya adalah Rinitis simpleks, Rinitis influenza, dan Rinitis
bakteri akut supuratif.
Rinitis disebut kronik bila radang berlangsung lebih dari 1 bulan. Pembagian Rinitis
kronis berdasarkan ada tidaknya peradangan sebagai penyebabnya. Rinitis kronik yang
disebabkan oleh peradangan dapat kita temukan pada Rinitis hipertrofi, Rinitis sika (sicca),
dan Rinitis spesifik (difteri, atrofi, sifilis, tuberkulosa, dan jamur). Rinitis kronis yang tidak
disebabkan oleh peradangan dapat dijumpai pada Rinitis alergi, Rinitis vasomotor, dan
Rinitis medikamentosa.1
B. Tujuan
Tujuan penulisan adalah untuk mempelajari dan menambah pengetahuan bagi penulis
dan pembaca, khususnya bagi dokter-dokter muda yang sedang menjalani kepaniteraan
klinik stase THT. Tujuan lainnya adalah untuk memenuhi tugas kepaniteraan klinik penulis
di stase THT RSUD Cianjur.

BAB II
STATUS PASIEN

A. Identitas pasien

Riwayat psikososial Merokok (C.Pernafasan : 18 x/menit . Telinga : Normocephal : Konjungtiva anemis (-/-). hidung keluar darah 2x sejak 1 bulan yang lalu. Keluhan utama : Hidung tersumbat sejak ± 1 bulan lalu 2.6 oC Status generalis 1.Hipertensi (+) 5.Berat badan : 38 kg .Alergi udara disangkal oleh pasien 6. Pemeriksaan fisik .Tekanan darah: 110/80 mmHg . sakit diwajah. Mata 3.Suhu : 36.Belum pernah sakit seperti ini .Nama Jenis Kelamin Umur Alamat Tanggal berobat : An.Keadaan umum: Tampak sakit ringan . Kepala 2. Anamnesis 1. Riwayat trauma disangkal. hidung terasa gatal. keluar darah saat pilek. batuk.Kesadaran :Compos mentis . 3. sclera ikterik (-/-) : Lihat Status lokalis . Penciuman berkurang dan pendengaran berkurang disangkal. sekret bau disangkal.Tidak ada yang memiliki keluhan yang sama dengan pasien .Hipertensi (-) 4. Riwayat alergi : .Nadi : 80 x/menit . Riwayat penyakit keluarga : . Riwayat penyakit sekarang : Pasien datang dengan keluhan hidung tersumbat ± 1 bulan lalu sebelum datang ke RSUD. N : Perempuan : 12 tahun : Ungaran : 5 September 2016 B. Hidung tersumbat disertai pilek sejak 1 bulan yang lalu. Riwayat pengobatan : Pasien belum berobat selama satu bulan ini 7. sekret cair.Alergi obat disangkal oleh pasien .Pasien tidak memiliki alergi terhadap makanan . Demam hilang timbul.Tanda vital : . Riwayat penyakit dahulu : .

edema (-/-). sianosis (-/-) D. murmur (-). Perkusi : Sonor di seluruh lapang paru d. edema (-) edema (-) Nyeri tekan (-).PemeriksaanTelinga AD AS Aurikula Normotia. Tragus Normotia. Retroaurikula Nyeri tekan (-). Mulut : Mukosa bibir lembab. Thorax a. Inferior : Hangat (+/+). benjolan (-). tidak sianosis 6. splenomegaly (-) c. Status lokalis THT 1. Tragus sign (-) sign (-) Preaurikula Nyeri tekan (-). Palpasi : Iktus kordis teraba pada linea midclavicula ICS V sinistra c. Perkusi : Batas jantung normal d. hepatomegaly (-). Perkusi : Timpani di seluruh lapang abdomen d. benjolan (-). benjolan (-). Inpeksi : Datar b. edema (-/-). Auskultasi : Bunyi jantung I&II regular. gallop (-) 10. Inspeksi : Pergerakan dada simetris b. Abdomen a. Palpasi : Supel. Ekstremitas a. edema (-) edema (-) . Leher : Lihat status lokalis 8. Tenggorok : Lihat status lokalis 7. Nyeri tekan (-). Palpasi : Vocal fremitus simetris pada kedua lapang dada c. Helix sign (-). nyeri tekan (-). sianosis (-/-) b. Auskultasi : Bising usus (+) normal 11. benjolan (-). Telinga Tabel 1. Auskultasi :Suara napas utama vesikuler. RCT < 2 detik. Helix sign (-).4. Superior : Hangat (+/+). Inspeksi : Iktus kordis tidak terlihat b. Jantung a. RCT < 2 detik. tidak ada suara napas tambahan 9. Hidung : Lihat status lokalis 5.

sekret (-) Mukosa tenang.Pemeriksaan Hidung Dekstra Rinoskopi Anterior Sinistra Hiperemis (+) Mukosa Hiperemis (+) (+) cair Sekret (+) cair Hipertropi (+) Konka inferior Hipertofi (+) Tidak deviasi Septum Tidak deviasi (-) Massa (-) (+) Passase udara (+) . MAE sekret (-) Membran timpani Tidak bisa diperiksa Tidak bisa diperiksa (+) Uji Rinne (+) Tidak ada lateralisasi Uji Weber Tidak ada lateralisasi Sama dengan pemeriksa UjiSchwabach Sama dengan pemeriksa Interpretasi : Serumen Plug ADS 2. Rinoskopi anterior Tabel 2.Mukosa tenang. Hidung a. serumen (+). serumen (+).

sinus ethmoidales (-/-). sianosis (-) Tremor (-) Lidah Tremor (-) Tenang. sinus frontalis (-) 3. deformitas (-) Palatum molle Tenang.Pemeriksaan Nasofaring Nasofaring (Rinoskopi posterior) Konka superior Torus tubarius Fossa Rossenmuller Plika salfingofaringeal Tidak dilakukan Tidak dilakukan Tidak dilakukan Tidak dilakukan b. Tenggorok a.b. sianosis (-) Mukosa mulut Lembab. Orofaring Tabel 4. deformitas (-) Caries (-) Gigi geligi Caries (-) Mulut .Inspeksi : edema (-). Nasofaring Tabel 3. sinus ethmoidales dan sinus frontalis - Palpasi : nyeri tekan pada sinus maksilla (-/-). hiperemis (-) pada sinus maksilaris.Pemeriksaan Orofaring Dekstra Pemeriksaan Orofaring Sinistra Lembab. Sinus paranasal .

Tidak deviasi Uvula Tidak deviasi Mukosa Tenang Tonsil Tenang T1 T1 (+) Kripta (+) (-) Detritus (-) (-) Perlengketan (-) Tenang Mukosa Tenang (-) Granula (-) (-) Post nasal drip (-) Faring c. Pemeriksaan Laringofaring Laringofaring (Laringoskopi Indirect) Epiglotis Plika ariepiglotika Plika ventrikularis Plika vokalis Tidak dilakukan Tidak dilakukan Tidak dilakukan Tidak dilakukan . Laringofaring Tabel 6.

Gerakan bola mata ke lateral Fasial  Mengangkat alis  Kerutan dahi  Menunjukkan gigi (+) . (+) (+) Daya penglihatan  Refleks pupil Okulomotorius  Membuka kelopak mata  Gerakan bola mata ke superior  Gerakan bola mata ke inferior  Gerakan bola mata ke medial  Gerakan bola mata laterosuperior Troklearis V. Pemeriksaan Maksilofasial Tabel 7. Pemeriksaan Maksilofasial Dekstra (+) normosmia Nervus Sinistra I. (+) Tes sensoris – Cabang oftalmikus (V1) – Cabang maksila (V2) (+) – Cabang mandibula (V3) Abdusen (+) (+) ke IV. isokor (+)  (+) III.Rima glotis Tidak dilakukan 4.  (+) (+) VII. isokor II. Penciuman Optikus Pupil bulat. Gerakan bola mata ke lateroinferior Trigeminal (+) VI. Olfaktorius (+) normosmia Pupil bulat.

(-) (+) (-) (+)  Pergerakan palatum Assesorius  (+) (+) Memalingkan kepala (+)  Kekuatan bahu Hipoglossus  Tremor lidah  Deviasi lidah (-) 5. Tes garpu tala Glossofaringeal X.  Refleks muntah dan menelan  Deviasi uvula XII. Pemeriksaan Leher Dekstra Pemeriksaan Sinistra Tidak ada pembesaran Tiroid Tidak ada pembesaran Tidak ada pembesaran Kelenjar submental Tidak ada pembesaran Tidak ada pembesaran Kelenjar submandibula Tidak ada pembesaran Tidak ada pembesaran Kelenjar jugularis superior Tidak ada pembesaran . Akustikus (+) (+) IX. Daya kecap lidah 2/3 anterior VIII. Leher Tabel 8.  Refleks muntah  Daya kecap lidah 1/3 posterior Vagus (+) (+) (-) (+) XI.

Berdasarkan pemeriksaan fisik didapatkan serumen ADS. Tidak ada pembesaran Kelenjar jugularis medial Tidak ada pembesaran Tidak ada pembesaran Kelenjar jugularis inferior Tidak ada pembesaran Tidak ada pembesaran Kelenjar suprasternal Tidak ada pembesaran Tidak ada pembesaran Kelenjar supraklavikularis Tidak ada pembesaran Resume Seorang perempuan 12 tahun datang dengan keluhan hidung terasa tersumbat sejak 1 bulan yang lalu. Prognosis  Ad vitam  Ad functionam : Ad bonam : Dubia ad bonam . Vestein 300 mg 3 dd 2 gtt ADS 2 dd 1 tab 1 dd 1 tab 2 dd 1 tab I. sekret cair. Diagnosis banding 1. pilek sejak 1 bulan yang lalu. Terapi a. hidung keluar darah 2x selama 1 bulan yang lalu. sakit diwajah. Rinitis akut 2. Diagnosa kerja Rinitis sub akut H. Rinitis kronis G.E. batuk. sekret bau disangkal. Sol sagestam b. Rencana pemeriksaan penunjang  Pemeriksaan hematologi (darah rutin)  Rontgen Thorak AP/Lateral J. mukosa hidung hiperemis. Cetirizine 10 mg d. Klindamisin 300 mg c. Demam hilang timbul. hidung terasa gatal. Tonsil T1 T1 F.

 Ad sanactionam : Dubia ad bonam .