Anda di halaman 1dari 36

PENYAKIT ASMA

Penyakit asma merupakan kelainan saluran pernapasanyang ditandai dengan
inflamasi saluran napas kronik dengan episode obstruksi saluran napas akut akibat
adanya stimulasi oleh berbagai macam alergi.
Faktor pencetus timbulnya asma di antaranta adalah sebagai berikut.
1.
2.
3.
4.

Zat alergi (bulu binatang).
Infeksi saluran napas.
Pengaruh udara.
Faktor Fisikis.
Beberapa gejala dan tanda pada penyakit asma adalah sebagai berikut.

1. Sesak napas tiba-tiba.
2. Riwayat serangan asma sebelumnya.
3. Riwayat atopi pada keluarga.
4. Gejala utama :ekspirasi memanjang dan wheezing (+) (dapat juga disertai
takikardi, retraksi suprasternal dan sianosis).
Pengaruh Kehamilan terhadap Timbulnya Serangan Asma
Tidak dapat di prediksi dan tidak selalu sama pada setiap penderita. Pada seorang
penderita asma pun serangan tak sama pada tiap kehamilannya. Kurang dari 1/3
penderita akan membaik dalam kehamilan. Lebih dari 1/3 akan menetap,kurang
dari 1/3 lagi, menjadi buruk atau serangan bertambah. Biasanya serangan timbul
mulai usia kehamilan 24-36 minggu dan pada akhir kehamilan serangan jarang
terjadi.
Pengaruh asma pada ibu dan janin bergantung pada sering dan beratnya
serangan karena ibu dan janin akan kekurangan oksigen/hipoksia. Jika keadaan
ini tidak diatasi, akan terjadi keguguran, persalinan prematur, atau gangguan
pertumbuhan janin.

Asuhan Kebidanan yang Diberikan

1. Pada kehamilan
Penderita asma di bawah pengawasan medis sepanjang kehamilannya
memiliki kesempatan yang sama baiknya untuk menjalani kehamilan yang
normal. Jika asma dalam kondisi terkendali, hanya memiliki sedikit efek pada
kehamilan. Tujuan utamanya adalah pencegahan episode hipoksia untuk ibu
dan janin. Sebagai bidan, kita harus memberikan edukasi dan nasihat pada
pasien

untuk

menghindarin

atau

mengontrol

pencetus

asma

(zat

alergi,merokok,aspirin, dan aktivitas fisik berlebih). Usahakan untuk
menghindari flu dan infeksi pernapasan lain, serta segera obati dengan obat
2.

yang telah diresepkan dokter apabila terjadi serangan asma.
Pada persalinan
Diusahakan persalinan per vaginam. Bila penderita dalam serangan, kala II
diperpendek dengan tindakanvakum/forsep (kolaborasi). Seksio dilakukan
hanya atas indikasi obstetri.

BAB 3
INFEKSI YANG MENYERTAI KEHAMILAN DAN PERSALINAN
SIFILIS
Sifilis adalah infeksi kronis menular yang disebabkan oleh bakteri berbentuk
spiral (spirochaeta) yaitu Treponema pallidum.
Gejala yang timbul pada penyakit sifilis adalah senagai berikut.
1. Penderita akan merasa demam.
2. Malaise (malas,lesu,tidak bergairah).
3. Limfadenitis (radang pada kelenjar getah bening).
4. Kondilomata (terdapat benjolan pada labia mayora).

Cara penularan penyakit sifilis diantaranya adalah sebagai berikut.
1. Kontak langsung dengan lesi infeksi.
2. Hubungan seksual
3. Setelah kehamilan ke-15 dapat menginfeksi janin melalui plasenta.
4. Masa inkubasi berkisar dari 10-90 hari, tetapi biasanya kurang dari 6
minggu.
Beberapa pengaruh penyakit sifilis terhadap kehamilan adalah sebagai berikut.
1. Komplikasi pada kehamilan lanjut dan infeksi intrauteri dapat
menyebabkan: prematuritas, pertumbuhan janin terlambat, stillbirth, dan
kematian neonatal.
2. Dapat terjadi sifilis kongenital apabila terjadi kegagalan terapi, PNC yang
kurang, dan skrining prenatal tidak adekuat.
Sifilis kongenital merupakan infeksi yang didapat janin dari dalam kandungan
yang dapat mengakibabtkan bayi baru lahir tidak dapat berkembang dengan baik.
1. Sefilis kongenital dini: gejala timbul dalam 2 tahun pertama kehidupan.
Terdapat tanda-tanda pada bagian tibia menjadi tajam, bagian frontal
menonjol ke depan.
2. Sifilis kongenital lanjut: gejala timbul setelah usia 2 tahun. Terdapat tandatanda keratitis, tuli, sodde nose, dan komplikasi lain pada tulang dan saraf.
CYTOMEGALO VIRUS (CMV)
CMV adalah virus DNA yang merupakan anggota keluarga herpes virus sehingga
menimbulkan kemampuan letensi. Virus ini merupakan penyebab infeksi perinatal
tersering. Bukti infeksi pada janin ditemukan 0,5 sampai 2% dari semua neonatus.
Gejala. Ibu yang terinfeksi CRV biasanya tidak menunjukkan gejala yang nyata
karena biasanya CRV datang pergi tanpa gejala.
Cara Penularan
Virus ditularkan melalui cara-cara berikut ini.
1. Secara horizontal melalui percikan ludah, air liur (saliva), dan urine.
2. Secara vertikal dari ibu ke janin-bayi
3. Sebagai penyakit menular seksual.
Diagnosis
1. Prenatal
Efek infeksi pada janin dideteksi dengan USG, CT Scan, atau MRI. Dapat
dijumpai

mikrosefalus,

ventrikulomegali,

atau

kalsifikasi

sereblum.

2. Tidak diperlukan pemeriksaan lanjut. iGg aviditas. 2. karene itu sudah kebal terhadap CRV. pusat rawat berobat jalan. RUBELLA . Maternal Dengan mengisolasi virus dalam biakan urine/sekresi atau uji serologi. Misalnya. karioretinitis. Dampak pada Kehamilan Tidak terdapat bukti bahwa kehamilan meningkatkan risiko. selanjutnya dipantau setiap trimester sampai akhir kehamilan jika hasil pemeriksaan sebelunya negatif. Transfusi ibu dengan darah positif CVM harus dihindari. Infeksi 80-90% asimtomatik sewaktu lahir. awal kehamila. kecuali pada kehamilan berikut untuk melihat jumlah titer IgG. hepato plasmomegali dan hidrosepalus. Sementara itu. Pemeriksaan dilakukan pada saat ibu merencanakan kehamilan.Amniosintesis dilakukan untuk biakan virus atau kordosintesis untuk mendeteksi IgM dalam memastikan kecurigaan kasus infeksi primer. mikrosefali. jika IgG (+) : lakukan pemeriksaan konfirmasi IgM dan IgG aviditas. dan unit dialisis. apakah masih mencukupi atau tidak. Infeksi 10-20% simtomatik sewaktu lahir. jika IgM (+) dan IgG aviditas rendah berarti infeksi primer perlu pemeriksaan lebih lanjut apakah janin terinfeksi atau tidak. Pencegahan Kesehatan perlu dijaga dengan baik pada situasi yang berisiko tinggi. Hasil dan Tindak Lanjut 1. sementara infeksi trimester ketiga biasanya tanpa gejala sisa. pengapuran otak. tersedianya unit rawat intensif neonatal. IgG (+): sudah pernah terinfeksi di masa lalu. 2. Risiko penularan pada janin tertinggi dalam trimester pertama dan kedua. tetapi menunjukkan keterbalakangan mental seperti gangguan visual. Contoh: IUGR. kehilangan pendengaran yang progresif. IgG (-) periksa ulang beberapa minggu kemudian. Anti CRV IgM dan IgG. Pemeriksaan Laboratorium 1. dan perkembangan psikomotorik terlambat. jika hasil tetap IgG (-) berarti tidak terinfeksi dan lakukan langkah pencegahan.

Pada ibu hamil kadang tanpa gejala. 9. e. retardasi pertumbuhan intrauterin. Pertumbuhan janin yang terlambat (merupakan kondisi yang paling sering terjadi). 7. 8. Fotofobia Abortus spontan. Virus ini ditularkan melalui droplet dari ibu hamil kepada janin. 3. Tanda dan gejala pada penyakit Rubella adalah sebagai berikut. Radang artritis atau ensefalitis. 2. a. Persendian bengkak dan nyeri pada beberapa kasus. Kelainan jantung bawaan. Radang otak dan selaput otak. Sakit tenggorokan. telinga. d. bulan kedua 25% . Pemaparan bulan keempat: infeksi sistemik.Rubella (campak Jerman) adalah infeksi virus yang dapat menyebabkan infeksi kronik intrauterin. Kelainan katarak ini biasanya disertai dengan bola mata yang kecil. Hanya saja pada anak-anak dan orang dewasa. Ruam kulit setelah demam turun ( warna merah jambu ). Katarak adalah pemutihan lensa mata sehingga mengakibatkan kebutaan menetap. Pemaparan pada bulan pertama dapat menyebabkan malformasi jantung. b. mata. Infeksi rubella kongenital dapat menyebabkan sindrom rubella kongenital yang terdiri atas hal-hal berikut ini. dan bulan keempat 4%. Demam ringan. Rubella di sebabkan oleh virus plemorfis yang mengandung RNA. mata merah. 1. mengganggu pertumbuhan dan perkembangan janin. pusing. Insidensi anomaly congenital: bulan pertama 50%. biasanya harus . gejala-gejala yang timbul adalah sangan ringan. Katarak yang dapat terjadi pada satu atau kedua mata. 4. Hilang fungsi pendengaran akibat proses infeksi yang terjadi pada saraf pendengaran. atau otak. 6. Kelenjar limfe membengkak. c. bulan ketiga 10%. Obat yang diberikan biasanya bersifat untuk meringankan gejala yang timbul. 2. Bayi yang lahir dengan sindrome rubella kongenital. 5. Pengobatan Infeksi Rubella Tidak ada obat spesifik untuk mengobati infeksi virus rubella. Dampak pada Kehamilan 1.

IgM(-)/(+): periksa ulang 1-4 minggu kemudian jika hasil tetap IgG(-). 2. awal kehamilan (minggu 1-17). yaitu dengan terdeteksinya IgM Rubella pada darah bayi. sampai dengan kehamilan berikut. Sementara itu. jika IgG (+) DAN IgM (+) berarti Gg(-) dan IgM (+) berarti IgM tidak spesifik. Biasanya infeksi rubella kongenital dipastikan dengan pemeriksaan serologi segera setelah bayi lahir. hindari sumber infeksi dan lakukan vaksinasi jika kehamilan belum terjadi. Mumps. Setelah pemberian imunisasi MMR. Pemeriksaan Laboratorium 1. pemberian imunisasi MMR pada wanita usia reproduktif yang belum mempunyai antibodi terhadap virus rubella amatlah penting untuk mencegah terjadinya infeksi rubella kongenital pada janin. IgG (+): sudah pernah terinfeksi di masa lalu sehingga sudah kebal terhadap Rubella. IgM (-) berarti belum pernah terinfeksi.ditangani secara saksama oleh para ahli. 2. HERPES . Tidak diperlukan pemeriksaan lanjut. semakin besar pula pengaruhnya pada proses pertumbuhan dan perkembangan anak. penundaan kehamilan harus dilakukan selama 3 bulan. Semakin banyak kelainan bawaan yang diderita akibat infeksi kongenital. wanita hamil yang dicurigai kontak dengan virus atau terdapat gejala klinis. oleh karena itu. Saat ini imunisasi yang dapat diberikan untuk mencegah rubella adalah dengan pemberian vaksin MMR (Measles. Hasil dan Tindak Lanjut 1. Oleh karena itu lakukan tindakan preventif dan vaksinasi jika kehamilan belum terjadi. dan belum pernah terinfeksi. IgG (-). Pencegahan Penularan Virus Rubella Cara yang paling efektif untuk mencegah penularan virus rubella adalah dengan pemberian imunisasi. Rubella). aviditas IgG bila perlu. Anti-Rubella IgM dan IgG. Pemeriksaan penyaringan (skrining) dilakukan pada saat ibu merencanakan kehamilan.

Herpes simpleks: infeksi akut yang disebabkan oleh virus herpes homunis tipe I dan II yang menyerang daerah mukokutan. 3. dapat menolong ibu terbebas dari gejala herpes pada saat akan melahirkan bayi. 1.jika pasangan mempunyai riwayat terkena herpes. Anti HSV -2 IgG dan IgM . 1. Terjadi vesikel jernih pada labia mayora/minora. jika ibu memiliki gejela herpes pada saat melahirkan. Pemberian antivirus pada ibu yang terinfeksi dan hamil atau sudah hamil. Vesikel yang dialami dalam waktu 1-7 hari membentuk ulkus dangkal dan nyeri. maka persalinan sebaiknya diselsaikan secara SC karena resiko bagi janin cukup besar bila persalinan dilakukan pervaginam . 5. 2.Beberapa definisi dari herpes adalah sebagai barikut. maka urinisasi sangat nyeri sampai terjadi retensi urine. sangat penting untuk segera melakukan konsultasi. kulit perineum. pastikan pasangan memakai kondom saat berhubungan seksual selama hamil karena pasangan dapat menularkan infeksi sampai lesi sembuh. Risiko bayi yang terkena herpes lebih besar jika mengalami infeksi herpes pertama kali saat akan melahirkan. Saat hamil. tidak menyebabkan parut/ulserasi. 4. vestibula bahkan sampai vagina dan mukosa ektoserviks. Pencegahan Jika baru pertama kali terkena herpes selama hamil. 2. Infeksi asimtomatik: parentesia yang ringan dan rasa panas di daerah perineum dapat terjadi sebelum lesi kelihatan. Pemeriksaan laboratorium 1. Anti HSV-1 IgG dan IgM . Herpes genitalis: infeksi homunis pada traktus genitalia bagian bawah. Bila penyembuhan terjadi. Gejala klinis yang mungkin dialami oleh penderita herpes adalah sebagai berikut. Jika mukosa vesika urinaria terinfeksi. Gejala primer biasanya timbul dalam 3-7 hari setelah paparan. seperti adanya vesikel berkelompok di atas dasar kulit yang sembab dan eritema pada daerah mukokutan.

segra konsul ke dokter. cacar air pada masa bayi . jika IgG (-) berarti tidak terinfeksi. bayi cacat. Keguguran. Pada ibu hamil a. Jika IgG (+) berarti infeksi primer dengan resiko tinggi penularan pada janin . 1. Cara Penulran Varicella cepat menular. selaput lendir mata dan mulut. biasanya dokter menganjurkan untuk dilakukan SC. Kejadian penulran kepada orang lain sejak 1-2 hari sebelum munculnya ruam sampai dengan membentuk kerompang. IgG (-): periksa pasangan /suami terhadap anti HSV -2 IgG. maka periksa istri menjelang akhir kehamilan. Hasil dan Tindak Lanjut 1. jika terdapat lesi untuk mencegah penularan pada bayi.2. enchepalitis (radang otak). serta kerongkongan dan organ lain misalnya otak . Beberapa bahaya dan komplikasi dari varicella adalah sebagi berikut. 2. Periksa ulang 2 minggu kemudian. Pemeriksaan dilakukan pada ssat ibu merencanakan kehamilan dan awal kehamilan. Organ tubuh yang diserang adalah kulit. tetapi anak-anak sering terkena. Paling sering terjadi infeksi pada kuit (kulit menjadi cacat/bopeng ). biasanya dokter menganjurkan SC untuk mencegah penularan pada bayi. Pada anak. Jika terdapat lesi.l dari infeksi primer. Jika suami IgG (+) lakukan tindakan preventif penularan dengan penggunaan kondom. 2. VARICELLA Varicella/cacar air/ chickenpox adalah penyakit kuli yang disebabkan oleh virus varicella zoster. Bila hasil negative . resiko penularan pada janin lebioh keci. penyakit ini dapat menyerang semua umur. bayi lahir mati. Trimester I dan II. Bila istri (-) pasangan (+)dengan riwayat herpes genital. maka pasangannya. IgG (+): infeksi kambuhan. dan penoumonia. BBLR.

b. Apabila vaksin diberikan pada umur > 13 tahun. bila >6 hari sebelum melahirkan. vaksin dapat diberikan setelah umur >1 tahun. nyeri otot.maka bayi akan terkena cacat air ringan. Limpadenopati disertai malaise. Vaksin dapat diberikan sedini mungkin. Infeksi ini ditularkan oleh organism berkista dengan memakan daging mentah atau kurang matang yang terinfksi atau kontak dengan ketoran kucing yang terinfksi. dan kelelahan tanpa disertai demam. nyeri kepala. Sebagian besar asimtomatik b.nyeri tenggorokan. Namun. Pencegahan Vaksinasi merupakan langkah bijaksan dalam perlindungan terhadap virus varicella zoster dan komplikasinya. pneumonia. Manifestasi Klinis 1. TOKSOPLASMOSIS Toksoplasmosis adalah suatu infeksi protozoa yang disebabkan oleh Toxoplasma gondii. maka imunisasi diberikan 2 kali dengan jarak 4-8 minggu. Bila<6 hari sebelum atau sesudah melahirkan . hindari kontak barang yang terpapar ketoran kucing yang terinfksi . bayi akan mengalami cacar air berat bahkan bias meninggal. Trimester II . Pada ibu hamil Hindari mengonsumsi daging mentah. choriorentitis.dan limpadenopati Pencegahan 1. Infksi pada ibu hamil a. apabila dikehendaki orang tua.miositis.retardasi mental. 2. Infeksi pada bayi Diagnosis infeksi Toxo congenital biasanya baru dipikirkan bila pada bayi baru lahir tampak hidrosefalus. Abortus bisa dipertimbangkan sebagai satu pilihan 2.hepatitis. Pada janin . hindari kontak mata dan mulut saat mengolah daging mentah.

Infeksi yang terjadi sebelum konsepsi tidak memerlukan terapi spesifik. Lakukan tindakan preventif dengan menjauhi sumber infeksi/penularan. Trimester II dan III : . b. Lakukan tindakan preventif dengan menjauhi sumber infeksi/penularan 2. Jika terinfeksi (tersangka infeksi )dalam kehamilan: a. IgM (-): infeksi sudah pernah terjadi sebelumnya. IgM (+): ada dua kemingkinan . IgM (+): infeksi sedang terjadi. 3. Pemeriksaan dilakukan pada saat ibu merencanakan kehamilan. Terapi selama hamil dapat hamil dapat menurunkan infeksi 60% Pemeriksaan Laboratorium 1.yaitu infksi primer (pertama kali dala selang waktu yang tidak lama) atau infeksi lama dengan sisa IgM. IgG (-). awal kehamilan . IgG(+). Lakukan pemeriksaan ulang 2-3 minggu kemudian .apakah IgG menjadi positif. IgG (+). Harus dipantau setiap trimester sampai akhir kehamilan.oleh karena itu belum kebal terhadap tokso. Anti Toxoplasma IgM dan IgG.masih ditahap awal sehingga IgG belum terbentuk.IgM (-): belu pernah terinfeksi . IgG avidity (bila perlu) 2. jika hasilnya tetap (-) berarti IgM tidak spesifik dan ibu tidak terinfeksi.Identifikasi wanita yang berisiko tinggi melalui skrining serologi. jika diperlukan hanya diberikan terapi simtomatik 2. IgG(-). Trimester I: spiramycin 3x3 Miu/ hari selama 3 minggu. selanjutnya dipantau setiap trimester sampai akhir kehamilan jika hasil permeriksaan sebelumnya negatif Hasil dan Tindak Lanjut 1. dan sudah memiliki kekebalan terhadap tokso yang nantinya melalui plasenta dapat diberikan pada janin sehingga janin terlindung. Harus dipantau setiap trimester sampai akhir kehamilan. Dipastikan dengan melakukan pemeriksaan IgG Avidity dan dengan melihat ada tidaknya kenaikan titer IgG Terapi 1. kemudian diulang setelah intervak 2 mingu sampai aterm. 4.

terjadi dieresis peningkatan produksi urine dan distensi kandung kemih.dan parenkim ginjal sehingga menyebabkan pielonefritis. . serta analgesik epidural atau spinal. Spiramycin 3x3 mIU/hari selama 3 minggu. atau menyerang kaliks. dilanjutkan spiramycin 3-6 minggu c. dan peningkatan insiden bayi berat lahir rendah 2.diulang setelah interval 2  minggu sampai aterm atau Primethamine /sulfonamide/Asam folat selama 3 minggu. Hanya 30 % penderita yang mengalami gejela.pelvis. Terjadi insiden kelahiran preterm. USG untuk melihat keadaan janin INFEKSI TRAKTUS URINALIS Infeksi traktus urinalis/ infeksi saluran kemih adalah infeksi bakteri yang paling sering dijumpai selama kehamilan. atau hematom dinding vagina. sensitivitas kandung kemih terhadap tegang air kemih di dalam vesika sering menurun akibat trauma persalinan. mortalitas perinatal meningkat. Sensasi perengangan kandung kemih juga mungkin berkurang akibat rasa tidak nyaman yang ditimbulkan oleh episiotomy yang lebar. Beberapa pengaruh infeksi traktus urinalis pada kehamilan adalah sebagai berikut 1. Setelah melahirkan. Overdistensi yang disertai kateterisasi untuk mengeluarkan air kemih sering menyebabkan infeksi saluran kemih. infeksi simtomatik dapat mengenai saluran bawah yang menyebabkan sistitis. Walaupun bakteriuria asimtomatik merupakan hal biasa. Hepatitis B Infeksi hepatitis B kadang tidak disadari karena hanya menimbulkan demam ringan. Terdapat juga peningkatan insiden anemia dan hipertensi kehamilan. Masa Nifas Pada masa nifas dini. laserasi periuretra. infeksi simtomatik merupakan hal biasa.

Satu dari empat bayi akan meninggal karena gangguan hati dimasa dewasa. Namun. muntah. Saat nifas dan menyusui. Dalam 20 tahun sirosis berkembang menjadi kanker hati. mengecil dan terjadi gangguan fungsi hati). mual. Secara vertical dari ibu ke bayi 2. Penularan ka bayi jika ibu terinfeksi pada trimester III adalah sebesar 60-90%. 1. Belum pernah dilaporkan ada penularan infeksi hepatitis B melalui ASI.Tanda dan gejala yang mungkin muncul pada penderita hepatitis B adalah sebagai berikut. Diagnosis ditegakkan dengan mengendalakn pemeriksaan darah spesifik(HbsAg-HBs) dan funsi hati yaitu enzim SGOT dan SGPT Cara penularan penyakit hepatitis B adalah sebagai berikut 1. Setiap selesai . hanya 2-6% menjadi kronik. Ibu dengan hepatitis B tetap boleh menyusui setelah bayinya sudah mendapatkan imunisasi HBIG dan vaksin hepatitis B selama 12 pertama kelahiran. Kuning. Pengaruh Pada Kehamilan Dapat menyebabkan bayi berat lahir rendah dan premature. nyeri perut kanan atas 2. awasi putting susu ibu jangan sampai terluka atau lecet. Penggunaan jarum suntik bersamaan Bahaya Hepatitis Sebagian yang terinfeksi akan sembuh sendiri dan tidak menetap menjadi kronik. sedangkan 19 dari 20 bayi yang mendapat imunisasi akan mendapat perlindungan seumur hidup. apabila telah terinfeksi dari kecil/lahir kemungkinan 60% menjadi kronik. Hepatitis kronik akan berkembang menjadi sirosis (yaitu hati terbentuk jaringan parut. Hubungan seksual 3. Sembilan dari sepuluh bayi yang lahir dari ibu yang terinfeksi hepatitis B akan menjadi karier seumur hidup bila tidak mendapat imunisasi. sedangkan pada trimester I hanya 10%. Dalam ASI justru terdapat zat protektif yang dapat membunuh virus hepatitis B.

Virus yang masuk kedalam tubuh menyerang sel darah putih dan merusaknya sehingga sel darah putih yang berfungsi sebagai pertahanan terhadap infeksi akan berkurang jumlahnya.menyusui bersihkan dengan air hangat tanpa sabun karena sabun dapat membuat kulit kering dan mudah luka. . Akibatnya system kekebalan tubuh menjadi lemah dan penderita mudah terkena berbagai penyakit (AIDS). memiliki kekebalan karena vaksinasi hepatitis B HBsAg Anti-HBs Anti-HBc IgM anti-HBc Positif Negative Positif Positif Infeksi akut hepatitis B HBsAg Anti-HBs Anti-HBc IgM anti-HBc positif Negative Positif Negative Infeksi kronik hepatitis B HIV-AIDS Human Imunnodeficieny Virus (HIV) adalah virus yang menyerang kekebalan tubuh manusia. Virus ini jenis retrovirus RNA dengan nama T-cel Lymphatropic virus.1 membaca Hasil Laboratorium Pemeriksaan HBsAg Anti-HBs Anti-HBc Hasil Negative Negative Negative Belum Interprestasi pernah terinfeksi dan belum memiliki kekebalan tubuh. HBsAg Anti-HBs Anti-HBc negatif Positif Positif Sudah memiliki kekebalan tubuh karena HBsAg Anti-HBs Anti-HBc Negatif Positif Negatif Sudah infeksi di masa lampau. Table 3.

Berikut adalah cara penularan HIV/ AIDS adalah sebagai berikut. selama persalinan atau postpartum. Candidiasis orofaring. Deman > 1 bulan. 2. Herpes simpleks kronik progresif f. Oleh karena itu. Infeksi jamur berulang pada alat kelamin wanita. Hubungan seksual Transfuse darah atau tertusuk jarum Terpapar mukosa kulit Transmisi dari ibu ke janin : selama hamil. 2. 1. c. e. Batuk menetap > 1 bulan. Transmisi HIV dari Ibu ke Anak Pada kelompok wanita usia subur. program khusus dan perhatian diperlukan keduanya pada transmisi perinatal dan pengertian keterlibatan dan kehamilan terhadap kesehatan ibu itu sendiri. g. 3. Transmisi vertical timbul mendekati 25-30% bayi yang lahir dari ibu yang tidak mendapat pengobatan anti virus selama kehamilan. sedangkan waktu terajdinya infeksi vertical dari HIV belum dapat ditentukan dengan baik. dan ASI (14%). b. Berat badan turun 10% dalam satu bulan b. Mayor a. d. Gejala dari HIV/AIDS adalah sebagai berikut. Dermatitis generalisata gatal c. Transmisi vertical HIV dari ibu ke anak dapat timbul intrauterine.Acquired Immunodefficiency Syndrome (AIDS) adalah kumpulan gejala penyakit yang timbul karena rendahnya daya tahan tubuh. transmisi intrauterine telah ditunjukkan secara langsung dengan . Sebesar 89% penderita HIV berkembang menjadi AIDS. e. saat persalinan (50%). Limpadenopat generalisata. 4. Kesadaran turun dan gangguan neurologi. Herpes zoster yang berulang d. kehamilan sering terjadi. 1. Diare kronik > 1 bulan. Enselofati HIV: gangguan kognitif. motorik dan tingkah laku. Minor a.

Infeksi transplasenta telah dilaporkan dan tampaknya menjadi jalan utama transmisi. mungkin karena lebih lamanya paparan terhadap sekresi mukosa servikovaginal. peripartum. Transmisi intrapartum virus mendukung kenyataan bahwa 50-70% anak terinfeksi memiliki tes virologi negative pada saat lahir. mungkin berhubungan dengan terpaparnya bayi terhadap darah ibu yang terinfeksi dan secret serviks atau vagina. namun mekanisme yang pasti tetap belum diketahui. atau kesakitan maternal yang lanjut. dan produk awal konsepsi. serta asuhan pediatric dari ibu terinfeksi dan bayi dengan menghindai paparan terhadap darah dan cairan tubuh. pecah ketuban yang lama. Ditunjukkan bahwa anak yang lahir pertama dari kembar dua berada pada resiko lebih tinggi mengalami infeksi dibandingkan yang lahir kedua. HIV telah secara langsung diisolasi dari plasenta. Pasase transplantasi HIV muncul pada 30% kehamilan yang dipengaruhi. dan adanya cairan amniom yang mengandung darah. dipertinggi oleh jumlah limfosit T helper (kurang dari 400/mm3). sebagaimana mikrotranfusi dari ibu-anak muncul selama kontraksi uterus.deteksi virus pada jaringan abortus fetal kebanyakan episode dari infeksi kongental HIV timbul selama periode intrapartum. Antibody maternal dapat tetap terdeteksi pada sirkulasi bayi hingga 15 sampai 18 bulan. Manajemen antepartum . Pencegahan transmisi infeksi HIV dari ibu ke anak Pencegahan transmisi vertical infeksi HIV dilakukan antepartum. dan menjadi positif pada saat usia 3 bulan. Penentuan kejadian infeksi vertical dikomplikasikan oleh sulitnya membuat diagnosis neonatal karena antibody IgG maternal terhadap HIV secara pasif meleawati plasenta. cairan amnion. Peningkatan resiko transmisi telah digambarkan selama persalinan yang memanjang. perdarahan plasenta. Semua bayi lahir dengan ibu HIV antibody positif akan memiliki antibody positif saat lahir.

Pada studi ACTG selanjutnya menunjukkan bahwa dosis rendah ZDV dapat menghasilkan keuntungan yang sama dengan efek samping yang lebih sedikit.Evaluasi antepartum pada pasien HIV positif harus meliputi pengamatan klinis dan laboratorium untuk disfungsi imun. Tidak lama sebelum pembatasan ZDV sebagai monoterapi diketahui. Studi serupa memeriksa efek ZDV pada pasien dengan penyakit HIV lanjt menengah yang menunjukkan keuntungan selama periode follow up yang relati singkat. para ahli mulai merencanakan percobaan penggunaannya pada kehamilan untuk menyela transmisi dari ibu keanak. Selama 6 bulan evaluasi. pengetahuan tentang keamanan . Studi fungis imun harus meliputi penghitungan lengkap sel darah. ZDV pada kenyaaannya merupakan agen antiretrovirus pertama yang disetujui digunakan untuk HIV dimana prosesnya menghambat reverse transcriptase dari virus dengan mencegah ikatan fosfodiester yang dibutuhkan untuk replikasi asam nukleat. Pada saat itu. jumlah total sel T. Intervensi farmasi. Sebagai hasil dari penelitian ini dan data lain. follow up perkembangan dari penyakit termasuk kematian lebih sering terjadi pada pasien yang menerima placebo. dan sel CD4+(CD8+) tiap trimester. Strategi yang mengarah pada pencegahan atau penurunan insiden transmisi infeksi HIV secara maternal telah difokuskan pada penggunaan zidovudine (ZDV). Data yang tersedia memperlihatkan bahwa mayoritas bayi mendapat infeksi pada periode peripartum yang mendukung kemanjuran terapi selama kehamilan dan periode inpartum sampai saat melahirkan. Penelitian tentang pelaksanaan pengobatan antiretrovirus profilaksis telah dimulai untuk mendapatkan informasi berkenaan dengan kemungkinan penurunan transmisi vertical. Persetujuan diberikan oleh administrasi makanan dan obat-obatan berdasarkan hasil studi double blind yang membandingkan ZDV (1. perkembangan penyakit. panel neonatal institute of allergy and infectious disease membuat rekomendasi bahwa monoterapi dengan ZDV mulai diberikan ketika jumlah sel CD4+ menurun sampai <500 sel/mm3.500mg/dl) dengan placebo diantara pasien dengan infeksi lanjut HIV. serta infeksi oportunistik.

dimana selanjutnya ginjal menangani metabolitnya. Resiko teratogenitas dan mutagenitas sangat sedikit dipelajari. Suatu laporan internasioanal bayi-bayi kembar dari ibu yang terinfeksi HIV mendukung pendapat bahwa infeksi intrapartum dapat timbul dari persalinan melalui secret vagina yang terinfeksi HIV. Secara ini vitro. Beberapa tahun selanjutnya setelah publikasi hasil ini. ribuan wanita menggunakan ZDV selama kehamilannya.5 gram/ml. Segera setelah temuan ACTG 076 dipublikasikan. HIV telah ditemukan pada secret serviks vagina. terapi maternal baik antepartum dan intrapartum dikombinasikan dengan terapi neonates selama 6 bulan.agen sangat sedikit. Diketahui bahwa pada awalnya obat dimetabolisme oleh hepar. Pada kelompok ZDV. pada percobaan ACTG 185 bagaimanapun juga menunjukkan hasil yang sama dapat dicapai bahkan di antara wanita yang mengalami paparan sebelumnya terhadap obat antiretrovirus atau yang menunjukkan jumlah sel CD4+ kurang dari 200/mm3. Intervensi intrapartum lainnya sudah diteliti. Berdasarkan data yang dikumpulkan percobaan ACTG 076 yang dilaksanakan tahun 1991. Efek samping lainnya yang diketahui adalah gangguan hati. dan pada in vitro cell transformation essay pada mamlia ZDV positif pada kosentrasi ≥0. Efek samping ZDV yang paling sering dijumpai adalah supresi sumsum tulang belakang. Regimen ZDV termasuk ZDV antepartum (100 mg oral 5x/hari). dan reaksi hipersensitivitas. Manajemen intrapartum Hamper semua AIDS pediatric dihasilkan dari transmisi intrapartum. Pendekatan ini menarik . intrapartum ZDV (2 mg/kgBB diberikan intravena 1 hari kemudian 1 mg/kg per hari sampai melahirkan) dan ZDV untuk bayi baru lahir (2 mg/kg oral tiap 6 jam selama 6 minggu). zidovudin mempunyai efek mutagen. wanita yang berpartisipasi secara acak mendaftar untuk menerima baik ZDV atau placebo. miopati. asidosis laktat. demam. Salah satu strategi adalah pembersihan jalan lahir dengan agen pembunuh virus.

Kejadian transmisi HIV untuk ibu yang melahirkan dengan SC elektif 0. Data dari studi kohort profektif. melakukan percobaan pembersihan manual jalan lahir dengan bantalan kapas yang direndam dalam 0.karena lebih murah. Oleh karena SC elektif dapat mencegah transmisi darah maternal-fetal yang muncul selama persalinan. sama halnya dengan paparan terhadap secret genital maternal yang infeksius. tidak mendapat keuntungan dalam mengurangi transmisi dari ibu ke anak.000 wanita pada setiap kelompok studi chlorhexidine dan plasebo). resiko rendah.25% chlorhexidine dan melaporkan temuaanya pada tahun 1996 (lebih dari 3. SC dapat memiliki efek yang penting . tanpa melihat apakah mereka sudah mendapat atau tidak terapi antirtrovirus harus ditawrkan section caesarea (sc) yang terjadwal pada kehamilan 38 minggu dan sebelum pecah ketuban. bigar dkk. The committee on obstetric practice of the American college of obstetric and ginecology merekomendasikan bahwa semua wanita terinfeksi HIV. SC emergensi 11. Intervensi obstetric. dan mudah dilakukan. sejumlah kecil presentase wanita yang mengalami pecah ketuban lebih dari 4 jam.4% dan persalinan pervaginam 6. yaitu French perinatal cohort dan swiss neonatal HIV studi group mendemostrasikan pengurangan kejadian dari transmisi HIV perinatal antara wanita yang menerima ZDV dan menjalani SC elektif. Perbedaan SC dan emergensi dilakukan sebelum persalinan dan sebelum pecah ketuban. Keputusan untuk melakukan SC setelah terjadinya persalinan atau ketuban pecah sebelum waktunya harus bersifat individual sejak keuntungan pada keadaan ini masih belum jelas. Sebagai tambahan kekurangan dari meta analisis adalah kebanyakan studi tidak dianalisis secara terpisah antara SC elektif dan emergensi.6%. Beberapa penelitian tersebut menyarankan bahwa diantara wanita yang secara optimal diobati dengan antiretrovirus. yaitu tidak ada reaksi berlawanan. Oleh karena itu. SC elektif diharapkan dapat menjadi lebih elektif dalam mencegah transmisi. Chlorhexidine telah tebukti digunakan melawan penyakit infeksius lainnya seperti grup β sterptokokus dan secara in vitro mempunyai aktivitas melawan HIV.8%.

dalam menyusui memberikan bayi perlindungan terhadap kematian awal dari diare dan penyakit infeksi umum yang dirasakan lebih besar resikonya dari pada transmisi HIV melalui air susu ibu. dinegara-negara dimana menyusui merupakan cara paling aman member makan untuk bayi infeksi HIV ibu bukan merupakan kontraindikasi untuk menyusui.dalam mengurangi kejadian transmisi HIV dari ibu kea anak. seperti susu formula. SC yang dilakukan sebelum persalinan dan sebelum pecah ketuban (SC elektif) secara bermakna dapat mengurangi kejadian transmisi HIV perinatal. Menurut WHO dari tahun1991 sampai 1998 sedikitnya 1 juta akan menjadi terinfeksi dari air susu ibu dan akhir-akhir ini direkomendasikan penggunaan alternatif air susu ibu yang aman jika tersedia. Resiko transmisi HIV melalui menyusui ditemukan lebih bermakna dari yang diketahui sebelumnya. . atau susu kambing. Manajemen postpartum Menyusui merupakan kontraindikasi untuk bayi dari ibu yang terinfeksi HIV di Negara industry dimana alternative menyusui yang aman tersedia. Selain itu. Bagaimanapun menyusui yang terpapar HIV pada bayi dinegara berkembang menghadirkan masalah yang kompleks. Kebijaksanaan world health organization (WHO) untuk menyusui oleh ibu terinfeksi HIV dinegara berkembang telah berubah sejak 1998. Menyusi lebih dari usia 12 bulan tidak memuaskan karena meningkatkan resiko transmisi HIV. Bayi-bayi ini harus mendapat formula buatan sebagai nutrisi pendukungnya. TIFUS ABDOMINALIS Tifus abdominalis merupakan penyakit terinfeksi akut usus halus yang disebabkan oleh bakteri salmonella typhi yang termasuk kedalam tubuh melalui makanan dan air yang tercemar. Sebelum tahun tersebut. juga mengindikasikan bahwa bila dibandingkan dengan cara persalinan lainnya. susu sapi. Pada cara ini. Wanita terinfeksi HIV harus disarankan SC terjadwal untuk mengurangi kejadian transmisi jauh dari yang dapat di capai hanya dengan terapi ZDV saja. resiko setinggi 28% melebih resiko yang sudah ada pada kehamilan dan persalinan.

Pada ibu yang menderita penyakit ini dalam masa kehamilan. Lebih dini terjadinya infeksi dalam kehamilan. Demam tinggi yang menetap Pusing Mual/muntah Nyeri perut Diare hebat Dehidrasi yang gawat (dehidrasi bertambah hebat apabila pasien juga mengalami hiperemesis gravidarum). 5. 4. 1. Perbaiki keadaan umum dan nutrisinya. tetapi karena ibu sakit berat dan dapat menularkannya. Perlu dijaga hygiene. dan akhirnya nasi sesuai tingkat kesembuhan pasien. maka bayi segera dipisahkan dari ibu setelah lahir. 3. Diharapkan menjadi keseimbangan dan hemostasisi. partus imartus. 2. Mobilisasi dilakukan bertahap. Pertama pasien diberi diet bubur saring. karena kadang-kadang terjadi obstipasi dan retensi urine 4. premature atau lahir mati). Meskipun basil tifoid tidak mencapai ASI. Observasi kehamilan dan komplikasinya 5. Defekasi dan BAK perlu diperhatikan. Pasien harus tirh baring total minimal sampai 7 hari bebas demam typhoid atau kurang lebih selama 14 hari. 60-80% hasil konsepsi akan keluar (abortus. sesuai dengan pulihnya kekuatan pasien. lebih besar kemungkinan berakhir kehamilan. pertimbangkan resiko dan keuntungan untuk memberikan laktasi atau merawat kondisi bayi yang baru dilahirkan. kebersihan tempat tidur. pada masa nifasnya mempunyai angka kematian yang lebih tinggi (15%) 2. 1. dan peralatan yang dipakai oleh pasien. kemudian bubur kasar. Angka kehamilan janin kira-kira 75%. Pada hasil konsepsi. Pada saat nifas. 2. Perawatan dan asuhan yang diberikan 1. system imun akan tetap berfungsi optimal. 6. Pemberian vitamin dan mineral yang cukup untuk mendukung keadaan umun pasien.Gejala yang muncul pada penyakit tifus abdominalis adalah sebagai berikut. 3. . Beberapa pengaruh muncul akibat penyakit ini pada kehamilan adalah sebagai berikut.

.

Anemia kehamilan yaitu ibu hamil dengan kadar Hb<11g% pada trimester 1 dan III atau Hb <10.5g% pada trimester II. Tekanan darah rendah adalah kurangnya kemampuan otot jantung untuk memompa darah ke seluruh tubuh sehingga menyebabkan kurangnya aliran darah yang sampai keotak dan bagian tubuh lainnya. Hal ini terjadi pada pasien dengan penyakit berikut ini. Meningkatnya kebutuhan tubuh akan zat besi a. Pada masa pertumbuhan seperti anak-anak dan remaja. kebutuhan tubuh akan zat besi meningkat tajam.BAB 4 KOMPLIKASI DAN PENYULIT KEHAMILAN TRIMESTER 1 ANEMIA KEHAMILAN Anemia oleh orang awam dikenal sebagai “kurang darah”. . Meningkatnya pengeluaran zat besi dari tubuh. dan mudah pingsan. hati. Perdarahan atau kehilangan darah dapat menyebabkan anemia. b. Pada penderita penyakit menahun seperti TBC. namun hanya sedikit yang bisa diserap dengan baik oleh usus. a. Oleh karena itu disebut “anemia gizi besi” Anemia gizi besi dapat terjadi karena hal-hal berikut ini. Anemia berada dengan tekanan darah rendah. ayam) b. daging. serta untuk kebutuhan ibu sendiri c. pucat. Makanan nabati (dari tumbuh-tumbuhan) misalnya sayuran hijau tua. Zat besi adalah salah satu unsure gizi yang merupakan komponen pembentuk Hb atau sel darah merah. Anemia adalah suatu penyakit dimana kadar Hemoglobin (Hb) dalam darah kurang dari normal. 2. walaupun tekanan darah masih dalam batas normal. 1. Kandungan zat besi dari makanan yang dikonsumsi tidak mencukupi ketuban. Makanan yang kaya akan kandungan zat besi adalah makanan yang berasal dari hewani (seperti: ikan. Secara klinik dapat dilihat tubuh yang malnutrisi dan pucat. yang walaupu kaya akan zat besi. Sebagian besar anemia di Indonesia penyebabnya adalah kekurangan zat besi. Pada masa kehamilan kebutuhan zat besi meningkat karena besi diperlukan untuk pertumbuhan janin. 3. Gejala yang mungkin timbul pada anemia adalah keluhan lemah.

infeksi cacing tambang menyebabkan perdarahan pada dinding usus. kacang-kacangan. rentan infeksi. Hipoksia akibat anemia dapat menyebabkan syok bahkan kematian ibu saat persalinan. tempe). jeruk. Menambah pemasukan zat besi ke dalam tubuh dengan minum tablet tambah darah (TTD). Kecacingan (terutama cacing tambang). kematian bayi pada usia sangat muda. malaria. Kehilangan darah pada waktu haid berarti mengeluarkan zat besi yang ada dalam darah Beberapa dampak anemia pada kehamilan adalah sebagai berikut: 1. rawan dekompensasi kordis pada penderita dengan Hb kurang dari 4 g%. lamanya waktu partus karena kurang daya dorong rahim. dan nanas) sangat bermanfaat untuk meningkatkan penyerapan zat besi dalam usus. 2. ayam. Makan makanan yang banyak mengandung zat besi dari bahan makanan hewani (daging. Kematian bayi dalam kandungan. Abortus. telur) dan bahan makanan nabati (sayuran berwarna hijau tua. Meningkatkan konsumsi makanan bergizi. meskipun sedikit tetapi terjadi terus-menerus yang mengakibatkan hilangnya darah atau zat besi b. dan penyakit TBC Tablet Tambah Darah Tablet tambah darah adalah tablet besi folat yang setiap tablet mengandung 200 mg fero sulfat atau 60 mg besi elemental dan 0. lahir premature. 3. c. perdarahan post partum. ikan. daun singkong. 3. Makan sayur-sayuran dan buahbuahan yang banyak mengandung vitamin C (daun katuk. Mengobati penyakit yang menyebabkan atau memperberat anemia seperti: kecacingan. tomat. Pencegahan dan terapi anemia 1. hati. serta cacat bawaan. meskipun tidak disertai perdarahan.a. Malaria pada penderita anemia gizi besi dapat memperberat keadaan anemianya.25 mg asam folat. bayam. 2. Wanita mengalami menstruasi sehingga memerlukan zat besi untuk mengganti darah yang . jambu.

abortus. Zat besi (Fe) Zat besi merupakan mineral mikro yang paling banyak terdapat di dalam tubuh manusia. sintesis hemoglobin berkurang dan akhirnya kadar hemoglobin akan menurun.000 kelahiran) dan rendah pada orang kulit hitam (7/1. Wanita yang sedang hamil atau menyusui. yaitu sebanyak 3-5 gram. Penyakit ini rata-rata muncul pada usia kehamilan 8-12 minggu. stress psikologis.5-10/1. neurologis. Istilah hiperemesis gravidarum dengan gangguan metabolic yang bermakna karena mual dan muntah. perdarahan dan rentan infeksi. hormonal.000 kehamilan. Untuk ibu hamil. Pada tubuh. lahir premature. dan ketosis. Dengan berkurangnya Fe. cacat bawaan. kebutuhan zat besi sangat tinggi sehingga perlu dipersiapkan sedini mungkin semenjak remaja. Kemungkinan terjadinya penyakit ini adalah tinggi pada orang kulit putih (16/1. Minumlah 1 (satu) tablet tambah darah seminggu sekali dan dianjurkan minum tablet setiap hari selama haid. Beberapa akibat dari kekurangan zat besi pada kehamilan adalah hambatan pada pertumbuhan janin baik sel tubuh maupun sel otak. minumlah 1 (satu) tablet tambah darah setiap hari paling sedikit selama 90 hari masa kehamilan dan 40 hari setelah melahirkan. anemia pada bayi yang dilahirkan.000 kelahiran). metabolic.hilang. Etiologinya belum pasti. sebaiknya penyebab dari mual dan muntah . Hiperemesis gravidarum sering disertai dehidrasi (kehilangan BB ≥ 5%). gangguan elektrolit. kematian janin. Insiden dari hiperemesis gravidarum adalah 0. keracunan dan tipe kepribadian. bayi berat lahir rendah (BBLR). Penderita hiperemesis gravidarum biasanya dirawat dirumah sakit. zat besi merupakan bagian dari hemoglobin yang berfungsi sebagai alat angkut oksigen dari paru-paru ke jaringan tubuh. diduga ada hubungannya dengan paritas. Hiperemesis gravidarum (HEG) Hiperemesis gravidarum adalah gejala mual dan muntah yang berlebihan pada ibu hamil.

harus dapat menyingkirkan kelainan patologis (apendisitis akut. alkaline. oliguria. lidah kering dan kotor. Analisis urine. serta aseton. Penyakit hiperemesisi gravidarum dibagi dalam beberapa tingkat yaitu sebagai berikut : 1. serta hilangkan masalah dan konflik. turgor kulit berkurang. Berikan terapi psikologi. muntah-muntah berhenti. hiatus hernia. dan asam urat. komplikasi fatal ensefalopati wernicke: nistagmus. serta vitamin B1 dan B6 sampai antiemetic.segera dievaluasi. Jika kondisinya berat dan/lama. kandung kemih. 3. penyakit hepar. infeksi 2. pancreas. Berikan . mata sedikit ikterik. 3. nafsu makan menurun. kesadaran menurun dari somnolen sampai koma. Cl. 2. obstruksi. nadi lebih cepat. mola hidatidosa. fosfatase) Pemeriksaan tiroid (tiroksin. dan TSH) USG untuk menyingkirkan kemungkinan mola. Tingkat 2 Gejala : apatis. tercium dalam hawa pernapasan. ISK. 4. Kemungkinan penyebabnya mual muntah dalam kehamilan adalah hipertiroidism. nyeri epigastrium. Penderita diisolasi sampai muntah berhenti dan penderita mau makan. ssaluran pencerna. Pengelolaan Pemberian obat-obatan yaitu dengan obat sedative. Fungsi hati (SGOT. berat badan menurun. SGPT. 1. 5. diplopia. dan lesi intrakranial). urine atau darah. Darah rutin Na. tekanan darah lebih menurun. antihistamin. tekanan darah sistolik menurun. kurangi pekerjaan. menilai peningkatan endapan spesifik. nadi meningkat. dan mata cekung. kultur urine. dan hepatitis. kreatinin. 6. nadi cepat dan kecil. lidah kering. hilangkan rasa takut karena kehamilan. Tingkat 1 Gejala : lemah. atau bilirubinuria. dan ikterik. hati-hati. Tinkat 3 Keadaan umum lebih lemah lagi. kadang suhu sedikit menigkat. K. perubahan mental. glukosa. HCG. Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan pada penyakit hiperemesis gravidarum adalah sebagai berikut.

Abortus ini sengaja dilakukuan sehingga kehamilan dapat diakhiri. Abortus spontan adalah keluarnya hasil konsepsi tanpa intervensi medis maupun mekanis. Berdasarkan gambaran klinis a. dibagi menjadi berikut. Oustium uteri tertutup. penyakit dalam dan psikiatri atau psikolog. Bila perlu.Abortus buatan menurut indikasi medis (abortus provokasus artifisialis atau theraupeticus). tanpa mempersoalkan penyebabnya dengan berat badan <500 gram atau umur kehamilan <20 minggu. Perdarahan dapat berlanjut . b. Kalsifikasi Abortus dapat diklasifikasi berdasarkan kejadian dan gambaran klinis 1. karbohidrat dan protein dengan glukosa 5% dalam cairan garam fisiologis sebanyak 2-3 liter sehari. atau terjadi tanpa ada unsure tindakan dari luar dan dengan ketentuan sendiri. Abortus iminens (keguguran mengancam) Abortus ini baru mengancam dan masih ada harapan untuk mempertahankannya. gugurkan). Abortus buatan criminal (abortus provokatus criminalis) adalah pengguguran kehamilan tanpa alasan medis yang sah atau oleh orang tidak berwenang dan dilarang oleh hukum 2. ABORTUS Abortus adalah pengeluaran hasil konsepsi atau berakhirnya kehamilan sebelum janin dapat hidup didunia luar (viable). Abortus buatan/abortus provokatus (disengaja. dapat ditambah kalium dan vitamin. uterus sesuai umur kehamilan. misalnya: penyakit jantung. Keputusan ini ditentukan oleh tim ahli yang terdiri atas dokter ahli - kebidanan. dan karsinoma serviks. Didiagnosis bila seorang wanita hamil <20 minggu mengeluarkan darah sedikit pervaginam. Berdasarkan kejadiannya a.cairan cukup elektrolit. . hipertensi esensial. Pengehentian kehamilan dapat dilakukan bila keadaan memburuk. Upaya menghilangkan hasil konsepsi dilakukan atas indikasi untuk menyelamatkan jiwa ibu.

Serviks sering tetap terbuka karena masih ada benda didalam rahim yang di anggap sebagai benda asing (corpus alienum). Serviks juga dengan segera menutup kembali. e. evakuasi harus segera dilakukan. perdarahan segera berkurang setelah isi rahim dikeluarkan dan selambat-lambatnya perdarahan berhenti sama sekali karena dalam masa ini luka rahim sembuh. Janin biasanya sudah mati dan mempertahankan kehamilan pada keadaan ini merupakan kontraindikasi. Pada abortus ini. dan berlangsung hanya berapa jam saja. tetapi sebagian tertinggal (biasanya jaringan plasenta) masih tertinggal didalam rahim. kadang-kadang keluar gumpalan darah yang disertai neyri karena kontraksi rahim kuat dan ditemukan adanya dilatasi serviks sehingga jari pemeriksa dapat masuk dan ketuban dapat teraba. uterus lebih kecil dari umur kehamilan atau ostium terbuka. d. Abortus insipiens (keguguran berlangsung) Abortus ini sedang berlangsung dan tidak dapat dicegah lagi. f. Perdarahan terus berlangsung. banyak dan membahayakan ibu. Dapat disertai rasa nyeri perut bawah atau punggung bawah. oleh karena itu. Abortus insipiens didiagnosis apabila pada wanita hamil ditemukan perdarahan banyak. teraba ketuban. tetapi tertanam didalam rahim selama beberapa minggu (8 minggu atau lebih) setelah janin mati. Saat terjadi kematian janin kadang-kadang ada perdarahan pervaginam sedikit sehingga menimbulkan gambara abortus iminens. Abortus inkomplitus (keguguran tidak lengkap) Abortus inkomplit didiagnosis apabila sebagian dari hasil konsepsi telah lahir atau teraba vagina. Abortus tertunda (missed abortion) Keadaan dimana janin telah mati sebelum minggu ke-20. Oleh karena itu. Kadang-kadang perdarahan dapat menyebabkan infeksi. dan kavum uteri kosong. b.beberapa hari atau dapat berulang. Selanjutnya rahim tidak membesar bahkan mengecil karena aborsi air ketuban dan maserasi janin. Abortus kompletus (keguguran lengkap) Seluruh bayi dilahirkan dengan lengkap. Ostium terbuka. c. ostium tertutup. uterus akan berusaha mengeluarkannya dengan mengadakan kontraksi sehingga ibu merasakan nyeri. Abortus habitualis (keguguran berulang) .

Prinsip patofisiolog : gangguan/interferensi mekanik terhadap ovum yang telah dibuahi dalam perjalanannya menuju kavum uteri. Walaupun diartikan sebagai kehamilan di luar rongga rahim. Pada kasus yang jarang. Kejadiannya jauh lebih sedikit dari abortus spontan (kurang dari 1%). topos yang berarti tempat. Kejadian ini sering terjadi pada hal-hal berikut ini. ampularis 85%. Etiologi kehamilan ektopik biasanya disebabkan oleh terjadinya hambatan pada perjalanan sel telur. Kelainan tuba atau adanya riwayat penyakit tuba (misalnya: salpingitis). Patofisiologi Ovum yang telah dibuahi berimplentasi di tempat lain selain di endometrium kavum uteri. Jadi. kehamilan didalam rahim yang bukan pada tempat seharusnya. dengan akar kata dari bahasa yunani. termasuk bagian interstitial 1% istmus 5%. dari indung telur (ovarium) kerahim (uterus). Istilah ektopik berasal dari bahasa inggris. 1. misalnya kehamilan yang terjadi pada kornu uteri. sampai peritoneum. Kehamilan ektopik Kehamilan ektopik adalah kehamilan yang terjadi diluar rongga rahim (kavum uteri). yaitu ectopic. Kahamilan ektopik merupakan penyebab utama yang keempat dari seluruh mortalitas ibu dan penyebab yang paling lazim dari mortalitas ibu dalam trimester pertama. dan infundubularis 9%. menyebabkan oklusi atau kerusakan silia tuba .Abortus yang telah berulang dan berturut-turut terjadi. Hal ini yang membedakannya dengan istilah kehamilan ekstrauterina. kehamilan ektopik disebabkan oleh terjadinya perpindahan sel telur dari indung telur sisi yang satu. Lebih dari 95% kehamilan ektopik tumbuh berbagai anatomi pada tuba fallopi. sekurangkurangnya 3 kali berturut-turut. istilah ektopik dapat diartikan sebagai “berada di luar tempat yang semestinya”. masuk ke saluran telur sisi sebrangnya. juga dimasukan dalam criteria kehamilan ektopik. Tempat implantasi lain yang lebih jarang adalah serviks.

maka terjadi hubungan sirkulasi yang memungkinkan jaringan konsepsi bertumbuh. Walaupun kehamilan terjadi diluar rahim. Riwayat penyakit radang panggul lainnya Penggunaan IUD yang mencegah terjadinya implantasi intrauterine Ovulasi yang multiple akibat induksi obat-obatan. 5. Kerusakan tuba lebih lanjut disebabkan oleh pertumbuhan invasive jaringan trofoblas. Abortus provokatus dengan infeksi. 6. Riwayat operasi tuba. usahan fertilisasi in vitro. Bila kehamilan pecah. serviks. Pernah menderita kehamilan ektopik sebelumnya. . tuba ovarial. Makin sering dilakukan abortus provaktus makin tinggi kemungkinan terjadi salpingitis 7. yaitu telur masuk ke dalam lapisan otot tuba karena tuba tidak mempunyai desidua. Telur juga dapat menembus epitel dan berimplantasi interkolumnar. dengan 70-80% di ampulla). Kehamilan paling sering terjadi dalam ampula tuba. dan sabagainya. Bila kehamilan pecah. terletak dalam lipatan selaput lendir. Oleh karena trofoblas menginvasi pembuluh darah dinding tuba. abdomen. kebutuhan embrio di dalam tuba tidak dapat terpenuhi lagi oleh suplai darah dari vaskularisasi tuba tersebut Kadang-kadang nidasi juga terjadi di fimbria. rahim juga akan ikut membesar karena hipetofi dari otot-ototnya yang disebabkan oleh pengaruh hormone-hormone yang dihasilkan trofoblas. begitu pula endometriumnya berubah menjadi desidua vera. hasil konsepsi masuk ke dalam rongga peritoneum (rupture tuba). atau kehamilan dalam ligamentum latum. Pada suatu saat. Dari bentuk diatas secara sekunder dapat terjadi kehamilan tuba abdominal. akan pecah ke dalam lumen tuba (abortus tuber). Implantasi telur dapat bersifat kolumnar yaitu implantasi pada puncak lipatan selaput tuba dan telur terletak dalam lipatan selaput lendir. Tuba dapat tertekuk atau menyempit 8. 3. Adhesi peritubal yang terjadi setelah infeksi seperti apenddisitis atau endometritis. 4. ovarium.2. Beberapa kemungkinan tempat terjadinya implantasi adalah di tuba falopi (paling sering 90-95%. sterilisasi. Isi konsepsi yang berimplantasi melaukan penetrasi terhadap lamina propria dan pars muskularis dinding tuba. dan sebagainya.

selain itu rongga tuba agak besar hingga telur mudah tumbuh kearah rongga tuba dan lebih mudah menembus desista kapularis yang tipis dari lapisan otot tuba.dan sebagainya. telur menembus dinding tuba kea rah rongga perut atau peritoneum. keadaan paling sering antara minggu ke 6-8. biasanya berakhir pada minggu ke 6-12. Trofoblas cepat sampai kelapisan otot dan kemungkinan pertumbuhan kea rah tuba sempit. Ada kalanya ujung tuba tertutup karena perlengketan-perlengketan hingga darah berkumpul di dalam tuba dan menggembungkan tuba yang disebut hematosalping. Oleh karena itu. Jenis kehamilan ektopik Kehamilan tuba Menurut tempat nidasinya. lipatanlipatan selaput. jadi besar kemungkinan terjadi implantasi interkolumnar. lendir tidak seberapa. Pada peristiwa ini. Hal ini terutama terjadi jika telur berimplantasi di daerah ampulla tuba. Berakhirnya kehamilan tuba ada 2 cara. terjadilah hematokel retrouterin. Kehamilan istmus (terjadi dalam istmus tuba) 3. yaitu abortus dan rupture tuba. Kehamilan servikal . Rupture tuba Terutama terjadi jika telur berimplantasi di istmus. Kejadian implantasi patologis paling sering terjadi di dinding lumen tuba karena tuba merupakan jalur utama perjalanan ovum. Disini biasanya telur tertanam kolumnar karena lipatan-lipatan selaput lendir tinggi dan banyak. Kehamilan ampulla (terjadi dalam ampula tuba) 2. Kehamilan interstisial (terjadi dalam pars instisialis tuba) Kehamilan tuba tidak dapat mencapai cukup bulan. 2. Abortus tuba Telur yang terus membesar menembus endosalping (selaput lendir tuba). masuk kelumen dan di keluarkan di daerah infundibulum. Perdarahan yang keluar dari ujung tuba dan mengisi kavum Douglas. 1. dibedakan menjadi berikut ini 1. Abortus tuba terjadi kira-kira antara minggu ke 6-12.

3. 1. Kehamilan Interstisial . pertumbuhan trofoblas yang luas. Jika kehamilan tumbuh sampai besar. perdarahan/ rupture yang terjadi sangat berat sehingga sering diperlukan tindakan histerektomi total. dapat terjadi perdarahan tanpa disertai nyeri. yaitu sebagai berikut: 1. Kantung janin harus terletak dalam ovarium 3.Kehamilan servikal jarang terjadi. Hasil konsepsi terletak di dalam endoserviks 4. Pada implantasi di serviks. Ostium uteri internm tertutup 2. Criteria klinis menurut Paalman & McElin (1959) untuk kehamilan servikal lebih dapat diterapkan secara klinis. Jaringan ovarium yang nyata harus ditemukan dalam dinding jantung janin. tanpa disertai nyeri 5. yaitu sebagai berikut. karena umumnya telah terjadi kerusakan jaringan ovarium. Serviks lunak. 1. dan perdarahan menyebabkan topografi kabur sehingga pengenalan implantasi permukaan ovum sukar ditentuka secara pasti. Pada kenyataannya criteria ini sulit dipenuhi. Perdarahan uterus setelah fase amenorea. Tuba pada sisi kehamilan harus normal 2. Janin tidak boleh terdapat di daerah korpus uters 4. dapat lebih besar daripada fundus (hour-glass uterus) Kehamilan Ovarial Kehamilan ovarial ditegakkan atas dasar criteria Spiegelberg. Tempat implantasu plasenta harus berada dibawah arteri uterine atau peritoneum viserale uterus. membesar. Kelenjar serviks harus ditemukan di sembarang tempat implantasi plasenta 2. dan kemungkinan terjadi abortus sponta sangat besar. Kriteria kehamilan servikal menurut Rubin (1911) adalah sebagai berikut. Jantung janin dihubungkan dengan uterus oleh ligamentum ovarii proprium 4. Ostium uteri eksternum terbuka sebagaian 3. Implantasi plasenta di seviks harus kuat Krieria menurut Rubin sulit diterapkan secara klinis karena memerluka histerektomi total untuk memastikannya.

Setelah diagnosis ditegakkan. 1. namun disertai perdarahan berak berulang. Gejala yang timbul pada kehamilan ektopik adalah sebagai berikut. yaitu sebagai berikut. Kehamilan ektopik terganggu (KET) Disertai kondisi gawat darurat dan abdominal akut seperti pucat/anemis. terjadi bila telur dari awal mengadaka implantasi dalam rongga perut 2. nyeri perut bagian bawah dan nyeri goyang pada porsio Pemeriksaan kuldosintesis sangat membantu dalam menegakkan diagnosis KET. 1. Kehamilan ektopik dapat mengalami abortus atau rupture apabila massa kehamilan berkembang melebihi kapasitas ruang implantasi dan peristiwa ini disebut sebagai kehamilan ektopik terganggu. perut kembung. Tanda tidak umum adanya massa lunak di adneksa dan nyeri goyang pada porsio 2. Sebesar 90% kehamilan ektopik terjadi di tuba. Miometrium memiliki lapisan yang lebih tebal sehingga rupture erjadi lebih lambat kira-kira terjadi pada bulan 3 atau ke-4.Implantasi telur biasanya terjadi dalam pars institialis tuba. Apabila terjadi rupture. . Kehamilan abdominal sekunder. kesadaran menurun. Sebagaian besar penyebabnya belum diketahui. Kehamilan ektopik yang belum terganggu Sama seperti hamil muda. Kehamilan Ektopik Terganggu (KET) Kehamilan ektopik terjadi bila telur dibuahi berimplantasi dan tumbuh di luar endometrium kavum uteri. maka akan terjadi perdarahan yang hebat karea tempat ini banyak terdapat pembuluh darah sehingga dalam waktu yang singkat dapat terjadi kematian. berasal kehamilan tuba dan setelah rupture baru mengalami kehamilan abdominal. syok. Kehamilan abdominal primer. segea lakukan persiapan untuk tindakan opertif gawat darurat. Kehamilan Abdominal Kehamilan abdominal terbagi atas dua.

Setelah diagnosis ditegakkan. tetapi terjadi proliferasi dari vili koriales disertai dengan degenerasi hidropik. harus segera dilakukan vakum kuret 2. Tanda pasti kehamilan seperti ballottement dan denyut jantung janin tidak ditemukan. yaitu mual. Penundaan kehamilan sampai 6 bulan setelah kadar β-hCG normal 4. . pusing. Pemeriksaan tindak lanjut setelah kuretase perlu dilakuka mengingat adanya kemungkinan keganasan setelah molahidatidosa. Selanjutnya perkembangan lebih pesat sehingga pada umumnya besar uterus lebih besar dari umur kehamilan. muntah. hanya saja derajat keluhannya sering lebih hebat. Penatalaksanaan Prinsip penatalaksanaan mola adalah evakuasi dan evaluasi. 1.MOLA HIDATIDOSA Mola hidatidosa adalah suatu kehamilan di mana hasil konsepsi tidak berkembang menjadi embrio. 3. Perdarahan merupakan gejala utama. USG sangat membantu dalam diagnosis. umumnya penderita mengalami. oleh karena itu. Gejala awal tidak beda dengan kehamilan biasa. dan lain-lain. Kadar yang menetap atau meninggi setelah 8 minggu pasca-kuretase menunjukan masih terdapat trofoblas aktif. anemia. Kadar HCG dipantau hingga minimal 1 tahun pasca-kuretase. Mola hidatidosa dengan risiko tinggi harus diberikan kemoterapi.

solusio plasenta/ plasenta terlepas dari tempat melekatnya dirahim. edema paru [cairan di dalam paru]. Oleh karena itu diperlukan perhatian. Hipertensi merupakan salah satu masalah medis yang sering kali muncul selama kehamilan dan dapat menimbulkan koplikasi pada 2-3 persen kehamilan. dan penggumpalan/ pengentalan darah di dalam pembuluh darah). dan kelahiran prematur). serta penanganan yang serius terhadap ibu hamil dengan penykit ini. Di Indonesia. gal ginjal akut. HDK adalah salah satu penyebab morbiditas dan mortalitas ibu disamping perdarahan dan infeksi. Pada HDK juga didapati angka mortalitas dan morbiditas bayi yang cukup tinggi. Hipertensi pada kehamilan dapat menyebabkan morbidias/kesakitan pada ibu (termasuk kejang eklamsia. kematian janin di dalam rahim. preeclampsia dan eklampsia merupakan penyebab dari 30-40% kematian perinatal.BAB 5 KOMPLIKASI DAN PENYULIT KEHAMILAN TRIMESTER III PENDAHULUAN Terminologi Hipertensi dalam kehamilan (HDK) digunakan untuk menggambarkan spectrum yang luas dari ibu hamil yang mengalami peningkatan tekanan darah yang ringan atau berat dengan berbagai disfungsi organ. perdarahan otak. serta morbiditas pada janin (termasuk pertumbuhan janin terhambat di dalam rahim. sementara di beberapa rumah sakit di Indonesia telah menggeser perdarahan sebagai penyebab utama kematian maternal.sampai sekarang penyakit HDK masih merupakan masalah kebidanan yang belum dapat dipecahkan dengan tuntas. .

2. 3. . Hipertensi gestasional adalah kenaikan tekanan darah yang hanya dijumpai dalam kehamilan sampai 12 minggu pasca-persalinan. tidak dijumpai keluhan dan tanda-tanda preeclampsia lainnya. Dahulu disebut PE jika dijumpai trias pada klinik yaitu: tekanan darah ≥140/90 mmHg. 2. Definisi Beberapa definisi untuk hipertensi dalam kehamilan adalah sbb.3 gr/ 24 jam atau dengan pemeriksaan kualitatif minimal positif (+) satu. dan odema. Preekampsia ringan. proteinuria. Hipertensi kronis adalah hipertensi yang sudah dijumpai sebelum kehamilan. preeclampsia berat. Akan tetapi. selama kehamilan. 3. 4. 4. Hipertensi gestasional Hipertensi kronis Superimposed preeclampsia Preeclampsia ringan. 1. Diagnosis akhir ditegakkan pascapersalinan. Superimposed preeclampsia adalah gejala dan tanda-tanda preeclampsia muncul sesudah kehamilan 20 minggu pada wanita yang sebelumnya menderita hipertensi kronis. Tidak ditemukan adanya keluhan dan tanda-tanda preeclampsia lainnya. dan eklampsia Sebagai batasan yang disebut hipertensi dalam kehamilan adalah kenaikan tekanan darah diastolic ≥90 mmHg dan tekanan darah sistolik ≥140 mmHg pada dua kali pemriksaan yang berjarak 4 jam atau lebih dan proteinuria jika dijumpai protein dalan urine melebihi 0. preeclampsia berat. untuk lebih menyederhanakan dan memudahkan The Working Group Reportand High Blood Pressure in Pregnancy (2000) menyarankan klasifikasi hipertensi dalam kehamilan sebagai berikut. sampai sesudah masa nifas. sekarang edema tidak lagi dimasukkan dalam criteria diagnostik karena edema juga dijumpai pada kehamilan normal.KEHAMILAN DENGAN HIPERTENSI Hipertensi karena Kehamilan Klasifikasi Pada saat ini. dan eklampsia. 1.

disertai dengan penambahan berat badan ibu yang cepat akibat tubuh membengkak dan pada pemeriksaan laboratorium dijumpai protein di dalam urine (proteinuria). dan oliguria. proteinuria ≥+2. Eklampsia adalah kelinan akut pada wanita hamil dalam persalinan atau nifas yang ditandai dengan timbulnya kejang dan/atau koma. (Kejang timbul bukan akibat kelainan neurologis) Preeklampsia Preelampsia adalah peningkatan tekanan darah yang baru timbul setelah usia kehamilan mencapai 20 minggu. b. tetapi <160/110 mmHg dan proteinuria +1. gangguan penglihatan. sakit kepala. dapat disertai keluhan subjektif seperti nyeri epigastrium. tekanan darah diastole ≥90 mmHg digunakan sebagai pedoman. Sebelumnya wanita ini menunjukkan gejala-gejala preeclampsia berat. c. Preeclampsia berat. adalah jika tekanan darah >160/110 mmHg. a. . Preeklampsia ringan adalah jika tekanan darah ≥140/90 mmHg.Pengukuran tekanan darah harus diulang berselang 4 jam.