Anda di halaman 1dari 12

BAB I

Pendahuluan
Rhinolith adalah batu di dalam rongga hidung yang terbentuk hasil dari pengendapan
senyawa organik dan anorganik dalam rongga hidung, yang menyebabkan sumbatan hidung
unilateral, rhinorrhea, foetor, epistaksis, dan dapat menimbulkan komplikasi.1-4
Pemadatan ini biasa terjadi di rongga hidung perempuan dibandingkan pada pria. Hal ini
juga mungkin terjadi di nasofaring meskipun jarang. Biasanya hampir selalu tunggal dan
unilateral. Massa ini berbentuk seperti bola yang ireguler, juga dapat menunjukkan hal yang
berkelanjutan menurut arah pertumbuhannya.2,4
Permukaan rinolit seperti murbei, mungkin berwarna abu-abu atau coklat pink.
Konsistensinya dapat lunak sampai keras dan rapuh atau porous. Rinolit ini terutama terbuat dari
fosfat dan kalsium karbonat. Kadang-kadang juga dibentuk oleh magnesium fosfat, natrium
klorida dan magnesium karbonat. Garam ini berasal dari sekresi mukous hidung, air mata, dan
eksudat inflamasi.4
Rinolit terdiri dari dua jenis: rinolit eksogen dan rinolit endogen. Gumpalan darah, gigi
ektopik, dan fragmen-fragmen tulang adalah contoh materi endogen. Bahan eksogen yaitu
termasuk biji buah, bahan tanaman, manik-manik, kapas, dan bahan cetak gigi.4,5
Rinolit biasanya ditemukan di dasar hidung, sekitar pertengahan nares anterior dan
posterior. Rinolit berukuran kecil, biasanya asimtomatik. Gejala yang sering timbul ialah nafas
berbau dan adanya sekret berbau busuk, dapat menyebabkan perdarahan dan sumbatan hidung
satu sisi.4,5

1

tapi sampai dengan pasien berumur 11 tahun. Keluhan Utama : penciuman yang berbau b. benda tersebut tidak bisa dikeluarkan. Keadaan ini sudah dirasakan sejak pasien kelas 1 SD. pasien juga tidak merasakan adanya nyeri. Kadang-kadang keluar darah dari hidung sebelah kanan pasien. EDSL Umur :11 tahun Jenis Kelamin : Perempuan Alamat : Camplong Agama : Protestan Pekerjaan : Pelajar Pendidikan terakhir : SD Tanggal masuk : September 2013 Tanggal Pemeriksaan : September 2013 2. Riwayat penyakit lain tidak ada d. Riwayat pengobatan 2 . Pasien dapat bernapas secara normal.1 IDENTITAS PENDERITA Nama : An. c. Pasien tidak mempunyai riwayat trauma sebelumnya. Menurut pasien sewaktu kecil ada suatu benda yang masuk pada hidung sebelah kanan pasien.BAB 2 LAPORAN KASUS 2. Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien datang ke poli THT dengan keluhan penciuman yang berbau. Riwayat penyakit dahulu Pasien baru pertama kali mengalami keluhan seperti ini.2 ANAMNESA a.

dan dirujuk ke RSU W.Z.sclera ikterik -/- Hidung : pemeriksaan setelah dilakukan operasi hari I Hidung Kanan Deformitas Sekret Concha Meatus Nasi Media Septum Nasi Polip Sulit dievaluasi. Status Present Kesadaran : Compos Mentis Tekanan Darah : tidak diukur Nadi : 84x/menit Frekuensi Pernafasan : 21x/menit Temperatur : Afebris 2. Terpasang tampon Hidung Kiri (-) (-) normal normal normal (-) 3 .pasien pernah berobat ke Puskesmas setempat.3 PEMERIKSAAN FISIK 1. Johannis Kupang 2. Status Internus Kulit : Sawo matang Mata : anemis -/.

Edema Telinga Kiri (-). abses (-). Intak. (-). hiperemis (-). massa (-). Diagnosis: 4 . hiperemis (-). hiperemis Aurikula massa (-) (-). Leher : JVP (N). furunkel (-). pembesaran kelenjar (-) Sistem pernafasan : Vs +/+ Rh +/+ Whz +/+ Sistem Kardiovaskuler : tidak dilakukan pemeriksaan Sistem gastrointestinal : tidak dilakukan pemeriksaan Sistem Urogenital : tidak dilakukan pemeriksaan hiperemis (-).Telinga : Telinga Kanan (-). hiperemis Edema Preaurikula massa (-) Edema (-). MAE nyeri tekan tragus (-). fistula (-). fistula (-). massa (-). Edema (-). Nyeri pergerakan aurikula (-). hiperemis (-). Edema (-). serumen (-). Retroaurikula massa (-). abses (-). Nyeri pergerakan aurikula (-). hiperemis nyeri tekan tragus (-). hiperemis Membran timpani serumen (-). (-). Edema (-). Intak. Edema (-). furunkel (-). fistula (-). abses (-). (-). Edema (-). fistula (-). abses (-). Palpasi massa (-).

Anak Konsul sp.Explorasi hidung kanan.0 Chronic Rhinitis Planning Terapi: Medikamentosa:     RL 500cc/24 jam Inj. Ceftriaxon 2 x 1 gram CTM 2 dd 1 Gg 2 dd 1 Rencana explorasi ekstraksi rinolith    Konsul sp. dengan laporan operasi: . struktur hidung luar dibedakan atas tiga bagian : 5 . lepaskan rhinolith dari dasar hidung Rhinolith dapat dikeluuarkan dari hidung Atasi perdarahan Explorasi ulang dasar hidung. Hidung bagian luar menonjol pada garis tengah di antara pipi dan bibir atas. tampak rhinolith terfiksasi didasar hidung. kulit terbuka Pasang tampon fiksasi Operasi selesai BAB 3 PEMBAHASAN Anatomi Anatomi hidung luar 1.J 34.Dilakukan anastesi umum .Desinfeksi daerah operasi .2 Hidung terdiri atas hidung luar dan hidung bagian dalam. Anastesi Pemeriksaan Lab DL Dilakukan operasi explorasi ekstraksi fiksasi hidung pada tanggal 25 Oktober 2013.Penderita tidur terlentang . - dengan tatah.Pasang tampon adrenalin hidung kanan kemudian dicabut .8 Rhinolith J 31.

Kerangka tulang terdiri dari: 1) tulang hidung (os nasal). dan konka inferior. Kavum nasi dibagi oleh septum. berikutnya celah antara konka media dan inferior disebut meatus media dan sebelah atas konka media disebut meatus superior.2 Bagian hidung dalam terdiri atas struktur yang membentang dari os. Celah antara konka inferior dengan dasar hidung dinamakan meatus inferior. 2) batang hidung (dorsum nasi). dan yang paling bawah adalah lobulus hidung yang mudah digerakkan. yang memisahkan rongga hidung dari nasofaring. 4) dasar hidung. 2) prosesus frontalis os maksila. 5) kolumela. di bawahnya terdapat kubah kartilago yang sedikit dapat digerakkan.internum di sebelah anterior hingga koana di posterior.yang paling atas : kubah tulang yang tak dapat digerakkan. 6 . jaringan ikat dan beberapa otot kecil yang berfungsi untuk melebarkan atau menyempitkan lubang hidung. konka media. Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi oleh kulit. 3) puncak hidung (hip). dinding lateral terdapat konka superior. 3) prosesus nasalis os frontal Sedangkan kerangka tulang rawan terdiri dari beberapa pasang tulang rawan yang terletak di bagian bawah hidung. Bentuk hidung luar seperti piramid dengan bagian-bagiannya dari atas ke bawah : 1) pangkal hidung (bridge). yaitu 1) sepasang kartilago nasalis lateralis superior. dan 6) lubang hidung (nares anterior). 2) sepasang kartilago nasalis lateralis inferior yang disebut juga sebagai kartilago ala mayor 3) tepi anterior kartilago septum Anatomi Hidung Dalam1.

rinolith terdapat pada nares anterior khususnya berada pada meatus media. Etiologi Penyebab rhinolith merupakan kasus yang jarang dan umumnya terjadi pada anak-anak dan sesorang dengan retardasi mental yang memasukkan benda-benda asing di sekitarnya ke dalam lubang hidung. karena itulah diyakini butuh beberapa tahun untuk perkembangan penyakit ini. mulai saat itu pasien merasa bau pada penciumannya. Pada beberapa literatur digunakan juga istilah rhinolithis. material tanaman.2 Pada pasien. akan tetapi diyakini ada beberapa faktor yang mempengaruhi pembentukan rhinolith yaitu masuknya benda asing ke dalam kavum nasal. 2. benang. Rhinolith yang merupakan hasil mineralisasi benda asing di kavum nasal. dari anamnesis pasien mengatakan sudah kemasukan biji asam sejak berumur 7 tahun. sumbatan dan stagnansi sekresi nasal. epistasksis. Proses yang terus-menerus akan menghasilkan penciuman sekret yang berbau dan menimbulkan keluhan hidung tersumbat. gigi ektopik. Penyebab endogen yaitu bekuan darah. dari anamnesis orang tua pasien mengatakan kemungkinan sewaktu pasien berumur ± 7tahun. kancing. dan pengendapan garam mineral. wool. Biasanya butuh beberapa waktu lamanya untuk membentuk rhinolith. pasien pernah memasukan biji asam kedalam hidung. Keluhan lain yaitu bau. inflamasi akut dan kronik. dan biji asam tersebut tidak pernah dikeluarkan sampai sekarang. sakit kepala. Patogenesis Patogenesis rhinolith tidak diketahui secara jelas. Durasi riwayat medis dapat berkisar antara bulanan sampai beberapa decade. Penyebab eksogen dapat berupa biji buah. pasien datang dengan penciuman berbau serta keluarnya cairan berbau dan hidung tersumbat yang membuat pasien datang ke poli THT. Sesuai dengan kasus. Umumnya diagnosis ini ditemukan dari anamnesis dan rinoskopi anterior. keluhan tersebut merupakan salah satu gejala yang patut dicurigai sebagai rhinolith. dan pada kasus yang jarang terdapat epifora. Sehingga kemungkinan penyebab dari rhinolit pasien yaitu eksogen karena masuknya biji buah sedangkan dari factor usia pasien yang masih anak-anak memungkinkan untuk terjadinya rhinolith eksogen. 7 . dan potongan tulang. Penyebab lainnya bisa berupa trauma.Pada pasien ini. Penyebab dari pembentukan rhinolith dibagi menjadi dua yaitu eksogen dan endogen. operasi bedah. sinusitis.4 Pada pasien ini. dan juga banyak sekret pada hidung pasien. Kebanyakan pasien akan mengeluhkan rinorrea yang purulen dan atau obstruksi nasal ipsilateral. tetapi pasien tidak merasakan adanya sumbatan pada jalan napas.

dan lain-lain. rhinolith ditemukan secara kebetulan. hal ini juga menjadi tambahan penunjang untuk perencaan bedah. Adanya gigi pada rongga hidung Yaitu gigi rahang atas yang tumbuh ke dalam hidung karena ada yang menghalangi pertumbuhan ke bawah dan jumlah gigi yang berlebih. Diagnosis Banding Diagnosis banding rinolith adalah:2. rhinorrhea mulai jernih sampai purulen. Polip nasi Polip nasi adalah massa lunak yang mengandung banyak cairan di dalam rongga hidung. b. kelereng. rasa nyeri pada hidung disertai rasa sakit pada 8 . Pada pasien ini tidak dilakukaan pemeriksaan penunjang pencitraan. ditemukan gambaran masa berwarna coklat kehitaman di dalam kavum nasi kanan. Pada pasien ini tidak dilakukan pemeriksaan penunjang.4. Ditemukan pula sekret yang berbau di kavum nasi ipsilateral. diagnosis ditegakkan berdasarkan dari anamnesis dan pemeriksaan rinoskopi anterior. Anak-anak cenderung memasukkan benda-benda kecil seperti manik-manik. kancing. riwayat benda asing di kamvum nasal. Diagnosis dapat ditegakkan dengan index yang tinggi kecurigaan berdasarkan gejala. CT-Scan sinus paranasal dapat lebih akurat untuk menentukan lokasi dan ukuran rhinolith dan mengidentifikasi bebrapa penyakit sinus yang mungkin memerluka pengobatan. berwarna putih keabu-abuan. karet penghapus. kacang-kacangan.5 Pada pasien ini. Pemeriksaan berupa rhinoskopi anterior dan endoskopi. Anamnesis berupa keluhan-keluhan yang mengarah pada kecurigaan terhadap rhinolith yaitu pasien merasakan bau pada napasnya. c. Foto X-Ray dan CT-scan sinus paranasal dapat menunjang diagnosis adanya kaslsifiaksi di fossa nasal. pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. 2.3 a. yang terjadi akibat inflamasi mukosa. adanya sekret yang banyak . dapat disertai bersin-bersin.Diagnosis Pada beberapa pasien. Pada pemeriksaan rinoskopi anterior dengan spekulum pada hidung kanan. karena dari anamnesis dan pemeriksaan fisis sudah dapat didiagnosis rhinolith. Keluhan utamanya ialah hidung tersumbat dari ringan sampai berat. Benda asing lain dalam cavum nasi Benda asing yang sering ditemukan biasanya pada anak-anak. hiposmia dan anosmia.

Kebanyakan rhinolith dapat dikeluarkan melalui nares anterior. keras. Namun jika ukuran batu sangat besar. Pada rhinolith yang kecil dapat dilakukan di bawah anestesi lokal. Jika ukuran batu yang besar. ditemukan adanya massa berwarna cokelat kehitaman. Jika ukuran batu besar harus dihancurkan dan fragmen akan diangkat keluar. Pengambilan rhinolith dapat dilakukan di bawah lokal ataupun general anestesi. Operasi pengeluaran rhinolith dapat dilakukan dengan menggunakan anestesi lokal atau anestesi umum. maka perlu dilakukan Rhinotomi lateral. Setelah operasi. eksplorasi ulang dasar hidung dan dilakukan tampon fiksasi. debridement. Selama dirawat. dengan permukaan ireguler berupa pecahan-pecahan dengan ukuran yang berbeda. dapat dilakukan reseksi pada submukosa septum nasal dan turbinoplasti tulang akan memungkinkan untuk tindakan lebih jauh. setelah itu diatasi perdarahan yang ada. suara sengau. mungkin diperlukan pembedahan radikal. Ukuran massa yang besar perlu dihancurkan terlebih dahulu dan dikeluarkan dalam bentuk potongan yang kecil. dan mengenai konka nasalis inferior sinistra.4. Rhinolith dikeluarkan dengan menggunakan forsep nasal. permukaannya irregular atau tidak dan . Jika akses lokasi rhinolith sulit. dan permukaannya ireguler. Pada pasien ini dilakukan explorasi ekstraksi rhinolit dengan anastesi umum. Jika massanya sangat besar. maka pasien harus menjalani operasi dengan menggunakan anestesi umum. Batu yang masih berukuran kecil dan memungkinkan untuk di angkat tanpa operasi dapat dikeluarkan langsung endonasal dengan menggunakan alat pengait benda asing. dan kontrol infeksi dengan penggunaan antibiotic merupakan terapi pilihan untuk rhinolith. Litotripsi juga digunakan pada batu yang besar.daerah frontal. Penatalaksanaan2. halitosis. Dewasa ini pengangkatan batu juga bisa dilakukan dengan menggunakan alat endoskopik nasal rigid dengan bantuan anastesi topical. Konsistensi massa keras dibeberapa bagian dan beberapa bagian kenyal seperti otot dengan menggunakan tatah dilakukan evakuasi rinolith dari dasar hidung. injeksi ranitidine 2 x 1 ampul. permukaannya ireguler. gejala sekunder yang dapat timbul ialah bernapas melalui mulut. Dengan memperhatikan ukuran. dievaluasi ada tidaknya 9 .5 Operasi pengeluaran rhinolith. injeksi ceftriaxone 2 x 1 gram. Ceftriaxone diberikan sebagai antibiotic post operasi untuk mencegah terjadinya infeksi. Injeksi ranitidine diberikan kepada pasien untuk mencegah mual dan muntah pasien setelah operasi. pasien dirawat 3 hari dengan pemberian infuse RL 500 cc/24 jam. gangguan tidur dan penurunan kualitas hidup.

perdarahan. sisa tampon diangkat semua. tidak ada tanda-tanda perdarahan aktif. dan keadaan umum pasien baik sehingga pasien dapat dipulangkan pada hari ke tiga. tidak ada komplikasi yang menyertai. Pada pasien ini prognosis baik karena penanganan secara dini dan tepat.perdarahan dan keluhan lain. sinus maksilaris dan palatum durum. karena pada pasien ini rhinolith cepat diatasi. dan dievalusi masih ada sedikit perdarahn. Post operasi hari ke tiga. Prognosis4.5 Prognosis untuk rhinolith setelah pengangkatan rhinolith pada umumnya baik jika dilakukan penanganan secara dini dan tepat. Post operasi hari pertama. keluhan pasien tidak ada dan penciuman pasien tidak berbau lagi. tampon diangkat sebagian. Komplikasi4. erosi pada septum nasi. keadaan umum pasien baik. tidak ditemukan adanya komplikasi. 10 .5 Komplikasi pada rhinolith dapat terjadi sinusitis. Setelah dilakukan operasi. Pada pasien ini. bahkan dapat menyebabkan perforasi.

BAB IV Penutup Telah dilaporkan kasus pada anak EDSL usia 11 tahun yang datang ke poli THT dengan keluhan penciuman yang berbau. Dilakukan xplorasi ekstraksi fiksasi hidung di ruang OK RSUD Yohannes. 11 . Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik pasien didiagnosis dengan rinolith. Pasien dirawat di bangsal bedah selama 5 hari.

Balasubramanian. editors. Hal 96-9. Edisi ke-7.Iskandar H (Ed). Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher.L. Hal 237-43. 3. Dalam Soepardi EA.D. Mangunkusumo E. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher.Iskandar H (Ed).com 5.Daftar Pustaka 1. 2007. Wardani RS. Rinolit. Nizar NW. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. p 97-99 4. dkk.O. Dr.com/rhinolith. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Hidung. Rhinoliths. Mangunkusumo E. T. Jakarta. Polip Hidung. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.html.2011. 2012. Junizaf MH.S. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Soetjipto D. Benda Asing di Saluran Napas.dokterkita. 2. 2012.Edisi ke-6. Jakarta.drtbalu. Dalam Soepardi EA. Dalam : Soepardi A. Available: http://www. Available from : http://www. Sartika SD. 12 . M. Edisi ke-7.