Anda di halaman 1dari 5

Assalamu alaikum wr.

Wb
Dewan juri yang saya hormati, hadirin dan para peserta lomba yang berbahagia
Bertemu lagi dengan saya..... perwakilan dari SMA Negeri 2 Kendari. akan menceritakan
dongeng yang berjudul “LAMOKARA DAN GUNUNG MEKONGGA”
Disuatu daerah di pulau sulawesi, terdapat satu desa yang bernama desa kolaka. Desa
kolaka adalah desa yang aman, tentram dan damai serta lingkungannya pun asri dan indah. Di
desa kolaka ada satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, serta sepasang anak laki-laki dan
perempuan. Anak laki-lakinya bernama Lamokara yang artinya sikuat. Pekerjaan mereka
adalah bertani. setiap harinya mereka pergi ke sawah untuk bekerja demi memenuhi
kebutuhan hidupnya. Ayahnya bekerja membersihkan sawah dan menanam padi dibantu oleh
lamokara. Sedangkan ibu dan adik perempuannya bekerja menyiapkan makanan sebagai
bekal untuk ayahnya dan lamokara pada waktu siang. Begitulah setiap harinya kegiatan yang
dilakukan keluarga tersebut.
Pada suatu waktu di pagi hari, ibu dan adik lamokara pergi ke pasar untuk berbelanja.
Di perjalanan mereka

bertemu dengan penduduk lain yang sedang berkumpul,

membicarakan suatu kabar bahwa ada seorang penduduk yang melihat seekor burung elang
raksasa yang terbang melintasi tanah kosong yang luas di desa mereka. Burung tersebut
berwarnah hitam, berwajah seram, berkuku tajam dan berparuh besar. Saking besarnya paruh
burung elang tersebut mampu mengangkat batu besar. Akan tetapi ibu dan adik lamokara
tidak percaya dengan hal itu, justru mereka berkata “ Ah, paling-paling orang yang melihat
burung itu baru bangun tidur, jadi burung pipit, di bilang burung elang raksasa. “Diikuti
dengan tawa yang keras.
Setibanya di rumah, mereka langsung menceritakan kepada lamokara dan ayahnya
tentang berita yang mereka dengar tadi, tapi hanya lamokara saja yang sedikit percaya dengan
berita itu sedangkan ayahnya hanya tertawa terbahak-bahak sambil mengejek kebenaran
berita itu.
“Mengapa kalian harus percaya dengan kebenaran cerita-cerita konyol dari penduduk,
yang kebenaranya sangat tidak mungkin itu? Semua itu hanya kibulan penduduk, yang
kurang pekerjaan. “Ujar ayah lamokara sambil tertawa mengejek.
Lamokara hanya bisa diam, sambil menimbang nimbang kebenaran cerita tersebut.
“Haruskah aku percaya dengan berita tersebut? “ Gumam Lamokara pada diri sendiri.
Pada keesokan harinya, pada saat lamokara bersama ayahnya sedang berjalan menuju
ke sawah, tanpa sengaja dia melihat kerumunan orang yang sedang membicarakan sesuatu
yang serius sekali. Kemudian lamokara dan ayahnya menghampiri kerumunanan orang-orang
tersebut. Lalu pada saat sampai mereka mendengar salah seorang dari kerumunan itu
bercerita dengan sangat serius dan meyakinkan. “kemarin pada saat saya sedang melintas di
tanah luas dan kosong itu, tiba-tiba saya mendengar suara kepakan sayap burung yang sangat
keras tapi saya tidak menghiraukannya karena saya pikir itu hanya halusinasiku saja. Tapi
1

bahwa hal yang ia dengar ini benar adanya. orang itu menjawab. Lamokara berjalan menghampiri anak itu dan ia pun bertanya. “siapa yang meninggal? Sakit apa? Kemudian orang itu menjawab lagi. Hal ini disebabkan oleh ketakutan para penduduk akan burung elang raksasa yang sedang berkeliaran di desa mereka. paling-paling itu dibayar orang. tapi ayahnya tetap tidak percaya sambil bergumam. Tapi sejak tadi bermain di sini.” Jawab anak itu. tanpa satupun teman yang menemaninya. Lalu mereka mampir di rumah orang itu dan bertanya kepada salah satu penduduk yang ada di situ. kehidupan penduduk kolaka menjadi tidak tentram. jadi saya langsung berlari bersembunyi di bawah pohon besar. Saya sangat ketakutan sekali. pada saat lamokara dan ayahnya sedang dalam perjalanan pulang dari sawah. Sore harinya. akan kebenaran dari berita yang di dengarnya.” Jawab penduduk itu. Lalu lamokara pun menjadi bertambah yakin. ayo kita pergi saja. “Ada apa Ini?.” Lalu tanya lamokara kembali. “Ah. “ sambil tertawa ayah lamokara menarik tangan lamokara dan berkata. “Ada yang meninggal Pak. Keesokan harinya. Mungkin mereka takut keluar rumah karena takut dimakan oleh kongga. “lalu lamokara dan ayahnya meneruskan perjalanan menuju sawah . saya sedang bermain supaya saya tidak sedih terus. Kongga itu adalah nama burung elang raksasa yang akhir-akhir ini sering menganggu desa kita. “sedih? Kenapa kamu sedih? Di mana kedua orang tuamu?” tanya lamokara kembali kepada anak itu.setelah lama berjalan saya melihat keatas ternyata ada seekor burung elang raksasa yang terbang melintas di atas kepala saya. dengar-dengar pak lamokidi meninggal karena kepalanya di patuk oleh kongga. kamu tidak usah dengar apa yang dibicarakan oleh orang itu. “Dimakan kongga? Bagaimana bisa? Memangnya ayah dan ibumu melakukan apa? “tanya lamokara kembali. pada saat lamokara sedang berjalan-jalan di desa. Sejak adanya burung elang raksasa di desa mereka itu. saya tidak melihat satu anak pun lewat disini apalagi untuk bermain. “Sudahlah lamokara. “Pak Lamokidi. “Adik sedang apa disini? Kenapa bermain sendirian? Lalu anak itu menjawab. untuk menakut-nakuti penduduk di desa ini. mereka melihat di rumah salah satu penduduk ada keramaian. Sudahlah. tempat-tempat yang dulunya ramai kini menjadi sepi bagaikan kota mati yang tidak berpenghuni sama sekali.” Mendengar hal itu lamokara jadi bertambah yakin. 2 . dia bertemu dengan seorang anak yang sedang bermain sendiri. Tapi ayah lamokara masih juga belum percaya dengan apa yang sudah ia dengar tentang adanya burung elang raksasa di desa mereka. ayah dan ibuku sudah meninggal karena dimakan kongga si burung elang raksasa itu. “itu dia kak.” “Kongga? Apa itu?” tanya lamokara penuh perasan.

‘Ayo. kamu tidak merepotkan. saya mencoba mencari tau apa yang sebenarnya sedang terjadi. malah keluarga kakak akan senang dengan adanya kamu di rumah kami. “ia kak saya mau.”jawab lamokara sambil mengajak. Kepala ayah. tapi apa keluarga kakak mau menerima saya dan apa tidak merepotkan?”tanya anak itu kembali. terlihat dua mayat tergelat tidak berdaya. mereka terkejut karena dirumah lamokara banyak penduduk desa. “Kalau seandainya kakak mengajak kamu untuk tinggal bersama-sama dengan kami. lamokara mengajak anak itu untuk berjalan-jalan supaya dia bisa perlahan-lahan melupakan masalah yang menimpa dirinya. Tapi pada saat mereka sampai dirumah. dan tubuh mereka berlumuran 3 . “Ah tidak.”jawab anak itu kembali. Keesokan paginya. lalu lamokara menceritakan apa yang sudah terjadi pada anak itu dan kedua orang tuanya.“sewaktu saya pulang kerumah. dan ternyata kedua mayat itu adalah ayah dan ibu saya. “Tinggal sendiri kak. Lalu lamokara mencoba untuk menerobos dari kerumunan penduduk yang sangat padat itu. Lalu mereka pun pulang ke rumah sambil tertawa karena masih melajutkan cerita mereka. saya melihat ada kerumunan orang. Setelah dia masuk kedalam rumahnya.” Jawab anak itu sambil ikut berjalan di belakang lamokara. Lalu lamokara mengajak anak itu pulang. Setibanya di rumah. ‘Jadi sekarang kamu tinggal dengan siapa?”tanya lamokara kembali kepada anak itu dengan nada sendu. Pada saat saya tiba dikerumunan itu. setelah bermain bersama teman-teman di sungai ternyata orang tua saya tidak berada di rumah. Tapi kadang-kadang saya merasa takut karena saya tidak pernah tinggal sendirian. Saya keluar untuk mencari mereka. Lalu saya memutuskan untuk berangkat mencari mereka ke rumah paman saya ke desa sebrang. tapi pemuda yang tinggal di samping rumah saya mengatakan kalau orang tua saya sedang pergi kerumah paman di desa seberang dan akan kembali sore nanti. Tapi entah semakin saya dekat dengan kerumunan itu perasaan saya menjadi tidak enak dan jantung saya berdegup keras seperti akan ada sesuatuyang buruk yang menimpa saya. lamokara mengajak anak itu bermain dan menceritakan cerita-cerita lucu dan sampai-sampai mereka lupa kalau hari sudah hampir sore. kamu mau tidak?’ tanya lamokara membujuk. lamokara mempersilahkan anak itu masuk ke rumahnya dan langsung memperkenalkan anak itu kepada ayah. ibu dan adiknya. Di sungai. ibu dan adik nya tewas mengenaskan akibat dimakan oleh kongga. Lalu karena saya penasaran. Ayo ikut kerumah kakak. Ternyata firasat itu adalah firasat benar. kulit mereka penuh luka guratan. Tapi saat diperjalanan. “jawab anak itu sambil menangis tersedu-sedu. ibu dan adiknya hancur bagaikan ditindih batu besar. Tapi setelah saya tunggu-tunggu sampai malam mereka tidak juga pulang ke rumah. dan anak itu pun telah capek bermain dan pulang ingin cepat tidur. Tapi diperjalanan mereka tidak menemukan satu orang pun yang berlalu lalang maupun keluar rumah untuk bekerja ataupun melakukan aktivitas lain. ia melihat ayah .

lamokara tidak mau keluar rumah. Lalu lamokara berteriak memanggil ayah. ‘Tolong bapak-bapak dan ibu-ibu menceritakan kejadian yang sebenarnya yang telah menimpa ayah. Karena tidak bisa menahan emosi. kemana pak?’lalu ayahmu berkata kalau mereka mau ke sawah untuk bekerja. ibu dan adik saya. Lamokara membawa bambubambu ke rumahnya. Melihat hal itu lalu lamokara memutuskan untuk membunuh kongga dengan upayanya sendiri. Lamokara lalu duduk tenang dan meminta kepada para penduduk kejadian yang sebenarnya mengapa ayah. Tapi dasar mereka keras kepala. sekaligus dia bisa membalas dendam atas kematian ayah. Keesokan harinya masih pagi-pagi buta. ibu dan adiknya dengan kematian kongga.darah. bagaimana dia bisa melenyapkan kongga dari muka bumi ini. dia ditahan oleh para penduduk yang ada disitu dan dia disuruh untuk berpikir tenang dan jernih. Namun apa mau dikata. ibu dan adikmu lewat di depan rumah saya. dan dia meminta untuk tidak menceritakan rencananya itu kepada siapa pun. supaya dia tidak mati konyol. katanya. Lalu seorang bapak menceritakan kejadian sebenarnya. “dia tidak akan berani sama saya”. Tapi kamu jangan marah ya lamokara karena yang saya katakan ini kenyataan. di dalam diri lamokara tersimpan perasaan ingin membalas dendam kematian ayah. mereka tidak mau dengar dengan apa yang saya katakan. Sejak kejadian itu.. lalu secara perlahan lamokara menyusun rencana sematang mungkin. “ mau. Dia berkata. bukanya siasat untuk berhasil melenyapkan kongga dari muka bumi ini. Lalu dia menyampaikan rencananya itu kepada anak yang dia ajak tinggal dirumahnya tadi. lihat saja sekarang apa jadinya kalau orang terlalu sombong. lalu satu persatu lamokara menajamkan ujung bambu-bambu itu. maka para penduduk desa kolaka pun menyusun siasat untuk membunuh kongga. ibu dan adiknya. karena dia sudah bertekad. bahwa dia tidak akan keluar dari rumah sebelum dia mendapatkan jalan keluar yang paling tepat. Ya. lamokara membawa bambu-bambu itu ke tanah yang kosong dan luas tempat kongga sering melintas. lamokara pergi ke hutan untuk mengambil bambu besar sebgai bahan untuk membuat perangkapnya itu. Setelah semuanya sudah selesai ditajamkan. Lalu sejak itu juga karena sudah tidak tahan dengan apa yang dilakukan oleh kongga itu. dan niatnya untuk membalas dendam jadi tidak kesampaian. dan membebaskan penderitaan rakyat. malahan mereka tertawa dan berkata. Setelah lama berpikir dia mendapatkan cara untuk melenyapkan kongga. Lalu saya coba mengingatkan kepada mereka kalau mereka sebaiknya jangan keluar rumah nanti dimakan kongga. ibu dan adiknya. dan menancapkan bambu-bambu itu di 4 . Namun pada saat dia berlari keluar. ibu dan adiknya dimakan oleh kongga.. justru menambah korban jiwa dikalangan penduduk penduduk saja. Lalu saya bertanya kepada ayahmu. Selama dia mencari cara yang tepat untuk melenyapkan kongga. lamokara berlari keluar rumah ingin mencari dimana kongga berada. dan dia ingin membalas dendam dengan membunuh si kongga itu. “tadi ayah.

.tanah dengan membentuk lingkaran. akhirnya kongga mati tertelungkup di atas gunung itu. sampai jumpa di lain kesempatan. 5 . dia meminta restu kepada ayah. di beri nama “GUNUNG MEKONGGA” sebagai tanda untuk mengingat. karena darahnya yang menetes. Sejak kematian kongga. karena itu akan merugikan diri kita sendiri. yang ada hanya kebahagiaan seperti dahulu kala. tapi tidak bisa. bahwa di desa mereka pernah ada burung elang raksasa yang menganggu kehidupan mereka semua. Adapun hikmah dari cerita tadi adalah jika kita melakukan sesuatu dengan tenang dan berpikiran jernih maka Allah akan memberi jalan keluar yang lebih baik. supaya bisa melenyapkan kongga dan mengembalikan suasana desa seperti yang dulu lagi. oleh karena itu marilah kita hilangkan rasa dengki. keluarlah kau sekarang juga! Seketika itu juga. sekian dan terima kasih. dan kongga terbang tunggang langgang sehingga tanah yang dilalui oleh kongga menjadi merah. Setelah semuanya selesai. dan juga berkat keberanian lamokara. karena tubuhnya yang besar tidak cukup untuk masuk ke dalam lingkaran bambu itu.. ibu. “Kongga. dan ibunya dengan berkata. dendam dan sombong di dalam diri kita. lamokara langsung mencabut salah satu bambu dan menusukan ke perut kongga. Wasalamu alaikum wr. Demikianlah cerita yang saya sampaikan. munculah kongga di atas kepalanya dan langsung menyerang. Dan gunung tempat kongga mati itu. keadaan di desa menjadi aman kembali. doakan lamokara. Dan pada saat kongga menyerang untuk kedua kalinya.kongga. “Ayah. tidak ada lagi ketakutan di hati para penduduk desa kolaka. Wb. dan seketika itu juga darah bercucuran dari perut kongga. Setelah lama terbang tunggang langgang. lamokara segera bersiap-siap untuk memulai rencananya melenyapkan kongga. ”Setelah itu dia langsung Masuk ke dalam lingkaran bambu itu dan berteriak.