Anda di halaman 1dari 15

Koreksi imbalance Elektrolit

HIPONATREMIA

Definisi

Kadar Na aman sekurangnya 125 mEq/L

Koreksi diberikan bila terdapat gejala SSP (edema otak), atau kadar Na < 120 mEq/L

: keadaan kadar darah Na < 130 mEq/L

mEq Na = 125 – Na Serum x 0,6 x BB (kg)

Defisit Natrium = 0,6 x BB (kg) X (140 – Na serum)
Durasi penggantian = 2 x (140 – Na serum) [jam]

Larutan NaCl 3% (513 mEq/L), NaCl 5% (855 mEq/L)

Koreksi diberikan dalam 4 jam. Pemberian NaCl 3% dengan dosis 1 mL/kgbb diharapkan
dapat meningkatkan kadar Natrium sekitar 1,6 mEq/L. Larutan ini tidak untuk diberikan
pada keadaan hiponatremia yang asimptomatik. Kenaikan kadar natrium serum idealnya
tidak melebihi 1 mEq/jam

NaCl 3% 1 mEq = 2 cc

HIPERNATREMIA

Definisi

Pada keadaan dehidrasi berat disertai syok/presyok berikan NaCl 0,9% atau Ringer
Laktat atau Albumin 5%

Setelah syok teratasi berikan larutan yang mengandung Na 75-80 mEq/L, misalnya NaCldextrosa (2A) atau DG half strength sampai ada diuresis, kemudian berikan K 40 mEq/L

Bila ada hipokalsemia berikan Ca glukonas sesuai kebutuhan

Penurunan kadar natrium serum tidak melebihi 0,5 mEq/L/jam

: keadaan bila kadar Na darah > 150 mEq/L

interval PR memanjang.v.6 x current weight (kg) TBW = total body water Perbedaan perhitungan ideal TBW dan current TBW memberikan perkiraan free water deficit. kayeksalat 1 g/kgbb enema.134 gram. dilarutkan dalam 10 ml/kg larutan sorbitol 70% dan diberikan melalui kateter folley yang diklem selama 30-60 menit  Bila kadar K 6-7 mEq/L: NaHCO3– 7. K sorbate 0. untuk pereda batuk dan mukolitik. dosis terbagi 2-3 kali sehari.Jumlah cairan: defisit cairan dikoreksi dalam 2 x 24 jam (sd 72 jam) Hari ke-1: 50% defisit + kebutuhan rumatan (rumus Holliday Segar) Hari ke-2: 50% defisit + cairan rumatan sda Ideal TBW x 145 mEq/L = Current TBW x Current serum sodium Current TBW = 0.1-0. Dosis anak yaitu ½ dosis dewasa. dewasa 3 sachet sehari. 1 dosis sebelum sarapan. sediaan syr 100 ml Sorbitol corsa® (Sanofi): sorbitol murni. asam sitrat. Sediaan serbuk @ 5 gram (20 buah = 300. dengan kecepatan 2 mL/menit : kadar K darah > 5. dilarutkan dalam 30-50 mL air. anak ½ dosis dewasa. atau 1 unit insulin / 5 gram glukosa  Bila kadar K >7 mEq/L: Ca Glukonas 10%. kompleks QRS melebar  Bila kadar K <6 mEq/L : Kayeksalat 1 g/kgbb po dilarutkan dalam 2 mL/kgbb larutan sorbitol 70%. Sediaan sachet @ 5 gr . dan 40% adalah intraseluler (mengandung Kalium 150 mEq/L) HIPERKALEMIA  Definisi  EKG: gelombang T tinggi. depresi segmen ST.v.000 MIMS) Prospan ® mengandung ivy leaf dried. Dosis dewasa 15-30 g oral. untuk konstipasi 2 dosis sebelum tidur. Sisa volume dehidrasi yang mengandung elektrolit diasumsikan bahwa 60% kehilangan adalah ekstraseluler (mengandung Natrium 140 mEq/L).5 mL/kgbb i. untuk hiperkalemia akibat gagal ginjal akut dan kronis.5% dosis 3 mEq/kg i. daily. diberikan sebelum makan. sorbitol solution 70%. dosis 0.5 mEq/L Kalitake ® mengandung Ca polystirene sulfonate.

5 mEq/L (dengan atau tanpa gejala) berikan KCl 3. untuk suplementasi K dan Mg pada penyakit jantung dan hati.o. maksimal 40 mEq/Liter cairan  Bila kadar K 2. dan aritmia  Untuk kasus kronik tambahkan kalsium dalam asupan enteral atau parenteral HIPOMAGNESEMIA  Definisi  Penatalaksanaan : kadar Mg < 1.6 mg/dL  Penatalaksanaan akut: Calsium chloride 10-20 mg/kg i. dengan dosis 3-5 mEq/kgbb.0 mg/dL atau ion Ca kurang dari 4.5 mEq/L Aspar-K ® mengandung K-L-aspartate. Ca glukonate 50-100 mg/kg/dosis  Gunakan vena sentral  Jangan bersamaan dengan bikarbonat  Dapat menyebabkan bradikardia. diminum setelah makan!. film coated tab 600 mg Renapar ® mengandung K-L aspartat 300 mg. dibagi 3 dosis : bila kadar K darah < 3.HIPOKALEMIA  Definisi  EKG: depresi segmen ST dan gel T. Mg L-aspartat 100 mg.75% i. jangan digerus/dikunyah.v.5 mEq/L (dengan atau tanpa gejala) berikan KCl 75 mg/kg/hari p. ditemukan gelombang U  Bila kadar K <2. hipotensi. untuk hipokalemia dan hipomagnesemia akibat penggunaan diuretik jangka panjang HIPOKALSEMIA  Definisi: kadar Ca di bawah 8.v. tablet salut film 300 mg KSR ® mengandung KCl.7 mEq/L .5-3.

 Dapat menyebabkan hipotensi. lalu 50 ml/kgBB untuk 10 kg berikutnya. Sebagai contoh. nausea. seorang bayi dengan berat 8 kg mendapatkan 8 x 100 ml = 800 ml setiap harinya. flushing. selanjutnya 25 ml/kgBB untuk setiap tambahan kg BB-nya. dan bayi dengan berat 15 kg (10 x 100) + (5 x50) = 1250 ml per hari.Magnesium sulfat 25-50 mg/kg/dosis i.v. . warmth. depresi pernapasan TATALAKSANA CAIRAN Kebutuhan total cairan per hari seorang anak dihitung dengan formula berikut: 100 ml/kgBB untuk 10 kg pertama.

pemberian cairan secara IV harus dilakukan hanya pada tatalaksana anak dengan dehidrasi berat. . peritonitis. dan luka bakar. inflamasi jaringan. Defisit volume Defisit volume cairan ekstraselular merupakan perubahan cairan tubuh yang paling umum. Penyebab lainnya dapat berupa kehilangan cairan pada cedera jaringan lunak. syok septik dan pemberian antibiotik secara IV. Jangan berikan glukosa 5% saja selama beberapa waktu karena dapat menyebabkan hiponatremia TERAPI CAIRAN OPERATIF a. yang mungkin belum bisa menerima cairan oral selama beberapa waktu. Penyebab paling umum adalah kehilangan cairan di gastrointestinal akibat muntah. pemantauan yang ketat penting sekali karena adanya risiko kelebihan cairan yang dapat menyebabkan gagal jantung atau edema otak. penyedot nasogastrik. Pemberian cairan sebaiknya diberikan per oral (melalui mulut atau NGT). serta pada anak yang mempunyai kontraindikasi bila diberikan cairan oral (misalnya perforasi usus atau masalah yang memerlukan pembedahan). Jika cairan perlu diberikan secara IV. Jika pemantauan ketat ini tidak mungkin dilakukan. obstruksi usus. Cairan rumatan secara IV yang dapat diberikan adalah halfnormal saline + glukosa 5%. infeksi.Berikan anak sakit cairan dalam jumlah yang lebih banyak daripada jumlah di atas jika terdapat demam (tambahkan cairan sebanyak 10% setiap 1°C demam) Memantau Asupan Cairan Perhatikan dengan seksama untuk mempertahankan hidrasi yang adekuat pada anak yang sakit berat. diare dan drainase fistula.

 Dehidrasi hipotonis (hiponatremik): terjadi ketika kehilangan cairan dengan kandungan natrium lebih banyak dari darah (kehilangan cairan hipertonis).10 2.10 Kelebihan cairan intaseluler dapat terjadi jika terjadi kelebihan cairan tetapi jumlah NaCl tetap atau berkurang. Karena kadar natrium tinggi. nefrosis). sehingga menyebabkan penurunan volume intravaskular. Hiponatremia Kadar natrium normal 135-145 mEq/L. Jika < 120 mg/L maka akan timbul gejala disorientasi. iritabilitas. muntah. sehingga meminimalkan penurunan volume intravaskular.Keadaan akut.  Dehidrasi isotonis (isonatremik): terjadi ketika kehilangan cairan hampir sama dengan konsentrasi natrium terhadap darah. Hiponatremia ini dapat disebabkan oleh euvolemia (SIADH. Secara garis besar terjadi kehilangan air yang lebih banyak dibandingkan natrium yang hilang. gangguan mental. koma. Pada kehilangan cairan yang lambat lebih dapat ditoleransi sampai defisi volume cairan ekstraselular yang berat terjadi. lemah dan henti pernafasan.6 mg dan untuk pediatrik 1. air di kompartemen intravaskular berpindah ke kompartemen ekstravaskular. Keadaan ini dapat diterapi dengan restriksi cairan (Na+ ≥ 125 mg/L) atau NaCl 3% ssebanyak (140-X)xBBx0. third space losses. kehilangan cairan yang cepat akan menimbulkan tanda gangguan pada susunan saraf pusat dan jantung.15  Dehidrasi hipertonis (hipernatremik): terjadi ketika kehilangan cairan dengan kandungan natrium lebih sedikit dari darah (kehilangan cairan hipotonis).12 . Dehidrasi Dehidrasi sering dikategorikan sesuai dengan kadar konsentrasi serum dari natrium menjadi isonatremik (130-150 mEq/L). Dehidrasi isonatremik merupakan yang paling sering terjadi (80%). hipervolemia (sirosis. hipovolemia (disfungsi tubuli ginjal. air di kompartemen ekstraskular berpindah ke kompartemen intravaskular. diuretika). diare. letargi. Kelebihan volume Kelebihan volume cairan ekstraselular merupakan suatu kondisi akibat iatrogenic (pemberian cairan intravena seperti NaCl yang menyebabkan kelebihan air dan NaCl ataupun pemberian cairan intravena glukosayang menyebabkan kelebihan air) ataupun dapat sekunder akibat insufisiensi renal (gangguan pada GFR).5-2.9. Kehilangan cairan dan natrium besarnya relatif sama dalam kompartemen intravaskular maupun kompartemen ekstravaskular.15 b. sudah dapat dibilang hiponatremia. Secara garis besar terjadi kehilangan natrium yang lebih banyak dibandingkan air yang hilang. hiponatremik (<139 mEq/L) atau hipernatremik (>150 mEq/L). ataupun gagal jantung kongestif. sedangkan jika kadar < 110 mg/L maka akan timbul gejala kejang.5 mg/kg. Perubahan konsentrasi a. sirosis. bila kurang dari 135 mEq/ L. Karena kadar natrium serum rendah. sedangkan dehidrasi hipernatremik atau hiponatremik sekitar 5-10% dari kasus. polidipsi psikogenik).

Perubahan komposisi . infuse potasium klorida sampai 10 mEq/jam (untuk mild hipokalemia . Hipernatremia Bila kadar natrium lebih dari 145 mEq/L disebut dengan hiperkalemia. kelemahan otot skeletal. asupan natrium berlebihan.12 c. Untuk menghitung Na serum yang dibutuhkan dapat menggunakan rumus : Na= Na1 – Na0 x TBW Na = Jumlah Na yang diperlukan untuk koreksi (mEq) Na1 = 125 mEq/L atau Na serum yang diinginkan Na0 = Na serum yang aktual TBW = total body water = 0. diuretik).25 x BB K = kalium yang dibutuhkan K1 = serum kalium yang diinginkan K0 = serum kalium yang terukur BB = berat badan (kg) d. intoleransi glukosa. kejang.13 Rumus untuk menghitung defisit kalium18 : K = K1 – K0 x 0. koma. Tanda dan gejalanya terutama melibatkan susunan saraf pusat (parestesia. keringat berlebihan). muntah. letargi. Tanda dan gejala hipokalemia dapat berupa disritmik jantung. lemah. 3. poliuria.<2mEq/L disertai perubahan EKG. Dapat terjadi akibat dari redistribusi akut kalium dari cairan ekstraselular ke intraselular atau dari pengurangan kronis kadar total kalium tubuh. kelemahan otot yang hebat). ACE-inhibitor.Koreksi hiponatremia yang sudah berlangsung lama dilakukan scara perlahanlahan. Terapi keadaan ini adalah penggantian cairan dengan 5% dekstrose dalam air sebanyak {(X-140) x BB x 0. Hiperkalemia Terjadi jika kadar kalium > 5 mEq/L. diuresis. asupan air kurang. atau diuretik.6 x BB (kg) b. diabetes insipidus. hipomagnesemia. Hipokalemia Jika kadar kalium < 3 mEq/L. ST segmen depresi. sering terjadi karena insufisiensi renal atau obat yang membatasi ekskresi kalium (NSAIDs. Jika kadar natrium > 160 mg/L maka akan timbul gejala berupa perubahan mental. siklosporin. Terapi untuk hiperkalemia dapat berupa intravena kalsium klorida 10% dalam 10 menit. sodium bikarbonat 50-100 mEq dalam 5-10 menit. hipotensi postural. Hipernatremi dapat disebabkan oleh kehilangan cairan (diare.6}: 140. perubahan EKG). Terapi hipokalemia dapat berupa koreksi faktor presipitasi (alkalosis. sedangkan untuk hiponatremia akut lebih agresif. kelemahan otot) dan sistem kardiovaskular (disritmik. hemodialisis.>2 mEq/L) atau infus potasium klorida sampai 40 mEq/jam dengan monitoring oleh EKG (untuk hipokalemia berat. perubahan EKG (QRS segmen melebar. obat-obatan).

Alkalosis respiratorik (pH> 7. Perhatian yang ketat terhadap higiene trakeobronkial saat post operatif adalah sangat penting. Kejadian akut merupakan akibat dari ventilasi yang tidak adekuat termasuk obstruksi jalan nafas. c. analgesia. II. hipoksia. kelaparan. penyakit hepar.45 dan bikarbonat >27 mEq/L) Kelainan ini merupakan akibat dari kehilangan asam atau penambahan bikarbonat dan diperburuk oleh hipokalemia. dan alkalosis terjadi sebagai hasil dari penurunan PaCO2 yang cepat. Pada fase akut. . aspirin yang berlebihan dan keracunan metanol. konsentrasi bikarbonat serum normal. distensi abdomen dan penggunaan narkose yang berlebihan. Terapi sebaiknya ditujukan terhadap koreksi kelainan yang mendasari. Terapi bikarbonat hanya diperuntukkan bagi penanganan asidosis berat dan hanya setelah kompensasi alkalosis respirasi digunakan. Kompensasi awal yang terjadi adalah peningkatan ventilasi dan depresi PaCO2. hipokalemik akibat defisit volume ekstraselular. Penyebab yang paling umum termasuk gagal ginjal. Koreksi alkalosis harus gradual selama perode 24 jam dengan pengukuran pH. cedera SSP.35 dan bikarbonat <21 mEq/L) Kondisi ini disebabkan oleh retensi atau penambahan asam atau kehilangan bikarbonat. diabetik ketoasidosis. Asidosis respiratorik (pH< 3. pneumonia. Terapi ditujukan untuk mengkoreksi masalah yang mendasari termasuk sedasi yang sesuai.45 dan PaCO2 < 35 mmHg) Kondisi ini disebabkan ketakutan. nyeri dari insisi abdomen atas. A. fistula usus kecil. d.a. intubasi endotrakeal. Masalah yang umum terjadi pada pasien bedah adalah hipokloremik.75 dan PaCO2> 45 mmHg) Kondisi ini berhubungan dengan retensi CO2 secara sekunder untuk menurunkan ventilasi alveolar pada pasien bedah. efusi pleura. intraoperatif dan postoperatif. dan asidosis laktat. diare. diabetik ketoasidosis. Penyebab paling umum adalah syok. Asidosis metabolik (pH<7. nyeri. atelektasis. Faktor-faktor preoperatif 1. b. dan ventilasi yang dibantu. Kondisi yang telah ada Diabetes mellitus. atau insufisiensi renal dapat diperburuk oleh stres akibat operasi. PaCO2 dan serum elektrolit yang sering. dan ventilasi mekanis bila perlu. Terapi yang digunakan adalah sodium klorida isotonik dan penggantian kekurangan potasium. Alkalosis metabolik (pH>7. penggunaan yang tepat dari ventilator mekanik. Manajemennya melibatkan koreksi yang adekuat dari defek pulmonal. dan koreksi defisit potasium yang terjadi. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit pada pembedahan Gangguan dalam keseimbangan cairan dan elektrolit merupakan hal yang umum terjadi pada pasien bedah karena kombinasi dari faktor-faktor preoperatif.

Pemberian obat Pemberian obat seperti steroid dan diuretik dapat mempengaruhi eksresi air dan elektrolit 4. Terapi Cairan Terapi cairan ialah tindakan untuk memelihara. Risiko atau adanya ileus postoperatif III. Kehilangan darah yang abnormal 3. Faktor-faktor postoperatif 1. 2. Kehilangan cairan akibat evaporasi dari luka operasi (biasanya pada luka operasi yang besar dan prosedur operasi yang berkepanjangan) C. Prosedur diagnostik Arteriogram atau pyelogram intravena yang memerlukan marker intravena dapat menyebabkan ekskresi cairan dan elektrolit urin yang tidak normal karena efek diuresis osmotik. pasien dewasa yang sehat kehilangan cairan sekitar 300500 mL. mengganti cairan tubuh dalam batas-batas fisiologis dengan cairan infus kristaloid (elektrolit) atau koloid (plasma ekspander) secara . Preparasi bedah Enema atau laksatif dapat menyebabkan peningkatan kehilangan air dan elekrolit dari traktus gastrointestinal. Faktor-faktor intraoperatif 1.2. Penurunan volume sirkulasi yang efektif 4. 7. Restriksi cairan preoperatif Selama periode 6 jam restriksi cairan. B. Induksi anestesi Dapat menyebabkan terjadinya hipotensi pada pasien dengan hipovolemia preoperatif karena hilangnya mekanisme kompensasi seperti takikardia dan vasokonstriksi. 3. Kehilangan cairan dapat meningkat jika pasien menderita demam atau adanya kehilangan abnormal cairan. 5. Peningkatan katabolisme jaringan 3. Penanganan medis terhadap kondisi yang telah ada 6. Stres akibat operasi dan nyeri pasca operasi 2. Defisit cairan yang telah ada sebelumnya Harus dikoreksi sebelum operasi untuk meminimalkan efek dari anestesi. Kehilangan abnormal cairan ekstraselular ke third space (contohnya kehilangan cairan ekstraselular ke dinding dan lumen usus saat operasi) 4.

Cairan Kristaloid Cairan ini mempunyai komposisi mirip cairan ekstraseluler (CES = CEF). dextran + saline. yaitu : Terapi rumatan dapat diberikan infus cairan elektrolit dengan kandungan karbohidrat atau infus yang hanya mengandung karbohidrat saja. Terapi cairan resusitasi dapat dilakukan dengan pemberian infus Normal Saline (NS). Orang dewasa rata-rata membutuhkan cairan 30-35 ml/kgBB/hari dan elektrolit utama Na+=1-2 mmol/kgBB/haridan K+= 1mmol/kgBB/hari. Misalnya pada keadaan syok dan luka bakar. Infus KA-EN dapat mensuplai kalium sesuai kebutuhan harian. Terapi cairan berfungsi untuk mengganti defisit cairan saat puasa sebelum dan sesudah pembedahan. yaitu : • 6-8 ml/kg untuk bedah besar • 4-6 ml/kg untuk bedah sedang • 2-4 ml/kg untuk bedah kecil A. Pada syok hemoragik bisa diberikan 2-3 L dalam 10 menit. Laktat yang terkandung dalam cairan tersebut akan mengalami metabolisme di hati menjadi bikarbonat. Larutan elektrolit yang juga mengandung karbohidrat adalah larutan KA-EN.9%. DGAA.  Terapi cairan resusitasi Terapi cairan resusitasi ditujukan untuk menggantikan kehilangan akut cairan tubuh atau ekspansi cepat dari cairan intravaskuler untuk memperbaiki perfusi jaringan. keringat (lewat kulit) dan pengeluaran lewat paru atau dikenal dengan insensible water losses. Cairan kristaloid lainnya yang sering digunakan adalah NaCl 0. mengganti perdarahan yang terjadi. Untuk anak digunakan rumus Holiday Segar 4:2:1.intravena. Larutan Ringer Laktat merupakan cairan kristaloid yang paling banyak digunakan untuk resusitasi cairan walau agak hipotonis dengan susunan yang hampir menyerupai cairan intravaskuler. Cairan kristaloid bila diberikan dalam jumlah cukup (3-4 kali cairan koloid) ternyata sama efektifnya seperti pemberian cairan koloid untuk mengatasi defisit volume intravaskuler.  Terapi rumatan Terapi rumatan bertujuan memelihara keseimbangan cairan tubuh dan nutrisi. dan mengganti cairan yang pindah ke rongga ketiga. atau Ringer laktat (RL) sebanyak 20 ml/kg selama 3060 menit. Ringer Asetat (RA). Untuk menggantinya tergantung besar kecilnya pembedahan. Ringer’s dextrose. Umumnya infus konvensional RL atau NS tidak mampu mensuplai kalium sesuai kebutuhan harian. Pada pembedahan akan menyebabkan cairan pindah ke ruang ketiga. Kebutuhan tersebut merupakan pengganti cairan yang hilang akibat pembentukan urine. Jenis-Jenis Cairan 1. sekresi gastrointestinal. dll. tetapi . Tetapi cairan tanpa elektrolit cepat keluar dari sirkulasi dan mengisi ruang antar sel sehingga dextrose tidak berperan dalam hipovolemik. mengganti kebutuhan rutin saat pembedahan. Sedangkan larutan rumatan yang mengandung hanya karbohidrat adalah dextrose 5%. Dalam terapi rumatan cairan keseimbangan kalium perlu diperhatikan karena seperti sudah dijelaskan kadar berlebihan atau kekurangan dapat menimbulkan efek samping yang berbahaya. Waktu paruh cairan kristaloid di ruang intravaskuler sekitar 20-30 menit. ke ruang peritoneum. ke luar tubuh.

2. Cairan Koloid Disebut juga sebagai cairan pengganti plasma atau biasa disebut “plasma substitute” atau “plasma expander”. apabila seseorang mendapat infus 1 liter NaCl 0. Pada suatu penelitian mengemukakan bahwa walaupun dalam jumlah sedikit larutan kristaloid akan masuk ruang interstitiel sehingga timbul edema perifer dan paru serta berakibat terganggunya oksigenasi jaringan dan edema jaringan luka. Pemberian Dextran melebihi 20 ml/kgBB/hari dapat mengganggu cross match.9Selain itu.5%).000 dan Dextran 70 (Macrodex) dengan berat molekul 60.000-70. tetapi Dextran 40 mampu memperbaiki aliran darah lewat sirkulasi mikro karena dapat menurunkan kekentalan (viskositas) darah. pemberian cairan kristaloid berlebihan juga dapat menyebabkan edema otak dan meningkatnya tekanan intra kranial. Dibuat dengan cara memanaskan plasma atau plasenta 60°C selama 10 jam untuk membunuh virus hepatitis dan virus lainnya. b. Dextran dapat menimbulkan reaksi anafilaktik yang dapat dicegah yaitu dengan memberikan Dextran 1 (Promit) terlebih dahulu.bila diberikan berlebih dapat mengakibatkan asidosis hiperkloremik (delutional hyperchloremic acidosis) dan menurunnya kadar bikarbonat plasma akibat peningkatan klorida. terdapat 2 jenis larutan koloid: a. Karena perbedaan sifat antara koloid dan kristaloid dimana kristaloid akan lebih banyak menyebar ke ruang interstitiel dibandingkan dengan koloid maka kristaloid sebaiknya dipilih untuk resusitasi defisit cairan di ruang interstitiel. menekan aktivitas faktor VIII. waktu perdarahan memanjang (Dextran 40) dan gagal ginjal. . Walaupun Dextran 70 merupakan volume expander yang lebih baik dibandingkan dengan Dextran 40. Berdasarkan pembuatannya. meningkatkan fibrinolisis dan melancarkan aliran darah. Oleh karena itu koloid sering digunakan untuk resusitasi cairan secara cepat terutama pada syok hipovolemik/hermorhagik atau pada penderita dengan hipoalbuminemia berat dan kehilangan protein yang banyak (misal luka bakar). Selain itu Dextran mempunyai efek anti trombotik yang dapat mengurangi platelet adhesiveness. Koloid sintetis: 1. Dextran: Dextran 40 (Rheomacrodex) dengan berat molekul 40.000 diproduksi oleh bakteri Leuconostoc mesenteroides B yang tumbuh dalam media sukrosa. Di dalam cairan koloid terdapat zat/bahan yang mempunyai berat molekul tinggi dengan aktivitas osmotik yang menyebabkan cairan ini cenderung bertahan agak lama (waktu paruh 3-6 jam) dalam ruang intravaskuler. Koloid alami: Yaitu fraksi protein plasma 5% dan albumin manusia ( 5 dan 2. Fraksi protein plasma selain mengandung albumin (83%) juga mengandung alfa globulin dan beta globulin.

2. yaitu: – modified fluid gelatin (Plasmion dan Hemacell) – Urea linked gelatin – Oxypoly gelatin B. Larutan koloid ini juga dapat menimbulkan reaksi anafilaktik dan dapat meningkatkan kadar serum amilase ( walau jarang).5-4% dalam balanced electrolyte dengan berat molekul rata-rata 35. Pemberian 500 ml larutan ini pada orang normal akan dikeluarkan 46% lewat urin dalam waktu 2 hari dan sisanya 64% dalam waktu 8 hari. Karena potensinya sebagai plasma volume expander yang besar dengan toksisitas yang rendah dan tidak mengganggu koagulasi maka Penta starch dipilih sebagai koloid untuk resusitasi cairan pada penderita gawat. Defisit karena perdarahan atau kehilangan cairan (hipovolemik. Ada 3 macam gelatin. Pembedahan yang tergolong kecil dan tidak terlalu traumatis misalnya bedah mata (ekstrasi. 3. mampu mengembangkan volume plasma hingga 1. translokasi cairan dan penguapan atau evaporasi). dehidrasi) yang seringkali menyertai penyulit bedahnya harus segera diganti dengan melakukan resusitasi cairan atau rehidrasi sebelum induksi anestesi. Kehilangan cairan di ruang ECF ini cukup diganti dengan ciran hipotonis seperti garam fisiologis.000.5 kali volume yang diberikan dan berlangsung selama 12 jam. Terapi Cairan Intraoperatif Jumlah penggantian cairan selama pembedahan dihitung berdasarkan kebutuhan dasar ditambah dengan kehilangan cairan akibat pembedahan (perdarahan. Setelah dari sisa defisit yang masih ada diberikan pada jam pertama pembedahan. C. Terapi Cairan Preoperatif Defisit cairan karena persiapan pembedahan dan anestesi (puasa. Hydroxylethyl Starch (Heta starch) Tersedia dalam larutan 6% dengan berat molekul 10. Jenis cairan yang diberikan tergantung kepada prosedur pembedahannya dan jumlah darah yang hilang.000. katarak) cukup hanya diberikan cairan rumatan saja selama pembedahan. osmolaritas 310 mOsm/L dan tekanan onkotik 30 30 mmHg. 1. Penderita dewasa yang dipuasakan karena akan mengalami pembedahan (elektif) harus mendapatkan penggantian cairan sebanyak 2 ml/kgBB/jam lama puasa. lavement) harus diperhitungkan dan sedapat mungkin segera diganti pada masa pra-bedah sebelum induksi.000. Gelatin Larutan koloid 3. .000 – 1. rata-rata 71. Ringer Laktat dan Dextrose.000 dibuat dari hidrolisa kolagen binatang. Low molecullar weight Hydroxylethyl starch (Penta-Starch) mirip Heta starch. sedangkan sisanya diberikan pada jam kedua berikutnya. Pada penderita yang karena penyakitnya tidak mendapat nutrisi yang cukup maka sebaiknya diberikan nutrisi enteral atau parenteral lebih dini lagi.

Koreksi terhadap gangguan keseimbangan yang disebabkan terapi cairan tersebut. diuresis. Bila kadar hemoglobin kurang dari 10 gr%. suhu tubuh dan warna kulit. Pembedahan dengan trauma ringan misalnya: appendektomi dapat diberikan cairan sebanyak 2 ml/kgBB/jam untuk kebutuhan dasar ditambah 4 ml/kgBB/jam untuk pengganti akibat trauma pembedahan. 4. – Penderita dengan hiperventilasi atau pernapasan melalui trakeostomi dan humidifikasi. elektrolit dan kalori/nutrisi. diameter pupil. Penggantian cairan pasca bedah cukup dengan cairan hipotonis dan bila perlu larutan garamisotonis. proses katabolisme dan transfusi darah. Kebutuhan air untuk penderita di daerah tropis dalam keadaan basal sekitar ± 50 ml/kgBB/24 jam.2. sebaiknya diberikan transfusi darah untuk memperbaiki daya angkut oksigen. Melanjutkan penggantian defisit cairan pembedahan dan selama pembedahan yang belum selesai. akan dilepaskan aldosteron dan ADH yang cenderung menimbulkan retensi air dan natrium. kebutuhan cairan meningkat sekitar 15% setiap kenaikan 1°C suhu tubuh – Adanya pengeluaran cairan lambung melalui sonde lambung atau muntah. 3. Oleh sebab itu. 3. pemberian karbohidrat 100-150 mg/hari cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan kalori dan dapat menekan pemecahan protein sampai 50% kadar albumin harus dipertahankan melebihi 3.5 gr%. D. 2. Pada hari pertama pasca bedah tidak dianjurkan pemberian kalium karena adanya pelepasan kalium dari sel/jaringan yang rusak. Akibat stress pembedahan. frekuensi nafas. jalan nafas. tingkat kesadaran. Mengganti kehilangan cairan pada masa pasca bedah: – Akibat demam. pada 2-3 hari pasca bedah tidak perlu pemberian natrium. Pembedahan dengan trauma sedang diberikan cairan sebanyak 2 ml/kgBB/jam untuk kebutuhan dasar ditambah 8 ml/kgBB/jam untuk pembedahannya. . frekuensi nadi. Terapi Cairan Postoperatif Terapi cairan pasca bedah ditujukan terutama pada hal-hal di bawah ini: 1. Monitoring organ-organ vital dilanjutkan secara seksama meliputi tekanan darah. Total 10 ml/kgBB/jam. Total yang diberikan adalah 6 ml/kgBB/jam berupa cairan garam seimbang seperti Ringer Laktat atau Normosol-R. Penderita dengan keadaan umum baik dan trauma pembedahan minimum. Terapi cairan ini berlangsung sampai penderita dapat minum dan makan. Pemenuhan kebutuhan dasar/harian air.