Anda di halaman 1dari 7

AKUNTANSI PERBANKAN DAN LPD

“Laporan Keuangan LPD”

Oleh:
Kelompok 8

Ratih Jayadiningrat

(1406305066 / 14)

Putu Ayu Titha P.P.

(1406305121 / 20)

Ida Bagus Agung Haridharma Purba

(1406305151 / 26)

Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Udayana
2015
1

Laporan keuangan yang disusun untuk tujuan ini memenuhi kebutuhan bersama sebagian besar pemakai. Tujuan dari laporan keuangan adalah untuk menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan. Penyusunan laporan keuangan disiapkan mulai dari berbagai sumber data. Laporan Keuangan Laporan keuangan adalah laporan yang dibuat pada akhir periode akuntansi yang terdiri dari laporan laba rugi (income statement). Namun demikian. bon-bon. Pengertian laporan keuangan menurut Standar Akuntansi Keuangan adalah “Laporan keuangan merupakan bagian dari proses pelaporan keuangan. kinerja. dan tidak diwajibkan untuk menyediakan informasi nonkeuangan. laporan perubahan modal (capital statement). 3. nota kredit. Laporan Keuangan LPD Kebijakan akuntansi LPD adalah prinsip-prinsip dasar dalam pelaporan keuangan yang disusun berdasarkan ksepakatan bersama sesuai dengan aturan dan standar yang berlaku.1. laporan keuangan tidak menyediakan semua informasi yang mungkin dibutuhkan pemakai dalam mengambil keputusan ekonomi karena secara umum menggambarkan pengaruh keuangan dan kejadian masa lalu. 2. Dari pengertian di atas laporan keuangan dibuat sebagai bagian dari proses pelaporan keuangan yang lengkap. atau pertanggungjawaban manajemen atas sumber daya yang dipercayakan kepadanya. salinan faktur penjualan. kinerja serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi. terdiri dari faktur-faktur. 2 . Fungsi Laporan Keuangan Menurut Standar Akuntansi Keuangan yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia tujuan laporan keuangan adalah menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan. laporan bank dan sebagainya. Laporan keuangan juga menunjukan apa yang telah dilakukan manajemen (stewardship). serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan. neraca (balance sheet) dan laporan arus kas (cash flow). dengan tujuan untuk mempertanggungjawabkan tugas-tugas yang dibebankan kepada manajemen.

Aktiva tetap tidak termasuk tanah disusutkan dengan metode garis lurus. Laba atau rugi atas pengalihan aktiva tetap diakui pada periode berjalan. 1) Tidak dibenarkan mengantisipasi pendapatan. d.Beberapa contoh yang menyangkut kebijakan akuntansi LPD. simpanan dan deposito dilakukan pengelompokkan sesuai dengan jatuh temponya. diantaranya: a. akan tetapi biaya-biaya yang telah direalisasi sebelum tanggal neraca walaupun belum dapat diketahui secara pasti. Untuk mengetahui batas waktu pembayaran. 2) Namun demikian pelaksanaan prinsip diatas harus tetap memperhatikan asas “proper matching cost against revenue” yaitu biaya dan pendapatan dihadapkan secara tepat dalam periode yang sama agar tidak menjadi pergeseran biaya atau pendapatan ke periode yang lain. jumlahnya. c. maka harga perolehan dan akumulasi penyusutannya akan dihapus dalam pembukuan. Biaya pemeliharaan dan perbaikan dibebankan pada laba-rugi pada saat terjadinya. g. Dasar Penyusunan Laporan Keuangan Laporan keuangan disusun dengan menggunakan harga perolehan. Gubernur Provinsi Bali 3 . b. Jika aktiva tetap sudah tidak dapat digunakan lagi. Beban Ditangguhkan (Biaya Praoperasi) Semua beban yang dikeluarkan sebelum beroperasi komersial ditangguhkan pembebanannya dan diamortisasi selama tahun dengan tarif amortisasi 25% setiap tahun dari nilai saat transaksi. Aktiva Tetap Aktiva tetap dinyatakan di neraca berdasarkan harga peorlehan dikurangi dengan akumulasi penyusutan. e. harus dilaporkan dengan cara estimasi yang wajar. Piutang Usaha Piutang usaha berupa kredit yang diberikan dicatat sebesar nilai perolehan dikurangi dengan cadangan atas kemungkinan piutang yang tidak dapat ditagih. Penyampaian Laporan Keuangan LPD Disampaikan Kepada Laporan keuangan LPD disampaikan kepada : 1. Bendesa Adat 2. Akuntansi Utang Usaha Utang usaha berupa simpanan dan deposito nasabah dinyatakan secara lengkap sehingga menggambarkan seluruh kewajiban LPD pada akhir periode. f. Pengakuan Pendapatan dan Beban Pencatatan pendapatan dan beban menganut metode akrual basis yaitu diakui pada saat terjadinya transaksi dan bukan pada saat realisasi pembayaran.

Dengan diberlakukan IFRS. Bupati Kabupaten 4. Dasar pengakuan yang digunakan kebanyakan menggunakan cash basis yang dimodifikasi. terdiri dari : 1) Laporan kegiatan dan perkembangan pinjaman. Berusaha mencapai yang terbaik dengan menyediakan ruang dan waktu untuk perbaikan berkelanjutan Sampai saat ini LPD belum sepenuhnya menerapkan dasar pengakuan akrual dalam laporan keuangannya. LPD perlu memformalkan bahwa budaya perusahaan dalam bentuk “Catur Dharma LPD” yang terdiri dari: 1. c. dan 4) Laporan rugi / laba.3. dan 2) Laporan penilaian peringkat risiko LPD. Laporan tiga bulanan. Laporan tahunan . Mungkinkah LPD Mengadopsi dan Mengadaptasi SAK ETAP ? 4 . Lurah 6. Saling menghargai dan membina rasa kekeluargaan 4. Menjadi milik yang bermanfaat bagi krama dan desa pakraman 2. 3) Laporan neraca. Krama Desa (Melalui paruman Banjar) Dalam rangka menuju tata kelola organisasi yang baik. 5. Badan Pengawas LPD 7. Kelian Banjar 8. Jenis Laporan Keuangan LPD a. mencakup: 1) Laporan penilaian kesehatan LPD (CAMEL). dan 3) Laporan hasil Pertanggung Jawaban audit Pengawas Internal. 2) Laporan Pertanggung Jawaban Akhir Tahun. Laporan bulanan. 2) Neraca percobaan. b. 4. mencakup: 1) Laporan Rencana Kerja dan Anggaran Pendapatan Belanja LPD. Memberikan pelayanan yang terbaik bagi nasabah 3. Camat 5. ke depan kemungkinan laporan keuangan LPD akan menunjukkan ke arah fair value.

sehingga dapat menggunakan laporan keuangannya untuk mendapatkan dana untuk pengembangan usaha. sehingga lebih mudah dalam mengimplementasikannya dan bisa memberikan informasi yang handal dalam pengujian laporan keuangan. komprehensif. 5. kreditur. Selain itu dengan menggunakan SAK ETAP. 4. dan relevan. dan lembaga pemeringkat kredit. Perlu pula diketahui bahwa. 2. SAK ETAP lebih sederhana dibandingkan dengan PSAK-IFRS karena SAK ETAP merupakan penyederhanaan dari SAK Umum. LPD sebagai usaha mikro bisa dibandingkan dengan usaha-usaha lainnya. Berdiri sendiri dan tidak mengacu pada SAK-Umum Menggunakan historical cost Hanya mengatur transaksi umum yang terjadi pada ETAP Lebih sederhana Tidak berubah dalam beberapa tahun kedepan SAK ETAP cocok digunakan oleh LPD. Standar ETAP ini cukup sederhana dan pasti tidak akan menyulitkan bagi penggunanya. Di dalam beberapa hal SAK ETAP memberikan banyak kemudahan untuk perusahaan dibandingkan dengan PSAK dengan ketentuan pelaporan yang lebih kompleks. Entitas tanpa akuntabilitas publik yang dimaksud adalah entitas yang tidak memiliki akuntabilitas publik signifikan. dan tidak menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan umum (general purpose financial statement) bagi pengguna eksternal. Penggunaan SAK ETAP pada LPD bisa menjadikan pelaporan keuangan LPD menjadi lebih transparan. SAK ETAP ini dimaksudkan agar semua unit usaha menyusun laporan keuangan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Perbedaan secara kasat mata dapat dilihat dari ketebalan SAK ETAP yang hanya sekitar seratus halaman dengan menyajikan 30 bab.SAK ETAP yang merupakan kepanjangan dari Standar Akuntansi Keuangan untuk Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik ditetapkan oleh Ikatan Akuntansi Indonesia untuk perusahaan kecil dan menengah. Sesuai dengan ruang lingkup SAK ETAP maka Standar ini dimaksudkan untuk digunakan oleh entitas tanpa akuntabilitas publik. maka lembaga keuangan seperti LPD tidak perlu membuat laporan keuangan dengan menggunakan PSAK umum yang berlaku. Contoh pengguna eksternal adalah pemilik yang tidak terlibat langsung dalam pengelolaan usaha. Karakter SAK-ETAP : 1. Apabila SAK ETAP ini telah berlaku efektif. LPD menggunakan dasar pengakuan accrual basis yang merujuk pada SAK ETAP. Dengan adanya penggunaan SAK ETAP pada LPD maka LPD bisa menyusun laporan keuangannya sendiri dan laporan keuangan LPD bisa diaudit (auditable) dan mendapatkan opini audit. 5 . 3.

SAK ETAP murah dari sisi biaya.LPD yang merupakan singkatan dari Lembaga Perkreditan Desa merupakan badan usaha keuangan milik desa yang melaksanakan kegiatan usaha di lingkungan desa dan untuk krama desa. berdasarkan penjelasan peraturan Daerah No. Denpasar. Udayana University Press. untuk menghapuskan bentuk–bentuk eksploitasi dalam hubungan kredit. I Wayan. Tujuan pendirian sebuah LPD pada setiap desa adat. LPD harus dapat mengadaptasi perkembangan-perkembangan global. sehingga dengan penggunaan SAK ETAP bagi LPD tidak perlu disusahkan oleh perubahan standar akuntansi. 6 . adalah untuk mendukung pembangunan ekonomi pedesaan melalui peningkatan kebiasaan menabung masyarakat desa dan menyediakan kredit bagi usaha skala kecil. Sementara itu. 2009. untuk menciptakan kesempatan yang setara bagi kegiatan usaha pada tingkat desa. pelaporan lebih transparan dan berstandar Internasional.2/ 1988 dan No. sehingga SAK ETAP ini sudah sesuai dengan LPD yang harus beradaptasi dengan perkembangan zaman. SAK ETAP adalah standar akuntansi keuangan yang juga sudah sesuai dengan perkembangan jaman di mana SAK ETAP ini sudah merupakan penyederhanaan dari SAK Umum yang diharapkan penggunaannya bisa mempermudah pembuatan laporan keuangan. Setelah menerapkan SAK ETAP banyak manfaat yang didapat. Namun. diantaranya laba menjadi lebih stabil. Arsitektur Pengelolaan Risiko Pada Lembaga Perkreditan Desa (LPD). SAK ETAP relatif konsisten. di mana masyarakat adat setempat maupun di luar desa adatnya dapat melakukan penyimpanan dana dan meminjam kredit pada Lembaga Perkreditan Desa Adat. DAFTAR PUSTAKA Suartana. kendala utama penerapan kebijakan ini terletak pada kualitas SDM yang belum memadai. dan untuk meningkatkan tingkat monetisasi di daerah pedesaan. 8 tahun 2002 mengenai Lembaga Peerkreditan Desa (LPD).

blogspot.scribd.html (Diakses Pada Tanggal 13 Desember 2015) http://yuriaiuary.blogspot.co.id/2013/01/mungkinkah-lpd-mengadopsi-dan.co.html (Diakses Pada Tanggal 13 Desember 2015) 7 .id/2013/09/akuntansi.com/doc/113905183/APLPD-9 (Diakses Pada Tanggal 13 Desember 2015) http://helloimratnaa.https://id.