Anda di halaman 1dari 31

REFERAT

IMUNISASI PADA DEWASA

Fiki Setiawan
1102012086

PEMBIMBING :
dr. Yanti Windayati Sp.PD

KEPANITERAAN SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSU Dr. SLAMET GARUT
NOVEMBER 2016

BAB I
PENDAHULUAN

Dalam dunia kesehatan dikenal tiga pilar utama dalam meningkatkan kesehatan
masyarakat, yaitu preventif atau pencegahan, kuratif atau pengobatan, dan rehabilitatif. Dua
puluh tahun terakhir, upaya pencegahan telah membuahkan hasil yang dapat mengurangi
kebutuhan kuratif dan rehabilitatif. Melalui upaya pencegahan penularan dan transimisi penyakit
infeksi yang berbahaya akan mengurangi morbiditas dan mortalitias penyakit infeksi pada anak
dan dewasa.
Mempelajari vaksinasi, dunia telah menapaki jalan yang panjang. Sejak para ahli dalam
bidang vaksinasi yaitu Edward Jenner, Louis Pasteur, Emil Behring, Shibasaburo Kitasato, Johan
Salk, serta Albert Sabin, selama hampir tiga abad yaitu antara tahun 1689 sampai tahun 1950-an
telah meletakkan dasar – dasar imunisasi yang kita kenal saat ini. Sampai akhirnya kini telah
dikenal secara luas adanya vaksin sebagai “alat” yang efektif dan murah untuk perbaikan
kesehatan umat manusia.

BAB II
IMUNISASI DAN VAKSIN

Definisi
Perlu diketahui bahwa istilah imunisasi dan vaksinasi seringkali diartikan sama.
Imunisasi pasif adalah suatu pemindahan atau transfer antibodi secara pasif. Vaksinasi adalah
imunisasi aktif dengan pemberian vaksin (antigen) yang dapat merangnsang pembentukan
imunitas (antibodi) dari sistem imun di dalam tubuh.
Imunitas secara pasif dapat diperoleh dari pemberian dua macam imunoglobulin, yaitu
imunoglobulin yang non-spesifik atau gammaglobuliln dan imunoglobulin yang spesifik yang
berasal dari plasma donor yang sudah sembuh atau baru saja mendapatkan vaksinasi penyakit
tertentu. Imunoglobulin yang non-spesifik digunakan pada individu dengan defisiensi
imunoglobulin, sehingga perlindungan dengan segera dan cepat. Namun perlindungan tersebut
tidak berlangsung permanen melainkan hanya untuk beberapa minggu saja. Demikian pula
imunoglobulin non-spesifik mahal dan memungkinkan individu justru menjadi sakit karena
secara kebetulan atau karena suatu kecelakaan serum yang diberikan tidak bersih dan masih
mengandung kuman yang aktif. Sedangkan imunoglobulin sepsifik diberikan kepada individu
yang belum terlindung karena belum pernah mendapatkan vaksinasi dan kemudian terserang
misalnya penyakit difteri, tetanus, hepatitis A dan B.
Vaksinasi merupakan suatu tindakan yang dengan sengaja memberikan paparan dengan
antigen yang berasal dari suatu patogen. Antigen yang diberikan telah dibuat sedemikian rupa
sehingga tidak menimbulkan sakit namun mampu memproduksi limfosit yang peka sebagai
antibodi dan sel memori. Cara ini meniru infeksi alamiah yang tidak menimbulkan sakit namun
cukup memberikan kekebalan. Tujuannya adalah memberikan “infeksi ringan” yang tidak
berbahaya namun cukup untuk menyiapkan respon imun sehingga apabila terjangkit penyakit
yang sesungguhnya di kemudian hari, individu tidak menjadi sakit karena tubuh dengan cepat
membernuk antibodi dan mematikan antigen / penyakit yang masuk tersebut. 1

biasanya dengan cara pembiakan berulang – ulang. Supaya dapat menimbulkan respons imun. umumnya bersifat ringan dibanding dengan penyakit alamiah dan itu dianggap sebagai kejadian ikutan.Jenis – jenis vaksin Pada dasarnya. Vaksin inactivated Vaksin inactivated dihasilkan dengan cara membiakkan bakteri atau virus dalam media pembiakan. kemudian dibuat tidak aktif (inactivated) dengan penanaman bahan kimia (biasanya formalin). (2) inactivated (bakteri. yellow fever. yang kemudian mengadakan replikasi di dalam tubuh dan meningkat jumlahnya sampai cukup besar untuk memberi rangsangan suatu respons imun. vaksin dapat dibagi menjadi 2 jenis. Vaksin hidup attenuated yang tersedia saat ini (1) berasal dari virus hidup. misalnya BCG dan demam tifoid oral. rubela. Vaksin jenis ini dapat menyebabkan penyakit. virus atau komponennya yang dibuat tidak aktif). Vaksin jenis ini bersifat labil dan dapat mengalami kerusakan bila terkena panas atau sinar. vaksin hidup attenuated harus berkembang biak (mengadakan replikasi) di dalam tubuh resipien. Vaksin inactivated tidak hidup dan tidak dapat tumbuh. Imunitas aktif dari vaksin hidup attenuated tidak dapat berkembang karena pengaruh dari antibodi yang beredar. maka seluruh dosis . yaitu (1) live attenuated (bakteri atau virus hidup yang dilemahkan). (2) berasal dari bakteri hidup. Untuk vaksin komponen. polio. Virus atau bakteri liar ini dilemahkan (attenuated) di laboratorium. Vaksin hidup attenuated Vaksin hidup dibuat dari virus atau bakteri liar penyebab penyakit. maka harus dilakukan pengelolaan dan penyimpanan dengan baik dan hati – hati. misalnya campak. Suatu dosisi kecil virus atau bakteri yang diberikan. Respons imun terhadap vaksin hidup attenauated pada umumnya sama dengan yang diakibatkan oleh infeksi alamiah. rotavirus. organisme tersebut dibuat murni dan hanya komponen – komponennya yang dimasukkan ke dalam vaksin (misalnya kapsul polisakarida dari bakteri pneumokokus).

dan Haemophillus influenzae tipe B. Vaksin polisakarida murni tersedia untuk tiga macam penyakit. Dosis vaksin polisakarida yang diulang tidak menyebabkan respons peningkatan. (5) polisakarida murni. Vaksin polisakarida Vaksin polisakarida adalah vaksin sub-unit yang inactivated dengan bentuknya yang unik terdiri atas rantai panjang molekul – molekul gula yang membentuk permukaan kapsul bakteri tertentu. yaitu pneumokokus. tifoid Vi. (3) vaksin fraksional yang masuk sub-unit. rabies. maka vaksin inactivated membutuhkan dosis tambahan secara periodik. yaitu (1) vaksin hepatitis B dihasilkan dengan cara memasukkan suatu segmen gen virus hepatitis B ke dalam gen sel ragi. tetanus. misalnya difteria. Terdapat tiga jenis vaksin yang dihasilkan dengan rekayasa genetik yang saat ini telah tersedia. (2) seluruh bakteri yang inactivated. Produk ini sering disebut sebagai vaksin rekombinan. misalnya pneumokokus dan meningkokus. Titer antibodi terhadap antigen inactivated menurun setelah beberapa waktu.antigen dimasukkan dalam suntikan. Respons imun terhadap vaksin polisakarida murni adalah sel T independen khusus yang berarti bahwa vaksin ini mampu memberi stimulasi sel B tanpa bantuan sel T helper. Vaksin inactivated selalu membutuhkan dosisi multipel. Sebagai hasilnya. Pada umumnya. Respons imun protektif baru timbul setelah dosis kedua atau ketiga. sehingga vaksin ini dapat diberikan saat antibodi berada di dalam sirkulasi darah. influenza. antigen inactivated umumnya tidak dipengaruhi oleh antibodi yang beredar. misalnya influenza. pada dosis pertama tidak menghasilkan imunitas protektif. meningokokus. (6) polisakarida konjugasi. Sel ragi yang telah . misalnya pertusis. misalnya pneumokokus. meningkokus. Vaksin rekombinan Antigen vaksin dapat pula dihasilkan dengan cara teknik rekayasa genetik. tifoid. hepatitis A. Vaksin ini tidak menyebabkan penyakit (walaupun pada orang dengan defisiensi imun) dan tidak dapat mengalami mutasi menjadi bentuk patogenik. misalnya hepatitis B. tetapi hanya memacu atau menyiapkan sistem imun. Tidak seperti antigen hidup. Vaksin inactivated yang tersedia saat ini berasal dari (1) seluruh sel virus yang inactivated. (4) toksoid.

(3) Tiga dari empat virus yang berada di dalam vaksin rotavirus hidup adalah rotavirus kera rehsus yang diubah secara genetik menghasilkan antigen rotavirus manusia apabila mereka mengalami replikasi.berubah ini menghasilkan antigen permukaan hepatitis B murni. (2) vaksin tifoid (Ty21a) adalah bakteria Salmonella typhi yang secara genetik diubah sehingga tidak menyebabkan sakit. .

contoh vaksin Hepatitis B. adenovirus) dan bakteri (Salmonella). angka kematian akibat influenza mencapai 20 ribu dan morbiditasnya 200 ribu per tahun. atau menghentikan terjadinya angka kesakitan. Ternyata. sangat mengganggu produktivitas orang dewasa. sekarang berhasil dibasmi berkat imunisasi massal. Dengan imunisasi. mudah. Vaksin rekombinan. Dengan membentuk sistem imun sebelum virus atau bakteri benarbenar masuk. Ini kan. mortalitas dan morbiditas suatu pernyakit dapat berkurang. Berasal dari asam nukleat yang mengkode antigen penting. Secara garis besar terdapat beberapa jenis vaksin yang berkembang saat ini dan beserta dengan keuntungan serta kerugian dari jenis vaksin yang beredar saat ini. sehingga akan menurunkan. 2. seseorang akan memiliki kekebalan terhadap penyakit tertentu. Imunisasi adalah induksi untuk merangsang sistem imun tubuh membentuk pertahanan tubuh terhadap jenis virus atau bakteri yang akan masuk ke dalam tubuh. Pemberian imunisasi berangkat dari kejadian yang sudah lewat.Imunisasi merupakan salah satu bentuk pencegahan penyakit yang efektif. Satu atau lebih gen yang mengkode determinan penting imunitas pada mikroorganisme di insersikan ke vektor. Vektor yang biasa digunakan adalah virus (poxvirus vaccinia. yang dahulu merupakan penyakit yang sangat ditakuti. salah satu upaya pencegahan terhadapa serangan penyakit dan infeksi adalah dengan imunisasi. tubuh akan mampu membentuk sistem imun dengan cepat. 1. Awalnya dari mortalitas (angka kematian) dan morbiditas (angka kesakitan) suatu penyakit. . HIV dan Herpes simpleks. canarypox. Masih dalam penelitian dan dikembangkan untuk memproduksi vaksin influenza. menunda. Contohnya cacar. Dengan imunisasi. Vaksin DNA. serta murah.BAB III VAKSIN PADA DEWASA Pemberian imunisasi pada orang dewasa terbukti mampu mencegah serangan berbagai penyakit. Salah satu contohnya adalah penyakit influenza.

4 Untuk mempertahankan potensi perlu penyimpanan dan transportasi pada suhu 4oC atau yang sangat rendah (contoh : vaksin polio oral harus disimpan pada suhu – 20° C). 2 Mudah di produksi dan disimpan. 5 Lebih reaktogenik. Kerugian vaksin hidup : 1 Dapat menimbulkan penyakit pada orang imunkompromais yang tak terdiagnosis. 3 Menyebarluaskan imunitas herd (menimbulkan imunitas pada orang yang tidak divaksinasi). 2 Merangsang pembentukan sistem imun secara luas termasuk respon sel T dan respons mukosa IgA. 4 Toleransi lebih baik Kerugian vaksin inaktif : . Keuntungan vaksin inaktif : 1 Aman karena tak ada risiko jadi virulen. 3 Tak dapat dilakukan imunisasi pada bayi yang masih mempunyai antibodi ibu.Keuntungan Vaksin Hidup dan Inaktif Keuntungan vaksin hidup : 1 Proteksi lama setelah vaksinasi satu kali. 2 Dapat berubah menjadi virulen. 3 Dapat digunakan pada bayi tanpa interferensi dengan antibodi yang berasal dari ibu.

Hepatitis B. usia lanjut.1 Memerlukan penggunaan berulang untuk mempertahankan proteksi.. Influenza. Untuk calon haji imunisasi meningokok merupakan suatu keharusan.  Risiko pekerjaan : Hepatitis B. 3 Pada keadaan tertentu dapat menimbulkan penyakit karena imbalans respons imun. Hepatitis A. Tifoid.  Rencana bepergian : Yellow fever.  Usia lanjut : Pneumokok. 2 Rangsangan imunitas seluler dan mukosa kurang. Hepatitis A. Influenza Indikasi imunisasi pada daftar ini dibuat lebih luas karena pada imunisasi dewasa belum ada program yang dibiayai oleh pemerintah. Hemophilus influenza tipe B.  Imunokompromais : Pneumokok. risiko penularan.  Riwayat paparan : Tetanus toksoid. Japanese B encephalitis.. Influenza. Indikasi Indikasi penggunaan vaksin pada orang dewasa didasarkan kepada riwayat paparan. gaya hidup dan rencana bepergian. Rabies  Risiko penularan : Influenza. Rabies. pekerjaan. Imunisasi pada usia lanjut perlu mendapat perhatian karena data-data tentang manfaat imunisasi influenza dan pnemokok pada usia lanjut menunjukkan bahwa imunisasi ini . begitu juga imunisasi Yellow fever untuk bepergian ke Afrika Selatan.  Jemaah haji : Meningokok ACYW 135. imunokompromais. Karena itu penggunaan indikasi ini perlu mempertimbangkan keadaan individu yang akan diimunisasi. MMR. Tifoid.

layanan yang belum merata dan kurangnya dukungan pembiayaan. Jadwal imunisasi dewasa . Cakupan imunisasi dewasa Meski manfaat imunisasi dewasa nyata namun cakupan imunisasi dewasa di negara maju sekalipun masih rendah. Vaksin tetanus jika digunakan secara benar dapat mencegah tetanus 100% dan vaksin difteri 85%. Rendahnya cakupan ini disebabkan oleh kepedulian petugas kesehatan yang belum optimal. Manfaat Manfaat vaksin yang digunakan pada orang dewasa di Indonesia datanya amat terbatas. Vaksin influenza dapat menurunkan insidens influenza 70% sampai 90%.bermanfaat dan cost effective. pedoman yang beraneka ragam dan rumit. Cakupan Hepatitis B berkisar antara 1% sampai 60% (rata-rata 10%). Namun demikian dengan pemahaman yang baik mengenai manfaat imunisasi dewasa ini. Data di negara maju menunjukkan bahwa efektivitas vaksin Hepatitis B dalam mencegah penyakit 80% sampai 95%. Selain itu imunisasi pada Heptitis B perlu mendapat perhatian karena tingginya risiko penularan Hepatitis B di kalangan petugas kesehatan. Jika vaksinasi diulang maka imunitas akan timbul pada 90% nonresponder. Vaksin campak akan menimbulkan imunitas yang bertahan lama pada sekitar 95% orang yang divaksin. Vaksin gondongan akan menurunkan insidens penyakit 75% sampai 95% dan begitu pula rubella efektivitasnya hampir menyamai campak. kurangnya pemahaman mengenai manfaat. Pada kelompok usia di atas 65 tahun efektivitas vaksin ini 44% sampai 61%. Sedangkan efektivitas vaksin pnemokok 60% sampai 64%. PAPDI perlu mendorong agar kegiatan imunisasi dewasa yang dimulai oleh profesi dan masyarakat dapat menjadi program pemerintah. negara berkembang misalnya Kuba mampu menyelenggarakan imunisasi dewasa yang cakupannya cukup tinggi. Efektivitas ini menurun pada kelompok lanjut usia. Antibodi terhadap tetanus yang adekuat hanya ditemukan pada 40% orang dewasa.

dengan 2 dosis diberikan paling tidak dengan jarak 4 minggu dan dosis ketiga diberikan 6 hingga 12 bulan setelah dosis kedua. Jika orang dewasa belum pernah mendapat imunisasi tetanus dan difteri maka diberikan seri primer diikuti dosis penguat setiap 10 tahun.m .Penjelasan rekomendasi jadwal imunisasi dewasa 1.  Macam vaksin : Toksoid  Efektivitas : 90 %  Rute Suntikan i. Tetanus dan Diphteria (Td):  Seluruh orang dewasa harus mendapat vaksinasi lengkap 3 dosis seri primer dari difteri dan toksoid tetanus.

HIV juga untuk anggota rumah tangga.c 3. penghuni rumah jompo dan penghuni fasilitas-fasilitas lain dalam waktu lama (misalnya biara. Misalnya mereka yang kerja di fasilitas kesehatan dan yang sering melakukan perjalanan. Beberapa kelompok orang dewasa yang berisiko terpapar mungkin memerlukan 2 dosis yang diberikan tidak kurang dari jarak 4 minggu.  Macam vaksin : Vaksin split dan subunit  Efektivitas : 88 – 89%. Measles.  Rute Suntikan : i. Mumps. hemoglobinopati atau immunosupresi.m. Rubella: (MMR)  Orang dewasa yang lahir sebelum 1957 dianggap telah mendapat imunitas secara alamiah. perawat dan petugas-petugas kesehatan di atas.2. paru kronis. Orang dewasa yang lahir pada tahun 1957 atau sesudahnya perlu mendapat 1 dosis vaksin MMR. penyakit metabolisme (termasuk diabetes). orang muda dengan penyakit jantung. asrama dsb). .  Macam Vaksin : vaksin hidup  Efektivitas : 90-95%  Rute suntikan : s. Di Amerika Serikat dan Australia imunisasi influenza telah dijadikan program sehingga semua orang yang berumur 65 tahun atau lebih mendapat layanan imunisasi infuenza melalui program pemerintah. Influenza  Vaksinasi influenza dilakukan setiap tahun bagi orang dewasa dengan usia ³ 50 tahun. Vaksin ini juga dianjurkan untuk calon jemaah haji karena risiko paparan yang cukup tinggi. disfungsi ginjal.

penyakit paru kronis. Hepatitis A . alkoholik chirrosis. 5. Merupakan individu berisiko tinggi terjadinya infeksi pneumokok yang serius (sesuai deskripsi Advisory Comittee on Immunization Practice . diabetes melitus. atau mendapat kemoterapiimunosupresif. asplenia anatomik/fungsional. kebocoran cairan serebospinal. tetapi. usia ³ 65 tahun. Pneumokok  Vaksin polisakarida pneumokok diberikan . gejala nefrotik. Individu yang mempunyai tingkat antibodi yang cepat sekali turun  Macam vaksin : polisakarida  Efektivitas : 90 %  Rute Suntikan : i. Umur <65 th ketika divaksinasi terdahulu dan sekarang > 65 th 2. penyakit limfoma Hodgkins. 4. infeksi HIV.c. malignansi umum.m. Catatan : vaksin ini dianjurkan untuk usia ³ 50 tahun untuk individualsedangkan untuk program. atau s. leukemia. gagal ginjal kronis. mieloma berganda. revaksinasi dianjurkan jika vaksinasi sebelumnya sudah > 5 tahun dan juga:' 1. pada orang dewasa usia >65 tahun dan mereka yang berusia < 65 tahun dengan penyakit kardiovaskular kronis.ACIP) 3. Vaksinasi ulang secara rutin pada individu imunokompeten yang sebelumnya mendapat Vaksinasi Pneumo 23 valensi tidak dianjurkan.

individu yang bekerja dengan hewan primata terinfeksi Hepatitis A atau peneliti virus Hepatitis A. penerima konsentrat faktor VIII atau IX. individu etnis kepulauan pasifik atau imigran/pengungsi baru dimana endemisitas daerah asal sangat tinggi/lumayan.  Macam vaksin : Antigen virus inaktif  Efektivitas : 75-90%  Rute suntikan : i. individu heteroseksual aktif dengan pasangan berganti-ganti atau baru terkena PMS. 1 dan 6 bulan. klien dan staff dari institusi pendidikan manusia cacat. penderita penyakit hati. homoseksual/biseksual aktif. pengguna narkoba.m . individu yang berencana pergi atau tinggal di suatu tempat dimana infeksi Hepatitis B sering dijumpai. Hepatitis B  Dewasa yang berisiko terinfeksi Hepatitis B: Individu yang terpapar darah atau produk darah dalam kerjanya. pengguna obat injeksi. homoseksual.m 6. pasien hemodialisis. Berikan 3-dosis dengan jadual 0. Bila setelah imunisasi terdapat respons yang baik maka tidak perlu dilakukan pemberian imuniasasi penguat (booster). Vaksin Hepatitis A diberikan dua dosis dengan jarak 6 hingga 12 bulan pada individu berisiko terjadinya infeksi virus Hepatitis A. fasilitas penampungan korban narkoba. seperti penyaji makanan (food handlers) dan mereka yang menginginkan imunitas. rumah tangga atau kontak seksual dengan individu yang teridentifikasi positif HBsAg-nya.  Macam vaksin : antigen virus inaktif  Efektivitas : 94-100%  Rute :i. populasi yang berisiko tinggi mis: individu yang sering melakukan perjalanan atau bekerja di suatu negara yang mempunyai prevalensi tinggi Hepatitis A.

8. Meningokok  Vaksin meningokok polisakarida tetravalen (A/C/Y/W-135) wajib diberikan pada calon haji. pasien asplenia anatomik dan fungsional. Vaksinasi terdiri dari 2 dosis yang diberikan dengan jarak 4 – 8 minggu. dan residen serta staf di lingkungan institusi). Pertimbangkan vaksinasi ulang setelah 3 tahun. seperti mereka yang pekerjaannya berisiko (misalnya guru yang mengajar anak-anak.  Macam vaksin : virus hidup dilemahkan  Efektivitas : 86 % .c. Vaksin ini juga dianjurkan untuk individu defisiensi komponen.7. petugas kesehatan. Varisela  Vaksin varisela diberikan pada pada individu yang akan kontak dekat dengan pasien yang berisiko tinggi terjadinya komplikasi (misalnya petugas kesehatan dan keluarga yang kontak dengan individu imunokompromais). mahasiswa. wanita usia subur yang belum hamil. penghuni serta staf institusi penyadaran (rehabilitasi) anggota militer. dan pelancong ke negara di mana terdapat epidemi penyakit meningokok (misaln“Meningitis belt” di sub-Sahara Afrika). Pertimbangkan vaksinasi bagi mereka yang berisiko tinggi terpapar virus varisela.  Macam vaksin : Polisakarida inaktif  Efektivitas : 90%  Rute suntikan : s. dan mereka yang sering melakukan perjalanan kerja/ wisata.

wisatawan yang berkunjung ke daerah endemis. Selain vaksin di atas juga digunakan vaksin berikut pada orang dewasa. 11.m. Ulangan vaksinasi setiap 10 tahun. Rute suntikan : s.  Macam vaksin : antigen vi inaktif  Efektivitas : 50-80 %  Rute suntikan : i.  Macam vaksin : virus hidup dilemahkan  Efektivitas : tinggi  Rute suntikan : s. Pemberian vaksin Thypim vi perlu diulang setiap 3 tahun. . Yellow fever  Vaksin ini diwajibkan oleh WHO bagi wisatawan yang akan berkunjung ke Afrika Selatan. terutama jika mereka melakukan aktivitas di pedesaan. 9.c. 10.c.Japanese encephalitis  Untuk wisatawan yang akan bepergian ke daerah endemis (Asia) dan tinggal lebih daripada 30 hari atau akan tinggal lama di sana. Demam Tifoid  Dianjurkan penggunaannya pada pekerja jasa boga.

Penggantian merek vaksin .  Efektivitas : vaksin 100 %  Rute penyuntikan : IM . Sejumlah vaksin kombinasi telah dibuktikan bermanfaat dan aman diantaranya : difteri. Rabies  Bukan merupakan imunisasi rutin. Vaksin kombinasi Untuk meningkatkan cakupan dan mengurangi biaya dapat digunakan vaksin kombinasi. pekerja laboratorium ) wisatawan berkunjung kedaerah endemis yang berisiko kontak dengan hewan dan individu yang tergigit binatang tersangka rabies. mumps dan rubella). Vaksin kombinasi mempunyai imunogenisitas yang sama dengan vaksin tunggal.dianjurkan pada individu yang berisiko tingggi tertular ( dokter hewan dan petugas yang bekerja dengan hewan . tetanus.  Macam vaksin : Virus yang dilemahkan  Juga tersedia serum (Rabies Immune Globulin). MMR (Measle. Macam vaksin : virus inaktif  Efektivitas : 91 %  Rute suntikan s.c 12. SC.

c) : diberikan pada daerah anterolateral paha atau lengan dengan jarum A2225 yang panjangnya 5/8 atau ¾ inci. Namun pemberian imunoglobulin bersamaan (dalam waktu 14 hari) dengan vaksin virus hidup tertentu seperti campak. Begitu pula vaksin kolera dan yellow fever diberikan dengan jarak 3 minggu. gondongan dan varisela harus disertai pemeriksaan serokonversi untuk meyakini bahwa respons imun terhadap vaksin tersebut tetap baik. Penggunaan simultan Pada umumnya vaksin dapat digunakan secara simultan. Cara penyuntikan  Intramuskular (im): diberikan pada orang dewasa di daerah deltoid menggunakan jarum A 22-25. Namun pemberian vaksin polio oral tak boleh bersamaan dengan kolera dan yellow fever. Pemberian vaksin pada penggunaan obat kemoterapi dan steroid Setelah pemberian obat kemoterapi pemberian vaksin virus hidup ditunda 3 bulan atau sampai status imun pulih kembali.  Subkutan (s. Namun terdapat vaksin yang dapat digunakan merek yang lain sesuai dengan lisensi pengunaannya yaitu: difteri dan tetanus toksoid. Hepatitis B dan rabies. Sedangkan penderita yang menggunakan obat steroid sistemik dosis tinggi (lebih 2 mg/kg BB) selama 2 minggu atau lebih baru diberikan vaksin virus hidup setelah sebulan menghentikan steroid.Dianjurkan untuk menggunakan vaksin yang sama pada ulangan imunisasi. Vaksin yang diproduksi oleh perusahaan farmasi yang berbeda dalam komponen dan respons imunnya. Hepatitis A. Pemberian vaksin dan imunoglobulin Pemberian imunoglobulin bersamaan dengan vaksin inaktif atau toksoid tidak mempengaruhi respons imun. . vaksin polio hidup dan inaktif.

 Kontraindikasi absolut: anafilaksis terhadap komponen yang terdapat dalam vaksin. Karena jumlah antigen yang disuntikkan sedikit tehnik penyuntikan harus benar dan setelah penyuntikan terbentuk benjolan. . Imunisasi virus hidup yang secara tidak sengaja diberikan pada perempuan hamil tidak menjadi alasan untuk terminasi kehamilan karena tidak ada data mengenai hubungan imunisasi vaksin hidup dengan kelainan janin. nyeri otot dan nyeri kepala. Reaksi akan hilang dalam 48 jam dan biasanya sering terjadi pada suntikan intradermal. 2. Intradermal (i. o Untuk vaksin pertusis ensefalopati yang timbul dalam 7 hari setelah penyuntikan yang tak dapat ditetapkan sebabnya dianggap sebagai kontraindikasi absolut. rasa lemah. nyeri pada tempat suntikan.d) : diberikan pada bagian volar lengan.  Kontraindikasi sementara: perempuan yang mendapat vaksinansi MMR harus menghindari kehamilan dalam waktu sedikitnya 3 bulan dan sedangkan untuk vaksin varisela 1 bulan. Lokal Reaksi lokal berupa bengkak. o Pemberian vaksin dT untuk melengkapi seri imunisasi perlu dipertimbangkan kecuali memang terjadi anafilaksis nyata terhadap DTP. Efek samping 1.Pada umumnya pemberian vaksin dapat dilanjutkan. Ibu yang sedang menyusui diperbolehkan mendapat vaksin hidup. Sistemik Reaksi sistemik dapat berupa demam. Reaksi alergi (melalui IgE) dapat terjadi namun jarang. Reaksi ini akan menghilang dalam 48 jam.

Vaksin diberikan 3 dosis dalam 6 bulan. Juga dapat terjadi reaksi imun kompleks meski jarang. (HPV). Wanita yang mulai berhubungan seksual pada usia di bawah 20 tahun serta sering berganti pasangan seksual berisiko tinggi untuk terkena HPV. HPV merupakan sejenis virus yang menyerang manusia. tipe tersebut merupakan tipe terbanyak yang menyebabkan kanker leher rahim. Saat ini kanker leher rahim dapat dicegah dengan pemberian vaksin HPV yang dapat membantu memberikan perlindungan terhadap beberapa tipe HPV yang dapat menyebabkan masalah dan komplikasi kanker leher rahim dan penyakit kutil kelamin ( .  Vaksin tertentu dapat menimbulkan kejadian ikutan meski jarang : * Polio oral dapat menimbulkan poliomielitis paralitik. anafilaksis setelah suntikan.Reaksi ini berupa urtikaria.Cara mengatasi reaksi sistemik sesuai dengan cara pengatasan reaksi alergi pada umumnya. Vaksin HPV Kanker leher rahim merupakan kanker nomor 2 yang paling sering menyerang wanita di seluruh dunia. HPV dapat menginfeksi semua orang karena HPV dapat menyebar melalui hubungan seksual. Lebih dari 95 % dari kanker leher rahim disebabkan oleh virus yang dikenal dengan Human Papiloma Virusgenital warts). 1. 1. Infeksi HPV paling sering terjadi pada kalangan dewasa muda (18-28 tahun). angioudema. Terdapat lebih dari 120 tipe HPV dan 2 tipe diantaranya yaitu tipe 16 dan 18. Gejala awal kondisi pra-kanker umumnya ditandai dengan ditentukannya sel-sel abnormal bawah leher rahim yang dapat ditemukan melalui papsmear. * MMR dapat menimbulkan trombositopenia. Perkembangan Imunisasi dewasa di Indonesia tahun 2003 – 2008 Perhatian Khusus. Kejadian ikutan pasca imunisasi perlu dilaporkan ke Panitia Kejadian Ikutan Pasca Imuniasi.

Pegawai yang bertugas menangani makanan pasien (koki. gondongan yang diverifikasi oleh dokter. pengantar makanan. perawat. Vaksin MMR Vaksin ini juga direkomendasikan kepada setiap tenaga kesehatan kecuali memiliki bukti imunitas. Bukti imunitas adalah: 1) bukti tertulis pernah mendapatkan vaksin ini sebanyak 2 dosis. Vaksin Hepatitis A Tidak semua tenaga kesehatan direkomendasikan untuk mendapatkan vaksin ini kecuali pada mereka yang bekerja di laboratorium dengan virus hepatitis A. 2. Vaksin Varisela Vaksin ini direkomendasikan kepada setiap orang dewasa yang tidak memiliki bukti imunitas terhadap vaksin ini. dll). 4) bukti laboratorium. 2) riwayat terkena varisela yang dikonfirmasi oleh dokter. 3) riwayat varisela zoster yang diverifikasi oleh dokter 4) bukti laboratorium akan adanya imunitas atau pernah terkena. 2) pernah mendapatkan 1 dosis MMR terdokumentasi. Bukti imunitas diantaranya: 1) lahir sebelum tahun 1957.1. Vaksinasi pada tenaga kesehatan Terdapat beberapa vaksin yang direkomendasikan untuk tenaga kesehatan. 3) riwayat terkena campak. . pelayan. Vaksin Hepatitis B Vaksin ini direkomendasikan untuk tenaga kesehatan yang berhubungan/terpapar terhadap darah atau cairan tubuh pasien (dokter. pegawai laboratorium. yaitu: Vaksinasi influenza Vaksin ini direkomendasikan kepada setiap tenaga kesehatan yang berhubungan dengan pasien dengan tujuan mengurangi angka kesakitan dan mencegah penularan kepada pasien. bagian dapur. dll) dipertimbangkan untuk divaksinasi.

petugas kesehatan diharapkan juga dapat menjalani imunisasi dengan vaksin yang lain. Sejak umur 50 tahun. Vaksin ini bermanfaat untuk mencegah penularan Herpes Zoster. Vaksinasi pada usia lanjut Imunisasi yang dianjurkan pada usia lanjut adalah imunisasi influenza dan pnumokok. Namun jika ada kemudahan.Berhubungan dengan faktor biaya. 4. maka diantara berbagai vaksin tersebut yang diutamakan adalah vaksin Hepatitis B. Untuk penderita usia lanjut vaksin ini juga bermanfaat untuk mengurangi nyeri pasca infeksi herpes Zoster. Namun. Vaksin ini masih dalam tahap registrasi di Indonesia sampai naskah buku ini dibuat. Vaksin ini cukup diberikan 5 tahun sekali. Karena itu untuk imunisasi yang dibiayai sendiri oleh masyarakat imunisasi influenza dianjurkan dimulai. Jadwal Imunisasi Dewasa menurut CDC Amerika tahun 2007 . Sedangkan bagi pasien yang berpenyakit kronik pemberian vaksin ini dianjurkan meski usia di bawah 50 tahun (lihat indikasi imunisasi influenza) Selain influenza juga direkomendasikan imunisasi penumokok. Imunisasi influenza diberikan setiap tahun. Imuniasi influenza telah menjadi program di berbagai negara dan pada umumnya imunisasi ini diberikan sebagai program pada kelompok umur di atas 65 tahun. 3. 1. disadari bahwa pemberian imuniasi pada usia di atas 65 tahun sebenarnya terlambat karena banyak orang dengan usia yang lebih muda sebenarnya akan mendapat manfaat perlindungan vaksin ini. Karena itu imunisasi Herpes Zoster diutamakan untuk kelompok usia lanjut. 1. Imunisasi influenza dianjurkan pada kelompok umur di atas 50 tahun. Vaksin Herpes Zooster Di luar negeri telah tersedia vaksin Herpes Zoster.

Namun imunisasi HPV masih bermanfaat . atau indikasi lain) 3 Beberapa perubahan yang terlihat dibandingkan rekomendasi oleh PAPDI tahun 2003 adalah:  Perbedaan pembagian kelompok usia.  Penambahan jadwal vaksin untuk Human Papilloma Virus (HPV).Keterangan: 1 Direkomendasikan untuk setiap orang yang memenuhi kriteria usia dan tidak terdapat bukti imunitas (tidak tercatat/terdokumentasi atau tidak pernah mendapatkan infeksi sebelumnya) 2 Direkomendasikan jika faktor risiko lain ditemukan (yang berkaitan dengan risiko medis. gaya hidup. di mana pada jadwal tahun 2008 hanya dikelompokkan menjadi 3 grup. Manfaat imunisasi HPV nyata pada pasien yang belum pernah melakukan hubungan seksual dan dalam kelompok umur pada usia dibawah 26 tahun. pekerjaan.

BAB IV TRAVEL VACCINATION 4. jenis pekerjaan dan kemungkinan risiko kesehatan. Efektifitas imunisasi sebagai upaya pencegahan penyakit menular selama perjalanan tidak terlepas dari apakah pernah mengalami efek samping imunisasi sebelumnya. pemberian vaksin secara bersamaan lebih dianjurkan daripada diberikan dengan interval yang pendek. Vaksin inaktif tidak akan mempengaruhi dampak vaksin inaktif lainnya atau vaksin hidup. dan dukungan finansial. perlu tidaknya profilaksis tertentu. serta epidemiologi penyakit infeksi di daerah tujuan. Jadwal dan prosedur vaksin Apabila imunisasi rutin belum terpenuhi.1. maka perlu disusun jadwal baru yang disederhanakan untuk mengejar waktu. Penting diperhatikan. sehingga dapat mempercepat waktu pemberian. Faktor – faktor yang perlu dipertimbangkan Faktor – faktor yang perlu dipertimbangkan sebelum mendapat imunisasi adalah riwayat imunisasi dasar dan riwayat imunisasi lainnya. 4. Untuk dua vaksin hidup dapat diberikan bersamaan. Alternatif lain adalah pemberian vaksin secara kombinasi. kondisi kebersihan lingkungan dan kontak dengan penduduk setempat.2. apakah telah memahami jadwal imunisasi dan waktu yang tersedia sebelum berangkat.pada kelompok umur 27 sampai 55 tahun (meski manfaatnya tidak sebesar mereka yang belum melakukan hubungan seksual atau usia < 26 tahun)  Penambahan jadwal vaksinasi Zoster yang diutamakan pada kelompok usia lanjut. sehingga dapat diberikan bersamaan atau kapan saja diperlukan tanpa mengingat respons . lama tinggal di daerah tujuan. kondisi medik yang sedang diderita. jadwal keberangkatan dan daerah tujuan (destinasi). kemungkinan hamil pada wanita. namun apabila akan dipisahkan interval terbaik adalah empat minggu.

apabila tersedia.W. DTP/Hib/IPV atau HepB/HepA. atau dipisah dengan interval empat minggu. Vaksin kombinasi antara lain DTP/HepB.Y135 > 11 tahun 1 dosis 3 tahun Polisakarida konjugasi A.5.Y135 > 2 tahun 1 dosis 3 tahun Vaksin inaktif 2 tahun 2 dosis interval 6 – 12 bulan >10 tahun Polisakarida suntikan > 2 tahun 1 dosis Setiap 3 tahun Vaksin oral Ty2Ia > 3 tahun 1 dosis Setiap 3 tahun Vaksin inaktif oral > 2 tahun Purified verocell Semua yang Tifoid Kolera Rabies 2 dosis > 2 tahun interval 7-42 hari Pre exposure : 3 dosis hari 0-7-28 5 tahun . DTP/Hib.3. 4. Daftar vaksin travel medicine Tabel 3.W. Sebagian besar vaksin hidup dapat diberikan bersamaan. Untuk imunisasi rutin lebih baik diberikan secara kombinasi.C.C. Vaksin diberikan secara kombinasi mempunyai keamanan yang sama dengan apabila diberikan secara terpisah. Daftar vaksin travel medicine Jenis Yellow Fever Meningkokokus Hep A Untuk Live attenuated 17D > 9 bulan viral strain vaccine Dosis ICV 2 dosis pada 0 & 618 bulan (tergantung jenis vaksin) 10 tahun Polisakarida A.imun.

Japanese Ensefalitis (JE) vaccine berisiko kontak dgn hewan rabies hari Vaksin inaktif SA 14-14-2 > 1 tahun 1 dosis .

. kecuali untuk smallpox vaccine pada keadaan tertentu. 5. wanita yang merencanakan kehamilan dianjurkan untuk menjalani empat jenis vaksinasi. Akan tetapi keduanya tidak jelas menimbulkan infeksi. Suntikan MMR diberikan dengan syarat harus menunda kehamilan selama minimal tiga bulan. Wanita menyusui Hampir semua vaksin virus hidup yang dilemahkan ternyata tidak dieksreskikan ke ASI kecuali rubella. untuk mencegah tetanus neonatorum pada bayinya nanti. DI Amerika. Sementara itu peranan T H2 (imunitas humoral) meningkat.BAB V IMUNISASI PADA KEADAAN KHUSUS 5. Vaksinasi hepatitis B di Amerika diberikan juga pada wanita hamil yang memiliki faktor risiko tertentu. Sementara itu. Vaksinasi TT disyaratkan bagi wanita yang akan menikah di Kantor Urusan Agama. meskipun secara teoritis vaksin HPV. dan HPV. yaitu MMR. tetanus toxoid. dalam rangka memberikan respons antibodi yang optimal untuk mengatasi infeksi selama kehamilan. MMR yang merupakan vaksin hidup diberikan bila belum pernah ada riwayat vaksinasi MMR. dan mungkin varicella. dimana peranan T H1 (imunitas seluler) menurun. seperti halnya vaksin hepatitis B. Hal ini merupakan upaya untuk mencegah penolakan janin yang dianggap asing oleh sistem imun ibu. vaksin HPV saat ini belum dianjurkan untuk wanita hamil. Wanita hamil Wanita hamil memperlihatkan pergeseran sistem imun. bukan merupakan kontra indikasi.1. laktasi tidak merupakan kontra indikasi untuk vaksinasi. hepatitis B. Di Indonesia.2.

5. Pasien yang menjalani hemodialisis berisiko tinggi terinfeksi berbagai jenis patogen. terutama yang sel TCD4+ nya lebih dari 200 sel/mm3 seharusnya mendapat perlindungan dari infeksi lain. meningokok. tifoid. Orang dengan HIV.3. Influenza. Vaksinasi yang dianjurkan adalah terhadap infeksi Pneumokokus. Pasien yang mendapat imunosupresan. Oleh karena itu. maupun fungsional karena anemia sickle cell. radiasi. MMR. dan pertusis. . Mereka membutuhkan vaksinasi untuk mencegah infeksi tersebut. influenza. Oleh karena itu. Tetanus-Difteria booster diberikan bila belum memperolehnya dalam 10 tahun terakhir.5. varicella. mereka direkomendasikan untuk mendapat vaksinasi hepatitis B. atau paling sedikit satu bulan setelah selesai tindakan. sebaiknya mereka divaksinasi untuk mencegah kemungkinan terinfeksi oleh pneumococcus atau hepatitis B. atau radiasikemoterapi dan mereka yang terinfeksi HIV. dan Haemophilus influenzae tipe B. Tenaga kesehatan Para praktisi kesehatan sering mengalami kontak langsung dengan agen infeksius lewat pasien atau cairan tubuhnya. baik anatomikal setelah pengangkatan limpa atau kongenital asplenia. memiliki risiko tinggi terinfeksi oleh bakteri berkapsul polisakarida seperti Streptococus pneumoniae. sungguh – sungguh dipertimbangkan untuk memberikan live-virus vaccines.4. hepatitis A. Di samping itu. TBC. dan Hepatitis B. Keadaan imunokompromais Beberapa kondisi yang termasuk ke dalam keadaan imunokompromais adalah asplenia. Neisseria meningitidis. atau kemoterapi juga perlu divaksinasi. Akan tetapi pemberian vaksin sebaiknya sebelum dimulai tindakan. Pada pasien asplenia. pengguna imunosupresan. Akan tetapi. penyakit ginjal kronik dan yang menjalani hemodialisis.

dan environment (lingkungan yang menyokong terjadinya penyakit). Apabila salah satu komponen dominan atau lemah. tanpa harus mengalami sakit terlebih dahulu. Dalam upaya pencegahan. 1.BAB IV KESIMPULAN Seseorang dapat menderita penyakit infeksi sebagai akibat dari interaksi antara host (pejamu) yaitu orang yang diserang penyakit.2 . maka infeksi tersebut akan terjadi. Melalui imunisasi dapat diupayakan mempertinggi kekebalan pejamu terhadap penyebab penyakit tertentu sehingga dapat melawan mikroorganisme penyebab penyakit. kita dapat mengendalikan faktor pejamu. agent (mikroorganisme penyebab penyakit).

Hickson MA. Betts R. Monroe Country. Hinman AR. 3 Update on adult immunization: recommendations of the immunization Practices Advisory Committee (ACIP).V. 2nd ed. O’brien D. Gerontology 1993. Sydney Australia.74:35-45 2 Gardner P. Cooper D. Freundlich C.29:1252-8.108:616-25 7 Barker W. Bulletin of the World Health Organization. Economic impact of influenza. eds.41(RR-9) 10 Odelin MF. Philadelphia: American College of Physicians. Role of influenza vaccination in the elderly during an epidemic of A/H1N1 virus in 1988-89: clinical and serological data. 1992:143-51 8 Schoenbaum Sc. Jolly-million J. Summary of an international workshop on typhoid fever. N Engl J Med 1993. C. Spika JS. In: Elsevier Publishers B. Raubertas R. New York 1989-1992. Immunization of adults. In : Desforges JF. Immunization policies and vaccine coverage among adults: the risk for missed opportunities. Partriarca P. XVII International Congress of Allergology and Clinical Immunology. Options for the control of influenza II.8(3):329-49 . Challenges for vaccination (Symposium). Defayolle M. Guide for adult immunization. Current concepts. MMWR Morb Mortal Wkly Rep 1991. Menegus M. Case control study of influenza vaccine effectiveness in preventing pneumonia hospitalization among older oersons. MMWR Morb Mortal Wkly Rep 1992.39:109-16 11 Edelman R. 1996. Schaffner W. editor. Foulds J. Am J Med 1987.82:26-30 9 Prevention and control of influenza: recommendations of the immunization Practices Advisory Committee (ACIP).DAFTAR PUSTAKA 1 Bart KJ. Hannoun et al. Britton W. Frazer I. Levine MM. Kendal AP.40(RR-12) 4 Good M. Kane MA. Global eradication of poliomyelitis: benefit-cost analysis. Infectious Diseases Society of America.1990 6 Williams WW. 15-20 Oktober 2000 5 American College of Physicians Task Force on Adult Immunization. Aymard M. Rev Infect Dis 1986. Ann Intern Med 1988. Pozetto B.

2006.11:673-7 23 Centers for Disease Control and Prevention. increasing role of foreign travel. 184-205. 1993-1997.317(18):1101-4 14 Johnson AG. MMWR 2000. Prevention of Cervical Cancer : Chalenges and Perspectives of HPV Prophylactic Vaccines. MMWR 1999. DeKalb and Fulton countries. Strikas R. 1988. Factors inhibiting use of the pneumococcal polysaccharide vaccine: a survey of Connecticut physicians.27:767-72 21 Metersky ML. Monsonigo J (ed). National Adult Immunization Awareness Week. Conn Med 1998. Markson LJ. and tetanus toxoid vaccination og adults-United States.37:657-61 19 CDC.RR-8) 20 Noe CA. Adult Immunization: knowledge. 1975-1984. Hauge M. MMWR 1988.48(No. Mennone JZ. Dalam : Joseph Monsonegoro. A Wolters Kluwer Company.htm 24 HPV. Factors associated with influenza and pneumococcal vaccination behavior among high-risk adults. Hargrett-Bean NT.43:771-3 17 CDC. MMWR 1994. France . Prevention of typhoid fever in Nepal with the Vi capsular polysaccharide of Salmonella typhi. MacDonald R.62:649-54 22 Nichol KL. and practices.11(1):1-8 13 Acharya IL. N Engl J Med 1987. Rev Infect Dis 1989. Emerging Issues on HPV Infections. Thapa R et al.38:708-10 18 CDC. Influenza. Implementation of the Medicare influenza vaccination benefit. Blake PA. Walker FJ. From Science to Practice. Greby SM. Lowe CU. adolescents. attitudes.cdc. Wooten KG. High-Yield Immunology. October 2007 [cited 2008 Sept 20]. Recommended Adult Immunization Schedule [online]. Available from: URL:http://www.13:64-8 15 Singleton JA. pneumococcal. pp. Editor Joseph Monsonego. MMWR 1989. Vaccine-preventable diseases: improving vaccination coverage in children. and adults: a report on recommendations of the Task Force on Community Preventive Services.39-62 16 CDC. J Gen Intern Med 1996.gov/vaccines/recs/schedules/adult-schedule. Georgia. Prev Med 1998. Fine JM. Karger.49(SS09). Salmonella typhi infections in the United States. Pneumococcal vaccination: preceptions of primary care physicians. Philadelphia 1999.12 Ryan CA.