Anda di halaman 1dari 7

I.

PRINSIP-PRINSIP DASAR PENGENDALIAN KOROSI
Korosi merupakan proses kerusakan ataupun penurunan sifat material (logam)
oleh reaksi elekrokimia karena berinteraksi dengan lingkungan. Pada kebanyakan
situasi praktis, serangsn korosi ini tidak dapat dicegah, dan upaya yang dapat
dilakukan adalah pengendalian sehingga struktur ataupun komponen mempnyai
masa pakai lebih panjang. Pengendalian korosi bertujuan mengatur laju korosi,
sehingga perkembangannya tetap berada dalam rentang tertentu atau dapat
untuk meramalkan batas umur suatu struktur.
Setiap komponen mengalami tiga tahapan utama yaitu perancangan, pembuatan
dan penggunaannya. Dalam setiap tahapan tersebut, perlakuan pengendalian
korosi merupakan suatu hal yang penting. Kegagalan salah satu dari aspekaspek pengendalian korosi ini dapat menyababkan struktur mengalami
kerusakan/kegagalan yang prematur.

Proteksi terhadap korosi atau lebih tepat disebut pengendalian terhadap korosi
dapat digolongkan menjadi empat golongan besar yaitu :
A. Pengendalian korosi dengan
B. Pengendalian korosi dengan
C. Pengendalian korosi dengan
logam/media korosif.
D. Pengendalain korosi dengan

mengubah jenis logam dan desain.
mengubah media korosif.
cara mengubah potensial (tegangan) antara
pelapisan permukaan.

Keempat cara pengendalian tersebut diatas bertujuan untuk menghambat laju
korosi sehingga dapat diharapkan umur logamnya menjadi lebih lama,
penghematan pemakaian bahan, yang pada gilirannya akan menurunkan biayabiaya operasi yang disebabkan oleh masalah-masalah korosi.
A. Pengendalian Korosi dengan Mengubah Jenis Logam dan Desain.
Daya tahan bahan metalik terhadap korosi seringkali dapat ditingkatkan dengan
cara mengubah komposisi logam, struktur mikronya atau dengan mengubah
kondisi tegangan dan permukaannya. Peningkatan daya tahan korosi dengan
pemaduan (alloying) dapat bersifat :
1. Passivatif, misalnya penambahan Cr (11%), Ni dan Mo dalam baja tahan
karat dan dalam baja tahan asam.
2. Katodik, mendorong proses pasifasi misalnya penambahan unsur-unsur
Cu, Ag, Pd atau Pt dalam baja tahan asam; Ni dalam aluminium.
3. Penetral, misalnya Ti, Nb dan ta sebagai pembentuk karbida dalam
austenitic stainless steel; ce, Ti dan Cu untuk menetralkan unsur S dalam
baja; demikian pula Mg dan Mn untuk menetralkan Fe dan Si dalam
aluminium.
4. Pembentuk oksida, misalnya Cr, Al dan Si dalam baja tahan panas; Al, Be
dan Mg dalam tembaga untuk meningkatkan daya tahan terhadap korosi.

dapat memperbaiki daya tahan korosinya. Pengendalian Korosi dengan Mengubah Media Korosif. Dalam medesain suatu konstruksi atau mesin sejak awal harus sudah dipikirkan langkah-langkah untuk menanggulangi masalah-masalah korosi. Prinsip-prinsip desain yang berkaitan dengan masalah korosi adalah : a. Perhitungkan adanya perubahan dimensi karena korosi. Oleh karenanya didalam mendesain suatu konstruksi memerlukan langkah sebagai berikut : 1. c.5. Inhibiting. d. Langkah-langkah pengendalian korosi dengan mengubah media korosifnya dapat dilakukan dengan berbagai cara : . 2. Hati-hati dengan joints dan juction. carbon dalam stainless steel. Melaksanakan pekerjaan desain dengan seksama. Beri petunjuk tentang masalah fabrikasi dan pemeliharaan. Perhatikan kemungkinan terjadinya korosi galvanik. Hindari redsidual moisture. misalnya As atau Sb dalam kuningan (brass)untuk mencegah pengawa-seng-an (dezincification). e. misalnya acid pickling merupakan cara yang efisien untuk memperbaiki daya tahan korosi baja karbon dan baja tahan karat. Surface treatment seperti polishing menempati tempat penting dalam memperbaiki daya tahan korosi logam pasifatif seperti stainless steel atau logam-logam prup Pt. Sebaliknya tegangan tekan pada permukaan logam merupakan keadaan yang menunjang daya tahan bahan terhadap stress corrosion dan corrosion fatique. B. Demikian pula stress reliefing annealing dilakukan untuk menghilangkan tegangan tarik sehingga kemungkinan terjadinya stress corrosion cracking atau hydrogen cracking dapat dikurangi. Memilih bahan-bahan konstruksi dan surface teratment yang tepat atau metoda proteksi lainnya. juga Fe. Penyederhanaan bentuk. Perubahan truktur mikro dengan cara perlakuan panas dengan tujuan melarutkan fasa-fasa sekunder (senyawa intermetalik atau karbida) yang diikuti proses pendinginan cepat. Proses pemurnian seperti pengurangan sulfur dalam berbagai jenis baja. Si dan cu dalam aluminium dapat memperbaiki daya tahan korosi. b. f. karena konstruksi atau mesin tersebut berada dalam lingkungan yang korosif. 3. Contoh lain. Harus dapat memenuhi persyaratan-persyaratan dasar. g. Perhitungkan adanya perubahan dimensi karena pelapisan protektif.

Peniadaan partikel-partikel debu dalam air atau udara dengan cara filtrasi. Proteksi katodik dapat dibagi menjadi : a. C. proteksi korosi dapat dibagi menjadi : 1. Elektrolytic cathodic protection : cara ini menggunakan objek yang mengalami korosi sebagai katoda sel elektrokimia yang arusnya disuplai dari sumber arus searah luar (impressed) current. Kalau tegangan elektrodanya digeser kearah negative sampai dibawah harga tegangan kesetimbangan korosinya. 6.1.Al). Anodanya yang terdiri dari logam Mg. Proteksi anodik Dari kedua cara tersebut diantara proteksi katodiklah yang merupakan cara yang lebih penting. tetapi dapat pula berupa logam yang dapat larut (Fe. Anoda tambahannya biasanya terdiri dari logam yang tidak larut (Pt. Menghilangkan asam dalam air dengan cara netralisasi. Menghilangkan O2 dalam air dengan cara evakuasi. Prinsip bekerjanya dapat dijelaskan dengan menggunakan diagram tegangan (E) – pH. Karena masalah korosi logam dalam lingkungan basah melibatkan proses elektrokimia maka penanggulangannya pun harus secara elektrokimia. 2. benda yang terkorosi berfungsi sebagai katoda dari suatu sel elektrokimia. 1. maka benda tersebut tidak akan terkorosi. baja galvanis)  Sebagai pelat anoda terdispersi dengan atau tanpa pengutaran arus b. Pengendalian korosi secara elektrokimia dilakukan dengan cara mengubah tegangan elektrodanya agar korosi dapat dicegah atau paling tidak mengurangi pelarutan logam. . Zn atau Al berfungsi sebagai anoda korban yang dapat dilakukan :  Sebagai pelapis pada logam dasarnya (mis. Proteksi katodik dan 2. 3. Proteksi katodik Pada proteksi katodik. Tergantung apakah tegangan elektrodanya digeser kearah positif atau negatif. C dan Ni). Menghilangkan garam-garam dalam air dengan pertukaran ion. 4. Pengendalian Korosi dengan Cara Mengubah Potensial Logam/Media Korosif. Galvanic protection : dalam hal ini benda yang terkorosi dipasang sebagai katoda pada suatu sel galvanic. Penghilangan air dalam udara dengan cara peng-awa-lembaban (dehumidification). 5. Pb. Penurunan kelembaban misbi udara sekeliling dengan menaikkan temperatur.

seperti dalam larutan khlorida. Ti. Proteksi anodic dapat pula dibagi menjadi dua sub kategori yaitu : 1. Al dan Zn atau paduan dari logam-logam tersebut atau dengan Ca. Galvanic anodic protection : dalam hal ini logam-logam mulia (Pt. Dalam lingkunagn yang mengandung larutan klorida material standar yang dipakai sebagai anoda adalah grafit. sedang dalam larutan sulfat paduan timbale dengan antimony dan atau perak.Untuk proteksi baja bahan anoda yang dipakai adalah Mg. Pengendalian Korosi dengan cara Pelapisan Permukaan (surface coating) Langkah awal sebelum dilakukan protective coating macam apapun adalah preatment untuk membersihkan permukaan logam dari kotoran-kotoran seperti grease dan garam-garam. Untuk proteksi tembaga dapat dipakai karbon sebagai anoda karbonnya. Kemudian tegangan elektrodanya digeser kearah positif sehingga untuk logam-logam tertentu akan terjadi pasifasi kimiawi. lapisan oksida seperti mill scale dan karat. Memilih insoluble anode untuk electrolytic cathodic protection adalah hal yang tidak mudah. karena tidak ada bahan yang sama sekali tidak larut bila dipasang sebagai anoda dalam sel elektrolisa. Ag. Zr) Electrolitic anodic protection : disini digunakan arus searah dari luar yang disuplai melalui katoda tambahan dan tegangan potensial objek yang akan dilindungi (anoda) diatur dengan bantuan potentiostat. Jadi baja 18/8 dapat dilindungi secara anodic dalam larutan yang mengandung 30 % H2SO4 dan 1 % NaCl. Ta. D. Oleh karena itu cara ini pada prinsipnya hanya cocok untuk logam yang menunjukkan pasifasi kimiawi. Cu) dipakai sebagai unsure-unsur pemandu atau sebagai surlace coating pada logam-logam pasifasi (stainless steel. Selain itu komposisi dari larutan korosifnya harus mendukung terjadinya pasifasi. Proteksi Anodik Pada proteksi anodik objek yang akan dilindungi dipasang sebagai anoda dari suatu sel galvanic atau biasanya sel elektrolitik. . Jadi proteksi anodic tidak dapat dipakai dalam lingkungan yang mengandung konsentrasi anion dalam jumlah besar. Ion-ion sulfat dalam konsentrasi tinggi dapat menggantikan ion-ion khlorida pada permukaan logam. Operasi preatment biasanya dilakukuan dalam dua tahap : Tahap pertama untuk menghilangkan bahan-bahan organic dan tahapan lainnya untuk menghilangkan bahan-bahan anorganik dan juga untuk mendapatkan surface finish tertentu. 2. Untuk kebanyakan logam hal ini justru akan menyebabkan terjadinya korosi. Pd. 2.

c. Pelapisan permukaan metalik (metallic surface coating). Metode fisik : dalam cara ini pelapisan logam dilakukan pada temperature tinggi. Cara kimia : cara ini melibatkan pemakaian lelehan atau uap logam dengan komposisi tertentu. Cr). Permukaan baja karbon dapat juga dilapisi dengan s/s steel dengan cara pengelasan. scraping. membentuk paduan permukaan oleh proses difusi. Misalnya proses hot dipping. pneumatic blasting.Proses degresing meliputi : a. induction heating c. Zn) atau pengecetan menggunakan cat yang mengandung serbuk seng atau aluminium. Pada temperature rendah metalisasi dapat dilakukan dengan cara : . organic degreasing alkaline degreasing emulsion cleaning steam degreasing Tahap selanjutnya dapat dilakukan dengan cara : a. b. atau proses tumblingdalam serbuk logam yang digunakan sebagai bahan pelapis. mechanical plating. d. penyemprotan logam cair (Al. centrifugal blasting. yaitu pencelupan logam dalam cairan logam Zn. Metode mekanis : contohnya. Tergolong juga dalam kategori ini adalah proses sherardizing (pelapisan baja dengan Zn) dan proses calorizing (pelapisan baja dengan Al)/. tumbling.cleaning. Logam pelapisan dapat diendapkan menurut reaksi sebagai berikut :  Pertukaran : A + BCl B + ACl2  Reduksi kimia : BCl2 + H2 B + 2HCl  Desosiasi thermal : BCl2 B + Cl2 Dengan A = benda yang teroksidasi B = logam pelapis/pelindung Dalam contoh tersebut diatas logam B akan membentuk paduan dengan logam A yang terlapisi. mekanis : antara lain hammering. misalnya khlorida dari logam perlindungannya (mis. Sn atau Al. Pelapisan permukaan metalik dapat dilakukan dengan 3 cara yakni : a. b. Kimia : pickling 1. Termal : flame. Pb. c. polishing. b.

Yang tergolong dalam kategori pertama. . Pelindung organic seperti cat dan laquer adalah bahan yang terpenting sebagai pencegah korosi dan barangkali menghabiskan biaya hamper separuh dari total biaya penanggulangan korosi. yang mempunyai inhibitive action. a. dengan membentuk lapisan zinc dan manganese phosphate pada permukaan logam. Phosphating baja dan logam-logam non ferro. blac oxidation of steel dan proses-proses anodizing. Reduksi kimia. Ion chromat mempunyai sifat inhibitive baik dalam larutan netral dan basa (alkali). Chromating adalah proses yang serupa dengan phosphating dan acap kali digunakan untuk passivating treatment setelah phosphating. c. oksigen dan bahan korosif lainnya masuk kedalam primer. Bahan pelindung organic dapat pula mengadung bahanbahan polimer dan anti – corrosive primers.l. Cat anti karat biasanya terdiri dari primer dan TOPCOAT. Sementasi yaitu reduksi logam yang lebih noble dari senyawa garamnya oleh logam yang kurang noble sebagai logam dasar. Electro deposition (electroplating) b. misalnya pelapisan perak dengan menurunkan nitrat perak dan formaldehyde. 2.a. air mendidih dan uap dan juga berfungsi zat pelarut organic dan bahkan sampai temperature 6000C. atau dikenal dengan nama meni (red lead). Anti – corrosive primer yang tertiua dan yang sampai kini masih digunakan. khususnya untuk baja adalah Pb3O4. misalnya. Lapisan pelindung yang mempunyai inhibitive action adalah. Inorganik atau non-metalik coating Inorganic coating dapat berfungsi hanya sebagai lapisan pelindung atau berfungsi juga sebagai inhibitor. atau chemical nikel plating oleh reduksi dengan hypophosphate. adalah vitreous enamel. dan asam (kecuali asam hydrofluor). contoh lain. yang fungsinya adalah melindungi primernya dengan cara mengurangi laju transfer uap air. Bahan ini dapat tahan terhadap alkali (yang tidak terlalu kuat). Contoh pigmen lainnya yang dipakai sebagai anti – corrosive inhibitor adalah chromat .