Anda di halaman 1dari 8

1.

Sistem

1.1.

Gambaran Umum Sistem1

Salah satu jenis tanaman pangan yang sudah lama dikenal dan di budidayakan
oleh petani di seluruh wilayah nusantara adalah ubi kayu. Potensi nilai ekonomi
dan sosial ubi kayu merupakan bahan pangan masa depan yang sangkil (berdaya
guna), bahan baku berbagai industri dan pakan ternak. Ubi kayu atau ketela pohon
atau cassava sudah lama di kenal dan di tanam oleh penduduk di dunia.
Permasalahan umum pada pertanaman ubi kayu adalah produktivitas dan
pendapatan yang rendah. Rendahnya produktivitas disebabkan oleh belum
diterapkannya teknologi budidaya ubi kayu dengan benar seperti belum dilakukan
pemupukan baik pupuk an-organik maupun organik (pupuk kandang). Data
statistik menunjukkan terjadi penurunan luas areal ubi kayu sebesar 10,81% pada
tahun 2004 dan 5,08% pada tahun 2005. Dengan berkurangnya luas areal tanaman
ubi kayu dan meningkatnya kebutuhan bahan baku ubi kayu untuk industri
makanan dan bio-etanol sementara produktivitas ubi kayu masih rendah, maka
solusi yang tepat adalah peningkatan produktivitas per satuan luas. Kerena itu
penggunaan sistem tanam dobel row diharapkan akan menjadi salah satu alternatif
untuk mengatasi kekurangan bahan baku ubi kayu di masa mendatang.
4.1.2. Block Diagram System
Block Diagram pada sistem persediaan ubi kayu di Indonesia dapat dilihat
pada gambar 1.1.

1http://jurnal.umsu.ac.id/index.php/agrium/article/viewFile/343/310 diakses 24
Juli 2016

Block Diagram Sistem Persediaan Ubi Kayu di Indonesia .Gambar 1.

Produktivitas Ubi Kayu Jumlah ubi kayu yang dapat dihasilkan. 8. Kelahiran Angka kelahiran penduduk di Indonesia. 4. 5. Hama Hama yang terdapat pada lahan ubi kayu. 3. Jumlah Penduduk Tingkat konsumsi ubi kayu penduduk. 9.2. 7. Konsumsi Nasional Jumlah konsumsi ubi kayu langsung di Indonesia. 12. Tingkat Konsumsi Rumah Tangga Jumlah pemakaian ubi kayu pada industry rumah tangga. Jika terdapat hubungan antara dua variabel. .1. Kematian Angka kematian penduduk di Indonesia. misal antara variabel X dan variabel Y. Variabel Variabel merupakan konsep yang mempunyai bermacam-macam nilai. 6. Persediaan Ubi Kayu Jumlah ubi kayu yang tersedia di Indonesia. Yang merupakan komponen pada sistem persediaan ubi kayu di Indonesia adalah : 1. 11. maka variabel Y dinamakan variabel terikat (dependent) dan variabel X adalah variabel bebas (independent). Impor Ubi Kayu Jumlah ubi kayu yang di impor dari negara lain. 2. Pakan Jumlah ubi kayu yang dipakai sebagai pakan 14. Industri Makanan Ubi kayu digunakan untuk makanan. 15. maka jika variabel Y disebabkan oleh variabel X. Ekspor Ubi Kayu Jumlah ubi kayu yang di ekspor dari negara lain. Luas Panen Ubi Kayu Luas area ubi kayu yang dipanen. Jumlah Ubi Kayu Jumlah seluruh ubi kayu yang berasal dari produksi dan impor 13. Permintaan Ubi Kayu Jumlah permintaan ubi kayu di Indonesia 4. Komponen Komponen adalah entitas dari sistem yang mempunyai hubungan antara yang satu dengan yang lainnya. 10.

6.3. Konsumsi Nasional Jumlah konsumsi ubi kayu langsung di Indonesia.Variabel yang bergantung terhadap variabel lainnya dinamakan variabel terikat (dependent). 8. Kelahiran Angka kelahiran penduduk di Indonesia. 5. Produktivitas Ubi Kayu Jumlah ubi kayu yang dapat dihasilkan. 7. 4.4. Impor Ubi Kayu Jumlah ubi kayu yang di impor dari negara lain. Tingkat Konsumsi Rumah Tangga Jumlah pemakaian ubi kayu pada industry rumah tangga. 10. Ekspor Ubi Kayu Jumlah ubi kayu yang di ekspor dari negara lain. Jumlah Ubi Kayu Jumlah seluruh ubi kayu yang berasal dari produksi dan impor 2. Luas Panen Ubi Kayu Luas area ubi kayu yang dipanen. 3. Pakan Jumlah ubi kayu yang dipakai sebagai pakan 9. 2. Jumlah Penduduk Tingkat konsumsi ubi kayu penduduk 3. Kematian Angka kematian penduduk di Indonesia. Hama Hama yang terdapat pada lahan ubi kayu. Industri Makanan Ubi kayu digunakan untuk makanan. Variabel Dependent (Terikat) Variabel terikat dalam sistem persediaan ubi kayu adalah persediaan ubi kayu 4. Varibale Mix (Ganda) Variabel ganda dalam causal loop sistem persediaan tomat adalah : 1. 4.2. . 4. Variabel Independent (Bebas) Variabel bebas dalam causal loop sistem persediaan ubi kayu adalah : 1.

6. Artinya semakin banyak impor ubi kayu maka jumlah ubi kayu semakin banyak pula. 4. Ekspor memiliki hubungan similiar terhadap permintaan ubi kayu. 5. Logical coclusion yang terdapat pada pemodelan persediaan susu sapi perah adalah sebagai berikut: 1. 8. Luas panen ubi kayu memiliki hubungan similar terhadap jumlah ubi kayu. 2. Impor ubi kayu memiliki hubungan similar terhadap jumlah ubi kayu.5. Industri makanan memiliki hubungan similar terhadap permintaan ubi kayu. Artinya semakin banyak pakan maka permintaan ubi kayu semakin banyak pula. 7. jalan pikiran yang selalu berdasarkan pada suatu yang masuk akal) dalam mengambil kesimpulan untuk menentukan hubungan dua komponen dalam causal yang terbentuk. Artinya semakin banyak jumlah ubi kayu maka persediaan ubi kayu semakin banyak pula. Jumlah ubi kayu memiliki hubungan similar terhadap persediaan ubi kayu. Pakan memiliki hubungan similar terhadap permintaan ubi kayu. Artinya semakin banyak ekspor maka permintaan ubi kayu akan semakin banyak pula. Hama memiliki hubungan opposite terhadap jumlah ubi kayu.4. Artinya semakin banyak produktivitas ubi kayu maka jumlah ubi kayu semakin banyak pula. Permintaan ubi kayu memiliki hubungan opposite terhadap persediaan ubi kayu. Logical Conclusion Logical conclusion adalah kelogisan (berkenaan dengan kaidah berpikir. Permintaan Ubi Kayu Jumlah permintaan ubi kayu di Indonesia 4. Artinya semakin sedikit hama maka jumlah ubi kayu semakin banyak. . Artinya semakin banyak luas panen ubi kayu maka jumlah ubi kayu semakin banyak pula. Artinya semakin banyak industri makanan maka permintaan ubi kayu semakin banyak pula. Produktivitas ubi kayu memiliki hubungan similar terhadap jumlah ubi kayu. Artinya semakin banyak permintaan ubi kayu maka persediaan ubi kayu semakin sedikit. 9. 3.

Artinya semakin banyak kelahiran maka jumlah penduduk semakin banyak pula. Artinya semakin banyak permintaan ubi kayu maka konsumsi nasional semakin banyak pula. Kematian memiliki hubungan opposite terhadap jumlah penduduk. 11.10. 4. Causal Loop Causal loop yang diperoleh adalah sebagai berikut: Gambar 2.6. Causal Loop Persediaan Ubi Kayu di Indonesia . Tingkat konsumsi rumah tangga betina memiliki hubungan similar terhadap konsumsi nasional. Artinya semakin banyak tingkat konsumsi rumah tangga maka konsumsi nasional semakin banyak pula. 12. Kelahiran memiliki hubungan similar terhadap jumlah penduduk. 14. Artinya semakin banyak jumlah penduduk maka konsumsi nasional semakin banyak pula. Artinya semakin banyak kematian maka jumlah penduduk semakin sedikit. 13. Konsumsi nasional memiliki hubungan similar terhadap permintaan ubi kayu. Jumlah penduduk memiliki hubungan similar terhadap konsumsi nasional.

Gambar 5. Tampilan Main Model Sistem Persediaan Ubi Kayu di Indonesia .103.