Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam realitas sosial ekonomi masyarakat sering ditemukan kondisi masyarakat yang
memiliki harta dalam bentuk selain uang tunai dan pada saat yang sama, yang bersangkutan
mengalami kesulitan likuiditas sehingga membutuhkan dana dalam bentuk tunai. Pilihan
transaksi yang sering digunakan oleh masyarakat yang menghadapi masalah ini adalah
menggadaikan barang-barang yang berharga. Istilah gadai barang nampaknya sudah sangat
akrab di masyarakat kita, terutama kalangan masyarakat yang membutuhkan dana tunai saat
kondisi likuiditasnya kurang baik. Karena masyarakat yang membutuhkan dana tunai dengan
model gadai permintaannya cenderung besar, pegadaian sebagai lembaga yang merespon
kebutuhan masyarakat pun akhirnya dapat eksis dan berkembang pesat. Pegadaian lahir dari
interaksi permintaan dan penawaran terhadap dana tunai dalam waktu yang cepat dengan
barang berharga sebagai jaminannya. Selama ini, bisnis pegadaian relatif tumbuh dan
berkembang, baik yang dilaksanakan oleh swasta maupun pemerintah.
Namun akhir-akhir ini masih ada kesan dalam masyarakat, kalau seseorang pergi ke
pegadaian untuk menjamin sejumlah uang dengan cara menggadaikan barang adalah aib dan
seolah kehidupan orang tersebut sudah sangat menderita. Karena itu banyak diantara
masyarakat yang malu menggunakan fasilitas pengadaian. Lain halnya jika kita pergi ke
sebuah Bank, di sana akan terlihat lebih prestisius, walaupun dalam prosesnya memerlukan
waktu yang relatif lebih lama dengan persyaratan yang cukup rumit.
Bersamaan dengan berdirinya dan berkembangnya bank, BMT (Baitul Maal wa Tamwil),
dan asuransi yang berdasarkan prinsip syariah di Indonesia, maka hal yang mengilhami
dibentuknya pegadaian syariah atau rahn lebih dikenal sebagai produk yang ditawarkan oleh
Bank syariah, dimana Bank menawarkan kepada masyarakat dalam bentuk penjaminan
barang guna mendapatkan pembiayaan.
Oleh karena itu dibentuklah lembaga keuangan yang mandiri yang berdasarkan prinsip
syariah. Adapun dalam makalah ini akan dijelaskan secara lengkap mengenai pegadaian
syariah mulai dari pengertian, dasar hukum, rukun, perbedaan dan persamaan gadai syariah
dengan gadai konvensional dan lain-lain.

Pegadaian syariah pertama kali berdiri di Jakarta dengan nama Unit Layanan Gadai Syariah (ULGS) cabang Dewi Sartika pada bulan Januari 2003. Banyak pihak berpendapat bahwa operasionalisasi Pegadaian pra Fatwa MUI tanggal 16 Desember 2003 tentang Bunga Bank. gadai diistilahkan dengan rahn dan juga dapat dinamai alhabsu (Pasaribu. Berkat Rahmat Allah SWT dan setelah melalui kajian panjang. Dari beberapa pengertian rahn tersebut. hingga orang yang bersangkutan boleh mengambil utang. ia menjadikan barang miliknya baik berupa barang tak bergerak atau berupa barang bergerak berada dalam penguasaan pemberi pinjaman sampai penerima pinjaman melunasi hutangnya. arti rahn adalah tetap dan lama. Sedangkan menurut Sabiq (1987). sedangkan alhasbu berarti penahanan terhadap suatu barang dengan hak sehingga dapat dijadikan sebagai pembayaran dari barang tersebut (Syafi’i. akhirnya disusunlah suatu konsep pendirian unit Layanan Gadai Syariah sebagai langkah awal pembentukan divisi khusus yang menangani kegiatan usaha syariah. Secara etimologis.1996). misi ini tidak berubah hingga terbitnya PP103/2000 yang dijadikan sebagai landasan kegiatan usaha Perum Pegadaian sampai sekarang. B. Makasar. dapat disimpulkan bahwa rahn merupakan suatu akad utang piutang dengan menjadikan barang yang mempunyai nilai harta menurut pandangan syara’ sebagai jaminan. hingga orang yang bersangkutan boleh mengambil hutang atau ia bisa mengambil sebagian (manfaat) barang itu. 2000). telah sesuai dengan konsep syariah meskipun harus diakui belakangan bahwa terdapat beberapa aspek yang menepis anggapan itu. Surakarta dan Yogyakarta pada tahun yanng sama hingga September 2003. Pengertian ini didasarkan pada praktek bahwa apabila sesesorang ingin berhutang kepada orang lain. Semarang. satu hal yang perlu dicermati bahwa PP10 menegaskan misi yang harus diemban oleh Pegadaian untuk mencegah praktik riba.BAB II POKOK PEMBAHASAN A. Menyusul kemudian pendirian ULGS di Surabaya. Pengertian Pegadaian Syariah Dalam istilah bahasa Arab. Sejarah Berdirinya Pegadaian Syariah di Indonesia Terbitnya PP/10 tanggal 1 April 1990 dapat dikatakan menjadi tonggak awal kebangkitan Pegadaian. rahn adalah menjadikan barang yang mempunyai nilai harta menurut pandangan syara’ sebagai jaminan hutang. . empat kantor cabang pegadaian di Aceh menjadi pegadaian syariah. Masih pada tahun yang sama pula.

w. Al.(HR Jamaah. Bagi yang menggunakan kendaraan dan memerah susu wajib menyediakan biaya perawatan dan pemeliharaan “.”(Qs. Ijma’ Mengenai dalil ijma’ ummat Islam sepakat (ijma’) bahwa secara garis besar akad rahn (gadai / penjaminan utang) diperbolehkan. maka hendaklah ada barang tanggungan yang dipegang (oleh yang berpiutang). ... kecuali muslim dan An-Nasai).. As.C.‫ضاورإقن بكقنبتقم ضعضل ى ضسضفرر ضاوضلقم ضترجبداوا ضكنارتببنا ضفررضهناةن ضمقببضوضضةة‬ “Jika kamu dalam perjalanan (dan bermuamalah tidak secara tunai) sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis. D.. pernah membeli makanan dengan berutang dari seorang Yahudi.) Selain dari hadis tersebut. 3. Orang yang bertransaksi (Akid ) Syarat yang harus dipenuhi bagi orang yang akan melakukan transaksi gadai yaitu rahin (pemberi gadai) dan murtahin (penerima gadai) adalah orang yang telah dewasa. Dasar Hukum Gadai (Rahn) Gadai hukumnya jaiz (boleh) menurut al-Kitab ..Sunnah “Sesungguhnya Rasulullah s.”(Hadis Nabi riwayat alBukhari dan Muslim dari ‘Aisyah r.. Pemberi gadai boleh memanfaatkan barang gadai secara penuh sepanjang tidak mengakibatkan berkurangnya nilai barang gadai tersebut.Sunah. 2.Qur’an Ayat Al-Qur’an yang dapat dijadikan sebagai dasar hukum perjanjian gadai adalah Qs.. Ijab qabul (sigha ) Ijab qabul ini dapat dilakukan dengan lisan ataupun tulisan. Nabi Bersabda yaitu: “ Tunggangan (kendaraan) yang digadaikan boleh dinaiki dengan menanggung biayanya dan binatang ternak yang digadaikan dapat diperah susunya dengan menanggung biayanya.. as.a. berakal serta dalam melakukan gadai merupakan keinginan sendiri. dan Nabi menggadaikan sebuah baju besi kepadanya. dan ijma’ (Sabiq.. diantaranya yaitu: 1. Albaqarah :283) 2. asalkan didalamnya terkandung maksud adanya perjanjian gadai diantara para pihak yang akan melakukan perjanjian. AlBaqarah 283 : .a. 1996) 1. Rukun dan Syarat Gadai (Rahn) Dalam perjanjian gadai akan sah apabila memenuhi rukun serta syarat sahnya gadai..

e) Harus dimiliki oleh rahin (peminjam atau penggadai) setidaknya harus seizin pemiliknya. barang merupakan milik penggadai. harta yang tetap ataupun yang dapat dipindahkan. 4. kepemilikan jelas.3. sedangkan biaya dan pemeliharaan penyimpanan tetap menjadi kewajiban rahin Besar biaya administrasi dan penyimpanan marhun tidak boleh ditentukan berdasarkan jumlah pinjaman Penjualan marhun: a) Apabila jatuh tempo murtahin harus memperingatkan rahin untuk segera melunasi hutangnya b) Apabila rahin tetap tidak melunasi hutangnya maka marhun tetap dijual paksa atau dieksekusi c) Hasil penjualan marhun digunakan untuk melunasi hutang.pada prisip marhun tidak boleh dimanfaatkan oleh murtahin kecuali seizin rahin dengan tidak mengurangi nilai marhun dan pemanfaatannya sekedar pengganti biaya pemeliharaan perawatannya Pemeliharaan dan penyimpanan marhun pada dasarnya menjadi kewajibanrahin namun dapat dilakukan juga oleh murtahin. biaya pemeliharaan dan penyimpanan yang belum dibayar serta biaya penjualan d) Kelbihan hasil penjualan menjadi milik rahin dan kekurangannya menjadi kewajiban rahin. Adanya barang yang digadaikan (Marhun) Barang yang akan digadaikan harus memenuhi syarat diantaranya yaitu dapat diserah terimakan. Utang (Marhun bih) Syarat dari utang ini yaitu harus jelas yang diketahui oleh rahinmaupun murtahin. antara lain: a) Harus diperjual belikan b) Harus berupa harta yang bernilai c) Marhun harus bisa dimanfaatkan secara syariah d) Harus diketahui keadaan fisiknya. 5. tidak bersatu dengan orang lain. E. merupakan barang yang bermanfaat. 2. 3. serta barang tersebut dikuasai oleh penggadai. . 1. maka piutang tidak sah untuk digadaikan harus berupa brang yang diterima secera langsung. 4. utang harus lazim pada waktu akad serta dapat dimanfaatkan. Ketentuan Umum Gadai (Rahn) Murtahin (penerima barang) mempunyai hak untuk menahan barang sampai semua utang rahin (yang menyerakan barang) dilunasi Marhun dan manfaatnya tetap menjadi milik rahin. Secara umum barang gadai harus memenuhi beberapa syarat.

G. sedangkan barang jaminan yang dapat dijaminkan untuk akad ini adalah barang-barang yang dapat dimanfaatkan atau tidak dapat dimanfaatkan oleh rahin atau murtahin. Aspek Legalitas Sesuai dengan Peraturan Pemerintah No 10 Tahun 1990 tentang berdirinya lembaga gadai yang berubah dari bentuk perusahaan jawatan menjadi perusahaan umum pegadaian pasal 3 ayat (1a). Adapun aspek-aspek pendirian pegadaian syariah tersebut antara lain : 1. Kemudian misi dari perum pegadaian disebutkan dalam pasal 5 ayat 2b.F. Permodalan diperoleh dengan sistim bagi hasil seperti pengumpulan dana dari beberapa orang (musyarakah) atau dengan mencari sumber dana (shahibul maal). Menyebutkan bahwa perum pegadaian adalah badan usaha tunggal yang diberi wewenang untuk menyalurkan uang pinjaman atas dasar hukum gadai. karena selain untuk dipinjamkan ke nasabah juga untuk investasi untuk penyimpanan barang gadai. Akad Perjanjian Gadai (Rahn) Akad Al-Qardhul Hasan Akad ini dilakukan pada kasus nasabah yang ingin menggadaikan barangnya untuk kebutuhan konsumtif. rahin tersebut menginginkan modal kerja berupa pembelian barang. Aspek Pendirian Pegadaian Syariah Dalam mewujudkan sebuah pegadaian yang ideal dibutuhkan beberapa aspek pegadaian. 3. Aspek Sumber Daya Manusia . riba. 2. murtahin akan memberikan barang yang sesuai denga keinginan rahin atau rahin akan memberikan mark up kepada murtahin sesuai dengan kesepakatan pada saat akad berlangsung sampai bats waktu yang telah ditentukan. Dengan demikian. sampai modal yang dipinjam terlunasi Akad Bai Al-Muqayadah Akad ini dapat dilakukan jika rahin yang menginginkan menggadaikan barangnya untuk keperluan produkif. seperti bank atau perorangan untuk mengelola perusahaan gadai syariah (mudharabah) 3. pinjaman tidak wajar lainnya. artinya dalam menggadaikan. Aspek Permodalan Modal yang dibutuhkan cukup besar. 1. yaitu pencegahan praktek ijon. Dengan demikian nasabah (rahin)akan memberikan biaya upah atau fee kepada pegadaian atau murtahin yang telah menjaga atau merawat barang gadai (marhun) Akad Al-Mudharabah Akad dilakukan untuk nasabah yang menggadaikan jaminannya untuk menambah modal usaha (pembiyaan investasi dan modal kerja) dengan demikian rahin akan memberikan bagi hasil berdasarkan keuntungan kepadamurtahin sesuai kesepakatan. 2.

5. SDM pegadaian syariah harus memahami filosofi gadai dan sistem operasionalisasi gadai syariah. Seperti halnya pegadaian konvensional. nasabah cukup dengan menyerahkan sejumlah uang dan surat bukti rahn saja denggan waktu proses yang jauh singkat. pegadaian syariah juga menyalurkan uang pinjaman dengan jaminan barang bergerak. Aspek Pengawasan Yaitu harus diawasi dengan Dewan Pengawas Syariah agar operasionalisasi gadai syariah sesuai dengan prinsip-prinsip syariah. Landasan akad yang digunakan dalam operasional perusahaan dalam pegadaian syariah adalah rahn. Sebagai lembaga yang relatif belum banyak dikenal masyarakat. H. Oleh karena itu gadai syariah merupakan representasi dari suatu masyarakat dimana gadai itu berada. menangani masalah-masalah yang dihadapi nasabah yang berhubungan penggunaan uang gadai. SDM selain mampu menangani masalah taksiran barang gadai. Hal ini guna memperteguh guna keberadaannya sebagai lembaga yang terdiri untuk memberikan kemashlahatan bagi masyarakat. pegadaian syariah perlu mensosialisasikan posisinya sebagai lembaga yang berbeda dengan gadai konvensional. implementasi akad rahn dalam lembaga pegadaian adalah sebagai berikut : . Aspek Sistem dan Prosedur Sistem dan prosedur gadai syariah harus sesuai dengan prinsip-prinsip syariah dimana keberadaannya menekankan akan pentingnya gadai syariah. Begitupun untuk melunasi pinjaman. masyarakat harus menunjukkan bukti identitas diri dan barang bergerak seperti jaminan. Operasional Pegadaian Syariah Implementasi operasi pegadaian syariah hampir sama dengan pegadaian konvensional. Aspek Kelembagaan Sifat kelembagaan mempengaruhi keefektifan sebuah perusahaan gadai dapat bertahan. juga berperan aktif dalam siar Islam dimana pegadaian itu berada. penentuan instrumen pembagian rugi laba atau jual beli. Adapun secara teknis. maka sistem dan prosedural gadai syariah berlaku fleksibel asals sesuai dengan prinsip gadai syariah. Berlakunya rahn adalah bersifat mengikuti (tabi’iyah) terhadap akad tertentu yang dijalankan secara tidak tunai (dayn) sebagai jaminan untuk mendapatkan kepercayaan. Prosedur untuk memperoleh gadai syariah sangat sederhana yaitu. 6.4. lalu uang pinjaman dapat diperoleh dalam waktu yang tidak relatif lama (kurang lebih 15 menit).

Apabbila pada saat jatuh tempo belum dapat mengembalikan uang pinjaman. 5. Nasabah menjaminkan barang (marhun) kepada pegadaian syariah untuk mendapatkan pembiayaan. Apabila nasabah tidak dapatmengembalikan uang pinjaman dan tidak memperpanjang akad gadai. pembebanan biaya jasa simpanan dan biaya administrasi. Nasabah menembus barang yang digadaikan setelah jatuh tempo. 2. Kemudian pegadaian menaksir barang jaminan tersebutuntuk dijadikan dasar dalam memberikan pembiayaan. 3. 4. Jatuh tempo pengembalian yaitu 120 hari (4 bulan). Pegadaian (murtahin) mengembalikan kepada pemiliknya (nasabah). Pegadaian syariah memberikann pembiayaan atau jasa yang dibutuhkan nasabah sesuai kesepakatan. demikian seterusnya. dapat diperpanjang 1 (satu)kali masa jatuh tempo.maka pegadaiandapat melakukan kegiatan pelelangan dengan menjual barang tersebut untuk melunasi pinjaman. Akad ini meliputi jumlah pinjaman.Skema Gadai (Rahn) : Tahap-tahap Transaksi Nasabah Pegadaian Syariah : 1. Pegadaian syariah dan nasabah menyepakati akad gadai. harta benda yang digadai (marhun) .

yaitu berupa penyerahan barang gadai oleh nasabah (rahin) untuk mendapatkan pinjaman yang jumlahnya ditentukan oleh nilai barang yang digadaikan. 6. sehingga lebih dipercaya masyarakat Perbedaan Pegadaian Syariah dengan Pegadaian Konvensional : No Pengadaian Syariah 1. 4. yaitu tempat penjualan emas yang menawarkan keunggulan kualitas dan keaslian. 3. Penaksiran nilai barang . Pengadaian Konvensional Biaya administrasi berupa prensentase yang didasarkan pada golongan barang 1 hari dihitung 5 hari 1 hari dihitung 15 Jasa simpanan berdasarkan simpanan Sewa modal berdasarkan uang pinjaman Apabila pinjaman tidak dilunasi. Pemberian pembiayaan atas dasar hukum gadai syariah (rahn). di pegadaian syariah sekarang ini telah dikenal beberapa jasa pelayanan yang ditawarkan kepada masyarakat. barang jaminan akan dijuak kepadamasyarakat jaminan dilelang kepada masyarakat Jasa simpanan dihitung dengan Sewa modal dihitung dengan presentase x konstanta x taksiran uang jaminan Maksimal jangka waktu 3 bulan Maksimal jangka waktu 4 bulan . Biaya administrasi berdasarkan barang 2. 5. 3.Pemaparan diatas merupakan ilustrasi cara kerja pegadaian syarian secara umum. Jasa ini diberikan karena biasanya lembaga pegadaian mempunyai alat penaksir yang keakuratannya dapat dihandalkan. Usaha ini dapat di jalankan karena pegadaian syariah menyediakan tempat atau gudang penyimpanan yang memadai. yaitu : 1. Pegadaian syariah juga menyelenggarakan jasa penyewaan (ijarah) tempat penitipan barang untuk alasan keamanan. 2. 4. Dengan mendasarkan pada prinsip tersebut. yaitu bahwa pegadaian syariah memberikan jasa penaksiran atas nilai suatu barang yang dilakukan oleh calon nasabah (rahin). Gerai Emas (Gold Counter). Emas yang dijual di gerai ini di lengakapi sertifikat jaminan. barang Apabila pinjaman tidak dilunasi.

Persyaratan yang sederhana dan memudahkan konsumen 3.7. oleh nasabah. nasabah cukup dengan menyerahkan sejumlah uang dan surat bukti rahn saja denggan waktu proses yang jauh singkat. tetapi menjadi pemilik tetapi diserahkan kepada lembaga ZIS pegadaian (Badan Amil Zakat) BAB III PENUTUP A. Pihak pegadaian tidak mempermasalahkan peruntukan dana yang dipinjamakan digunakan untuk apa dan juga adanya sanksi yang relatif ringan Selain dapat menguntungkan pihak nasabah. perusahaan pegadaian juga memperoleh keuntungan yaitu: 1. maka dengan cara menggadaikan barang-barang sebagai jaminan dari pinjaman uang yang diajukan pada pegadaian diharapkan mampu untuk mengurangi beban dan kesulitan dalam memperoleh uang tunai. yaitu pada hari yang sama karena prosedur yang sederhana 2. Penghasilan yang bersumber dari sewa modal yang dibayarkan oleh peminjam dana . Lembaga Pegadaian Syariah dibentuk untuk kemudahan dalam mengatasi masalah yang ada pada masyarakat yang sedang membutuhkan uang dengan segera tetapi mempunyai kendala tertentu. Prosedur untuk memperoleh gadai syariah sangat sederhana yaitu. Terdapat berbagai keuntungan yang didapat dari lembaga pegadaian yang dibandingkan dengan lembaga keuangan bank dan nonbank lainnya. Waktu yang relatif singkat untuk memperoleh uang. Begitupun untuk melunasi pinjaman. yaitu: 1. Pegadaian syariah pertama kali berdiri di Jakarta dengan nama Unit Layanan Gadai Syariah (ULGS) cabang Dewi Sartika pada bulan Januari 2003 Adapun perbedaan dan persamaan pegadaian syariah dengan pegadaian konvensional yaitu pegadaian syariah juga menyalurkan uang pinjaman dengan jaminan barang bergerak. Kesimpulan Rahn merupakan suatu akad utang piutang dengan menjadikan barang yang mempunyai nilai harta menurut pandangan syara’ sebagai jaminan. Kelebihan uang hasil dari penjualan Kelebihan uang hasil lelang tidak diambil barang tidak diambil oleh nasabah. lalu uang pinjaman dapat diperoleh dalam waktu yang tidak relatif lama (kurang lebih 15 menit). masyarakat harus menunjukkan bukti identitas diri dan barang bergerak seperti jaminan. hingga orang yang bersangkutan boleh mengambil utang.

Penghasilan yang bersumber dari ongkos yang dibayarkan oleh nasabah memperoleh produk gadai syariah dapat mendapat keuntungan dari pembebanan biaya administrasi dan biaya sewa tempat penyimpanan emas 3. (2) cadangan umum 20%. Berdasarkan PP No. 10 tahun 1990. laba yang diberoleh digunakan untuk: (1) dana pembangunan semesta 55%. (3) cadangan tujuan 5%.2. Pelaksanaan misi perum pegadaian sebagai BUMN yang bergerak di bidang pembiayaan berupa pemberuan bantun kepada masyarakat yangmemerlukan dana dengan prosedur yang relaitf sederhana 4. . (4) dana sosial.

Diperoleh dari : https://www. Pegadaian Syariah dan Pegadaian Konvensional. Zainuddin.DAFTAR PUSTAKA Ali.academia.Hukum Gadai Syariah.html#ixzz2FWCooKwv . 2008 Supriyadi.com/2011/06/pegadaian-syariah-danpegadaian. Jakarta: Sinar Grafika.blogspot. Diperoleh dari : http://bukanisapanjempol. Ahmad (2010).edu/3391211/STRUKTUR_HUKUM_PEGADAIAN_SYARIAH_DA LAM_PERSPEKTIF_HUKUM_ISLAM_DAN_HUKUM_POSITIF Muh Hadi Abdul Aziz (2011). Struktur Hukum Pegadaian Syariah Dalam Perspektif Hukum Islam dan Hukum Positif.