Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN TUTORIAL

MODUL 2
MASALAH KESEHATAN DALAM KELUARGA
GIZI BURUK

OLEH :
KELOMPOK IX
ALFON DWI DUDUNG M.

10542045913

ANDI MUTIA MUTMAINNAH

10542046513

FITRIANTI C

10542048313

GINA REVANA DWI APRILIA

10542048613

MUH. TISAR SYAFWAN

10542049813

NURUL FITRI

10542051313

NURUL HILDAYANTI ILYAS

10542051413

RAHMAWATI

10542052113

SAMSUL RAHMAT

10542053213

PEMBIMBING : dr. Salsa Anggaraeni, M.kes

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR
2016

dan lingkungannya dilandasi keterampilan dan keilmuan yang mapan. mengutamakan pencegahan. serta mengatasi keterbatasan akibat penyakit. jenis penyakit. golongan usia. mencegah timbulnya penyakit. komunitas.2 Salah satu keadaan yang harus ditangani oleh dokter keluarga adalah gizi buruk yaitu keadaan gizi anak yang ditandai dengan satu atau lebih tanda berikut. mencegah timbulnya cacat. kontinyu. edema minimal pada kedua punggung kaki. terdapat juga keadaan balita yang disebut BGM . Dokter keluarga sebagai penyelenggara pelayanan primer.BAB 1 PENDAHULUAN A. segera membuat diagnosis dan mengobati penyakit yang ditemukan. BB/PB atau BB/TB < -3 SD dan atau LiLa < 11. harus bekerja keras agar dapat menyelesaikan semua jenis masalah kesehatan yang diderita pesiennya tanpa memandang jenis kelamin.5 cm (untuk anak usia 6-59 bulan). dan status sosialnya. Selain gizi buruk.1 Dalam tatanan Sistem Kesehatan Nasional dokter keluarga menempati ranah pelayanan primer sedangkan dokter spesialis menempati ranah pelayanan sekunder. yaitu sangat kurus. sistem organ. koordinatif. mempertimbangkan keluarga. Dokter keluarga terutama bertugas meningkatkan taraf kesehatan pasien. Latar Belakang Dokter keluarga adalah dokter praktek umum yang menyelenggarakan pelayanan primer yang komprehensif.

. jumlah balita yang menderita gizi buruk di Indonesia adalah 363 balita dengan jumlah penderita di Sulawesi Selatan sebanyak 132 balita.4 Faktor-faktor lain penyebab gizi buruk adalah penyakit menular. Kemiskinan membuat orang tidak sanggup memberikan asupan gizi yang cukup terhadap bayi sehingga bayi tersebut mengalami kekurangan gizi.8% dan 5. dan pola asuh. perilaku merokok. Berdasarkan indikator BB/TB prevalensi anak balita yang kurus dan sangat kurus sebesar 6.6 Data dari Direktorat Bina Gizi.(Bawah Garis Merah) yaitu berat badan balita hasil penimbangan yang dititikkan dalam KMS berada di bawah garis merah. menikah usia muda.5 Riskesdas tahun 2013 menyatakan prevalensi berat-kurang pada anak balita di Indonesia menurut indikator BB/U adalah 19. Interaksi antara lingkungan dan faktor sosial seperti pendidikan. lingkungan. dan marasmus mayoritas dialami keluarga miskin.6 % terdiri dari 5. pekerjaan. Kementerian Kesehatan RI tahun 2014. dan cakupan pelayanan kesehatan yang belum optimal juga menyebabkan masalah gizi menjadi kronis.9% gizi kurang.3 Fenomena gizi buruk.7% gizi buruk dan 13. akses terhadap layanan kesehatan. busung lapar. Masalah gizi juga dipengaruhi oleh pola asuh dan pemahaman gizi orang tua.3%. dimana terdapat 11 balita penderita gizi buruk di Kota Makassar.

Riwayat persalinan normal pada tanggal 2 November 2014 di Kota Makassar. BAB II ANALISA KASUS A. dengan bantuan dukun . berusia 2 tahun datang dengan diagnosis gizi buruk.Dengan adanya pelayanan dokter keluarga yang melibatkan dokter keluarga sebagai penyaring di tingkat primer sebagai bagian suatu jaringan pelayanan kesehatan terpadu diharapkan dapat menangani masalah gizi kurang dan gizi buruk pada anak balita sehingga dapat menurunkan angka kejadiannya. Kasus Seorang anak laki-laki bernama Afandi. Berdasarkan berat badan dan tinggi badan terakhir yaitu masing-masing 6 kg dan 80 cm. Kelurahan X beranak.

B. Riwayat imunisasi : lengkap Riwayat persalinan : Normal Bayi lahir dengan BBLR dan KMK Tidak mendapat ASI sejak usia 4 bulan Pemeriksaan Fisik : . pilek.Ibu : SD  Pekerjaan Orang tua: .Ayah : Rp. Nama Umur Jenis Pekerjaan Kesehatan 1 fandi 2 tahun Kelamin Laki-Laki - Gizi Buruk 1. batuk. susah tidur.TB : 80 cm .      rewel. Fokus Anak (Pasien)  Keluhan Utama : Berat badan tidak pernah naik  Keluhan lain : Demam 3 hari yang lalu. .Ibu :  Pengetahuan ibu tentang penyakit anak tidak ada.000..  Hygene kurang baik.Ayah : 30 tahun .Ayah : SMP .Ibu : 28 tahun  Pendidikan Keluarga: .Ayah : Pemulung . Fokus Keluarga  Usia Orang tua : .Ibu : IRT  Jumlah Anak : 5  Pendapatan keluarga . nafsu makan menurun.BB : 6 kg .30.  Keluarga tidak memiliki jaminan kesehatan nasional (JKN).  Aktifitas fisik orang tua : baik. muntah. Identitas pasien : No. mual.375 2.IMT : 9.

Fokus Masyarakat  Lingkungan sekitar rumah : Pemukiman padat penduduk  Sanitasi air yang buruk  Anak dilingkungan sekitar ada yang menderita gizi buruk. Genogram Keterangan : D. C.3. Family Cycle .

1 . 8. 3 . 6 . Siklus keh-kel ( duvall ) . E. Kelua rga 2 . 5 . 7 . 4 .

Dgn anak-anak yg meninggalkan keluarga 7. Family struktur Menurut Sussman. Kepala Pasangan Kakak Kakak Kakak Kakak Adik . kel dgn ank usia prasekolah 4. Org tua usia menengah 8. bentuk keluarga ini ialah traditional family yaitu keluarga yang pembentukannya sesuai atau tidak melanggar norma-norma kehidupan masyarakat yang secara tradisional dihormati bersama. Dgn anak usia sekolah 5. kel dgn usia remaja 6. bentuk keluarga ini adalah keluarga inti yang terdiri dari suami. Dgn bayi 3. Awal Perkawinan 2. istri. kel. serta anak-anak kandung.1 2 3 8 4 5 7 6 1. keluarga usia jompo F. kel. Kel. Menurut Goldenberg.

Nama Umur Jenis keluarga Gaga 30 Tahun Laki- (istri) Karin 28 Tahun Perempua Amora 7 tahun Perempuan Tisar 6 tahun Laki-laki Rahel 5 tahun perempua Amat 4 tahun Laki-laki Fandi 2 tahun Laki-laki Kelamin Agama Bangsa/Suk Laki Islam Makassa n Islam Makassar Islam Makassar Islam Makassa n Islam Makassar Islam Makassa Islam Makassar u Pekerjaan r Tukang Ibu Rumah Siswa r Siswa Belum r Belum Belum Becak Tangga sekolah sekolah Sekolah Pendidikan SD (IRT) SD - - - - - terakhir Hubungan Ayah Ibu Saudara Saudara kandung Fandi Saudara kandung Fandi Saudara kandung Fandi Penderita keluarga kandung Fandi G. Apgar keluarga No Komponen Pernyataan Penilaian Gizi Buruk . Family circle Gaga karin Fandi Amat Amora Rahel Tisar H.

membagi kesenangan terhadap sesuatu dengan saya Pertumbuhan Saya menemukan bahwa keluarga saya menerima keinginan saya untuk bertumbuh dan berkembang atau melakukan perubahan pada diri saya Kasih saying Saya puas dengan cara keluarga saya menyatakan kasih sayang kepada saya dan cara keluarga merespon perasaan (kegembiraan. dan kemarahan) saya kebersamaan Saya merasa puas dengan jumlah waktu yang kami habiskan bersama-sama dengan keluarga Selalu (2) Kadangkadang (1) Hampir tidak pernah (0) √ √ √ √ √ Hasil Penilaian dari Apgar keluarga adalah 6. .kesedihan. jadi masuk dalam kategori keluarga kurang sehat.Penilaian 1 2 3 4 5 Adaptasi Saya puas dengan bantuan yang diberikan oleh keluarga saya jika saya berada dalam kesulitan? Kemitraan Saya puas dengan cara-cara yang dilakukan oleh keluarga saya dalam memberikan atau menyelesaikan masalahmasalah.

I.37 pemfis:susah tidur Lingkunga kerja : tidak ada ada Lingkungan fisik: ventilasi dalam rumah kurang. Mandala Of Health Gaya hidup FAMILY Kurang Perilaku kesehatan : Lingkungan. IMT : 9. banyak barang bekas disembarang Faktor biologi: padat Dan kumuh. . Pelayanan kesehatan : jarak rumah dengan puskesmas Pemfis:kesadaran baik(apati). sanitasi tempat. muntah. batuk.kehidupan sosial malas pergi berobat baik.jarak kamar mandi Komunitas : Pemukiman air buruk. demam 3 hari yang lalu. mual. Pasien menderita Gizi buruk. anak dilingkungan tidak ada dengan kamar mandi dengan sekitar juga ada yang mengalami gizi buruk ruang utama 2 m. nafsu makan menurun. rendah. pilek.psiko sosio hygiene keluarga dan ekonomi: pendapatan lingkungan kurang.

No 1 2 3. 30. DIAGNOSIS HOLISTIK Upaya Penyelesaian         Mencari penghasilan tambahan dengan memanfaatkan waktu luang Motivasi untuk menabung Menggunakan uang sesuai kebutuhan Edukasi mengenai perilaku bersih dan sehat Edukasi untuk rajin memeriksakan kesehatan anak karena komplikasi gizi buruk Memperbaiki ventilasi Membuang barang yang tidak terpakai Membersihkan rumah secara rutin - -   Mengadakan kerja bakti minimal 1 kali seminggu PHBS . 5. Lingkungan kerja :  tidak ada ada 7. Komunitas  Pemukiman padat dan kumuh  Sanitasi air yang buruk  Anak sekitar juga ada yang mengalami gizi buruk J. Masalah Fungsi Biologis  Tidak ada Fungsi Ekonomi dan Pemenuhan Kebutuhan  Pendapatan keluarga yang masih rendah ( kurang lebih Rp.000 / hari. kadang-kadang tidak menentu)  Pendapatan dalam 1 hari tidak cukup untuk membeli sembako  Keluarga tidak memiliki tabungan Faktor Perilaku Kesehatan Keluarga  Higiene keluarga “anak” dan lingkungan kurang  Malas pergi berobat karena tidak memiliki kartu JKN Lingkungan Rumah  Rumah yang berukuran 5x5 m. 4. dan ventilasi di dalam rumah kurang  Banyak barang bekas di sembarang tempat  Jarak kamar mandi dengan ruang utama yaitu 2 m Pelayanan kesehatan :  jarak rumah dengan puskesmas dekat 6.

.rewel.Demam sejak 3 hari yang lalu. Aspek Derajat Fungsional  Kualitas hidup pasien bergantung dari perawatan dan tindakan dari orang tua K.batuk sudah dialami sejak 2 minggu.1. Aspek Personal :  Keluhan utama : Pasien mengalami gizi buruk  Keluhan lain : . c) Dari Segi Makanan . Aspek Resiko Eksternal  Lingkungan : Kondisi lingkungan di dalam dan di luar rumah yang kotor.muntah 2 kali sejak 2 hari yang lalu. b) Dari Segi Penyakit/Fisis Fandi mengalami gizi buruk dan dalam 3 hari terakhir mengalami ISPA. 4. . PENENTUAN MASALAH a) Dari Segi Fungsi Keluarga Keluarga dari orang tua Andriansyah kurang memperhatikan dan memberikan dukungan moril maupun materil saat keluarga Fandi dalam masalah. Dari riwayat   keluarga yang lain tidak ada yang mengalami gizi buruk Riwayat Penyakit Keluarga : tidak ada Aktifitas Keluarga : Keluarga dekat kurang memperhatikan fandi pada waktu sehat atau sakit. . Aspek Resiko Internal  Pola makan : pola makan pasien dan keluarga baik.kurang nafsu makan 2. .beringus. 5. . Aspek Klinis :  Diagnosis Klinis : ISPA dan Gizi Buruk 3.

Makanan tambahan dari Puskesmas berupa bubur kacang hijau dan susu kurang membantu mengatasi masalah gizi buruk yang dialami oleh Fandi. b) Pengendalian  Langkah paling awal adalah memberikan penyuluhan gizi dan  konseling diet gizi buruk untuk keluarga fandi. sekalipun bertempat tinggal di kota besar. Hal ini memperlihatkan bahwa pengetahuan tentang gizi buruk dan asupan nutrisi masih kurang.  Pengaturan pola makan yang sehat. tinggi badan dan LLA setiap 2 minggu di Puskesmas untuk memantau perubahan berat badan dan mencatat keadaan kesehatannya. Melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisis minimal 1 kali/bulan . Memberikan penyuluhan gizi atau kesehatan serta melakukan  demonstrasi cara menyiapkan makanan untuk fandi.Nafsu makan Fandi yang kurang. Memberikan penyuluhan peran Puskesmas sebagai unit layanan primer adalah gratis kepada orang tua karena keluarga ini termasuk golongan berpendapatan rendah. RENCANA PENATALAKSANAAN a) Follow Up Pengukuran berat badan. c) Tindakan  Menyediakan tablet gizi khusus untuk penderita.  Melakukan pencatatan dan pelaporan tentang perkembangan berat  badan dan kemajuan asupan makanan.  Pemberian makanan pendamping untuk penderita oleh Posyandu. L. serta asupan makanan yang diberikan seperti mie instan oleh orang tuanya.

Dari struktur keluarga. Siklus keluarga ini berada pada tahap 5 yaitu keluarga dengan anak usia sekolah. yaitu pada keluarga terdapat anggota keluarga yaitu pendapatan keluarga yang masih rendah sehingga . Kami melakukan anamnesis serta penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi bada. keluarga ini memiliki beberapa masalah. Diskusi Kelompok mendapat topik tentang gizi buruk. Dari anamnesis. dan ke lima kakaknya. ayah. selain mengalami gizi buruk. ayah.d) Tindakan yang telah diberikan Puskesmas :  Pemberian makanan pendamping (bubur kacang hijau. dan    susu) Pemberian obat untuk penyakit ISPA yang dialami Andriansyah Pengukuran BB dan TB Edukasi kepada keluarga M. dan ke lima kakaknya. Kemudian dari Genogram. dilihat dari beberapa jawaban mengenai pertanyaan tentang kepuasaan dalam keluarga. Fandi memiliki Ibu yang merupakan orang penting dan berpengaruh terhadap kehidupannya. fandi memiliki keluarga inti yang terdiri dari ibu. biskuit. keluarga ini memiliki skor 4 yang menunjukkan keluarga yang dikategorikan tidak sehat. hasil yang didapatkan masing-masing 6 kg dan 80 cm. Fandi juga mengalami beberapa gejala dari ISPA dan sudah diberi obat. Wilayah yang kami kunjungi adalah wilayah X. Dari Apgar keluarga. Fandi memiliki hubungan yang dekat dengan ibu. Pada Mandala of Health. Disana terdapat sebuah keluarga yang memiliki anak yang menderita gizi buruk bernama Fandi. Dari family circle.

kualitas hidup pasien bergantung dari perawatan dan pola asuh dari orang tua. menyediakan tablet gizi khusus. Pada aspek resiko eksternal kondisi lingkungan di dalam dan di luar rumah kotor. Adapun rencana penatalaksanaan meliputi follow up. pemberian makanan pendamping oleh Posyandu. melakukan pencatatan dan pelaporan tentang perkembangan berat badan dan . rumah yang kurang kondusif. Dilihat dari segi fungsi keluarga . Pada aspek derajat fungsional. keluarga dari orang tua Fandi kurang memperhatikan dan memberikan dukungan moril maupun material. serta pergi memeriksakan kesehatan anak di Puskesmas jika sakit. penyuluhan gizi dan konseling diet gizi buruk. Lalu Pengendalian meliputi. dan sanitasi air buruk. Dari diagnosis holistik. higiene keluarga dan lingkungan kurang. memberikan penyuluhan mengenai peran Puskesmas sebagai unit layanan primer bahwa pelayanan Puskesmas gratis untuk golongan berpendapatan rendah. Fandi mengalami gizi buruk dan ISPA. melakukan demonstrasi cara menyiapkan makanan. pada aspek personal dan Klinis. Kemudian tindakan berupa. tinggi badan dan LLA Andriansyah setiap 2 minggu di Puskesmas untuk memantau perubahan berat badan dan mencatat keadaan kesehatannya. Untuk itu diperlukan upaya penyelesaian meliputi. Kemudian keluarga dekat kurang memperhatikan Andriansyah pada waktu sehat atau sakit.keluarga tidak cukup untuk membeli sembako. malas berobat dengan alasan tidak memiliki JKN. pengaturan pola makan yang sehat. keluarga memiliki pola makan yang baik dan tidak ada keluarga lain yang memiliki riwayat gizi buruk. yaitu pengukuran berat badan. Pada aspek resiko internal . edukasi mengenai hidup sehat dan bersih.

absorbsi. transportasi. penyimpanan. dan susu). pengukuran BB dan TB. metabolism dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan. Tanpa adanya gizi yang adekuat. . pertumbuhan dan perkembangan otak serta fisik akan lambat. Adapun Tindakan yang telah diberikan Puskesmas yaitu. BAB III PENUTUP A. biskuit. maka kualitas hidup. terutama pada balita merupakan salah satu indicator untuk menilai pencapaian sasaran Millenium Development Goals (MDGs). pemberian makanan pendamping (bubur kacang hijau. pemberian obat untuk penyakit ISPA yang dialami Andriansyah. Kesimpulan Status Gizi.kemajuan asupan makanan dan melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisis minimal 1 kali/bulan. Makanan yang dikonsumsi secara normal melalui proses digestif.

2014. Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. balita yang mengalami gizi kurang-buruk sebaiknya mendapat perhatian khusus terutama dari keluarga dalam pola asuh dan konsumsi. Sugito. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Pusat Pembiayaan dan Jaminan Kesehatan 2. Rumah Sakit. 5. Indonesia Fight Poverty. DAFTAR PUSTAKA 1. Wonodirekso. Indonesia Masih Dihantui Kasus Gizi Buruk. Kementerian Kesehatan Republik indonesia. 3. 2010. Anonim. Anonim. 2011. Pusat Komunikasi Publik . dokter. 2014. Pedomen Pelayanan Anak Gizi Buruk 4. Dokter Keluarga. Pelayanan kesehatan dari pemerintah seperti. Anak Dengan Gizi Baik Menjadi Aset dan Investasi Bangsa Di Masa Depan. Puskesmas. dan petugas kesehatan lainnya juga memainkan peran penting dalam pengobatan pasien.Oleh karena itu. Sistem Pelayanan Dokter Keluarga Meningkatkan Kadar Kesejahteraan dan Profesionalisme. Diakses tanggal 12 November 2014.

14 Desember 2010. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI . 2013. 6. Dipublikasikan pada Selasa. Riset Kesehatan Dasar.Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI.