Anda di halaman 1dari 15

KELEBIHAN GIZI di MASYARAKAT

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Sosiology Antropology Gizi
Diserahkan kepada Dosen Dermawan Waruwu,S.Th.,MSi

Oleh :
1.
2.
3.
4.

A.A.Istri Kintan Umayi
Kadek Ega Damayanti
Jeniver Rambu Humbang Ata Ambu
Merensi Sisilia Karemu

(15120801007)
(15120801016)
(15120801017)
(15120801020)

PROGRAM STUDY ILMU GIZI S1
FALKUTAS ILMU KESEHATAN,SAINS,DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS DHYANA PURA

Denpasar.15 Maret 2016 Tim penulis 1 .KATA PENGANTAR Puji syukur kami penjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. khususnya kepada Dosen kami yang telah memberikan tugas dan petunjuk kepada kami. sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini. yang atas rahmat-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “Kelebihan Gizi di Masyarakat”.Dalam Penulisan makalah ini kami merasa masih banyak kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi. Untuk itu. Penulisan makalah ini merupakan salah satu tugas yang diberikan dalam mata kuliah etika universitas dhyana pura. kritik dan saran dari semua pihak sangat kami harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini. mengingat akan kemampuan yang kami miliki.Dalam penulisan makalah ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan makalah ini.

..7 BAB II PEMBAHASAN............................................1 Latar Belakang...............1 1............................................21 DAFTAR PUSTAKA..................i DAFTAR ISI...........3......................................................................................................................................................................................................................................................................... Penyebab Masyarakat Kelebihaan Gizi........21 3.................................................1.. Kesimpulan...............................9 2................................................. Saran..........15 BAB III PENUTUP............................................................................21 3................ii BAB I PENDAHULUAN........2 Tujuan Penulisan............................................................10 2...... Hubungan Tingkat Pengetahuan Remaja Tentang Gizi dengan Kelebihan Berat Badan ......22 2 .................................. Contoh Penyakit Kelebihan Gizi di masyarakat...........................................................................................2....................... Perumusan Masalah..............................................1.......……10 2........2................................................4 1....................................................................................DAFTAR ISI KATA PENGANTAR........1 1.........................................................................................................3.............................................

dan kesibukan pada remaja akan mempengaruhi kebiasaan makan mereka.1 Meningkatnya aktivitas.3 Kelebihan berat badan 1 . Kondisi itu dimanfaatkan oleh pengusaha makanan dengan mempromosikan produk makanan mereka. Banyak perubahan yang terjadi dengan bertambahnya massa otot dan jaringan lemak dalam tubuh. dengan cara yang disukai remaja. Selain itu juga terjadi perubahan hormonal. Keadaan seperti itu biasanya terkait dengan “mode” yang tengah marak di kalangan remaja. Perubahan ini berpengaruh terhadap kebutuhan gizinya. Di masa sekarang sudah banyak beredar produk-produk makanan baru yang berasal dari negara lain secara bebas. karbohidrat dan lemak. Mereka makan seadanya tanpa mengetahui kebutuhan akan berbagai zat gizi dan dampak tidak dipenuhinya kebutuhan zat gizi tersebut terhadap kesehatan mereka. Latar Belakang Usia remaja merupakan usia peralihan dari anak-anak menuju dewasa yang berawal dari usia 10 tahun dan berakhir pada usia 19 tahun. jika dikonsumsi dalam jangka panjang dapat memicu kelebihan berat badan.3 Selain itu. Makanan tersebut merupakan jenis makanan siap santap (fast food) (junk food) yang sering dianggap sebagai lambang kehidupan modern oleh para remaja.BAB I PENDAHULUAN 1.1. perubahan dari aspek sosiologis maupun psikologisnya.2. Kebiasaan ini kemudian menjalar ke remaja-remaja di berbagai negara lain termasuk di Indonesia. media masa turut berperan menimbulkan masalah gizi pada remaja. di tahun 1960-an makanan berupa hot dog dan minuman coca-cola menjadi sangat populer bagi remaja-remaja di Amerika Serikat. Padahal makanan tersebut mempunyai kandungan tinggi kalori. Misalnya.3 Kesukaan yang berlebihan terhadap makanan tertentu dapat menyebabkan kebutuhan gizi tak terpenuhi. Kondisi hormonal pada usia remaja menyebabkan aktivitas fisiknya makin meningkat sehingga kebutuhan energi juga meningkat. Remaja sangat mudah tertarik pada hal-hal yang baru. kehidupan sosial. Kebiasaan makan yang buruk yang berpangkal pada kebiasaan makan keluarga yang sudah tertanam sejak kecil akan terus terjadi pada usia remaja.

gangguan fungsi pernapasan. Sedangkan obesitas pada anak usia 10 sampai 17 tahun mencapai lebih dari 12 juta kasus. Kejadian overweight dan obesitas menjadi masalah di seluruh dunia karena prevalensinya yang meningkat pada orang dewasa dan anak baik di negara maju maupun negara berkembang. Makanan yang sesuai dengan selera dan keinginan remaja cenderung tinggi kalori dan lemak. Remaja yang sering memakan makanan ini dapat memicu kelebihan berat badan. Seiring berjalannya waktu. remaja yang kurang melakukan aktivitas fisik cenderung untuk mengalami kelebihan berat badan. Remaja yang kurang melakukan aktivitas fisik sehari–hari menyebabkan tubuhnya kurang mengeluarkan energi. Di masa ini. di Jepang prevalensi obesitas pada anak umur 6-14 tahun berkisar antara 5% s/d 11%.4. Jika asupan energi berlebih tanpa diimbangi aktivitas fisik yang seimbang maka seseorang remaja mudah mengalami kegemukan. Berdasarkan penelitian Hudha (2006).13 Aktivitas fisik berhubungan dengan kelebihan berat badan pada remaja. arthritis.5 Di negara berkembang. beberapa jenis kanker. Hal ini cenderung menimbulkan kurangnya aktivitas fisik.4% dari orang dewasa di Carolina Utara mengalami obesitas dan 38 negara bagian di Amerika Serikat memiliki prevalensi obesitas dewasa diatas 20% pada tahun 2010.4 Menurut WHO. diabetes mellitus.5%. jumlah anak remaja dengan overweight terbanyak berada di kawasan Asia yaitu 60% populasi atau sekitar 10.10 Hasil Riset Kesehatan Dasar Nasional (Riskesdasnas) tahun 2010 menunjukkan bahwa prevalensi nasional kegemukan pada penduduk usia 13-15 tahun mencapai 2. dan berbagai gangguan kulit. 29. penyakit kantong empedu.Pengetahuan tentang gizi dapat 2 menentukan perilaku individu dalam .6 juta jiwa. Menurut penelitian Ito & Murata (1999) dalam Hadi (2005). 10. Berdasarkan penelitian University of North Carolina (UNC) Gillings School of Global Public Health. Remaja rela duduk berjamjam di depan komputer menghabiskan waktu. Obesitas yang muncul di usia remaja cenderung berlanjut hingga ke dewasa dan lansia. obesitas sudah merupakan epidemi global dan menjadi masalah kesehatan yang harus segera diatasi. Kelebihan berat badan umumnya terjadi di daerah perkotaan.terjadi dalam bentuk overweight dan obesitas. kelebihan berat badan sudah banyak terjadi di pedesaan Kelebihan berat badan menimbulkan dampak fisik dan psikologis pada remaja yang mengalaminya. Obesitas merupakan salah satu faktor risiko penyakit degeneratif seperti penyakit kardiovaskular. penggunaan internet sudah menjadi hal yang biasa bagi remaja.

3 Untuk mengetahui contoh masyarakat kelebihan gizi.2.3. Selain itu remaja dalam memilih makanan juga dipengaruhi oleh selera dan keinginan.2. Remaja yang sering memakan makanan ini dapat memicu kelebihan berat badan. Hubungan Tingkat Pengetahuan Remaja Tentang Gizi Dengan Kelebihan Berat Badan 3 . Aktivitas fisik berhubungan dengan kelebihan berat badan pada remaja. 1.3.2.mengkonsumsi makanan.1 Apakah ada hubungan antara tingkat pengetahuan remaja tentang gizi dengan kelebihan berat badan remaja? 1.3 Apa saja contoh penyakit masyarakat kelebihan gizi? BAB II PEMBAHASAN 2.2.2 Untuk mengetahui penyebab masyarakat kelebihan gizi.3.1 Untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan remaja tentang gizi.2 Apa saja penyebab masyarakat kelebihan gizi? 1. Perumusan Masalah 1.3. Tujuan Penulisan 1. 1. Makanan yang sesuai dengan selera dan keinginan remaja cenderung tinggi kalori dan lemak. dengan kelebihan berat badan remaja.1. 1. 1.

“Ijin” tersebut menjadi semacam pengesahan atau legitimasi yang muncul memperoleh ungkapan yang dapat ditangkap oleh indra manusia (Wittgenstein. Bagi antropologi kebiasaan makan sebagai sesuatu yang sangat kompleks karena menyangkut tentang cara memasak. ekonomi. teknologi dengan berbagai dampaknya. 1999:11). kategori makan akan berhadapan dan berkaitan dengan kategori-kategori budaya lainnya seperti. Suatu kelompok masyarakat melalui pemuka ataupun mitos-mitos (yang beredar di masyarakat) akan mengijinkan warganya memakan makanan yang boleh disantap dan makanan yang tidak boleh disantap. Makanan dengan kepadatan energi yang tinggi (banyak mengandung lemak atau gula yang ditambahkan dan kurang mengandung serat) turut menyebabkan sebagian besar keseimbangan energi yang positif ini. Asupan energi yang berlebihan secara kronis akan menimbulkan kenaikan berat badan. teknologi dan sebagainya. agama. persiapan dan konsumsi makanan (Foster & Anderson:1986:313).Studi tentang makanan dalam konteks budaya merujuk pada persoalan persoalan praktis serta perilaku konkret masyarakatnya. pantangan-pantangan dan persepsi mitis (tahayul) yang berkaitan dengan kategori makan: produksi. dan dalam perkembangannnya. Kepercayaan suatu masyarakat tentang makanan berakibat pada kebiasaaan (praktek) makan serta berakibat pula pada kondisi gizinya. kehidupan perekonomian. Peran makanan dalam kebudayaan merupakan kegiatan ekspresif yang memperkuat kembali hubungan – hubungan dengan kehidupan sosial. ilmu pengetahuan. suka dan tidak suka. melainkan dapat memainkan peranan penting dan mendasar terhadap ciri-ciri dan hakikat budaya makan. sanksi-sanksi. kategori kehidupan sosial. agama. Gizi lebih terjadi jika terdapat ketidakseimbangan antara konsumsi energi dan pengeluaran energi. kebiasaan makan atau pola makan tidak hanya sekadar mengatasi tubuh manusia saja. ilmu pengetahuan. tanaman yang tumbuh di pertanian. berat badan lebih (overweight) dan obesitas. Melalui fenomena itu. Berbicara tentang konsep makanan. yang dijual di pasar tradisional maupun supermarket. Makanan tidaklah semata-mata sebagai produk organik hidup dengan kualitas biokimia. Selanjutnya penurunan pengeluaran energi akan meningkatkan 4 . Dengan kata lain. maka makanan dapat berasal dari laut. serta adanya berbagai kepercayaan (religi). tetapi makanan dapat dilihat sebagai gejala budaya. Gejala budaya terhadap makanan dibentuk karena berbagai pandangan hidup masyarakatnya.

Peningkatan pendapatan pada kelompok masyarakat tertentu. 2003). menyebabkan mereka melakukan kebiasaan makan yang dapat merugikan kesehatan mereka sendiri. Pengetahuan gizi dan kesehatan yang terbatas pada remaja. 2008:3). dan penyakit hati (Supriasa. rendah serat kasar. Penelitian tentang kebiasaan makan pagi ditemukan 50% remaja putri tidak makan pagi yang dihubungkan dengan tidak 5 . dan tinggi lemak sehingg menjadikan mutu makanan ke arah tidak seimbang. Penanggulangan masalah gizi lebih adalah dengan menyeimbangkan masukan dan keluaran energi melalui pengurangan makan dan penambahan latihan fisik.keseimbangan energi yang positif (Gibney. Pola makan berubah ke pola makan baru yang rendah karbohidat. hipertensi.terutama di perkotaan menyebabkan perubahan dalam gaya hidup.2. Kelebihan energi tersebut akan disimpan sebagai cadangan dalam bentuk lemak sehingga menyebabkan seseorang menjadi lebih gemuk. Penyebab Masyarakat Kelebihan Gizi Rickert dan Jay (1996) menyebutkan ada empat kebiasaan makan yang dilakukan remaja yaitu :  Mengurangi frekuensi makan (skipping meal) Mengurangi frekuensi makan seperti tidak makan pagi merupakan salah satu kebiasaan yang dilakukan remaja. 2002:12). Kelebihan berat badan terjadi apabila makanan yang dikonsumsi mengandung energi melebihi kebutuhan tubuh. Dampak masalah gizi lebih tampak dengan semakin meningkatnya penyakit degeneratif. Penyeimbangan masukan energy dilakukan dengan membatasi konsumsi karbohidrat dan lemak serta menghindari konsumsi alkohol (Almatsier. 2. terutama pola makan. 2001:312). seperti jantung koroner. diabetes mellitus (DM). Obesitas adalah kondisi abnormal atau kelebihan lemak yang serius dalam jaringan adiposa sehingga mengganggu kesehatan (Baranowski et al.

zat besi dan vitamin C. permen dan lainlain. Mengkonsumsi makanan ringan sambil menonton televisi dapat memicu terjadinya kelebihan berat badan. bahkan sering tidak makan.  Kebiasaan merokok Perilaku merokok pada remaja merupakan wujud sikap memberontak. lemak jenuh dan garam (Spear 1996). kalsium dan besi (Spear 1996). Selain rasanya yang dapat diterima. Namun kandungan gizi fast food rendah besi. pelayanan dan sarana yang memuaskan membuat remaja menyukai fast food. Suka mengkonsumsi makanan ringan (snacking) Makan makanan ringan (cemilan) merupakan perilaku makan yang menyenangkan bagi remaja terutama remaja putri. rendah vitamin A. Dari hasil penelitian kebiasaan 6 . Beberapa studi mengungkapkan bahwa cemilan yang dikonsumsi remaja pada umumnya rendah serat. dan anggapan merokok sebagai simbol kedewasaan (Bruess. Makanan cemilan dapat menurunkan selera makan sehingga remaja yang terlalu banyak mengkonsumsi makanan ringan biasanya akan makan dengan porsi yang lebih sedikit. kosong kalori. Sebagian besar remaja mengkonsumsi junk food satu kali seminggu dengan makanan yang paling sering dikonsumsi fried chicken. sedangkan mengerjakan pekerjaan rumah dan membaca berturut-turut 22 jam perminggu dan 5 jam perminggu (Meredith 1996).  Makanan siap saji (fast food) Fast food atau makanan siap saji merupakan salah satu makanan yang sangat disukai remaja. keingintahuan. riboflavin dan vitamin A tetap tinggi kalori. 1989). tekanan dalam kelompok (peer presurre). kalsium. Penelitian pada remaja Amerika ternyata waktu yang dihabiskan untuk menonton televisi 22 jam perminggu. Hurlock (1997) menyatakan bahwa remaja suka jajan jenis makanan ringan seperti kue-kue.ada selera makan dan ketersediaan menu yang kurang memuaskan (Rickert & Jay  1996). Penelitian Mujianto (1994) pada enam kota besar di Indonesia menunjukkan terjadinya peningkatan konsumsi makanan "fast food" pada remaja dan anak sekolah. sedangkan sayursayuran dan buah-buahan jarang dikonsumsi sehingga dalam diet mereka rendah serat. Kebiasaan remaja mengkonsumsi makanan ringan diikuti dengan gaya hidup sedentary (aktivitas kurang).

dimana konsumsi terlalu banyak dibandingkan dengan kebutuhan atau pemakaian energi. remaja hingga dewasa. Contoh Penyakit di Masyarakat Akibat Kelebihan Gizi Obesitas dan overweight adalah dua kata yang mempunyai arti yang berbeda dalam segi gizi klinis. Obesitas merupakan suatu penyakit kronis dengan ciri-ciri timbunan lemak tubuh yang berlebihan(eksesif). Menurut (Sartika.3. namun biasanya patokan kelebihan berat badan sebesar 20 persen dari berat badan ideal (Sandjaja. 2009) Juga di definisikan oleh (Budianto.2% pelajar merokok sebelum usia 13 tahun. kanker leher rahim. 2. 2011) Obesitas merupakan akibat dari keseimbangan energi positif untuk periode waktu yang cukup panjang. Obesitas merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting terkait dengan beberapa kondisi kesehatan kronis termasuk penyakit jantung. dan pengeluaran energi. Gangguan kesehatan lain seperti kanker paru. Penyebab gangguan keseimbangan energi antara lain adalah faktor keturunan. hiperlipidemia.merokok pada pelajar SLTA di Bandung menunjukkan 16. dan kanker (Layman. Menopause datang 2-3 tahun lebih cepat pada wanita perokok. & Seyler. meskipun keduanya selalu disamaratakan dan disejajarkan penggunaanya. diabetes. Diperkirakan kesuburan wanita perokok hanya 72% dari kesuburan wanita yang tidak merokok. Evans. Aditama (1997) menyatakan merokok dapat menurunkan fertilitas atau kesuburan.  Obesitas Permasalahan gizi sekarang sudah masuk dalam permaslahan gizi ganda. 2005). Masalah obesitas dapat terjadi pada usia anak-anak. yang artinya bahwa masalah gizi buruk belumlah teratasi namun sudah muncul masalah lagi yaitu kelebihan gizi. a. Batasan obesitas beragam oleh para ahli. hiperinsulinemia. kelahiran bayi cacat dan BBLR pada ibu hamil merupakan resiko buruk akibat merokok pada wanita. abortus. hipertensi. menurunkan fertilitas. konsumsi energi. Baum. Faktor Keturunan 7 . 2002) obesitas ialah ketidak seimbangan antara konsumsi kalori dan kebutuhan energi.

Cara yang digunakan untuk mengukur obesitas adalah Indeks Massa Tubuh dan Lingkar Perut. (3) Bila bapak dan ibu gemuk. 2003) b. kemungkinan anak menjadi gemuk adalah 9%. Makan sering secara teratur dalam porsi kecil tidak mudah menyebabkan kegemukan dibandingkan dengan makan dalam jumlah banyak secara tidak teratur atau melewati waktu makan.Cipto Mangunkusumo. kemungkinan anak menjadi gemuk adalah 41-50%. Bagi orang 8 . Obesitas yang diukur dengan Indeks Massa Tubuh dapat dibagi menjadi obesitas perifer dan obesitas sentral atau abdominal berdasarkan lingkar perut. Konsumsi Energi Konsumsi energi yang berlebihan. kemungkinan anak menjadi gemuk adalah 66-80% (Rumah Sakit Dr. bisa menyebabkan kegemukan. Frekuensi dan porsi makanan ternyata berpengaruh terhadap keseimbangan energi. karena anak-anak yang berasal dari orang tua gemuk ternyata cenderung meniru kebiasaan makan dan gerak yang salah dari orang tuanya (Rumah Sakit Dr. Kebutuhan energi yang bersifat individual perlu mendapat perhatian. Pengeluaran Energi Pengeluaran energi yang menurun berpengaruh terhadap terjadinya kegemukan pada anak-anak.Angka-angka yang menunjukkan bahwa faktor keturunan berpengaruh terhadap gangguan keseimbangan energi adalah sebagai berikut: (1) Bila bapak dan ibu tidak gemuk. (2) Bila bapak atau ibu gemuk.Cipto Mangunkusumi. c. Obesitas terjadi pada anak-anak yang menderita penyakit yang menyebabkan aktivitas menurun.2003) Kadang-kadang sukar untuk membedakan pengaruh faktor keturunan dengan faktor lingkungan. terutama yang berasal dari karbohidrat.

Jadi. mereka mungkin berat badanya lebih daripada orang normal yang sama umurnya dengan mereka namun meski mereka lebih berat. suka dan tidak suka. Berat badan overweight bisa berasal dari otot.1. KESIMPULAN  Bagi antropologi kebiasaan makan sebagai sesuatu yang sangat kompleks karena menyangkut tentang cara memasak.2006). yaitu :  Penyebab internal yang bisa berupa permasalahan metabolisme  (hormonal) atau pencernaan (enzimatik). pantangan-pantangan dan persepsi mitis (tahayul) yang 9 . organ. tulang. lingkar perut pada laki-laki harus kurang dari 90cm sementara pada wanita kurang dari 80cm. tidak bisa dikatakan sebagai obese karena kelebihan berat badanya berasal dari otot. serta adanya berbagai kepercayaan (religi). termasuk pelbagai problem psikologis dan aktualisasi diri (Hartanto. Contoh dari kasus Overweight adalah para binaragawan. BAB III PENUTUP 3.organ vital.  Overweight Overweight lebih mengacu pada kelebihan berat badan dibandingkan dengan standar normal. dan sebagainya.Asia. Permasalahan eksternal yang berupa ketidakseimbangan antara diet dan exercise sebagai akibat dari perubahan gaya hidup serta modernisasi. Bila berat badan 110-120% berat badan standar. Etiologi obesitas sesungguhnya dapat dibagi dua. IMT yang melebihi 23 dengan lingkar perut lebih dari 90cm pada laki-laki dan 80 cm pada wanita dapat digolongkan kedalam obesitas abdominal.

2. 2008:3 : Gizi lebih terjadi jika terdapat ketidakseimbangan antara konsumsi energi dan pengeluaran energi. 10 . merokok. persiapan dan konsumsi makanan  (Foster & Anderson:1986:313). Menurut Gibney. Suka mengkonsumsi makanan ringan (snacking). Contoh penyakit kelebihan gizi salah satunya adalah obesitas dan overweight. Makanan siap saji (fast food). untuk mencapai Indonesia sehat . SARAN Dilihat dari keseluruhan pembahasan diatas.dan Diharapkan masyarakat atau pun pembaca mau ikut serta menggalakkan program tentang pemberantasan gizi lebih. Asupan energi yang berlebihan secara kronis akan menimbulkan kenaikan berat badan.berkaitan dengan kategori makan: produksi. berat badan lebih (overweight) dan obesitas. Kebiasaan  3. Makanan dengan kepadatan energi yang tinggi (banyak mengandung lemak atau gula yang ditambahkan dan kurang mengandung serat) turut menyebabkan sebagian besar keseimbangan energi yang positif ini. Selanjutnya penurunan  pengeluaran energi akan meningkatkan keseimbangan energi yang positif Menurut Rickert dan Jay (1996) menyebutkan ada empat kebiasaan makan yang dilakukan remaja yaitu : Mengurangi frekuensi makan (skipping meal). penulis menuliskan beberapa saran : Diharapkan kepada remaja dan masyarakat hendaknya mengetahui tentang makanan yang di konsumsi. jangan semata – mata mengikuti trend yang dapat mengakibatkan dampak buruk terhadap kesehatan.

Jakarta. Are Current Health Behavioral Change Models Helpful in Guiding Prevention of Weight Gain Effort? Obesity 11 . Prinsip Dasar Ilmu Gizi.EGC Aditama TY. S. Cullen KW.2009. Anwar F.Gizi Kesehatan Masyarakat. Baranowski J.EGC Hartono. Rokok dan Kesehatan. Gramedia. 1997.Andry. 2003. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia. Jakarta .DAFTAR PUSTAKA Almatsier.Terapi Gzi dan Diet Rumah Sakit. Nicklas T. Institut Pertanian Bogor. Thompson D.Michael J et al.2008. Model Pengasuhan Anak Bawah Dua Tahun dalam Meningkatkan Status Gizi dan Perkembangan Psikososial [disertasi].2006. 2002. Gibney. 2003. Bogor: Program Pascasarjana. Edisi ke-3.Jakarta. Baranowski T.

Gizi Dalam Angka Sampai Dengan Tahun 2002. and How? WHO: Geneva.Research 11:23S-43S. Delisle H. [Depkes] Departemen Kesehatan. Pedoman Gizi Seimbang untuk Remaja. 2003a. Nutrition in Developing Countries? To Address Which Problems. 1997. Jakarta: Depkes RI. [Depkes] Departemen Kesehatan. 12 . 1999. Jakarta: Depkes RI.