Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH ILMU PENYAKIT VIRAL

BOVINE HERPES VIRUS-I

OLEH

VICTORIANO K. D MBULA

(1409010011)

DALMASIA TRISNA DHIU

(1409010031)

NOVITA PURTANSIA WAI

(1409010030)

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS NUSA CENDANA
KUPANG
2016

dan enteritis. Hal ini menyebar secara horizontal melalui kontak seksual. dan transmisi aerosol dan juga dapat ditularkan secara vertikal melalui plasenta. gangguan respirasi dan reproduksi walaupun manifestasinya menghilang 21 hari . keguguran dan kematian pada anak sapi. vaginitis. Respon klinis IBR berupa demam. Beberapa negara di Eropa telah berhasil memberantas penyakit dengan menerapkan kebijakan pemusnahan yang ketat. pneumonia dan vulvovaginitis yang bersifat non supuratif. inseminasi buatan. BoHV-1 juga merupakan faktor dalam demam pada domba. Penyakit IBR merupakan penyakit pada sapi dengan gangguan pernapasan. termasuk rhinotracheitis. konjungtivitis. Adanya infeksi sekunder yang dapat menyebabkan pneumonia. tetapi penyakit ini menyebabkan masalah ekonomis yang penting karena infeksi dapat menyebabkan penurunan produksi dan mempengaruhi pembatasan perdagangan. aborsi. tergantung pada virulensi dari strain. Meskipun gejala-gejala ini tidak mengancam jiwa. sapi yang tidak diberi mengalami hiperemis pada mukosa nasal concha dan mukosa vagina serta pneumonia dan secara histopatologis sapi menderita rhinitis. reproduksi dan syaraf. BoHV-1 menyebabkan infeksi laten seumur hidup dan penumpahan sporadis virus.BAB I PENDAHULUAN 1. Ada vaksin yang tersedia yang mengurangi keparahan dan timbulnya penyakit. Secara patologi anatomis. Seperti virus herpes lainnya. . Saraf sciatic (saraf terbesar dan terpanjang dalam tubuh) dan saraf trigeminal adalah lokasi dari latency. Infectious Bovine Rhinotracheitis adalah suatu penyakit menular yang disebabkan oleh virus Bovine Herpes Virus yang dapat menyerang alat pernafasan bagian atas dan alat reproduksi.1 Latar Belakang Bovine Herpes Virus 1 (BoHV-1) adalah virus yang diketahui menyebabkan beberapa penyakit pada sapi di seluruh dunia. BoHV-1 dapat menyebabkan infeksi klinis dan subklinis. trakheitis. juga dikenal sebagai penyakit pernapasan sapi (BRD). Penyakit ini boleh dikatakan hampir menyebar di seluruh dunia. balanoposthitis. Latency adalah keadaan dimana suatu organisme penyabab penyakit ada di dalam tubuh tapi tidak aktif bereplikasi. Tanda-tanda klinis yang ditampilkan tergantung pada virulensi dari strain.

Bagaimana epidemiologi IBR? 3. Bagaimana gejala klinis IBR? 4. Bagaimana morfologi Bovine Herpesvirus? 2. Bagaimana patologi IBR ? 5.2 Rumusan Masalah 1. 3. Mengetahui patologi IBR . Mengetahui pencegahan yang dilakukan terhadap hewan yang terinfeksi IBR. 2. Mengetahui epidemiologi IBR. Bagaimana pencegahan yang dilakukan terhadap hewan yang terinfeksi IBR? 1.3 Tujuan Tujuan dibuatnya makalah ini adalah untuk : 1. BAB II PEMBAHASAN 1. Bagaimana teknik diagnosis lab untuk mendeteksi BHV? 6. Etiologi Bovine herpesvirus 1 Group: Order: Family: Subfamily: Genus: Species: Group I (dsDNA) Herpesvirales Herpesviridae Alphaherpesvirinae Varicellovirus Bovine herpesvirus . 6. 4. Mengetahui morfologi Bovine Herpesvirus. Mengetahui gejala klinis IBR.1. Mengetahui teknik diagnosis lab untuk mendeteksi BHV. 5.

Pada pH 7. Kejadian penyakit di Indonesia telah banyak ditemukan. Secara vertikal dapat melalui infeksi intra uterin. pada temperatur 4°C selama 30 hari titer virus tidak mengalami penurunan. Penyakit ini dapat menimbulkan infeksi sekunder berupa broncho pneumonia. diameter 100. Virus dapat hidup dalam tubuh hewan selama 17 bulan dan pada saat tertentu dapat menimbulkan wabah. Sapi yang sembuh dan infeksi alami menjadi kebal dalam waktu yang lama. genital dan keguguran.0 virus ini stabil. aceton atau chloroform dengan perbandingan suspensi virus yang sama. 2. tergantung derajat keparahan organ terinfeksi. Wabah penyakit mencapai puncak pada minggu kedua sampai ketiga dan berakhir pada minggu keempat sampai keenam. Penularan penyakit dapat secara vertikal dan horisontal. penyakit ini dijumpai pula pada babi. sedangkan horisontal dapat melalui inhalasi dari cairan hidung yang mengandung virus atau melalui semen yang tercemar. Virus IBR ini mempunyai macam -macam strain dengan sedikit perbedaan antigenesitas. kambing. serta ensefalitik dan neonatal. Antibodi IBR pernah dideteksi pula pada antelope di Kanada bagian barat. keguguran dan kematian pada anak sapi. Hal ini menunjukkan bahwa hewan liar mungkin dapat menjadi reservoir penyakit ini. Kabupaten Aceh .150 μm. Epidemiologi Selain pada sapi dan kerbau. Virus dapat di inaktif segera setelah dicampur dengan alkohol. Virus herpes berbentuk kuboid simetri dengan kapsid icosahedral. Penyakit dapat berupa bentuk pernafasan.Di Afrika virus IBR juga pernah diisolasi dari hewan liar. Kekebalan secara pasif yang diperoleh pedet dari kolostrum dapat menimbulkan kekebalan kurang Iebih empat bulan.1 (BoHV-1) Infectious Bovine Rhinotracheitis (IBR) adalah penyakit menular pada sapi dan kerbau yang disebabkan oleh Bovine herpesvirus-1 (BHV-1) yang termasuk famili Herpesviridae. subfamili Alphaherpesviridae. Genom virus berupa double stranded deoxyribonucleic acid (ds-DNA). Manifestasi klinis dari penyakit ini sangat bervariasi. pada temperatur 22°C selama 5 hari titernya turun 1 log. konjungtival. dan virus pernah diisolasi dan seekor kerbau yang berasal dari daerah/kecamatan Blangkejeren. bagal dan rusa juga peka terhadap infeksi ini. Morbiditas berkisar antara 30-90% dan mortalitas kurang dari 3%.

Pada sapi jantan dijumpai luka pada preputium disertai adanya reaksi peradangan dan eksudat yang kental. Reaktor pada sapi dan kerbau pernah dilaporkan di Sumatera Utara. dengan gejala bervariasi. Bentuk konjungtival Gejala edema kornea dan konjungtiva akan menghasilkan eksudat yang bersifat serous sampai mukopurulen. rasa sakit dan sering kencing. d. sinus dan tenggorokan. ingus bersifat fibirinomukoid atau purulen dan mukosa di bawahnya sering mengalami nekrosis. vulva membengkak disertai adanya eksudat yang kental melekat pada rambut vulva. Jawa. . konvulsi. Gejala yang muncul antara lain. a. lakrimasi dan adanya edema pada konjungtiva. Virus banyak ditemukan pada hati dan ginjal janin yang diabortuskan. Sumbawa dan Timor. maka akan timbul “red nose”. Gejala Klinis Gejala klinis yang ditimbulkan penyakit ini sangat bervariasi dan dapat dibedakan menjadi beberapa bentuk. Jika kerak mengelupas. gelisah. 3. Keguguran sering terjadi pada trimester terakhir. eksitasi . Bentuk ini juga sering disebut “winter pink eye”.Tenggara. Bentuk pernafasan juga bisa mengakibatkan keguguran pada hewan yang bunting. kenaikan suhu tubuh sampai 42 C. hipersalivasi. Mukosa hidung tampak hiperemik. Radang dapat ditemukan pada hidung. hiperestesi. keguguran dapat terjadi pada trimester terakhir. b. c. Pada infeksi yang berat sapi memperlihatkan gelisah. Bentuk ensefalitik Bentuk ini sering didapatkan pada anak sapi umur 2-3 bulan. Zat kebal terhadap virus IBR telah ditemukan hampir di semua daerah di Indonesia.Timbulnya meningoensefalitis dapat dikarenakan adanya perkembangbiakan virus pada otak. Pada hewan bunting. Bentuk Pernafasan Bentuk pernafasan merupakan bentuk terpenting dari segi lokalisasi virus. Gejala yang timbul dapat berupa depresi. Pada sapi jantan virus menginfeksi alat kelamin jantan. Infeksi akut terjadi 1-3 hari pasca koitus. Bentuk genital dan keguguran Infeksi virus pada mukosa vagina dan vulva menyebabkan penyakit ini dikenal dengan Infectious Pustular Vulvovaginitis (IPV). Bentuk radang difterik pada konjungtiva dapat dijumpai pada penderita yang parah. sehingga disebut balanopostitis. inkoordinasi dan kebutaan. Pada sapi laktasi produksi susu turun dengan drastis atau terhenti sama sekali. Lombok. lesu.

Virus menurunkan interferon regulatory factor 3 (IRF3). Hal ini turut mengatur jumlah sel kekebalan yang dapat mengenali virus. studi eksperimental menunjukkan bahwa kambing dan kerbau dapat bertindak sebagai reservoir untuk BoHV-1. serta mengaktifkan sel-sel kekebalan tubuh. infeksi dapat memasuki sistem saraf pusat. sehingga virus dapat menghindari deteksi dan eliminasi. Diagnosis Lab . Meskipun sapi mungkin tidak menunjukkan tanda-tanda klinis. Bentuk neonatal Infeksi ini biasanya dimulai ketika pedet masih dalam kandungan. Infeksi genital membutuhkan kontak langsung pada saat kawin. dan virus telah direplikasi pada saluran pernapasan bagian atas. tapi mereka masih dapat menyebarkan penyakit. anoreksia. meskipun pada beberapa kejadian. Infeksi juga dapat ditularkan melalui inokulasi konjungtiva. Interferon adalah komponen dari imunitas bawaan yang terlibat dalam menghambat replikasi virus dalam sel inang. serta rusa merah. babi. Setelah terinfeksi sulit bagi hewan untuk menyingkirkan BoHV-1 karena memiliki banyak mekanisme untuk menghindari sistem kekebalan host yaitu kekebalan bawaan dan kekebalan adaptif. Binatang yang terinfeksi akan terus menerus melepaskan sepanjang hidup mereka saat virus tersebut aktif. BoHV-1 juga mampu menghindari sel kekebalan adaptif dengan menginduksi apoptosis pada sel CD4. depresi. domba. yang membantu dalam mengaktifkan sel T saat terdapat antigen. Karena kriopreservasi infektivitas virus. Gejala umum adalah demam. sapi jantan yang digunakan untuk inseminasi buatan harus bebas dari BoHV-1. dengan atau tanpa gejala klinis. dipsnoea. kontak hidung langsung merupakan cara transmisi preferensial BoHV-1. Ttransmisi melalui alat kelamin juga terjadi melalui air mani yang terkontaminasi virus [98]. Patogenesis Portal masuk alami dari BoHV-1 adalah selaput lendir baik pernafasan atas atau saluran genital. Infeksi laten ini mungkin dapat diaktifkan kembali. dalam kondisi stres atau dengan metode eksperimental. 5. dan rusa. 4. keluarnya eksudat serous dari mata. Pelepasan dimulai dari mukosa hidung secepat mungkin saat terjadi infeksi. Setelah infeksi primer dari BoHV-1. infeksi laten cukup sering ditemukan dalam ganglion trigeminal dari sapi. efektif menghentikan transkripsi interferon tipe 1. serta diare yang persisten.e. Virus melepaskan diri pada titer tinggi akan menyebar dengan cepat ke seluruh kawanan. Selain sapi. Selama replikasi dalam sel saluran pernapasan dari epitel akan mengalami apoptosis.

Selain antisera poliklonal produksi Balitvet tersebut. Preparat dideparafinisasi sesuai metode standar dan siap untuk diwarnai. ditambahkan substrat Amino Ethyl Carbazole/AEC) selama lima menit dan dipakai larutan hematoksilin yang . Pada uji ini dipakai kit komersial (LSAB-2 System peroxidase universal kit). Setelah itu streptavidin peroksidase (berupa reagen kompleks streptavidin-biotin dan enzim horseradish peroksidase) yang terdapat pada kit diaplikasikan selama 30 menit dan preparat dibilas PBS sebanyak tiga kali. teknik pewarnaan imunohistokimia (IHK) juga dilakukan untuk mendeteksi antigen pada organ hewan yang terinfeksi BHV-1. Selanjutnya. Blok parafin yang berisi jaringan organ sapi yang diduga mengandung virus BHV-1 dipotong 3-4μm dan direkatkan pada preparat yang sudah diberi Poly-Llysine 0. Selain itu. Pewarnaan imunohistokimia untuk mendeteksi BHV-1 Pewarnaan imunohistokimia yang dipakai yaitu metode avidin biotin peroksidase kompleks (ABC).05% sebagai perekat. dicoba pula antibodi monoklonal dengan konsentrasi 1:400 dan 1:800. a. Selain itu juga dicoba primary antibody berupa antibodi monoklonal. Preparat direndam dalam larutan tripsin 0. kemudian aktifitas enzim peroksidase endogen dihambat dengan pemberian hidrogen peroksidase 3% dalam akuades selama 20 menit.1992) akan tetapi uji patogenitas untuk dipelajari sifatsifatnya belum diuji.1% selama 20 menit pada suhu 37°C untuk selanjutnya dibilas dengan larutan Posphate Buffered Saline (PBS) pH 7. preparat diberi antibodi sekunder yangsudah dilabel dengan biotin/biotiylated secondary antibody yang diperoleh dari kit komersial dan diinkubasikan selama 30 menit lalu dibilas dengan PBS sebanyak tiga kali. Antigen akan direaksikan dengan primary antibody terhadap BHV-1 yang merupakan antisera hiperimun kelinci produksi Balitvet.1%). kemudian preparat dibilas dengan PBS sebanyak tiga kali. Untuk menvisualisasikan antigen yang terdapat pada preparat. Antisera kelinci produksi Balitvet diaplikasikan dengan konsentrasi 1:400 dan 1:800 dalam larutan PBS diinkubasikan selama 60 menit (khusus untuk pelarut antibodi dipakai PBS yang berisi serbuk susu skim 0. Isolasi virus IBR di Indonesia diperoleh dari kasus hewan yang mengalami stres buatan dan dari hewan asal Balai Inseminasi Buatan (BIB) telah berhasil dilakukan (SUDARISMAN. Hal ini menimbulkan banyak hambatan dan membutuhkan waktu cukup lama.1% dalam larutan kalsium khlorid 0.4. Dengan teknik ini antigen BHV-l dapat dideteksi pada jaringan organ.Usaha untuk mendeteksi BHV-1 pada sapi yang digunakan untuk IB dan swab (sediaan ulas) dari mukosa organ hewan yang terserang hanya dilakukan dengan cara isolasi virus. Setelah itu preparat dibilas dengan PBS tiga kali.

Uji netralisasi virus Netralisasi virus (tes diresepkan untuk perdagangan internasional) tes VN dilakukan dengan berbagai modifikasi. hari pembacaan akhir dan pembacaan end-point (50% berbanding 100%) (Perrin et al.. gen gD (Smits et al. 1993). 2000). strain sel sapi paruparu atau trakea sel. Di antara variabel-variabel ini. 2003). deteksi konvensional produk PCR diamplifikasi bergantung pada analisis gel elektroforesis (Rola et al. 2006). 2006). c. 1978). 2005).. Berbagai sel sapi atau baris sel yang cocok untuk digunakan dalam tes VN. urutan spesifik primer ini dipilih untuk memperkuat bagian yang berbeda dari gen glikoprotein dari BoHV-1 genom. termasuk ELISA tidak langsung dan blokir. b. Beberapa jenis ELISA tersedia secara komersial. masa inkubasi virus / serum (124 jam). atau garis sel didirikan Madin-Darby sapi ginjal (MDBK). (Moore et al.berwarna biru sebagai counterstain. Jumlah antigen pada organ dinyatakan banyak. termasuk ginjal sekunder sapi atau sel testis. Tes bervariasi sehubungan dengan strain virus yang digunakan dalam protokol tes. dan gen timidin kinase (tk).Enzyme-Linked Immunosorbent Assay (ELISA. 2004) Dan serangkaian tes PCR konvensional telah digunakan untuk deteksi BoHV-1 DNA pada artifisial atau alami terinfeksi sampel semen sapi (Deka et al. 2000).. diawali dengan pengenceran dari serum. 2000). .. jenis sel yang digunakan. termasuk gen glikoprotein B (gB) (Grom et al. Untuk alasan standardisasi di suatu negara. gen GE (Grom et al. mungkin diinginkan untuk membandingkan kualitas kit dan melakukan tes rilis batch dengan kriteria yang . tidak langsung atau gB-blocking) ELISA untuk mendeteksi antibodi terhadap BoHV-1 dan secara bertahap menggantikan tes VN. 2000). Masa inkubasi 24 jam dapat menghasilkan hingga 16 kali lipat titer antibodi lebih tinggi dari periode inkubasi 1 jam (Bitsch. masa inkubasi virus / serum memiliki efek paling besar pada sensitivitas VNT. Polymerase Chain Reaction (PCR) Sejumlah penelitian telah menunjukkan bahwa tes PCR lebih sensitif dibandingkan isolasi virus (Smits et al. beberapa di antaranya juga cocok untuk mendeteksi antibodi dalam susu (Kramps et al. dan sangat dianjurkan di mana jika sensitivitas maksimum diperlukan (mis untuk tujuan perdagangan internasional). Hasil dinyatakan positif apabila terdapat warna coklat (latar belakang berwarna biru hematoksilin) dan negatif jika warna coklat tidak dapat dideteksi sehingga preparat hanya tampak berwarna biru saja. Real-time PCR telah digunakan untuk deteksi BoHV-1 dan BoHV-5 pada sapi eksperimen yang di infeksi dan tikus (Abril et al. gen gC (Smits et al. Prosedur standar untuk ELISA belum ditetapkan. Tes serologi . 2004).

Kehadiran antibodi dalam hasil sampel uji dalam pengembangan warna berkurang setelah penambahan larutan substrat / chromogen..  Indirect Enzyme-Linked Immunosorbent Assay Prinsip ELISA tidak langsung didasarkan pada pengikatan antibodi spesifik BoHV-1. Blocking Enzim-Linked Immunosorbent Assay Prinsip dari pemblokiran atau ELISA kompetitif ini adalah berdasarkan pada pemblokiran pengikatan enzim-label BoHV-1 antiserum atau anti-BoHV1 MAb terhadap pergerakan antigen dengan antibodi dalam sampel uji. sebuah panel yang komprehensif didefinisikan dengan baik (misalnya dengan uji VN) yang kuat positif. Untuk tujuan ini. masa inkubasi antigen dan sampel uji. pengenceran sampel uji. . Sebelum digunakan secara rutin. 2004). lemah sera positif dan negatif harus diuji. kebersihan dan sanitasi kandang perlu dilakukan. spesifisitas dan reproduktifitas. dianjurkan untuk menggunakan ELISA yang tersedia secara komersial dan telah terbukti lebih baik daripada tes buatan (Kramps et al. ELISA harus divalidasi terhadap sensitivitas. Yang paling umum adalah: persiapan antigen dan pelapisan.yang terdapat dalam sampel uji pergerakan antigen BoHV-1. dan solusi substrat / chromogen. Ada sejumlah variasi dalam prosedur ELISA.ditetapkan sebelumnya di laboratorium rujukan nasional. Kehadiran antibodi dalam sampel uji akan menghasilkan pengembangan warna setelah penambahan larutan substrat /  chromogen. Pemberian antibiotik dan vitamin dapat diberikan untuk mengurangi infeksi sekunder. Antibodi yang terikat akan terdeteksi menggunakan enzim-label antibovine imunoglobulin antiserum. sebelum digunakan oleh laboratorium lain di negeri lain. Namun. Pencegahan Pencegahan penyakit dapat dilakukan vaksinasi.

ensefalitik. genital dan keguguran serta neonatal.penyakit ini dapat menimbulkan gejala klinis yang bervariasi mulai dari bentuk pernafasan. . 3.1 Kesimpulan Infectious Bovine Rhinotracheitis (IBR) adalah penyakit menular yang dapat menyerang alat pernafasan bagian atas dan alat reproduksi pada sapi dan kerbau yang disebabkan oleh Bovine herpesvirus-1 (BHV-1) .2 Saran Sebaiknya peternakan lebih memperhatikan kebersihan dan sanitasi kandang untuk mencegah tenak terinfeksi penyakit ini. konjungtival.BAB III PENUTUP 3.

Both viral and host factors contribute to neurovirulence of bovine herpesviruses 1 and 5 in interferon receptor-deficient mice. 969–984... ALBINI S... HILBE M. Rev. PERRIN M. FRANCHINI M. J. BITSCH V.. sci. ELOIT M.usask.. 12.. & THIBIER M. VANOPDENBOSCH E. A European comparative study of serological methods for the diagnosis of infectious bovine rhinotracheitis.. WELLEMANS G. int. Epiz. http://homepage.. (2004). RONSHOLT L.. WIZIGMANN G. Cornell University Press. Manual of Standardized Methods for Veterinary Microboloty...DAFTAR PUSTAKA ABRIL C. VAN OIRSCHOT J. ENGELS M.T. COTTRAL GE 1978. (1993).....ca/~vim458/virology/studpages2009/VirusWebsite/ibr_vir us.jpg . SUTER M... & ACKERMANN M. CORDIOLI P. COMSOCK PUBLISHING ASSOSIATES. Off. 78. tech. LIMAN A.. LENIHAN P. 3644–3653. Virol. GUERIN B. EDWARDS S. first edition.

DEKA D... WELLENBERG G.. VAN OIRSCHOT J. KRAMPS J. 85...A. VAN MAANEN C.. PERRIN M. Comparison of three polymerase chain reaction methods for routine detection of bovine herpesvirus 1 DNA in fresh bull semen. 47. RONSHOLT L. sci.. BITSCH V.. Amplification of DNA of BHV 1 isolated from semen of naturally infected bulls. DIJKSTRAB T.S. Bull. 75. EDWARDS S. ELOIT M.. Vet. (2000). (2006).. & VAN OIRSCHOT J. HOSTNIK P. SMITS. BEER M..T. WELLEMANS G. Epiz.. 71–75. 102..L. DE GEE A.T.. & RIJISEWIJK F. Epiz. GROM J.. MAITI RAMNEEK N. & BARLIC-MAGANJA D. MOORE S. J. Rev. C. VAN OIRSCHOT J. (2003).. (2000). seventh edition.. Virol. Molecular detection of BHV-1 in artificially inoculated semen and in the semen of a latently infected bull treated with dexamethasone. INTERNATIONAL DES EPIZOOTIES WORLD ORGANIZATION FOR ANIMAL HEALTH. 539–544.. GUERIN B. sci.J.. A European comparative study of serological methods for the diagnosis of infectious bovine rhinotracheitis. Pulaway. (2005). int. (1993).. TOPLAK I.T. KERKHOFS P. PERRIN M. Detection of bovine herpesvirus-1 infection in breeding bull semen by virus isolation and polymerase chain reaction. Vet. GUNN M.. 1085–1094.A.B.. PERRIN B. POLAK M. Off. ROLA J. N Y USA. 171. MERK & CO INC. tech. & OBEROI M. Vet.. THE MEREK VETERINARY MANUAL. Inst. 12. & WALLS D.. RAHWAY. Evaluation of tests for antibodies against bovine herpesvirus 1 performed in national reference laboratories in Europe.. Microbiol. .D.. int. 65–73.. 24. (2004). 145–153. J. 969–984. Off. 281 -290. Methods. Vet Microbiol.K. WIZIGMANN G. BANKS M. VANOPDENBOSCH E. Rev... tech. & ZMUDZINSKI J. LENIHAN P.169–181. A rapid and sensitive PCR-based diagnostic assay to detect bovine herpesvirus 1 in routine diagnostic submissions. CORDIOLI P. & THIBIER M.. GLAS R.