Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH ILMU LINGKUNGAN

Oleh :
Kelas : E
Kelompok :

Jembar Dea Sukmana

200110150023

Asep Saepul Anwar

200110150052

Nur Aidina

200110150276
200110150
200110150

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
SUMEDANG
2016

yang telah melimpahkan rahmat. sehingga penulis dapat menyelesaikan maklah ilmiah dengan judul “Pengaruh Temperatur Lingkungan Terhadap Respon Kekebalan Ayam Ras Pedaging”. Makalah ilmiah ini telah penulis susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini.KATA PENGANTAR Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha pengasih lagi Maha penyayang. Akhir kata penulis berharap makalah ilmiah ini dapat memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca. Terlepas dari semua itu. penulis panjatkan puji syukur atat kehadirat-Nya. 08 September 2016 Penulis . Untuk itu penulis menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini. Jatinangor. Oleh karena itu dengan tangan terbuka penulis menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar penulis dapat dapat memperbaiki makalah ini. penulis menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. hidayah.dan inayah-Nya kepada penulis.

.......................................................................... 3.............................................................................................................................................. 3.............3 Maksud dan Tujuan ............................................. Kata Pengantar............................................................................................ Daftar Isi...............................................................................................................1 Temperatur Lingkungan dan Stres......................................... 3......................... BAB I Pendahuluan. 1.............3 Problem Perunggasan di Daerah Tropis...................................................... BAB II Tinjauan Pustaka...4 Manfaat.......................................................2 Identifikasi masalah...................................................DAFTAR ISI Cover Makalah.............. 1.............................2 Heat Production (HP) dan Heat Lost (HL).............................................................................................................. .4 Respon Kekebalan Unggas....................................................................... 1.................................................................................... 1............................. BAB III Pembahasan................................................1 Latar Belakang.................................................................................... 3................

Sector agrikultur didalamnya termasuk peternakan. Oleh karena itu sangat penting untuk memperhatikan suhu dalam membuat peternakan. tapi bagi hewan ternak itu sendiri. Hal ini membuat industry ayam pedaging mempunyai peluang yang cukup besar untuk dijadikan bisnis. Iklim tropis sangat mendukung negara Indonesia dalam mengembangkan sektor agrikultur.I PENDAHULUAN 1. salah satunya adalah suhu. Indonesia sebagai salah satu negara yang terbentang di garis khatulistiwa sudah tentu merupakan negara yang memiliki iklim tropis. Pembangunan peternakan harus memperhatikan unsur lingkungan. Daging ayam merupakan daging yang sangat mudah dicari dan masyoritas orang menyukai daging ayam. Suhu merupakan factor yang cukup penting dalam ilmu peternakan. Tingginya suhu dapat membuat hewan ternak mengalami stress. tidak hanya lingkungan bagi peternaknya. sedangkan rendahnya suhu dapat mempengaruhi tingkat produksi ternak. 1.2 Identifikasi Masalah . Faktor-faktor dalam mempengaruhi produksi ternak ada banyak.1 Latar Belakang Konsumsi daging di Indonesia masih cukup rendah di bandingkan dengan negara-negara tetangga seperti Malaysia dan singapur. Salah satu makanan yang dapat memenuhi tingkat protein hewani masyarakat Indonesia adalah daging ayam.

selain menambah ilmu pengetahuan baik bagi penulis maupun pembaca.1.4 Manfaat Banyak sekali manfaat yang bisa diambil dari makalah ini. II . Imunitas ayam pedaging 1. juga memperkaya khasanah ilmu pengetahuan dalam dunia peternakan. Temperatur lingkungan terhadap ternak 2.3 Maksud dan tujuan Makalah ini dibuat untuk memberikan informasi lebih. khususnya terhadap mahasiswa fakultas peternakan tentang pengaruh lingkungan terhadap hewan ternak 1.

1984).8oC) mempengaruhi perkembangan respon imun spesifik unggas. dihasilkan menurunkan oleh sel T- . sejumlah besar lymphocyte darah menurun dan sejumlah besar heterophil meningkat (Gross dan Siegel. Konsentrasi corticosteron dalam darah digunakan untuk mengukur stres dan aktifitas fisiologis unggas. Metode yang lebih dapat dipercaya untuk pengkuran stres adalah sistem immune yang ditentukan oleh jumlah dan proporsi leukosit. (Gross dan Siegel. yang menekan peningkatatan level faktor proliferasi sel atau interleukin II (Siegel et al.Tinjauan Pustaka Beberapa mempengaruhi studi menunjukkan respon kekebalan bahwa unggas temperatur (Henken et lingkungan al. dapat Mekanisme mengenai temperatur lingkungan dapat bertindak sebagai penekan kekebalan tidak diketahui sepenuhnya. perbedaan fungsi immunological dan ukuran organ lymphoid. menurunkan respon antibodi (Gross et al. menekan sirkulasi sel darah putih (Nathan et al. Corticosteroid pada unggas saat stres dapat menyebabkan penurunan bobot badan dan atrophy dari organ limpa. 2000).4 – 47. Hal ini dapat dijelaskan dengan pertimbangan bahwa peningkatan aktifitas kelenjar adrenal berkaitan serumcorticosteroid penyebab dengan stres. (Thaxton et al. Intensitas dan durasi stres yang diinduksi oleh temperatur akan merusak sistem kekebalan unggas. Bagaimanapun menentukan level corticosteroid atau rasio heterophil/ lymphocyte tidak dapat selalu diterima sebagai suatu pengukuran yang akurat terhadap stres unggas. produksi oocyst yang meningkatkan lebih level lymphokines (molekul kepekaan tinggi (Long dan biologi aktif yang Ross. thymus dan bursa fabrisius. Ketika corticosteron ditambahkan pada pakan dalam suatu percobaan ayam. 1983). 1968).1982). terhadapcoccidiosis dan 1970). Temperatur lingkungan yang tinggi (44. 1998) serta menurunkan produksi antibodi unggas muda (Zulkifi et al. 1979). 1981). 1976) dan meningkatkan rasio heterophil/lymphocyte (Mogement and Youbicier-Simo.

lymphocytes) dan natural killer sel (Isobe dan Lillehaj. juga meningkatkan kematian dan peka terhadap penyakit. Interferon (protein yang dikeluarkan oleh sel terinfeksi untuk menghambat replikasi virus).lymphocytes). dan menurunkan jumlah sel T-lymphocytes (thymus. terjadi invasi ke aliran darah (bakterimia). Resistensi penyakit sepertisalmonellosis dan colibacillosis padaunggas serta mycoplasmosis pa da kalkun adalah menurun oleh stres dingin. Unggas akan menurunkan konsumsi pakan 10-20% pada musim panas dibandingkan musim penghujan. 1992). Pada percobaan telah menunjukkan bahwa tingkat kematian pada ayam yang diinfeksi dengan infectious bronchitis dan avian nephritis virus akan meningkat oleh cold stress dan kekurangan energi dan protien dalam jumlah banyak. Pengaruh stres jenis ini selama periode brooding akan mempengaruhi imunitas dan performans kelompok unggas. rangsangan sistem immun dan kematian terjadi pada ayam yang terinfeksi oleh E. Hangalapura (2006). Produksi protein selama heat stress menurunkan aktifitas phagocytes seperti produksi dari sebuah faktor tumoricidal oleh chicken macrophages. mikroflora usus dapat mencegah translokasi bakteri patogenik pada aliran darah dan hati dengan syarat mucosa usus tetap baik. Dibawah kondisi normal. Dan ketika pelindung ini dirusak oleh stres. coli Pengaruh Heat stress pada flock unggas akan menurunkan feed intake. untuk meminimalkan sejumlah besar panas dari proses pencernaan dan energi metabolis. . menerangkan bahwa panas yang ekstrim atau dingin akan mempengaruhi performans unggas dengan mengurangi pertambahan bobot badan dan menurunkan produksi telur. Stres karena faktor iklim dapat juga mempengaruhi B-cell immunity (produksi antibodi) dan T-cell immunity.

Hewan yang terpapar penyakit infeksi pada umumnya akan menjadi stres. Cell Mediated Immunity (CMI) adalah sistem kekebalan (antibodi yang independent). Jayawardane & Spradbrow 1955a). . Unggas yang terekspos oleh temperatur yang tinggi akan menjadi stres. 1997). (Dabbert et al. Timms & Alexander 1977. Toivane &Toivane 1987). dibawah kontrol thymus (Schultz 1982. CMI memberikan respon kekebalan awal saat infeksi. apalagi didukung dengan kurangnya biosekuriti dan sanitasi di lingkungan kandang. serta resistensi terhadap penyakit infeksi. dan dapat dideteksi lebih awal pada 2-3 hari setelah vaksinasi dengan live vaccines (Ghuman & Bankowski 1975. Agraval & Reynolds 1991. Stres akan menurunkan humoral dan cell mediated immunity.

Pada kondisi ini secara nyata dilaporkan oleh beberapa peneliti bahwa stres karena suhu lingkungan yang tinggi akan menekan respon kekabalan dalam memproduksi antibodi. dan menghasilkan bobot badan yang tinggi. Secara genetik ayam ras pedaging saat ini mempunyai pertumbuhan yang cepat. Pengaruh suhu lingkungan yang tinggi ini juga berpengaruh pada hasil vaksinasi. Proses adaptasi ini meyebabkan pelepasan hormon dan memerlukan penggantian cadangan tubuh termasuk energi dan protein yang mengakibatkan penurunan pertumbuhan.3 – 32. kepanasan. .3 oC. 1987). transportasi. kecepatan angin/aliran udara) dan stres sosial (kompetisi pakan. secara alami akan terekspos oleh variasi stres lingkungan (kedinginan. (Beard et al. Perkembangan ayam broiler di berbagai belahan dunia dihadapkan pada tingginya angka mortalitas dan rendahnya produktifitas karena pengaruh tingginya temperatur lingkungan pada musim panas. reproduksi dan kesehatan dan dalam waktu yang lama unggas menjadi kelelahan dan lemah. Oleh karena itu perlu mengusahakan manajemen dan nutrisi yang baik karena ayam broiler tidak toleran terhadap masalah manajemen dan penyakit.1 Temperatur Lingkungan dan Stres Dalam pemeliharaan ayam broiler dengan sistem perkandangan terbuka. Stress dapat digambarkan sebagai suatu respon dari lingkungan luar yang diterima oleh kelompok ayam untuk adaptasi pada situasi yang abnormal atau baru. Untuk itu vaksinasi pada peternakan unggas hendaknya dilakukan pada suhu yang moderat yaitu sekitar 18. konversi pakan lebih baik.III Pembahasan 3. sering menderita kelaparan dan terserang penyakit infeksi. kepadatan populasi ayam dalam kandang).

8. gangguan keseimbangan dan kematian. 5. pertumbuhan bulu. Pada tahap adaptasi ini rangsangan dari susunan pusat syarap otak (hypothalamus) memerintahkan cortex adrenal untuk melepaskan hormon glucocorticoid yang dikenal sebagai corticosterone.menurunkan jumlah lymphocyte dan atrophy organ lymphoid (Latshaw. 1990). maka akan mengalami fase kelelahan. dalam jangka pendek meningkatkan resistensi terhadap infeksi Escherichia coli (Gross. unggas menyiapkan diri untuk melepaskan glukosa dengan cepat. Stres dalam jangka waktu lama dapat menurunkan feed intake.Unggas yang mengalami stres. Stress menyebabkan respon antibodi dari vaksinasi menurun dan meningkatkan kepekaan terhadap berbagai penyakit (Gross. 7. 2. 4. 1985) Stres juga dapat menyebabkan perubahan jumlah leucocytes (heterophil/lymphocyte rations). dan reproduksinya. lemak dan protein. memerlukan energi dan nutrisi agar tetap hidup untuk pertumbuhan. stres merangsang syaraf postganglionik dan jaringan medula dari kelenjar adrenal yang melepaskancatecholamin termasuk adrenalin dan noradrenalin. 1992). 6. Dengan adanya catecholamin ini. Pengaruh stress pada unggas adalah : 1. 3. Meningkatkan level hormon corticosterone. Hormon ini bertanggung jawab untuk pembentukan glukosa dari cadangan karbohidrat. insulin atau glucagon Meningkatkan kecepatan metabolisme dan pengurasan energy Meningkatkan pemakaian glukosa sebagai sumber energi. Selama periode pertumbuhan. unggas yang mengalami stres tidak mengalami pertambahan bobot badan dan efisiensi pakan menjadi menurun. Pada tahap awal. Peningkatan pembebasan asam lemak dalam plasma Hypoglycemia (peningkatan pemanfaatan glukosa) Menurunkan pertumbuhan dan meningkatkan degradasi otot Melepaskan cytokines fase akut (monokynes dan lymphokynes) Pertumbuhan tulang dan tulang rawan menjadi lemah . Pada akhirnya jika unggas tidak bisa mengendalikan stres dan ketersediaan cadangan energi tidak mencukupi. imunitas.

6. Kalau usaha menaikkan HP tidak mampu . Immunosuppression. Menurunkan feed intake (anorexia) 12. Berdasarkan penelitian ”zone thermoneutral” bervariasi tergantung pada faktor umur. 3. status fisiologis. 4. 2. status gizi pakan. ayam dan lainnya. jumlah panas yang dihasilkan oleh aktivitas otot dan metabolisme jaringan/”heat prouction”(HP) sebanding dengan jumlah panas yang hilang/”heat loss” (HL). sehingga cenderung HP = HL. Redistribusi trace mineral menjadi jelek 10. viscera.2 Heat Production (HP) dan Heat Lost (HL) Unggas termasuk hewan berdarah panas. Terdapat fenomena. suhu tubuh akan turun. sedangkan bila melebihi HP. Pembatasan pakan (feed restriction) Temperatur lingkungan yang tinggi dan rendah Ketakutan dan frustasi Suara gaduh Transportasi Sebab perbedaan respon leukosit 3. Meningkatkan temperatur tubuh 13. hati. Secara teoritis dikenal adanya ”zona thermoneutral” yaitu suatu kisaran temperatur lingkungan dimana pada kisaran ini tidak ada /sedikit sekali terjadi perubahan pada HP.9. maka bilamana HP melebihi HL temperatur tubuh akan naik. jantung. Temperatur organ vital seperti sistem syaraf pusat. Sintesis protein terhambat 11. dan lain-lain cenderung konstan dan dapat dikontrol dengan baik. Yang bertindak sebagai pemicu stres diantaranya adalah : 1. 5. Burung/unggas seperti juga mamalia adalah tergolong homeothermis yaitu dapat mengatur suhu tubuhnya relatif konstan terhadap perubahan kondisi lingkungan agar dapat melaksanakan fungsi fisiologis secara normal. Salah satu faktor lingkungan yang mempengaruhi keseimbangan panas (”heat balance”) adalah temperatur.

Pada prinsipnya. pergantian pakan. 2. tindakan potong paruh yang kasar dan juga perubahan cuaca yang mendadak. Ada dua jenis panas yang hilang karena pengaruh lingkungan yaitu : 1. Faktor eksternal antara lain meliputi program pencahayaan. kelaparan.melampaui HL. kehausan. berbagai faktor eksternal . sistem indera dan sistem hormonal. Insensible heat loss / evaporative heat loss yaitu panas tubuh yang dikeluarkan selama peristiwa panting. Sedangkan faktor internal meliputi sistim syaraf. kandang terlampau padat. kandang kotor dan buruknya ventilasi. Sumber utama untuk meningkatkan HP adalah pakan. Sensible heat loss yaitu panas yang hilag dari tubuh karena : a) Radiasi : panas hilang karena temperatur permukaan tubuh lebi tinggi dari temperatur lingkungan. b) Konduksi : perpindahan panassecara langsung dari permukaan tubuh ke uara sekelilingnya melalui suatu konduktor c) Konveksi : panas yang keluar dari permukaan tubuh karena bersinggungan dengan udara lingkungan yang bergerak. pindah kandang. maka temperatur tubuh akan naik. peristiwa ini disebut ”hyperthermia”. Reaksi ayam kalaui dipelihara dibawah ”lower critical point” akan berusaha meningatkan HP dengan cara menggigil (shievering). ventilasi. karena ayam tidak mempunyai kelenjar keringat. Faktor penyebab cekaman pada unggas terbagi menjadi faktor eksternal dan internal. cenderung lebih banyak makan dibanding yang bertemperatur tinggi. maka temperatur tubuh akan turun. oleh karena itu aya yang dipelihara pada lingkungan yang bertemperatur rendah . kalau usaha untuk menaikkan HP tidak mampu melampaui HL.

5oC sebagai suhu thermonetral. gelisah. sirkulasi darah. terjadi akibat adanya gangguan keseimbangan hormonal dalam tubuh sehingga fungsi organ terganggu. Perubahan iklim yang ekstrim dapat menyebabkan fluktuasi yang luas pada penampilan unggas. konduksi. pernafasan. Sebagai ternakhomeothermis unggas berusaha mempertahankan suhu tubuh sekitar 41. lesu. mempunyai elektron tidak berpasangan dan berat molekulnya rendah. hormon. kulit telur tipis. sehingga panas akan terus menerus hilang melalui empat macam mekanisme yaitu : konveksi. nafsu makan berkurang. Unggas yang tercekam ditandai dengan beberapa ketidaknormalan kondisi fisik maupun tingkah laku seperti pial kebiruan. panas tubuh naik/turun. minum terlampau banya. Suhu tubuh unggas biasanya lebih tinggi daripada suhu sekitarnya. saling mematuk dan berkelahi. Cekaman melibatkan pertukaran panas antara unggas dengan lingkungan. Hal ini memungkinkan unsur radika bebas menyusup ke tempat-tempat yang ikatan elektronnya kuat. dapat merusak sel-sel tubuh. fungsi fagositik sel dan transduksi sinyal senyawa pengoksidasi yang bersifat reaktif. tetapi sebagian yang lain penting untuk reaksi metabolisme sel. penyesuaian sistem cairan tubuh. yang dalam prosesnya terdapat mekanisme produksi panas. terengah-engah (panting).tersebut merupakan tekanan yang menyebabkan terlepasnya radikal bebas dalam tubuh. pembentukan antibodi terganggu dan unggas lebih peka terhadap serangan aneka penyakit. bersuara keras terus-menerus. Sebagian elektron kuat berpotensi mengganggu. Radikal bebas adalah molekul atau senyawa yang dapat berdiri sendiri. sehingga keseimbangan elektrolit terganggu. radiasi dan . Akhir dari proses tersebut daya tahan tubuh menurun. Berat molekul rendah menyebabkan radikal bebas sangat sensitif. dan pencernaan pada keadaan tercekam dan kebutuhan pakan ternak sedang tercekam. Lepasnya radikal bebas pada tubuh unggas. telur benjol.

sedangkan day old chick 300-560/ menit. menghindari aliran udara dan berkumpul di sumber panas radiatif misalnya lampu brooder. Selanjutnya konveksi.evaporasi. Unggas akan membuat perubahan posisi seperti istirahat dengan sayap mengembang dan kaki terbentang menjauhi badan (stretching) untuk meningkatkan konveksi hilangnya panas. Unggas yang kedinginan akan mengurangi aliran darah ke kaki dengan cara berkerumun bersama. Kadar glukosa plasma day old chick 235 mg/100 ml. 3.000/mm 3. Standar Fisiologis Aspek lain kondisi nyaman bagi unggas dapat ditunjukkan dari standar fisiologis normalnya yaitu. sedangkan ayam jantan 3. Unggas dalam sebuah kelompok akan berpencar untuk berusaha meningkatkan aliran udara di sekitar mereka dan untuk mengurangi pertambahan panas konduksi dan panas radiasi dari unggas yang lain.3 Problem Perunggasan di Daerah Tropis . jumlah darah sekitar 7% berat badan.000-80. Jumlah eritrosit ayam betina 2.49 oC. angka respirasi 20-30 kali/ menit. Panting berkepanjangan dapat mengakibatkan dehidrasi. Unggas tidak mempunyai kelenjar keringat dan satu-satunya cara adalah penguapan air melalui paru-paru dengan cara panting (terengah-engah). Denyut jantung ayam dewasa 250-350/ menit. sedangkan evaporasi diartikan kehilangan panas yang tidak wajar. Kemampuan mengubah kehilangan panas yang dimiliki unggas untuk mengontrol suhu tubuhnya. tekanan darah 150-190 mmHg. jumlah leukosit disominasi oleh limfosit berjumlah 40. suhu tubuh ayam dewasa sekitar 41. sedangkan ayam berumur 2-5 bulan 242/100 ml. keseimbangan elektrolit asam dan basa dalam tubuh terganggu serta terganggunya proses metabolisme terutama pada pencernaan nutrisi. Unggas yang kepanasan akan mengalirkan aliran darah ke jengger dan pial di kepala dan juga meningkatkan aliran darah ke kaki.72 juta – 3 juta / mm 3.24 juta – 3. konduksi dan radiasi diartikan kehilangan panas yang wajar.8 juta/mm3.

bahkan sering dijumpai kematian ayam . Secara fisiologis sebenarnya unggas senantiasa berupaya untuk mempertahankan suhu tubuhnya melalui : evaporasi (pernafasan dan panting). menyatakan bahwa setiap kenaikan temperatur kandang 3oC akan secara nyata mempengaruhi performans unggas yang dipelihara. konversi ransum) yang sesuai dengan standart potensi genetik. Problem utama daerah tropis yang sering dijumpai adalah tingginya angka mortalitas (diatas 10%). minum lebih banyak. mencari tempat dingin). konveksi (menjauhkan sayap dari tubuh). panjang waktu terpaan panas. konduksi (mengurangi aktifitas. Pada suhu lingungan 37oC dan kelembaban 55%. sedangkan pada suhu ambien yang sama dengan kelembaban 75% maka suhu tubuh ungas menjadi 47oC dan dapat menyebabkan kematian. ekskresi (kadang-kadang diare). yang kondisi tersebut sering menimbulkan cekaman pada unggas yang pada akhirnya berakibat turunnya produksi. Lebih lanjut efek suhu tinggi akan semakin besar apabila diikuti dengan kelembaban yang tinggi. Disamping hal tersebut juga sulitnya menghasilkan performans (bobot badan. Kombinasi suhu dan kelembaban serta kombinasi faktor-faktor tersebut mengakibatkan kenaikan suhu tubuh unggas. Heat stress syndrome lazim terjadi pada waktu dini hari saat udara dingin ataupun siang hari saat terik matahari. Kondisi ini merupakan cekaman. Sehubungan dengan tingginya temperatur dan kelembaban di daerah tropis perlu diketahui bahwa banyak faktor yang mempengaruhinya antara lain : umur unggas (bobot badan).Kondisi daerah tropis termasuk Indonesia dikenal memiliki temperatur dan kelembaban tinggi (lebih 24oC dan 40%). Kasus kematian ayam pada industri perunggasan di Indonesia yang berhubungan dengan suhu dan kelembaban adalahheat stress syndrome. maka suhu tubuh unggas meningkat menjadi 45oC. sirkulasi udara. produksi telur. besarnya radiasi maupun kepadatan unggas per m2. North (1984). berat daging. radiasi (lewat pembuluh darah perifer). suhu air minum.

Cekaman akan menurunkan daya tahan dan kekebalan tubuh. 3. Hal ini dapat dimegerti karena pada udara dingin unggas akan menguras energi dalam rangka memprtahankan suhu tubuhnya. alamiah lainnya atau oleh pengaruh vaksin. Seperti virus lainnya. yang ada kalanya diikuti dengan kematian tiba-tiba (James dan Thomas. Virus yang ada pada saluran pencernaan ini hanya menyebabkan hipoglisemia ringan dan immunosupresi. local immunity dan passive immunity. . 1996). seperti pengaruh infeksi NDV. Kekebalan tubuh yang rendah akan sangat mudah terinfeksi virus. sistem kekebalan pada unggas (avian immune system) pada prinsipnya adalah sama dengan sistem kekebalan pada mammalia dalam hubungan selular diantara macrophage dan lymphocytes dan hubungan antara sel-B dan sel-T.4 Respon Kekebalan Unggas Sharna (1991) menerangkan bahwa. Hal ini ditunjukkan dengan munculnya gejala tremor. Kondisi ini semakin parah pada saat unggas lepas indukan atau divaksin IBD. Newcastle Disease Virus (NDV) dapat menginduksi cell-mediated immunity. semetara pada udara panas proses metabolisme pakan akan melepaskan panas yang harus dilepaskan melalui proses evaporasi (penguapan melalui udara pernafasan) bahkan mengalami panting( megap-megap).mendadak. (Alexander 1991. T-lymphocytes adalah komponen kekebalan seluler sedangkan B-lymphocytes adalah komponen kekebalan humoral (Toivanen & Toivanen 1987). Sharna 1991) Passive Immunity (kekebalan pasif) adalah transfer maternal antibody dari induk ke anak-anak keturunannya dan yang terpenting adalah untuk memberi proteksi awal pada anak-anaknya (Alexander 1991). Penyakit immunosupressive dapat mempengaruhi respon kekebalan. humoral immunity.

(Timms & Alexander 1977. Antigen NDV dapat dilarutkan oleh induksi dari kepekaanlymphocyte yang melepaskan lymphokin sehingga dapat mempermudah membentuk respon kekebalan lokal (local immune response) dan respon kekebalan humoral (humoral immune response). Alexander 1991). Pada kasus infeksi kepekaan lymphocytes ketika NDV. (Darbyshire 1987. (Alexander 1991).Passive immunity bisa mengganggu respon kekebalan dari vaksinasi ketika digunakan vaksin hidup (live vaccines). Passive immunity menyebabkan timbulnya immunoglobulintipe G (IgG) tetapi tidak Immunoglobullin tipe A (IgA) atau Immunoglobullin tipe M (IgM).5 hari setelah penetasan. . Schat 1991.Induk Ayam dengan antibodi NDV diturunkan pada turunannya melalui kuning telur dan antibodi tersebut akan bertahan sampai 4. dengan uji HI. Slauson & Cooper 1984). sel-sel mereka infeksi mengenal dapat dihancurkan antigen-antigen virus oleh pada permukaan reseptor sel dimana replikasi NDV terjadi. Russel 1993.