Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN KASUS

STASE SYARAF RSIJ CEMPAKA PUTIH
CARPAL TUNNEL SYNDROME

Oleh :
Khairunnisa 2011730049

Dokter Pembimbing :
dr. Wiwin Sundawiyani, Sp.S

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2016

Kemayoran gempol Status Pekerjaan : Menikah : Pegawai swasta Tanggal Masuk RS : 14. Pasien mengeluhkan rasa sedikit tebal pada jari tengah. Kesemutan bersifat hilang timbul dan dirasakan terutama pada malam hari Nyeri berkurang bila dikebas-kebaskan. Nyeri dirasakan ± 3 hari yang lalu. Pasien menyangkal riwayat bengkak dan panas di pergelangan tangan. telunjuk dan ibu jari. IDENTITAS PASIEN No Rekam Medik : 00-XXXX Nama Jenis Kelamin Usia Agama : Ny . oleh psien tangan yang sakit masih tetap digunakan untuk beraktifitas sebagai ibu rumah tangga. Kesemutan terutama dirasakan pada sisi dalam jari tengah.BAB I A.Y : Perempuan : 57 tahun : Islam Alamat : Jl. Pasien menyangkal riwayat kelemahan anggota gerak. Pasien juga menyangkal kebiasaan idur menumpu pada pergelangan tangan. Keluhan munul bersamaan dengan rasa kesemutan.09.00 B. Pasien juga menyngkal riwayat jatuh menumpu pada tangan. telunjuk dan ibu jari. ANAMNESIS Keluhan Utama : Telapak tangan kanan sering kesemutan.2016 / 12. Pasien mengaku mempunyai kebiasaan menui dan memeras pakaian dengan tangan dirumah. Pasien juga mengaku terdapat nyeri di pergelangan tangan yang tidak menjalar. Pasien menyangkal . Keluhan Tambahan :- Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien mengeluh kesemutan di telapak tangan kanan yang dirasakan sejak ± 1 bulan yang lalu.

sekret (-/-) Mulut : bibir kering (-). wheezing (-/-) Jantung : bunyi jantung I dan II normal. gusi berdarah (-) : pembesaran KGB (-) : kulit tidak anemis. murmur (-) Abdomen Inspeksi : permukaan datar. mucosa bucal licin tidak ada lesi. DM (-) tidak ada riwayat trauma sebelumnya. Auskultasi : bising usus (+) normal 20x/menit Perkusi : timpani di seluruh kuadran abdomen (+) . pembesaran tonsil (-). mukosa edem (-/-) Telinga : normotia. STATUS GENERALIS Kepala : normochepal Rambut : rambut tidak rontok. retraksi dinding dada (-) : tidak ada lapang paru tertinggal. epistaksis (-/-). regular. Riwayat Penyakit Keluarga :- Riwayat Pengobatan Riwayat Alergi Riwayat Psikososial ::: Pasien merupakan ibu rumah tangga yang memiliki kebiasaan mencuci dengan menggunakan tangan C. massa/benjolan (-) : sonor di kedua lapang paru : Paru : suara napas vesicular (+/+). sekret (-/-). lidah bersih. PEMERIKSAAN FISIK Keadaan Umum : pasien tampak sakit ringan Kesadaran : compos mentis GCS : 15  Eye: 4. purpura (-). Motorik: 6 Tanda Vital Tekanan darah : 120/80 mmHg TB: 160 cm Nadi : 86 x/menit BB: 60 kg Pernapasan : 20 x/menit Suhu : 37oC D. reflex pupil (+/+) Hidung : deviasi septum (-/-). ekimosis (-). Riwayat Penyakit Dahulu : HT (-). simetris. gallop (-). hitam Mata : konjungtiva anemis (-/-). sklera ikterik (-/-). turgor kulit cepat Leher Kulit kembali Thoraks Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi : pergerakan dinding dada simetris. Verbal: 5. rhonki (-/-). faring hiperemis (-).riwayat kesulitan dalam memegang botol atau bendabenda sejenis.

Brudzinski II : negatif F. PEMERIKSAAN NERVUS CRANIAL 1. STATUS NEUROLOGIS Rangsang Meningeal . turgor kulit cepat kembali (+) Ekstremitas Superior : akral hangat. edema (-). sianosis (-) E. Nervus Optikus Tajam Penglihatan Lapang Pandang Pengenalan Warna Funduskopi Papil edema Arteri:Vena Tidak dilakukan 3.Kaku kuduk : negatif .Lasegue : negatif/negatif . RCT < 2 detik. Nervus Olfaktorius Daya pembau Dextra Sinistra Normosmia Normosmia Dextra Tidak dilakukan Sinistra Tidak dilakukan Normal Normal Tidak dilakukan Tidak dilakukan 2. Nervus Okulomotorius Ptosis Gerakan Bola Mata    Medial Atas Bawah Dextra Sinistra - - Baik Baik Baik Baik Baik Baik Ukuran Pupil Refleks Cahaya Langsung Pupil bulat isokor Ø 3 mm + + . edema (-). RCT < 2 detik.Kernig : negatif/negatif . sianosis (-) Inferior : akral hangat.Brudzinski I : negatif . hepatomegali (-). splenomegali (-).Palpasi : nyeri tekan (-).

Nervus Vestibulochoclearis Tes Romberg Tes bisik Tidak dilakukan Normal Normal . Nervus Facialis Dextra Sinistra Mengangkat alis + + Kerutan dahi + + Menutup mata + + Menyeringai + + Dextra Sinistra 8.Refleks Cahaya Konsensual Akomodasi + + Baik Baik Dextra Sinistra Baik Baik 4. Nervus Trokhlearis Gerakan Mata Medial Bawah 5. Nervus Abdusens Dextra Gerakan mata ke lateral Nistagmus Sinistra Tidak dilakukan Tidak dilakukan Tidak dilakukan 7. Nervus Trigeminus Menggigit Normal Membuka mulut Normal Sensibilitas    Oftalmikus Maksilaris Mandibularis Tidak dilakukan Tidak dilakukan Tidak dilakukan Tidak dilakukan Refleks kornea Tidak dilakukan Tidak dilakukan Tidak dilakukan Refleks bersin Tidak dilakukan 6.

Tes Rinne Tes Weber Tes Schwabach Tidak dilakukan 9. Nervus Glosofaringeus & Nervus Vagus Arkus faring Gerakan simetris Daya Kecap Lidah 1/3 belakang Tidak dilakukan Refleks Menelan Normal Refleks Muntah Tidak dilakukan 10. PEMERIKSAAN MOTORIK Anggota Gerak Atas Dextra Bentuk Kekuatan Sinistra Tidak ada deformitas 5 5 5 5 5 5 5 Reflex Bisep + + Reflex Trisep + + Dextra Sinistra Anggota Gerak Bawah 5 . Nervus Hipoglosus Sikap lidah Tidak ada deviasi Fasikulasi - Tremor lidah - Atrofi otot lidah - G. Nervus Assesorius Dextra Sinistra Memalingkan kepala Baik Baik Mengangkat bahu Baik Baik 11.

namun tidak didapatkan gerakan pada persendian yang harus digerakkan oleh otot tersebut. 5: Tidak ada kelumpuhan. 4: Dapat melawan gaya yang diberikan dan dapat mengatasi tahanan yang diberikan. PEMERIKSAAN SENSORIK Dextra Sinistra Tidak dilakukan Tidak dilakukan Ekstremitas Atas + + .Bentuk Kekuatan Tidak ada deformitas 5 5 5 5 5 5 5 Reflex Patella + + Reflex Achilles + + 5 Kekuatan otot: 0: Tidak didapatkan sedikitpun kontraksi otot. 1: Terdapat sedikit kontraksi otot.Ekstremitas Bawah Rasa Suhu + + Rasa Raba - Ekstremitas Atas . tetapi gerakan ini tidak mampu melawan gaya gravitasi.Ekstremitas Bawah Rasa Nyeri - - Ekstremitas Atas - Ekstremitas Bawah Tidak dilakukan I. 2: Didapatkan gerakan. H. Refleks Patologis Dextra Sinistra Babinski - - Chaddocck - - Oppenheim - - Gordon - - . lumpuh total. 3: Dapat mengadakan gerakan melawan gaya berat dan dapat mengatasi sedikit tahanan yang diberikan.

finger to finger : normal Palpasi tonus : tonus thenar dan hypothenar muscles normal .Schaeffer - - Gonda - - Hoffman Trommer - - PEMERIKSAAN LOKALIS Inspeksi statis : tidak ada kolaps otot thenar yang terlihat Inspeksi dinamis : pasien terlihat mengurut-urut jarinya. gerakan normal Tes orientasi : normal Pemeriksaan gerak dasar:Aktif : full ROM tanpa nyeriPasif : full ROM tanpa nyeriTIMT : bisa melawan tahanan Restricted : ROM : dalam batas normal ADL : tidak ada keterbatasan ADL Pekerjaan : pasien masih mampu melakukan pekerjaannya Spesific test : Phalen’s test : positif Tinel’s sign : positif Pressure test : positif Tes motorik : MMT : 5 untuk semua otot wrist dan hand Tes sensoris : Tes tajam tumpul : normal Arah gerak : normal Rasa gerak dan rasa posisi : normal Beda dua titik : normal Tes koordinasi finger to nose.

5 + lidocain 1amp Vit B kompleks 1x1 Non-farmakologis: Istirahatkan pergelangan tangan PROGNOSIS • Quo ad vitam : bonam • Quo ad functionam : dubia ad bonam • Quo adsanationam : dubia ad bonam .DIAGNOSA • Diagnosa Klinis : Carpal Tunel Syndrome • Diagnosa Topis :- • Diagnosa Etiologi : jepitan nervus medianus pada carpal tunel • Diagnosis patologi : Inflamasi TERAPI Farmakologis: Inj triamsinolon acetat 0.

Dejong 1979. STK pertama kali dikenali sebagai suatu sindroma klinik oleh Sir James Paget pada kasus stadium lanjut fraktur radius bagian distal (1854). Terowongan karpal terdapat di bagian sentral dari pergelangan tangan di mana tulang dan ligamentum membentuk suatu terowongan sempit yang dilalui oleh beberapa tendon dan nervus medianus. Mumenthaler 1984)1 . Nervus medianus mengalami tekanan pada saat berjalan melalui terowongan karpal di pergelangan tangan menuju ke tangan. Tulang-tulang karpalia membentuk dasar dan sisi-sisi terowongan yang keras dan kaku sedangkan atapnya dibentuk oleh fleksor retinakulum (transverse carpal ligament dan palmar carpal ligament) yang kuat dan melengkung di atas tulang-tulang karpalia tersebut.PEMBAHASAN A. Biasanya . Definisi Sindroma Terowongan Karpal (STK) merupakan neuropati tekanan atau cerutan terhadap nervus medianus di dalam terowongan karpal pada pergelangan tangan. tepatnya di bawah tleksor retinakulum (cit. Epidemiologi STK adalah entrapment neuropathy yang paling sering dijumpai. Istilah STK diperkenalkan oleh Moersch pada tabun 1938.Foix pada taboo 1913. Umumnya pada keadaan awal bersifat unilateral tetapi kemudian bisa juga bilateral. Penyakit ini biasanya timbul pada usia pertengahan. STK spontan pertama kali dilaporkan oleh Pierre Marie dan C. sindroma ini juga disebut dengan nama acroparesthesia . B.Samuel 1979. Setiap perubahan yang mempersempit terowongan ini akan menyebabkan tekanan pada struktur yang paling rentan di dalamnya yaitu nervus medianus. median thenar neuritis atau partial thenar atrophy.Dulu. Wanita lebih banyak menderita penyakit ini daripada pria.

Lama-kelamaan safar menjadi atrofi dan digantikan oleh jaringan ikat yang mengakibatkan fungsi nervus medianus terganggu secara menyeluruh. prevalensinya sedikit bertambah. Prevalensi STK bervariasi.lebih berat pada tangan yang dominan. Keadaan iskemik ini diperberat lagi oleh peninggian tekanan intrafasikuler yang menyebabkan berlanjutnya gangguan aliran darah. C. Etiologi . Tekanan langsung pada safar perifer dapat pula menimbulkan invaginasi Nodus Ranvier dan demielinisasi lokal sehingga konduksi saraf terganggu. Tekanan yang berulang-ulang dan lama akan mengakibatkan peninggian tekanan intrafsikuler. Pada beberapa keadaan tertentu. Minnesota. Di Mayo Clinic. Ada beberapa hipotesa mengenai patogenese dari STK. Pada populasi Rochester. Sedangkan Hudson dkk menemukan bahwa 62% entrapment neuropathy adalah STK. Selanjutnya terjadi vasodilatasi yang menyebabkan edema sehingga sawar darah-saraf terganggu. Sebagian besar penulis berpendapat bahwa faktor mekanik clan vaskular memegang peranan penting dalam terjadinya STK. Akibatnya terjadi kerusakan pada saraf tersebut. Kongesti yang terjadi ini akan mengganggu nutrisi intrafasikuler lalu diikuti oleh anoksia yang akan merusak endotel. ditemukan ratarata 99 kasus per 100. Di Maastricht. Hipotesa ini menerangkan bagaimana keluhan nyeri dan sembab yang timbul terutama pada malam/pagi hari akan berkurang setelah tangan yang terlibat digerak-gerakkan atau diurut (mungkin akibat terjadinya perbaikan sementara pada aliran darah). Belanda.000 pasien wanita/tahun dan 68 per 100. Kerusakan endotel ini akan mengakibatkan kebocoran protein sehingga terjadi edema epineural. Pada STK akut biasanya terjadi penekanan yang melebihi tekanan perfusi kapiler sehingga terjadi gangguan mikrosirkulasi dan timbul iskemik saraf. Akibatnya aliran darah vena intrafasikuler melambat.000 pasien pria/tahun. 16% wanita dan 8 % pria dilaporkan terbangun dari tidurnya akibat parestesi jari-jari. Umumnya STK terjadi secara kronis di mana terjadi penebalan fleksor retinakulum yang menyebabkan tekanan terhadap nervus medianus.000 penduduk per tahun. misalnya pada kehamilan. pada tahun 1976-1980 insidensnya 173 per 100. 45% wanita dan 8% pria yang mengalami gejala ini terbukti menderita STK setelah dikonfirmasi dengan pemeriksaan elektrodiagnostik. Apabila kondisi ini terus berlanjut akan terjadi fibrosis epineural yang merusak serabut saraf.

4. Gejala awal biasanya berupa parestesia. sarkoidosis. Manifestasi klinis Pada tahap awal gejala umumnya berupa gangguan sensorik saja . 5. kurang merasa (numbness) atau rasa seperti terkena aliran listrik (tingling) pada jari 1. gout. Setiap kondisi yang mengakibatkan semakin padatnya terowongan ini dapat menyebabkan terjadinya penekanan pada nervus medianus sehingga timbullah STK. tuberkulosis. polimialgia reumatika. infiltrasi metastase. mieloma. lipoma. Keluhan parestesia biasanya lebih menonjol di malam hari. kehamilan. misalnya HMSN ( hereditary motor and sensory neuropathies) tipe III. Degeneratif: osteoartritis. 6. D. Trauma: dislokasi. Pada sebagian kasus etiologinya tidak diketahui. 9. Infeksi: tenosinovitis. fraktur atau hematom pada lengan bawah. Gejala lainnya adalah nyeri di tangan yang juga dirasakan lebih berat pada malam hari sehingga sering membangunkan penderita dari tidurnya. terapi estrogen atau androgen. komplikasi dari terapi anti koagulan. Herediter: neuropati herediter yang cenderung menjadi pressure palsy. terutama pada penderita lanjut usia.2. pergelangan tangan dan tangan . skleroderma. 7. Beberapa penulis menghubungkan gerakan yang berulang-ulang pada pergelangan tangan dengan bertambahnya resiko menderita gangguan pada pergelangan tangan termasuk STK. lupus eritematosus sistemik. 8.Sprain pergelangan tangan.Terowongan karpal yang sempit selain dilalui oleh nervus medianus juga dilalui oleh beberapa tendon fleksor. 2. 3.Gangguan motorik hanya terjadi pada keadaan yang berat.3 dan setengah sisi radial jari 4 walaupun kadang-kadang dirasakan mengenai seluruh jari-jari. diabetes mellitus. hipotiroidi. Endokrin : akromegali. hematoma. Penyakit kolagen vaskular : artritis reumatoid. Rasa nyeri ini umumnya agak berkurang bila penderita memijat atau menggerak-gerakkan tangannya atau . Metabolik: amiloidosis. Trauma langsung terhadap pergelangan tangan. Pada kasus yang lain etiologinya adalah : 1. Neoplasma: kista ganglion. Iatrogenik : punksi arteri radialis. pemasangan shunt vaskular untuk dialisis. Pekerjaan : gerakan mengetuk atau fleksi dan ekstensi pergelangan tangan yang berulang-ulang.

Pemeriksaan fisik Harus dilakukan pemeriksaan menyeluruh pada penderita dengan perhatian khusus pada fungsi. Penderita diminta mengibas-ibaskan tangan atau menggerakgerakkan jari-jarinya. Hipesetesia dapat dijumpai pada daerah yang impuls sensoriknya diinervasi oleh nervus medianus. sering dinyatakan dengan keluhan adanya kesulitan yang dialami penderita sewaktu mencoba memutar tutup botol atau menggenggam. Kelemahan pada tangan juga dapat dijumpai. Harus diingat bahwa tanda ini juga dapat dijumpai pada penyakit Raynaud. sedangkan parestesia umumnya terbatas di daerah distal pergelangan tangan . Pada tahap yang lebih lanjut penderita mengeluh jari-jarinya menjadi kurang trampil misalnya saat menyulam atau memungut benda-benda kecil. E. Menilai kekuatan dan ketrampilan serta kekuatan otot secara manual maupun dengan alat dinamometer. Penderita diminta untuk melakukan abduksi maksimal palmar lalu ujung jari 1 dipertemukan dengan ujung jari lainnya. sensorik dan otonom tangan. b. . c.dengan meletakkan tangannya pada posisi yang lebih tinggi. Kadang-kadang rasa nyeri dapat terasa sampai ke lengan atas dan leher. Bila keluhan berkurang atau menghilang akan menyokong diagnosa STK. Di nilai juga kekuatan jepitan pada ujung jari-jari tersebut. tangan dan pergelangan tangan terutama di pagi hari. Bila penyakit berlanjut. Pada inspeksi dan palpasi dapat ditemukan adanya atrofi otot-otot thenar. Nyeri juga akan berkurang bila penderita lebih banyak mengistirahatkan tangannya. rasa nyeri dapat bertambah berat dengan frekuensi serangan yang semakin sering bahkan dapat menetap. Beberapa pemeriksaan dan tes provokasi yang dapat membantu menegakkan diagnosa STK adalah : a. Thenar wasting. Pemeriksaan Fisik Diagnosa STK ditegakkan selain berdasarkan gejala-gejala di atas juga didukung oleh beberapa pemeriksaan yaitu : 1. Flick's sign. Dapat pula dijumpai pembengkakan dan kekakuan pada jari-jari. motorik. Gejala ini akan berkurang setelah penderita mulai mempergunakan tangannya. Pada penderita STK pada tahap lanjut dapat dijumpai atrofi otot-otot thenar dan otot-otot lainnya yang diinnervasi oleh nervus melanus .

maka tes ini menyokong diagnosa STK. Penderita melakukan fleksi tangan secara maksimal. Luthy's sign (bottle's sign).Ketrampilan/ketepatan dinilai dengan meminta penderita melakukan gerakan yang rumit seperti menulis atau menyulam. tes ini menyokong diagnosa. tes ini menyokong diagnosa. kulit yang kering atau licin yang terbatas pada daerah innervasi nervus medianus. Nervus medianus ditekan di terowongan karpal dengan menggunakan ibu jari. i. e. Pressure test. tes dinyatakan positif dan mendukung diagnosa. tes ini menyokong diagnosa. Pemeriksaan fungsi otonom. Pada beberapa kasus tidak dijumpai kelainan pada otot-otot lumbrikal. Tes ini mendukung diagnosa hila timbul parestesia atau nyeri pada daerah distribusi nervus medianus kalau dilakukan perkusi pada terowongan karpal dengan posisi tangan sedikit dorsofleksi. f. g. Pemeriksaan sensibilitas. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan EMG dapat menunjukkan adanya fibrilasi. h. Penderita diminta melingkarkan ibu jari dan jari telunjuknya pada botol atau gelas. F. Bila dalam 1 menit timbul gejala seperti STK. sebaiknya dilakukan serentak pada kedua tangan sehingga dapat dibandingkan. Diperhatikan apakah ada perbedaan keringat. polifasik. Beberapa penulis berpendapat bahwa tes ini sangat sensitif untuk menegakkan diagnosa STK. k. j. Tinel's sign. tes dianggap positif dan menyokong diagnosa. Torniquet test. Bila penderita tidak dapat membedakan dua titik (two-point discrimination) pada jarak lebih dari 6 mm di daerah nervus medianus. Bila dalam waktu kurang dari 120 detik timbul gejala seperti STK. EMG bisa normal pada 31 % . Dilakukan pemasangan tomiquet dengan menggunakan tensimeter di atas siku dengan tekanan sedikit di atas tekanan sistolik. Penderita melakukan ekstensi tangan secara maksimal. Bila dalam waktu 60 detik timbul gejala seperti STK. d. Bila dalam 60 detik timbul gejala-gejala seperti STK. Bila kulit tangan penderita tidak dapat menyentuh dindingnya dengan rapat. gelombang positif dan berkurangnya jumlah motor unit pada otot-otot thenar. Phalen's test. Bila ada akan mendukung diagnosa STK. Wrist extension test.

yaitu : 1. Obat anti inflamasi non steroid. Istirahatkan pergelangan tangan. Terapi langsung terhadap STK. menunjukkan adanya gangguan pada konduksi safar di pergelangan tangan. Tindakan operasi dapat dipertimbangkan bila hasil terapi belum memuaskan setelah diberi 3 kali suntikan. Masa laten sensorik lebih sensitif dari masa laten motorik. Kontrol cairan. b.23 atau 25 pada lokasi 1 cm ke arah proksimal lipat pergelangan tangan di sebelah medial tendon musculus palmaris longus. Vitamin B6 (piridoksin). Bila belum berhasil. 4. Tetapi beberapa penulis lainnya berpendapat bahwa pemberian piridoksin tidak . Bidai dapat dipasang terus-menerus atau hanya pada malam hari selama 2-3 minggu. 2. Kecepatan Hantar Saraf(KHS). Beberapa penulis berpendapat bahwa salah satu penyebab STK adalah defisiensi piridoksin sehingga mereka menganjurkan pemberian piridoksin 100300 mg/hari selama 3 bulan 1 . Terapi konservatif. 6. Deksametason 1-4 mg 1 atau hidrokortison 10-25 mg 8 atau metilprednisolon 20 mg 14 atau 40 mg 12 diinjeksikan ke dalam terowongan karpal dengan menggunakan jarum no. 3. terapi juga harus diberikan terhadap keadaan atau penyakit lain yang mendasari terjadinya STK. 5. KHS bisa normal. Pemasangan bidai pada posisi netral pergelangan tangan.kasus STK. suntikan dapat diulangi setelah 2 minggu atau lebih. Oleh karena itu sebaiknya terapi STK dibagi atas 2 kelompok. Pada 15-25% kasus. Tata laksana Selain ditujukan langsung terhadap STK. 1. a. lnjeksi steroid. Pada yang lainnya KHS akan menurun dan masa laten distal (distal latency) memanjang. G. misalnya dengan pemberian diuretika.

Terapi terhadap keadaan atau penyakit yang mendasari STK.Fisioterapi. ƒ Kurangi kecepatan dan kekuatan tangan agar . sedangkan indikasi relatif tindakan operasi adalah hilangnya sensibilitas yang persisten. tetapi karena terbatasnya lapangan operasi tindakan ini lebih sering menimbulkan komplikasi operasi seperti cedera pada saraf. Operasi endoskopik memungkinkan mobilisasi penderita secara dini dengan jaringan parut yang minimal. Tindakan operasi pacta STK disebut neurolisis nervus medianus pada pergelangan tangan. sebab bila tidak dapat menimbulkan kekambuhan STK kembali. jangan hanya menggunakan ibu jari dan telunjuk. Keadaan atau penyakit yang mendasari terjadinya STK harus ditanggulangi. Pada keadaan di mana STK terjadi akibat gerakan tangan yang repetitif harus dilakukan penyesuaian ataupun pencegahan.bermanfaat bahkan dapat menimbulkan neuropati bila diberikan dalam dosis besar 7. Operasi hanya dilakukan pacta kasus yang tidak mengalami perbaikan dengan terapi konservatif atau hila terjadi gangguan sensorik yang berat atau adanya atrofi otot-otot thenar. Terapi operatif. Gunakanlah seluruh tangan dan jari-jari untuk menggenggam sebuah benda. Pendapat lain menyatakan bahwa tindakan operasi mutlak dilakukan bila terapi konservatif gagal atau bila ada atrofi otot-otot thenar. ƒ Istirahatkan tangan secara periodik. b. Biasanya tindakan operasi STK dilakukan secara terbuka dengan anestesi lokal. tetapi sekarang telah dikembangkan teknik operasi secara endoskopik. ƒ Batasi gerakan tangan yang repetitif. Pada STK bilateral biasanya operasi pertama dilakukan pada tangan yang paling nyeri walaupun dapat sekaligus dilakukan operasi bilateral. Ditujukan pada perbaikan vaskularisasi pergelangan tangan. Beberapa penyebab STK seperti adanya massa atau anomali maupun tenosinovitis pacta terowongan karpal lebih baik dioperasi secara terbuka. Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya STK atau mencegah kekambuhannya antara lain ƒ Usahakan agar pergelangan tangan selalu dalam posisi netral ƒ Perbaiki cara memegang atau menggenggam alat benda.

ƒ Latih otot-otot tangan dan lengan bawah dengan melakukan peregangan secara teratur. tetapi karena operasi hanya melakukan pada penderita yang sudah lama menderita STK penyembuhan post ratifnya bertahap. hiperalgesia. Telah terjadi kerusakan total pada nervus medianus. tenosinovitis.tetapi resiko untuk kambuh kembali masih tetap ada. 3. Secara umum prognosa operasi juga baik. Di samping itu perlu pula diperhatikan beberapa penyakit yang sering mendasari terjadinya STK seperti : trauma akut maupun kronik pada pergelangan tangan dan daerah sekitarnya. infeksi pergelangan tangan. Bila terjadi kekambuhan. . penderita yang sering dihemodialisa. Kesalahan menegakkan diagnosa. artritis. Prognosis Pada kasus STK ringan.pergelangan tangan memiliki waktu untuk beristirahat. perlengketan. kehamilan atau penggunaan pil kontrasepsi. Terjadi STK yang baru sebagai akibat komplikasi operasi seperti akibat edema. Bila setelah dilakukan tindakan operasi.otot yang mengalami atrofi baru diperoleh kemudian. hematoma atau jaringan parut hipertrofik. infeksi. obesitas dan penyakit lain yang dapat menyebabkan retensi cairan atau menyebabkan bertambahnya isi terowongan karpal.myxedema akibat hipotiroidi. dengan terapi konservatif pacta umumnya prognosa baik. tidak juga diperoleh perbaikan maka dipertimbangkan kembali kemungkinan berikut ini: 1. Perbaikan yang paling cepat dirasakan adalah hilangnya rasa nyeri yang kemudian diikuti perbaikan sensorik. prosedur terapi baik konservatif atau operatif dapat diulangi kembali. mungkin jebakan/tekanan terhadap nervus medianus terletak di tempat yang lebih proksimal. Biasanya perbaikan motorik dan otot. gagal ginjal. akromegali akibat tumor hipofise. 2. Sekalipun prognosa STK dengan terapi konservatif maupun operatif cukup baik . Komplikasi yang dapat dijumpai adalah kelemahan dan hilangnya sensibilitas yang persisten di daerah distribusi nervus medianus. penyakit kolagen vaskular. H. disestesia dan ganggaun trofik. Keseluruhan proses perbaikan STK setelah operasi ada yang sampai memakan waktu 18 bulan. Komplikasi yang paling berat adalah reflek sympathetic dystrophy yang ditandai dengan nyeri hebat.

) atau (Carpal Tunnel Syndrome/CTS). JB Lippincott.274-275.p. 1992. In : Marshall RS. Salter RB. Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskeletal System. New York:McGrawHill . DeJong RN. Ropper AH. Philadelphia. San Bruno (CA) : Krames Comm . Carpal Tunnel Syndrome. 2nd ed.T. 557-559. 1997 . Diagnosis dan Terapi Sindroma Terowongan Karpal (S. 5th ed. The Neurologic Examination revised by AF. Mayer SA. 1983. Etiologi. Neurona.p.1358-1359. 10 : 16-27. Baltimore: Williams&Wilkins Co. Principles of Neurology. Nerve and Muscle Disease.DAFTAR PUSTAKA Moeliono F. editors. Victor M. Weimer LH. 1994: 1-7. 6th ed.254-256.Haerer. 1993. Philadelphia: WB Saunders Co.p. on Call Neurology. Krames Communication (booklet). Adams RD.K. . 1997.