Anda di halaman 1dari 16

TUGAS KEPERAWATAN JIWA

“Intervensi Krisis”

Disusun Oleh:
Elsa Desfania
04021281320023

Dosen Pembimbing: Herliawati S.Kp., M.Kes

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA

2016

KATA PENGANTAR

rahmat dan karuniaNya lah saya dapat menyelesaikan tugas makalah mata kuliah Keperawatan Jiwa yang berjudul “Intervensi Krisis” dengan baik. pembaca. untuk itu saran dan kritik yang bersifat membangun sangat kami harapkan demi kesempurnaan penulisan di kemudian hari. 2 Teman-teman yang telah memberikan dukungan dan semangat yang tinggi. kritik dan bimbingan demi kesempurnaan penulisan. Dengan keterbatasan pengetahuan yang ada.Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkat. dalam kesempatan ini kami menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada 1 Dosen mata kuliah Keperawatan Jiwa yang senantiasa memberikan apresiasi berupa saran. Akhirnya. November 2016 Penyusun . Semoga Allah SWT senantiasa memberikan berkat. Oleh karena itu. Indralaya. serta karunia-Nya kepada semua pihak yang telah memberikan bimbingan dan bantuannya yang tidak ternilai. kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kami. Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih sangat jauh dari kesempurnaan. imbalan. 3 Semua pihak baik secara langsung maupun tidak langsung memberikan bantuan pemikiran dan apresiasi dalam menyelesaikan makalah ini. serta masyarakat luas terutama dalam hal menambah wawasan dan ilmu pengetahuan. kami tidak akan dapat menyelesaikan penulisan makalah ini tanpa dukungan dan bantuan dari berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak langsung.

................................. 16 PENUTUP...................................................................................................................................................................................................................................3 Fase Intervensi Krisis......................................................................................................................................2 Saran................................................. 6 2...........................................................................3 Tujuan.......................... 17 BAB I PENDAHULUAN ......................................DAFTAR ISI BAB I....................................................... 4 1...........................2 Etiologi............................................................................2 Rumusan Masalah.............. 10 B.....................................10 a.... 16 DAFTAR PUSTAKA............ 13 E............12 D................................................. Diagnosis Keperawatan......................6 Asuhan Keperawatan Pasien Intervensi Krisis............... Implementasi................................................................................................... 10 2........................................................................ 4 BAB II.........................4 Klasifikasi Krisis.......................................................... 6 Tinjauan Pustaka...................1 Latar Belakang..............................................................................1 Definisi..................................................... 9 2..................................... Pengkajian....................................................... Perencanaan Dan Identifikasi Hasil...................................5 Rentang Respons................ 16 3............................................................................................ 4 1................... 9 2....................................................................................................................................................... 16 3...................................................................................... 6 2.Evaluasi....................................... 11 C..............................................................................................................................................................................................................1 Kesimpulan............. 7 2............................................................................................................................................... 4 1............................. 4 PENDAHULUAN....................... 15 BAB III.

Ancaman atau peristiwa pemicu. Jika hal ini tidak bisa seimbang maka akan bisa terjadi krisis. Krisis merupakan bagian dari kehidupan yang dapat terjadi dalam bentuk yang berbeda–beda. Oleh karena itu diperlukan tenaga keperawatan yang memiliki kemampuan dalam membuat asuhan keperawatan dengan gangguan psikososial masalah krisis. Konflik berat yang ditunjukkan dapat merupakan perode peningkatan kerentanan yang dapat menstimulasi pertumbuhan personal. manusia harus mengatasi masalah terus menerus untuk menjaga keseimbangan atau balance antara stress dan mekanisme koping. dengan penyebab yang berbeda. Dalam ilmu keperawatan jiwa masalah krisis yang dimaksud yaitu suatu kejadian atau peristiwa yang terjadi secara tiba – tiba dalam kehidupan seseorang yang mengganggu keseimbangan selama mekanisme koping individu tersebut tidak dapat memecahkan masalah. 1. f.1. c. Konsep krisis di asosisasikan dengan respon potensi yang adaptif. disisi lain konsep stress sering di hubungkan dengan konotasi negatif atau resko tinggi untuk sakit. Mekanisme koping yang biasa digunakan individu sudah tidak efektif lagi untuk mengatasi ancaman dan individu tersebut mengalami suatu keadaan tidak seimbang disertai peningkatan ansietas. Untuk mengetahui etiologi dari intervensi krisis . Dalam hal ini intervensi krisis merupakan pendekatan yang relatif baru dalam mencegah gangguan jiwa dengan fokus pada penemuan kasus secara dini dan mencegah dampak lebih jauh dari stress. dan bisa eksternal atau internal.3 Tujuan a. hal ini dilaksanakan dengan kerja sama dan interdisiplin dalam mencegah dan meningkatkan kesehatan mental.1 Latar Belakang Dalam kehidupan.2 Rumusan Masalah a. Krisis mempunyai keterbatasan waktu dan konflik berat yang ditunjukkan menyebabkan peningkatan ansietas. Apa definisi dari intervensi krisis? Apa etiologi dari intervensi krisis? Apa saja Fase dari intervensi krisis? Apa saja Klasifikasi dari intervensi krisis? Bagaimana rentang respons dari intervensi krisis? Bagaimana asuhan keperawatan pasien intervensi krisis? 1. dan basanya tidak berkaitan dengan sakit. Untuk mengetahui definisi dari intervensi krisis b. d. b. biasanya dapat di identifikasikan. e.

Konsep krisis sering diasosiasikan dengan respon potensi yang adaptif. Untuk mengetahui Klasifikasi dari intervensi krisis e. Krisis terjadi jika seseorang mengalami hambatan dalam mencapai tujuan hidup yang penting. Untuk mengetahui rentang respons dari intervensi krisis f. Untuk mengetahui Fase dari intervensi krisis d. . Untuk mengetahui asuhan keperawatan pasien intervensi krisis BAB II Tinjauan Pustaka 2. dan dirasakan sebagai ancaman bagi individu.1 Definisi Krisis adalah gangguan internal yang diakibatkan oleh suatu keadaan yang dapat menimbulkan stress. dan biasanya tidak berkaitan dengan sakit. di sisi lain konsep stress sring dihubunkan dengan konotasi negative atau resiko tinggi untuk sakit.c. Krisis mempunyai keterbatasan waktu dan konflik berat yang ditunjukan menyebabkan peningkatan ansietas. dan tidak dapat diatasi dengan penggunaan metode pemecahan masalah (koping) yang biasa digunakan.

Menurut Psychoanalytical Theory. hal ini dilaksanakan dengan kerja sama lintas sektoral dan interdisiplin dalam mencegah dan meningkatkan kesehatan mental. Krisis terjadi pada semua individu pada satu saat atau saat yang lain 2. 3. - Dukungan situasional (misalnya. Kemampuan menggunakan koping yang adaptif 3. 2. Krisis tidak selalu bersifat patologis. 4. frustasi. hal terpenting dalam krisis adalah pengalaman respons dan maladaptive usia dini anak sepanjang perjalanan hidupnya. Konflik-konflik masa lalu anak yang tidak selesai atau belum terpecahkan akan mewarnai cara dia menghadapi krisis setelah dewasanya. - Persepsi terhadap kejadian pencetus bersifat realistis bukan terdistorsi. Penyelesaian krisis dinyatakan gagal bila fungsi tidak kembali pulih ke tingkat sebelum krisis. Pertimbangan Umum 1.Intervensi krisis merupakan pendekatan yang relative baru dalam mencegah gangguan jiwa dengan focus pada penemuan kasus secara dini dan mencegah dampak lebih jauh dari stress. teman) tersedia bagi individu tersebut. krisis dapat menjadi stimulus pertumbuhan danpembelajaran. 5. Faktor penyeimbang merupakan hal yang penting dalam memprediksi hasil dari respons individu terhadap krisis. - Mekanisme koping yang mengurangi ansietas. Krisis sangat terbatas dalam hal waktu dan biasanya teratasi dengan satu atau lain cara dalam periode yang singkat (4 sampai 6 minggu). kecemasan. Kemampuan untuk mengelola emosi seperti marah. Persepsi individu terhadap masalah yang dihadapi dapat menentukan krisis. Caplain menjelaskan tentang 3 (tiga) criteria agar seseorang mampu kembali pada keadaan adaptif dari krisis: 1.1998). Kemampuan untuk memelihara reality testig dan tidak regresi saat berhadapan dengan krisis. Penyelesaian krisis dapat dikatakan berhasil bila fungsi kembali pulih atau ditingkatkan melalui pembelajaran baru.. dan individu mengalami penurunan tingkat fungsional. Beberapa faktor telah diidentifikasi sebagai prediktor hasil yang baik(Aguilera. Setiap individu memiliki respons yang unik terhadap masalah yang dialaminya. keluarga. . Dampak dari anak tersebut akan berpengaruh pada masa dewasanya khususnya kematangan dalam pola koping yang digunakan.

2. Factor predisposisi  keberhasilan seseorang dalam menyelesaikan masalahnya pada fase-fase tumbuh kembang akan mempengaruhi kemampuan individu mengatasi stress yang terjadi dalam hidupnya. kehilangan pekerjaan. Kehilangan milik pribadi misalnya: kehilangan harta benda. dan pubertas. masa perkawinan. Pembagian fase tumbuh kembang menurut Sigmind Freund dari faese oral. menjadi  orang tua.. b. Kemampuan untuk mengatasi problem serta mempertahankan keseimbangan social. Setiap fase. Mengidentifikasi persepsi klien terhadap kejadian Persepsi terhadap kejadian yang menimbulkan krisis. kehilangan peran social. perselisihan yang hebat dengan pasangan hidup. sakit. dsb. misalnya: - Kehilangan orang yang dicintai. Ancaman kehilangan misalnya: anggota keluarga yang sakit.dsb. menopause. Caplan 1961) : 1. termasuk kebutuhan yang terancam. 2. termasuk pokok pikiran dan ingatan yang berkaitan dengan kejadian tersebut. anal. 2. Kemampuan seseorang untuk menahan stress dan ansietas serta mempertahankan keseimbangan. seperti: kehilangan salah satu bagian tubuh karena operasi.Kualitas dan Maturitas Ego dinilai berdasarkan ( G. kehilangan - kemampuan melihat. individu mengalami krisis yang lazim di sebut krisis  maturasi. 3. sumber-sumber interpersonal dan tingkat penerimaa orang lain terhadap peran baru. . Krisis maturasi memerlukan peruahan peran yang dipengaruhi oleh contoh peran yang memadai. rumah kena - gusur. baik kematian maupun perpisahan yang lazim - di sebut krisis situasi Kehilangan biopsikososial.2 Etiologi a. Krisis maturasi terjadi dalam suatu periode tramsisi yang dapat menganggu keseimbangan psikologis seperti pada masa pubertas.  falik. Kemampuan mengenal kenyataan yang dihadapi serta memecahkan problem. Mengidentifikasi fator pencetus. lanjut usia. Factor Presipitasi 1.

Perasaan di asingkan 3. Klien cenderung menggunakan koping yang berarti banginya termasuk mencari informasi. Mengidentifikasi kekuatan dan mekanisme koping yang lalu termasuk startegi koping yang berhasil dan tidak berhasil - Apakah yang bisa dilakukan dalam memgatasi masalah yang dihadapi. dengan keluarga. dengan teman.3 Fase Intervensi Krisis Krisis terjadi melalui empat fase : . Ada 4 mekanisme koping yang sering di gunakan klien yaitu : pengingkaran. c.Apa/arti makna kejadian terhadap hidup . serta apa saja yang dapat menyebabkan kegagalan tersebut. d. . sahabat. Perilaku Berapa gejala yang sering ditunjukan oleh individu dalam keadaan krisis: 1. menyendiri atau melakukan hobinya. Mekanisme koping Mekanisme koping menggambarkan upaya klien untuk mengatasi ansietas yang di timbulkan oleh penyakit fisik. kebingungan. Mengidentifikasi sifat dan kekuatan system pendukung Meliputi keluarga.. Apakah punya teman tempat mengeluh Apakah bias menceritakan masalah yang dihadapi bersama keluarga. Apakah ada orang atau lembaga yang memberikan bantuan.Apakah mencetuskan perassannya dengan menangis. regresi. Cara apa yang pernah berhasil dan tidak berhasil.Apa saja yang sudah dilakukan untuk mengatasi maslah sekarang. menarik diri.Pengaruh kejadian terhadap masa depan . . Kadang. Keinginan merusak diri sendiri/ orang lain 2. Apakah mempunyai keterampilan untuk mengganti fungsi orang yan hilang 4. . depresi.Apakah individu memandang kejadian tersebut secara realistic 3.Apakah suka mengikuti latihan olahraga untuk mengatasi ketegangan. dan orang penting bagi klienyang mungkin dapat membantu: - Dengan siapa klien tinggal. Perassan tidak berdaya. represi dan kompensasi. tinggal sendiri.kadangmenunjukan gejala somatic 2.

Fase III: Individu berusaha mencari koping baru. Keberhasilan seseorang dalam menyelesaikan masalahnya tiap tahap dipengaruhi kemampuan individu mengatasi stress yang terjadi dalam kehidupannya. 2. Fase IV : Terjadi ansietas berat / panik yang menunjukkan adanya disorganisasi psikologis. menopause. menjadi orang tua.4 Klasifikasi Krisis 1. dan tingkat penerimaan orang lain terhadap peran baru. seperti pada masa pubertas. Krisis ini tidak dialami oleh setiap orang seperti halnya pada krisis maturasi. 3. penyakit akut. Krisis Situasi Krisis situasi terjadi apabila keseimbangan psikologis terganggu akibat dari suatu kejadian yang spesifik.1. 4. Krisis Malapetaka ( Krisis Sosial ) Krisis ini disebabkan oleh suatu kejadian yang tidak diharapkan serta menyebabkan kehilangan ganda dan sejumlah perubahan di lingkungan seperti : gunung meletus. Krisis. Fase I : Ansietas meningkat sehingga muncul stimulus individu untuk menggunakan koping yang biasa dipakai. 3.kegagalan. sumber – sumber interpersonal. dan usia lanjut. Krisis maturasi memerlukan perubahan peran yang dipengaruhi oleh peran yang memadai.disekolah. kehamilan yang tidak diinginkan atau kehamilan di luar nikah. 2. kehilangan orang yang dicintai.Maturasi Perkembangan kepribadian merupakan suatu rentang yang setiap saat tahap mempunyai tugas dan masalah yang harus diselesaikan untuk menuju kematangan pribadi individu. Krisis maturasi terjadi dalam satu periode transisi masa perkembangan yang dapat mengganggu keseimbangan psikologis. masa perkawinan. memerlukan bantuan orang lain. 2. kebakaran dan banjir. 2. Fase II : Ansietas lebih meningkat karena koping yang digunakan gagal. Respon adaptif - Solitude (menyepi) .5 Rentang Respons 1. seperti : kehilangan pekerjaan.

bagaimana Anda melakukan koping pada saat itu ? = • Pengalaman di masa lalu tentang krisis dan koping yang digunakan Menurut Anda apa yang menjadi kelebihan pribadi Anda? = Pengakuan individu atas • kelebihannya Siapa yang Anda rasa sangat banyak membantu atau mendukung Anda? = Sistem • pendukung dalam hidup Anda Apa yang telah Anda coba selama ini untuk mengatasi krisis tersebut ? = Penggunaan tindakan koping dalam situasi saat ini. sumber daya finansial. keluarga. Analisis a. 6. Tentukan persepsi klien tentang krisis yang dihadapi. B. Analisis persepsi unik klien terhadap krisis dan kejadian pencetusnya. meliputi apakah klien memiliki persepssi yang realistis terhadap krisis yang terjadi. prilaku Apakah Anda sudah pernah mengalami hal yang serupa dengan kejadian ini dalam hidup Anda? Kalau ya. Respon Mal Adaptif - Manipulasi - Impulsive - Narkisisme 2. dukungan masyarakat). Apakah Anda mengalami gejala fisik atau perubahan prilaku Anda yang biasanya? = • Gejala fisik. dukungan situasional (mis. teman. dan gejala-gejala yang dialami klien. Pengkajian 4. . dan penggunaan mekanisme koping. tingkat gangguan hidup. Tentukan faktor-faktor penyeimbang yang ada. Identifikasi kelebihan klien • Apa yang terjadi pada Anda? = Persepsi individu terhadap hal yang terjadi (realistik • atau terdistorsi) Apa yang Anda pikir dan rasakan? = Gejala kognitif atau emosional atas apa yang • terjadi.6 Asuhan Keperawatan Pasien Intervensi Krisis a. 7. Diagnosis Keperawatan 1. meliputi kebutuhan utama yang terancam krisis. Identifikasi kejadian pencetus dam situasi krisis 5.- Autonomi - Mutuality (kerjasama) - Interdependency (saling ketergantungan) 2. sumber daya spiritual.

Mengimplementasikan tindakan yang diperlukan untuk mengatasi krisis. . namun tidak terbatas pada yang berikut ini :              Gangguan citra tubuh Ketegangan peran pemberi asuhan Koping komunitas tidak efektif Koping individu tidak efektif Penyangkalan tidak efektif Koping keluarga : potensi untuk pertumbuhan Disfungsi berduka Respon pasca trauma Ketidakberdayaan Sindrom trauma perkosaan Perubahan kinerja peran Distres spiritual Resiko kekerasan pada diri sendiria/orang lain C. termasuk. keluarga. Analisis sejauh mana orang lain terpengaruh oleh krisis. Perencanaan Dan Identifikasi Hasil 1. jaringan kerja sosial. 2. Tentukan diagnosa keperawatan spesifik untuk klien. masyarakat. c. Individu yang mengalami krisis akan : a. atau gabungan dari itu. Mendiskusikan pilihan –pilihan yang ada untuk mengatasinya. Menjaga keselamatan bila situasi memburuk Teknik Intervensi Krisis Teknik Definisi Contoh Ventilasi Ventilasi (pengungkapan dilakukan secara verbal saat menangis dengan melihat segi perasaan) klien perasaan menceritakan yang Mengijinkan kembali positif dari klien pelepasan untuk emosi. kelurga. Bantu klien.b. masyarakart. Diagnosis Keperawatan. sosial dan lingkungan klien. masyarakat. Analisis keadekuatan faktor penyeimbang dan tingkat dukungan pribadi. dalam menetapkan tujuan jangka pendek yang realistis untuk pemulihan seperti sebelum krisis. c. seperti keluarga klien. f. dan masyarakat. Mengungkapkan secara verbal arti dari situasi krisis b. Mengidentifikasi sumber daya yang ada yang dapat memberikan bantuan d.keluarga. atau gabungan dari itu. Tentukan kriteria hasil yang diinginkan untuk klien. 2. atau gabungan dari itu. Memilih strategi koping dalam menghadapi krisis e.

Saran dalam hidupnya Suatu proses apakah memang demikian? untuk Banyak orang lain menemukan mempengaruhi orang lain agar bahwa. dan saya pikir untuk proses terapi. Saya sangat senang anda dapat melakukannya penggunaan Bila anda merasa sangat Dukungan Mendukung terhadap mekanisme mekanisme yang adaptif yang memberinya sepeda pertahanan klien kepuasan mendukung pertahanan serta yang marah/kesal. dengan mengendarai biasanya dapat tidak mengurangi rasa marah sehingga mekanisme bila kembali ke rumah anda dapat pertahanan yang maladaptif menyelesaikan masalah dengan istri anda dengan tenang . Tampaknya anda berhasil dalam keinginan serta nilai-nilai klien pernikahan anda. kien Saya perhatikan bahwa setelah Membantu mengungkapkan akan mendorong perasaannya anda berdebat dengan suami. bicara dengan orang lain mau menerima ide-ide / sangat menolong keyakinan bahwa perawat dapat masalahnya. memecahkan masalahnya Memanfaatkan emosi. membantu Manipulasi mereka dan mengatasi saya pikir untuk andapun bisa.tentang hal yang Mengajukan pertannyaan terbuka membangkitkan emosi Klarifikasi untuk klien mengungkapkan perasaannya. memperjelas hubungan anda menjadi sakit dan tidak dgn kejadian yang terjadi di dapat turun dari tempat tidur. anda dapat mengatasi masalah ini serta mempunyai hubungan yang Menguatkan lebuh erat lagi Member klien respon yang Itu adalah pertama kali anda perilaku positif terhadap perilaku sanggup membela diri dihadapan adaptif atasan anda dan hal tersebut terjadi dengan baik. misal: ceritakan kepada saya perasaan sejak anda anda kehilangan pekerjaan.

- berbicara cepat. atau adanya tanda-tanda depresi) b. Gunakan pendekatan pemecahan masalah. Kenali tanda-tanda bahaya akan adanya kekerasan terhadap diri sendiri. 2. Sebagai contoh : Perawat dapat mengatakan ”Tampaknya Anda merasa frustasi karena - tidak dapat pulang ke rumah sesuai keinginan Anda. rahang dikencangkan. berjalan mondar- mandir). menyatakan secara tidak langsung bahwa ia merasa kalau orang lain akan lebih baik jika ia tidak ada. klien secara langsung mengatakan akan melakukan bunuh diri. . Berikan kontrol pada klien terhadap situasi masalah dengan menawarkan solusi alternatif untuk menyelesaikan masalah. . Berespons terhadap perilaku klien . Implementasi untuk klien yang marah atau melakukan kekerasan: 1. Implementasi 1. 3. pernyataan-pernyataan agresif).”] Biarkan klien mengeluarkan kemarahannya secara verbal. Berikan respon terhadap ansietas. Kolaborasi dengan anggota tim kesehatan jiwa untuk menentukan apakah hospitalisasi perlu dilakukan atau tidak. singkirkan semua benda yang membahayakan dari tempat atau sekitar klien d.Jawab pertanyaan dan tuntutan klien dengan informasi faktual dan sikap yang - mendukung serta meyakinkan. Jangan membela atau membenarkan perilaku anda sendiri ataupun perilaku orang - lain.D. berteriak. Anjurkan klien untuk mendiskusikan situasi krisis dengan jelas. Pantau bahasa tubuh anda sendiri. tunjukan bahwa - perawat menerima kemarahan ayng diperlihatkannya. Lakukan intervensi untuk mencegah rencana menyakiti diri sendiri atau bunuh diri. tangan dikepalkan. 4. anggota tim pengobatan.. marah dan frustasi yang dirasakannya. postur tubuh menegang. 3.Kenali tanda-tanda verbal adanya peningkatan rasa marah (mis. Lakukan pengkajian tentang kemungkinan bunuh diri c. Kenali tanda-tanda non verbal adanya peningkatan rasa marah (mis.(mis . menuntut perhatian. kebijakan Rumah Sakit). dan bantu kien mengutarakan pikiran dan perasaannya. Bentuk hubungan dengan mendengarkan secara aktif dan menggunakan respon empati. Dukung kelebihan klien dan penggunaan tindakan koping. (mis. 5. a. 2. Lakukan beberap tindakan untuk mengurangi kemarahan klien. Lakukan intervensi dini untuk mencegah klien melakukan kekerasan terhadap orang lain. gunakan postur yang rileks dengan kedua - tangan bergantung santai disamping tubuh.

Klien kembali ke keadaan sebelum krisis atau memperbaikisituasi atau perilaku. dan masyarakat dapat dipertahankan sebagai hasil dari intervensi yang adekuat terhadap ekspresi perilaku yang tidak terkendali. . yang akan berinteraksi dengan klien dan - arahkan respons tim.- Lindungi diri anda sendirindengan berdiri diantara klien dan pintu keluar sehingga - memungkinkan anda mudah untuk melarikan diri.1 Kesimpulan . keluarga. bila klien mengancam akan melukai. Klien mengevaluasi solusi yang mungkin dilakukan untuk mengatasi krisis. Ikuti protokol lembaga. BAB III PENUTUP 3.. Bila diperlukan restrain fisik. Tim bertindak sebagai satu kesatuan dan melakukan penaklukan yang lancardan - tenang.Tugaskan satu anggota tim sebagai ketua. dan siapa yang akan memegang kepala (agar tidak - digigit). ketua tim akan memutuskan siapa yang akan memegang kaki dan tangan.Pastikan untuk dilakukannya unjuk kekuatan (minimal lima staf). klien yang lain atau anggota staf atau jika klien melempar barang-barang atau merusak perabotan). . Gunakan prinsip-prinsip penatalaksanaan kode kekerasan bila diperlukan (mis. gunakan kode khusus untuk menghadapi kekerasan jika ada. Lakukan latihan dimana jika teknik-teknik ini dilakukan dapat memastikan keamanan dan menghindarkan klien dan staf dari cedera. Keselamatan klien. E. Klien mengidentifikasi hubungan antara stresor dengan gejalayang dialami selama krisis. 4.Evaluasi Perawat menggunakan kriteria hasil yang spesifik dalam menentukan efektifitas implementasi keperawatan. Lindungi orang lain dengan menginstruksikan mereka untuk meninggalkan - tempat. klien memilih berbagai pilihan solusi.

sehingga dalam hal ini perawat harus lebih aktif dan lebih hangat kepada klien sehingga klien dapat menerima kehadiran perawat dan intervensi dapat dilakukan secara maksimal. artinya intervensi akan dilandasi kerangka pemikiran yang menempatkan kompleksitas masalah klien dalam hubungan timbal baliknya dengan lingkungannya.2 Saran Perawat dalam mengintervensi cenderung kearah biopsikososial. DAFTAR PUSTAKA Yosep. Menurut Psychoanalytical Theory. Mungkin dalam pelaksanaannya. terdapat beberapa kelemahan di dalam intervensi krisis.PT. untuk itu dalam penerapannya. Dampak dari anak tersebut akan berpengaruh pada masa dewasanya khususnya kematangan dalam pola koping yang digunakan. hal terpenting dalam krisis adalah pengalaman respons dan maladaptive usia dini anak sepanjang perjalanan hidupnya. Konflik-konflik masa lalu anak yang tidak selesai atau belum terpecahkan akan mewarnai cara dia menghadapi krisis setelah dewasanya. Namun. pada tahap ke-2 dan ke-3 dari tujuh tahapan Roberts yaitu menjalin hubungan dengan klien kurang maksimal.2009. 3.Intervensi krisis merupakan pendekatan yang relative baru dalam mencegah gangguan jiwa dengan focus pada penemuan kasus secara dini dan mencegah dampak lebih jauh dari stress. hal ini dilaksanakan dengan kerja sama lintas sektoral dan interdisiplin dalam mencegah dan meningkatkan kesehatan mental. dan di mana mungkin berusaha untuk mengatasi masalah ini melalui tindak lanjut janji atau melalui referensi Intervensi krisis sulit untuk diterapkan kepada klien yang tidak menerima keterlibatan perawat. mereka harus lebih memperhatikan isu-isu mendasar yang mungkin berkontribusi terhadap masalah yang diajukan atau krisis. perawat harus dapat menerapkan krisis antar konvensi untuk meringankan situasi krisis.iyus. Keperawatan Jiwa.Refika Aditama: Bandung .

http://www.html diakses tanggal 20 November 2016 .co.id/files/cdk/files/02_KesehatanJIwadiINdonesia.com/2009/03/askep-jiwa-dengan-krisis.pdf diakses tanggal 22 November 2016 http://khaidirmuhaj.blogspot.kalbe.pdf/02_KesehatanJIwad iINdonesia.